DIKARENAKAN KADANG FFN SULIT SEKALI UNTUK DI BUKA, JADI JIKA MEMANG FFN LAGI KUMAT AUTHOR NGEPOST CHAPTER SELANJUTNYA DI WATTPAD : LEEDONGHWA

After You

Ooc, Genderswitch, Typo (s)

Ranted : T

Chapter : 2

Main Cast : Kyungsoo and Jongin

Another cast :, Luhan, Yixing, Minseok, and Chanyeol. (other cast will appear on next chapter)

.

A little note from me : Cerita ini memiliki alur maju mundur dengan beberapa sudut pandang. Seperti cerita yang pernah saya buat sebelumnya. Setiap paragraf yang di cetak miring menandakan alur mundur atau flasback.

.

Kyungsoo bangun karena suara teriakan dari kakaknya. Dia memanggil – manggil tak sabaran seakan baru saja terjadi kebakaran besar di rumahnya. Dia sampai di rumah tengah malam, karena berjalan – jalan bersama Luhan tanpa mengingat waktu dan sekarang masih pukul tujuh pagi, namun Chanyeol sudah membuat masalah. Dia merutuki kakaknya yang tinggi dan jelek itu sambil memaksa kakinya untuk berjalan dengan benar menuruni tangga.

"Apa yang kau inginkan Chanyeol?!" seru Kyungsoo saat masih berjalan menuruni tangga.

"Cepat turun dan makan sarapanmu, kemudian bersiap – siap kita akan pergi." Perintahnya seenak hati. Kyungsoo mendelik saat duduk di hadapan meja. Dia tidak menemukan ayah ibunya duduk di tempat biasa. Dia menatap pintu kamar orang tuanya yang tertutup rapat.

"Where's mom and dad?" tanya Kyungsoo sambl menyuapkan rotinya.

"Mereka pergi dan kita harus menyusul." Jawab Chanyeol memakan sarapannya dengan tegesa – gesa. Kyungsoo menatapnya dengan heran, kakaknya tidak pernah tergesa – gesa dan terlihat gelisah seperti ini. Dia sadar sesuatu sedang terjadi.

Kyungsoo mengikuti kakaknya menghabiskan sarapannya dengan cepat dan kemudian pergi menuju kamarnya untuk mandi. Dia tidak akan banyak bertanya karena sepertinya Chanyeol juga tidak akan menjawab banyak. Dia terpaksa melewatkan kelasnnya hari ini dan memilih masuk ke dalam mobil sang kakak dan mengikutinya kemanapun itu.

Saat di perjalanan dia sadar kalau mereka sedang menuju kantor ayahnya. Okay, sesuatu terjadi di kantor ayahnya. Dia berharap apapun itu tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Beberapa spekulasi memenuhi kepalanya dan Kyungsoo tidak mau melanjutkannya karena itu hanya akan membuatnya semakin ketautan.

"Kyungsoo." Ujar Chanyeol menyadarkan lamunannya. Mereka sudah sampai di depan perusahaan ayahnya, gedung pencakar langit yang menjulang seakan membelah langit. Konstuksi bangunan menawan yang di bangun oleh salah satu arsitek terkenal New York. Tempat dimana ayah dan kakaknya berkutat sepanjang hari dengan tumpukan dokumen dan meeting yang membosankan.

Chanyeol menggandengnya masuk, terima kasih pada kakaknya yang mengerti kalau dia seakan ketakutan-well, dia memang ketakutan. Saat masuk beberapa orang menatap mereka seakan ada hal aneh di wajah mereka.

"Ada apa?" Bisiknya tak tahan dengan semua rasa penasarannya.

"Daddy mengatskan perusaan terancam bangkrut karena penurunan saham yang drastis." Bisik Chanyeol membuat lututnya seketika lemas. Bagaimana mungkin ayahnya tidak memberi tahu masalah ini sama sekali? bagaimana dia bisa mengetahuinya di saat semua hampir saja terlambat?

"Tenang, daddy pasti memiliki jalan keluarnya." Chanyeol mengeratkan genggamannya dan berusaha menenangkan.

"Sudah berapa lama?" tanya Kyungsoo menghentikan langkahnya di sebuah lorong sepi. Kakaknya seakan ragu untuk menjawab. Chanyeol pasti tau banyak hal, mengingat dia sudah menjadi salah satu manager di perusahaan ini.

"A couple of month." Ujarnya dengan sedikit cemas.

Beberapa bulan terdengar bukan sesuatu yang melegakan, ini sudah terjadi berbulan – bulan dan Kyungsoo tak tau separah apa masalah yang menimpa mereka kali ini. Dia kembali menggandeng tangan Chanyeol karena dia tak yakin bisa berjalan sendiri, kedua lututnya bergetar dan seluruh tubuhnya terasa lemas.

Mereka sampai di lantai sepuluh, di mana kantor ayah mereka berada. Seorang sekretaris menyambut mereka dengan senyuman tipis. Walau tersenyum, dia bisa melihat wajah cemas, sama halnya dengan Chanyeol pagi ini.

Saat masuk ayah dan ibu mereka sedang duduk di sebuah sofa, kepala ayahnya di tundukan menghadap ke sebuah berkas yang dia sama sekali tak mau tau. Kyungsoo langsung menghampiri sang ibu yang hanya tersenyum padanya. Walau tak ada tangisan yang jatuh tapi dia bisa melihat wajah sedih sang ibu. Di sudut lain dia bisa melihat teman ayahnya sesama pengusaha tengah berpikir sambil memandang keluar jendela.

Dan mereka berada di sana selama berjam – jam mencari sebuah jalan untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya. Kyungsoo dan Chanyeol ikut memberikan ide yang bisa di pertimbangkan. Sampai akhirnya malam datang dan pembicaraan ini akan di lanjutkan besok. Dia sudah memutuskan untuk ikut terjun bekerja di kantor, membantu ayahnya dan mengambil cuti kuliah untuk sementara ini. Perusahaan ayahnya lebih penting. Menurutnya ini adalah keputusan terbaik yang bisa dia ambil saat ini.

.

Belakangan ini Kyungsoo sibuk, dia tidak memiliki waktu untuk membalas pesan Luhan ataupun teman – teman lainnya, terlebih lagi untuk menjawab sebuah panggilan. Setiap hari dia bangun pagi untuk bersiap – siap pergi ke kantor dan harinya dihabiskan untuk menemani Chanyeol, menjadi asisten pribadi kakaknya itu. Saat malam menjelang, dia tidak bisa berkutik. Kasur menjadi landasan terakhirnya untuk melepas semua penat yang memenuhi kepalanya.

"Kau butuh istirahat." Ujar Chanyeol sore itu.

Kyungsoo hanya tersenyum dan menggeleng. Menunggu kakaknya memeriksa sebuah dokumen yang baru saja dikerjakannya.

"Aku bahkan tidak bisa mengenalimu belakangan ini." tutur Chanyeol sambil membaca dokumen di tangannya. "Kau telihat berbeda sekali. Aku bisa melihat dengan jelas kantung matamu yang semakin membesar." Lanjutnya sambil menutup dokumen itu dan kembali menyerahkannya pada Kyungsoo.

"Kau pikir begitu?" tanya Kyungsoo seakan tak bertenaga.

Sang kakak bangkit dari duduknya dan menuntun Kyungsoo untuk menatap dirinya sendiri di depan cermin yang ada di samping ruangan. Ya. Dia bisa melihat apa yang baru saja Chanyeol katakan. Rambut lusuh, mata sayu dengan lingkaran hitam yang terlihat sangat kentara, bibir kering dan pipinya yang seakan semakin tirus.

Chanyeol membalikan tubuhnya. Mereka berdua bertatapan untuk beberapa saat sampai akhirnya sang kakak memberikan sebuah pelukan hangat. Jujur saja, Kyungsoo membutuhkan pelukan itu.

"Maafkan aku harus melibatkan adikku tercinta dalam hal seperti ini." ujar Chanyeol sambil mengelus rambutnya sayang. Dia hanya menghela nafas panjang dan menyandarkan dagunya di bahu sang kakak.

"Apa yang kau katakan? Aku yang ingin membantu kau dan daddy."

Chanyeol melepaskan pelukanya dan mengusap pipi Kyungsoo dengan ibu jarinya. Dia mengecup keningnya dan meremas pundaknya pelan.

"Kau memang adik terbaik yang pernah ada. Bertahanlah lebih lama."

Kyungsoo hanya tersenyum dan mengangguk. Itu yang dia harapkan. Dia ingin bertahan selama mungkin, dia ingin membantu keluarganya.

.

.

.

"Tidak. Tentu saja tidak ada yang salah saat kau diantarkan oleh suamimu sendiri."

Kyungsoo memutar bola matanya dan memilih untuk tak merespon apapun yang akan diucapkan oleh temannya itu. Tapi sayang Luhan tak semudah itu untuk diabaikan. Dia terus saja membuntuti Kyungsoo dan menggodanya.

"Berhentilah Lu. Kau benar – benar membuatku jengkel." Ujar Kyungsoo yang mulai kesal dengan celotehan Luhan. Namun temannya itu bukan berhenti tapi malah memberikan seringaiannya.

"Kenapa? Memangnya apa yang aku katakan salah?" tanya Luhan tanpa dosa. "Dia suamimu bukan?"

"Kapan aku menikah dengannya?" tanya Kyungsoo sambil menatap sengit temannya itu. "Kapan aku menjadi istrinya?"

Luhan berdecak pinggang dan mengekorinya saat dia hendak membuka lemari es. Luhan terus menatapnya seakan menuntut untuk dibalas, wanita itu masih ingin membicarakan soal tadi.

"Baiklah apa yang kau mau?" tanya Kyungsoo seakan menyerah dan membiarkan sahabatnya itu menang kali ini. Luhan tersenyum penuh kemenangan dan menariknya ke luar dari dapur dan duduk di kursi yang baru saja dibersihkan Minseok.

"Apa yang kalian…"

"Kita akan buka sedikit terlambat hari ini. Minseok my dear, bisakah kau membersihkan dapur sebentar? Yixing bisa membantumu."

Itu tanda bahwa Luhan ingin kedua orang itu meninggalkan mereka berdua. Kyungsoo hanya menghela nafas menatap dua orang yang hendak berjalan ke dapur itu. Minseok dan Yixing menatapnya sambil tersenyum menyemangati. Ya, kedua orang itu sudah tau apa yang akan dibicarakannya dengan Luhan.

Luhan sedari tadi duduk manis dihadapannya menunggu dia memulai cerita. Wanita itu tidak mengatakan sepatah katapun tapi kedua matanya terus menuntut dia agar memulai cerita sebelum Luhan meledak – ledak.

"Okay, jadi apa yang kau mau dengarkan?" tanya Kyungsoo sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Apa yang terjadi hari ini. Kau tau dia baru saja mengantarmu." Ujarnya terlihat begitu bersemangat, dia bahkan sampai mencondongkan tubuhnya.

"Lalu?"

"Kau tak mengerti? Aku pikir dia memiliki perasaan padamu atau semacamnya." Cibir Luhan sambil terkekeh pelan. Kyungsoo hanya memutar bola matanya dan mendengus pelan.

"Aku sudah menceritakan semuanya padamu, juga pada Yixing dan Minseok."

"Tapi mungkin saja dia berubah, mungkin saja…."

"Apa?"

"Dia menyukaimu?"

Kyungsoo hanya mendengus pelan. Bagaimana mungkin Luhan bisa menarik kesimpulan bahwa Jongin menyukainya sementara wanita itu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara dirinya dan Jongin.

"Kau tidak akan menarik kesimpulan seperti itu kalau kau mendengar apa yang dikatakannya tadi pagi." gumam Kyungsoo sambil menerawang ke depan. Ingatannya melayang pada pagi tadi, saat dia menyiapkan sarapan untuk Jongin.

"Jongin ingin aku bertemu 'dia'." Gumam Kyungsoo lebih pelan.

"Dia? Dia siapa-" pertanyaan Luhan terhenti untuk sesaat. "Oh." Lanjutnya seakan kehilangan semangat. Kyungsoo menatapnya sambil tersenyum sayu.

"Sekarang apa kau masih bisa menganggap kalau dia tertarik padaku, hm?"

Luhan tak menjawab dia hanya menghela nafas panjang sambil menelisik menatapnya. Untuk sesaat hanya keheningan yang memenuhi meja mereka. Kyungsoo sibuk dengan pikirannya dan Luhan masih menatapnya, menyelidik sesuatu. Dia tau, cepat atau lambat Luhan akan tau segalanya. Dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Luhan. Sahabatnya itu sudah mengenal dia dengan baik.

"Kau mau menemaniku pergi ke supermarket malam ini?" Tanya Kyungsoo tiba – tiba.

"Hm?"

"Aku perlu membeli-"

"Kau tidak mencoba untuk lari bukan?" Bisik Luhan menyela ucapannya.

Hanya dalam beberapa menit Luhan bisa membongkar semuanya. Ini lebih cepat dari apa yang dia bayangkan. Kyungsoo hanya tersenyum lemas dan menghela nafas panjang.

"Aku pikir akan lebih baik jika aku tidak tinggal terlalu lama. Aku tidak ingin menganggu-"

"Atau kau tidak ingin melihatnya." Sela Luhan sebelum Kyungsoo sempat menyelesaikan ucapannya.

Sekali lagi. Luhan bisa membacanya dengan cepat. Temannya itu pernah mengatakan dia bagaikan sebuah buku yang terbuka. Benarkah? Kenapa Jongin seakan tak pernah bisa melihat apa yang ada dipikirannya?

"Sebaiknya kita membiarkan Minseok dan Yixing untuk kembali." Ujar Kyungsoo sambil bangkit dan berjalan menuju dapur.

Namun saat dia masuk, Minseok dan Yixing sedang sibuk membuka lemari es dan mencicipi blueberry yang ada di sana. Saat sadar kalau mereka baru saja tertangkap basah, keduanya hanya tertawa dan membawa beberapa buah strobery sebelum meninggalkan dapur.

"Aku saja bahkan tak berani untuk memakannya!" Seru Kyungsoo mengejar kedua orang yang berusaha melarikan diri. Namun Luhan tiba – tiba saja berdiri di depan pintu menghadang keduanya.

"Kyungsoo bersumpah akan membunuhku kalau aku memakannya tapi kalian berdua…" Luhan seakan kehabisan kata – kata.

"Kita hanya mencicipinya satu." Ujar Yixing.

"Satu?" tanya Kyungsoo dibelakangnya yang sedang membuka lemari es untuk melihat apa saja yang dicuri oleh dua tikus raksasa itu.

"Well… dua mungkin?" tambah Minseok.

"Dua?!" tanya Kyungsoo menaikan suaranya.

"Atau mungkin beberapa?" tambah Minseok seakan kehilangan suaranya.

"Kalian menghabiskan setengah mangkuk!"

Luhan terkesiap dengan keras menarik perhatihan kedua orang itu. Dan detik berikutnya dia memukuli pantat Minseok dan Yixing berkali – kali, diikuti dengan Kyungsoo yang melakukan hal yang sama. Tapi bukannya meringis atau kesakitan, Yixing dan Minseok hanya tertawa sambil menahan tangan Luhan dan Kyungsoo.

Dan pagi hari mereka dihabiskan dengan sedikit drama cinta dari Kyungsoo juga canda tawa yang membuat segalanya kembali seperti semula. Untuk sesaat.

.

.

.

Chanyeol dan ayahnya pergi ke Korea untuk urusan bisnis. Dia memiliki waktu untuk beristirahat setidaknya dua hari dan Kyungsoo hanya ingin bebaring di kasurnya. Hanya berbaring. Dia membutuhkan tidur dan bergulung dibawah selimut hangatnya.

Dan hari ini Kyungsoo melakukannya. Semenjak tadi malam sampai siang hari ini, dia hanya berbaring di tempat tidurnya. Beberapa kali terbangun namun dia memutuskan untuk kembali tidur sampai akhirnya perutnya berbunyi minta diisi.

Kyungsoo tidak begitu ingat kapan dia makan dengan benar. Berat badannya sedikit turun dan kulitnya terlihat begitu kusam, kedua matanya sayu dan bibirnya kering. Kyungsoo benar – benar membutuhkan istirahat.

Dia pergi ke lantai bawah untuk mencari makanan, masih menggunakan piama dengan rambut yang dijepit asal. Dia menatap sekelilingnya mencoba untuk menemukan ibunya atau pembantu tapi sayangnya dia tak menemukan siapapun di sana.

Namun di meja makan sudah tersedia sarapan untuknya dan sebuah note berwarna kuning menempel di tepi piring.

'I'll be back this afternoon. Eat well my little daughter.'

Kyungsoo tersenyum saat membacanya. Bagaimana ibunya masih bisa menganggapnya seperti anak kecil saat dia tak lama lagi akan berusia 24 tahun. Kyungsoo melipat kertas itu dan menjejalkannya ke dalam saku piama. Dia mulai menyantap sarapannya-entah itu masih bisa disebut sarapan saat jam menunjukan pukul 12 siang.

Setelah selesai sarapan, Kyungsoo duduk di ruang tengah. Menonton televisi yang menampilkan orang – orang sibuk memasak dan berseru satu sama lain. Namun semakin lama matanya semakin berat sampai akhirnya dia lupa dengan tontonannya dan mulai terlelap.

Tepukan di pipinya yang membangunkan dia dari tidurnnya. Saat membuka mata, sang ibu sedang tersenyum dihadapannya. Kyungsoo menggeliat dan baru sadar kalau sedari tadi dia kembali tertidur.

"Hi mom." Sapanya sambil menguap.

Sang ibu hanya mengelus kepalanya dan duduk di samping Kyungsoo sambil memindahkan saluran televisi berkali – kali mencoba mencari tontonan yang menarik matanya.

"Kau terlihat kurang tidur." Ujar sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya. Kyungsoo hanya bergumam tak jelas sambil memeluk sang ibu. Matanya masih terasa berat, dia bisa tertidur dengan mudahnya tapi gerakan dari sang ibu membuat matanya kembali terbuka.

"Kembali ke kemarmu Kyungsoo. Kau bisa tidur sepuasmu hari ini. Mommy akan membangunkanmu untuk makan siang."

Kyungsoo tersenyum mendengar ucapan ibunya itu. Dia bangkit dan mencium pipi sang ibu sebelum dia berlari kecil menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Kyungsoo hanya ingin bermalas – malasan hari ini. Makan, tidur, makan dan kembali tidur hanya dua hal itu yang ingin dilakukannya. Dia bahkan tidak perduli pada ponsel, dia tidak perduli jika memang ada telphone atau pesan yang masuk. Biarkan dia berlaku seperti tak perduli apapun. Untuk satu hari ini saja, hanya satu hari ini saja.

.

.

.

Sebentar lagi café akan tutup. Kyungsooo dan Luhan sudah selesai dengan urusan mereka di dapur. Cookies untuk esok hari sudah selesai dimasak mereka, buah – buahan yang baru datang sudah di tata dengan manis di kulkas. Kyungsoo sediki kelelahan hari ini, ditambah lagi tadi siang dia tak berhenti tertawa bersama Yixing, Minseok dan tentu saja Luhan. Beberapa kali mereka berceloteh dan mengeluarkan lelucon yang mengocok perut.

Suara bel yang berdenting membuat keempat wanita itu langsung melirik ke arah pintu.

"Maaf tapi kamu sudah-" Ucapan Luhan terhenti saat dia menemukan Jongin lah yang masuk. "Oh." Gumamnya sambil menatap Kyungsoo.

Kyungsoo lupa janjinya dengan Jongin. Tawa dan canda hari ini benar – benar mengalihkan semua perhatiannya dari hal yang paling dia khawatirkan. Dan sekarang dia bingung apa yang harus dilakukan saat menemukan Jongin berjalan kearahnya.

"Jadi…" Jongin mulai bergumam.

Kyungsoo mengerjapkan mata menatap pria dihadapannya itu yang sekarang memandangnya dari atas sampai bawah. Kyungsoo mengukuti arah pandangan Jongin dan menemukan dirinya sedikit berantakan dengan apron penuh noda dan rambut yang diikat berantakan.

"Oh, sepertinya kau harus menunggu." Kyungsoo langsung tersadar dengan tatapan yang diberikan Jongin.

"Tidak apa. Aku bisa menunggu." Jawabnya sambil menarik kursi dihadapannya.

Kyungsoo langsung melesat pergi untuk membereskan diri. Dia tidak ingat pada Luhan yang memandangnya sambil menghela nafas panjang, dia juga tak ingat dengan apa yang dibicarakannya dengan Luhan tadi pagi.

Saat kembali dia menemukan Luhan, Minseok dan Yixing sibuk membereskan café. Dia merasa bersalah karena tidak bisa membantu mereka hari ini.

"Aku minta maaf karena tidak bisa membantu kalian hari ini."

Yixing yang berada di sudut ruangan yang pertama kali merespon. Wanita itu berseru kalau dia bisa pergi tanpa harus membantu mereka. Yixing memang gadis yang baik. Berbeda dengan Luhan dan Minseok yang menatapnya sambil menyilangkan tangannya di dada.

"Kita tidak akan membiarkanmu begitu saja, kau tau itu." Ucap Minseok.

"Aku tau, aku tau. Aku akan mentraktir kali bertiga senin nanti." Ujar Kyungsoo tau arah pembicaraan kedua temannya itu. Minseok dan Luhan langsung memberikan senyumannya dan menurunkan tangan mereka dari dada.

.

Jongin melihat Kyungsoo keluar dari sebuah ruangan dengan baju yang dipakainya pagi ini. rambutnya diikat rapi dan tidak ada lagi celemek penuh noda digunakannya.

"Kita tidak akan membiarkanmu begitu saja, kau tau itu." Ucap salah seorang temannya yang bernama Minseok-kalau tak salah. Wanita bernama Luhan berdiri di sampingnya menatap Kyungsoo dengan tajam.

"Aku tau, aku tau. Aku akan mentraktir kali bertiga senin nanti." Ujar Kyungsoo seakan pasrah membuat kedua temannya tersenyum.

Dia merasa kalau seharunya dia datang lebih lama, karena sepertinya dia membuat Kyungsoo berada dalam masalah.

"Apa aku datang terlalu cepat?" tanyanya sambil bangkit dari kursi. Luhan langsung menggelengkan kepala.

"Tidak. Kita harus berterima kasih padamu karena dirimulah minggu depan kita bisa makan gratis." Ucap Minseok seakan menyampaikan apa yang ingin diucapkan Luhan.

"Tepat sekali." ujar Luhan setuju.

Kyungsoo hanya menggelengkan kepala dan mendorong pelan kedua temannya itu menjauh. Dia melambaikan tangan pada seorang temannya yang berada di ujung café, sibuk membersihkan meja.

"Aku tidak mengerti bagaimana orang seperti kalian berdua senang sekali saat mendengar kata 'traktir.'" Ujar Kyungsoo sambil berlalu.

"Siap?" tanya Jongin saat matanya bertemu dengan Kyungsoo. Wanita itu mengangguk dan berseru pelan pada Yixing yang masih sibuk di sudut ruangan dan melambaikan tangannya pada Minseok dan Luhan sambil mendelik dan pergi mendahuluinya.

"Aku pergi dulu." Ujar Jongin sambil tersenyum pada dua teman Kyungsoo yang menatap kepergian mereka sambil tersenyum itu. Jongin masih tidak mengerti kenapa Luhan dan Minseok menatapnya seperti itu.

.

Jongin dan Kyungsoo sudah berada dalam mobil menembus kemacetan malam hari ini. Mereka belum berbicara semenjak memasuki mobil karena sejak tadi Kyungsoo sibuk dengan ponselnya. Jongin beberapa kali mendengar wanita itu menghela nafas panjang.

"Kau baik – baik saja?" tanya Jongin sambil meliriknya. Kyungsoo hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya. Hal itu semakin membuat Jongin penasaran pada apa yang sedang dilakukan wanita itu.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya tak bisa menahan rasa penasaran yang seakan mencekik.

"Hm? Aku sedang memastikan bahan – bahan yang akan aku beli bersama Luhan sudah dicatat semua. Aku tidak mau melakukannya dua kali karena itu sedikit menjengkelkan." Jawabnya tanpa menatap Jongin. "Dan selesai." Ujarnya beberapa menit kemudian.

Jongin bisa mendengar dia menghela nafas panjang dan bersandar pada jok mobil. Mobil berhenti di lampu merah dengan deretan mobil yang silih berdesakan ingin mencuri tempat agar bisa melaju lebih depan.

"Apa kita masih lama?" tanya Kyungsoo sambil melirik khawatir kejalanan yang macet.

"Sepertinya."

"Apa dia sudah ada di sana?" tanyanya lagi masih dengan ekspresi yang khawatir.

"Tenang saja. Aku sudah memberi taunya kalau kita akan sedikit terlambat. Jangan khawatir, dia sudah mengerti bagaimana macetnya jalanan saat jam pulang kerja." Jelasnnya mencoba agar Kyungsoo tidak terlihat cemas.

"Kau yakin?"

"Tentu saja." Jawabnnya.

Salah satu hal menarik tentang Kyungsoo adalah dia wanita yang benar – benar baik. Jujur saja, Kyungsoo terlihat selalu mencemaskan orang lain dibanding dirinya. Kyungsoo akan selalu menjawab iya setiap kali ada orang yang meminta bantuannya. Kyungsoo benar – benar menarik.

.

.

.

Kyungsoo mengawali hari ke dua liburannya dengan bangun pagi sekali dan pergi jogging di sekitar rumahnya. Sudah lama sekali dia tidak bisa berolah raga, lihatlah bagaimana dia merasa lelas saat baru saja berlari beberapa meter.

Dam saat matahari mulai meninggi, Kyungsoo sudah berada di dalam mobilnya hendak pergi ke mall. Untuk seorang wanita cara menghilangkan stress yang terbaik adalah pergi berbelanja. Walaupun Kyungsoo bukan tipe shopaholic tapi tetap saja dia seorang wanita yang selalu tergiur dengan tas – tas atau baju – baju yang di pajang di etalase toko.

Kyungsoo menghabiskan siang harinya dengan membeli beberapa barang. Satu, dua, tiga barang dibelinya. Setelah merasa dia cukup menghabiskan uang hari ini akhirnya dia memutuskan untuk makan siang di restoran fast food terdekat sebelum kembali ke rumah.

Kyungsoo kembali dengan tenaga terkuras. Dia langsung menaruh semua paperbag nya dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Musim panas datang tidak tanggung – tanggung, matahari seakan terasa tepat di atas ubun – ubun siap membakar siapapun. Kyungsoo tidak terlalu suka saat pertengahan musim panas dengan matahari yang terik sepetri ini. Dia selalu merasa pusing dan dehidrasi setiap kali keluar rumah.

"Aku sama sekali tidak setuju."

Saut – saut terdengar suara Chanyeol dengan nada tinggi. Kemudian derap langkah yang berat menghentak – hentak lantai dengan tak sabaran.

"Tapi Chanyeol itu akan menyelamatkan kita." Dan kini suara sang ayah yang terdengar.

Kyungsoo yang penasaran berjalan menuju asal suara, mencari tau apa yang terjadi. Chanyeol berdiri tak jauh dari tempatnya, bertatapan dengan sang ayah dengan ekspresi wajah yang kecewa. Sekarang apa lagi?

"Apapun alasannya aku tidak akan pernah setuju." Ujarnya kemudian berbalik, dan saat itulah mereka bertatapan. Chanyeol terlihat terkejut sekaligus kalut saat menatapnya.

"Aku tidak mau mengorbankannya." Gumam Chanyeol sedikit pelan tapi cukup untuk bisa terdengar oleh dirinya. Kemudian pergi menuju kamarnya di lantai dua.

Mengorbankan apa?

Siapa yang dikorbankan?

Ada apa ini?

"Dad, sesuatu terjadi?" tanyanya.

Sang ayah hanya menggeleng pelan kemudian mengecup keningnnya sebelum masuk ke dalam kamar. Dia baru sadar ibunya ada di sana terhalang oleh tinggi ayahnya. Kyungsoo menatap ibunya mencoba mencari tau apa yang terjadi. Tapi ibunya hanya menggeleng dan pergi mengikuti ayahnya ke dalam kamar meninggalkan Kyungsoo dengan segudang pertanyaan dan rasa penasaran.

Kyungsoo terlalu penasaran, dia tidak bisa menunggu sampai salah seorang dari tiga orang itu mulai menjelaskan padanya apa yang terjadi. Dia hendak pergi ke kamar sang kakak, tapi melihat bagaimana ekspresi Chanyeol pagi ini, dia ragu kakaknya akan membuka pintu untuknya.

Akhrinya Kyungsoo membiarkan dirinya larut dalam rasa penasaran yang entah kapan bisa hilang ini. Dia memilih untuk menunggu di ruang tengah berpura – pura menyibukan diri menonton televisi sambil membongkar semua belanjaannya hari ini.

Satu jam kemudian dia mendengar pintu kamar ayahnya terbuka. Saat melirik kebelakang dia menemukan ayahnya tersenyum sambil berjalan kearahnya. Dia merasa inilah akhir dari rasa penasaran yang tadi mengganggu akan terobati.

Sang ayah duduk di sampingnya, melihat televisi yang menayangkan seseorang yang sedang membuat kue dengan bentuk unik. Dia tau ayahnya hanya mencoba untuk mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi padanya.

"Katakan saja dad. Jangan membuatku terus bertanya – tanya." Ujar Kyungsoo memulai percakapan. "Sesuatu terjadi hari ini bukan? Sesuatu yang tak begitu baik sampai – sampai Chanyeol terlihat sangat marah." Lanjutnya.

Sang ayah hanya tersenyum dan meraih tangannya. Mengusapnya beberapa kali dan merangkul Kyungsoo dengan hangat. Sekalipun ayahnya sibuk tapi ayahnya selalu bisa meluangkan waktu untuk dirinya dan membuat Kyungsoo merasa terus dicintai.

"Kau tau kita pergi ke Korea bukan?" tanya ayahnya mulai membuka suara.

"Ya. Lalu? Apa ini berhubungan dengan pembicaraan dengan Chanyeol tadi?"

Ayahnya tak langsung menjawab. Dia menghela nafas berat dan mengusap pundaknya beberapa kali sambil terlihat memikirkan sesuatu. Menimbang banyak hal yang membuat keningnya yang berkeriput itu mengerut semakin dalam.

"Katakan saja." Ujar Kyungsoo meyakinkan.

"Jadi kemarin malam daddy bertemu dengan teman lama. Sudah lama sekali kita tak bertemu, akhrinya kita makan malam bersama. Chanyeol tentu saja ada di sana, kita membicarakan banyak hal. Masa lalu yang menggelikan, wanita…" ayahnya mengedipkan mata membuat dia tersenyum. "Namun semakin lama, pembicaraan kita mulai serius. Daddy mulai menceritakan bagaimana kondisi perusahaan kita belakangan ini dan ternyata dia bisa membantu."

Mata Kyungsoo langsung terbuka lebar. Itu mungkin menjadi solusi yang mereka cari selama ini. Mungin ini akan menjadi jalan keluar untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya dan membuat semuanya kembali normal.

"Lalu? Apa yang daddy katakan?" tanya Kyungsoo semakin bersemangat mendengarkan cerita ayahnya.

"Tentu saja daddy berterima kasih karena dia mau membantu. Tapi kau tau…" ayahnya menggentungkan kalimatnya begitu saja membuat dia penasaran.

"Apa?" tanya Kyungsoo yang tak sabaran.

"Daddy harus menjodohkanmu sebagai gantinya."

Kalimat yang baru saja terlontar dari ayahnya langasung membuatnya tercekat. Banyak hal langsung memenuhi kepalanya. Perjodohan? Dirinya? Kyungsoo tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika nanti dia di jodohkan. Tidak terbayangkan sama sekali.

"Dan tentu saja Chanyeol tak setuju dengan hal itu." Lanjut ayahnya membuat dia mengerjap seakan baru saja terbangun dari khayalannya sendiri. "Dia tidak akan membiarkan ayah menikahkan dirimu dengan sembarang pria. Dia tidak ingin mengorbankan dirimu."

Bibir Kyungsoo sedikit terangkat mendengar bagaimana Chanyeol, kakaknya yang paling menyebalkan itu membela dia habis – habisan. Dia tidak pernah menyangka dibalik sikapnya yang menyebalkan Chanyeol ternyata sangat perhatian.

"Daddy tidak akan memaksa jika kau memang tidak menginginkannya."

Kyungsoo hanya tersenyum dan memeluk sang ayah untuk beberapa lama. Pikirannya berkelana jauh keluar sana, menimbang – nimbang banyak hal baik dan buruknya. Dia mencoba untuk tidak menjadi egois tapi juga mencoba untuk memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Namun dia masih tidak mempunyai jawaban yang pasti.

"Aku akan berbicara dengan Chanyeol, dad. Take a rest, love ya." Ucap Kyungsoo sambil mengecup pipi ayahnya dan berjalan ke lantai dua. Dia sudah berada di ujung tangga. Menatap pintu kamar kakaknya yang tertutup rapat.

Kyungsoo ragu untuk mengambil langkah dan bertemu dengan kakaknya. Dia mengenal Chanyeol seperti mengenal dirinya sendiri. Chanyeol pasti sedang mundar – mandir dengan kepala yang ditundukan, dan terus seperti itu sampai ada hal yang mengalihkan perhatiannya.

Kyungsoo dengan ragu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar sang kaka. Dia berdiri selama beberapa menit di sana, menimbang – nimbang untuk masuk atau membicarakan lain kali. Tapi saat makian terdengar dari dalam sana dia hanya bisa menghela nafas panjang dan membuka pintu.

"Chanyeol buka pintunya." Ujar Kyungsoo dengan suara lembut sambil mengetuk pintu yang ternyata terkunci itu. Namun tak ada jawaban, tak ada suara Chanyeol yang terdengar. Kyungsoo tidak mempunya pilihan lain. Dia berjalan ke sisi kanan ruangan dan membuka laci meja panjang dengan foto keluarga di atasnnya. Dengan cepat dia menemukan kunci pintu kamar sang kakak dan tanpa pikir panjang lagi dia membukanya.

Saat masuk, Chanyeol yang bediri di depan jendela hanya bisa mendesah seakan kehadirannya itu menganggu. Tapi Kyungsoo memberikan senyuman terbaiknya dan berjalan menghampiri sang kaka. Chanyeol tak menggubrisnya. Pria itu seakan menganggap Kyungsoo tak ada di sana, dia hanya menatap keluar jendela dengan kening berkerut.

"Hey." Ujarnya sambil menyenggol tangan Chanyeol dengan sikunya. Tapi Chanyeol bergeming, dia tetap pada posisinya sampai akhirnya Kyungsoo menarik lengannya dan memeluk sang kakak. Perlahan tapi pasti Chanyeol mambalas pelukannya, dia menaruh dagunya di atas kepala Kyungsoo dan menarik adiknya itu semakin erat dalam pelukannya. Kyungsoo bisa merasakan bagaimana kegelisahan yang dirasakan Chanyeol, bagaimana tubuhnya yang menegang, bagaimana hembusan nafas putus asa, dan cara Chanyeol memeluknya semakin menjelaskan bahwa pria itu tengah berada dalam kegelisahan.

"Aku sudah mendengar semuanya dari daddy." Bisik Kyungsoo sambil mengangkat kepalanya tapi Chanyeol seakan mengelak, dia mengeratkan pelukannya tak ingin membalas tatapannya.

"Aku ingin membantu." Lanjutnya lagi.

Ya. Mungkin ini akan sulit, menikah dan membangun rumah tangga dengan orang yang bahkan kau tak tau seperti apa rupanya, bagaimana sifatnya, bagaimana karakternya, dia tau ini bukan keputusan yang mudah tapi mungkin ini satu – satunya cara untuk menyelamatkan keluarganya. Selama ini dia sudah menjadi anak yang begitu dimanja dan disayangi oleh ayah, ibu dan kakaknya mungkin sekarang saatnya Kyungsoo untuk membalas budi.

"Aku akan menikahinya." Lanjut Kyungsoo walau masih ada nada ragu dalam suaranya.

Seketika itu juga dia kehilangan peluan hangat dari Chanyeol. Kyungsoo mencoba menatapnya, tapi yang dia temukan hanya raut wajah marah dan kesal. Chanyeol mencengkram pundaknya cukup kuat.

"Apa yang kau pikirkan?" Ucap Chanyeol hampir berteriak membuat Kyungsoo terkejut. "Kau akan menikahi pria yang bahkan kau tidak tau bagaimana rupanya? Bagaimana kalau dia seperti keledai? Bagaimana kalau dia akan menyakitimu nanti? Bagaimana-"

"Aku hanya ingin membantu." Sela Kyungsoo sambil berkaca – kaca. "Mungkin ini yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa membantumu ataupun daddy dan juga aku tak bisa hanya berdiam diri melihatmu bekerja keras sampai lupa segala hal untuk mengembalikan perusahan seperti semula."

Dan air mata itupun jatuh. Kyungsoo tak bisa membendungnya lagi. Sungai kecil itu sudah mengalir diliputi kesedihan yang mendalam. Dia tak bisa menahannya walau dia ingin sekali. Bulir – bulir itu terus turun menghujan pipinya, sampai akhirnya tangan besar sang kakak merengkuh pipinya. Menghapus jejak – jejak air mata yang seakan tak mau terhenti itu.

"Aku tak ingin kau tersakiti, aku mencoba untuk mencari jalan lain, jika bisa lebih baik aku yang harus dijodohkan dari pada mengorbankanmu. Kau tau aku takut sekali akan kehilanganmu."

Kyungsoo tersenyum di sela – sela tangisannya. Dia tau seberapa mengesalkan Chanyeol, seberapa menyebalkan dirinya tapi dia tau sang kakak menyayanginya dengan tulus.

"Aku tau." Jawab Kyungsoo memberikan senyumannya. Chanyeol menghela nafas pajang dan kembali memeluknya dengan erat.

"Aku mencintaimu."

.

.

.

.

To be continued

Hy guys. Seperti apa yang author bilang sebelumnya, author ga bisa update cepet soalnya lagi sibuk ngurus ini itu. Apalagi kemarin baru ombus, jadi mahasiswa baru ((": diteriak - teriakin sama kedisiplinan jadi mohon dimengerti (:

Author ga akan bacot banyak kali ini karena emang lupa apa yang mau dibacotin cuman mau bilang terima kasih untuk semua yang baca-walaupun silent readers, dan Terima Kasih Banyak bagi semua review yang masuk. apalah aku tanpa kalian semua. Sekali lagi terima kasih ((:

See ya,

Love ya.