Chapter 21

.

.

.

.

.

An Attack on Titan Fanfiction

.

.

.

Cast :

All Snk Characters and My Oc

.

.

.

Pairings :

Riren ( Main)

Erumin

Jean x Armin

and another pairing ( soon)

.

.

.

WARNING!

This is positive YAOI!

Rated M ( Adult and Mature)

BL ( Boys Love)

Mature and adult contents

Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath

Smut and kinda hard sex

.

.

.

Genre:

Crime

Romance

Adventure

Hurt Comfort

.

.

.

Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai

saya hanya meminjam ^w^

.

.

.

Hope you enjoy it ^^


Tokyo, 11 tahun yang lalu

.

.

.

.

Manik sewarna obsidian milik Levi kecil, menatap intens sebuah mansion bergaya eropa yang kental untuk negara se-tradisional Jepang. Mansion itu berdiri gagah di tengah lapangan hijau luas dengan pagar terbuat dari marmer putih yang tingginya hampir 5 kali lipat lebih tinggi dari tubuhnya.

Yang bisa dibilang cukup pendek untuk orang seumuran dirinya di Paris.

" Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" Decih Levi kecil. " Mansion semencolok ini di Jepang?"

Bocah bermata tajam itu mengeratkan cengkramannya pada koper abu-abu besar yang ia geret sejak dari bandara hingga ke depan pagar mansion. Levi mendengus saat mendapati bahwa pagar itu memang terbuat dari emas dan berukir lambang keluarga Ackerman berbentuk elang yang sudah dirumorkan oleh ibunya.

Levi dapat merasakan bahwa angin berhembus makin kencang. Bahkan mantel bulu miliknya hampir saja terangkat karena sapuan angin basah yang berisi uap air hujan yang terlihat sebentar lagi akan jatuh.

Awan hitam telah menggumpal di langit sejak pertama kali Levi menginjakkan kaki di bandara dan terus bertambah hingga menjadi hampir hitam seluruhnya saat ia sudah sampai di mansionnya.

Yang membuatnya kesal karena jaraknya jauh sekali dari bandara.

Levi menoleh ke belakang dan mendapati beberapa maid dan pelayan membawa barang-barangnya dari dalam Limousin milik ayahnya itu. Bocah bermata setajam belati itu menyipitkan matanya saat melihat jalanan kompleks menjadi sunyi dan hanya beberapa mobil mewah lainnya yang lewat.

Tapi ia tidak mendapati Limousin lainnya lewat, yang seharusnya sudah tiba sejak 10 menit yang lalu karena jarak waktu keberangkatannya dengan ibunya hanya berjarak sekitar beberapa menit setelah jet pribadi milik keluarga Ackerman lepas landas dari Paris.

Ibunya menolak untuk menaiki jet pribadi dan lebih memilih penerbangan komersial. Levi sendiri sudah memaksa ibunya untuk ikut, tapi jawaban ibunya tetap sama dan jelas-jelas membuat hati Levi menjadi benar-benar dongkol.

" Huh.." Levi membuang nafas kesal.

Seorang maid berambut pirang dan bertubuh tidak lebih tinggi dari Levi, berjalan menghampiri bocah berdarah eropa itu dengan tergesa-gesa mengingat harinya yang hampir hujan. Bisa menjadi masalah kalau ia membiarkan tuan muda Ackerman basah kuyup karena hujan.

" T-tuan muda Levi!" Panggil maid berambut pirang itu. " Masuklah! Harinya akan hujan! Nanti tuan muda akan terserang demam bila terlalu lama di luar!"

Levi mendecih mendengar peringatan maid itu. " Aku tidak akan masuk sebelum ibuku tiba. Aku sudah berjanji padanya!"

Maid itu bernafas terengah-engah saat ia sampai di hadapan Levi yang sudah melepaskan genggaman dari koper dan memilih menyedepkan kedua tangannya. Ia menatap maid itu dengan tatapan datar penuh intimidasi.

" Tidak, Historia"

Maid itu tersentak. " E-eh!? Ano tuan muda...namaku Chris−"

"−Historia" Ulang Levi dengan nada tegas. Bocah itu menatap Historia tajam. " Mulai sekarang namamu Historia. Ibuku memberitahuku bahwa nama aslimu adalah Historia. Nama lahirmu Historia dan selamanya akan menjadi Historia. Jika kau mengubah nama dari ibumu hanya untuk menutupi masa lalumu, maka segeralah angkat kaki dari mansion ini karena aku akan memecatmu"

Historia terdiam dan mengigit bibir bawahnya dalam. Maid berambut pirang itu menundukkan kepala di hadapan Levi yang masih menatapnya tajam. Biarpun dia tergolong bocah, tetapi kata-katanya benar-benar menusuk.

Levi melirik dari samping badan ramping Historia. Matanya dapat menangkap pemandangan beberapa penjaga dan maid lain bergerombol di sekitar sebuah Limousin yang baru saja tiba di halaman depan mansion Ackerman. Di belakang Limousin yang dipakai oleh Levi sebelumnya.

Pintu Limousin hitam itu terbuka dan menampilkan seorang wanita muda di balut gaun terusan berwarna coklat muda yang sederhana. Biarpun harinya terlihat buruk, tapi itu tidak mempengaruhi senyum manis dari Isabel.

Isabel memandang ke depan dan mata hijaunya dapat menemukan seorang bocah kecil dibalut mantel bulu dan seorang maid. Maid favoritnya.

" LEVI!" Teriak wanita itu riang. Dia melambaikan tangannya seperti anak kecil dan membuat rambut merahnya yang memang diikat longgar itu semakin longgar karena ia terlalu girang dalam bergerak.

Levi mendongakkan kepalanya untuk melihat ibunya yang tersenyum manis. " Ha! Aku disini ma!"

" Hehe!" Isabel tertawa. Wanita itu berbalik dan menunjuk para maid dan penjaga yang sedang mengangkut barang dan kopernya dari dalam atau bagasi Limousin. " Kalian tolong cepatlah! Hari semakin hujan dan jagalah kesehatan kalian juga! Keluarga kalian menunggu kalian dalam keadaan sehat jadi jangan kecewakan mereka!"

Semua maid dan penjaga tersenyum mendengar nasihat dari Isabel. " Baik nona!"

Isabel balas tersenyum dan berlari sambil mengangkat gaunnya ke arah Levi. Tidak menghiraukan bahwa dia akan terpeleset atau jatuh akibat tindakan gegabahnya. Historia sendiri berusaha untuk tidak panik saat beberapa kali Isabel hampir terjatuh.

Levi hanya mendengus makin berat dan terkekeh melihat ke-hyperaktifan milik ibunya yang benar-benar bertolak belakang dengan sifat sinis dan dinginnya.

" Hosshh...hosshh..." Isabel menumpu kedua tangannya pada lututnya dan bernafas cepat.

Historia memegangi lengan Isabel yang sedang berusaha mengambil nafasnya setelah berlari dengan riangnya menghampiri anaknya yang masih saja berdiri dengan wajah datar di hadapannya.

" Nona..." Panggil Historia khawatir. " Nona tidak apa-apa?"

Isabel berdiri dan tersenyum. " Aku tidak apa-apa, Christa!"

Historia menatap Levi yang masih memasang wajah tanpa emosi itu dengan gelisah. "Tapi uhmm nona...anu namaku..."

" Ayo masuk"

Kedua wanita itu sama-sama terkejut saat menemukan bahwa Levi telah memutar badannya dan kembali menggeret koper besarnya. Bocah bermata elang itu mendorong pagar dari emas itu dan memasuki jalan masuk ke mansion yang terbuat dari batu-batuan alam yang disusun rapi.

Levi menghentikan langkahnya saat ingin masuk lebih dalam. Bocah itu memutar kepalanya dan menatap Isabel. Senyum kecil terangkat darinya dan seketika hal itu membuat Isabel serta Historia menjadi tersentuh.

" Mama bilang ingin memegang tanganku saat kita sudah sampi nanti" Levi mengulurkan tangannya ke belakang. " Kenapa tidak sekarang?"

Isabel tersenyum dan berjalan menghampiri Levi. Tangan lembutnya bertautan erat dengan tangan kecil milik Levi. Isabel tersenyum makin manis dan mencubit pipi tirus anaknya yang segera dihadiahi gerutuan dari Levi.

Biarpun Levi terlihat menggerutu dan kesal, tapi tangannya menggenggam tangan Isabel makin kuat dan seolah tidak ingin berpisah dari tangan itu. Sebuah kasih sayang kecil yang langka di antara sifat dingin Levi dan konflik keluarganya.

Levi tersentak dan segera berhenti berjalan saat ia melupakan sesuatu.

Bocah itu menarik lengan gaun Isabel. " Ma..."

" Hm?" Isabel menyahut. " Ya, Levi?"

Levi melirik dari ujung matanya saat menemukan Historia sedang sibuk dengan yang lain, membawakan barang-barang milik Levi dan Isabel. Levi menatap Isabel dengan wajah datar tapi nada yang ia lontarkan begitu lembut.

" Tolong jangan panggil dia Christa lagi" Ucap Levi lirih. " Namanya Historia dan akan menjadi Historia untuk selamanya... Jangan biarkan mama membuang jati dirinya"

Isabel membulatkan mata kaget, tetapi setelah itu ia tersenyum makin lembut dan mengelus puncak kepala Levi kecil sambil berjalan.

" Baiklah, mama tidak akan memanggilnya Christa lagi..."

Levi mengangguk sambil terus mengenggam tangan ibunya. " Memang begitu seharusnya karena sekotor apapun dirinya dulu, nama itu dari ibunya. Nama yang sudah dipilih terbaik oleh orang yang mencintainya"

" Seperti dirimu...Levi Ackerman" Isabel menekan pipi Levi dengan telunjuknya dan tertawa kecil. " Levi Ackerman, putra dari Isabel Ackerman dan Kenny Ackerman"

Levi terdiam dan mengernyitkan kening dalam.

Memang Levi masih anak-anak, tapi...

Apakah ia baru saja mendengar gurat sedih saat ibunya menyinggung soal dirinya sebagai putra dan nama ayahnya? Seolah-olah ibunya sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan dari dirinya.

Levi dan Isabel berhenti di hadapan sebuah pintu marmer dan hal itu dimanfaatkannya diam-diam untuk mengamati raut ibunya. Levi seketika mengerutkan dahi kembali saat mendengar helaan nafas berat atau mungkin saja...pasrah dari ibunya.

" Mam−"

" Selamat datang di mansion Ackerman, Nona Isabel Ackerman dan Tuan Muda Levi Ackerman"

Levi mendecih jengkel dan memasang wajah kesal mengintimidasi terbaiknya kepada seorang butler yang berdiri di hadapannya sekarang. Memotong pembicaraannya sesuka hati dan membuat fokus ibunya teralihkan dan diganti senyum manis.

Ia menatap butler itu tajam dan dingin.

Padahal Levi 100% yakin kalau ibunya sedang sedih.

" Ah tuan muda tidak berubah...bahkan wajah itu"

Perempatan emosi muncul dengan mulus di dahi Levi. " Hah?"

" Kau berusaha menyindirku atau memujiku, hah?" Levi memberatkan suara kecilnya dan menatap makin tajam butler yang sopan itu. " Aku tidak suka bermain-main soal ini"

" Shuusssh" Tegur Isabel.

Isabel tertawa sambil menutup wajah mengerikan Levi kecil dengan tangannya. Levi sendiri seketika mengerutkan keningnya dan mendesis tidak suka saat tangan itu mencaplok dan mengalihkan pembicaraan seriusnya dengan butler kurang ajar itu. Bocah bermata tajam itu menurunkan tangan ibunya cepat sambil menggeram.

Isabel sendiri hanya tertawa. " Ah... jangan hiraukan sifatnya! Dia masih terserang jet-lag setelah ya...kau tahu berjam-jam perjalanan itu tidak terdengar terlalu baik! Makanya mood-nya jadi terganggu seperti ini!"

Oh...dahi Levi berkedut jengkel.

" Bukannya yang mengeluh tentang jet-lag dan kantong muntah yang buruk itu ibu?" Sindir Levi. Mata tajamnya itu benar-benar menyindir ibunya. " Bahkan ibu sendiri yang bilang kalau ibu benci pesawat dan membuat ibu terserang jet-lag hampir 5 jam"

Isabel membulatkan mata dan menoleh ke arah Levi yang tersenyum miring dengan pandangan sinis yang menusuk.

Mulut bocah itu bergerak tapi tanpa mengeluarkan suara. Ditambah rautnya seperti meremehkan.

" Ibu tidak akan bisa memojokkanku untuk alasan sia-sia" Levi tersenyum miring. " .Bisa"

Isabel menghela nafas lelah dan mencubit hidung lancip Levi. " Kau ini..."

Sang Butler itu terkekeh dan membuka pintu mansion lebar. " Haha... kalian berdua memang tidak berubah dari dulu"

Isabel yang merasa malu karena telah dipojokkan oleh anak sendiri, mengalihkan pandangannya cepat ke arah sang Butler yang sudah berkepala 5 itu dan tersenyum manis hingga menunjukkan semua gigi rapinya.

Mengindahkan Levi yang mendesis jengkel karena diacuhkan dan mulai menarik-narik lengan gaun ibunya ganas dengan pandangan menusuk dan aura hitam yang menguar mengerikan.

" Ma..." Panggil Levi dingin. " How dare you..."

" How dar−"

SYUUUUUTTTTTT!

Isabel tiba-tiba saja menarik lengan Levi dan membawa masuk anaknya yang masih dalam mode terkejutnya itu ke dalam mansion bergaya Prancis era sebelum revolusi. Tawa manis milik Isabel menguar dan menggema ke seluruh mansion tapi aura membunuh milik Levi juga sama menguarnya.

Bocah bermata obsidian itu menggeram dan mendesis selama ibunya mengoceh dan menjelaskan segala hal tentang mansion ini kepadanya. Mereka berjalan melewati berbagai koridor dan tangga dengan mood yang campur. Isabel dengan semangatnya dan Levi dengan wajah masa bodoh dan aku ingin mati saja daripada mendengarkan hal ini.

" Dan ini..."

Isabel berbalik ke arah Levi sambil tersenyum dan membuat gaunnya berputar. Levi mengangkat sebelah alisnya dan masih memasang tampang datar tanpa minat ke arah ibunya. Oh...jangan lupakan kalu ia melipat tangannya di depan dada dengan gaya tegas yang khas itu.

Isabel menunjuk sebuah pintu dari kayu oak itu dengan manis. " Ini adalah ruangan ayahmu..."

" Ayah?" Levi mengerutkan dahinya. " Itu ruangan ayah?"

Isabel mengangguk mantap.

Levi mencebikkan bibirnya dan meneliti pintu oak itu dengan pandangan mata menilai.

" Tidak buruk" Komentar Levi. " Berapa biaya yang ayah habiskan hanya untuk sebuah pintu?"

Isabel seketika mengerutkan bibirnya dan menggerutu. " Issh..kau tidak boleh begitu pada ayahmu"

Levi cuma balas menggumam kecil dan mengalihkan pandangannya menuju koridor di belakangnya. Yang terdapat dua buah pintu di sisi kanan dan kiri. Bocah bermata elang itu menyipitkan mata saat mendengar suara seorang anak kecil di dalam ruangan sebelah kiri.

Seperti suara anak perempuan yang tertawa.

" Ma?" Levi bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada pintu itu.

Isabel yang sedang berbicara dengan seorang maid yang kebetulan lewat koridor yang sama dengannya, menolehkan kepala menatap Levi yang memakukan pandangan pada sebuah pintu lain di koridor.

" Ya Levi?" Sahut Isabel. " Ada apa?"

Levi makin menyipitkan mata dan mencengkeram kopernya kuat saat kenop pintu itu bergerak. " Apakah dis−"

" Isabel?"

Seluruh pasang mata yang berada di koridor itu mengalihkan pandangannya pada seorang pria paruh baya dengan jas resmi yang berdiri di depan pintu berkayu oak. Mata hitam tajamnya terbingkai sebuah kacamata bulat yang kontras dengan warna kulitnya.

Biarpun pria itu termasuk berumur, tetapi gaya dan cara ia memandang menunjukkan bahwa sifat dan wibawanya sebagai kepala keluarga Ackerman tetap terjaga sampai hari kematiannya sekalipun.

Pria itu membuka pintu oak semakin lebar. Memberi celah bagi tubuh tegapnya untuk keluar.

Ia menatap maid yang berdiri di sebelah Isabel dan maid itu segera undur diri mengingat tatapan tuannya yang seperti minta privasi.

Isabel tersenyum menatap pria itu. " Hai Kenny..."

Kenny balas menatap Isabel dengan lembut. " Hai Isabel..."

Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah seorang bocah berusia 7 tahun yang memiliki tatapan dan gaya yang persis sama seperti dirinya. Ditambah tatapan setajam belati dan wajah dingin itu.

Benar-benar jiplakan dirinya.

Bocah itu menatap ke arahnya dingin dan memasang wajah tanpa ekspresi. Ia membekukan mulutnya dan sesekali berdecak melihat pria itu menatap dengan pandangan yang ia sendiri tidak mengerti.

Padahal pria itu berstatus sebagai ayah kandungnya.

Tapi Levi merasa bahwa mereka benar-benar jauh. Seperti baru bertemu pertama kali setiap kali mereka berpaspasan. Sama-sama memasang wajah dingin, tetapi bedanya ayahnya menatapnya dengan pandangan lain.

Pandangan mengingat. Bukan pandangan tajam atau lembut.

" Hai Levi" Sapa Kenny.

" Hai ayah" Levi menyahut datar.

Kenny mengulum senyum kakunya. " Kau sudah makan?"

Levi balas menatapnya dingin. " Apakah aku terlihat seperti orang sudah makan?"

" Shuush!" Tegur Isabel. " Levi.. apa yang mama bilang soal sopan santun?"

Levi berdecak menatap Isabel. Levi tidak akan tahan dan tidak akan pernah tahan untuk memasang tatapan dingin atau ekspresi kaku pada ibunya. Jadi ia hanya memasang wajah tidak suka.

" Aku hanya berbicara fakta" Gerutu Levi. Bocah itu melemparkan pandangan tajam pada Kenny yang sama-sama memasang wajah kaku tanpa ekspresi. " Termasuk fakta bahwa ayah meninggalkan mama ke Jepang selama 3 tahun."

" Tanpa kabar"

Isabel terlonjak mendengar pernyataan Levi. Ia tidak tahu kalau Levi akan menyindir soal itu langsung di hadapan ayahnya. Padahal bila Isabel mengingat tentang hal tadi, Levi akan acuh dan terlihat tidak ingin tahu apalagi terlibat.

Tapi sekarang, Levi tetaplah Levi.

Memang dia acuh akan hal itu di luar, tapi Levi akan langsung menyindirnya tajam di hadapan orang yang bersangkutan jika bertemu.

" Levi!"

Wajah Isabel merah padam. Antara marah atau merasa gelisah terhadap sifat Levi.

Isabel tidak bodoh untuk tahu sifat Kenny. Dia tidak suka digertak apalagi direndahkan seperti tadi. Bahkan oleh keluarganya sekalipun. Bersama dengan Kenny hampir lebih dari 6 tahun, sudah cukup membuat Isabel tahu seluk beluk sifat suaminya itu.

Termasuk sifat tidak ingin ditentangnya.

" Tidak apa-apa Isabel" Kenny menghela nafas dan menatap Levi yang masih menatapnya dingin.

Isabel sendiri harus memainkan jarinya gelisah. Memang dia berstatus sebagai istri dari Kenny, tetapi ini adalah keluarga Ackerman. Keluarga bangsawan terhormat di Prancis. Seluruh keputusan diambil oleh kepala keluarga dan jika sebuah keputusan penting telah diambil, maka tidak ada yang boleh menentangnya sedikitpun.

Bahkan oleh sang istri.

" Levi.." Panggil Kenny.

Levi bergumam. " Apa?"

" Ada yang harus kubicarakan dengan ibumu. Christa akan mengantarmu ke kamar barumu disini. Mungkin setelah kau sudah cukup beristirahat, kau bisa ikut makan malam bersama kami" Jelas Kenny.

Kenny balik menatap Isabel. " Isabel, ayo"

Isabel menatap Kenny dengan pandangan memohon.

" Kau duluan... ada yang harus kukatakan pada Levi."

Kenny membuka pintu itu lebih lebar. " Saat kubilang kita akan bicara, maka kita ak−"

" −2 menit!" Isabel menatap Kenny dengan pandangan yang makin memelas sambil mengangkat tangan kanannya yang membentuk angka 2. " 2 menit saja dan jika aku datang lebih lama dari itu, kau bisa memaksaku!"

Levi berdecih dan membuang wajahnya menatap ibunya yang memelas seperti itu pada ayahnya.

Hatinya tersayat. Penderitaan yang ditampung ibunya sudah begitu besar dan melihat ibunya yang memohon-mohon seperti ini, benar-benar membuat hati Levi menjadi tersayat dan panas.

Kenny menghela nafas dan membalikkan badannya. " Baiklah...2 menit"

" Thank you..." Isabel tersenyum.

Kenny menutup pintu oak itu setelah sedikit melembutkan ekspresinya karena ia masih menangkap senyum manis Isabel. Senyum manis yang pernah menjerat hatinya dan membuat hatinya melemas.

Sampai sekarang sejujurnya.

Tapi ada yang lain... ada yang harus ia korbankan untuk nama keluarganya. Termasuk hatinya.

" Nah..." Levi mengangkat suaranya. " Apa yang ingin mama katakan hingga meminta seperti itu kepada ayah?"

Isabel tersenyum lemah dan memegang kedua lengan anaknya yang menatapnya datar padahal ekspresinya menunjukkan kalau putranya sedih melihat ia yang harus memelas. Wanita berambut merah itu menghela nafas sebelum menatap lurus ke arah mata obsidian Levi.

" Levi... berjanjilah pada mama"

Levi mengangkat alisnya bingung. " Janji? Janji apa lagi?"

Isabel mengangkat sebelah tangan Levi yang tersedekap dan membuka jemarinya yang mengepal. Wanita itu menautkan jari kelingkingnya bersamaan dengan milik Levi. Menautkan dengan erat. Sangat erat.

" Jika kau punya adik, janganlah membencinya. Sayangi dia seperti kau menyanyangi mama selama ini." Isabel menatap Levi dengan serius.

Tapi Levi membalasnya dengan menatap ibunya makin bingung di tambah dahinya berkerut sangat dalam tanda tidak mengerti sama sekali.

" Apa yang mama bicarakan?" Levi mengerutkan keningnya. " Adik? Mama tidak hamil lagi kan?"

Isabel menggeleng kuat dan mengeratkan jarinya kelingkingnya yang bertautan. Membuat Levi sedikit tersentak karena ibunya kali ini benar-benar serius tentang hal itu. Bocah itu mendengus dan berusaha menatap ibunya sambil memahami apa yang terjadi.

" Ibu serius, Levi" Isabel memberatkan suaranya. " Berjanjilah kau akan jadi kakak yang baik dan jadi panutan adikmu. Jangan pernah membuat adikmu menangis. Bahkan setetes pun jangan. Sayangi dia dan lindungi dia. Berjanjilah"

Levi mendengus makin berat dan tersenyum miring. " Baiklah... aku akan melindunginya segenap jiwaku"

" Baguslah" Sahut Isabel dengan pandangan serius.

Levi hanya bisa bergumam tidak tahu saat Isabel mengangkat tangannya yang masih bertautan dengan jari kelingking ibunya. Isabel mengecup tangan mungil Levi dan tersenyum hingga matanya terlihat menghilang di balik kelopak mata ibunya.

" Ini adalah janji kita Levi..." Isabel mengelus rambut hitam kelam Levi dengan lembut sambil menggoyangkan tangan anaknya. " Kelingkingmu, kelingking mama, kulitmu, kulit mama. Kau sudah berjanji di atas darah mama... Jadilah seorang Ackerman sejati. Seorang Ackerman yang tidak akan pernah mengingkari janjinya."

Levi hanya tersenyum miring. " Ma... ini sudah hampir 2 menit. Aku tidak ingin mama diapa-apakan oleh ayah lagi."

Isabel tersentak dan melepaskan jemarinya dengan milik Levi. Wanita itu sempat mengecup dahi anaknya sebelum berdiri dan masuk ke dalam ruangan ayahnya. Isabel tersenyum singkat dan menutup pintu.

Levi yang melihatnya hanya bisa mendengus dan tersenyum kecil.

" Tuan muda..."

Historia datang dari arah pintu masuk koridor dan telah menunggu dengan 3 koper yang siap masuk ke dalam kamar baru Levi di Jepang. Levi membalikkan arah badannya hingga menatap Historia.

Historia yang mengerti arti tatapan Levi, segera membuka sebuah pintu di kiri.

Dahi bocah itu kembali berkerut.

" Itu..." Levi menunjuk sebuah pintu di bagian kiri. " Kamarku?"

Historia yang sedang membuka kenop pun mengangguk dan menyahut. " Ya tuan muda. Ini kamar anda"

Bocah berdarah eropa itu menyipitkan mata curiga. Itu adalah kamar yang sama yang terdapat suara seorang anak perempuan. Seperti sedang berbicara atau tertawa dalam bahasa prancis tetapi pelafalannya kurang fasih dan terputar-putar. Levi juga merasakan aksen jepang yang kental pada suara itu mengingat pelafalan huruf r yang khas pada bahasa prancis.

Dan orang jepang sedikit bermasalah dengan ciri pelafalan r itu.

" Kamarku" Levi menatap Historia yang sedang menarik troli koper ke dalam ruangan.

Historia berhenti sejenak setelah Levi mengangkat suara. " Uhm ya tuan muda? Ada apa dengan kamar tuan?"

Mata tajam milik Levi makin menyipit dan ia tidak sadar mendesis dan mengerutkan keningnya saat lagi-lagi telinganya menangkap suara anak perempuan. Biarpun lirih, tapi ia jelas-jelas mendengar anak perempuan itu sedang mengatakan sebuah baris naskah Hamlet tapi dalam bahasa Prancis.

" Tidak apa-apa" Levi berjalan ke arah Historia dan menghela nafas.

' Mungkin perasaanku saja' Batin Levi.

Levi menggeret kopernya. " Pastikan semua barangku rapi dan pada tempatnya."

Historia mengangguk sementara Levi menatap ruangan itu tajam sebelum masuk ke dalam.


.

.

.

.

.

.

Levi duduk di sebuah bangku dari meja tulis dari kayu akasia yang bercorak Inggris abad pertengahan. Yang tepat menghadap jendela. Mata tajamnya dapat menangkap pemandangan halaman belakang mansion yang sedang basah akan hujan. Pepohonan pinus dan sakura diguyur air hujan yang mengalir deras sedera moodnya yang buruk sekarang.

Bocah itu menumpukan kedua kakinya yang disilang ke atas meja. Mata setajam belatinya bergerak mengikuti ketikan tulisan di sebuah novel klasik karya William Shakespeare yang berbahasa Prancis.

Biarpun umurnya baru 7 tahun, jangan heran sifatnya dan gaya hidupnya sudah seberat ini. Tinggal di keluarga bangsawan ditambah ia adalah satu-satunya anak laki-laki dan dicalonkan menjadi penerus kepala keluarga, sudah cukup membuat masa kecilnya buyar.

Levi masih ingat saat ia berumur 4 tahun, di saat anak lain belajar membaca dan bersosialisasi, ia sudah duduk di meja ayahnya dan dihadapkan dengan transkripsi sebuah naskah lama berbahasa Yunani untuk dipelajari.

Ayahnya langsung turun tangan untuk mengajar Levi hal kebangsawanan saat bocah itu baru berusia 5 tahun.

Benar-benar masa kecil yang berat untuk seorang bocah sepertinya.

" Mataku sakit" Levi mengucek matanya dan meletakkan novel tebal yang sudah setengah terbaca itu ke atas meja.

Bocah itu mengerjapkan matanya yang sudah dari 2 jam yang lalu digunakan untuk membaca bacaan yang berat seperti itu. Ia menghela nafas berat dan melirik jam dinding di sampingnya yang menunjukkan jam 17:00.

2 jam membosankan lagi sebelum makan malam.

Teh hijau dan cream pastry yang sudah dimintanya 30 menit lalu telah habis. Bersama 3 teh sebelumnya dan 5 potong kue lainnya yang sudah dihabiskan terlebih dahulu. Levi hanya bisa menatap kamar dan jendela yang basah akan air hujan itu dengan bosan.

Bocah itu menatap dingin sebuah telepon di samping mejanya.

Levi memutuskan untuk memakai telepon bergaya klasik itu dan menekan tombolnya. Ada seseorang yang ingin ia hubungi mengingat ia benar-benar bosan sekarang. Lebih baik ia menelpon daripada berakhir menguarkan aura pekat akibat terlalu bosan.

Bocah itu menyandarkan punggungnya pada kursi dan menutup matanya sebentar sembari menunggu yang ditelpon untuk mengangkat.

" Halo?"

Levi membuka matanya. " Halo− Kebetulan apa sampai kau mengangkat secepat ini?"

Yang ditelpon mengangkat suara riang. Levi hanya terkekeh kecil dan sesekali menggerakkan kakinya.

" Hei hati-hati" Peringat Levi. " Bila kau terlalu nyaring, ayahnya bisa tahu dan kau berakhir buruk lagi"

Yang ditelpon merengut dan berbicara dengan suara lirih yang hampir berbisik. " Ya ya ya, Levi! Aku tahu itu! Tapi aku bahagia kau tahu! Sudah berapa lama kau tidak menelponku dan hanya memberiku surat!?"

Levi berdecak. " Aku mengirimimu surat karena aku tahu akses telepon rumahmu itu terbatas dan sifat ayahmu. Kau kira aku tidak menelusuri konflik keluargamu hah Farlan? Bahkan jika ada kesempatan, aku akan menyeret ayahmu ke hukum karena kejahatannya padamu"

Farlan hanya terkikik. " Ya ya! Kau tahu... aku sebenarnya disuruh ke bawah tanah oleh ayahku untuk mengecek bara perapian dan menyiapkan kayu! Aku ingin sekali menelponmu tapi kau bilang kau akan pergi ke Jepang. Jadi, sia-sia saja aku mengambil telepon. Tapi... wow...untung saja pekerjaanku belum selesai dan For The God Sake...aku akhirnya bisa kembali berbicara denganmu!"

Levi tersenyum singkat dan menurunkan kakinya. Bocah bermata tajam itu terkekeh kecil mendengar sahabatnya dari orang biasa itu. Yang ditemuinya di sebuah jalanan pertokoan di Paris. Levi masih ingat saat itu, Farlan membantu Levi mengejar para pencuri di jalanan yang mencuri buku-bukunya.

Mereka bertemu kurang lebih saat umurnya masih 5 tahun.

Levi melihat bocah berbaju lusuh itu pergi memukuli dan memarahi pencuri berbadan besar. Padahal Levi bisa saja melakukannya mengingat Mina telah melatihnya hingga hampir mati, tapi bocah itu tetap kukuh untuk membantu Levi.

Dan Levi tahu bahwa sebenarnya Farlan adalah seorang yang terhormat, tapi ada masalah pada kelurganya. Ditambah luka bakar menghiasi punggung bocah itu.

" Oi Levi!" Panggil Farlan. " Kenapa hari ini kau memilih untuk menelponku alih-alih mengirim surat?"

Farlan terkekeh. " Apakah di Jepang tidak ada kantor pos? Atau lebih buruknya, tidak ada surat lagi?"

Levi mendesis dan menarik sebuah kertas kosong di samping novel yang ia letakkan di atas meja. Mengambil pena yang didekatnya dan menuliskan kata-kata pada kertas kosong yang sekarang sudah berisi itu.

" Bukan salahku..." Levi terus menulis dan matanya terus bergerak mengikuti gerakan tangannya yang menulis. " Ada sesuatu disini yang membuatku tidak bisa terlalu menulis surat lagi"

Farlan mengangkat alisnya bingung. " Ada apa?"

Levi menggumam kecil. " Begini saja... aku akan menuliskan kau surat terakhir hari ini karena mulai sekarang kita akan berkomunikasi dengan telepon saja. Surat yang kukirim adalah jadwal kosongku untuk menelpon dan pastikan kau tidak berada di dekat ayahmu saat itu tiba"

" Wow wow wow..." Sela Farlan cepat. " Hey bung! Memangnya ada apa sampai kau tidak bisa menulis surat lagi hah?"

Levi menggeram lirih tetapi ia tetap menulis dan menelpon di saat yang bersamaan. "Kubilang tidak tertalu bisa, bukannya tidak bisa sama sekali. Kepindahan ku ke Jepang membuatku harus berkutat dengan urusan kebangsawanan dan menj−"

"−nii-san..."

Farlan membeo dari seberang.

" Hey Levi...apakah aku baru saja mendengar suara anak kecil?"

Levi berhenti menulis dan pemuda bermata tajam itu memutar tubuhnya ke belakang tanpa melepas gagang telepon di telinganya. Mata hitamnya menemukan seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan mata hitam yang manis dan senyum seperti gula itu seperti sedang sedih. Berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan memelas.

Bibir merahnya turun dan ia menggerakkan kakinya gelisah sambil menyeret sebuah bonek beruang kecil. Rambut hitam gadis itu basah dan noda lumpur basah masih tertinggal di mata kaki gadis itu.

" Nii-san..." Panggilnya sekali lagi. " Dudu jatuh ke tanah dan tangannya robek..."

Levi menghela nafas sebentar dan berbicara dengan Farlan. " Tunggu sebentar..."

Farlan hanya bisa mengerutkan dahi sambil menatap gagang telepon yang dipegangnya dengan ekspresi bingung.

Levi berdiri dari bangkunya dan berjongkok di hadapan Mikasa kecil yang memegang wajahnya dengan kedua tangan mungilnya yang sudah setengah kering. Gadis asia itu tertawa manis dan terus menyentuh wajah Levi riang. Gadis itu tidak menghiraukan sama sekali ekspresi kaku atau tatapan dingin Levi kepadanya.

" Nah Mikasa.." Levi mengangkat suara beratnya. " Mana bagian yang robek?"

" Oh.." Mikasa tersentak.

Gadis itu segera mengangkat boneka beruang yang tadi ia jatuhkan dan menunjukkan bagian yang robek ke arah Levi dengan wajah sedih dan sedikit kecewa karena boneka kesayangannya sampi robek.

" Ini nii-san..." Mikasa menggoyangkan lengan yang robek. " Tadi Mikasa berlari dari taman belakang dan Dudu jatuh ke tanah karena tangan Mikasa licin. Waktu Mikasa ingin mengangkatnya ternyata lengannya tersangkut di bebatuan dan robek..."

" Jadi..." Mikasa menggigit bibir bawahnya. " Mikasa harus apa, nii-san?"

Levi mengambil boneka Mikasa dan bocah itu mengelus kepala Mikasa. " Ambil jarum dan benang di laci meja rias di sebelah tempat tidurmu"

Mikasa mengangguk dan tersenyum. " Baiklah!"

Gadis kecil itu berlari ke kamarnya dengan riang. Membiarkan gaun putihnya terangkat selagi kaki mungilnya berlari di koridor. Meninggalkan Levi yang terdiam dan menaruh boneka itu ke atas meja.

Bocah itu kembali mengangkat teleponnya. Farlan segera menyambar berbicara saat suara telepon diangkat kembali terdengar di telinganya.

" Hei Levi!" Sahut Farlan. " Ada apa!? Tadi siapa?"

Levi menatap boneka itu dan menghela nafas. " Akan kuceritakan di surat sekaligus jadwalnya. Ada yang haru kuurus sebentar"

Farlan mendengus. " Ya sudah! Aku harus segera menutupnya! Ayahku pasti akan kesini!"

" Hm.." Balas Levi. Bocah itu segera menutup teleponnya sesaat setelah sambungannya terputus dan bertepatan dengan Mikasa yang berlari-lari kecil ke arah Levi sambil membawa gulungan benang dan jarum yang ditusuk disana.

Mikasa menyerahkan gulungan benang itu. " Ini nii-san..."

Levi mengambil boneka yang di atas meja dan duduk di lantai. Bocah itu itu menarik Mikasa kecil untuk duduk di pangkuannya dan Levi mengarahkan tangan Mikasa untuk memegangi lengan bonekanya yang robek.

" Lihat dan ikuti tangan nii-san..."

Mikasa mengangguk. " Oke!"

Levi terus menjelaskan kepada Mikasa sambil menjahit bagian yang robek. Mikasa pun sesekali tertawa dan mengerjai Levi hingga bocah itu terkekeh melihat tingkah adiknya. Adiknya juga ternyata cepat tangkap hingga belum 15 menit mereka menjahit, Mikasa mampu untuk mengikuti gerakan tangan Levi.

Kedua bocah itu asyik dengan dunia mereka.

Mikasa yang tertawa dan sesekali memeluk nii-sannya bahagia saat mereka menjahit dan Levi yang tersenyum singkat. Memang wajahnya masih datar, tapi Levi tidak bisa menyembunyikan binar kasih sayang atau senyumnya tiap kali Mikasa mengoceh dengan nada cadelnya.

Terutama saat Levi berbicara dengan bahasa Prancis dan Mikasa berusaha mengikutinya.

" Mikasa sayang nii-san!" Mikasa mencium pipi Levi senang saat bonekanya telah diperbaiki. Gadis kecil itu tertawa dan memeluk Levi erat. Bahkan ia menolak untuk menjauh dari pangkuan Levi.

Levi sesekali menjahili Mikasa dengan cara menggelitik perutnya dan tentu saja memancing tawa dan pekikan Mikasa. Berkali-kali Mikasa menggerutu dan berkali-kali juga Levi hampir tertawa.

" Nii-san..." Mikasa menatap Levi dengan mata hitam bulatnya.

" Hm?" Balas Levi.

Gadis asia itu memainkan jemarinya dan menggigit bibir bawahnya. " Jangan tinggalkan Mikasa..."

Mikasa menghambur ke dalam pelukan Levi. Tangan mungilnya tidak bisa menggapai punggung Levi tapi gadis berdarah asia tetap memeluk Levi erat hingga ia mencengkram kemeja putih milik Levi. Mikasa merebahkan kepalanya pada dada Levi.

Levi menghela nafas dan menumpukan dagunya pada puncak kepala Mikasa. Merengkuh adiknya yang rapuh.

" nii-san tidak bisa berjanji tapi nii-san akan selalu disini untuk Mikasa." Levi tersenyum miring. " Jadi jika Mikasa ada masalah, nii-san aka ada disini"

Mikasa meneteskan air mata dan menyembunyikan wajah manisnya dibalik kemeja putih Levi.

Levi sendiri hanya bisa menghela nafas.


.

.

.

.

.

.

Ini sudah larut malam dan Levi sudah tidak tahan untuk mengistirahatkan matanya yang memang sudah benar-benar ingin terasa menutup sejak setengah jam yang lalu. Moodnya benar-benar buruk. Sangat buruk.

Bahkan ia sampai menatap ayahnya dengan tatapan membunuh karena dibiarkan menganggur samapi tengah malam dengan tugas kebangsawanan yang sumpah ingin ia hancurkan.

Bocah itu menghempaskan tubuhnya pada kasur empuknya yang berukuran king size dan menutup matanya. Levi bahkan tidak peduli dengan posisi tidurnya yang sembarang karena tubuhnya benar-benar terasa ingin hancur.

Baru 3 minggu dia di Jepang... dia suka negaranya yang adat mereka tapi ia tidak suka mansionnya.

Dan sifat ayahnya yang seperti memaksanya.

Ditambah ibunya banyak murung dan melamun beberapa hari ini. Juga kedatangan seorang wanita lain yang terasa asing bagi Levi. Kelihatan kalau wanita itu berasal dari asia dan anehnya dia sering datang dan menjenguk Mikasa.

Levi sebagai kakak tentu merasa curiga.

Tapi sekarang, masa bodoh dengan itu semua. Levi sudah sepenuhnya masuk ke dalam mimpi. Nafasnya berubah menjadi teratur dan raut tidak sukanya berganti dengan wajah tenang. Mata obsidiannya pun sudah tertutup sempurna.

Ya...setidaknya itu semua akan terjadi sebelum dia kembali bangun karena mendengar suara pertengkaran.

Tepat di kamar di samping kamarnya.

" Sialan" Umpat Levi. Kantong matanya benar-benar terbentuk dan ia menggeram mengerikan. " Siapa yang bertengkar jam segini?"

Aura mengerikan seperti keluar dari tubuh Levi. Bocah bermata elang itu mendesis dan menggeram hingga mengerang karena suara pertengkaran itu makin intens dan telinganya tidak bisa menolerir untuk tidur.

" Ah sialan!" Levi bangkit dan duduk dengan wajah dingin dan dahi berkerut jengkel. Matanya menyipit. " Apakah mereka tidak sadar ada seseorang yang ingin mencoba tidur disini hah!?"

Ingin rasanya Levi keluar dengan tatapan membunuh dan wajah ngantuk yang mengerikan itu. Menghentikan pertengkaran yang menganggu acara tidurnya yang berharga dan kembali ke kasur setelah semuanya selesai.

" Hikkss...Pergi! Jangan ganggu mama!"

Levi tersedak ludahnya sendiri. Matanya seketika terbuka lebar.

" Hikss..Hiksss..Huwee! Pergiii!"

BRAAAKKK!

Pintu kamar Levi terbuka paksa dan bocah bermata tajam itu hanya bisa terdiam saat Mikasa berdiri di depan pintunya dengan wajah memerah sempurna dan air mata yang mengalir deras.

Gadis kecil itu bahkan menangis sesenggukan saking kuatnya.

" N-nii-san..." Mikasa mengucek matanya yang sembap dan terus menangis. " H-hikkss..n-nii-san..."

" Huweee...nii-san!"

Mikasa seketika berlari ke arah Levi dan menaiki kasur bocah itu. Gadis itu menghambur ke dalam pelukan Levi dan menangis keras di bajunya. Menyembunyikan wajah merahnya dan rasa sakitnya di dalam pelukan kakak yang sangat ia sayangi.

" Mikasa..." Ucap Levi lirih.

Bocah bermata obsidian itu hanya bisa menatap Mikasa yang menangis keras dan setengah berteriak itu dengan tatapan datar dan bingung. Ia melirik ke arah pintu kamarnya yang terbuka dan melihat orangtuanya sedang bertengkar.

Mikasa meremat bagian depan kaos longgar Levi. " Hikkss..kenapa...kenapa papa dan mama? Kenapa n-nii-san...?"

Levi tidak menjawab. Ia hanya makin memeluk Mikasa dan berusaha menyembunyikan mata adiknya saat pertengkaran itu makin intens. Levi bahkan menutup matanya dan mendesis tidak suka karena ia melihat dengan jelas di depan matanya.

Tanpa sadar ia makin memeluk Mikasa. Menjauhkan adik rapuh dan polosnya dari semua hal yang sudah ia lihat dari kecil. Levi menggertakkan giginya dan menutup matanya makin kuat.

Membiarkan air matanya ikut turun saat pipi mulus Isabel ditampar di depan matanya.

Saat itulah air mata Levi turun.

Suara tamparan sudah cukup membuktikan kepadanya bahwa itu adalah pertengkaran yang sangat hebat. Bahkan ia mendengar suara pintu kamarnya dibanting tertutup oleh ayahnya yang masih bersitegang dengan ibunya.

" N-nii-sann.." Mikasa terisak. " Hikkss...nii-san..."

" Sssstt..." Levi seketika mengelus puncak kepala Mikasa sambil terus menggertakkan giginya dan menangis dengan mata tertutup. " Sssstt..nii-san disini.."

"N-nii-san disini..." Tenang Levi. " Ssssst..."

Mikasa mengusak wajahnya dan terisak makin nyaring saat ia sadar mendengar Levi sama terisaknya. Kakaknya yang kuat dan tidak pernah menangis itu sekarang menangis dengannya.

" Hikss...nii-san!" Mikasa hampir menjerit saat menangis. " Nii-san..."

Levi membuka matanya dan ia sadar kalau ia sudah menangis. Bocah bermata tajam itu seketika mengalihkan pandangannya menuju ke lain. Dia harus segera mengalihkan fokus Mikasa selain pertengkaran ini.

Semua ini terlalu dini untuk diketahui gadis serapuh dirinya.

Ia menyapu matanya kasar dan mengambil gulungan benang merah yang masih tertinggal di meja sebelah kasurnya. Levi melepas pelukannya pada Mikasa dan Mikasa seketika kaget.

Gadis itu hampir menjerit sambil menangis ketakutan saat merasakan Levi menjauhinya. Melepas pelukannya.

Tapi Mikasa segera terdiam saat Levi menyerahkan gulungan benang dengan jarum sulam ke hadapannya. Raut Levi sangat kaku dan ia mengeraskan pandangannya. Matanya yang merah dan tatapan tajamnya menyiratkan sakit hati yang begitu besar.

" I-ikuti nii-san..." Levi menarik tangan Mikasa untuk memegang jarum sulam itu.

Mikasa dapat merasakan tangan Levi bergetar, tetapi wajahnya dingin dan dahinya menekuk. Mikasa tersentak saat suara benda dan teriakan datang dari luar. Gadis itu seketika menoleh ke arah pintu takut.

Tapi secepat itu juga Levi menarik dagu Mikasa menghadapanya dan menatap tajam adiknya.

" Jangan lihat kesana" Ucap Levi tegas. " Lihat nii-san dan ikuti! Jangan lihat ke lain..."

Mikasa mengangguk cepat dan menutup matanya sambil menangis. Levi mengarahkan tangan Mikasa untuk mulai menyulan benang. Membentuknya menjadi sebuah syal merah tua yang kedua anak adam dan hawa itu buat.

Mereka membuat sesuatu yang diingat sepanjang waktu diantara pertengkarang orang tua mereka dan rasa sakit hati di hati mereka.

Mikasa yang terus menyulam dan Levi yang terus menyanyikan lagu dalam bahasa Prancis untuk mencegah adiknya teralihkan fokusnya ke arah pertengkaran sia-sia itu. Levi mengalungkan syal itu ke leher Mikasa saat setengah sudah selesai.

Hingga jam 5 subuh...

Mikasa dengan syal merah di lehernya tertidur di pangkuan Levi yang sama tertidurnya dengan menyandarkan kepala ke pinggiran ranjang. Kedua anak itu tertidur dengan wajah sembap dan merah.

Dan gulungan benang yang berubah menjadi syal merah yang berada di tangan Levi dan di leher Mikasa.


.

.

.

.

.

.

Gadis kecil berusia 6 tahun hanya bisa menangis sesenggukan dan meronta kecil. Seluruh tubuhnya diikat kuat pada sebuah kursi penelitian dan mulutnya diikat dengan kain. Begitu kuatnya hingga ujung bibirnya robek.

Rambut coklatnya bahkan sudah acak dan ia tidak bisa terlalu melihat lagi. Ada sesuatu yang salah dengan matanya. Matanya tiba-tiba kabur setelah orang ia menyuntikkan sebuah cairan.

" Hai hai gadis manis...ahh siapa namamu? Hanji?"

" MMMHHH!" Hanji menggeleng kuat dan ia menangis. " MMMHHHH!"

Orang itu datang dan berjongkok di hadapan Hanji. Ia menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan. Seringai tercetak di wajahnya.

" Ckckck...gadis manis" Ucapnya. " Kau tidak boleh melawan seperti itu...lihatlah apa yang ku bawa hari ini!"

Hanji membulatkan mata melihat sebuah botol berisi cairan bening yang tidak ia ketahui namanya. Tapi yang jelas, apapun yang orang itu bawa selalu berbahaya dan beracun.

Lihatlah seluruh tubuh Hanji. Luka bekas sayatan dan jarum suntik telah menghiasi kulit mulus gadis sekecil dirinya. Bahkan ada beberapa luka menghitam yang menghiasi beberapa bagian kulitnya.

Wajah Hanji menjadi merah dan sembap akibat terlalu banyak menangis. Hanji sendiri bahkan sudah mulai lupa rasanya cahaya mentari sejak ia disekap di dalam ruangan ini tanpa jendela ataupun pintu.

Yang ia rasakan setiap hari hanyalah rasa obat dan bau medis.

Hanji rindu ibunya. Dia rindu keluarganya. Dia rindu adiknya.

Dia tidak ingin ini semua. Hanji ingin keluar.

Kenapa harus ia dari sekian banyak anak di Jepang? Kenapa harus ia yang diculik dan disekap? Kenapa ia yang harus dijadikan kelinci percobaan seorang remaja gila di depannya sekarang?

Remaja itu sebenarnya cukup tampan tetapi jiwanya sudah rusak sepenuhnya.

Otaknya sudah tidak waras dan yang ia lakukan hanyalah membuat Hanji semakin tersiksan jiwa dan badannya. Gadis kecil yang ia katakan sudah memikat perhatiannya sejak Hanji membelikannya es krim karena ia kelaparan di jalan.

Gadis kecil yang benar-benar cocok untuk percobaan dan proyeknya.

Hanji menjerit tertahan saat jemari milik remaja laki-laki itu menyentuh pipinya lembut. Menyapu air mata yang menetes disana dengan jarinya yang dibungkus sarung tangan bedah.

Hanji bahkan masih mampu mencium bau obat-obatan dari tubuh remaja itu.

Entah apa yang terjadi padanya, tubuh remaja itu makin kurus setiap harinya. Ia menolak makan makanan apapun dan selalu memberikannya pada Hanji. Hal itulah yang membuat Hanji harus bingung antara harus prihatin atau membencinya.

Di satu sisi, dia akan memarahi pembantunya hingga mengancam akan membunuh jika Hanji ditelantarkan oleh orang-orang di rumahnya. Biarpun tubuhnya masih diikat, terkadang remaja itu akan menyuapinya makanan yang enak dan bersikap baik.

Tapi di satu sisi, ia akan menjadi benar-benar gila. Lunatic yang benar-benar sudah tidak bisa ditampung. Menyiksa Hanji dengan menyayatnya sedikit demi sedikit. Menyuntikkan berbagai macam obat dan cairan. Menyuruhnya memakan pil yang baunya saja sudah dapat membuat Hanji pingsan.

" Tenanglah gadis manis..." Remaja itu menyentuh rambut coklat milik Hanji lembut. "Semuanya akan segera berakhir...kau akan bebas aku akan bebas...semuanya akan berakhir sayangku..."

Hanji menutup matanya seketika saat jarum suntik itu menyentuh lengan kanannya yang terekspos bebas. Gadis kecil itu meronta-ronta kecil agar remaja itu mau berubah jadi baik kembali. Hanji hanya ingin sisi lembut dan perhatian remaja itu.

Dia tidak ingin sisi gilanya.

" Mmmmhhhh!" Hanji menangis keras karena jarum suntik itu sudah mulai masuk ke dalam jaringan kulitnya. " Huuummmm! Mmmmhh...h-hksss.."

Remaja itu mencium dahi Hanji sambil menutup mata. Tangannya masih setia memasukkan jarum suntik itu ke dalam kulit Hanji sedangkan Hanji kecil hanya bisa menggerakkan kepalanya lemah karena ia tidak sanggup melawan dua sisi yang muncul di hadapannya sekarang.

Sisi si baik yang mencium dahinya dan sisi si jahat yang masih setia memasukkan cairan asing itu ke dalam jaringan kulitnya.


.

.

.

.

.

.

.

Hanji membuka matanya. Ia bisa melihat raut ibunya yang bahagia dengan kehadirannya dan wajah ceria adiknya karena ia telah kembali.

Tapi kenapa...

Kenapa mereka masih mengikatnya di kasur?

Kenapa ia tidak bisa menyentuh ibunya?

Hanji menggerakkan badannya yang diikat kuat dengan tali dari kulit itu. Sedikit demi sedikit ke kiri dan ke kanan. Matanya menatap ibunya datar tetapi mulutnya mulai terbuka ingin mengatakan sesuatu.

" Okaa-san..." Panggil Hanji.

Bunyi gemerincing pengait besi pada talinya mulai makin jelas terdengar saat Hanji kecil juga semakin bergerak. Gadis itu menggerakkan tubuhnya kuat di atas kasur putihnya dan menggerakkan kaki.

" Okaa-sa...Okaa-san...kenapa Hanji diikat?" Hanji bertanya dengan suara agak ditinggikan. " Okaa-san... kenapa Hanji diikat?"

Ibu Hanji tersenyum pilu dan menutup mulutnya. Adiknya menenangkan ibunya dan ibunya mulai menangis. Melihat Hanji dan berusaha tersenyum sambil menggeleng. Tapi Hanji masih dapat dengan jelas melihat ibunya menangis sambil tersenyum.

Hanji ingin menyentuh ibunya. Dia ingin memeluk ibunya.

Dia rindu ibunya...dia rindu adiknya...

" Semuanya akan berakhir sayangku..."

Hanji tersentak. Gadis itu seketika berteriak dengan suara melengking dan meronta. Teriakannya menggema di ruangan serba putih itu. Hanji menutup matanya kuat dan menangis sekeras yang ia bisa saat ia mendengar hal itu lagi.

" Kau akan bebas aku akan bebas..."

" Semuanya akan berakhir sayangku..."

Hanji menggerakkan tubuhnya yang diikat dengan liar. Ia menangis dan menjerit. Hanji bahkan menendang sprei putihnya hingga hampir jatuh ke lantai. Matanya tidak sengaja menatap ibunya yang hanya bisa makin terisak dan diam bersama adiknya.

Beberapa orang masuk ke dalam ruangannya. Memegangi badannya.

Hanji makin meronta saat sebuah jarum suntik di dekatkan padanya oleh seorang dokter. Tapi di dalam pikirannya, kenapa harus remaja itu yang muncul?

" Semuanya akan berakhir..."


.

.

.

.

.

.

Eren kecil memandangi sungai Thames di depannya dengan pipi tergembung. Mata sehijau emeraldnya beralih memandang gadis asia dengan syal merah disampingnya dengan raut bosan.

" Mikasaa~" Panggil Eren lucu.

Tapi Mikasa masih asyik dengan buku di tangannya dan tidak menghiraukan bocah yang berusia lebih muda 1 tahun darinya. Eren mulai mendengus tidak suka dan tangan mungil bocah berdarah Jerman itu mulai menarik syal merah Mikasa.

" Mikasaaaa~" Panggil Eren sekali lagi dengan nada sedikit ditinggikan. " Aku bosaaan~"

Mikasa menutup bukunya dan menjauhkan tangan Eren yang masih setia bertengger di syal merahnya. Gadis bermarga Ackerman itu menyipitkan mata ke arah bocah berusia 7 tahun yang duduk disampingnya ini.

Padahal mereka baru bertemu sekitar 1 minggu yang lalu setelah ayah Eren, dokter dari Jerman yang dipanggil oleh ayahnya untuk menyembuhkan Mikasa, datang. Keluarga Ackermana bersedia untuk membawa anak-anak mereka liburan di London.

Mikasa hanya mampu memasang wajah datar saat Eren dihadapkan padanya.

Dia anak laki-laki yang manis sebetulnya. Mata hijau emeraldnya yang bersinar lembut dan gerakan lincahnya mampu membuat hati siapapun meluluh. Bahkan Eren tidak takut saat melihat wajah datar Mikasa dan mengajakknya berkenalan.

Bahkan ide untuk mengunjungi sungai Thames adalah idenya.

Hanya saja...Eren ingin ditemani Mikasa.

" Ada apa Eren?" Sahut Mikasa. Rambut hitam sebahunya terkibas angin yang berasal dari sungai Thames.

Eren menggembungkan pipinya dan menarik tangan Mikasa untuk berdiri. " Ayo kita jalan-jalan lagi..aku bosan~"

Mikasa menelengkan kepalanya bingung. " Padahal baru 20 menit yang lalu kau menyuruhku untuk tinggal sebentar disini dan kau sudah mengajakku untuk jalan-jalan lagi? Kakimu tidak lelah?"

Eren menggembungkan pipinya lagi dan mencebikkan bibirnya ke depan. Bocah bermata hijau itu menggelengkan kepalanya lucu. " Tidak...karena ini baru pertama kali ku ke London!"

Mikasa menghela nafas. " Baiklah..."

Wajah Eren langsung berubah bahagia dan bocah kecil itu meneriakkan sebuah kata dalam bahasa Jerman sambil terus berlari mendahului Mikasa yang setia mengekorinya. Eren berlari riang di sekitar jalanan di samping sungai Thames.

" Hei kau Arlert!"

Mikasa dan Eren spontan berhenti saat mendengar suara gertakan dari sebuah gang kecil di samping toko buah. Eren berbelok kesana dan diikuti Mikasa. Kedua bocah itu mengintip di balik tembok apa yang sedang terjadi.

3 orang anak laki-laki berseragam sebuah sekolah asrama daan seorang anak kecil laki-laki lainnya yang meringkuk sambil memegangi buku tebalnya kuat. Anak berambut pirang itu terisak saat 3 anak-anak penggencet itu mulai meneriakinya.

Mereka mengambil buku di tangannya kasar dan membuangnya.

Mata biru anak berambut pirang itu memancarkan sinar ketakutan dan anak-anak penggencet itu menertawainya. Bahkan salah seorang dari mereka menendang tas hitamnya hingga mengenai ujung bak sampah.

" Mereka..."

Mikasa terkejut saat melihat perubahan wajah Eren. Alisnya menukik tajam dan matanya berkilat tidak suka. Tangan Eren terkepal kuat melihat perbuatan mengerikan anak-anak penggencet itu pada anak pirang itu.

" Hei Arlert! Kau sudah berjanji pada kami untuk mentraktir kami makanan kan!? Tapi kenapa kau malah mengadukan kami kepada kepala sekolah hah!?"

Badan Armin bergetar takut. Dia hanya bisa meringkuk dan menghindari untuk menatap wajah anak-anak yang suka membully-nya sejak ia masuk ke dalam asrama dan akademi terkenal di London itu.

" Kau ingin mati hah!?" Ancam salah satu dari mereka.

Armin menggeleng dan terisak. Mereka mendecih dan menendang badan Armin yang meringkuk ketakutan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik lututnya dan hanya berharap kalau ada yang mau membantunya.

" Hei jawab kau bodoh!"

Anak yang paling tinggi di antara mereka mulai menarik kerah jas milik Armin. Yang ditarik hanya bisa mengerang tertahan dan menutup matanya ketakutan. Anak penggencet itu menarik tangannya. Membuat sebuah kepalan yang bila dihantamkan, Armin yakin akan menimbulkan cedera berat atau mungkin patah tulang.

" YAK BERHENTI KALIAN!"

Eren berdiri di hadapan mereka dengan alis menukik tajam dan tangan terkepal. Rautnya mengeras dan mata hijaunya berkilat kesal. Tubuhnya memasang pose menantang. Mikasa tersentak melihat keberanian Eren.

Ketiga anak penggencet itu menghampiri Eren dan menjatuhkan Armin begitu saja ke tanah. Armin sendiri segera meringkuk dan memeluk bukunya. Mata birunya menatap Eren dengan sangat khawatir.

Mikasa pun tersentak saat Armin menatap ke arahnya. Yang masih berdiri di depan gang dan tidak mengikuti Eren.

" Kau siapa!?"

Eren membalasnya dengan menginjak salah satu dari kaki anak-anak penggencet itu. "Jangan ganggu dia! Apakah membully yang lemah sudah jadi kebiasaan orang-orang seperti kalian hah!?"

" AKH SIALAN!"

Yang diinjak segera mengumpat dan menarik kerah jaket berwarna hijau yang dimiliki Eren.

Armin berteriak takut saat mereka mulai terlihat ingin memukuli Eren dan menggencetnya lebih parah dari dirinya. Bocah berambut pirang itu bingung harus melakukan apa karena dia tidak kenal Eren samasekali ataupun gadis asia yang berdiri di depan gang dengan wajah syok dan dingin?

" Kau bukan darisini..." Salah satu dari mereka menunjuk hidung Eren.

Eren mendengus. Dengusan Eren secara tidak langsung membuat mereka makin panas dan ingin memukulinya.

" Hei dengar yang orang asing! Jangan ikut campur urusan kami bila kau tidak ingin dipukuli!"

Eren membalasnya cepat. " Tapi kalian ingin memukulinya! Aku tidak bisa membiarkannya!"

" Dia ingin cari mati ternyata..."

Ketiga anak itu menahan badan Eren. Mereka menarik kerah jaketnya lebih tinggi hingga lehernya terdongak. Eren seketika mengerang keras karena mereka seperti tidak membiarkan Eren unutk bernafas dengan benar.

Saat tangan salah satu anak itu sudah terkepal kuat dan ingin meninju wajah Eren, disitulah Armin mulai berteriak.

" HEY JANGAN!"

" EREN!"

BUGGGHH!

BRAAAAKK!

" Ouccch!"

Eren jatuh terduduk ke tanah dan seketika mengangakan mulutnya melihat Mikasa di hadapannya. Gadis itu memasang wajah dingin dan tatapan tajam andalannya. Ia mengepalkan tangan dan berhasil memukul mundur salah satu dari mereka.

" Berdiri kalian" Mikasa mengancam mereka dengan aura membunuh yang besar dan suara yang berat. " Berdiri sekali lagi, maka kalian yang cari mati denganku..."

Mereka bertiga spontan berlari takut karena seumur-umur mereka berkelahi, belum pernah ada yang berhasil menjatuhkan mereka dengan sekali tarikan tangan. Seperti pegulat yang langsung menjatuhkan lawannya.

Mikasa segera berlari ke arah Eren dan menarik lengan orang yang mengepalkan tangan. Membantingnya dengan sangat kuat ke tanah dan menendang paha kanannya hingga yang dipukul, mundur 1 meter ke belakang.

Armin membulatkan mata melihat gadis itu.

Padahal badannya termasuk kecil daripada ketiga penggencet itu. Tapi kekuatannya setara dengan para pegulat.

Mikasa berhenti memasang pose berkelahi dan membersihkan kedua belah tangannya. Gadis itu menarik tangan Eren dan membantu bocah berdarah Jerman itu untuk berdiri. Mereka berdua segera berlari ke arah Armin.

Eren membantu Armin berdiri sedangkan Mikasa mengambil tas Armin dan memungut bukunya.

" Kau tidak apa-apa?" Tanya Eren khawatir.

Armin menggeleng pelan. " Tidak apa-apa...kalian juga?"

Mereka berdua mengangguk bersamaan. Eren tertawa dan menepuk bahu Armin riang.

" Namaku Eren Jaeger!" Eren menjulurkan tangannya ke hadapan Armin. " Yang disebelahku adalah Mikasa..."

" Mikasa" Mikasa menggangguk. " Mikasa Ackerman"

Armin menggigit bibir bawahnya. " Namaku Armin Arlet..."

"Kenapa kau sampai bermasalaha dengan anak-anak penggencet itu?" Potong Mikasa.

Eren dan Armin langsung menatap Mikasa dengan tatapan bingung. Armin memainkan jemarinya dan Eren yang masih saja memasang wajah tidak mengerti.

" Kau kelihatan sering dibully...kenapa kau tidak melawan?"

Armin mengambil bukunya dan memeluknya. " A-aku...aku tidak bisa"


.

.

.

.

.

Levi berdiri di tengah-tengah sebuah gedung tempat anak-anak Maria HighSchool berkumpul. Semuanya ia habisi sendirian. Ia tidak memperbolehkan siapapun untuk ikut bersamanya dalam mencari Eren.

Tugas mereka adalah membersihkan daerah kekuasaan mafianya dari anak-anak Maria Highschool. Sedangkan tugas mencari Eren dan berhadapan dengan gadis berbahaya itu adalah tugasnya sendirian.

" Katakan kepadaku... dimana Yuii"

Levi berdiri di depan salah satu tubuh siswa yang sadar. Ia menodongkan senapan peraknya di hadapan kepala anak maria Highschool itu. Raut Levi datar dan dingin. Seolah-olah seluruh warna telah hilang dari dirinya.

" A-aku...a-aku tidak tahu!"

Levi tersenyum miring. Jemarinya di pelatuknya bergerak pelan. Wajah meremehkan tercipta di wajahnya. Pemuda bermata tajam itu mendekatkan senapannya menuju dahi salah satu siswa yang sadar itu.

" Aku sudah mencium kebohonganmu" Levi memasang wajah datar. " Tapi sayangnya−"

Siswa itu membulatkan mata saat mendengar bunyi pemantik peluru yang dibuka pada senapan milik Levi.

Levi mendecih. "−aku bukan orang yang sabar"

BAAANGGGG!


.

.

.

.

.

Mikasa menjatuhkan berkas di tangannya. Ia datang dan menendang...

Ya, menendang pintu ruangan ayahnya. Persetan dengan sopan santun selama ini. wajahnya memerah padam karena marah dan kecewa dengan ayahnya. Kenny tentu saja kaget dengan sifat Mikasa yang hampir-hampir mirip Levi saat meninggalkan rumah.

" Apa ini semua!?" Teriak Mikasa.

Gadis itu menunjuk ke luar berang. " Apa maksudnya Eren dan Armin masuk sekolah Levi!? APA MAKSUDNYA SEMUA INI AYAH!?"

Kenny mengerutkan dahi. " Sekolah Levi? Apa maksudmu?"

Wajah Mikasa makin merah akibat emosinya yang benar-benar meledak. Gadis itu menghampiri meja kerja ayahnya dan menghentakkan tangannya begitu kuat disana hingga suaranya bahkan sampai ke kamar ibunya yang berjarak 2 koridor dari tempatnya.

" Aku yakin ini bukan kebetulan!" Mikasa menatap Kenny tajam. " Ini bukanlah kebetulan kalau Eren dan Armin masuk sekolah Levi! Ini sudah direncanakan dan bukanlah sebuah kebetulan kalau mereka tidak tahu tentang sekolah ini!"

Kenny melepas kacamatanya dan mengerutkan dahi. " Jaeger dan Arlert? Mereka masuk sekolah berandalan? Bagaimana bisa? Aku sudah merekomendasikan Sina Highschool pada ayah Eren dan kakek Armin. Bagaimana mereka bisa salah masuk?"

Mikasa terdiam. " Kau...Ayah tidak tahu hal ini?"

" Apakah ada salah prosuder?" Kenny membuka laci mejanya dan mencari berkas Eren dan Armin. " Rasanya aku sudah mengecek kepindahan mereka... mereka harus segera dikeluarkan"

Mikasa mendesis. Bukan ayahnya yang merencanakan semua ini tapi...

" Tunggu dulu..."

Mikasa menatap ayahnya tajam. "Siapa yang memegang prosuder sekolah Eren dan Armin selain ayah?"

Kenny menatap putrinya itu dengan raut mengingat-ngingat. " Seingat ayah... Ayah Erenlah yang memegangnya karena ia bilang kalau ia ingin memantau Eren di Jepang termasuk sekolahnya"

Mikasa membulatkan mata.

" Tidak mungkin..."

" Ayah Eren yang..."

Mikasa membalikkan badan. " Ayah...berikan aku nomor telepon keluarga Jaeger sekarang"

Kenny masih saja kebingungan. " Dengan Hannes. Dia yang mengantar Eren dan Armin ke sekolah pertama kali dan menjemput mereka berdua dari bandara atas suruhan ayah Eren"

Mikasa memasang wajah syok dan mengusap wajahnya kalut sambil duduk di sofa milik ayahnya.

" Ada yang tidak beres disini..."

.

.

.

.

T

B

C

XD

Halo readers!

Ada yang kangen w?

Sorry banget misalnya w hiatusnya terbilang lama banget. Jadi w harus belajar ekstra dan meninggalkan semuanya termasuk ff w untuk sementara waktu tapi w bakalan kambek lagi ^^

Hehehehe...nunggui war yeh?

Sorry juga misalnya di chap ini belum war hehehe...*dimutilasi readers* Soalnya flashback semua orang di ff ini berpengaruh untuk ending ke depannya. W menjanjikan ff ini happy ending tapi kalau ending setiap tokoh...

Nah...w tidak bisa berjanji mereka semua happy ending ngehehehe...* ketawa sadis* *dibuang ke mulut titan*

Maka dari itu...sebelum war...nyantai dulu yekan?

Kita putar ulang masa lalu mereka semuah...bahkan ini belum semua loh ^^ beberapa nanti dijelaskan saat war atau sesudah war. Beberapa masa lalu memang ada yang plot twist dan memainkan peran kejiwaan atau kondisi mental mengingat mereka semua ke depannya di buang ke sekolah berandalan

ngehehehehehehe...

tapi beberapa kagak sesadis yang ada :V

tapi pokoknya...chap depan ane janji war dah...ane janji banyakin rirennya juga...

minta ENCEH DAN RATE DUA PULUH TAHUN KE ATAS...

W usahain udah ada..:v

Diusahain ya...bukan janji karena ane mau tobat bentar:V

Mind to Rnr?