SEBELUM KALIAN MEMBACA CHAPTER INI, AKU MAU NGUCAPIN TURUT BERDUKA CITA SEDALAM-DALAMNYA BAGI PARA SHAWOL, TERUTAMA PENGGEMAR JONGHYUN DAN KELUARGA YANG DITINGGALKAN. AKU JUGA AWALNYA KAGET DAN NGGAK PERCAYA, TAPI SEKALI LAGI AKU TURUT BERDUKA CITA. DAN JIKA ADA SHAWOL YANG MAMPIR KE SINI SEMOGA KALIAN KUAT MENERIMA KENYATAAN INI.
SELAMAT JALAN OPPA...
MESKIPUN AKU BUKAN SHAWOL TAPI AKU, PENGGEMAR KOREA LAINNYA AKAN MERINDUKANMU. MERINDUKAN TINGKAHMU. SUARA INDAHMU. TAPI TUHAN PASTI LEBIH SAYANG DENGAN OPPA DAN INGIN MENDENGAR SUARA OPPA YANG MERDU. JADI TUHAN MEMANGGIL OPPA SEKARANG.
TERIMAKASIH UNTUK CINTA DAN KARYA YANG SUDAH DIBERIKAN KEPADA KAMI PARA PENGGEMAR KOREA TERUTAMA SHAWOL. KAMI TIDAK AKAN MELUPAKANMU DAN KARYA-KARYAMU YANG AKAN SELALU TERKENANG.
GHAMSAHAMNIDA...
SARANGHAEYO OPPA!
Kepalanya mendongak, menemukan Jimin tersenyum lebar sambil mendengarkan musik dengan earphone dan bermain trampoline. Tubuhnya kembali tidak bisa digerakan melihat senyum lebar itu diterpa cahaya matahari terbenam, ia kembali terpesona.
"Wow!"
Yoongi bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Jimin. Ia terpaku cukup lama memandangi wajah anak SMA berstatus istrinya itu. istri? Apa pantas menyebut anak SMA polos seperti Jimin sebagai istri yang dalam hal ini adalah malaikat mautnya. Jimin benar-benar terlihat bahagia mendengar takdirnya yang selama ini hanya khayalan menjadi kenyataan.
Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut sehitam jelaga itu. membuat wajahnya semakin terlihat bersinar dan cantik. Angin-angin itu juga membuka halaman buku dongeng itu, menunjukan satu halaman berjudul note di paling belakang buku dongeng itu.
Jatuh cinta?
Rasanya seperti kau tidak bisa mengalihkan duniamu.
Matamu akan tertuju padanya, seperti sebuah lempengan besi yang akan selalu tertarik karena daya tarik sebuah magnet.
Rasanya seperti kau kehabisan kata-kata.
Cinta membuat lukisan terkenal Monalisa kalah saing dengan dia. Dia begitu indah meskipun orang-orang memandangnya rendah.
Rasanya seperti kau tidak ingin melihatnya terluka.
Cinta membuat seseorang rela melakukan apa pun bahkan… kehilangan nyawa.
Cinta itu bukan makhluk hidup, dia tidak perlu makan atau minum. Tapi dia bisa mati.
Teori kehidupan yang tidak berlaku bagi cinta, seperti itu lah cinta.
Apa kalian merasakannya?
Yoongi kembali mendongak setelah membaca sebaris deret sebuah puisi buatan Jimin. Pemuda mungil itu nampak terengah-engah turun dari trampoline. Dia berlari kecil menghampiri seekor kupu-kupu yang sejak tadi mengikutinya bermain. Kupu-kupu berwarna biru itu tidak bicara tapi ia selalu mengikuti Jimin kemana pun.
"Sekarang aku tahu, kenapa cinta itu bisa mati. Cinta mati karena orang yang membawa cinta itu akan ikut mati. Jika orang yang membawa cinta itu mati, maka orang yang dicintainya akan ikut mati. Cinta adalah bagian hidup dari manusia, jika seseorang tidak memiliki cinta maka orang itu tidak hidup. Aku merasakan cinta itu, itu berarti aku merasakan hidup sesungguhnya dan orang yang membawa cinta itu…"
"Ahjussi!"
Jimin berlari kecil menghampirinya dengan kupu-kupu melingkari kepalanya seperti bando. Nafasnya terengah-engah, nampak kelelahan tapi senyum itu masih berkembang begitu lebar dan indah. Sangat indah, bahkan Yoongi lebih tertarik memandangi senyum itu ketimbang kupu-kupu indah yang melingkari Jimin.
"Ada di hadapanku"
"Ahjussi! Aku dengar dari mereka kalau ahjussi sering menanam bunga di sekitar sini untuk memberi makan kupu-kupu ini. Apa itu benar? Aku juga ingin menanam bunga-bunga di sini juga, apa boleh?" tanya Jimin dengan nada antusias yang begitu kentara. Anak SMA tingkat akhir itu tidak menyadari perubahan raut wajah Yoongi yang tadi tersenyum lebar sekarang berubah menjadi sendu dan sedih. Ia terlalu sibuk meminta keinginannya menanam bunga di padang ilalang ini.
"Dia cinta pertamaku"
"Ahjussi…"
Jimin memanggil dengan suara lirih. Ia menatap Yoongi yang masih dalam posisi diam dengan buku dongeng terbuka, sepertinya suaminya itu sedang membaca buku dongeng miliknya. Perlahan ia maju mendekat, menatapi wajah Yoongi lebih seksama. Apa Yoongi menahan sakit atau semacamnya?
"Ah-"
"Ayo kita pulang"
Jimin terkejut mendengar nada bicara Yoongi kembali datar. Entah kemana nada bicara penuh kelembutan milik Yoongi tadi, matanya menatap lurus ke punggung tegap itu yang perlahan menghilang menuju tempat mobil mereka terparkir. Ia menarik nafas sebelum mengekor tepat di belakang tubuh Yoongi dalam kesunyian.
Kenapa Yoongi tiba-tiba seperti itu?
(Beutiful-WANNA ONE, You are so Beutiful-Eddy Kim, Growing Pains-Cold Chery & Stay with Me-Chanyeol EXO ft Punch)
Di dalam mobil putih mewah itu Jimin hanya diam, ia memandang lurus ke depan-jalanan Seoul yang semakin malam semakin ramai. Tangan mungilnya memeluk begitu erat tasnya, ia sama sekali tidak berani melirik Yoongi yang nampak sedang memendam sesuatu. Ia tidak mau bertanya karena ia takut kalau ia bertanya nanti malah mengusik Yoongi.
Jadi, ia hanya diam memainkan kuku-kukunya.
"Kau besok sekolah?"
Jimin mendongak, menatap Yoongi yang masih berwajah datar-tidak sepenuhnya datar karena ia bisa melihat ada kerutan di kening Yoongi. Kerutan itu menandakan bahwa pria yang jauh lebih tua darinya itu sedang berpikir keras.
"Nde, aku harus terus sekolah karena sebentar lagi aku akan ujian. Aku juga akan sering pulang malam untuk pelajaran tambahan" jawab Jimin dengan senyum kecil, berharap dengan senyumnya itu Yoongi akan menolehkan wajahnya padanya. Tapi pria itu sama sekali tidak menoleh, ia tetap fokus pada jalanan.
"Kenapa ahjussi bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu"
Jawaban yang sungguh sangat dibuat-buat dan terpaksa. Ia kembali menunduk, mengeluarkan ponselnya yang tiba-tiba saja bergetar menandakan ada panggilan masuk. Bibirnya tersenyum kecil melihat nama yang tertera di ponsel hitamnya itu.
"Hyung, aku akan segera pulang"
"Anni, aku ingin menelfonmu karena aku ingin bilang kalau aku akan pulang larut dan tidak usah memasak makan malam. Aku sudah makan di luar"
Jimin mengernyit mendengar nada frustasi Taehyung, ia pasti tahu masalah yang membuat guru sekaligus sahabat dan saudaranya itu seperti ini. apalagi kalau bukan pria misterius tanpa nama itu. ia juga terkadang berpikir kenapa Taehyung begitu tergila-gila pada pria aneh seperti itu, padahal masih banyak pria-pria di luaran sana yang mengejar Taehyung.
"Nde, hyung hati-hati dan jangan terlalu banyak minum"
"Eoh, aku tutup dulu"
Jimin mengangguk, menjauhkan ponselnya lalu menyimpannya setelah Taehyung memutus sambungan telfon itu. lagi-lagi ia melihat Yoongi masih tetap fokus memandang jalanan Seoul tanpa berkedip, ia berdehem lalu mengeteuk dasbor mobil menarik perhatian Yoongi.
"Turunkan aku di jalan itu, aku akan jalan kaki saja"
"Anni, aku akan mengantarmu sampai ke rumah"
Masih. Yoongi masih bicara dan menjawab pertanyaan Jimin tanpa menatap anak SMA tinggkat akhir itu dengan benar. Sesaat Jimin menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya sedikit kesal, entah kenapa ia marah melihat Yoongi mengacuhkannya seperti itu. ia marah, ia tidak suka, ia ingin Yoongi selalu memandanginya, memandangi dirinya seorang.
"Ahjussi, aku tidak mau tetangga di sekitar rumah V hyung membicarakan dia atau pun aku semakin besar. Turunkan aku di sana saja, aku bisa jalan kaki" ucap Jimin mencari alasan yang tepat dan hanya itu yang terpikir dan memang benar terjadi adanya.
Bisa ia lihat Yoongi menghela nafas kasar, memberhentikan mobilnya tepat di gang rumah Taehyung. Dia menarik nafas panjang, mencengkram stir mobilnya kelewat kuat tapi Jimin tidak menyadari itu. Jimin terlalu sibuk menerka apa yang sekiranya terjadi pada Yoongi. Kenapa Yoongi bisa berubah seperti itu.
"Ahjussi itu bukan suamiku"
Yoongi sempat terkejut mendengar ucapan Jimin yang begitu aneh dan ambigu. Ia ingin menoleh tapi ia tidak mau, ia menahan sekuat tenaga hasrat untuk menatap Jimin lebih lama. Ia tidak mau jatuh dalam pesona lebih jauh, jatuh dalam lubang kesalahan yang lain yaitu dia jatuh cinta dan menginginkan hidup abadi ini selamanya.
Ia tidak mau jatuh dalam lubang seperti itu.
"Ahjussi lebih mirip jin dalam cerita Aladdin, ahjussi sangat keren dan baik. Tapi, ahjussi juga sulit di tebak bahkan sekarang pun. Apa ahjussi sedang memikirkan sesuatu? Kenapa ahjussi tiba-tiba seperti ini?" tanya Jimin dengan suara pelan, Gumiho berusia ratusan tahun itu nampak menghela nafas lalu menggeleng.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin diam saja. Cepat turun, ini sudah malam kau harus belajar, kan?"
Jimin mengangguk, perlahan ia turun dari mobil mewah itu, menutup pintunya dengan pelan lalu berjalan masuk ke gang menuju rumah Taehyung tanpa menoleh ke belakang. Ia ingin tapi ia tidak mau melakukannya karena ia takut, takut jika tindakannya nanti bisa membuat Yoong tidak nyaman berada di sekitarnya.
Ia ingin Yoongi selalu nyaman bersamanya, bukan merasa canggung atau sebagainya. Tapi ia tidak bisa menahannya, kepalanya menoleh ke belakang. Seperti dugaannya mobil Yoongi sudah menghilang, mungkin di bawa si pemilik teleportasi seperti tadi.
Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang disembunyikan Yoongi dari dirinya? Dari hubungan mereka ini, apa itu?
…
…
Diam-diam Yoongi membawa buku dongeng itu pulang, ia masuk ke dalam kamarnya yang gelap dengan kepala yang terus berputar-putar memikirkan perasaannya pada Jimin. Ia melangkah semakin masuk ke dalam kamarnya, menatapi kasurnya yang masih berantakan karena belum ia bereskan setelah di tempati Jimin kemarin.
Bahkan ia masih bisa mencium wangi parfume yang digunakan Jimin dari selimut yang semalaman Jimin gunakan untuk tidur. Ia masih mencium wanginya, ia masih merasakan Jimin di sekitar ini dan itu berarti ia benar-benar jatuh cinta pada anak SMA itu.
"Ahjussi!"
"Aku melihat panah itu!"
"Hanya istrimu yang bisa mencabut panah-panah itu"
Tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas terbakar, terutama di bagian dadanya yang tertancap sembilan anak panah itu. tubuhnya melemas, ia terjatuh dengan posisi meringkuk di dekat ranjang. Meremas dadanya sendiri yang semakin nyeri dan terbakar luar biasa, tangannya yang satu meremat begitu kuat buku dongeng milik Jimin. Melampiaskan seluruh rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Bahkan ia bisa merasakan kalau tulang-tulangnya serasa lepas dari tempatnya mendapat rasa sakit dan terbakar ini. matanya lalu turun ke arah dadanya, ia bisa melihat dengan jelas panah-panah itu menancap di dadanya dan menghasilkan sebuah lubang mengerikan yang terasa panas seperti di sulut api.
"Akh!"
"Kau akan berubah menjadi angin"
"Setelah panah itu di cabut"
Ia harus berubah menjadi angin. Ia harus mati. Ia tidak akan hidup abadi seperti ini. ia tidak mau hidup abadi. Ia ingin bebas dari rasa sakit dan hukuman abadi ini. ia juga menginginkan Jimin hidup bahagia dengan takdir yang baru. Bukan takdir seorang istri Gumiho.
Ia harus mati.
…
…
…
Tubuh mungilnya ia bawa bersender pada pembatas jembatan dengan malas-malasan. Sejak tadi mata indah itu memandangi para pejalan kaki-terutama yang membawa pasangan-dengan pandangan iri. Ia iri, ia sudah tua tapi belum pernah menemukan pasangan atau teman kencan yang sesuai. Giliran sudah menemukan yang sesuai, teman kencannya malah memberi harapan palsu.
Ia menghela nafas, membalik tubuhnya guna menatapi jalanan Seoul dari atas jembatan penyebrang. Semoga saja tanpa sengaja ia bertemu pria misterius super kolot, bodoh, polos dan tidak tahu apa-apa itu. Terkadang ia-Taehyung juga heran kenapa ia begitu tergila-gila dengan pria berwajah pucat itu. Padahal jika dipikir banyak guru-guru lajang di sekolahnya yang terang-terangan mengejarnya.
Tapi, ia lebih memiliih pria yang tidak pernah merespon ucapannya dengan benar. Ia menangkup dagunya, menatap mobil-mobil di bawahnya lalu mulai menghitung mobil-mobil berwarna hitam, putih dan merah. Terus seperti itu sampai ia merasakan seseorang berdiri di sampingnya, ia memejamkan matanya, menahan kesal karena malam-malam seperti ini ada saja player yang ingin membual tentang gombalan murahan kelas teri.
Ia menoleh, ternyata yang berdiri di sampingnya adalah seorang wanita. Wanita yang kelihatan begitu cantik dan sexy, wanita yang jauh lebih pendek darinya itu nampak bersiap-siap menjual barang dagangnya. Ia mengedikan bahu tidak peduli, namun saat ia berniat kembali melanjutkan kegiataan absurdnya menghitung mobil matanya membola sempurna melihat pria yang sejak tadi ia pikirkan ada di hadapannya.
"Kau!"
Pria itu-SeokJin terperenjat kaget. Matanya membulat melihat V atau Taehyung ada di depannya. Pemuda manis dan cantik itu menggunakan kemeja merah, celana hitam dan mantel berwarna hitam. Astaga, kenapa ia bisa bertemu Taehyung di sini.
"Jangan lari dariku! Atau aku akan mematahkan lehermu!" ancam Taehyung seraya berjalan mendekati SeokJin dengan terburu-buru. Sedangkan pria tinggi dengan bahu lebar itu tidak bisa bergerak mendapat ancaman dari mangsanya sendiri.
Ia juga baru ingat kalau dia vampire. Kenapa dirinya selalu seperti ini? kenapa ia selalu melupakan tentang identitasnya sendiri jika berdekatan dengan Taehyung. Pemuda manis itu menarik nafas, melipat tangannya di dada sambil memasang wajah sebal dan tidak habis pikir ke arahnya.
"Kenapa kau tidak bicara? Kau tidak mau bertanya kabarku?" tanya Taehyung berusaha memancing SeokJin agar bicara. SeokJin mengeluarkan suara ah, lalu mulai membungkuk sembilan puluh derajat.
"Annyeonghaseyo! Bagaimana kabarmu?"
"Heol!"
"Nde?"
Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia harus selalu berdoa pada Tuhan jika berdekatan dengan SeokJin meminta kesabaran extra. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Apa kau itu anjing terlatih?" tanya Taehyung yang mulai kesal karena SeokJin kembali tidak mengeluarkan suaranya lagi sebelum ia memancing atau perintahkan.
"Nde?"
"Kau itu mirip seperti anjing di rumahku, dia akan bicara padaku atau menjawab pertanyaanku setelah aku bertanya lebih dulu. Kau itu manusia bukan anjing, kan?"
SeokJin terdiam, tidak mungkin kan jika ia menjawab ia bukan manusia atau anjing tapi vampire. Bisa-bisa Taehyung langsung menamparnya karena menganggap SeokJin bercanda atau pria brengsek, ia tahu itu dari drama yang sering ia tonton pagi-pagi.
"Aku manusia,"
"Kau manusia, aku percaya dan yakin dengan mataku. Kau memang manusia tampan, aneh, idiot, polos dan tidak tahu apa-apa. tapi, seperti yang aku bilang kau itu tampan"
Taehyung tersenyum lebar, menampilkan bibir tipis dalam mode bentuk lengkungan hingga matanya menyipit akibat senyum manis yang di cetaknya. SeokJin kembali memasang wajah bodohnya, tidak percaya jika wajah itu masih tetap bersinar meskipun tidak ada cahay matahari atau lampu, hanya bulan yang membantu wajah manis itu tetap bersinar.
Dia masih tetap cantik dan bersinar.
"Coba katakan di sini ada banyak café apa kau mau ke café bersamaku minum kopi? Katakan itu" perintah Taehyung kembali dalam mode kesalnya karena lagi-lagi ia di tatap SeokJin seperti hendak di telan bulat-bulat. Pria tinggi itu terdiam selama lima detik sebelum menuruti perintahnya, persis seperti anjing terlatih.
"Di sini ada banyak café apa kau mau ke café bersamaku minum kopi?"
Benar-benar menurut, bahkan dia tidak menambahkan kata tambahan di kalimat tadi. benar-benar pria penurut dan idiot.
"Baik, ayo kita ke café dan minum kopi"
"Nde?"
"Kau mengajakku minum kopi dan aku mau minum kopi bersamamu"
SeokJin masih mencerna kalimat Taehyung yang begitu sulit di terima otak jeniusnya. Taehyung berjalan lebih dulu, melewati SeokJin yang masih cengook di tempat. Apa ia barusan di tipu Taehyung agar pemuda manis itu bisa minum kopi bersamanya.
Manusia itu memang sulit di prediksi.
…
Taehyung bersidekap. Menatap SeokJin yang sejak tadi hanya menunduk, meminum kopinya tanpa menyentuh gelasnya sama sekali. Ia membuang nafas kesal, bahkan mereka tidak bicara sama sekali kecuali SeokJin yang mengucapkan terimakasih karena sudah mentraktir kopinya.
Hanya itu.
Setelahnya mereka diam seperti sepasang kekasih tuna wicara yang berkencan.
Membuang nafas adalah hal yang ia lakukan sebelum mengetuk meja, mencoba menarik perhatian SeokJina agar menengadah menatap wajahnya.
"Yak! Aku tidak sedang mengajak patung minum kopi, kan?" tanya Taehyung berniat menyindir sikap SeokJin yang kelewat diam. Pria itu mendongak, menatap Taehyung dengan tatapan bingung dan… Taehyung tidak bisa menjelaskan bagaimana ekspresi SeokJin sekarang.
"Kenapa kau mengatakan itu? aku manusia, aku bukan anjing, dan aku bukan patung"
"Lalu kau apa?!" tanya Taehyung mulai kesal, bahkan tanpa sadar menaikan suaranya. Ia benar-benar kehilangan kesabarannya bicara dengan SeokJin. Ia benar-benar yakin bahwa selama ini ia bicara menggunakan bahasa Korea yang baik dan benar tapi kenapa SeokJin seperti anak bayi yang baru lahir tidak tahu apa-apa.
"Kita sudah duduk di sini satu setengah jam. Kita sama sekali tidak bicara, kau asik dengan kopi-kopimu, sementara aku hanya diam. Kita ini sedang bertemu, bertatap muka, seharusnya mengobrol bukan diam seperti ini" omelan Taehyung diakhiri dengan bibir mengerucut sebal. Tangannya yang semula bergerak membantu omelannya agar jelas kembali ke tempat asal-bersidekap.
SeokJin terdiam. Ia benar-benar mengalami déjà vu. Ia mengalami kejadian yang sama seperti waktu itu. ia yang terdiam dengan wajah bodoh, menelusuri lekuk wajah Taehyung mulai dari kening berkerut sebal, bibir yang mendumel lucu, mata bergerak gelisah lalu memicing tajam menatap dirinya dan hidung yang kempas-kempis menahan kesal.
SeokJin, tentu saja dia kesal padamu. Kau itu tidak peka. Kau tidak tahu apa-apa soal pertemuan seperti ini karena kau vampire, seharusnya kau pergi. Meskipun jiwa vampire nya terus mengomelinya seperti itu, ia tetap tidak bisa mengalihkan atensinya dari sosok pemuda manis berprofesi guru tersebut.
"Bahkan sekarang kau menatapku seperti itu. Tapi kau tidak pernah memulai obrolan lebih dulu"
"Aku memang tidak pandai bicara"
Taehyung mengalihkan tatapannya dari luar jendela ke wajah tampan itu. Ia bisa menangkap ekspresi blank SeokJin setiap kali menatap wajahnya, ia tidak tahu kenapa SeokJin seperti itu. ia memajukan tubuhnya, masih dengan posisi bersidekap-kesal karena SeokJin menggantung kalimatnya.
"Aku juga tidak tahu tata cara mengobrol tapi aku seperti sudah mengobrol, bicara berjam-jam pada V-ssi saat minum kopi dan bertukar pandang seperti ini"
BLUUSS
Kedua pipi Taehyung terbakar, merah seperti kepiting mendapat ucapan bernada polos dari pria yang selama ini bersikap dingin padanya. Ia menjauhkan tubuhnya, merapihkan rambutnya sebentar seraya menundukkan kepalanya sedikit. SeokJin terkekeh melihat tingkah Taehyung semakin imut ketika menyembunyikan raut wajah merah kepiting rebus itu.
"Bahkan ketika kau berwajah seperti kepiting itu kau seperti sedang mengajakku mengobrol. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini tapi aku yakin semua ini sudah ada yang mengatur, meskipun aku tidak tahu kedepannya aku ingin selalu melihat wajah cantikmu"
Taehyung terkekeh, menyelipkan anak rambutnya ke telinganya yang sudah merah. Wajahnya benar-benar merah tersipu mendengar ucapan manis dari SeokJin, kenapa pria ini selalu memberinya kejutan manis seperti ini? apa dia sengaja? Apa dia sengaja bertingkah polos seperti itu lalu membuat kejutan lewat perkataannya tadi.
"Bicara jujur padaku, kau pasti bekerja di perusahaan yang khusus mengajari orang-orang menggombal. Sekarang kau persis seperti penggombal ulung"
SeokJin terkekeh begitu juga dengan Taehyung yang ikut tertekekeh, lalu tertawa cukup keras hingga mampu membuat sebagian pengunjung café menatap ke arah mereka.
"Akan lebih baik jika kau memberi tahu namamu padaku, aku tidak akan menertawakan namamu jika kau memiliki nama yang jelek" ucap Taehyung setelah mengendalikan suara tawanya. SeokJin terkejut, ia belum siap menerima pertanyaan itu.
Jadi, ia hanya diam memandangi wajah Taehyung dengan tatapan kosong dan idiot lagi. Taehyung menghembuska nafasnya ke atas hingga poninya sedikit terbang. Kenapa akan selalu seperti ini jika ia menyinggung nama pria berwajah rupawan ini.
"Kim"
Taehyung mengangkat alisnya bingung, apa yang dikatakan SeokJin tadi? apa itu marga yang disandang SeokJin? Tanpa sadar ia memajukan tubuhnya semakin dekat dengan SeokJin, tersenyum lebar karena SeokJin mau memberi tahu sedikit tentang nama pria idamannya ini.
"Oke, aku akan menerima. Tapi jika lain kali kita bertemu kau harus memberitahu nama lengkapmu, kau masih menyimpan nomorku, kan? Jika kau sudah mau dan bersedia memberitahu secara lengkap, telfon aku, arraseo?"
Baru saja Taehyung berniat menyentuh kepala SeokJin, pria itu sudah lebih dulu berjengit jauh dengan tampang horror dan jijik. Taehyung kembali memasang wajah marah dan kesal, ia kembali duduk dengan normal dan bersidekap-tanda bahwa ia benar-benar kesal sekarang.
"Aku punya alasan sendiri… kau jangan salah paham dulu… aku tidak mau ada yang menyentuh kepalaku… aku punya alasan… kau"
"Berhenti bicara tidak jelas," Taehyung menghembuskan nafas kesal, entah kemana rasa senangnya tadi karena SeokJin mau sedikit memberitahu namanya. Wajah itu kembali mengeluarkan ekspresi jauh lebih imut.
Posisi duduknya berubah menjadi duduk menyilang, matanya fokus menatapi gelas jus strawberry yang sedang ia nikmati, tangannya masih setia bersidekap dan saat dia menjauhkan gelas itu. SeokJin bisa melihat dengan jelas sudut bibir tipis berwarna pink itu sedikit kotor karena cream dari jus strawberry menyala itu. jari-jari mungilnya bergerak mengusap bibirnya dan dia kembali sibuk meminum jus itu tanpa mau menatap SeokJin yang benar-benar terpesona pada sosok bernama Taehyung itu.
Ia akui. Ia terpesona oleh sosok manusia yang mengaku bernama V ini.
Ia dengan bangga mengakui hal itu.
…
…
…
Jimin baru saja selesai mandi saat ia duduk di meja belajarnya dengan rambut masih sedikit basah. Ia menarik nafas panjang seraya membonkar tas ranselnya, mengerjakan tugas yang diberikan hari ini, belajar untuk besok dan menyusun buku-bukunya. Matanya mengernyit menyadari ada satu buku kesayangannya yang tidak ada di dalam tas sekolahnya.
"Buku dongengku? Buku itu dimana?" tanya Jimin mulai panik, mngobrak-abrik tas ransel dan juga mantel yang ia pakai tapi tidak ada. Buku dongeng kesayangannya, hadiah terakhir dari ibunya tidak ada. Buku itu hilang, otaknya berusaha mengingat kira-kira dimana ia meninggalkan buku dongeng itu.
"Eottkhae? Dimana aku menaruhnya tadi?"
BRAK!
Jimin terperenjat bahkan ia hampir terjatuh dari posisinya berjongkok mencari buku dongengnya. Matanya membola melihat Taehyung pulang dengan senyum mengembang, wajah merah tersipu dan kenapa dengan kepala Taehyung. Bukan kepalanya, tapi rambut gurunya itu.
"Hyung, rambutmu… kenapa rambut hyung…" Jimin tidak bisa meneruskan pertanyaannya karena Taehyung tiba-tiba saja menggaet lengannya dengan erat lalu mengajaknya berbaring bersama. Jimin menatap Taehyung dengan aneh, kenapa dengan gurunya ini. dan lagi, apa boleh guru di sekolahnya mengganti warna rambut?
"Wae? Apa aku aneh dengan rambut ini?"
Jimin tersenyum kaku, menatap senyum cerah guru sekaligus sahabatnya itu begitu lebar bahkan jika orang yang melihatnya akan salah menganggap bahwa orang yang sedang berguling-guling di sampingnya ini waras.
"Anni, tadi siang hyung masih setia dengan warna rambut cokelat brown. Kenapa hyung mengganti warnanya? Apa kepala sekolah tidak akan memperingatkan hyung?" tanya Jimin khawatir, Taehyung menghela nafas melihat raut wajah khawatir Jimin karena warna rambutnya yang berubah dalam waktu beberapa jam. Sepertinya ada yang terjadi selama hyung nya itu pergi hingga pulang cukup larut seperti ini.
"Apa sesuatu yang baik telah terjadi?" tanya Jimin menahan senyum lebarnya melihat raut wajah Taehyung semakin berbinar bahagia. Guru berwajah imut itu bangun dari aksi guling-gulingnya, menatap muridnya dengan pandangan yang sulit di jelaskan antara bahagia, sedikit sedih dan kesal-itu menurut Jimin.
"Pasti dia sedang bahagia"
Jimin menghela nafas mendengar suara anjing Taehyung yang bicara padanya. Anjing berwarna putih itu menatap Taehyung dengan pandangan jijik, karena anjing imut itu berpikir kenapa bisa tuannya berwajah seperti itu.
"Kau masih ingat pria misterius yang pernah aku ceritakan itu?"
Jimin mengangguk.
"Dia memberi tahu marganya dan dia mengucapkan sesuatu yang manis. Aku tidak tahu tapi baru pertama kali seorang pria yang sebenarnya bukan tipeku tapi mampu membuatku gila dan uring-uringan berminggu-minggu. Aku benar-benar bahagia, mungkin dia mau memberi tahu marganya karena aku mengganti warna rambutku"
Sejak awal cerita Jimin tidak henti-hentinya tersenyum melihat Taehyung nampak puas dan begitu bahagia hanya karena mengetahu marga sip ria. Ia tidak habis pikir, begitu istimewa kah pria itu hingga membuat Taehyung seperti ini.
Guru yang baru masuk langsung mendapat puluhan fans dari murid laki-laki mau pun perempuan, serta tidak ketinggalan guru-guru lajang di sekolahnya mulai mengejar Taehyung. Bahkan ia sempat beberapa kali membukakan pintu mantan teman kencan Taehyung yang berkunjung. Taehyung itu benar-benar pemuda popular, dengan wajah cantic dan sifatnya yang ceria itu.
Tapi, seminggu lalu Jimin melihat sifat asli gurunya itu yang sering uring-uringan sambil menatap ponsel dan terus bergumam nama dan pria berkulit pucat. Taehyung itu orang yang sulit di tebak, dan Jimin terkejut masih ada orang seperti Taehyung di dunia seperti ini.
"Aku tidak peduli ada guru yang menegurku, bisa saja dia iri karena warna rambut seperti ini tidak cocok dengannya. Yang jelas, hari ini aku benar-benar bahagia~~"
Jimin semakin tersenyum melihat guru berlari keluar diikuti oleh anjing peliharaanya yang sedikit mendumel karena tuannya itu mengacuhkannya begitu saja. Sejenak ia melupakan kejadian dimana buku dongengnya hilang, ia harus bertemu Yoongi untuk menanyakan buku dongengnya itu. mungkin saja tertinggal di mobil, di padang ilalang atau terbawa Yoongi.
Tapi kemungkinan ketiga tidak karena Yoongi tidak tertarik dengan hal-hal kekanakan seperti itu. lalu, dimana buku itu?
…
…
…
Kedua pria tampan itu saling termenung di bangku masing-masing. Wajah mereka benar-benar terlihat nelangsa dan tengah berpikir keras.
Pria yang duduk di sebelah kanan adalah SeokJin. Manusia setengah nyamuk alias vampire itu menatap keluar jendela ruang makan sambil meneguk darah salah satu korbannya malam ini. setelah menemui Taehyung, ia bergegas bekerja mengejar orang-orang berdosa, menghisap darahnya lalu membawa mereka ke tempat pengadilan apakah dia akan di hukum menjadi vampire juga atau di kirim ke dunia kematian. Pekerjaan yang melelahkan dan lagi beberapa hari ini ia belum sempat minum darah karena ia kelewat sibuk.
Pria yang duduk di sebelah kiri adalah Yoongi. Makhluk pecinta daging alias karnivora itu menatap keluar jendela ruang makan yang begitu luas dengan pandangan tidak minat. Tangan kanannya menggenggam gelas berisi wine koleksinya, meneguknya cukup banyak guna menghilangkan pikirannya tentang Jimin. Ia bingung kenapa ia bisa jatuh cinta, bahkan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada malaikat mautnya sendiri.
"Bagaimana reaksimu saat istrimu menanyakan namamu?" tanya SeokJin dengan suara pelan, begitu lirih dan terdengar berat menanyakan pertanyaan konyol pada gumiho macam Yoongi.
"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku langsung memberitahunya" jawab Yoongi sebelum menegak winenya hingga habis, tidak tersisa setetes pun. Mendegar jawaban bernada santai itu membuat SeokJin tertunduk lemas.
"Dia menanyai namaku, tapi kaum vampire sepertiku memiliki aturan khusus tidak boleh memberitahu namaku karena nama itu belum tentu nama asliku, bisa saja itu nama buatan. Jika aku melanggarnya maka aku bisa terkena hukuman. Aku harus bagaimana?"
Yoongi tidak menjawab, ia kembali tenggelam dalam ingatannya beberapa jam lalu. Moment langka yang baru pertama kali ia lihat selama ratusan tahun hidupnya. Dimana ia melihat seorang manusia tertawa begitu lepas, tersenyum bersinar, dan menunjukan kebahagiannya tanpa malu-malu.
Dia menunjukan dirinya sendiri tanpa menggunakan topeng, dia benar-benar murni dan polos. Dia bagaikan bayi yang baru lahir, dia begitu rapuh namun selalu menunjukkan sisi kuatnya. Dia…
"Ahjussi!"
"Ahjussi! Aku tidak ingin kau pergi"
"Ahjussi apa aku boleh menanam bunga di sini?"
"Sembilan panah itu"
Tapi dia adalah kematiannya. Dirinya merupakan sumper duka kehidupan Jimin, ia yang membuat Jimin menanggung beban duka seberat itu. Ia adalah penyebab semuanya.
"Aku harus segera mati. Aku tidak ingin dia jatuh dalam lubang bernama cinta bersamaku. Karena takdir tidak akan mengijinkannya. Takdir mengatakan bahwa dia akan mencabut panah ini dan itu berarti dia adalah malaikatku. Aku harus pergi dengan tangannya, aku harus pergi sebelum aku membuatnya rindu padaku, menyukaiku, bahkan mencintaiku. Aku tidak ingin rasa ingin hidup lebih lama muncul, Dia sudah memberi ku kesempatan untuk mati. Aku harus segera mati… ak-"
"Kau itu cerewet ya!"
Yoongi tersentak, ia menoleh ke kanan dimana SeokJin menatapnya penuh amarah. Ah, sepertinya SeokJin ataupun dirinya bisa saling membaca pikiran. Ia tidak sadar jka sejak tadi ia melamun dan bicara pada dirinya sendiri hingga membuat SeokJin terganggu.
"Aku bisa mendengar suaramu dan itu sangat mengganggu" omel SeokJin lalu menghabiskan darahnya dalam sekali teguk, hilang kemana nafsu minum darahnya tadi. ia jijik sendiri mendengar perkataan Yoongi seperti anak SMA yang sedang galau ingin meninggalkan sang kekasih atau bersamanya tanpa tahu keadaan kedepannya.
"Mianhae, aku tidak sengaja" ucap Yoongi dengan suara lirih penuh kefrustasian. Ia meletakan kepalanya di atas meja, namun matanya membola terkejut melihat di sampingnya sudah ada NamJoon.
"YAK!"
NamJoon tertawa terbahak-bahak melihat reaksi pamannya yang sungguh lucu luar biasa. Mata membulat dan hampir terjengkal dari kursi.
"Hahahaha! Aku tidak sengaja melihat kalian sedang melamuni kekasih kalian, apa kalian sedang patah hati?" tanya NamJoon berniat meledek. Yoongi dan SeokJin bertukar pandang, menatap garang ke arah NamJoon yang nampak santai mendapat tatapan tajam dari kedua pamannya itu.
"Biar aku tebak. Pasti Yoongi samchon sedang galau ingin meninggalkan kekasih atau pergi ke luar negeri entah dengan tujuan apa. saranku sebagai seorang pria, samchon harus membuat prioritas terlebih dahulu. Samchon lebih mementingkan ke luar negeri itu atau kekasih samchon, kau harus jantan. Dan bicara langsung!"
"Samchon penyewa rumah, kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari teman kencanmu yang manis itu. andai saja kau bukan penyewa rumah ini, aku akan merebut teman kencanmu. Tapi buka itu yang ingin aku katakan, kau harus mulai terbuka dan ungkapkan segalanya tanpa terkecuali dan aku akan selalu membantumu karen aku ada di pihakmu"
Ekspresi wajah Yoongi dan SeokJin sudah tidak bisa digambarkan lagi. Wajah mereka datar tidak mau menanggapi, tapi ucapan NamJoon barusan benar-benar menyindir mereka tepat di hulu hati mereka. Yoongi menghela nafas panjang sebelum ia berdiri sejajar dengan NamJoon, menepuk pundak itu sekilas.
"Geumanhae"
Satu kata dari Yoongi sudah mampu membuat NamJoon terdiam, berdiri kaku dan sedikit membungkukan tubuhnya-mirip memberi hormat pada tuannya.
"Tapi, kalian harus merubah sifat kalian yang memusingkan pemuda-pemuda manis itu. jika kalian membuat pusing mereka, aku yang seorang player ini akan mudah masuk ke kehidupan mereka. Sekali-BANG!-BANG!-KEK-"
Perkataan NamJoon sudah benar-benar membangkitkan iblis di masing-masing tubuh pamannya itu. dengan sekali jentikan jari, tubuh NamJoon sudah berpindah ke tiang dengan keadaan seluruh badan terikat tali.
"Samchon!"
…
…
…
…
…
Hari ini ia menolak berangkat bersama Taehyung. Alasannya karena ia ingin menghindari cibiran dari murid lain mengenai kasus kemarin, ia tidak mau omongan miring tentang Taehyung makin menyebar jauh. Ia tidak mau malaikat penolongnya itu kesusahan karena dirinya, sudah cukup selama ini Taehyung merawat dan memberinya tumpangan. Ia tidak akan membuat Taehyung kesusahan lagi karena itu janjinya.
"Kau datang sepagi ini?"
Jimin terperenjat di tengah-tengah perjalanan memasuki gedung utama sekolahnya yang masih sepi. Tentu saja ini masih, karena arloji milik siapa pun akan menunjukan pukul setenga enam pagi tidak ada murid yang mau berangkat sepagi itu kecuali Park Jimin. Itu pikiran Jungkook, orang yang memanggil Jimin dari arah belakang.
"Kenapa kau itu hobi sekali datang pagi-pagi?" tanya Jungkook seraya berjalan menghampiri Jimin dan mengambil tempat di depan Jimin. Menatapi wajah itu yang tertunduk takut, ia cukup terkejut melihat Jimin masih takut saat beradu pandang dengannya.
"Aku masih tidak menyangka, murid yang paling sering di bully melukai pelaku pembully nya selama ini. kemajuan yang bagus"
Jimin tahu itu bukan sebuah pujian tapi sebuah sindiran. Bahkan saat Jungkook mengusak kepalanya ia merasakan sakit, rasa sakit itu mirip seperti sebuah benturan paling keras yang di layangkan orang-orang di kepalanya. Jungkook tersenyum lalu tertawa bahagia melihat ekspresi ketakutan Jimin semakin kentara.
"Kenapa dengan wajahmu? Aku tidak akan membully murid sepagi ini meskipun tangannku sudah sangat gatal ingin membully mu"
Jimin sudah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya lagi. Tubuhnya semakin gemetar di tengah-tengah area sekolahnya. Jungkook semakin tersenyum, ia menikmati bagaimana orang yang selalu ia bully sekarang begitu ketakutan hanya karena ia memandangi Jimin tanpa henti.
"Aku lebih menyukai cara bully seperti ini. kau ketakutan, kau akan selalu merasakannya bahkan suatu saat nanti aku pastikan kau akan selalu hidup dalam ketakutan bahkan pada dirimu sendiri. Kau akan takut pada dirimu sendiri, aku akan membuatmu seperti itu"
"Kenapa kau selalu melakukan ini padaku?"
Jimin memberanikan diri membuka suara. Perlahan ia angkat kepalanya, menatap mata kelam dan tajam milik Jungkook. Tangan mungilnya terkepal, menyalurkan rasa takutnya lewat kepalan tangan itu. sedangkan Jungkook hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Jimin.
"Apa salahku? Apa aku mempunyai masalah denganmu sebelumnya?"
Jungkook tersenyum miring mendengar pertanyaan dengan nada penuh kefrustasian dan putus asa. Ditambah juga takut, meskipun tangan itu terkepal sangat erat ia bisa pastikan bahwa Jimin masih takut dengannya. Sangat takut dengannya.
"Kau…" tunjuk Jungkook, mengambil satu langkah mendekati Jimin, menarik tangan itu cukup kasar hingga tubuh mungil itu tertarik ke depan dengan sangat kasar dan kuat. Ia meringis, menahan sakit di pergelangan tangannya akibat ditarik Jungkook sangat kuat.
"Kau membuatku gila"
Jimin mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan penuh keambiguan Jungkook.
"Aku ingin kau memandangku. Aku ingin kau membuka suaraku. Aku ingin kau selalu di dekatku. Aku ingin kau pergi dari sini, tapi jika kau pergi aku tidak akan bisa memandangmu, mendengar suaramu dan jarak kita semakin jauh. Kau membuatku gila"
Jimin menahan nafasnya sejak Jungkook mulai membuka suara tentang dirinya selama ini. Ia bingung, apa maksudnya? Apa maksud perkataan Jungkook? Ketika ia melihat angka di atas kepala Jungkook tidak bertambah, itu berarti yang diucapkan anggota trouble maker ini benar adanya. Tapi apa maksud ucapan Jungkook.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku semakin bertambah gila karena aku pikir kau akan pergi dari sekolah ini. bahkan sekarang pun aku yakin, aku sudah benar-benar gila karena melihatmu pergi bersama seorang pria asing. Siapa pria itu?"
Jimin takut. Ia takut, jika ia bicara jujur kalau Yoongi adalah suaminya. Apa yang akan dipikirkan Jungkook? Ia juga tidak menjamin kalau Jungkook akan tutup mulut mengenai siapa Yoongi. Jadi, ia hanya diam, mulutnya tidak mau terbuka menjawab pertanyaan Jimin.
"Jawab!"
Jimin semakin menggigil ketakutan, cengkraman di pergelangan tangannya semakin menguat bahkan ia yakin cengkraman itu akan menghasilkan lebam yang akan cukup lama hilangnya. Tapi ia tetap menutup mulutnya rapat-rapat, ia tidak mau sesatu yang buruk terjadi pada Yoongi.
"Park Jimin! Aku tidak tahu kenapa aku bisa begini dan aku tidak tahu apa yang terjadi jika mulut mu itu tidak bersuara juga. Jadi, jawab sekarang!"
"Aku hanya mengenalnya saja. Hanya sebatas itu!"
HIK!
Ia lupa. Jika ia tidak akan pernah bisa berbohong, matanya sudah terpejam bersiap menerima segala kemungkinan terburuk mungkin dihajar oleh Jungkook. Tapi yang ia rasakan selanjutnya adalah rasa hangat. Ya, sesuatu melingkupi tubuhnya, pergelangan tangannya yang terasa sakit berubah menjadi rasa hangat yang menenangkan.
"Kami berteman"
Suara itu. kedua mata yang tertutup itu terbuka, matanya membola melihat Yoongi ada di hadapannya merengkuhnya sebentar lalu menyembunyikan tubuh mungilnya di balik punggung tegap berbalut mantel hitam itu.
"Aku tidak bertanya padamu, orang tua. Aku bertanya pada dia!"
"Aku tidak suka anak SMA tidak sopan sepertimu!"
Mata Jungkook berkilat tajam, terutama saat melihat tangan mungil Jimin di genggam erat oleh Yoongi. Bahkan pemuda pendek itu mengijinkan dan tidak merasa takut sama sekali, ia benar-benar gila, ia benar-benar kalap melihat hal itu.
"Aku tidak punya masalah denganmu, jadi berikan Jimin padaku"
"Dia bukan barang yang bisa dengan mudah diberikan lalu dilemparkan lagi. Dia manusia"
"Kau membuat masalah dengan orang yang salah, tua bangka!"
Baru saja Yoongi berniat maju mematahkan leher remaja tanggung itu, Jimin sudah lebih dulu menahan lengan Yoongi semampunya.
"Hajima!" cegah Jimin sambil melirik Jungkook yang juga sudah siap sedia jika ia harus bertarung dengan orang yang lebih tua. Persetan dengan namanya sopan santun, ia benar-benar kalap melihat Jimin begitu nyaman dengan Yoongi bahkan tidak takut sama sekali pada pria tua ini.
"Jangan bertengkar, jangan bertengkar di sini. Aku mohon…"
Yoongi menghela nafas panjang, menatap kedua mata Jungkook yang masih berkilat tajam terutama saat Jimin sedikit mengemis pada pria tua itu agar tidak menghajarnya. Ia tidak perlu di kasihani, ia masih yakin dengan kekuataannya sendiri.
"Pergi ke atap dan berpura-pura kau bolos di jam pelajaran pertama. Lupakan kejadian pagi ini, kau hanya mengingat kalau kau sengaja datang pagi, ketiduran di atap lalu sengaja tidak masuk jam pelajaran pertama. Sekarang, berbalik dan pergi ke atap"
Ajaib. Perkataan Yoongi seperti perkataan seorang pesulap, Jungkook memandang kosong ke depan lalu berbalik arah menuju atap seperti perintah Yoongi. Jimin sendiri menatap Jungkook dengan pandangan khawatir, apa itu akan mempengaruhi pikiran Jungkook selamanya? Apa ada efek samping dari mantra yang dibuat Yoongi.
"Ahjussi, kau tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh pada Jungkook, kan?" tanya Jimin pada gumiho berstatus suaminya tersebut. Yang ditanya menghela nafas, apa Jimin itu manusia? Apa Jimin tidak punya otak? Apa dia tidak sadar kalau Jungkook tadi hampir menghajarnya? Kenapa sekarang Jimin terlihat khawatir dengan keadaan pria urakan itu.
"Apa kau khawatir padanya? Dia saja tidak mengkhawatirkanmu, kenapa kau khawatir padanya? Kau tadi hampir di hajar olehnya"
"Ahjussi, mengkhawatirkan aku?"
Yoongi terdiam. Mulutnya terasa kaku mendapat pertanyaan seperti itu dari Jimin. Tangannya yang semula menggenggam tangan Jimin perlahan mengendur, tubuhnya juga ikut menjauhi tubuh mungil Jimin. Matanya bergerak gelisah, berusaha lari dari pandangan menelisik Jimin.
"Ahjussi, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba merubah sikapmu secepat ini? apa aku melakukan kesalahan padamu? Apa aku kelewat cerewet padamu? Kenapa ahjussi tiba-tiba berubah seperti ini setelah kau mengakui kalau aku istrimu? Jawab aku!"
Air matanya hampir saja lolos mengungkapkan uneg-unegnya yang semalaman ia tahan. Bahkan ia pergi sepagi ini menghindari rentetan pertanyaan dari Taehyung jika guru itu menyadari perubahan raut wajahnya. Nafasnya naik turun melihat Yoongi hanya diam, menatapinya tanpa ekspresi tidak minat.
"Kenapa ahjussi diam? Kau itu suamiku, kau itu cahayaku, kau itu jinku tapi kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini? Semalam kau mengacuhkanku, sekarang kau khawatir padaku. Apa sebenarnya maksudmu? Katakan sesuatu, jangan buat aku seperti orang bodoh!"
"Kau istriku, sudah sewajarnya aku khawatir padamu"
Jimin terpaku, matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi semakin berkaca-kaca sedih. Hidupnya begitu menyedihkan…
"Karena itu kau harus tinggal bersamaku, mencabut panahku sesegera mungkin"
"Kenapa aku harus mencabut panah itu? Apakah rasanya sangat sakit?" tanya Jimin yang kembali dalam mode khawatirnya. Ia mendekat, menatap dada bidang itu penuh khawatir. Pasti rasanya begitu sakit, tidak ada manusia normal yang bisa menahan rasa sakit ketika sembilan panah yang tajam tertancap di tubuhmu selama ratusan tahun. Pasti itu sangat sakit.
"Apakah sakit jika aku mencabutnya?"
"Tentu saja, tapi hanya di awal saja. Setelah mencabutnya aku akan sehat dan tidak merasakan sakit lagi"
"Aku tidak mau menyakitimu, aku tidak mau mencabut panah itu" tolak Jimin seraya mundur menjauhi Yoongi yang nampak terkejut dengan ucapannya barusan.
"Kau istriku, kau harus menuruti perintah suamimu"
"Apa harus? Bahkan hubungan yang kita miliki ini tidak jelas, tidak ada status apa lagi cinta. Apa hubungan kita itu memang ada? Apa kau memang suamiku? Apa kau mencintaiku?"
Yoongi tidak menduga jika Jimin akan menanyakan hal itu. tubuhnya menegang, tidak siap dengan jawaban apa pun ketika Jimin akan menanyakan hal itu. ia tidak tahu harus menjawab apa, apa kah ia harus menjawab padahal ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Ia menatap kedua manik sehitam arang itu semakin intens, menatap dengan tatapan seolah-olah ia bisa masuk ke dalam tubuh itu dan memerintahkan segera tangan Jimin mencabut panah-panahnya. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, Jimin adalah satu-satunya manusia yang tidak bisa ia kendalikan, tidak bisa ia lihat masa depan mau pun masa lalu dan satu-satunya manusia yang bisa melihat dan mencabut panahnya. Karena Jimin adalah istrinya, istri seorang Gumiho sekaligus malaikat pencabut nyawanya.
"Jika kau memerlukan cinta dalam hubungan ini aku akan mengabulkannya, aku adalah suamimu, cahayamu, dan jinmu. Aku akan mencintaimu jika itu perlu"
Jimin merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak merasakan perasaan hangat ketika Yoongi mengatakan akan mencintainya. Angin yang sejak tadi sudah berhembus kencang semakin kencang, seiring dengan tatapan Yoongi semakin dalam di kedua matanya.
"Saranghae"
Jimin tahu itu bohong, karena hujan deras dan angin kencang datang setelah Yoongi mengucapkan cinta padanya.
To Be Continue
Aku ucapin sekali turut berduka cita, awalnya aku ilang mood mau update tapi berhubung aku udah gatel dan kalian pasti nunggu jadi aku akan tetep update subuh-subuh begini.
ada yang gemes sama tingkah JinV? kya~~~~
aku juga, pas aku baca untuk edit #meskipun masih banyak typo# aku senyum-senyum sendiri. hahahaha, yoongi beneran nggak itu nyataain perasaannya? jungkook gimana? *anak kesayangan mamah gimana?* apa kalian sejalan pikiran ama aku?
oke, semoga kalian mau menunggu lagi, terimakasih yang udah baca dan review ya. aku sayang kalian, saranghaeyo *LOVESIGN*
untuk reader dengan user name JOAH, kayaknya aku bales review kamu nggak nyampe lagi jadi aku bales di sini, tak apa-apa kan *ala upin ipin*
JOAH: sebenernya Jimin udah bisa liat lama tapi dia tahu ngelukai Yoongi karena dia cinta Yoongi. kira-kira Yoongi mati nggak ya? hohohooho *ketawaevil* terimakasih udah baca dan review, saranghaeyo *LOVESIGN*
