Chapter 18
.
.
.
.
An Attack on Titan Fanfiction
.
.
.
Cast :
All Snk Characters and My Oc
.
.
.
Pairings :
Riren ( Main)
Erumin
Jean x Armin
and another pairing ( soon)
.
.
.
WARNING!
This is positive YAOI!
Rated M ( Adult and Mature)
BL ( Boys Love)
Mature and adult contents
Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath
Smut and kinda hard sex
.
.
.
Genre:
Crime
Romance
Adventure
Hurt Comfort
.
.
.
Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai
saya hanya meminjam ^w^
.
.
.
Hope you enjoy it ^^
.
.
.
.
.
.
.
Eren tidak suka ini. Jelas-jelas tidak menyukai dan membencinya. Dia benci saat ia menjadi lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia benci saat dibuat tertekan dan menyerah secara sepihak. Dia benci semua itu.
Tapi... ada sebuah pengecualian kecil dalam dirinya.
Batinnya bergejolak bingung memikirkan rasa meletup di dadanya saat orang itu menyentuh tubuhnya dengan cintanya. Dengan sisi lain dari dirinya yang baru Eren tahu.
Hanya dengan menyebut namanya, Eren merasakan euforia berbeda di dalam tubuhnya. Seperti saat Eren makai pai blueberry pada malam terakhir musim dingin di Jerman.
Eren berteriak senang saat mengetahui ada raspberry khas Irlandia yang ibunya simpan di dalam pai yang yah...terlihat tidak menarik itu. Darisana, Eren belajar untuk tidak menilai sesuatu atau seseorang dari sampulnya.
Bisa saja dalamnya dapat membuatmu terus terikat dengannya selamanya. Seperti rasa dingin dan segarnya pepohonan di hutan Irlandia yang terbungkus apik di dalam raspberry kecil itu.
Eren terikat dengan Levi.
Dia tidak tahu mengapa. Hanya saja semuanya terasa tidak menarik lagi dibandingkan Levi. Dia takut kehilangan. Eren jadi merasa benar-benar lemah saat mengetahui Levi di sampingnya. Dia merasa hampa saat ia tidak melihat pemuda bermata tajam sehari saja. Seolah-olah ada yang hilang dari hidupnya.
Dia straight awalnya. Dia suka perempuan dan segala sifat menakjubkan mereka. Eren bahkan pernah menyukai salah seorang seniornya saat masih berada di Jerman.
Tapi untuk sekarang... Eren bahkan tidak yakin dia masih bergairah melihat mereka semua jika Levi sudah mengambil alih segalanya. Badannya dan...mungkin sedikit harapan di hatinya.
.
.
.
.
.
Eren terduduk di kloset dengan wajah pucat dan sorot mata kelelahan. Mata hijau Eren menatap hanbok dan seluruh bajunya yang tercecer di lantau kamar mandi sambil meringis. Meringis mengingat betapa liarnya dia bermasturbasi beberapa saat yang lalu. Dia bahkan melupakan segalanya dan berteriak senyaring mungkin saat gelombang orgasme menghantamnya.
Eren menutup wajahnya kalut dan mengerang lelah. Dia bahkan tidak sadar mendesahkan nama Levi secara spontan saat dia terangsang beberapa saat yang lalu. Eren berusaha mengenyahkan levi dari pikirannya tapi semakin panas tubuhnya maka kejadian saat Levi menyentuhnya malah terputar dengan jelas di dalam kepalanya.
Membuat tubuhnya menggigil dalam kenikmatan dan haus akan sentuhan.
" Arrrghh..." Erang Eren lemah. " Apa yang baru saja k-kulakukan?"
Eren memungut hanboknya. " K-kenapa...kenapa−"
Tes...
Tess...
Tesss...
Pemuda Jerman itu menarik nafas panjang saat merasakan air mata meluncur mulus dari kedua buah manik Zamrudnya. Air mata itu meluncur tanpa sebab dan membuat Eren terdiam kaku. Tidak bisa memungut hanboknya atau berdiri seinchi saja.
" K-kenapa Levi...kenapa kau malah kau yang kupikirkan?" Tanya Eren lirih. Pemuda itu memungut hanboknya cepat dan memeluknya. Eren menyembunyikan wajahnya di balik kain berwarna hijau pastel dan abu-abu itu. Berusaha menstabilkan emosinya yang tiba-tiba sensitif.
Tangan Eren tanpa sengaja menyentuh lehernya dan ia tersentak kaget. Pemuda manis itu tiba-tiba menegakkan kepalanya dengan panik dan meraba-raba lehernya gelisah. Eren menggigit bibir bawahnya dan segera berdiri.
Bahkan pemuda manis itu memasang hanboknya asal dan segera berlari ke arah cermin. Benar saja...
" K-kalungku.." Eren membuka matanya kaget. " K-kalung perakku hilang..."
Eren seharusnya tidak gegabah.
Dia mengaku dia masih membenci pemuda brengsek itu, tapi kalung itu seolah-olah menjadi sebuah hadiah perdamaian bagi Eren. Bahkan Levi sendiri yang mengalungkan kalung itu di leher Eren dan mencium pipinya lembut.
Eren hampir saja terbuai untuk kedua kalinya jika saja Levi mulai berkata kotor lagi dan membuat Eren menyikut perutnya dan memaki pemuda bermata tajam itu dengan nada jengkel dan kesal.
Intinya... Eren sangat menyayangi kalung itu. Belum pernah seumur hidupnya dia dibelikan sesuatu berukir namanya. Semua orang di mansion Eren bahkan Mikasa sendiri mengatakan bahwa hal itu terlalu kekanak-kanakan.
Tapi Levi berbeda. Dia memberikan Eren sesuatu yang benar-benar ia minta tapi tidak pernah ia beritahukan pada orang lain lagi di luar sana karena mereka selalu mengolok-olok permintaan Eren sebagai permintaan anak kecil.
Eren membuka pintu kamar mandi panik dan mencari ke seluruh ruangannya. Pemuda manis itu berusaha mencari dimanapun yang bisa ia jangkau dan lihat. Lemari, laci, di kolong tempat tidur, bawah karpet, bahkan sampai sela-sela terkecil sekalipun. Eren tidak mengindahkan hanboknya yang melorot hingga bahu.
" Aisshh..." Eren mengerang frustasi. " D-dimana benda itu? Kenapa aku gegabah sekali!?"
Eren berdiri di atas ranjang dan merengutkan bibirnya. " Aku kehilangan Levi sekarang... setidaknya−"
"−jangan biarkan aku kehilang sesuatu dari dirinya juga" Eren mengecilkan suaranya di akhir kalimat dan wajahnya spontan memerah.
Eren yang sadar dengan apa yang baru saja ia katakan, mengerang kesal dan menghentak-hentakkan kakinya di atas ranjang kikuk. Pemuda manis itu menggerutu dan menyumpah di saat yang bersamaan dengan dia yang meloncat-loncat di atas ranjang mewah itu.
Eren menggerutu. " Grrrr... dasar cebol tidak punya hati! Sudah sering salah faham, dia malah membuatku bingung seperti ini!"
" Eomma?"
" GYAAAAAAAA!"
BRRRUUUUUKKKK!
Nafas milik Yuii tercekat saat menemukan Eren terpeleset di atas ranjang dan membuat tubuhnya terpental dan terlentang dengan tidak elitnya. Sedangkan pemuda manis itu membulatkan mata horror. Nafas Eren pendek-pendek dan dia panik sendiri saat menemukan bahwa dia baru saja terjatuh dengan tidak elitnya dan terhentak kuat.
Untung saja ranjangnya empuk, entah bagaimana misalnya itu sekeras batu. Bisa saja lukanya sama buruknya dengan pukulan Levi saat pertama kali dia mengejek pemuda itu kurcaci cebol dan kontet.
Yuii berteriak panik. " EOMMA!"
Gadis berusia 10 tahun itu menghampiri Eren dengan wajah ketakutan dan gelisah. Bahkan Yuii sendiri tersandung kursi saat berusaha mendatangi Eren yang masih kelihatan syok saat terjatuh secara wow...tadi.
" E-eomma..." Yuii menggoyang-goyang tangan Eren panik. " H-hikss...e-eomma..."
Eren tersentak kaget dan menatap Yuii. " Eh Yuii! K-kenapa...jangan menangis"
Yuii menggelengkan kepala dengan mata berurai air mata. Manik abu-abu milik gadis itu membesar dan berkaca-kaca. Menatap Eren dengan wajah ketakutan dan gelisah. Air mata milik gadis itu bahkan sudah membasahi hampir keseluruhan wajahnya dan jatuh ke atas tangan Eren.
Pemuda bermata manis itu merasa hatinya tersayat melihat gadis se-polos Yuii menangis separah ini. Eren memang tidak terlalu suka anak-anak karena menurutnya mereka agak menjengkelkan misalnya nakal, tapi Eren tidak membenci keseluruhan anak kecil.
" A-aku..." Isak Yuii. " A-aku takut e-eomma..eomma terluka lagi..."
Yuii merangkak naik ke ranjang dan memeluk Eren. Membuat Eren terkejut tapi mau tidak mau pemuda Jerman itu balas memeluk Yuii karena badan gadis kecil itu bergetar ketakutan. Eren mengelus punggung Yuii.
" Sudah..." Eren tersenyum lembut. " Aku memang suka jatuh jika terkejut haha...aku tidak terluka sedikitpun Yuii-chan..."
Yuii meremat hanbok Eren kuat. " Tapi...
" ...aku tidak ingin hati eomma terluka karena dia..."
DEEG
Mata Eren membulat dalam keterkejutan. Pemuda manis itu menatap Yuii yang masih menyembunyikan wajahnya ke balik hanbok Eren dengan wajah melongo. Mulut Eren menganga karena jujur−apa Yuii baru saja menyinggung soal Levi yang meninggalkannya secara sepihak?
" Y-yuii-chan..." Panggil Eren gugup. " A-apa k-kau tahu...L-levi?"
Yuii mengangkat wajahnya dan menatap Eren dengan mata sembab yang manis. Tapi raut serius Yuii membuat Eren mengurungkan niatnya untuk mencubit-cubit pipi gembul berisi milik Yuii.
Bibir gadis blasteran Korea itu mengatup rapat dan wajahnya mengeras. Eren hanya bisa mengangkat alis kebingungan saat gadis itu malah beranjak dari ranjang Eren dan berjalan keluar ruangan tanpa mengucapkan kata-kata lain.
' A-apakah Yuii tahu Levi? Ahh sial...bagaimana aku menjelaskannya nanti?' Batin Eren khawatir. ' Tapi kan dia dikenal semua orang karena kesadisannya...dan juga berandal setengah mati. Apa maksud Yuii?'
Yuii kembali masuk ke dalam kamar Eren dengan membawa sebuah tab yang cukup besar di tangannya. Gadis itu memasang raut datar dengan bibir tercebik ke depan. Eren saja sampai melebarkan matanya dan tersenyum kikuk karena merasa tidak biasa dengan atmosfer serius yang dikeluarkan oleh Yuii.
" Eomma harus lihat ini" Ucap Yuii serius. " Dia itu memang sudah brengsek dari dulu, eomma..."
" Eh?" Beo Eren bingung. " M-maksudmu...L-levi?"
Yuii duduk di sebelah Eren dan mengutak-atik tab dengan merek ternama itu. Membuka beberapa file dan aplikasi yang Eren tidak tahu namanya. Saat dia masih berada di Jerman, Eren dilarang keras oleh ayahnya untuk membeli komputer apalagi iphone dan sejenisnya.
Ayahnya bilang itu hanya akan mematikan otak Eren dan membuatnya bodoh.
Memang kenyataannya Eren memang tidak suka belajar daridulu tapi ayahnya saja yang ngototnya keterlaluan tidak tanggapnya Eren ke pelajaran bukan karena ia tidak suka belajar tapi karena teknologi sekarang.
Bahkan Mikasa sekalipun melarang Eren memiliki android seperti dirinya dan hanya diberika handphone keluaran tahun 90-an. Membuat Eren seringkali merajuk dan menggeram kesal kepada Mikasa.
Dan berakhirnya Armin yang menenangkan Eren yang seperti kucing yang berubah jadi harimau ingin melahirkan itu.
" Ahh...ini dia" Yuii membuka kumpulan galeri dan menyentuh satu foto. Membuat foto itu keluar secara HD dan fullscreen dengan resolusi yang cukup tinggi.
Eren tersentak kaget dan nafasnya tercekat penuh. Bahkan pemuda manis itu memundurkan tubuhnya secara sekaligus karena terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Matanya pasti sudah membohonginya.
" Tidak..." Eren menggelengkan kepalanya tidak percaya.
" I-itu...itu tidak mungkin..tidak mungkin Levi..."
Yuii merengutkan bibirnya. " Eomma masih menyangkal? Lihatlah foto ini dan semuanya sudah jelas eomma...dia hanya memanfaatkan tubuh eomma saja"
" T-tidak..." Isak Eren. Dia menggigit bibir bawahnya kuat dan menatap foto itu dengan pandangan nanar. Hatinya diremas sekuat-kuatnya dengan kekecewaan mendalam. Ulu hati Eren menjadi sakit. Teramat sakit hingga dia sendiri bisa merasakan bahwa ulu hatinya seperti ditendang oleh kaki kuda.
Eren menutup mulutnya yang menganga ingin menjerit kecewa. " D-dasar...nggh...dasar b-brengsek"
" B-bagaimana mungkin...bagaimana mungkin i-itu k-kau L-levi...?" Eren meringis dan nadanya menciut seperti saat ia ketakutan.
Dan sebenarnya ia ketakutan sekarang. Ketakutan bahwa prasangkanya menjadi kenyataan. Prasangka bahwa Levi hanya memanfaatkan tubuhnya.
Jadi, dengan kata lain semua cinta itu, semua rasa sayang itu, semua sifat lembut dan janji manis itu, semua sisi lain dari Levi itu...palsu?
" Eomma sudah lihat kan?" Tanya Yuii lembut.
Pandangan serius gadis itu tiba-tiba berubah menjadi lembut saat melihat raut keterkejutan dan tidak percaya Eren. Pemuda manis itu bahkan memundurkan tubuhnya hingga menyentuh sandaran ranjang.
Bibir semerah plum milik Eren, bocah manis itu gigit. Eren menutup matanya kuat sambil menggumamkan kata tidak dan Levi berulang kali. Tapi kali ini diselingin kata-kata cercaan dan kutukan.
Eren meremas hanboknya kuat di bagian dada. Berusaha meredakan rasa sakit yang menghantam dadanya secara tiba-tiba itu.
" B-bagaimana bisa..." Erang Eren. " Bagaimana bisa L-levi mencium P-petra d-disana?"
Eren melirik dari ujung matanya dan mendapat pemandangan Levi yang menahan belakang kepala Petra. Menarik rambut gadis itu dan menciumnya ganas. Bahkan raut Petra dan Levi sama-sama terlihat menikmati di foto itu.
Mengabaikan bahwa ada Eren yang hatinya hancur berkeping-keping disana.
Bahkan yang lebih buruknya... Eren kenal itu. Itu apartemen Levi. Tempat yang sama saat Levi menyatakan cintanya pada Eren. Mereka berdua duduk dengan kepala Levi yang terdongak untuk mencium Petra yang tepat di belakangnya.
Hati Eren berdenyut sakit gila-gilaan menemukan jas hitam elegan dengan lambang sebuah perusahaan ternama itu, tersingkap di bagian dadanya. Menunjukkan dada bidang yang pernah menjadi sandaran Eren.
Air mata Eren tidak mampu tertampung dan bocah manis itu menangis dalam diam. Perlukah hatinya harus hancur berkeping-keping dalam satu waktu?
Sekarang Eren mengaku.
Eren mencintai Levi! Eren mencintai pemuda brengsek yang sudah hampir mementalkan kepalanya!
Ya! Dia mencintai pemuda kurang ajar tanpa sopan santun itu!
Eren menyukai bagaimana pemuda cebol itu menenangkan keadaan! Dia mencintai pesona Levi! Dia mencintai sifat baiknya! Dia mencintai kejahatannya karena kejahatan itu yang menyadarkan Eren bahwa dunia bukan dilihat dari sampulnya!
Dia mencintai Levi! Dia mencintai Levi karena... tanpanya Eren tidak pernah melihat seseorang dari pandangan yang lain.
Levi mengajarinya cara untuk melihat pemuda itu dari sudut pandang seorang Eren yang sebenarnya. Bukan sudut pandang masyarakat luas dan orang-orang. Levi mengajarkannya bahwa berandalan seperti dirinya dan senior lainnya masih manusia.
Mereka masih butuh kasih sayang dan cinta.
Bukan selamanya mereka adalah makhluk buangan. Bukan selamanya mereka dianggap sampah masyarakat dan sebuah rongsokan tidak berguna. Bukan selamanya mereka adalah perusak.
Mereka dulunya sama seperti yang lain. Tapi Eren tahu... mereka tidak dikasihani. Semua telinga tertutup untuk mendengar jeritan kesakitan jiwa mereka. Semua mata tertutup untuk melihat betapa sengsaranya mereka. Semua indra tertutup untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka sebenarnya tanpa dosa.
Levi sama. Dan dia mendamba sosok Eren.
Sosok si pencaci yang selalu membenci kehadiran Levi pada awalnya. Sosok yang selalu balas menggertak balik jika ia dihina. Sosok yang akan membela siapapun jika mereka benar. Entah mereka berandalan atau tidak.
Dan sosok...sosok yang polos dan tersenyum saat melihat sisi lain dari berandalan itu. Seperti Hanji dan yang lainnya.
Maka dari itu...jangan salahkan Eren jika hatinya hancur berkeping-keping.
Hatinya hancur mengetahui bahwa Levi tiba-tiba membenci kehadiran karena satu kesalahan kecil. Perkataan Mina terngiang-ngiang di kepala Eren. Eren menutup matanya meresapi kata-kata Mina sambil menangis dalam sunyi.
" Eomma...hiikkss..." Yuii merebahkan kepalanya di paha Eren dan membuat pemuda itu segera mengelus puncak surai milik Yuii.
Sama-sama menangis tapi berusaha tersenyum pahit melihat foto di tab itu masih terpampang jelas di hadapan matanya. Menampar jiwa Eren terlalu dalam hingga rasanya Eren ingin sekali menguburkan diri.
" Eomma...j-jauhi Levi..." Yuii terisak dan meremat hanbok Eren. " e-eomma punya Yuii...punya teman-teman e-eomma..p-punya keluarga eomma...kenapa e-eomma mau-maunya bersama dengan dirinya? Dia hanya bisa menyakiti orang-orang, ma... makanya t-tidak ada seorangpun y-yang suka d-dengannya... t-tidak ada orang y-yang berhasil m-membuat hati kerasnya melunak, eomma..."
Eren menggelengkan kepalanya dan memasang raut sedih yang penuh rasa sakit. Pemuda manis itu menarik nafas panjang. " T-tapi...k-kenapa aku b-bisa?"
Yuii menatap Eren. " Eoh?"
" K-kenapa dia membuka hatinya u-untukku?" Nafas Eren putus-putus. " K-kenapa dia melunakkan hatinya untuk aku, Y-yuii chan? Kenapa dia mencintai orang yang selalu membuatnya jengkel ini, Yuii? K-kenapa harus aku?"
Yuii membulatkan matanya kaget dan spontan terisak dan menenggelamkam wajahnya di balik hanbok Eren. Kata-kata itu... kenapa dia jadi mengingat appanya di saat seperti ini? Kenapa memori tentang appa dan eommanya di Daegu menjadi masuk ke dalam memorinya sekarang?
Yuii jadi tidak tega. Eren mengingatkannya pada memori manisnya di Daegu bersama appa dan eommanya dan oppanya. Dia jadi ingin melepas Eren yang sedang berusaha untuk tidak menangis deras itu.
Melepaskannya agar Eren tidak berakhir seperti eommanya...tapi...
" Tidak Yuii.." Yuii membuka matanya dan pandangannya menggelap. " Dia eomma-mu... Appa menyuruh Yuii jadi anak baik dan cari eomma baru untuk Yuii sendiri. Yuii tidak akan membiarkan Eomma Yuii diambil oleh appa yang lain."
Yuii menegakkan kepalanya dan menatap Eren yang masih menangis. Kali ini Eren melemaskan badannya dan membiarkan badannya melorot ke ranjang dan kepalanya terkulai di bantal yang sengaja Eren taruh di sandaran ranjang.
Gadis itu menjauhkan tab itu dan turun dari ranjang dan menemuka waktunya makan siang.
" Eomma..." Panggil Yuii. " Eomma mau makan apa?"
Eren membalas Yuii dengan gelengan kuat. Tenaga Eren seolah menguap begitu saja sesaat setelah melihat foto menyakitkan itu. Nafsu makannya menghilang begitu saja dan di dalam hatinya hanya ada Levi bersama rasa sakit yang bertumpuk-tumpuk.
Yuii menatap kakinya. " Baiklah...m-mungkin Yuii akan membuatkan eomma bulgogi dan ramen"
Eren mengangguk kecil.
Yuii menutup pintu kamar tidur Eren dan membuka ponselnya dengan nada gelap dan sorot mata berbahaya.
" Halo?"
" Halo Marco-kun... jangan sampai ada yang masuk kota dari jalur Tokyo sedikitpun"
" Woah woah...kau kenapa Yuii-chan?"
" Oke Yuii chan...kutebak rencanamu berjalan lancar kan dan oh! Kau sudah memaafkan Reiner?"
" A-N-I-Y-A. Tidak...si Ahjussi mesum itu hampir mencelakakan eomma ku. Bilang...misalnya aku ingin memaafkannya, buatkan aku segayung permen Rusia. Jangan protes"
" Yah...oke!"
Yuii menutup panggilannya dan membenarkan rambutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Levi menghampiri Erwin yang berdiri di depan kastil mafia. Pemuda berperawakan dewasa itu mengawasi para bawahan Levi yang sedang bekerja dan menjaga kastil itu. Dia tidak mempermasalahkan Military Police karena polis-polisi itu bahkan sudah berbalik ketakutan melihat penjagaan ketat di depan hutan.
Perlu keajaiban untuk menerobos penjagaan mereka dan masuk ke dalam hidup-hidup. Itupun saat di dalam kau sudah langsung berhadapan dengan Levi yang akan membuatmu menjerit ngeri dan menyesalkan hidup atau Erwin yang melobangi kepalamu dalam jarak 5 inchi kurang.
" Erwin" Panggil Levi singkat.
Erwin berbalik dan sedikit menggeser badanya agar Levi dapat melihat dengan jelas pekerjaan para mafia itu. Mata tajam Levi menatap semuanya dengan pandangan datar dan serius.
" Ada kabar tentang Eren?"
Erwin tersenyum lembut. " Para bawahanku dan Nanaba menggeledah Maria Highschool kemarin tapi tidak mendapat kabar dari Eren, tapi..."
Levi mendelik tajam dari ujung matanya. " Apa?"
Erwin berdehem dan sama-sama menatap para bawahannya bekerja. " Kim Hyun Jae... salah satu anggota eksekutif Mafia itu sama-sama menghilang di hari yang sama dengan Eren"
" Yuii" Levi menggeram. " Bocah tengik itu..."
" Kenapa Levi?" Tanya Erwin. " Kenapa dengan anak itu?"
Levi mengambil kalung Eren yang baru saja dikembalikan Hanji pagi tadi. Gadis ilmuwan itu meminjamnnya sebentar dan berkata akan mengembalikannya secepatnya karena kalung perak bertuliskan nama Eren itu merupakan suatu barang bukti yang benar-benar akurat.
Levi menyentuh kalung itu dan mengelusnya perlahan. Tersenyum miring di saat yang bersamaan. Bocah itu istimewa. Belum pernah seumur hidupnya Levi merasa segelisah ini sebelumnya.
Terutama gelisah karena hilangnya seorang bocah yang bahkan selalu menggertaknya.
Saat salah satu anggota SurveyCorps Highschool hilang dulu, dia hanya akan menyuruh bawahannya dan mengabaikannya. Tapi Eren berlainan.
" Eren Jaeger..." Erwin tersenyum dan menatap Levi. " Sejak dia datang, kau pasti sudah merasakan banyak perubahan iya kan, Rivaille?"
Levi menatap datar. " Dia memang sudah aneh dari awal"
" Aneh..." Kekeh Erwin. " Aneh mungkin terlalu berlebihan, Rivaille...Eren lebih cocok untuk dideskripsikan sebagai−"
"−unik" Sambung Levi.
Erwin spontan menatap temannya itu dan tersenyum lembut.
Levi sendiri masih bisa membayangkan senyum bahagia Eren dan teriakan tidak sukanya. Cacian, kutukan, makian,hinaan...memang itu semua awalnya membuat Levi benar-benar jengkel setengah mati dan menginginkan Eren untuk segera mati.
Tapi akhirnya...dia merindukan itu semua.
Harinya seolah hampa tanpa ada kata-kata itu semua.
Dia merindukan segalanya. Dia merindukan segalanya dalam diri Eren. Membuatnya jadir benar-benar merasa kehilangan. Hati dinginnya hampa saat mengetahui bahwa Eren tidak berada di dekatnya.
Hati yang sudah kosong itu menjadi semakin kosong mengetahui fakta bahwa Eren jauh dari dirinya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ia menggangap Eren menjadi seseorang yang spesial di hatinya.
Levi bahkan tersenyum miring menemukan bahwa dirinya dengan bodohnya mencintai seorang bocah ingusan yang bahkan tidak berani memegang pisau dan masih menyebut dirinya laki-laki.
Tapi disitulah letak keistimewaannya.
Eren tidak mudah menyerah. Di balik sifat ketus dan benci itu, Eren menyayangi siapapun yang baik padanya. Entah orang itu jahat atau tidak. Entah dia pernah menyakiti Eren atau tidak...pemuda itu akan luluh hatinya saat mereka mau berteman dengannya.
Levi menyibak jas panjang hingga ke lutunya dan berbalik masuk ke dalam kastil.
" Rivaille?" Tanya Erwin. " Kau mau kemana?"
Levi mengangkat tangannya sambil berjalan. " Sediakan ferarri hitam dan motorku. Aku sendiri yang akan mencari Eren..."
.
.
.
.
Yuii membuka laptopnya dan menatap barisan tulisan dan denah di layar laptopnya dengan mata menggelap.
.
.
.
.
Levi mengerutkan dahinya dan matanya memandang tajam ke arah barisan kelompoknya yang bersiap dengan senjata mereka. Pemuda bermata tajam itu menatap semuanya dengan pandangan datar dan raut serius.
" Kau akan tahu siapa diriku Eren..."
.
.
.
.
" Karena Eren milikku/Karena eomma milikku...
.
.
.
.
T
B
C
XD
(a/n)
Halo semua ! ^w^
Tumben ya saya pendek ceritanya... O_O
Dan chap ini spesial buat kalian semua! Chap ini saya buat dalam rangka ul-tah saya yang ke...14! Tanggal 27 Januari saya ul-tah!
HOREEE! ^^
Jadi...silakan nikmati chap tambahan ini...^^
.
.
.
.
.
Live Streaming Start
Halo? Ehem ehem...
Oh Hei...kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa aku menyapa kalian semua? Ahh...anggap saja ini hadiah kecil-kecilan dari si produser gila itu. Membuat punggungnku ingin patah dan otakku berbusa menghafal naskah nista miliknya.
Hahaha...
Aku senang bisa menyapa kalian dalam siaran langsung singkat ini! Aku...yahh..aku baru bangun tidur tadi padahal sudah siang. Biasa...syuting dan dikerjai Levi semalaman itu sangat melelahkan.
Mampus si produser tukang paksa itu mendapat Try Out bulan ini. Aku sangat bersyukur dia tidak bisa memimpin syuting dan mengetik naskah...oh ralat. Naskah sudah selesai tapi aku malas dan 1000% malas sekali menghafalnya.
Belum lagi nafsu Levi yang sebesar monster. Aku benar-benar akan mengutuk si cebol itu jika lubangku sampai lecet dan aku hamil. Grrrr...Levi itu menjengkelkan bukan?
Hahahahaha...
Aku baru membuka app-ku sekarang secara Live...
Woaaahhh...kalian benar-benar mengagumkan... kalian benar-benar membuatku ingin menangis karena sudah mau menonton film-ku yang satu ini!
Hahahahahaha! Tanpa kalian...aku jadi apa?
Dan oh! Bagi yang baru tahu aku...Namaku Eren Jaeger dan aku berdarah Jerman. Umurku sekitar...ya bisa kalian asumsikan kelas akhir SMA. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku bisa syuting dan tidak sekolah bukan?
Hufffft...Levi lah penyebabnya! Aku hanya ingin mencari pekerjaan sampingan waktu musim panas sebagai pengisi liburanku waktu awal masuk sekolah! Armin bilang aku punya akting yang bagus makanya aku diantar ke agensi dan entertaintment untuk casting atau setidaknya jadi staff. Tapi ternyata si cebol itu memilihku jadi asisten artis dan membuatku terkurung selama 1 bulan penuh dengannya!
WAAA! Aku hampir gila waktu itu kalian tahu!?
( Panggilan dari dapur) Oi bocah! Jika kau tidak bangun dalam 5 menit...aku akan memperkosamu hingga 10 ronde. Tidak ada protesan Jaeger
Grrrr...YAH SEBENTAR DASAR KAU KONTET KURANG KERJAAN! PUNGGUNGKU KESEMUTAN DAN AKU MASIH TIDAK BISA BANGUN!
Huffttt...dia memang seperti itu. Aku...aku sudahi dulu acara Live-nya ya...si produser mesum itu menelponku ditambah Levi yang mulai tidak sabaran disana. Dasar manusia bersumbu pendek!
Jadi..dah! Aku sayang kalian semua!
Muaccccchhh!
EHH... EEEEEEHHHH LEVI! N-NANTI DULU...AKU BELUM M-MEMATIKAN L-LIVENYA...
NYAAAAAAAHHHH!
Dasar bocah. Nah fans...segera matikan livenya karena ada yang kuurus dengan bocah menjengkelkan ini.
UMMMHH...A-ANGHH..N-NYAH...M-MATIKANH...I-ITUUHH...AHH...AKU M-MALUU!
Bye fans.
B-BYE S-SEMUANYAAAHHH...AHHH LEVI! JANGAN C-CELANAKUUUHHH
Live Streaming End
Mind to Rnr? ^^
