After You

Ooc, Genderswitch, Typo (s)

Ranted : T

Chapter : 3

Main Cast : Kyungsoo and Jongin

Another cast :, Luhan, Yixing, Minseok, and

Chanyeol. (other cast will appear on next

chapter)

.

A little note from me : Cerita ini memiliki alur

maju mundur dengan beberapa sudut pandang.

Seperti cerita yang pernah saya buat sebelumnya.

Setiap paragraf yang di cetak miring

menandakan alur mundur atau flasback.

.

Kyungsoo menghabiskan seminggu berdiam diri di rumah. Chanyeol menyuruh dia untuk berdiam diri dan berhenti membantu di kantor. Kakaknya memaksa untuk memikirkan kembali keputusannya menikahi pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.

Sesungguhnya Kyungsoo tak mempunyai pilihan lain, tentu saja membiarkan perusahaan ayahnya jatuh bukanlah sebuah pilihan dan menikahi pria yang tak dikenalnya sama saja. Masalahnya di sini adalah relakah dia berkorban untuk keluarganya atau memilih untuk bersikap egois dan melarikan diri ke Beijing, toh Chanyeol juga tidak mengijinkan dia untuk menikahi pria itu.

Suara dering telphone membangunkannya dari lamunan panjang. Dia mendesah dan berdiri dari kasur empuknya untuk meraih ponsel yang ditinggalkannya di meja rias. Dia menghela nafas panjang saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

Dia berjalan menuju teras sebelum menerima telphone, bersandar pada tiang pembatas dan membiaran angin menerpa wajahnya yang lengket.

"Hallo"

"Hi Lu." Jawabnya saat suara familar itu terdengar.

"Bagaimana kabarmu di New York sana?"

"Di sini panas. Aku bahkan bisa merasakan matahari membakarku hidup-hidup." Ada jeda sesaat saat dia mengucapkannya.

"Sesuatu terjadi padamu?"

Lihatlah betapa mudahnya Luhan menebak dirinya. Dia tidak tau bagaimana anak ini bisa membacanya secapat itu, dulu dia berpikir mereka memang kembaran.

"Menurutmu begitu?" dia menghela nafas panjang bersamaan dengan Luhan diseberang sana.

"Suaramu tak pernah terdengar seperti itu Soo, hanya saat kau berada dalam masalah. Sesuatu yang tidak beres terjadi di sana?"

Kyungsoo mengangguk dan menutup mata, tak begitu memperdulikan bagaimana sinar matahari membakar kulit putihnya. Kepalanya berdenyut pelan saat ucapan ayahnya dan Chanyeol terlintas.

"Ya. Tapi aku tidak bisa hanya menceritakannya lewat ponsel Lu, mungkin aku akan pergi ke Beijing untuk beberapa waktu dan..."

"Tidak," sela Luhan sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya. "Aku yang akan terbang ke New York besok. Jemput aku di bandara okay?"

Dia tersenyum dan kembali mengangguk. Betapa bersyukurnya dia memiliki sahabat seperti Luhan yang selalu ada untuknya. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia selalu ada untuk Luhan jika wanita itu berada dalam masalah?

"Kau yakin? Kau tidak sedang sibuk disana?" dia mendengar Luhan tertawa di ujung telphone.

"Ini musim panas Kyungsoo, kau tau persis apa yang selalu aku lakukan saat musim panas."

"Berendam di bak mandi dingin sambil menonton film romantis berualng – ulang." Ujar mereka berdua bersamaan sambil tertawa. Tentu saja apa lagi yang bisa dilakukan sahabatnya itu saat musim panas selain bermalas-malasan. Dia terlalu perduli akan kulit putih dan mulusnya itu.

"Terima kasih Lu, aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan untuk membalasnnya."

"Hey, itu yang dilakukan sahabat Soo, mereka ada untuk satu sama lain."

Kyungsoo tersenyum menendengarnya, setidaknya dia mempunyai satu orang selain Chanyeol untuk membagi kisah hidupnya.

"Aku akan mengambil penerbangan malam ini jadi kau jangan lupa menjemputku di bandara. Lihat saja jika aku tidak menemukanmu di sana, aku pastikan akan kembali ke Beijing." Acaramnya.

"Tenang saja, kau pasti akan menemukanku besok."

.

Luhan mencoba untuk kembali menelphone sahabatnya setelah berminggu-minggu dia kembali ke Beijing. Belakangan ini Kyungsoo sulit sekali untuk dihubungi, dia juga hanya membalas pesannya singkat bahkan terlalu singkat. Luhan penasaran apa yang sebenarnya terjadi di New York sana.

"Hallo." Ucapnya langsung saat nada sambung itu berhenti terdengar

"Hi Lu." Jawab Kyungsoo di ujung telphone sana.

"Bagaimana kabarmu di New York sana?" tanyanya semangat.

"Di sini panas. Aku bahkan bisa merasakan matahari membakarku hidup-hidup." Jawab sahabatnya itu tanpa semangat. Kyungsoo tidak pernah terdengar selelah ini setiap kali mereka berbicara melalui telpohone bahkan saat dia memiliki setumpuk tugas di kampusnya. Dia terdengar begitu kacau.

"Sesuatu terjadi padamu?"

Dia bisa mendengar bagaimana Kyungsoo yang tertawa ringan, seakan menertawakan dirinya sendiri "Menurutmu begitu?"

"Suaramu tak pernah terdengar seperti itu Soo, hanya saat kau berada dalam masalah. Sesuatu yang tidak beres terjadi di sana?"

Dia mulai khawatir dengan keadaan sahabatnya yang satu ini karena dia mengenal Kyungsoo seperti mengenal dirinya sendiri, dia sudah mengetahui segala sisi dari hidup wanita itu.

"Ya. Tapi aku tidak bisa hanya menceritakannya lewat ponsel Lu, mungkin aku akan pergi ke Beijing untuk beberapa waktu dan..."

"Tidak," selanya cepat. Dia tau Kyungsoo mencoba untuk melarikan diri. Lebih baik dia yang mengunjunginya di New York, toh sedang musim panas. "Aku yang akan terbang ke New York besok. Jemput aku di bandara okay?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab "Kau yakin? Kau tidak sedang sibuk disana?" dia mendengar Luhan tertawa di ujung telphone.

"Ini musim panas Kyungsoo, kau tau persis apa yang selalu aku lakukan saat musim panas." Helanya sambil menjatuhkan diri di sofa yang menghadap jendela raksasa apartemennya yang memperlihatkan kesibukan pusat kota Beijing di awal musim panas ini.

"Berendam di bak mandi dingin sambil menonton film romantis berualng – ulang." Ujarnya bersamaan dengan Kyungsoo di sana membuat keduanya tertawa.

"Terima kasih Lu, aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan untuk membalasnnya."

Luhan tersenyum mendengar hal itu. "Hey, itu yang dilakukan sahabat Soo, mereka ada untuk satu sama lain."

"Aku akan mengambil penerbangan malam ini jadi kau jangan lupa menjemputku di bandara. Lihat saja jika aku tidak menemukanmu di sana, aku pastikan akan kembali ke Beijing." Acaramnya.

"Tenang saja, kau pasti akan menemukanku besok." Suara Kyungsoo sudah terdengar lebih baik membuatnya sedikit lega. Sekarang yang harus dia lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk pergi ke New York.

Luhan berjalan menuju ruang gantinya dan menghela nafas panjang saat dia menemukan lemarinya yang sedikit-well ya sedikit berantakan.

Oh dear.

.

Kyungsoo bangun pagi hari ini. Menarik segulung karton dari atas lemarinya dan mulai menggambar. Beberapa kali dia tertawa menatap apa digambarnya. Dia bangkit dan menarik sebuah box besar berisi segala macam benda untuk membuat kerajinan dan kembali sibuk dengan kegiatannya.

"Oh shit!" makinya saat menatap jam dan baru saja sadar kalau dia masih memakai piama. Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi dan segera membereskan diri.

Dia memutuskan untuk mengenakan sebuah crop top bermotif flower print dengan sebuah kemeja putih yang ujungnya sengaja diikat di pinggangnya dan dipadukan dengan sebuah jenas dan wadges yang cocok sekali dengan musim panas. Rambutnya hitam bergelombangnya dibiarkan tergerai menutupi bahunya yang sempit.

"Aku akan pergi menjemput Luhan, mom." Ujarnya sambil menaruh segulung karto di meja makan sementara dia menghabiskan satu tumpuk sandwich buatan ibunya.

"Luhan di New York?" tanya sang ibu terkejut. Kyungsoo mengangguk dan tak berniat menjelaskan mengapa sabahatnya itu datang ke sini.

"Aku pergi mom." Ujarnya dengan mulut penuh sambil membawa semua barang bawaannya.

.

Kyungsoo menggendarai mobilnya sedikit tergesa-gesa, menyelipkan mobilnya setiap kali memiliki kesempatan. Sebenarnya masih ada setidanya satu jam lagi sebelum pesawat landing tapi sepertinya waktu satu jam tidak akan cukup jika harus menembus kemacetan Seoul saat waktu kerja.

Akhirnya Kyungsoo sampai tepat waktu, dengan segera dia membawa tas dan karton yang sudah disiapkannya sedari tadi pagi. Sebelum keluar, Kyungsoo menatap pantulan dirinya dicermin dan memastikan kalau dia terlihat baik-baik saja.

Kyungsoo berjalan memasuki bandara dan berdiri bersama orang-orang lain yang sedang menunggu. Saat melihat Luhan di sudut bandara sedang sibuk dengan ponselnya dengan cepat dia membuka gulungan karton itu mengabaikan ponselnya yang berdering.

Dia bisa melihat bagaimana Luhan menggigit bibir sambil menunggu jawaban darinya. Tapi kemudian kepalanya terangkat berpapasan dengan Kyungsoo yang tersenyum lebar padanya. Dia melihat Luhan membaca apa yang ditulisnya kemudian tertawa tanpa suara dan menundukan wajahnya berpura-pura merasa malu.

'Selamat datang belahan jiwaku.'

Dengan sengaja gambar dan pita-pita yang membuat kesan norak semakin terlihat. Beberapa orang yang ikut menatapnya tersenyum tapi tentu saja Kyungsoo tidak memperdulikannya.

"Sudah aku katakan kau akan menemukanku hari ini. Selamat datang belahan jiwaku." Ujar Kyungsoo sambil memeluk sahabatnya itu.

"Aku sudah menduga kau akan melakukan sesuatu tapi aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan sesuatu yang memalukan seperti ini." Jawabnya sambil membalas pelukan Kyungsoo.

Luhan terlihat sama cantiknya dengan Kyungsoo hari ini. Dia menggunakan sebuah shirt dari Kenzo berwarna pink yang berutuliskan Pariz Kenzo yang dipadukan dengan rok berwarna putih yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambutnya di semir pirang dengan headband sebagai pemanis.

"Lihatlah rambutmu ini." Komentar Kyungsoo sambil membantu Luhan membawa satu kopernya. Luhan hanya tertawa dan memamerkan rambutnya.

"Lucu sekali bukan? Aku merasa hidup." Kyungsoo menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Kau terlihat seperti girlband Korea yang tenar belakangan ini." Kini Luhan yang tertawa.

"Haruskah aku mengikuti audisi menjadi girlband Korea?"

Kyungsoo mendengus dan merangkul temannya itu dan menggeleng pelan. Kadang dia tidak mengerti bagaimana cara Luhan berpikir.

"Kau tidak akan tahan dengan kehidupan artis di Korea." Tutur Kyungsoo.

"Menangnya aku kenapa? Kau tau betapa mandirinya aku."

Keduanya saling bertatap-tatapan. Bibir Kyungsoo berkedut menahan tawa, hal itu menular pada Luhan.

"Kita berdua tau bagaimana manjanya dirimu."

Kemudian mereka menghabiskan perjalanan dengan berbagi canda dan tawa dan beberapa cerita menarik yang belum sempat tersampaikan.

.

.

.

Mereka masih ada di dalam mobil, terjebak dengan bagaimana macetnya jalanan kota Seoul. Suasana dalam mobil begitu hening diantara hirup pikuk jalan. Suara klakson dan derum kendaraan yang terdengan diatara mereka. Kyungsoo tidak mencoba untuk mencari sebuah topik menarik untuk dibicarakan karena memang tidak ada yang ingin dibicarakannya. Semua pikiran sudah teralihkan pada rencana meloloskan diri malam ini.

Dia tersenyum muram saat ingat bagaimana Luhan dapat menebaknya dengan mudah. Dia menghela nafas panjang dan menatap keluar, memandang langit yang kali ini bertaburan gemintang dah lihatlah... ada rembulan di atas sana, dia menutup mata dan berharap. Mungkin ini akan menjadi salah satu malam terumit yang akan dilewatinya, tapi dia percaya masih ada sang rembulan yang akan menemaninya.

"Memikirkan sesuatu?" suara itu mengalihkan pikirannya, membuat dia menengok dan menggeleng pelan.

"Aku hanya berpikir, langit hari ini begitu indah." gumamnya.

Jongin menatap keluar, mengalihkan pandangannya untuk beberapa detik menatap langit. Dia tersenyum dan mengangguk.

"Aku tidak pernah tau kau suka memperhatikan langit malam." Gumam Jongin sambil melajukan mobilnya.

Kyungsoo mendesah nafas panjang, tak mencoba menatap pria disampingnya. "Karena hanya langit malam yang bisa menjadi pelarianku dari hari-hari yang suram."

Ucapannya terlalu pelan, terendam oleh suara klakson dari seruan orang dari luar membuat Jongin tak bisa mendengar apa yang baru saja diucapkannya. Mungkin memang itulah yang Kyungsoo inginkan, dia tak ingin pria disampingnya itu mendengar apa yang baru saja terucap.

.

.

.

"Oh."

Ujar Luhan saat mendengar semua cerita dari Kyungsoo. Dia bisa melihat bagaimana sahabatnya itu seakan kehabisan kata-kata, ini pertama kalinya dia melihat Luhan terlihat begitu syok.

"Bagaimana menurutmu?"

Ada jeda panjang sebelum Luhan menjawab, dia telihat berpikir keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya.

"Jujur saja aku tidak tau apa yang harus aku katakan Soo." Pada akhirnya.

Lihatlah biasanya Luhan selalu mempunyai saran untuknya, hari ini seakan kehabisan kata-kata. Dia tau ini tidak akan pernah mudah. Dia tau dia tidak akan pernah menemukan jawaban yang pasti. Yang perlu di lakukannya seakarang hayalah memilih.

"Mungkin semua keputusanya ada padamu Soo. Aku tidak bisa memilih karena semua ini tergantung padamu, kau yang akan menjalani semuanya tapi walau bagaimanapun aku akan selalu ada untukmu kawan." Ucapnya sambil menepuk pundak Kyungsoo.

"Aku ingin makan ice cream yang banyak hari ini. Aku butuh ice cream." Ujar Kyungsoo hampir berteriak menarik beberapa perhatian dari pengunjung café. Tanpa di minta dua kali Luhan langsung memesankan satu mangkung besar patpingsu untuk sahabatnya itu.

Akhirnya mereka menghabiskan tiga-empat mangkuk besar patpingsu dengan berbagai toping. Untuk sejenak semua beban di pudak Kyungsoo terasa lebih ringat dari sebelumnya. Berterima kasihlah pada wanita cantik dihadapanya.

.

.

.

Kyungsoo dan Jongin akhirnya sampai di sebuah restoran bergaya klasik yang terlihat berkelas. Kyungsoo berdeham saat dirinya tidak yakin apakah pakaian saat ini pantas untuk masuk ke sini, dia hanya memakai dress pink tanpa lengan dengan sebuah belt berwarna emas, wadges dan handbag yang sama sekali tidak terlihat elegan menurutnya. Dia menghela nafas panjang saat Jongin membukakan pintu untuknya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin.

Kyungsoo mengerjap beberapa kali sebelum mengangguk. "Kau pikir apa aku terlihat aneh dengan pakaian ini?" bisik Kyungsoo saat seorang waiters menghampiri mereka.

Jongin menatapnya dari atas sampai bawah. Pria itu memberikannya senyuman dan mengangguk. "Kau terlihat menarik." Bisiknya sebelum mengalihkan perhatia pada waiters yang menuntun mereka memasuki sebuah ruangan.

Suara musik klasik langsung terdengar saat pintu terbuka, dinding yang dicat biru tua dengan aksen emas membuat ruangan ini tampak elegan. Meja-meja bundar di susun dengan apik dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Di tengah diletakan sebuah meja dengan vas bunga besar yang begitu cantik.

"Sebelah sini." Ujar pria itu membuat Kyungsoo mengerjap mengalihkan pandangannya.

Saat itulah dia menemukan seorang wanita dengan rambut sebahu yang disemir coklat sedang duduk memandang gelas wine yang hampir kosong. Dia menggunakan sebuah dress dari prada berwarna merah yang begitu elegan. Untuk sesaat sepertinya dia ingin lenyap dari pandangan.

Wanita itu mengangkat wajahnya, tersenyum pada mereka berdua atau mungkin pada Jongin.

Hanya pria itu.

.

.

Kyungsoo ingin mengajak Luhan ke Disneyland namun sepertinya wanita itu masih jetlag dan butuh istirahat, perjalanan Beijing-New York memang memakan waktu lama. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung pulang.

"Luhan," ibunya langsung berseru saat mereka masuk. Sang ibu langsung memberikan Luhan sebuah pelukan hangat. Sudah sejak lama mereka berbagi ibu dan ayah. Luhan bahkan memanggil ibunya dengan...

"MOMMY!"

Nah, itu dia.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum dan membawa sebagian barang Luhan menuju kamarnya. Walaupun di rumahnya masih ada setidaknya tiga kamar kosong tapi pada akhirnya mereka akan berada di kamar yang sama karena setiap malam mereka akan menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menonton film lama sampai pagi buta.

"Aku rindu sekali pada mommy." ujar Luhan saat masuk kedalam kamarnya. Dia langsung melemparkan diri ke atas kasur empuk.

"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Luhan menatap Kyungsoo yang saat ini hanya terdiam di depan jedela kamarnya.

"Untuk sekarang aku hanya ingin bersantai Lu, aku ingin pergi ke Disneyland, makan ice cream sebanyak mungkin-oh wisata kuliner. Kapan terakhir kita wisata kuliner bersama?"

Luhan hanya tersenyum mengangguk walau dia tau sahabatnya itu pasti tau dia hanya ingin melarikan diri.

"Terserah padamu. Aku hanya ingin tidur dan tolong nyalakan AC nya."

.

Saat makan malam, Luhan ikut bergabung seperti biasanya saat dia mengunjungi Kyungsoo di New York. Dia sudah seperti keluarga, tidak ada kecanggungan sama sekali bahkan dengan kakaknya Chanyeol yang menyebalkan itu. Luhan seakan punya sesuatu dalam dirinya yang membuat orang dengan mudah akrab.

"Aku sudah bosan melihat wajahmu Lu." Ujar Chanyeol saat Luhan duduk disampingnya.

Luhan hanya menjulurkan lidahnya dan menyapa ayah yang kebetulan hari itu pulang lebih awal.

Chanyeol menyentil jidatnya. "Jangan pura-pura dekat dengan ayahku."

Luhan mengusap jidatnya dan melakukan hal yang sama. "Berhenti mencampuri urusanku. Aku sedang mengobrol dengan daddy."

Chanyeol mendengus. "Siapa yang kau panggil daddy, huh?"

Dan makan makan mereka kali ini penuh dengan perdebatan Chanyeol dan Luhan membuat orang yang melihatnya tertawa, kecuali satu, Kyungsoo.

Wanita itu masih sibuk dengan pikirkannya sendiri, lamunannya melayang pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika saja dia tidak menyetujuinya dan bagaimana jika dia menyetujuinya.

.

Luhan bangun tengah malam dan keluar dengan jubah tidurnya yang tipis. Musim panas terlalu menjengkelkan jika harus menggunakan jubah tebal hanya untuk keluar sebentar. Chanyeol memintanya untuk bertemu di halaman belakang saat tengah malam.

Tentu saja Luhan sudah mengerti apa yang akan dibicarakan oleh kakah sahabatnya itu. Dia turun mengendap-ngendap seperti pencuri dan menuju halaman belakang. Hembusan angin menerpa tubuhnya yang lengket, AC di kamar Kyungsoo tidak cukup dingin sepertinya.

Dia bisa melihat Chanyeol duduk di kursi panjang di bawah lampu sambil memandang langit. Ini pertama kalinya dia melihat Chanyeol resah setelah bertahun – tahun mengenal pria itu. Dia berdeham pelan membuat pehatian Chanyeol teralih padanya.

"Kau terlihat," Luhan menatap pria itu dari atas sampai bawah. "Mengerikan."

Chanyeol hanya terkekeh pelan dan mendesah nafas pendek. "Aku tau. Beberapa hari yang lalu Kyungsoo bahkan lebih parah dari ini."

Luhan terkejut mendengar fakta itu. Apa itu alasan mengapa Kyungsoo jarang sekali menjawab pesannya.

"Itu pertama kalinya aku melihat dia begitu berantakan. Kantung mata yang besar, rambut lusuh, pipi tirus-oh aku tidak ingin membayangkannya lagi." Ujar Chanyeol sambil menggelengkan kepalanya.

Luhan hanya menatapnya sambil tersenyum tipis. Dia tidak mengerti bagaimana ada seorang kakak yang begitu menyebalkan tapi perhatian pada adiknya seperti Chanyeol. Dia tau bagaimana menyebalkannya pria tinggi disampingnya ini tapi dia juga tau dia menyayangi Kyungsoo.

"Tapi dia sudah terlihat lebih baik, dia bahkan menghabiskan tiga-oh tidak empat mangkuk besar patpingsu. Dia akan baik-baik saja."

"Kau membiarkannya makan patpingsu sebanyak itu?"

Lihatlah! Dia mulai menyebalkan lagi.

"Kau ingin Kyungsoo lebih baik atau apa? Kau tau sendiri ice cream dan semua manisan di dunia ini yang akan membuatnya lebih baik. Kau sendiri yang bilang kalau pipi cubby Kyungsoo menjadi tirus jadi biarkan saja dia." Omelnya sambil mendengus.

Chanyeol tersenyum dan mengusap kepala Luhan. "Kadang aku merasa beruntung Kyungsoo mempunyai teman sepertimu, ya walau menyebalkan tapi kau memang bisa diandalkan."

Luhan menepis tangan besar itu dari kepalanya dan menggeser tubuhnya menjauh. Dia menunjuk hidung Chanyeol dengan telunjuknya. "Berhenti mengusap kepalaku. Hanya pria tampan dan pintar saja yang boleh melakukannya, bukan pria menyebalkan sepertimu."

Dia melihat bagaimana Chanyeol memutar bola matanya dan dengan cepat lengan pria itu melingkar di lehernya, mencekik Luhan pelan.

"Lepaskan Chanyeol!" Ucap Luhan memukul – mukul lengan pria itu.

"Tapi kadang aku kasihan kenapa Kyungsoo punya teman sepertimu dan terkadang anak sepertimu harus diberi pelajaran kau tau."

Dan untuk beberapa lama mereka tertawa tanpa henti, saling mengejek dan membalas pukulan satu sama lain sampai akhirnya Chanyeol mendesah nafas panjang.

"Kyungsoo sudah menceritakan segalanya bukan? Itu yang menjadi alasanmu ada disini."

Luhan mengehela nafas panjang dan mengangguk ragu. "Begitulah."

Ada jeda panjang diantara mereka. Chanyeol menatap langit gelap tanpa bintang hari ini dnegan sendu. "Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang dia hanya ingin bersenang-senang. Dia bahkan mengajakku pergi ke Disneyland." Ujar Luhan mencoba untuk tidak membuat Chanyeol khawatir.

"Apa dia mengatakan kalau dia akan menyetujuinya?"

Luhan hanya mengangkat bahunya. Dia sendiri tak yakin apa yang sebenarnya di pikirkan oleh temannya itu.

"Menurutmu apa dia akan?"

Untuk yang satu ini Luhan tidak bisa menjawab, karena dia bisa melihat bagaimana Kyungsoo yang masih bimbang dengan segalanya.

"Entahlah tapi melihat dari bagaimana sifat Kyungsoo yang bagaikan cinderella dia sepertinya tidak akan menolak."

Chanyeol menghela nafas panjang dan menatap Luhan.

"Kau disini berperan sebagai saudara tirinya. Mau membantuku agar cinderella tidak pernah datang ke pesta?"

Luhan tersenyum dan menggeleng pelan sebelum menjabat tangan Chanyeol.

"Pastikan kau jadi ibu tirinya." Ujar Luhan sambil bangkit dari kursi. "Aku hanya anakmu, aku akan coba membantu tapi kau tau sendiri bagaimana cara berpikir cinderella." Tambahnya.

"Aku tau anakku."

Luhan tersenyum karena itu. "Selamat malam ibu tua." Ujarnya sambil berlalu dan melambaikan tangnnya asal pada Chanyeol.

Luhan kembali ke kamar dan menatap Kyungsoo yang terlelap. Mungkin dia tidak akan menjadi saudara tiri jahat seperti yang ada dalam cerita Cinderella, mungkin ini saatnya dia untuk berada di tengah-tengah dan mendampingi sahabatnya itu melewati masalah ini.

.

Keesokan harinya Kyungsoo mengajak atau mungkin memakasa Luhan untuk pergi ke Disneyland menghabiskan hari mereka dengan menaiki wahana, menonton parade dan bersenang-senang. Luhan menggunakan sebuah bando rusa sedangkan Kyungsoo menggunakan bando berbentuk pita berwarna pink dengan motif pokadot.

Kyungsoo tidak henti melangkahkan kakinya kesana kemari seakan tak pernah lelah, berbeda dengan Luhan yang setengah hati karena mengingat bagaimana dia membenci musim panas, tapi entah kenapa hari ini Luhan sama sekali tidak mengeluh, Kyungsoo berterima kasih karenanya.

Saat senja datang mereka baru menyempatkan diri untuk masuk kesebuah resto yang ada disana, mereka memesan pasta untuk makan siang yang terlambat ini. Mereka langsung menyantap pasta sesaat setelah diantarkan ke meja. Kyungsoo baru saja sadar betapa laparnya dia saat menyantap pasta itu. Mungkin itu bukan pasta yang paling enak yang pernah dicicipinya tapi untuk perutnya yang keroncongan itu benar-benar menjadi pasta yang paling enak.

"Sekarang berhenti memaksaku untuk pergi ke tempat lain, aku sudah lelah." Komentar Luhan membuat sebuah senyuman dibibirnya.

"Tenang saja. Masih ada esok hari."

Dia bisa melihat Luhan menghembuskan nafas panjang dan memuatr bola matanya. Temannya itu memang tidak pernah suka menghabiskan waktu terlalu lama saat musim panas datang, dia lebih baik berdiam diri di kamarnya yang full AC dan menonton film, bermalas-malasan sampai musim berganti.

.

.

.

Mereka duduk bertiga di meja bundar itu, dia bisa melihat bagaimana kursi Jongin yang sengaja di geser agar lebih dekat dengan wanita cantik berbaju merah itu. Tidak bisa dipungkiri bagaimana Kyungsoo iri dengan sosok cantik dihadapannya. Kulit putih yang bersih, tubuh yang ramping dengan pinggang yang kecil dan segalanya yang benar-benar terlihat sempurna.

"Jadi," Jongin memulai percakapan membuat Kyungsoo mengalihkan perhatiannya. "Kau ingin memesan apa?"

Wanita itu seakan baru sadar kalau sedari tadi ada seorang waiters yang berdiri di sampingnya. Dia tersenyum dan menutup buku menu yang ternyata di tatapnya sedari tadi. "Berikan saja aku wine." Ujarnya sambil menyerahkan buku menu itu.

"Kau tidak nyaman dengan tempat seperti ini?" tanya wanita dihadapannya. Kyungsoo tersenyum dan mengangguk.

"Seberapa seringpun mom dan daddy mengajakku ke tempat seperti ini, aku tidak akan pernah nyaman dengannya."

Wanita dihadapannya mengangguk-anggukan kepala terlihat bersalah. "Kalau saja aku tau sejak awal mungkin aku tidak akan meminta Jongin untuk datang di tempat ini."

"Oh tenang saja, bukan berarti aku tidak bisa menanganinya. I'm totally fine but-"

Ponselnya berdering pelan, Kyungsoo langsung membuka tasnya dan mengeluarkan benda itu. Layar ponselnya menampilkan sebuah nama yang sedari tadi di tunggunya.

Luhan.

"Aku permisi sebentar." Ucapnya sambil menggeser layar ponselnya. Dia langsung berjalan kebelakang dan menerima telphone dari Luhan.

"Oh Tuhan,"

"Aku tau, aku baru saja menyelamatkanmu bukan?"

Kyungsoo tersenyum dan mengusap wajahnya pelan. Dia menghela nafas panjang sebelum berucap.

"Begitulah, aku benar-benar ingin lenyap dari tempat ini Lu."

Dia mendengar Luhan tertawa dari ujung telphonenya.

"Apa yang terjadi disana? Kau bisa mengatasinya bukan?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab, dia tidak begitu sadar apa yang sudah terjadi. Yang dia ingat hanya Jongin yang menenalkan mereka satu sama lain dan tatapan keduanya yang...

"Entahlah, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin sekarang."

"Apa dia secantik itu?"

"Ya. Dia sempurna, aku mengerti kenapa Jongin tak ingin melepaskannya. Kau harus melihatnya sendiri Lu bagaimana aku sangat tidak bisa dibandingan dengannya."

Luhan menarik nafas panjang. "Kita lanjutkan pembicaraannya nanti. Mungkin aku akan sampai disana tiga puluh menit lagi. Bertahanlah sedikit lebih lama."

"Terima kasih Lu."

Dia memutuskan sambungan dan menatap bayangannya di cermin, meyakinkan diri sendiri untuk bertahan setidaknya untuk tiga puluh menit kedepan.

Saat kembali dia melihat Jongin sedang tertawa dengan wanita itu. Dia memberikan mereka senyuman tipis sebelum menarik kursinya.

"Sepertinya aku tidak akan bisa lama-lama disini."

Wanita itu menatapnya terkejut. "Kenapa?"

"Luhan-maksudku temanku meminta aku mengantarnya membeli bahan untuk besok. Aku sudah berjanji padanya sebelum Jongin mengajakku bertemu denganmu, aku benar – benar minta maaf." Kyungsoo terlihat menyesal. Ya, dia memang menyesal namun bukan karena meninggalkan mereka lebih awal tapi karena dia harus berbohong seperti ini.

"Jika kalian tidak keberatan aku mungkin akan pergi lebih awal. Luhan datang tiga puluh menit lagi." Tambahnya.

Wanita itu menggeleng dan tersenyum ramah. "Tentu saja kita sama sekali tidak keberatan. Aku yang harus meminta maaf disini, mungkin lain kali aku akan menanyakan jadwalmu terlebih dahulu. Kau pasti sibuk."

Kyungsoo menggeleng pelan dan tersenyum tipis. "Tidak seperti itu juga," ujarnya.

Kyungsoo meraih gelas winenya dan meminumnya perlahan, membiarkan rasa manis itu menyapa lidahnya. Wine di tangannya benar-benar membantu, kalau saja besok dia tidak harus pergi ke café mungkin dia ingin menegak wine ini satu botol penuh.

"Kau tidak memesan makanan?" tanya Jongin mengalihkan perhatiannya.

"Tidak, terima kasih. Perutku sudah penuh diisi kudapan. Aku makan banyak tadi."

Pria itu mengangguk-ngangguk dan kembali menatap wanita disampingnya. "Oh mungkin aku bisa mengunjungimu sesekali dan memberikan beberapa kudapan." Ujar Kyungsoo mengalihkan pembicaraan kedua orang itu.

"Oh benarkah?" mata wanita itu langsung melebar.

"Tentu saja dan juga sebaliknya. Kau harus mengunjungiku di cafe, aku bisa memastikan kau mendapatkan banyak kudapan."

Wanita itu tersenyum dan mencondongkan tubuhnya. "Apa itu berarti aku akan mendapatkannya dengan cuma-cuma?"

Kyungsoo tertawa bersamaan dengan Jongin. Pria itu mengusak pelan rambut wanita itu dengan sayang. Kyungsoo yang melihatnya hanya bisa tersenyum.

Dia mengedipkan mata. "Tentu saja, selama kau tidak membawa banyak temanmu."

Dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama. Mungkin setelah ini Kyungsoo akan lebih baik dari sebelumnya, mungkin mulai saat ini Kyungsoo bisa menerima segalanya.

Nanti, secepat yang dia biasa.

Kyungsoo melewati tiga puluh menit terlama dalam hidupnya. Menunggu Luhan menjemputnya dari tempat ini. Dia sudah membicarakan banyak topik-topik remeh hanya untuk membunuh rasa canggung diantara mereka.

Akhirnya,

Ponselnya berdering, tanpa menunggu lagi dia langsung memuka tas dan menerima panggilan dari Luhan. Kedua orang dihadapannya menatap, menunggunya.

"Ya aku kesana sekarang."

Kyungsoo menatap kedua orang itu sambil bangkit dari kursinya. "Sepertinya aku tidak bisa lebih lama lagi, aku akan meninggalkan kalian berdua disini."

Wanita dihadapannya tersenyum dan ikut bangkit menarik serbet dari atas pahanya. Dia berjalan kearah Kyungsoo dan memberikannya sebuah pelukan hangat. Kyungsoo sedikit terkejut akan hal itu tapi akhinya dia membalas dan ikut tersenyum tipis sambil menatap Jongin yang berdiri di depannya.

"Aku pasti akan mampir ke cafemu." Ucap wanita itu sambil melepaskan pelukan mereka. Kyungsoo mengangguk dan menaruh serbet di atas kursi.

"Aku menunggu." Ujarnya kemudian menatap Jongin dan memberikan pria itu senyuman tipis.

"Aku pamit," Ucap Kyungsoo menatap wanita itu yang tersenyum lebar. Jongin hanya mengangguk.

"Terima kasih." Ucap Jongin.

Kyungsoo menggeleng pelan dan melangkahkan kakinya. "Aku pergi."

Saat dia memalingkan wajahnya, senyuman itu hilang seketika dan beban di pundaknya perlahan berkurang. Setidaknya dia tak perlu lagi berpura-pura dan memasang wajah palsunya.

Mobil pink Luhan sudah berada di depan saat dia seorang pria membukakan pintu untuknya. Dia menghela nafas panjang dan tanpa berpikir panjang langsung masuk.

"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang bawa aku pergi sejauh mungkin." Ujarnya menarik seatbelt membuat Luhan mengangguk dan langsung melesat menembus jalanan.

Malam semakin larut saat mereka memasuki salah satu cafe favorite mereka berdua. Tempat yang akan selalu Kyungsoo datangi saat membutuhkan banyak ice cream. Bertempat di tepi jalan pusat Myendong yang tak pernah sepi pengunjung.

Kedua wanita itu memilih tempat di ujung ruangan yang jauh dari keramaian, keduanya butuh menenangkan diri terlebih lagi Kyungsoo, dia baru saja menjalan hari yang melelahkan. Kyungsoo memesan satu mangkuk besar ice green tea dengan bebagai macam toping, sedangkan luhan memesan yang berkuran kecil.

"Jadi kapan kita bisa mulai?" tanya Luhan mencondongkan badan tak sabar.

Kyungsoo menghela nafas panjang. "Dia cantik. Itu alasannya kenapa Jongin tak ingin melepaskan wanita itu."

"Lalu?"

Kyungsoo menerawang mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. "Dia menawan, aku tidak berpikir untuk mengalahkannya sungguh. Aku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya dari sudut manapun. Malam ini dia menggunakan dress berwarna merah yang cocok sekali dengan tubuhnya, rambut pendeknya menegaskan bagaimana jenjang lehernya." Kyungsoo menghela nafas. "Dia sempurna untuk Jongin."

Luhan bersadar pada kursinya seakan tak lagi tertarik dengan pembicarakan, dia tak berbicara sampai ice cream datang.

"Makanlah yang banyak kau membutuhkannya." Ujar Luhan menyodorkan mangkuk besar milik Kyungsoo.

Dia hanya tersenyum tipis dan langsung melahap ice cream itu tanpa menunggu lebih lama. Dia tak perduli kalau dia baru saja meminum wine, dia tak perduli perutnya yang keroncongan yang dia butuhkan hanya peralihan, berdistraksi dari segala masalah yang bersangkutan dengan Jongin.

"Aku mengatakan untuk mengunjungi cafe kapan-kapan." Ujar Kyungsoo ragu.

Luhan tak menyahut, wanita itu hanya menatapnya dalam diam. Wajahnya terlihat datar, sedikit menyeramkan dan kilauan di matanya seakan berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

"Berhenti menjadi cinderella Kyungsoo. Kau tak bisa terus seperti ini." Komentarnya datar. "Kau tau hal yang aku paling tidak suka darimu?"

"Kau mengatakan aku terlalu baik seperti cinderella"

"Bukan hanya itu, kau terlalu pengalah seakan semua ini adalah salahmu. Seakan apa yang sekarang dilakukan Jongin adalah benar hanya karena sekarang dia terikat padamu." Dengusnya.

Kyungsoo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak bermaksud untuk seperti itu, dia hanya ingin tidak ada yang dirugikan disini, dia hanya mencoba untuk bersikap adil. Apakah itu salah?

"Kau tau bagaimana aku tidak ingin membuat dia kesulitan karena masalah yang aku buat-"

"Ini bukan masalah yang kau buat Kyungsoo. Dia menyetujui untuk menikahimu." Sela Luhan tak sabar.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum miris. "Kau tau sendiri ini bukan hanya tentang aku dan dia."

Luhan kembali mendengus kasar dan melipat tangannya di dada. Dia bisa melihat bagaimana sahabatnya itu kesal. Luhan bukan tipe orang yang mudah kesal dan marah, tapi lihatlah sekarang dia sendiri yang membuat sahabatnya menjadi seperti itu.

"Lalu apa yang harus aku lakukan Luhan? Aku akan mengikuti apapun yang kau sarankan karena jujur saja setelah ini aku tidak tau apa yang harus aku lakukan."

Raut wajah wanita itu perlahan melunak dan akhirnya dia menghela nafas panjang menyuapkan seseondok besar ice cream ke dalam mulutnya. Dia terlihat berpikir untuk sesaat sambil beberapa kali menyuapkan ice cream.

"Sederhana. Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan sebelum aku membantumu."

Kyungsoo mengerutkan keningnya. "Pertanyaan seperti apa itu?"

Luhan mencondongkan badannya ke depan membuatnya sedikit terkejut. "Bagaimana perasaanmu yang sesugguhnya untuk Jongin?"

Kyungsoo mengerjap.

Dia tak bisa menjawab pertanyaan yang satu itu.

.

.

.

Malam mulai turun bersamaan dengan datangnya gemintang menghiasi angkasa. Angin tak cukup kencang untuk membuat dia beranjak dari terasnnya. Musim panas tak pernah sebosan ini dalam hidupnya. Selalu ada hal yang bisa dikenangnya sampai penghujung hari.

Resah dihatinya seakan tak pernah pergi atau mungkin teralihkan, kebingungan semakin hari semakin menghantuinya bagaikan mimpi buruk. Dia ingin lari sejauh mungkin, menghindar dari mimpi buruk ini tapi di saat yang bersamaan dia sadar dia tak akan pernah bisa lari dari mimpinya sendiri.

Her own nightmare.

Bisakah dia mengorbankan diri dengan menikahi seseorang yang tak pernah dikenalnya sama sekali? Bisakah dia rela menjalankan hidup yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari apa yang dia harapkan? Bisakah dia menjadi seseorang yang cukup tangguh untuk menghadapi semua ini?

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu seberapa kalipun dia mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Seberapa kerasnyapun dia berpikir dia tak akan pernah mendapat jawaban yang pasti.

Itulah takdir.

Takdir tidak hanya semua yang telah di gariskan oleh sang kuasa namun juga pilihannya. Dia yang tak sanggup untuk memilih pilihan lain. Dia terlalu takut untuk melangkah dan mencari pilihan lain. Hatinya seakan tak pernah mengijinkan dia untuk mementingkan dirinya sendiri, dia juga tak pernah mengabaikan orang yang ada di sekitarnya terlebih lagi kedua orang taunya.

Entah sudah berapa kali dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya lelahnya. Mungkin satu lagi malam yang dia lewati tanpa mendapatkan jawaban. Suara pintu membuatnya menengok kebelakang, menemukan Luhan dalam balutan gaun malam dengan rambut yang diikat tinggi, menatapnya sambil menaikan alis.

"Apa yang kau lakukan disana?" tanya sahabatnya itu sambil berjalan menghampiri.

Kyungsoo mengangkat bahunya pelan. "Entahlah mencari sebuah kepastian diantara ketidakpastian?"

Luhan memutar bola matanya dan tertawa. "Sejak kapan kau menggelikan seperti itu?" menyenggok lengannya pelan. "Katakan apa yang sedang kau pikirkan? Apa ini ada hubungannya dengan perjodohan itu?"

Dia tak langsung menjawab ada sebuah jeda panjang dan helaan nafas berat sebelum dia menjawab. "Ya, dan aku baru saja sadar kalau kita hidup dalam sebuah ketidakpastian yang menjengkelkan. Kita hidup diantara dua pilihan, ya dan tidak, maju dan mundur, naik dan turun, hidup dan mati. Melelahkan bukan?"

Sahabatnya itu seakan tak bisa berkata-kata mendengar ucapannya. Lucu sekali melihat bagaimana ekspresi Luhan ang menggelikan seperti itu.

"Apa kau sadar dengan apa yang saja katakan hal barusan? Apa belakangan ini kau banyak membaca buku self-impovement? atau mungkin saja novel romance?"

Kyungsoo hanya tertawa pelan membalikan badan agar bisa bersandar pada tiang penyangga. Menghela nafas panjang kembali berpikir.

"Kau sudah menemukan jawabannya?" bisik Luhan menyenggol lengannya.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Hanya sebuah helaan nafas berat yang terdengar. Dia belum siap untuk menjawab itu.

"Aku hanya ingin kau memikirkannya kembali jika saja kau bermaksud menyetujuinya." Gumama Luhan saat dia tak kunjung mengatakan apapun.

Dia menatap kearah sahabatnya itu dan tersenyum. "Chanyeol menyuruhmu membujukku agar tidak menyetujuinya bukan?"

Luhan hanya mengangkat bahunya sekantak perduli. "Begitulah, kau tau bagaimana Chanyeol."

Dia kembali membalikan badan membiarkan angin yang bertiup pelan membelai wajahnya lembut. Pikirannya melayang pada percakapan dia dengan Chanyeol beberapa waktu lalu. Kakaknya itu menolak mentah-mentah ide dari sang ayah untuk menjodohkannya. Lucu sekali bagaimana Chanyeol mati-matian meyakinkannya untuk tidak menerima perjodohan ini.

Haruskan dia menuruti apa yang sang kakak inginkan? Atau haruskah dia menyetujui ide sang ayah?

"Jika kau terus berlari kapan kau akan berhenti untuk melihat keadaan? Aku tau kau memang tidak siap, tapi jika terus menunggu apakah kau akan bertemu di titik kau sudah siap dengan semuanya?" tanya sahabatnya itu.

Tidak.

Luhan tersenyum menyentuh pundaknya. "Kau tau jelas apa jawabannya." Ujarnya sebelum berlalu meninggalkannya.

Itu berati dia tak bisa lagi berlari dari takdirnya, ini saatnya untuk memilih.

.

Meja makan pagi ini sangat ribut, Chanyeol dan Luhan kembali lagi adu mulut hanya karena menu makan. Chanyeol yang ingin sesuatu yang lebih ringan sedangkan Luhan ingin sesuatu yang lebih bergizi. Wanita itu akhirnya memukul Chanyeol dengan sendok yang ada dihadapannya. Kedua orang tua mereka hanya tertawa melihat tingkah laku kedua orang itu.

"Mengalahlah untuk wanita." Gerutunya.

"Kau!"

Chanyeol hendak bangkit untuk membalas wanita itu ketika Kyungsoo yang duduk dihadapannya mengatakan sesuatu yang ada dihadapannya membuat dia membatu.

"Aku setuju untuk dijodohakan."

Untuk beberapa saat semua orang di meja makan menatapnya terkejut termasuk pembantu yang sedang menuangkan susu pada gelasnnya. Kyungsoo menelan ludahnya sendiri merasakan ketegangan yang dipancarakan dari mata Chanyeol.

"Apa? Bisa kau ulangi sekali lagi?" tanya sang kakak dengan nada rendah yang menyeramkan.

"Aku bersedia untuk dijodohkan."

Saat itulah dia menutup mata saat Chanyeol membanting sendok dengan kencang. Semua orang tiba-tiba saja merasa sangat tegang. Dia menyuruh pembantunya untuk pergi kebelakang dan menjauh dari kekacauan yang akan terjadi di meja makan pagi ini.

"Chanyeol!" tegur sang ayah.

"Dad lihatlah. Oh Tuhan! Apa yang kau pikirkan Soo? Kau sadar apa yang kau katakan?"

Kyungsoo ingin sekali menangis melihat bagaiman asang kakak begitu menyeramkan dan bagaiman adia bingung dengan keadaan. "Ya. Aku jelas tau apa yang aku katakan, aku juga tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku bukan lagi anak kecil Yeol, aku sudah mempertimbangkan baik dan buruknya."

Chanyeol menggeleng dan menatap ayahnya. "Aku tidak akan membiarkannya dad." Ujarnya sebelum bangkit meninggalkan meja makan.

Ayahnya memanggil pria itu berkali – kali tapi Chanyeol tak mendengar dan langsung meraih kunci mobil beserta tasnya, meninggalkan rumah dengan membanting pintu kencang.

Bertahan Soo, kau kuat. Bisiknya pada diri sendiri.

"Kau yakin dengan keputusanmu Soo?" tanya sang ayah mencoba meyakinkan. Kyungsoo mengangguk mantap. "Daddy tidak akan memaksamu jika kau tidak mau, pikirkan dirimu sendiri. Kau..." ayahnya bangkit untuk duduk di kursi kosong miliknya.

"Kau anak gadis kesayangan daddy satu-satunya, jangan mengorbankan dirimu seperti ini. Daddy juga ingin kau bahagia." Lanjut sang ayah sambil memeluknya.

"Tidak dad, aku sudah memikirnya baik-baik. Aku sudah mantap dengan keputusanku ini dad."

Ayahnya menatap dia dengan ragu, tapi Kyungsoo hanya bisa memberikan senyuman terbaiknya.

"Daddy tidak bisa membujuk Chanyeol untuk masalah ini. Kau tau betapa keras kepalanya dia. Daddy yakin dia tidak akan melepaskanmu semudah itu."

Kyungsoo tersenyum dan enepuk pundak ayahnya. "Aku bisa mengurus Chanyeol. Dia tidak akan pernah menokal permintaanku bukan? Aku bisa menanganinya, sekarang daddy bisa menjadwalkan pertemuan kita."

Ayahnya mengangguk dan mengecup keningnya. "Terima kasih sayang, terima kasih banyak."

.

Kyungsoo kembali terdiam di terasnnya, melamun memikirkan banyak hal. Pikiran-pikiran baru silih bergantian datang memenuhi kepalanya. Luhan berdiri di sampingnya, sejak tadi di meja makan, dia belum mengatakan sepatah katapun. Kyungsoo penasaran apa yang sedang ada dipikirannya sata ini.

"Katakan saja Lu, apapun itu yang ada di pikiranmu." Ujarnya saat tak sadar mendengar komentar dari Luhan. Wanita itu menegok, menatapnay dengan kening yang berkerut dan mulut yang sedikit terbuka.

"Kau... aku... maksudku, apa yang ada di otakmu Soo? Kau tau apa yang baru saja kau katakan?"

Kyungsoo mengangguk. "Ya." Luhan seakan kehabisan kata-kata, sahabantnya itu hanya bisa tertawa hambar.

"Kenapa kau melakukannya? Maksudku kau bisa saja menolak, melihat bagaimana Chanyeol yang tak ingin kau menyetuji perjodohan ini."

Kyungsoo hanya menghela nafas panjang dan tersenyum penuh arti.

"Kau tak akan mengerti dengan apa yang telah mereka lakukan untukku selama ini Lu."

.

.

.

Keesokan harinya Kyungsoo bangun dengan perut yang sakit dan badan yang terasa lemas. Dia berjalan terseok-seok menuruni tangga dengan berpegangan pada penyangga. Dia duduk sebentar menahan rasa sakit di perutnya mencoba mengingat apa yang kemarin di makannya. Dia mendesis ketika yang dia ingat hanyalah ice cream, seharian kemarin dia hanya memakan banyak ice cream.

"Kau baik-baik saja?" suara itu mengejutkannya setengah mati. Diantara kegelapan dapur, Jongin muncul dengan segelas air.

"Entahlah." Jawabnya lemas.

Jongin berjalan dan duduk disampingnya, menatapnya yang hanya bisa menunduk sambil memegang perutnya yang melilit.

"Kenapa perutmu?" tanya pria itu bingung.

Kyungsoo mencoba untuk mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan perutku."

"Apa yang kau makan semalam? Aku hanya melihatmu minum wine."

Oh sial, tentu saja wine itu.

"Wine, wine, wine." Gumamnya sambil mengetuk – ngetuk kepalanya ke atas meja.

Jongin menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit tapi tentu saja dengan cepat-bahkan terlalu cepat- dia menolahnya. Mengatakan dia akan baik-baik saja setelah meminum obat. Pria itu meninggalkannya dengan ragu dan memaksanya agar tidak membuat sarapan dan hari ini dan dia akan mengantarnya nanti ke cafe karena Kyungsoo memaksa untuk tetap pergi ke cafe apapun yang terjadi.

Akhirnya dia kembali ke kamar untuk bersiap – siap dan mengenakan dress yang pertama kali terlihat di depan matanya. Sebuah dress berwarna dusty blue yang dipilihnya hari ini tapi sesungguhnya dia tidak begitu mementingkan apa yang digunakannnya hari ini.

"Kyungsoo." Suara itu terdengar bersamaan dengan ketukan di pintunya.

"Ya sebentar," ujarnya lemah. Kakinya sedikit bergetar entah karena dia belum makan atau sakit di perutnya yang tak tertahankan.

"Kau baik-baik saja di dalam? Bisa aku masuk?"

"Tentu." Jawabnya tak yakin.

.

Jongin tak bisa tidur semalaman karena rasa lega yang selama ini ditahannya, dia tak menyangka mempertemukan Kyungsoo dengan wanita pujaan hatinya akan berjalan dengan lancar. Kyungsoo sangat ramah dan terbuka walau sayang sekali wanita itu tidak bisa di sana sampai selesai.

Tak sangka matahari mulai merangkak keatas saat dia sadar bahwa dia tak benar – benar tertidur semalaman. Inilah saat dikatakan bahwa realita lebih indah dari pada mimpi. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dan mengambil segelas air saat dia merasakan tenggorokannya yang kering.

Dia mendengar suara dari lantai dua, itu pasti Kyungsoo yang baru saja bangun. Saat dia keluar dari dapur betapa terkejutnya dia, menemukan Kyungsoo sedang memegang perutnya terlihat kesakitan.

"Kau baik-baik saja?" dia bisa melihat bagaimana Kyungsoo yang terperanjat karena terkejut saat dia bertanya.

"Entahlah."

Kekhawatirannya langsung memuncak saat mendengar suara lemah dari Kyungsoo. Dia berjalan mendekat dan duduk disampingnya, sedikit bingung apa yang harus dilakukannya saat seperti ini.

"Kenapa perutmu?"

Bodoh tentu saja dia sedang kesakitan, bagaimana mungkin kau bertanya hal bodoh seperti itu.

"Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan perutku." Jawabnya masih dengan suara lemah.

Jongin menatap Kyungsoo yang terlihat begitu kesakitan. Dia mencoba mengingat makanan apa yang di makan wanita itu kemarin. Tentu saja mereka hanya bertemu saat pagi dan saat di resto-Oh wine.

"Apa yang kau makan semalam? Aku hanya melihatmu minum wine."

Dia mendengar Kyungsoo menggumamkan sesuatu sambil mengetuk-ngetukan kepalanya keatas meja. Sepertinya memang dia salah makan kemarin dan entah kenapa Jongin penasaran apa yang dimakannya semalam kalau memang dia tak makan di restoran saat bersamanya.

Dia menawarkan untuk membawa ke rumah sakit karena dia bingung apa yang harus dilakukannya, jujur saja dia tak pernah mengerti tentang penyakit dan obat-obatan apapun itu. Lebih baik jika dokter langsung menanganinya. Tapi Kyungsoo menolak lembut dan memilih untuk mencari obat di kotak P3K. Jongin tidak pernah tau di rumah ini ada kotak P3K atau mungkin dia yang tidak pernah sadar.

Dia membantu memabwakan kotak P3K yang di taruh di laci yang ada di ruang tengah. Memperhatikan Kyungsoo saat mencari sebuah obat, dia menyodorkan gelas yang tadi tak sempat di minumnya. Dia memaksa Kyungsoo untuk kembali ke kamar dan tidak perlu membuatkannya sarapan, tapi wanita itu kembali menolak lembut dan mengatakan dia baik-baik saja.

Dengan wajahnya yang pucat, Kyungsoo sama sekali tidak bisa di katakan baik-baik saja. Tapi dia tak bisa menahan wanita itu saat bersikeras untuk tetap pergi ke cafe dengan syarat dia yang akan mengantar dan menjemputnya dan dia tak menolak.

Jongin menaiki tangga menuju kamar Kyungsoo, sudah hampir satu jam setengah semenjak wanita itu masuk ke kamarnya dan sampai sekarang belum turun. Dia semakin khawatir saat bayangan Kyungsoo pingsan singgah di benaknya.

"Kyungsoo." Ujarnya sambil mengetuk pintu untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.

"Ya sebentar," jawab wanita itu setelah beberapa saat. Suara itu sama sekali tidak membaik dan tidak membuatnya yakin kalau wanita itu baik-baik saja.

"Kau baik-baik saja di dalam? Bisa aku masuk?" tanyanya ragu. Dia tidak pernah masuk ke kamar Kyungsoo sebelumnya, kecuali saat membantu wanita itu membereskan barangnya saat mereka pindah.

Namun Kyungsoo menjawab dengan ragu. "Tentu."

Tanpa berpikir dua kali dia langsung membuka pintu dengan perlahan dan mendapati wanita itu terduduk di kasurnya. Senyuman lemas diberikannya saat dia mengambil langkah pertama untuk mendekatinya.

"Kau yakin kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali. Kita perlu pergi ke dokter sekarang juga." Ucapnya sambil hendak membantun Kyungsoo berdiri. Tapi wanita itu menggeleng dan menyentuh lengannya lembut.

"Tidak, sungguh aku tidak apa-apa. Mungkin perlu sedikit kudapan dan semuanya akan baik-baik saja."

Jongin sama sekali tidak yakin dengan apa yang dikatan wanita itu. Kyungsoo terlalu pucat dan terlihat begitu lemah bahkan untuk sekedar berjalan. Dia bahkan tidak yakin apakah wanita itu bisa berjalan.

"Aku perlu pergi ke cafe, jika memang aku tidak bisa bertahan ada Luhan, Yixing dan Minseok. Kau tidak perlu khawatir seperti ini, aku baik-baik saja." Ujarnya meyakinkan menepuk-nepuk lengannya yang berada di pundak dengan pelan.

"Berjanji padaku saat nanti sore aku menjemputmu kau akan baik-baik saja dan berjanjilan padaku untuk menelphone jika terjadi sesuatu."

Wanita itu menatapnya lama seakan memikirkan sesuatu namun beberapa detik kemudian dia tersenyum dan mengangguk, mencoba untuk berdiri dengan kakinya yang bergetar. Jongin menghela nafas panjang dan membantu Kyungsoo untuk berdiri, menuntun wanita itu dengan sabar sampai masuk ke mobil.

"Sudah siap? Tak ada yang tertinggal?" tanyanya saat masuk kedalam mobil dan menarik seatbeltnya.

"Ya. Jongin maafkan karena aku kau jadi-"

Jongin menggeleng, menyela ucapannya dengan membantu Kyungsoo untuk memakaikan seatbeltnya.

"Berhenti merasa bersalah seperti ini Kyungsoo. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, jadi kumohon berhentilah merasa bersalah."

Dia melihat wanita itu mengangguk menurut dan kembali melipat tangannya di perut. Jongin tersenyum dan langsung mengendarai mobil itu masuk ke dalam kemacetan jalan kota Seoul.

.

.

.

Kyungsoo duduk dengan lemas di meja dengan Luhan, Minseok dan Yixing yang menatapnya khawatir. Papan masih menunjukan close walaupun jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dia memaksa untuk membuka cafe seperti biasa tapi ketiga temannya tidak mengijinkan sama sekali. Tapi dia merasa baik - baik saja hanya sedikit lemas karena kurang makan tapi barusan Yixing membelikannya fast food dan dia sudah mencoba makan sebanyak yang dia bisa.

"Sungguh aku sudah lebih baik. kalian tak perlu khawatir seperti itu." ujarnya sambil mencoba bangkit tapi Luhan menahannya membuat dia kembali duduk.

"Kapan kau akan berhenti keras kepala seperti ini? Kau terlihat kacau sekali Soo. Kau terlihat seperti mayat hidup."

Kyungsoo menghela nafas mencoba menatap bias dari pantulan dirinya di cermin. Dia memang terlihat sedikit pucat tapi dia pernah mengalami hari - hari yang jauh lebih parah dari ini.

"Kalau begitu aku akan diam di kassa untuk hari ini? Bagaimana?"

Luhan mendengus dan mencubitnya pelan. "Bagaimana dengan pulang Kyungsoo? Aku akan mengantarkanmu sekarang-"

Suara kerincing bel membuat perhatian ke empat orang itu teralihkan. Kyungsoo ikut menengok kebelakang untuk melihat siapa yang datang ke cafenya.

"Maaf tapi hari ini kita akan-"

Kyungsoo menahan lengan Luhan saat sadar siapa yang datang. Luhan menatapnya engan kening yang berkerut tapi Kyungsoo tak memperdulikannya. Dia tersenyum pada wanita cantik dengan rambut pendek itu.

"Hi Baekhyun."

.

.

.

To Be Continued

Hallo guys! I'm so very sorry because I can't update that fast. Lately Iost my mood to write I don't know why but everytime I re-read all your review I'm thinking "ah... there's people out of there who wants me to keep writing who want to read my story although it'll take a time to update" I want to say thank you for all review you give to me, thank you for still reading and waiting for me.

I'll tell you again that I can't promise to update that fast just like you guys want but I can promise dan I'll never stop to write I promise that I'll continue this ff until the end but I hope you also can understand that I can't update that fast.

There's some of you who always ask me on askfm to continue my ff and for who ever was that I want to say thank you for always remind me to write. Sometime on my busy scadule I can't remember that I have a story to continue and thank you to wait for me.

and for the last... THANK YOU SO MUCH FOR ALL OF YOU WHO CAN BE PATIENT TO WAIT THIS STORY. THANK YOU FOR KEEP STAYING ALTHOUGH I CAN'T UPDATE THAT FAST. THANK YOU FOR ALL REVIEW, IT WILL AWALYS GIVE ME SOME MOTIVATION. AND THANK YOU FOR EVERYTHING.

See you :*

Love you ^^