Mati.

Meninggalkan dunia.

Meninggalkan segalanya.

Melupakan segalanya.

Bebas dari hukuman.

Kematian adalah jawabannya. Jika kebanyakan orang tidak menginginkan kematian menjemput mereka, ia sangat menunggu kematian itu. ia menunggu dan selalu berharap tentang kematiannya sendiri. Ia ingin segera pergi, meninggalkan dunia fana milik manusia, meninggalkan seluruh harta, kekuasaan dan jabatannya, melupakan hal yang pernah ia alami dan yang paling utama adalah bebas dari hukuman ini.

Ia ingin terbebas dari hukuman paling menyakitkan ketimbang di penggal. Ia lebih memilih mati diracun ketimbang harus hidup abadi dengan segala kenangan menyakitkan tentang orang-orang yang ia sayangi.

"Tuan…"

Suara itu begitu lirih terdengar di telinganya. Ia berdiri kaku di samping tempat tidur pelayan setianya yang hanya tinggal menghitung detik sebelum malaikat maut datang dan mengantarnya ke pintu dunia selanjutnya.

"Dia akan mengurus tuan dengan baik"

Setelahnya mata itu tertutup. Tubuhnya tidak bergerak begitu juga dengan dadanya yang tidak naik turun lagi. Mata tajamnya lalu beralih pada sosok kecil yang berdiri dalam diam, matanya sudah berkaca-kaca melihat kematian kakeknya, satu-satunya keluarga yang masih sosok kecil itu punya, pergi untuk selama-lamanya.

"Aku akan menguburkannya lalu kita akan pergi"

Sudah lima puluh tahun ia hidup di dunia yang masih penuh konflik. Ia mengangkat tubuh pelayannya, membawanya ke atas tempat tidur yang sudah penuh dengan ranting kayu. Setelah berdoa lebih dulu, ia segera membakar jasad itu.

Anak kecil tadi semakin menangis histeris melihat kakeknya benar-benar pergi meninggalkannya. Ia menarik nafas panjang, menggendong anak laki-laki itu dan membawanya pergi karena sebentar lagi ia melihat bahawa tanah yang ia gunakan untuk membakar jasad pelayannya akan menjadi medan perang.

Perkiraannya itu benar. Tidak berselang lama, ribuan anak panah melesat keluar berbarengan dengan suara rintihan orang-orang.

"Kita akan pergi jauh. Kau harus memulihkan tenagamu" ucapnya seraya memberikan bungkusan berisi nasi. Anak kecil itu menggeleng, menyerahkan bungkusan itu padanya.

"Tidak perlu. Anda yang seharusnya makan bukan pelayan seperti saya, saya bisa bekerja di pasar selagi menunggu kapal"

"Kau pelayanku. Kau harus selalu sehat untuk merawat tuanmu, makanlah"

Anak kecil itu terdiam, memandangi bungkusan nasi itu yang sudah dibagi dua oleh tuannya. Meskipun ragu di awal ia memakan begitu lahap bungkusan nasi itu, ia tersenyum melihat anak kecil di hadapannya makan begitu lahap.

Sudah dua hari mereka berjalan ke kota untuk menumpang kapal menuju tanah sebrang memulai semuanya dari awal. Namun, rencana itu hanya sebatas rencana ketika sekelompok berandal mengacak-acak pelabuhan dan tanpa sengaja sabetan pedang berandalan tersebut mengenai kepala pelayannya.

Ia terdiam di tempat. Matanya yang semula membola terkejut berubah menjadi kilatan tajam saat salah satu berandal itu mendekati jasad pelayannya lalu menginjak tubuh mungil itu.

"Jauhkan kaki kalian"

"Kau memerintah kami?"

Ia menengadah, menunjukan wajahnya yang sedikit kotor namun tetap menunjukkan wajah sangar dan penuh amarah. Bukannya takut, para berandal itu malah semakin tertawa dan menginjak mayat pelayannya.

"Berikan uang atau apa pun di kantungmu"

"Kau membunuh dia"

"Aku tidak sengaja membunuh anak kecil ini"

"Kau membuatku sangat marah sekali" ucapnya seraya maju menghadap para berandal itu, melepas tudung kepala yang menutupinya. Menampakan rahangnya yang mengeras menahan rasa nafsu membunuh hewan di dalamnya.

"Kau akan merasakan amukan seekor hewan"

Ia menggeram, menunjukkan tangannya yang sudah berubah dipenuhi kuku panjang yang siap mencakar para berandal pasar di hadapannya yang mulai ketakutan. Mulutnya terbuka mengeluarkan auman mengerikan, angin di sekitar mereka semakin kencang menerbangkan para berandal itu ke udara, menghancurkan pelabuhan itu dengan hantaman kapal-kapal yang baru saja mendarat.

Kakinya mnghentak hingga membuat tanah di sekitarnya hancur, orang-orang berlarian panic melihat seekor monster mengamuk. Mereka takut, takut pada sosok monster menyerupai manusia dan hewan itu.

Ia tahu ia menyeramkan, ia tahu itu sebuah hukuman, ia tahu semuanya.

Yoongi tahu dan karena itu ia ingin segera mengakhiri hidupnya.

(Beuatiful-WANNA ONE, Spring Day-BTS, Tree-Yang Yoseob, You are-GOT7, All of Me-John Legend, That )

"Aku melihatnya! Aku melihat panah itu!"

Langkah Yoongi terhenti mendengar Jimin meneriakan kata panah. Ia segera berbalik dan ia bisa melihat Jimin juga sudah berbalik, jari mungil itu terangkat menunjuk dengan berani sembilan anak panah yang menancap di dada Yoongi dengan pandangan menantang.

"Sembilan panah itu!"

Dengan berani ia kembali berteriak lantang, menunjuk panah itu dengan jari telunjuknya wajahnya terlihat puas karena ia bisa mengatakan semua yang ia lihat sekarang. Matanya semakain membulat terkejut. Tangannya menggantung lemas di sisi tubuhnya, pandangannya tidak lepas dari manik hitam legam Jimin. Dia memang benar-benar calon istrinya, malaikat mautnya yang akan mencabut sembilan anak panahnya, mencabut panahnya yang berarti dia akan segera mati.

Jimin menurunkan jarinya, memandang Yoongi yang berwajah terkejut dan sedikit pucat. Mungkin terkejut dengan kenyataan bahwa ia memang calon istri Yoongi. Apa Yoongi membencinya? Meskipun istrinya apa Yoongi tetap membencinya, bukan itu yang penting tapi apa Yoongi akan tetap pergi meskipun istrinya ada di hadapannya.

"Kajima…"

"Hm,"

Yoongi menarik nafas panjang, menurunkan pandangannya memandangi sandal rumah, sepatu Jimin, lalu naik memandangi wajah Jimin yang sedikit bersedih. Dengan hati-hati ia maju, menarik punggung itu mendekat dan membawanya dalam sebuah pelukan.

"Kajima… kajima… aku mohon jangan pergi…hiksss… kau tidak boleh meninggalkan istrimu"

Yoongi tidak menjawab, tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada Jimin. Menelungsupkan kepala bersurai hitam itu di ceruk lehernya, mengusap-usap punggung mungil itu dengan lembut dan hati-hati.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau memang istriku. Kau istri seorang Gumiho"

Tanpa sadar Jimin mencengkram begitu kuat sweater cokelat di bagian dada Yoongi mendengar ucapan Yoongi bahwa dia tidak akan pergi. Entah kenapa hatinya tiba-tiba begitu bahagia, lega dan tenang ketika mendengar Yoongi tidak akan meninggalkannya.

"Kau adalah istriku. Tidak mungkin seorang suami meninggalkan istrinya" ucap Yoongi seraya menjauhkan tubuh Jimin, menangkup wajah Jimin dengan hati-hati lalu mengarahkannya tepat di depan mata tajamnya.

"Uljima…"

Jimin mengangguk patuh, menutup matanya mencegah air matanya mengalir tapi air mata itu tetap mengalir hingga Yoongi memutuskan untuk mengusap kedua pipinya yang basah dengan jempol dan terakhir sungguh mengejutkan.

CUP

Yoongi mengecup kelopak matanya lalu puncak kepalanya cukup lama. Mata Jimin semakin terpejam, ia nyaman dan ia merasa jauh lebih tenang lewat pelukan ini. lama kelamaan kecupan itu membawa tubuhnya semakin ringan dan membawa kesadarannya pergi.

Yoongi menjauhkan tubuhnya, menatap Jimin yang sudah jatuh tertidur karena kecupannya barusan. Dengan lembut dan hati-hati ia menggendong Jimin dan membawanya masuk ke dalam dan mengundang tatapan aneh dari SeokJin yang sedang meminum yoghurt di depan TV.

"Apa yang di lakukan karnivora itu?"

Setelah memakaikan selimut, Yoongi beranjak menjauh. Menatapi tubuh mungil itu yang terlelap begitu pulas, ia menarik nafas panjang lalu mengambil tempat di samping Jimin. Pikirannya kembali berkelana mengenai ucapan Jimin tadi, sembilan panah itu. kalimat itu terus berputar-putar di otaknya bagai kaset rusak yang terus dipaksa berputar di kepalanya.

Seharusnya ia bahagia karena sebentar lagi keinginan terbesarnya akan segera terkabul, ia akan mati. Pergi menjadi hembusan angin dan melanjutkan hukuman selanjutnya, berkelana menjadi angin, baru ia bisa bertemu dengan Dia yang memberikan hukuman ini padanya.

Ia menghembuskan nafas lelah, bangun dari posisi duduknya lalu menghampiri koper hitamnya dalam kebisuan. Tangannya bergerak membuka koper itu dan mengeluarkan seluruh isinya yang hanya berupa pakaian sehari-hari, memasukannya kembali ke dalam lemari.

Namun, saat tersisa satu barang ia tertegun cukup lama. Tangannya bergerak mengambil gulungan lukisan itu, membukanya dan mengusap lukisan itu hati-hati.

"Sebentar lagi aku akan menemuimu"

Menarik nafas panjang adalah hal yang ia lakukan sebelum menggulung lukisan itu dan memasukannya dalam lemari, menyimpannya begitu hati-hati. Lukisan itu adalah kenangan terakhir yang ia miliki bersama adiknya, ia tidak mau kehilangan kenangan terakhirnya ini. kenangan terakhir yang begitu menyakitkan, kenangan yang akan selalu mengingatkannya pada sosok pria paling pengecut yang pernah ia temui.

1180

Yoongi tersenyum melihat adiknya-Chohee tidak henti-hentinya tersenyum memandangi hadiah pemberian darinya. Mata adik perempuannya itu begitu berbinar, lalu tanpa peringatan adik tersayangnya itu menerjangnya dengan sebuah pelukan hangat. Melupakan fakta bahwa baju yang dikenakan kakaknya itu masih tercium bau anyir darah.

"Orabeonim, aku akan memakai hanbok ini setiap hari bahkan di hari kematianku aku akan memakai hanbok ini"

"Saat seseorang meninggal kau harus memakai hanbok putih bukan merah muda seperti ini"

Chohee mengerucutkan bibirnya sebal, namun ia tetap tersenyum kecil dan segera masuk ke dalam kamar ganti bersama beberapa pelayan untuk membantunya memakai hanbok. Yoongi tersenyum, memandang rumahnya dalam diam. Sudah lama sekali ia tidak pulang semenjak ia ditunjuk raja mudanya menjadi panglima perang ia sama sekali belum pulang sejak… bahkan ia lupa sudah berapa lama ia tidak pulang.

"Bagaimana penampilanku?"

Yoongi tersenyum lebar melihat penampilan adik perempuannya itu yang begitu cantik, kulit putih bersih, rambut hitam terkepang dengan indah dan jangan lupa hanbok hadiah darinya yang sangat padu dan indah di tubuh sang adik. Adiknya benar-benar cantik.

"Jelek"

Tapi ia tidak mau mengakuinya. Ia lebih sering meledeki adiknya ketimbang memujinya.

"Kalau begitu kau lebih jelek dariku"

Dan mereka berakhir dengan tertawa. Bukan sebuah pertengkaran.

Tapi kali ini mereka harus bertengkar. Sangat hebat, Yoongi tidak bisa menahan emosinya mendengar kabar bahwa sang adik sudah dilamar oleh sang raja. Ia tidak mau adiknya terlibat kehidupan politik kerajaan, sia-sia usahanya selama ini menyembunyikan sang adik dari jangkauan orang istana. Sia-sia.

"Aku tidak bisa menolak perintah raja, itu sama saja dengan dosa"

"Tak masalah asalkan kau selamat"

"Aku akan baik-baik, aku janji!"

Tanpa sadar Chohee menaikan nada suaranya. Yoongi tercengang, dengan segala emosi dan ketidak terimaannya ia berjalan keluar dari rumah yang baru ia singgahi beberapa minggu ini. Membawa kudanya ke medan perang dan melampiaskan segala amarahnya di sana. Membunuh orang yang entah musuh atau ada di pihak kerajaan.

Ia benar-benar marah, ia buas seperti binatang.

Tapi ia tetap seorang kakak. Dari jauh ia bisa melihat sang adik berwajah murung setelah pulang dari pertemuan keluarga membicarakan pernikahannya dengan sang raja. Adiknya bukan tidak bahagia dengan pernikahan itu, Chohee merasa bersalah karena sudah berbicara kasar pada kakak tercintanya itu.

Ia menangkup tangannya keluar, menampung turunnya saluju dengan tidak minat. Sejujurnya ia menyukai salju tapi entah kenapa di matanya sekarang salju itu sama sekali tidak menarik.

"Kau merusak hanbok yang aku berikan dengan wajah seperti itu"

Chohee terperenjat, ia membuka jendela tandunya lebih lebar. Tersenyum puas melihat sang kakak-Yoongi berjalan beriringan dengan rombongannya. Namun, senyumnya luntur melihat lumuran darah mengotori wajah dan baju perang Yoongi.

"Kau ke medan perang lagi? Kenapa kau tidak diam saja di rumah, sebentar lagi aku akan menikah"

"Arra, tapi aku tetap seorang prajurit" bantah Yoongi tanpa menatap Chohee yang berbinar-binar melihat sang kakak akhirnya mau menunjukkan batang hidung setelah perdebatan panas waktu itu.

"Apa orabeonim menyetujui pernikahanku?" tanya Chohee dengan hati-hati, takut membuat sang kakak marah seperti beberapa minggu lalu. Yoongi tidak menjawab, ia malah mengeluarkan sesuatu, sebuah hadiah untuk Chohee.

"Pakai ini saat kau menikah, agar aku selalu melihatmu dari jauh"

Sebuah cermin. Chohee tersenyum, memasukan cermin itu ke balik hanboknya. Ia kembali menjulurkan kepalanya keluar. Memperlihatkan wajahnya dengan benar pada Yoongi.

"Aku memakai hanbok pemberianmu, Yang Mulia Raja tidak pernah lepas memandangku. Apa mungkin dia jatuh cinta padaku?"

"Dia jatuh cinta pada hanbok pemberianku, kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"

Chohee cemberut, tapi ia hanya diam lalu tertawa melihat bibir Yoongi berkedut menahan tawa. Ia tahu kakaknya pasti memuji dirinya, ia tahu itu dengan pasti.

Kakaknya akan selalu memujinya. Ia yakin akan hal itu, bahkan di saat seperti ini pasti sang kakak akan memujinya. Tubuhnya berdiri tegak di tengah-tengah pintu masuk istana, berhadapan dengan Yoongi yang berdiri mematung dengan lumuran darah akibat perang berbulan-bulan. Matanya tidak berair menangis, karena ia yakin sang kakak tidak akan kuat jika melihatnya menangis, ia tidak akan menangis.

Tangannya menggenggam erat cermin pemberian Yoongi, memandang wajahnya cukup lama lalu Yoongi yang tiba-tiba saja berlari ke arahnya. Tidak lama, beberapa prajurit istana menyeret tubuhnya, mengingkatnya ke kursi dan mulai menyiksanya.

Sang kakak masih berusaha tetap berlari meskipun anak panah terus menghujani tubuh tegap sang kakak, hingga akhirnya Yoongi jatuh terduduk setelah menerima serangan terakhir berupa sabetan pedang di kakinya.

Samar-samar dengan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, ia bisa mendengar teriakan sang suami. Ia tahu suaminya sedang murka, tapi ia tidak pernah menyangka jika sang suami tega menyiksanya secara diam-diam dua hari ini dengan memberinya racun setiap kali ia minum teh. Bahkan sudah dua hari ia dipenjara dan menerima penyiksaan akibat dirinya yang terus berpihak pada kakaknya.

"Kenapa kau kembali sebagai pahlawan? Kalau kau tidak kembali dan mati di sana kau tidak akan melihat adikmu terkapar seperti itu. Seharusnya kau mati sebagai pahlawan bukan pemberontak seperti ini"

"Berikan aku pedang beracun sekarang. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri"

Lewat ekor matanya ia bisa melihat seseorang, seseorang yang merubah suaminya. Orang itu berdiri menatapnya penuh kemenangan dan kepuasaan. Ia tahu apa yang membuat orang itu melakukan ini tapi ia tetap tidak mempercayainya. Bahkan ia tidak percaya bahwa orang itu menancapkan anak panah beracun hingga menembus dadanya.

Tubuhnya terasa panas, terbakar seperti api mendapat panah beracun tepat di dadanya. Tangannya melemas, genggamannya pada cermin kesayangannya terlepas. Retina indahnya bisa melihat bahwa sang kakak juga terjatuh karena sabetan pedang suaminya. Ia tersenyum, ia tidak akan menangis saat meninggalkan bumi, ia harus mati dalam keadaan cantik sehingga sang kakak bisa memujinya disurga dengan hanbok kesayangannya bahwa ia adalah adik yang cantik.

Yoongi tersentak dari tidurnya di sofa. Dadanya naik turun mendapat mimpi buruk-bukan lebih tepat di sebut kenangan buruk yang menghampiri tidurnya. Ia mengusap wajahnya, menatap sekeliling kamarnya yang sudah terang benerang, sepertinya sudah pagi. ia kembali memandang lurus ke ranjangnya yang masih di isi orang yang sama, yaitu Jimin.

"Dia masih tidur"

Yoongi bergumam pelan, bangun dari duduknya dan mengambil tempat di pinggir ranjang. Menatapi wajah damai Jimin, ia melirik tas ransel Jimin yang bergetar di dekat kakinya. Penasaran ia membuka tas itu, menemukan sebuah benda persegi panjang bernama ponsel. Ia tidak tahu cara menggunakannya tapi ponsel ini terus bergetar dan menampilkan nama V sonsaengnim.

Dengan insting ia menggeser layar ponsel itu ke kanan, lalu mendekatkan ponsel itu di telinganya hati-hati.

"Syukurlah kau mengangkat telfonku! Kau itu kemana semalam? Aku bingung dan cemas mencarimu!" sebuah suara melengking tiba-tiba menerjang gendang telinganya. Ia menjauhkan ponselnya sejenak lalu mendekatkannya kembali.

"Jimin-ah? Park Jimin? Kau masih di sana?"

"Jimin sedang tidur, dia baik-baik saja dan dia ada di rumahku" jawab Yoongi dengan nada santai kelewat datar malah. Taehyung di seberang sana mengernyit, siapa pria dengan suara bass ini? kenapa Jimin bisa bersama pria bersuara menyebalkan ini.

"Kenapa dia bisa bersamamu? Apa hubunganmu dengan Jimin?"

"Tidak ada, aku hanya sekedar mengenalnya saja"

"Karena itu bawa pulang muridku sekarang juga"

"Aku tidak janji soal itu"

"Biar aku tebak kau pasti pria yang membuat Jimin selama ini cegukan? Kau pasti pria brengsek itu! Das-"

Dengan sopannya Yoongi mematikan ponsel itu dengan cara mencabut batrenya. Ia menghela nafas sambil menyentuh telinganya yang masih berdengung akibat suara melengking orang bernama V itu. ia kembali memandang Jimin yang mulai menggeliat dalam tidurnya, sepertinya pemuda manis itu akan bangun.

"Kau sudah bangun?"

Jimin sepenuhnya membuka mata sipitnya, terkejut setengah mati menyadari tempat ia tidur bukan kamarnya yang berada di rumah Taehyung. Tubuhnya segera ia dudukan, matanya semakin membola melihat Yoongi sudah duduk di hadapannya dengan baju yang sama seperti semalam. Bahkan ia tidak mengganti seragam sekolahnya.

"Ahjussi…"

"Tenang saja, kau ada di rumahku lebih tepatnya kamarku"

Jimin mengangguk paham, menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Yoongi lebih jauh. Suasana di sekitar mereka tiba-tiba saja berubah menjadi canggung, dengan hati-hati Yoongi mendekati Jimin. Tangannya terangkat mengelus kepala Jimin, merapihkan rambut sehitam jelaga itu lalu tersenyum kecil setelah rapi.

"Kenapa kau tidak memberitahu bahwa selama ini kau melihat panah-panahku?" tanya Yoongi dengan suara pelan, terkesan begitu lembut. Sangat malahan, membuat Jimin sedikit terhipnotis dan tidak bisa bergerak beberapa detik.

"Apa kau sengaja?" tanya Yoongi lagi. Jimin mengangguk, jari mungilnya terangkat menyentuh dada bidang Yoongi yang berbalut sweater cokelat semalam, menyentuhnya hati-hati takut membuat Yoongi kesakitan.

"Aku takut saat aku mengatakan kalau aku melihat panah-panah ini kau akan pergi dariku, kau akan marah karena aku menyinggung hal aneh. Aku takut kau pergi saat itu…" Jimin menjawab dengan suara lirih, menjauhkan jarinya lalu memandang lurus ke kedua bola mata Yoongi yang tidak henti-hentinya memperhatikannya.

"Aku tidak ingin ahjussi pergi, aku sudah menunggumu. Aku menunggu pangeran yang akan menjadi suamiku, menjemputku dari dunia gelap itu, aku sudah menunggu ahjussi…"

"Aku juga sudah menunggumu, tapi aku bukan seorang pangeran seperti khayalanmu. Kau…"

Yoongi tidak melanjutkan penjelasannya lagi mengenai posisi istri di dalam hubungan mereka. Tiba-tiba saja hatinya menghalangi dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya, ia tidak mau Jimin tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi seorang malaikat pencabut nyawa seorang Min Yoongi. Ia tidak mau Jimin tersakiti akan fakta itu, ia tidak mau melihat Jimin mengeluarkan air matanya lagi terlebih karena dirinya.

"Kau tidak perlu berkhayal sejauh itu, aku hanya seorang gumiho yang berstatus suamimu dan kau istriku"

Jimin mengangguk seadanya, menatap keluar jendela lebih tepatnya pada matahari terbit. Ia juga baru sadar jika mansion Yoongi ini ada di dekat bukit yang menunjukkan pemandangan indah matahari terbit.

"Kau ingin melihatnya?"

Jimin mengangguk antusias, menerima uluran tangan Yoongi yang menuntunnya hati-hati ke balkon yang tepat menghadap matahari. Ia sedikit tersipu dan terkejut setengah mati merasakan genggaman tangan itu begitu lembut dan begitu hati-hati memperlakukannya.

"Kau belum pernah melihat matahari terbit?"

"Selama aku hidup aku hanya melihat kegelapan tapi setelah bertemu denganmu aku melihat setitik cahaya terang menghampiriku. Kau adalah cahayaku, ahjussi"

Yoongi tertegun melihat senyum lebar Jimin, kedua mata itu ikut menyipit saat Jimin tersenyum. Tubuhnya melemas, matanya terpaku pada satu objek yaitu wajah putih bersinar itu semakin bersinar karena terpaan cahaya matahari. Makhluk di hadapannya ini begitu cantik, terutama senyum itu. meskipun hanya terlihat dari samping, Yoongi masih bisa melihat jelas sinar yang ditampilkan di wajah Jimin.

Begitu indah.

Begitu cantik.

Ia tidak ingin cahaya itu hilang. Ia ingin terus melihat cahaya itu. ia ingin melihat Jimin tersenyum, ia ingin melihat Jimin bahagia, ia ingin melakukannya.

"Teruslah tersenyum"

Jimin mengernyitkan keningnya, ia menoleh terkejut melihat Yoongi berada di sampingnya dengan jarak begitu dekat. Pria yang jauh lebih tua darinya itu, mengarahkan tubuh mungilnya berhadapan dengan Yoongi.

"Aku ingin melihat senyummu"

"Ahjussi…"

"Jangan pernah menangis, terluka, tetaplah tersenyum seperti ini karena kau sangat cantik saat tersenyum. Aku sungguh-sungguh mengatakan ini"

Jimin merasa wajahnya terbakar hingga menjalar di kedua telinganya. Ia menunduk malu, saat melihat Yoongi tanpa sadar tersenyum karena tingkah menggemaskan Jimin. Ia juga mengakui bahwa Jimin imut, selain cantik. Kenapa anak seperti ini bisa mendapat kehidupan menyedihkan seperti itu? seketika, ia tersadar bahwa semua itu terjadi karena dirinya.

Takdir seorang istri Gumiho adalah hidup menderita. Dan semua itu karena dirinya. Seketika senyumnya luntur, ia melangkah mundur berdehem cukup kuat berusaha mengembalikan suasana kembali normal.

"Aku akan membuatkanmu sarapan, kau harus sekolah, kan?"

"Eoh, aku akan sekolah"

Yoongi mengangguk, berjalan keluar teras dengan wajah datar seperti biasa. Diam-diam Jimin sedikit kecewa melihat perubahan raut wajah Yoongi. Kenapa dia bisa merubah wajahnya secepat itu? Aneh sekali.

Ia menyesal mengajak Jimin sarapan. Kalau saja ia tahu NamJoon pulang hari ini ia pasti akan menyuruh Jimin makan di dalam kamar ketimbang sarapan dengan ditemani pertanyaan ingin tahu NamJoon. Mulai dari siapa namamu?-padahal NamJoon sudah tah- mengeluarkan gombalan ala cap kuda, bahkan keponakannya itu memberikan play full kiss dan wink.

Menjijikan.

"Kenapa kau makan sedikit sekali? Apa kau tidak menyukai sandwich buatan pamanku?" tanya NamJoon berpura-pura sedih. Jimin menggeleng, menatap NamJoon yang duduk di hadapannya dengan wajah bersalah.

"Bukan seperti itu, aku menyukainya tapi aku memang tidak terbiasa sarapan sebanyak ini"

"Lain kali jika kau menginap di mansion ini lagi aku akan membuatkanmu sandwich sesuai porsimu. Eottae?"

"Nde, aku akan menunggunya"

SeokJin dan Yoongi berdecak malas melihat kelakuan playboy macam NamJoon yang mulai bangkit karena melihat mangsa baru. Padahal mangsa itu bisa dibilang mangsa milik pamannya sendiri. Dasar anak nekat dan kurang ajar.

"Makan sarapanmu, Kim NamJoon!"

NamJoon langsung mematuhi ucapan dingin dari pamannya itu, kembali memakan sarapan miliknya tanpa berniat menggoda Jimin lagi. Namun acara sarapan penuh khidmat itu harus terusik karena suara bel kembali terdengar untuk kedua kalinya setelah 90 tahun.

"Buka pintunya, NamJoon-ah" perintah Yoongi.

"Sam-"

SeokJin langsung memandangnya tajam dan mampu membuat NamJoon segera melangkah cepat ke pintu utama. Jimin tersenyum melihat pria berstatus keponakan Yoongi itu, betapa serunya kehidupan di rumah ini.

Di pintu utama, NamJoon terkejut setengah mati melihat yang datang. Seorang pemuda yang lebih pendek darinya, memakai setelan kemeja berwarna cokelat, jas berwarna cokelat tua dan mantel hitam yang melekat indah di tubuh moleknya. NamJoon bersiul melihat wajah si pemuda manis ini, tipenya sekali.

"Kau mencari siapa? Apa kau kehilangan sesuatu?" tanya NamJoon berpura-pura peduli dan dekat. Pemuda itu-Taehyung melipat tangannya di dada, matanya memicing tajam melihat seorang player bertubuh tinggi dan lagi Jimin semalaman menginap di mansion besar yang di penuhi orang-orang unik-aneh.

"Nde, aku memang kehilangan sesuatu"

NamJoon menutup mulutnya tidak percaya, seolah-olah ia paham dengan ucapan Taehyung yang menjurus ke topik hilangnya Jimin semalam. "Kau memang kehilangan sesuatu, kau pasti sedang mencari sayapmu, kan? Semalam aku menemukan sayapmu jatuh di mansionku, seperti takdir yang dituliskan Tuhan dengan tinta emas, kan?"

Taehyung memutar matanya malas mendengar gombalan murahan NamJoon yang terdengar recehan.

"Kau juga pasti habis terjatuh"

"Anni!"

"Anni? Padahal aku sangat yakin kau jatuh di hatiku saat ini"

Taehyung hampir muntah detik ini mendengar gombalan murahan itu terus berlanjut. Hampir saja ia menerobos masuk jika saja ia tidak melihat Jimin yang tiba-tiba muncul di hadapannya menghentikan aksi gombalan murahan NamJoon.

"Hyung!"

"Akhirnya kau keluar, aku sudah lama menunggumu. Ayo ke sekolah karena aku harus mengurus masalahmu kemarin" ucap Taehyung terburu-buru seraya menarik tangan Jimin keluar mansion itu, menghiraukan teriakan NamJoon yang terus meminta nomor ponselnya.

NamJoon berdecak sebal, "Sebentar lagi aku akan mendapatkan dia. Dia itu benar-benar tipeku"

"Kau mau merebut teman kencan SeokJin?"

NamJoon terperenjat kaget mendengar suara Yoongi tiba-tiba muncul di belakangnya, ditambah SeokJin juga muncul dari arah belakang Yoongi.

"Apa? Kenapa? Kenapa kalian seperti itu?" tanya SeokJin memandang Yoongi dan NamJoon tidak mengerti. Dua pria tampan itu hanya diam, terutama Yoongi ia sedikit kesal karena Jimin tiba-tiba saja memutuskan pulang setelah mengetahui bahwa yang bertamu tadi adalah guru yang selama ini merawatnya. Entah kenapa ia jadi bad mood sekarang.

"Samchon, aku tidak bermaksud merebut teman kencanmu"

"Geotjimal! Dia mau merebut teman kencamu"

SeokJin mendelik galak ke arah NamJoon yang sekarang hanya bisa nyengir dengan tanda peace di kepala. Kenapa Yoongi tiba-tiba jadi tukang adu domba dan pengadu seperti itu?

"Kau! Jika kau melakukan itu aku akan membawamu pergi dari tempat ini"

"Eiy! Aku tidak akan melakukan itu, aku akan selalu ada di pihakmu dan aku tidak akan mengecewakanmu, itu janjiku"

Mata SeokJin memicing tajam, NamJoon membungkuk sebelum berlari seribu langkah menjauhi tempat SeokJin masih berdiri. Di depan pintu masuk memandangi gerbang mansion mereka yang terbuka karena Taehyung tadi masuk dan membawa Jimin keluar.

Ia tidak bisa bertemu dengan Taehyung dulu, ia harus memikirkan alasan yang tepat agar Taehyung bisa mengerti kalau ia tidak bisa memberitahukan namanya. Ia harus membuat Taehyung mengerti akan hal itu.

Seperti dugaan Jimin. Satu sekolah benar-benar dibuat heboh karena kejadian kemarin. Kejadian pertama adalah Choi Youngjae, anak paling pintar, ketua kelas selama tiga tahun berturut-turut di bully habis-habisan oleh trouble maker, kedua Seulgi dan Irene notabennya anggota trouble maker ikut terluka, dan yang paling mengejutkan termasuk berita ketiga adalah Jimin pelakunya.

Murid yang notabennya selalu di bully bisa melakukan hal nekat dan gila itu demi menyelamatkan Youngjae. Di sini lah mereka berakhir, di ruang kepala sekolah dimana tempat kakek Jungkook bekerja mengendalikan sekolah dan segala macam fasilitasnya.

Jimin duduk di samping Taehyung dekat dengan kursi kepala sekolah, kepalanya menunduk tidak kuat menahan atmosfer yang begitu mencekam dan mengintimidasi di sekitarnya.

"Aku tidak akan menyalahkan siapa pun, tapi aku membenarkan tindakan Jimin"

Suara ayah Youngjae memecah keheningan setengah jam lebih itu. mata pria berusia lima puluh tahun lebih itu lurus ke memandang Jimin, pemuda manis bermarga Park itu bisa melihat bahwa ayah Youngjae benar-benar berterimakasih atas tindakan Jimin kemarin. Ia hanya membalas dengan senyum kecil dan kepala mengangguk kecil.

"Tapi karena dia" ucap seorang wanita berpakaian merek terkenal terdengar, menunjuk Jimin dengan jarinya, "Anakku tidak akan terluka parah"

"Saya juga membenarkan perkataan ibu Seulgi, meskipun untuk menyelamatkan temannya tapi tetap saja Jimin tidak perlu melakukan itu"

"Kwon sonsaengnim"

Jimin terkejut mendengar nada bicara Taehyung bisa berubah menjadi suara yang cukup mengerikan, berbanding terbalik dengan paras manis nan imutnya.

"Saya ingin mengajukan satu pertanyaan untuk anda sebagai sesame guru, bukan sesame orang yang memiliki koneksi" ucap Taehyung penuh penekanan di kata koneksi, ekor matanya melirik Jungkook yang sejak tadi hanya diam terduduk di kursinya tidak ikut ngotot seperti biasanya.

"Jika anak anda di culik di daerah terpencil dengan penculik handal berdarah dingin, lalu tiba-tiba anak anda kembali tapi dia membunuh orang apakah anda akan menerima anak itu? apakah anda menerima tindakan pembelaan diri yang dilakukan anak anda demi bisa selamat?"

Ibu Seulgi, Ibu Irene dan Boa terdiam tidak bisa menjawab. Mata mereka berkeliling bingung menjawab apa, jauh di dalam benak mereka masing-masing, mereka tidak akan menerima anak mereka kembali. Alasannya karena anak itu melakukan perbuatan tercela demi bisa kabur dan hidup, keluarga yang selalu memandang segalanya dengan sorotan kamera, harta, dan kekuasaan tidak akan mengerti tentang hidup seseorang.

Mereka hanya akan memikirkan hidup mereka sendiri. Mereka egois bahkan terhadap kehidupan anak mereka sendiri. Mereka bukan manusia, karena sejahat apa pun manusia bahkan binatang sekali pun akan tetap menerima keluarganya kembali setelah di culik bertahun-tahun dan terpaksa membunuh si penculik untuk bisa kabur. Mereka bukan manusia, tapi mesin pencetak uang.

"Aku akan menerima anakku" jawab ayah Youngjae seraya mengelus kepala anak laki-lakinya itu yang terdiam tidak bicara sama sekali. Mungkin masih shock atas kejadian yang menimpanya kemarin, manusia normal pasti akan terkejut mendapat tindakan bully sekejam itu.

"Kalian bukan manusia tapi mesin pencetak uang. Kalian mementingkan hartas martabat sendiri meskipun itu harus melukai orang lain demi menjaganya. Apa kalian tidak malu? Tindakan Jimin kemarin bisa dikategorikan sebagai pembelaan diri" ucap Taehyung menimpali jawaban ayah Youngjae.

"Dia selama ini tidak memiliki satu pun teman tapi setelah mendapat satu teman dia rela melukai orang lain demi menyelamatkan teman pertamanya itu. apa itu sebuah kejahatan? Apa sebuah kejahatan jika seseorang membunuh penculik yang berusaha membunuhnya? Apa salah jika seseorang ingin hidup? Apa salah jika seseorang ingin melindungi hidup orang lain?" pertanyaan menusuk itu keluar dari mulut Taehyung bagai racun yang membungkam mulut seluruh orang di ruangan ini.

"Kalian tidak mengerti masalah ini karena kalian hanya mementingkan hidup kalian tanpa memikirkan hidup orang lain. Kalian bukan manusia, tapi mesin pencetak uang"

"V Sonsaengnim!"

Taehyung baru bisa dikendalikan setelah mendengar suara kakek Jungkook yang dalam dan penuh otoriter. Ia membungkuk sedikit, merapihkan rambutnya sebentar lalu mengatur deru nafasnya yang menggebu-gebu karena menahan ledakan emosi yang sepenuhnya belum meledak.

"Aku tidak akan berpihak pada siapa pun tapi ini masalah anak SMA, mereka sudah dewasa dan biarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri. Jadi, aku tidak akan memberi sangsi atau apa pun pada anak-anak. Karena ini masalah yang dibuat mereka dan mereka harus menyelesaikan masalah mereka sendiri"

"Sajangnim!" ucap Boa tidak terima. Ayolah, ia sudah berjanji pada ibu Seulgi dan Irene kalau ia akan memberikan hukuman berat pada Jimin bahkan ia sudah berjanji akan menendang Jimin keluar. Tapi kenyataannya? Masalah ini di tutup begitu saja.

"Aku tidak mau membahas masalah anak-anak yang sama, aku juga tidak akan mau mendengar keluhan orangtua mereka lagi karena semua masalah ini dibuat oleh mereka. Jadi, mereka yang harus menyelesaikannya"

"Arraseo!"

Jungkook tiba-tiba bersuara, ia bangkit dari kursinya sambil meregangkan tubuhnya yang kaku karena hampir dua jam ia duduk tanpa bisa bergerak sama sekali.

"Kami yang membuat masalah ini jadi kami akan menyelesaikan masalahnya. Boleh kami pergi sekarang?" tanya Jungkook sedikit menguap. Seulgi yang mendengar ucapan Jungkook menahan tubuh itu agar tidak pergi.

"Kau ini bicara apa? Ini kesempatan kita mengeluarkan Jimin" desis Seulgi yang diangguki Irene. Jungkook mendesah malas, ia melirik Jimin yang masih terkejut bahkan tubuh itu menegak memandang lurus ke arah Jungkook.

"Jika dia memang harus keluar, aku sendiri yang akan mengeluarkan dia bukan kakekku atau kakak sepupu angkatku. Aku mengantuk dan jangan halangi aku lagi"

Seulgi terperangah, menatap punggung tegap itu keluar dengan tidak sopannya tanpa berpamitan pada orang-orang di dalam bahkan kakeknya. Alhasil, seluruh orang mulai beranjak pergi satu persatu. Geng trouble maker hanya bisa mendengus kesal karena rencana besar mereka untuk mengeluarkan Jimin gagal lagi.

Kakek Jungkook memijat pelipisnya lalu melangkah keluar, meninggalkan Taehyung, Jimin dan Youngjae-ayahnya juga ikut keluar- dalam keheninga ruang kepala sekolah.

"Jimin-ah" panggil Youngjae dengan suara yang masih serak, efek ia ketakutan semalam setiap kali orang mendekatinya. Jimin mendongak, menatap Youngjae dengan pandangan takut-takut melihat pemuda manis bermarga Choi itu mendekatinya.

"Gomawo"

Jimin terkejut. Ia hanya diam tanpa berniat membalas ucapan dan uluran tangan Youngjae, ia terkejut. Untuk pertama kalinya ada orang yang berterimakasih padanya.

"Jeongmal gomawo. Jika kau kemarin tidak melakukan itu aku pastikan aku bisa mati atau paling tidak aku di rawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Semua itu tidak terjadi karena kau Jimin, aku sungguh, benar-benar, berterimakasih"

Jimin mengangguk, menerima uluran tangan itu dengan senyum lebar yang membuat matanya menyipit lucu.

"Sama-sama, Youngjae-ah"

Mereka saling melempar tersenyum. Senyum awal dari persahabatan mereka. Taehyung tersenyum semakin lebar, pemandangan yang sungguh membuatnya iri. Ia tidak pernah mendapatkan teman apalagi sahabat seperti Jimin atau pun Youngjae. Bahkan ia tidak pernah memiliki teman kencan yang serius.

Soal teman kencan entah kenapa ia selalu kesal sendiri, teman kencan selalu mengingatkannya pada pria tinggi nan rupawan itu. ia selalu bad mood sendiri mengingat pria dingin namun sialnya sangat tampan dan begitu ia taksir.

"Aku ingin bertemu dia lagi nanti"

Sepulang sekolah, seluruh penghuninya menatap pemandangan aneh yaitu Jimin yang tersenyum dan tertawa bersama Youngjae. Ada yang menatap mereka aneh, marah dan jijik. Jijik pada Youngjae karena mau berteman dengan orang macam Jimin. Selalu di bully, miskin, yatim piatu dan tidak jelas asal usulnya.

Di gerbang sekolah bahkan ia masih tertawa karena candaan super lucu dari Youngjae. Entah kenapa ia ingin tersenyum hari ini, ia benar-benar bahagia. Dan semua itu bermula dari satu orang, yaitu ahjussi.

Geng trouble maker hanya bisa mendengus. Jijik dan tidak suka Jimin mendapat kebebasan serta mendapat pengawal baru selain Taehyung, tentu saja Youngjae. Jungkook yang ikut memperhatikan Jimin menatap target bully nya itu dengan pandangan berbeda, ia menangkap raut bahagia lain di wajah Jimin. Anak itu bahagia bukan hanya kejadian di ruang kepala sekolah saja tapi ada hal lain.

"Apa yang membuat dia seperti itu?"-Jungkook.

"Aku tidak menyangka anak pendiam sepertimu itu bisa membuat lelucon seperti itu. perutku sangat sakit sekarang"

Jimin tertawa kecil. Kemudian tersenyum dan menggengam tangan kecil Youngjae dengan erat, tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa dengan matamu?" tanya Youngjae khawatir.

Jimin menggeleng lalu mengusak matanya, "Aku bahagia karena mendapat teman" jawab Jimin menundukkan kepalanya sedikit lalu tersenyum lebar melihat mobil yang menjemput Youngjae sudah datang.

"Kita akan bertemu besok, sampai jumpa" ucap Youngjae sambil melambaikan tangannya heboh sebelum memasuki mobilnya.

Ia tersenyum, menghembuskan nafas lega melihat mobil itu keluar dari area sekolah dengan selamat. Ia bersiap-siap melangkah keluar juga namun terhenti karena sebuah mobil berwarna putih masuk ke dalam area sekolahnya dan berhenti tepat di depannya. Jimin terkejut, ia sedikit takut mengingat kejadian ia di culik waktu itu persis seperti sekarang.

Namun, rasa takutnya hilang begitu melihat yang keluar dari mobil itu adalah…

"Kau sudah pulang?"

Yoongi. Yoongi keluar dari mobil itu, menggunakan sweater hitam model turtle, celana hitam dan mantel berwarna cokelat serta tidak ketinggalan kaca mata hitam yang membingkai mata tajamnya. Jimin terpaku, ia tidak pernah merasa terkagum-kagum seperti ini saat bertemu seorang pria. Ia benar-benar kagum, dan terpesona dengan Gumiho berstatus suaminya itu.

"Aku bertanya padamu bukan pada patung"

"Oh?" Jimin yakin sekali pasti wajahnya tadi terlihat begitu bodoh. Ia tersenyum kaku sambil mengangguk, tanpa peringatan Yoongi menariknya masuk ke dalam mobil dan membawa mobil mewaha berwarna putih itu keluar area sekolah.

Murid-murid yang melihat Jimin pulang menggunakan mobil mewah bersama seorang pria tampan tentu saja mengundang rasa penasaran dan iri. Jungkook melihat semuanya, matanya memicing tajam tanpa sebab. Siapa dia? Kenapa Jimin merasa tenang bahkan menerima perlakuan terburu-buru orang itu? kenapa Jimin seperti itu?

Di dalam mobil tidak ada yang bicara. Yoongi sibuk fokus pada jalanan sementara Jimin sibuk dengan sebuah buku yang sejak masuk tadi dia keluarkan. Yoongi terkadang mencuri-curi pandang pada Jimin yang begitu fokus membaca buku tipis itu. awalnya Jimin begitu fokus, lalu tertawa, setelahnya tersenyum lembut dan hampir menangis.

Sebenarnya apa yang dibaca Jimin?

"Apa yang sedang kau baca?" tanya Yoongi yang mulai terusik dengan rasa penasaran di dadanya. Jimin mendongak, tersenyum kecil sambil menunjukkan sampul buku kumpulan dongeng anak-anak pada Yoongi. Pria berusia ratusan tahun itu mengangguk setuju.

"Kau menyukai cerita dongeng? Bukan novel?"

"Nde, aku sangat menyukainya karena aku ingin membuat cerita untuk anak-anak dan menyanyikan lagu untuk mereka" jawab Jimin dengan penuh semangat, bahkan Yoongi yakin kalau ia tadi melihat Jimin hampir melompat menjawab pertanyaan Yoongi.

Tanpa sadar ia tersenyum, menatap salah satu gang sempit di daerah pertokoan dan tanpa pikir panjang segera memasuki gang itu. Jimin awalnya terkejut namun saat Yoongi membuka pintu, ia semakin terkejut.

"Wow!"

Jimin segera keluar, matanya membola diikuti dengan mulutnya yang ikut membulat lucu melihat pemandangan yang ditunjukan Yoongi untuknya. Sebuah area lading ilalang berwarna kuning yang sangat luas, tanpa sadar ia tersenyum dan berlari menembus hamparan lading itu. ia terus berlari dengan Yoongi di belakang mengawasi. Ketika sampai di tengah ia semakin di buat terkejut.

"Ahjussi! Tempat apa ini?"

Yoongi tersenyum kecil, menarik Jimin mendekat, mengambil alih tas sekolah Jimin ke pundaknya. Anak SMA tingkat akhir itu terkejut mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Ya, suami, itu adalah anggapan Jimin sekarang. Yoongi adalah suaminya.

"Ini lading ilalang pribadiku, aku sering ke sini dan iseng-iseng aku membangun itu"

Jimin tersenyum, kembali berlari menghampiri salah satu wahana bermain di tengah padang ilalang yang begitu luas ini. di tengah-tengah lading itu terdapat ayunan, jungkat-jungkit, kora-kora dan trampoline. Ia berlari terlebih dulu ke ayunan, bermain sendiri dengan suara tawa yang begitu nyaring dan ceria.

Yoongi memperhatikan itu dalam diam. Ia memiilih duduk di bangku panjang berwarna putih dengan meja panjang di hadapannya. tempat yang cocok di jadikan tempat piknik juga, tidak sengaja matanya menangkap buku kumpulan dongenga anak yang di baca Jimin tadi.

Iseng-iseng ia membuka buku itu, ternyata buku itu sudah penuh coretan. Entah coretan rumus, gambar abstrak atau sekedar curahan hati Jimin. Beberapa halaman dari buku itu ada yang sengaja di tandai, ia membuka halaman pertama.

Serigala dan Kelinci

Aku menginginkan akhir kelinci menjadi pasangan abadi Serigala. Tapi itu tidak mungkin.

Sesuatu yang selalu manusia inginkan pasti tidak selalu terjadi. Kenapa Tuhan seperti itu?

Yoongi tahu arah tulisan Jimin, pasti mengenai hidupnya pada saat itu dan tiga penyakit kutukan itu. seketika air mukanya berubah menjadi keruh, benaknya menyalahkan dirinya terus menerus. Seharusnya Jimin tidak memanggul takdir seberat ini.

Cinta?

Aku tidak percaya cinta, apa kalian tahu alasannya? Karena aku tidak pernah jatuh cinta, aku tidak pernah mencintai apalagi di cintai. Sejujurnya orang yang tidak pernah merasakan cinta tidak akan pernah percaya cinta.

Aku pernah percaya pada cinta tapi hanya bertahan sampai usiaku sepuluh tahun, aku mencintai ibuku dan aku dicintai ibuku. Tapi saat ibuku tidak ada aku tidak percaya cinta lagi.

Cinta, ya?

Tapi aku percaya cinta itu bisa tumbuh, aku percaya. Kenapa? Karena aku merasakan cinta itu lagi. Aku tidak yakin tapi aku bisa merasakan bahwa… cinta itu akan datang padaku.

Sepertinya tintanya masih basah, apa mungkin Jimin baru menulisnya baru-baru ini. kepalanya mendongak, menemukan Jimin tersenyum lebar sambil mendengarkan musik dengan earphone dan bermain trampoline. Tubuhnya kembali tidak bisa digerakan melihat senyum lebar itu diterpa cahaya matahari terbenam, ia kembali terpesona.

"Wow!"

Yoongi bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Jimin. Ia terpaku cukup lama memandangi wajah anak SMA berstatus istrinya itu. istri? Apa pantas menyebut anak SMA polos seperti Jimin sebagai istri yang dalam hal ini adalah malaikat mautnya. Jimin benar-benar terlihat bahagia mendengar takdirnya yang selama ini hanya khayalan menjadi kenyataan.

Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut sehitam jelaga itu. membuat wajahnya semakin terlihat bersinar dan cantik. Angin-angin itu juga membuka halaman buku dongeng itu, menunjukan satu halaman berjudul note di paling belakang buku dongeng itu.

Jatuh cinta?

Rasanya seperti kau tidak bisa mengalihkan duniamu.

Matamu akan tertuju padanya, seperti sebuah lempengan besi yang akan selalu tertarik karena daya tarik sebuah magnet.

Rasanya seperti kau kehabisan kata-kata.

Cinta membuat lukisan terkenal Monalisa kalah saing dengan dia. Dia begitu indah meskipun orang-orang memandangnya rendah.

Rasanya seperti kau tidak ingin melihatnya terluka.

Cinta membuat seseorang rela melakukan apa pun bahkan… kehilangan nyawa.

Cinta itu bukan makhluk hidup, dia tidak perlu makan atau minum. Tapi dia bisa mati.

Teori kehidupan yang tidak berlaku bagi cinta, seperti itu lah cinta.

Apa kalian merasakannya?

Yoongi kembali mendongak setelah membaca sebaris deret sebuah puisi buatan Jimin. Pemuda mungil itu nampak terengah-engah turun dari trampoline. Dia berlari kecil menghampiri seekor kupu-kupu yang sejak tadi mengikutinya bermain. Kupu-kupu berwarna biru itu tidak bicara tapi ia selalu mengikuti Jimin kemana pun.

"Sekarang aku tahu, kenapa cinta itu bisa mati. Cinta mati karena orang yang membawa cinta itu akan ikut mati. Jika orang yang membawa cinta itu mati, maka orang yang dicintainya akan ikut mati. Cinta adalah bagian hidup dari manusia, jika seseorang tidak memiliki cinta maka orang itu tidak hidup. Aku merasakan cinta itu, itu berarti aku merasakan hidup sesungguhnya dan orang yang membawa cinta itu…"

"Ahjussi!"

Jimin berlari kecil menghampirinya dengan kupu-kupu melingkari kepalanya seperti bando. Nafasnya terengah-engah, nampak kelelahan tapi senyum itu masih berkembang begitu lebar dan indah. Sangat indah, bahkan Yoongi lebih tertarik memandangi senyum itu ketimbang kupu-kupu indah yang melingkari Jimin.

"Ada di hadapanku"

"Ahjussi! Aku dengar dari mereka kalau ahjussi sering menanam bunga di sekitar sini untuk memberi makan kupu-kupu ini. Apa itu benar? Aku juga ingin menanam bunga-bunga di sini juga, apa boleh?" tanya Jimin dengan nada antusias yang begitu kentara. Anak SMA tingkat akhir itu tidak menyadari perubahan raut wajah Yoongi yang tadi tersenyum lebar sekarang berubah menjadi sendu dan sedih. Ia terlalu sibuk meminta keinginannya menanam bunga di padang ilalang ini.

"Dia cinta pertamaku"

To Be Continue

joget poco-poco sendiri aku nulis ff ini, aku sengaja updae cepet sebagai ucapan terimakasih untuk kalian yang setia nunggu dan menyukai cerita ini. aku seneng banget loh.

tu yang nunggu yoonmin semoga udah seneng ya aku kasih moment cukup banyak di ff ini, semoga moment mereka di sini manis ya. soal jinv di chapter selanjutnya ya. mungkin besok atau dua hari lagi, tapi aku nggak janji ya.

oke semuanya terimakasih, selamat membaca dan menunggu kelanjutan ff ini.

saranghaeyo~~~ *lovesignbarengpemain*