After You
Ooc, Genderswitch, Typo (s)
Ranted : T
Chapter : 4
Main Cast : Kyungsoo and Jongin
Another cast :, Luhan, Yixing, Minseok, and Chanyeol. (other cast will appear on next chapter)
.
A little note from me : Cerita ini memiliki alur maju mundur dengan beberapa sudut pandang. Seperti cerita yang pernah saya buat sebelumnya. Setiap paragraf yang di cetak miring menandakan alur mundur atau flasback.
.
"Hi Baekhyun."
Semua orang langsung tercengang saat nama itu di sebutkan, lantas semua menatap wanita dengan dress formal bernada monokrom. Dia terlihat seperti akan pergi kerja atau entahlah tapi dia terlihat sangat rapid dan cantik, tentu saja.
"Kau baik-baik saja?" ucap wanita itu saat melihat bagaimana pucat wajahnya.
Kyungsoo hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Aku hanya sedikit tidak enak badan, tapi aku baik-baik saja." Ujarnya pelan. Dia meremas tangan Luhan pelan saat wanita itu masih menatap Baekhyun dengan tatapan tajam.
"Masuklah, kita baru saja buka." Lanjutnya saat Baekhyun masih berdiri diambang pintu.
"Tidak-" sela Luhan cepat, tapi Kyungsoo dengan cepat menarik tangannya.
"Sudah aku katakan, kita akan tetap buka karena aku baik-baik saja." Timpalnya cepat.
Dia kembali menatap Baekhyun dan menyuruhnya duduk, sementara Minseok dan Yixing membawakannya beberapa kudapan. "Aku yakin alasan kau datang ke sini untuk mendapatkan sarapan gratis." Canda Kyungsoo saat Baekhyun sudah duduk di hadapannya.
"Kau tau sekali maksudku," jawabnya ikut tertawa bersama Kyungsoo. "Apa yakin kau baik-baik saja?" lanjutnya. Kyungsoo kembali tersenyum dan mengangguk pelan. Walau perutnya masih terasa tak enak tapi dia baik-baik saja, dia tidak berencana untuk pingsan atau semacanya.
"Tenang saja. Aku tidak akan pingsan tiba-tiba hanya karena sakit perut." Jawabnya mencoba meyakinkan wanita cantik dihadapannya.
Minseok membawakan dua potong blue velvet yang ditemani dua cangkit teh dengan kayu manis yang aromanya membuat Kyungsoo lebih baik. Dia langsung kembali ke belakang untuk membantu Luhan dan Yixing.
"Sepertinya teman-temanmu khawatir sekali dengan keadaanmu." Ucap Baekhyun saat Minseok kembali masuk ke dapur. Kyungsoo bisa menebak apa yang terjadi di dapur. Yixing pasti saat ini tengah membujuk Luhan untuk tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh seperti mengancam Baekhyun untuk pergi meninggalan café dengan pisau atau semacamnya.
"Begitulah, mereka memang perhatian namun terkadang mereka berlebihan," ujarnya kembali memalingkan wajah pada Baekhyun. "Tapi sungguh, aku memang baik-baik saja. Teh buatan Minseok membuatku jauh lebih baik." Tambahnya.
"Tapi sepertinya temanmu yang berambut pirang itu tak begitu menyukaiku." Ujar Baekhyun ragu. Kyungsoo tersenyum menggeleng, menyeruput kopinya sebelum menjawab.
"Luhan maksudmu?" tanyanya, mengingat bagaimana cara Luhan menatap Baekhyun tadi tak salah jika teman barunya ini menyangka Luhan tak menyukainya.
"Jadi itu Luhan?" tanyanya sebelum Kyungsoo bisa melanjutkan.
"Ya, dia memang seperti itu. Asal kau tau saja, tadi sebelum kau datang moodnya memang tidak bagus. Dia bahkan memaksaku untuk kembali saat aku baru saja datang bersama… Jongin." Kyungsoo berdeham pelan. "Jangan dimasukan ke hati. Kalau kau sudah mengenalnya, dia anak yang baik."
"Kau pikir begitu?" tanyanya tak yakin sambil menyeruput tehnya pelan. Kyungsoo mengangguk yakin, teh buatan Minseok benar-benar membantu, dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Ya, aku yakin sekali akan hal itu. Satu hal lagi yang perlu kau tau, dia tidak akan memberikan kudapan buatannya pada orang yang dia tak suka."
Dia bisa melihat wajah Baekhyun yang terlihat lega saat mendengarkan hal itu, dia langsung mencoba blue velvet buatan Luhan yang memang tak ada tandingannya. Kyungsoo hanya terkekeh saat saat melihat bagaimana ekspresi Baekhyun saat blue velvel buatan Luhan masuk ke dalam mulutnya. Dia sudah tak aneh dengan ekspresi itu, semua pengunjung café yang mencoba kudapan mereka berdua akan mengeluarkan ekspresi yang sama dan itulah alasan mengapa dia menyukai pekerjaanya saat ini.
"Ini luar biasa." Gumam Luhan tak henti menyuapkan kuenya ke dalam mulut. Kyungsoo hanya bisa tersenyum mendengarnya. "Sekarang aku mengerti kenapa Jongin menyuruhku untuk datang kemari."
Oh Tuhan, tidak untuk yang satu ini.
Kyungsoo hanya bisa tersenyum dan bingung untuk menanggapinya. Berterima kasihlah dia saat ada pelanggannya masuk. Dia hendak berdiri saat Minseok secara tiba-tiba keluar dari dapur dan mengisaratkannya untuk kembali duduk tapi dia menggeleng dan menutup mata, memohon. Dia ingin mengalihkan pembicaraan tentang Jongin.
"Sebentar," ujarnya pada Baekhyun sebelum bangkit.
Dia memaksa diri untuk bangkit dan masuk ke dapur untuk membawa pesanan. Dia bisa melihat Luhan hendak menyemburkan omelannya tapi dia dengan cepat dia mengisyaratkan untuk kembali menutup mulutnya, Luhan hanya menurut dan mendesah nafas panjang. Yixing menyiapkan lava cake untuk pelanggannya.
"Biarkan aku disini sebentar." Bisiknya sambil duduk di pantry. Luhan kembali sibuk dengan pekerjaannya membuat pie strowberi.
"Apa yang kalian bicarakan sampai-sampai kau harus kabur?" tanya Luhan dengan nada datar. Dia tau Luhan masih kesal dengan tingkah lakunya yang tidak mau menurut, tapi sungguh dia baik-baik saja dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Dia baru saja menyinggung Jongin dan aku sama sekali bingung apa yang harus bereaksi bagaimana. Kau tau, rasanya sangat aneh bagaimana kau harus mengobrol dengannya. Hubungan yang rumit diantara kita membuatku merinding." Jawabannya cukup untuk membuat Luhan menengok.
"Kau tau sendiri hal semacam ini akan terjadi." Timpalnya cepat.
Kyungsoo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak yakin berbicara dengan Luhan sekarang tak akan menemukan jalan untuknya, jelas sekali Luhan masih tidak suka keberadaannya disini, hari ini. Akhirnya dia memilih untuk kembali keluar sambil membawakan pesana untuk pelanggan. Dia akan berbicara dengan Luhan lagi nanti.
Baekhyun masih duduk di tempatnya saat dia keluar, namun piringnya sekarang sudah kosong tak berisi. Kyungsoo memberikan pesannan itu pada pelanggang sebelum kembali duduk bersama Baekhyun. Wanita itu sibuk dengan ponselnya untuk beberapa saat, menggerakan kedua ibu jarinya dengan cepat mengetik sesuatu.
"Sepertinya kau terlihat sibuk, ada pekerjaan hari ini?" tanya Kyungsoo saat Baekhyun menjejalkan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu menganngguk dan menyeruput tehnya yang tinggal setengah.
"Ada pemotretan hari ini dan modelnya berulah." Ujarnya singkat.
Jongin pernah mengatakan bahwa Baekhyun bekerja sebagai cheff editor di salah satu majalah fashion Korea. Sudah tidak aneh kalau wanita itu terlihat sangat modis dan sibuk. Dia tipe wanita mandiri yang akan mengerja cita-citanya apapun halangannya.
Itu juga yang menjadi alasan mengapa dia dan Jongin tidak penah melangkah lebih jauh, apalagi membawa hubungan mereka ke pernikahan. Mereka memiliki komitmen rumit yang tak di mengetri dirinya. Tapi siapalah Kyungsoo? Dia tidak berhak ikut campur dalam hal seperti ini terlebih lagi dia sudah cukup menyulitkan Jongin dengan menarik pria itu dalam pernikahan seperti ini.
"Kau akan pergi?" tanya Kyungsoo saat bangun dari lamunanya. Baekhyun mengangguk dengan wajah menyesal. Kyungsoo hanya mengangguk pelan, memberikannya sebuah senyuman. Dia dengan meminta tolong pada Minseok untuk membungkuskan red dan blue velvet untuk Baekhyun.
"Sungguh ini tidak perlu." Ucap Baekhyun saat Kyungsoo memaksa untuk memberikan cake itu.
"Lain kali kau harus mampir lebih lama, kau belum mencoba kue lain yang kita buat." Ujar Kyungsoo mengantar Baekhyun sampai pintu.
"Dan kau harus berjanji untuk ikut saat aku akan mentraktirmu makan siang bersama." Sambutnya dengan riang. Kyungsoo hanya mengangguk dan membalas pelukan singkat Baekhyun sebelum membiarkan wanita itu pergi.
Kyungsoo melambaikan tangannya saat Baekhyun memberikannya klakson pelan. Dia terus berdiri di ambang pintu sampai mobil Baekhyun hilang di persimpangan jalan. Dia menghela nafas panjang sebelum kembali ke kafe.
Saat dia hendak kembali ke dapur Luhan dan Minseok langsung menahannya dan menyeret dia keluar. Yixing mengikuti dari belakang dan membantu membuka pintu mobil. Kyungsoo seperti tengah diculik atau semacamnya. Mereka bahkan tidak membiarkannya untuk protes.
Luhan dengan cepat mengunci pintu mobil dan menyalakan mesin sementara Kyungsoo menepuk-nepuk kaca mobil mencoba meminta tolong pada Minseok dan Yixing untuk tetap berada di kafe tapi kedua sahabatnya itu sama sekali tidak membantu. Mereka malah melambaikan tangan dan bergumam. "Kau membutuhkan istirahat yang banyak."
Kyungsoo tidak mau menyerah dia mencoba untuk merayu Luhan dan mengatakan seribu kali bahwa dia baik – baik saja, tapi Luhan langsung memberikannya pandangan menakutkan dan mendorongnay untuk bersandar pada jok. Dia menyentuh keningnya dan mendengus pelan.
"Kau demam, Do Kyungsoo." Dengusnya membuat Kyungsoo ikut menyentuh keningnya sendiri. Dia memang merasa bahwa keningnya sedikit hangat dan kepalanya terasa berdenyut pelan tapi sejauh ini dia masih bisa berdiri dan bernafas dengan baik. Tidak ada yang benar-benar serius.
"Tapi sungguh Luhan aku baik-baik saja." Belanya.
Mereka berhenti saat lampu merah. Luhan menatapnya dengan pandangan yang menakutkan. "Kau mau aku membawaku ke dokter?" tanyanya, lebih terdengar seperti sebuah ancaman untuk Kyungsoo.
Kyungsoo menelan ludah dan menggeleng pelan. "Terima kasih tapi tidak, aku tidak membutuhkan dokter untuk hal sepele ini. Aku hanya demam, hanya itu."
"Hanya?" decaknya kembali melanjutkan mobil saat lampu berganti menjadi hijau.
"Sungguh Luhan, aku ingin kembali ke kafe." Ucapnya mencoba untuk kembali membujuk Luhan saat mereka kembali berhenti di lampu merah.
Belum terlalu jauh untuk memutar balik dan kembali ka kafe tapi Luhan menatapnya lama sampai akhirnya dia berujar sesuatu. "Kau ingin aku menelphone Chanyeol?"
Kyungsoo membeku menatap sahabatnya itu.
Chanyeol.
Entah sudah berapa lama dia tidak berhubungan dengan saudaranya itu. Terakhir dia berbicara dengan Chanyeol adalah sebelum menaiki altar dan menjadi seorang istri. Chanyeol tidak pernah benar-benar hadir di pernikahannya. Pria itu menghilang saat dia berada di atas altar dan dari sejak itu dia tidak pernah lagi bertemu sekalipun dengan kakaknya. Chanyeol masih marah dengan keputusannya menikah dengan Jongin.
Dan beberapa minggu lalu, secara mengejutkan dia datang ke rumah dan mengetuk pintu dengan wajah yang sama seperti dilihatnya saat di pernikahan.
"Chanyeol, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya saat menemukan pria tinggi itu di depan pintunya, tapi Chanyeol tak menjawab dia hanya mendesah nafas panjang dan semua ketegangan di wajahnya seketika itu hilang. Pria tinggi itu menaiknya pelan dan membawanya ke dalam pelukan.
Entah sudah berapa lama dia tidak mendapatkan pelukan sehangat ini. Lima bulan pindah ke Korea dia merasa tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan pelukan hangat Chanyeol.
"Siapa soo?" suara itu mengintrupsi mereka. Chanyeol melepaskan pelukannya pelan dan menatap Jongin yang sedang mencoba memasangkan dasinya. Dia bisa melihat rahang Chanyeol yang kembali mengeras dan keterkejutan di mata Jongin.
Dia yang berdiri di belakang Chanyeol mengedip pelan mencoba memberikan sinyal untuk Jongin. "Chanyeol." Jawabnya mencoba untuk terdengar sebiasa mungkin. Dia berjalan dengan langkah santai-mungkin- dan menghampiri Jongin, membantu pria itu mengenakan dasinya.
'Tolong aku' gumamnya menatap Jongin tanpa menghentikan pergelangan tangannya.
Beruntungnya Jongin mengenti tanda itu dia tersenyum dan mengusak kepalanya sesaat setelah dasi itu terpasang. "Kenapa aku tidak mengajaknya masuk? Kita bisa sarapan bersama." Ujarnya membalikan tubuh Kyungsoo dan merangkul pinggangnya untuk sama-sama menatap Chanyeol yang masih membeku di ambang pintu.
Kyungsoo menghela nafas panjang dan berjalan kembali menghampiri Chanyeol, merangkul tangannya dan membawanya masuk. Pria tinggi itu menatap dengan heran seolah-olah dia sedang melakukan hal bodoh.
"Biar aku tebak, kau belum sarapankan?" tanyanya Kyungsoo bersikap manis untuk meluluhkan ketegangan Chanyeol yang terlihat dari bahunya. Pria itu mengangguk kaku. "Okay biar aku siapkan, sebentar."
Saat Jongin hendak menghampiri Chanyeol, ponselnya berdering pelan membuat Kyungsoo ikut menatapnya. Dia membalas tatapan Kyungsoo sebentar dan pergi untuk menerima panggilan. Kyungsoo berharap itu bukan sebuah panggilan darurat atau semacamnya.
"Apa yang kau lakukan soo?" Chanyeol mulai bersuara saat dia menyiapkan sarapan.
Kyungsoo tersenyum dan duduk disampingnya. "Menyiapkan sarapan apa lagi?" tanyanya seolah-olah tidak mengerti.
"Kau benar-benar menjalani pernikahan ini dengan pria itu?" tanyanya seakan tidak teralihkan oleh candaan Kyungsoo.
"Ada yang salah dengan hal itu? Dan 'pria itu' yang kau maksud memiliki nama, Jongin. Panggil dia Jongin. Bersikaplah baik, aku ini istrinya." Bisik Kyungsoo sambil mengedipkan mata. Tapi Chanyeol hanya mengerlingkan mata dan menyentil keningnya. Kyungsoo membulat hendak membalas tapi senyuman tipis di wajah Chanyeol membuatnya terhenti.
"Oh… kau ingin memulainya?" tanya Kyungsoo, dia membalas menyentil kening pria itu dan untuk beberapa saat mereka terus melakukannya sambil tertawa. Seperti yang selalu mereka lakukan saat berada di New York.
Sampai akhirnya Jongin kembali sambil menundukan wajahnya mengetik sesuatu pada ponsel. "Sesuatu terjadi?" tanya Kyungsoo. Jongin menggelang, memberikan senyum tipisnya.
"Hari ini aku akan lembur di kantor dan mungkin akan pulang larut malam. Jangan menungguku okay?" ujar Jongin duduk disampingnya. Kyungsoo berpura-pura kecewa namun kepalanya mengangguk membuat Jongin mengelus rambutnya.
Chanyeol menatap mereka dengan pandangan curiga tapi Jongin hanya memberikannya senyuman tipis dan memulai sarapannya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Jongin pada Chanyeol.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Jawabnya ketus. Kyungsoo langsung mengingatkan kakaknya itu.
Untuk sesaat tak ada percakapan diantara mereka, hanya denting sendok dan piring yang bersentuhan sampai akhrinya Jongin bergumam sesuatu yang mengejutkan. "Kau tidak pernah menyukaiku, bukan?"
Kyungsoo dan Chanyeol menatapnya terkejut. Tentu saja. Jelas. Sekali. Chanyeol tidak menyukainya dan Kyungsoo tidak mengerti apa motif Jongin mengungkit masalah ini.
Chanyeol tersenyum seakan senang dengan pertanyaan barusan. "Bisa dibilang seperti itu. Kau merenggut kebahagiaan adikku."
"Tapi aku tidak merasa ada seseorang yang mengambil kebahagiaanku." Timpal Kyungsoo mencoba berujar sama santainya seperti kedua pria ini. Chanyeol menaikan alisnya seakan tak percaya.
"Kau yakin?" tanya memastikan.
Kyungsoo menaruh peralatan makannya dan memeluk Jongin tiba-tiba berharap kalau pria itu akan memaafkannya nanti, namun diluar dugaan Jongin membalas pelukannya sambil tertawa. "Kau liat? Kita pasangan serasi," ujarnya sambil menjulurkan lidah. Dia melepaskan pelukannya dan melanjutikan makan, "Lagi pula apa salahnya menikah dengan Jongin? Dia baik, pintar, tampan…" Kyungsoo berpura-pura menutup mulutnya dan berdiri memukul Chanyeol dengan sendoknya.
"Lihat! Kau membuatku mengatakan yang seharunya tidak aku katakan. Oh tidak," rancaunya menatap Jongin dengan wajah yang memerah dan menyembunyikan wajahnya.
Chanyeol hanya mengerlingkan mata dan bertatapan dengan Jongin yang masih terlihat santai. Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka dengan santai, Chanyeol bertanya tentang keadaanya setelah menikah dan Kyungsoo harus sedikit emosi karena Chanyeol yang pergi begitu saja dan datang kembali dengan seenaknya. Dia menceritakan kafe yang sedang dijalankannya bersama Luhan, Minseok dan Yixing dan menceritakan detail lain kehidupannya saat Chanyeol menghilang.
"Kau yang membuat kebahagiaanku berkurang," ujar Kyungsoo membereskan sarapan mereka sementara Chanyeol hanya memainkan cangkir kopinya. "Kau yang mengacaukan segalanya dengan menghilang dari hidup adikmu, bodoh." Lanjut Kyungsoo memukul pundaknya dan berjalan mendekati Jongin, membantu pria itu memakai jas nya.
Kyungsoo membawa tas kantor Jongin dan meninggalkan Chanyeol di meja makan. Dia menghela nafas panjang saat berjalan dibelakang Jongin yang berbicara sesuatu tentang kerja lembur, dia tidak bisa benar-benar mendengarkan karena pikirannya yang berantakan. Sampai akhirnya mereka diambang pintu dan Jongin berbalik menatapnya.
"Kau baik-baik saja?" bisik pria itu sedikit merunduk menatapnya. Kyungsoo menghela nafas dan mengasngguk menyerahkan tasnya.
"Aku hanya terkejut karena dia datang begitu saja. Aku harap kau mengerti dengan sikapnya yang bodoh itu."
Jongin terkekeh pelan dan mengusak kepalanya. "Pernikahan ini membuatmu dalam masalah besar bukan?" bisiknya. Kyungsoo menatapnya untuk sesaat mencoba mencari jawaban dari pertanyaan itu.
"Aku hanya ingin membuat dia berhenti mengkhawatirkanku. Aku sudah terlalu banyak menjadi beban untuk Chanyeol dan jawaban untuk pertanyaan barusan adalah tidak," Kyungsoo menghela nafas panjang. "Dengan tinggal di Korea aku tidak perlu merepotkan mom, dad, terutama Chanyeol. Kau tau terkadang dia terlalu overprotective untuk seorang kakak. Mungkin dengan cara ini aku bisa lari darinya." Kekeh Kyungsoo mencoba untuk mencairkan suasana.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Kyungsoo terdiam sesaat sambil mengusap wajahnya yang lusuh. "Kau tau, aku hanya ingin Chanyeol percaya bahwa kita…." Kyungsoo tidak tau bagaimana cara untuk menyampaikannya. Dia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menyelesaikan kalimatnya.
Jongin mengangguk tanda mengerti, tangannya mengelus lembut kepala Kyungsoo sampai akhrinya berakhir di pipi. "Kau ingin membuatnya percaya," bisik Jongin semakin merundukan kepalanya. Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti saja membuat Kyungsoo membulatkan matanya. Dia hendak mundur namun tangan besar yang menangkup pipinyalah yang membuat dia berhenti dan menatap bola mata coklat dihadapannya. "Aku harap ini akan membuat dia percaya." Bisiknya. Sebelum Kyungsoo bisa mencerna apa yang diucapkannya, Jongin menarik wajahnya dan mempertemukan bibir mereka.
Entah apa yang terjadi namun sebelah tangan Jongin yang memegang tas menariknya pinggangnya maju, membuat bibir mereka terpaut semakin dalam. Perlahan Jongin menciumnya, lembut dan begitu menghanyutkan. Entah keberanian darimana, Kyungsoo menutup matanya dan membiarkan sang pria mengendalikannya, membiarkan Jongin membawanya terhayut dalam tautan manis yang menyesatkan pikiran.
Kyungsoo membuka matanya perlahan saat tautan itu perlahan terlepas, menatap Jongin yang masih berada begitu dekat, jantungnya berpacu dengan kencang dan wajahnya nyaris merah sempurna layaknya tomat. Pria itu berbisik pelan sebelum mengangkat wajahnya. "Chanyeol melihat semuanya."
Oh….
Dia hampir saja lupa pada fakta bahwa Chanyeol ada disana. Tentu saja, barusan itu adalah salah satu bagian dari drama kehidupannya bersama Jongin. Dia hampir saja lupa bahwa mereka sedang berakting. Tapi Kyungsoo langsung mengangguk dan kembali ke perannya.
"Aku akan merindukanmu." Ujarnya dan memeluk pria tinggi itu mencoba untuk menyembunyikan ekspresinya. Jongin kembali terkekeh dan membalas pelukannya, mengatakan sesuatu tentang aku akan pulang cepat dan sebagainya. Sesuatu yang menjadi dialog dalam pentas drama mereka.
"Bye," satu kata itu yang akhirnya bisa ditangkap Kyungsoo. Dia melambaikan tangan pada mobil BMW hitam milik Jongin yang berlahan keluar dari halaman rumahnya.
Kyungsoo menghela nafas berat dan menutup pintu dengan gerakan melambat mencoba untuk menyembuyikan wajahnya sebelum berbalik dan kembali memainkan perannya dihadapan Chanyeol. Dia berdoa semoga Chanyeol percaya dengan semua ini.
"Oh ya Tuhan," Kyungsoo berpura-pura terkejut saat berbalik dan menemukan Chanyeol tengah bersandar pada tembok sambil memegang cangkir kopinya. "Apa yang kau lakukan disana? Kau mengintipnya bukan? Dasar mesum." Lanjut Kyungsoo berdecak pinggang dan mengerlingkan mata, berjalan kembali ke dapur. Dia bisa mendengar langkah kaki pelan Chanyeol yang perlahan mengikutinya.
"Kau membiarkan dia menciummu seperti itu?" Akhirnya Chanyeol bersuara, kini dia berdiri disamping Kyungsoo yang sedang membersihkan piring. Kyungsoo hanya mendengus pelan dan tidak terganggu oleh keberadaan pria tinggi itu disampingnya.
"Kau berbicara seolah-olah kau ahlinya." Desis Kyungsoo.
Selama beberapa saat hanya terdengar dentingan piring dan desisan air yang keluar dari kran. Chanyeol masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya, pria itu seakan sibuk dengan kopi dan pikirannya sendiri dan Kyungsoo, dia tidak ingin menjadi orang yang membuka percakapan.
"Aku ingin memastikan kau baik-baik saja." Chanyeol lah yang kembali memulai percakapan mereka tepat setelah semua cucian di wastafel selesai dicuci. Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya dan menggantungkan apronnya.
"Kau bisa melihatnya, aku baik-baik saja." Jawab Kyungsoo santai, menarik kursi meja makan dan menepuk kursi kosong disampingnya, menyuruh Chanyeol untuk duduk disampingnya. Pria itu menurut dan meletakan gelasnya sebelum duduk disamping Kyungsoo.
Chanyeol memiringkan sedikit kursi kayu itu agar dia bisa bertatap dengan adiknya. "Sudah lama kita tidak bertemu bukan?"ujarnya sambil tersenyum. Kyungsoo menopang dagunya dengan sebelah tangan dan menatap malas Chanyeol.
"Yups. Terakhir kali kita bertemu saat dimana adikmu ini menjadi wanita yang paling cantik sejagad raya." Sindirnya. Chanyeol hanya tersenyum tipis dengan sindiran itu.
"Kau jelas tau alasan aku pergi." Ujarnya ikut menopang dagu seperti yang dilakukan Kyungsoo.
Kyungsoo memutar bola matanya. "Alasan bodoh." Timpalnya dengan nada kesal.
Chanyeol menarik kursinya untuk lebih dekat dan menangkup pipi Kyungsoo agar mata mereka bisa bertatapan. Kyungsoo tentu saja terkejut tapi dia memilih untuk diam dan menatap balik kakaknya. Dia tau, Chanyeol sedang mencari sesuatu di matanya dan dia hanya bisa berharap apapun yang dilihat Chanyeol sesuai dengan harapannya.
"Apa kau bahagia?"
Itu adalah pertanyaan yang keluar dari bibir Chanyeol setelah sekian lama mereka bertatapan. Namun Kyungsoo tak menjawab, dia hanya menatap mata Chanyeol lebih lama. Membiarkan pria itu mencari jawabannya sendiri.
"Kau bisa mencari jawabannya sendiri." Bisik Kyungsoo tak melepaskan tatapannya.
Perlahan kedua tangan Chanyeol dan menangkup pipinya mulai meragang dan melepaskannya, namun mata mereka masih bertatapan satu sama lain seakan Chanyeol tidak yakin dengan apa yang ada dipikirannya.
"Katakan satu hal yang bisa membuatku untuk berhenti mengkhawatirkanmu." Ucapnya dengan nada tegas yang membuat Kyungsoo sedikit goyah. Namun dia tidak perlu berpikir lama untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu karena sejak awal dia memang sudah memilikinya.
"Aku mencintainya."
Itu adalah hari terakhir dimana dia bertemu dengan Chanyeol. Setelah hari itu, Chanyeol kembali ke New York dengan sebuah senyuman tipis dan kelegaan yang terlihat dari wajahnya. Saat itulah Kyungsoo bisa menghela nafas panjang karena bisa membuat kakaknya itu percaya dengan pernikahan ini dan sejak saat itu mereka saling memberikan kabar lewat email atau terkadang saat memiliki waktu mereka akan menghabiskan waktu dengan video call atau semacamnya.
"Kau ingin aku menelphone Chanyeol?" Luhan kembali bertanya membuat menarik kembali dirinya dari lamunan panjang.
Kyungsoo menghela nafas panjang dan menatap sahabatnya itu. "Jangan melibatkan dia dari masalah sepele ini. Dia sedang sibuk, kau tau itu." Jawabnya tanpa tenaga. Kilasan kenangan itu membuat pikirannya kacau.
"Andai saja dia tau bagaimana kehidupanmu sekarang, mungkin dia sudah melemparkan Jongin dari atas kantornya."
Kyungsoo hanya terkekeh untuk beberapa saat dan kembali menatap ke luar jendela. Sebuah kilasan masa lalu tiba – tiba saja menghampiri benaknya.
.
.
.
Kyungsoo yang memutuskan untuk menyetuji pejodohan ini, walau Chanyeol masih keras kepala menolaknya tapi tentu saja Kyungsoo bersikeras untuk melanjutkan. Sang ayah akhirnya mengadakan acara makan malam untuk mempertemukan dia dengan calon suaminya karna kebetulan mereka sedang berada di New York.
"Kau bodoh."
Itu yang setiap kali Chanyeol ucapkan saat mereka berada di meja makan, namun Kyungsoo hanya menjulurkan lidah dan mengabaikan semua rancauan Chanyeol. Luhan yang duduk di sampingnya hanya menggeleng dan pelan manatap pria tinggi itu, menyuruhnya untuk berhenti karna tentu saja berteriak tidak akan menyelesaikan masalah.
Dan Kyungsoo akan bertingkah seperti biasa untuk mengisi liburannya kali ini, membuat cake, cookies dan beberapa kudapan lainnya. Pergi berbelanja, menghabiskan hari di kafe favoritenya sampai hari itu datang,
"Kita akan makan malam besok." Ujar ayahnya.
Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya begitu juga dengan Chanyeol. Dia menatap kakaknya yang terlihat kesal hendak menyemburkan emosi. Luhan yang berada di sampingnya melakukan hal yang sama, dia bahkan bisa merasakan ketegangan yang tiba – tiba saja menghampiri meja makan.
"Dad, kita batalkan penjodohan bodoh ini,"
"Kau yang bodoh," Sela Kyungsoo kembali melanjutkan makan malamnya. "Aku bahkan bersemangat untuk bertemu pria itu. Mungkin saja dia tampan."
Chanyeol mendengus dan bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah walau ibu dan ayahnya sudah memanggilnya berkali-kali. Begitulah Chanyeol, keras kepala tapi Kyungsoo seakan tak terganggu dan melanjutkan makannya dengan santai.
"Stop staring at me like that Mom, Dad. I'm fine, so is he." Ujarnya saat ayah dan ibunya menatap dia dengan khawatir. "Tak perlu ada yang di khawatirkan, kita akan makan malam bersama dan aku akan bertemu dengannya."
Ayahnya masih menatapnya dengan ragu seakan merasa bersalah. "Kau yakin? Kita bisa membatalkannya sebelum lebih jauh."
Kyungsoo tersenyum dan menggeleng pelan, "Tidak perlu, daddy bilang dia tampan bukan? Apa salahnya untuk mencoba? Jika memang dia mengerikan aku pasti akan kabur duluan." Candanya.
Setidaknya candaannya barusan dapat meluluhkan kekhawatiran di wajah ayah dan ibunya. Namun keraguan entah mengapa malah datang merayapi hatinya yang sudah hampir teguh menerima semuanya.
Luhan menatapnya dengan mata yang disipitkan tapi Kyungsoo hanya menaikan bahunya dan kembali melanjutkan makan malam, seakan tidak terganggu oleh apapun. Dia mencoba untuk tetap bertahan walau sejujurnya jauh di lubuh hatinya yang paling dalma dia merasa takut dengan pilihan yang di buatnya kali ini.
"Aku butuh dress baru untuk makan malam. Kau akan menemaniku mencari dress baru bukan?" tanya pada Luhan yang seakan masih tidak percaya dengan keputusannya tapi dia mengangguk dan tak berkata apa – apa, mungkin karna ada ibu dan ayah yang Kyungsoo yang masih terlihat cemas.
...
Kyungsoo dan Luhan sudah berada di salah satu butik langanan mereka, tengah memilih baju seperti apa yang akan di pakainya nanti saat bertemu dengan pria yang akan menjadi suaminya. Kelak. Kyungsoo tidak benar – benar memilih, dia hanya melihat dan mengerakan tangannya seolah – olah tengah mencari pakian namun nyatanya pikirkan dia tengah pergi entah memikirkan apa.
"Kita bisa membuat rencana jika kau memang tidak bisa melanjutkan perjanjian bodoh ini." Ujar Luhan yang entah sejak kapan ada di hadapannya. Kyungsoo mengerjap dan menatap sahabatnya itu linglung. "Sedari tadi kau hanya melihat – lihat tanpa benar – benar memilih. Apa yang kau pikirkan Soo?"
"Aku baik-"
"Berhenti berdusta. Sudah berapa lama aku mengenalmu Do Kyungsoo? Kau tidak bisa membodohiku sepetri itu. Tidak bisakah kau berkata jujur padaku untuk yang satu ini? Kau tau aku ingin membantu tapi jika kau terus seperti ini aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan untukmu Soo." Selanya cepat sebelum Kyungsoo menghindar dan mengalihkan topik.
Mereka akhinya pergi dengan sebuah dress yang dipilih Luhan. Sebuah dress dari Dolce and Gabbana dress selutut berlengan panjang, berwarna hitam dengan motif flower print di seluruh kainnya. Kyungsoo tidak begitu perduli dengan dress yang akan dikenakannya nanti karna pikirannya terlalu sibuk memikirkan banyak hal.
Sedangkan Luhan membeli little black dress dari chanel yang simple untuk dipakainya nanti malam. Kyungsoo ingin sahabatnya itu berada disana untuk memberinya semangat dan tentu saja Luhan tidak keberatan dengan hal itu karna dia juga ingin berada di sana dan melihat semuanya.
Luhan yang membantunya untuk sampai di sebuah café dan memesan secangkir espresso. Kyungsoo masih melamun bahkan saat seorang pelayan tampan mencoba untuk mengantarkan pesanan mereka. Luhan yang berada di hadapannya hanya mendesah pelan dan menyentuh lengannya.
"Soo…"
Barulah dia mengerjap menatap sahabatnya dengan terkejut tak sadar kalau sedari tadi dia melamun. "Aku bisa menyuruh orang untuk berpura – pura menculikmu dan membatalkan makan malam besok. Aku yakin Chanyeol dengan senang hati membantu."
Kyungsoo tersenyum dan menyeruput espresso-nya. Dia tidak pernah tau Luhan memiliki ide – ide gila di otaknya. "Sejak kapan kau berkomplot dengan Chanyeol?" tanyanya.
Luhan mendesah dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Dia menatap Kyungsoo untuk beberapa saat sebelum kembali mencondongkan badannya.
"Kau tidak tau betapa Chanyeol mengkhawatirkanmu Soo. Seperti apa katamu dia mencoba membuatku bekerja sama untuk menghentikan rencana gila ini."
Kyungsoo hanya terdiam mendengarnya, dia tau pasti Chanyeol akan melakukan apapun untuk membatalkan acara makan malam mereka tapi ini tidak boleh terjadi. Dia tidak ini Chanyeol berulah dan merusah renacanahnya. "Kau yang mau aku berkata jujur bukan?" Luhan mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu aku akan jujur" katanya. "Aku masih ragu dengan semuanya, terlebih lagi dengan perjodohan inu. Sekarang bukan lagi jaman kerajaan yang putrinya akan di jodohkan dengan anak teman raja, aku tau itu tentu saja tapi Lu, kau juga harus mengerti kalau aku ingin membantu,"
"Dengan mengorbankan dirimu?" sela Luhan.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan. Dengan pernikahan ini setidaknya perusahaan daddy tidak akan bangkrut. Selama ini aku merasa tidak pernah melakukan apapun untuk mereka jadi sekarang biarkan giliran aku yang membalasnnya Lu.
"Mungkin mereka bisa mencari cara lain untuk tetap bertahan dan aku yakin Chanyeol bisa mencari cara lain itu." Sela Luhan yang mulai gemas. Kyungsoo hanya tersenyum dan menggeleng pelan seberapapun ragu dirinya, dia tidak akan membatalkan rencana ini. Dia tidak ingin keluarganya berada dalam kesulitan lebih lama lagi.
"Tidak Lu, aku tidak bisa membiarkan mereka berada dalam kesulitan sementara aku disini bisa membantu."
Luhan berdecak lidah dan memutarkan bola matanya, dia bergumamn tentang sesuatu yang tidak begitu bisa ditangkap Kyungsoo karna wanita itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku tidak mengerti kenapa kau harus sampai di jodohkan segala?" komennya.
Kyungsoo hanya menaikan bahunya, dia sendiri tidak mengerti mengapa perjanjian ini harus sampai membawa perjodohan dan hal – hal semacam ini. Setidaknya mungkin nanti malam dia akan menemukan jawabannya.
Untuk beberapa menit Luhan sibuk dengan kudapannya sementara Kyungsoo masih mengaduk – ngaduk espressonya dengan mata yang menerawang, kembali melamun. Luhan yang duduk di sebrang seakan membiarkan dia menikmati lamunanya sendiri.
"Hey Soo… kau mau berjanji padaku?" tanya Luhan membuatnya mengerjap.
"Hm? Janji seperti apa yang kita bicarakan disini?"
Luhan meletakan sendoknya. "Berjanji padaku jika dia berniat macam – macam kau harus segera memberi tauku." Kyungsoo tertawa ringan mendengarnya.
"Aku yakin dia bukan orang seperti itu." Katanya.
"Hey, mungkin saja maksud dari pernikahan ini adalah untuk menjodohkan anaknya yang psikopat karna mungkin dia selalu membuat wanita – wanita di sekitarnya ketakutan."
Kyungsoo kembali terkekeh. "Aku yakin daddy tidak memiliki teman dengan anak yang seperti kau bicarakan." Jawab Kyungsoo masih terkekeh. "Mungkin sebaiknya kau harus berhenti menonton serial drama dektektif favoritmu Lu, kau mulai mengada – ngada."
"Hey Do Kyungsoo, siapa tau dugaanku benar. Jika memang anaknya kaya kenapa harus repot – repot mencari jodoh? Ini bukan jaman kerajaan yang masih harus menjodohkan putri dan pangeran." Komennya gemas.
"Baiklah baiklah. Aku berjanji jika memang dia terlihat sepetri psyco aku akan segera mengatakannya padamu dan jika dia memang benar – benar seorang psyco aku harap dia jatuh cinta padamu."
"Hey!"
Kemudian kedua orang wanita itu tertawa bersamaan dan perlahan menyingkirkan topic perjodohan ini dari pembicaraan mereka, mulai berbicara tentang cita – cita mereka berdua yang ingin memiliki café dan semacamnya.
"Kau sudah siap Soo?" terdengar ibunya memanggil dari lantai bawah. Kyungsoo sudah mengenakakn dress pilihan Luhan dan sahabatnya itu memang tidak pernah salah seoal pakaian. Dress hitam itu terlihat begitu lucu di tubuhnya.
Tapi bukan dress yang dilihatnya dari pantulan cermin itu tapi dirinya. Diamelihat dirinya apakah dia sudah siap mengambil keputusan ini atau tidak, namun jika dia ingin lari dari segalanya, ini sudah sangat terlambat, dia tidak memiliki pilihan lain selain datang menemui pria yang akan dijodohkannya.
"Hey." Luhan membuka pintu kamarnya membuat Kyungsoo menengok tanpa ekspresi. "Kau baik – baik saja?" tanya sahabatnya itu. Kyungsoo tersenyum tipis dan mengangguk kembali memandang pantulan dihadapannya.
"Ya, aku hanya sedikit gugup. Apa dia akan menyukaiku?" tanya Kyungsoo mearih cluch kecil berwarna silver yang sudah disiapkannya. Luhan yang sedang bersandar di daun pintu hanya menghela nafas pelan.
"Apa kau bercanda?" tanyanya sambil menaikan alisnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Kyungsoo seakan tidak mengerti dan melihat pantulan dirinya di kaca sekali lagi.
"Semua pria pasti memandangmu mengenakai pakaian itu, Soo." Jawarabnya malas.
Dia menatap Luhan yang mengenakan little black dress yang pas di tubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuh Luhan yang sempurna.
"Mungkin kau harus mengatakna itu pada dirimu sendiri." Timpal Soo menghampiri sahabatnya. Luhan menatap dirinya sendiri dan tersenyum.
"Setidaknya aku akan berpura – pura menjadi kekasih Chanyeol hari ini." Dia mengedipkan matanya. Kyungsoo tertawa mendengar rencana itu, bagaimana mungkin Luhan dan Chanyeol menjadi sepasang kekasih, bahkan untuk berpura – pura pun itu terdengar sangat lucu.
"Siapa yang memiliki ide gila itu?" tanya Kyungsoo sata mereka berjalan menuruni tangga.
"Dia, tentu saja. Aku setuju karna dengan begitu psyco itu tidak akan meliriiku karna ada Chanyeol yang terlihat seperti raksasa." Jawabnya riang.
Mereka turun ke bawah dan menemukan ayah, ibu dan Chanyeol sudah menunggunya. Chanyeol menatapnya dengan malas seakan tidak suka dengan keputusannya tapi Kyungsoo mencoba untuk mengabaikan hal itu.
"Kalian akan berpura – pura menjadi kekasih?" tanya Kyungsoo saat Chanyeol bangkit dari kursinya. Luhan mengangguk dan menggandeng lengan Chanyeol riang.
"Iya, bukan begitu kekasihku?" tanyanya dengan genit sambil mengedipkan mata, Kyungsoo dan kedua orang tuanya tidak tahan untuk tidak tertawa.
Chanyeol berdecak tapi pria itu tertawa pelan. Dia melepaskan gandengan Luhan dan merangkul pundak Luhan, menariknya sedikit kasar. "Haruskan kita membuatnya menjadi kenyataan?" tanya Chanyeol tak kalah genit membuat Kyungsoo tertawa semakin keras. Luhan tersenyum sinis dan menyikut perut Chanyeol agar pria itu melepaskan rangkulannya.
"Dalam mimpimu jerapah." Ujarnya ketus sambil menjulurkan lidah menarik Kyungsoo untuk yang masih sibuk tertawa untuk berjalan keluar rumah terlebih dahulu sedangkan Chanyeol di belakangnya masih tersenyum menggelikan.
Kyungsoo sudah duduk di meja makannya selama sepuluh menit namun teman ayahnya belum terlihat datang, dia mulai ragu kalau pria yang akan dijodohkan dengannya menolak. Belum – belum dia merasa dicampakan begini.
"Sepertinya mereka tidak akan datang." Ujar Chanyeol yang duduk dihadapannya dengan seriangan gembira. Hal itu membuat Kyungsoo semakin khawatir, bagaimana jika memang pria itu tidak pernah datang, lalu bagaimana dengan ayahnya? Bagaimana dengan perusaan mereka.
Kyungsoo mulai paranoid.
Sampai akhirnya ada seseorang yang memanggil ayahnya dengan cukup keras membuat mereka semua mendongak. Ayahnya berdiri dan tersenyum lebar menjabat pria tinggi berkulit kehitaman itu.
"Minho…" ujarnya seraya memeluk pria paruh baya itu.
"Maaf terlambat, kita sempat tersesat."
Kemudian kedua orang pria itu sibuk berbicang – bincang tengang jalanan New York yang tak bisa diprediksi sementara Kyungsoo sibuk menatap pria dengan pakaian rapi layaknya jamuan makan malam. Pria itu menatapnya sesaat dan memberikan senyuman tipis sebelum Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan berdiri dari kursi.
"Jadi ini Kyungsoo?" tanya wanita paruh baya.
"Ya." Jawab Kyungsoo sopan membungkukan badannya tanda hormat. Dia mencoba untuk kembali menggunakan bahasa Korea yang sudah lama tidak dipakai.
"Neomu yeppo." Ujar wanita itu sambil berjalan untuk memberikannay sebuah pelukan.
"Kamsahabnida."
Dia tidak tau apakah bahasa Korea nya masih sebagus dulu atau mungkin terdengar sedikit mengerikan di telinga mereka tapi Kyungsoo sudah melakukan sebisanya, dia sudah melakukan yang terbaik.
"Hallo." Sapa pria itu.
Pria dengan wajah tegas dan mata gelap yang membuat Kyungsoo harus menahan nafasnnya beberapa saat sampai akhirnya pria itu mengulurkan tangannya.
"Hallo." Sapa Kyungsoo menjabat tangan itu dengan kikuk.
"Kim Jongin." Ujar pria itu sebelum melepaskan tangan mereka.
"Do Kyungsoo."
"Nama yang cantik." Komentarnya singkat memberikan senyum kemudian berpindah pada Luhan di sebelahnya. Dia melihat bagaimana Chanyeol menatap pria bernama Jongin itu tak suka. Kyungsoo sampai harus memperingatkannya dengan cara menggeleng pelan. Dia bersumpah akan menendang bokong kakaknya jika pria itu mengacaukan makan malam mereka.
Mereka semua mulai mencari tempat duduk dan entah mengapa pria bernama Jongin itu duduk di sampingnya sedangkan Luhan berpindah duduk di hadapannya berdampingan dengan Chanyeol. Mereka semua mulai sibuk dengan obrolan basa – basi yang sudah biasa terjadi di jamuan makan malam seperti ini, sedangkan Kyungsoo beberapa kali mencuri pandang pada pria di hadapannya. Mencoba memprediksi pria semacam apa Kim Jongin itu.
"Jadi bagaimana Jongin?" tanya ayahnya tiba – tiba membuat Kyungsoo menatapnya.
"Maaf?" tanya Jongin yang sama terkejutnya.
"Bagaimana dengan Kyungsoo?"
"Oh," pria itu tersenyum dan pandangan mereka bertemu. "Dia cantik seperti apa yang dibicarakan ayah." Jawabnnya singkat dan kembali tersenyum.
Chanyeol hendak menyela tapi Kyungsoo dengan cepat menggeleng pelan menatapnya. Berterima kasihlah karna Luhan duduk di samping pria tinggi bodoh itu. Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan kembali menatap pria di sampingnya itu.
"Terima kasih," Jawabnya singkat.
Jongin membelas senyumnya dan kembali mengalihkan pandangan, ikut berbicara dengan ayahnya tentang hal – hal remeh. Kyungsoo masih bingung bagaimana harus bereaksi ketika orang tua mereka mulai berbicara tentang perjodohan, dia bisa melihat bagaimana rahang Chanyeol yang menegang. Dia menetap Luhan berharap sahabatnya itu bisa mengendalikan Chanyeol.
"Mungkin kalian membutuhkan waktu berdua." Ujar Minho.
"Iya, tentu saja mereka membutuhkannya." Ujar seorang wanita yang masih terlihat muda di sampingnya. Kyungsoo mengenal wanita itu, karna dia pernah melihatnya di album foto ibunya. Namanya Taemin.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Jongin yang tiba – tiba bertanya padanya. Kyungsoo membulatkan mata saat semua orang menatap padanya, seketika itu dia tidak bisa berkata – kata seakan semua kalimatnya tercekat di ternggorokan.
"Well…." Kyungsoo hanya bisa mengatakan itu tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Mungkin benar. Aku membutuhkannya." Sela Jongin saat sadar Kyungsoo tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan menatap Luhan yang menatapnya sambil menaikan alis.
"Kau memiliki waktu besok siang?" tanya Jongin beberapa saat kemudian kembali menatapnya. Kyungsoo kembali terjut dan menatap pria di sampingnya itu dengan kening berkerut.
"Ya?" tanya Kyungsoo seakan otaknya tidak bisa memproses pertanyaan itu.
"Kau memiliki waktu untuk besok siang?" tanya pria itu mengulang kalimatnya sambil tersenyum. Kyungsoo menatap pria itu dengan jutaan pertanyaan di kepalanya.
"Tentu." Jawabnnya kikuk.
Semua orang di meja itu tertawa melihat tingkahnya terkecuali Chanyeol yang menatap Jongin seakan tak suka. Dia melihat Luhan menyentuh lengannya dan menatap pria itu berusaha untuk membutanya sadar.
"Jadi ini kekasih anakmu?" tanya Minho menatap Chanyeol dan Luhan yang bertatapan. Kedua orang itu sadar kalau mereka sedang dibicarakan langsung menatap pria paruh baya itu bingung. Luhan yang pertama bereaksi dia tersenyum dan kembali menatap Chanyeol memastikan pria itu sudah sadar.
"Begitulah." Jawab Chanyeol singkat membuat Kyungsoo dan Luhan menghembuskan nafas panjang.
Chanyeol langsung memutuskan topic tentang hubungannya dengan Luhan dan membicarakan hal lain. Sang ayah yang mengerti langsung membantunya mengalihkan topic pembicaraan dan kembali tertawa karna lelucon yang di keluargan Minho.
Kyungsoo terbaring di kamarnya, Luhan tidak ada disana. Sahabatnya memutuskan untuk memberi dia waktu untuk berpikir dan kembali mempertimbangkan segalanya. Kyungsoo menatap langit – langit kamarnya yang di cat berwarna biru muda, dia masih mengenakan gaun yang tadi dipakainya saat makan malam, make up masih menempel di wajahnya tapi wanita itu seakan tidak berniat untuk membersihkannya. Dia masih melamun memikirkan makan malam barusan.
"Dia terlihat baik." Gumamnya lebih pada dirinya sendiri.
Kyungsoo berguling dan membenamkan wajahnya di bantal, untuk berapa saat dia tetap pada posisinya sampai akhirnya dengan malas dia menyeret tubuhnya menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya dengan piama. Dia membutuhkan tidur yang banyak malam ini.
"YA TUHAN KYUNGSOO" Suara Luhan yang membuatnya terbangun. Kedua mata Kyungsoo masih terasa berat, rasanya sulit sekali untuk membuka mata.
"Ada apa?" gumamnya kembali menarik selimutnya.
"KAU MEMPUNYAI JANJI DENGAN PRIA BERNAMA KIM JONGIN ITU!"
Barulah Kyungsoo membuka matanya dan menatap jam di atas nakas di samping tempat tidurnya. Dua jam lagi sebelum dia berangkat menemui Jongin.
"Oh dear"
Tanpa memperdulikan Luhan yang berdecak pinggang di sampingnya dia langsung melesat ke kamar mandi, dengan cepat dia mengikat rambutnya dengan asal dan menggosok gigi. Dia menepuk jidatnya sendiri dan membuka pintu menemukan Luhan berada di depan lemari bajunya.
"Pilihkan aku-"
"Aku tau," Sela sahabatnya cepat. "Cepat mandi!" teriaknya membuat Kyungsoo mengangguk dan kembali ke kamar mandi.
Satu setengah jam kemudian Kyungsoo sudah cantik dengan dress dari Dior pilihan Luhan. Entah sudah berapa kali dia menatap pantulan dirinya di depan cermin dan meyakinkan dirinyasendiri kalau tidak ada yang salah dengan pakaiannya.
"Sampai kapan kau akan berdiri disana? Kita akan terlambat" ujar Luhan yang entah sejak kapan sudah kembali ke kamarnya.
Luhan mengenakan kemeja putih seetrough yang di padukan dengan ripped jeans yang membuatnya terlihat begitu simpel namun seksi. Kyungsoo harus mengakui kalau sahabatnya itu memiliki selerea fashion yang tinggi, jauh melebihi dirinya.
"Okay, I'm ready." Jawabnya menatap pantulan di cemin sebelum mengikuti Luhan keluar.
Kyungsoo sudah sampai di cafe tempat dia dan Jongin akan bertemu. Dari luar sini, dia bisa melihat Jongin duduk di ujung ruangan sibuk memainkan ponsel. Dia sengaja mengulur waktu dan menatap mobil Luhan yang menembus kemacetan jalan sampai hilang di perbatasan.
Dia menghelan nafas panjang sebelum menarik pintu kaca dengan bingkai kaca yang mengelyarkan bunyi kerincing saat dia masuk. Jongin tidak menyadari keberadaanya sampai dia berdiri di hadapan pria itu.
"Hallo." Sapanya kikuk.
Jongin terlihat terkejut saat menatapnya tapi kemudian senyuman itu terlihat. "Hai, sudah datang rupanya." Ujarnya bangkit dan membantunya menarik kursi.
Sejujurnya Kyungsoo tidak memerlukan perlakukan seperti ini, dia tidak biasa di perlukan layaknya wanita – wanita dalam drama. Rasanya menggelikan.
"Sudah menunggu lama?" tanyanya.
Jongin menggeleng pelan dan memberikan senyum singkat. "Aku juga baru saja sampai. Kau ingin memesan sesuatu?" tanya pria itu menyodorkan menu. Kyungsoo dengan cepat memilih pesanannya, karna dia tidak begitu yakin apakah dia akan ingat dengan makannya hari ini.
"Jadi bagaimana harimu?" tanya Kyungsoo mencoba untuk mengurangi ketegangan pada dirinya sendiri.
"Hariku baik, mungkin karna aku akhirnya aku bisa berlibur sebentar." Ujarnya santai. "Bagaimana denganmu? Ngomong – ngomong bagaimana aku harus memanggilmu?"
Kyungsoo menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Aku terlambat bangun dan beruntung aku memiliki Luhan yang mengingatkanku dan kau bisa memanggilku Kyungsoo seperti yang lain."
Jongin terkekeh mendengar jawabannya, pria itu menatap jam yang melingkar di tangannya sebelum berujar. "Baiklah Kyungsoo, boleh aku menanyakan satu hal?"
"Tentu."
Obrolan mereka terhenti saat seorang waiters menghampiri untuk memberikan pesanan mereka. Kyungsoo menarik minumannya dan menyeruputnya hati – hati mencoba untuk tidak terlihat betapa gugup dirinya.
"Kenapa kau setuju dengan perjodohan ini?"
Kyungsoo tau pertanyaan ini akan muncul tapi dia tidak tau kalau Jongin akan bertanya secepat ini dan mendahuluinya, jujur saja Kyungsoo sempat berpikir untuk bertanya hal yang sama namun dia merasa terlalu dini untuk menanyakan hal – hal semacam ini, tapi sepertinya Jongin tidak sependapat.
"Well... aku mencoba untuk menemukan jawaban yang tepat." Ujarnya tapi Jongin tersenyum mendorong gelasnya ke samping.
"Aku tidak ingin mendengar jawaban yang tepat, aku ingin kau mengatakan hal yang pertama kali terpikir olehmu." Ucap Jongin. Kyungsoo bisa melihat bagaimana kilat penasaran yang ada di kedua mata gelap itu.
"Jika itu yang kau inginkan," ujarnya kembali menarik nafas panjang. "Karna aku tidak memiliki pilihan lain. Apa salahnya mencoba bukan?"
Jongin tidak bereaksi untuk beberapa saat, pria itu hanya menatapnya dalam keheningan yang menegangkan. Untuk sesaat Kyungsoo berpikir kalau dia sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.
"Apa itu yang pertama kali terpikir dalam benakmu?" Tanya Jongin beberapa saat kemudian. Kyungsoo hanya bisa mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Jongin yang seakan mengintimidasi, atau mungkin ini hanya perasaannya saja yang membuat pikiran – pikiran aneh berkelebat di otaknya.
"Kau tau sebenanarnya kita tidak perlu melakukan ini jika kau menolak. Apa kau tidak penasaran kenapa ayahku memiliki ide gila ini?"
Ya, Kyungsoo tau kalau dia bisa menolak, Kyungsoo tau kalau dia bisa pergi meninggalkan ide bodoh ini tapi pikirannya yang sedang kacau hanya bisa melakukan hal –hal yang tidak kalah bodohnya.
"Kau tau aku tidak bisa menolak. Seperti apa yang aku katakan sebelumnya, aku tidak mempunyai banyak pilihan," Kyungsoo menatap Jongin sesaat, mencoba membaca ekspresi pria dihadaannya itu tapi Jongin masih terlihat santai, hanya kilatan dimatanya yang membuat dia berbeda. "Kau ingin mendengar apa yang Luhan katakan sebelum kita bertemu makan malam kemarin?"
Jongin seakan tau apa yang akan dikatakannya, pria itu menahan tawa dan bertanya. "Apa itu?"
"Dia pikir mungkin alasan ayahmu menjodohkan kita karna-mungkin saja kau seorang psikopat atau seseorang yang memiliki masalah kejiwaan yang berbahaya."
Jongin tertawa mendengar jawabannya dan sesuatu yang aneh terjadi, Kyungsoo ikut tertawa bersamanya seakan tawa Jongin dapat menular dengan mudah.
"Jadi menurutmu apa aku terlihat seperti itu?"
Kyungsoo menyandarkan tubuhnya dan menatap Jongin, berpura – pura mengobservasi pria itu. Sudut bibirnya terangkat saat Jongin menaikan sebelah alisnya sambil menahan tawa.
"Aku tidak bisa memberikan penilaian secepat itu tapi yang membuatku lega adalah satu hal," Kyungsoo menggantungkan kalimatnya, mengulum bibir menahan tawa karna sesuatu yang barusan singgah di otaknya.
"Apa itu?-Oh sebentar, jangan katakan..."
"Kau bukan seorang gay." Sela Kyungsoo tanpa menggubris ucapan Jongin sebelumnya. Pria itu membelalakan mata tapi sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah garis melingkar.
"Oh Tuhan,"erangnya menutup mata sambi terkekeh pelan. "Lalu apa yang membuatmu berpikir kalau aku bukan seorang gay? Kau baru mengenalku dalam beberapa jam saja."
Kyungsoo menggeleng, dia mulai merasa nyaman dengan percakapannya bersama Jongin. "Bukan hal yang sulit. Jika memang kau seorang gay, kau pasti tidak akan mengalihkan pandanganmu dari Chanyeol semalam tapi aku lihat kau bersikap wajar."
Dia melihat bagaimana Jongin mengulum bibirnya menahan tawa, pria itu mencondongkan tubuhnya sambil menaikan sebelah alis. "Karena dia membawa kekasihnya." Bisik Jongin sambil mengedipkan kedua mata dengan gerakan lambat berpura – pura kecewa.
Kini Kyungsoo yang tidak bisa menahan tawanya. Jongin ikut tertawa bersamanya, melupakan tatapan heran dari beberapa pengunjung yang duduk tak jauh dari meja mereka.
"Aku tidak pernah menyangka kau orang yang lucu."
Jongin menyilangkan kedua tangannya di dada seolah – olah dia bangga dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Aku memiliki begitu banyak kejutan, mungkin salah satunya akan membuatmu terkejut,"
"Oh? Benarkah? Apa itu sampai – sampai membuatku pingsan?"
Jongin menghela nafas panjang, menurunkan kedua tangannya dan kembali mencondongkan tubuh. "Kau akan mengetahuinya nanti. Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal,"
"Apa itu?"
"Berhati – hatilah untuk tidak jatuh cinta padaku."
Sekelebatan itu entah kenapa tiba – tiba saja menyapa benaknya. Kilasan beberapa bulan lalu, saat mereka pertama kali bertemu. Saat dia pertama kali mengenal sosok Kim Jongin yang sekarang menjadi suaminya. Kyungsoo berpikir kalau ucapan Jongin dulu itu hanya sebuah candaan tapi ternyata...
Tidak.
"Apa yang kau pikirkan?" Suara Luhan mengintrupsi lamunan panjangnya. Wanita itu menatapnya dengan kening berkerut dan Kyungsoo baru saja sadar kalau sedari tadi mesim mobil sudah dihentikan. Kyungsoo melepaskan sabuknya, melihat mobil Luhan sudah sampai di depan rumahnya.
Luhan membantunya masuk dan memastikan dia berbaring di tempat tidur dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya sampai dagu. Luhan juga tidak lupa menyediakan air minum, berbagai jenis macam kudapan manis yang sengaja di bawa dari kafe dan beberapa obat pengurang rasa sakit yang mungkin membantu.
"Dimana ponselmu Kyungsoo?" Sambil memastikan semua pada tempatnya. Dia menarik tangannya keluar dari dalam selimut dan mengacungkan ponselnya tapi itu tidak cukup untuk menurunkan kerutan di keningnya, Luhan mulai mengigiti kuku dan kembali berjalan mengelilingi kamar, kembali mengecek semua hal. "Apa kau yakin kau akan jika aku tinggal? Kau tidak akan tiba-tiba pingsan atau semacamnya bukan?"
Salah satu kebiasan Luhan saat dia panik adalah menjadi wanita paling paranoid di dunia. Seperti sekarang ini dan terkadang itu menjadi tontonan yang menarik untuknya. "Luhan berhenti," ujarnya pelan membuat Luhan menghentikan langkahnya. "You're being paranoid. Again."
Luhan mengangguk dan menurunkan tangannya dan menarik nafas panjang. "am I?" tanya seolah memastikan. "Okay, kalau begitu pastikan kau tidak berulah dan telephone aku ketika kau merasa sudah seperti zombie."
"Yes ma'am."
Terkadang Luhan bisa jadi sahabat bagik, tempat bertengkat yang seru atau ibu yang overprotective seperti sekarang ini. Sahabtnya itu hanya tersenyum tipis dan memeluknya ringan sebelum melambai dan menutup pintu kamarnya.
Akhirnya Kyungsoo bisa sendiri di kamarnya dan meringkuk di bawah selimut tebalnya, sedari tadi yang dia butuhkan adalah kasur dan selimut. Perutnya semakin terasa sakit seakan ada yang menusuk-nusuk tapi dia cukup kuat untuk menahannya dan ini bukan sebuah alarm yang menandakan dia membutuhkan seorang dokter.
Kalau saja dia masih tinggal di New York, semua orang pasti sudah sibuk keluar masuk kamarnya setiap detik hanya untuk memastikan dia tidak pingsan atau semacamnya. Terutama Chanyeol yang akan memaksa dia untuk makan dan menjanjikan semangkuk ice cream di kedai favoritenya jika dia sembuh nanti.
Untuk sesaat dia merindukan saudara tingginya itu dan berpikir untuk menelphone dan mengabarkan kalau kini dia sedang meringkuk di kasur dengan perut yang terus berdenyut. Dia ingin tau bagaimana reaksi Chanyeol jika tau dia sakit seperti ini, apa dia akan langsung mengambil penerbangan pertama untuk ke Korea atau malah mengejeknya yang sekarang jauh dari rumah, tapi melihat bagaimana hubungannya bersama Jongin, dia mengurungkan niatnya. Dia sudah terlalu banyak menyulitkan Chanyeol dan tidak berniat untuk menambah beban lain lagi untuk saudaranya itu. Untuk saat ini dia hanya harus berusaha lebih keras untuk bertahan.
.
.
.
Ruanganya berada di lantai 7 bangunan kantornya yang tepat berada di pusat kota. Salah satu bangunan pencakar langit yang sengaja di rancang oleh seorang arsitek ternama sekaligus rekan dekat ayahnya. Jongin masih sibuk di dalam ruangannya dengan tumpukan berkas yang akan menjadi temannya seharian ini. Di ruangannya yang cukup luas terdapat meja panjang dengan kursi dimana dia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan satu set sofa yang diletakan di ujung kanan ruangan. Warna abu dan putih mendominasi ruangannya dengan wangi lavender dari pangharum ruangan yang di pasang sekertarisnya.
Ponselnya bergetar pelan membuat dia mengalihkan pandangannya untuk mengecek pesan dari siapa yang barusan masuk dan nama Baekhyun lah yang muncul disana. Dia meregangkan tubuhnya sebelum membaca pesan masuk dari kekasihnya itu.
Tadi aku mampir ke kafe dan mendapatkan cake yang menakjubkan. Kau benar, Kyungsoo memang sangat baik :D tapi dia telihat sangat pucat, kau tau itu? dan temannya yang bernama Luhan terlihat tidak menyukaiku. Oh, hari ini aku akan sibuk seharian dan kau tidak perlu menjemputku, aku akan lembur hari ini. Don't forget your lunch dear, love ya.
Dia terdiam sesaat saat membaca pesan itu mencoba mencerna beberapa kalimat disana. Sampai akhirnya dia mengetik sebuah jawaban singkat.
Sudah aku katakana kau akan menyukai Kyungsoo dan semua masakannya. Iya, tadi pagi dia memang telihat lemas dan pucat. Aku akan mampir ke kafe untuk menjemput Kyungsoo nanti sore, kau yakin akan lembur hari ini? Dan Luhan? Dia memang seperti itu, tenang saja kau akan terbiasa nanti. So you and don't forget to have dinner later. Love you too.
Saat pesan itu terkirim, dia kembali meletakan ponselnya diatas meja dan dan memutar kursinya mengarah ke jendela besar ruangannya yang menampilkan pemandangan pusat kota Seoul yang sangat sibuk. Untuk sesaat pikirannya melayang pada kondisi Kyungsoo, apa dia baik-baik saja di kafe? Apa dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit? Dengan tubuh Kyungsoo yang mungil dia khawatir jika wanita itu tiba-tiba tidak bisa menompang tubuhnya dan ambruk sedangkan di kafe hanya ada tiga orang wanita yang jauh berbeda kurusnya dengan Kyungsoo dan dia merasa bersalah karna membiarkan wanita itu datang ke kafe.
Jongin kembali menatap tumpukan berkasnya dan jam yang melikar di tangannya bergantian, menimbang apakah dia membutuhkan makan siang atau harus menundanya sedikit lebih lama dan menjemput Kyungsoo dari kafe. Setelah lama berpikir akhirnya dia menghela nafas panjang dan memutuskan untuk menarik berkas lain yang harus dikerjakannya.
.
Seperti apa perkiraanya, dia dapat menyelesaikan semua pekerjaan bahkan sebelum langit malam turun. Senja dengan warna indigonya masih menghiasi langit hari ini dan tanpa berpikir panjang dia bergegas membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kantor lebih awal. Yang dia pikirkan sekarang hanya membawa Kyungsoo ke rumah sakit secepatnya.
Entah sudah berapa kali dia menghela nafas panjang dan mendesah nafas pendek karena kemacetan kota yang membuatnya kesal. Dia sudah menyelipkan mobilnya setiap kali ada celah tapi itu sama sekali tidak membantu dan perjalanannya ke kafe memakan waktu lebih lama dari biasanya.
"Aku sudah mengantarkan Kyungsoo pulang tadi." Jawab Luhan saat dia sampai di kafe. "Kyungsoo terlihat pucat, jadi aku menyeretnya pulang. Aku sudah coba membujuknya untuk pergi ke rumah sakit tapi dia dan rumah sakit bukanlah teman baik, kau tau? Kyungsoo tidak pernah menyukai rumah sakit, dia lebih baik meringkuk kesakitan di kasur dari pada harus pergi ke rumah sakit dan menegak obat." Jelasnya.
Jongin tidak pernah tau Kyungsoo membenci rumah sakit dan obat-obatan. Hal itu seakan menyadarkannya bahwa dia tidak mengenal Kyungsoo dengan baik dan melihat bagaimana fakta bahwa mereka tinggal bersama membuatnya merasa bersalah.
"Bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Luhan saat mengantarnya ke depan pintu.
"Ya?" tanyanya sambil membalikan badan.
Entah apa itu tapi Luhan terlihat sangat ragu dan khawatir. "Ajak Kyungsoo untuk pergi ke dokter, mungkin saja dia akan mendengarkanmu dan jika-jika saja terjadi sesuatu, hubungi aku." Ucapnya masih dengan ekspresi khawatir yang sama. "Kyungsoo selalu menahan semuanya sendiri, dia tidak ingin menyulitkan orang lain tapi kau tau…"
"Ya, dia memang seperti itu." Timpalnya saat Luhan tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Luhan mengangguk dan meremas kedua tangannya terlihat cemas. "Bisakah menelphoneku jika terjadi sesuatu padanya?" tanyanya saat Jongin membuka pintu mobil.
"Tentu, kau tak perlu cemas. Aku akan menjaganya."
Dia benar-benar serius saat mengatakan akan menjaga Kyungsoo tapi tak bisa dipungkiri Luhan menatapnya dengan keraguan yang terlihat sangat jelas. "Aku akan menelphone jika terjadi sesuatu." Ujarnya cepat membuat Luhan akhirnya mengangguk dan memberikannya sebuah senyuman tipis.
Jongin membunyikan klaksonnya dan disambut oleh ambaian tangan Luhan yang terlihat dari spion mobilnya. Pikirannya kembali pada Kyungsoo yang sendiriian di rumah, dia tidak bisa membayangkan jika wanita itu menahan sakitnya sendiri di kasur dan ragu untuk meminta bantuan karena takut hal itu akan menyulitkannya.
Dan sialnya dia baru bisa sampai setengah jam kemudian karena terjebak macet di jalan. Dia sudah berusaha menyelipkan mobilnya dan mencari jalan pintas tapi tetap saja kemacetan Seoul tidak bisa dihindari. Tanpa berpikir panjang dia memakirkan mobilnya asal dan berlari kecil menuju rumah.
Saat masuk dia langsung melempar tasnya ke sofa dan berlari kecil ke lantai dua. Pintu kamar Kyungsoo sedikit terbuka, dia mengintip sambil mengetuk pelan pintu itu. Dia melihat Kyungsoo sedang meringkuk di bawah selimutnya dengan keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Hey soo…" ujarnya tanpa menunggu sang pemilik ruangan menyuruhnya masuk.
Kyungsoo membuka matanya dengan berat. "Hi," jawabnya parau memberikannya senyuman tipis yang tak kentara.
"Kau terlihat…" semua katanya seakan tak mau keluar.
"Seperti zombie?" tanya Kyungsoo masih bisa bercanda disaat seperti ini. Dia berusaha untuk duduk tapi Jongin dengan cepat menahannya dan duduk di sisi kasur menatap Kyungsoo yang terlihat lemas. Tubuhnya basah diguyur keringat dan wajah yang biasa bersemu merah muda itu kini terlihat begitu pucat.
"Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Ajaknya sambil bangkit dari kasur.
Tapi Kyungsoo seakan ragu, dia tidak berkutik dari kasur dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Takut? Ragu? Kesakitan? Jongin bukan seseorang yang pandai membaca ekspresi tapi setidaknya dia tau Kyungsoo tidak menyukai idenya. "Luhan sudah mengatakannya, kau tidak suka rumah sakit tapi aku…" ujarnya kembali duduk menggenggam tangan Kyungsoo yang terasa berkeringat dingin.
"I promised you something, remember?"
.
.
.
"I promised you something, remember?"
Kyungsoo merasa jantungnya berhenti untuk beberapa detik kemudian kembali berderup tak karuan, bukan karena sakit yang di rasakannya tapi karna ucapan yang baru saja keluar dari seorang pria yang berstatus suaminya dan pria itu baru saja membangkitkan memorinya tentang pernikahan mereka dimana keduanya mengucapkan janji suci diatas pernikahan palsu mereka. Kyungsoo, dia menyangka bahwa itu hanya sebuah formalitas yang sudah disepakati keduanya, dia pikir itu tak akan berarti apa apa untuk hubungan mereka yang sepert ini tapi Jongin, dia membuatnya seakan semua janji itu bermakna seakan mereka menjalani sebuah pernikahan normal bukan hanya dua orang manusia yang terikat dengan status.
Jongin meremas lembut tangannya seakan mencoba meyakinkan Kyungsoo yang masih bimbang akan segalanya tapi senyuman itu meruntuhkan segala pertahanannya, membuat dia percaya begitu saja hanya dengan senyuman itu. Dia pun setuju. Dia memutuskan untuk percaya dengan segala janji yang pernah terucap saat pernikahan mereka,walau dia tau suatu saat nanti keputusannya ini akan menyakitinya.
"Biar aku bantu berdiri."
Tapi tubuhnya terlalu lemas dan sakit di perutnya seakan bertambah parah. Kyungsoo bahkan tidak kuat untuk menompang tubuhnya sendiri. Dia meringis kesakitan saat mencoba untuk bangkit, perutnya seakan di tusuk oleh belati saat dia mencoba untuk bangkit.
"Oh Tuhan, seharunya tadi aku tidak membiarkanmu pergi ke kafe." Gumam Jongin tak begitu jelas karna sakit di perutnya membuat perhatiannya tidak bisa teralih bahkan hanya untuk bisa menangkap apa yang Jongin ucapkan.
Pria itu menyuruhnya menunggu dan berlari meninggalkan kamar dengan langkah besar. Kyungsoo kembali berbaring di kasurnya sambil memegang perutnya yang terus berderit sakit. Dia tidak mengerti apa yang salah dengan perutnya sampai bisa sakit seperti ini.
Jongin kembali dengan kemeja yang sedikit berantakan, beberapa titik keringat muncul di dahinya. "Kau bisa bertahan sedikit lebih lama?" tanya sambil mengangkat tubuh Kyungsoo hati-hati seakan dia sepihan kaca yang retak. Dia mengangguk dan mencoba menahan sakitnya saat Jongin mengangkat tubuhnya. Seberapa hati-hati dan pelannya Jongin, perutnya tetap saja merasakan sakit.
"Maaf." Gumamnya saat tak sengaja Kyungsoo meringis. Dia menggeleng pelan dan membiarkan Jongin menggendongnya, untuk saat ini dia tidak bisa berpikir apapun selain rasa sakit di perutnya. Perlahan Jongin mendudukannya di jok mobil dan menarik joknya kebelakang mencoba untuk membuatnya nyaman.
Jongin tidak banyak bicara, bahkan saat mereka menembus jalanan kota yang perlahan mulai sepi. Saat mereka sampai Jongin kembali menggendongnya sebelum dua orang suster menarik brankar Jongin membaringkan tubuhnya perlahan dan membantu dua suster itu mendorong brankar untuk sampai di UGD.
"Kau akan baik-baik saja." bisiknya saat mereka masuk ke UGD, meremas tangannya pelan dan berjalan mundur saat seorang dokter berjalan kearah mereka. Kyungsoo membiarkan dokter itu memeriksanya sementara dia menutup mata membayangkan dia berada di tempat lain, bukan di rumah sakit dengan erangan dan jeritan kesakitan yang membuatnya semakin pening.
Dokter itu menekan tapat di bagian muculnya sakit itu dan berbicara sesuatu yang tak jelas pada suster. Kyungsoo menutup mata saat sang suster mengeluarkan jarum dan bau-bau menyengat yang tak disukainya tercium entah berasal dari mana. Dia merasakan sesuatu menembus punggung tangannya dan dia mencoba untuk tidak perduli dengan apa yang dilakukan suster itu.
Kyungsoo berharap kalau dia akan baik-baik saja dan bisa meninggalkan tempat ini dalam hitungan jam tapi kemudian dia mendengar suara tirai di geser untuk menutupinya, dan suara brangkar. Datang tepat di sampingnya yang disambut erangan pelan dari seorang wanita. Inilah yang tidak dia sukai dari rumah sakit terlebih lagi UGD, karena disinilah semua orang dengan erangan kesakitan, cucuran darah dan pertarungan antara hidup dan mati dibawa.
Dia membuka mata dan tak melihat Jongin dimanapun, begitu juga suster dan dokter yang tadi sempat memeriksanya. Saat dia hendak bangkit, Jongin muncul dari balik tirai dan langsung menahannya untuk berdiri.
"Apa kata mereka?" tanya Kyungsoo menelan ludah. Jongin tidak langsung menjawab tapi duduk sambil mengusap keningnya pelan. "Apakah seburuk itu?" tanyanya lagi sambil menelan ludah.
Tolong jangan itu, tolong jangan, jangan….
"Usus buntu," ujarnya pelan.
Kyungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mencerna dua kata itu. "Apa aku harus…" Jongin mengangguk bahkan sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
"Mereka bilang ini bukan oprasi besar jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan."
Kyungsoo diam untuk beberapa saat, oprasi adalah hal yang paling dia takuti di dunia ini dan entah takdir macam apa yang Tuhan gariskan untuknya sampai dia sendiri yang harus mengalaminya. Kyungsoo masih terdiam lama menatap dinding dihadapannya. Pikirannya memikirkan banyak hal sampai dia lupa Jongin masih duduk disampingnya. Pikirannya kembali berputar pada beberapa hari kebelakang, mengingat apa saja yang masuk ke perutnya, sampai semua ingatannya terkumpul dia hanya bisa mendesah nafas panjang. Mungkin semua ini memang salahnya yang makan sembarangan.
"Aku butuh persetujuanmu," ucap Jongin mengalihkan perhatiannya. Kyungsoo menatapnya masih dengan keraguan dan ketakutan yang sama. Pria itu meraih tangannya dan menghela nafas panjang. "Kau akan baik-baik saja, soo. I promise."
Itu kali pertamanya Jongin memanggilnya dengan nama pendek dan hal bodoh itu yang membuat semuanya semakin rumit dan kenapa harus terjebak disaat-saat seperti ini? Dilema karna hal-hal bodoh yang disebabkan dirinya sendiri.
"Okay?" dia kembali bertanya saat Kyungsoo tak kunjung memberikan jawaban.
Akhirnya dengan anggukan pelan, Jongin tersenyum dan meremas lembut tangannya namun detik berikutnya dia kehilangan genggaman itu. Jongin bangkit hendak kembali meninggalkannya tapi sebelum pria itu keluar, Kyungsoo memintanya untuk menghubungi Luhan, Minseok dan Yixing. Disaat seperti ini, dia perlu ketiga wanita itu untuk berada disampingnya karna dia terlalu pengecut untuk menghadapi rumah sakit dengan segala bau dan alat-alat mengerikannya terlebih lagi untuk menghadapi ruang oprasi.
.
.
.
Jongin begitu lega saat Kyungsoo menganggukan kepalanya. Dilihat dari bagaimana Kyungsoo menatap ruangan UGD, dari cara dia menutup mata untuk menghindari jarum infus dan bagaimana helaan nafas berat yang terus keluar, tampak jelas bagaimana Kyungsoo membenci rumah sakit. Tadinya dia bingung bagaimana cara menyampaikan berita bahwa wanita itu harus menjalani oprasi karna tentu saja tanpa perlu ditanya Kyungsoo pasti tidak suka dengan ide itu tapi tentu saja mereka tidak mempunyai banyak pilihan, karena oprasi menjadi jalan satu-satunya.
"Hey!" sebuah suara familiar terdengar saat dia sedang menyelesaikan administrasi. Saat melirik kebelakang Luhan datang dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana Kyungsoo?" tanyanya saat mereka sudah berdiri berhadapan.
Jongin menjelaskan keadaan Kyungsoo yang ketakutan dan membiarkan Luhan menemuinya di ruangan UGD sebelum dia dibawa ke ruang oprasi. Luhan langsung berlari kecil menuju ruang UGD dengan ponsel yang menelpel di telinganya. Jongin menduga dia sedang berbicara dengan Minseok atau Yixing.
Jongin bersyukur setidaknya Kyungsoo memiliki teman-teman yang begitu memperhatikannya di Korea karena yang dia tau, Kyungsoo sudah lama menetap di New York dan datang ke Korea hanya beberapa kali dalam setahun. Dia tidak tau apa yang akan terjadi jika Luhan, Minseok dan Yixing tidak ada disini.
Saat kembali, dia menemukan Yixing dan Minseok sudah ada di UGD bersama Luhan menemani Kyungsoo yang masih terlihat tegang. Mereka bertiga mencoba untuk membuat rileks dengan menceritakan beberapa jokes dan terkadang mereka juga mengomeli Kyungsoo atau merecoki Kyungsoo agar tidak makan sembarangan.
Sang dokter mengatakan padanya kalau oprasi akan dilakukan lima belas menit lagi dan Jongin tidak yakin apakah waktu lima belas menit cukup untuk membuat Kyungsoo lebih rileks karna walau dia tersenyum, mata bulatnya tidak bisa menyembunyikan bagaimana kecemasan itu melanda dirinya.
Jongin menginstrupsi pembicaraan ke empat wanita itu dan mengatakan bahwa oprasinya akan dilakukan lima belas menit lagi. Dia melihat bagaimana mata Kyungsoo yang membulat sempurna dan bahu yang menenang. Luhan yang pertama mencairkan suasana dan mengatakan kalau Kyungsoo akan baik-baik saja tapi sepertinya itu tidak membantu, ketegangan masih terlihat sama di wajah Kyungsoo.
"Hey," ujarnya mendekat dan berdidi disisi lain kasur, bersebrangan dengan Luhan, Minseok dan Yixing. "Apa yang dikatakan teman-temanmu benar, kau akan baik-baik saja soo."
Kyungsoo menatapnya dengan mata bergetar seakan sebentar lagi akan menitihkan butir kristal. Jongin tidak tahan untuk tidak menggengam tangannya. Dia mencoba untuk meyakinkan Kyungsoo kalau tidak ada apapun yang harus ditakutkannya. "You'll be fine, okay?" ujarnya sekali lagi sambil meremas jemari kecil di genggamannya itu.
Kyungsoo mengangguk bertepatan dengan seorang suster masuk menghampiri mereka. Semua orang langsung berjalan munduk memberikan ruang. Suster berbicara sesuatu pada Kyungsoo sambil tersenyum, mungkin mencoba menangkan atau semacamnya kemudian menyuntikan sesuatu pada tubuh Kyungsoo. Kemudian seorang suster lain datang untuk membantunya mendorong brangkar menuju ruang oprasi.
Jongin ikut membantu mendorongnya. Kedua mata Kyungsoo perlahan mulai berat tapi sebelum wanita itu benar-benar tak sadarkan diri, dia merasakan tangan mungil berkeringat dingin itu menyentuhnya pelan dan dia mendengar Kyungsoo bergumam pelan, terlalu pelan sampai hanya seperti sebuah bisikan angin.
"Stay."
Jongin mengangguk singkat dan membiarkan suster itu membawa Kyungsoo ke ruang oprasi sementara dia dan teman-temannya menunggu di luar.
.
.
.
Kyungsoo tidak yakin seberapa lama dia sudah terlelap tapi yang dia tau kepalanya terasa pening dan sesuatu yang aneh terasa pada bagian perutnya. Saat mencoba membuka mata dia baru ingat kalau dia masih ada di rumah sakit dan baru saja menjalankan sebuah oprasi kecil itulah sebabnya dia merasa ngilu di perutnya.
Orang yang pertama kali dilihatnya adalah Luhan dia tidak menemukan yang lain di ruangan serba putih dengan bau kamper itu. Dia ingin bangkit dan duduk tapi tubuhnya sama sekali tidak mendukung. "Apa yang kau lakukan?" pekik Luhan saat dia hendak bangkit.
Kyungsoo menyerah dan kembali berbaring menatap ketangan kanannya yang di tancapi infusan dengan cairan yang mengantung di samping tempat tidurnya. "Aku hanya mencoba bergerak." Elaknya. Luhan tidak menerima alasannya itu dan berdecak pinggang sambil berdiri disampingnya tapi kemudian ekspresinya mencarin dan menarik kursi agar bisa duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
Kyungsoo menghela nafas menutup mata, memikirkan keadaannya saat ini. "Entahlah. Sakitnya sudah hilang memang, tapi aku merasakan yang lain disini." Dia menunjuk tepat dimana dokter itu membedahnya.
"Itu hanya sementara soo, kau tau hanya sedikit bekas jahitan." Jawabnya santai.
Kyungsoo mengangguk dan menelisir seisi ruangan mencoba menemukan yang lainnya karena sedari tadi dia tidak melihat siapapun selain Luhan. "Jongin pergi untuk makan malam, jika kau mencarinya." Timpal Luhan membuat dia mengalihkan pandangannya. Kyungsoo tidak benar-benar mencari Jongin, walau tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang terpikir saat tadi dia terbangun adalah pria itu.
"Dia tidak meninggalkamu selama kau tidak sadar." Ujar Luhan acuh tak acuh. "Aku memang tidak pernah mengerti dengan hubungan yang kalian miliki, tapi Jongin terlihat sangat khawatir saat melihatmu yang tak kunjung membuka mata walau dokter sudah mengatakan kalau kau pasti akan terbangun hari ini atau esok." Lanjutnya ringan.
"Mungkin karna aku tidak memiliki siapapun di Korea, selain kau, minseok dan yixing terntu saja." Ujar Kyungsoo setelah beberapa saat tapi Luhan hanya mengerlingkan mata seolah itu bukan jawaban yang ingin didengarnya.
Topik berganti pada kondisi Kyungsoo dan beberapa obrolan ringan mengenai kafe, setelahnya Luhan memaksa Kyungsoo menghabiskan buburnya dan memakan obat. Tak lama setelah itu suara knop pintu terdengar membuat kedua wanita itu menoleh. Mereka menemukan Jongin yang terkejut saat melihat Kyungsoo di ranjangnya.
"Kau sudah sadar?" tanya Jongin melangkahkan kakinya mendekat. Dia menilisik wajah Kyungsoo seakan memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Ya, tidak perlu ada yang dikhawatirkan karna aku baik-baik saja."
Jongin bernafas lega dan mengenyakan tubuhnya di kursi. "Syukurlah," ujarnya singkat. Dia menatap Luhan yang kini mengemas beberapa barang kedalam tasnnya.
Luhan sudah mengatakan kalau dia akan bergantian dengan Jongin, Minseok dan Yixing untuk menjaganya, walau Kyungsoo sudah mengatakan beberapa kali bahwa dia bukan anak kecil yang perlu dijaga tapi sekali lagi, berdebat dengan Luhan pasti sia-sia.
"Aku akan kembali besok pagi. Kau ingin aku membawakanmu sesuatu?"
Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum, mengulurkan tangannya yang dijabat oleh Luhan dengan kening berkerut. "Kalau boleh aku ingin dibawakan ice cream." Ujarnya tak bisa menahan senyumannya tapi Luhan langsung menepis lepas genggaman tangannya dan memberikan pukulan kecil di kepala membuat Kyungsoo malah terkekeh.
"Aku tidak tau bahwa oprasi membuat otakmu sedikit miring, Soo." Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala berjalan menjauh, Jongin ikut tertawa bersamanya saat melihat ekspres jengkel di wajah Luhan. "Kau sebaiknya mengurung dia disini, atau dia akan kembali menjalani oprasi karena ice cream." Tambahnya pada Jongin.
"Tenang saja, kalau diperlukan aku akan memasungnya." Timpal Jongin masih terkekeh, Luhan menganggukan kepala sambil menaikan ibu jarinya.
"Ide yang bagus." Kekehnya.
Dia melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu meninggalkan dia dan Jongin berdua di kamar inap ini. Untuk beberapa saat tidak ada percakapan diantara mereka, hanya keheningan diantara dinginnya malam yang menyapa celah diantara keduanya. Jongin sibuk membuka ponsel sedangkan Kyungsoo menutup mata mencoba meredam rasa ngilu di perutnya.
"Baekhyun sangat terkejut saat aku mengatakan kau dibawa kerumah sakit untuk oprasi,"
Jongin membuka percakapan diantara mereka membuat Kyungsoo membuka mata. Tak salah lagi kalau Jongin tengah mengirimkan pesan pada Baekhyun. Dari raut wajah dan caranya dia menatap ponsel terlihat sekali bahwa dia tengah mengirimkan pesan untuk seseorang special bukan hanya sekedar teman kantor.
"Dia meminta maaf karna tidak bisa menjengukmu. Dia harus terbang ke New York tadi pagi." Tambahnya
Kyungsoo bisa melihat bagaimana sudut bibir itu terangkat perlahan dan jemari itu menari diatas layar ponsel dengan cepat. "Katakan padanya tidak apa – apa dan terima kasih." Ujar Kyungsoo kembali memejamkan mata.
Untuk sesaat keheningan kembali menyapa mereka. Jongin masih sibuk dengan ponselnya sedangkan Kyungsoo menutup mata mencoba meredam rasa ngilu di kulitnya. Bau kamper yang menyengat khas rumah sakit sama sekali tidak membantunya untuk menjadi lebih nyaman.
"Kau bisa pulang," ujarnya sambil membuka mata menatap pria yang kini duduk di kursi, tepat berada di sampingnya. "Aku baik-baik saja, mungkin besok aku diijinkan pulang."
Tapi mendengar hal itu Jongin menjejalkan ponselnye kedalam saku jeansnya dan menggeleng pelan. Dia bangkit dan duduk di sisi kosong kasurnya. "Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja, Soo. Lagipula hanya teman-temanmu yang kau miliki di Korea. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu?"
"Tapi sungguh. Aku tidak perlu dijaga, aku baik-baik saja."
"Terakhir kau mengatakan baik-baik saja, beberapa jam kemudian aku harus membawamu ke rumah sakit." Kekehnya mengusak poni Kyungsoo yang basah karna keringat.
"Apa aku harus menelphone ayah dan ibumu?"
Kyungsoo langsung membelalak dan menggeleng dengan cepat. "Tidak, Tidak. Mereka akan khawatir setengah mati dan langsung mengambil penerbangan ke Korea dan mengoceh banyak hal, terlebih lagi Chanyeol…."
Hening sejenak.
"Bagaimana dengan Chanyeol?" tanya Jongin tiba-tiba.
Kyungsoo hanya bisa tersenyum tipis dan menggeleng, memikirkan Chanyeol hanya membuat dia semakin rindu dengan saudarnya itu. Mereka tidak pernah benar – benar terpisah lama, terlebih lagi tidak ada kabar seperti ini. Semuanya sudah berubah.
"Kau tau Chanyeol akan semakin menggila jika tau aku berada disini."
Jongin ikut menghela nafas panjang sebelum berujar singkat. "Dia akan semakin membenciku bukan?"
Kyungsoo hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
.
Dua minggu berlalu dengan cepat, Kyungsoo sudah beraktifitas seperti biasa. Memasak sarapan, pergi ke kafe dan memasak makan malam. Semua rutinitas itu kembali berjalan setelah dia sembuh total dari oprasinya tempo hari.
Mereka memutuskan untuk menutup kafe dan istirahat seharian setiap hari senin, mereka memilih hari senin karena saat semua orang sibuk memulia kembali aktifitas setelah weekend mereka justru sebaliknya. Tidur seharian, bermalas-malasan atau pergi berbelanja seharian.
Khusus untuk hari ini, Kyungsoo dan Luhan memilih untuk pergi berbelanja mengelilingi kawasan gangnam sedangkan Minseok dan Yixing pergi ke lotteword untuk bersenang-senang. Kyungsoo bangun lebih awal, seperti biasa menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Jongin.
"Aku akan pergi berbelanja dengan Luhan." Ujar Kyungsoo saat dia dan Jongin menikmati sarapan mereka bersama. Jongin yang sudah rapi dengan pakaian kantornya mengangguk, mendengarkan. "Dan sepertinya kita akan pulang larut malam jadi aku tidak bisa memasak untuk makan malam." Lanjutnya.
Jongin mengentikan gerakan tangannya, menatapnya sesaat. "Ide yang bagus. Kau terlalu sibuk di kafe sampai – sampai aku tidak pernah melihatmu belanja," ujarnya enteng. "Mungkin aku juga akan bertemu dengan Baekhyun nanti."
Kini Kyungsoo yang menghentikan gerakan tangannya. Sudah sebulan dia tidak mendengar Jongin menyebut – nyebut nama Baekhyun, terakhir kali dia menyebutnya ketika mereka ada di rumah sakit.
"Ide yang bagus," selanya cepat. "Ngomong – ngomong bagaimana kabar Baekhyun?" tanyanya hati – hati.
Jongin menganggukan kepalanya singkat. "Dia baik seperti biasa dan kita sama – sama sibuk sampai lupa menanyakan kabar satu sama lain." Kekehnya.
Ini hal lain yang dia tidak pernah mengerti dari hubungan Jongin dan Baekhyun. Dia pernah menjalani hubungan dengan beberapa pria saat masih menjadi seorang mahasiswa dan kesibukan dua orang mahasiswa sama sekali tidak membuat hubungan mereka berjalan lancar terlebih lagi jika keduanya sibuk seperti Jongin dan Baekhyun.
Namun melihat bagaimana pancaran sinar dari kedua mata Jongin, jelas pria itu bahagia dengan bagaimanapun hubungannya bersama Baekhyun dan Kyungsoo? Dia hanya bisa turut berbahagia. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Aku pergi." Ujar Jongin mengintrupsi lamunannya.
Entah sadar atau tidak sedari tadi Kyungsoo hanya memainkan sendoknya tanpa benar – benar menyantap sarapan yang dia buat sendiri. Wanita itu menatap Jongin yang sudah selesai dengan sarapannya. Kyungsoo mengantar pria itu sampai ke depan rumah dan melambaikan tangan saat Jongin membunyikan klaksonnya.
Untuk beberapa menit Kyungsoo berdiam diri di daun pintu memandang halaman rumahnya. Mungkin yang dikatakan Luhan benar, hubungan diantara dia, Jongin dan Baekhyun memang terlalu rumit. Dia bahkan tidak benar – benar tau bagaimana harus menjalani hari – hari kedepannya.
Kyungsoo menghela nafas saat sebuah bayangan masa depan melintas di benaknya. Namun dengan cepat wanita itu menyingkirkan lamunan itu dan kembali masuk, bersiap – siap sebelum Luhan datang menjemputnya.
.
Luhan datang setengah jam kemudian dengan menggunakan taksi, wanita itu bercerita tentang bagaimana mobil kesayangannya tiba – tiba mengeluarkan asap dan berhenti di tengah jalan, untung saja ada seorang pria yang membantunya untuk mendorong mobil ke tepi jalan dan memanggil derek.
"Mungkin untuk beberapa hari kedepan aku akan terpaksa pergi dengan menggunakan taksi." Keluhnya sambil menikmati sarapan buatan Kyungsoo.
"Mungkin juga itu artinya kau harus berhenti pergi jalan – jalan dan menghabiskan uang." Sela Kyungsoo membuat Luhan mendengus pelan. Kyungsoo tau bagaimana mobil dan Luhan yang seakan tidak bisa dipisahkan, terlebih lagi Luhan yang tidak begitu suka menggunakan taksi di Seoul atau sebenarnya dimanapun. Luhan adalah salah satu orang yang anti dengan kendaraan umum. Dia pernah mengatan bahwa dia merasa tidak aman jika mengendarai kendaraan umum.
"Apa yang akan kau berikan jika aku menawarkan diriku sebagai supir pribadimu sampai mobilmu kembali?"
Mata Luhan langsung berbinar menatapnya. "Seluruh cintaku."
Kyungsoo langsung menggeleng dan hendak bangkit dari kursinya tapi Luhan dengan cepat langsung menahannya. "Jika kau menjadi supirku, aku akan menjadi asistenmu. Bagaimana?"
Kyungsoo mengumum bibirnya, menahan senyuman. "Seperti pembantu?" Ekspresi Luhan langsung turun, bibirnya kembali tertarik ke bawah.
"Apapun itu istilahnya." Jawabnya singkat seakan sudah tidak perduli.
Kyungsoo tertawa cukup keras melihat Luhan yang seakan pasrah dengan julukan barunya. "Aku bercanda Lu, kau bisa memakai mobilku jika mau. Kau tau sendiri aku tidak pernah keluar rumah selain ke kafe. Mungkin akan lebih baik jika kau yang menjadi supirnya." Ujar Kyungsoo di sela – sela tawanya.
Luhan langsung memeluknya dengan erat dan menghujani pipinya dengan ciuman. Kyungsoo yang masih tertawa mencoba untuk menghentikan sahabatnya itu. "I love you I love you I love you I love you." Luhan tidak bisa berhenti dan terus menghujani pipinya dengan ciuman, Kyungsoo yakin kalau sekarang pipinya penuh dengan bekas lipstik Luhan.
.
Seperti yang sudah direncanakan, mereka pergi berbelanja. Menyusuri tempat – tempat perbelanjaan di Seoul dari myeondong sampai gangnam. Mereka mungkin bukan chebol (orang kaya) tapi setidaknya mereka masih mampu untuk berbelanja di beberapa butik ternama.
"Setelah ini kita akan pergi kemana?" tanya Luhan saat mereka baru saja keluar dari salah satu butik dengan aksen modern itu.
"Bagaiman dengan makan siang dan ice cream?" tanya Kyungsoo yang mulai bersemangat tapi Luhan langsung menggeleng, merangkul tangannya untuk kembali meneruskan perjalanan mereka.
"Kita akan makan siang tapi tidak untuk ice cream. Terakhir kali aku melihatmu makan ice cream kau harus pergi ke rumah sakit Soo."
"Tapi..."
Luhan tidak memberikannya kesempatan untuknya menyelesaikan kalimat, akhirnya Kyungsoo hanya bisa pasrah dan mengikuti sahabatnya itu. Luhan berjalan dengan percaya diri, seakan dia sudah tau setiap sudut jalanan padat pengunjung ini. Kyungsoo penasaran sudah berapa kali Luhan mengunjungi tempat ini.
Akhirnya mereka sampai di salah satu tempat makan yang berada di sudut kota. Sulit sekali untuk mengingat jalannya karena beberapa kali mereka berbelok jalan dan masuk ke jalan – jalanan sempit. Kyungsoo tidak habis pikir bagaimana bisa Luhan menemukan tempat makan seperti ini.
Mereka sampai di sana saat langit berubah jingga. Terlalu sore untuk dikatakan makan siang dan terlalu dini untuk dikatakan makan malam. Inilah salah satu kebiasaan wanita saat mereka berbelanja, terkadang mereka lupa akan waktu.
Kyungsoo terkesima saat dia pertama kali sampai di restoran ini. Dari luar dia bisa melihat bagaimana suasana yang terasa begitu nyaman, dengan aksen kayu yang dominan dan warna – warna pastel yang lucu membuat Kyungsoo hanya bisa terkesima. Dia tidak pernah nemenukan tempat seperti ini di Korea sebelumnya.
Suara kerincing bel menyambut kedatangan mereka, seorang pelayang tersenyum ramah dan berbicara pada Luhan sementara dia sibuk membaca tulisan – tulisan dalam pigura yang digantung memenuhi dinding dengan cat warna biru pastel itu.
Mereka memilih meja yang masih kosong di samping ruangan, berdekatan dengan sebuah jendela kayu bercat putih yang sengaja di buka lebar. Kyungsoo menghela nafas panjang saat langit yang sebentar lagi berubah menjadi gelap. Tak salah kalau perutnya terus berbunyi.
Dia membiarkan Luhan memilih makan malamnya kali ini. Dia tidak terlalu familiar dengan menu yang disajikan, terlalu beresiko untuk mencoba menu – menu yang ada ketika keadaan perutnya yang sudah kelaparan ini.
"Setelah ini kita pulang?" tanya Luhan sesaat setelah pelayan pergi dengan pesanan mereka. Kyungsoo mengangkat bahunya, dia tidak memiliki rencana lain setelah ini namun dia juga tidak ingin cepat – cepat sampai di rumah. Toh di rumah dia akan kembali sendiri.
"Bagaimana dengan ice cream?" tanya Kyungsoo mengusulkan sebuah ide. Luhan yang duduk dihadapannya hanya mengerling, pura – pura tidak mendengar usulannya. Dia sudah sembuh dari sebulan yang lalu tapi teman – temannya seakan tidak pernah memberikan dia kesempatan untuk kembali menikmati ice cream bahkan untuk satu jilatan sekalipun. Kyungsoo mulai berpikir apakah ini bentuk dari rasa perhatian mereka atau teman – temannya itu memang senang membuat Kyungsoo menderita?
"Untuk kali ini saja," Ujar Luhan beberapa saat kemudian. Kyungsoo merasa harus memastikan kalua barusan itu bukan hanya bayangannya saja. "Aku tau sesuatu menganggu pikiranmu. Jadi untuk kali ini saja." Tambahnya membuat Kyungsoo tersenyum lebar.
"Aku tau hanya kau yang kumiliki."
Mereka berdua terdiam beberapa saat saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya sama – sama terkekeh. Sudah lama sejak terakhir kali dia pergi keluar, menghabiskan waktu di sudut cafe atau restoran bersama Luhan, membicarakan banyak hal, menggosipkan ini itu dan tertawa bersama. Semenjak dia berada di Korea semuanya seakan tak lagi sama, atau memang semuanya tak akan pernah sama.
Kyungsoo menggulung rambutnya asal, meninggalkan beberapa helai rambut yang jatuh menyentuh lehernya yang lengket. Dia menatap layar ponselnya yang memantulkan bayangan wajahnya. Memastikan kalau wajahnya masih terkendali, walau bagaimanapun dia masih harus menjaga penampilannya. Terlebih lagi dia berada di kawasan orang – orang yang akan menilai dirimu dari bagaimana kau berpenampilan. Gaya rambut, make up, pakaian, sepatu bahkan caramu berjalan.
Dia hampir melempar ponselnya saat benda itu tiba – tiba bergetar. Oh god. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tak dia kenal. Kyungsoo mengerutkan kening membuka pesan itu.
Hi Kyungsoo. Ini aku, Baekhyun. Aku mendapat nomormu dari ponsel Jongin, aku harap kau tidak keberatan. Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan. Seandainya kau punya waktu, apa kita bisa bertemu?
Kerutan dikeningnya semakin kentara setelah dia membaca pesan itu. Kyungsoo menyerahkan ponselnya pada Luhan yang terlihat penasaran, membiarkan wanita itu ikut membaca pesan singkat yang baru saja dikirimkan Baekhyun.
"Apa yang dia inginkan?" tanya Luhan masih menatap ponsel di tangannya.
"Aku pikir dia sedang bersama Jongin sekarang."
Luhan mengalihkan pandangannya, mengernyit heran. Pikirannya melayang pada beberapa kemungkinan mengapa Baekhyun mengirimnya pesan singkat. Dia sudah berusaha berpikir positif tapi pikiran – pikiran negatif itu seakan memdominasi, salah satu yang paling dia takutkan adalah...
"Apa dia ingin kau dan Jongin berpisah?"
Kyungsoo memejamkan mata saat Luhan baru saja mengutarakan kemungkinan terburuk yang singgah dalam benaknya. Bagaimana jika memang Baekhyun menginginkan Jongin sepenuhnya? Bagaimana jika wanita itu memintanya untuk menceraikan Jongin? Apa yang akan dikatakannya pada ayahnya dan Chanyeol? Bagaimana jika kakaknya tau semua sandiwara ini?
"Kyungsoo..." Luhan memanggilnya dengan kening berkerut. "Aku memanggilmu berulang kali," Luhan mendengus pelan menatap ponselnya dengan pandangan tak suka. "Kau ingin aku menelphonenya?"
Kyungsoo bangkit dari kursi dan segera menyabar ponselnya dari tangan Luhan, sebelum sahabatnya melakukan hal yang tak diinginkan. "Tidak perlu," Selanya cepat kembali duduk di kursi. "Biarkan kita dengar apa yang diinginkannya."
"Bahkan jika dia menginginkan Jongin?" sergah Luhan yang mulai kesal.
Kyungsoo hanya bisa tersenyum lesu. "Sejak awal Jongin memang miliknya bukan?"
Luhan menatapnya kehabisan kata – kata. Memang dari sejak awal mereka bersama bukan? Bahkan sebelum dia datang menawarkan diri menjadi istrinya dengan sekelumit perjanjian yang membawa nama keluarga. Kyungsoo seharusnya tau kalau suatu hari ini akan terjadi, hari dimana Baekhyun sadar kalau hubungan diantara mereka bertiga tidak akan pernah berjalan mulus. Pasti akan ada salah satu yang harus tersakiti. Dan Kyungsoo harusnya tau kalau dia akan menjadi pihak yang tersakiti itu.
Tentu saja. Aku sedang makan malam bersama Luhan. Jika kau ingin bergabung, kau bisa datang kesini.
Kyungsoo menekan tombol send setelah beberapa menit berkutat dengan ponselnya, memilih kalimat yang terdengar biasa. Sejurus kemudian pesan baru masuk, balasan dari Baekhyun.
Terima kasih. Aku harap Luhan tidak keberatan karena mengganggu acara makan malam kalian. Bisa kau kirim alamat restorannya?"
Kyungsoo mengirimkan alamat tempat restoran dimana dia berada dan dengan cepat menjejalkan benda itu kembali ke dalam tas. Luhan dihadapannya masih memandangnya dengan kesal dan tangan yang dilipat di dada.
"Jangan katakan kau mengajaknya bertemu disini?"
Kyungsoo hanya mengangkat bahu kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda. "Bisakah kau bersikap egois, sedikit saja?" tanya Luhan cukup untuk kembali mengehentikan pergerakan tangannya.
Kyungsoo menghela nafas sesaat, merendam segala emosi yang tiba – tiba saja membuncah didadanya. "Aku tidak bisa melakukannya Lu, aku tidak bisa menyakiti mereka."
"Tapi kau membiarkan mereka menyakitimu, apa kau pikir itu adil?"
"Aku-" Kyungsoo tiba bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak tau apa yang harus dikatakan.
"Sudahlah. Aku akan menunggumu di mobil. Aku tidak mau berbubah emosi melihat semua drama hidupmu." Luhan bangkit dari kursinya meninggalkan Kyungsoo sendiri.
Kyungsoo menatap makan malam Luhan yang belum sempat habis dan merasa sangat bersalah karna membuat sahabatnya itu pergi begitu saja. Tapi disisi lain Kyungsoo tidak mempunyai pilihan, dia tidak bisa beriskap egois seperti yang diinginkan Luhan.
Akhirnya dia melanjutkan makan malamnya sendiri walau Kyungsoo tidak merasakan apapun dilidahnya, seakan semuanya berubah menjadi hambar, tanpa rasa.
"Kyungsoo?" Seseorang memanggil namanya tak lama kemudian. Tepat ketika seorang pelayan membereskan mejanya. Dia menengok kesamping dan menemukan Baekhyun sudah berada disampingnya.
Seperti biasa Baekhyun terlihat bergitu rapi dengan blazer marsala yang dipadukan dengan rok pencil selutut yang membuatnya terlihat ramping. Dia sempurna. Oh-berapa kali Kyungsoo harus mengakuinya?
"Duduklah." Ujar Kyungsoo memberikan wanita itu senyuman hangat. Dia melihat ke sekeliling ruangan sambil meletakan tasnya diatas meja.
"Aku pikir kau bersama Luhan?" tanyanya.
Kyungsoo berdeham pelan sebelum menjawab. "Ya, dia pergi terlebih dahulu untuk membeli beberapa hal yang terlupakan." Jawabnya mencari – cari alasan. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan kalau Luhan pergi karna tak ingin bertemu dengannya. "Ngomong – ngomong aku pikir kau akan makan malam bersama Jongin. Tadi pagi dia mengatakan kalau dia akan makan malam bersamamu." Ucapnya hati – hati.
Ekspresi Baekhyun yang tadinya ramah kini berubah menjadi kaku, senyum hangat dibibirnya kini hilang. Hal itu membuat Kyungsoo semakin khawatir.
"Berbicara soal Jongin, ada yang perlu aku bicarakan bersamamu."
Kyungsoo menenal ludahnya. Tanpa sadar dia mencengkram bagian bawah roknya.
"Aku ingin kau..."
.
.
.
.
To Be Continued
Hallo. It's been a long time without you my friend. Lolz
Maaf karna setelah sekian lama menghilang, akhirnya author dapat kembali membawa cerita ini ke FFN. Kesibukan menjadi seorang mahasiswa sepertinya tidak pernah membiarkan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri, setidaknya itu yang saya rasakan. Tolong dimaklumi.
Mungkin kalian harus baca chapter – chapter sebelumnya karena sudah lupa bagaimana alur cerita ini, jadi saya hanya bisa minta maaf sebesar – besarnya karna membuat kalian menunggu. Oh- saya tau menunggu memang mengesalkan tapi apa yang bisa saya lakukan ketika hampir seluruh waktu saja dirampas oleh kegiatan – kegiatan yang seakan tak pernah berhenti.
Untuk yang terakhir, terima kasih karena masih setia menunggu FF ini dan terima kasih banyak karena telah meluangkan waktunya untuk memberikan komentar di kolom review. Juga terima kasih pada mereka yang selalu hadir menyapa saya di kotak pesan, twitter ataupun askfm. Salam hangat untuk kalian semua.
See you on the next chapter
Bye
xoxo
