Chapter 16

.

.

.

.

An Attack on Titan Fanfiction

.

.

.

Cast :

All Snk Characters and My OC

.

.

.

Pairings:

Riren ( Main)

Erumin

Jean x Armin

and another pairing ( Soon)

.

.

.

WARNING!

This is positive YAOI!

Rated M ( Mature)

BL ( Boys Love)

Mature and adult contents

Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath. Smut and hard sex

.

.

.

Genre :

Crime

Romance

Adventure

Suspense

.

.

.

Semua chara Snk adalah milik Hajime Isayama senpai

Saya hanya meminjam ^^

Ceita original milik saya ^^

.

.

.

No plagiat dan repbulish atau reupload tanpa seizin dari saya -_-

Hope you enjoy it ^^


FlashBack

Malam sebelumnya

.

.

.

.

" Sialan"

" Dasar bocah keparat"

" Jika saja aku tidak menyayangimu−mungkin sekarang kau tinggal nama"

" Ho−bukan nama lagi, tapi debu-debu kecil di udara"

" Brengsek"

" Bajingan"

Semua orang yang sedang keluar untuk berjalan-jalan di malam indah dan menikmati suasana kota Megapolitan seperti Tokyo, tiba-tiba saja mengumpat kasar dan menyumpah. Wajah mereka masam dan hati mereka dongkol setengah mati.

Siapa yang tidak akan kesal setengah mati jika ada mobil Ferrari berwarna hitam melaju gila-gilaan di jalanan tanpa rem dan tahu aturan? Beberapa anak kecil lari terbirit-birit dan gadis-gadis berteriak ketakutan saat Ferrari hitam itu melaju lebih cepat dari senapan angin.

Mungkin saja pengemudinya gila.

Ya−kurasa...?

Mobil mewah itu memecah keributan dan hingar-bingar Tokyo dengan kecepatan dan akselerasi kelas tingginya. Kelihatannya pengendara mobil itu tidak sedikitpun menghiraukan keselamatan para pejalan kaki dan dirinya sendiri−yang sedari tadi dikejar setumpuk Military Police yang meniup peluit mereka seperti orang kesetanan dan membuat hujan lokal berjamaah.

Mereka membunyikan suara-suara gemerincing yang random dan hal itu secara tidak sengaja membuat si pengemudi yang moodnya sudah sangat buruk atau bisa dibilang hancur sekali, seketika berubah dari hancur dan menjadi frustasi akut hingga rasanya tangannya gatal untuk sedikit bergerak.

Rasanya ia perlu pemanasan sedikit sebelum berhadapan dengan yang lebih besar dari ini.

Para gerombolan Military Police itu seketika memasang raut heran karena Ferrari itu tiba-tiba berhenti. Yap... Ferrari yang banyak melanggar rambu-rambu jalan dengan melaju tanpa tahu aturan dan memasang kecepatan di atas 100 km/jam itu seketika berhenti karena lampu merah.

Kurasa si pengemudinya memang koplak dari awal.

Seorang opsir berhenti dan merengutkan wajah tuanya. Rahangnya mengeras saat asap timbul dari ban mobil itu karena mobil itu tiba-tiba saja direm secara mendadak setelah dipakai melaju gila-gilaan dan brutal tak terkontrol sejak 30 menit yang lalu. Opsir tua itu menggerutu karena asam uratnya kambuh lagi.

" Dia melanggar rambu-rambu dan memasang kecepatan tinggi seperti sedang mengejar banteng sakit gigi, tapi berhenti hanya untuk lampu merah!?" Sungutnya kasar. " Apa-apaan ini!? Dia ingin mempermainkan kita!?"

Temannya yang satu lagi hanya bisa menghela nafas berat. Ia harus menghadapi ini dengan kepala dingin biarpun ia ingin sekali berteriak dan memaki orang itu karena sumpah... dia berlari dengan celana pendek dan hampir saja telanjang karena orang itu menabrak pembatas jembatan dan melaju dengan sangat gila hingga ia mencium tiang jembatan dengan mesra.

" Sudahlah... mari kita selesaikan ini dan hukum orang sialan itu. Bermain-main seperti ini tidak lucu"

Opsir lain yang kebetulan mendengar mereka, membalas cepat. " Biasanya untuk kasus seperti ini hanyalah anak muda labil! Mereka suka sekali mencari ulah!"

" Bila memang seperti itu−aku akan benar-benar memberikan pelajaran pada anak tidak tahu diri itu!"

Pengemudi Ferrari itu menyandarkan punggung tegapnya pada jok mobil dan mengangkat kaki ke atas setir mobil. Ia menyedekapkan tangan di depan dada dan tersenyum miring. Mata tajamnya menatap lurus ke depan tapi rautnya benar-benar angkuh dan meremehkan.

Ia menunggu.

Ya, ia menunggu semua polisi tua−ah..tidak. Mereka bahkan tidak pantas menerima gelar polisi. Mereka hanyalah pembual kotor dengan mulut manis dan akting yang luar biasa. Memakai gelar polisi demi uang dan harta semata. Busuk di dalam seperti ulat dalam apel yang matang.

Pemuda dengan mata tajam itu terkekeh remeh dan melirik tajam para Military Police yang sudah mengepung dirinya. Mereka mengetuk-ngetuk jendelanya kasar karena tidak bisa melihat ke dalam.

Kacanya sangat gelap dan hampir tidak tembus pandang sedikitpun. Membuat para polisi itu kesal dengan mulai menggedor dan menggebrak seluruh bagian mobilnya. Tapi pemuda−si pengemudi itu mengangkat bahunya dan memasang ekspresi datar seolah masa bodo dengan sekitarnya.

Ia bahkan tidak takut dan bergeming saat para polisi itu mengeluarkan pistol mereka dan menodongkan ke seluruh bagian mobil.

Pemuda itu masih tidak bergeming dan malah mendenguskan nafas kasar bosan. Ia masih menunggu.

Pemuda bermata tajam itu sedikit terkekeh−setelah itu kekehan tersebut digantikan seringai iblis. Seringai si psikopat berdarah dingin dan mafia yang sadis. Yang bahkan akan memotong kedua tangan bawahannya jika mereka gagal melakukan tugas dengan tangan mereka.

Memotong kedua kaki bawahannya jika mereka gagal karena kaki mereka. Menguliti bawahannya misalkan mereka gagal karena tubuh mereka dan membunuh mereka misalkan mereka gagal karena pergolakan jiwa mereka.

Satu prinsip di hidupnya...

Jika kau tidak ingin hidup susah, jangan hidup.

Kalau perlu−matikan diri kalian sendiri sejak lahir agar kalian tidak mengeluh sedikitpun soal susahnya hidup saat besar nanti. Keluhan itu menyakiti telinganya dan membuatnya ingin sekali melempar kalian ke dalam kubur.

" KAU YANG ADA DI DALAM!"

Pemuda itu memalingkan kepalanya ke sebelah kanan hingga ia dapat bertatap muka dengan puluhan Military Police yang menodongkan pistol mereka. Jemari mereka siap menarik pelatuk itu dan membolongi kepalanya.

" PERINGATAN KEDUA BOCAH! KELUARLAH ATAU KAMI TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MENEMBAKKAN SEMUA PELURU KAMI KE ARAHMU!"

Pemuda itu menatap mereka dingin. " Apa peduliku−Dasar orang tua tidak tahu diri"

Dia mengucapkannya lirih dan hanya dirinya saja yang mendengar hal itu. Pemuda tegas itu tidak bergeming sedikitpun dan malah makin menunggu saat-saat peluru itu ditembakkan ke arahnya. Ia harus sabar

Dan oh−ngomong-ngomong soal sabar... pemuda itu adalah orang yang sumbu emosinya terpendek se dunia tapi sekaligus terpanjang.

Terpendek untuk orang-orang yang gagal apalagi mengabdi di bawahnya. Terpanjang hanya untuk−

" −Eren"

Pemuda bermata tajam itu mendecih kasar dan menendang setir mobil kuat hingga para Military Police di luar tersentak kaget. Tendangan kakinya bahkan terasa sampai keluar dan mereka kira si pengemudi berusaha menggertak mereka−padahal tidak sama sekali.

Mata tajamnya menyorot sangat dingin dan mengerikan. Nama Eren terngiang di kepalanya dan ngiangan itu malah membuat hatinya berdenyut sakit. Bertambah sakit saat mengingat wajah Eren sore tadi.

Ia benci ditinggalkan. Ia benci dikhianati.

Tapi memori senyum bahagia Eren saat berjalan-jalan mau tidak mau melelehkan hatinya.

Eren si ceria dan manis. Dia ingin mengukir senyum itu. Senyum yang hanya ditunjukkan untuk dirinya seorang. Senyum yang hanya ia yang bisa membuatnya. Wajah manis yang hanya dia yang punya.

Karena sampai kapanpun...Eren Jaeger adalah milik seorang Levi SELAMANYA.

Levi mengepalkan tangan kuat dan menggeram berat dengan suara baritonnya yang dalam. Hingga jika dari kejauhan−suara itu malah terdengar seperti geraman iblis atau singa yang siap mengamuk.

Levi yang moodnya sudah down akibat mengingat Eren−hanya bisa menatap semua polisi itu dengan kilatan membunuh. Tapi ingat−dia harus sabar. Sabar yang sama saat ia menanggapi sifat ketus dan singa betina milik Eren.

Jari lentiknya menggenggam erat kemeja tanpa jasnya. Levi mendecih karena terakhir kali ia melirik ke jendela caffe−Eren memeluk jas-nya tidak terima saat Levi hengkang dari hadapan pemuda manis itu. Mata cantik Eren terlihat syok.

Tapi ia tidak peduli. Persetan−dia ingin menenangkan kepalanya. Dia hanya ingin pergi ke kastilnya. Kastil yang membuat dirinya seperti raja karena kota Tokyo di bawah kuasanya.

Levi mendengus kasar.

Oh−Eren pernah bilang padanya bahwa Levi mencampur adukkan perasaan bocah manis itu.

" Dasar bocah bodoh" Desis Levi tajam. " Aku tidak pernah menemukan bocah sebodoh dan setolol dirimu, Jaeger"

Saat Eren mengeluh bahwa Levi mencapur adukkan perasaannya, bocah itu juga tidak sadar bahwa dirinya telah mengacaukan dan mengubah hampir 100 % hidup Levi. Membuat pemuda bermata tajam itu dilema dan kembali labil. Membuatnya hampir tersadar tetapi dengan tidak elitnya− menjatuhkannya kembali ke titik terendah di saat yang bersamaan.

Levi menatap ke seluruh bagian mobil dan berekspresi makin datar. Sorot matanya semakin tidak bersahabat dan jika kau peka( maksudku peka disini, jika kau sudah berpengalaman berkelahi dan dibully selama 10 tahun berturut-turut tanpa jeda hingga rasanya hari-harimu seperti neraka dan jambangan lumpur yang menggelora. Bukan peka dalam hal berpengalaman menggaet cogan dimana-mana. Aku tidak jamin kalian akan selamat dari amukan Eren jika ketahuan menggaet Levi. Jangan salahkan aku misalkan ada titan setinggi..engh..8 atau 10 meter masuk ke koran dan jadi topik utama bacaan hari itu), mata tajamnya berkilat membunuh.

Salahkan emosinya yang selalu meningkat dan moodnya seketika down lagi saat mengingat tentang bocah berdarah Jerman itu. Membuat sisi kelamnya bangkit dan siap meledak.

" SATU! KELUAR ATAU TIDAK!?"

" DUA"

" TIGA!"

" SEMUANYA TEMBAK!"

DOOORR!

DOOOORRR!

DOOOORRRRR!

SYUUUTTTT!

" ARGGGHHHH!"

Levi memainkan setirnya santai tanpa menghiraukan teriakan melengking dan jeritan ngeri dari polisi di luar. Ditambah bunyi benda memantul keras dan cipratan darah di kaca mobilnya. Ia hanya tersenyum miring dan menatap jendela di depannya dengan sorot mata gelap yang random.

Akhirnya kesenangannya kembali.

Melihat bagaimana orang-orang yang menentangnya tersiksa dan mati dengan mengenaskan selalu menjadi hiburan yang menyenangkan baginya. Bahkan ia punya arena Colosseum sendiri di kastilnya−hanya untuk melihat orang-orang seperti mereka mati disana.

Levi memalingkan kepalanya ke samping dan melihat polisi yang tadi mengancam akan menembaknya, bersandar di jendela mobilnya dengan mata melotot ngeri. Wajahnya syok dan mulut tidak percaya.

Dan oh...kepala dengan tiga lubang peluru juga menghiasi wajahnya yang bersimbah darah segar.

Hal itulah yang membuat sisa polisi yang masih bertahan seketika kabur dan menjerit gila karena melihat rekan mereka tewas dengan cara yang mengerikan. Mereka mencoba lari terbirit-birit tetapi apa yang menghadang mereka berikutnya malah membuat mereka berteriak makin gila.

Mereka menjatuhkan lutut mereka dan berlutut agar diampuni tetapi...

Silakan tebak sendiri karena Levi sudah mulai menurunkan kaki berototnya itu dari setir dan membuka pintu Ferrari itu ke atas. Ia hanya tersenyum makin miring dan terkekeh remeh saat merasakan tekstur darah cair di bawah kakinya.

Dengan santainya, pemuda tegas itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong dan melangkahi mayat-mayat yang tercecer di jalanan. Levi membalikkan badannya hingga menghadap Ferrari hitam itu dan ingin rasanya ia tertawa ngeri.

Matanya berkilat liar saat menemukan tubuh mengenaskan para polisi, tergeletak mengelilingi mobilnya. Ia kembali berekspresi datar saat melihat orang-orang di sekitar segera angkat kaki menjauh bahkan beberapa dari mereka−menutup mata anak-anak mereka dan berlari ketakutan.

" Rivaille..."

Levi melirik dari ujung matanya. " Apa?"

" Apa yang kau lakukan disini?"

" Dan apa maksudmu mengikutiku?"

Kedua suara berat itu saling bersahutan. Seolah-olah saling tanya sambil berargumen yang membuat barisan pria dengan senjata api di belakang orang yang menanyai Levi bergerak gelisah. Takut-takut kalau kejadian ada saling sayat menyayat kepala.

Orang itu menghela nafas. " Bagaimana kami tidak mengikutimu misalkan ada segerombol polisi mengejar sebuah Ferrari hitam yang melaju gila-gilaan? Kami tidak buta untuk tidak mengenali mobil milik pimpinan kami sendiri"

Levi mendecih dan berbalik.

Ia menatap pemuda dengan alis tebal dan rambut pirang di belakangnya dengan dingin. Sedangkan yang ditatap hanya bisa tersenyum gentle melihat emosi yang campur aduk di dalam diri kawan sekaligus pimpinannya itu.

" Kurasa itu trik hebat untuk memasang pemantul peluru di mobilmu dan membuat setiap peluru yang mengenainya, terpantul kembali dengan kecepatan dan kekuatan dua kali lebih besar" Pemuda itu berdiri di samping Levi dan sama-sama menatap ke arah Ferrari hitam yang dipenuhi mayat. " Darimana kau dapat ide itu?"

Levi berdecak dan mendengus berat. " Awalnya aku membencinya. Salahkan mata empat gila itu yang tiba-tiba memasangkan fitur manipulasinya tanpa seizinku"

" Dan membuat kau menggantung Hanji terbalik di atap sekolah selama 5 hari tanpa makan" Sambung orang itu. Ia terkekeh saat Levi dengan masamnya menggantung Hanji terbalik dan membuat gadis gila itu terus mengoceh dan berteriak dari atap selama 5 hari berturut-turut.

" Erwin" panggil Levi.

" Biarkan mayat-mayat itu"

Erwin menatap Levi dengan tatapan heran. Ingin rasanya ia protes, tetapi melihat kilat dingin dan tatapan kejam milik Levi sedang keluar, pemuda tampan itu mengurungkan niatnya dan hanya bertanya.

" Kenapa?" Gumam Erwin.

" Kau berbeda malam ini, Rivaille. Biasanya kau selalu menyuruh bawahanmu untuk membuang mayat orang-orang itu karena kau tidak suka repot. Tapi malam ini−kenapa?"

Levi mendahului Erwin dan masuk ke mobilnya tanpa berkata apa-apa. Tetapi sorot matanya kepada seluruh bawahannya telah mengatakan sesuatu yang mutlak. Levi sedikit berdesis di sebelah Erwin sebelum ia benar-benar meninggalkan bawahannya.

" Malam ini berkumpul di bar biasa. Di kastil itu"

Mobil Levi kembali melaju. Ia menggilas seluruh mayat yang ada tanpa peduli sekitar. Levi sendiri mengusap wajahnya gusar. Kepalanya sangat berat sekarang dan ia memerlukan sesuatu untuk melegakannya.

" Jaeger..." Desis Levi geram.

Wajah tampannya memantulkan sinar bulan dan hal membuat tatapan tajam dan seriusnya semakin terlihat menawan sekaligus mematikan di saat yang sama.

" Kenapa kau selalu mengacaukanku bocah?" Levi mengacak rambutnya dan menginjak pedal gas semakin keras. " Kenapa harus kau yang ada?"

Levi terus melajukan mobilnya melewati jalanan malam dan kompleks hutan kota yang sunyi. Emosinya meningkat dengan perasaan kalut. Ia bahkan hampir menabrak gerbang dari baja setinggi 5 meter jika saja para bawahannya tidak sigap membuka pintu itu dan membuatnya dapat melihat markas besar berbentuk mansion atau kastil batu khas Inggris.

Mike−lelaki tinggi itu menunggu Levi di halaman depan kastil yang berbentuk simbol dua pedang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

Saat mobil Levi berhenti 2 cm dari dirinya, yang tentu saja hal itu akan membuat semua orang kaget dan pingsan karena bisa saja jarak 2 cm itu hilang digantikan tubuhmu yang terlindas mobil.

Tapi Mike tersenyum. Levi membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya.

" Oi Mike..."

" Selamat datang ketua Rivaille. Para pimpinan eksekutif mafia sudah menunggu anda di ruang utama"


.

.

.

.

.

.

.

Semua mata yang berada di bar bergaya klasik dan mewah itu, menatap Hanji dan Farlan yang tiba. Seperti biasa, Hanji berteriak gila dan terlalu yah...koplak hingga tanpa sadar ia menabrak meja kaca dan membuat hidung gadis itu bertumpukan bersama gelas-gelas wine.

Farlan tertawa dan mendekati salah satu meja dari kayu akasia yang terletak di tengah. Yang diisi oleh seorang pemuda bermata tajam. Levi memainkan gelas wine-nya dengan wajah datar dan sorot mata gelap. Ia bahkan tidak mengalihkan mata tajamnya dari gelas buatan Italia itu.

Wine merah yang sudah disimpan selama 15 tahun itu ia goyang kesana kemari tanpa ada niat untuk meminumnya sama sekali. Matanya hanya menyorot wine itu dengan tajam dan dingin.

" Yo Levi!"

Farlan menyapa Levi dan tersenyum. Ia menghempaskan pantatnya ke kursi merah di sebelah Levi dan menepuk bahu pemuda itu. Hal itu langsung dihadiahi tatapan membunuh khas Levi dan membuat Farlan segera mengangkat tangannya sebelum tangannya itu putus.

" Jauhkan tanganmu dari Levi−Farlan"

Farlan seketika mengerutkan dahinya. " Hah!?"

" Oi oi Rall...dia sahabatku. Apa kedudukanmu untuk melarangku menyapa sahabatku sendiri?"

Petra yang duduk di kursi dekat meja bar−seketika menggebrak meja tersebut kasar. Ia menghempaskan gelas birnya ke atas meja dengan raut kesal. Gadis berambut coklat muda itu mendesis jengkel dan berdiri dari kursinya.

Erwin, Hanji, dan Auruo yang sedari tadi berbincang tidak jauh dari meja bar−menatap gadis itu. Sedangkan Levi?

Ia tidak tertarik dengan apa yang terjadi. Persetan dengan apapun yang terjadi. Dia datang untuk sebuah pertemuan bukan menonton perkelahian tidak masuk akal. Itu terlalu membuang-buang waktunya.

" Kenapa kalian masih meragukanku!?" Teriak Petra kesal ke arah Farlan. " Aku jelas-jelas tunangan Levi!"

Farlan dan Hanji serempak menahan tawa saat Petra berteriak bahkan melengkingkan suaranya pada kata-kata tunangan Levi. Hanji yang memang sudah dari awal menahan tawa−menyemburkan tawanya secara nyaring hingga ia menepuk bahu Erwin dan membuat tubuh tegap kawannya itu terhuyung-huyung.

" BWAHAHAHAHAHAHA! AHAHAHAHAHAHA APA-APAAN ITU!? GYAHAHAHAHAHAHA!"

Auruo terkekeh dan Farlan yang terbahak-bahak bersama Hanji.

Hal itu jelas-jelas membuat kemarahan gadis berparas cantik dan manis itu meledak-ledak seperti kembang api tahun baru. Ia menghentakkan kakinya dan berjalan ke arah Farlan dengan wajah memerah menahan emosi.

" Kau..." Tunjuk Petra. Matanya melotot marah.

" AKU JELAS−JELAS TUNANGAN LEVI TAPI KALIAN MERAGUKANKU!? APAKAH AKU PERLU MENYERAHKAN SURAT PERJANJIAN ANTARA ORANG TUAKU DENGAN ORANG TUA LEVI BAHWA AKU MEMANG TUNANGANNYA!?"

Hanji makin tertawa dan kali ini ia mengacak rambut Erwin gila karena merasa terlalu lucu. Levi mendelik tajam dari ujung matanya. Pemuda tegas itu mendengus makin kasar dan menyandarkan diri ke sofa. Matanya menatap semua file hitam malas sembari menyilangkan tangan.

" Lalu..." Hanji menepuk bahu Erwin dan terkekeh geli. " Eren Jaeger kau sebut apa hah?"

Farlan tersenyum. " Kurasa bukan lagi Eren Jaeger, Jaeger itu akan segera berganti menjadi Ackerman"

Mata Petra berkaca-kaca. Ia tidak pernah merasa dihina serendah ini. Seolah-olah kehadirannya di samping Levi sebagai tunangan syah selalu diremehkan. Ia bahkan rela mencabut gelar kehormatan seorang " Lady" sebagai gelar kebangsawanan hanya untuk bersama Levi.

Berbuat onar dan menjadi sesama file hitam agar tidak dpisahkan dari pemuda bermata tajam itu.

" Diam"

Suara bariton milik Levi memecah keributan itu dengan segera. Levi menatap Petra yang berdiri di samping meja bar dengan tubuh kaku dan raut mengeras. Pemuda itu tidak buta untuk hanya sekedar menyadari bahwa mata coklat madu milik calon tunangannya itu berkaca-kaca.

Petra yang merasa ditatap tajam oleh Levi−menggosok matanya dengan punggung tangannya dan menarik nafas dalam. Ia berdiri dan berusaha berakting senormal mungkin dan meraih gelas birnya.

Gadis itu mengisinya cepat dan meminum bir itu dengan desisan geram.

" Sampai kapan kalian akan berkelahi hah?" Ucap Levi datar. " Aku mengumpulkan kalian bukan untuk berkelahi dan melakukan hal sia-sia. Dan satu lagi−jangan bawa nama Jaeger"

Farlan menatap Levi lucu. " Haha? Kenapa? Takut kami akan mencurinya? Hei Bung! Kami tidak akan mencuri mil−"

" –bocah itu tidak penting"

" UHUUUUK! UGHHH! UHUUUUUUUKKKK!"

Hanji tersedak Burritos yang sedang ia lahap dengan rakus seperti serigala kelaparan dan membuatnya terbatuk seperti sedang menelan sebuah traktor besar. Ia menepuk-nepuk bahu Erwin dan mengap-mengap layaknya orang asma akut. Hanji menyambar sebotol bir besar sambil melotot ganas. Menenggaknya hingga habis dan membuat Auruo memandang jijik ke arahnya yang minum sampai baju depannya basah semua.

Farlan juga tersedak ludahnya sendiri. Ia mengerutkan kening tidak mengerti ke arah Levi dengan raut tidak percaya atau malah lebih ke arah tidak terima.

Erwin juga sama. Tapi pemuda berperawakan dewasa itu mengerutkan keningnya lebih dalam dan menatap lurus ke arah mata tajam Levi yang sedang menatapnya dengan dingin.

" L-levi...K-kau tidak b-bercanda bukan?" Farlan bertanya dengan nada gugup.

Levi menatap mata sahabat sejak kecilnya itu datar. " Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda, Farlan Church?"

' Gawat' Batin Farlan. ' Dia sungguhan!'

Bir yang berada di tangan Petra hampir saja meleset jatuh jika saja gadis itu tidak segera mengembalikan kesadarannya sejak beberapa saat yang lalu ia syok dan tersentak mendengar pernyataan Levi.

Ia mengerutkan kening. Berusaha mencari unsur lain di dalam wajah Levi, tetapi nihil. Ia hanya mendapatkan wajah datar dan raut serius disana. Tidak ada rasa lain lagi di dalam raut wajah tampan itu.

Hati Petra berdesir.

Bolehkan ia sedikit berharap?

" HEI HEI HEI!" Hanji melotot ganas ke arah Levi dan menyapu mulutnya kasar. "Hey pendek! Sejak kapan kau menganggap Eren sebatas mainan yang hanya bisa dibuang saat masanya hah!? Dia bukan tawananmu!"

Levi menatap tajam Hanji. " Bocah itu memang sudah mangsaku sejak awal −tetapi bukan berarti dia berhasil memasukkan semua dirinya sebagai bagianku"

" Rivaille"

Kali ini giliran Erwin yang angkat suara. Dia memang tidak pernah merasakan lagi rasa kasih sayang dan menolong di dalam hatinya sejak ia dijebloskan ke dalam sekolah berandalan. Menjadi salah satu dari file hitam membuatnya sadar dia tidak bisa lagi menjadi sesuci kain putih.

Tapi Eren lain.

Pemuda manis itu...

Dia masih terlalu suci untuk dijebloskan ke dalam tinta hitam. Pemuda itu nekat dan jujur−baru kali ini Erwin menemui bocah sehebat itu. Yang mampu membuat Levi sampai jatuh ke dalam pesonanya.

Biasanya temannya itu akan langsung membunuh bocah seperti Eren di tempat tanpa banyak waktu untuk menunda. Tetapi...Erwin saja sampai kaget saat Levi tidak kunjung membunuh Eren dan malah menyetubuhi bocah itu. Membuat Erwin yakin bahwa bocah itu memiliki cara tersendiri untuk menarik hati keras milik Levi.

" Akut tidak bermaksud untuk jadi melankolis disini, Rivaille..." Erwin menghela nafas. " Memangnya Eren itu salah apa?"

Levi tersenyum miring.

" Tanya saja pada bocah keparat itu." Levi memasang wajah meremehkan. " Kurasa dia akan lebih tahu daripada aku sendiri"

Hanji menahan nafas ingin meledak. Gadis ilmuwan itu sudah tidak tahan lagi untuk segera menceritakan segalanya kepada Levi dan soal kesalahfahamannya kepada Eren. Cukup Hanji melihat Eren syok dan frustasi seperti itu!

Hanji tahu Eren masih straight, tetapi setelah perlakuan Levi pada dirinya, Eren mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit biarpun pemuda manis itu masih sering menyumpah dan menggertak seperti singa betina PMS.

Siapa yang tidak akan tiba-tiba depresi dan frustasi saat kau mulai belajar untuk menerima orang itu apa adanya−dia malah mencampakkanmu? Bahkan mengancammu?

" Hanji..."

Farlan menatap tajam Hanji dari samping sofa Levi dan menggelengkan kepalanya. Mulutnya bergerak tapi tidak bersuara.

' Jangan sekarang atau masalahnya makin besar. Eren akan makin dalam bahaya'

Hanji mendengus berat dan mengerang nyaring karena kesal. Sifat Levi yang dingin sekarang membuatnya juga ikut frustasi. Hanji ingin sekali melindungi pemuda manis itu berdarah Jerman itu.

" Aaaarggghhh... Sialan! " Erang Hanji kesal. Gadis itu mengacack-ngacak rambutnya jengkel.

Eren dan Armin yang polos.

Jika saja mereka sama-sama berandalan seperti Hanji−maka Hanji tidak akan tertipu dan terpikat karena wajah manis mereka sekarang. Tapi masalahnya, mereka itu bagaikan malaikat yang salah mendarat dan malah terjatuh di padang neraka.

Membuat Hanji jadi ikut iba dan dengan senang hati menawarkan diri untuk melindungi mereka.

" Persetan dengan itu" Levi mendecih. " Erwin−Mana hasil rapat kita? Lupakan omong kosong itu dan mulai fokus pada tugas kalian, orang-orang bodoh"

Hanji dan Farlan hanya bisa mengurut nafas dalam kekhawatiran. Mereka mau tidak mau harus mengikuti perkataan Levi daripada merelakan kepala atau jantung mereka dihancurkan oleh pemuda kurang tinggi yang sialnya merupakan ketua sekaligus teman mereka.

Entah apa yang ada di pikiran Levi saat ia mengatakan hal sekasar itu pada Eren. Ia sebenarnya ingin menggertak Petra dan memaki Hanji. Memain-memainkan kekasihnya sedangkan yang dominan berada di dekat mereka.

Tapi semuanya seperti menguap begitu saja saat ia mengingat perkataan Eren dan binar ketakutan di dalam pemuda berambut Ebony itu sore tadi. Membuatnya sangat malas untuk mengeluarkan sepatah kata apapun dan hanya diam melihat pertengkaran mereka.

Biarkan Levi mendinginkan hatinya lagi.

Dia perlu kebebasan biarpun rasa melindungi akan Eren masih ada tapi dia ingin sendiri sekarang.

Tanpa tahu bahwa si kekasih manisnya itu terus menerus memanggil namanya dalam rasa keputusasaan yang besar. Dan kesepian.

.

.

.

.

FlashBack Off


.

.

.

.

.

.

.

.

Armin terus berlari ke ruangan kelas kosong bertuliskan XII−E yang berada di gedung pertama lantai bawah. Pemuda berambut pirang itu sudah berjanji pada Nanaba untuk menemuinya dan mengambil cheeseburger.

Pemuda berambut pirang itu hanya bisa tertawa melihat bagaimana frustasinya Jean saat burger itu tidak datang-datang dan mengancam akan membakar habis-habisan tempat burger itu. Yang segera saja membuat Nanaba mengambil pedang kendo dari kayunya dan memukul-mukul tubuh Jean sambil berteriak kesal.

Jean sendiri mengaduh dan mengerang. Ia balas memukul pedang kendo yang diayunkan dengan kekuatan penuh itu dan hal itu sontak membuat Nanaba dan Armin terkejut kaget.

Terutama Nanaba yang paling kaget. Tidak ia sangka pemuda jangkung yang bahkan kekurangan daging itu mampu membuat pedang kendo yang beratnya tidak ketulungan, patah dua dalam waktu singkat.

" Hahahaha!"

Armin berlari sambil tertawa. Ia menutup mulutnya geli mengingat betapa syoknya Nanaba dan bangganya Jean mengingat kejadian pagi tadi di rumah Nanaba.

Jean segera saja membanggakan dirinya di depan Armin dan membuat pemuda manis itu tertawa melihat kelakuan Jean seperti ingin menarik perhatiannya. Nanaba yang bad mood karena pedang kendonya di patah dua−melesat ke sekolah sambil membawa celana dalam Jean. ( Membawa kabur dan membuangnya di sungai).

" Nanaba-san!"

Armin tersenyum manis dan membuka pintu ruangan itu dengan wajah ceria. Tidak ia sangka, ia mampu mendapat teman sebaik mereka biarpun kelakuannya yang agak berandalan. Asalkan mereka tidak mencelakakan Eren dan dirinya sendiri, Armin tidak jadi masalah dan malah hal itu malah membuatnya senang.

Nanaba yang sedang berbincang sesuatu dengan Erwin−segera mengalihkan pandangannya menuju Armin yang sedang membuka pintu kelas. Gadis berambut sebahu itu seketika tersenyum manis dan mengangkat sebuah bungkusan makanan berlabel sebuah produk makanan terkenal. ( Sebut saja McD)

" Ahh tepat sekali Armin!" Nanaba menyerahkan bungkusan itu dan segera disambut Armin.

" Arigatou Nanaba-san!" Sahut Armin. " Kurasa Eren benar-benar akan memakannya dengan sangat rakus. Kulihat dia tidak makan apa-apa sejak kemarin-kemarin! Chesseburger selalu jadi favoritnya!"

Nanaba menggosokkan kedua belah tangannya dan ikut tersenyum. Setidaknya−saat Armin berkata bahwa Chesseburger selalu menjadi makanan kesukaan bocah manis itu, Nanaba merasa lega. Kasihan juga Eren tidak diberi makan.

Armin tanpa sengaja menatap Erwin. Hal itu sontak membuat pipinya memerah dan berakhir Armin yang mengibas-ngibas wajahnya kepanasan padahal maksudnya untuk menghilang rona merah sialan itu dari pipinya.

Bagaimana tidak memerah?

Erwin menatapnya dengan mata biru yang teduh dan senyuman gentle. Pemuda berperawakan dewasa itu mendudukkan diri di kursi dekat jendela. Membuatnya mampu memantulkan cahaya mentari dan rambut pirang itu−entah kenapa makin berkilau.

" Pagi Armin" sapa Erwin.

Armin tersentak kaget. " AH! P-pagi juga, I-irvin san!"

Nanaba menahan tawa. " Pppffffttt! Santai saja Armin! Irvin tidak akan membunuhmu juga! Nakal-nakal begini, dia itu sebenarnya lembut dan bijak jika kau tahu!"

Erwin tindak mengiyakan perkataan Nanaba, tetapi ia membalas dengan senyuman gentle khas-nya. Membuat Armin makin salah tingkah dan malah membungkuk memberi hormat yang membuat Nanaba tertawa kelepasan.

" A-aaa... S-senang untuk mengetahui hal itu!" Jawab Armin cepat. " A-aku ingin menemui Eren dulu! A-aku takut dia akan kabur lagi dan membuatku pusing lagi!"

Armin tanpa pamit−segera melesakkan diri keluar dengan wajah memerah padam. Nanaba melongo melihat Armin yang dia tahu lemah sekali seperti agar-agar basah, berlari bahkan lebih cepat dari angin dan membuat badan Connie berputar dan menjatuhkan siswa dengan kepala plontos itu.

" HEY! JALAN ITU PAKAI MATA, PIRANG!" Gerutu Connie. " JANGAN MENABRAK ORANG SEMBARANGAN!"

Armin membungkukkan badan dalam-dalam dan beberapa kali meminta maaf karena sudah membuat pemuda itu jatuh secara tidak baik.

" Gomennasai! Gomenne! Aku tidak bermaksud menabrakmu! Maafkan karena telah membuat repot!"

Connie mendengus dan mau tidak mau memaafkan Armin karena pemuda manis itu menatapnya dengan mata penuh rasa bersalah. Membuatnya jadi sedikit tidak tega untuk membawa pemuda itu duel.

" Ya sudah! Pergi sana!" Usir Connie dengan nada sinis.

Armin mengangguk patuh dan berlalu dari hadapan Connie secepat mungkin. Dia masih ingat bahwa ini adalah sekolah berandalan dan mafia. Anak-anak disini tidak sebaik Nanaba dan Erwin. Mereka masih suka membunuh dan menyiksa siapapun yang mereka anggap mengganggu.

Armin menutup wajahnya yang memerah.

" EREEEEEENNN! AKU MALUUUUU!"

Uggghh...dia ingin sekali menceritakan masalah ini kepada Eren secepatnya. Mengingat wajah Erwin tadi dan sapaan hangatnya...

Ada yang punya kulkas berlebih? Kelihatannya Armin mulai meleleh karena senyuman gentle itu. Dan untungnya, ia mempunyai teman yang dengan senang hati mendengar seluruh ceritanya.

Siapalagi kalau bukan−

" −EREN!"

Armin berlari menuju gerbang depan dengan wajah memerah padam. Ugghh...ia ingin sekali menyembunyikan wajahnya di punggung Eren karena sedari tadi banyak yang curi pandang ke arah rona merah itu. Membuat wajahnya makin merah seperti tomat masak.

DIA MALU SEKALI!

" ERENNN! KAU DIMA−Ehhh..."

Kok kosong?

Ehh...matanya tidak rabun kan?

Kenapa gerbang depan hanya diisi beberapa anak gerombolan?

Mana Eren imutnya?

Eh..

Ehh..

Ehhhhh..

Eren mana?

Eren ma−

EHHHHHHHHHH!?

" EREN! EREN!"

Armin berteriak dengan wajah sangat panik. Ia tidak peduli dengan anak-anak yang mengumpat karena mendengar jeritan dan lengkingannya. Ini sudah tidak baik. Eren hilang kemana?

Nafas pemuda pirang itu berat. Matanya membulat tidak percaya dan peluh sebesar biji jagung telah membasahi seluruh tubuhnya. Armin menjatuhkan makanannya dan mulai berlari gelisah ke sekitar sekolah.

Ia ingin berpikir positif dengan cara menghirup nafas dalam tapi semuanya pupus saat menemukan sebuah kalung perak yang mahal terjatuh tidak jauh dari gerbang sekolah. Armin memungutnya dan seketika nafasnya kembali tercekat.

" EREN!"

Armin terisak sambil berteriak ke dalam sekolah dan membuat semua siswa menatapnya aneh.

" Hikss..E-eren..." Armin makin menangis. " J-jangan bilang kau...hikkss...EREEEN!"

BRRAAAAAAKKKK!

Nanaba dan Erwin seketika tersentak hingga Nanaba menjatuhkan burgernya ke meja karena saking kagetnya dengan gebrakan pintu sekuat itu. Erwin membulatkan mata tidak percaya saat Armin kembali dengan menangis keras dan wajah panik.

" H-HIKSSS...N-NANABA SAN...IRVIN SAN... EREN MENGHILANG!"

Erwin membulatkan mata dan segera berdiri. " Apa!? Apa yang kau bilang!?"

Armin terisak dan berjalan ke arah Nanaba yang sigap menahan tubuh Armin yang sedikit lagi akan limbung karena ia terlalu panik dan membuat kepala pemuda berambut pirang itu pening seketika.

" A-aku menyuruh Eren menunggu..t-tapi dia hilang! T-tidak ada siapapun! Hikkss...bagaimana ini!?" Armin terisak.

Nanaba menggeram sangat berat dan hampir seperti geraman Levi saat marah besar.

"AKAN KUBUNUH! SIAPAPUN YANG MENCULIK EREN AKAN KUBUNUH! DASAR KEPARAT BAJINGAN! BRENGSEK TIDAK TAHU DIRI! AKAN KUBUNUH KALIAN!"

Erwin sontak menarik Armin ke dalam pelukannya−terlepas dari pelukan Nanaba dan membuat pemuda pirang itu kaget. Ia mendongak ke arah Irvin dan Irvin hanya memeluknya sambil mengucapkan sesuatu.

" Maaf menarikmu Armin−Nanaba sedang mengamuk sekarang"

Armin tersedak ludahnya. " B-benarkah?"

Erwin mengangguk dan Armin melirik dari sudut matanya. Pemuda pirang itu seketika terkesiap. Ia menutup matanya cepat karena mja seberat hampir lebih dari 100 kg itu dilempar Nanaba ke dinding dengan brutal dan membuat meja itu seketika hancur.

Dindingnya retak.

Tidak sampai disitu−Nanaba menendang dinding beton dan membuat Armin serasa akan pingsan saat dinding itu bolong dan membuat siswa lainnya menatap Nanaba bingung. Gadis itu memang sama mengerikannya dengan Levi saat marah tapi yang mereka tahu−Nanaba jarang marah.

Tapi baru kali ini mereka melihat Nanaba mengamuk.

Gadis itu menghentakkan kaki dan mengambil tongkat baseball dari besinya. Menyuruh semua siswa yang ada.

" CEPAT CARI EREN JAEGER! AKU TIDAK PEDULI DIA BERADA DIMANAPUN−TEMUKAN EREN JAEGER DALAM KEADAAN HIDUP. JANGAN SAMPAI MEMBUATKU MEMATAHKAN TULANG LEHER KALIAN DAN MENCABUT SELURUH USUS KALIAN KELUAR!"

" CEPAT KALIAN DASAR TOLOL!"

Irvin menutup mata saat merasakan bahu Armin bergetar ketakutan. Pemuda berperawakan dewasa itu makin mengeratkan pelukannya karena Armin juga menarik bajunya makin keras. Menangis dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang pemuda itu.

Ia terlalu takut.

" KAU!"

Nanaba menunjuk Connie yang berdiri tidak jauh dari kelas itu. Matanya memerah galak karena emosi gadis itu sudah mencapai batasnya. Ia tidak akan segan-segan untuk memukul dan mengahncurkan tengkorak murid-murid itu hingga otaknya keluar hanya dengan tongkat baseball.

" CEPAT BERITAHU HANJI!"

Connie segera berdiri. " B-baik!"

Irvin menatap datar Nanaba yang juga sama menatapnya. Gadis itu sedikit melembut saat melihat Armin yang benar-benar ketakutan hingga Irvin dan Nanaba sendiri−mendengar pemuda itu mengucapkan sebuah doa dalam bahasa Jerman dan Inggris klasik.

" Irvin san..." Nanaba mengucapkan dengan nada dingin. " Aku tidak mau tahu sepupuku itu akan cuek atau tidak...beritahu Levi. Aku akan mengeluarkan bantuan dan mulai tawuran"

Irvin mengangguk.

Nanaba meraih sebuah katana yang terselip di antara celah papan tulis. Katana yang masih sangat tajam itu gadis itu angkat dengan sorot mata membunuh.

" Aku meminta izinmu untuk memakai prajurit terlatih dari mafia. Kau penanggung jawab para prajurit dan aku meminta izinmu untuk memakai para snipper dan pengguna pedang terlatih di mafia"

Irvin tersenyum dingin. " Aku mengizinkanmu...tapi untuk tawuran−aku akan meminta Levi"

Nanaba terkekeh ngeri. " Kurasa ada yang ingin bermain-main dengan kita...dan dengan senang hati akan kuajak mereka bermain tentu saja"


.

.

.

.

.

.

.
" Levi..."

" Eren menghilang..."

BRAAAAAAKKKK!

" Cari dia orang-orang bodoh"

" Cari Eren sebelum aku meledakkan kepala kalian satu per satu dan membuat kalian merasakan neraka denganku"

Irvin menatap Levi yang seperti terguncang sesaat. " Nanaba meminta untuk memulai tawuran"

Levi tersenyum miring dan mengambil pistol berkaliber ganda dari laci mejanya. Wajahnya dingin dan aura hitamnya keluar bagaikan malam dingin dan suram. Tatapan tajam mata Levi berkilat membunuh seperti psikopat haus darah.

" Jika mereka menginginkan hal itu−maka kita berikan apa yang mereka inginkan. Panggil para petinggi mafia selain file hitam"

" Baik"


.

.

.

.

.

.
Oke...

Kedip-kedip..

Masih kabur. Mata indah milik Eren masih kabur.

Oke yang kedua... kedip-kedip.

Lah..masih kabur

Eren seketika mengerutkan keningnya kuat. Kenapa matanya masih kabur seperti ini? Bukannya beberapa saat yang lalu, Eren masih berada di depan gerbang sekolahnya dan bersiap untuk pulang?

Lalu kenapa dia bis−

SYUUUUUTTTT!

" EEEEEEHHHHH!?"

Eren secara spontan langsung bangkit dari posisinya. Matanya membulat kaget dan takut. Pemuda bermata emerald itu segera meraba seluruh tubuhnya dengan panik dan nafas mengap-mengap karena takut bahwa bisa saja tangannya putus atau ginjalnya hilang atau yah...semacamnya.

" Fyuuuh!" Eren menghela nafas sangat lega. Wah! Hampir saja jantungnya tadi keluar karena saking takutnya. " AISSSSHHH! KUKIRA APA TADI!?"

Tunggu dulu...

Eren meraba sebuah tekstur di telapak tangannya dengan dahi mengernyit. Bibirnya mengerucut kebingungan saat merasakan bau masakan yang begitu harum memasuki indra penciumannya. Matanya seketika membulat kaget karena ia berada di sebuah kamar yang putih bersih dan nyaman.

Sebuah kamar apartemen yang benar-benar nyaman.

INI JELAS-JELAS BUKAN KAMAR EREN!

SESEORANG TOLONG TAMPAR EREN AGAR BANGUN DARI MIMPINYA SEKARANG!

" HUWEEEE! MIKASAAAAA!" Teriak Eren histeris.

Eren menjerit sangat nyaring dan meloncat dari ranjang berukuran king size dan sprei putih lembut yang baru saja ia rebahi tadi. Kedua mata milik pemuda itu melotot ganas saat menemukan sebuah kamar.

" HUWAAA! AKU DIMANA!? "

Eren juga baru menyadari bahwa pakaiannya sudah berganti dan berbeda. Bukan baju sekolah lagi melainkan...

" A-apa ini?"

Eren mengangkat bagian bawah baju itu yang menjuntai seperti rok ke bawah. Tetapi hiasan baju itu dilengkapi tulisan-tulisan dalam bahasa yang tidak ia ketahui. Eren menatap sangsi lengannya yang panjang dengan didominasi warna hijau sewarna matanya.

Pemuda manis itu membawa langkahnya dengan cepat ke depan sebuah cermin yang kebetulan tidak jauh dari ranjang tadi. Eren menyipitkan mata saat melihat sebuah kuncir panjang seperti tali dengan tambahan tiga lonceng kecil dari emas, menggantung di samping telinganya.

Ia makin tersentak kaget.

" K-kenapa aku m-memakai baju seaneh ini!?" Tanya Eren. Ia menarik-narik roknya yang terlalu panjang hingga menjuntai ke lantai keramik di bawahnya. " Tangannya juga panjang...aku tidak pernah melihat baju ini di Jepang..."

Eren mempoutkan bibirnya bingung dan berputar. Membuat baju miliknya sedikit tersingkap mengikuti angin perputaran tubuhnya.

Dan seketika ia berhenti. Eren juga bahkan mencium bau khas sabun dari tubuhnya. Seolah-olah semua tubuhnya sudah dibersihkan sedemikian rupa dan diberi baju yang mewah. Kamar ini juga kelihatannya tidak biasa.

Eren hampir saja merasakan rasa nyaman kamarnya sewaktu masih tinggal di mansion milik ayahnya di Hamburg, Jerman. Kamar yang putih bersih dan mewah ini mengingatkannya kepada ibunya.

" Eomma sudah bangun?"

" HIYYAAAAA! PENDEK MESUUUUM!"

" GYAAAA!"

Dua orang berbeda kelamin sama-sama terkejut. Yang satu lagi terduduk dan meremas sprei ranjang seperti ingin diperkosa habis-habisan di tempat. Melototkan matanya ngeri dan wajah melongo.

Sedangkan yang satu lagi terduduk di lantai dengan baju basah akibat sup yang jatuh ke lantai. Gaun minimalis berwarna biru laut selutut miliknya basah dan berubah warna menjadi coklat muda.

Mata abu-abunya menatap Eren yang juga sama-sama syok dengan pandangan berkaca-kaca. Rambut oranye miliknya seketika menjadi acak dengan wajah yang menekuk. Eren terdiam saat gadis itu menatapnya dengan mata berair.

" H-hikss..."

Eren panik seketika.

" E-EHHH!"

Dan ya bisa ditebak apa yang terjadi.

" HUWEEEE EOMMA! SUP BUAT EOMMA JADI JATUH! HUWEEEEE!"

Eren yang tidak tega dan paling tidak tahan dengan tangisan anak kecil siapapun itu−segera mendirikan gadis yang terduduk itu dengan menyelipkan tangannya pada pinggang kecil gadis manis itu.

" Hiiikss..Y-yuii nakal k-kan eomma?"

Eren menggeleng mantap dan menjawab dengan nada melengking karena saking paniknya melihat Yuii kembali terisak. Pemuda manis itu tidak tahu apa yang harus ia perbuat karena saking paniknya. Jadinya Eren hanya berusaha menggendong Yuii dan memeluk gadis manis itu.

Eren tidak menghiraukan baju Yuii yang basah akan sup. Dan gadis itu juga kelihatan nyaman di bahu Eren dan merebahkan kepalanya di bahu Eren. Biarpun ia sesekali terisak tetapi Yuii masih memeluk Eren.

" Y-yuii tidak nakal..." Eren tertawa canggung. " Yuii malah sudah jadi anak baik karena sudah mau membawakanku sup"

Eren menampilkan senyuman paling manisnya untuk Yuii dan hal itu juga membuat Yuii tersenyum sangat manis

" Yuii sayang eomma! "

BRUUUKKK!

Eren terkesiap saat Yuii menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Eren makin dalam. Gadis itu juga melingkarkan lengan kecilnya ke leher Eren dan tertawa dengan nada khas anak kecil.

Hal itu membuat Eren mau tidak mau menjadi lebih lega karena sumpah! Demi abs Mikasa yang sixpack, Eren tidak tahu harus berbuat apa saat anak kecil menangis?

Dibuang? Atau mulutnya diperban?

Kan itu mustahil. Bisa-bisa Eren dijebloskan ke penjara karena dituduh melakukan percobaan pembunuhan, padahal dia hanya menenangkan anak kecil yang menangis saja!

Eren menggigit bibir bawahnya gelisah dan mengedarkan pandangan khawatir ke seluruh kamar.

" Uhm Yuii chan? " Panggil Eren gelisah.

Yuii mendongakkan kepalanya "Ya Eomma? Ada apa? "

" Kita d-dimana ya? " Kali ini kebiasaan Eren untuk menggigit kuku karena gugup keluar. Rasanya Eren ingin menghabiskan semua kukunya karena saking gugupnya.

Dimana Armin? Dimana Nanaba?

Tapi yang lebih penting...

Apakah Levi tahu tempatnya sekarang?

Yuii melepaskan diri dari pelukan Eren dan merentangkan tangan tinggi-tinggi. Gadis blasteran korea itu memutar badannya senang.

" Aisshh... Eomma lucu sekali bila gugup" Yuii terkikik geli.

Eren seketika membulatkan mata dan memerah. Ia menggelengkan kepalanya dan wajah memerah malu.

" M-mana ada!? " Eren melengkingkan suaranya. " a-anu... Ya s-sedikit gugup tapi... m-mana ada!? Aku laki-laki! "

Hal itu tanpa sadar malah membuat Yuii tersenyum makin lebar di dalam hatinya.

' Eomma benar-benar manis! ' batin Yuii. ' Aku sayang eomma '

" Ne Eomma..."

Eren menelengkan kepala bingung dan menatap Yuii dengan mata hijau yang menyiratkan tanda tanya.

" Ya? "

" Selamat datang di rumahku! " Seru Yuii girang.

Eren mengerutkan keningnya bingung. Ia berpikir keras dan mengingat bagaimana bisa ia yang berat ini diseret dan di jebloskan di rumah milik gadis manis ini?

" Anu Yuii... Kit-"

Belum seberapa Eren bicara tapi perkataannya sudah dipotong gadis itu dengan cepat.

" Eomma itu memakai hanbok untuk laki-laki! Baguskan eomma!? "

" Hanbok!? " Beo Eren kaget.

Yuii mengangguk mantap dan tersenyum kotak hingga menunjukkan semua gigi bersih dan rapinya.

Eren menatap bajunya dan tertawa canggung.

' Sial... Aku tidak faham sama sekali tentang semua ini'

Eren dan Yuii sama-sama terkaget saat ponsel lipat yang digantung oleh Yuii di leher gadis itu berbunyi.

" K-kau menggantung.. Anu..itu ponsel... "

Sumpah! Tolong Eren dari semua kerandoman yang aneh ini!

Yuii mengangkat ponselnya dan tersenyum.

" Eomma tunggu sebentar ya!? Yuii nanti kesini lagi! "

Eren hanya bisa menganggukkan perkataan gadis itu dengan pandangan mengutak-atik baju hamboknya sendiri. Memainkan dan terkadang matanya terkagum-kagum sendiri.

Yuii keluar dari kamar dan menutup pintunya. Mengangkat panggilan itu.

" Halo? "

" Halo Yuii chan... Bagaimana eomma itu? "

Yuii tersenyum dari seberang. " dia baik-baik saja"

" Bagusalah... Jaga Eren karena Levi dan pasukannya yang lain mulai mencari Eren"

Pandangan mata Yuii menggelap. " Tentu saja... Karena Eren adalah eomma Yuii dan anak baik harus menjaga eommanya dari orang-orang jahat"

" mereka orang orang jahat yang ingin mengambil eomma Yuii"

" Aniyaaa! Andwae! " Teriak Yuii. " Yuii akan menjaga eomma! Orang orang jahat itu tidak akan pernah bisa mengambil eomma Yuii! Tidak akan pernah! Aniya! "

Yuii menatap pintu kamar Eren sekarang dan tersenyum dingin.

" Levi dan orang orang jahat itu tidak akan pernah bisa menemukan tempat eomma sekarang. Yuii akan jaga eomma..."

" Akan jaga eomma... "


.

.

.

.

.

.

.

Levi memainkan kalung perak bertuliskan " Eren " di dalam tangannya. Matanya menyorot dingin setiap tetesan air hujan yang jatuh.

Seolah olah alam sedang membiaskan rasa sakit dan hasrat membunuhnya.

" Baru sehari ku tinggal dan kau sudah nakal eoh, Eren? "

Levi terkekeh ngeri. Ia melempar sebuah pisau daging tepat membelah sebjah patung klasik menjadi dua. Senyum miring dan raut angkuh tercetak jelas di wajah tampannya.

" Oh bocah manisku... Hukumanmu tidak akan mudah"

" Tenang saja bocah keparat, aku tidak akan membiarkanmu disentuh tangan hina mereka"

" Kau milikku"
.

.

.

.

.

.

.

T

B

C

XD

Halo semua ⊙_⊙
Maaf lama hiatus... Sorry kalau chap ini masih tidak ada enceh dan sejenisnya :v

Karena ini udah mulai klimaks... Jadi untuk chap chap berikutnya, siapkan tisu banyak banyak dan pelindung :v
Ada hurt comfort dan bdsm dikit lah :v

Vote and Comment! (づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ

Luv ya!

Mind to Rnr?