Ia sering sekali mengalami telportasi mendadak tanpa ia kehendaki. Saat itu terjadi dikatakan bahwa ia akan segera bertemu dengan calon istri yang merupakan anugrah sekaligus hukuman baginya. Tapi sudah ratusan kali ia mengalami hal ini namun orang yang ia temui saat teleportasi bukanlah calon istrinya. Melainkan variable yang akan membawanya ke calon istrinya yang sesungguhnya. Mereka hanya sekumpulan orang yang menjadi pengantar bagi dirinya untuk bertemu calon istrinya.

Delapan belas tahun lalu ia mengalami hal seperti ini juga. Saat itu ia masih mengingat jelas bahwa ia berjalan di sekitaran ladang gandum miliknya di Inggris sore hari. Namun, saat ia berpijak pulang tiba-tiba saja ia sudah berada di jalanan aspal yang penuh salju, suasana malam hari dan seorang wanita berperut buncit melintasi trotoar.

Ia sempat berpikir bahwa ini variable kesekian yang ia alami. Namun, variable nya yang satu ini berbeda. Ia seperti merasakan bahwa sesuatu yang mengarah ke calon istrinya akan segera datang.

Tepat saat ia melangkah maju sebuah mobil melaju ke arah si wanita dengan kecepatan tinggi. Semua berjalan begitu cepat, si wanita melayang di udara lalu terpental ke jalanan aspal yang dingin dan penuh salju.

Yoongi melangkah begitu saja. Ia tidak tahu alasannya, seperti ada sebuah tangan besar yang mendorongnya mendekati si wanita.

"Selamatkan aku…"

"Kenapa aku harus menyelamatkanmu? Aku bukan dokter, Tuhan atau siapapun yang bisa menolongmu. Aku hanya ingin melewati jalan ini"

Dia menggeleng. Menahan kepergian orang tersebut, menahan kaki itu untuk melangkah lebih jauh. Dia masih berusaha bernafas dengan normal, memegangi perutnya yang mulai terasa sakit luar biasa, perutnya seperti ingin pecah.

"Selamatkan aku… aku mohon… kalau kau tidak mau menyelamatkanku… selamatkan dia" si wanita menunjuk perutnya.

Yoongi mengalihkan pandangannya berusaha tidak peduli. Ia melangkah menjauh meninggalkan si wanita yang kembali mengerang kesakitan, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah lirihan dan sunyi. Kepalanya menoleh ke belakang, pandangannya terpaku pada si wanita lalu seperti sebuah magnet tubuhnya bergerak mundur menghampiri si wanita tadi.

"Aku memberikan salah satu nyawaku untuk pertama kalinya pada orang asing. Pada variable yang akan membawaku pada calon istri yang akan membebaskan aku dari hukuman menyiksa ini"-Yoongi

2017

Ia menghela nafas melihat makhluk setengah manusia setengah kelelawar ini berada satu dapur dengannya, bahkan dengan berani membuat salad tanpa rasa menggunakan bahan-bahan di kulkas miliknya. Yoongi berdecak sebal, menghampiri SeokJin lalu mengambil panggangan dan meletakannya di atas kompor.

SeokJin melirik sebentar lalu mengangkat bahunya tidak peduli. Ia kembali melanjutkan memasaknya dengan memasukan olive oil ke dalam saladnya dan berlanjut menuangkan garam tapi dengan kurang ajarnya Yoongi merebut garam itu menggunakan telekinesis nya. SeokJin menatapnya dengan pandangan nyalang sedangkan Yoongi hanya bisa nyengir tanpa dosa.

"Aku yang membeli garam ini, lagipula kau tidak membutuhkannya karena kau tidak bisa merasakan garam ini" ucap Yoongi dengan nada menjengkelkan berkali-kali lipat. SeokJin menggeram marah, mengambil mayonise dan menuangkannya ke dalam salad.

"Ah, kau memasak daging?" tanya SeokJin tiba-tiba. Yoongi hanya diam tapi ia tetap mengangguk menjawab pertanyaan SeokJin, namun setelahnya ia menyesal menjawab pertanyaan SeokJin yang ternyata sebuah kamuflase sebuah pertengkaran.

"Ah, aku baru ingat. Kau gumiho yang memakan daging itu berarti kau karnivora"

Dengan kesal Yoongi menggebrak konter dapurnya hingga seluruh barang termasuk tempat bawang berceceran kemana-mana. SeokJin langsung berteriak histeris melihat bawang terpampang jelas di hadapannya, ia berlari mencari tempat aman dari kepungan bawang putih itu hingga ia berhenti di sudut dapur.

Menatap horror keadaan sekitarnya yang penuh dengan bawang dan wajah menyeramkan Yoongi.

"1-0!"

"YAK! Buang semua bawang ini! Yak! Gumiho!"

Yoongi berpura-pura tuli dan terus melanjutkan acara panggang memanggang daging di Teflon tanpa menyadari tubuhnya perlahan-lahan mengeluarkan asap dan cairan kental berwarna merah. SeokJin mengernyit heran melihat Yoongi mulai menghilang dari atas sampai bawah.

"Yak! Kenapa tubuhmu itu?" tanya SeokJin dengan wajah bingung, mata bulat dan bibir sedikit takjub melihat tubuh Yoongi bisa seperti itu. Yoongi sendiri mengernyit bingung, ia arahkan pandangannya ke bawah. Matanya membulat sempurna melihat kakinya mulai menghilang bahkan tangannya mulai berasap dan mengeluarkan darah.

"Ini bukan variable"

SeokJin mengernyit heran mendengar ucapan Yoongi yang tidak masuk akal. Yoongi menatapnya lalu tubuh berbalut turtle neck itu menghilang entah kemana. Meninggalkan SeokJin yang bingung, takut dan tanda tanya yang memenuhi kepalanya.

"Kenapa dengan gumiho itu?"

Matanya yang sipit langsung bertemu dengan sosok yang ia temui beberapa hari lalu. Bedanya dia mengenakan seragam sekolah dan dalam keadaan benar-benar kacau. Semua itu terbukti dengan suara tangis yang begitu memilukan. Kejadian 18 tahun lalu kembali terulang, ia kembali bergerak maju mendekati dia. Matanya lebih menelisik jauh tentang dia yang ternyata seorang siswa dan sepertinya berniat bunuh diri.

Itu terbukti dari posisi tubuh dia yang berada di pagar pembatas, dan meremat sebuah potongan kaca. Seketika Yoongi tersadar akan sebuah fakta bahwa siswa SMA itu bukan variable yang akan mengantarnya pada calon istrinya melainkan…

Siswa SMA itu adalah calon istrinya.

Yoongi berjongkok di samping siswa SMA yang masih menangis histeris dengan kepala tertunduk ke bawah. Ia menghela nafas, melirik telapak tangan pemuda mungil itu lalu menyentuhnya.

"Uljima"

Ia berani bersumpah kalau bibirnya bergerak sendiri mengucapkan kata itu. Pandangan mereka bertemu, Yoongi terkesip di tempat menerima tatapan seperti itu dari seseorang yang baru ia temui beberapa hari lalu tanpa sengaja. Ia mengeluarkan sapu tangan, membalut luka penuh darah itu hati-hati.

"Uljimara…"

"Ahjussi…"

Ia memang berusia sangat tua tapi wajahnya tidak setua itu. Yoongi kembali menghela nafas, membantu siswa SMA bernama Park Jimin itu untuk bangun. Mengusap kedua pipi bulat itu lalu terakhir mengusak rambut itu agar kembali rapih.

Jimin terkesip di tempat mendapat perlakuan layaknya seorang manusia, sentuhan ini begitu nyaman dan penuh kasih.

"Ahjussi, nuguseyo?" tanya Jimin seraya mengambil jarak yang cukup jauh dari Yoongi. Menatap pria yang jauh lebih tua darinya itu penuh waspada dan curiga meskipun tadi ia sempat menikmati dan menginginkan lebih perhatian dari Yoongi tapi tetap saja Yoongi itu orang asing. Yang terpenting ia tidak mengenal Yoongi dan berasal darimana Yoongi.

"Aku seseorang yang akan kau kenal" ucap Yoongi dengan tangan masuk ke dalam saku celananya. Menatap Jimin yang juga sedang menatapnya penuh tanda tanya dan waspada. "Aku bukan seorang pencabul seperti di TV. Aku seorang jin, jin di Aladin" lanjut Yoongi dengan wajah datar. Maksudnya untuk membuat lelucon tapi bukan suara tawa yang ia dapat melainkan suara angina berhembus kencang serta suara jangkrik.

Jimin mengernyit bingung dan sangsi. Selain pria ini ia tidak kenal, orang ini juga sangat aneh, mulutnya kembali terbuka untuk bertanya namun ia mengurutkan niatnya itu. Ia lebih memiilih mengusap kasar wajahnya lalu bergegas pergi karena bel tanda masuk jam pelajaran ke empat terdengar begitu keras. Ia tidak mau beasiswa nya dicabut karena kesalahan kecil yang ia perbuat yaitu membolos.

Yoongi tidak sempat mengejar Jimin, langkah pemuda mungil itu cukup cepat dan gesit, mungkin saja ingin mengejar kelas yang diisi oleh guru killer. Ia mengangkat bahunya tidak peduli, kepalanya menengok ke kanan dan kiri mencari sebuah lorong atau pengkolan untuk dirinya kembali. Mungkin saja dugaannya salah kalau siswa SMA bernama Park Jimin itu calon istrinya, bisa saja ini sebuah kebetulan yang menyerupai peristiwa delapan belas tahun lalu itu. Ia juga tidak tahu pasti karena ia belum memastikan satu hal mengenai siswa SMA tadi.

Dengan langkah gontai ia memasuki lapangan basket indoor sambil membawa peralatan bersih-bersih akibat perbuataannya membolos tadi ketahuan, selain itu ia mendapat peringatan bahwa jika hal ini terjadi lagi maka ia bisa mendapat surat peringatan pertama mengenai pemutusan beasiswa sepihak. Dan Jimin tidak mau itu terjadi, jika itu terjadi maka beban di pundaknya akan semakin bertambah berat.

Tangannya bergerak memunguti satu persatu bola tennis lalu memasukannya ke dalam keranjang, terus seperti itu hingga sebuah suara benda jatuh mengalihkan perhatiannya dari bola terakhir ke arah belakang.

"Sorry, aku tidak melihat keranjang ini"

Mata Jimin membulat dengan sempurna melihat keranjang bola tennis itu terjatuh hingga semua isinya berserakan dimana-dimana. Ia segera berlari menghampiri gerombolan genk trouble maker itu, memunguti kembali bola-bola tennis itu dan memasukannya ke dalam keranjang. Tapi ketika ia sedang berjongkok memunguti bola-bola itu dengan sengaja Bambam membuatnya bersujud di hadapan mereka.

"Kenapa kau kabur saat jam pelajaran wajib? Kau menghindari kami?" tanya Jinyoung mengambil tempat di hadapan Jimin yang sedang bersimpuh di hadapan mereka. Kepalanya menunduk, ketakutan dengan pandangan tujuh orang di hadapannya yang seperti menelanjangi dirinya saat itu juga. Ia berusaha menahan gemetar di kedua tangannya tapi hal itu percuma karena mereka sudah melihatnya.

Jungkook adalah orang pertama yang tertawa sangat keras, menyuruh Bambam untuk mundur lalu ia mengambil alih berdiri di hadapan Jimin. Menatapnya dengan pandangan meremehkan, "Bangun!"

Jimin tetap diam di tempat, seolah tuli dengan perintah Jungkook yang memerintahkannya untuk segera bangun. Jungkook berdecak sebal, dengan kasar ia menarik lengan Jimin hingga tubuh mungil itu berdiri dengan paksa. Tangannya beralih mencengkram kerah seragam Jimin, memperpendek jarak di antara mereka.

Jimin terkejut, pandangannya membulat dan takut melihat mata Jungkook berkilat tajam penuh emosi. Namun ia mengernyit melihat perubahan wajah Jungkook yang tidak di sadari semua orang, wajah itu sedikit-sangat sedikit melunak saat beradu pandang dengan tatapan Jimin yang penuh rasa takut.

"Saat aku memerintahkanmu sekali kau harus langsung menurutinya, arra?"

Jimin mengangguk gugup tapi hal itu tidak membuat Jungkook mengendurkan cengkramannya, Jungkook malah semakin mencengkramnya hingga membuat dirinya sulit bernafas. Mata itu bukan lagi berkilat penuh emosi melainkan intimidasi yang mendalam.

"Nde, aku akan mengingatnya" jawab Jimin akhirnya mengeluarkan suaranya. Jungkook tersenyum senang, melepaskan cengkramannya hingga tubuh mungil itu terdorong ke belakang. Lalu memberi kode bagi teman-temannya untuk pergi meninggalkan Jimin.

Sekilas saat berbalik Jimin bisa melihat bahwa angka di kepala Jungkook bertambah. Apa itu artinya Jungkook berbohong soal meninggalkan Jimin di sini agar pekerjaan pembantu rumah tangganya selesai. Apa mungkin Jungkook mengasihaninya?

Itu tidak mungkin. Seorang Trouble Maker yang selalu mengganggu, membully bahkan melakukan tindakan fisik mengasihaninya. Ia menggelengkan kepala berusaha menghilangkan khayalan mustahil itu, ia kembali melanjutkan kegiataannya yang sebelumnya mengumpulkan bola dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Sekitar tiga jam lamanya ia berhasil menyelesaikan hukuman ini dan bergegas masuk ke dalam kelas jam pelajaran tambahan. Namun, semua itu seperti mustahil ketika ia membuka pintu sebuah ember berisi saus kacang membasahi seluruh tubuhnya. Tubuhnya terpaku di tempat menerima semua tatapan mengejek dan menghina dari seluruh teman-temannya.

Ia bisa melihat Jieun, Irene, Joy, Jinyoung, Baekhyun, dan Bambam termasuk Jungkook ikut tertawa bahagia melihat aksi lanjutan bully setelah di lapangan indoor tadi.

Jungkook tidak akan pernah mengasihaninya.

Diam-diam Yoongi melihat semua aktivitas yang dilakukan siswa bernama Park Jimin itu. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu rumahnya, matanya menatap ke atas seolah menerawang jauh ke atas sana. Kenapa anak itu tidak melawan ketika tujuh orang itu mendorong, membully secara fisik dan mental? Apa anak bernama Park Jimin itu selemah itu?

Tidak mungkin calon istrinya selemah itu, mungkin saja dia variable yang akan membawanya semakin dekat dengan calon istrinya.

Ia kembali mengalami perasaan delapan belas tahun itu, ia merasa kasihan dengan seseorang yang baru ia kenal bahkan baru ia ketahui namanya. Yoongi merasakan perasaan aneh selain itu, ia merasa bahwa anak itu harus ia tolong. Tapi, dengan cara apa?

"Aish, apa aku harus ke sana lagi?" tanya Yoongi pada dirinya sendiri. Ia menghela nafas berat, berusaha tidak peduli dengan kata-kata di dalam dirinya untuk pergi ke sekolah itu dan menghampiri Jimin. Ketika ia sampai di ruang tamu bertemu dengan NamJoon dan SeokJin, ia menghela nafas lalu segera berbelok ke lorong di mansionnya dan menghilang.

"Samchon waegurae?"

"Dia sedang gila, cepat jalankan caturmu!"

Yoongi tidak menemukan siapa pun. Sekolah itu sudah sepi, bahkan beberapa lampunya sudah mati. Pasti sekolah sudah tutup dan seluruh muridnya sudah pulang, ia berdecak sebal lalu masuk kembali ke dalam lorong. Dan ia berpindah ke jalanan, mencari keberadaan Jimin yang ternyata sedang berjalan lunglai dengan seragam olahraga dan menenteng sebuah paper bag.

Dengan langkah pelan ia mengikuti pemuda mungil itu, menatap punggung mungil itu yang berjalan dengan langkah lunglai tanpa tenaga. Bahkan dia tidak sadar berjalan terlalu dekat dengan jalanan aspal yang lumayan ramai. Tanpa pikir panjang Yoongi berlari menghampiri pemuda mungil itu dan menariknya kembali ke trotoar.

Jimin sedikit memekik mendapat tarikan kasar dan suara klakson mobil memekakan telinga melewatinya. Ia baru saja tersadar bahwa ia berjalan terlalu dekat dengan jalanan. Ia mengambil nafas, lalu menoleh ke samping untuk melihat siapa penyelamatnya.

"Ahjussi!"

"Jangan berjalan dengan pikiran kosong seperti itu lagi" nasihat Yoongi lalu melepas rengkuhan lengannya pada pundak Jimin. Menatap penampilan Jimin dari atas sampai bawah seperti orang habis mandi. "Apa kau barusan mandi?" tanya Yoongi penasaran.

Jimin diam, tidak menjawab ya atau tidak. "Itu bukan urusanmu" jawab Jimin lalu kembali berjalan tanpa memedulikan Yoongi yang ikut berjalan di sampingnya. Mereka saling diam dan berusaha tidak saling peduli, lama kelamaan Jimin yang mulai risih menghentikan langkahnya lalu mengambil tempat di hadapan Yoongi.

"Apa aku boleh bertanya beberapa hal?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk memberi ijin. "Ahjussi nuguseyo? Kenapa ahjussi tiba-tiba muncul dan selalu mengejutkanku? Yang terpenting apa ahjussi mengenalku?" tanya Jimin dengan nada penasaran dan sedikit curiga di akhir. Ia tidak pernah mengenal Yoongi, bahkan ia baru bertemu dengan pria tua ini tadi di atap sekolah.

Siapa dia dan kenapa dia mau mendekati Jimin. Yoongi terdiam, menatapi wajah itu dengan pandangan lembut. Ia baru sadar satu hal bawah pemuda ini berbeda dari variable-variable yang pernah ia temui. Variable kali ini terlalu bersinar, bercahaya dan begitu kuat meskipun selalu mendapat perlakuan semena-mena di sekolah.

"Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan satu kata" ucap Yoongi masih dengan menatap Jimin begitu lekat, seperti ada lem yang menempelkan pandangannya untuk menatap wajah itu saja. Suasana di sekitar mereka sudah semakin sunyi, sepi dan dingin, menambah sinar di tubuh Jimin semakin terang.

"Yeppo"

Jimin tertegun di tempat. Perasaan aneh tiba-tiba saja muncul di relung hatinya mendengar sebuah pujian dari mulut seorang pria tua dan tidak di kenal. Semburat merah muda menjalar di kedua pipinya, namun segera ia tepis dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membiarkan Yoongi menatapnya, lalu tiba-tiba Yoongi menarik tangannya yang masih berbalut sapu tangan miliknya.

"Aku ingin mengganti sapu tangan ini dengan perban" ucap Yoongi mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata Jimin ke telapak tangan pemuda mungil itu yang menampilkan sebuah luka yang masih menganga lebar.

"Kau masih harus membersihkan luka ini, jika terinfeksi kau bisa demam tinggi. Arraseo?"

Jimin tidak menjawab. Sejak tadi ia menatap wajah Yoongi yang begitu fokus mengganti sapu tangan berwarna biru itu dengan sebuah perban yang sengaja di bawa Yoongi. Ia meringis menahan sakit ketika Yoongi cukup keras mengikat lukanya. setelah selesai, Yoongi melepas mantel cokelatnya dan membalutnya ke tubuh mungil Jimin.

"Udara semakin dingin, pakailah mantel atau syal"

"Ahjussi bagaimana? Apa ahjussi tidak kedinginan?" tanya Jimin balik, ia sudah bersiap melepas mantel itu jika saja tangan kekar itu tidak menahan tangannya. Mereka kembali berpandangan, Yoongi memandanginya dengan pandangan memerintah bahwa dia tidak boleh melepas mantel ini. Jimin mengangguk, menyamankan posisi mantel itu di tubuhnya lalu tersenyum kecil ke arah Yoongi.

"Ghamsahamnida"

"Kau belum boleh berterimkasih karena aku belum selesai menolongmu" potong Yoongi lalu menepuk punggung Jimin untuk kembali berjalan pulang. Jimin tentu saja terkejut, namun ia tidak menolak ajakan Yoongi untuk mengantar dirinya. Mereka berjalan beriringan memasuki sebuah jalanan tanjakan yang mengarah ke rumahnya.

Tanpa mereka sadari Jieun melihat itu semua, jari-jari mungilnya bergerak lincah di atas ponsel pintarnya memberitahukan pada teman-temannya bahwa Park Jimin berjalan dengan seorang pria yang jauh lebih tua darinya.

Jinjja? Wah, dia itu benar-benar orang miskin seperti tipe-tipe di dalam drama

Kirimkan fotonya agar kami bisa mendapat bahan bully baru

Jieun tersenyum layaknya setan, ia sudah mengarahkan ponselnya tepat di objek yang akan ia foto namun tiba-tiba ponselnya mati dan mengeluarkan percikan api. Otomatis ia berteriak dan membanting ponlsenya hingga jatuh, ditambah tubuhnya tiba-tiba saja jatuh tanpa sebab. Matanya bergerak gelisah, ke kanan dan kiri mencari pelaku yang sudah membuatnya seperti ini.

"Nuguya?!" tanya Jieun berteriak meskipun dengan suara bergetar ketakuan menyadari bahwa mala mini begitu dingin dan sepi. Ia langsung berdiri, mengambil langkah seribu menjauhi tempat menyeramkan itu.

Kalian pasti sudah bisa menebak siapa pelaku perusakan ponsel dan jatuhnya tubuh Jieun.

Ia masih ingat betul jika jam di rumahnya tadi menunjukkan pukul lima pagi saat ia keluar dari rumah, itu berarti sekarang sekitar pukul lima tiga puluh yang artinya masih sangat pagi untuk anak-anak semacam Trouble Maker berangkat jam segini. Sungguh keajaiban jika mereka atau salah satu dari mereka berangkat sepagi ini kecuali untuk membully dirinya.

Jimin tidak bergerak sama sekali melihat Jungkook ada di hadapannya, berdiri di depan pintu kelas yang masih sangat gelap dan sepi. Menatap dirinya dengan pandangan tajam, penuh selidik terutama ketika melihat dirinya mengenakan mantel pemberian Yoongi-ia baru nama pria itu semalam.

"Kenapa kau sudah ada di sini pagi-pagi sekali?" tanya Jimin setelah mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya. Jungkook tersenyum miring, mengambil satu langkah ke depan mendekati Jimin yang mundur perlahan menjauhi Jungkook.

"Kau memakai mantel yang kebesaran untuk ukuran tubuhmu, kau dapat darimana?" tanya Jungkook to the point. Jimin menengadah guna mengsejajarkan pandangannya dengan Jungkook. Bibirnya terasa kelu, otaknya berputar-putar bingung ingin menjawab pertanyaan Jungkook. Tangannya sedikit gemetar diikuti dengan seluruh tubuhnya.

"JAWAB!"

Jimin terlonjak kaget, kepalanya menunduk tidak berani menatap Jungkook lebih lama lagi. Jungkook menarik nafas sedalam-dalamnya, mengacak-acak rambutnya lalu pergi begitu saja tanpa melakukan apapun seperti dugaan Jimin. Pemuda mungil bermarga Park itu menatap Jungkook yang sudah melangkah jauh, seakan-akan kepergiannya itu dilakukan untuk menahan gejolak emosi yang tidak terkendali karena melihat Jimin mengenakan mantel milik Yoongi.

"Kenapa dia?"

Teras di samping rumahnya yang biasa ia gunakan untuk menenangkan diri sekarang sudah beralih menjadi ruang kerja seorang vampire yang seharusnya takut pada sinar matahari. Ia membuang nafas kesal, menatap SeokJin dengan kilatan tajam tapi manusia setengah nyamuk itu tidak peduli sama sekali.

"Bukankah makhluk sepertimu seharusnya takut pada matahari?" tanya Yoongi dengan nada super menjengkelkan. SeokJin menghela nafas, menutup dokumen yang tadi ia baca dengan serius lalu beralih menatap Yoongi dengan pandangan tutup mulutmu. Yoongi menurunkan bibirnya tidak peduli, ia mengambil tempat di samping SeokJin lalu menatapi beberapa tanaman hias yang sudah ia rawat sangat lama.

"Kau belum menjawab pertanyaanku"

"Aku vampire yang sudah sangat tua jadi tubuhku sudah bisa menyesuaikan matahari dan beberapa makanan manusia" jawab SeokJin dengan nada ketus. Yoongi beroh ria, matanya melirik salah satu dokumen yang dibaca SeokJin.

"Kau itu sebenarnya bekerja sebagai apa hingga mampu membeli mansion mewahku ini?" tanya Yoongi lalu membuka salah satu dokumen yang tergeletak tidak jauh darinya, namun matanya mengernyit tidak mengerti dengan tulisan di hadapannya. SeokJin berdecak sebal dengan gaya bicara Yoongi yang seakan-akan merendahkan dan mempertanyakan uang yang ia dapat.

"Aku bekerja di badan yang mengurusi para vampire dan menghukum mereka jika mereka membuat salah, lalu mengantarkan mereka yang sudah selesai dalam masa hukuman sebagai vampire ke alam baka bertemu Dia" SeokJin menunjuk ke atas memberi penjelasan tentang dia adalah Tuhan. Yoongi kembali ber'oh' ria. Ternyata menjadi vampire juga sebuah hukuman.

"Apa kau menjadi vampire karena sebuah hukuman?"

Kali ini Yoongi bertanya dengan nada santai, tidak menyebalkan atau menjengkelkan. SeokJin tersenyum miris mengingat satu hal bahwa ia menjadi vampire tanpa tahu salah dan dosa apa yang ia miliki hingga ia dibiarkan abadi seperti ini. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri secara teratur, sebuah tanda bahwa ia tidak tahu apa alasannya.

"Kadang aku iri padamu. Kau mendapat hukuman menjadi Gumiho tapi kau tahu alasan kenapa kau diberikan hukuman seperti itu, sementara aku tidak tahu apa-apa" ucap SeokJin dengan nada lirih dan pandangan sendu. Yoongi menoleh mendengar SeokJin membicarakan tentang hukuman mereka masing-masing.

"Yak! Aku malah mau mendapat hukuman seperti dirimu, kau menjalani hukuman tanpa mengenang kesalahan-kesalahanmu, orang tersayangmu dan masih banyak lagi hal yang ingin aku lupakan tapi tidak bisa"

SeokJin menoleh ke arah Yoongi yang ternyata sudah menghilang entah kemana setelah mengucapkan kalimat tadi. Ia berdecak, kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi karena Yoongi mengajaknya ngobrol. Gumiho menyusahkan-pikir SeokJin.

"Ass!"

Jimin mendesis menahan sakit melihat jarinya tiba-tiba saja tergores pisau saat ia sedang praktik memotong sayuran-sayuran dalam pelajaran tata boga. Ia segera mengambil tissue untuk menahan pendarahan tapi sebuah tangan tiba-tiba saja menariknya, lebih tepatnya menarik jarinya yang tergores pisau.

Matanya membulat melihat sang pelaku adalah Jeon Jungkook. Orang yang sama yang telah membentaknya tadi pagi sekarang terlihat panik hanya karena jari orang yang selalu dibully tergores pisau dapur. Kontan seluruh pasang mata menatap dirinya aneh, tajam dan iri terutama Jieun. Dia begitu menatap Jimin dengan pandangan tajam, terutama melihat Jungkook dengan hati-hati membersihkan luka di jari Jimin lalu membalutnya dengan plaster.

"Jangan pernah melukai tubuhmu karena yang boleh melukai tubuhmu hanya aku dan teman-temanku"

Jimin mengernyit melihat angka di atas kepala Jungkook bertambah satu. Apa itu artinya Jungkook berbohong soal kalimatnya? Setelah membalut luka di jarinya Jungkook kembali ke kelompoknya melanjutkan pelajaran tata boga yang sempar tertunda karena insiden mengejutkan yang ditimbulkan Jimin dan Jungkook.

Yoongi menghela nafas lega melihat Jimin baik-baik saja, hanya jarinya saja yang terluka akibat tergores pisau tadi. Untung saja ia muncul di luar kelas bukan di samping Jimin, bisa-bisa Jimin semakin dibully karena berteman dengan orang aneh atau mungkin hantu. Ia menatap sekitarnya yang begitu sepi karena jam pelajaran masih berlangsung, segera ia berjalan masuk ke dalam lorong dan kembali ke mansionnya.

"Kenapa kau ini selalu muncul tiba-tiba?!"

Namun, terjadi kesalahan karena ia muncul di kamar yang salah yaitu kamar SeokJin. Pria dengan bahu lebar itu baru saja keluar dari kamar mandi dan untungnya sudah mengenakan pakaian lengkap.

"Aku tidak sengaja, pikiranku sedang kacau" elak Yoongi lalu berjalan keluar dari kamar SeokJin begitu saja, tanpa mengindahkan sama sekali teriakan dan umpatan dari SeokJin.

"DASAR GUMIHO BRENGSEK!"

Setelah pelajaran tata boga itu, Jimin terdiam di depan lokernya sendiri. Menatapi jari telunjuknya yang berbalut plester bergambar pisang, lalu ucapan Jungkook dan angka di kepala pemuda itu yang bertambah. Apa mungkin kekuataannya mulai error? Bisa saja itu terjadi. Ia menghela nafas, membuka loker miliknya dan alangkah terkejutnya Jimin melihat lokernya penuh dengan coret-coretan bernada sindiran dan umpatan kasar.

"Ada apa?"

"Kkamjakya!"

Jungkook tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Menghimpit tubuh mungilnya di loker sambil matanya menelusuri isi loker Jimin yang berantakan dan penuh coretan. Pemuda bermarga Jeon itu menghela nafas, menutup loker Jimin lalu menatap deretan loker teman-temannya yang tertutup rapat.

"Kau mau apa?" tanya Jimin bingung, ia bisa mencium gelagat aneh saat Jungkook mengeluarkan sebuah kantung plastik berisi telur dan berniat melemparkannya ke deretan loker anggota Trouble Maker. Jimin segera menahan tangan Jungkook sekuat tenaga.

"Hajima!"

"Wae? Mereka yang melakukannya, mereka melakukannya tanpa perintahku dan aku tidak suka hal itu!" ucap Jungkook tanpa menatap wajah Jimin yang panik luar biasa, ia takut jika ada orang yang melihat Jungkook melakukan hal senekat ini hanya karena masalah sepele.

"Hajima! Mereka teman-temanmu, kau tidak seharusnya melakukan ini. Bukan mereka yang melakukannya, aku yakin itu!"

HIK!

Jungkook menyeringai mendengar suara cegukan Jimin. Ia menaruh kembali telur itu ke dalam kantung, menatap Jimin yang sekarang mulai ketakutan melihat Jungkook. Ia melangkah mundur hingga tubuhnya terhimpit loker dengan salah satu tangan Jungkook memenjarakan tubuhnya.

"Geotjimal. Kau juga yakin kalau teman-temanku yang melakukan semua itu"

"Anniyo! Aku yakin bukan mereka!"

HIK!

Jungkook kembali tersenyum senang mendengar Jimin kembali cegukan, ia bisa melihat Jimin mengumpat halus setelah cegukannya yang kedua terdengar.

"Meskipun begitu tidak seharusnya kau bertindak seperti ini. Mereka teman-temanmu" sanggah Jimin masih tetap ngotot menahan Jungkook mengotori loker-loker Trouble Maker.

Jungkook menaruh kantung telur itu di atas loker lalu beralih merogoh saku celana seragamnya, Jimin sempat mengira kalau Jungkook akan mengeluarkan sebuah pisau atau apapun itu tapi pemuda bermarga Jeon itu mengeluarkan sebuah sapu tangan.

"Bersihkan lokermu"

Kali ini ia bisa melihat angka di atas kepala Jungkook tidak bertambah atau berkurang. Setelah memberikan sapu tangan itu Jungkook melangkah pergi begitu saja, meninggalkan puluhan tanda tanya di kepala dan juga batinnya. Kenapa tiba-tiba Jungkook bertingkah seperti ini?

Enam orang berstatus Trouble Maker itu hanya bisa menggeram penuh amarah melihat pemimpin mereka-Jungkook bersikap lembut pada target bully mereka. Di antara mereka Jieun lah yang paling emosi melihat Jungkook bersikap seperti itu. Dengan kasar ia menggebrak meja, menendang kursi dan mengacak apa pun di markas mereka.

"Geumanhae! Kau membuat tempat ini berantakan" marah Jinyoung tidak terima. Jieun hanya bisa menggeram penuh amarah, menatap Jinyoung dan teman-temannya.

"Park bangsat Jimin itu harus kita beri pelajaran. Jangan sampai dia merebut Jungkook dari kita semua dan membuat Jungkook menjadi manusia"

"Kalian pernah mendengar gunung Chunjong?"

Jieun menoleh mendengar Baekhyun mengucapkan nama gunung yang tidak pernah mereka dengar sama sekali. "Igo mwondae?" tanya Jieun seraya duduk dan melipat tangan di dada. Menatap Baekhyun dengan penuh penasaran, sementara yang ditanya hanya tersenyum miring.

"Kita buat dia hancur, aku memiliki beberapa kenalan dari sekolah lain. Mereka pasti mau membantu kita"

Seketika enam kepala itu tersenyum penuh kemenangan menyadari rencana Baekhyun yang begitu cemerlang dan brilliant. Jieun mengangguk paham, tersenyum bahagia namun sebenarnya senyum itu adalah senyum setan.

Seorang pemuda berwajah manis dengan rambut hitam legam, blazer hitam, kemeja putih dan celana dasar hitam membungkus kaki indahnya melangkah terburu-buru menyusuri trotoar jalan yang padat oleh orang-orang yang berlalu lalang. Senyum terus mengembang di bibir merah mudanya mengingat hari ini adalah hari yang paling indah yang pernah ia lalui.

Di arah yang berbeda seorang pria berpakaian serba hitam melangkah dengan pasti melewati beberapa orang tanpa rasa takut orang-orang akan mengetahui rahasianya. Pria itu-SeokJin menatap ke depan, atensinya yang semula menatap orang-orang random mulai memfokuskan pandangannya ke sebuah objek yang tidak jauh darinya.

Objek itu berhenti melangkah di sebuah meja yang penuh dengan berbagai aksesoris. Ia lalu kembali menatap ke depan berusaha tidak peduli dan fokus berjalan menuju tempat kerjanya. Ketika ia melewati kedai itu, sebuah sinar yang entah darimana datang tiba-tiba menerpa kedua matanya.

Otomatis SeokJin berhenti melangkah, sedikit menepi ke meja itu seraya kepalanya menunduk ke bawah. Setelah dirasa sinar itu menghilang ia mendongak kembali, di hadapannya muncul objek tadi. Pemuda manis berpakaian formal sedang tersenyum menatapi sebuah cermin berhiaskan manik-manik di sekeliling cermin itu.

"Igo eolmanaeyo?"

Tubuhnya serasa kaku di tempat mendengar suara si pemuda begitu lembut, ceria dan suara yang terdengar begitu riang. Si penjual mengernyit heran melihat kehadiran seorang pria asing berpakaian hitam menatapi pelanggannya terus menerus.

"Agasshi, apa itu pacarmu?" tanya si penjual pada pemuda manis. Pemuda manis itu mengernyit bingung, menoleh ke arah kanan dan pandangan mereka bertemu. SeokJin semakin diam seribu bahasa menatap secara langsung manik sewarna cokelat itu, manik yang menatapnya penuh tanda tanya dan kebingungan.

"Nuguseyo? Apa aku mengenalmu? Kenapa kau mengeluarkan air mata seperti itu? Apa matamu kemasukan debu?" tanya si pemuda manis mulai panik. Tapi SeokJin tetap bungkam seribu bahasa, hingga si pemuda memberanikan diri mendekat seraya mengarahkan cermin yang ingin ia beli ke wajah SeokJin.

"Lihat, matamu berair"

SeokJin tersadar, ia segera mengusak matanya lalu menepis cermin itu menjauh. Sedikit lagi jari mereka bersentuhan, tinggal beberapa inchi lagi dan membuat si penjual menampilkan wajah kecewa.

"Aku ingin membeli cermin itu"

Si pemuda berwajah manis itu mengernyit heran, tidak suka dan bingung dengan perubahan sikap SeokJin yang sangat cepat. Tadi begitu emosional sekarang begitu menuntut, ia segera memain-mainkan cermin itu seakan-akan menggoda SeokJin.

"Kau ingin ini? tapi aku yang menemukannya lebih dulu"

"Aku akan membayar berapa pun asalkan kau memberikan cermin itu" tuntut SeokJin sedikit menaikkan nada bicaranya. Si pemuda mengernyit tidak suka, ia menelisik lebih jauh penampilan SeokJin dari atas sampai bawah lalu menyeringai senang. Wajah pemuda ini sangat tampan meskipun berpenampilan aneh.

"Kau tidak perlu mengeluarkan uang cukup dengan nomor telfon, kartu nama atau namamu. Eottaeyo?" tawar si pemuda. SeokJin terdiam, bukan karena ia tidak mau memberikannya karena memang ia tidak punya. Ia tidak punya ponsel, kartu nama ia punya tapi kartu nama ini untuk ia bekerja sebagai badan pengurus vampire dan nama itu sebuah larangan bagi kaum seperti dirinya memberi tahukan nama aslinya.

"Aku tidak hafal nomorku"

"Dasar pria" gerutu si pemuda dengan decakan di akhir kalimatnya. Sedetik kemudian, ia tersenyum lebar seraya menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.

"Tidak apa-apa jika kau tidak mau memberiku nomor telfon atau nama aslimu, kau bisa memanggilku V"

SeokJin kembali terpaku di tempat melihat senyum itu semakin lebar dan membentuk sebuah kotak. Senyum yang aneh tapi di saat bersamaan juga manis, mereka saling berpandangan tanpa menyadari kalau si penjual tersenyum puas dan bahagia. Melihat SeokJin dan V atau Kim Taehyung akhirnya bertemu.

"Kalian tidak perlu membayarnya karena kalian akan membayar semua ini jauh lebih mahal"

Malam ini ia pulang tidak terlalu larut. Jika biasanya ia pulang pukul sebelas malam kali ini ia pulang pukul sepuluh lewat lima belas, dengan begini ia bisa pulang dan beristirahat di rumah dalam keadaan yang sama seperti ia berangkat. Hari ini ia sama sekali tidak kerjai oleh para Trouble Maker, meskipun ia senang dan bahagia tapi tetap saja ada yang aneh dengan sikap mereka hari ini terutama Jungkook.

Jimin melangkah dengan sesekali mengikuti lagu yang terputar di ponsel miliknya yang tersambung dengan ear phone putihnya. Ia terus berjalan pulang tanpa menyadari sebuah mobil mengikutinya secara diam-diam dari belakang. Saat suasana sudah sepi, pintu mobil terbuka dan munculah beberapa siswa SMA lain yang dengan cepat menarik Jimin masuk ke dalam.

"Jimin-ah! Aku akan mengantarmu pulang"

"Nuguseyo? Aku tidak kenal dengan kalian! Kalian siapa?!" teriak Jimin panic dan takut. Ia berusaha berontak dari cengkraman dua pemuda berbadan jauh lebih besar darinya. Ia terus berontak tapi semua itu sia-sia karena mereka jauh lebih kuat dan cepat memasukan dirinya ke dalam mobil dan membawa dirinya entah kemana.

Tidak seperti biasanya si vampire yang lebih mirip nyamuk itu termenung melamun di balkon sambil memandangi cermin tanpa berniat menggunakannya. Iseng ia pun mendekat, merebut cermin itu dan mulai melancarkan aksinya menjahili si vampire.

SeokJin berdecak sebal melihat Yoongi tersenyum-senyum tidak jelas pada bayangannya sendiri yang terpantulkan cermin. Tangannya menggapai berusaha merebut cermin itu tapi Yoongi tetap tidak peduli.

"Kembalikan, itu bukan mainan"

"Aku tahu itu, kenapa kau tidak menggunakannya dengan benar? Bukankah cermin diciptakan untuk bercermin?" tanya Yoongi memulai pertengkaran tidak jelas mereka. Dengan seringai jahil ia mengarahkan cermin itu di depan wajah SeokJin.

"Apa kau punya trauma tidak ingin melihat wajahmu sendiri?" tanya Yoongi memulai aksi debat tidak jelas mereka. SeokJin menghela nafas, mengarahkan pandangannya ke sebuah pot bunga antic yang selalu di puja-puja oleh Yoongi. Dengan sekali kedipan mata pot itu sudah berpindah dari atas balkon menuju lantai bawah.

Bunyi suara pecahan pot porselen langsung menjadi latar belakang kepala Yoongi yang mulai berasap. Tapi anehnya pria berstatus gumiho itu tertawa lebar lalu merubah pandangannya menjadi tajam.

"Kau tahu, pot itu adalah peninggalan Raja Sejong zaman Goryeo!"

Di sebuah jalanan yang begitu sepi dan entah berantah pemuda manis bermarga Park itu menangis. Tubuhnya gemetar takut saat mobil yang membawanya pergi memasuki area hutan semakin jauh dan berhenti di sebuah pafilion tua. Wajahnya yang sudah basah oleh air mata semakin basah, air mata terus-terusan mengalir dari kedua mata indahnya.

"Ttarawa!"

"Shireoyeo!" tolak Jimin seraya beringsut masuk semakin dalam. Dua anak SMA itu berdecak sebal, menarik tangan Jimin dan memaksanya keluar. Namun, Jimin keras kepala dan tetap berusaha keras menahan tubuhnya agar tetap di dalam mobil.

"Aku tidak mengenal kalian berdua, kenapa kalian melakukan ini? apa mau kalian?" tanya Jimin dengan nada histeris, berusaha keras melepas cengkraman pemuda beringas itu di pergelangan tangannya yang sudah memerah. Pemuda beringas itu menggeram kesal, membanting tubuh mungilnya hingga menghantam badan sebelah kanan mobil.

"Kya!"

Yoongi terkesip. Kedua telinganya seperti menangkap sebuah teriakan melengking dari arah luar, lebih tepatnya di sebuah bukit tidak jauh dari mansionnya. Mata sipitnya mengernyit heran, ia berusaha tidak peduli tapi teriakan itu kembali terdengar dan semakin jelas. Barang-barang yang semula berterbangan di sekeliling mereka akibat pertempuran tidak jelasnya dengan SeokJin jatuh begitu saja di lantai.

"Yak! Kau serius mau mengajak ribut?!"

Yoongi tidak mendengarkan ucapan SeokJin lagi. Ia menajamkan pendengaran, dan perasaannya. Ini bukan perasaan aneh seperti biasanya. Perasaan ini seperti mengatakan bahwa ia harus ke sana karena ia mengenal suara ini.

Tubuh mungilnya kembali di tarik untuk tegak. Pemuda yang bertugas sebagai supir itu menghentikan mobilnya tepat di halam sebuah pafilion usang dan tidak terawat. Ia menggeleng keras, berusaha keras melepas cengkraman mereka yang begitu kuat. Kedua pemuda itu menggeram kesal melihat Jimin terus bergerak-gerak berusaha kabur.

"Dia itu kecil tapi tenaganya lumayan menguras tenaga" keluh salah satu dari dua pemuda yang masih berusaha melepas seragam terakhir yang melekat di tubuhnya. Jimin semakin berontak, berteriak sekeras yang ia bisa, tapi semua itu terasa percuma.

"Geumanhaerago!"

"Kami tidak akan berhenti, manis"

Ucapan mereka diakhiri suara tawa bahagia melihat Jimin semakin lemah dalam cengkraman mereka. Kedua mata itu berkilat penuh nafsu saat kancing blazer milik Jimin mulai terlepas begitu juga dengan kemeja seragam Jimin yang sudah sobek di bagian atas. Ia semakin menangis histeris, terdengar memilukan namun dua pemuda itu malah semakin senang.

Setelah dirasa Jimin tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan kasar mereka memenjarakan tubuh Jimin di sisi badan mobil lainnya dan berusaha mencumbunya. Jimin yang awalnya melemah kembali berontak, menendang dan memukuli mereka tapi tidak satupun dari usahanya berhasil.

"Berhentilah berontak! Atau kami akan membuat keadaanmu lebih parah daripada ini!" ancam salah satu dari pemuda itu yang sudah jengah dengan pemberontakan Jimin.

"Lepaskan aku! Aku tidak memiliki masalah dengan kalian, aku bisa melaporkan tindakan kalian ke polisi. Lepaskan aku!" mohon Jimin lagi. Kedua pemuda itu tersenyum meremehkan, semakin berusaha melepas seluruh seragam yang melekat di tubuh Jimin.

Pergerakan mereka terhenti ketika sebuah angina yang tiba-tiba saja muncul berhembus sangat kencang di sekitar mereka. Kedua pemuda itu sedikit menjauh, menatap sekeliling yang mulai terasa aneh. Angin semakin kencang berhembus hingga membuat mereka menutup kedua mata mereka dengan tangan. Jimin yang lemas hanya bisa terduduk, menutupi beberapa bagian seragamnya yang sobek akibat ulah kedua pemuda tadi.

"Ige mwoya?! Tidak mungkin akan terjadi badai!"

Jimin mengusap wajahnya. Berusaha menatap ke depan, lebih tepatnya ke arah yang ditunjuk pemuda yang berusaha memperkosanya tadi. Sekumpulan pusaran angin bergerak di sekeliling mereka namun pusaran angin itu tidak menarik mereka ke dalam tapi berputar-putar mengelilingi mereka. Beberapa pohon dibuat tumbang oleh pusaran angin tersebut.

Kedua pemuda itu berusaha kabur dengan merangkak ke kursi kemudi. Namun pusaran angin itu berhembus semakin kencang membawa mobil yang ia tumpangi ikut terangkat. Jimin berteriak takut, berusaha mencari pegangan tapi ia tidak menemukan apa pun kecuali knop pintu mobil. Ia bergerak cepat membuka pintu mobil itu dan meloncat turun. Wajahnya benar-benar pucat pasi melihat mobil itu berputar-putar di pusaran angin yang begitu dahsyat tersebut.

Pandangannya ia alihkan ke depan, menatap dua objek yang tiba-tiba muncul dari balik pusaran angina dahsyat tersebut.

Satu pria berpakaian hitam, satu pria yang lain berpakaian putih dan cokelat. Jimin tersenyum kecil melihat pria berpakaian putih dan cokelat itu menghampiri dirinya. Pria itu adalah Yoongi dan pria yang satunya adalah SeokJin. Mereka berjalan beriringan menghampiri Jimin yang masih terdiam di tempat, ketakutan dan shock dengan perbuataan kurang ajar kedua pemuda itu.

"Kau berurusan dengan orang yang salah"

To Be Continue

(Stay With Me-Punch ft Chanyeol, Reset-Tiger Jk ft Mad Soul Child, I'm in Love-VRomance ft Obroject, & Beautiful-Baekhyun EXO)

Ryeo note:

aku seneng negeliat dan baca review dari kalian semua. ini semua bikin aku semangat, terimakasih banget yang udah review, fav, follow, atau siders. terimakasih, semoga aku nggak kelamaan dan semoga chapter ini memuaskan. terimakasih semua! saranghaeyo!