BGM: That , Once Again-Mad Clown ft Kim NaYoung, Star and Sun-Kei & Growing Pains-Cold Cherry

Typo bersebaran, sorry!


Rumah mewah dan megah atau biasa disebut mansion itu kembali ia datangi. Pemuda manis dengan marga Choi itu berdehem sebentar sebelum menekan bel beberapa kali. Menunggu beberapa detik bahkan menit tapi tetap tidak ada balasan. Ia mengkerut heran, sekali lagi ia memastikan bahwa mansion yang ia datangi benar. Mansion yang ditunjukan ahjussi bernama Yoongi itu kemarin.

"Jimin! Park Jimin? Apa ada orang di dalam?" tanya pemuda manis bernama lengkap Choi Youngjae itu cukup kuat bahkan bisa terdengar siapa pun yang ada di balik pagar. Tapi tetap tidak ada balasan, sama sekali tidak ada.

"Ini belum terlalu malam, tapi kenapa seperti tidak ada orang?" gumam Youngjae seraya melirik arloji hitam putih yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Ini belum terlalu larut malam untuk seorang pria dewasa, bahkan ini masih sore bagi sebagian orang tapi kenapa mansion di hadapannya ini seperti tidak ada orang.

"Kau mencari seseorang?"

Youngjae menoleh ke belakang, menemukan seorang pria bermantel hitam-lebih tepatnya semua berwarna hitam- berdiri membawa dua kantung besar belanjaan. Ia tersenyum lalu membungkuk hormat pada pria hitam itu namun reaksi yang ia dapat cukup mengejutkan. Si pria bergerak mundur seraya menatap Youngjae tajam.

Yang di tatap tersenyum kikuk lalu memberikan beberapa buku pada pria berbaju serba hitam itu. "Aku teman Park Jimin, orang yang tinggal di sana juga. Itu semua catatan pelajaran untuk hari ini" ucap Youngjae seraya tersenyum lebar dan ramah.

Pria itu-SeokJin-si vampire yang lebih mirip nyamuk itu mengangguk paham lalu menerima tumpukan buku itu dengan hati-hati jangan sampai bersentuhan dengan Youngjae. Anak SMA tingkat akhir itu semakin mengernyitkan keningnya heran dan bingung.

"Apa kau namjachingu anak bernama Park Jimin itu?" tanya SeokJin dengan pandangan curiga, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Yoongi begitu perhatian pada Jimin beberapa waktu lalu. Dan kemungkinan besar anak itu calon istri Gumiho itu cukup besar, mengingat tiga penyakit aneh-lebih mirip kutukan-diderita oleh Jimin sejak lahir.

"Anniyo! Aku hanya teman, bahkan kami baru berteman. Aku sudah memiliki namjachingu"

"Geotjimal"

Gantian Youngjae yang menatap SeokJin dengan pandangan bingung dan curiga. Pria itu menatapnya dengan pandangan begitu dalam, seolah-olah akan mencukil kedua bola matanya keluar dari tempatnya. Pria itu seolah-olah sedang membaca pikirannya, mengobrak-abrik seluruh isi otaknya.

"Terserah kau, pergilah ini sudah malam" SeokJin berujar seraya menggerakan tangannya mengusir Youngjae. Anak remaja itu menghela nafas, membungkuk hormat pada SeokJin sebelum pergi.

Meninggalkan makhluk penghisap darah itu menatap punggung mungilnya dengan pandangan teduh dan sebuah senyuman simpul. "Sepertinya kau mendapat sebuah akhir bergenre happy ending" ucap SeokJin sebelum masuk ke dalam mansionnya.

Mereka berdua tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh. Mulutnya terus mengunyah permen karet di mulutnya, setelah berhasil membuat balon berwarna pink yang cukup besar orang itu membuang permen karetnya ke bawah begitu saja.

"Kau tinggal di sini"

Pagi hari ini berbeda dengan pagi hari yang biasa ia jalani. Pagi yang biasa ia jalani diawali dengan berlari ke kamar mandi, lalu ke dapur, memasak, makan secepat yang ia bisa sebelum ia terkena omelan atau bahkan pukulan dari bibinya. Itu pagi yang biasa ia jalani setiap hari tapi hari ini berbeda. Ia menjalani pagi yang begitu diidam-idamkan dirinya sejak dulu, tanpa harus berlari terburu-buru ke kamar mandi lalu memasak. Ia tidak melakukan itu.

Ia bahagia tapi ia juga merasakan perasaan asing dan aneh merasakan semua ini. Ia menghela nafas berat di pagi hari cerah seperti ini, pandangannya lalu turun pada pergelangan kakinya yang sudah sembuh secara ajaib dalam semalam. Aneh, bukan? Padahal dengan sangat jelas ia masih mengingat bagaimana rasa sakit dan ngilu di pergelangan kakinya akibat terkilir waktu itu. tapi semua rasa sakit itu menghilang begitu saja ketika ia bangun.

"Aneh tapi ajaib" gumam ia-Jimin seraya duduk bersandar pada kursi santai di kamar tamunya. Menyentuh pergelangan kakinya sekali lagi, memastikan pandangan dan sensor rasa sakitnya masih berfungsi baik. Memang masih berfungsi sangat baik mata dan sensor rasa sakitnya tapi semua ini tidak masuk akal dan logika.

"Kenapa kau menatap pergelangan kakimu seperti itu?"

Sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Ia menoleh, terkejut setengah mati melihat seseorang yang pernah ia temui sepuluh tahun lalu sekarang berada tepat di hadapannya.

Pria itu-SeokJin menatap pergerakan Jimin dengan pandangan datar dan bosan. Ia maju mendekati remaja SMA tingkat akhir sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring roti, susu dan beberapa tumpuk buku.

"Makan dan bacalah buku catatan dari temanmu yang bernama Choi Youngjae itu" perintah SeokJin yang langsung diterima Jimin. Pemuda manis bertubuh pendek itu menerima nampan itu dengan cepat tanpa menatap mata SeokJin sama sekali.

SeokJin menghela nafas melihat tubuh Jimin sedikit bergetar saat berhadapan dengan dirinya. Dengan seorang vampire yang dulu pernah dia lihat sedang menghisap darah, heol! Siapa yang tidak trauma mengingat kejadian mengerikan dan diluar logika seperti itu.

"Kau mengingatku?"

"Ahjussi nuguseyo? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

HIK!Jimin menggigit bibirnya sendiri, merasa takut dan terintimidasi dengan tatapan SeokJin yang semakin menusuknya dalam. Ia tahu ia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa berbohong tapi ia tetap melakukan itu dan berakhir dengan dirinya yang takut dan bingung.

"Kau masih tidak berubah, kau masih suka mengalihkan perhatian"

"Nde! Aku mengingat ahjussi! Ahjussi vampire yang waktu itu, kan? Aku masih dan sangat mengingat jelas bagaimana kau menghisap darah penjahat itu. kau mau apa sekarang? Menghisap darahku? Kau tidak bisa melakukannya"

SeokJin bersiul mendengar kalimat penuh percaya diri seperti itu keluar dari mulut Jimin dengan snagt lancar bahkan remaja labil itu berani menatap dirinya. Menatap dirinya seperti menantang dan membuktikan ucapan Jimin.

"Aku bisa melakukan apa pun" ucap SeokJin dengan rasa percaya diri tinggi. Tubuhnya yang semula berada satu meter dari tempat Jimin duduk sekarang pria itu tepat ada di hadapannya. Menarik pergelangan tangannya hingga ia berdiri dengan posisi yang begitu dekat dengan SeokJin. Nafasnya tercekat merasakan hawa dingin menelusup masuk dan mulai menyelimutinya.

"Aku hanya bermain-main Gumiho sialan" geram SeokJin seperti orang kesakitan. Tangannya yang semula mencengkram lengan Jimin perlahan mengendur dan terlepas. Jimin bernafas lega, beringsut mundur hingga punggungnya menabrak sesuatu. Ia menoleh ke belakang, matanya membulat menemukan Yoongi sudah ada di belakangnya dengan tangan terlipat ke belakang.

"Kau membuat dia takut"

"Aku hanya bercanda, dia terlalu percaya diri dan sok tidak takut. Aku kesal melihat manusia seperti itu" bela SeokJin sambil tangannya meremat kepalanya yang berdenyut sakit karena Yoongi tiba-tiba saja mengiriminya sebuah suara Gong besar di kedua telinganya.

Jimin memperhatikan itu dalam diam. Ia lalu menatap Yoongi yang masih sama berwajah datar, tiba-tiba saja lamput di otaknya menyala dengan snagat terang menyadari satu hal dan itu berkaitan dengan geraman SeokJin barusan.

"Kau tidak bisa menyakiti atau memangsa istri seorang Gumiho"

"Arrasseo! Aku hanya bercanda, kau membuat suara Gong banyak sekali di telingaku. Kepalaku sakit sekali, sialan!" umpat SeokJin sambil berjalan mundur keluar, meninggalkan Jimin yang terpaku di tempat merasa tidak percaya dengan hipotesisnya yang akurat seratus persen.

Ia mengubah posisinya dari membelakangi Yoongi menjadi berdiri di samping calon suaminya itu. kedua matanya sudah berkilat tajam, marah dan kecewa setiap kali melihat wajah datar calon suaminya itu.

"Aku benar. Kau Gumiho, kenapa kau tidak mengakuinya sejak awal?" tanya Jimin dengan suara serak menahan tangis dan emosi. Ia bisa melihat Yoongi menghela nafas, melepas lipatan tangannya dan berniat menyentuh kedua lengan Jimin namun segera ia tepis begitu saja.

"Jawab pertanyaanku. Kenapa ahjussi baru mengatakannya? Apa ahjussi sengaja? Ahjussi sengaja membuatku seperi orang bodoh karena tidak menyadari takdirku sendiri? Jawab! JAWAB PERTANYAANKU!" teriak Jimin diakhiri dengan suara tangis. Tangannya terangkat memukul-mukul dada bidang Yoongi sekuat yang ia bisa, kembali menangis sesegukan dan terlihat begitu menyedihkan di hadapan takdirnya.

"Aku ragu kalau kau adalah calon istriku yang dikatakan seperti di dalam ramalan itu. selama ini aku mencari tahu tentang kau, alasan kenapa kau bisa memanggilku saat mengeluarkan darah dan alasan kenapa kau bisa memanggilku malam itu meskipun kau tidak mengeluarkan darah. Kau memang calon istriku"

"Lalu kenapa kau selalu berbohong dan menghindar setiap kali aku bertanya apa kau Gumiho?"

"Aku tidak merasa bersalah dalam masalah ini"

Jimin menahan nafas mendengar kalimat itu. bibirnya sudah mengeluarkan berbagai umpatan halus mendengar ucapan Yoongi yang mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Jari-jari mungilnya bergerak menghapus air matanya, menatap Yoongi dengan pandangan emosi dan amarah.

"Meskipun begitu kau bukan calon istriku"

"Waeyo? Apa karena aku miskin, yatim piatu dan mempunyai tiga penyakit kutukan? atau karena aku tidak cantik?"

"Anniya!"

"Geotjimal! Kau mengatakan itu saat aku bertanya apa kau Gumiho!"

"Ndo yeppo" ucap Yoongi dengan suara tenang menatap lurus ke kedua bola mata Jimin. Pemuda manis bermarga Park itu menatap Yoongi dengan pandangan berair dengan sorot tajam penuh amarah. Ia menarik nafas panjang, berjalan ke arah tempat tasnya berada. Menggendongnya lalu bergerak dengan cepat pergi dari tempat terkutuk itu.

Tanpa menghiraukan sama sekali tatapan datar Yoongi yang sarat akan makna. Pria bermarga Min itu bergerak maju berniat mengejar Jimin, namun ego dan logikanya menahan langkahnya. Namun, sekali lagi ia melawan ego dan logiknya, berlari sangat cepat mengejar Jimin yang sudah berada di depan pagar bersiap pergi. Ia menarik lengan Jimin cukup kasar, membalik tubuh mungil itu hingga berhadapan dengan dirinya.

"Wae?! Kau mau bicara apa? Kebohongan lagi? Ahjussi ingin memberiku harapan lagi?" tanya Jimin dengan suara berteriak penuh emosi. Matanya merah efek menangis berlebihan dan angin yang berhembus sangat kencang di sekitar mereka. Bibirnya bergetar menahan suara tangisnya yang begitu memalukan, ia tidak boleh menangis di hadapan orang ini.

"Aku tidak berbohong soal perkataan yang sebelumnya, kau itu memang cantik. tapi bukan hanya itu yang aku cari, aku Gumiho yang sudah hidup lebih dari delapan ratus tahun. Aku tidak mencari wanita atau pemuda cantik tapi aku mencari calon istriku."

Jimin tertegun di tempat mendengar kalimat terpanjang yang pernah Yoongi ucapakan selama ini. tangannya yang masih di genggam oleh Yoongi semakin menguat namun tidak terasa sakit sama sekali, ia lebih fokus menelisik lebih jauh tentang sosok Gumiho di hadapannya ini.

"Calon istriku adalah orang yang cantik, tapi aku tidak akan melihat kecantikannya. Dia lahir karena memiliki sebuah tujuan hidup yaitu menjadi istri seorang Gumiho dan dia harus melihat sesuatu yang harusnya dilihat oleh seorang calon istri Gumiho. Dan kau tidak memilikinya"

Hati Jimin terasa seperti ditusuk berkali-kali terutama dikalimat terakhir Yoongi. Ia merasa hidupnya yang sudah penuh duka ini semakin terasa penuh duka dan begitu gelap. Ia sudah tidak menangis, air matanya sudah habis dipergunakan selama ini oleh dirinya untuk menangis. Sekarang hatinya yang menangis meraung-raung.

"Kau selalu berbicara seperti itu, kau mengalihkan topic pembicaraan dengan tutur katamu. Jika kau berlari dari lantai tiga ke depan gerbang hanya untuk mengatakan itu, kau membuang tenagamu. Terimakasih untuk semuanya, ahjussi."

Setelah mengucapkan itu Jimin bergegas keluar, namun langkahnya terhenti sejauh satu meter dari pagar rumah Yoongi yang masih terbuka. Ia menarik nafas panjang, mengangkat kepalanya berusaha mencegah air matanya mengalir. Kenapa ia merasa sedih dan menangis saat meninggalkan mansion besar itu? toh, itu bukan mansionnya. Itu bukan rumahnya dan orang yang tinggal di dalam rumah itu bukan siapa-siapanya.

"Brengsek!"

HIK!

Jimin terkejut. Matanya membulat mendengar suara cegukannya terdengar cukup keras bahkan ia yakin kalau Yoongi mendengar suara cegukannya. Ia menepuk-nepuk dadanya, berusaha meredam suara cegukannya yang semakin menjadi. Tanpa menoleh ke belakang ia segera berlari meninggalkan Yoongi yang menghela nafas, lelah dan menyesal.

"Mianhae…"

Suasana kelas itu kembali berisik dan riuh tidak terkendali. Keenam anggota trouble maker sudah bersekolah seperti biasa setelah keluar dari rumah sakit akibat kelelahan tanpa alasan. Jungkook-sang pemimpin- duduk bersandar pada kusen jendela. Menatap langit kota Seoul yang sedikit mendung, apa hari ini akan hujan kembali?

Ia menghela nafas, menatap teman-temannya yang sedang asik mengobrol dan tertawa tanpa bisa dikontrol membuat Jungkook jengah dan bosan.

"Jungkook-ah"

Jungkook menoleh, memasang wajah datar tidak bersahabatnya pada sosok gadis berrambut hitam bob-dia kemarin memotong rambut panjangnya- tersenyum manis ke arahnya. Gadis itu tidak lain adalah Lee Jieun atau memiliki nama singkat IU menghampiri Jungkook dan ikut duduk di kusen jendela.

"Wae? Aku sedang malas membully orang"

"Aku juga. Si miskin Park itu tidak kunjung sekolah, apa dia sibuk melacur?" tanya Jieun dengan nada sarkasme tinggi. Jungkook menoleh, atensinya tiba-tiba saja sedikit tersulut mendengar perkataan Jieun yang seperti menghina Jimin secara berlebih.

"Hentikan mulut pedasmu itu, aku sedang tidak ingin mendengar kata-kata sampah"

"Kalau begitu desahanku?"

"Lee Jieun!"

Jieun tersentak di tempat mendengar Jungkook membentaknya meskipun tidak sekeras seperti saat membully, tapi itu sudah membuat seluruh perhatian kelas teralihkan ke mereka. Bambam yang kebetulan duduk di dekat mereka, menghampiri Jieun dan menariknya menjauh. Mengganggu Jungkook yang sedang tidak dalam mood berteman sama saja seperti membangunkan singa yang kelaparan.

Jungkook berdecak sebal lalu turun dari kusen jendela dan berjalan keluar dengan begitu santai sambil membawa tas, bahkan ia tidak meminta izin pada si ketua kelas-Youngjae dan guru mereka yang sudah masuk tepat saat Jungkook membuka pintu untuk keluar kelas.

"Dasar si miskin Park itu, benar-benar membuatku emosi" gumam Jieun sambil matanya menatap kepergian Jungkook yang sepertinya ingin membolos.

Youngjae yang melihat semua kejadian itu menghela nafas, ia mengedikan bahu tidak peduli dan mulai mengeluarkan buku-bukunya namun matanya mengernyit heran karena salah satu bukunya yang cukup tebal hilang di atas meja.

"Buku daftar siswa itu dimana? Aku tadi menaruhnya di sini" gumam Youngjae dengan dahi berkerut heran. Otaknya berusaha mengingat tempat dimana ia meninggalkan buku itu, lampu dikepalanya langsung menyala mengingat Jungkook saat keluar tadi dengan sengaja menendang mejanya dan saat itu juga tangan nakal pria bermarga Jeon itu beraksi.

"Mau untuk apa buku daftar siswa itu?"

Jawabannya adalah mencari keberadaan Jimin. Ia membolak-balik buku tebal itu dengan bosan sampi atensinya teralihkan oleh sebuah foto pemuda manis dengan nama Park Jimin. Matanya bergerak secara teratur membaca profil Jimin, setiap deret kata dan kalimat.

Tidak ada yang special dariku. Aku tidak punya orangtua. Saudara. Keluarga. Apalagi rumah. Aku hidup di biayai bibiku yang serakah, membuatkan sarapan mereka, membersihkan rumah bahkan sesekali ikut mencari uang tapi aku tidak pernah mendapatkan perlakuan layaknya seorang manusia. Aku tidak ingin mempunyai mimpi kelewat tinggi, karena aku sadar bahwa mimpi yang tinggi itu akan sulit tercapai jika tidak ada orang yang mendukung.

Hanya satu keinginanku. Membuat sebuah cerita dongeng untuk seluruh anak di dunia, aku tidak ingin mereka merasakan apa yang namanya tidak memiliki kasih sayang seorang ibu. Paling tidak dengan membacakan cerita dongeng, cukup untuk membuat anak-anak merasakan kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang sempat aku rasakan selama kurang lebih sepuluh tahun.

Cerita yang ingin aku buat pertama kali adalah…

Rubah dan air.

"Air? Bukankah rubah takut pada air?" gumam Jungkook merasa aneh dengan judul cerita dongeng yang dibuat Jimin. Namun, kepalanya yang berisi otak jenius itu langsung mengangguk paham. Air, ada tiga tempat yang kemungkinan besar Jimin sering datangi.

Sungai, tidak mungkin karena Sungai Han terlalu ramai, Jimin tidak suka tempat yang ramai. Danau, mungkin saja tapi sepertinya terlalu dekat dan mudah di tebak, Jimin bukan orang seperti itu. Pantai? Mungkin saja, Jimin itu pernah tinggal di kota Jeju mungkin saja dia sedang di sana.

"Apa aku harus ke sana?" gumam Jungkook menuutp buk itu dan melemparkannya ke jok sampingnya. Tanpa berpikir lama lagi, ia segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya cukup cepat membelah jalanan Seoul menuju Jeju.

Tebakan Jungkook benar. Jimin sedang ada di pantai Jeju, ia duduk di sisi pantai yang tertutupi batu karang besar sehingga tempat yang ia pilih ini sangat sepi dan sunyi. Kepalanya menunduk menatapi jari-jari kakinya yang terrendam pasir dan air laut yang menghampirinya. Ia tidak bicara sama sekali namun suara menyebalkan dan cukup nyaring itu masih keluar dari mulutnya.

HIK!

Matanya kembali memerah, sudah hampir dua jam ia berada di sini tapi suara cegukan itu tidak kunjung usai malah semakin mengeras.

"Kenapa aku seperti ini?-HIK!"

Ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut mungilnya, menangis tanpa suara meskipun air mata sudah mengalir dari kedua manik indahnya yang terlihat begitu sendu. Tubuhnya bergetar setiap kali dorongan suara tangis itu keluar, ia ingin menangis sekencang-kencangnya tapi ia sadar bahwa menangis adalah sebuah kelemahan. Tapi dorongan itu begitu kuat, ia ingin menangis dan berteriak untuk sehari ini saja sebelum hari esok datang.

"Brengsek!-HIK!"

Dan ia semakin menangis mendengar suara cegukannya semakin menguat setiap kali ia mengumpati Yoongi dengan kata-kata kasar. Ia ingin bicara seperti itu tapi jauh di dalam hatinya mengatakan bahwa Yoongi tidak brengsek. Dia tidak jahat. Dia baik. Ada sesuatu yang disembunyikan dan sesuatu itu memang patut di sembunyikan. Tapi Yoongi adalah Gumiho dan dirinya memang calon istri Gumiho, seharusnya Yoongi bicara jujur saja.

"Kau itu brengsek!-HIK!-kenapa aku seperti ini? aku benar-benar membencimu, ahjussi brengsek!-HIK!"

Suara cegukannya yang kesekian kali itu diakhiri dengan suara tangis yang semakin kencang. Saking kencangnya sampai-sampai membuat seseorang yang sejak tadi memperhatikan Jimin meringis sakit karena telinganya berdengung. Batinnya terus berkata, ternyata benar suara Jimin itu benar-benar nyaring terutama saat sedang menangis.

"Yak!"

Jimin tersentak mendengar suara seseorang tiba-tiba muncul dari batu karang yang lebar dan tinggi itu. Ia menoleh ke belakang, matanya yang sipit membulat sempurna melihat orang yang berteriak tadi adalah Jungkook.

"Jeon Jungkook?" panggil Jimin masih dengan suara serak khas orang menangis. Ia memalingkan wajahnya sebentar, menghapus jejak air matanya lalu kembali menoleh ke belakang tapi di sana sudah tidak ada orang. Keningnya mengkerut heran, saat ia menoleh ke samping betap terkejutnya ia melihat sepasang kaki berdiri di samping tubuhnya.

"Kenapa menatapku terkejut seperti itu? Aku bukan hantu, aku tidak membullymu, aku hanya kebetulan berada di sini" ucap Jungkook mengelak dengan sebuah kebohongan tapi Jimin sudah tahu itu. angka di atas kepala Jungkook bertambah satu, tapi ia berusaha tidak menatap angka itu dan kembali fokus menatap ombak laut yang sedang asik menari di sana.

"Kenapa kau menangis dan mengumpat seperti itu? apa ada seseorang yang membuat kesal?" tanya Jungkook memulai percakapan. Angin sore yang berhembus cukup kencang semakin menambah dingin suasana di sekitar mereka, atensi Jimin teralihkan dari menatap ombak menjadi menatap Jungkook.

"Kau tidak perlu tahu"

"Wae? Aku tidak akan membocorkannya"

"Aku tidak percaya padamu-HIK!"

Cegukan itu kembali terdengar tapi bukan karena ia berbohong pada Jungkook. Ada penyabab lain dan itu berhubungan dengan Yoongi, ahjussi Gumiho brengsek itu. mengingat hal itu emosi dan rasa sedih di hati Jimin kembali meningkat. Ia hampir saja menangis dan mengumpat di depan Jungkook namun ia tahan sekuat tenaga.

"Kenapa kau cegukan? Apa itu artinya kau percaya padaku?" tanya Jungkook merasa senang dan berharap. Berharap jika Jimin percaya padanya dan kalimat tadi adalah sebuah kebohongan, tapi semua itu terasa aneh bahkan bagi dirinya sendiri. Aneh, karena ia berharap Jimin mempercayainya, itu hal mustahil.

"Aku cegukan bukan karena kau-HIK!-aku cegukan karena orang lain" jawab Jimin tanpa minat. Matanya kembali fokus menatap ombak lalu pada sebuah objek yang sedang terapung-apung bebas di lautan. "Dan aku berusaha membuang alasan itu-HIK!-"

Jungkook menatap Jimin, menatap wajah dengan mata sipit dan bibir merah merekah itu. ia menatap wajah orang yang selalu ia bully itu dengan intens, memperhatikan lebih seksama wajah yang selalu ia buat ketakutan ternyata menyimpan begitu banyak sinar. Sinar yang sangat teduh dan menambah cantik wajah itu.

Jimin menghela nafas, ia bisa melihat bahwa tangan itu mengusap wajahnya lalu kembali memeluk kedua lututnya sangat erat.

"Aku ingin mendengar dongeng buatanmu," Jungkook tiba-tiba saja meminta. Jimin kembali menoleh padanya, ia bisa melihat pria bermarga Jeon itu mengalihkan wajahnya ketika ia membalas pandangan pria Jeon itu.

"Wae? Bukankah kau pernah mengataiku kekanakan karena membuat cerita dongeng?"

"Aku hanya ingin, apa itu sudah menjelaskan semuanya?" tanya Jungkook balik dengan wajah kesal karena Jimin terlalu banyak bicara. Jimin menciut, menundukkan wajahnya lalu menegakannya dengan perlahan.

Dongeng. Ia teringat satu hal. Dongeng buatan ibunya dulu, Rubah dan Air.

"Pada zaman dahulu, hidup seorang dua rubah yang bersahabat baik. Rubah pertama begitu tampan dan gagah, sedangkan rubah betina begitu cantik dan manis. Mereka bersahabat tapi rubah jantan menganggap persahabatan mereka lebih."

Jimin memulai ceritanya. Matanya mulai memerah tanpa alasan, ia mengambil nafas sesudah suara cegukan itu kembali keluar.

"Pada suatu hari terjadi kekeringan yang sangat hebat melanda hutan. Seluruh penghuni hutan berusaha mencari sumbe mata air namun mereka tidak menemukan satu pun. Rubah jantan yang tidak tega melihat rubah betina kehausan, berkelana jauh mencari sumber mata air. Usahanya tidak sia-sia, dia berhasil-HIK!- menemukan sumber mata air dan memberikanya pada Rubah betina-HIK!-"

Jungkook sudah tidak tertarik namun rasa tertarik itu kembali muncul ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap raut kesedihan berlebih dari Jimin. Kedua bahu Jimin bergetar hebat, matanya berair, dan bibirnya ikut bergetar setiap kali ingin mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Rubah betina tidak tahu bahwa rubah jantan mendapatkan air itu dengan membuat perjanjian. Kaum rubah tidak akan pernah mendekati atau bahkan berani menyentuh air sampai kapan pun karena rubah jantan itu mencuri air mata dari hutan terlarang. Sejak saat itu rubah memiliki ketakutan sendiri terhadap air, cerita selesai"

"Apa bagusnya?" tanya Jungkook langsung mengeluarkan komentarnya. Jimin mendongakkan kepalanya, menatap Jungkook sebentar lalu kembali menatap air laut yang kembali membasahi telapak kakinya.

"Kita tidak boleh berbohong sekali pun itu sebuah keburukan, karena kebohongan akan melahirkan kebohongan lagi seperti yang dilakukan rubah jantan itu. aku sangat membenci pembohong-HIK!- tapi aku tidak bisa mengatai rubah-HIK!-jantan itu. kenapa? Kenapa aku begitu menyedihkan seperti ini?-HIK!"

Jimin kembali menangis. Ia sudah berusaha sangat keras menahan air matanya namun beban di hatinya semakin bertambah setiap kali ia berusaha menahan tangis itu. Jungkook tertegun melihat Jimin benar-benar dalam kondisi kacau melebihii saat sedang di bully.

"Wae? Kenapa aku terlihat menyedihkan-HIK!-dan bodoh seperti ini? Kenapa?! Kenapa aku seperti ini? Wae? WAE?!"

Kepala itu tersembunyi di balik kedua lututnya. Dia kembali menangis sangat kuat dan terdengar begitu menyedihkan dan memilukan. Jungkook memalingkan wajahnya, ia paling tidak bisa melihat orang menangis karena bisa-bisa ia akan ikut menangis nanti. Ia menarik nafas panjang lalu mengambil posisi berjongkok di samping Jimin.

"Menangislah, karena aku tidak akan menyebarkan berita anehmu ini ke seluruh murid. Itu janjiku" ucap Jungkook terdengar tulus dan bersungguh-sungguh. Jimin tidak membalas, ia masih tetap menangis begitu kencang.

"Kalau kau sudah merasa tenang masuk ke mobil berwarna putih di atas pantai ini. itu mobilku, aku akan mengantarmu pulang"

"Aku tidak punya rumah" ucap Jimin dengan kepala tegak. Menatap Jungkook lalu pada sepatu yang sudah ia buang ke laut tadi sebagai tanda bahwa ia sudah membuang barang pemberian Yoongi dan sepatu yang ia dapat dari bibinya. Ia membuang semuanya.

"Tadinya aku berpikir-HIK!-akan mendapat sebuah rumah tapi ternyata semua itu mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Seperti sebuah mimpi saat tidur siang, begitu indah tapi tidak akan pernah terjadi"

Jungkook menghela nafas, menatap telapak kaki Jimin yang sudah memutih pucat karena dinginnya air laut. Ia bangun dari posisi berjongkoknya, melepas kedua sepatunya lalu meletakannya di samping Jimin.

"Menangislah, aku memberikanmu waktu tiga puluh menit lalu aku akan mengantarmu ke Seoul" ucap Jungkook mengganti kata rumah menjadi Seoul. Jimin terpaku, matanya yang masih berair dan sembab fokus menatap sepatu itu lalu Jungkook yang sudah melangkah pergi begitu saja.

Ia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa sepeduli pada orang yang selalu ia bully dan benci. Benci karena orang itu berani-beraninya sekolah di tempat elite seperti itu tanpa memiliki harta benda apa pun. Kegiatan bully itu sudah mendarah daging dan tidak akan pernah bisa dihilangkan sekali pun oleh kepala sekolah mereka seorang presiden.

Ekor matanya sesekali melirik orang itu yang duduk di sampingnya. Orang itu-Jimin memandang kosong ke luar jendela, dia sama sekali tidak tertarik memandangi mobil sport mewah yang sedang dinaikinya bersama pangeran sekolah, pemimpin trouble maker dan orang yang bisa dikatakan paling sempurna di sekolah.

Pikirannya masih sibuk berkelana memikirkan Yoongi dengan diselingi cegukan beberapa kali. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Dia memiliki segalanya tapi terlihat begitu kesakitan dan kesepian. Apa yang biasa dia lakukan sebelum mengenal Jimin? Kenapa ia begitu peduli pada sosok brengsek itu? tapi sisi lain hatinya terus peduli dan hal itu semakin membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun.

Di tempat lain, orang yang selalu ia umpati tapi ia pedulikan juga sedang berdiri mematung di balkon kamarnya. Menatapi bintang-bintang di langit, memutar-mutar posisi bintang it uterus menerus hingga akhirnya ia mengembalikan ke tempat semula. Matanya menerawang jauh kea rah jalan raya yang penuh kerlap-kerlip lampu. Meskipun ia tidak yakin seratus persen tapi ia yakin bahwa Jimin tidak sebegitu membenci dirinya. Mungkin dia hanya shock tapi tetap saja perkataannya tadi pasti begitu menyakiti Jimin.

"Tapi dia bukan istriku" gumam Yoongi lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutupnya rapat-rapat. Seakan-akan menutup ingatannya tentang anak SMA bernama Jimin itu. ia akan menutup ingatan itu dan tidak akan pernah mengingatnya lagi, semoga saja.

Jimin sangat terkejut melihat rumah yang biasa ia tempat bersama bibinya sudah kosong, barang-barang rumahnya sudah dikeluarkan oleh pemilik rumah ini. Di tangannya menggenggam sebuah surat yang menyatakan bahwa rumah ini dikembalikan ke pemilik aslinya, uang depositonya di ambil dan sekarang hidupnya menggelandang.

"Eottkhae?"

Jungkook yang masih berdiri di dekat Jimin hanya diam memandangi Jimin tanpa berniat membantu. Ia sudah terlalu banyak membantu sejak tadi, jadi ia tidak mau ikut campur lagi.

"Kau! Akhirnya aku menemukanmu!"

Jungkook terperenjat kaget merasakan kedua telinganya di tarik paksa secara bersamaan ke belakang. Jimin yang tadi hampir menangis menoleh ke belakang, matanya untuk sementara terpana melihat sosok yang menjewer Jungkook bisa dikatakan cantik untuk ukuran laki-laki.

"Kau itu bolos dengan seenaknya keluar dari kelas! Kau tahu karena ulahmu itu aku dimarahi habis-habisan, arra?!"

"Ah! Mianhae! Aku sedang malas belajar tadi! Lepaskan!"

Orang itu melepas jewerannya lalu mendorong Jungkook menyingkir dan ia berdiri di samping Jimin yang masih terpaku menatap wajahnya.

"Wae? Apa ada yang salah denganku?" tanya orang itu merasa keheranan karena Jimin menatapnya begitu intens. Jimin menggelengkan kepalanya lalu membungkuk hormat pada orang itu yang ia yakini pasti seseorang yang lebih tua darinya.

"Tidak usah seformal itu, aku belum tertua"

"Dia hampir menginjak kepala tig-AKH!"

Ucapan Jungkook terpotong karena orang itu menginjak kaki Jungkook sekuat tenaga bahkan Jimin yakin kalau injakan itu akan meninggalkan bekas kemeran di kaki Jungkook. Orang itu tersenyum lebar pada Jimin seolah-olah tidak melakukan sesuatu yang salah.

"Jangan dengarkan ucapan keponakan angkatku ini. Aku adalah guru BK yang mengajar di sekolahmu dan Jungkook, namaku V tapi kau bisa memanggilku V saem. Kau pasti Jimin, kan?"

Jimin mengangguk lalu suara cegukan itu kembali muncul. V mengkerut heran tapi ia tidak ambil pusing, malahan ia merangkul pundak Jimin dalam sebuah rangkulan hangat.

"Kau bisa tinggal di tempatku, aku tahu semua ceritamu. Jadi, jangan menolak dan sungkan, arra?" ucap V atau Taehyung dengan tegas saat melihat mulut Jimin terbuka ingin menolak. Jimin tersenyum keci lalu mengangguk, posisinya kali ini tidak bisa menolak atau jual mahal. Ia butuh rumah dan makan paling tidak sampai ia menemukan rumah kecil dan bisa menyukupi kebutahannya sendiri.

"Kita naik mobilku saja, tinggalkan kunyuk ini" ucap Taehyung melirik Jungkook dengan sadis lalu menuntun Jimin memasuki mobilnya yang diparkir tidak jauh dari mobil milik Jungkook. Mobil dengan warna merah menyala itu melaju melewati Jungkook yang masih berdiri kesusahan karena injakan Taehyung tadi begitu dahsyat rasanya.

"Dasar perjaka tua"

Rumah Taehyung memang tidak besar seperti mansion milik Yoongi, tapi juga tidak kecil seperti rumahnya yang dulu. Rumah ini begitu hangat dan terkesan ceria meksipun Taehyung masih tinggal sendiri tanpa memiliki pasangan atau pun anak. Kedua mata Jimin terus menelusuri ruang makan bercat krem itu dengan antusias, dapur rumah ini cukup bagus dan rapi. Taehyung benar-benar menjaga kebersihan dan kerapihan rumah ini, ia salut akan hal itu.

"Igo, aku tidak memasak hari ini tapi aku janji aku akan membuatkanmu makanan enak untuk sarapan besok" ucap Taehyung dengan raut wajah menyesal yang dibuat-buat. Jimin tersenyum kecil lalu menggeleng.

"Ramen ini saja sudah cukup bagiku, ghamshamnida sonsaengnim"

"Jangan memanggilku sonsaengnim saat dirumah seperti ini, panggil saja hyung" ucap Taehyung mengoreksi panggilan yang dikeluarkan Jimin begitu mengcap dirinya tua dan formal seperti itu. Jimin kembali tersenyum lalu mengangguk.

HIK!

Kedua mata Jimin bergerak gelisah melihat raut wajah bingung Taehyung ketika mendengar dirinya yang sedari tadi terus cegukan. Pria berwajah cantik dan manis itu sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut tentang maksud cegukan Jimin yang terus menerus sejak di mobil bahkan sampai detik ini.

"Aku sudah tahu tentang tiga penyakit anehmu itu, tapi aku tidak akan membahasnya sebelum kau mau membahasnya lebih dulu"

"Anniyo, hyung tidak perlu merasa seperti itu. Aku sudah biasa menghadapi pertanyaan seperti itu" ucap Jimin menyela. Senyum di bibirnya begitu simpul saat mengatakan kalimatnya barusan. Taehyung tersenyum kecil lalu mengangguk.

"Aku akan menanyakannya tapi tidak sekarang, makanlah sebelum ramenmu dingin"

"Hyung tidak makan?" tanya Jimin merasa heran karena Taehyung hanya membawakan satu cup ramen dan dua gelas teh. Taehyung menggeleng, meminum tehnya sebelum menjawab pertanyaan Jimin.

"Ramen itu mempunyai kalori yang tinggi, aku tidak mau menghabiskan waktu empat jam di atas treedmill. Aku hanya minum teh saat malam hari"

Jimin mengangguk paham dengan sebuah senyuman kecil. Ia harus bisa menutup pintu rapat-rapat mengenai ingatannya tentang Yoongi. Ia berani bertaruh untuk nyawanya kalau Yoongi juga sedang melakukan hal yang sama. Dia memang Gumiho itu, calon suaminya dan ia calon istrinya. Tapi hal itu percuma jika salah satu dari mereka tidak meyakini hal itu.

Mulai detik ini ia harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia bukan calon dan tidak akan pernah menjadi istri seorang Gumiho. Karena ia bukan dan tidak mendapat pengakuan dari Gumiho itu, jadi untuk apa ia harus mempercayai hal itu lagi?

Hidupnya ini sudah susah, ia tidak akan menambah kesusahan hidupnya ini. Ia harus membuang jauh-jauh pikiran itu.

HIK!

Tapi suara cegukan itu seperti mengkhianati otaknya. Ia ingin membuang jauh-jauh pikiran itu tapi ia akui hatinya terus berkata untuk mempertahankan keyakinannya bahwa ia adalah calon istri Gumiho itu, ia istri dari Yoongi. Sekali lagi ada kata tapi, semua itu percuma jika Yoongi tidak mengakuinya untuk apa ia mempertahankan keyakinan bodohnya itu.

Ia harus melupakan dan membuang semua title yang mengatakan ia istri Gumiho. Karena ia bukan dan tidak akan pernah menjadi istri Yoongi, begitu juga dengan Yoongi tidak akan pernah menjadi suaminya.

Semua itu tidak akan pernah terjadi.

To Be Continue

akhirnya aku bisa update meskipun di jam segini, ini semua karena kuota malamku berlimpah tapi regularnya sekarat minta ampun. gimana? makin gaje ff ini? i know, tapi semoga kalian suka dengan kegilaan ku yang aku tuang di sini. terimakasih yang udah fav, follow, dan review aku seneng loh tiap kali ngeliat dan baca review kalian, meskipun reviewnya nggak sampe tapi aku tetep baca review kalian dan aku seneng banget.

Gomawo semua! doakan semoga aku bisa menjalani simulasi UN minggu depan, TO minggu depannya lagi, dan terakhir Ujian akhir semester. betapa stressnya aku!

pokoknya aku berterimakasih sama kalian semua, aku bener-bener berterimakasih!