Chapter 20
.
.
.
.
.
An Attack on Titan Fanfiction
.
.
.
Cast :
All Snk Characters and My Oc
.
.
.
Pairings :
Riren ( Main)
Erumin
Jean x Armin
and another pairing ( soon)
.
.
.
WARNING!
This is positive YAOI!
Rated M ( Adult and Mature)
BL ( Boys Love)
Mature and adult contents
Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath
Smut and kinda hard sex
.
.
.
Genre:
Crime
Romance
Adventure
Hurt Comfort
.
.
.
Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai
saya hanya meminjam ^w^
.
.
.
Hope you enjoy it ^^
.
.
.
.
" APA-APAAN MAKSUDMU ITU HAH!?"
Mikasa menggebrak meja belajarnya dengan sangat kuat. Membuat laptop yang sedang menyala di depannya hampir saja tergeser jatuh. Mata hitamnya membulat dengan sangat lebar dan kali ini ia menganga. Alis hitamnya seketika menekuk dan mata hitamnya berkilat mengerikan.
Mikasa memegangi pinggiran meja dengan tangan terkepal kuat. Hingga ia yakin urat-uratnya menonjol dan jari-jarinya memar karena lihat saja, serpihan kayu tebal itu terkumpul di kaki meja.
Yang ditelponnya dari seberang video call di laptop saja sampai menundukkan kepala ketakutan. Dia sendiri telah mengasuh keluarga Ackerman lebih dari 25 tahun. Levi yang berubah sudah cukup membuatnya sakit hati. Dan sekarang, dia tidak bisa menghentikkan nona Mikasa manisnya.
" Sudahlah nona M-mikasa..." Krista berusaha menenangkan Mikasa yang wajahnya memerah padam. Ia terisak. " Tuan muda Levi tidak akan mengapa-apakan tuan muda Jaeger..."
Mikasa seketika menatap Krista tajam. " Tidak mengapa-apakan? Jelas-jelas dia akan melakukan sesuatu pada Eren! Apakah kau tidak ingat bagaimana sifat keras kepala Eren!? Atau trauma akan bully milik Armin!?"
" Dan mereka telah terjebak disana lebih dari berhari-hari bahkan hampir berminggu!"
Krista hanya bisa terdiam dan menunduk melihat nona Mikasa kecilnya dulu yang hampir setiap hari selalu menceritakan kehebatan Levi menjadi orang yang selalu menceritakan keburukan Levi.
" Le..."
" VIII!"
BRAAAAKKKK!
Gadis asia itu berdiri dengan amarah yang terkumpul di ubun-ubun. Giginya menggertak emosi dan Mikasa turun ke ruang makan dengan tangan benar-benar gatal untuk membunuh kali ini. Masa bodoh dengan status Levi sebagai kakaknya selama ini.
Dia meraih kunci di meja makan dengan kasar dan jaket hitamnya. Gadis itu menatap syal merahnya yang tergeletak di sofa ruang tamu saat ia ingin membuka pintu rumahnya. Matanya hampir saja sedikit melembut jika ia tidak menatap foto dirinya bersama Eren dan Armin di depan Big Ben 5 tahun yang lalu.
" Mereka..." Mikasa menggeram ngeri. " Eren dan Armin memasuki sekolah Levi..."
" dan dengan bodohnya aku tidak tahu itu!"
BRAAAKKKK!
Para pejalan kaki yang lain langsung berlari panik dan kaget saat melihat Mikasa menendang pintu rumahnya dengan sekali tendangan. Bahkan mereka ketakutan melihat mata hitam tajam itu menatap dengan tatapan pemangsa yang kelaparan akan buruannya.
Inilah masa dimana dalam hidupnya...
Mikasa tidak lagi memakai syal merah kesayangan. Sebenci apapun dia pada Levi, syal itu masih menemani sisa harinya.
Masa dimana ia tidak takut berakhir sama seperti Levi asalkan ia bisa menghabisi nyawa kakaknya sendiri di tangannya.
Mikasa berjalan menjauhi rumahnya yang ia bangun sendiri untuk menjauhi kenangan buruk masa kecilnya di mansion besar milik orang tuanya. Menjauhi semua kenangan manis bersama kakaknya yang pernah melingkupi pikirannya.
" Kenapa hal ini selalu terjadi padaku?" Mikasa mengepalkan tangannya lebih kuat.
Gadis itu menggeram sambil melewati perempatan jalanan. " Kenapa kau tidak bisa sekali saja benar-benar pergi seperti yang kau katakan huh nii-san?"
Gadis itu mengarahkan kakinya menuju sekolah terkutuk itu. Sekolah dimana semua anak berandalan dan kriminal di Tokyo dijebloskan. Sekolah seperti neraka bumi itu membuatnya benar-benar marah.
Pantas saja dia merasa aneh saat ayahnya mengatakan kata-kata Corps seperti tentara saat hari pertama Eren pindah ke Jepang. Membuatnya merasa curiga, tetapi ayahnya meyakinkan Mikasa untuk percaya pada pilihan keluarga Jaeger dan Arlert itu.
Tapi yang jelas...sudah sangat jelas...
Akhir-akhirnya pasti ada masalah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Levi mendesis ngeri.
" Sialan kau"
" Untuk apa kau kesini hah nenek tua?"
Mina mengibaskan tangannya lucu. " Hahaha... tentu saja membantumu! Dan...menjenguk Eren manisku! Oh.."
Levi mengangkat sebelah alisnya bingung dan memandang Mina yang tiba-tiba menatapnya tajam dengan pandangan bingung. Pemuda bermata tajam itu menatap datar Mina yang semenit yang lalu tiba-tiba berada di caffe rahasia miliknya sambil membawa belati dan 3 senapan.
1 revolver, 1 buah senapan sniper berwarna hitam dop dengan jarak tembakan 1500 meter dan sebuah senapan laras panjang keluaran tahun '89 berpeluru perak. Yang setahu Levi harganya luar biasa dan hanya dipakai oleh para petinggi dunia untuk kebutuhan khusus atau militer tinggi negara.
Pemuda bermata tajam itu tidak akan heran bahwa Mina bisa mendapatkan seluruh senjata itu dengan mudah. Gadis itu sudah menjadi seseorang yang di luar perkiraan ayahnya sebelumnya. Lihatlah tato busur dan panah di tangan kanannya.
Itu pun belum dihapusnya sampai sekarang. Menandakan bahwa ia masih menjadi pemburu Artemis yang Levi tahu hanya berisi perempuan. Sebuah organisasi rahasia yang melatih para perempuan sejak dini tentang berbagai macam hal yang berbahaya.
Dan Levi juga tahu...
Mina mengangkat kepalanya dengan menatap tajam Levi. Yang tentu saja sama-sama dibalas tajam oleh orang yang bersangkutan. Wanita yang sudah berumur itu masih saja melemparkan pandangan menyalahkan pada Levi.
Pemuda itu melirik tajam ke sebuah tato merah kecil di leher kiri Mina. Tato bergambar serigala gunung. Menandakan dia adalah seorang pemburu senior dengan kekuatan setara 50 laki-laki dewasa.
PLETAAAAKKKK!
Levi melebarkan mata kaget. Pemuda itu seketika menendang kursi Mina dengan geraman kasar dan membuat gadis itu melesat sejauh 2 meter dari dirinya. Bukan hanya sampai disitu, Levi melempar sebuah pisau roti melewati telinga kanan Mina.
Tetapi yang bersangkutan malah mendengus kasar.
" YAK! DASAR KAU KERDIL TIDAK TAHU DOSA!"
Levi balas menggeram dengan menghentakkan kakinya kuat ke lantai. " Aku sudah penuh dosa, dasar nenek keparat. Jadi menceramahi tentang dosa tidak akan membuatku sadar, kau manusia setan."
Mina balas menghentakkan sebelah kakinya ke laintai dengan ujung high heels-nya hingga lantai kayunya sama-sama berderak.
Mina menunjuk Levi sengit. " Kau kira Eren diculik karena siapa hah!? Karena kau, dasar kau bocah kurcaci kerdil! "
Levi seketika mengerutkan dahinya kuat. " Kau mencoba berbicara apa hah, tua? "
Mina menggerutu dan menghempaskan badannya ke kursi coklat dengan kesal. Pantas saja Eren jadi kesal sekali. Kekasih dinginnya ini kelewat tidak peka atau bisa dibilang kelewat keras kepala.
" Levi... Kau tidak ingat saat kau meninggalkan Eren?" Mina mendengus.
Levi seketika memasang wajah dingin dan mata sehitam obsidiannya memandang Mina dengan tatapan setajam pedang. " Serius keparat, apa yang coba kau katakan hah? "
Mina mengambil senapan snipernya dan memeluknya erat. ia mendengus " senapanku ini sudah menjadi benda yang lebih kucintai daripada apapun. Loki-ku ini adalah senapan terbaik milikku"
Levi mengambil pisau lagi dan dengan wajah datarnya yang masa bodoh dengan sekitarnya, pemuda itu melemparnya ke arah Mina lagi. Melukai pipi mulus wanita itu dan menghancurkan sebuah lukisan khas Jepang di belakangnya.
" Kau membuatku muak dari dulu, nenek tua. Katakan padaku intinya dan berhentilah membicarakan omong kosong basi" balas Levi. " Waktu ku tidak banyak, pesut."
Mina menutup matanya dan menghela nafas pasrah.
" apakah kau tidak sadar telah melukai hati Eren, Levi? " Mina menatap Levi dengan lembut. "Memang dia bukan wanita sepertiku. Memang dia menentangmu di awal, ya... Aku tidak menampik fakat bahwa rasa bencinya lebih besar, tapi... "
Levi tetap menatap tajam Mina sambil mengelus pisaunya dengan wajah dingin yang mengerikan. Menimbang-nimbang apakah ia kali ini harus membuat pisau itu menembus kepala Mina.
" Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari, pemuda itu akan luluh"
Levi berhenti mengelus pisaunya dan menatap Mina yang terus memeluk senapannya itu. Pemuda itu mengangkat suara bass-nya.
" Kurasa itu akan butuh waktu separuh dari hidupku, nenek tua" Levi mengambil senapan berpeluru perak milik Mina. " Dia berbeda"
" dan perbedaan itulah yang membuatmu berubah, Levi" Mina meninggikan suaranya. " pemuda itu memang masih labil dan keras kepala, tapi apakah kau tidak sadar bahwa satu-satunya yang mengubah sifat dinginmu itu adalah Eren? "
Mina menepuk bahu putra asuhnya ini.
" dia mencintaimu. Dia menangis saat kau meninggalkannya dan merengek untuk kau bawa pulang"
SREEETTT!
" eh Levi? " Mina terkejut saat menemukan bahwa Levi tiba tiba saja berdiri dari bangkunya.
Pemuda bermata tajam itu mengambil jas hitamnya dan memkainya. Levi berbalik dari Mina yang juga ikut berdiri.
" Nenek tua... "
Mina mengangkat alisnya. " apa? "
" Jika hal itu benar-benar terjadi... " Levi membuka pintu caffe.
Mina hanya bisa tersenyum melihat pemandangan di luar sana.
"...itu salahku. Aku tidak sudi dia melihat orang lain selainku. Bocah itu hanya untukku dan tidak ada penolakan lain... "
Mina tersenyum sambil mengangkat senapan sniper miliknya. Ia mengekori Levi yang berjalan dengan tatapan membunuh dan hawa khas seorang pemimpin mafia.
Melewati puluhan anggota survey corps yang berdarah sehabis tawuran. Mereksa memasang senyum membunuh saat melihat Levi keluar.
Hanji mengekori Levi dengan membawa sebuah kapak besar. Kacamatanya basah akan darah dan senyum gilanya terukir melebihi batas kewarasan. Diikuti Farlan dan Petra yang setengah dari baju mereka telah carik dan rusak tetapi badan mereka tetap tanpa lecet.
Mina tersenyum melihat Nanaba yanh memimpin para pemanah dan sniper yang berbaris rapi di belakang gadis itu.
Gadis sepupu Ackerman itu masih tidak berubah dengan katana dan wajah khas samurainya.
Mina berbelok menuju Nanaba dan selusin sniper terbaik miliknya membuka masker mereka tanda menghormati Mina.
" Kita bertemu lagi, nona Mina" Ucap Nanaba. Bahkan wajahnya datar. Benar-benar keturunan Ackerman.
" Kau kembali dengan para sniper terbaikku di mafia " Mina mengenali wajah wajah berbakat itu sambil tersenyum. " Bagaimana tawurannya"
Nanaba memanggil salah satu sniper. Sniper laki-laki berwajah manis yang menipu itu menyerahkan sebuah senjata sniper berkekuatan lebih besar dari milik Mina. Dengan keakuratan tembakan sejauh 2000 meter.
" Habis" Ucap Nanaba. " Rencana Levi selalu berbuah manis"
Mina mengangguk mengiyakan perkataan Nanaba. Wanita itu menatap para pemanah yang berpakaian pemburu ringkas seperti yang ia pakai sekarang.
" Oi nenek tua! "
Mina dan Nanba menatap Levi yang dibelakangnya telah terkumpul pata file hitam yanh terlihat benar-benar seperti habis membumihanguskan setengah dari Maria Highschool.
" Aku akan membantu di bagian ini, aku membesarkan nama baik sniper dan pemanah mafiamu"
Levi memghampiri Mina dan berbisik di telinga ibu asuhnya tentang sesuatu. Yang membuat senyum Mina makin terukir jelas.
" Lakukanlah Levi... " Balas Mina. " Kali ini tidak ada halangan lagi... "
Seluruh murid survey corps yang berkumpul bersorak dan menunggu Levi dengan sama antusiasnya.
Mata mereka semua berkilat membunuh di Kyoto.
Levi berbalik menatap para file hitam dan murid lainnya. Semuanya tergantung pada tangan pemuda dingin dan iblis berjalan itu.
" Jangan sisakan mereka"
.
.
.
.
.
.
BRAAAAKKKKKK!
" Yuii chan! Setengah dari kita sudah dihabisi di Tokyo! "
Gadis blasteran korea itu terkejut setengah mati saat tahu bahwa setengah dari rekannya telah dihabisi di Tokyo.
" Bagaimana mungkin!? " Yuii berlari ke arah balkon apartemennya dan mendesis.
Menemukan bahwa gerbang kota telah dikuasai oleh pasukan Levi. Gadis kecil itu juga kaget bahwa Levi dapat menerobos Kyoto.
" Bagaimana mungkin di menerobos kota yang telah kujaga ketat!? "
Mata Yuii menggelap seketika.
" Lepaskan seluruh macan kita, Reiner... Aku akan turun sendiri. "
" Kita perang sekarang"
.
.
.
.
.
T
B
C
XD
Hai semua! (・´з'・)
Ada yang kangen saya?
Sorry misalnya saya banyak kesibukan karena baru masuk sma dan jarang update... (╥﹏╥)
Chapter depan...
WAR IS COMING! Siapa yang bakalan menang!? Siapa yang lebih kuaaat!? :V
Gimanakah nasib Eren dan Armin!? Gimana nasib mikasaaa...? :v
.
.
.
.
.
Tungguin...
:v
Mind to Rnr?
