Chapter 19
.
.
.
.
An Attack on Titan Fanfiction
.
.
.
Cast :
All Snk Characters and My Oc
.
.
.
Pairings :
Riren ( Main)
Erumin
Jean x Armin
and another pairing ( soon)
.
.
.
WARNING!
This is positive YAOI!
Rated M ( Adult and Mature)
BL ( Boys Love)
Mature and adult contents
Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath
Smut and kinda hard sex
.
.
.
Genre:
Crime
Romance
Adventure
Hurt Comfort
.
.
.
Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai
saya hanya meminjam ^w^
.
.
.
Hope you enjoy it ^^
.
.
.
.
.
.
.
" Nah Armin... kau terlihat pucat sekali"
Siapa sangka Jean Kirschtein, salah satu anggota Survey Corps High School tersadis dan merupakan bawahan utama Levi, bisa jadi sepucat mayat keriputan kurang krim kecantikan saat melihat seorang anak baru yang tergolong SANGAT DAN TERAMAT JEAN BENCI pucat!?
Ahh...Otak Jean pasti baru saja saja ditendang kuda.
Tapi sumpah! Jean sampai berulang kali menyapu keringat dingin milik Armin yang sedari tadi menangis sesenggukan seperti anak ayam yang kehilangan ibunya. Jean mendengus jengkel saat hampir satu kotak tissue yang ia beli sendiri dengan uangnya ( itu sangat terpaksa sekali) habis.
Salahkan Armin yang sangat paranoid akan penculikan. Ditambah wajah Levi cebol dan kontet dengan hawa mari mencincang orang-orang itu membuat Armin makin mengap-mengap ketakutan tidak karuan hingga rasanya ia ingin mati saja.
Dan tentu saja−tidak perlu ditebak lagi, Jean yang kena batunya.
Demi Tuhan yang Agung...kenapa harus dirinya yang selalu kena getah dan batunya?
Jean tahu dia nakal sekali sejak kecil termasuk menyembunyikan celana dalam ayahnya ke bawah kolong lemari sampai sekarang dan memecahkan guci Cina milik neneknya tapi dia menuduh kucing tetangganya yang tidak bersalah melakukannya.
Tapi sekali saja...Rasanya Jean yang ingin menangis di sini. Bukan Armin.
Armin menoleh ke arah Jean yang sama pucat pasinya dengan dirinya tapi pemuda itu berusaha terlihat gagah dan tegar. Dengan cara mengeraskan rahangnya dan terus menasehati Armin supaya tenang padahal rautnya sendiri 1000 kali lebih buruk dari Armin.
Pemuda pirang itu tersenyum kecil dan tertawa.
Jean mengerutkan keningnya kasar. " Apa yang kau tertawakan hah pirang!?"
" Ahahaha..." Armin menyapu air mata di ujung matanya. " Kau lucu sekali! Jujurlah Jean...pantas saja Eren sangat ingin menendangmu ke ujung bumi. Kalian berdua sama-sama kepala batu!"
Jean seketika menghentikkan acara lap mengelap keringat dingin milik si pemuda menyebalkan tapi sialnya manis ini dan gantinya, Jean mengerutkan dahi dengan sedalam-dalamnya.
Menatap tajam sekaligus bingung Armin yang sedang menyembunyikan kepalanya setelah puas menertawakan Jean ke dalam selimut biru yang dititipkan Nanaba kepadanya. Pemuda manis itu terkikik di antara wajah pucatnya.
" Hei pirang!" Seru Jean tidak terima. " Setidaknya aku tidak sekeras kepala si menyebalkan itu!"
Armin masih menyembunyikan kepalanya ke dalam selimut dan makin tertawa. Jean yang tidak terima dia dikatai keras kepala apalagi sampai disamakan dengan bocah ingusan yang dicubit saja bisa pingsan itu, mencengkram ujung selimut biru berbulu itu kuat.
Tidak menarik tapi mencengkeram dengan teramat kuat hingga Armin hampir terseret menimpa lutut jenjang Jean.
Armin tersentak dan spontan menjerit kaget. " Ahhhh!"
" Dengarkan aku dasar pirang sialan!" Jean makin mencengkram selimut itu dengan sebelah tangannya. Tapi Jean terkejut saat Armin menatapnya tidak suka sambil menarik selimut biru itu dari arah lainnya dengan sama-sama kuat.
Mata biru langit milik Armin berkilat. Pemuda manis itu mengerutkan bibir pucatnya ke bawah dan menarik selimut biru itu hingga terkencang. Jean sendiri sampai mengangakan mulutnya karena Sumpah...apakah ini Armin si pangeran manis dari London? Apakah Armin baru saja PMS?
" Jangan ambil selimutku" Ancam Armin dengan nada yang dibuat tegas tapi malah terdengar seperti anak anjing yang belajar menyalak pada serigala.
Jean tersentak dan tersenyum meremehkan khasnya. " Hah? Memangnya kau kuat pirang? Ku cengkram selimutmu saja kau sudah terseret! Mau menarik balik? Jangan harap kau tidak akan tertarik ke dadaku atau mencium bajuku"
BLUSSSHHH
' Eh!' Gumam Armin panik. ' K-kenapa dengan pipiku! Ahh! Kenapa pipiku memerah!? Ahhh! Dasar pipi tidak tahu situasi!'
Jean menaikkan alisnya bingung melihat Armin yang seperti habis digigit nyamuk seluruh badannya. Menggelengkan kepalanya kuat dan bertingkah aneh sendiri di bangkunya sambil terus mencengkram selimut biru berbulunya. Armin yang biasanya diam mingkem dengan manis seperti putra mahkota kerajaan, menghentak hentakkan kakinya panik dan gelisah sendiri.
Armin yang masih bingung kenapa pipinya bisa merona semudah itu karena pemuda kurang ajar di depannya. Yang tadi hampir saja ingin membuangnya keluar jendela sekolah dari lantai 2 gila-gilaan karena Jean sendiri hampir gila mengatasi berbagai macam masalah yang tidak sesuai dengan bidangnya.
Sejak kapan menenangkan bocah ingusan yang menangis karena penculikan kecil saja jadi tugasnya!?
Jean benar-benar jadi ingin menangis menggantikan Armin.
SREEEETTT
" Kenapa denganmu hah bocah pirang?" Tanya Jean dengan wajah datar yang sudah terlihat muak.
Armin berhenti salah tingkah dan balas menatap wajah Jean yang entah kenapa seperti terlihat pasrah kepada Tuhan. Pemuda berambut pirang itu berdehem dan kembali menarik selimut birunya dengan sengit. Tidak...tidak ada yang boleh mencuri selimut birunya dari dirinya. Termasuk Jean sekalipun.
Tapi Jean balas mendesah pasrah dan menarik selimut itu seadanya.
" Sudahlah bocah pirang..." Jean melonggarkan cengkramannya. " Aku sudah terlalu lelah mengurusi masalah sialan ini seharian. Ditambah mengawasi bocah ingusan sepertimu membuat kepalaku makin pusing"
Armin terdiam dan menggigit bibir bawahnya merasa bersalah. Pemuda manis itu juga sama-sama melonggarkan tarikannya saat melihat Jean melemaskan punggungnya dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
Pantas saja Armin tidak suka berkelahi...bahkan Eren hampir mengamuk dan berteriak karena Armin membiarkan dirinya dipukuli para pem-bullynya dulu di sekolah lamanya di Manchester.
Jean melepaskan selimut itu seluruhnya dan melemparkannya dengan seenak jidatnya hingga menimpa kepala Armin. Lagipula Armin sudah berhenti menangis sesenggukan dan terus menerus seperti ingin melahirkan, jadi tuga Jean untuk meredakan tangis bocah ingusan ini telah selesai.
Sedangkan Armin sendiri, Armin mengintip dari selimut birunya.
Jadi begini rasanya Eren terkurung bersama orang yang kurang ajar tapi entah kenapa, Eren selalu terlihat ingin menangis dan bersalah setiap kali menyakiti hati Levi.
Dan sialnya...demi perut kotak-kotak seperti roti sobek milik Mikasa, Armin jadi merasa bersalah sekali dengan Jean.
Pemuda pirang itu menatap jendela sekolah dan menandakan bahwa sebentar lagi siang tapi tidak ada tanda-tanda dari Armin sendiri untuk segera minggat dan kabur dari sekolah ini. Padahal awalnya dia ingin sekali kabur karena melihat suasana siap perang di luar sekolah.
Bahkan Nanaba sekalipun sudah membentuk barisan dan melatih para siswa dengan pedangnya. Hanji dan Farlan seperti pembunuh mata-mata bayaran dengan pistol dan racun canggih itu. Ditambah Levi−si cebol penguasa sekolah itu singgah sebentar dengan gaya ingin membunuh orang.
Dan dengan seenak kaki kurcacinya mengatakan bahwa tidak ada yang boleh mencari Eren selain dirinya.
BUUM!
Berakhirlah Armin dengan menangis tersedu-sedu dan berlindung ketakutan dibalik selimut berbulu berwarna biru yang besar bersama Jean. Yang hampir menggoroknya karena sudah dari berjam-jam yang lalu meredakan tangisan anak kecil Armin.
Armin melepas selimut itu dan menggeser pantatnya sedikit demi sedikit mendekati Jean yang hampir tertidur tenang itu. Pemuda berambut pirang itu mengangkat tangannya gugup. Bingung dan gugup apakah ia harus meminta maaf pada pemuda yang ia tahu akan mencekiknya jika Armin sampai membangunkannya.
Tapi persetan dengan takut dicekik, Armin tidak ingin ada kesalahfahaman lagi.
" Jean..." Armin menarik ujung kemeja Jean.
Tetap tidak ada sahutan, Armin menarik kemeja Jean lebih kuat. Jean menggeram dalam tidurnya dan hampir saja membuat Armin terlonjak kaget. Tapi Armin tetap bersikeras membuat Jean bangun dan kali ini Armin menarik hampir setengah dari kemeja Jean.
Jean seketika terbangun dan menggeram mengerikan ke arah Armin yang cepat-cepat melepaskan kemejanya dengan mata biru yang terlihat takut.
" APA YANG KAU LAKUKAN HAH KEPARAT!?" Raung Jean marah. " Apakah kau tidak tahu bahwa aku berusaha tidur diantara neraka masalah ini hah dasar bocah sialan!?"
Jean menahan tangan Armin dengan raut kesal. Membuat yang ditahan jadi ciut seketika.
Jean mecengkram pergelangan tangan Armin dan membuat Armin hampir memekik kesakitan. " Apa maumu!?"
Armin memang tidak suka melawan bila dilawan, tapi Armin tidak suka saat ia ingin minta maaf tapi orang satunya malah marah kepadanya. Padahal Armin kan ingin meminta maaf dengan baik-baik tapi yang satunya malah meraung-raung tidak jelas seperti orang gila.
" D-de..." Armin menundukkan wajahnya dan menggertakkan gigi.
" D-DENGARKAN AKU DULU!" Armin balas berteriak di hadapan Jean. Mata biru milik Armin berkilat dan dahi milik pemuda manis itu mengerut dalam tanda ia tidak suka.
Jean sendiri hampir saja melepaskan cengkramannya karena terkejut dengan teriakan Armin. Seolah-olah pemuda pirang itu benar-benar sangat marah hingga seluruh kemanisan yang memikat itu menguap jadi sebuah keganasan yang yah...menyeramkan.
Armin menampik tangan Jean dari pergelangan tangannya hingga terlepas. Tapi Jean masih dengan wajah Apa-yang-baru-saja-ku-lihat-ini? hanya bisa terdiam melihat Armin menggerutu kesal.
" D-dengarkan aku dulu!" Sahut Armin kesal. " Jean...dengarkan aku!"
Armin menggoyang-goyang tangan Jean kesal karena pemuda jangkung itu terus saja syok dan menganga melihat perubahan Armin yang benar-benar di luar akal sehatnya. Dan jelas saja hal itu membuat Armin kesal setengah mati.
" Jean!"
Jean tersentak kaget dan menatap Armin. " A-apa? Aku mendengarkanmu pirang"
Armin mengerutkan bibirnya makin ke bawah dan menarik kemeja Jean. Pemuda manis itu menghela nafas panjang. Meredakan amarahnya dan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat tidak karuan saat Jean menatapnya terlalu intens.
" A-aku..." Armin melirik Jean dari ujung matanya dengan takut. " Aku m-minta maaf..."
Jean seketika mengerutkan dahinya makin dalam dan memasang wajah ngeh. Jadi dengan kata lain, teriakan melengking yang hampir membuat Jean jantungan itu dan wajah merengut seperti anak kecil yang diambil permennya itu hanya untuk meminta maaf.
" K-kau..." Jean meletakkan telapak tangannya di dahi Armin. " K-kau tidak diracuni senior Hanji dengan obat-obatan terlarang kan?"
Armin menjauhkan tangan Jean tidak suka. " Tidak! A-aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu repot! Aku tahu kau lelah dan ngantuk seharian ini karena aku! Aku merasa bersalah dan setidaknya aku ingin minta maaf karena..."
Armin menggigit bibirnya. "−aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu kalian."
Jean seketika terdiam saat melihat pemuda manis itu menundukkan wajahnya dan menarik selimut biru itu. Jean bisa membaca gurat sedih di wajah Armin dan hal itu seketika membuatnya merasa aneh.
Sejak dulu, Jean lah yang selalu meminta maaf. Hingga sekarang dia menjadi nakal dan muak. Itu karena dialah yang selalu dipaksa meminta maaf pada orang tuanya karena nilainya rendah atau serentetan hal lainnya yang memang dia tidak salah.
Tidak penah ia temui orang yang meminta maaf kepadanya. Padahal jelas-jelas ia yang salah.
" Oi pirang.." Panggil Jean.
Armin meliriknya sebentar. " Y-ya? A-ada apa?"
Tidak Armin sangka, Jean malah menarik selimut itu dari tangannya dengan cepat dan menyelimutkannya ke seluruh badannya yang tergolong mungil untuk orang seusianya. Mata Armin membulat dan pemuda itu hanya bisa melongo saat melihat Jean berusaha merapikan selimut itu agar dapat menutupi tubuh mungilnya secara keseluruhan.
" Kau masih trauma.." Suara Jean memecah keheningan di antara mereka. " Lindungi dirimu di balik selimut itu. Aku akan berjaga di sekitar ruangan dan berisitirahatlah"
Armin menarik jari telunjuk Jean saat pemuda jangkung itu mulai berdiri. Hal itu membuat Jean melemparkan pandangan penuh tanda tanya pada Armin yang kelihatan masih tidak ingin Jean untuk minggat begitu saja.
" A-aku tidak apa-apa..." Armin berusaha tersenyum padahal bibirnya pucat. " K-kau yang seharusnya beristirahat... dan oh ya... terima kasih"
Jean tersenyum miring. " Kau sakit karena memikirkan bocah ingusan itu. Setidaknya kau akan terus sakit sampai Jaeger itu ketemu. Trauma selalu bekerja seperti itu pirang...aku sudah berpengalaman dengan hal itu"
Kali ini giliran Armin yang mengernyitkan dahinya kuat. " Berpengelaman?"
" Lupakan"
Jean duduk kembali di samping Armin dan menarik kepala Armin cepat. Memancing jeritan kaget dan melengking kembali keluar dari pemuda berdarah Inggris itu.
Armin ingin sekali membalas Jean tapi pemuda berambut pirang itu hanya kembali terdiam dan pipinya jadi semerah tomat matang lagi. Salahkan dimana kepalanya ditarik Jean. Jean menghembuskan nafas pasrah saat Armin terlihat tidak percaya bahwa kepalanya beristirahat di pundak lebar milik pemuda itu.
" Jika kau masih khawatir akan bocah ingusan itu..." Ucap Jean. " Percayalah, Levi akan menemukannya bagaimanapun caranya"
Jean menghela nafas dan melirik Armin yang terlihat menutup matanya dan bibir pucatnya mengucapkan sesuatu. Sebuah lantunan lagu seperti mantra. Ahh bukan...doa. lagu yang berisi harapan yang membuat hati Jean seperti diremas-remas.
" Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi..."
" Apakah ini hukuman untukku?"
" Apakah ini sebuah hukuman untuk orang yang berdosa sepertiku?"
" Setidaknya... buatlah aku melihat apa yang harus kulihat untuk terakhir kalinya"
Jean tersenyum miring melihat Armin meremat selimut birunya makin kuat dan menyembunyikan wajah manisnya di balik selimut itu. Armin bernafas tenang seperti ingin tidur. Menggunakan bahu Jean sebagai bantalnya.
" Kau tidak pantas dihukum pirang" Jean mengelus surai pirang Armin teramat lembut dengan tangan kasarnya agar Armin tidak terbangun dua kali dan membuat tugasnya makin berat dan rasanya ia ingin meminum seember pil sakit kepala sebelah.
Jean menatap pantulan dirinya dari kaca jendela sekolah. Pemuda itu hanya bisa melihat sebuah tubuh yang sangat kotor penuh dosa dan kenakalan dengan tubuh sebersih malaikat di pundaknya.
" Lagu itu seharusnya untuk orang sepertiku" Jean tersenyum miring. " Hukuman seharusnya diberikan untuk kami semua di sekolah neraka ini. Tapi−"
Jean menatap keluar jendela dan dapat melihat cahaya matahari dan langit cerah kota Tokyo. Cahaya itu membias dan menerangi tubuh mereka berdua. Jean menundukkan wajahnya dan mengingat apa saja yang terjadi di sekolah ini setelah sekian lama.
" Kenapa..." Jean mengeraskan rahangnya. " Kenapa Tuhan malah memberi kami hadiah seperti kau dan Eren?"
.
.
.
.
.
.
Levi tidak menghiraukan teriakan melengking atau sumpah serapahan atau makian orang-orang di jalanan kepadanya. Telinganya sudah kebal dengan semua hinaan dan cercaan. Seolah-olah telinganya memang dibuat untuk mendengar hinaan dan cercaan peda orang-orang di luar sana.
Pemuda bermata tajam itu terus melajukan motornya di jalanan tanpa tahu aturan. Bahkan kecepatannya melebihi batas wajar tapi Levi masa bodoh dengan itu semua.
Dia bukan melaju untuk orang-orang sialan itu. Orang-orang yang akan menilai dirinya dari sampul belaka dan menganggap bahwa dirinya sebuah dosa yang tidak akan pernah bisa disucikan.
" Cih" Decih Levi. " Dimana bocah keparat itu?"
Levi membelok tajam di jalanan tol besar penghubung Tokyo dengan kota-kota lain dan makin menambah kecepatannya hingga jas hitam Levi seperti ingin terbang dibawa angin karena saking cepatnya.
Bahkan pemuda itu hampir saja membuat tabrakan beruntun karena menyelip dengan sangat gesit di antara celah-celah truk kontainer yang teramat besar dengan mudahnya. Menghindari mobil polisi dan terjadi kejar-kejaran di jalanan tapi tentu saja−Levi selalu berhasil kabur.
Pemuda bermata tajam itu berhenti di pinggir jalan Tokyo dengan seenaknya hingga membuat dia kembali disumpahi oleh pengguna jalan yang lain karena membuat mereka mengerem mendadak semua.
" HEI KAU! JALANAN INI BUKAN PUNYAMU!"
" MENJAUH SAJA KAU BAJINGAN!"
" DASAR ORANG TIDAK PUNYA OTAK! KAU KIRA KAU YANG PUNYA JALANAN!?"
" PERGI SANA!"
Levi turun dari kendaraannya dan berdiri di sampingnya. Pemuda itu melepaskan helm hitamnya dan seketika berbalik menatap mobil-mobil mewah itu. Menunjukkan wajah datar dan dingin miliknya yang begitu terkenal.
" Hah?"
Seluruh pengguna jalan itu tiba-tiba terdiam. Kebanyakan dari mereka seketika menaikkan kaca mobil dan memilih rute lain saat Levi mulai berjalan maju sekitar 5 langkah. Menantang pengguna-pengguna keparat yang baru saja meneriakinya itu.
" Apa ada masalah?"
Para keluarga yang membawa anak dan beberapa orang yang cukup pintar segera menjauh cepat tanpa berbalik lagi. Levi sudah terlalu terkenal sebagai ketua geng paling ditakuti di seluruh Tokyo. Ditambah mafia-nya yang menguasai hampir separuh Jepang itu telah membuat mereka paranoid berlebihan.
Levi hanya bisa mendesis jijik saat satu per satu orang-orang yang memakinya menjauh begitu saja. Antara terlalu takut atau terlalu segan. Tidak ada yang tahu isi hati orang-orang busuk itu.
Levi kembali menuju kendaraannya dan mengecek isi e-mail yang dikirimkan Nanaba kepadanya. Pemuda itu meraih iphonenya yang satunya karena dia tahu dia meninggalkan Iphone satunya bersama Eren.
Dari : Nanaba
Sepupu, Kota Kyoto ditutup aksesnya oleh sebuah kelompok setempat. Anggota kita tidak bisa mengakses beberapa tempat vital di Kyoto dan hanya bisa memasuki beberapa tempat terkenal tanpa bisa masuk ke tempat lain. Hanya itu yang bisa kusampaikan.
Temukan Eren
Levi mengernyitkan dahi. Kyoto adalah kota kedua yang vital bagi grup mafianya. Hampir tidak ada yang tidak bisa tidak ia kerjakan di Kyoto. Semua aktivitas mafia terpusat di Tokyo dan Kyoto.
Jadi pemblokiran beberapa tempat terntentu di Kyoto sudah lebih dari cukup membuat Levi curiga.
" Kau tidak perlu menyembunyikan lebih banyak kebohongan Yuii" Levi menggeram mengerikan dengan nada bass yang berat. Menandakan bahwa ia benar-benar akan membalaskan dendamnya dengan sangat teramat manis.
Pemuda berperawakan dingin itu kembali melajukan motornya gila-gilaan di jalanan. Tapi kali ini tanpa diselingi makian oleh orang-orang sekitarnya. Malah kebanyakan dari mereka malah menghindar saat Levi ingin menyelip dan melaju.
Trik tanpa helm-nya berjalan mulus. Membuat semua orang hampir di setiap barisan jalanan dapat melihat pahatan wajah paling sempurna itu. Campuran ras eropa dan asia menyatu dalam darah Levi membuat wajah sadis itu bisa memikat hati siapapun.
Tapi sekaligus menakutkan dan membuatnya terlihat seperti iblis yang berjalan terang-terangan bagi orang yang pernah merasakan kengerian dan sisi psikopat seorang Levi. Dan hampir semua orang tahu hal itu.
Levi menggenggam sebuah buku yang ditali dengan tali kain. Didalamnya berisi surat dan foto-foto lama yang bertumpuk hingga buku itu terlihat menggembung.
" Kusadarkan kau akan sesuatu bocah tengik"
Levi tersenyum meremehkan. " Kusadarkan bahwa mencuri eomma seseorang adalah hal yang paling kau benci"
.
.
.
.
.
.
Yuii mengelus rambut Eren yang terlelap di kasurnya. Gadis blasteran korea itu tersenyum lembut melihat Eren yang makin terlihat manis dengan bibir dicebikkan ke depan dan pipi gembul itu saat tidur.
Ditambah hanbok itu terlihat benar-benar membuat Eren tenggelam dalam bajunya sendiri seperti anak kecil yang dipaksa memakai jaket orang dewasa.
" Kkkkk..." Yuii memeluk Eren dari belakang dan terkikik. " Yuii benar-benar sayang eomma! Saranghae eomma!"
Eren tidak sadar karena ia tertiduru pulas setelah menangis sesenggukkan. Melihat foto Levi yang satu itu entah kenapa membuat hati Eren jadi seperti ditususk habis-habisan. Membuat Eren jadi susah bernafas dan emosi sendiri.
Padahal dia yakin dia membenci Levi sejak pertama kali bertemu pemuda cebol pemarah itu.
Tapi yang jelas...siapa yang bisa menyalahkan cinta? Benci dan cinta itu terkadang sangat beda tipis hingga jika kau salah senggol sedikit saja, kau bisa langsung berubah benci atau cinta kepada orang tersebut.
Dan dalam kasus ini...
Kenapa dia harus jatuh cinta dengan pemuda kurang ajar si egois posessif ini!? Tapi sialnya... wajah tampan dan tegas luar biasa itu mengalihkan dunia Eren ( Kuyakin semua orang juga teralihkan dengan wajah Levi).
Yuii turun dari ranjang Eren dan berjalan riang ke arah telepon rumah di salah satu rak sambil bernyanyi khas anak kecil. Sesekali gadis itu tertawa manis dan berputar-putar lucu.
" Hey mama!"
" Ijen adeulnaemi mideumyeon dwea usemuyeo dwae"
" Hey mama!"
" Hey mama!"*
Yuii meraih telepon itu dan menekan beberapa angka. Mendekatkan telepon ke telinganya dan terkikik lucu mendengar suara husky seorang laki-laki di ujung sana menyahut panggilannya.
" Appa! Yuii kangen appa!"
" Bogosipda appa!"*
Laki-laki itu tertawa kecil. " ahh.. Hyun Jae jadi anak baik kan di Jepang?"
Gadis kecil itu duduk di lantai dan menggigit bibir bawahnya lucu sambil sesekali terkikik melihat Eren yang tertidur pulas dan mengigau sebagai kebiasaan Eren yang tidak bisa hilang sedikit saja.
Yuii mengangguk. " Kkkk...iya appa! Hyunnie jadi anak baik kok! Kan Hyunnie anak kesayangan appa!"
" Hahahaha baguslah..." Laki-laki di sebelah juga ikut tertawa mendengar tawa riang anaknya. " Ingat, jangan macam-macam. Dan juga jangan terlalu banyak makan permen. Nanti gigi cantik Hyun Jae jadi rusak..."
Yuii pura-pura merengut tidak suka dan merengek dengan nada manja. " Aisssh...Hyunnie kan suka permen! Appa kenapa jadi seperti itu~ Aisssshh~"
" Lagipula..." Yuii melirik Eren. " Yuii sudah menemukan eomma baru!"
DEEEG
Suara appa Yuii jadi terasa bergetar dari ujung telepon. " H-hyun Jae sudah ketemu eomma b-baru?"
Yuii mengangguk. " Sudah! Eommanya maaaanis sekali! Hyunnie suka eomma baru yang ini!"
Appa Yuii terlihat menghela nafas pasrah dan lelah dari ujung telepon. " Hyun Jae sayang. Sudah berapa kali appa bilang untuk tidak mencari eomma baru lagi? Hyun Jae harus fokus sekolah disana agar bisa pulang lagi ke Daegu bersama appa dan kita cari eomma baru bersama-sama disini"
Yuii terlihat tersentak mendengar appanya dan nada Yuii bergetar ingin menangis. "T-tapi H-hyunnie..hikks...m-misalnya Hyunnie tidak punya eomma...H-hyunnie harus sayang pada siapa lagi d-disini, appa?"
" H-hyunnie kesepian di Jepang..." Yuii menggosok matanya yang berair.
Appa Yuii terlihat berusaha bersabar dengan sifat tidak suka sendirian milik Yuii. "Hyun Jae manis... ada appa yang selalu sayang dengan Hyun Jae. Ada Tae oppa yang juga sayang Hyun Jae...jadi Hyun Jae jangan takut sendirian lagi. Eomma disana juga selalu sayang Hyun Jae"
Yuii terisak dan meremat roknya kuat. " Tapi misalkan eomma sayang Hyunnie, kenapa eomma tidak mau pulang!? Kenapa Tuhan tidak memperbolehkan eomma turun dari surga sekali saja untuk memeluk Hyunnie! W-Waeyo appa!? WAEYO!?"
" Hyun Jae..." Appanya mendesah lelah. " Eomma disana tidak bisa seperti itu...eomma disana sudah menetap dan tidak akan bisa pulang lagi. Tapi eomma disana selalu mengawasi Hyun Jae apapun yang terjadi"
Yuii menggeleng keras dan menangis deras sambil menahan isakan. Air mata Yuii terus mengalir turun hingga membasahi baju dan rok milik gadis kecil itu. Yuii berdiri dan mengambil sebuah pisau yang selalu dibawanya kemana-mana dari balik rak buku.
" H-hikss...eomma tidak bisa seperti itu" Yuii terisak. " Eomma selalu bilang kalau e-eomma sayang Hyunnie..e-eomma tidak akan pernah m-meninggalkan Hyunnie..tapi kenapa sekarang appa? E-eomma t-tidak bisa turun untuk sekedar m-memeluk Yuii?"
Yuii mematikan panggilannya bahkan sebelum appanya mencoba menjelaskan lebih lanjut kepada Yuii apa yang terjadi. Sedangkan pemuda di seberang hanya bisa memijit keningnya pasrah melihat kelakuan putri kesayangannya.
Yuii masih saja belum sadar apa yang terjadi biarpun ia sudah disekolahkan di sekolah "khusus" di Jepang. Setidaknya agar Yuii bisa mudah menerima kenyataan tentang masa lalunya.
Tapi sepertinya, kesedihan mendalam sudah mengisi hati Yuii.
Membuat gadis itu bersikeras menyimpan Eren. Yuii mengambil handphone yang biasa ia gunakan untuk menghubungi anggota Maria Highschool yang lain. Yuii merengut sambil terus menelpon.
" Ya halo?"
" Halo Ahjussi! Kau sudah selesai menjaga Kyoto!?"
" Iya iya dasar bocah kecil!"
Yuii mengerutkan bibirnya. " Jangan sampai Levi masuk Kyoto"
" Iya iya!"
" Baguslah! Karena Yuii tidak ingin eomma Yuii di ambil lagi"
.
.
.
.
.
.
Hah...biarpun Yuii sudah memblokir setiap jalan masuk yang potensial ke Kyoto bagi Levi atau komplotannya−Levi sudah mengenal seluk beluk kota Kyoto dari ia kecil sampai sekarang. Dan ia hafal bagian mana saja dari kota yang diblokir dan mana yang tidak.
Levi memasang wajah datar dan membunuhnya saat berhenti setidaknya 500 m sebelum bertemu dengan beberapa murid pembunuh andalan Maria Highschool. Di depannya berkumpul para murid murid itu.
Seluruhnya menyamar. Membuat orang-orang tidak sadar bahwa di sekitar mereka terdapat pembunuh. Dan Levi hanya bisa menghina kebodohan mereka soal itu. Para anak-anak Maria Highdchool tidak tahu bahwa Levi mengenal seluk beluk Jepang.
Mereka hanya tahu bahwa dia sering membunuh orang-orang, mengembus kesana kemari, menghancurkan ini itu tanpa alasan. Tapi tidak tahu bahwa Levi juga merupakan mata-mata mafia jika dia sedang ingin.
Dan keluar masuk dengan mulus seperti ini sudah merupakan hal biasa bagi Levi.
Levi mendecih dan memutar balik motornya dari tempat itu.
Ternyata benar yang dikatakan Nanaba. Si gadis psikopat itu punya sesuatu yang tidak Levi sadari. Ternyata gadis itu yang dicari oleh Levi selama ini. Yang para petinggi mafianya menyebutnya " Bunga yang mekar di dalam gelap"
Gadis yang dengan mulusnya mengatur Kyoto dalam sembunyi-sembunyi di bawah geng mafianya.
Levi tersenyum miring mengetahui bahwa selama ia tidak berada di Kyoto, gadis kecil itu telah melakukan sesuatu. Termasuk dalam presepsinya mengambil pemuda manisnya sekaligus memblokir kotanya.
" Dasar bocah tengik"
Levi berjalan meninggalkan kendaraannya. Pemuda bermata tajam itu mengantongi sebuah revolver perak. Menatap tajam orang-orang di sekitarnya yang lewat gang kecil ini dengan wajah datar. Tangannya dengan setia mengelus pelatuk revolver itu.
Levi berbelok menuju sebuah caffe kecil di ujung perkotaan.
Pemuda bermata tajam itu masuk ke dalam caffe sepi bergaya jepang sederhana. Levi terus melewati meja-meja hingga ia sampai di depan penjaga caffenya yang tersenyum ke arahnya sambil membersihkan gelas-gelas.
" Halo... ada yang bisa ku bantu?"
Levi menatap tajam pemuda itu. " Aku dan aksesku"
Pemuda itu merogoh sesuatu di meja kasir dan melemparkan kunci ke arah Levi. "Dengan senang hati ketua! Silakan buka sendiri Kyoto sesukamu"
Pemuda bermata tajam itu melewati meja kasir dan membuka pintu dapur yang sebenarnya bukanlah pintu dapur. Levi memasukkan kuncinya dan membuka pintu itu. Tampilan berbagai macam PC dan komputer menghiasi ruangan kecil itu.
Dan di masing-masing PC menampilkan denah tempat dan akses di seluruh Kyoto. Levi menarik kasar sebuah kursi dan mendudukkan dirinya di depan PC PC itu. Mata hitam tajamnya bisa melihat titik merah menyebar di seluruh Kyoto.
Tanda bahwa jalan-jalan itu diblokir.
" Mati kau bocah tengik"
Levi memasukkan sesuatu ke dalam PC.
" Kau tidak akan kabur lagi kali ini"
.
.
.
.
.
.
Eren mengerjapkan matanya saat bangun. Cahaya matahari sore membias dan membuat Eren segera bangun karena silau.
Pemuda manis itu mengecap-ngecapkan bibirnya khas orang bangun tidur dan menggosok pelupuk matanya. Eren berdiri dengan sendirinya untuk menutup seluruh tirai dan menyalakan lampu ruangan. Membuat pemuda itu dapat melihat betapa mewahnya apartemen milik Yuii.
" Oh..ya..." Eren berjalan gontai ke arah kamar mandi. " Kapan aku pulang ke tempat Mikasa? Oh...dia pasti khawatir"
Eren mengkhawatirkan Mikasa yang pasti akan gelisah setengah mati saat mengetahui bahwa dirinya dan mungkin Armin tidak pulang. Karena Eren tahu dia berada di tempat Yuii terlalu lama dan ia ingin pulang sekarang.
Mungkin setelah pulang nanti, Eren bisa minta kepada Mikasa untuk mengganti sekolahnya. Setidaknya membuat ia menjauh dulu dari Levi selama beberapa waktu ini. Eren merengut melihat pantulan dirinya di cermin dan menemuk bahwa dirinya terlihat acak-acakkan sekali.
Dan juga...kissmark di lehernya yang belum hilang itu.
" Grrrr...dasar cebol keparat. Dasar mesum!" Maki Eren. " Aku benar-benar akan memukulmu saat kita bertemu nanti!"
Eren dengan kasar melepas hanboknya dan berendam di bathup sambil menerawang. Berapa banyak yang terjadi sejak ia datang ke Tokyo? Hidupnya benar-benar berubah 100 % sejak ia menginjakkan kaki di Jepang dan di ssekolah berandalan itu.
Eren menenggelamkan wajahnya ke dalam air hangat dan menutup mata. Seketika adegan Levi saat tersenyum lembut ke arahnya mengisi pikiran Eren. Pemuda bermata manis itu seketika salah tingkah dan mencak-mencak tidak karuan lagi hingga air di bak-nya berjatuhan.
Toookk...
Toookkk...
" Eomma...cepatlah mandi! Makan malam sudah siap!"
Eren yang memang sudah benar-benar kelaparan seperti tidak diberi makan setahun itu segera menyambar handuk dan baju yang ada di kamar mandi dengan riang saat mendengar kata makanan.
" YA! AKU AKAN KESANA! TUNGGU AKU YUII CHAN!"
BRAAAKKKK!
" WOAAAAAHHHH!"
Mata emerald Eren berbinar senang mengetahui di kasurnya sudah ada meja makan kecil dengan segala makanan khas Jepang dan sup hangat. Ditambah teh oolong menjadi penambah makan malamnya.
" HYYAAAAA! AKHIRNYA AKU MAKAN JUGA!"
Yuii tersenyum saat Eren meloncat ke kasurnya dan menyerang makanan itu tanpa jeda sedikitpun. Membuatnya benar-benar telihat seperti orang yang kelaparan dan hidup di jalanan.
Eren melahap puluhan sushi dan sashimi itu. Ditambah sup miso dan kentang itu hampir ludes. Eren berulang kali berterima kasih pada Yuii dengan mulut penuh ikan tuna dan nasi kepal.
" YUII CHAN! ARIGATOU!" Ucap Eren riang.
Yuii tertawa. " Ahh...tidak apa-apa eomma!"
" Oh ya...esok boleh antarkan aku pulang ke rumah ya Yuii? Aku harus pulang untuk sekolah. Yuii tidak sekolah?"
Yuii tersedak ludahnya sendiri saat Eren memintanya untuk mengantarkan Eren pulang. Gadis itu salah tingkah dan membuka mulutnya gugup.
" A-ano...a-aku sekolah t-tapi..."
Eren bersikap manja pada Yuii. " Please Yuii chan~ aku harus sekolahhh...lagipula Yuii kan sekolah juga. Kita bisa pulang bersama~"
Yuii harus bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi.
" B-baiklah...Yuii akan mengantar eomma pulang..e-esok tapi eomma tidur dulu"
Eren bersorak girang dan memeluk Yuii riang. Tapi tetap saja entah kenapa ini adalah pertama kalinya yang sanggup membuat Yuii pucat gelisah. Dia tidak senang saat mendengar Eren bahagia karena akan pulang.
" Eomma..." Ucap Yuii lirih.
" Tidak boleh jauh darisini..."
.
.
.
.
.
.
.
Levi menekan tombol enter dan kali ini ialah yang akan menghancurkan gadis itu. Ditangannya masih setia tergantung sebuah kalung perak bertuliskan " Eren". Pemuda bermata tajam itu melembutkan pandangannya saat mengingat Eren.
" Maafkan aku bocah sialan..."
" Aku akan mengambil apa yang sudah seharusnya aku miliki dari dulu"
Levi terkekeh. " Selamat datang di keluarga Ackerman bocah..."
.
.
.
T
B
C
XD
Halooo!
Ada yang kangen author gila ini XD
Sorry ya buat hiatus selama 3 minggu lebihhh!
Mind to Rnr?
