BGM (DNA-BTS, Confession-Yesung SJ ft Chanyeol EXO, Growing Pains-Cold Cherry, Star and Sun-Kei & Tree-Yang Yooseob)
Sepuluh tahun lalu…
Pria paruh baya dengan kepala nyaris botak itu tersenyum mengerikan ke arah seorang gadis SMA yang nampak ketakutan melihatnya. Pikiran kotor langsung menyerang otaknya, ditambah pengaruh alkohol membuat isi kepalanya hanya berisi tentang bagaimana nikmatnya tubuh anak SMA itu. tanpa pikir panjang pria itu menerjang si gadis yang berteriak meminta tolong, tapi itu percuma karena pria paruh baya itu menyeretnya masuk ke dalam gang sempit dan gelap.
"Tolong! Tolong selamatkan aku!"
"Tidak ada yang mendengarmu, anak manis"
Pria paruh baya itu hampir saja bisa menyentuh seragam anak SMA itu jika saja sebuah bayangan hitam tidak muncul di hadapannya dengan tiba-tiba. Mereka berdua terperenjat kaget, si anak SMA segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
"Dasar! YAK! KAU KENAPA TIBA-TIBA MUNCUL DI HADAPANKU?!"
Bayangan hitam itu memunculkan sosoknya yang asli. Seorang pria dengan pakaian serba hitam, memiliki bahu lebar dan tinggi yang lumayan. Pria itu mengeluarkan selembar kertas dan menunjukannya pada pria paruh baya setengah sadar dan emosi itu.
"Jung InJoo, seorang buronan puluhan kasus pemerkosaan. Aku tidak mau meminum darah seorang pemerkosa tapi aku benar-benar lapar" ucap pria itu yang kita ketahui bernama SeokJin dengan santai menarik leher pria paruh baya itu dan menancapkan kedua taringnya sedalam-dalamnya. Teriakan pria paruh baya itu benar-benar melengking hebat karena kesakitan, tangannya berusaha menjauhkan SeokJin tapi tenaganya terkuras habis bersamaan dengan darah segera mengalir keluar dari luka di lehernya.
BRUK
"Ahjussi nuguseyo? Apa yang ahjussi lakukan?"
SeokJin terkejut setengah mati melihat seorang anak kecil berdiri mematung dengan mata membulat, tubuh bergetar ketakutan melihat dirinya masih asik menghisap darah mangsanya. Mata SeokJin berkilat tajam dan bingung dengan anak kecil yang ia yakini manusia bukan vampire seperti dirinya.
Ia tidak akan pernah terlihat oleh manusia lain jika sedang berburu seperti ini kecuali pada korbannya, yang bisa melihatnya berburu hanya kaum vampire, makhluk-makhluk lain. Tapi baru pertama kali ini ia tahu bahwa manusia yang bukan mangsanya bisa melihat dirinya sedang berburu.
"Kenapa kau bisa melihatku?" tanya SeokJin dengan mulut masih penuh darah, dengan santai ia menjatuhkan mayat pria paruh baya itu ke tanah. Menghampiri si anak kecil yang benar-benar ketakutan luar biasa. SeokJin sepenuhnya sadar bahwa ia sedang berada dalam bentuk vampire, tidak ada yang bisa melihatnya karena sekarang ia sedang dalam bentuk bayangan hitam bukan manusia normal.
Anak kecil itu aneh.
"Seharusnya itu pertanyaanku. Kau siapa? Kenapa kau bisa melihatku? Kau ini apa?"
"Plastiknya jatuh ak-"
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kau siapa?"
Anak kecil itu beringsut mundur dan mulai berlari namun dia kalah cepat dari SeokJin. Pria berkebangsaan vampire itu menatap anak kecil itu curiga, menjulurkan tangannya berniat menyentuh si anak kecil namun harus tertahan oleh seorang tangan wanita.
"Dia bukan mangsamu"
SeokJin berdecak sebal melihat tangan putih milik si wanita itu begitu kaut mencengkramnya hingga terasa panas. ia segera menjauhkan tubuhnya, menatap tajam pada sosok wanita itu yang sudah berani-beraninya mengganggu acara makan malamnya.
"Dia memang bukan mangsaku, tapi dia sudah melihatku berburu. Peraturan pertama bangsa vampire adalah jangan sampai kau terlihat manusia yang bukan buruanmu, jika dia melihatku dia buruanku" ucap SeokJin membela diri, menatap anak kecil itu yang bersembunyi dibalik punggung wanita bergaun merah dan memiliki bibir semerah darah.
"Dia bukan mangsa, dia seorang manusia biasa tapi dia memiliki takdir langit yang bisa melihat makhluk-makhluk mitologi dan dongeng, salah satunya kau"
SeokJin berdecak sebal melihat wanita itu membela anak kecil itu. Wanita itu menatap SeokJin tajam lalu beralih menatap anak kecil yang bersembunyi di punggungnya, mengelus dengan sayang pipi bulat itu lalu menepuk punggungnya guna menenangkannya.
"Pergilah, ahjumma yang akan mengurus ahjussi hitam itu" ucap wanita itu memberi perintah yang langsung ditururi oleh anak kecil tadi. setelah pergi, wanita itu menghampiri SeokJin dan memberikannya sebuah surat dengan stempel warna merah di depan amplopnya.
"Kau mendapat surat peringatan"
"Wae? Aku tidak melakukan kesalahan!" ucap SeokJin membela diri. Wanita itu berdecak, menggeplak kepala vampire itu dengan sadis dan begitu kuat sampai-sampai SeokJin meringis kesakitan.
"Kau itu sudah salah karena memberi tanda sebuah gigitan tanpa sadar di leher anak keci tidak bersalah. Kau juga sudah terlihat oleh manusia selain buruanmu, jika hal ini terjadi lagi aku pastikan hukumanmu bertambah" ancam wanita itu lalu melangkah pergi begitu saja. Meninggalkan SeokJin yang benar-benar meringis kesakitan karena geplakan si wanita begitu menyakitkan, sangat malahan.
"Dasar, nenek!"
… … …
… … …
SeokJin terkesip dengan nada suara Taehyung yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Pemuda berwajah manis itu bahkan mengeluarkan sebuah alat recorder untuk merekam suara, seperti seorang jurnalis yang melakukan aksi wawancara.
"Jelaskan, dari A-B"
"Aku tidak tahu secara rinci karena aku dipaksa ikut menemani si penolong sesungguhnya. Saat kami datang Jimin ada di dalam mobil bersama dua siswa SMA lain dan sedang berusaha menelanjangi Jimin. Kami menolongnya dan sedikit melukai mereka" ucap SeokJin seadanya. Taehyung mengkerut heran, sepertinya ada kejadian yang terlompati. Mungkin karena SeokJin tidak sepenuhnya terlibat, ia harus bertemu dengan penolong muridnya yang sesungguhnya.
"Biarkan aku bertemu dengan penolong muridku itu" ucap Taehyung meminta dan hampir saja nyelonong masuk jika saja SeokJin tidak merentangkan tangannya menahan langkah Taehyung. Yang di tahan mengernyit bingung, menatap kesal ke arah SeokJin karena menghambat pekerjaannya. Tangannya terlipat di dada, matanya menelusuri dan menelisik SeokJin lebih jauh.
"Waeyo?"
"Kau tidak boleh masuk! Andwae!"
…
Jimin menatap bingung ke arah Yoongi yang juga terlihat bingung karena ucapan yang keluar dari mulut siswa SMA itu begitu lancar dan terlebih dia memiliki ciri-ciri yang sama seperti di ramalan nenek tua itu.
Calon istrinya akan datang dengan cara tidak terduga, kau akan menjadi penolong abadinya di saat dia sedang kesusahan dan saat itu lah kau bertemu dengan calon istrimu. Tapi dia juga akan datang padamu saat kau kesusahan lebih tepatnya mengarah ke panah yang menancap di dadamu.
Calon istri yang juga ikut merasakan kutukan abadimu dengan menyimpan begitu banyak duka. Duka segala malam yang menyerap di dalam tubuh layaknya sebuah spons. Menyerap duka gelap seperti tinta dengan ganas, menyerap seluruhnya. Dia menyimpan tiga duka paling hitam yang bahkan manusia tidak akan sanggup memanggulnya.
Tapi dia bisa karena dia calon istri Gumiho. Calon istri yang membawa kebahagian tapi juga kedukaan yang jauh lebih gelap. Saat itu terjadi malam akan semakin gelap layaknya bumi tersiram tinta cumi-cumi. Dia manusia yang hanya akan tercipta satu kali, manusia itu akan memiliki status istri seorang Gumiho sejak lahir.
Dan sekarang calon istrinya ada di hadapan dirinya.
"Ahjussi…"
"Eoh?"
"Ahjussi belum menjawab pertanyaanku"
"Kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu. Jika kau memang calon istri Gumiho seharusnya kau sudah menyadari bahwa aku adalah calon suamimu"
"Berarti ahjussi adalah Gumiho itu"
"Anniya!"
Jimin mengernyit bingung dan tidak suka dengan nada bicara Yoongi yang seolah-olah membentak dirinya. Ia tidak suka dan takut mendengar suara dengan nada bentakan setiap hati, kepalanya tertunduk. Ia salah menduga jika pria aneh dan tua di hadapannya adalah Gumiho itu. calon suami yang ingin sekali ia maki karena calon suaminya itu ia mendapat tiga penyakit kutukan aneh yang sungguh membuatnya hampir gila.
Tapi anehnya ia tidak sampai gila. Mungkin karena ia sudah disiapkan menjadi calon istri Gumiho itu. Suka tidak suka ia adalah dan akan menjadi istri Gumiho suatu saat nanti.
"Kalau ahjussi bukan Gumiho itu kenapa ahjussi bertingkah sok tahu tentang Gumiho itu bagaimana. Kenapa ahjussi bertingkah seperti itu? kenapa ahjussi membuatku berharap lebih tapi ternyata membuatku terpuruk lagi? Kenapa orang-orang di sekitarku selalu begitu? Apa karena aku calon istri Gumiho itu?" tanya Jimin dengan nada memilukan bahkan bagi orang-orang yang mendengar suaranya Jimin benar-benar terlihat kasihan.
Dia seperti seorang depresi dan bingung ingin berbuat sesuatu tapi pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menangis dan menunggu.
"Apa ahjussi tahu apa yang ada di dalam bayanganku tadi? aku membayangkan bahwa hidupku yang kelam ini akan segera sirna setelah aku bertemu ahjussi karena aku mengira kau itu calon suamiku, si Gumiho itu. tapi nyatanya tidak, kau bukan Gumiho bahkan aku tidak yakin kau itu manusia. aku sudah membayangkan hidup bahagiaku tapi nyatanya aku di bohongi lagi… hiks!"
Jimin sebenarnya tidak mau menangis tapi jika ia menahan tangis ini maka ia akan terus-terusan cegukan. Ia tidak mau terlihat bodoh di hadapan makhluk jenis apa di hadapannya. Yoongi menghela nafas, mengambil tempat di samping Jimin. Mengelus kepala yang tertunduk ke bawah itu lalu perlahan mengarahkannya ke pundaknya.
"Uljimara"
Jimin semakin menangis. Menangisi dirinya sendiri karena ia menyukai pelukan orang asing ini. bahkan ia tidak yakin kalau Yoongi adalah orang. Ia tidak yakin dan takut, tapi ia merasa nyaman dan aman dalam pelukan ini. pria berusia ratusan tahun itu menepuk-nepuk punggung Jimin, memeluknya semakin erat, tanpa menyadari bahwa sang keponakan melihat semua itu.
"Wae? Kenapa aku selalu diberikan beban seberat ini? Apa Tuhan membenciku? Apa Tuhan itu ada? Jika ada aku ingin bertemu dengannya kenapa aku diberikan hidup dengan beban seperti ini? Aku tidak kuat lagi, aku benar-benar tidak mau hidup lagi… hikss"
Tangisan Jimin semakin menjadi-jadi dan Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya memeluk, menepuk-nepuk dan entahlah. Ia hanya bergerak sesuai instingnya saja, ia juga tidak tahu siapa yang menggerakan tubuhnya melakukan semua ini padahal ia tidak pernah bahkan membayangkannya saja.
"Samchon?" panggil NamJoon dari arah ambang pintu. Merasa jengah sendiri melihat pamannya yang sudah tua masih bisa melakukan hal seromantis itu pada anak SMA. Ia berdecak sebal lalu masuk ke kamar tamu dengan sangat sopan sekali bahkan Yoongi atau Jimin yang sudah menjauh dari Yoongi mempersilahkan masuk.
"Apa kau tidak punya sopan santun?" tanya Yoongi memulai aksi marahnya. NamJoon nyengir lebar tanpa dosa mendengar sindiran Yoongi soal tata kramanya.
"Aku sudah menjualnya untuk membayar minumanku semalam karena Samchon mengadu pada Harabeojie soal aku menjual mansion ini dan berakibat kartu kreditku diblokir" ucap NamJoon dengan sekali tarikan nafas. Matanya melotot tajam menatap Yoongi menyalahkan. Semalam itu benar-benar memalukan karena ia harus menyerahkan kartu tanda pengenalnya sebagai jaminan bahwa ia akan membayar minuman itu besok. Yang lebih memalukanya lagi, wanita yang ia ajak minum melihat itu.
"Wajah tampanku ini mau aku taru dimana? Apa di dompet Samchon yang tebal itu tapi pemiliknya sangat pelit itu?" ucap NamJoon penuh sarkasme. Yoongi menghela nafas, menahan tubuhnya sendiri agar tidak bergerak otomatis mengeluarkan api biru yang bisa membakar NamJoon.
"Eoh, aku baru melihatnya. Apa dia pacar Samchon? Dia sangat manis, siapa namamu?" tanya NamJoon tanpa permisi mengajak Jimin bersalaman bahkan mencium telapak tangan pemuda mungil yang tadi menangis tersedu-sedu di hadapan Yoongi. Mengingat itu air muka NamJoon berubah menjadi sebal ke arah paman Gumihonya itu.
"Apa Samchon melakukan sesuatu yang salah pada si manis ini? Dasar, Samchon itu harus belajar menjadi pria sejati" ucap NamJoon dengan wajah serius, tangannya bergerak-gerak seperti pembawa acara-acara talk show berbau motivasi di TV. "Samchon harus belajar bertanggung jawab dan berani mengakui kesalahan lalu terakhir meminta maaf pada pasangan. Samchon harus menjadi pria sejati aku saja mendapat julukan pria sejati saat SMA. Jadi, Samchon jangan kalah dariku, oke?"
Yoongi menatapnya lewat lirikan mata super tajam dan langsung membuat mulut pria bermarga Kim itu terkatup rapat. Tangannya yang masih bergerak-gerak itu langsung menjadi beku lewat lirikan mata Yoongi yang tajam.
"Kau yang seharusnya belajar bertanggung jawab atas ucapanmu. Kau mau apa ke sini?" tanya Yoongi mengalihkan topic pembicaraan ke awal. NamJoon beroh lalu menyerahkan sebuah nampan besar pada Yoongi yang langsung diterima oleh pamannya itu.
"Sarapannya mulai dingin, aku sudah makan duluan karena aku benar-benar lapar. Aku tidak mau menghangatkan makanan karena aku takut membuat dapurmu terbakar jadi aku berinisiatif membawa sarapan ke kamar tamu ini. wae? Apa aku salah"
"Te-"
"Anniyo" ucap Jimin memotong ucapan Yoongi yang terliha tingin mengomel lagi. Ia sudah lelah dengan otaknya yang berpikir keras kenapa ia tadi bisa menangis sehebat itu terutama di depan Yoongi bahkan ia meminjam pundak Yoongi. Ia beralih mengambil nampan itu lalu meletakannya di sisi tempatnya yang masih kosong lalu menatap NamJoon dengan senyum lebar.
"Ghamsahamnida, kau sudah repot-repot membawakan sarapan ke kamar tamu seperti ini"
"Itu tidak merepotkan, ngomong-ngomong siapa namamu? Aku NamJoon, Kim NamJoon ahli waris sah dari perusahaan Bangtan Hit" ucap NamJoon diakhiri dengan kerlingan mata genit. Jimin tersenyum kecil lalu sedikit membungkukan kepalanya ke bawah.
"Park Jimin imnida, aku siswa SMA tingkat akhir di SMA DooJoon"
NamJoon mengangguk mengerti tidak sengaja pandangannya bertemu dengan pandangan Yoongi yang tiba-tiba saja berubah menjadi penuh amarah berupa api memburu. Ia bisa mencium bau tidak enak jika Yoongi sudah mengeluarkan aura seperti itu. dengan cepat ia berjalan mundur dan mengambil langkah cepat keluar dari kamar yang ditempati Jimin.
Yoongi menghela nafas, ia lalu kembali menatap Jimin yang sedang termenung menatap sarapan berupa steak daging. Ia sudah lama sekali tidak makan seperti ini, ia tersenyum lalu menatap Yoongi yang sudah mengambil langkah cepat keluar dari kamar.
"Gomawo"
Yoongi mendengar itu. ia mendengar Jimin bergumam terimakasih, ia tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban sama-sama meskipun Jimin tidak tahu kalau ia mendengar bahkan membalas ucapan terimakasih Jimin.
…
SeokJin menutup pintu utama mansionnya dengan lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu, pikirannya menerawang mengingat peristiwa beberapa menit lalu saat Taehyung menyerah karena dirinya terus menghalangi langkah Taehyung untuk masuk ke dalam menemui Yoongi. Ia masih punya pikiran untuk tidak membuat gumiho itu marah, bisa-bisa ia yang terkena kibasan ekor Gumiho nya itu.
"Arraseo! Aku tidak akan memaksa lagi, tapi aku harap kau menghubungiku. Aku akan menunggunya" ucap Taehyung menghela nafas lelah, mengeluarkan secarik kertas lalu menulis deretan angka yang sudah ia hafal sejak dulu. Tersenyum lebar lalu mengecup surat itu hingga tercipta bekas liptint yang ia kenakan di kertas itu.
"Kau tidak suka disentuh jadi aku mengecup kertas ini sebagai ganti pipimu" ucap Taehyung lalu memasukan kertas itu ke saku mantel yang dikenakan SeokJin. Ia membungkuk hormat lalu memberikan playfull kiss nya sebelum melangkah pergi.
SeokJin terpaku di tempat melihat tingkah manis yang dikeluarkan Taehyung untuk dirinya. Segalanya bergerak slow motion karena Taehyung begitu manis dan ia tidak tahu lagi kata-kata apa yang bisa mendeskripsikan Taehyung tadi.
"Bye~"
SeokJin mengacak-acak kepalanya, mengadu kepalanya dengan pintu bercat putih itu lumayan kuat bahkan NamJoon yang berniat keluar meringis melihat kelakuan SeokJin yang jauh lebih aneh ketimbang Yoongi. Tapi SeokJin masih mending daripada pamannya itu yang membawa siswa SMA ke mansion mereka.
"Yak! Paman penyewa, kau sedang apa?"
"Katakan apa aku terlihat sakit?" tanya SeokJin balik seraya menunujuk wajahnya dengan tampan bego. NamJoon berdecak, ternyata SeokJin jauh lebih aneh ketimbang Yoongi. Ia merinding lalu keluar dari mansionnya terburu-buru seraya mengelus-elus lengannya.
"YAK! Kau belum menjawab pertanyaanku! YAK!"
…
…
…
Suasana kelas pagi itu begitu bising. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari gossip bahwa genk trouble maker akan bubar, hubungan Jimin, Jungkook dan Jieun, dan yang paling panas adalah gossip yang mengatakan bahwa Jimin hampir saja diperkosa semalam. Semua ocehan itu tidak jauh-jauh dari Jimin anak yang selalu dibully dan genk trouble maker. Semua ocehan itu membuat kepala sang ketua kelas pusing bukan main.
Pemuda manis dengan headphone yang menutupi telinganya mendesah kesal. Meskipun ia sudah menaikkan volume musiknya sampai ke level paling tinggi ocehan itu masih saja bisa tertangkap di telinganya.
"Kenapa mereka selalu membicarakan Jimin sejak tadi?" gumam si pemuda manis kesal. Dengan kesal ia meraih ponsel miliknya dan sebuah buku kecil mencari nomor kontak Jimin atau keluarganya dan hasilnya ia tidak menemukan apa pun, hanya sebaris kalimat tentang alamat rumah. Ia menghela nafas, batinnya mengumpat halus kenapa anak ini begitu tertutup.
"Aku harus memberikan dokumen ini" gumam si pemuda manis tersebut atau bisa dipanggil Youngjae. Ia lalu menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke salah satu teman sekelasnya yang nampak anteng menatap keluar jendela kelas tapi ia bisa membaca raut wajah lain di wajah teman kelasnya itu.
"Jeon Jungkook"
Merasa namanya di panggil oleh suara si ketua kelas membuat Jungkook-orang yang termenung menatap jendela kelas-menolehkan kepalanya sekilas lalu membuang wajahnya jengah. Youngjae menghela nafas melihat tingkah Jungkook yang setiap hari makin menyebalkan.
"Aku memanggilmu, Jeon Jungkook"
"Terus? Apa aku harus membalasmu dengan gaya seorang babu pada tuannya? Jangan mengganggu dan cepat kau mau apa dariku" balas Jungkook tidak kalah sengit. Youngjae berdecak, menghampiri Jungkook lalu menarik kursi pria bermarga Jeon menghadap dirinya.
"Aku hanya bertanya sekali dan aku membutuhkan jawaban satu saja. Kau tahu dimana rumah Jimin?" tanya Youngjae yang langsung mendapat reaksi terkejut dari Jungkook. Pemuda manis berstatus ketua kelas itu menjauhkan tangannya lalu memperlihatkan setumpuk berkas dengan nama yang tertera Park Jimin.
"Dia mendapat banyak tawaran beasiswa ke perguruan tinggi karena bakat menyanyi dan menulis cerita dongengnya. Aku harus segera memberitahu dia tentang ini"
"Aku tidak tahu, dia target bullyku bukan teman se genkku"
"Aku pikir kau menyukainya"
Pernyataan Youngjae langsung mendapat perhatian khusus dari teman-teman sekelasnya yang lain. Mereka mulai tertarik dengan hubungan misterius Jungkook dan Jimin, bahkan Youngjae sekarang ikut turut andil dalam masalah ini. Jungkook tertawa kecil, merasa lucu dengan pernyataan Youngjae.
"Jangan membuat lelucon, aku tidak suka selera humor anak peringkat satu"
"Aku juga tidak suka gaya bicara anak trouble maker. Jadi, perbaiki ucapanmu saat sedang bicara padaku" balas Youngjae tidak kalah pedas dengan diakhiri sebuah senyum tipis. Jungkook tersenyum miring, menurunkan kakinya yang semula berada di atas meja, memajukan posisi duduknya agar dekat dengan tempat berdiri Youngjae.
"Untung kau anak orang kaya, pintar dan penyumpang besar sekolah ini. jika kau tidak memiliki kekuatan itu aku pastikan kau akan bernasib sama dengan Jimin"
"Aku tidak takut, bully saja aku. Aku tidak akan mengadukannya karena orang-orang akan mengadukannya lebih dulu pada orangtua dan kepala sekolah. Hal itu juga yang membedakanku dan Jimin" ucap Youngjae yang lebih terdengar memihak Jimin, seumur hidup baru kali ini Jungkook mendengar Youngjae bersikap memihak terhadap seseorang sampai seperti itu.
"Tidak ada orang yang mengadukannya karena dia tidak memiliki teman, koneksi dan segala macam yang kita punya. tapi sekarang dia memiliki satu, yaitu aku" lanjut Youngjae penuh percaya diri seraya menunjuk dirinya sendiri. Ia mengambil nafas panjang lalu mendorong pundak Jungkook agar duduk bersandar pada kursi.
"Terimakasih atas waktumu" ucap Youngjae untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar kelas dengan tas tersampir di pundaknya.
"Kau akan menyesal karena ada di pihaknya!" teriak Jungkook memperingati. Youngjae tersenyum miris mendengar perkataan Jungkook yang masih sempat-sempatnya berdebat hanya karena adu argument tadi. Ia berbalik, menatap seluruh teman sekelasnya yang juga bingung dan takjub luar biasa melihat Youngjae berniat menjadi pelindung Jimin. Pemuda dengan headphone menggantung di lehernya itu tersenyum lebar pada Jungkook sebelum sepenuhnya keluar.
Menyisakan Jungkook yang terpaku di tempat dengan kilatan mata tajam, tangan terkepal dan emosi memuncak hingga ke ubun-ubunnya.
"Dasar jalang!"
…
…
…
"Dia itu memang benar-benar jalang!"
Umpatan kasar itu keluar begitu saja saat memandangi sebuah figura foto yang menghiasi dinding rumahnya. Foto seorang anak laki-laki dengan seragam SMP, tersenyum manis di hadapan kamera seraya mengangkat jarinya membentuk huruf V. Orang yang mengumpat tadi berdecih, kesal dan marah karena harta karunnya pergi entah kemana sampai detik ini belum kembali.
"Eomma! Mungkin saja dia kabur membawa uang asuransi kita" ucap gadis lain yang ikut-ikutkan kesal melihat orang yang dipanggilnya eomma itu terus-terusan mengumpat tanpa mau berbuat apa-apa. Gadis itu mengambil tempat di samping ibunya namun sang ibu-sekaligus bibi Jimin-menggeplak kepalanya dengan keras.
"Kau ingin memerintahkanku mencari si jalang itu tapi kau tidak mau ikut membantu? Dasar anak tidak tahu diuntung! Cepat cari sesuatu di kamarnya, siapa tahu dia menyimpan uang atau apalah" perintah sang ibu dengan nada ketus seraya menendang bokong anak perempuannya itu bergerak maju ke depan.
Si anak dengan ogah-ogahan bangkit dari posisi duduknya, masuk ke dalam kamar yang ditempati Jimin dan alangkah terkejutnya ia saat membuka kamar sepupunya itu.
"KYAA! EOMMA!"
…
Bukan karena Jimin tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Bukan juga karena kamar keponakannya itu tiba-tiba runtuh. Bukan juga karena mereka menemukan Jimin dengan laki-laki, tapi di dalam kamar sempit itu ia menemukan sebongkah berlian besar yang berkilau.
"Karena aku lebih tua jadi aku yang akan memegang ini" ucap sang ibu merebut berlian itu dari tengah-tengah meja. Namun kedua anaknya mengkerut protes.
"Eomma! Aku yang menemukan berlian itu jadi otomatis berlian itu milikku!" ucap anak gadisnya dengan nada tinggi. Anak laki-lakinya yang super mala situ juga ikut menyahut bahkan ia sudah hampir berhasil meraih berlian itu.
"Eomma di sini yang paling tua, mana mungkin eomma memberikan barang berharga ini pada kunyuk-kunyuk seperti kalian ini!" balas sang ibu tidak mau kalah. Anak gadisnya berkacak pinggang, berusaha sebisa mungkin berlian itu yang sudah pergi kabur bersama dengan sang pemegang.
"Eomma! Eomma itu milikku!"
"Bukan milik dia tapi milikku!"
Youngjae yang berniat mengetuk pintu pagar rumah bercat putih itu terperenjat kaget, matanya menatap aneh wanita tua, gadis menor dan seorang pria mengantuk. Apa mereka orang-orang yang selama ini mengasuh Jimin. Yang benar saja, pemuda manis itu benar-benar kuat bisa memikul beban seberat ini seorang diri.
Ketiga orang itu berlari tidak tentu arah, tanpa menyadari Youngjae dan dua pria dewasa di belakangnya. Youngjae menghela nafas, berbalik berniat pulang ke rumahnya namun ia kembali terperenjat kaget melihat dua pria dewasa tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Aish! Kkamjakya!"
"Kau!"
Salah satu dari pria dewasa itu menunjuk Youngjae dengan wajah terkejut dibuat-buat yang malah membuat pemuda manis itu bergidik ngeri. Pria dengan mata sipit itu-NamJoon menutup mulutnya terkejut, seolah-olah baru saja melihat hantu. Tangann kekarnya terangkat, mengibas-ibaskan tangannya di balik punggung Youngjae.
"Heol!"
"Heol?"
"Apa kau barusan jatuh?" tanya NamJoon mengambil tempat pria di sebelahnya-Yoongi sehingga sekarang ia berhadapan langsung dengan Youngjae. Yoongi sendiri memutar bola matanya malas melihat gombalan murahan dari si keponakan cap kaki lima playboy nya.
"Anni, waeyo?" jawab dan tanya sekaligus Youngjae. Wajah khawatir NamJoon langsung berubah menjadi senyum seorang player seraya menjulurkan telapak tangan yang berisi kartu namanya.
"Aku pikir kau malaikat tak bersayap yang jatuh dari langit. Aku khawatir sekaligus bahagia, aku adalah Kim NamJoon aka RapMonster kau juga bisa memanggilku hyung" gombalan khas seorang Kim NamJoon itu diakhiri dengan sebuah kerlingan genit. Yoongi yang jengah dan merasa waktunya terbuang percuma mendorong sang keponakan menjauh.
Youngjae yang merasa jengah dan risih menatap tajam dan curiga ke arah Yoongi dan NamJoon. Pandangannya terpaku cukup lama menelusuri wajah pria tua dan aneh di hadapannya, mulai dari sepatu, celana, pakaian, mantel, arloji dan warna rambut. Hampir sema warna yang melekat di tubuhnya dominan gelap.
"Aneh," gumam Youngjae dengan suara pelan, melangkah mundur menjauhi Yoongi yang terpaku di tempat saat beradu pandang dengan Youngjae. Bukan karena pemuda itu manis dan menatapnya tajam seperti Jimin, tapi masa depan pemuda manis itu.
"Orang yang sedang hamil itu tidak boleh minum" ucap seorang pemuda yang sedang duduk berdampingan dengan seorang pemuda lain. Mereka berdua minum soju bersama, wajah mereka tidak terlihat jelas tapi ada satu pria lagi yang duduk di samping mereka.
Youngjae ada di sana, dengan perut sedikit membuncit sedang berjalan ke meja yang sudah di tempat tiga orang itu. ternyata ada satu pria lagi yang menerima pemberian botol bir dari Youngjae.
"Siapa bilang aku mau minum? Aku mengambilnya untuk suamiku"
Suara tawa itu begitu bahagia. Ia tidak bisa melihat wajah-wajah di meja itu, wajah penuh kebahagian tapi ada satu orang yang memiliki kebahagian tapi juga memiliki kesedihan.
"Chogiyo!" Yoongi berteriak mencegat tapi sayangnya Youngjae melangkah pergi dengan headphone terpasang. Sebenarnya headphone itu tidak mengeluarkan suara hanya sekedar untuk menipu tapi bagi Yoongi hal itu sama sekali tidak berguna.
"Aku tahu kau ketua kelas yang ditempati murid bernama Park Jimin. Kau datang ke sini untuk menemui Jimin memberikan formulir-formulit beasiswa dari perguran tinggi di tanganmu. Kau juga bisa mendengar suaraku, aku tahu kau tidak mendengarkan musik"
Youngjae terdiam di tempat. Ia berbalik, menatap Yoongi yang masih berwajah sama benar-benar datar. Tangan mungilnya yang berbalut mantel cokelat gelap terangkat melepas headphone miliknya, berjalan menghampiri Yoongi dengan pandangan bingung.
"Ahjussi, eottkhae arraseo?"
"Anggap saja sebuah kebetulan, kau mau menemuinya? Apa kau temannya?"
"Anni, aku hanya ketua kelas yang harus menyelesaikan tugasnya. Apa dia tinggal bersamamu sekarang?" tanya Youngjae balik. Entah dalam seminggu ini berapa kali ia menghela nafas, meskipun suka dianggap membuang keberuntungan dan hidup tapi ia tetap melakukannya. Ia kesal sekaligus lelah dengan tingkah remaja labil jaman sekarang.
"Eoh, aku akan mengantarkanmu"
…
…
…
Jimin masih berdiam diri di dalam kamar. Tidur dalam posisi menyamping menghadap jendela kamarnya yang terbuka sehingga angin dengan nakalnya menerbangkan gorden putih itu. melihat gorden itu mengingatkan Jimin pada sosok pria tua bernama Yoongi itu. pria yang pertama kali menemuinya saat sadar, pria aneh yang keluar dari gorden putih, wajah pria itu juga datar seperti tidak mau peduli. Tapi ia tahu betul bahwa jauh di dalam hatinya Yoongi khawatir. Entahlah kenapa ia begitu percaya diri soal itu, ia sendiri bingung.
"Park Jimin?"
Jimin mengernyit heran karena mendengar sebuah suara muncul dari arah pintu kamarnya. Ia menoleh ke pintunya, matanya membulat melihat Youngjae berdiri di ambang pintu. Membawa setumpuk map di tangan kananya dan tangan kirinya masih setia bertengger di knop pintu kamar.
"Darimana kau tahu aku di sini?" tanya Jimin heran seraya bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Youngjae tersenyum, menutup pintu kamar itu lalu menghampiri Jimin dan duduk di pinggir ranjang tepat di samping Jimin.
"Kenalanmu yang memberitahuku, aku bertemu dia saat aku datang ke rumah bibimu. Sepertinya kau akan tinggal permanen di mansion ini, bibimu dan kedua sepupumu itu sibuk mengerjar berlian" ucap Youngjae mulai mengoceh tentang kejadian aneh tadi. Jimin yang tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan saja.
HIK!
Youngjae menghentikan tangannya yang sedang sibuk mencari pulpen, matanya menatap Jimin yang nampak terkejut juga. Pemuda manis pecinta musik itu tersenyum kecil lalu menyerahkan map-map itu pada Jimin.
"Kau tidak percaya padaku atau pura-pura kau tahu?"
"Mianhae, aku tidak tahu apa-apa. Jadi, aku berbohong seolah-olah aku tahu" ucap Jimin dengan kepala tertunduk, menatap ke arah lain asalkan jangan Youngjae.
"Seharusnya kau bicara jujur saja" ucap Youngjae dengan suara lembut, menepuk sekilas pundak Jimin, "Meskipun begitu aku hargai kejujuranmu barusan. Aku jarang bertemu orang sepertimu, meskipun aneh dan sulit dipercaya tapi aku harus mempercayainya karena bukti nyatanya ada di hadapanku" lanjut Youngjae seraya bangun dan tersenyum lebar sepertinya.
"Jangan khawatirkan apa pun aku tidak akan memberitahu hal ini pada orang lain, kau bisa mempercayaiku. Cepat sembuh dan kembali ke sekolah, aku akan meminjamkan catatanku padamu"
"Youngjae-ah" panggil Jimin dengan nada suara pelan, yang dipanggil mendongak disela-sela acaranya memasukan barang-barangnya yang tadi sempat tercecer keluar karena mencari pulpen. "Gomawo, kau orang pertama yang memperlakukanku sebagai seorang teman. Jeongmal gomawo" ucap Jimin dengan bibir terangkat membentuk sebuah senyuman yang manis.
"Sama-sama, kau pilih saja salah satu universitas di situ. Lalu saat kau masuk berikan saja pada V sonsaengnim"
"V sonsaengnim, nuguya?" tanya Jimin merasa heran dengan nama guru yang disebutkan Youngjae. Pemuda penyuka musik itu menepuk jidatnya mendengar pertanyaan polos Jimin mengenai guru baru nyentrik mereka.
"Dia guru BK sekaligus guru yang mengawasi bidang kurikulum. Dia guru yang manis dan imut, kau harus melihatnya karena jika kau melihatnya aku pastikan kau menyukainya" ucap Youngjae mengingat kelakuan V sonsaengnim mereka yang sungguh manis dan menggemaskan.
"Aku pergi dulu, cepat sembuh dan kembali ke sekolah. Aku menunggumu" ucap Youngjae dengan senyuman lebar sebelum sepenuhnya keluar dari kamar yang akan ia tempati beberapa hari-mungkin beberapa minggu sampai ia menemukan sang bibi dan buku tabungan ibunya-.
Jimin menghela nafas, membuka map-map itu lalu tersenyum kecil membaca setiap deret kalimat yang tercetak jelas di kertas putih itu. ia senang karena buku dongeng karangannya sangat disukai beberapa penerbit, mereka melihat bakat Jimin dan menawarkan beasiswa ke universitas yang memiliki fakultas Sastra Korea terbaik.
"Eomma pasti senang karena aku meneruskan cita-cita eomma" gumam Jimin pelan, mengelus setiap deret kalimat di kertas tersebut. Bibirnya yang semula membentuk senyuman perlahan memudar, digantikan oleh bibir tipisnya yang bergetar menahan tangis. Matanya sudah berkaca-kaca mengingat ibunya yang mati karena dirinya. Ibunya mati karena menyelamatkan dirinya, ibunya pergi karena dirinya.
"Bagaimana keadaan eomma? Aku sudah bisa menulis buku dongeng yang banyak disukai anak-anak. Seperti eomma dulu" ucap Jimin memeluk map-map itu, ia tidak mau mengenang kenangan menyedihkan itu tapi ia selalu teringat, terniang. Ia menangis, meraung-raung hingga tubuhnya meringkuk ke bawah mengingat senyum terakhir ibunya untuk dirinya.
Ia sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Ia selalu seperti ini, menangis tanpa bisa dihentikan saat menulis buku dongeng. Ibunya adalah seorang penulis dan bakat itu mengalir di dirinya, ia selalu menangis setiap kali membaca, menulis atau bahkan melihat sampul depan buku dongeng anak-anak. Tangisnya semakin keras, kepalanya sudah tersembunyi dibalik lututnya, menyembunyikan air matanya yang mengalir deras.
Tanpa disadari Jimin, Yoongi melihat semua itu dengan pandangan datar dan mengasihani. Ia mengasihani bocah yang diduga calon istrinya itu, masih berupa dugaan karena ia masih tidak yakin kalau bocah bernama Park Jimin itu calon istrinya. Kenapa calon istrinya harus lahir dengan duka bertubi-tubi? Apa ini yang dimaksud hukuman turun temurun yang masuk dalam kutukan?
"Kenapa kau kejam sekali padaku?"
…
…
…
…
…
Youngjae baru saja hendak melewati ruang BK yang bersebelahan dengan ruang bidang kurikulum. Langkah pelannya harus terhenti karena guru nyentrik yang ia ceritakan pada Jimin tiba-tiba saja menariknya masuk ke dalam ruang BK tanpa aba-aba. Ia terperenjat, reflek menyentak tangan Taehyung atau V sonsaengnim dari lengannya.
"Aish, waeyo sonsaengnim? Kau membuatku jantungan" keluh Youngjae kesal. Taehyung memutar bola matanya malas, menarik kedua lengan Youngjae hingga mereka berhadapan. Menatap muridnya itu dengan pandangan serius.
"Apa kau bertemu dengan murid Park Jimin itu? apa kau sudah menyerahkan berkas-berkas itu?" tanya Taehyung dengan wajah menyelidik dan sedikit mengorek informasi mengenai Jimin-Youngjae bisa mengendus bau itu.
"Waeyo? Aku bertemu dengan Jimin, bahkan aku sempat mengobrol dengan satu ahjussi dan seorang pria dewasa sekitar umur tiga puluh tahun. Satunya bernama Yoongi, satunya bernama NamJoon. Hanya itu"
Taehyung berdecak kecewa mendengar jawaban Youngjae. Ternyata pria denga kulit putih pucat itu tidak terlalu dekat dengan Jimin atau room mate nya itu. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, membuat pose berpikir yang terlihat begitu imut dan mempesona. Bahkan Youngjae terpaku beberapa detik untuk memperhatikan bagaimana bibir itu digigit lalu beralih menggigit jari telunjuknya. Dia benar-benar cantik dan sekarang menjadi guru idola seantero sekolah.
"Kau harus ke sana lagi"
"Nde?"
"Di sana ada tiga pria yang menemani Jimin. Dua sudah kau sebutkan tinggal satu pria lagi, dapatkan nomor ponsel atau apa pun. Jangan sampai gagal" perintah Taehyung mutlak tanpa bisa dibantah karena ia keburu menyeret Youngjae keluar untuk segera melaksanakan perintahnya.
Youngjae berdecak sebal, mengeluarkan ponselnya guna melihat jadwalnya hari ini apa ada bimbingan belajar atau tidak. Namun, alangkah terkejutnya ia melihat seseorang berdiri di samping kirinya menatap dirinya begitu intens.
"Wae? Apa ada yang salah denganku, Jeon Jungkook?"
Orang yang ditanya-Jungkook tersenyum sinis lalu maju selangkah mendekati Youngjae yang masih memasang wajah biasa-biasa saja.
"Kau mau ke tempat korban trouble maker itu tinggal?"
"Itu bukan urusanmu" balas Youngjae sarkasme, berbalik pergi melaksanakan tugas gurunya itu. namun, lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena seseorang tiba-tiba saja datang dari kejauhan. Orang itu memiliki rambut hitam, mata sipit, beberapa anting menghiasi telinganya dan memakai pakaian casual yang cocok dengan tubuhnya.
Itu seniornya dulu, senior pemimpin genk trouble maker terdahulu sebelum Jungkook. Seniornya di atas satu tahun. Senior yang sudah mengalihkan dunianya. Senior sekaligus cinta pertamanya.
"Jaebum hyung!"
Dia Jaebum. Im Jaebum lebih tepatnya.
"Jungkook-ah!"
Buru-buru Youngjae berbalik melewati koridor lain, Jungkook yang melihat kesempatan emas mengerjai Youngjae dengan sengaja menjulurkan kakinya guna menjegal Youngjae hingga pemuda itu terjatuh dengan posisi memalukan. Beberapa orang yang melihat Youngjae terjatuh tertawa keras lalu meredam suara tawanya melihat Jaebum.
"Targetmu sudah berubah" ucap Jaebum seraya adu jotos dengan Jungkook. Melirik sebentar ke arah Youngjae lalu bergegas pergi bersama Jungkook tanpa menghiraukan Youngjae. Pemuda manis itu meringis saat berusaha bangun dari posisi jatuhnya yang benar-benar menyakiti lututnya. Menatap sekali lagi ke arah Jaebum yang menghilang di balik tikungan bersama Jungkook, bersama penerus genk trouble maker.
Ia menghela nafas, "Kau tidak akan berubah" gumam Youngjae pelan.
To Be Continune
Gimana? Nggak seberapa mirip sama Goblin, kan? Aku harap begitu. Jadi, aku double update kali ini sebagai ucapan terimakasihku sama kalian semua para reader, reviewer, follow, fav, semuanya AKU UCAPIN TERIMAKASIH!
Aku mau nanya boleh nggak? *nggakboleh* #pundungdipojokan# boleh lah, ya. Ini soal balesan review, aku soalnya nggak seberapa yakin pas waktu aku bales itu nyampe ke kalian nggak? Soalnya kalau nggak, kalian setuju nggak kalo bales reviewnya itu pas update chapter?
Soalnya kalo nggak nyampe, aku nggak enak aja, kepikiran gitu. Terus, ada yang mau id LINE aku? Aku baru beli HP *sombong* jadi kalo ada yang mau *nggakadayangmau* #pundungdipojokan# PM aku aja dulu, ya. Nanti aku kasih tahu, terus kita bisa curcol habis-habisan atau sekedar kenalan.
Aku juga mau bawa kabar bahagia, aku, kan kelas tiga SMA mau daftar kuliah rencana awal pengen di sini aja tapi aku dibolehin keluar kota! *ketawabahagia* bagi reviewer yang tinggal di kota Yogyakarta. Siap-siap ketemu aku ya, *pedebanget* *digaplokreader*. Pokoknya aku akan belajar rajin biar aku bisa ke Yogyakarta, kuliah di sana dan jadi penulis hebat karena aku rencana, bukan rencana lagi tapi udah fix ambil Sastra Indonesia.
Untuk sementara ini aku udah daftar di Univ PTS di Yogya, hayo tebak nanti yang berhasil dapet piring cantik #bohongdeng#. Aku daftar di Sanatha Dharma, fakultas Sastra Indonesia, tinggal nunggu pengumuman. Tapi fokusku tetep pengen PTN ngikutin kemauan orangtuaku di UGM ambil Ilmu Budaya, doain ya semoga aku bisa masuk jalur SNMPTN atau SBMPTN nantinya, soalnya jujur aku takut ngerjain soal SBMPTN yang katanya susah itu. Jadi aku mohon doa dan semangatnya untuk aku belajar tapi tetep bisa ngelanjut ffku yang masih banyak belum selesai itu.
Kok jadi curhat, ya? Pokoknya, aku ucapin terimakasih karena udah mau baca ff ini dan denger cuap-cuap tidak bergunaku. Tunggu chapter selanjutnya, oke? BYE~~~~~~
