CHAPTER 15
.
.
.
AN ATTACK ON TITAN FANFICTION
.
.
.
CAST :
ALL SNK CHARACTERS AND MY OC ( LATER )
.
.
.
PAIRINGS :
RIREN ( MAIN)
ERUMIN
JEAN X ARMIN
.
.
.
WARNING!
THIS IS POSITIVE YAOI!
BL ( BOYS LOVE )
MATURE CONTENTS
FULL OF RUDE AND CURSING WORDS. VIOLENCE. BLOODY. SUSPENSE AND PSYCHOPATH
.
.
GENRE :
CRIME . ROMANCE. ADVENTURE. SUSPENSE
.
.
SEMUA CHARA SNK ADALAH MILIK HAJIME ISAYAMA SENPAI ^^
SAYA HANYA MEMINJAM
CERITA ORIGINAL DARI SAYA ^^
.
.
NO PLAGIAT ATAU REPUBLISH DAN REUPLOAD TANPA SEIZIN DARI SAYA -_-
SUMPAH...INI BIKINNYA PERLU MENGOBARKAN NILAI SEKOLAH DAN SELURUH JIWA
.
.
.
HOPE YOU ENJOY IT ^^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang berbeda dari lapangan basket Maria HighSchool pada hari ini. Bukan tawuran, bukan perkelahian, bukan bullying, bukan adu gulat hingga salah seorang lawan koma karena kalah.
Bukan itu semua.
Kau hanya melihat seorang pemuda duduk di sebuah kursi sambil menumpukan tangan di dagu dan tersenyum gentle. Bersama seorang gadis dengan wajah dingin tanpa emosi dan rambut pirang yang disanggul. Poninya sedikit menutup mata biru es itu.
Gadis itu berdiri di samping meja dan menyilangkan tangan. Berusaha berwajah sesantai mungkin biarpun rautnya masih keras dan begitu dingin hingga jika kau bertatap muka dengan dirinya, kau semata-mata akan mendapati bahwa kau berhadapan dengan es telah lama membeku.
" Ketua adalah jantung dari sebuah organisasi. Ia bisa saja menjadi raja dengan menguasai seluruh organisasi sesuka hatinya, tapi dia juga sekaligus menjadi budak. Dia harus bisa memilih sebuah keputusan demi keberlangsungan organisasi itu"
" Itulah gunanya kau memilihku"
Pemuda itu memalingkan wajahnya menghadap wanita di sebelahnya. Ia tersenyum gentle dan terkekeh. Pemuda dengan rambut putih itu melepaskan tumpuan tangannya dari dagunya sendiri dan mulai bertepuk tangan singkat. Membuat wanita berambut pirang itu memutar mata jengah.
" Maka dari itu Annie..." Pemuda itu terkekeh. Ia menjetikkan jari. " Kadang sebuah rumah tidak bisa berdiri hanya dengan satu fondasi tiang"
Annie menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke depan. Ia sangat malas untuk bertatap mata dengan ketuanya. Yang dari luar terlihat begitu ramah dan menenangkan tapi sadis dan psikopat dari dalam.
Atau boleh ia sebut...
" Kurasa aku mengerti kenapa Hanji jadi sering menggunakan adik kecilnya sendiri sebagai kelinci percobaan daripada remaja lain" Ucap Annie dingin. " Kau persis seperti dirinya. Sangat persis hingga aku seperti melihat refleksi diri gadis gila itu di dalam matamu, Thomas Zoe"
Thomas menelengkan kepalanya imut ke arah Annie dan tersenyum lebar. Ia tersenyum hingga matanya seperti hilang dan tepukan rasa kagum datang dari pemuda jangkung berambut putih itu
" Eh...Sugoi na~" Thomas bertepuk tangan dan tertawa. " Ternyata aku tidak salah memilihmu menjadi anggota eksekutif sekolah kita. Siapa lagi kalau bukan anggota termuda dalam sejarah sekolah kita selain Annie Leondhart?
Annie menatap dingin Thomas yang bertingkah laku imut dan lucu itu. Seolah-olah sindiran pedas miliknya tadi malah membuat pemuda jangkung itu makin senang layaknya anak kecil yang diberi sekarung permen.
Gadis itu mengeluarkan nada suara teramat dingin. " Aku tidak tersanjung sedikitpun. Kau gila"
Thomas berhenti bertepuk tangan dan menghentikan tawanya seketika. Wajahnya berubah berubah drastis menjadi tanpa ekspresi dalam kurun waktu kurang dari 5 detik. Senyum manis itu pudar, wajah ramah itu hilang, Thomas yang ceria sudah hilang seketika.
Digantikan wajah dingin dan senyum psikopat.
" Oh...kurasa kau harus tersanjung" Thomas menyeringai.
Annie hanya mengeluarkan suara 'hn' dan memilih untuk tidak menanggapi pernyataan Thomas. Matanya hanya terpaku pada tiga orang dengan seragam kebanggan Maria Highschool−berjalan menuju ke arah Thomas.
Thomas sendiri terkekeh ngeri dan menutup mulutnya. Matanya berkilat gila dan liar biarpun wajahnya masih dingin dan tenang. Ketiga orang tersebut hanya bisa menghela nafas pasrah saat melihat gerak-gerik Thomas. Itu pertanda bahwa sisi psikopat berdarah dinginnya telah aktif dan hal itu bisa menjadi sangat mematikan.
" Dengar ini Annie..." Thomas menatap Annie. " Kau akan mendapatkan imbalan yang sesuai jika kau bisa merasa tersanjung minggu depan. Tepat hari dimana dua sekolah iblis bertarung"
Annie melirik sebentar. " Memangnya apa imbalanku?"
Thomas menyeringai makin lebar hingga giginya terlihat. Ditambah bagaimana dua buah taring yang pernah Hanji tumbuhkan sejak kecil itu terpampang jelas. Ingatkan Annie untuk sedikit memundurkan tubuhnya agar tidak terpengaruh sifat psikopat milik Thomas yang terbangun hebat sekarang.
" APAPUN!" Jawab Thomas dengan nada tinggi. Ia tertawa dengan nada yang begitu sinting.
Matanya melebar dengan tawa janggal menghiasi wajahnya. Thomas menunjuk ketiga orang di depannya dengan semangat yang mampun membuat semua orang menelpon rumah sakit jiwa terdekat.
" Kalian juga..."
Matahari tepat bersinar di antara mereka semua. Membuat wajah dengan kepribadian random milik mereka makin bersinar. Seolah-olah menunjukkan dari seringai-seringai itu bahwa kami siap melakukan apapun demi kepala milik anggota file hitam dan kota Tokyo jatuh ke tangan Maria Highschool.
" Reiner Braun melapor..." Pemuda di tengah dengan tubuh berotot itu tersenyum. Ia memegang revolver berukuran sedang di tangan kanannya yang terbalut perban dan darah basah. " Seluruh pasokan senjata dan granat tangan sudah siap"
Thomas mengangguk dan mengarahkan tangannya ke arah seorang pemuda jangkung di sebelah kanan tubuh Reiner. Pemuda yang ditunjuk itu tersenyum manis. Ia terlalu imut untuk seorang berandal dan mafia, tapi...
" Marco Boldt melapor... Persenjataan dan obat-obatan terlarang sudah siap stok. Dan juga kami sudah membunuh 9 orang anak SurveyCorps Highschool!" Marco tertawa manis.
" Iya kan Yuii-chan?"
Thomas kali ini memasang senyum sangat manis. Ia menatap Yuii dengan mata besar yang ramah dan nada menyenangkan. Tapi Yuii sendiri tahu bahwa itu hanyalah pura-pura karena umurnya yang masih 13 tahun tetapi sudah dimasukkan ke dalam sekolah neraka ini.
" Nee..." Gadis kecil dengan rambut hitam selutut itu mengangguk. Ia memainkan pisau kecil bersimbah darah kering di tangannya dan menatap Thomas dengan pandangan malu. " Aku sudah membunuh..."
" Haha...Yokatta"
Thomas tiba-tiba berdiri dan berjalan. Ia berjongkok di hadapan Yuii yang menggigit bibir bawahnya dan menatap Thomas dengan kilat rasa gugup. Thomas sendiri hanya bisa tersenyum manis dan menepuk kepala Yuii.
" Gadis baik... Setelah ini kau mau kan melakukannya lagi, Yuii chan?"
Yuii spontan mengangguk dengan mata abu-abu besarnya. Ia menatap Thomas dengan pandangan penuh ketertarikan. Gadis kecil itu memainkan pisau bersimbah darahnya di hadapan Thomas.
" Aku lahir di kegelapan..." Ucap Yuii. " Tidak ada yang bisa kulakukan lagi selain mengikuti kegelapan itu sendiri."
Thomas tersenyum dan menepuk kepala gadis itu sekali lagi dalam sayang. Dan tanpa ia sadari, Annie−gadis itu menghampiri mereka berempat dan berbaris bersama Reiner dan Marco. Tepat di sebelah Yuii.
" Annie Leondhart melapor" Ucap Annie dingin. " Mikasa Ackerman sudah terpancing. Gadis itu memiliki sejuta info rahasia dari Levi dan hal itu dapat membantu kita untuk mendapatkan kepala ketua dari geng terhebat di Tokyo itu."
Thomas sendiri bertepuk tangan dan berdiri. Ia berjalan membelakangi keempat orang suruhannya itu dan menghadap gedung sekolah tingkat tiga mereka. Mata milik pemuda jangkung itu dapat menangkap pemandangan para murid-murid Maria Highschool berdiri di antara jendela-jendela yang menghitam akibat pembakaran oleh Levi pada sekolah mereka.
" Yosssh..."
" Kita serang mereka"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hanji memeluk tubuh ringkih milik Eren yang terlelap dengan wajah iba. Dia memang tidak pernah lagi merasa iba kepada siapapun tetapi Eren terlalu mengenaskan baginya.
" Farlan" Panggil Hanji. Gadis ilmuwan itu menatap seorang pemuda yang berdiri menghadap jendela rumahnya. " Bagaimana respon Levi?"
Farlan melirik gadis itu dan menghela nafas berat. Lalu ia melemparkan pandangan lagi ke arah Eren yang terbaring di pelukan Hanji. Pemuda manis itu terlelap setelah begitu lama bercerita kepada Hanji dan sesekali menangis. Bahkan Eren masih mampu memanggil nama Levi dalam tidurnya.
" Bocah itu..." Farlan menunjuk Eren. " Apa yang sudah pernah Levi lakukan kepadanya?"
Hanji menutup mata dan menyingkap T-shirt di bagian bahu dan tulang selangka milik Eren. Farlan sendiri hanya bisa melebarkan mata dalam keterkejutan karena melihat bekas merah dan ungu di sekitar bagian itu.
Levi telah mengklaim Eren.
" Dan dia meniggalkannya!?" Farlan bertanya dalam rasa ketidakpercayaan. " Ada apa dengannya?"
Hanji mencibir ke arah Farlan. Ia terus mengelus rambut sewarna mahogani milik Eren sambil memasang wajah masam ke arah pemuda berambut tan di depannya yang sedari tadi tidak faham-faham.
" Maka dari itu,bodoh" Hanji melempar sebuah Iphone ke arah Farlan yang segera ditangkap oleh yang bersangkutan. " Telpon atau cari dia! Dia boleh meninggalkan Eren tapi tidak dengan tugasnya! Anak-anak Maria Higshschool sedang mempersiapkan diri untuk tawuran minggu depan."
Perempatan amarah mencaplok mulus di dahi lebar milik Farlan. " Ini Iphone Levi! Mau menelpon kemana lagi hah!? Kau kira mencari Levi itu mudah!?"
Hanji mendengus kasar dan membuang muka. Ia lebih memerhatikan Eren yang tertidur dengan memeluk jas hitam milik Levi di tangannya. Pemuda manis itu menolak untuk dipisahkan dari jas itu. Dia merengek agar terus diperbolehkan untuk memeluk jas itu karena dia tidak bisa memeluk Levi.
" Tidak kusangka Levi akan mau tertarik dengan bocah itu" Farlan duduk di sofa yang bersebrangan dengan Hanji dan Eren. " Padahal kukira dia akan membunuh Eren saat pertama kali melihat mereka berdua bertemu. Mereka itu seperti api dan air. Tidak bisa bersatu"
Eren mengerang dalam tidurnya secara tiba-tiba. Membuat Farlan dan Hanji memakukan mata ke arah pemuda manis itu. Jas hitam yang sudah dipeluk oleh Eren makin diremas oleh pemuda Jerman itu. Alisnya menukik tapi rautnya seperti ingin menangis.
" L-levi..."
Farlan membulatkan mata sedangkan Hanji menghela nafas berat. Ia makin memeluk tubuh Eren yang bergetar. Matanya menangis dalam tidur dan terus menerus mengerangkan nama Levi.
Hanji menatap Farlan dengan tatapan memohon. " Kau yakin tidak ingin mencari Levi saat ini juga?"
Farlan menggeleng mantap. Hanji yang melihat hal itu sendiri hanya bisa memasang senyum kecewa dan menatap Eren makin iba. Hanji tahu bahwa Levi mencintai Eren saat pemuda itu pernah menatapnya tajam saat ketahuan mengusik Eren. Tetapi Eren sendiri belum mencintai Levi sepenuhnya.
Pemuda manis itu masih dilanda kebingungan besar hingga ia tidak tahu harus merespon seperti apa saat Levi mencurahkan rasa cintanya itu kepadanya. Tapi tidak Hanji sangka bahwa Eren akan menjadi super sensitif seperti ini saat ditinggalkan atau lebih seperti dicampakkan oleh Levi.
" Maafkan aku Hanji..." Farlan mengelus rambut Eren. " Aku memang ingin sekali mencari Levi untuk Eren. Kalau tugasnya untuk sekolah kita−aku tidak akan khawatir. Dia pasti akan melakukannya tapi kalau untuk Eren...aku belum pasti."
Mata Farlan terpaku pada wajah Eren. Eren begitu manis dan polos. Ya dia memang naif dan suka sekali cari mati dengan Levi karena keseringan membantah bahkan menggertak pemuda tegas itu tapi...dibalik itu semua dia itu luar biasa polosnya. Bahkan Farlan terkekeh tidak percaya bahwa pemuda ini berumur 15 tahun dan parahnya lagi masuk sekolah berandalan.
Levi membenci bahkan ingin membunuh Eren. Dia mengakui itu di depan seluruh anggota file hitam dulunya. Tapi lihatlah sekarang...
Takdir benar-benar berkata lain. Levi boleh saja jadi berandalan dan psikopat berdarah dingin paling kejam yang pernah ada, tapi dia masih kesepian. Hatinya dingin dan kosong sehingga memerlukan seseorang untuk mengisinya.
Levi sendiri tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai perempuan atau bahkan laki-laki sekalipun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Petra Rall merupakan tunangan Levi yang dipilih oleh keluarganya bahkan sejak berada di Paris. Petra yang asalnya sama-sama dari keluarga bangsawan terhormat, mau-mau saja menjadi berandalan bahkan berambisi menjadi anggota file hitam agar bisa dekat dengan Levi.
Tapi Levi tidak pernah mau diatur.
Dialah yang memilih siapa saja yang menjadi teman hidupnya.
" Kau pasti tahu alasan kenapa aku menolak mencari Levi sekarang, Hanji Zoe." Farlan menatap Hanji dengan pandangan serius. " Berdasarkan cerita yang Eren ceritakan−kurasa kau tahu apa yang sudah terbangun dari diri Levi kan?"
Hanji hanya bisa mengangguk iba. Ia sesekali menatap Eren yang berkeringat dingin seperti orang demam. Tangan gadis itu telaten membersihkan keringat itu dari dahi dan leher Eren yang bergetar.
Hanji sekali lagi mendengus kasar. " Dan kurasa aku juga tahu apa yang akan ia lakukan sekarang"
Laptop Hanji yang terbuka di atas meja menandakan ada E-mail masuk. Hanji sendiri hanya bisa menyuruh Farlan untuk membukanya dikarenakan seluruh tubuhnya telah digunakan untuk memeluk Eren yang terlelap agar bocah itu tidak terjatuh dari sofa.
Farlan mendengus kasar dan mencibir ke arah Hanji. Ia menarik laptop dengan merek Apple itu dengan sangat kasar hingga jika saja ia tidak menahannya, dia rasa Hanji akan menjadi gila dan memotong-motong tubuhnya seperti tahu karena laptopnya hancur menabrak dinding.
" HEI HEI HEI!" Hanji melotot ganas. " Laptopku hancur maka aku akan mencongkel ginjalmu keluar dan menarik ususmu seperti tali, keparat. Jika perlu aku akan menggantung kepalamu dan memakai isi otakmu sebagai makanan serigala peliharaanku!"
" Hn..." Balas Farlan.
Ia fokus mengutak-atik laptop nista milik Hanji dan mengacungkan jari tengah kepada gadis itu. membuat Hanji seketika meledak dam melempar sandalnya menghantam pucuk kepala milik Farlan. Farlan sendiri mendesis dan memaki Hanji. Ia balas melempar balik sandalnya dan Hanji yang melempar pisau.
Hanji menatap Farlan tajam. " Jika Eren sampai bangun dan laptopku rusak maka aku bersumpah akan menguliti dan mencincang setiap inchi dari daging basahmu itu hidup-hidup. Kau akan berteriak dan terus berteriak saat sel-selmu akan hancurkan dan kuputus dengan gergaji mesin!"
Pemuda berambut tan itu mengejek Hanji dengan menganggap ancaman Hanji hanyalah sebuah permainan biasa dan hal itu spontan membuat kepala Hanji rasanya ingin meledak dan melempar seluruh pisaunya ke arah Farlan sekarang juga!"
" DASAR KAU KEPARAT BAJINGAN! MAT−"
" Tunggu dulu!"
Hanji yang sudah melayangkan tangannya untuk menabok kepala Farlan sampai berputar−tiba-tiba berhenti dan memasang wajah melongo kebingungan khasnya. Ia hanya bisa menelengkan kepala bingung saat Farlan mengecek laptopnya dengan mata menyipit dan raut sangat serius.
" Apa!? Memangnya ada apa!?"
Farlan bergumam. " Kau tahu E-mail apa yang masuk tadi?"
Hanji mendengus sangat kasar. " Mana aku tahu!? Jika saja aku tahu pasti aku tidak usah lagi bertanya padamu dasar pesut kuda!"
Farlan menatap Hanji dan membalik laptopnya hingga layar itu menghadap Hanji. Hanji memasang wajah jengkel dan menarik laptop itu lebih dekat. Matanya yang asalnya menyipit kesal menjadi melebar terkejut.
Eren agak sedikit tersentak dan membuat Farlan panik. Pemuda itu segera menarik tubuh Eren menjauh dari jangkauan tangan Hanji yang menepuk-nepuk sofa dengan kasar dan gila. Mungkin saja tangan itu akan mencaplok mulus wajah Eren jika saja Farlan tidak menarik Eren mundur.
" Hei..berhati-hatilah kau mata empat gila!" Maki Farlan. " Kau mau membangunkan Eren hah!?"
" Sssst...aku tahu aku tahu. Bagaimana aku bisa tenang setelah membaca e-mail ini hah? Ini sama saja kita harus keluar dan meninggalkan Eren sendirian karena perintah ini!"
Farlan merengutkan wajahnya dan menahan kepala Eren ke arah pegangan sofa agar kepala bocah itu tidak terkulai ke bawah seperti akan patah karena Farlan langsung menarik Eren spontan tadi. Ia juga menyumpahi Hanji lirih dan sesekali mencibirkan sesuatu yang sangat kasar dalam bahasa Prancis.
Dari : Levi
Semua file hitam berkumpul. Aku tidak menerima penolakan apapun dan segeralah datang. Ada yang ingin ku bicarakan. Datanglah ke bar biasa.
Hanji mengetikkan sesuatu untuk membalas e-mail itu segera. Ia sesekali melirik Eren khawatir.
" Kita harus pergi sekarang Farlan" Ucap Hanji. " Levi sudah menyuruh kita dan katanya kita akan pergi ke bar yang biasa. Itu pertanda bahwa dia ingin membahas masalah minggu depan"
Farlan terdiam dan mengangguk. Tapi ia segera angkat bicara setelah melihat Eren yang memeluk jas Levi makin erat dan tertidur polos tanpa tahu bahwa dirinya bisa saja dalam bahaya ataupun keadaan yang begitu mematikan.
Pemuda itu menatap Hanji. " Bagaimana dengan Eren? Kalau Armin−Nanaba dan Jean yang menjaganya tetapi Eren? Kurasa aku tidak akan punya cukup waktu untuk membawa Eren ke rumah Nanaba."
Hanji membetulkan letak kacamatanya dan berjalan menuju salah satu lemarinya. Ia membuka lemari itu dan mengeluarkan obat cair beserta jarum suntik. Hal itu spontan membuat Farlan kaget dan menggeram.
Mendengar geraman Farlan yang terdengar berbahaya−Hanji mendengus sangat kasar dan menghentakkan kaki ke lantai dengan sama kasarnya bahkan lebih kasar dari geraman milik Farlan.
" Jangan salah sangka dulu kau brengsek! Ini adalah obat bius! Bukannya racun!"
Farlan menyipitkan mata curiga saat Hanji duduk di samping Eren dan mulai memasukkan obat cair itu ke dalam tabung jarum suntik. Wajahnya yang biasanya gila akan menjadi serius kalau sudah berhubungan dengan obat-obatan.
Hanji menyapukan kapas kecil ke lengan Eren sebelum menusukkan jarum suntik itu ke dalam peredaran darahnya. Rasa sakit dari jarum itu membuat tubuh Eren berjengit dan dia mengerang kesakitan dalam tidur. Farlan panik dan menatap tajam Hanji tapi gadis itu hanya diam dan tetap fokus mendorong semua cairan itu masuk ke dalam tubuh Eren.
" Aku sudah terbiasa mendapati orang-orang yang tertidur akan berjengit kesakitan dan mengerang saat aku menyuntik mereka. Seluruh manusia hasil percobaanku selalu seperti itu tapi mereka tidak akan bangun karena yang kuberi obat bius dan bukan obat bius biasa"
Farlan menelengkan kepala. " Lalu apa bedanya dengan obat bius biasa?"
Hanji menarik jarum itu dari lengan Eren dan menekankan kapas ke tempat yang sudah ia suntik. Gadis itu meletakkan jarum suntiknya ke atas maeja dan memutar botol tempat obat biusnya. Sebuah tulisan dalam bahasa ilmiah yang hanya Hanji seorang yang tahu artinya.
" Obat bius ini..." Hanji menunjuk botol tadi. " obat bius ini bekerja 5 kali lebih cepat daripada yang dipakai para dokter dan jangka waktunya lebih lama. Eren tidak akan terbangun sampai esok pagi."
Farlan menyilangkan tangannya dan tersenyum angkuh saat mendengar penjelasan Hanji. " Kutebak kau sendiri yang membuatnya..."
" Kok kau tahu?" Tanya Hanji balik. " Memangnya aku sudah pernah memberitahu mu bahwa aku yang membuat ini?"
" Lupakanlah..."
Farlan berdiri dan mengambil kunci motornya. Ia juga mengambil sebuah katana dengan darah kering yang ia letakkan di samping lemari ruang tamu Hanji. Farlam mengecek Iphonenya dan menemukan pesan masuk dari Irvin.
Petra sudah di bar terlebih dahulu. Auruo dan Gunther dalam perjalanan. Levi bersama Irvin dan sisanya Hanji dengan Farlan. Erd sedang ditugaskan oleh Levi sebagai mata-mata karena kemampuan temannya yang satu itu dalam memata-matai memang tidak bisa ditampik.
Farlan melirik Hanji yang mengetikkan sesuatu pada laptopnya dengan cekatan. Beberapa kali menekan tombol enter dan Voila! Seluruh sistem keamanan milik Hanji aktif secara bersamaan saat itu juga.
" Ini akan membantu untuk melindungi Eren" Hanji menutup laptopnya dan menyelimuti tubuh Eren.
" Mari kita pergi sekarang"
" Farlan..." Panggil Hanji. " Jangan sampai Levi tahu tempat Eren sekarang. Akan berbahaya misalkan ia membunuhnya"
Farlan menanggukkan pernyataan Hanji.
Hanji berdiri dan mengambil revolver berkaliber ganda miliknya bersama dengan sebuah pisau lipat yang sudah ia lumuri dengan racun kodok amerika. Memasukkan semuanya ke dalam kantong jas sekolahnya.
" Tunggu sebentar..."
Farlan mengerang. " Apa lagi?"
Hanji merengut dan memeletkan lidahnya. Ia menyentuh ikat rambutnya dan mengatifkan sensor panas tubuh dan menghubungkannya ke dalam kacamatanya. Membuatnya tahu dan dapat mendeteksi musuh yang sudah ia pindai sebelumnya.
Farlan yang melihat Hanji menyiapkan segalanya hanya membuang nafas kasar. Ia cukup mengetukkan kedua sepatunya bersamaan maka sebuah pisau kecil dengan racun yang sama mematikannya dengan Hanji muncul. Hanji bersiul dan membuat Farlan segera memasukkan pisau itu kembali.
" Granat tanganmu sudah aktif, pecundang?" Tanya Hanji remeh.
Farlan membetulkan letak cincin manisnya dan mendesis. " Diamlah kau keparat gila"
Cincin manis itu menyala kemerahan dan kembali mati beberapa detik kemudian. Farlan memasukkan tangannya ke dalam kantong jas dan berlalu terlebih dahulu. Membuat Hanji berteriak kesal dan mengerang lagi seperti orang sedeng.
' Kau harus sadar Levi' Batin Farlan saat ia mengingat bekas kemerahan pada leher Eren. ' Dia membutuhkanmu. Dia akan diincar banyak orang dan hanya kau yang bisa menyelamatkannya'
.
.
.
.
.
.
.
.
Eren mengerang.
Pemuda manis itu seketika mendesis saat merasakan pinggang dan lehernya terasa sangat pegal dan sakit. Ditambah bagaimana beratnya Eren saat membuka mata dan dia sadar bahwa matanya sembab.
" Ahh...pinggangku!" Erang Eren.
Eren menegakkan badannya dan sedikit menyingkap selimut dari dadanya. Mata emerald miliknya sesekali mengerjap-ngerjap untuk membiasakan cahaya matahari pagi yang masuk begitu banyak.
Jujur...demi apa−pinggang dan leher Eren seperti dihantam beribu-ribu traktor. Rasanya semuanya ingin patah dalam sekejap. Sedikit saja bergerak maka ia yakin akan segera menangis meraung-raung karena sangat sakit.
" Hoaammm..." Eren menguap dan mengucek matanya. " Aku dima−ehh..."
Tunggu dulu.
Snifff...
Sniffff...
Kenapa tubuhnya jadi bau Levi?
Sumpah! Dia menjadi bau Levi. Bau levi itu sendiri seperti bau cairan pembersih tetapi masih ada aroma anggur dan apel disana. Jadinya itu menyegarkan tapi menggoda karena di sisi lain−ia juga mencium bau coklat pekat Belgia.
Perasaan Eren tidak mandi bersama Levi. Menyentuh kamar mandinya saja tidak pernah lalu kenapa ia menjadi bau Levi?
Bocah itu dengan panik menciumi seluruh badannya, mata Eren sesekali terbelalak merasakan bau Levi menguar dimana-mana di udara.
Baru saja Eren ingin berteriak kesal tapi...
Sreekk..sreeekkkk...
" Eh... Ini apa? "
Eren membulatkan mata dan melotot setelah merasakan tekstur kain. Ia mengangkat sebuah jas hitam tinggi-tinggi hingga sejajar dengan wajahnya. Dan yang membuatnya makin melotot atau jika boleh−Eren akan memekik karena itu jas Levi dan sialnya lagi...itu basah.
Pemuda itu meneguk ludah berat saat tahu alasan kenapa jas itu menjadi basah. Mengingat ia memimpikan memeluk Levi malam tadi dan melakukan enaenaenaan lagi dan hampir klimaks jika saja tidak ada rasa seperti jarum suntik masuk ke dalam tangannya.
" AKU MENANGIS DEMI SI KONTET SIALAN ITU!?" Pekik Eren nyaring. " TIDAAAAKKK!"
PRANGG!
BRAAAKK!
PRAAAANGG!
" GYAAAA!
Eren kaget setengah mati bahkan terjungkal ke bawah saat mendengar panci dan rak piring yang jatuh dari kejauhan. Membuat wajah manis miliknya menghantam mesra lantai keramik dan membuatnya kembali menyumpah-nyumpah dengan kutukan penyihir Jerman.
" Sialan!"
Pemuda berambut Ebony itu mengerang tertahan dan mengangkat kepalanya yang berdenyut-denyut tidak karuan. Eren merengutkan bibirnya ke bawah dan menggembungkan pipi kesal. Alisnya menukik dan mata hijaunya melemparkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kilat kesal.
" OH! KAU SUDAH BANGUN YA EREN!?"
Hanji datang dari dapur dengan wajah cemong dan asap menguar. Kilat kesal mata Eren segera berubah menjadi kilat kebingungan. Eren melongo begitu lebar melihat bunyi ledakan datang dari dapur Hanji dan gadis itu menyumpah.
" Tunggu sebentar yan titan imutku! Aku perlu mengurus sesuatu dulu! KYAHAHAHA!"
Eren menggigit bibir bawah khawatir. " A-ano s-senior Hanji..."
Hanji datang dengan membawa 5 tabung alat pemadam kebarakan instan berukuran besar. Menyeretnya dengan ganas dan bahkan gadis itu melemparkannya ke dalam dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu itu.
Hanji tersenyum gila sebelum masuk ke dalam dapur yang sudah mengeluarkan asap begitu banyak.
Eren sendiri hanya bisa terdiam. Ia menatap jas Levi di tangannya dan merengut. Bagaimana ia bisa menangis untuk kontet yang sudah menyiksanya sedemikian rupa itu? Ditambah si cebol sadis itu sudah memperkosanya dan mengklaim Eren dengan sepihak.
Mata Eren mengalihkan pandangan. Ia seketika tersentak.
" I-itu... "
Eren menutup mulut kaget saat menemukan sebuah kotak berisikan headphone putih bertelinga kucing yang tergeletak di atas meja. Hal itu seketika mengingatkan Eren dengan segalanya. Mengingatkan Eren dengan jalan-jalan mereka, sifat lembut Levi, rasa sayangnya, dan sialnya, dia juga memgingat Levi yang meninggalkannya secara sepihak...lagi.
Dan ancamannya.
" Sialan..." Eren rasanya ingin menangis. " Dasar kontet kurang ajar! A-aku ingin pulang denganmu...b-bukannya ke Jerman! K-kau selalu meninggalkanku..."
Eren menggosok pelupuk matanya dan kembali menatap jas milik Levi yang tergeletak di pangkuannya.
Eren sendiri memang masih belum bisa memantapkan hatinya untuk Levi. Dia masih bingung dan bimbang. Dia yakin 100 % bahwa dia masih menyukai dada besar perempuan dan tubuh indah mereka. Dia yakin, tetapi setelah Levi mengklaimnya saat itu... Eren tidak bisa lagi yakin dengan orientasi seksualnya sendiri.
" B-biarkan aku untuk belajar u-untuk memahami mu.." Eren berkata lirih. Ia meremas jas Levi dengan mata emerald yang bersinar redup. " A-aku belajar tetapi kau selalu salah faham...b-bagaimana aku bisa memahami jika kau selalu bertindak secara sepihak seperti ini?"
Mata Eren bersinar lemah. Dan tanpa sadar air matanya sedikit menetes dan segera membuatnya menyumpah dan menggosok mata indah itu dengan kasar.
" Ahh.. Dasar kontet brengsek " Keluh Eren kasar. " Sejak kapan kau bisa membuatku menangis untukmu!? "
" Aissh! Ini menyebalkan dan kau membuatku kebingungan!"
" YO EREN!"
Eren berhenti menatap jas itu dan berbalik menatap Hanji yang tersenyum makin gila dengan tubuh terbalut busa atau yah sejenisnya...dan wajah cemong. Rambutnya berdiri ke atas akibat merasakan ledakan luar biasa di depannya.
" Eren...kau mau ke sekolah hari ini? Armin menunggumu!"
Mata Eren seketika berbinar. " Benarkah!? Aku mau kesana! Senior...tapi seragamku?"
Hanji seketika tertawa melihat Eren kebingungan soal seragam dan menjawabnya dengan sangat santai. " HEEH!? KENAPA KAU MASIH PEDULI SOAL SERAGAM! PAKAILAH BAJU APAPUN!"
Eren seketika tersenyum lebar dan berdiri untuk meminjam kamar mandi milik Hanji. tapi Hanji sudah keburu berjalan ke arahnya tapi malah terpeleset dan wajahnya menghantam keramik dengan sangat kasar hingga darah mengalir.
" S-SENIOR HANJI!" Eren panik sendiri dan gelagapan.
" AKU TIDAK APA-APA! GYAHAHAHAHAHA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Eren merasa sangat deja vu.
Melihat bagaimana ia melintasi jalanan menuju sekolah mereka membuatnya merasakan memori. Dulu bersama Hannes saat pertama kali memasuki jalanan ini−firasatnya sudah tidak merasakan hal baik akan terjadi.
Dan kali ini juga sama. Di dalam mobil milik Hanji−Eren menatap bagaimana kondisi jalanan yang luar biasa mengerikannya masih terus menghiasi jalanan sekitar sekolah mereka. Eren sendiri hanya tertawa canggung dan geli mengingat wajah Armin yang berusaha optimis padahal pemuda pirang itu sudah pucat ketakutan melihat bekas darah di dinding.
" Oh ya senior Hanji..." Eren menatap Hanji yang sedang menyetir di sebelahnya. "Armin menginap dimana?"
" Di rumah Nanaba!" Jawab Hanji mantap. " Dia sepupu Levi kalau kau mau tahu"
Eren spontan berteriak tidak percaya.
" S-SEPUPU! SEJAK KAPAN NANABA-SAN MEMILIKI DARAH SEPUPU DENGAN LEVI!?"
Tolong seseorang sadarkan Eren sekarang. Apakah ia tidak salah dengar tentang hal ini? Nanaba itu terlalu baik untuk menjadi sepupu orang se-brengsek Levi! Apakah kali ini takdir kembali mempermainkannya?
Oh...rasanya Eren ingin menabrakkan diri sekarang juga karena tidak kuat mendengar. Ia sudah menerima banyak hal random yang tidak pernah ia sangka sebelumnya sejak pindah ke Tokyo.
Tapi ini yang paling parah.
" Seharusnya kau senang karena dapat tahu semua tentang kekasih tampanmu itu dari orang sebaik Nanaba! Dia bahkan senang saat Levi menyatakan cintanya kepadamu saat kalian sedang melakukan seks!"
Pipi Eren spontan memerah hingga ke telinga dan membuat Hanji gemas setengah mati. Ingin rasanya ia menginjak remnya kuat-kuat sekarang dan mulai mencubiti pipi Eren sampai makin memerah.
" M-MANA ADA!?" Sangkal Eren.
Hanji menyunggingkan senyum curiga. " Hmmm...gengsi mu ternyata tinggi sekali ya! Pantas Levi ingin sekali memakanmu karena kau semanis ini! GYAHAHAHA!"
Eren menyumpah dan mengerang kesal biarpun wajahnya masih memerah. Ia melemparkan pandangan ke luar jendela dan mendapati bahwa gerbang sekolah seketika terbuka demi membiarkan mobil milik Hanji dapat masuk.
Para murid-murid berandalan menyipitkan mata saat melihat Eren satu mobil bersama Hanji.
Terkutuklah seorang manusia bernama Hanji Zoe ini.
Ia mengerem gila-gilaan hingga kepala Eren sudah 3 kali menabrak jok depan mobil dan mengerang seperti saat Levi menggigit lehernya. Eren mengepalkan tangan dan memukul jok saat berusaha menyelematkan kepalanya.
" Aisssh..kepalaku!"
Hanji sendiri tersentak saat Eren membanting pintu mobil kasar dan mengusap kepalanya yang memerah. Pemuda manis itu menggerutu dengan raut yang manis dan membuat Hanji sekali lagi ingin memeluk Eren.
" EREEEEENNNN!"
Eren tersentak kaget dan melebarkan matanya melihat seorang pemuda pirang berlari ke arahnya.
" ARMIIIIN!"
Armin berlari makin cepat dengan tubuh kecil yang terbalut jas merah marun itu. ia tidak menghiraukan jasnya yang akan terbang karena ia berlari sangat cepat atau kaki mulusnya yang pegal.
Eren hampir saja menangis saat Armin menabrakkan dirinya ke arah pemuda Jerman itu dan memeluk tubuhnya sangat erat. Eren juga mengeratkan pelukannya tanpa tahu bahwa tubuhnya masih saja sakit.
Dan kedua orang itu memikat perhatian semua siswa lainnya disana. Mereka terdiam dan menyipitkan mata tidak mengerti. Nanaba dan Hanji yang berada di belakang mereka hanya bisa tersenyum.
PLETAKKK!
" AWWW! APA-APAAN KAU ARMIN!? KENAPA KAU MENJITAK KEPALAKU!?"
Armin merengutkan bibirnya dan menarik baju Eren. " Kau kemana saja!? Kau membuatku khawatir setengah mati karena kau terus menerus hilang dan membuat masalah! Dan apa-apaan dengan baju ini!?"
Eren tertawa canggung. " Ahh..b-bajuku sebelumnya robek"
" Kenapa?" Armin bertanya dengan wajah bingung.
Eren hanya bisa menjelaskan dengan seadanya karena bajunya yang dulu dirobek Levi. Dan hal itu bukan dirobek biasa. Bisa-bisa dirinya diintrogasi oleh Armin habis-habisan jika ia sampai mengucapkan bahwa baju itu dirobek sebelum acara panas Levi dan Eren.
" Ahh...aku terjatuh dan lengannya tertancap ke sebuah paku! Aku mencoba untuk menariknya tapi semuanya ikut robek!"
Armin mengerang dalam diam dan sekali lagi menjitak pucuk kepala Eren. Membuat pemuda manis itu kembali memarahi Armin dan kedua sejoli berparas manis itu saling sebut menyebut di tengah lapangan.
Salahkan mereka yang terlalu rindu satu sama lain. Eren yang disekap Levi dan Armin yang putus komunikasi membuat keduanya jadi sama-sama mengkhawatirkan satu sama lain. Hal itu terlihat lucu di mata para siswa yang melihatnya.
" Aissh..mereka lucu! Aku jadi gemas sendiri!"
" Ternyata si kecoa itu juga bisa kawaii"
" Yang pirang itu nadanya manis!"
" Ahh...pertengkaran mereka sangat menggemaskan!"
Di lantai 3 gedung ketiga sekolah itu, sepasang mata tajam terus mengekori pergerakan Eren dan Armin.
Terutama Eren.
Entah dia harus tersenyum atau tertawa remeh. Bocah sialan itu terus saja membuatnya terpesona, membuat dia mau tidak mau tersenyum karena hanha melihatnya dari kejauhan, hati kecilnya merasa tenteram.
Tapi yang membuatnya tersenyum miring, apakah bocah itu bisa tersenyum manis jika sekali lagi di hadapkan padanya? Bahkan Levi sendiri tidak yakin, Eren merindukannya.
Dia cemburu. Atau bisa dibilang cemburu buta.
Dia tidak bisa membuat senyum manis Eren berkembang. Dia selalu cemburu kepada orang-orang yang dapat membuta Eren tersenyum dan tertawa, sedangkan dirinya tidak.
" Naa.. Bocah keparat" Bisik Levi lirih.
Dia menatap Eren dari kaca jendela dengan tajam dan seringai iblia yang terkembang.
" Bocah nakal sepertimu memerlukan hukuman lebih. Kali ini aku tidak akan menahan diri lagi misalkan kita berpaspasan nanti"
Levi mendecih dan berlalu dari jendela. Ia mendesis dan menggeram karena berusaha mengontrol hormonnya saat melihat bibir merah dan kulit tan menggoda kekasihnya itu.
Sayangnya, hal manis itu juga ditangkap oleh sepasang mata berwarna coklat madu milik seorang gadis kecil yang berdiri di atas pohon di luar SurveyCorps Highschool. Ia menggantung ponsel lipat di lehernya dan terus mendengarkan instruksi dari seseorang di seberang yang menelponnya.
Mata bulat manis milik gadis itu terfokus pada Eren yang bertengkar dengan Armin.
" Mereka manis..." Ucap gadis itu dengan mata berbinar. " Aku mau yang berambut coklat itu...dia manis. Aku mau dia jadi eommaku"
Suara di seberangnya terkekeh. " Kau masih memakai bahasa aslimu, Yuii chan?"
" Ya" Jawab Yuii kecil.
Matanya terus mengikuti pergerakan Eren yang seperti menghentak-hentakkan kaki, mengerang dengan suara lucu, berdebat dengan Armin, mengadu kepada Nanaba, menghindari cubitan ganas senior Hanji, dan berpelukan bersama Armin. Ia bergumam karena ketertarikan.
Dan makin tertarik saat Eren tersenyum begitu manis dan rambut Ebony-nya sedikit tersingka karean tiupan angin.
Mata coklat madunya berbinar-binar hebat.
" Aku mau dia...aku mau dia jadi eommaku!"
Suara di telepon lipatnya terkekeh. " Namanya Eren Jaeger"
" Eren Jaeger..." Ulang Yuii.
Ia mengeluarkan sebuah pita putih dari balik jas sekolahnya dan mengikatkannya ke belakang rambut oranyenya yang panjang. Membuatnya menjadi sangat manis dengan mata besar dan senyum menawan khas anak perempuan 13 tahun itu.
" Target terkunci...Eren Jaeger"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Kau jangan kemana-mana! Tunggu disini dan kita akan pulang bersama!"
Armin menunjuk ke depan wajah Eren yang menggerutu dengan mata biru yang melotot.
Eren menjauhkan telunjuk Armin dari depan hidungnya dengan kesal. " Ya ya ya! aku tidak akan kabur lagi! Lagipula Levi ada disini! Jika tahu aku kabur maka aku akan dia sekap lagi! Bisa mati aku!"
" Hufffft!" Armin menggembungkan pipinya dan berusaha menatap Eren tajam tapi hal itu malah mengingatkan Eren dengan Levi dan membuatnya kembali bersemu.
Eren segera mengerang dan menepuk pipinya karena lagi-lagi ia merona bahkan saat mendengar nama Levi saja. Sama seperti saat ia melewati koridor dan para siswa pelacur mengatakan nama Levi dalam nada menggoda−ia merona hebat hingga tubuhnya tidak bisa lagi berjalan dan membuat Armin menariknya.
" Ya sudah!" Armin berbalik dan melirik Eren yang berdiri di depan gerbang. " Aku ingin mengantarkan sesuatu dulu kepada Irvin dan mengambil CheeseBurger yang sudah Nanaba-san pesankan untuk kita!"
Eren mengangguk bahagia saat mendnegar kata-kata Cheeseburger.
" Jangan kau lupakan cheeseburgernya! Aku kelaparan!" Teriak Eren senang ke arah Armin yang berlari ke dalam sekolah.
Armin mengangguk dan tersenyum. Pemuda pirang itu hilang dan masuk ke dalam koridor gedung pertama menuju tempat dimana Irvin dan Nanaba yang sudah menunggunya. Meninggalkan Eren sendirian yang mengkhayalkan cheeseburger dengan tambahan keju ganda di depan gerbang.
" Huwaaaa! Cheeseburger favoritku!"
" Halo?"
" EEEH!?"
Eren seketika terlonjak kaget saat menemuka seorang gadis kecil menarik-narik ujung seragamnya dengan mata bulat besar yang berkaca-kaca. Pemuda itu menyipitkan mata ke kiri dan ke kanan−berusaha memastikan bahwa tidak orang yang mencurigakan disana.
" Gadis manis..." Eren menepuk kepala gadis itu. " Kenapa kau bisa sampai disini?"
Gadis itu terisak dan menyeka airmata yang mengumpul di ujung matanya. "Hikss...aku tersesat O-oppa...aku tidak tahu jalan p-pulang..."
" Oppa?" Beo Eren.
' Sial...dia bukan orang Jepang. Dia sama sepertiku' Batin Eren. Eren melemparkan pandangan ke dalam sekolah dan kembali memandang gadis kecil itu. Tatapannya melembut dan tangan lembut Eren mengusap air mata gadis manis berambut oranye itu.
" Disini berbahaya...gadis manis sepertimu tidak seharusnya ke tempat seperti ini" Ucap Eren dengan nada selembut mungkin.
Eren rasanya gemas sendiri hingga gadis kecil itu tersentak saat Eren mengangkat tubuhnya dan menggendong tubuh kecil gadis itu. Mata besarnya menatap Eren dengan binar kekaguman.
" O-oppa?" Tanya gadis itu.
Eren tersenyum manis. " Ya? Rumahmu dimana? Mari Onii-san antarkan..."
Gadis itu tersenyum manis sama seperti Eren dan membuat hati Eren menghangat. Ditambah tangan gadis itu melingkar antusias di leher jenjang milik Eren dan ia mulai tertawa menunjuk jalan di depannya.
" Oppa..." Panggil gadis manis itu sekali lagi. " Menurut Oppa aku bisa jadi gadis baik?"
Eren tersenyum. " Tentu saja!"
Gadis itu menundukkan kepala dan tersenyum saat Eren mengelus puncak kepalanya sayang seperti anak sendiri. Eren merasa sangat nyaman dan hangat. Belum pernah ia merasakan hal senyaman ini saat berdekatan dengan anak kecil.
" Kalau begitu Oppa..."
Gadis itu menatap Eren. Ia tersenyum manis. " Aku berjanji jadi gadis baik jika Oppa mau tidur dulu sebelum ke rumahku..."
Eren menelengkan kepala bingung. " Ehh? Apa maks−"
HUFFFFFFTTTTT!
" HHMMMMM!"
Eren panik setengah mati saat matanya mengabur dan nafasnya pendek-pendek. Ia ngantuk sekali...entah kenapa sangat ngantuk dan nyaman. Begitu ngantuk dan akhirnya emerald itu tertutup sempurna. Nafasnya teratur dan rasa paniknya menguap begitu saja seperti asap.
" Selamat tidur Oppa..."
" Ehh...bukan. Kau bilang dia bukan oppa, Yuii chan"
" Ehhh iya ya!"
Yuii tersenyum manis dan memeluk Eren. " Selamat tidur eomma!"
.
.
.
.
.
.
.
" Levi..."
" Eren menghilang..."
BRAAAAAAKKKK!
" Cari dia orang-orang bodoh"
" Cari Eren sebelum aku meledakkan kepala kalian satu per satu dan membuat kalian merasakan neraka denganku"
.
.
.
.
T
B
C
XD
*Eomma = Ibu
*Oppa = Kakak laki-laki yang lebih tua ( Ini kalau bagi perempuan, bagi laki-laki nyebutnya ' hyung ')
Halo! Semuanya! Author balik lagi! ^^
Sorry yang jika ceritanya kurang panjang dan yah..kurang hot. Tapi karena di chap sebelumnya Eren sedang ada masalah dengan Levi...maka dari itu Author nggak buat mereka bersama dulu ^^
Oh ya...soal Yuii chan...dia itu OC milik Author! Sorry jika kalian nggak senang dengan tokoh Yuii chan disini tapi jujur..Yuii chan itu tokoh kesayangan Author yang sering author gambar dimanapun^^
* Bungkuk hormat*
Ayo tinggalin jejak kalian sebanyak-banyaknya agar saya bisa merasa tersemangati untuk terus melanjutkan ff ini! ^^
RnR and Foll or Fav everbody!
