Nama.

Semua orang akan mudah dengan mudah mengucapkan namanya.

Tapi bagi kami, mengucapkan nama yang entah asli itu nama kami atau bukan adalah sebuah pantangan dan kami bisa di hukum.

Aku memiliki nama, namaku Kim SeokJin. Tapi aku tidak tahu apa nama itu benar-benar milikku atau bukan. Aku tidak pernah mau memberi tahu nama lengkapku, aku tidak mau merasakan sakit luar biasa di tenggorakan atau ingatan masa lalu.

Aku tidak mau terkena hukuman itu.

Bagi diriku atau teman-temanku yang menjadi vampire karena hukuman adalah starta sosial paling rendah dalam dunia vampire. Kami hidup layaknya manusia tapi kami juga masih membutuhkan darah, antara hidup dan tidak tidak.

Meminum darah seorang penjahat tanpa merasa jijik dan akan membawa si korban ke tempat yang akan membuat mereka menjadi vampire rendahan.

Tapi, dia membuatku hampir melanggar aturan itu.

Dia, yang membuat vampire rendahan sepertiku terpesona, terpaku, tidak berkutik dan melanggar sebuah aturan.

Apa ini yang disebut manusia cinta pandangan pertama? Cinta yang orang sebut sebagai perasaan kuat tapi juga melemahkan orang?

Apa dirinya jatuh cinta?

(DNA-BTS, Stay with Me-Chanyeol EXO ft Punch, You Are-GOT7, That )


BRAK!

Jimin tersentak bahkan hampir menjatuhkan piring berisi telur gulung dan tempura udang yang baru ia angkat. Ia menarik nafas lega ternyata itu Taehyung, pemuda manis dan cantic itu mengecurutkan bibir kesal seraya membuka kulkas dan meminum bir dingin dan soju bersamaan. Jimin meringis, meletakan piring tadi dan segera mencegah tindakan nekat Taehyung.

"Hyung, berhenti! kau tidak bisa mabuk hari ini!"

HIK!

Taehyung menghembuskan nafasnya, menatap Jimin lalu meletakan dua botol minuman itu hingga menimbulkan suara prang yang cukup kuat. Ia mencengkram kedua pundak Jimin, memaksa anak SMA tingkat akhir itu menatapnya dengan benar. Pandangannya menelisik tajam ke anak muridnya, mendadak Jimin merasa takut dan mengkerut.

"Katakan dengan jujur, Park Jimin" ucap Taehyung dengan nada suara serius. Jimin mengangguk dengan gaya robot, memberi jawaban ya bahwa ia akan bicara jujur lalu ia kembali cegukan tapi Taehyung tidak mempedulikannya toh Jimin memang selalu cegukan seminggu ini.

"Apa aku sudah tidak manis dan imut lagi?" tanya Taehyung kali ini dengan suara histeris. Jimin mengernyitkan heran, namun lampu di kepalanya langsung menyala mengetahui ekspresi frustasi Taehyung yang sering muncul karena siapa. Senyum kecil Jimin tercetak, dengan lembut ia membawa Taehyung duduk di kursi makan lalu memberinya air.

"Kenapa dia itu begitu brengsek, bangsat, bajingan aku ingin mematahkan leher atau mencungkil bola matanya itu!" umpat Taehyung dengan bahasa super sopan setelah meminum air yang diberikan Jimin. Ia menghembuskan nafas kesal, menatap Jimin yang malah tersenyum-senyum tidak jelas di depannya.

"Kenapa dengan senyummu?"

"Hyung selalu manis dan imut, dia itu pria yang dingin dan sulit ditaklukan. Bukankah itu yang membuat hyung penasaran dengan pria aneh itu" ucap Jimin seraya duduk di samping Taehyung dan mulai memberinya semangkuk kecil nasi.

Taehyung mengangguk lemas, menjatuhkan kepalanya ke meja makan dan menatap nelangsa makanan yang dibuat Jimin mampu membuatnya khilaf. Jujur, masakan Jimin itu benar-benar enak bahkan ia memberi empat jempol untuk masakan Jimin yang menyerupai masakan ibu rumah tangga. Tapi ia juga kadang tidak menyukainya karena ia tanpa sadar akan menghabiskan dua sampai tiga mangkuk nasi.

"Malam ini aku harus makan sedikit, aku harus tetap menjaga wajahku tetap manis dan imut. Aku baru pertama kali melihat orang seperti dia, brengsek bajingan… tapi dia sangat tampan"

Keluhan itu kembali muncul dan Jimin sudah biasa mendengar keluhan Taehyung soal pria aneh dan tampan-kata Taehyung- yang ditemui tidak sengaja oleh Taehyung.

"Oh, ya. Aku belum memberitahumu sesuatu" ucap Taehyung kembali ke modenya seorang guru dan kakak Jimin. Pemuda manis bermarga Kim itu melangkah terburu-buru ke kamarnya lalu memberikan sebuah surat untuk Jimin.

"Besok kita tidak bisa berangkat bersama, aku ada pertemuan guru konseling di daerah Ceomdamdong sampai larut malam. Kau tidak apa berangkat sendiri?" tanya Taehyung khawatir. Jimin tersenyum lalu menggeleng, membaca surat itu lalu memberikannya pada Taehyung lagi.

"Nde, selama ini aku sudah merepotkan V hyung. Tidak apa-apa, pergilah aku bisa mengurus diriku sendiri"

Taehyung tersenyum, mengelus kepala Jimin dan memperhatikan anak muridnya itu makan dengan lahap. Kasihan sekali Jimin-batinnya. Keluarga macam apa yang menolak, menyiksa bahkan orang-orang disekitarnya memperlakukan Jimin yang super baik dan jujur ini. Ia tersenyum lalu memeluk lengan Jimin, meskipun umur mereka berbeda jauh tapi entah kenapa Taehyung merasa Jimin lebih memiliki jiwa dewasa yang tinggi.

Bahkan dirinya saja tidak memilikinya, mungkin karena hidup yang dilalui Jimin begitu berat dengan perlahan-lahan merubah kepribadian Jimin menjadi seperti ini. seorang yang dewasa, menyelesaikan masalah secepatnya dan menghindarkan masalah sebisa mungkin. Anak yang pintar dan baik, selain itu manis.

"Aku sudah makan roti tapi aku tergiur tempura udang ini" ucap Taehyung dengan nada imut seraya mencomot udang di piring. Jimin tertawa kecil lalu suara tawa kembali terdengar karena hal-hal kecil yang mereka lakukan dan jangan lupakan suara cegukan Jimin yang masih ada.

Ngomong-ngomong soal cegukan, Jimin sudah melakukan berbagai cara menghilangkan cegukan ini tapi ia tidak berhasil. ketika ia berusaha menghilangkan cegukan ini maka hatinya akan selalu teringat pada ahjussi brengsek itu.

Yoongi.

"Karnivora!"

Yoongi menarik nafas kesal. Kenapa pagi-pagi seperti ini harus di sambut dengan orang macam SeokJin? Ia memutar matanya malas, kembali fokus pada koran yang sedang ia baca dan secangkir kopi di sampingnya tapi tiba-tiba saja korannya terbakar tepat di tengah-tengah membentuk sebuah lubang.

"YAK!"

Yoongi melempar koran itu, menatap nyalang ke arah SeokJin yang sedan tertawa bahagia, super bahagia karena sudah membuat seorang Gumiho tua seperti Yoongi marah di pagi hari ini. eiy, ia tidak bermaksud seperti itu tapi respon yang diberika Yoongi itu benar-benar membuatnya kesal dan tidak terima.

"Aku tidak ada masalah denganmu, aku hanya ingin minum kopi dan baca koran. Kenapa kau merusak koran itu?!" tanya Yoongi dengan geraman penuh amarah. SeokJin menatap koran lawas yang sudah berwarna kuning itu dengan pandangan jijik, selain tua gumiho ini aneh sekali.

"Kenapa kau membaca koran lapuk seperti itu? kau tidak berlangganan koran pagi?" tanya SeokJin dengan nada sinis, suaranya berdecak dan Yoongi tidak suka ada yang mendecaknya.

"Itu bukan urusanmu. Asal kau tahu, koran itu terbit tahun 1928 dan aku harus berebut untuk mendapat koran itu tapi kau membakarnya dengan begitu mudahnya?!"

"Aish! Tidak perlu berteriak, aku ke sini hanya bertanya beberapa hal. Apa kau mau pergi dari rumah ini?" tanya SeokJin tidak kalah kesal dan nada suara tinggi.

Yoongi menghembuskan nafas, memasukan kedua tangannya si saku celananya lalu menatap SeokJin yang sudah tidak berwajah menyebalkan lagi. "Eoh, sebentar lagi. Tapi rumah ini akan tetap menjadi rumahku karena sertifikatnya ada padaku" ucap Yoongi memutus khayalan SeokJin mengenai rumahnya.

"Terserah, ini tetap rumahku. Tapi, bagaimana dengan anak SMA itu? kau akan meninggalkan dia? Kau itu benar-benar jahat"

Pertanyaan SeokJin hanya di jawab tatapan sendu dari Yoongi. Ia masih bimbang, apa ia harus pergi meninggalkan anak SMA yang masih tidak jelas status nya atau pergi ke negara lain melanjutkan pencariannya? Ia menatap sebentar ke arah Seokjin lalu menghela nafas sebelum melangkah pergi ke sebuah lorong.

"Dasar karnivora aneh"

"Siapa samchon?"

"Aish!"

NamJoon nyengir kuda melihat SeokJin nampak benar-benar terkejut dan menunjukan reaksi berlebihan. Pria beraura dingin dan berkulit pucat itu bergerak menjauh seraya menyilangkan tangan menolak NamJoon dekati.

"Waeyo? Aku hanya ingin menyapa samchon penyewa, apa tidak boleh?" tanya NamJoon ikut-ikutan sewot mendapat reaksi berlebihan dari SeokJin. Ia hanya bicara bukan mencium apalagi menyebarkan virus berbahaya pada SeokJin.

"Kau tidak perlu menyapaku"

"Ck, kenapa dengan samchon? Apa dia putus cinta?" tanya NamJoon kembali ke topik awal tanpa menyadari perubahan raut wajah menyebalkan yang ditunjukan SeokJin.

"Dia sedang frustasi, jangan ganggu dia kau pasti tahu dia sedang mempersiapkan kepindahannya"

"Eoh, tapi dia tidak akan pindah. Dia harus ada di sini"

Nada bicara Namjoon tiba-tiba saja berubah menjadi serius, mata elang nan tajam itu memandang ke lorong tempat Yoongi menghilang dengan intens. Seolah-olah kepergian Yoongi membawa makna tersendiri bagi sang keponakannya yang play boy itu, setelah puas ia memandang SeokJin yang terlihat jengah dengan sikap NamJoon.

"Samchon jua akan tetap di sini, jadi aku akan tetap ada di sampingmu. Itu janjiku"

Setelah mengucapkan kalimat aneh itu NamJoon melangkah pergi begitu saja, meninggalkan SeokJin yang bingung setengah mati, apa maksud kalimat NamJoon tadi? ia mengedikan bahu tidak peduli, toh anak jaman sekarang memang suka bicara ngelantur dan berkoar tentang janji.

Sepertinya kepergian Taehyung untuk pertemuan dengan guru konseling SMA menjadi kabar baik untuk seluruh geng pembully Jimin. Selama ini mereka tidak leluasa bergerak karena Taehyung begitu memperhatikan Jimin dari jauh bahkan salah satu geng pembully itu sempat mendapat hukuman serius karena mereka nekat mengerjai Jimin.

Geng itu mendapat hukuman lari keliling sekolah sebanyak lima puluh putara, membersihkan toilet dan juga menyapu lapangan. Hukuman fisik yang sungguh membuat semua orang bergidik ngeri dan menjauhi Jimin. Alhasil, hidup Jimin aman tentram seminggu ini begitu juga dengan Youngjae yang mulai menjadi bahan bully karena berteman dengan Jimin.

Namun, semua itu hilang lenyap saat Jimin memasuki kelasnya. Matanya membola melihat meja dan bangkunya di patahkan, di gergaji dan di gantung di jendela kelas. Bagaimana ia belajar hari ini jika meja dan bangkunya di rusak?

"Hahahaha! Maaf untuk bangku dan mejamu, kami memerlukan hiasan jendela baru jadi kami memakai bangku dan mejamu"

Ucap Jieun yang tiba-tiba muncul di belakang Jimin seraya merangkul pundak itu kasar, lalu diikuti Baekhyun yang melakukan hal yang sama. Seluruh penghuni kelas tertawa bahagia melihat aksi lawak buatan geng Trouble Maker kembali terjadi.

"Tenang saja, kau akan tetap belajar di tempatmu tapi," ucap Baekhyun seraya menarik Jimin mendekat lalu mendorong pemuda mungil itu hingga terjerembab ke lantai yang masih kotor dengan serpihan kayu bekas potongan meja bangkunya. Ia meringis, menatap telapak tangannya yang mengeluarkan darah.

Tunggu darah?

Ia mendongak, menatap sekeliling dengan pandangan bingung. Tiba-tiba rasa takut melingkupinya namun hal itu tidak berselang lama karena sebuah kilatan terang tiba-tiba saja muncul di depan matanya, tubuhnya kaku tidak bisa di gerakan, merasakan suasana sekitarnya. Ia seperti patung.

Suara derap langkah kaki terdengar di antara puluhan orang yang telah ia manipulasi menjadi patung. Ia memandang satu persatu orang yang memenuhi kelas itu dengan pandangan datar. Lalu ia beralih memandangi seseorang yang sedang berlutut di atas serpihan kayu yang tajam, telapak tangan mungil mengalirkan darah yang cukup banyak.

Pemilik derap langkah itu berjongkok di hadapan Jimin versi patung. Menarik telapak tangan itu dan mengusapnya dengan lembut. Seketika luka dan darah yang tadi memenuhi telapak tangan itu menghilang. Ia menarik nafas lalu memandangi kedua lutut itu yang juga sediki berdarah, dengan lembut ia mengusap lalu perlahan-lahan tubuhnya menghilang bersamaan dengan pengaruh manipulasinya yang habis.

"Kau tetap belajar tapi di lantai seperti pembantu"

"Hahahahah!"

Jimin menunduk, menahan air matanya yang akan keluar setiap kali suara tawa itu semakin keras. Tangannya meremat celana seragam di bagian lututnya, menarik nafas lalu menghembuskannya namun suara cegukan keluar begitu saja dari tubuhnya

"Wah! Aku sudah lama tidak mendengar suara cegukanmu. Aku ingin mendengar suara itu lagi" ucap Bambam heboh seraya menghampiri Jimin dan memaksanya berdiri. Jimin berontak dalam cengkraman Bambam, air matanya mengalir mendapat tatapan mencemooh dari seluruh penghuni kelas bahkan Jungkook melakukan hal yang sama.

"Ayo! Keluarkan suara cegukanmu!"

Jimin menggeleng.

HIK!

"Hahahahaha!"

"Dasar tukang bohong!"

Jimin semakin menunduk, berusaha melepas cengkraman Bambam, Baekhyun dan Jinyoung di kedua lengannya. Sedangkan Jieun, Seulgi, Irene dan Joy sudah maju membawa alat make up mereka. Jimin semakin berontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman super kuat itu.

"Geumanhae! Aku tidak memiliki salah dengan kalian!-HIK!-"

"Itu benar, tapi kau hidup di dunia itu saja sudah salah apalagi bersekolah di sini. Itu sebuah dosa bagi orang miskin sepertimu!" balas Irene mencengkram kedua dagu itu agar diam dan mulai memoleskan lipstick setebal-tebalnya pada Jimin.

"Dia akan cegukan dan menjadi badut hari ini!" ucap Joy dengan nada girang yang kentara sekali. Jimin menangis tanpa suara, berusaha keras melepaskan cengkraman Bambam, Baekhyun dan Jinyoung namun apa daya. Ia sudah terlalu lemas dan malu dengan semua hal yang ia terima selama ini.

"YAK!"

Kegiatan geng trouble maker itu terhenti. Mereka semua memutar bola mata malas, ternyata Jimin masih mempunyai satu pengawal lagi, siapa lagi kalau bukan Youngjae. Pemuda manis pecinta musik menghampiri gerombolan trouble maker itu, membubarkan aksi bully itu dan menyembunyikan tubuh Jimin yang gemetar ketakutan dengan wajah separuh tertutupi lipstick dan bedak tebal.

"Kau tidak ada masalah dengan kami. Kami tidak tertarik dengan orang sepertimu, lebih baik kau minggir!" teriak Jinyoung dengan suara lantang. Youngjae menggeleng, maju selangkah berniat menghadapi mereka namun Jimin menghalanginya.

Kepala pemuda bermarga Park itu menggeleng, ia tidak mau ada orang berkoban lagi untuknya karena ia tidak akan mampu membalasnya. Youngjae tersenyum, melepas cengkraman Jimin lalu maju selangkah mendekati Jinyoung, Bambam dan Baekhyun, serta Jungkook yang tiba-tiba muncul.

"Kau masih ingat kejadian tas, loker dan kamar mandi itu, kan? Apa kau mau hal lebih buruk terjadi padamu?" tanya Jungkook memulai ancamannya. Youngjae menatap mereka tidak peduli, lalu ia beralih memandang Jungkook sepenuhnya.

"Aku ingat, aku juga mengingat bagaimana kau dan geng curutmu itu untuk pertama kalinya di hukum terutama kakak sepupu angkatmu yang menghukummu" balas Youngjae mengingat kejadian lain yang sungguh-sungguh mempermalukan tim trouble maker.

"Kau juga pernah mengatakan uang, kekuasaan itu bisa membeli apa yang di inginkan seseorang. Tapi nyatanya, untuk kabur dari hukuman kecil waktu itu uang dan kekuasaanmu tidak berlaku. Selama ini kau salah memegang teori, Jeon Jungkook"

Jungkook sudah tidak tahan lagi, dengan kasar ia mencekik kemeja seragam Youngjae hingga pemuda itu memekik sakit. Seluruh murid di kelas itu terbengong melihat aksi brutal Jungkook pada Youngjae. Mereka semua tidak menyangka jika perkataan pedas dari seorang Choi Youngjae mampu membuat Jungkook meradang.

"Kau salah mengatakan hal seperti itu, Choi!" ucap Jieun melepas cengkraman Jungkook, membawa mundur Jungkook untuk di tenangkan karena sungguh Jungkook dalam mode marah itu jauh lebih menyeramkan dari hal apa pun.

"Baik, kau ingin menolong Jimin berarti kau menggantikan posisinya"

"Andwae…" ucap Jimin lirih, memandangi kejadian tadi tanpa bisa bergerak untuk membantu Youngjae. Ia melangkah maju namun murid-murid lain menghalanginya hingga ia hanya bisa berontak dan terus berontak.

"Andwae! Aku target kalian! Jangan lakukan hal yang aneh pada Youngjae!" teriak Jimin mencegah hal buruk terjadi pada teman pertamanya itu tapi seakan tuli mereka semua malah semakin menahan Youngjae dan mulai mengerjainya.

Matanya berkilat, berkaca-kaca penuh amarah melihat temannya mulai menangis dan berteriak menolak semua perlakuan aneh dari Seulgi dan Irene. Giginya menggeretak, dengan tiga kali percobaan ia berhasil lepas berlari menghampiri Jimin menembus krumunan murid lain lalu mendorong dua siswi cantic dan terkenal itu hingga terjerembab menghantam lemari.

"Astaga! Apa dia gila?"

"Dia menghajar wanita?"

"Youngjae-ah?"

Youngjae akhirnya bisa bernafas, wajahnya sudah penuh dengan bedak dan alat-alat make upa lainnya. mereka semua terperangah melihat Jimin bisa melakukan hal nekat seperti itu, sementara Seulgi dan Irene tidak sadarkan diri. Jimin merogoh saku celana seragamnya, menghapus bedak di wajah Youngjae lalu berniat membawanya keluar namun langkahnya harus terhadang oleh beberapa guru yang masuk ke kelasnya.

"Park Jimin!"

Guru wanita dengan marga Kwon itu menatap sengit ke arah Jimin dan menatap lembut ke arah Seulgi dan Irene yang sudah sadarkan diri. Sementara Youngjae masih harus beristirahat di UKS karena mengalami kesulitan bernafas akibat beberapa bubuk bedak masuk ke hidungnya.

Kwon Boa menghela nafas menatap kasihan ke arah kepala Seulgi dan Irene yang diperban tebal akibat benturan yang diberikan Jimin. Dia berdiri, menghampiri Jimin sambil membawa buku lalu menghantamkan buku itu tepat di kepala Jimin yang menunduk takut dan shock.

"Otakmu dimana? Apa kau tidak berpikir siapa yang kau lukai?! Hah?!"

Jimin menahan air matanya. Kenapa yang ia mendapat amukan amarah Boa? Ia tidak salah, ia juga korban seperti Youngjae bahkan bukti-bukti bahwa ia juga mendapat perlakuan semena-mena dari Youngjae masih ada di wajahnya. Tapi Boa seakan gelap mata, ia terus memukul-mukul kepala Jimin hingga ia melempar buku itu ke dinding di belakang Jimin.

"Kau itu sudah kelas tiga, seharusnya kau memberikan contoh yang baik. Bagaimana jika kau kuliah memiliki sikap seperti ini?" tanya Boa dengan pandangan rendah tidak bersahabat.

Jimin diam, ia tidak membalas. Suara cegukannya semakin nyaring keluar, ia menolak semua ini, ia menolak segal hal yang di layangkan seluruh orang padanya. Ia tidak seperti itu, ia melakukan itu terpaksa tubuhnya tidak bisa ia kendalikan melihat seseorang yang ia anggap penting di lukai.

"Oh, ya. Kau bahkan bersekolah di sini karena otakmu, kau seharusnya menjaga otakmu ketimbang menjaga ototmu. Kau hidup bergantung pada otakmu ini, jika kau mulai menggunakan ototmu lebih baik kau tidak usah kuliah. Lagipula, kau tidak punya biaya untuk itu" cemooh Boa semakin menjadi-jadi.

Isi pikirannya sama. Dia membenci murid miskin karena tidak memberikannya keuntungan apa pun kecuali masalah dan masalah. Jimin menarik nafas, menengadah menatap gurunya itu yang sedang melipat tangan di dada menatapnya begitu rendah.

"Saya akan kuliah, saya akan menggunakan hati saya ketimbang otak dan otot"

"Kau melawanku? Hukumanmu bertambah, selain mengpel koridor atas kau harus membersihkan kaca jendelanya"

"Saya haru melawan jika memang hal itu bisa membuat saya hidup. Saya akan menerima apa pun hukuman yang anda berikan, tapi saya akan tetap sekolah dan kuliah. Itu janji saya"

Boa terdiam. Memandang kedua manik hitam Jimin yang berkaca-kaca, menahan air mata kesedihan dan juga perasaan tidak suka. Ia tahu Jimin tidak menyukai hukuman yang ia berikan tapi menurut dirinya Jimin pantas mendapatkan itu. ia akan memberikan hukuman apa saja pada orang-orang yang menyakiti pundi-pundi hadiahnya.

"Jinjja? Kita lihat nanti, kau atau anak-anak emasku yang sukses"

Jimin mengangguk saja, melangkah keluar dari ruang konseling Boa dengan suara cegukan yang semakin intens. Boa menarik nafas panjang, memandang Seulgi dan Irene lalu mengusap kedua kepala itu penuh sayang.

"Tidak apa-apa, kalian sudah aman"

Seulgi dan Irene tersenyum puas, memberikan adu jempol di balik punggung mereka karena berhasil menjebak Jimin. Jujur saja dorongan itu sama sekali tidka berdampak apa-apa, mereka hanya merasa pusing dan terluka tapi karena masalah ini Jimin semakin mendapat tekanan dari guru konseling mereka.

"Ghamsahamnida, saem"

Jimin menjalankan hukuman itu. matanya berkaca-kaca menahan tangis setiap kali melihat murid-murid lain melewati koridor itu dengan sengaja menggunakan sepatu penuh lumpur. Otomatis dirinya terus menerus membersihkan lantai sampai jam pulang sekolah berbunyi, ia masih harus membersihkan dinding kaca koridor.

Semua lampu sudah dimatikan kecuali tempat ia sedang mengerjakan hukumannya. Ia sudah tidak tahan lagi, matanya semaki berair melihat dinding kaca yang memantulkan bayangannya sendiri. Ia menangis, menangis tanpa suara melihat dirinya sendiri yang begitu lemah. Ia begitu lemah karena tidak bisa melawan ketidak adilan ini.

"Kenapa jendelanya-HIK!- tidak bersih-HIK!- juga?" tanya Jimin disela-sela suara tangisnya yang semakin keras. Ia membanting alat bersih-bersihnya ke lantai, berjongkok menyembunyikan wajahnya yang bermandikan air mata. Ia lelah menghadapi situasi tidak adil yang terjadi di sekolahnya, tapi ia segera mengangkat wajahnya, kembali membersihkan kaca jendela diselingi isakan memilikan hati siapapun.

Ia melanggar janjinya pada sang ibu untuk tidak menangis karena hal kecil, seharusnya ia tersenyum mendapat hukuman seperti ini. apa pun yang diberikan oleh orang kita harus menerimanya dengan senyuman, karena orang itu adalah perantara Tuhan. Semua yang diberikan orang kepada kita adalah pemberian Tuhan dan kita wajib menerimanya dengan sebuah senyuman.

Tapi ia tidak bisa, menjatuhkan alat bersih-bersihnya, menutup wajahnya yang berair karena air mata. Menangis dengan suara serak, kenapa semua ini terjadi pada dirinya?

"Eomma…hiksss… eomma… eomma… hiksss… hiksss… eomma bogoshipeoyo… eomma… hikssss"

Nafasnya semakin pendek seiring dengan air matanya yang semakin mengalir. Tubuhnya merosot ke bawah, ia tidak sanggup menjalani hal ini. ia ingin ikut bersama ibunya, ia tidak mau hidup menanggung batu seberat ini. ia tidak mau, ia tidak sanggup, ia mau pergi tapi kenapa ia tidak bisa pergi juga?

Sudah cukup hari ini ia melihat ketidak adilan benar-benar terjadi di depan matanya. Bahkan bukan dirinya saja, tapi orang-orang di luar sana yang selalu di bully habis-habisan dan berakhir bunuh diri. Mereka semua tidak sanggup menghadapinya, mereka semua tidak memiliki tempat bersandar untuk mencurahkan isi hati dan ketidak sukaan mereka pada peraturan kasta sekolah.

"Hiksss…"

Ia mengangkat wajahnya yang tertunduk, menjauhkan telapak tangannya. Ia seperti merasakan ada orang di belakang, ketika ia menjauhkan telapak tangannya menghapus bekas-bekas air matanya matanya membola melihat pantulan seseorang di dinding kaca.

HIK!

Suara cegukannya kembali terdengar. tangannya melemas di sisi tubuhnya, air matanya tiba-tiba berhenti mengalir. Menatapi pantulan orang itu dengan seksama, matanya semakin membulat melihat sosok itu semakin mendekat dan sekarang hanya berjarak sekitar lima langkah darinya. Kepalanya sama sekali tidak bisa digerakan, menoleh ke belakang saja rasanya berat sekali.

"Suara tangismu sangat mengganggu" ucap sosok itu-Yoongi dengan nada bicara datar seperti biasa. Jimin mengalihkan tatapannya, menganggap Yoongi tidak ada di belakangnya, melanjutkan hukumannya yang sempat tertunda dengan terburu-buru.

Namun, alangkah terkejutnya ia melihat alat-alat bersihnya patah menjadi dua. Tangannya yang tidak siap dengan patahan itu tertusuk dan mengeluarkan darah. Posisi Yoongi semakin dekat dengannya, bahkan satu langkah saja Yoongi mendekat bisa dipastikan ia akan berpelukan dengan Yoongi.

"Aku berdiri di belakangmu cukup lama dan kau tidak cegukan sama sekali, apa itu artinya kau membohongi dirimu sendiri bahwa kau tidak ingin melihatku?" tanya Yoongi mengeluarkan spekulasinya.

Jimin tidak menjawab, ia melangkah maju lalu segera berjalan pergi dengan terburu-buru. Namun saat di tengah-tengah langkahnya terhenti karena Yoongi sudah ada di hadapannya, menatapnya dengan tatapan datar dan dingin.

"Jawab"

"Aku tidak ingin bertemu dengan pembohong sepertimu"

HIK!

Mata Jimin membulat mendengar suara cegukannya sendiri. Tubuhnya melemas mendapat pandangan lembut dari Yoongi untuknya, pria yang jauh lebih tua darinya itu kembali mendekat namun Jimin kembali berjalan mundur.

"Kenapa kauu kemari? Aku tidak memanggilmu sebelum aku berda…"

Tiba-tiba saja kepalanya berputar-putar, seperti ada sebuah film yang dipaksa masuk ke pikirannya. Sebuah film yang memperlihatkan dirinya di dorong hingga telapak tangan dan lututnya terluka lalu yang menyembuhkannya adalah Yoongi.

"Jangan pernah terluka lagi"

"Wae? Apa kau tidak ingin bertemu denganku lagi? Kau sudah muak karena terus terpanggil setiap kali aku berdarah? Aku juga tidak ingin berdarah! Aku tidak ingin memliki hidup seperti ini! aku tidak mau tapi kau sudah memberikan hidup penuh duka ini padaku karena aku calon istrimu"

"Bukan, kau bukan calon istriku!"

"Aku calon istrimu! Aku tidak mau menjadi istrimu tapi takdir mengatakan aku calon istrimu! Aku!"

PRAAANG!

"KYAA!"

Tubuhnya bergerak melindungi tubuhnya sendiri, memeluk dan melindungi kepalanya dari pecahan dinding kaca yang di buat Yoongi. Pria tua itu dengan sekali kedipan mata menghentikan ocehannya dengan menghancurkan dinding kaca di sekeliling mereka. Tubuhnya bergetar, matanya berair ketakutan. Takut jika Yoongi kemari untuk membunuhnya, ia takut.

"Kau ingin pergi menemui ibumu tapi kau takut mati"

Suara Yoongi semakin terdengar jelas. Tubuh tegap itu semakin dekat dengan tubuh mungilnya seolah-olah mereka sedang berpelukan. Kepalanya menengadah memandangi Yoongi yang tiba-tiba saja menangkup kedua pipinya, menatapi lekuk wajahnya dengan seksama.

"Jangan terluka lagi karena aku mungkin akan sulit kemari, aku akan pergi jauh. Aku kemari untuk memberikan salam perpisahan"

Jimin terdiam, tubuhnya terasa kaku tapi ia tidak menjadi patung seperti dalam memori yang diberikan Yoongi di kepalanya. Ia hanya diam, memandangi cara Yoongi memandangi dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Meskipun aku akan sulit datang tapi aku akan merasakan kau terluka, aku tidak sanggup merasakannya. Jadi, selama aku perg jangan terluka, jangan bersedih karena aku tidak ada di sini dan jangan menangisi aku"

Entah kenapa Jimin kembali ingin menangis, ia menundukkan kepalanya. Membiarkan Yoongi mengusak kepalanya lalu tiba-tiba saja meghilang dengan dinding kaca yang sudah kembali seperti semula. Ia menengadah, menatap sekeliling dengan pandangan bingung dan ingin menangis. Kenapa Yoongi pergi begitu saja tanpa menunggu balasan darinya?

"Aku akan pergi jauh"

"Kajima…"

Yoongi menghela nafas, menidurkan tubuhnya yang lelah karena tadi ia benar-benar mengeluarkan kekuataan penuh untuk menghancurkan dinding kaca tebal itu. di sampingnya ada si manusia setengah nyamuk sedang membaca majalah sambil memegang sebuah gelas berisi cairan berwarna merah.

"Apa kau bisa minum darah di kamarmu?"

"Ini bukan darah! Ini wine!"

Yoongi mengangguk paham, namun sedetik kemudian ia mendelik marah menghirup aroma wine itu. koleksi wine nya tercemar oleh makhluk penghisap darah ini, tanpa bisa di cegah ia merebut gelas itu dan menyembunyikan di meja yang jauh.

"Aish! YAK!"

"Selama aku pergi aku tidak akan membiarkan tangan kotormu menyentuh wine ku!"

SeokJin berdecak sebal, menatap Yoongi dengan pandangan tajam lalu melempar majalahnya ke sembarang tempat. Ia benar-benar tidak mood bicara sekarang tapi Yoongi malah mengajak ribut karena masalah sepele yaitu wine.

Jimin pulang ke rumah Taehyung dengan langkah gontai. Ia bukan lelah karena hukuman yang diberikan Boa tapi ia lelah memikirkan cegukannya yang kembali muncul. Di dalam sudah ada Taehyung yang menyambut dirinya dengan wajah khawatir tapi Jimin tidak membalasnya.

Pemuda manis itu terdiam bersandar pada pintu tanpa melepaskan sepatu sekolahnya. Ia memikirkan Yoongi dan cegukannya hilang tapi jika ia menolak Yoongi dalam pikirannya cegukan itu akan muncul.

"Jimin-ah, aku mendengar semuanya. Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?"

Jimin menengadah, menggenggam tangan Taehyung dan menatap pemuda berstatus guru konselingnya itu dengan pandangan membulat.

"Aku tidak merindukannya"

HIK!

Taehyung mengernyit heran kenapa Jimin tiba-tiba cegukan keras setelah mengatakan kalimat ambigu itu. Ia balas menggenggam tangan Jimin, menunggu ucapan Jimin selanjutnya namun yang keluar adalah suara cegukan.

"Aku merindukan dia, aku ingin dia di sini, aku ingin bersama dia. Aku menginginkan dia"

Tidak ada cegukan. Jimin sudah kembali, suara cegukan itu hilang karena Jimin membuat sebuah pengakuan yang membingungkan bagi Taehyung. Jimin melepas genggamannya, menatap sepatunya lalu jam dinding rumah Taehyung.

"Aku harus pergi, aku masih mempunyai waktu dengannya"

"Jimin! Yak! Park Jimin! Apa maksudmu?!" tanya Taehyung bingung dan berniat mengejar Jimin tapi muridnya itu berlari cukup kencang untuk anak ukuran sekolah yang baru saja menyelesaikan hukuman berat sehari penuh.

Siapa yang di maksud Jimin? Apa pria yang pernah membantu Jimin dulu?

Setelah adu debat tidak berguna tentang wine itu Yoongi menjadi pemenang dengan memegang kunci tempat wine itu disimpan. Ia kembali duduk di sofa, bersandar malas seraya menatap lurus ke depan tanpa berniat menatap SeokJin yang juga sedang diam.

SeokJin sedang terdiam memikirkan bagaimana jika besok tanpa sengaja ia bertemu dengan Taehyung dan Taehyung mengajukan pertanyaan yang sama? Ia harus menjawab apa.

TING TONG TING TONG

SeokJin mendesah kesal, menendang kaki si gumiho untuk bergerak membuka pintu karena diluar ada tamu tapi Yoongi balas menendang kaki si vampire.

"Tidak perlu, itu NamJoon"

"Bukankah NamJoon mengetahui password dan memiliki kunci cadangan?"

Ucapan SeokJin hanya di jawab anggukan dari Yoongi benar juga. Kenapa ia harus repot-repot membukakan pintu untuk kunyuk satu itu?

TING TONG TING TONG

"Itu bukan NamJoon lalu siapa?"

"Tamu, sudah sekitar 90 tahun tidak ada yang bertamu"

SeokJin melotot terkejut, lama sekali bukankah arti bel pintu itu menandakan ada tamu yang datang. Itu tidak mungkin dirinya karena ia tidak memiliki teman dan lagipula Taehyung tidak mungkin karena pemuda manis dan imut itu semapt bercerita bahwa dia hari ini akan sibuk sekali.

"Itu tamumu! Buka pintunya!"

"Kenapa aku?! Bisa saja itu tamumu!"

TING TONG TING TONG

"Cepat buka pintunya!" perintah SeokJin dengan mata melotot tajam tapi Yoongi malah meringkuk takut, kenapa dia tiba-tiba takut. Ia menegakan tubuhnya berjalan di belakang SeokJin yang maju lebih dulu ke depan dan membuka pintu.

"Ann-"

Yoongi tahu suara ini. ini suara Jimin. Kenapa pemuda manis berstatus SMA itu datang ke rumahnya? Ia mendorong tubuh SeokJin, berjalan lebih dulu menghampiri Jimin yang masih terengah-engah seperti habis berlari.

"Kau habis berlari?"

"Nde… hosh"

"Di udara dingin dan sepatu seperti itu?" tanya Yoongi memastikan. Jimin mengangguk, menatap sepatunya lalu SeokJin yang suda masuk ke dalam, seperti vampire itu tidak mau melihat opera sabun di hadapannya.

"Bagaimana jika aku melihat yang seharusnya aku lihat sebegai calon istri gumiho?" tanya Jimin tiba-tiba. Tatapan Yoongi semakin tajam namun juga ada sirat kebingungan di pandangan matanya mendengar pertanyaan Jimin. "Apa yang terjadi jika aku melihatnya?" Jimin kembali bertanya kali ini pandangannya mengarah pada dada Yoongi meskipun tidak terlihat jelas bahwa ia memerhatikan dada Yoongi.

"Untuk apa kau bertanya? Kau tidak bisa melihatnya, kan? Kau juga tidak mau ada aku di sini" Yoongi kembali mengeluarkan ucapan pedasnya dan Jimin kembali menghela nafas. "Lebih baik kau pergi karena tidak ada gunanya jika kau tidak melihat apa pun" lanjut Yoongi berniat pergi tapi Jimin menahannya. Menatap Yoongi seolah memerintahkan untuk tetap diam di sini karena ia belum selesai bicara.

"Siapa bilang aku tidak bisa lihat?" tanya Jimin balik dengan nada suara tidak terima. Kali ini Yoongi menarik nafas, melihat sampai mana Jimin akan terus berusaha keras mengikutinya seperti anak anjing yang mengikuti induknya.

"Pertama, karena aku calon istrimu apa kita bisa menikah secepatnya? Kedua…" Jimin menggantungkan ucapannya. Kali ini mata Yoongi memancarkan rasa penasaran dengan permintaan Jimin yang terakhir. "Ahjussi jangan pergi dari sini. Tetap di Korea."

Kali ini mata Yoongi tidak penasaran lagi. Ia menghela nafas, memasukan tangannya ke saku celana tidur yang ia kenakan. Jimin menggigit bibirnya, menarik nafas sekali lagi untuk menguturakan keinginannya yang sesungguhnya.

"Kajimaseyo. Aku ingin ahjussi tetap di Korea, di sini bersamaku"

"Apa kau benar-benar bisa melihatnya?" tanya Yoongi kali ini terlihat serius. Jimin tidak menjawab atau mengangguk, ia mengambil satu langkah maju tapi Yoongi mengambil satu langkah mundur menjauhi Jimin.

"Bagaimana jika aku bisa melihatnya?"

"Buktikan"

"Ahjussi harus pilih satu dari dua pilihanku"

"Kau tidak bisa melihatnya"

Jimin berteriak kesal, pandangannya menajam dan berkilat marah melihat Yoongi seperti meragukan ucapannya. Yoongi menghela nafas lelah, berlalu begitu saja melihat Jimin masih berdiri di tempat sambil mengepalkan tangannya. Sepertinya Jimin memang bukan calon istri seperti yang ada di dalam ramalan itu.

"Aku melihatnya! Aku melihat panah itu!"

Langkah Yoongi terhenti mendengar Jimin meneriakan kata panah. Ia segera berbalik dan ia bisa melihat Jimin juga sudah berbalik, jari mungil itu terangkat menunjuk dengan berani sembilan anak panah yang menancap di dada Yoongi dengan pandangan menantang.

"Sembilan panah itu!"

Dengan berani ia kembali berteriak lantang, menunjuk panah itu dengan jari telunjuknya wajahnya terlihat puas karena ia bisa mengatakan semua yang ia lihat sekarang. Matanya semakain membulat terkejut. Tangannya menggantung lemas di sisi tubuhnya, pandangannya tidak lepas dari manik hitam legam Jimin. Dia memang benar-benar calon istrinya, malaikat mautnya yang akan mencabut sembilan anak panahnya, mencabut panahnya yang berarti dia akan segera mati.

To Be Continue


Hai?

Sesuai janji?

Hahaha update subuh-subuh ini, aku jadi kelelawar sekarang. Tidur jam enam bangun jam satu pagi demi bisa update ff dan update sosmed. Hahaha?

So gimana chapter ini? typo berteberan? Aku minta maaf *sungkem* *bungkuksepuluhkali* aku juga udah ngurangin penggunanaan bahasa korea atas saran salah satu reader, *terimakasih sarannya loh*.

Sekarang Yoongi udah yakin seratus persen tuh, ternyata dia selama ini nggak yakin karena Jimin nggak ngomong ngeliat tu panah itu alasannya? Gimana? Terus ff ini endingnya kayak goblin atau nggak? Kalian tunggu aja.

Btw, terimakasih yg udah baca, review, fav, dan follow. Aku sayang kalian semua! SARANGHAEYO~ *LOVESIGN*

THANKYOU FOR:

Baby Jiminie, ChimChimiJimin, ChiminsCake, fujoshimulfan, GummyDear, kanyasyub, Mitha478, runch randaa, stupefy-jin, taejinkim, tyongie, YOONMINs, yaoi-fireice, aditdot, alvilee, anonym103, Chimss, cho eun hyun, chyperssi, cutepark, fanfy, honeymoon, hyoukassi, ikonbrides, jajennie, mbtion13, meganehood, melyauyut575, seiramochiil, shiteujimmo, sugantea, thalkm, toblkkoARMY, yasminnie, 3Min9Sec, Allre, Olga850, Xio Lyan, jajennie, kevin lost in galaxy, meganehood, rillakumamon, seiramochili, shienya, thalkm.

LOVE YOU ALL! SARANGHAEYO! *LOVESIGN*

SEE YOU~~~