Chapter 23

.

.

.

.

.

An Attack on Titan Fanfiction

.

.

.

Cast :

All Snk Characters and My Oc

.

.

.

Pairings :

Riren ( Main)

Erumin

Jean x Armin

and another pairing ( soon)

.

.

.

WARNING!

This is positive YAOI!

Rated M ( Adult and Mature)

BL ( Boys Love)

Mature and adult contents

Full of rude and cursing words. violence. bloody. suspense. and psychopath

Smut and kinda hard sex

.

.

.

Genre:

Crime

Romance

Adventure

Hurt Comfort

.

.

.

Semua chara di Snk adalah milik Hajime Isayama Senpai

saya hanya meminjam ^w^

.

.

.

Hope you enjoy it ^^


.

.

.

.

.

.

.

.

" AKU TIDAK TAHU KALAU SI RIVAILLE AKAN BERBUAT SENEKAT INI! OTAKNYA PERLU PENCE−Aww! Ah sial!"

" Tutup mulutmu dan berlarilah jika kau tidak ingin mati"

Farlan menatap gadis di sampingnya dengan wajah tidak terima dan menggerakkan bibirnya kesal. Seolah-olah gadis ini jelas-jelas menolak rencana awal secara mentah-mentah, tetapi pada akhirnya dia yang paling giat melakukannya.

" Apa-apaan?!" Gerutu Farlan pelan.

Farlan merutuki rencana gila sahabatnya itu. Dia tahu kalau urat waras Levi dan belas kasihnya itu sudah putus dari lama, tapi kali ini benar-benar keterlaluan! Sekarang Farlan dan Nanaba harus memutar otak dan berusaha melarikan diri menuju rute "aman" dari keributan tanpa terpancung ataupun memancung selusin anak-anak berbadan besar di belakang mereka.

" Dia membuka setengah bajunya di tengah umum, membuat orang-orang berteriak tidak karuan, melarikan diri ke arah Marco sialan itu dan melukainya!" Teriak Farlan kesal ke arah Nanaba yang setia berlari di sampingnya.

" TAPI DIA DENGAN SEGALA KEKURANG AJARANNYA ITU MEMBUAT KITA JADI UMPAN DAN KITALAH YANG HARUS DIKEJAR-KEJAR SEPERTI ORANG GILA INI!" Raung Farlan. " PANTAS SAJA EREN KESAL DENGANNYA!"

Nanaba berdecak. Gadis mungil itu melompati pagar-pagar pembatas jalan di salah satu jalan blok komplek di Kyoto. Walaupun mungil, ia lebih lihai dalam hal seperti ini di banding Farlan sendiri.

Mereke berdua melirik ke belakang sebentar dan makin banyak saja yang mengejar mereka.

" Mereka tidak ada habis-habisnya" Desis Nanaba.

Gadis itu meloncat dengan sebelah kakinya dan berlari di atas pembatas pagar dengan lihai. Meloncat kembali ke aspal sesaat sesudah ia melompat dengan mendorong tubuhnya dengan sebelah kaki di tiang lampu. Membuatnya menimpa jalan 2 meter lebih dahulu dari Farlan.

" Berapa lama lagi kita sampai ke gedung sialanmu!?" Farlan mengusap wajahnya yang penuh keringat dan mendesis liar kepada anak-anak di belakangnya.

Ia mencoba berlari lebih cepat saat Nanaba memberikannya bantuan berupa pagar-pagar jalan untuk diloncati. Dan yah...ditambah pagar penghalang bukannya menghalangnya lebih cepat. Malah dia bisa makin cepat karena melompati ujung-ujung pagar itu.

Mereka berdua benar-benar berlari seperti orang kesetanan. Levi sudah mengancam mereka berdua untuk tidak membunuh anak-anak hingga mereka sampai ke gedung itu. Padahal tangan mereka sudah gatal untuk memberi pelajaran mentah pada anak-anak kurang otak itu.

Nanaba berhenti berlari saat Farlan sudah melewatinya beberapa meter. Ia membalikkan badannya menghadap kerumunan.

Remang-remang lampu jalan dan lampion khas negeri sakura itulah yang menemani mereka sekarang. Padahal ini tengah festival tahunan Jepang tiap musim panas. Jika saja mereka tidak "adu" sekarang, Farlan lebih memilih untuk menghadiri festival.

Susah juga jadi anak berandalan dan mafia.

" Kau duluan"

Nanaba menatap tajam anak-anak berpakaian berandalan itu. Ia membuka kakinya dan menghadang mereka.

Pemuda jangkung itu mengerutkan dahinya dan sempat ingin berbalik. Yang dilawan nya itu selusin manusia berbadan tronton dengan hasrat mencincang tanpa ampun tapi si...si gadis tomboy berbadan pendek ini ingin menghabisi mereka semua!

" Kau yakin!?" Farlan berteriak dari jarak 4 meter di depan Nanaba. " Apakah kau lupa pesan Rivaille hah pendek!?"

Nanaba mendecih. " Aku tahu apa yang kulakukan Farlan Church! Beri waktu aku 3 menit dan lawan kita akan berkurang setengah"

Anak-anak itu semakin dekat. Kilat mata mereka tidak ada yang berbeda.

Berhasrat membunuh dan liar. Seperti melihat buruan mereka di depan mata tanpa perlawanan apapun.

Farlan yang tidak ingin terkena mentahnya, benar-benar berlari menjauh. Kakinya benar-benar ia bawa berlari sekuat mungkin. Ia sesekali menatap rumah di kanan dan kirinya. Semuanya hampir kosong karena orang-orang menghadiri festival.

" Ah dasar Rivaille sialan" Gerutu Farlan sambil berlari menuju pertigaan komplek yang berada di depannya. " Kau membuat festival mereka jadi kacau bung"

TRANGGGGG

" Mama?"

Mata Farlan seketika terbuka lebar. Sol sepatunya menggesek aspal hingga hampir berasap dan memutar sekuat tenaga.

BRUUUGGGH!

Nanaba membalikkan kepalanya lebih cepat daripada nafasnya ke arah Farlan dan berteriak nyaring. Suaranya hampir melengking karena kaget dan panik di saat bersamaan. Ia berhenti menendang puluhan pembatas jalan dan pagar besi parkiran saat melihat temannya itu terguling ke aspal dengan punggung menghantam telak bebatuan.

" FARLAN!" Teriak Nanaba.

Farlan membuka matanya secepat kilat dan menengok ke arah dadanya panik. " Kau tidak apa-apa!?"

Sebuah kepala anak kecil berjenis kelamin laki-laki menyembul. Bocah itu terbatuk dan mengangguk lemah. Matanya setengah terpejam lemas dan pernafasan anak kecil beryukata biru itu mulai terengah-engah.

" M-ma..mah..."

" SIALAN!"

Farlan berdiri cepat setelah terguling.

Nanaba tersentak melihat pemuda itu menatap garang ke arah nya dan anak-anak berandalan yang mencoba berdiri setelah mendapat begoman mentah Nanaba menggunakan benda-benda di jalanan.

Mata Farlan berkilat lain. Pemuda itu menggertakkan giginya kuat dan dahinya terkerut dalam. Ia menggeram bagai iblis yang siap mengamuk ke arah mereka. Tangannya mengepal kasar dan urat lehernya terlihat.

Pemuda itu mencengkram lengan yukata biru anak kecil yang terkapar di pelukannya. Nafas anak kecil itu melemah karena menghirup debu dan ikut terguling bersama Farlan walauun tidak secara langsung karena pemuda itu sudah menariknya ke dalam pelukannya sebelum mereka terhentak ke aspal.

Farlan menghampiri Nanaba yang masih mematung dengan mata terbuka lebar dan wajah syok. Di setiap langkahnya, aura psikopatnya menguar hingga Nanaba saja memainkan jarinya gelisah.

Ia sudah terlalu familiar dengan sifat buruk Farlan.

" Jaga dia"

Farlan menyerahkan anak kecil itu tanpa menatap Nanaba sama sekali. Mata liarnya terkunci ke arah-arah anak-anak berandalan itu. Nanaba mau tidak mau menjatuhkan pembatas jalan di tangannya dan memeluk anak kecil itu lembut.

" Jaga dia dan pergilah−"

"−... jauh...jauh..." Farlan menggertakkan jarinya mengerikan.

Nanaba sekali lagi tersentak. " Jangan kau bunuh mereka bodoh! Ingat untuk apa aku memasang jebakan!"

Farlan menatap Nanaba dingin. Sorot matanya lain.

Gadis itu seketika dijalari rasa cemas dan tanpa sadar ia menarik sebelah kakinya mundur.

Tatapan dingin Farlan berbeda dari Levi. Tatapan pemuda itu mengintimidasi dan memberikan rasa takut. Milik Farlan berlawanan. Tidak mengintimdasi tapi mengerikan. Seolah-olah iblis sudah mengambil alih kewarasannya.

" Masih ada milik Hanji yang belum kau habisi" Ucap Farlan dingin. " Pergi. Sekarang"

Nanaba sudah tidak bisa meyakinkan Farlan lagi. Matanya sudah tertutup kabut tebal. Ia bahkan tidak yakin kalau Farlan sadar ia sedang melakukan ini.

Inilah mengapa ia bisa menjadi salah satu kaki tangan Levi paling mengerikan yang pernah ada.

Gadis itu berlari sekuat tenaga menjauhi Farlan yang meregangkan otot-ototnya. Ia sesekali menatap anak laki-laki bersurai hitam legam yang setengah tidak sadarkan diri itu sekarang.

Anak kecil itu mengingatkannya pada seseorang sebelum berubah. Bukan anak laki-laki. Sepolos ini saat kecil.

Nanaba mengeratkan pelukannya dan menempelkan hidungnya pada rambut anak itu. Ia tidak tahu apa yang akan Farlan perbuat setelah ini tapi ia tetap membawa kakinya menjauhi tempat itu.

.

.

.

.


.

.

.

.

Mafia, kenakalan, berandalan.

Mereka semua dikenal sebagai penyakit masyarakat. Sebuah noda hitam yang tidak bisa dihapus walaupun sudah dibasmi. Akan selalu muncul terus menerus tanpa melihat zaman ataupun tempat.

Seolah-olah dunia tanpa mereka adalah sebuah dunia yang hambar. Tidak ada pertentangan, tidak ada konspirasi, tidak ada perbedaan. Dan masyarakat selalu melihat mereka sebelah mata.

Menggangap mereka bukan salah satu makhluk hidup yang bernama manusia. Mengasingkan mereka karena reputasi buruk ataupun kesalahan kecil mereka yang diungkit terus menerus. Mereka juga melihat apapun yang mereka lakukan selalu salah.

Tanpa tahu kalau sebenarnya mereka adalah manusia. Manusia yang telah mengecap rasa pahitnya kehidupan lebih dari masyarakat itu sendiri. Melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Dan tidak sedikit dari mereka yang jatuh ke dalam noda itu karena ulah masyarakat sendiri.

Yang egois dan menganggap dirinya tidak apa-apa jika ia tidak masuk ke dalam sebuah masalah. Tanpa tahu kalau ia telah membuat sebuah jiwa hancur karena tidak ingin disalahkan.

Mafia menampung orang-orang seperti itu. Levi dalam usia ke 15 nya mampu membuat sebuah mafia yang terlampau kuat di Jepang. Yang selalu bisa mengelabui pemerintah dan memberikan rasa takut pada masyarakat. Dengan bisnis ilegal maupun legal yang sukses besar.

Membuat sebuah sekolah buangan menjadi markas mafia-nya tanpa pernah diketahui pihak manapun. Tapi ia tidak pernah menelantarkan anak-anak itu. Levi secara tidak langsung mendidik mereka semua dengan caranya.

Agar jiwa-jiwa rusak itu mampu bertahan hidup. Mampu terus melangkah.

Ia menetapkan peraturan bagi mafia dan sekolahnya. Bahkan bukan dia-lah yang menjadi ketua OSIS disana yang seharusnya memang dia karena dialah ketuanya, melainkan Erwin. Ia ingin menunjukkan kalau mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan dengan usaha.

Bukan hanya sementang-mentang pangkat atau status yang membuat mereka mampu meraih apapun.

Levi bahkan membuat apartemen dan berbagai macam tempat lain sebagai usaha legalnya. Mengambil anak-anak dari sekolah buangan itu untuk dilatih menjadi pekerjanya. Membuat mereka melihat dunia dari sudut pandang lain.

Ia tidak pernah mengizinkan anggota mafia-nya yang dewasa untuk merekrut anak-anak itu dalam bisini ilegal-nya atau ia akan menghajar mereka sampai habis. Levi memiliki prinsip ketat dalam hal itu.

Termasuk prinsip tentang bagaimana masa depan anak-anak itu.

.

.


.

.

Petra mengekori pemuda bermata tajam itu sedari tadi. Gadis itu menatap jalanan malam Kyoto di bawah kakinya resah dan sesekali mencuri pandang ke punggung tegap Levi yang berjalan agak cepat setelah ia mendapat telepon dari salah satu bawahannya.

Gadis itu memajukan bibirnya kesal dan mencengkram baju seragamnya.

" Untuk apa kau memanggilku!?" Tanya Petra ketus.

Levi terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. " Kau bawahanku. Sudah wajar akau memanggilmu saat aku perlu bantuan"

" Kenapa tidak minta yang lain saja!? Bukannya kau membenciku!?" Sahut Petra lagi. Gadis itu membuang wajahnya ke samping.

" Yang lain punya tugas masing-masing" Jawab Levi dingin. Pemuda itu melirik Petra dari ujung matanya dan kembali menatap ke arah jalanan yang cukup ramai di depannya. "Tutup mulutmu dan ikuti saja aku"

Petra dengan cepat kembali menatap punggung Levi dan mendengus. Gadis itu menggerutu kecil dan memainkan pisau di kantong jas-nya kesal.

" Bukannya dia juga ikut membalas!?" Gerutu Petra lirih.

Ia menatap sinis Levi.

" Itu karena kau bertanya gadis bodoh"

Petra tersentak dan Levi memutar matanya jengah. Ia menatap dingin jalanan di depannya.

" Jangan kira aku tidak bisa mendengar gerutuanmu" Levi melirik tajam Petra di belakangnya. " Gerutuanmu masih lebih jelas dari dengungan lebah dan satu lagi−aku tidak membencimu"

" Tapi kau selalu menghindariku setiap kali aku mendekatimu!" Balas Petra nyaring. " Dari dulu kau tidak berubah! Kau kira untuk apa aku berubah menjadi berandalan, membuang marga kebangsawananku hingga diasingkan kesini!? Ini semua karena aku masih menganggap kau tunanganku!"

Tangan gadis itu terkepal kuat dan wajahnya memerah marah. Ia berhenti berjalan dan diikuti oleh Levi yang juga berhenti 3 meter di depannya. Kedua orang itu tanpa sadar membuat orang lain sedikit menjauh daat melewati mereka dan mengerutkan kening bingung.

" Aku ikhlas Levi Ackerman!" Petra berteriak sekali lagi.

Levi tanpa sadar mendesis saat embel-embel nama itu tercantum. Ia memang tidak berbalik tapi tangannya tanpa sadar ikut mengepal di dalam celana hitamnya.

Angin malam meniup rambut hitam legamnya dan rambut coklat madu milik Petra. Menambah kesan dingin di balik mata tajam Levi.

" Aku selalu berharap kau mau menerimaku sebagai tunanganmu! Aku selalu berusaha untuk berada disisimu sebisaku! Selama ini aku berusaha untuk menjadi yang terbaik! Aku mau melakukan apapun yang kau suruh!" Petra tanpa sadar terisak. " Tapi kau membenciku! Kau bahkan selalu menghindariku biarpun aku tidak berada di dekatmu!"

Petra menggosok matanya. " K-katakan padaku...apa yang harus kulakukan lagi? Aku tahu k-kau membenciku, matamu tidak berbohong Levi..kau merindukan bocah itu kan? Kau merindukan Eren bukan? Kau mencintainya...dengan...hati..."

Tangan pemuda bermata tajam itu makin mengerat di dalam celananya. Ia berusaha untuk tetap menghadapi ini dengan kepala dingin.

" Hhhhhhh..." Petra tertawa sendu. " Dia lebih baik dariku ya? Dia lebih polos, lebih manis, lebih aktif. Dia juga tidak pernah memaksakan kehendaknya bukan? Tidak sepertiku yang bur−Ngkk!"

Petra membuka matanya kaget. Telapak tangan Levi menutup mulutnya dan wajah pemuda itu berjarak hanya beberapa cm dari wajahnya. Bahkan Petra sampai harus memundurkan badannya.

" Dengar Petra Rall" Ucap Levi dengan nada rendah.

Tangan Petra sontak tersentak karena kaget. Matanya berkaca dan bulir air mata menumpuk di ujung matanya. Levi tidak pernah lagi memanggilnya dengan nama bangsawan atau lengkapnya setelah ia tahu Petra menyerahkan diri secara sukarela menjadi anggota mafia-nya.

Sama seperti Petra yang tidak pernah lagi menyebut nama asli Levi.

Levi menghembuskan nafas lelah. " Kalau kau ingin tahu sesuatu, kau itu juga tidak berubah. Sama bodohnya dengan awal kita bertemu."

" Nggh?" Petra mengerutkan alisnya bingung.

Lev menatap ke samping. " Ya−aku mencintai Eren. Bocah sialan itu memang menyebalkan dan kekanakan. Tidak tahu mana yang benar dan salah. Tetapi hanya dia yang mampu membuat ku gelisah,marah, khawatir,rindu, dan lainnya dalam waktu satu hari. Hanya satu hari"

Tanpa sadar bulir air mata Petra jatuh. Membasahi tangan Levi. Gadis itu terisak dalam dekapan tangan besar pemuda bermata tajam itu. Levi yang sadar tangannya basah, mengalihkan pandangan ke arah Petra.

Pemuda itu memasang wajah datar. Mata Petra berkilat kecewa.

" Aku menjaga pesan dari temanku. Aku menjagamu karena pesan dari temanku yang akan mengancam untuk membunuhku jika aku tidak menjagamu" Levi mendesah pasrah. Ia berbisik. " Kau tidak berhak mendapatkanku, Petra Rall. Kau sudah mendapat yang lebih baik dan dia sudah mencoba menunjukkannya selama ini"

Petra berhenti terisak dan mengerutkan alisnya sekali lagi. "H-hiapha?"

" Kau mempunyai Farlan"

Levi melepaskan tangannya dari mulut Petra dan berbalik. Menjauhi gadis itu yang masih mematung tidak percaya. Levi berjalan maju.

" Cepatlah gadis bodoh" Panggil Levi. " Kita punya sedikit masalah disini"

.

.


.

.

Sedangkan rombongan Hanji mengikuti jalan dengan rute yang sudah ditentukan oleh Erwin dan yang lain. Hanji masih tidak sadarkan diri dan gadis berkacamata itu dipangku oleh Erwin di punggungnya.

Rico dengan cepat membungkus kakinya yang terkena peluru dengan kasa. Gadis itu juga terlihat tidak ragu untuk mengikatnya kuat. Bahkan sorot matanya tidak memantulkan rasa gentar sama sekali.

Erwin masih mengatur nafasnya. Ia memegang kedua tangan Hanji semakin kuat dan melirik sebentar dari ujung perempatan. Anak-anak itu masih mencari mereka.

" Rico..." Panggil Erwin.

Rico mendonggakkan wajahnya. " Ya?"

Erwin bernafas lagi dengan berat. " Tolong bawa Hanji ke tempat aman selagi aku memancing mereka ke tempat Nanaba. Ditambah pasukan kita di Tokyo masih menunggu perintahku"

" Tapi aku masih bisa berlari senpai!" Sahut Rico. " Aku hanya perlu sedikit membereskan luka ini!"

Erwin menggeleng. Ia menurunkan Hanji yang pingsan dari punggungnya dan mendudukkan badan gadis ke dekat tembok.

" Jangan...Jangan. Entah kenapa ponselku berbunyi tadi. Pasti ada sesuatu yang salah. Maka dari itu−jika aku gagal, temui Mina dan perintahkan sisa kita di Tokyo"

Rico ingin mengucap sesuatu tetapi Erwin keburu berdiri. Gadis berkaca mata itu mau tidak mau memangku badan Hanji di punggungnya. Mengangkat badannya dan mengalungkan lengan Hanji ke lehernya. Menggantikan tugas Erwin.

Pemuda berperawakan dewasa itu menyipitkan mata mereka saat anak-anak itu menunggu mereka keluar dari perempatan gang sempit. Bukannya mengejar, mereka seolah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

" Senpai..." Rico menatap Erwin khawatir. " Bagaimana kalau ini adalah jebakan mereka?"

Erwin menoleh ke arah Rico dan berusaha tersenyum gentle. " Jangan berbalik kesini. Lagipula−"

Pemuda itu bersiap untuk keluar dari persembunyian dan Rico bersiap untuk berlari menjauh dari tempat itu. Erwin mencengkram pistolnya kuat.

"−ini memang jebakan"

.

.


.

.

Annie berjalan di antara tubuh para sniper yang tergeletak tidak sadarkan diri. Tidak mati hanya hampir saja. Mereka yang sadar sesekali mendesis mengerikan dan menggeram berang ketika suara ketukan sepatu atau Annie berjalan di hadapan mereka. Ingin rasanya mereka menikam gadis brengsek ini sampai mati.

Sorot dingin seperti es itu melewati bagian-bagian dalam gedung tua itu. Sesekali gadis berambut pirang itu menatap ke sekitarnya.

" Ternyata ini yang direncanakan oleh Levi sialan itu." Anni bergumam.

" K-Kau tidak a-akan bisa m-menang gadis sialan!" Geram salah satu dari mereka.

Annie berhenti berjalan dan memandangnya sinis. Gadis itu menekan salah satu tangannya dengan sepatu hitamnya yang ber-sol keras. Memancing erangan keluar dari mulut salah satu sniper itu. Membuatnya menyumpah dan mengumpati Annie.

" Katakan itu pada ketua kalian" Ucap Annie dingin. " Kalau aku akan menunggunya"

.

.


.

.

" Annie menghancurkan gedung itu dan membuat sniperku kewalahan"

Petra tersentak kaget. " Kau sudah tahu!? Levi kau sudah tahu!?"

Levi menatap Petra tajam. " Tentu aku sudah tahu. Menurutmu berapa tahun aku bersaing dengan ayah Annie hingga aku sampai tidak tahu sifat busuk putrinya?"

Petra membuka tangannya tidak percaya. Ia juga sesekali mengerutkan dahi ke arah Levi yang malah terlihat santai berjalan. Bukannya ia berjanji akan melakukan segalanya untuk membasmi mereka?

Petra mendengus. " Aku tahu kalau ayah Annie adalah mafia yang merupakan musuhmu tetapi apakah ada alasan lain jadi kau bisa mengetahui isi otaknya?"

Gadis itu membuka mulutnya panik.

"Jangan bilang juga kalau kau−"

Levi mendesis. "−belum. Soal Eren belum. Aku belum menemukan dimana mereka menyembunyikan bocah itu. Tapi aku yakin kalau yang menyembunyikan adalah gadis kecil itu"

" Yuii?" Petra membalas. Ia menyejajarkan langkahnya dengan Levi. " Maksudmu Yuii?"

" Menurutmu siapa lagi?" Levi melirik Petra sinis.

Petra membungkam mulutnya. Ia jadi sedikit memikirkan teman Levi yang sejak pertama ia sudah masa bodoh dengannya. Tetapi akhirnya dia tahu sesuatu.

" Jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Petra lirih. " Dia disana"

" Petra" Panggil Levi.

Petra mendongakkan wajahnya. " Apa?"

Levi menatap Petra dingin tetapi Petra sudah terbiasa dengan itu. Ia hanya bisa menunggu Levi untuk berbicara lebih lanjut tanpa teralih perhatian dengan bagaimana sempurnanya Levi.

" Carilah Eren. Auruo akan membantumu dengan Gunther juga"

Petra membuka lebar matanya. Ia kaget atas perintah Levi yang satu ini. Apakah Levi sengaja membuatnya mencari Eren atau apa?"

" Bagaimana denganmu!? Kau ingin meninggalkan bocah itu lagi!? Kau ingin menelantarkan kami semua!?"

Levi mengerutkan dahinya dalam. " Siapa bilang aku menelantarkan kalian semua hah? Aku sudah mengurus semua ini sejak sebulan yang lalu karena aku tahu kita akan tawuran. Kau perlu seumur hidupmu untuk mengelabuiku gadis bodoh. Kau kira sudah berapa lama aku mengatur permainanku sendiri?"

Petra terdiam. Ia menggigit bibirnya. " Tapi disana...mereka perlu perintah Erwin"

" Erwin tahu itu memang jebakan" Levi melipat tangannya di dada. " Maka dari itu aku tidak akan mempercayakan jaringan bawah tanah kita ke sembarang orang. Yang perlu kita takuti adalah ketuanya. Thomas bisa saja muncul di belakangmu sekarang dan membunuhmu di tempat"

Petra sekali lagi hanya bisa terkagum dengan kemampuan Levi. Dia sudah mengatur permainannya sendiri sejak awal. Menciptakan taktiknya sendiri. Menyuruh pion dan kuda-kudanya demi kemenangannya.

Tidak peduli berapa kali raja berkorban, pion-pionnya pasti menuju kemenangan.

Membuatnya menjadi sangat menyeramkan. Caturnya menggenggam kemenangan dengan cara yang tidak terprediksi. Dan rajanya berdiri di atas seluruh pion dengan taktik mutlak.

" Aku akan memburu Yuii" Desis Levi mengerikan. " Karena gadis sialan itu tidak akan bisa jauh dari Eren"

" Bagaimana dengan Thomas?" Petra bertanya.

Levi menyorot jalanan dingin. " Dia disini. Mengawasi kita."

Hal itu seketika membuat Petra menggenggam jari-jarinya berang. Buku-buku jarinya memutih dan ia melihat jalanan ramai di sekitarnya yang penuh kuil-kuil tua dan rumah tradisional. Gadis itu merasa benar-benar kalau Thomas sekarang sedang tertawa mengerikan.

" Dia adalah tipikal raja yang akan berjalan setelah pionnya habis"

Levi kembali berjalan. Ia menggenggam kepalan tangan Petra dan membuat gadis itu melepaskan kepalan tangannya. Genggaman itu adalah pertanda dari Levi kalau ia harus tenang.

Levi melepas genggamannya secepat kilat. " Dia sama gilanya dengan Hanji. Dan hanya Hanji yang bisa melawannya"

" Jadi−" Petra menatap awas ke jalanan sebelah kanannya. Gadis itu menyipitkan mata. Seolah-olah ada yang mengawasi mereka darisana.

" Kerjakan tugasmu" Ucap Levi dingin. " Dan carilah Eren"

Mata Petra berkilat ngeri. Ia menarik pisau dari balik rok sekolahnya. " Dengan senang hati"

.

.


.

.

Seingat Eren ia masih di kamar tidur Yuii. Di apartemen putih yang mewah dan bagus. Masih dengan baju bernama han...ham...hanbok? Yang sumpah ingin Eren lepaskan karena berapa kali ia harus terinjak kainnya dan hampir menciumkan wajahnya pada lantai keramik?

Tapi sekarang...

" Hah!?" Eren mengerjap-ngerjapkan matanya yang sembap. " a-aku tidak m-mimpi lagi kan?"

Ranjang bersprei hijau emerald kesukaannya, kumpulan playstation dengan TV selebar 40 inchi, buku-buku pelajaran berbahasa Jerman, bunyi bising kereta dan bus, suara orang yang berjalan dan sepeda yang melaju, hawa dingin sejuk.

Eren segera meloncat dari ranjang. Ia memutar badannya tidak percaya ke kanan dan kiri.

" HHHHH..." Eren tertawa canggung. Ia memegangi kepalanya. " Aku pasti mimpi lagi!"

Pemuda manis itu mencoba untuk menendang ranjangnya sendiri dan itu−

"−AWWW! Sialan! itu sakit! Akh− tulang keringku!" Eren duduk meringkuk di lantai berkarpet hijau marun itu. Pemuda itu mengaduh dengan wajah yang terlihat lucu akibat pipinya yang membengkak sehabis bangun tidur. " Isssh! Ini bukan mimpi! ARRRRRR...tulangku! Eren bodoh!"

Eren seketika mendongakkan wajahnya. Matanya terbuka lebar dan ia menganga kan mulutnya.

Ya...bisa kalian tebak.

" SEJAK KAPAN AKU SUDAH DITERBANGKAN KE RUMAH!? SEJAK KAPAN AKU NAIK PESAWAT!? HUWAAAAAA AKU TIDAK PERCAYA INI!"

Eren benar-benar melengkingkan suaranya kali ini. Ia sangat panik hingga mengacuhkan kakinya yang berdenyut sakit dan membanting pintu kamarnya kelewat kuat dan membuat para maid yang berumur lanjut berteriak kaget.

" Eren! Meister!" Teriak salah satu Maid.

Eren melebarkan matanya dan ia melihat pengasuhnya disana terkaget-kaget dengan nampan berisi susu yang hampir jatuh.

" MADAME!? AKU BENAR-BENAR DI JERMAN!?"

Madam itu tentu saja mengerutkan dahinya. " Ya! Kau diantar seseorang dan ayahmu menjemputmu di bandara! Kau tertidur saat itu! Aku saja sampai terkejut kalau kau dipulangkan ke Jerman lebih awal!"

Madame itu menghampir Eren dan mencubit pipi gembulnya. " ISSSHHH! Apa yang kau lakukan di Jepang hah!?"

" Awwww! YAK! Madame! Berhenti!" Eren mengaduh keras dan melepaskan tangan jahil madame dari pipinya yang sudah membengkak.

Pemuda itu mengerucutkan bibirnya kesal ke arah Madame dan membuat madame itu tertawa karena keimutan pemuda itu tetap tidak berubah sejak kecil.

" Eh bagaimana dengan Mikasa dan Armin?"

Sejujurnya Eren begitu mengkhawatirkan kedua temannya itu. Dia dan Armin sudah meninggalkan Mikasa selama hampir seminggu dan Armin yang masih berada di sekolah atau di rumah dia tidak tahu.

" Seingatku cuma kau sendiri" Madame mengerutkan keningnya.

TAAAP...

TAAAAPPP...

TAAAAAPPPP...

" Eren"

Madame menundukkan kepalanya hormat. Sedangkan Eren segera membalikkan kepalanya ke belakang.

" Selamat pulang"

" A-ayah?"

Eren membelalakkan matanya melihat Yuii di samping ayahnya yang masih berbalut jas dokter dan seorang pemuda jangkung berambut putih. Yang entah kenapa mengingatkannya kepada seseorang.

" Salam Eren" Pemuda itu tersenyum manis. " Akulah yang membawamu pulang atas perintah ayahmu. Namaku Thomas"

" Thomas Zoe"

.

.


.

.

" HEI GADIS SIALAN KAU TIDAK BOLEH MA−"

BUGGGGGHHHHHH!

" Langkahi dulu mayatku dasar bedebah"

" AGGGHHH PERUTKU!"

Mikasa terus menerobos sekolah berandalan itu secepat kilat. Ia tidak peduli baju seragamnya yang basah kuyup akan keringat. Bahkan ia sudah tidak peduli segalanya sejak berlari dari mansionnya yang berjarak lebih dari 5 km darisini.

Gadis itu bahkan melempar sepatunya di depan gerbang sekolah dan sekarang ia hanya berlari dengan kaki dibalut kaos kaki saja.

Jangan lupakan ia juga memukuli siswa-siswa penjaga sekolah yang ingin menghalanginya secapat kilat.

" Biarkan!" Salah seorang siswa menghalangi Connie mengejar Mikasa. " Biarkan saja dia! Dia adik ketua!"

Connie menggerutu. " Tapi dia memukulku! Uggghh...kakak dan adik sama saja!"

Mikasa berdecak saat siswa-siswa itu menasehati yang lain untuk tidak menyerang karena dia adalah adik Levi. Gadis itu merengutkan wajahnya masam dan berlari menuju setiap koridor dan menggebrak paksa tiap kelas.

Hingga−

BRAAAAKKK!

" EREN! ARMIN!"

Jean dan Armin menatap ke arah Mikasa bingung.

Mikasa menatap Jean berang. Ia mengepalkan tangannya terlampau kuat.

" KAU!"

BUUGGGH!

" MIKASA!"

Armin meloncat dan seketika ia emosinya naik. Pemuda berambut pirang mendorong Mikasa sangat kuat hingga Mikasa terhentak menimpa lantai. Hal itu membuat Jean dan Mikasa sama-sama kaget.

" APA YANG KAU LAKUKAN MIKASA!?" Raung Armin kesal. " JANGAN MEMUKUL ORANG SEMBARANGAN!"

Jean menatap Armin bingung. " O-oi Armin...dia punya ha−"

"−TIDAK!" Potong Armin cepat. " TIDAK AKAN KUBIARKAN SESEORANG YANG TIDAK SALAH DILUKAI! KAU TIDAK MELAKUKAN APAPUN KEPADAKU MALAH CENDERUNG MELINDUNGIKU!"

Mikasa menatap Armin tidak percaya. Jean segera bangun dari posisi terhentaknya dan memegangi lengan Armin.

" Aku cuma disuruh karena perintah!" Jelas Jean.

Armin menggeleng. " Biar itu perintah! Tapi faktanya kau tidak melukaiku! Aku hanya tidak ingin salah faham lagi! Aku hanya−"

Armin menatap Mikasa yang jatuh dan seketika menutup mulutnya.

" –Oh Tuhan...a-apa yang sudah ku lakukan..."

Mikasa segera berdiri dan menangkap tubuh Armin yang syok. " Armin! Hei Armin!"

Armin mencengkram lengan Mikasa dan pemuda berdarah Inggris itu menatap Mikasa kelewat bersalah. " K-kau tidak apa-apa? K-kau tidak apa-apa kan?"

Mikasa menggeleng cepat. " Tidak! Kau tidak perlu mengkhwatirkan ku Arm−"

" –Mikasa sepatumu mana?" Tanya Armin gelisah. " Kau membuangnya lagi?"

Jean mengerutkan dahinya saat Mikasa menarik Armin untuk duduk di bangku dan menyembunyikan kakinya ke balik bayangan bangku. Berusaha agar kakinya itu tidak terlihat oleh mereka.

" Tidak! Aku hanya menyimpannya!" Jawab Mikasa cepat. " Kau tidak perlu khawatir!"

Armin menngerucutkan bibirnya. " Tapi kau tidak bawa tas..."

" A-aku..." Mikasa menelan salivanya berat. " Aku menyimpannya di rumah!"

" Kau tidak pandai berbohong!" Potong Armin. " Jelas-jelas kau membuangnya!"

" ARRGGGH! Kalian lambat sekali!"

Jean seketika menarik Armin dan menggendong pemuda berambut pirang keluar ruangan. Hal itu membuat Armin dan Mikasa seketika tersentak. Mikasa menggeram saat Jean memindahkan Armin ke kelas lain yang lebih rapi dan lebih terang. Mendudukkannya di salah satu bangku.

" Selesaikan masalah kalian!" Teriak Jean.

Mikasa menyenggolnya kasar saat masuk ke dalam ruangan dan menatap Jean kelewat tajam. Hampir sama seperti tatapan Levi.

DRRRTTT...

DRRRTTTT...

DRRRRRTTTT...

" Mikasa..." Tunjuk Armin. " Telponmu..."

Mikasa berhenti berjalan dan mengangkat telpon dari balik kantong jasnya.

" Papa?" Dahi gadis itu mengernyit heran. " Ya halo papa?"

DEEEG!

Mikasa menjatuhkan ponselnya dan berlari menuju ke arah Armin. Ia memegangi pundak Armin kelewat syok.

" Ada apa?" tanya Armin gelisah.

" Eren dibawa kemana?" Mikasa menatap Armin tajam.

Armin mencoba melihat ke lain dan menggigit bibir bawahnya kelewat dalam. " Anuu..."

" Amin jangan berbohong" Ucap Mikasa dingin. Ia menyorot dalam dan tajam ke dalam mata biru milik Armin.

" Eren menghilang!" Armin sedikit terisak. " Ini salahku..."

Mikasa makin melebarkan matanya. Ia tidak pernah melebarkan matanya selebar ini karena kaget. " KEMANA!? APAKAH LEVI YANG MEMBAWANYA!?"

Armin menggeleng mantap. " T-tidak! Bukan Levi! Levi malah menyuruh seluruh pasukannya untuk mencari Eren!"

' Ada hubungan apa Levi dengan Eren?' Gumam Mikasa dalam hati.

" M-memangnya ada apa Mikasa?" Armin bertanya. " K-kau tahu dimana Eren?"

Mikasa menatap berang ke arah lain. Ia menggertakkan giginya.

" Ayah Eren..."

" Hah?" Beo Armin. "Siapa?"

" Ayahku menelpon kalau ayah Eren membawa Eren pulang ke Jerman"

" APA!?/APAAA!?

Jean yang tadi di luar saja ikut masuk dan berteriak sesama Armin. Kedua orang itu sama-sama terbelalak kaget.

" M-MIKASA!" Armin menggoyang-goyang badan Mikasa kuat. " KITA HARUS BERBUAT SESUATU! K-KENAPA SECEPAT INI!? KITA HARUS MEMBERITAHU LEVI!"

Mikasa menjauhkan badannya saat Amin berteriak nama Levi.

" K-kenapa harus Levi?"

Armin menutup matanya. Mata Mikasa menyiratkan kata jijik saat nama levi terdengar oleh pendengarannya.

" K-Karena hanya Levi yang bisa...kumohon Mikasa"

.

.

.

.

T

B

C

XD

Halo halo...

Ada yang ingat saya atau cerita gaje ini?

Ada yang miss me?

Gomeeeen kalau w seperti meninggalkan kalian semua. Sumpah w sayang kalian semua. Untuk beberapa bulan ini w tidak bisa megang laptop sering-sering kana sibuk ngurusin acara dan sekolah... T_T*nangis di pojokan*

Untuk chap depan baik di FF maupun wattpad sudah mulai w usahakan mempertemuka Levi dan Eren biarpun ada sesuanu nanti Hmmmm... *Uhuk uhuk*

W sangat berterimakasih bagi kalian yang sudah follow saya ataupun rate cerita ini. Rate dan read...tidak ada perasaan lain yang sanggup saya katakan pada kalian selain maaf karena ini sudah telat berbulan bulan*dimutilasi readers* dan terima kasih.

Terima kasih untuk semuanya...semua dukungan...

Kalau kalian tidak keberatan juga ada cerita lain saya yang saya buat juga mohon diberi dukungannya *hehehehehehe

See you at next Chapter!