Chapter 22

.

.

.

.

.

An Attack on Titan Fanfiction

.

.

.

Cast :

All Snk Characters and My Oc

.

.

.

Pairings :

Riren ( Main)

Erumin

Jean x Armin

and another pairing ( soon)

.

.

.

WARNING!

This is positive YAOI!

Rated M ( Adult and Mature)

BL ( Boys Love)

Mature and adult contents

Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath

Smut and kinda hard sex

.

.

.

Genre:

Crime

Romance

Adventure

Hurt Comfort

.

.

.

Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai

saya hanya meminjam ^w^

.

.

.

Hope you enjoy it ^^


" Ehmm..."

Armin membuka matanya berat. Pemuda berambut pirang itu menggumam sambil sesekali menggosok mata biru langitnya. Dia menyipitkan mata saat seberkas cahaya berwarna jingga menyapu wajahnya dan membuat penglihatannya kabur. Pemuda itu sedikit demi sedikit mulai bangun dari posisi berebahnya. Menumpu tubuhnya dengan siku.

" Kau sudah bangun?"

Armin menatap sekitar tubuhnya dan tersadar kalau ia tidur di kursi dan diselimuti.

" Ya..." Jawab Armin dengan suara serak. " Ini sudah jam berapa?"

Pemuda berambut pirang itu menatap pemuda jangkung yang duduk di sebelah kakinya yang diselimuti. Pemuda jangkung itu menggigit rokok yang menyala. Pemuda dengan rambut sewarna tan itu memoles sebuah pedang yang cukup panjang untuk membunuh dengan sebuah lap bersih.

Armin seketika tersedak ludahnya sendiri. " J-jean...K-kau mau apa?"

" Tentu saja bersiap untuk membunuh" Jean berdecak. " Kami semua akan berangkat untuk berhadapan dengan para bajingan dari Maria Highschool itu"

Armin yang mendengar itu segera bangkit sepenuhnya dari posisi berebahnya, ia menjauhkan selimut dari tubuhnya dan berbalik untuk memeluknya. Pemuda berambut pirang itu sendiri menatap takut ke arah Jean yang terlihat benar-benar sangar dan menggigit bibir bawahnya kuat. Meringis beberap kali saat bunyi desingan pedang terdengar mengerikan di telinganya.

" Sebaiknya kau diam disini saja pirang" Jean menghisap rokoknya kuat sebelum membuang puntung itu dan menginjaknya hingga apinya mati. Ia menghembuskan asap pekat dari dalam mulutnya. " Jika kau masih ingin tubuh lemahmu itu tidak terbunuh, sebaiknya jangan sekali-kali kau keluar dari sekolah ini"

Armin mengernyitkan dahi dan menatap jendela sekolah yang menunjukkan matahari terbenam. " Tapi ini hampir malam−aku harus pulang."

Jean melirik Armin dari ujung matanya.

" Apa katamu tadi?" Ucap Jean dengan nada teramat datar. " Kau harus pulang?"

Pemuda pirang itu terdiam sesaat setelah ia melihat lirikan Jean yang entah kenapa saat ini bukanlah Jean yang ia kenal. Tatapan itu dingin dan tanpa hati.

Pemuda berambut tan itu memajukan badannya. Dia menatap Armin dengan alis menukik tajam dan rahang mengeras. Armin sendiri sampai memundurkan tubuhnya dan menarik selimut itu sampai hidung.

Armin sampai harus menumpu badannya yang semakin mundur dengan siku karena Jean sendiri yang makin memajukan tubuhnya. Mengintimidasi dan mengancam Armin dari tatapan matanya yang berkilat ganjil.

" Dengar ya bocah pirang..." Jean mendesis kuat. " Aku tidak akan bertanggung jawab atas kematianmu karena kelalaianmu sendiri dan pulang sendirian di situasi seperti ini. Diluar sana banyak anjing-anjing bajingan yang mengincarmu dan kepalamu. Kau murid sekolah ini sekarang...kau adalah bagian dari kami. Biapun kau punya wajah sepolos anak kecil ingusan itu−"

Jean menunjuk hidung Armin dengan pisaunya. " −Kau tetap akan mati seperti kecoak yang diinjak-injak sebagai bagian dari anjing-anjing kami"

Armin spontan mengganguk takut. Mata biru langit milik Armin kembali berkilat gelisah karena Jean menatapnya seperti pembunuh haus darah. Bahkan Armin sendiri tidak bisa membaca hati Jean lagi lewat matanya.

Terlalu dingin. Ia seketika berubah. Tidak seperti Jean sebelum Armin tertidur.

" T-tapi Eren..." Sambung Armin lirih. " B-bagaimana dengannya?"

Bukannya menjawab, Jean malah makin memoles pedangnya. Pemuda itu menjauhkan tubuhnya. Menghiraukan perkataan Armin dan fokus untuk membuat benda tajam di genggamannya cukup tajam. Cukup tajam untuk menebas lusinan atau mungkin puluhan kepala.

GREEEP!

Jean mengerutkan dahi dan spontan membalikkan kepalanya. Pemuda itu menatap bingung ke arah Armin yang tiba-tiba saja menarik lengan jas merah marunnya. Menarik dengan sangat erat hingga rasanya seragam yang di dalam juga tertarik.

" A-apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?" Tanya Armin gugup. Saking gugupnya ia tidak sengaja meremas lengan seragam Jean terlalu kuat. " Apa yang t-terjadi?"

Jean mendengus kasar dan menjauhkan tangan Armin.

" Intinya saja bocah pirang...saat salah satu dari kami disakiti oleh sekolah lain, kami tidak akan tinggal diam. Tidak pernah. Kami menjunjung solidaritas sebagai slogan kami. Nah teman kepala batumu itu diculik dan harga diri kami diinjak-injak. Sudah cukup orang di sekitar kami menganggap kami sampah masyarakat, harga diri kami dalam kekerasan tidak usah diinjak-injak lagi"

Jean menunjuk hidung Armin. " Apakah kau pernah dengar 'SurveyCorps' saja? Tanpa embel-embel sekolah hah bocah pirang?"

Armin menggumam kecil. " SurveyCorps? Tanpa embel-embel sekolah? B-bukannya ini nama mafia di T-tokyo yang t-terkenal? Aku pernah membacanya di k-koran minggu lalu. Eh..tapi tunggu du−"

Pemuda berambut pirang itu membulatkan matanya. Ia seketika menatap Jean yang menyeringai dengan kilat mata mengerikan itu dengan wajah syok. Armin bahkan beberapa kali membuka menutup mulutnya tidak percaya.

Pemuda berdarah Inggris itu menatap jas merah marunnya yang bergambarkan sayap dengan dua pedang dengan mata melebar. Ia menutup mulutnya saat ia sadar nama dan lambang sekolahnya.

Berapa hari ia sudah disini dan ia masih tidak menyadarinya?

" J-jangan bilang..." Armin mencengkram lengan Jean. " J-jangan bilang k-kalian..."

Jean menghampiri Armin. Menarik kepalanya hingga wajahnya bertubrukan dengan dada Jean. Telinga Armin sejajar dengan bibir Jean.

" Seperti yang kau tahu pirang...ah bukan−Kau Armin" Jean berbisik lirih. Ia mengangkat seringai. "−selamat datang di sekolah buangan kriminal dan markas pasukan mafia Survey Corps. Kau bagian dari kami sekarang"

"A-a..."

Wajah Armin memerah. Peluh dingin menjalar dari lehernya dan merambat ke seluruh tubuh mungilnya. Ia bahkan tidak mampu lagi mengontrol rasa syoknya.

Jean sendiri menjauhkan kepala mungil Armin dan memberikan waktu untuk pemuda itu bernafas. Ia terlihat masih syok dan menatap Jean dengan pandangan kosong. Tubuhnya memang disini tapi pikiran Armin ke lain.

" Jika kau khawatir tentang teman kepala batumu itu..." Decak Jean. " Dia aman di tangan ketua. Yang harus kau kawatirkan sekarang bocah pirang−bagaimana hidupmu sekarang?"

Armin mengecilkan suaranya. " H-hidupku? Maksudmu a-apa?"

Jean mengangkat pedangnya ke atas kursi. Meletakkannya di atas paha Armin dan membuat pemuda berambut pirang itu terlonjak kaget dan memekik. Memancing kekehan dari Jean. Pemuda berambut pirang itu bahkan mencoba menjatuhkan pedang yang masih memiliki bercak darah itu ke lantai.

" Kami disini akan bertarung. Kau bagian dari kami sekarang. Memang kau mendapat perlindungan dari kami tapi tetap saja, mereka akan memburumu pirang" Jelas Jean.

Pemuda itu melemparkan sebuah pisau ke arah Armin.

Armin meraih pisau itu dengan hati-hati. " Ini untuk apa?"

Jean berdiri dan meraih pedangnya. " Jaga-jaga. Jangan sekali-kali kau keluar darisini karena kami akan bertarung. Dimanapun kau berada jika kau masih memakai sesuatu dengan lambang kami maka kau akan dibasmi oleh Maria Highschool."

" Kau sendiri mau kemana?" Armin menggigit bibir bawahnya.

Jean mendengus. " Memburu anjing-anjing liar yang menjengkelkan"


.

.

.

.

" Baiklah... ini atas perintah ketua" Nanaba menjelaskan pada selusin siswa berandalan yang mengelilinginya di dalam salah satu ruangan gedung.

Nanaba menatap tajam siswa-siswi dengan seragam dan lambang sekolah mereka itu. " Kita akan mengincar mereka di gedung ini. Ini adalah salah satu gedung tua yang banyak diabaikan oleh masyarakat sekitar dan oleh Maria Highschool sendiri di Kyoto. Tapi aslinya−"

Salah satu siswa dengan senapan sniper laras panjang di tangannya menyambung perkataan Nanaba. "−aslinya inilah kekuatan kita sebagai sniper"

Nanaba mengangguk mengiyakan perkataan siswa itu. " Ini jauh dari pemukiman dan Hanji akan memancing para siswa Maria kesini. Untuk mencegah military police kesini, 3 dari kalian akan membidik ke arah kota dan aku berusaha mengalihkan perhatian mereka. Jika aku gagal, kuharap pasukan pembidik siap dipenjara"

Salah satu siswi dengan rambut dikuncir terkekeh dan menghempaskan batang permennya ke lantai kotor tingkat 3 gedung tua yang retak. " Ha! Bahkan kami siap dieksekusi! Tidak ada istilah menyerah lagi setelah kita masuk ke SurveyCorps dan jadi bagian mafia"

Nanaba berdiri dari posisi jongkoknya dan mengangkat katananya ke bahu. " Rapat selesai dan kembali ke pos"

Selusin siswa yang berkumpul tersenyum dan tertawa. Mereka menepuk bahu satu sama lain dan menyampirkan senapan ke badan mereka. Raut mereka menunjukkan kalau mereka senang sekali diberi misi membunuh.

" Jangan sampai kau yang dibidik!" Teriak mereka.

Siswa lain berdecak sambil berlari ke tempat mereka masing-masing. " TIDAK SEMUDAH ITU MEREKA MEMBIDIKKU BODOH!"

" KAU YANG BODOH!" Sahut salah satu dari mereka yang tetap tinggal di tempat Nanaba. Ia memasukkan peluru ke dalam senapan dan tersenyum saat semuanya terpasang rapi dan siap ditembakkan ke kepala orang. " KAU KAN MEMANG BEBAL DASAR OTAK KATAK!"

Nanaba tersenyum singkat. Sedangkan mereka saling teriak dan menyahut dari tempat berbeda di gedung tua berlantai 5 itu. Saling memaki dan menyumpah. Terkadang mereka tertawa dan mengecek senapan mereka di pos masing-masing.

" SIAPAPUN YANG MENDAPAT HEAD-SHOOT TERBANYAK, AKAN KUTRAKTIR SELAMA SEBULAN PENUH!"

" HAH!? BERSUMPAHLAH KAU KEPARAT!"

" AKU BERSUMPAH DASAR BRENGSEK!"

" JELAS AKU YANG PALING BANYAK!"

" AKU YANG PALING BANYAK, BOCAH!"

" AKUU! JANGAN HARAP KALIAN BERHASIL MEMATAHKAN REKORKU DASAR ANJING-ANJING JALANAN!"

"LEBIH BAIK JADI ANJING JALANAN YANG MENCARI MAKANAN SENDIRI DARIPADA JADI ANJING BUDAK YANG DISIKSA!"

" SIALAN KAU!"

Nanaba meninggalkan gedung itu dan berteriak hingga satu gedung dapat mendengarnya. " BERJUANGLAH KALIAN!"

Seluruh raut dari siswa-siswi sniper itu berubah. Mereka mengangkat senyum, tetapi kilat membunuh tercetak di mata mereka. Mereka semua punya masa lalu yang sama. Kelam dan dibuang. Tidak berguna. Tapi Levi mengerti mereka karena semunya terkumpul di sekolah yang isinya adalah anak yang seharusnya baik, tetapi karena masyarakat sendiri, mereka berubah.

Nanaba keluar dari gedung pengap itu dan dihadapkan ke sebuah jalanan dan perumahan kotor yang terisolasi. Ditinggalkan penduduknya karena insiden ,tapi anehnya ada sebuah kuil kecil berbentuk rumah tradisional miniatur di samping gedung itu.

Gadis itu bahkan melihat masih banyak pohon sakura yang mekar.

Nanaba berjalan menghampiri kuil kecil itu. Ia duduk bersimpuh. Meletakkan katananya di depan kakinya. Gadis itu menangkupkan tangannya dan menundukkan kepala dalam. Angin berhembus di samping telinganya dan membunyikan lonceng kuil yang tidak terurus itu lagi.

" Tolong bantu aku Kami-sama..." Nanaba berucap lirih. " Aku siap menanggung semua dosaku asalkan Levi dapat berubah kembali. Asal keluarga yang terpecah ini bersatu dan semua siswa disini berubah.

Lonceng kembali berbunyi berulang kali akibat hembusan angin. " Kami semua menjadi seperti ini karena tidak ada yang mau mendengar rasa sakit kami. Tidak ada yang mau peduli dan percaya apa yang kami rasakan. Kami-sama...tidak ada yang pernah percaya pada kami... Jika kehadiran Eren sudah direncanakan, jika takdir sudah digariskan...kumohon bantu aku. Bantu kami semua..."

Bibir Nanaba bergetar. " K-kumohon bantu aku..."

Nanaba menurunkan tangannya dan mengangkat kepalanya. Matanya menatap katananya yang tergeletak di hadapannya dan di hadapan kuil dengan nisan bertuliskan kanji. Gadis itu menarik katana dan menancapkannya kuat ke tanah.

" Ojii-san selalu percaya kalau Levi adalah orang yang kuat dan teguh" Nanaba menatap nisan kuil. " Maka sesuai kata-kata ojii-san sebelum meninggal...aku akan setia mendukung Nii-san biarpun bayarannya nyawaku"

Nanaba berdiri dan mencabut katananya. Ia menatap kuil kecil itu sebentar sebelum berbalik menuju ke arah kota. Pandangannya mengeras seperti selama ini ia di sekolah itu. Ia rela melakukan kejahatan hanya untuk mengembalikan apa arti keluarga dan kasih sayang seluruhnya pada Levi dan murid-murid yang ia urus.

Ia percaya kalau Levi tidaklah sesadis itu.

Ada sisi lain yang selalu disembunyikan pemuda itu selama ini.

Yang hanya bisa dibongkar Eren dalam waktu seminggu.

Nanaba menatap Farlan yang telah menunggunya 3 blok dari gedung tempat para sniper andalan mafia dan sekolah berkumpul. Pemuda itu telah siap dengan pedangnya. Menunggunya dengan senyuman ganjilnya.

Senyuman membunuhnya yang luar biasa mengerikan.

" Yo Nanaba..." Sahut Farlan. " Lama sekali sejak kulihat kau turun tangan bertarung. Biasanya kau lebih memilih tinggal di sekolah dan mengurusi tawanan atau anggota kita yang terluka"

Nanaba menghampiri Farlan yang bersender di sebuah toko kecil yang sudah lama ditinggalkan. Pemuda itu memain-mainkan pedangnya dan membelah beberapa kotak kayu yang terabaikan.

" Kali ini berbeda Farlan..." Nanaba menyahut. " Sesuatu akan berubah"

Farlan mengiyakan. " Eren Jaeger−dia seperti malaikat jatuh. Dia salah jatuh tapi anehnya bulunya menghapus dosa kita semua disini. Seolah-olah bocah itu secara tidak sadar membantu kita mendapati siapa kita yang sebenarnya"

Nanaba menghela nafas dan menatap jalanan di depannya yang sepi. " Pasukan sudah siap?"

" Kkkk..." Kekeh Farlan. Pemuda itu menegakkan badannya. " Aku benar-benar benci orang-orang yang menyombongkan diri mereka terlebih dahulu sebelum perang dan meremehkan lawan. Eren milik ketua tapi Maria Highschool milik kita"

Farlan menyeringai mengerikan. " Mari kita tunjukkan siapa kita"

Nanaba mengangguk. " Kita tidak bisa mundur lagi sekarang. Para Military Police akan sangat senang melihat kita untuk dimasukkan ke penjara."


.

.

.

.

BRAAAAK!

BUUUGGGH!

" ARRRRGGGGHHH!"

" Ups!" Hanji tertawa mengerikan. " Kalian bermasalah dengan wanita yang salah, gentleman"

Lusinan siswa Maria Highschool bersenjata lengkap hanya bisa menatap sepuluh siswa yang berdarah dan terkapar dengan luka hantaman dan pukul yang mengerikan di hadapan mata mereka. Darah segar bercecer dimana-mana. Kepala mereka bocor dan darah mengalir dari mulut siswa-siswa itu.

Mereka telah meremehkan Hanji.

Gadis berkacamata itu sendiri hanya tertawa dan melenturkan tangannya. Matanya berkilat gila saat menatap lusinan siswa berbadan kekar lainnya yang langsung berubah pucat sesaat setelah ia menghabisi sepuluh siswa yang dengan bodohnya ingin melecehkannya.

" Wow..." Hanji berjalan maju dan tertawa. Ia melangkahi siswa siswa itu santai seolah-olah membuat nyawa seseorang sekarat sudah jadi hal biasa. " Kalian benar-benar merepotkan ya? Sudah ku bilang dari awal aku ingin 5 kotak di belakang kalian itu dikembalikan...tidak susah kan?"

Hanji membuat wajah seimut mungkin sambil membersihkan tangannya yang berlumur darah. " Hm? Tidak susah kan? Aku berjanji tidak akan melukai kalian kalau senjata kami yang kalian curi itu dipulangkan kembali"

Salah satu siswa maju dan menggertak Hanji. Ia menghentakkan kakinya kuat ke lantai dan berteriak nyaring di hadapan gadis itu.

" HEI JALANG SIALAN! KAU KIRA KAMI APA HAH!? KAMI SEMUA AKAN MENGHABISI SAAT INI JUGA KAU KEPARAT KOTOR!" Teriaknya. " JANGAN HARAP SENJATA INI AKAN KEMBALI KE TANGAN SIALANMU KAU BEDEBAH!"

Sorakan pemuda itu segera diiyakan oleh siswa lain di gudang penyimpanan makanan itu. Yang disulap oleh Maria Highschool menjadi markas dan gudang persenjataan. Seketika lusinan siswa itu menodongkan senjata mereka dan senapan ke arah Hanji.

Mereka mengepung gadis itu.

" Ha!" Tunjuk salah satu siswa ke arah Hanji yang terdiam. " Kau bahkan tidak membawa senjata! Kau jelas-jelas akan kami bunuh sialan!"

Hanji mengangkat wajahnya. Ia menatap lusinan siswa di depannya dengan mata mengkilat kelewat gila seperti psikopat akut. Senyumnya berubah menjadi mengerikan dan menakutkan.

Bahkan tawanya terkesan lain.

" Hihihihihi..." Kikik Hanji. " Kalian semua benar-benar unik! Kkkkk...JADILAH KELINCI PERCOBAANKU!"

Salah satu dari para siswa itu tersedak ludahnya sendiri. Ia tiba-tiba memundurkan tubuhnya dari balik kerumunan siswa yang berang karena Hanji masih bisa saja tersenyum dan tertawa. Tidak menyerang ataupun melakukan sesuatu yang menunjukkan kalau gadis itu berbahaya.

Tapi salah satu siswa itu membulatkan matanya kelewat lebar. Wajahnya langsung sepucat orang mati. Peluh dingin sebesar biji jagung seketika meluncur dari balik tengkuknya dan tangan dengan senapannya bergetar. Bahkan ia mundur dengan sempoyongan. Menabrak siswa lain di belakangnya.

" Hei kau kenapa!?" Tegur salah satu siswa. " Musuhmu di depan sana bodoh! Bukan di belakang!"

Tangan siswa itu basah total dan mendingin. " K-kau...kau t-tidak mengerti...d-dia...gadis itu..."

Siswa lainnya mengerutkan dahi dan mendorong tubuhnya dengan senapan ke belakang secara kasar. Membuatnya jatuh terduduk dan ia dapat menatap senyum lebar milik Hanji dari balik kaki-kaki siswa lain.

" D-dia...percobaan..." Siswa itu mundur dengan cara menyeret pantatnya ke belakang secara lambat. Wajahnya benar-benar pucat dan mulutnya terbuka lebar ingin berteriak gila karena ketakutan. Bibirnya bergetar hebat. " D-dia akan m-membunuh kita semua...d-dia akan m-mencincang k-kita..."

Rautnya menunjukkan orang yang dihadapkan dengan kematian mengerikan. " K-kita akan h-habis..."

Hanji memasukkan tangannya ke dalam jas merah marunnya. Mata coklatnya berkilat. Dan senyumnya yang ganjil sudah terangkat sepenuhnya sekarang.

" Kalian tahu...aku kekurangan kelinci percobaan untuk proyekku" Hanji terkekeh dan berjalan makin maju seperti anak kecil. Membuat lusinan siswa lain menelan ludah mereka gugup. " Levi benar-benar baik padaku! Kukira si cebol kurang kalsium dan fosfor itu sama jahatnya dengan setan!"

Hanji membuat tanda tanduk dengan jarinya di atas kepala. " Tapi ternyata tidak! WAHAHAHAHA! AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA KU MEMINTA KELINCI PERCOBAAN! AKU LAGI DIKIRIM! AH SENANGNYA!"

Beberapa siswa yang mengepungnya mulai sadar siapa yang berada di hadapan mereka sekarang. Mereka menelan ludah kelewat berat dan menatap Hanji dengan raut gugup. Pandangan mereka nanar dan senapan di tangan mereka bergetar akibat tangan mereka juga bergetar.

" A-anu...ketua" Salah satu dari mereka berbisik di telinga orang yang meneriaki Hanji. " A-apakah kau yakin d-dia tidak b-berbahaya?"

Sang ketua mengernyitkan dahi dalam. " Apa maksudmu?"

Siswa yang jatuh tadi melihat raut teman-temannya yang mulai sama pucatnya dengannya. Mereka telah salah menyangka Hanji. Mereka kira dia hanyalah salah satu siswa yang dengan bodohnya tanpa persiapan menerobos gudang penyimpanan senjata milik Maria Highschool.

Hanji tersenyum dan menatap lusinan siswa-siswa itu. " Oke...mari kita akhiri basa-basinya"

Sang ketua−pada harfiahnya adalah siswa dengan badan kekar seperti pegulat yang bahkan tidak cocok sama sekali untuk jadi siswa SMA tetapi lebih cocok jadi kuli bangunan−berteriak dan mengangkat senapannya.

Diikuti oleh lusinan siswa lain di belakangnya yang mengangkat senapan dan senjata tajam lain. Tapi beberapa siswa yang sadar hanya bisa meneguk ludah berat menatap Hanji yang seperti menunggu saat tepat untuk memutus puluhan kepala di ruangan besar itu.

" APA YANG KALIAN TUNGGU!?" Gertak pemuda itu kasar. " SERANG WANITA ITU DASAR KALIAN PENGECUT!"

Mereka tidak punya pilihan lain lagi selain mulai berlari maju ke arah Hanji dan berteriak sekeras mungkin. Menarik pelatuk senapan mereka dan menembaki gadis berkaca mata itu dengan puluhan peluru.

Tapi beberapa dari mereka yang saking takutnya dengan Hanji, berteriak dengan nada ketakutan hingga kata-kata SERANG! terdengar seperti SERANG?

" HAHAHAHAHA!" Hanji tertawa lebar.

Ia menyeringai mengerikan saat peluru-peluru itu terarah padanya dan beberapa siswa berlari ke arahnya. Mengayunkan berbagai macam senjata tajam untuk melukainya.

" ARRRGGGHH!"

" AKH!"

" ARRRGG SHIT!"

Lusinan siswa yang di belakang benar-benar kaget saat peluru mereka teredam di bagian dada Hanji dan gadis itu tidak terluka sama sekali. Ia malah berlari ke arah mereka dan mengangkat kakinya setinggi bahu. Hanji menendang siswa di depannya dengan sangat kuat hingga mereka seketika muntah darah saat sol sepatu Hanji mengenai dada mereka telak.

Siswa lain yang belum terkena seketika memundurkan saat beberapa badan siswa yang ada terpental ke belakang sejauh 2 meter dari Hanji. Gadis itu tertawa dan matanya melebar. Ia terus menendang dan memukul beberap siswa yang ingin melukainya dengan sangat kuat.

" KKKKKK...BAGAIMANA RASANYA SAAT SENDI LUTUTMU LEPAS HAH!?" Hanji mencengkram salah satu kaki siswa yang ingin menendangnya tepat di wajah tapi ia keburu sadar. " APAKAH NYAMAN?"

Siswa itu tersentak dan meronta kuat. " J-JANGAN KAU SIALAN! DASAR KAU JAL−ARRRRRGGGGH KAKIKU! KAKIKU PATAH!"

Hanji mencengkram sendi lutut kanan siswa itu kelewat kuat dan mematahkannya dengan sikunya dengan satu hantaman.

Hanji menguap bosan dan melepas kaki siswa itu. " Itu bukan patah namanya dasar bodoh! Itu sendimu lepas!"

Siswa itu terkapar di samping Hanji dan wajahnya memerah. Ia meraung dan mengerang. Meronta-ronta seperti orang kesurupan sambil memegangi kaki kanannya yang bengkok ke arah yang salah. Oh juga sendinya lepas. Membuatnya terseok-seok di samping Hanji sambil mengerang.

Hanji menghela nafas berat dan menggembungkan pipi. " Aisssshh... BERISIK TAU!"

BRRRUUUGGGH!

BRRRAAK!

Siswa lain langsung mundur sekejap mata dan menatap horror ke arah sepatu Hanji yang memiliki bercak darah segar dan beberapnya menetes ke lantai.

Ia baru saja menendang wajah pemuda itu kelewat kuat hingga pipinya menggelepar akibat gravitasi dan kepalanya bocor akibat tendangan maut Hanji. Ditambah juga siswa itu pingsan dengan cara terhentak kuat ke lantai, membuat lukanya makin parah. Setengah tengkoraknya pipinya hampir hancur dan bocor kepalanya makin lebar.

" Ckckckc...kasihan tengkorakmu hancur" Hanji berdecak dan memajukan bibirnya. Ia beralih menatap siswa-siswa yang masih berdiri hidup di hadapannya. Gadis itu mengangkat senyum gila dan melenturkan leher. " Oke...siapa selanjutnya?"

" MATI KAU SIALAN! DASAR KAU BAJINGAN KEPARAT! MATI KAU BRENGSEK!"

Hanji menatap ke arah lantai dua di atas. Ia melihat seorang siswa, siswa yang meneriakinya yang tidak lain adalah si ketua dengan sebuah senapan atau ia bisa bilang senjata yang mampu menembakkan peluru dalam jumlah banyak. Raut siswa itu mengeras dan wajahnya memerah karena emosi.

" SEMUANYA TEMBAK!"

Siswa lain yang tinggal menyahut. " TEMBAK PEREMPUAN GILA ITU!"

BAAANG!

BAAAANNNG!

BAAAAAAANG!

Mereka semua menembak bersaamaan secara gila-gilaan ke arah Hanji. Beberapa dari mereka bahkan menjerit dan berteriak seperti orang keranjingan perang karena baju anti peluru Hanji habis masa ketahanannya akibat diserang habis-habisan dari atas dan bawah juga dari segala arah.

Gadis itu muntah darah.

Wajahnya basah akan merah darah segar dan badannya basah total seperti dimandikan dengan darah. Hanji beberapa kali mendesis dan batuk teramat kuat hingga darah segar mengalir keluar dari mulutnya seperti ia menyemburkan air kelewat banyak.

Peluru-peluru itu terus menerus menembakinya. Masuk ke dalam jaringan kulitnya. Melukai badannya. Mengenai organnya hingga ia terlihat seperti dimutilasi dan ditenggelamkan di lautan darah.

Kau tidak perlu bertanya bagaimana darah itu mengalir gila-gilaan di lantai. Membuat tempat itu seperti tempat pembunuhan sadis. Hanji mengangkat wajahnya dan ia tersenyum lebar. Beberapa siswa membulatkan mata mereka kaget saat Hanji yang terlihat seperti sekarat itu menyeret badannya sedikit demi sedikit.

Beberapa siswa di lantai yang sama dengan Hanji, menghentikkan tembakan mereka karena kehabisa peluru. Mereka tersentak dan menatap horror Hanji yang mengangkat wajahnya yang tertutup darah. Ia tersenyum dan berjalan maju mendekati mereka walaupun kelihatan nyawanya seperti sudah di ujung tenggorokan.

" Kkkk..." Hanji terkekeh dan seketika terbatuk. Semakin ia mengangkat suara semakin itu pula darah mengalir gila-gilaan dari mulutnya.

Hanji berjalan terseok-seok dan semakin melemah saat badannya itu memaksa makin jauh berjalan.

" K-ketua..." Salah satu dari mereka menunjuk Hanji. " G-gadis itu m-masih hidup..."

Ketua mereka yang sedang memegangi senapan di lantai atas itu juga menelan ludah kelewat berat. Ia melihat Hanji dengan penampilan acak-acakan dan mengerikan itu. Gadis itu benar-benar gila.

Dia tidak pingsan. Tidak menyerah apalagi terlihat akan mati. Biarpun tubuh jangkungnya sudah benar-benar acak dan menyeramkan, dia masih saja menyeret langkahnya.

Hanji beberapa kali hampir terjatuh saat kakinya mencoba berjalan jauh dan ia terbatuk makin keras seperti ingin mengeluarkan isi perutnya sekalian. Beberapa siswa mendesis jijik dan mundur saat batuk Hanji sesekali mengeluarkan darah segar.

Peluru berjatuhan dari dalam dagingnya. Mata Hanji berkilat lemah tetapi penuh hasrat.

" K-kalian..." Hanji menyeringai. Ia mengangkat jarinya yang gemetar luar biasa. Menunjuk lusinan siswa-siswa itu.

Siswa-siswa itu seketika mengangkat senapan mereka dan mengarahkannya ke arah Hanji karena kaget dan sebagian kecil ketakutan.

Hanji tersenyum. " Kalian t-tidak tahu a-apa rasa sakit yang s-sesungguhnya itu... Rasa sakit a-abadi...r-rasa sakit dari dalam jiwa d-dan fisik...k-kalian tidak akan pernah t-tahu...H-hihihi.."

Gadis berkacamata itu menatap lantai di bawahnya sebentar dan tersenyum makin lebar. Hanji kembali mengangkat wajahnya dan mencengkram dadanya yang berdarah. Ia melepas kaca matanya dan tersenyum lembut ke arah lusinan siswa itu.

Membuat semua orang di tempat itu mengernyitkan dahi bingung.

Hanji menginjak sebuah lubang pipa yang tertutup sebuah tutup dari besi itu. Ia membuka mulutnya.

" Erwin..uhuukk..." Hanji terbatuk lagi. " Sudah w-waktunya..."

BRUUGGH!

SYUUNNGGGG!

Seluruh pasang mata di ruangan itu terkejut setengah mati. Mereka panik saat Hanji masuk ke dalam lubang pipa itu secepat kilat. Beberapa siswa bahkan ada yang menjatuhkan senapan mereka dan mengecek ke dalam lubang pipa yang cukup dalam dan lebar untuk seukuran badan Hanji.

" KETUA!" Salah satu dari mereka berteriak dari bawah. " GADIS ITU KABUR! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN!?"

Ketua yang berada di atas hanya bisa terdiam. Ia juga melihat apa yang terjadi dan ia tidak menampik kalau ia sama syok-nya dengan yang lain. Dia tidak tahu kalau Hanji mengincar lubang pipa itu. Dan anehnya...bagaimana lubang besi itu terbuka.

Tiitt...

Tiiiit...

Tiiitttt...

Siswa itu mengernyitkan dahi. " Suara apa itu?"

Seluruh siswa lainnya hanya bisa merespon dengan mengangkat bahu dan menggelengkan kepala tidak tahu. Salah satu dari siswa yang terduduk dan tidak ikut menembak, menatap ke arah kotak-kotak kayu raksasa di belakang mereka.

" A-ano..." Dia menunjuk kotak-kotak itu. " Suaranya datang dari sana. A-aku bisa mendengarnya dari sini..."

Seluruh siswa disana mendengus berat dan mengibaskan tangan mereka. " Hah biarkan saja! Mungkin suara senjata! Bagus juga kalau gadis sinting itu pergi! Kita akan beritahu pusat kalau sepuluh oh 15 orang terluka parah oleh seorang siswa gila"

Lusinan murid lainnya mengiyakan perkataan pemuda itu dan mulai berpencar. Membereskan kekacauan yang dibuat dan mengisi ulang senjata. Mereka juga menyeret mayat siswa-siswa yang ada. Menutup tubuh mereka dengan kain yang tersedia dan mulai menyiram darah di lantai.

Seorang siswa mendongakkan wajahnya dan seketika mengernyitkan dahi. Ketua mereka masih terdiam di tempatnya dan tidak berkutik. Ia masih memegangi senjatanya dan menata ke arah kotak-kotak besar bertumpuk berisi senjata itu.

" Ketua?" Panggilnya. " ada ap−"

Sang ketua mengangkat tangannya untuk menyuruhnya diam. " Shuush! Kalian dengar itu?"

Yang lain mengernyitkan dahi dan mengangkat bahu mereka. " Apa? Kami hanya dengar bunyi tadi lebih intens saja. Tidak ada yang lain"

Sang ketua seketika melebarkan matanya dan berteriak sekuat yang ia bisa. Ia berlari panik dan hampir terjatuh di tangga. Ia membuka tangannya dan menggerakkannya liar. Menyuruh semua orang untuk kabur.

" INI JEBAKAN DASAR KALIAN BEDEBAH BODOH! ADA BOM DISINI!"

Semua orang seketika melebarkan mata mereka dan berteriak panik.

" KABUR KALIAN SEMUA!"

" SIALAN! SIAPA YANG MELETAKKAN BOM!?"

" BOMNYA DIMANA!?"

Semua mata seketika tertuju ke arah kotak-kotak besar di belakang mereka. Wajah mereka semua berubah pucat saat suara itu makin cepat, sedangkan isi di dalam kotak-kotak besar itu adalah puluhan senjata, peluru, granat tangan, bubuk mesiu, dan bahan peledak.

" CEPAT KABUR KALIAN SEMUA!"

BRAAAK!

Pintu depan terbuka paksa dan semuanya segera berlari ke arah pintu keluar. Wajah mereka terlihat pucat dan mengerikan. Ekpresi ketakutan setengah mati tercetak di muka mereka semua.

Tapi tentu saja, semuanya sudah−

BUUUMMM!

BAAAAAAANGGG!

DUARRRRRR!

" ARRRGGGHHH!"

" GAAAARRRRR!"

−terlambat.


.

.

.

.

.

.

Erwin berdiri tepat di bawah sebuah lubang pipa dari terowongan bawah tanah kota Kyoto. Terowongan itu sudah lama tidak dipakai untuk jalur kereta api dan dialihfusngsikan sebagai saluran pembuangan.

Ia menunggu sesuatu datang dari lubang pipa itu.

Rico berjongkok di samping Erwin dengan kotak P3K seukuran koper itu. Gadis itu menatap Erwin.

" Erwin senpai−sebentar lagi..." Ucap Rico. " Sebaiknya kau mulai mengangkat tanganmu untuk menangkap Hanji-senpai"

Erwin menatap Rico dan tersenyum. Ia mengangguk. " Baiklah...seperti ini bukan? Seperti mengangkat pengantin?"

Rico menangguk dan berdehem. " Ya seperti itu tapi tolong angkat sikumu sedikit lebih tinggi dan tegakkan punggungmu. Dekatkan tanganmu ke badan karena ada kemungkinan Hanji-senpai datang tiba-tiba dan kau bisa saja menjatuhkannya karena tidak seimbang"

Erwin membenarkan posisinya sesuai perkataan gadis bertubuh mungil itu dan menatap pipa di atasnya. Mereka berdua sama-sama mengernyitkan dahi saat mendengar bunyi sesuatu datang dari arah pipa.

" Rico!" Perintah Erwin. " Sudah waktunya! Siapkan semua P3K!"

Rico langsung membuka koper besar itu dan seketika berbagai macam alat kedokteran dan pertolongan pada luka terlihat oleh Erwin. Gadis berkaca mata itu dengan sigap mengeluarkan perban dan obat-obat lainnya. Ia juga memasang sarung tangan dokter secepat kilat.

DUUUK!

DUUUK!

Erwin langsung mendongak ke arah lubang dan menukikkan alis. " Ini wakktunya."

Pemuda berambut pirang itu menguatkan kakinya dan tanpa sengaja juga menguatkan lengannya hingga urat lehernya terlihat.

BRUUUGGGH!

" UGGGH!"

" HANJI SENPAI!"

Hanji membuka sedikit matanya dan terbatuk. Ia tersenyum singkat dan berkata lirih. " A-aku..t-tidak a-apa-apa"

Erwin menghela nafas kelewat keras dan ia segera berdiri. Salahkan Hanji dengan tiba-tibanya jatuh tepat di tangannya dengan kecepatan tinggi itu. Membuat badannya sedikit oleng karena tambahan berat badan Hanji. Erwin saja sampai terjongkok dan hampir terjatuh.

Rico berlari dengan wajah gelisah ke arah Hanji dan Erwin.

Erwin langsung saja merebahkan Hanji di lantai kotor berair terowongan. Ia meletakkan badan gadis berkaca mata itu lembut karena ia sendiri dapat merasakan penderitaan yang harus Hanji rasakan karena misi sangat berbahaya ini. Tangannya bahkan berlumur darah Hanji yang masih mengalir dari punggung gadis itu.

Rico berjongkok di samping Hanji dan mulai serius untuk membersihkan semua luka Hanji. " Sebuah keajaiban kau bisa hidup Senpai! K-kau...terluka sangat parah"

Hanji terkekeh lirih. " Kkk...b-butuh s-seumur hidup mereka u-untuk b-bisa membunuh o-orang s-sepertiku..."

Erwin sama-sama berjongkok seperti Rico. Ia menatap Hanji yang masih bisa bertahan dengan luka seberat dan sesadis ini. Air terowongan saja sampai berbau besi karena darah Hanji masih mengalir kemana-mana.

" Berapa tembakan?" Tanya Erwin.

Hanji tersenyum singkat. Ia mengangkat tangannya lemah. Rico saja sampai memegangi tangan Hanji yang gemetar luar biasa itu dan membantunya mengangkat angka 2 dan 1.

" S-sisanya p-peluru k-kosong...Uhuuk!" Batuk Hanji. Erwin memegangi leher Hanji.

Gadis itu benar-benar terbatuk sangat kuat hingga lagi-lagi darah keluar dari mulutnya. Mengotori tangan Rico di dadanya yang sedang membersihkan luka tembak.

Erwin memberi kode pada Rico untuk mengambil lap bersih dari dalam koper dan mengopernya. Gadis itu menanggukkan kepala dan segera mengambil kain lap. Melemparnya ke arah Erwin.

Hanji menahan tangan Erwin yang mengarahkan lap itu ke mulutnya. " J-jangan..b-biar Rico yg uhukkk...m-melakukannya."

" Tidak..." Erwin menggeleng. Ia menutup mulut Hanji dengan lap dan membuat gadis itu akhirnya mengerti apa yang ingin pemuda berperawakan dewasa itu lakukan. "Batuklah..."

Hanji seketika tersenyum dan batuk sekuat yang ia bisa. Sampai Rico saja membulatkan mata lebar dan kaget dengan wajah lucu karena badan gadis itu tiba-tiba menekuk. Suaranya menyebar ke seluruh terowongan.

Gadis itu berhenti batuk dan setengah lap basah akan darah. Ia menyeringai. " Bagaimana? Sudah kan?"

" Kau ini..." Erwin menghela nafas berat dan menjauhkan lap dari tangannya. "Keadaan separah ini masih bisa saja kau bercanda. Maksudku batuk itu seperlunya saja−bukan seperti tadi. Kau batuk seperti ingin mengeluarkan paru-parumu sekalian"

Hanji tersenyum lirih. "Kkkk...tidak kusangka ini akan berhasil."

Erwin dan Rico menatap ke arah Hanji. Gadis itu merebahkan kepalanya ke lantai terowongan yang berair dan menutup mata. Membiarkan Rico membersihkan dan merawat luka-lukanya.

Erwin sendiri hanya bisa tersenyum. " Ya...ini jelas akan berhasil, karena aku yakin−Armin memiliki rencana yang benar-benar mulus"


.

.

.

.

FlashBack

Erwin mengeluarkan sebuah seleberan peta di hadapan Armin. Pemuda berambut pirang itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya bingung dan beberapa kali mengalihkan pandangan ke arah Erwin dan peta tersebut.

Erwin duduk di hadapan Armin. Ia sedikit menjauhkan tanaman liar dari atas kepalanya dan kepala Armin. Hal itu tentu saja memancing Armin kembali salah tingkah dan meremat jasnya lebih kuat.

" Ah maafkan aku karena telah membawamu ke taman belakang sekolah sesiang ini.." Erwin tersenyum lembut.

Armin mengipas-ngipas wajahnya yang memerah dan memandang ke arah lain selain mata Erwin pokoknya. " Ah tidak apa-apa! Kukira sekolah ini akan kotor atau apa...tapi tidak kusangka taman belakangnya indah!A-aku suka tempat ini!"

" Aku juga"

Armin seketika membulatkan matanya dan menatap ke arah Erwin cepat. " E-eh?"

Pemuda berperawakan dewasa itu mengulum senyum dan mendongakkan kepalanya. Ia dapat menatap langit cerah berawan Tokyo. Erwin mengalihkan pandangan ke arah sekitar taman yang asri. Penuh tanaman dan benar-benar terawat akibat Levi. Biarpun tempat ini adalah sekolah para mantan kriminal, Levi tetap tidak akan suka melihat ada kotoran sedikit saja menempel. Ia akan benar-benar membunuh siswa yang tidak tahu aturan dan mengotori tempat ini.

" Sebenarnya..." Desah Erwin. " Tempat ini mengingatkanku sedikit pada kampung halamanku. Biarpun aku merupakan pangeran mahkota dan keluarga bangsawan...aku tinggal di Irlandia. Di sekitar pegunungan. Mereka menyembunyikan identitasku dari dunia sampai waktunya tiba"

Armin mengernyitkan dahi. " Menyembunyikanmu? Untuk apa?"

Erwin menghela nafas dan mengangkat bahu. " Entahlah...dan oh aku melantur. Maafkan aku sebaiknya kita kembali ke pembahasan"

Pemuda berambut pirang itu sontak menjerit kaget karena Erwin tidak sengaja menyentuh tangannya.

" AHH!" Teriak Armin kaget.

Pipinya memerah sempurna dan Armin menarik tangannya sekuat tenaga dari tangan Erwin. Erwin sendiri sampai ikut menarik tangannya karena sama-sama kaget. Pemuda berpewarakan dewasa itu terdiam melihat raut merah Armin.

" A-ano...anu" Armin salah tingkah sendiri dan bergerak gelisah di tempatnya. Dia tidak tahu kalau Erwin akan kaget karena sikapnya. " Ano! A-aku...jarang bersama orang selain haha..kau tahu Eren. Ja-jadinya aku sedikit canggung"

Erwin melebarkan matanya saat Armin menundukkan badannya sambil duduk. " G-gomennasai!"

Armin menutup matanya dalam dan menyumpahi dirinya sendiri di dalam hati. Pipinya memerah sempurna karena malu. Ingin rasanya ia mengubur dirinya sekarang sedalam-dalamnya karena malu.

'WOAAAH! KENAPA DENGANMU ARMIN!?' Rutuk Armin di dalam hati. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuka mulut seperti berteriak tanpa suara. 'GYAAAA! KAU MEMBUAT MALU SAJA!'

Erwin tertawa. " Haha tidak apa-apa. Itu hanya reflek...malahan aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuatmu seperti itu"

" S-seperti itu?" Armin mendongakkan wajahnya. Ia menatap Erwin dengan pandangan bingung dan dahi mengernyit yang lucu.

Pemuda berperawakan dewasa itu mau tidak mau mengangkat senyum dan menunjuk pipinya sendiri. Memberi tahu Armin kalau pipi pemuda itu benar-benar sangat merah dan hampir sewarna kepiting rebus.

" Eh?" Armin menunjuk pipinya sendiri. " Pipi...kenapa dengan pip−EHHHH!?"

PLUUK!

PLUKKK!

Armin menatap Erwin dan berdehem sekeras mungkin. Ia berusaha tersenyum lebar seolah insiden dasar-pipi-sialan-yang-tidak-tahu-situasi itu tidak ada. Malahan pemuda berambut pirang itu merapikan jas-nya dan tertawa canggung.

'Ah Bloody Hell...' Gumam Armin. Pemuda itu menatap Erwin yang terkekeh dengan wajah menunduk malu ' Tawaku canggung sekali..Ah crap'

Erwin berdehem. Pemuda itu mencairkan suasana canggung dengan mendekatkan peta itu ke hadapan Armin yang sedang duduk di atas rerumputan. Armin spontan mengalihkan pandangannya ke arah peta itu.

.

.

.

" Jadi seperti ini...mereka pasti akan mencari senjata kalian. Biarkan saja mereka melakukan hal itu. Berhasil mengambil pasokan senjata kalian dapat membuat mereka lengah karena telah mengira mereka berhasil mengalahkan o-orang seperti k-kalian..." Jelas Armin.

Pemuda berambut pirang itu menggambar sebuah persegi di peta dengan spidol merah yang Erwin berikan kepadanya. Rautnya sedikit mengeras dari sebelumnya karena kali ini ia serius.

Armin juga tidak tahu kenapa ia jadi dapat memikirkan rencana sekejam ini atau bagaimana otaknya dapat mengeluarkan semua spekulasi-spekulasi tidak terkira ini sebelumnya.

Armin menatap Erwin. " Letakkanlah bom"

" Bom?" Tanya Erwin lagi.

Armin mengangguk. " Tapi berhati-hatilah...kau yang memegang remote controlnya. Saat itu tiba, kau harus mengirim mata-mata untuk menyelidiki tempat dimana senjata itu disembunyikan. Setelah itu, kirimkanlah seorang yang cukup berpengalaman dan berani untuk masuk ke dalam tempat mereka menyimpan senjata"

Erwin berdehem singkat dan menunjuk bom di peta. " Bagaimana cara kerjanya?"

" E-eoh?" Armin menunjuk dirinya. " M-maksudmu?"

Erwin mengambil spidol merah dari jemari Armin lembut dan membuat pemuda berambut pirang itu sedikit salah tingkah. Ia saja sampai ingin menjatuhkan spidol itu seperti perawan yang tidak pernah bertemu laki-laki sedikit pun bukannya menyerahkannya pada Erwin.

'K-kau kenapa Armin!?' rutuk Armin dalam hati. 'K-kenapa kau merasa s-segugup ini bersama E-erwin? D-dia laki-laki!'

"Armin?" Panggil Erwin. " Kau tidak apa-apa? Kalau kau merasa tertekan atau ragu membantu karena ini terlihat yah...tidak manusiawi, tidak apa-apa. Saranmu sebelumnya akan ku tampung..."

Armin sontak menatap Erwin. " E-EH! B-BUKAN SEPERTI ITU M-MAKSUDKU! AKU...A-AKU HANYA...AKU HANYA T-TIDAK BIASA BERSAMA O-ORANG LAIN! ANO! A-AKU MAU SAJA! GYAAA!"

Erwin tersenyum selagi Armin terlihat menunduk dalam. Ia ingin sekali menangis karena berbuat sangat bodoh di hadapan orang sebaik Erwin.

'Ahh Armin Arlert...kau menyedihkan sekali...' Armin tersenyum sedih sambil menatap rerumputan di bawahnya.

Erwin menumpu dagunya dan tersenyum. " Kau lucu sekali Armin Arlert... Pantas saja Hanji benar-benar bahagia saat bersamamu atau Eren. Dan ah...kurasa aku tahu kenapa kakekmu benar-benar sayang kepadamu"

Pemuda berambut pirang itu mendongakkan kepalanya sedikit dan menatap Erwin dengan manik biru yang terlihat bingung. " Kakekku? E-EH! B-BAGAIMANA KALO KITA KEMBALI MEMBAHAS I-ITU..."

Armin menunjuk peta di hadapannya dan menatap Erwin dengan mata biru langit yang menunjukkan ekspresi meminta.

Erwin mengangkat senyum gentle dan mengangguk. " Baiklah..."

Armin berdehem dan kali ini mencoba untuk serius. Memang dia tidak pernah ingin berbuat kekerasan sebelumnya, tapi Erwin bilang mereka ingin menghentikkan penjahat di Kyoto yang anehnya Erwin dan Levi cebol itu bersama yang lain juga adalah penjahat.

Jadi istilah lainnya penjahat menangkap penjahat. Pencuri menuduh pencuri.

" Ano...kau bertanya soal bomnya" Dehem Armin. " G-gunakanlah bom waktu. Setidaknya 5 atau 10 menit sebelum ledakan. Kau harus meminta orang itu untuk mengulur waktu. Tapi kau juga harus memastikan dia tidak terkena bom dengan cara menyelematkannya 1 menit sebelum ledakan"

Erwin menatap Armin dan mengerutkan dahi. " Tapi itu mustahil. Berlari ke tempat ledakan sudah butuh beberapa detik, ditambah menyelamatkannya di...tempat menyembunyikan senjata yang kemungkinan banyak penjaga. Setidaknya ada penyerangan dalam beberapa detik dan berlari juga memakan waktu banyak. Kami tidak akan selamat dan tetap terkena ledakan"

Armin menggeleng keras. " Tidak...itu tidak mustahil jika ada tempat kosong dan terowongan di sekitar sana"

Pemuda berambut pirang itu menunjuk sebuah tempat di peta. Sebuah tempat yang ia lingkari dengan spidol berwarna merah.

" Kau pancing mereka untuk menggunakan tempat ini." Armin menatap Erwin serius. " Kau bilang ada beberapa tempat di Kyoto kan yang kosong? Nah disini...setahuku saat membaca tentang Jepang sebelumnya, di bawah gudang besar ini ada terowongan bawah tanah yang dulu bekas kereta bawah tanah tapi sudah di alih fungsikan akibat sebuah bencana."

Erwin mendekatkan kepalanya dengan kepala Armin. " Ya kau benar...seingatku ada terowongan dengan jarak kedalaman sekitar 10 sampai 20 meter."

" Nah itu cukup!" Armin berteriak senang. " Tempat ini strategis untuk menyimpan senjata. Lihat di bagian depannya ada pabrik pabrik yang jarang dilewati masyarakat. Di sekitarnya di kelilingi hutan lindung yang hanya dibuka untuk umum saat libur saja. Mereka jelas akan menyetujui tempat ini dan kau harus memancingnya. Dan juga...di setiap tempat besar seperti ini...ada sebuah lubang pipa selebar badan yang menjurus ke bawah. Di tambah dulunya tempat ini jalan sebelum di dirikan gudang"

Erwin tersenyum dan menatap Armin senang. " Jadi maksudmu kami harus memastikan orang kami masuk ke dalam pipa sebelum ledakan"

Armin mengangguk mantap dan tersenyum. Ia memainkan ujung bajunya malu dan menatap kakinya.

" Armin.." Panggil Erwin lagi. " Terima kasih atas bantuanmu...aku benar-benar berterima kasih. Aku akan membalas budimu. Aku berjanji"

Armin menggelengkan kepalanya canggung. " E-eh tidak perlu!Ano.. setidaknya aku selamat saja di sekolah ini sudah lebih dari cukup. Dan oh...kau bilang ingin mengantarku pada seseorang?"

FlashBack Off


.

.

.

.

.

.

" Bagus" Sahut Levi.

Ia menatap orang-orang di sekitarnya yang berlalu-lalang dengan wajah datar.

Pemuda bermata tajam itu menatap seorang anak kecil yang sedang bercanda dengan keluarganya dan tertawa karena sudah dibelikan permen kapas berukuran besar. Pemuda bermata tajam itu menatap semuanya dengan dingin.

" Lanjutkan...saat malam nanti semuanya terpancing. Kau harus membantu Hanji untuk memancing bocah-bocah bodoh itu ke tempat Nanaba." Jelas Levi.

Setelah beberapa detik, akhirnya sambungan terputus. Diputuskan oleh Levi sendiri. Pemuda bermata tajam itu menatap gadis dengan rambut pendek sebahu di dekatnya. Ia menyembunyikan katana panjang di balik seragamnya.

" YO LEVI!" Sahut Farlan di belakang gadis itu. Pemuda itu mengunyah sushi. " Kapan kita akan membereskan kecoa-kecoa itu? Mereka mengganggu festival saja...lihatlah banyak orang yang tertipu dengan wajah tengik mereka disini"

Nanaba mendengus dan mencomot sebuah sushi tuna di bungkusan yang baru saja dibeli Farlan di salah satu stand festival di Kyoto.

" Hei pendek!" Protes Farlan. " Itu sushiku! Kalau kau mau beli sendiri!"

Nanaba mengunyah sushi itu dan memeletkan lidahnya ke arah Farlan. " Tidak mau..."

Levi yang menatap ke arah seberang jalan lainnya menatap Farlan kelewat tajam. "Apakah kau baru saja mengataiku pendek hah?"

Nanaba seketika tertawa dan Farlan tersedak sushinya sendiri.

" B-bukan seperti itu!" Farlan berusaha untuk menjelaskan ke arah Levi yang sudah menguarkan aura membunuh itu. Nanaba tertawa geli. " Aku mengatai Nanaba! Hei kawan...kau kira kita sudah berteman seberapa lama hah sampai aku tega mengataimu dengan kata-kata itu?"

Farlan menepuk bahu Levi dan tertawa. Tapi ia sukses dihadiahi Levi dengan tatapan membunuh.

" Terserah kau" Levi menyahut datar.

Levi terus memikirkan ah−bukan ia mengkhawatirkan...sangat mengkhawatirkan bocah Jerman bodoh itu. Eren sangatlah ceroboh dan ia mudah ditipu serta dibodohi karena kerendahan hatinya.

Pemuda berwajah dingin itu berdecak. " Ck−dasar bocah. Apa gunanya kau berbaik hati pada semua orang dasar bocah bodoh?"

Ia beralih menatap jalanan yang dipenuhi anak-anak Maria Highschool. Mereka menyamar di tengah padatnya kerumunan orang menghadiri festival. Berjaga-jaga kalau saja Levi dan yang lainnya berada disana.

" Mereka benar-benar bodoh" Protes Nanaba. " Bagaimana mereka tidak melihat kita disini?"

Farlan mengangkat bahu. " Yah tentu saja karena kebodohan mereka tapi kita sekaligus mencari tempat Eren bukan?"

Levi menghela nafas berat dan menyilangkan tangannya. Ia benar-benar sangat tampan dengan kemeja putih dan celana hitam panjang membalut tubuhnya. Bahkan ia menarik banyak perhatian wanita daritadi. Kebanyakan dari wanita itu berkumpul tidak jauh dari Levi hanya untuk menatap pemuda itu.

" Aku sudah bertanya pada bocah-bocah itu dari siang tadi" Ucap Levi.

Farlan dan Nanaba berhenti mengunyah. Farlan menyahut. " Gedung yang kau masuki sendirian tadi?"

" Tidak" potong Levi. " Aku masuk bersama Mina. Dia menghabisi di depan dan aku masuk ke dalam. Mereka tidak ada yang tahu. Mereka bahkan tidak tahu kalau petinggi Maria Highschool menculik Eren"

" Sialan..." Maki Nanaba. " Gadis kecil itu benar-benar menjengkelkan..."

" Makanya aku yang akan memberi pelajaran pada gadis sialan itu" Levi mengatakannya dengan nada dingin yang menusuk. " Aku akan membuatnya jera"

" Tapi kita perlu informasi dimana si kecil itu menyimpan Eren" Farlan menyahut. "Ini bukan hanya masalah kau mencintai bocah itu Levi...dia murid sekolah kita. Dia bagian dari kita. Kita harus mencarinya sebaga bagian dari SurveyCorps HighSchool"

Levi bergumam. " Bulan depan ujian nasional bagi seluruh SMA. Kita harus menyelesaikan semuanya sebelum bulan depan. Malahan sebelum minggu ini berakhir"

Farlan seketika tersenyum. " Woahh...berarti kita akan lulus tahun ini ckckckc...aku akan merindukanmu kawan"

Nanaba menyikut perut Farlan. " Tapi sebelum lulus kau harus belajar dulu. Misalnya nilaimu rendah...kau tetap di sekolah ini bodoh!"

" CK..." Farlan menjetikkan jarinya remeh. " Tidak masalah dengan itu...otakku ini sudah cemerlang dari dulu"

Levi menatap makin tajam ke arah seorang siswa yang mulai sadar kalau banyak wanita berkerumun di sekitar Levi dan mereka berdua.

" Kita pergi"

" Heh?/Heh?" Ucap Farlan dan Nanaba bersamaan.

Levi membuka sedikit dari kerah bajunya dan membuat wanita-wanita itu berteriak senang. Bahkan beberapan yang berjalan mulai berhenti karena menatap Levi. Wajah mereka semua memerah.

" Levi...apa yang kau lakukan?" Farlan terkekeh. " Ini bukan waktunya pamer wajah tampanmu itu..."

" Disana" Levi memberi kode kepada Farlan dan Nanaba untuk mengikuti kemana arah matanya.

Kedua orang itu segera mengalihkan pandangan mereka sesuai arah pandang Levi. Disana mereka dapat melihat seorang laki-laki yang sedang membeli manisan di salah satu kedai yang banyak pengunjung.

" Aku mengenalnya" Nanaba menyipitkan matanya. " Dia petinggi SurveyCorps. Dia Marco"

Farlan mengangguk mengiyakan perkataan Nanaba. " Ya kau benar...dia memang Marco"

Levi melenturkan tangannya dan menatap tajam. " Bersiaplah untuk rencana selanjutnya bocah-bocah"


.

.

.

.

.

" TUAN! NONA MIKASA!"

" MIKASA!"

Kenny dan Mikasa segera menbalikkan wajah mereka kaget ke arah pintu masuk kantor. Seorang maid yang ia tahu bernama Historia dan ibunya masuk ke dalam ruangan dengan wajah panik dan gelisah.

" Mikasa!" Teriak ibunya. Ia menatap Kenny dan berjalan cepat menghampiri mereka berdua. " Lihat berita sekarang!"

Kenny mengerutkan dahinya dalam. " Ada apa memangnya?"

Mikasa menghampiri ibunya dengan raut khawatir. Gadis asia itu memegang tangan ibunya yang dingin. " Okaa-san...ada apa?"

Ibunya balik menggenggam tangan Mikasa erat dan menyuruh salah seorang maid untuk menyalakan televisi berwarna black jet berukuran 38 inchi di ujung ruangan itu. Kenny menyerahkan remotenya kepada maid itu dan membiarkan Historia menyalakannya.

BREAKING NEWS!

" SurveyCorps Highschool kembali berulah! Mereka menghancurkan gedung dan memicu keributan di beberapa tempat di Tokyo. Diduga mereka ingin menyerang Maria Highschool yang merupakan sekolah lain yang didirikan oleh pemerintah untuk menampung anak-anak yang pernah berurusan di kriminal ataupun melakukan kejahatan."

Historia menutup mulutnya. " T-tuan muda Levi..."

Kenny terdiam menatap berita itu sedangkan ibu Mikasa hanya bisa menutup mulutnya seperti Historia yang syok. Wajah laki-laki paruhbaya itu datar dan dingin seperti ekspresi Levi.

" Tidak!" Mikasa membulatkan matanya kaget. Ia baru sadar sesuatu.

" Ayah!" Mikasa berteriak ke arah Kenny yang masih menatap berita di televisi. Wajah gadis itu benar-benar khawatir. " EREN DAN ARMIN DALAM BAHAYA!"

Kenny masih tidak berkutik. Ia masih menatap berita itu dengan wajah datar. Sorot matanya lain.

" AYAH!" Mikasa kali ini berteriak lebih keras untuk mengalihkan perhatian Kenny tapi nihil. Orang yang diteriaki malah acuh.

Mikasa mendengus kasar dan segera berlari dari ruangan itu. Ia berlari sangat cepat dengan rahang mengeras dan mata berkilat takut. Ia benar-benar sangat khawatir dan gelisah dengan keselamatan kedua sahabatnya itu.

" Mikasa!" Ibunya berteriak kuat. " Jangan! Disana bahaya Mikasa!"

" Aku tidak bisa diam..." Mikasa menggumam sambil berlari di setiap koridor hingga mencapai halaman depan milik mansionnya. Beberapa maid dan penjaga lain juga ikut meneriaki putri Ackerman itu. " Mereka dalam bahaya...aku tidak bisa diam! Aku harus menolong mereka!"


.

.

.

.

.

" Isshh..."

Eren mengucek matanya berat. Saking beratnya, ia sampai tidak bisa melihat dengan jelas. Sudah berapa kali ia tertidur seharian ini? Dua atau tiga kali? Ahh...dasar tukang tidur.

" Hoaaaam...j-jam berapa ini?" Eren membuka mulutnya lebar dan menguap. Pemuda berdarah Jerman itu juga meregangkan tubuhnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya lembut untuk membenarkan poninya.

Eren menatap sekitarnya dengan mata sayu dan wajah acak-acakan. Sedikit dari ai liurnya masih tersisa di ujung bibirnya dan rambutnya yang seperti orang tersambar petir dan ditiup badai itu. Semuanya terangkat ke atas.

" Heh..." Eren mengecap-ngecap bibirnya seperti anak kecil. Pemuda manis itu mengucek matanya.. " Heh..masih kabur"

Ia mengucek lagi dan kali ini mencoba untuk membuka dan menutup matanya. Eren mengalihkan pandangannya ke belakang dan langsung mengaduh nyaring. Ia juga seketika mengangkat tangan.

" AHH!" Teriak Eren kaget. " AH CAHAYA SIALAN! AH MATAKU..."

Pemuda itu seketika menyingkap selimut putih di badannya dan mundur dengan menyeret pantatnya di ranjang empuk itu. Pemuda itu juga menyumpah dan menggerutu seperti anak kecil yang dilarang main keluar dengan nyaring saat cahaya itu makin menerpa badannya.

" Ini makanya aku benci bangun pagi!" Gerutu Eren. Pemuda itu mendesis tidak suka saat matanya berusaha membuka. " Cahayanya membutakanku! ARRRGGHH!"

Eren mengalihkan pandangannya langsung dari cahaya itu dan menatap bagian lain ruangan yang tidak terpapar cahaya. Pemuda itu sedikit menyipitkan matanya untuk menyesuaikan pandangan karena baru saja menatap cahay pagi menyebalkan yang ia benci.

" Eh..." Eren seketika membulatkan matanya kaget dan membuka mulut syok saat matanya sudah melihat ruangan dengan jelas. " I-ini bukan di r-ruangan Yuii..."

Eren menjauh dari ranjang dan menatap sekelilingnya dengan wajah teramat syok. Mata emeraldnya melebar tidak percaya dan pemuda itu berkali-kali meneguk ludah. Ia memutar badannya di sekitar ranjang dan hampir terjatuh karena tersandung ujung kasur.

" E-eh..." Eren mengucek matanya lagi. Kali ini dengan wajah syok. " Eheh...b-bagaimana a-aku bisa di a-apartemen L-levi?"

Eren membuka menutup mulutnya dengan gugup. Ia terkekeh canggung saat ia putar lagi badannya, ia benar-benar di apartemen Levi.

" B-bagaimana..aku bisa d-di t-tempat si c-cebol itu?" Eren berjalan sebentar menjauhi ranjang. Ia menyentuh sofa abu-abu di sampingnya dan menatapnya dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya dengan yang dilihatnya. " A-aku benar-benar di t-tempat k-kontet mesum itu..."

" OH!"

Eren berbalik dengan tiba-tiba. Ia menutup mulutnya saat melihat ranjang seukuran queen size di belakang sofa. Menghadap jendela apartemen yang terbuka lebar. Menunjukkan kota Tokyo dengan jelas.

" Sialan!" Maki Eren dengan wajah syok. " Aku benar-benar di tempat kurcaci itu"

Eren menatap dirinya yang masih terbalut hanbok pemberian Yuii. Ia seketika mengernyitkan dahi teramat kuat. Eren menatap sekitarnya dan kembali lagi menatap dirinya. Ia seketika menelengkan kepala bingung dan menggumam kasar.

" Apa-apaan ini?" Eren seketika mendengus kasar. " Aku tahu si cebol brengsek itu akan melakukan suatu hal yang memalukanku! T-termasuk ini!"

Eren menggeram dan mengerang kesal. Ia membenarkan rambutnya teramat kasar dan menghentakkan kakinya ke lantai keramik dengan kuat. Beberapa kali ia menyumpah dan memaki Levi dan menendang sofa milik pemuda bermata tajam itu hingga tergeser.

" SIALAN! KEMANA KAU CEBOL!?" Eren mendengus kasar dan wajahnya memerah emosi.

Alisnya menukik tajam dan matanya berkilat tidak suka. " KALI INI AKU AKAN MENGHADAPIMU DAN MELURUSKAN KESALAHFAHAMAN INI! AKU AKAN MENENDANGMU KALI INI LEVI KEPARAT! DASAR CEBOL MESUM TIDAK MANUSIAWI! KAU DENGAN SEENAK JIDAT MENYALAHKANKU, MENINGGALKANKU BEGITU SAJA DAN LIHATLAH! KAU MALAH MENGAMBILKU KEMBALI KE APERTEMEN TERKUTUK INI!"

Eren menyingsing kedua lengan hanboknya hingga bahu. Ia mendengus dan menghembuskannya kasar seperti banteng yang mengamuk karena pantatnya dicambuk. Ya...setidaknya miriplah seperti itu.

Pemuda itu mengelilingi apartemen Levi dari atas sampai bawah berulang kali dan meneriaki nama pemuda itu. Ditambah dengan makian dan semua kutukan dalam tiga bahasa sekaligus. Membuat siapapun yang mendengarnya diyakini akan pingsan karena Eren benar-benar frontal mengatakannya dalam bahasa Jerman, Jepang, dan Inggris sekaligus.

" Levi sialan! Kau kemana!?" Teriak Eren kasar dan nyaring.

Ia membuka setiap pintu dari dapur, kamar mandi bawah milik Levi, kamar mandi atas, ruang bersantai Levi yang hampir membuat Eren melupakan amarahnya karena ada TV sebesar 40 inchi disana dan kumpulan buku bagus. Dan oh...Eren tidak tahu Levi punya konsol game.

Tapi Eren segera menggelengkan kepalanya kuat. Melihat ruangan yang bersih seketika mengingatkannya saat si cebol itu membersihkan lukanya di UKS. Levi hampir saja ingin membumi hanguskan UKS karena melihat UKS yang kotor karena ulah murid-murid tidak bertanggungjawab dan Erenlah jadi kena batunya.

SALAH EREN APA!?

Dari awal dia bertemu Levi...ya dia akui dia frontal dan dengan bodohnya menantang si Levi tukang pemarah itu tapi setelah ia tinjau balik SALAHNYA ITU APA? DIMANA SALAHNYA?

Dia ditendang, dipukul, hampir dibunuh, diancam untuk dicincang, dibawa kesana kemari seperti barang rongsokan, dicekik, rambutnya ditarik, dan serentetan hal brengsek lainnya oleh si cebol itu tanpa alasan yang jelas. Dan alasannya selalu karena Eren itu menjengkelkan dan menyusahkan.

Rasanya Eren jadi yang ingin membunuh seorang manusia keparat brengsek bertubuh cebol bernama Levi. Eren benar-benar gatal untuk mencekik Levi sampai mati.

" MANA KAU DASAR BRENG−eh..."

Eren terdiam saat ia melihat salah satu ruangan tertutup di bagian balkon atas. Ruangan yang bertuliskan " OFFICE" dan " DON'T DISTURB" di depan pintu bercat putih krimnya itu.

Jujur saja, Eren merasa sedikit takut saat melihat pintu itu. Dia takut Levi akan kembali marah padanya dan melakukan banyak hal yang sudah dilakukannya sebelumnya. Tapi Eren akui, ada sedikit bagian kecil di hatinya yang entah kenapa ingin melihat Levi.

Eren menggigit bibir bawahnya kuat dan menahan tangannya yang sudah menggenggam kenop pintu. Ia menatap pintu itu dengan pandangan khawatir. Eren selalu gelisah saat bersama Levi.

Dia khawatir kalau dirinya terluka dan Levi juga. Pemuda bermata tajam itu menganggap semuanya seolah mainan. Melemparkan senjata tajam dan melukai orang-orang. Tidak takut kalau suatu hari nanti mereka membalas dendam dan melukainya.

Eren menghembuskan nafas. " Hufft Eren! Kau harus berani! Jadilah laki-laki! Kau harus menemuinya, mengatakan semuanya dengan jelas, bila dia melawan kau harus memaksa dan buuum! Pergi dari sini secepat mungkin! Ya! Itu yang akan ku lakukan!"

Pemuda itu memutar kenop pintu ruangan pribadi Levi dan membukanya sedikit demi sedikit. Ia melirik ke dalam dan mata emeraldnya terkagum dengan begitu rapinya ruangan itu. Ruangan kecil dengan meja kerja bernuansa eropa abada pertengahan.

Eren membuka pintu makin lebar dan masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah kagum. Mata emeraldnya berbinar senang. Tiga buah rak, karpet tebal, nuansa kuno yang nyaman, rapi, dekorasinya yang mengingatkannya dengan Jerman.

" Woaaah...d-dia menyembunyikan ini dariku" Eren menggumam. " Seharusnya aku masuk saja ke ruangan ini dari dulu"

Eren berjalan mundur hingga pinggangnya menyentuh meja kerja Levi. Eren seketika berbalik dan menatap meja Levi. Ada banyak berkas dan kertas disana. Tapi yang paling memikat Eren adalah sebuah kertas kecil yang klasik. Dengan tambahan ukiran tumbuhan dan cap keluarga.

" Apa ini?" Eren mengambil kertas itu dan mulai membacanya dengan menghadapkan ke depan wajahnya. " Eh..ini bahasa Prancis. Aku mungkin bisa mengerti beberapa"

Eren mengucek matanya sebentar untuk melihat lebih jelas tulisan bersambung dengan bahasa prancis itu. " Petra Rall... Keluarga bangsawan uhmm..apa ini? Bernikah? Bukan bukan...ber..tunangan−ya bertunangan... dengan ungh?"

Pemuda itu menyipitkan matanya. " Uhh..apa ini? Siapa namanya? Kenapa susah sekali dibaca? L..Le−"

BRAAAAAKKKK!

Eren terlonjak dan menjerit seketika. Ia langsung menjatuhkan kertas itu ke lantai dan menatap pintu ruangan yang terbuka paksa dengan mata terbuka lebar. Wajahnya pucat dan peluh dingin menjalar menuju lehernya.

" Kau siapa?" Seorang wanita dengan kuncir kuda menyipitkan matanya dan menukikkan alis kelewat tajam.

Eren membuka mulutnya gugup seperti ikan di daratan dan beberapa kali tangannya yang menumpu di meja tergelincir. " A-aku E-eren Jaeger...Anu Levi m-membawaku k-kesini paksa..."

Wanita dengan rambut coklat dikuncir dan kentang ditangannya itu menelengkan kepala bingung dan membuka mulut. " Hah? Tuan Levi membawamu paksa? Kau tidak bercanda kan?"

" T-tidak!" Eren membalas dengan nada tinggi. " Eh anu maksudku−dia b-benar membawaku p-paksa untuk e-entahlah..."

Gadis itu menggembungkan pipinya dan menyipitkan mata melihat Eren. Ia berjalan maju dengan curiga dan menatap Eren kelewat intens. Memandangi pemuda itu dari atas kepala sampai ujung kaki.

" Kau terlihat bukan seperti orang jepang..." Gumamnya. " Wajahmu lebih menunjukkan kau bukan dari asia. Inggris?"

" Jerman" Sahut Eren seketika. Dia meneguk ludah berat dan matanya mengikuti pergerakan gadis itu dengan gelisah. " A-aku dari Jerman..."

Gadis itu menegakkan badannya dan berdiri di hadapan Eren yang masih kaget gara-gara pintu sialan itu terbuka paksa dan membuat jantungnya rasanya ingin meloncat keluar dari dadanya.

" Aku Sasha..." Sasha memperkenalkan dirinya. " Aku sebenarnya adalah salah satu siswa di SurveyCorps tapi Levi mempekerjakanku disini"

Eren seketika membuka mulutnya tidak percaya. " M-mempekerjakanmu? L-levi?"

Sasha mengangguk dan menarik tangan Eren. Hal itu spontan membuat Eren kaget dan lagi-lagi menjerit tidak sengaja. " Aku tidak tahu kalau tuan Levi mengundang seseorang dari Jerman, tapi bajumu bagus seperti ingin menghadiri sebuah acara. Jadi ya...mungkin saja kau undangan yang tersesat"

" E-eh..?" Eren mencicit. " Undangan apa? Levi mengadakan acara apa?"

Sasha menarik Eren dan menuntun pemuda manis itu untuk mengikutinya. Eren sendiri mau tidak mau mengikuti Sasha yang berjalan sangat cepat dan mencengkram pergelangan tangannya kelewat kuat.

" A-anoo.." Panggil Eren sambil berjalan. Ia tidak bsa berhenti sedikit saja karena Sasha terus memaksanya berjalan. " Ano Sasha kun...kita mau kemana?"

Sasha mengenggam kenop pintu apartemen Levi dan menatap Eren yang kebingungan di belakangnya. Pemuda manis itu menatap Sasha dengan mata berkaca-kaca dan bibir bawah yang digigit gugup.

Sasha tersenyum. " Masuklah sendiri..."

" Eh?" Eren mengernyitkan dahinya bingung.

Sasha membuka pintu apartemen Levi dan mendorong Eren keluar dengan cepat bahkan sebelum Eren melihat keadaan luar dengan benar. Gadis itu menutup pintu apartemen dan menguncinya.

" EEEHH!"

Eren menutup matanya saat keluar karena dorongan gadis itu benar-benar sadis. Seolah-olah Sasha ingin mendorongnya sampai wajahnya mencium lantai karena saking ganasnya ia mendorong.

" H-hey!" Eren seketika membuka matanya dan menatap ke belakang untuk protes. Dia merasa mendengar suara pintu dikunci.

GULP!

" A-aku d-dimana?"

Eren tidak salah lihat kan? Kemana pintu tadi? Kenapa ia tiba-tiba berada di sebuah ruangan besar dan bukannya di koridor?

" Ehh...a-aku dimana?" Eren melihat ke sekelilingnya dengan wajah bingung.

Wajah manisnya benar-benar kebingungan. Eren berjalan menelusuri ruangan besar itu perlahan. Ia hanya dapat melihat banyak sekali kursi seperti rapat dan bukannya ada sebuah acara disini. Ia berkali-kali mencari pintu ruangan Levi.

" Eh..benarkah ini diluar ruangan si cebol itu?" Eren mengucek matanya kebingungan. " Aku rada-rada tidak ingat...sudah lama aku tidak ke tempat ini"

Eren membawa kakinya melangkah di lantai marmer. Mata emeraldnya membulat bingung. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Ruangan itu seperti ruang rapat dengan banyak kursi. Bahkan dekorasinya mengingatkan dengan ruangan rapat milik kakek Armin di London.

Satu-satunya yang berbeda adalah ada sebuah lukisan di ruang itu. Lukisan sebuah keluarga yang dipajang di dinding paling lebar. Seorang pria paruhbaya dengan wajahnya yang berwibawa. Berdiri gagah di belakang sebuah kursi panjang. Kursi yang diduduki oleh dua orang.

Seorang wanita berambut merah yang dikuncir ganda. Wajahnya menunjukkan kalau ia senang tersenyum. Kelihatan dari mata hijaunya yang berbinar indah. Eren sendiri tidak sadar kalau ia menyentuh bibirnya karena menatap senyum kecil milik wanita yang dibalut gaun tradisional Prancis itu.

" Senyumnya indah..." Gumam Eren. Pemuda manis itu tidak sengaja ikut tersenyum. "Dia sepertiku...dan eeh?"

Eren seketika mengerutkan dahinya. Ia menyipitkan matanya melihat seorang anak laki-laki di sebelah wanita itu. Anak laki-laki itu dibalut dalam pakaian bangsawan. Ia memegang tangan wanita itu erat.

Rambut hitam legamnya yang terbelah, senyum dinginnya, postur wajahnya yang sempurna, kulit seputih susu, dan tatapan tajam seperti belati itu. Itu semua seperti tidak asing untuk Eren.

" Apakah mungkin..." Eren menyentuh lukisan wajah anak laki-laki itu yang menatap ke bawah dengan ekspresi datar.

Eren beberapa kali mengelus wajah anak itu dengan dahi berkerut dan bibir terkerucut. " Apakah mungkin ini Levi? Senyumnya saja sama...bahkan potongan rambutnya. Ekpresinya tidak asing"

" Hei bocah"

Eren terlonjak dan seketika mundur dari lukisan itu. Ia langsung berbalik dan membulatkan mata kelewat lebar saat orang yang baru saja disebutkan berdiri tidak jauh dari dirinya.

" K-KAU!" Teriak Eren kaget. Ia menunjuk Levi sengit. " KAU MENGAGETKANKU DASAR BRENGSEK! HUFFFFT!"

Pemuda bermata tajam itu mengerutkan dahi dan menatap tajam Eren. Ia memasang ekspresi datarnya kembali. Tapi kali ini matanya sewarna obsidiannya berkilat. Levi menatap Eren kelewat tajam dari atas sampai bawah. Seperti sedang meneliti Eren.

" Apa yang kau lakukan disini bocah?" Levi berucap datar.

Eren mendengus kasar. Ia menyingsing lengan hanboknya sampai bahu dan berjalan dengan kasar ke hadapan pemuda bermata tajam itu. Levi tidak bergeming dan malah makin menukikkan alis makin tajam saat Eren sudah berada di depannya.

Wajah Eren memerah emosi dan ia menunjuk Levi tepat di wajah.

" Hei Levi brengsek!" Maki Eren. Pemuda itu mengeraskan rahangnya bahkan giginya bergemelatuk dan matanya berkaca-kaca emosi. " Kau kira apa yang kau lakukan itu hah dasar b-brengsek!? Kau kira itu tidak menyakitkan hah!? KAU BENAR-BENAR BRENGSEK! KENAPA AKU BERTEMU DENGAN ORANG SEPERTIMU HAH!?"

Levi mundur berapa langah untuk menjauhi telunjuk Eren yang seperti ingin mencongkel matanya keluar. Pemuda itu melipat tangannya dan menatap Eren yang bernafas kasar dengan dingin.

" Apa yang kau maksud bocah sialan?" Levi bertanya dan ia menatap Eren. " Aku tidak mengerti"

" HAH!?" Balas Eren makin sengit. " APA MAKSUDMU KAU TIDAK MENGERTI!? MENINGGALKANKU KARENA KATA-KATA KECIL ITU SAJA! AKU HANYA INGIN PULANG BERSAMAMU BODOH BUKANNYA PULANG KEMBALI KE JERMAN!"

Levi makin mengerutkan dahinya. Eren yakin sekali sekarang kalau pemuda cebol kurang kalsium ini akhirnya akan mengerti apa yang terjadi. Selesai sudah tugasnya untuk mengatakan fakta kesalahfahaman.

Eren menatap Levi dengan wajah puas. Ia menunggu pemuda itu untuk minta maaf dan mengakui segalanya sekarang. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa menang melawan pemuda pendek ini tanpa pertarungan. Tapi sebelum itu semua...

" Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu bocah pembual" Levi menatap Eren dingin dan tajam. " Kau berusaha berbicara apa hah bocah? Dasar bocah bodoh"

...hanya eskpetasi.

Eren makin mengeraskan rahangnya. Wajahnya semakin merah dan giginya bergemelatuk sangat kuat. Kali ini ia benar-benar sangat marah dan kecewa.

Apakah dia sebegitu tidak penting dan menyebalkannya sampai Levi melupakan segala hal yang terjadi? Sampai ia tidak mengingat semua hal yang ia katakan dengan menusuknya kepada Eren atau semua perlakuannya? Apakah dia sebegitu sampahnya bagi seorang Levi?

SREEET!

Levi mendesis tidak suka dan menggeram. " Lepaskan kerahku bocah sebelum tanganmu ku patahkan, keparat"

Eren menarik kerah Levi kelewat kuat hingga Levi sampai mendecih kasar. Lehernya tercekik oleh bocah sialan di depannnya.

" DASAR BRENGSEK!" Teriak Eren dengan sangat geram. Ia menarik kerah Levi sekuat tenaganya dan rahangnya mengeras. Alis Eren tertukik sangat tajam dan kemarahannya sudah meledak. Kekecewaannya sudah menumpuk.

Levi mencengkram tangan Eren di kerah kemejanya dan menggeram. Ia menatap dengan pandangan menusuk.

" DASAR KAU MANUSIA KEPARAT!" Geram Eren. " KAU KIRA KAU BISA MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU SESUKAMU SELAMANYA!? KAU KIRA KAU BISA MELUKAI PERASAAN SIAPAPUN SEPERTI ITU KAPAN SAJA HAH!? DASAR KEPARAT BRENGSEK!"

Levi mendesis mengerikan karena Eren makin menguatkan cengkramannya. Ekspresinya seperti ia benar-benar marah. Urat leher bahkan sampai tercetak di lehernya karena kali ini ia tidak akan takut ataupun mundur.

" Kau akan menyesal bocah menyedihkan−" Maki Levi kasar. Ia mencengkram pergelangan Eren dengan sangat kuat. Dengan kuku tajamnya yang menusuk ke pergelangan tangan penuh pembuluh darah milik pemuda manis itu. " −Kau bukan siapa-siapaku bocah. Apa hak mu untuk memarahiku dan mengatur hidupku dasar bocah sialan?"

DEEG!

Eren mengerang dan menggeram kelewat nyaring. Ia bahkan berteriak dan menarik kerah Levi gila-gilaan hingga badan pemuda bermata tajam itu sedikit terseret.

" DASAR BRENGSEEEK! DASAR BRENGSEK! DASAR KAU KEPARAT! DASAR KAU!" Jerit Eren nyaring. Ia menutup matanya kuat. " KEPARAT SIALAN! J-JANGAN HIDUP SAJA! M−MATI SAJA KAU! M−Mati...hiiiks..mati s-sa.. hiksss...ja..."

Tess

Teees...

Tesss

Tesss..

" M-mati s-saja..." Eren menutup matanya dan menundukkan kepalanya dalam. Rahangnya berhenti mengeras dan alisnya berganti haluan. Kerutan kekesalan berganti menjadi kerutan kekecewaan. " M-mati... hikss..m-mati s-saja...hiksss..."

Mulut Eren bergetar sangat kuat dan baju Levi basah akan air mata.

Pemuda bermata tajam itu menatap Eren dengan dingin. Ia menguatkan cengkramannya pada pergelangan tangan Eren dan membuat darah segar mengalir makin banyak dari kukunya yang menusuk pembuluh darah pemuda itu.

Eren menggelengkan kepalanya dan air mata mengalir makin deras dari kedua mata emeraldnya. Cengkramannya masih sama kuat pada kerah Levi tapi amarahnya tidak. Semuanya sirna.

Semua amarah semua perasaanya hilang. Seluruh rasa khawatir dan euforia di hatinya sudah sirna. Tidak ada yang tersisa.

" K-kenapa..." Eren terisak kuat. Ia sampai memukul bahu pemuda itu berulang kali dengan putus asa. " Kenapa? K-kenapa kau melakukan ini...k-kenapa Levi?"

Eren dapat merasakan rasa sakit dari pergelangan tangannya. Darah mengalir makin deras melalui kuku-kuku Levi yang menusuk kulitnya. Membasahi hanbok cantik Eren dan kemeja putih milik Levi.

Air mata Eren jatuh makin deras ke kulit dada Levi yang terekspos. Eren menjatuhkan kepalanya di bahu Levi dan terisak. Ia menangis dalam kecewa. Ia ingin memeluk Levi. Ia ingin mendengar itu semua adalah kebohongan.

" Menjauh dariku bocah" Ucap Levi datar. " Menangislah di tempat lain"

Eren menggeleng-gelengkan kepalanya dan menangis. Tangannya bergetar di kerah Levi dan Levi dengan mudah melepaskan tangan Eren dari kerahnya. Ia juga melepaskan pergelangan tangan bocah itu yang sudah ia lukai.

Eren menarik kemeja di bagian dada Levi. Ia membenamkan wajahnya yang basah pada bahu Levi dan membiarkan air matanya mengalir makin deras saat bau Levi makin tercium olehnya.

" K-katakan padaku...hiksss.." Isak Eren kuat. Ia menarik kemeja di bagian dada Levi dengan tangannya yang gemetar. " K-katakan p-padaku semuanya bohong Levi...H-hiksss...k-kumohon k-katakan itu s-semua b-bohong..."

Levi melepaskan tangan Eren di dadanya kasar. " Aku tidak pernah berbohong bocah bodoh. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Apa kedudukanmu hah? Kenapa kau begitu percaya diri kau bagian dari hidupku? Kenapa kau berharap ini semua kebohongan? Telan kepercayaan dirimu yang sia-sia itu bocah tolol agar kau mengerti"

Pemuda bermata tajam itu menarik kerah hanbok Eren dari bahunya dan mendorongnya hingga pemuda itu jatuh terduduk di lantai. Mata emerald Eren sembap dan kekecewaan tercetak jelas setiap kali matanya melihat Levi.

Wajah manisnya benar-benar acak-acakkan. Ia menatap Levi dengan pandangan sayu yang menyedihkan, seolah-olah seluruh warna dan kebahagiaan terkuras habis dari hidupnya.

" K-kau menyentuhku...k-kau bilang padaku aku adalah cahayamu..." Ucap Eren kelewat lirih dan sedih.

Levi berjalan menghampiri Eren.

Ia berjongkok di hadapan pemuda itu dan menarik dagunya kasar. " Dengar bocah...jangan pernah berharap aku mau bersama bocah sepertimu. Aku sudah bertunangan dan aku akui−"

Pemuda bermata tajam itu terkekeh meremehkan. "−kepercayaan dirimu benar-benar tinggi. Bocah sepertimu memang suka sekali berkhayal bukan? Tapi sayang sekali Jaeger..."

Levi menghempaskan dagu Eren dan membuat air mata kembali lolos dari mata Eren. Pemuda manis itu menatap Levi yang menatapnya seolah ia adalah sebuah sampah. Sebuah benda kotor.

" Kau benar-benar bodoh"

Levi berbalik meninggalkan Eren. Eren sampai kaget dan mengarahkan tangannya ke atas. Air matanya lolos mati-matian dari matanya. Kekecewaan dan rasa takut tercetak pada wajah Eren. Ia sampai merangkak dengan hanboknya.

" LEVI!" Teriak Eren putus asa. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dan terisak gila-gilaan.

Eren terjatuh dan ia terebah di lantai. Tangannya berdarah dan hatinya hancur. Ia kembali disakiti oleh orang yang telah memberinya harapan. Orang yang ia yakini setelah ia mengatakan kebenarannya akan kembali baik. Orang yang membuatnya belajar sesuatu.

Pemuda itu terisak makin kuat. Ia menutup matanya dan membiarkan rasa sakit dan kecewa menelan semuanya.


.

.

.

.

" Hei bocah" Panggil Levi teramat lembut. " Aku minta maaf..."

" Aku ingin membawamu ke Paris...aku ingin bisa bersamamu..."

" Kau mengubahku bocah bodoh" Levi terkekeh. " Kau membuka hatiku...menunjukkanku siapa diriku. Aku ingin berterima kasih"

"Kau tahu salju di Paris itu indah? Aku lahir di musim dingin di Tokyo...aku besar di musim dingin Paris dan salju selalu menjadi temanku. Aku ingin memegang tanganmu di tengah salju natal"

" Aku berjanji akan selalu bersamamu. Aku akan memegang tanganmu dan tidak pernah melepaskannya sampai musim semi memutuskan muncul kembali"

" Kau berbeda...atau aku yang berbeda? Itu sakit saat aku mencoba meminta maaf pada semua orang...seolah-olah semua orang yang kusukai pada akhirnya akan pergi meninggalkanku"

" Aku selalu sendiri dan terus menunggu. Menunggu bocah sepertimu hingga aku sendiri tidak sadar kalau hatiku bahkan lebih dingin dari musim salju. Setelah musim dingin berakhir, tunggulah aku"

" Aku akan meraihmu sedikit lebih cepat...karena aku ingin meminta maaf"

Eren membuka sedikit matanya. " L-levi..."

Ia kembali menangis. Rasanya benar-benar lega...benar-benar indah. Ia dapat merasakan hangatnya bibir Levi menempel pada bibirnya. Bagaimana nafas hangat dan wajah sempurna pemuda itu di hadapannya. Menerpanya...Bagaimana Levi menutup mata tajamnya dan melumat bibirnya lembut.

Menenangkannya. Menguapkan rasa takutnya dan khawatirnya. Menghilangkan kekecewaannya.

Semuanya terasa seperti mimpi.


.

.

.

.

.

.

" WOAAAAAA!"

Eren terbangun dengan cepat. Ia bernafas tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari sejauh 400 km sambil dikejar-kejar oleh anjing gila. Pemuda berdarah Jerman itu melebarkan matanya kelewat lebar.

Ia membuang dan menarik nafasnya gila-gilaan. Eren langsung menatap ke sekilingnya panik dan gelisah. Ia juga menatap baju dan tangannya.

" A-aku..." Eren menatap selimut dan ruangan putih itu. "−bermimpi..."

Seketika semua penderitaan, semua cacian, semua penolakan kasar itu masuk ke dalam pikiran Eren. Eren langsung meremat selimutnya kelewat erat dan menariknya hingga dada. Air matanya menetes dan ia terisak.

Eren menutup matanya dan menggeleng. Pemuda itu menekuk lutut dan memeluknya erat. Ia menyembunyikan wajah sedihnya di balik lututnya.

" Kenapa...itu sangat nyata?" Eren melirik ruangan Yuii dan menggigit bibir bawahnya. " K-kenapa...padahal itu hanya mimpi..."

" Levi..." Erang Eren lirih dengan suara serak. Ia memeluk lututnya makin kuat dan mengerangkan nama Levi. "Levi...apakah kau memang seperti i-itu? Kau s-sudah bertunangan...kau mencampakkanku..."

Eren menatap langit malam Kyoto dari balik jendela apartemen milik Yuii. Mata emeraldnya berkaca-kaca dan kekecewaan tercetak di balik senyuman sendunya.

" Itu mimpi..." Gumam Eren sedih. Ia kembali menyembunyikan wajahnya. " Tapi kenapa itu terasa nyata...atau bagaimana kalau itu memang nyata?"

Eren menarik selimut sampai kepala dan berbaring. Ia tidak pernah sesedih dan sekecewa ini dalam hidupnya. Saat ibunya meninggal, dia hanya menangis untuk beberapa hari dan sisanya semua kesedihan itu berganti senyum. Saat ia harus pindah dari Jerman, dia tidak sedih.

Saat ayahnya tidak pernah sekalipun memberinya selamat atau menyemangatinya setiap kali Eren menghasilkan prestasi dulu, dia tidak kecewa. Dia tidak pernah terpuruk. Dia selalu menganggap segalanya hanyalah kehidupan. Yang akan berjalan dan mengalir seiring waktu.

Tapi entah kenapa kali ini, dia merasa benar-benar kecewa, sedih, dan marah sekaligus.

" Bagaimana kalau itu benar-benar nyata?" Ucap Eren lagi dengan lirih.

.

.

.

T

B

C

Hai readers! (・'з'・)
Ada yg kangen w?

GOMENNASAI GOMENNASAI

W lambat banget updatenya... W baru masuk sma, makanya w lambat sekali... W benar benar minta maaf (。•́︿•̀。)

Disini adakah yg punya line? Add line w ya karena insya allah kebanyakan info buat seluruh cerita w bakalan w beritahu dari line ●_●●_● aulia_asrikyuu

Oh ya... Kagak ada yg pengen gorok w kah gara gara riren saya... Ah :v kalian tahu sendiri :v

Jangan bosen ya nunggui author gaje ini ya (✖﹏✖)
Kalian semua lah penyemangat w... Jangan lupa vomment biar w tau kalian baca cerita w... ~ ~~ ~

Mind to Rnr? (∩o∩)

.