BGM (DNA-BTS, Stay with Me-Chanyeol ft PUNCH, Confession-Yesung SJ ft Chanyeol EXO & Tree-Yang Yeoseob)

"Kau berurusan dengan orang yang salah"

Senyum bahagia Jimin menghilang bersamaan dengan dua orang itu yang tiba-tiba saja pergi entah kemana berserta pusaran angin itu. Jimin kembali takut melihat mobil itu jatuh dari ketinggian sekitar sepuluh meter. Kedua pemuda yang tadi berusaha memperkosa Jimin keluar dengan terburu-buru, mereka menatap Jimin sebentar lalu berlari pergi namun langkah lebar mereka terhadang sebuah pohon besar yang tiba-tiba saja muncul dan menimpa mereka.

Jimin terpaku di tempat melihat kejadian itu. air mata kembali mengalir membasahi wajahnya melihat kejadian mengerikan itu terjadi tepat di depan matanya. Bibirnya bergetar berteriak-teriak meminta tolong dan memanggil-manggil ibunya.

"Hikss… eomma! Hikss!"

Tangis Jimin perlahan mereda melihat sebuah tangan terulur di hadapannya. Ia menatap tangan itu sebelum menerimanya namun tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri. Melihat hal itu Yoongi memutuskan untuk berjongkok di hadapan Jimin. Sesekali ia masih sesegukan meskipun pria yang ada di hadapannya adalah Yoongi bukannya dua pemuda tidak jelas itu. Ia sudah aman dan selamat sekarang.

Tapi entah kenapa air mata terus mengalir dari kedua bola mata indahnya. Yoongi menjulurkan jarinya, mengusap dengan lembut kedua pipi Jimin yang basah dan sedikit merah-mungkin karena tamparan. Kemudian, ia tersenyum menarik Jimin dalam pelukannya mengusap dengan lembut punggung mungil itu.

"Apa kau terluka?" tanya Yoongi. Jimin menjauhkan tubuhnya, menatap Yoongi dengan pandangan tidak percaya. Jari mungilnya lalu menunjuk pohon tumbang itu lalu SeokJin yang duduk di atas pohon tumbang itu dengan santainya.

"Kau bertanya aku terluka setelah membunuh mereka dengan pohon?" tanya Jimin dengan jari mungilnya menunjuk dua orang yang tadi berusaha memperkosanya sekarang sedang terkapar sekarat akibat pohon itu menimpa tubuh mereka.

Yoongi mengambil nafas dalam-dalam melihat Jimin masih bisa sempat-sempatnya peduli pada orang yang sudah hampir melecehkannya. Ia lalu menatap penampilan Jimin yang sangat acak-acakkan, ia pun berinisiatif melepas mantel miliknya dan mengenakannya pada Jimin.

"Aku tidak membunuh mereka, aku bertanya seperti itu karena aku khawatir padamu" jawab Yoongi dengan nada kelewat santai. Jimin kembali menangis untuk kesekian kalinya, kali ini ia bukan menangis sedih melainkan menangis haru. Jari-jari berwarna putih pucat itu bergerak mengusap kedua pipi Jimin dengan hati-hati.

"Mianhae, aku datang terlambat. Seharusnya aku bisa datang lebih cepat" ucap Yoongi menaruh kedua tangannya di pundak Jimin, menatap wajah itu dengan senyum lebar hingga matanya menyipit menjadi segaris.

"Bagaimana ahjussi tahu aku di sini?"

"Kau bocah yang pintar" puji Yoongi menaruh telapak tangannya di puncak kepala Jimin, "Aku adalah jin Aladin milikmu. Tentu saja aku harus tahu dimana tuanku berada, jadi, selama aku tidak berada di sisimu aku minta satu hal" Yoongi kembali melanjutkan ucapannya dengan suara juah lebih lembut dan mampu membuat tangis Jimin mereda.

"Uljimara…"

Dengan lembut Yoongi menarik Jimin ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya sangat lembut dan hangat. Jimin mengangguk kecil, balik memeluk Yoongi dengan sangat erat. Mereka melupakan fakta satu hal bahwa SeokJin memerhatkan semua itu dalam diam, ia baru tahu kalau seorang gumiho sadis seperti Yoongi memiliki sisi seperti itu. Dia bisa bersikap lembut pada pemuda-siswa SMA…

Lampu yang ada di kepalanya langsung menyala menyadari satu hal bahwa orang yang baru saja Yoongi selamatkan dan di dekap dalam pelukan hangat itu adalah calon istri Gumiho yang begitu terkenal dan selalu dibicarakan oleh kaumnya maupun makhluk-makhluk lain.

"Dia sebentar lagi akan mati"

Jalan setapak penuh semak belukar itu mereka lewati dengan sangat hati-hati. Salah satu dari mereka berdiri di tengah-tengah, berjalan sedikit terseok-seok. Di sebelah kananya berdiri seorang pria tinggi berpakaian serba hitam, memiliki aura dingin dan mencekam. Dan di sebelah kirinya adalah Yoongi. Yang berjalan terseok-seok itu adalah Jimin, ia melangkah dengan sangat hati-hati dengan dibantu Yoongi.

"Kenapa dengan kakimu, bocah?" tanya Yoongi dengan suara datar. Jimin menengadah, menatap Yoongi sebentar lalu menggeleng sebagai jawaban tidak.

"Kakiku tidak apa-apa"

HIK!

Langkah kaki Yoongi terhenti, pria berusia ratusan tahun itu menghela nafas menarik lengan Jimin dan menghadapkan pemuda mungil sejajar dengannya. Jimin terdiam, menundukkan sedikit kepalanya tidak berani memandang ke arah Yoongi.

"Geotjima! Kau akan cegukan setiap kali berbohong"

"Eottkhae arraseo? Aku tidak pernah bercerita pada ahjussi" tanya Jimin keheranan dengan ucapan Yoongi yang seolah-olah tahu tentang semua yang ada pada diri Jimin. Yoongi sendiri sedikit gelapan meskipun wajahnya masih sedatar lantai semen.

"Jangan alihkan pembicaraan, bocah! Kalau kakimu tidak sakit atau terluka kenapa jalanmu terseok-seok?" tanya Yoongi mengalihkan topik pembicaraan. Siswa SMA itu berdecih, menatap kaki sebelah kanannya yang sedikit membiru dan bengkak. Ia masih tetap menggeleng lalu melepas cengkraman Yoongi dan melanjutkan perjalananya keluar dari hutan ini.

"Yak!"

Jimin diam-tidak peduli mendengar teriakan melengking Yoongi. Ia terus melangkah maju dengan kepala penuh tanda tanya besar tentang bagaimana Yoongi dan pria berbaju hitam itu menemukan dirinya. Bagaimana mereka bisa membuat angin sebesar itu bahkan membuat mobil yang ia tumpangi tadi terjebak dalam pusaran angin. Ia berterimakasih untuk itu tapi ia juga takut dan bingung dengan semua hal yang terjadi di sekitarnya begitu tiba-tiba.

"Jangan berjalan terlalu cepat karena itu bisa memperparah kondisimu! Yak! Bocah itu!" ucap Yoongi memperingati dari arah belakang. Tapi Jimin tidak bergeming, ia tetap melangkah maju tanpa menoleh ke belakang sama sekali meskipun hanya untuk melirik. Ia terus melangkah tanpa menyadari bahwa ada akar pohon besar menjegal kakinya.

"Ass!" ia meringis kesakitan. Menatap kakinya yang tidak hanya membiru dan bengkak tapi juga mulai dihiasi oleh luka-luka akibat terbeset tanaman berduri. Melihat itu SeokJin berinisiatif membantu Jimin namun reaksi yang ia dapat cukup mengejutkan.

Pemuda yang memiliki eye smile itu beringsut mundur, seolah-olah SeokJin berniat jahat dengan hanya menyentuh dirinya.

"Aku hanya ingin membantumu, kenapa reaksimu seperti itu?" tanya SeokJin heran dan bingung melihat sikap berlebihan Jimin terhadap dirinya. Pemuda mungil berstatus SMA itu menundukkan kepalanya, berusaha bangun dengan usahanya sendiri dan berhasil. SeokJin cengong di tempat melihat Jimin melenggang begitu saja tanpa menatap dirinya.

"Hah, aku tidak seseram gumiho itu"

"Aku dengar itu" ucap Yoongi yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Pria kurang saraf ekspresi itu menatap punggung mungil itu, wajahnya memang tidak mengekspresikan khawatir tapi jauh di dalam hatinya ia khawatir melihat kondisi Jimin yang masih shock dengan semua kejadian di mobil dan kemunculan dirinya yang tiba-tiba bersama SeokJin.

Ia tahu ini memang agak terlalu cepat tapi jika ia tidak melakukan hal seperti itu bisa dipastikan Jimin akan kehilangan harga dirinya malam ini. Ia menghela nafas, mengejar langkah terseok-seok Jimin dan berhenti tepat di hadapan pemuda mungil itu.

"Jangan gunakan kakimu yang terkilir itu, naik ke punggungku" perintah Yoongi seraya berjongkok di hadapan Jimin. Jimin sendiri terdiam, batinya sedang berperang ingin menerima atau menolak tawaran yang diberikan Yoongi. Satu sisi berteriak untuk naik saja karena rasa sakit di kakinya semakin menjadi, sedangkan sisi satunya menolak dengan tegas bahwa ia tidak boleh percaya secepat ini pada seseorang yang baru ia kenal.

"Shireo, kakiku tidak apa-apa"

HIK!

Jimin kembali gugup, matanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. Mencari tempat memandang yang lain asalkan jangan Yoongi. Pria berwajah tiga puluh tahun itu menatapnya kesal dan heran karena baru sekali ini bertemu seseorang sekeras kepala seperti ini.

"Kau pikir aku tidak tahu kalau cegukanmu itu artinya kau sedang berbohong?" ucap Yoongi yang langsung membuat mata Jimin membulat. Tubuhnya yang sejak tadi sebenarnya gemetar semakin gemetar hebat mendengar Yoongi mengetahui kemampuan anehnya tersebut.

Pria bermarga Min itu berdiri tegak di hadapan Jimin, menatap Jimin dengan pandangan lurus yang membuat pemuda mungil itu risih. "Aku tahu semuanya tentang dirimu, kau tidak perlu takut. Naik lah ke punggungku lalu kau akan aku obati"

"Karena kau tahu semua tentangku aku takut padamu" ucap Jimin kali ini memberanikan diri mendongak menatap Yoongi. Menatap mata pria yang jauh lebih tua darinya itu dengan pandangan berair seperti ingin menangis lagi, bibirnya gemetar ingin melanjutkan kalimatnya tapi semua itu tertahan di kerongkongannya. Pita suaranya serasa di pause untuk bicara jika berhadapan dengan Yoongi.

Yoongi menarik nafas panjang melihat Jimin masih tidak percaya dan takut padanya. "Kenapa kau takut padaku? Aku barusan menolongmu, kau mengenalku, aku mengenalmu"

"Aku tidak mengenal ahjussi. Ahjussi selalu menghindar jika aku bertanya siapa kau dan kau ini apa. Kau selalu menjawab jika kau adalah jin dalam cerita aladin, aku bukan anak kecil yang bisa ditipu semudah itu. jawab aku, kau ini siapa dan apa?" tanya Jimin dengan suara tinggi dan kesal yang diakhiri isakan pelan. Yoongi tertegun di tempat melihat Jimin kembali terisak, kali ini bukan terisak takut tapi…

Frustasi.

Jimin frustasi karena tidak mengetahui identitas penolongnya. Ia ingin tahu siapa penolongnya, apa manusia atau hantu? Kalau manusia kenapa Yoongi tidak mempunyai angka-angka menyebalkan itu dan kenapa Yoongi bisa berteman dengan pria berbaju hitam yang sama anehnya.

"Kau itu menakutkan, kau itu aneh, kau itu apa? Kenapa kau bisa datang ke sini padahal aku tidak memanggil atau meminta pertolonganmu? Kenapa kau bisa mengajak ahjussi berbaju hitam itu? Jawab aku!"

"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya mendengar suara teriakanmu saat aku sedang berjalan-jalan di sekitar hutan bersama pria itu"

"Orang macam apa yang berjalan-jalan di hutan tengah malam begini? Jangan membohongiku lagi, aku mohon! Jawab aku, siapa kau!" pinta Jimin kali ini terdengar lebih menyedihkan. Yoongi semakin tertegun, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memandangi Jimin dalam diam. Jimin kembali menangis sesegukan namun segera ia tahan dan bersihkan air mata itu. kepalanya kembali tertunduk, menolak beradu pandang dengan mata Yoongi lebih lama lagi.

"Aku Min Yoongi, aku tidak memiliki pekerjaan tetap tapi aku memiliki beberapa asset di Korea atau luar negeri. Aku pria yang kaya, sangat kaya dan aku adalah jin penolongmu"

Jimin mendongak perlahan, menatap Yoongi yang tersenyum kecil ke arahnya. Pandangannya terpaku detik itu juga, tidak bisa teralihkan ke arah mana pun selain kedua bola mata Yoongi. Amarahnya tiba-tiba menghilang mendengar suara Yoongi yang keluar jauh lebih lembut daripada sebelumnya. Pria itu bahkan mendekat, menepuk-nepuk pundaknya lalu beralih ke punggung mungilnya dan menariknya dalam sebuah pelukan.

"Jangan khawatir, aku ini orang baik dan tidak akan melukaimu" ucap Yoongi di telinga sebelah kanan Jimin, menepuk-nepuk punggung itu dengan lembut dan perlahan. Jimin tidak bereaksi, ia tetap diam, perlahan-lahan tubuhnya semakin terasa ringan berbanding terbalik dengan matanya yang semakin berat. Tidak berselang lama dari itu tubuhnya ambruk tidak sadarkan diri dalam pelukan Yoongi.

"Kau membuat dia pingsan agar dia tidak mengetahui kau Gumiho dan dia calon istrimu?" tanya SeokJin saraktis, mulutnya berdecih cukup keras melihat sikap pengecut Yoongi dalam menghadapi kematiannya. Yoongi menatapnya sebal, tapi ia memilih mendiamkannya dan lebih memilih menggendong Jimin dan membawanya kembali ke rumah dengan kekuataan teleportasinya.

"Dia sebaiknya tidur di sini untuk sementara" ucap Yoongi meletakkan tubuh tidak sadarkan diri Jimin di atas tempat tidur. Menyelimutinya sebatas dada dan tidak lupa merapihkan surai berwarna hitam legam itu. mengelusnya dengan sayang sambil tersenyum lembut.

SeokJin menaikkan sebelah alisnya bingung. Tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat kalau Yoongi bisa berbuat lembut seperti itu pada anak kecil yang sok itu. Yoongi yang menyadari tatapan SeokJin mencebik lalu berjalan melewati makhluk penghisap darah itu begitu saja.

"Dasar gumiho itu"

Enam orang berstatus Trouble Maker itu keluar dari sebuah gedung tempat orang-orang sakit berkumpul dengan kesal. Wajah mereka memerah menahan emosi mendengar cerita dari suruhan mereka kalau Jimin diselamatkan oleh seseorang yang aneh dan orang aneh itu mengalahkan mereka dengan kumparan angin raksasa. Itu tidak mungkin dan sangat konyol.

"Aku bisa terima dan tidak akan marah jika mereka gagal memperkosa Jimin tapi jangan membuat alasan seperti itu. mereka benar-benar membuatku kesal" ucap Baekhyun mengumpat habis-habisan seraya bersender di mobil sport nya. Jinyoung juga kelihatan emosi, semua terlihat emosi dan marah karena rencana mereka gagal total. Kecuali Jieun.

Gadis berwajah imut tapi berhati iblis itu sama sekali tidak marah. Ia malah berpikir keras tentang cerita konyol suruhan Baekhyun itu.

"Apa kalian masih ingat ceritaku saat aku menangkap basah Jimin jalan dengan om-om?"

"Eoh, waeyo? Saat itu kau tidak bisa memfotonya karena ponselmu tiba-tiba rusak dan tidak bisa digunakan" ucap Bambam mengingatkan kejadian beberapa hari lalu. Mereka semua mengangguk, Jieun menjentikan jarinya seperti mendapat pasokan aliran listrik untuk menyalakan lampu di kepalanya.

"Dia semakin aneh semenjak kita melihat dia keluar dari atap sekolah dengan tangan berbalut sapu tangan yang berwarna merah. Setelah itu aku mengalami kejadian aneh saat memergokinya berjalan dengan pria yang lebih tua. Apa kalian tidak berpikiran yang sama denganku?" tanya Jieun membuat kesimpulan yang masih abu-abu. Kelima kepala itu menggeleng tidak mengerti dan semakin membuat Jieun kesal.

"Ish! Dia itu benar-benar aneh tapi kenapa dia selalu saja beruntung"

"Bukan selalu tapi baru kali ini beruntung" ucap Jinyoung mengoreksi perkataan Jieun yang kelewat bingung dan marah karena rencana bully mereka untuk pertama kalinya gagal. Gadis mungil itu menggeram kesal.

"Bagaimana kalau kita cari tahu saja siapa dua pria misterius itu?" ucap Irene memberi usul. Mereka menatap Irene sesaat, memikirkan usulan si gadis berrambut ungu itu lalu mengangguk setuju. Tidak ada salahnya mencari tahu, siapa tahu mereka dapat bahan bully baru dari dua pria tua aneh penolong Jimin.

"Kalian tidak perlu mencari tahu siapa pria penolong Jimin"

"Aish, kkamjakya!"

Jieun menoleh ke belakang lebih dulu. Matanya membulat melihat pria bermantel hitam di hadapannya adalah pria yang sama yang ia lihat beberapa hari lalu bersama Jimin. Jari mungilnya menunjuk-nunjuk pria itu-Yoongi dengan semangat dan penuh emosi.

"Pria yang aku omongkan itu ini! Ini pria yang sama!" ucap Jieun histeris. Namun teman-temannya malah terpaku melihat wajah Yoongi yang tidak terlalu tua bahkan masih terlihat sangat tampan. Melihat itu Jieun semakin kesal, dengan tanpa perasaan ia menggeplak ke enam kepala itu dengan sadis.

"Ini pria aneh waktu itu! Kau pasti memiliki hubungan dengan Jimin, kan? Katakan siapa kau?!" tanya Jieun dengan suara tinggi penuh emosi. Yoongi hanya memandanginya dengan tangan terlipat ke balik punggungnya. Memandangi wajah-wajah orang yang selalu membully Jimin dengan alasan bahwa itu sebuah hiburan sudah menjadi tradisi.

"Aku adalah seseorang yang selalu melihat kalian, menilai kalian, menentukan hidup kalian, dan memberikan hukuman untuk kalian" ucap Yoongi dengan suara dalamnya. Joy dan Irene yang awalnya terpana langsung jijik dan merasa konyol dengan perkataan Yoongi. Mereka berenam tertawa keras, satu persatu mereka melangkah maju hingga sejajar dengan Jieun.

"Ini bukan candaan, tuan aneh. Aku tanya sekali lagi siapa kau?" tanya Jieun kali ini melipat tangannya di dada. Merasa jengah dengan situasi aneh yang menyelimutinya akhir-akhir ini.

"Aku juga sudah menjawabnya tadi aku tidak mau mengulanginya. Aku akan memberi kalian waktu untuk meminta maaf pada orang yang selalu kalian bully, orang yang selalu ketakutan setiap kali berangkat sekolah, orang yang sudah di siksa di rumah harus kembali mengalami penyiksaan di sekolah, kalian harus minta maaf padanya" ucap Yoongi masih dengan nada dan wajah datar. Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum tertawa keras secara bersamaan.

"Pria tua ini selain aneh ternyata gila" ucap Joy di sela-sela suara tawanya yang keras. Yoongi menghela nafas mendengar suara tawa keenam anak remaja tidak tahu sopan santun dan tahu diri itu.

"Yak! Itu sudah nasibnya menjadi orang miskin di sekolah elite kami. Itu adalah resiko orang yang mendapat beasiswa, yatim piatu dan miskin, lagipula bully itu sudah menjadi tradisi. Jadi, jangan meminta hal seperti itu pada kami karena kami tidak akan pernah mau" ucap Baekhyun setelah berhasil meredakan suara tawanya. Yoongi menghela nafas melihat kekeras kepalaan enam remaja tanggung itu.

"Baik, kalian harus merasakan apa yang Jimin rasakan selama ini" ucap Yoongi mengancam, kali ini suaranya tidak terdengar main-main. Dia benar-benar ingin memberikan pelajaran bagi cecenguk tidak tahu diri seperti mereka. Matanya yang semula terlihat teduh mulai merubah menajam saat menatap Joy dan Irene.

Dua gadis tertinggi dan termungil itu terperenjat kaget. Tubuh mereka terasa kaku di tempat saat suasana di sekitarnya berubah. Bukan lahan parker di rumah sakit melainkan sebuah area hutan yang gelap, sunyi dan menyeramkan. Suasana gelap itu bagaikan sebuah tinta yang menyelubungi tubuh mereka, menutup mata mereka dengan sangat erat.

"Mworangoya? Jangan main-main dengan kami pria aneh yang tua!"

"Kalian yang tidak boleh main-main denganku"

Kedua gadis yang awalnya berteriak-teriak langsung terdiam mendengar suara serak seperti orang mabuk mengelilingi tubuh mereka. Suara serak itu semakin terdengar jelas, mereka ketakutan tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berteriak ketakutan dan meminta tolong. Bau di sekitar mereka juga semakin aneh, bukan bau alkohol saja yang tercium tapi juga bau sex.

"Kya! Tolong! Tolong selamatkan aku!"

"Kalian berteriak meminta tolong? Jimin juga melakukan hal yang sama tapi tidak ada yang mendengarkannya. Kalian juga harus merasakan hal itu"

"Ampuni aku! Kya! Selamatkan aku!"

Empat orang yang tersisa merinding takut melihat teman satu genk mereka berteriak ketakutan tidak jelas, bahkan mereka sampai jatuh terduduk dan menendang udara asal-asalan seolah-olah mereka sedang melindungi diri mereka.

"Mwoya ige? Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun tidak terima seraya menghampiri Yoongi tapi langkahnya terhenti saat pandangan Yoongi jatuh padanya. Tubuhnya terlem di tempat, pandangannya mengabur karena sebuah cahaya tiba-tiba menerpa pandangannya. Cahaya itu begitu menyilaukan sampai-sampai ia harus memejamkan mata begitu erat.

"Dasar miskin!"

"Anak beasiswa tapi gayanya selangit!"

Baekhyun tentu saja terkejut mendengat teriakan bernada umpatan itu tertuju padanya. Meskipun ia tidak bisa melihat apa-apa pun tapi ia bisa merasakan kalau suara-suara itu berteriak ke arahnya, memandang ke arahnya dengan pandangan mengejek dan jijik. Tubuhnya semakin ringan, kepalanya berdenyut sakit-sangat sakit mendengar suara itu semakin terdengar jelas.

Tubuhnya akhir ambruk begitu saja. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup kedua telinganya tapi semua itu terasa percuma, suara itu malah semakin terdengar jelas.

"Jebalyo! Hentikan semua ini!"

"Apa kau tahu saat kau mengatakan hal itu Jimin juga mengatakan hal yang sama. Dia berteriak dalam hati untuk menghentikan semua ini tapi kalian hanya diam tidak mau berhenti dan malah terus mengejeknya. Kau juga harus merasakan hal yang sama"

Tersisa Bambam dan Jinyoung serta Jieun yang masih memasang wajah sombong nan angkuh. Menatap sebal pada teman-temannya yang bertingkah aneh karena pria tua aneh bin ajaib di depan mereka. Jieun mengibaskan tangannya diudara seakan-akan menganggap remeh Yoongi.

Bambam dan Jinyoung sudah bersiap kabur tapi langkah mereka harus terhenti karena Yoongi tiba-tiba saja muncul di hadapannya. menjentikan jari di depan wajah mereka secara bergantian, kepala mereka terhantam sangat keras bahkan suara hantaman kepala mereka seperti membuat kepala mereka seperti gong. Berdengung cukup keras dan tubuh mereka terasa lengket.

"Mwoya ige? Hyung, kenapa badanku seperti ini?"

"Ini seperti saus kacang, baunya tidak enak!"

Bambam dan Jinyoung kembali dihantam sebuah palu besar, pandangan mereka membulat sempurna melihat sebuah ember raksasa berisi saus kacang berada di atas mereka. Siap menumpahkan isinya di atas kepala mereka, mereka sama sekali tidak bersiap menghindar. Saus kacang itu menimpa tubuh mereka begitu saja.

"Bau sekali!"

"Kalian juga melakukan hal yang sama seperti ini pada Jimin. Kalian membuat dia bau seperti seekor musang, kalian juga harus merasakannya"

Kali ini Jieun mulai ketakutan. Ia benar-benar bingung kenapa teman-temannya bisa seperti itu padahal tidak ada apa pun di sekitar mereka kecuali mobil-mobil yang terparkir. Apa ini trik halusinasi yang dibuat Yoongi pada mereka? Ia melangkah mundur secara perlahan tapi langkahnya terhenti karena suara cegukan tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.

"Kenapa-HIK-dengan-HIK-suaraku-HIK!"

Jieun mulai panic-bukan dia sudah panic dan takut luar biasa mendengar suara cegukan yang keluar dari mulutnya semakin menjadi. Yoongi yang melihat itu tersenyum miring, berdiri di hadapan Jieun dengan pandangan meremehkan, menusuk tajam tepat di hulu hatinya.

"Kau sering membuat bahan lelucon karena suara cegukan Jimin. Sekarang aku akan membuat cegukan setiap saat"

"An-HIK-dwae-HIK!"

"Sudah terlambat" ucap Yoongi dengan kepala menggeleng menolak permohonan Jieun. Ia melambaikan tangannya lalu berjalan pergi dengan santai seolah-olah ia tidak melakukan suatu kesalahan dengan membuat ilusi mengerikan seperti itu. suara teriakan mereka semakin mengencang, tersirat ketakutan dan memohon bantuan.

"Kalian tidak akan selamanya terpengaruh ilusi itu, mungkin hanya sampai pagi besok. Aku tidak sekejam kalian. Kalian juga tidak akan mengingat wajahku, kalian hanya akan meingat kalau kalian mabuk semalam. Selamat bersenang-senang" ucap Yoongi sedikit berteriak agar bisa terdengar enam remaja tanggung itu. reaksi yang ia dapat cukup mengejutkan, suara teriakan itu semakin menjadi bahkan sampai terdengar keluar area parker tapi anehnya orang-orang seakan tidak peduli dan menganggapnya angin lalu.

Kalian pasti tahu siapa pelakunya.

Mulutnya mengeluarkan erangan ketika berkas-berkas cahaya menembus gorden putih yang tersibak karena angina pagi yang menyejukan hingga ke tulang-tulang. Kelopak mata sipit itu mengkerut tidak senang dengan gangguan yang ditimbulkan oleh sang surya, perlahan kedua kelopak mata itu terbuka. Menampilkan iris hita gelap layaknya sebuah arang, mengerjap beberapa kali menyesuaikan retina matanya terhadap cahaya menyilaukan dari sang surya.

"Na eodiga?"

"Kau dirumahku" sebuah suara menjawab dari balik tirai gorden yang tersibak-sibak karena angin. Jimin merasa déjà vu dengan suara dan situasi yang menyelimutinya. Ia terdiam di tempat masih dengan posisi tidur, menanti si pemilik suara untuk keluar dari pesembunyiannya.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikkan?" tanya suara itu lagi kali ini kaki pemilik suara itu mulai terlihat. Hati Jimin kembali bertanya-tanya siapa pemilik suara itu dan pertanyaannya terjawab kalau pemilik suara itu adalah Yoongi.

Pria aneh yang menolongnya semalam, pria aneh yang juga sudah membuat perasaan aneh campur aduk di dalam hatinya, pria aneh yang mengatakan bahwa dia dalah jin Aladin milik Jimin. Pria itu adalah Yoongi. Pria aneh itu melangkah semakin maju, kedua telapak tangannya disembunyikan di saku celana panjangnya, kedua mata sipit itu menatap Jimin dengan pandangan datar-super datar malahan.

"Ahjussi" panggil Jimin dengan suara lemahnya. Menatap Yoongi yang berjalan santai menghampirinya, "Apa aku ada di rumahmu?" pertanyaan retoris Jimin langsung di jawab sebuah anggukan dari si penjawab. Jimin mengangguk kecil, lalu berusaha duduk bersandar pada kepala ranjang ukuran king size itu. Bibirnya meringis merasakan nyeri di pergelangan kakinya masih sangat terasa sakit.

"Apa masih sakit?"

"Tidak seberapa, ahjussi gomawo" ucap Jimin tanpa menatap wajah si penolong dengan benar. Pandangannya bergerak gelisah lalu ia hentikan pandangannya pada selimut putih yang membungkus tubuh mungilnya.

"Untuk apa? Aku adalah jin Aladinmu"

"Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi, aku tahu kau berbohong"

"Darimana? Kau tidak melihat angka atau tahun lahir dan kematianku, kan? Jangan berbohong"

"Aku tidak cegukan itu artinya aku berkata jujur dan kau yang bohong" balas Jimin masih tetap ngotot dan tidak percaya dengan Jimin. Menjudge nya dengan kata pembohong dan pembuat setiap waktu dan jujur itu hampir membuat Yoongi naik pitam. Jimin menghela nafas, menyibak selimutnya lalu duduk di pinggir ranjang menghadap Yoongi. Menatapnya dengan pandangan menelisik jauh dan menuntut.

"Kau bukan hantu karena aku tidak memiliki indra ke enam, kau juga bukan manusia melihat tindakanmu semalam seperti itu terlebih kau mengenal pria berbaju hitam itu. Ahjussi nuguseyo? Bagaimana bisa kau mengetahui tentang diriku sejauh itu? Apa kita pernah bertemu?"

Yoongi diam tidak bisa menjawab satu pertanyaan pun dari Jimin. Tubuhnya kaku di tempat, otaknya berpikir keras mencari jawaban yang logis untuk seorang remaja tanggung berotak cerdas seperti Jimin. Tidak ada jawaban yang logis selain mengatakan bahwa dirinya Gumiho yang sama saja membuka rahasia terbesarnya.

"Kenapa ahjussi diam? Aku semakin takut padamu meskipun kau sudah menolongku semalam. Aku takut kau bagian dari mereka"

"Aku bukan bagian dari mereka"

"Lalu kau siapa?!" tanya Jimin kali ini dengan nada suara tinggi, kesal, marah dan takut berada satu ruangan dengan orang asing. Meskipun tidak sepenuhnya asing tapi tetap saja ia merasa aneh, canggung dan takut. Semalam ia sudah hampir kehilangan harga diri karena aksi bully para trouble maker kelewat batas. Ia takut luar biasa sekarang.

"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya terpanggil untuk menolongmu"

"Aku tidak pernah memanggilmu, bagaimana kau bisa berada di sisiku saat di jalan beberapa hari lalu? Di atap dan semalam? Apa kau bisa menjelaskan itu?" tanya Jimin penuh tuntutan ke arah Yoongi. Yang di tatap menghela nafas melihat orang yang ia tolong dengan susah payah bahkan ia harus rela mengeluarkan banyak tega di balas dengan rasa curiga seperti ini.

"Dengar," Yoongi memulai ucapannya lagi kali ini sedikit membungkukan tubuhnya agar pandangannya sejajar dengan Jimin. "Kau memang tidak pernah memanggilku, tapi aku terpanggil karena kau menginginkan pertolongan. Aku juga tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri pada saat itu" lanjut Yoongi. Pemuda mungil berstatus siswa tingkat akhir SMA itu masih menatapnya curiga.

"Manusia tidak seperti itu, kau masih belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau? Kenapa kau tahu banyak tentangku? Apa dulu kita pernah bertemu?" tanya Jimin sekali lagi dengan nada suara penuh tekanan. Yoongi menarik nafas dalam-dalam lalu berjongkok di hadapan Jimin, menggenggam kedua telapak tangan itu dan terakhir memaksa si pemuda mungil menatapnya dari jarak yang cukup dekat.

Mempertemukan kedua mata yang memiliki pancaran berbeda. Mata milik Yoongi yang memberikan pancaran kehangatan dan tenang, sedangkan Jimin menatap Yoongi si penolong dengan pandangan menuntut jawaban segera.

"Aku adalah seseorang yang mengendalikan alam, seseorang yang mengetahui apa yang akan terjadi ke depan, dan seseorang yang menjaga alam. Apa itu cukup?" tanya Yoongi balik. Jimin tidak tahu ia tersihir atau memang dirinya sudah puas dengan jawaban seperti itu, kepalanya mengangguk begitu saja sebagai tanda ia jelas dan menerima jawaban Yoongi.

"Aku tidak percaya padamu, meskipun kepalaku mengangguk ada sisi di hatiku yang menga-"

Ucapan Jimin terputus melihat jari-jari putih pucat Yoongi terangkat, mengarah ke sisi kepalanya yang berhiaskan surai hitam lembut, mengelusnya dan merapihkannya. Jimin terpaku, pandangannya menelusuri cara Yoongi memandangi dirinya apa seperti binatang atau manusia. Dan jawabannya bukan keduanya melainkan menatapnya sebagai seorang Park Jimin.

"Jangan memikirkan apa pun, kau harus banyak istirahat agar kondisimu cepat pulih. Aku akan membawakanmu obat dan sarapan" ucap Yoongi diakhiri dengan senyum simpul. Pria berambut hitam kelam itu bangkit dan berjalan keluar, tinggal tiga langkah lagi namun langkahnya harus terhenti lagi karena sebuah pertanyaan mengejutkan keluar dari mulut Jimin.

"Apa ahjussi Gumiho yang terkenal itu?"

Pemuda berwajah manis itu berpakaian casual dengan turtle neck serta sweater cokelat berdiri memandangi pintu gerbang sebuah mansion dengan seksama. Mulutnya yang sedang mengunyah permen karet semakin beringas menyadari fakta satu hal bahwa anak didiknya di sekolah tinggal di sebuah mansion besar seperti ini tapi di keterangannya menyatakan bahwa dia miskin dan yatim piatu.

"Dasar anak zaman sekarang" umpat pemuda manis berstatus guru baru mata pelajaran BK itu, Kim Taehyung atau V. di hari pertama ia seharusnya bekerja sebagai guru malah ditugaskan melakukan hal konyol seperti ini karena permintaan anak senator sekolah tempat ia bekerja.

Tapi ada benarnya juga, ia memang harus tahu apa benar siswa bernama Park Jimin itu benar-benar sakit atau menghindari mata pelajaran tertentu. Dan sekarang ia menemukan fakta baru bahwa anak itu tinggal di mansion besar.

"Tapi saat aku melihat wajahnya dia bukan pembohong, apa peretas GPS ku mulai rusak?" tanya Taehyung bergumam pada dirinya sendiri. Ia menghela nafas, mengeluarkan ponsel miliknya yang lain berwarna putih, menatap mansion itu sekali lagi lalu ponselnya.

"Aku tidak salah, anak itu menyembunyikan sesuatu" gumam Taehyung lagi. Jari berkulit tan itu terangkat berniat menekan bel namun niatnya tersebut terhenti melihat seseorang yang keluar dari mansion itu. raut wajah yang masih sama, pucat, datar, kurang saraf dan cara berpakaiannya juga sama, serba hitam.

Pria itu membawa sekantung plastic besar-sepertinya sampah-, di tangannya yang lain sedang menggenggam sebotol susu rasa pisang, dia meminumnya dengan gaya super sexy dan tampan di mata Taehyung. Pria tanpa nama-bagi Taehyung, tapi bagi kita pria itu adalah SeokJin.

"Ige mwoya?" tanya Taehyung dengan nada suara yang cukup keras bahkan SeokJin sampai mendongak. Pandangan matanya membulat melihat pemuda manis bernama V itu ada di depan mansionnya. Buru-buru SeokJin berlari masuk ke dalam namun langkahnya terhenti karena Taehyung berteriak cukup kuat di depan pagarnya.

"YAK! Kembali dan berikan cerminku!"

SeokJin berdecak, mengacak-acak rambutnya lalu berbalik menghampiri Taehyung dan membuka gerbangnya. Taehyung memandanginya dengan sebal, tangannya terlipat di dada memandangi SeokJin dengan pandangan layaknya seorang pembunuh berdarah dingin.

"Kau gunakan untuk apa cerminku? Kau pasti tidak menggunakannya"

"Aku menggunakannya"

"Geotjimal, kalau kau menggunakan cermin itu seharusnya kau sadar kau sedang sakit"

SeokJin mengernyit bingung, otaknya berputar berusaha menerna maksud kalimat Taehyung. Sakit? Apa maksudnya warna kulitnya yang pucat? Kepalanya lalu menggeleng sebagai jawaban tidak, ia tidak sakit. Taehyung mengernyit heran, mencoba menyentuh kening SeokJin tapi pria berbahu lebar itu langsung beringsut mundur seperti menghindar.

"Jangan sentuh aku" tolak SeokJin seraya membuat tanda silang besar di depan muka Taehyung. Sementara yang diperlakukan seperti itu menganga lebar, tidak percaya jika pria tampan tanpa nama ini bersikap berlebihan hanya karena ia berniat menyentuh kening itu. apa dia mengidap kusta sampai-sampai tidak mau di sentuh.

"Heol! Aku baru pertama kali seperti ini, benar-benar pertama kali ada pria yang menolakku. Kau juga pria pertama yang berbohong padaku. Kau juga satu-satunya pria yang sakit tapi tetap tampan" ucap Taehyung dengan wajah berputar dan bibir mengerucut lucu, ada penekanan keras di kata tampan yang membuat SeokJin terpaku.

Ia terpaku melihat wajah itu bersinar secara ajaib saat tersenyum dan mimik wajah itu begitu lucu dan cantik. Cantik, meskipun dia pria tapi menurut SeokJin dia cantik, sangat cantik. Senyum itu begitu lebar, sangat manis, ceria, dan berbentuk kotak.

Taehyung mengkerut heran melihat SeokJin menatapnya begitu intens, terpusat pada wajah terutama bibirnya. Pemuda manis itu berdecak, menjentikkan jarinya di hadapan SeokJin yang langsung membuat cahaya di wajah Taehyung menghilang.

"Waeyo? Aku ini sedang marah padamu tapi kau memandangiku seperti ingin menerkamku, kau ini sebenarnya siapa, tuan menangis?" tanya Taehyung sedikit kesal. Kali ini SeokJin yang mengernyit bingung.

"Tuan menangis? Aku tidak menangis"

"Kau berbohong lagi, saat pertemuan kita beberapa hari lalu kau menangis saat menatapku hanya karena aku mengambil cermin itu lebih dulu. Kau juga tidak mau memberitahuku namamu padahal aku sudah memberitahukan namaku. Jadi, aku ingin bertanya siapa namamu" ucap Taehyung mencerocos SeokJin dengan berbagai kalimat yang menjurus pedas.

"Kenapa kau ada di sini, di mansion ku?" tanya SeokJin mengalihkan pembicaraan. Taehyung berdecak sebal melihat SeokJin mengalihkan pembicaraan mereka yang mengarah ke nama sip ria berbahu lebar itu.

"Kau mengalihkan pembicaraan aku tidak suka itu tapi kali ini aku maafkan. Jika hal itu terjadi lagi aku tidak akan memaafkanmu, camkan itu" ucap Taehyung sedikit mengancam dan anehnya SeokJin sedikit takut mendengar ancaman dari manusia seperti itu. Taehyung mengambil nafas panjang lalu mengeluarkan selembar foto dari tasnya.

"Apa kau mengenal siswa dari SMA DooJoon, bernama Park Jimin. Apa dia saudaramu?" tanya Taehyung kali ini dengan wajah serius. SeokJin mengamati foto itu, matanya membulat sempurna melihat objek yang tertecetak di foto itu. Foto dari siswa SMA yang ia dan gumiho brengsek itu selamatkan semalam. Dan orang yang sama yang pernah ia temui sepuluh tahun lalu.

Pikirannya melayang mengingat kejadian sepuluh tahun lalu dimana ia bertemu seorang anak kecil berrambut hitam dan bermata sipit.

"Ahjussi nuguseyo?"

Tangannya yang sedang mencengkram leher seorang manusia melemas melihat seorang anak kecil memergokinya. Anak kecil itu terlihat ketakutan melihat dirinya menghisap darah dari leher secara langsung. Plastic yang digenggam anak itu terjatuh begitu saja, takut dan terkejut melihat makhluk yang selau ada di dongeng dan film-film benar-benar ada.

"Kenapa kau bisa melihatku?" tanya SeokJin dengan mulut masih penuh darah, dengan santai ia menjatuhkan mayat pria paruh baya itu ke tanah. Menghampiri si anak kecil yang benar-benar ketakutan luar biasa. SeokJin sepenuhnya sadar bahwa ia sedang berada dalam bentuk vampire, tidak ada yang bisa melihatnya karena sekarang ia sedang dalam bentuk bayangan hitam bukan manusia normal.

Anak kecil itu aneh.

"Seharusnya itu pertanyaanku. Kau siapa? Kenapa kau bisa melihatku? Kau ini apa?"

"Plastiknya jatuh ak-"

"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kau siapa?"

Anak kecil itu beringsut mundur dan mulai berlari namun dia kalah cepat dari SeokJin. Pria berkebangsaan vampire itu menatap anak kecil itu curiga, menjulurkan tangannya berniat menyentuh si anak kecil namun harus tertahan oleh seorang tangan wanita.

"Dia bukan mangsamu"

"Tuan Menangis!"

SeokJin tercekat mendengar suara Taehyung yang begitu kuat. Ia bisa melihat Taehyung semakin menekuk wajahnya kesal, menarik foto itu lagi lalu memasukannya ke dalam tas.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau mengenal anak didikku?"

"Eoh, dia kenalan roommate ku. Hanya kenalan tidak lebih karena kami menolongnya semalam dari tindak pemerkosaan"

"Mwo?!"

Yoongi terkesip. Ia berbalik menatap Jimin yang juga menatapnya. Tidak ada yang bicara. Jimin menatapnya masih penuh rasa curiga dan tuntutan. Semenatara Yoongi terpaku tanpa ekspresi tapi bedanya dari yang semalam atau beberapa menit lalu air wajah Yoongi begitu keruh.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Yoongi tanpa berniat mendekati Jimin lagi. Menatap siswa SMA itu dengan pandangan terkejut dan balik menyelidik. Sementara yang ditatap menggulung seragam SMA yang masih melekatnya, memperlihatkan sebuah tanda gigitan di tangannya, sebuah gigitan ular yang cukup besar.

"Saat itu aku demam, usiaku tiga tahun saat itu. Ibuku tidak memiliki uang untuk membawaku berobat, dia sudah pasrah jika aku akan pergi ke alam lain namun seekor ular berbisa datang dan mengigitku tapi bukan untuk membunuh tapi menyembuhkanku. Seketika aku langsung sembuh bahkan bisa berbicara lancar dan anehnya aku mengerti apa yang diucpakan ular itu dan ular itu mengerti ucapanku"

Yoongi mengernyit bingung, melangkakan kakinya ke tempat ia berdiri tadi. menarik tangan itu dan menatap bekas lukanya lekat-lekat, ini bukan gigitan ular pada umumnya. Ada yang aneh dengan gigitan ular ini.

"Wae? Apa ahjussi tahu sesuatu? Jika ahjussi tahu sesuatu ahjussi pasti Gumiho itu, calon suamiku karena aku adalah istri Gumiho yang ada di ramalan dan ular itu juga mengatakan hal yang sama. Aku adalah calon istri Gumiho yang dipilih oleh langit, karena alasan itu juga aku mendapat tiga penyakit kutukan aneh" ucap Jimin dengan nada bicara sendu. Ia selalu sedih setiap kali membahas penyakit anehnya itu yang disebabkan ia adalah istri dari Gumiho keparat itu yang kemungkinan besar adalah Yoongi.

Pria itu mendengarkan penjelasan Jimin dengan seksama, tidak tertinggal satu informasi pun. Ia menjauhkan tangan Jimin, menatap pemuda bermarga Park itu dengan pandangan terkejut. Tangannya mengepal kuat merasakan getaran aneh pada sembilan panah yang menusuk dirinya, entah kenapa selalu begini padahal malam ini bukan bulan purnama.

"Ahjussi belum menjawab pertanyaanku, apa ahjussi Gumiho itu?"

"Jika kau memang benar calon istrinya kau seharusnya melihat itu" ucap Yoongi menatap Jimin dengan pandangan menilai. Pemuda manis itu mengernyit heran dengan ucapan Yoongi yang tidak jelas. "Kau seharusnya melihat itu"

"Aku tidak memerlukan jawaban seperti itu. Jawab pertanyaanku, apa ahjussi Gumiho itu?"

Di sisi lain, tepatnya di gerbang mansion Yoongi. SeokJin dan Taehyung saling menatap, SeokJin dengan pandangan terkejut karena baru sadar dengan sosok bernama Park Jimin itu, sementara Taehyung menatap penasaran tentang siapa SeokJin dan siapa namanya-karena Taehyung tidak tahu namanya-, satu hal lagi tentang siswa bernama Park Jimin itu. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang disembunyikan anak didiknya itu.

"Apa kau bisa menjelaskannya?"-Taehyung.

"Apa kau bisa menjelaskannya?"-Yoongi.

To Be Continue

Silahkan dilanjut ya, *emotsenyum*