Chapter 17

.

.

.

.

An Attack on Titan Fanfiction

.

.

.

Cast :

All Snk Characters and My Oc

.

.

.

Pairings :

Riren ( Main)

Erumin

Jean x Armin

and another pairing ( soon)

.

.

.

WARNING!

This is positive YAOI!

Rated M ( Adult and Mature)

BL ( Boys Love)

Mature and adult contents

Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath

Smut and kinda hard sex

.

.

.

Genre:

Crime

Romance

Adventure

Hurt Comfort

.

.

.

Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai

saya hanya meminjam ^w^

.

.

.

Hope you enjoy it ^^


.

.

.

.

.

.

.

.

Jangan tanyakan bagaimana keadaan Hanji sekarang.

" Maaf Farlan...dia gila seluruhnya sekarang"

Farlan hanya bisa tersenyum kikuk melihat Hanji yang menyumpah dan berteriak sepanjang hari di ruangannya. Rico saja sampai harus memasang penyumbat telinga dan jas anti hantam karena saat Hanji menjadi gila, disanalah semua barang pecah belah akan benar-benar menjadi pecah belah.

Lihat saja dinding laboratorium yang sudah Rico cat susah payah minggu lalu hingga ia rasanya ingin mati karena tidak diperbolehkan oleh Levi untuk beristirahat barang sedetik.

Lubang-lubang bekas peluru telah mengisi seluruh dinding dengan tulisan yang tidak layak baca dan mungkin kena hukum sensor jika ini disiarkan.

' DASAR ANJING!'

' BEDEBAH TIDAK WARAS!'

' OTAK UDANG!'

' BRENGSEK!'

' FUCK YOU!'

Farlan menatap Rico yang sedang berdiri di depan pintu laboratorium dan membersihkan kacamatanya yang kena semprotan ludah Hanji. Ia benar-benar kagum dengan gadis bertubuh mungil ini karena bisa-bisanya bertahan dengan Hanji yang sedang mengamuk gila seperti ibu-ibu yang kehilangan diskon 90% di mall.

Bahkan ekspresi gadis itu datar dan masa bodo dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

" Kau...apa kau tidak apa-apa?" Tanya Farlan.

SYYUUUTTTTTT!

Farlan membulatkan mata kaget dan segera menunduk. Diikuti Rico yang juga sama-sama menunduk saat sebuah sepatu boot terlempar mulus melewati kepala mereka dan sukses membuat beberapa siswa diluar menjerit kaget. Sepatu itu menampar muka salah seorang siswa dan membuat wajahnya menjadi bekas tapak sepatu yang benar-benar bagus seperti tato.

" MATI KALIAN SEMUA! KALIAN AKAN MENYESAL KARENA TELAH MENCULIK EREEEEENNNN!"

" HAHAHAHA! MATI KALIAN DASAR MANUSIA SAMPAH TIDAK BERGUNA! AKAN KULUMAT OTAK BODOH KALIAN DENGAN MESINKU! AKAN KUBUAT KALIAN MENJERIT KESAKITAN!"

Farlan mengangkat kepalanya setelah Hanji selesai acara lempar melempar barang ke luar ruangan. Membuatnya harus berpikir dua kali jika ingin membawa Hanji untuk bertarung tanpa asuransi yang memadai dan kartu kesehatan.

Bisa-bisa bukan kepala orang lain yang Hanji tebas, mungkin kepala itu bisa saja kepalanya yang melayang karena Hanji salah tebas dan membunuh temannya sendiri karena terpeleset oli kendaraan.

" Tidak...aku tidak apa-apa Farlan senpai" Rico menoleh ke belakang dan menghela nafas. " Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Malahan Hanji akan makin mengamuk saat asistennya tidak ada di sekitarnya"

Hanji mendengus kasar dan duduk di salah satu kursi laboratorium. Ia bernafas dengan pendek dan cepat, menandakan bahwa emosinya sedang naik saat ini. Baru saja dia ingin menemui Eren karena pil Eren hampir selesai dan membuatnya bahagia, moodnya seketika langsung hancur saat Connie lagi-lagi menabraknya.

Membuat kedua orang itu sama-sama terjatuh.

Connie dengan wajah panik memberitahu bahwa Nanaba mengamuk di kelasnya. Hal itu jelas membuat dahi gadis ilmuwan itu berkerut saat medengarnya. Ia bingung karena yang Hanji sendiri tahu, Nanaba hanya akan marah misalkan ada alasannya.

Dan Connie segera meneriakkan alasan kenapa Nanaba mengamuk.

" E-EREN JAEGER HILANG! MAKSUDKU DICULIK!"

BRAAAAKKK!

Farlan dan Rico tersentak saat lagi-lagi Hanji menendang sebuah kursi menuju ujung dinding dan membiarkan kursi itu terpental. Gadis ilmuwan itu menatap Farlan dengan kilat liar dan tatapan dendam. Dan begitu juga dengan yang lainnya.

Farlan yang melihat Hanji yang juga kebetulan sedang melihat ke arahnya, mendengus sangat kasar dan mendecih. " Hei gila...sudah selesai gilanya?"

" SUDAH!" Jawab Hanji kasar. " Apa maumu, tiang!?"

Rico mempersilakan Farlan untuk masuk dan berdiri di hadapan Hanji yang mengangkang lebar. Makhluk dengan gender tidak jelas itu menatap Farlan malas dan malah menginjak-nginjak sepatu Farlan.

Membuat si pemilik sepatu balas menendang tulang keringnya kuat.

Tapi berandalan adalah berandalan. Mereka sudah terbiasa berkelahi bahkan membunuh orang. Ditambah status Hanji dan Farlan adalah sebagai anggota eksekutif mafia hitam yang ditakuti Tokyo. Membuat pukul memukul atau tendang menendang menjadi lelucon biasa bagi mereka.

" Hei gila..." Farlan menatap Hanji, ekspresinya datar. " Levi sudah tahu tentang hal ini dari Erwin dan kau ingin tahu apa yang diperintahkannya padaku?"

Hanji melirik. " Apa?"

" Mengajakmu untuk melacak Eren."

" S-E-K-A-R-A-N-G-J-U-G-A!"

Hanji menaikkan alisnya dan mengerutkan dahi. Ia juga mengerucutkan bibirnya ke arah Farlan yang mengacak pinggang dengan wajah tidak santai dan kesal. " Sekarang juga?"

" Hah?"

Oke...ini aneh.

Farlan saja sampai memutar matanya jengah. Ternyata Hanji yang berubah menjadi gila juga berubah menjadi Hanji yang lemot dan jaringan otaknya tersendat-sendat. Biasanya Hanji otaknya akan lebih cepat bekerja saat medengar kata Eren atau Armin, bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Belum sedetik Farlan atau yang lain bicara, Hanji jelas-jelas akan tertawa lebih dahulu dan berguling-guling. Jika tidak itu semua, dia akan lari dan menjauh lebih cepat dari binatang paling cepat larinya hanya demi memeluk Eren dan mengerjai bocah Jerman itu.

Eren dan Armin bisa dibilang sebagai mood maker seorang manusia yang gendernya tidak jelas bahkan di akta kelahiran seorang Hanji Zoe.

Farlan menjitak kepala Hanji dan menyumpah. Membuat orang yang dijitak juga ikut menyumpah dan berteriak tidak terima.

" Hei Hanji! Sejak kapan otakmu jadi selemot ini hah!? Biasanya kau akan selalu tangkap saat mendengar kata ' Eren' saja!" Sungut Farlan. " Aku tidak tahu kalau kau gila semua sistem otakmu jadi mabuk seperti ini!"

" Itu karena aku sedang benar-benar marah sekarang!"

Hanji berdiri dari kursinya dengan kasar. Gadis ilmuwan itu juga menghentakkan kaki sambil sesekali memaki. Membuat suara yang berisik hingga ke ruangan sebelah dan mengharuskan Rico berjalan ke ruangan itu. Menenangkan seluruh sumpah serapahan para murid yang terganggu dengan ancaman sadis.

Tetapi Farlan hanya bisa sesekali mendengus kasar.

Jujur saja−dia benar-benar mengamuk saat mendengar Eren yang menghilang. Pada awalnya sikapnya sama seperti Levi. Meremehkan Eren dan membenci bocah bermata emerald itu. Entah kenapa setiap kali melihat Eren membuat dirinya menjadi benar-benar seperti saat ia kecil dulu.

Bocah kecil yang menangis lemah saat mengetahui bahwa ayahmu membunuh seluruh anggota keluarga di rumahmu. Menyisakan kau yang terisak di ujung kamar dengan selimut besar yang melingkupi tubuh kecilmu. Tidak bisa berkutik saat pistol itu melekat di dahimu, 3 detik sebelum sebuah peluru menembus kepala Farlan kecil.

Sejujurnya Farlan selalu merasakan trauma yang sama setiap kali menatap mata Eren yang bersinar ketakutan di bawah kuasa Levi. Bocah itu berusaha tegar dengan cara menyumpahi dan memaki Levi.

Tapi Farlan tahu bahwa Eren ketakutan setengah mati.

Sama seperti dirinya yang mengalami trauma berat soal penyiksaan. Dia ketakutan setiap kali melihat perapian. Melihat api perapian mengingatkannya pada besi panas yang selalu disiapkan ayahnya disana. Sebelum besi panas itu menempel pada kulit Farlan kecil.

Membuatnya mengerang seharian karena rasa sakitnya menembus tulang dan mematikan semua kesadaran Farlan.

Eren bagaikan Farlan kecil.

Farlan sudah cukup mengalami masa kecil yang sakit dan penuh penyiksaan. Pemuda berambut tan itu bahkan tidak bisa bernafas dengan tenang hanya untuk sehari. Dia tidak ingin kekasih sahabat yang sudah membantunya banyak itu tersiksa sama seperti dirinya. Dia bertekad untuk menebus seluruh dosanya.

Biarpun dosanya sudah setumpuk bumi bahkan mungkin mencapai langit, dia percaya kata-kata ibunya. Hanya ibunya yang bisa mengerti dirinya. Ibunya selalu percaya bahwa Farlan adalah anak baik. Farlan adalah malaikat yang dikirm Tuhan ke dunia sebagai cahaya bagi dunia ibunya yang kelam.

Ibunya selalu percaya bahwa Farlan adalah anak kecil tanpa dosa. Biarkan Farlan sekali lagi percaya pada kata-kata ibunya. Biarkan ia untuk menebus dosanya kepada ibunya dengan cara melindungi Eren.

" Kita tidak punya banyak waktu lagi, Hanji"

Farlan menangkupkan kedua tangannya dan menumpunya di bawah dagunya. Menatap Hanji yang mulai tenang. Gadis ilmuwan itu menarik nafas panjang dan sesekali mengelus dadanya. Berusaha berpikir jernih karena tidak mungkin ia mencari Eren sambil berteriak-teriak histeris dan gila hingga menebasi kepala pertama yang ia lihat.

Hanji menatap Farlan dan mendengus. " Baiklah baiklah! Aku tenang sekarang! Darimana kita akan mencari Eren!?"

Farlan berdehem kecil. " Mikasa Ackerman"

" APAAAAA!?" Hanji berteriak histeris hingga lubang hidungnya kembang kempis. " DARI SELURUH MANUSIA DI PLANET INI DAN KAU MEMILIH GADIS SIALAN ITU!?"

Farlan mengernyitkan dahi dan menyilangkan tangan di depan dada. " Katakan itu di hadapan Levi maka dia akan menghajar bokongmu langsung di tempat dan membuatmu jadi abu"

Hanji menepuk-nepuk pundak Farlan sambil melongo dengan wajah yang sumpah...itu jelek sekali. Membuat Farlan bergidik jijik dan menjauhkan kepala Hanji dengan menjitak kepala gadis gila itu.

" HEY!" Hanji menepuk balik tangan Farlan yang menjitak kepalanya. " APA-APAAN!?"

" Apa-apaan?" Farlan menatap Hanji dengan kilat mata jengkel. " Harusnya aku yang mengatakan itu kepadamu dasar mata empat gila! Apa-apaan dengan teriakanmu itu tadi!? Mikasa Ackerman adalah adik Levi dan juga yang menampung Eren selama di Jepang!"

Hanji jelas-jelas menjatuhkan rahangnya dengan cepat dan berteriak nyaring seperti orang sedeng. Berteriak tidak percaya bahawa Eren dan Armin ditampung oleh adik dari Levi itu. Yang ia tahu, Mikasa dan levi sama sama saling menjauh.

Gadis itu tidak menyangka bahwa keluarga Ackermana dan Mikasa mempunyai ikatan seperti itu. Sampai-sampai Eren dan Armin ditampung sendiri oleh adik perempuan Levi yang namanya bahkan sudah dikenal seluruh SurveyCorps Highschool.

" Bagaimana bisa!?" Hanji menunjuk wajah Farlan. " Bagaimana bisa Mikasa menampung Eren dan Armin!? Aku tidak tahu bahwa Mikasa punya hubungan dengan Eren! INI TIDAK BISA DIBIARKAAAAANNN!"

Belum sempat Farlan protes dan memaki Hanji karena berteriak begitu nyaring hingga telinganya berdengung hebat seperti sekarang, Rico dan Nanaba memasuki ruangan. Nanaba membawa sebuah katana panjang yang ia sampirkan di pinggangnya dan Rico yang membawa surat perintah.

" Senior Hanji...Farlan" Nanaba memanggil mereka dengan nada datar dan dingin.

Kedua orang yang dipanggil, serempak membalikkan kepala mereka. Farlan dan Hanji berpandangan sebentar sebelum mengalihkan pandangan tidak mengerti mereka ke arah dua gadis tomboy itu.

" Maaf mengganggu Senior Hanji...Farlan senpai... tapi Levi mengeluarkan surat perintah untuk seluruh anggota eksekutif mafia dan file hitam"

Rico menyerahkan surat itu pada Nanaba dan Nanaba menyerahkannya kepada Farlan. Pemuda berambut tan itu seketika tersentak saat melihat surat perintah dari Levi. Membuatnya menarik kerah jas laboratorium Hanji dengan kasar dan membuat gadis itu juga sama histerisnya saat melihat surat perintah itu.

" S-surat ini..." Farlan berucap dengan nada gugup. " Ini memakai segel perak. Segel resmi mafia"

Hanji mengangguk dan menggigit bibirnya khawatir.

Semua Eksekutif

Hancurkan atau jangan hidup lagi.

Levi

Hanji dan Farlan sama-sama berpandangan. Terdiam dengan wajah memucat saat setiap kata dari tulisan itu terbaca oleh otak mereka.

" Ini sudah stadium akhir Farlan..ini keputusan Final petinggi lainnya" Ucap Hanji serius.

Hanji menarik kertas itu membacanya lebih intens. Dan Farlan yang terdiam. Ia meneguk ludahnya sendiri secara kasar saat melihat raut datar Nanaba dan tatapan aku tidak tahu apa-apa milik Rico. Bila ini sudah terjadi maka apapun yang terjadi...

" Levi akan beraksi..." Hanji menatap Farlan dengan tatapan mata serius. " Dia akan mengambil Eren apapun yang terjadi. Biarpun awalnya dia benar-benar ingin menjauhkan Eren karena kesal tapi... dia juga tidak suka propertinya disentuh"

Farlan balas menatap Hanji dan menghela nafas pasrah. " Dan...kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi yang jelas... kita harus segera berangkat sekarang sebelum tulang tengkorak milikku dihancur oleh Levi"

Hanji menggigit kukunya dan bolak-balik khawatir di sekitar meja laboratorium. Sesekali matanya menatap Farlan dengan kilat ragu dan mengerang. Farlan juga mengerutkan kening bingung karena Hanji juga sering membuka mulut ingin berbicara tapi tidak jadi dan berakhir dengan ia yang bolak-balik lagi di ruangan.

" Kau..." Hanji mengusir Farlan dengan gestur tangannya tetapi tidak megalihkan pandangannya pada kertas-kertas penelitian miliknya yang berserakan di atas meja kerja panjang Laboratorium. " Kau pergi duluan...ada yang harus kuurus"

Nanaba seketika menaikkan sebelah alisnya dan Farlan yang makin mengerutkan dahi tidak suka.

Pemuda berambut tan itu mengacak pinggangnya sendiri. " Hei Zoe−Levi memerintahkan kita berdua untuk pergi. Bukan hanya aku, bukan hanya kau, atau satu per satu dari semua penghuni ruangan ini tapi kita! Oke Hanji Zoe...dia menyuruh kita! Kita berdua lebih tepatnya"

Farlan mengangkat tangan pasrah saat Hanji mengacuhkannya dan malah mengobrak-abrik lemari penyimpanan hasil penelitian miliknya. Lemari dua pintu dari baja berukuran raksasa itu, gadis itu buka. Setiap kolom dan laci lemari itu, Hanji buka. Sesekali mata coklatnya menatap beberapa topless penelitian dengan laboratorium bernama ilmiah.

" Engh...Senior Hanji?" Panggil Rico.

Nanaba dan Farlan mengalihkan pandangan mereka pada Rico yang masuk ke dalam ruangan. Berusaha mendekati Hanji yang masih setia mengacak-ngacak isi lemari miliknya sendiri. Gadis berkacamata itu berdiri di samping Farlan dengan raut sama bingungnya.

Membuat Farlan jadi menepuk kepalanya karena terlihat tidak mengerti atas apa yang terjadi.

SRRREEEEETTT!

BRAAAAAAAKKKK!

" AHAHA! INI DIA!"

Demi upil unta... Ingin rasanya Farlan membunuh Hanji karena teman gilanya yang satu ini gemar sekali membuat semua orang terkena serangan jantung akut secara mendadak dan menimbulkan kematian massal dalam sekali waktu.

Buktinya saja, Nanaba yang awalnya memasang wajah datar yang familiar dengan milik Levi karena mereka mash memiliki hubungan darah, terkekeh geli dan hampir tertawa melihat Farlan yang terjungkal ke belakang dengan bibir bercumbu mesra dengan ujung meja.

Bukan hanya itu saja, suara Hanji juga membuat Farlan terpeleset dan menghentak lantai keramik.

" KEPARAT SIALAN KAU HANJI ZOE! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU MATA EMPAT SEDENG!" Maki Farlan nyaring. Pemuda berambut tan itu menyumpah 3 detik setelah ia sadar ia terjungkal dengan tidak elitnya. " Kau membuat harga diriku jatuh!"

Hanji tertawa nyaring dengan mata melotot geli ke arah Farlan. " Setidaknya kau mau menjadi mood booster Nanaba! BWAHAHAHAHAHAHAHA!"

" Shut Up senpai..." Nanaba membuang wajah dan sesekali menahan tawa melihat pose Farlan yang benar-benar tidak...ahh aku akan jujur saja. Jelek dan jelek dan jelek sekali.

Pemuda itu menatap semua orang yang menertawakannya tajam. Mendesis penuh ancaman dan menggeram dengan nada rendah. Kebiasaannya sebelum melawan musuh yang jelas-jelas sangat ia benci.

" WOW WOW WOW!" Hanji menyerahkan tangannya di hadapan wajah Farlan. "Santai saja tiang! Jika kau ingin membunuh orang sekarang, kusarankan kau untuk membunuh orang yang menculik Eren. Itu akan lebih baik..."

Farlan meraih tangan Hanji kasar dan meremasnya. Atau bisa dibilang...hampir meremukkannya. Tapi Hanji sendiri malah tertawa dan menarik badan Farlan dengan sekali tarikan hingga berdiri sempurna.

Pemuda itu mendesis merasakan punggungnya seketika nyeri. Dan nyeri itu menjalar hingga ke seluruh punggungnya. Membuat Hanji jadi makin tertawa saat Farlan menatapnya kelewat tajam dan ganas akibat rasa sakit itu.

Hanji terkekeh dan memukul pinggang Farlan dengan tangannya. Nanaba membulatkan mata kaget dan Rico yang beringsut mundur menuju dinding untuk berantisipasi akan ada pembunuhan massal oleh Farlan nantinya.

Reaksi yang dipukul?

Jelas saja−tidak usah ditanya lagi.

" Pilih Zoe." Farlan menatap Hanji dengan sangat dingin. Nadanya datar dan gelap.

Hanji tersenyum bodoh dengan leher terdongak. Sebuah pisau tajam sudah menyentuh lehernya sekarang. Siap untuk menembus kulit tipis dan rawan itu. Merobek saluran tenggorokannya, mencarik-carik daging disana hingga seluruh hidupnya mati sia-sia.

" Berhenti atau ini akan menembus tubuhmu" Farlan menggoreskan pisau itu ke leher Hanji.

Membuat luka gores kecil yang berdarah. Hanji tersenyum dan mengangkat telunjuknya.

" Aku hanya ingin mengetes dimana rasa sakitmu saja, keparat!" Hanji menjauhkan diri dari Farlan. Farlan sendiri mengangkat sebelah alis tidak Hanji memutar tubuhnya dan berjalan mengitari Farlan.

Gadis itu mengelus luka di lehernya dan membuat darah menetes ke jari lentiknya. Ia mengarahkan telunjuknya yang berlumur darah segar menuju bibirnya. Menjulurkan lidah dan menjilat darah itu sambil menatap Farlan yang juga menatapnya dengan ekspresi yang sering disebut Hanji.

" ...Hahaha..." Hanji berjalan mundur. " Kenapa di sekolah ini suka sekali membuat wajah jalan tol dan talenan sayur!?"

Hanji berputar gila di tempatnya dan menunjuk seluruh orang di ruangan itu. Farlan yang masih berekspresi datar, Nanaba menangkat alis bingung, dan Rico yang mengerutkan dahi dengan senyum canggung.

" Kau dan kau dan kau!" Hanji tertawa nyaring. " Ahahahaha... ingin rasanya aku mencabut kepala kalian dan mengawetkannya! Mungkin saja wajah jelek kalian bisa jadi koleksi barang-barangku yang berharga! GAHAHAHA!"

Farlan melewati Hanji dan mendengus sekasar yang ia bisa. Mendecih dan menatap gadis itu dengan tatapan angkuh khas nya. Sesekali Farlan menunjukkan pisau bermata gandanya yang biasa ia gunakan untuk mengorek isi perut musuhnya keluar.

" Sialan kau Gila" Desis Farlan jijik. " Itu benar-benar tindakan yang 100 % bullshit"

Pemuda itu melirik topless di tangan Hanji. Ia menunjuk topless itu dengan pisaunya dan menatap Hanji dengan tatapan yang menunjukkan tanda tanya biarpun ia memajukan bibirnya seolah meremehkan.

Hanji membeo. " Hah!? Maksudmu ini?"

Farlan memutar matanya jengah. " Memangnya apalagi selain itu? Aku tidak buta, Hanji gila"

Hanji tertawa nyaring dan malah menarik Rico untuk berdiri di dekatnya. Menyerahkan topless berisi pil atau...peluru itu ke arah Rico yang membulatkan matanya kaget. Gadis itu menatap Hanji dengan tatapan menyelidik.

" Senior Hanji..." Panggil Rico. Ia menarik ujung jas laboratorium milik Hanji dan membuat gadis ilmuwan itu menatapnya bingung.

" Ya?" Tanya Hanji. " Ada apa?"

Rico berdehem sebentar sebelum mengangkat topless itu sejajar dengan wajahnya. Membuat Farlan dan Nanaba saling berpandangan dan memakukan tatapan mereka pada topless steril yang berisi puluhan peluru pil berwarna merah itu.

" Bukannya ini pil pelumpuh? Untuk apa pil pelumpuh ini senior?" Tanya Rico balik. " Racun pelumpuh ini memiliki keakuratan 100 % dan dapat membuat lumpuh seketika. Seperti bisa ular yang dapat melumpuhkan jaringan tubuh dalam hitungan menit"

Hanji menyeringai setan ke arah Rico. Matanya berkilat licik dan menyeramkan. Nanaba mengangkat sebelah alis saat melihat Hanji tertawa ngeri hingga gadis itu nyata-nyata dapat merasakan aura psikopat Hanji keluar.

Psikopat yang membuatnya menjadi File hitam. Si iblis dari neraka terdalam.

Dan sayangnya Farlan juga sama merasakan perubahan Hanji. Gadis gila itu ternyata benar-benar serius saat mengatakan bahwa ia akan membuat penculik Eren benar-benar tersiksa di dunia maupun di alam kubur nanti.

Tapi yang terutama...di dunia terlebih dahulu.

" Memang itu tujuanku! AHAHAHAHA!" Hanji menarik topless itu kasar sambil tertawa gila. Ia menarik sebuah senapan berwarna hitam legam dengan keakuratan seperti snipper dari balik lemari penelitiannya.

Hanji mengambilnya dan melempar senapan kelas S itu ke arah Farlan dan segera ditangkap oleh yang bersangkutan.

" Ambil ini!"

Farlan memeluk senapan itu dengan pandangan heran. " Kenapa hah?"

Gadis itu berjalan ke arah Farlan. Tapi yang membuatnya semuanya menjadi memandang gadis itu bingung dan sedikit rasa kagum adalah saat Hanji dengan sengaja melepaskan kacamatanya. Memamerkan seringaian ke arah Farlan.

Farlan makin tersentak kaget saat Hanji melepas ikat rambutnya. Membuat rambut coklat tuda yang sangat indah itu tergerai hingga melebihi bahu Hanji. Rico menjatuhkan rahangnya dan Farlan sukses menganga lebar. Nanaba sendiri membulatkan mata tidak percaya dan menggumamkan kata-kata ' Demi Tuhan' ' Demi kakek moyangnyaku'.

" K-Kau..." Farlan menunjuk Hanji dengan tangan gemetar. " K-kenapa kau..m-memoles..."

" Hm? Kenapa memangnya? Aku juga wanita dasar bodoh! Lagipula...keahlian ini membuatku bisa memata-matai orang dengan mudahnya" Hanji menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya genit.

Farlan meneguk ludahnya kasar dan bernafas berat. " Demi Tuhan! APA-APAAN INIII!?"

Hanji yang menatap itu hanya bisa merengutkan wajahnya dalam saat melihat Farlan seolah frustasi dan gila melihat perubahan Hanji yang mampu membuat semua murid menganga luar biasa bahkan mungkin...gila seperti Farlan.

Gadis itu mengacak pinggangnya sendiri dan menunjuk Nanaba.

" Hei Nanaba...kapan kita pergi?"

Nanaba menggelengkan kepalanya cepat dan berusaha sadar setelah beberapa waktu yang lalu ia syok berat dan akut. Rasanya baru sekarang dia melihat Hanji dalam keadaan seperti...nggh...ini. Ia tidak sadar kalau Hanji bisa menjadi seperti...yang orang inginkan..terutama orang tua gadis gila itu.

" Ah!" Nanaba tersentak. " Sekarang juga!"

Hanji mendengus setuju dan menunjuk Farlan. " Kau! Mana motornya!? Aku akan bersiap sebentar lagi tolol!"

Farlan membuka dan menutup mulutnya tidak percaya dan berjalan keluar dengan kikuk. Pasalnya ia masih menatap Hanji dengan mata melotot lebar dan mulut menganga drastis. Membuatnya sedikit oleng saat membawa senapan itu.

" Y-ya! A-AKU AKAN KELUAR! YA KELUAR SEKARANG!"

BRUUUUKKKKK!

Hanji tertawa nyaring bahkan menjerit gila saat Farlan menabrak dinding di samping pintu yang terbuka dengan senapan di depan wajahnya. Rico saja sampai menyemburkan tawanya dan Nanaba yang tidak jadi keluar karena penasaran.

Dan tentu saja...tawanya tidak mampu lagi tertampung.

" SUDAH SUDAH!" Bentak Farlan. Pemuda itu menggerutu kesal dan keluar dengan wajah memerah bekas tertabrak senapa dan dinding beton.

Hanji memegangi perutnya dan tertawa lebar. Nanaba merangkul Farlan dan keluar dengan pemuda itu. Gadis itu sendiri segera menghentikkan tawanya dan melihat Rico yang mulai menyiapkan peralatan untuk senapan itu. Biarpun ia menyiapkan sambil tertawa karena mengingat Farlan.

Gadis ilmuwan itu menghampiri Rico dan menepuk pundaknya.

" Rico..."

Rico menatap Hanji. " Ya senior?"

Hanji terdiam dan berpikir sebentar. " Kau punya baju wanita? Dan...Oh... seragam sekolah kakak perempuanmu. Boleh kupinjam?"

" Hah!?"

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

" Tadaima..."

Mikasa menghela nafas saat sampai di depan rumahnya sendiri. Gadis asia itu menatap bangungan bertingkat dua dengan desain modern itu dengan tatapan sendu. Ia bahkan belum memasuki rumahnya sama sekali sejak 3 hari yang lalu dan membuatnya rindu berat.

Bukan karena rindu akan rumahnya...Mikasa saja sering ikut menginap di asrama sekolah atas izin ketua asrama karena mengerjakan tugas eskul dan OSIS. Sebagai wakil OSIS membuat tugasnya menumpuk seperti tidak ada habis-habisnya sama sekali.

Gadis itu menyembunyikan mulutnya di syal merah yang sedang ia pakai sekarang.

Terkadang ia ingin sekali menangis saat mengingat syal itu. Ingin Mikasa membungan syal ini tapi dia tidak bisa. Tidak akan pernah bisa dalam hidupnya. Membuang syal ini sama saja dengan membuang hidupnya.

Jika kau cermati, sebuah kata-kata terukir di ujung belakang syal. Mikasa memegan ujung jarinya telunjuknya. Luka di ujung jari itu sudah berkali-kali membuatnya menangis dan berakhir ia yang terisak sendirian sambil memeluk syalnya.

" Kita merajut di malam ulang tahun papa..." Mikasa menutup matanya dan menggenggam kenop pintu rumah kuat. " K-kau...merajut untukku"

Mikasa membuka pintu rumahnya sedikit dan berhenti mendorong. Ia melirik ke dalam dan menahan nafas. Mikasa sendiri lah yang mendesain rumah karena ia memutuskan hidup mandiri setelah papanya membelikannya rumah di pusat kota tokyo.

Entah kenapa−desain rumah ini sama seperti impian mereka.

Levi dan Mikasa pernah membicarakan sebuah rumah impian yang bernuanasa modern dan jauh dari kata klasik yang sudah sering mereka tinggali. Levi membeberkan impiannya dan Mikasa selalu mengagumi impian kakaknya itu.

Hingga sekarang ia mendesainnya persis seperti impian Levi.

" Eren...Armin... aku pulang" Ucap Mikasa.

Gadis itu mengeyahkan pikirannya tentang Levi dan mendesis. Ia harus melupakan kakanya itu karena ia bukanlah lagi kakanya yang kuat dan penyayang. Levi bukanlah lagi laki-laki terhormat yang selalu menggenggam tangan kecil Mikasa saat pergi ke taman.

Levi bukan lagi kakak idaman yang selalu menyanyikan The First Noel dan Greensleve dalam bahasa prancis kepada Mikasa kecil saat gadis itu berbuat salah dan membuat ia dimarahi.

Dia berubah.

Benar-benar berubah hingga Mikasa harus menelan pil kekecewaan bulat-bulat.

Mikasa menyadari ada yang tidak beres disini. Gadis itu mengerutkan kening saat semua ruangan rapi seolah tak tersentuh. Biasanya Eren akan berteriak tidak karuan dan menghancurkan rumah karena terlalu Hyperaktif dan periang.

Armin yang asalnya duduk mingkem dengan tenang seperti kebiasaan keluarga bangsawan bisa saja jadi se-hyperaktif Eren karena berusaha menenangkan Eren. Seperti pengalaman mereka mengunjungi mansion Eren di Jerman.

" Eren! Armin! Kalian dimana!? Aku membawakan Ramen dan sedikti Kimchi dari temanku!" Mikasa menaiki tangga rumahnya karena kamar Eren dan Armin berada di lantai atas sedangkan kamarnya di lantai bawah.

Mikasa membuka kenop pintu kamar Eren dan menemukan bahwa kamar itu rapi. Malah teramat rapi untuk orang seceroboh Eren Jaeger.

" Ini jam berapa?" Mikasa melirik jam dan masih menunjukkan jam 11 pagi. Membuat wajah Mikasa memerah malu karena ketahuan sudah mencurigai dua sahabatnya itu.

Mikasa kembali menutup kamar Eren. " Haah.. Mana mungkin mereka kembali. Mereka masih sekolah...bodohnya kau Mikasa"

Gadis itu turun dari lantai atas dengan wajah bersemu malu. Beberapa kali Mikasa menutup wajah dengan syal merahnya karena jika saja ada orang disana, jelas-jelas Mikasa akan pingsan karena terlalu mau telah mencurigai teman sendiri yang sudah hidup lama dengannya.

Eren dan Armin telah bersahabat sejak kecil. Salahkan Mikasa yang sakit selama berbulan-bulan saat mengetahui bahwa Levi dipisahkan dari dirinya. Membuat Mikasa mengalami depresi berat dan daya tahan tubuhnya menurun drastis.

Membuat Ayah Eren yang saat itu masih bebas bekerja, turun tangan dan membantu Mikasa atas bujukan ayah Mikasa.

Gadis itu melepas rok dan seragamnya. Membuatnya hanya berkeliling rumah dengan pakaian dalam. Mikasa memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat kopi. Gadis itu menghela nafas berat.

Ia pulang ke rumah bukan untuk berisitirahat. Biarpun opsi itu masih ada tetapi tujuan utamanya pulang ke rumah adalah memantau Eren dan Armin.

TING NONG...

TING NONG...

TING NONG...

" Sebentar!"

Mikasa segera memakai baju berwarna pink selututnya dan menguncir rambut pendeknya dengan jepitan. Gadis asia itu melangkahkan kaki tergesa ke arah pintu depan. Yang belnya berbunyi sejak beberapa saat yang lalu.

Ckleeekk...

" Halo nona.."

Mikasa menyipitkan mata melihat gadis cantik dengan seragam SMA di depannya. Gadis itu memiliki rambut coklat tua yang tergerai ke depan dengan indah. Mata hazelnya bersinar sangat lembut dengan senyuman manis.

Seragam berwarna krim dan rok merah selutut menambah kesan manis dan cantik pada gadis di depannya.

Mikasa melembutkan tatapannya. " Ah hai juga...kau mencari siapa ya? Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya"

Gadis manis itu tersentak dan tertawa lembut. Ia memainkan tas jinjing berwarna abu-abu miliknya dengan nada meminta maaf karena langsung menyapa tanpa mengenalkan diri terlebih dahulu.

" Maafkan aku!" Gadis itu membungkuk dalam.

Mata hazelnya menatap Mikasa. " Namaku Hange atau teman-temanku lebih sering memanggilku J!"

" J?" Tanya Mikasa bingung.

J mengangguk mantap dan tertawa. Gadis itu merogoh kantung seragamnya dan mengeluarkan sebuah kalung perak bertuliskan nama orang disana. Membuat Mikasa segera merengutkan dahi dan membulatkan mata melihat kalung itu.

" Disini ada orang bernama Eren?"

J menyerahkan kalung itu kepada Mikasa dan Mikasa segera mengambilnya. " Aku bertanya kepada orang-orang tentang Eren. Mereka bilang Eren adalah orang luar dan kebetulan tinggal bersama denganmu... Aku hanya mengembalikannya"

Mikasa menatap lekat kalung itu dan menatap J yang menatapnya dengan mata polos. " D-dimana...maksudku dimana kau mendapatkannya?"

J menggaruk tengkuknya dan tertawa maklum. " Itu...di jalan dekat toko-toko. Aku kebetulan sedang berbelanja sehabis pulang sekolah dan menemukan kalung ini. Kukira ini kalung biasa tapi ternyata ada namanya..."

Seingat Mikasa, Eren tidak pernah mempunyai kalung perak. Ditambah berukir nama pemuda Jerman itu. Mungkin saja Eren baru saja membelinya di kawasan toko-toko itu. Mikasa tahu Eren suka hal yang baru.

" Arigatou..." Mikasa menundukkan badannya dan dibalas oleh J.

" Tidak apa-apa...tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Mikasa menaikkan sebelah alisnya. " Ya?"

J memainkan ujung rok-nya dan menggigit bibir bawahnya. " Ahh..aku..bolehkah aku tahu dimana Eren ini? Bukan maksudku macam-macam tapi hanya saja lebih baik aku bertemu orangnya langsung"

Mikasa tersenyum maklum dan tertawa. " Tentu saja...tapi sekarang aku tidak tahu mereka dimana. Hanya saja mungkin mereka masih berada di sekolah mereka. Kau perlu nama sekolahnya?"

J menggeleng. " Tidak usah! Mungkin lain waktu saja...aku harus pulang sekarang! Terima kasih!"

Mikasa menutup pintu rumahnya dan tertawa melihat kekikukkan J. J segera berlari pulang sesaat setelah Mikasa menutup pintu rumahnya. Dan Mikasa sendiri tidak menyadari bahwa J sempat tersenyum licik.

J berhenti di samping sebuah gedung bertingkat tinggi yang berjarak 8 blok dari rumah Mikasa. Gadis itu menyenderkan tubuhnya dan menyibak rambut yang sengaj ia sampirkan ke depan agar walkie talkie berukuran mini di telinganya tidak ketahuan Mikasa.

J menekan benda berwarna hitam itu. Ia menatap semua orang dengan serius dan merogoh kantung seragamnya. Mengeluarkan sebuah kacamata dan memakainya. J juga menghapus lipstick di bibirnya.

" Halo Farlan"

" YAK! KENAPA KAU LAMA SEKALI GILA!? AKU BENAR-BENAR BOSAN MENUNGGUMU! AKU SAJA SAMPI MENGHABISKAN 2 PORSI RAMEN DAN DANGO KARENA KAU BENAR-BENAR LAMA, HANJI ZOE!"

Hanji menggerutu. " Aku tahu aku tahu! Tapi negatif pada Mikasa! Dia juga tidak tahu dimana Eren! Tapi aku punya firasat bahwa Annie jelas-jelas tahu dan ada hubungannya dengan Mikasa!"

" Bagaimana kau tahu?"

Hanji menyipitkan matanya. " Tentu saja aku tahu...aku tidak sengaja menguntit Mikasa dan mendapati gadis itu baru saja datang dari Maria Highschool dengan membawa beberapa map."

" Berarti.."

Hanji berjalan sambil mengibaskan rambut coklatnya. Membuat beberapa pria mengangan atas kecantikan tersembunyi gadis ilmuwan gila itu. " Target selanjutnya..."

" Annie Leondhart"

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

Oke oke...

Eren mengakui bahwa Yuii itu sangat kaya.

Malah menurut presepsi Eren TERAMAT KAYA DAN TAJIR UNTUK SEORANG ANAK KECIL BERUSIA 10 TAHUN!

Eren terus menerus terkagum dan mengangakan mulutnya saat berkeliling di sekitar ruang apartemen milik Yuii. Yuii sendiri tertawa melihat Eren yang terus menerus memuji atau menyentuh barang-barang yang teramat langka dan baru bagi Eren.

Ditambah bagaimana tingkah laku Eren yang manis. Merengek mengeluhkan hanboknya terlalu panjang hingga membuatnya susah berjalan. Yuii saja sampai tertawa lepas saat Eren mengangkat hanboknya tinggi-tinggi hingga paha dan berjalan mengangkang sekali.

Kruyuuuukkkk~

" Upps..." Eren tertawa dan memegangi perutnya sendiri. " M-maaf Yuii...kau punya makanan?"

Yuii berbalik dari acara merapikan barang yang sudah dipegang Eren dan menghadap pemuda berdarah Jerman itu. Gadis blasteran korea itu menutup mulutnya dan tertawa khas anak kecil saat melihat Eren yang berusaha menyembunyikan bunyi perutnya tapi malah makin berbunyi. Membuat pipi Eren bersemu malu dan Eren yang tersenyum canggung

" Eomma mau makan?" Yuii tertawa.

Eren tertawa balik tapi wajahnya merah semua hingga ke telinga. " Ahh..ya"

Yuii tersenyum manis dan menarik tangan Eren cepat. Membuat pemuda manis itu terkejut dan tersentak. Eren beberapa kali protes saat Yuii menariknya dan membawanya cepat ke sebuah ruangan.

Gadis kecil itu membuka kenop pintu berwarna putih itu menarik Eren ke dalamnya.

" A-apakah aku sedang bermimpi?"

Yuii menarik Eren. " Tentu saja tidak eomma!"

Eren mengangakan mulutnya berkali-kali. Bahkan beberapa kali menginjak hanboknya. Mata hijau Eren berkilat kagum dan pemuda itu tertawa senang. Ia berjalan kesana kemari di ruang makan itu.

Tertawa senang melihat segalanya kesana kemari.

Eren dulu sering sekali dibacakan cerita pengantar tidur oleh ibunya atau tidak saat duo Mikasa dan Armin menginap di Jerman, mereka bertiga akan membaca cerita sebelum tidur. Dan berakhir telinga Eren dan Armin merah karean dijinjit Mikasa. Salahkan mereka yang selalu berdebat tentang akhir cerita itu sebelum ceritanya habis. Mereka bisa bertengkar sampai subuh.

Tapi cerita yang paling Eren sukai adalah Alice in the Wonderland. Eren iri kepada Alice yang bisa pergi ke dunia mimpinya yang penuh kejutan biarpun di dunia asli, kehidupan Alice tidak mulus-mulus amat. Malah dia sering dikatai gila.

Tetapi dia jatuh ke dalam Wonderland. Dunia penuh keajaiban milik Alice.

Dan sekarang...Eren merasa bahwa ia jatuh ke Wonderland dan Yuii lah kelinci yang ia kejar.

" Appaku mendesain ruangan ini seperti meja makan Mad Hatter saat pesta teh!" Yuii membuka tangannya dan menarikkan satu kursi berbentuk hati untuk Eren duduki. " Appa tahu bahwa aku suka Alice in Wonderland!"

Eren duduk sambil terus melongo dengan mata bersinar. " I-ini...SUGOI NA! AKU MERASA SEPERTI DI WONDERLAND!"

Eren benar-benar mengagumi ruangan ini. Bagaimana Yuii bisa mendapatkan seluruh miniatur dan propertinya? Semuanya terlihat sangat asli dan detail. Lihat kertas dinding itu, kursi, meja, dan bahkan interior ruangannya. Semuanya persis dan dibuat semirip mungkin. Bahkan ada cangkir teh milik Hatter dan seluruh kuenya.

Lampu gantung berbentuk kartu dan catur menghiasi kepala mereka. Ruangan bernuansa Wonderland itu sukses membuat Eren melupakan semua kegundahan hatinyadan mulai melahap kue-kue yang disuguhkan di depan matanya sendiri.

" B-bahkan kuenya..." Eren berbinar menatap sebuah cupcake dengan topping cherry dan strawberry New Zealand di tangannya. " Ini...O-oishi..."

Yuii ikut duduk dan tertawa nyaring khas anak kecil. Gadis kecil itu mengambil teko dan mulai menyeduh teh. Eren yang terbawa suasana mengambil cangkir di samping tangannya dan membantu Yuii menuangkan teh itu.

Mata Yuii berbinar dan berkaca-kaca karena senang saat tangan Eren menepuk kepalanya.

" Yuii...kenapa kau sangat baik sekali!?" Eren berbicara dengan mulut yang penuh remahan kue pai yang ia curi seenak jidat dari meja Yuii. Tapi bagi Yuii... suara Eren malah terdengar jelas dan membuat gadis itu tersenyum senang.

" Benarkah Eomma?"

Eren mengangguk dan kembali mengunyah sebuah kue nastar. Membalas Yuii dengan mulut penuh remahan kue.

Yuii tersenyum senang dan mulai memakan kuenya. Gadis itu terlihat berpikir untuk memilih kue mana yang akan ia makan. Tapi belum seberapan ia ingin mengambil kue pai, gadis itu tidak sengaja melihat Eren mengambil lollipop berbentuk beruang dan berusaha mengemutnya.

Yuii membulatkan mata kaget. Permen itu dibuat oleh si mesum Reiner! Pasti ada apa-apanya!

" Eh..eomma! Jan−"

" −Yuii..."

Yuii terlihat menelengkan kepala bingung dengan Eren yang tiba-tiba melepaskan permen itu. Sialan...seharusnya ia tidak mengajak si mesum Reiner ke apartemennya. Dia pintar membuat permen untuk Yuii..tapi ia pasti membuat sesuatu yang aneh jika permen itu diletakkan di meja makan ini.

Permen warna-warni yang aman hanya terletak di kamar Yuii.

Sedangkan di meja makan... Reiner suka sekali mengerjai orang-orang dengan permennya.

Eren mengerang. Wajahnya memerah dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Entah kenapa... semakin lama Eren memakan permen itu, tubuhnya jadi terasa semakin panas dan terbakar.

Pemuda itu bernafas denga berat. Ia beberapa kali mengipaskan hanboknya untuk mendinginkan tubuh tapi malah sebaliknya. Eren jadi malah sensitif sekali dengan sentuhan. Pemuda itu tidak sengaja menyentuh nipple-nya saat ingin menarik hanbok dan malah ia melenguh.

Nipplenya menegang dan Eren perlu sensasi yang lebih dari itu. Ia jadi merasa ingin...disentuh. Kasar dan cepat.

" Nggh..."

Eren menutup mata dan menyenderkan badan di kursi dengan lemah.

Badannya jadi semakin terasa panas. Yuii akhirnya tahu apa yang terjadi.

" Aphrodisiac..." Ucap Yuii lirih. Gadis itu merengut. " Reiner mesum itu memasukkan Aprhodisiac..."

" Nghh..L-levihh"

Yuii tersentak saat Eren mulai bergerak gelisah di tempatnya. Menggesekkan kedua kakinya dengan kasar dan nafas berat. Pemuda manis itu berulang kali mendesahkan nama Levi dan membuat hanboknya semakin basah akan peluh.

Eren berusaha menormalkan kesadarannya. Dia tidak boleh seperti ini! Eren memerah malu saat melihat Yuii yang menatapnya dengan mata bulat abu-abu yang bersinar polos. Membuat Eren makin mengerang.

Sialan...dia tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya tapi tidak tahu kenapa bisa jadi begini!?

Kejantanannya sudah hampir berdiri dan ia harus segera pergi darisini sebelum berakibat fatal.

" Y-yuii...mmh.." Eren berusaha berdiri dan bernafas dengan susah payah. Matanya melirik Yuii dengan sayu. Eren ingin sekali menangis karena perasaan panas ini membunuhnya!

" M-mana kamar m-mandi...nggh..mandinya?"

Yuii berpura-pura tidak tahu dan jadi anak polos padahal dia tahu apa yang sedang terjadi. " Ano...di kamar eomma ada kamar mandi. Eomma? Waeyo?"

Eren segera menggeleng kuat dan tersenyum seadanya. Tangannya dari tadi terus menekan kejantanan di dalam hanbok hijau bercampur perak miliknya. Pemuda itu berjalan perlahan menjauhi meja dan seketika melenguh tertahan merasakan sentuhan tangannya benar-benar membakar nafsu Eren.

Ini BENAR-BENAR GAWAT!

Tanpa pamit− Eren berlari menuju kamarnya yang ia tahu jalannya sangat dekat. Untung saja mereka tidak sempat mengelilingi apartemen lebih jauh atau ini benar-benar akan fatal.

BRAAAAKKKK!

BLAAAAAMMMM!

" Haahh! Haaahh...!"

Eren menarik tali hanbok di dadanya dengan tergesa-gesa sambil mengerang putus asa hingga mampu membuat hanbok itu melorot hingga sikunya. Lidah Eren sedikit terjulur keluar saat merasakan suhu tubuhnya terlalu panas untuk tertampung.

Pemuda itu duduk di kloset dengan wajah memerah hebat. Kulit mulus Eren bahkan mengilap akibat banyaknya peluh yang mengalir keluar dari tubuhnya. Pemuda itu terengah-engah dan melenguh. Mendesah dan mengerang.

" H-hikkss..."

" H-hikssss...L-levi"

Eren seketika menangis. Ia meremas kejantanannya sendiri sambil menangis frustasi. Seharusnya Eren bisa saja memikirkan yang lain sekarang. Menuntaskan hasratnya dan kembali kepada Yuii.

Tapi entah kenapa...semakin terbakar dirinya, Eren semakin frustasi. Semakin mengiang-ngiangkan Levi di dalam kepalanya. Si cebol mesum itu membuat Eren frustasi.

" Ah AH! Ngghh AH!"

Pantat Eren bergerak kesana kemari di kloset saat merasakan anusnya berkedut. Sangat cepat dan ganas. Bahkan bisa ia rasakan hanboknya basah akan cairan yang mengalir deras dari lubang analnya sendiri.

Eren mengerang makin frustasi. " Hiksss...mmh..Hikss...s-sentuh aku L-levih..Hiksss...aku tidak tahan..t-tolong akuuhh"

Kesadaran Eren sudah hilang sepenuhnya. Efek Aphrodisiac itu benar-benar membutakan kepala Eren. Pemuda itu melepas hanboknya. Membiarkan pakaian mahal itu tergeletak di lantai keramik.

Eren berusaha menahan tangannya dari mengocok penisnya sendiri. Penisnya terus berkedut tidak karuan bahkan bergerak akibat terlalu banyak rangsangan dari dalam yang ia terima. Membuat Eren memejamkan mata dan mengerang lebih nyaring dan putus asa.

" J-janganhh..." Eren mengambil nafas sangat berat dan berakhir menjerit saat ia mulai menggenggam penisnya yang sudah berdiri dengan pre-cum di atasnya.

" Hyaa...L-levi Levi L-levihh... Ahh!"

Entah dapat pikiran darimana−Eren mengubah posisinya. Ia menutup kloset dan menungging. Mengangkat pantatnya tinggi-tinggi ke udara sambil mendesah layaknya jalang. Lubangnya berkedut tidak karuan dan cairan pelumas mengalir melalui pahanya dengan sangat deras.

Menandakan bahwa Eren benar-benar bernafsu.

Ia frustasi sekarang.

Mata Eren berair dan ia menatap jari di depannya. Tangan yang satunya masih setia menaik turunkan kocokannya pada penisnya yang semakin keras. Eren memejamkan mata dan kembali mengerang.

Menghisap ketiga jari itu.

" L-levi...L-levihh~"

Membayangkan bahwa yang dihisapnya bukanlah jari melainkan penis milik dominannya itu. Seperti cerita werewolf yang Eren dengar dari Armin, Eren benar-benar seperti omega dalam masa heat. Membutuhkan Alphanya untuk menuntaskannya. Dan Alphanya adalah Levi.

" NYAHHH! L-LEVI! NGGGHH!"

" AHH! AH..S-SENTUH AKU..H-HIKSS..L-LEVI~"

Eren merebahkan kepalanya pasrah di sandaran kloset. Mulutnya menganga dengan saliva sudah berjatuhan. Ia menangis akibat terlalu banyak menerima kenikmatan. Sekaligus menangis mengingat Levi yang salah faham.

Ia terangsang dan sakit hati di saat yang bersamaan.

Ketiga jarinya maju mundur dengan kasar di lubang. Menghentakn prostat Eren telak dan membuat pemuda itu mengerang dan mendesah lebih berani dan keras dari sebelumnya. Eren tidak lagi polos.

Berterimakasihlah pada Levi.

Tapi hati pemuda manis itu tetaplah polos dan lembut selembut kapas dan anak kecil. Tidak pernah bersalah sangka dan memilih sesuatu berdasarkan hati terdalamnya yang suci.

PLOOOPP...

PLOOOPPP...

PLOOPPPP

" NYAAAHHH! L-LEVVVIII~"

SPLUUUURTTTT!

.

.

.

.

.


.

.

.

.

" Dia itu! Kan eomma ku jadi sakit begitu!"

" Memangnya apa salahku!? Dia submissive juga... tidak akan apa-apa!"

" Sudahlah kalian berdua..Yuii...maafkan Reiner.."

" Aku membencimu Reiner ssi! Dasar Ahjussi mesum!"

" Hei anak kecil! Aku ini masih belasan tahun dan kau seenak jidat menyebutku ahjussi!"

" Memang dari dulu wajahmu mirip ahjussi-ahjussi mesum. Bahkan mirip dengan ojii-san ku"

" Diam kau Marco! Kalian tega sekali!"

" Aku benci Reiner ssi! Jangan ke apartemenku lagi!"

" Aku tidak tahu...kau membuat Yuii chan marah"

" ARRGGGHHH! KALIAN INI!"

.

.

.

.

.


.

.

.

Levi menatap dokumen di depannya dengan pandangan sinis dan dingin. Pemuda bermata tajam itu menumpukan kedua kakinya di atas meja. Ia memainkan revolver peraknya dengan wajah datar.

" Marco Boldt..."

" Reiner Braun"

" Annie Leondhart"

" Dan... Kim Hyun Jae"

Levi melirik Nanaba yang sedang membacakan nama-nama kelas eksekutif di Maria Highschool. " Tunggu dulu"

Levi menurunkan kedua kakinya dan menatap Nanaba dengan dingin. " Kim Hyun Jae?"

Nanaba mengangguk. " Dia berjenis kelamin perempuan dan berumur 10 tahun. Seharusnya dia tidak dimasukkan kesana tetapi ke pusat rehabilitasi di Korean Selatan tapi karena kejahatannya benar-benar mengerikan bagi pemerintah Jepang, dia dijebloskan kesana"

Levi mengangguk singkat. " Aku mencurigai anak itu. Aku punya firasat bahwa ia akan mendekati Eren"

" Sepupu...dia lebih dikenal dengan nama lain di Jepang"

Levi mengerutkan dahi saat Nanaba menyerahkan foto seorang anak kecil berparas manis seperti kebanyakan tipikal perempuan korea pada umunya. Rambutnya berwarna oranye pirang. Matanya abu-abunya bersinar polos dengan senyum manis yang mampun meluluhkan hati siapapun.

Gadis kecil itu memegang sebuah bonek teddy berukuran besar dengan tulisan Kanji dan Hangul di depannya. Ia memakai hanbok kecil untuk anak-anak. Pita putih mengikat belakang kepalanya.

Tapi Levi meresponnya dengan wajah datar tanpa emosi.

" Gadis ini berguna bagi bedebah itu. Kau tidak lihat sesuatu yang menggantung di lehernya?" Ucap Levi dingin.

Pemuda bermata tajam itu mendecih jijik. Ia berdiri kasar dan memasang wajah membunuh. Mengangkat foto itu ke hadapan Nanaba yang mengerutkan kening kebingungan.

" Di belakangnya adalah sebuah rumah milik pengusaha elektronik di Jepang. Kau ingat pembunuhan dan bom disana? Gadis ini membawa setumpuk granat dan ponsel penghubung menuju bedebah itu"

Nanaba membulatkan mata. " Jadi maksudmu dia seperti tameng bagi mereka? Penutup kejahatan mereka?"

Levi menjatuhkan foto itu dan seketika menembaknya dengan revolver yang ia ambil secepat kilat dari meja. Foto itu hangus saat telah tiba di lantai. Membuat Nanaba mengangkat alis saat Levi lagi-lagi menatap semuanya tajam.

" Para bawahanku mengincarnya 2 tahun yang lalu" Levi memainkan revolvernya dengan kilat benci di mata hitam tajamnya. " Dia lebih dikenal dengan nama Yuii daripada nama aslinya"

" Dia hampir menghancurkan sebuah kapal pesiar milikku dan membunuh seluruh orang disana. Untuk ukuran gadis polos seperti dirinya−dia masuk level berbahaya"

Levi berbalik menatap Nanaba.

" Sepupu...Kau percaya padaku?"

Nanaba menghela nafas. " Keluargaku adalah samurai. Kesetiaan dan harga diri mengalir dalam tradisi dan darah kami, Levi. Keluargaku sudah menyatakan kesetiannya padamu. Maka dari itu mereka tidak akan pernah menolak kehadiranmu di rumah kami biarpun kau sendiri di tolak di keluargamu"

Levi menatap Nanaba datar dan tersenyum miring. " Aku percayakan gadis kecil itu kepadamu. Aku tahu kau sering bersama Eren dan menjaganya"

Nanaba mulai memasang wajah serius saat Levi menyebut nama Eren. " Ada apa?"

" Aku ingin mengambil Eren"

" Maukah kau mempercayakannya padaku?"

Gadis tomboi itu mau tidak mau hanya bisa terdiam. Ia ingin Eren untuk bahagia dan tidak tersakiti lagi tapi di satu sisi−Levi biasanya tidak akan meminta jika dia ingin. Bahkan tanpa persetujuaan Nanaba, biasanya dia akan mengambilnya.

Tapi sekarang...demi Eren dia meminta.

Nanaba membuang wajahnya. " Aku melihat penderitaanmu Levi. Kau kosong dan hampa. Tetapi Eren datang mengisinya. Kumohon...jangan sakiti anak itu sama seperti kau yang menyayangi ibumu dan Mikasa. Bahkan lebih dari itu."

Levi menepuk puncak kepala sepupunya itu karena ia tahu mata Nanaba berkaca-kaca ingin menangis.

" S-sejak kapan..."

Levi melirik dari ujung matanya. " Apa?"

" Sejak kapan dan berapa lama kau tidak melakukan ini? Menepuk kepalaku dan Mikasa? Kenapa sekarang?"

Levi hanya memasang wajah datar dan menjawab dengan nada baritonnya yang dalam. Menandakan bahwa ia juga tidak suka ini terjadi.

" Eren..."

Nanaba tersentak. " Apa tadi?"

" Eren Jaeger...sejak aku bertemu bocah sialan itu."

Nanaba menghela nafas. " Rebut Eren Levi...rebut Erenmu"

Levi menyeringai. " Tentu saja. Akan ku ambil bocah nakal itu"

.

.

.

.

T

B

C

XD

Sorry ya misalnya lama update ●︿●≥﹏≤
Iam so sorry...

Mind To RnR?