Pria dengan kemeja cokelat muda dan bermantel cokelat tua itu nampak sibuk dengan minumannya sendiri. Ia duduk termenung memandangi botol whisky kesukaan seseorang yang sudah ia pesan sejak setengah jam lalu. Pria dengan mata tajam dan rambut blonde itu menghela nafas, melirik arlojinya sekali lagi.

"Kemana wanita tua itu?"

"Aku tidak setua itu"

Pria itu menarik nafas lega. Akhirnya wanita tua itu datang juga, ia menegakan tubuhnya mempersilahkan wanita itu duduk di sampinganya. Menuangkan whisky ke gelas dan memberikannya dengan sopan pada si wanita.

"Kenapa kau terlambat? Biasanya kau selalu tepat waktu?" tanya si pria dengan nada sedikit kesal. Sementara si wanita terkekeh, ia melipat tangannya di dada melirik sebentar si pria dengan pandangan penuh makna dalam.

"Kau sudah melihatnya? Apa kau itu benar-benar yang selalu di puja-puja orang? Aku baru tahu kau ternyata memiliki sifat jahat yang melebihiku"

"Masih ada yang lebih jahat daripada aku atau kau, tidak usah membicarakannya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana bentuknya"

Si wanita terkekeh geli, menatap si pria lalu meneguk whisky nya sebelum melanjutkan perbincangan mereka.

"Bagaimana kau bisa memikirkan rencana yang begitu licik seperti itu? kau sudah jahat, licik tapi juga baik di saat bersamaan"

"Aku sudah malas berurusan dengan dia. Kau harus segera memberinya peringatan, aku sudah mengabulkannya tapi tidak dia malah membangkang. Aku tidak suka itu"

Wanita itu berdecak, menyentuh pundak si pria dan memberinya usapan lembut. "Aku akan mengurusnya, lebih baik kau kembali karena aku harus menemui seseorang"

"Pergilah, aku juga harus menemui seseorang"

"Teman kencanmu?"

Si pria hanya memberinya wink nakal sebelum berlalu pergi, meninggalkan si wanita yang mencebik kesal dan jijik di saat bersamaan.

( -That Person, WANNA ONE-Beautiful, Chanyeol ft Punch-Stay With Me, Kei Lovelyz-Star and Sun, Cold Cherry-Growing Pains, VRomance-I'm in Love)


"Kenapa ahjussi diam? Kau itu suamiku, kau itu cahayaku, kau itu jinku tapi kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini? Semalam kau mengacuhkanku, sekarang kau khawatir padaku. Apa sebenarnya maksudmu? Katakan sesuatu, jangan buat aku seperti orang bodoh!"

"Kau istriku, sudah sewajarnya aku khawatir padamu"

Jimin terpaku, matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi semakin berkaca-kaca sedih. Hidupnya begitu menyedihkan…

"Karena itu kau harus tinggal bersamaku, mencabut panahku sesegera mungkin"

"Kenapa aku harus mencabut panah itu? Apakah rasanya sangat sakit?" tanya Jimin yang kembali dalam mode khawatirnya. Ia mendekat, menatap dada bidang itu penuh khawatir. Pasti rasanya begitu sakit, tidak ada manusia normal yang bisa menahan rasa sakit ketika sembilan panah yang tajam tertancap di tubuhmu selama ratusan tahun. Pasti itu sangat sakit.

"Apakah sakit jika aku mencabutnya?"

"Tentu saja, tapi hanya di awal saja. Setelah mencabutnya aku akan sehat dan tidak merasakan sakit lagi"

"Aku tidak mau menyakitimu, aku tidak mau mencabut panah itu" tolak Jimin seraya mundur menjauhi Yoongi yang nampak terkejut dengan ucapannya barusan.

"Kau istriku, kau harus menuruti perintah suamimu"

"Apa harus? Bahkan hubungan yang kita miliki ini tidak jelas, tidak ada status apa lagi cinta. Apa hubungan kita itu memang ada? Apa kau memang suamiku? Apa kau mencintaiku?"

Yoongi tidak menduga jika Jimin akan menanyakan hal itu. tubuhnya menegang, tidak siap dengan jawaban apa pun ketika Jimin akan menanyakan hal itu. ia tidak tahu harus menjawab apa, apa kah ia harus menjawab padahal ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

Ia menatap kedua manik sehitam arang itu semakin intens, menatap dengan tatapan seolah-olah ia bisa masuk ke dalam tubuh itu dan memerintahkan segera tangan Jimin mencabut panah-panahnya. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, Jimin adalah satu-satunya manusia yang tidak bisa ia kendalikan, tidak bisa ia lihat masa depan mau pun masa lalu dan satu-satunya manusia yang bisa melihat dan mencabut panahnya. Karena Jimin adalah istrinya, istri seorang Gumiho sekaligus malaikat pencabut nyawanya.

"Jika kau memerlukan cinta dalam hubungan ini aku akan mengabulkannya, aku adalah suamimu, cahayamu, dan jinmu. Aku akan mencintaimu jika itu perlu"

Jimin merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak merasakan perasaan hangat ketika Yoongi mengatakan akan mencintainya. Angin yang sejak tadi sudah berhembus kencang semakin kencang, seiring dengan tatapan Yoongi semakin dalam di kedua matanya.

"Saranghae"

Jimin tahu itu bohong, karena hujan deras dan angin kencang datang setelah Yoongi mengucapkan cinta padanya.

Ia tahu Yoongi sedih dan dia berbohong meskipun Jimin tidak melihat angka kebohongan Yoongi di kepalanya. Ia tahu Yoongi bersedih dan berbohong padanya, kenapa ia bisa tahu?

Alasannya adalah, ia adalah istri Gumiho dan mereka saling terikat.

Dan juga, ia sudah merasakan perasaan itu lebih dulu.

Ia mencintai Yoongi, bahkan sebelum ia bertemu dengan Yoongi.

"Aku tidak tahu ahjussi berbohong atau tidak karena aku tidak tidak melihat angka-angka di kepalamu. Tapi air ini membuktikan kalau kau bohong"

Jimin mengucapkannya dengan nada lelah, kesal dan kecewa karena Yoongi kembali berbohong padanya. Hujan di pagi hari ini semakin deras, bajunya hampir basah kuyup namun Yoongi dengan ajaibnya mendapat sebuah payung dan memayungi mereka dalam sebuah payung berwarna hitam legam. Warna yang sama seperti warna rambut dan mata Jimin.

"Jika kau tidak mencintaiku atau tidak yakin dengan perasaan cintamu, jangan mengatakan hal yang membuatku terus berharap"

"Apa kau mencintaiku?" tanya Yoongi tanpa merubah raut wajah datarnya. Jimin terdiam, kepalanya menengadah menatap kedua mata Yoongi dalam diam, ia tidak yakin dengan perasaan di hatinya sekarang tapi ia akan selalu cegukan jika ia menyangkap perasaan ini. ia masih tidak tahu perasaan ini sebuah rasa cinta, kagum atau sekedar hanya perasaan sayang biasa.

"Tidak, aku tidak mencintaimu"

Jimin membuat keputusan itu. Suara cegukan tidak muncul sama sekali, ia beruntung akan hal itu. diam-diam ia bernafas lega, memandangi Yoongi yang nampak berwajah datar tidak terlihat kecewa sama sekali.

"Meskipun kau tidak mencintaiku, kau harus tinggal dan mencabut panah ini. karena itu tugasmu sebagai istriku, kau harus membuatku sehat dan tidak merasakan sakit lagi"

Jimin terdiam. Memikirkan perintah Yoongi soal kepindahannya ke rumah Yoongi, ia masih ragu meninggalkan Taehyung dan mencari alasan yang pas agar ia tidak ketahuan berbohong tapi itu percuma karena ia akan selalu cegukan meskipun ia berbohong lewat surat, SMS atau telfon sekali pun. Ia harus membuat alasan apa.

"Nde, aku akan pindah ke tempatmu malam ini. Ahjussi harus membuat alasan agar aku di perbolehkan pindah oleh V sonsaengnim"

"Aku bisa mengurus itu"

Jimin menarik nafas, melirik jam tangannya lalu Yoongi sekali lagi sebelum ia melangkah masu ke gedung sekolahnya dengan sedikit berlari menghindari rintikan hujan dari langit yang makin deras. Ia tidak mau menatap wajah itu lebih lama lagi, karena bisa dipastikan air matanya akan keluar. Ia tidak mau terlihat rapuh dan sedih di hadapan Yoongi, ia tidak mau itu terjadi.

Jungkook merasa aneh setelah turun dari atap. Ia seperti melupakan sesuatu tapi ia tidak tahu apa yang ia lupakan. Ia tertidur cukup lama di atap sekolah bahkan ia melewatkan jam pelajaran pertama karena ia ketiduran. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal ini, meskipun ia sering bolos tapi ia tidak pernah bolos di jam pertama.

Ada apa ini. Apa yang terjadi padanya?"

"Jungkook-ah, kau tidak mendengarkan aku?"

Jungkook menoleh, menatap teman-temannya yang nampak kesal karena Jungkook menacuhkan mereka sejak tadi. terutama Jieun, gadis berkulit putih, bertubuh mungil dan berrambut panjang itu nampak begitu kesal karena diacuhkan oleh pria yang ia gilai itu.

"Apa kalian membicarakan sesuatu?" tanya Jungkook berusaha membuat mereka untuk tidak kesal lagi pada mereka.

Baekhyun berdecak sebal, "Kami membicarakan bagaimana mengerjai Jimin tanpa ketahuan oleh V sonsaengnim. Aku tidak mau orangtuaku dipanggill lagi" kata Baekhyun sambil menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Jungkook menghela nafas, entah kenapa ia sekarang bosan dan malas membicarakan Jimin. Ia seperti enggan dan tidak mau lagi membully Jimin, dan Jieun melihat itu.

"Apa kau mulai kasihan pada Jimin?" tanya Jieun yang langsung ditanggapi heboh seluruh anggota genk mereka. Terutama Seulgi dan Irene yang notabennya memiliki dendam tersendiri pada Jimin terperenjat, wajah mereka menampilkan kemurkaan tidak terima.

"Mwoya? Kau benar-benar kasihan padanya? Apa kau mau mengkhianati kami?" marah Irene.

Jungkook menghela nafas, menatap Jieun yang juga nampak kesal karena Jungkook mulai berubah. Ia sendiri juga baru sadar jika ia berubah cukup mencolok akhir-akhir ini, tepatnya semenjak ia mencari tahu tentang Jimin lebih mendalam-tentunya secara diam-diam-ia mulai berubah drastis.

Tadinya Jeon Jungkook yang dikenal ganas, tidak pandang bulu membully murid menjadi pilih-pilih bahkan enggan untuk membully lagi. Itu adalah salah satu perubahan paling mencolok dan tidak disenangi anggota genk nya.

"Kau memang akhir-akhir ini berubah, apa terjadi sesuatu antara kau dan murid miskin itu?"

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin sedikit menjauhi masalah. Setelah insiden Seulgi dan Irene terluka, kakek memberiku bahkan kita semua peringatan. Aku tidak mau kupingku berdengung karena omelan tuanya. Hanya itu"

Penjelasan Jungkook benar-benar santai, dia tidak panik atau pun bingung padahal jauh di dalam dirinya ia bingung kenapa ia bisa seperti ini. Berdiri adalah hal yang ia lakukan sebelum Jieun membuka mulut hendak bicara lagi, pria dengan marga Jeon itu menatap Jieun dengan pandangan tajam-tidak suka.

"Aku sedang tidak ingin diganggu"

Setelah mengucapkannya, Jungkook melangkah keluar dari ruangan khusus mereka. Meninggalkan Jieun yang langsung berteriak kesal, menendang bangku tempat Jungkook duduk tadi penuh emosi. Kenapa susah sekali menggaet sahabatnya itu, apa selama ini dirinya kurang menarik di hadapan Jungkook? Bahkan pria itu sama sekali tidak menatapnya sebelum di ajak bicara, apa dirinya memang tidak seberharga itu di mata Jungkook.

"Awas kau, Park Jimin"

"Ess"

Ia mendesis menahan sakit ketika ia menyingkap seragam sekolah di bagian pergelangan tangannya. Lebam itu benar-benar biru dan merah, terasa sakit jika ia sentuh bahkan untuk bergerak saja Jimin sejak di dalam kelas menahan rintihan dan rasa sakitnya. Alhasil ia cegukan beberapa kali di dalam kesal.

"Aku harus mengatakan apa pada V hyung? Aku tidak bisa berbohong"

"Apa yang mau kau sembunyikan dari pamanku?"

Jimin terperenjat kaget, ia segera menyembunyikan kedua pergelangan tangannya, memundurkan langkahnya-menghindar dari Jungkook yang mulai berjalan ke arahnya. Untung saja suasan atap sekolah pada saat makan siang ini sepi, jadi tidak ada orang yang akan datang dan menatapnya penuh curiga lalu gossip miring tentangnya beredar.

"Kenapa kau tidak menjawabku?"

"Bukan apa-apa, ini bukan urusanmu"

Tolak Jimin seraya berjalan pergi tapi Jungkook lebih cepat menahan pergelangan tangannya yang tidak terluka. Menarik tubuh mungilnya menghadap Jungkook kembali, menelusuri wajah putih dengan mata sipit itu baik-baik.

"Aku pikir ada sesuatu di matamu, aku hanya tidak ingin matamu buta karena aku yang ingin membuat matamu buta suatu saat nanti"

Tidak seperti biasanya, Jimin tidak merasa takut sama sekali. Di dalam pikirannya masih terbayang Jungkook yang jauh lebih menyeramkan tadi pagi, Jungkook yang sekarang belum ada apa-apanya daripada yang tadi. Ia menarik nafas panjang, melepas cengkraman Jungkook dan berlalu tanpa menoleh atau pun berniat membalas Jungkook.

Tubuh tinggi itu terpaku, matanya lurus ke depan. Kenapa ini? kenapa ia seperti ini? kenapa ia tidak menyukai Jimin yang mendiamkannnya? Kenapa ia lebih suka Jimin yang membalas atau terlihat takut dengannya? Jika yang terakhir itu wajar, tapi pertanyaan sebelumnya itu dan pertanyaan utama dari segala keanehan pada dirinya…

Kenapa ia ingin Jimin selalu menatapnya, menaruh perhatian padanya dan bicara padanya? Kenapa ia ingin itu dari Jimin?

"Apa yang terjadi padaku?"

"Jinjjayo?"

Jimin terlonjak. Ia yang baru saja sampai di kelas bersama Youngjae terkejut melihat keadaan kelas yang tiba-tiba sunyi. Semua murid memandang kasihan pada Seulgi dan Irene. Dua gadis SMA tercantik dan terpopuler itu jatuh terduduk, wajah mereka pucat pasi, air mata mengalir deras dari kedua mata indah mereka.

Irene yang terlihat paling menyedihkan, gadis bertubuh mungil itu menangis meraung-raung, berteriak, mengumpat entah pada siapa lalu Seulgi yang mulai menangis memanggil-manggil ayahnya.

"Kenapa mereka?" tanya Youngjae pada murid yang berdiri di sebelah mereka. Murid ber name tage Umji itu tidak menjawab, ia malah memberikan ponselnya menunjukan berita terkini tentang kasus Korupsi dan Suap yang melibatkan ayah Seulgi dan Irene. Dan yang lebih mirisnya kasus itu sudah berjalan bertahun-tahun yang artinya kemewahan yang selama ini Seulgi dan Irene nikmati adalah hasil rampok.

Tidak hanya sampai di situ, setelah berita ini dimuat kedua ayah Seulgi dan Irene memutuskan bunuh diri setelah satu jam berita ini keluar. Ayah Seulgi bunuh diri dengan cara gantung, sementara ayah Irene menegak racun serangga bersama ibunya.

"Ya, Tuhan…" hanya itu yang bisa Youngjae ungkapan.

Seluruh penghuni kelas tidak ada yang berani bicara. Mereka shock, tidak percaya dan menganggap ini semua hoax. Tapi setelah mendengar telfon langsung dari ibu Seulgi yang masih hidup mematahkan pendapat mereka bahwa semua ini hoax.

"Appa… eomma…"

"Hiksss…"

HIK!

Atensi seluruh penghuni kelas berganti menatap Jimin yang nampak terkejut dengan suara cegukannya sendiri. Youngjae menoleh, menatap penuh tanya ke arah Jimin yang dibalas gelengan gugup-tanda ia tidak tahu apa-apa.

Irene menoleh, matanya berubah menjadi kilatan tajam melihat Jimin berdiri kaku di depan pintu. Dengan wajah berair karena tangis ia melangkah menghampiri Jimin, mencengkram kedua lengan kecil itu dengan sangat kasar.

"Ass!"

"Kau berpura-pura sedih tapi hatimu berkata kau senang! Kau senang karena hidup orang yang selalu membullymu hancur! Kau senang, kan?! KAU SENANG?!"

"Irene!"

Jimin hanya diam, membiarkan tubuhnya diguncang terus menerus oleh Irene sampai gadis itu berhenti sendiri karena lelah. Menangis semakin kencang seraya memukul-mukul lantai, kedua mata Jimin sudah berair siap menangis melihat Irene terlihat begitu menyedihkan. Meskipun gadis itu selalu bertindak tidak baik tetap saja Jimin harus baik padanya, ia tidak boleh membenci orang meskipun orang itu sangat membenci Jimin.

"Irene-ah, aku melihat seseorang sedang membawa ayah dan ibumu"

Jimin menatap SeokJin yang berdiri di belakang Irene sambil membawa seorang pria paruh baya dan seorang wanita yang terlihat masih muda meskipun umurnya sama dengan si pria. SeokJin membawa mangsanya itu dengan wajah sedikit kesal, kenapa? Karena seharusnya kedua orangtua Irene mati menjadi vampire tapi malah bunuh diri dan membuat pekerjaan SeokJin semakin menumpuk malam nanti.

"Eomma? Appa?"

Irene langsung menoleh ke belakang, tidak menemukan siapa pun kecuali udara kosong dan Seulgi yang masih terduduk dengan wajah berair. Jimin bisa melihat ayah Seulgi juga ada di sana, menangis melihat keadaan putrinya yang terisak begitu menyedihkan memanggil dirinya. Kedua orangtua Irene pun menangis, memeluk Irene sangat erat meskipun anaknya itu tidak bisa melihatnya karena pengaruh wujud vampire yang mulai menyelimuti mereka.

"Aku merubah mereka menjadi vampire karena itu hukuman untuk orang-orang seperti mereka. Tapi aku tidak sempat meminum darahnya" ucap SeokJin seraya menghampiri Jimin dan menjelaskan semuanya. Jimin mengangguk kecil, menatap seluruh penghuni kelas yang semakin menatapnya aneh, namun tatapan itu tidak berlangsung lama karena mereka semua kembali fokus pada Irene dan Seulgi.

"Orangtua kalian meminta maaf, mereka harus segera pergi, mereka juga mengatakan meskipun mereka seorang penjahat tapi mereka tetap menyayangi kalian. Seulgi, ayahmu sangat mencintaimu, bahkan dia lebih mencintaimu ketimbang dirinya sendiri tapi dia lebih memilih mati ketimbang melihat anaknya menanggung malu aib ayahnya"

"Ibumu Irene dia minta maaf karena tidak bisa mencegah ayahmu bunuh diri, malah dia ikut terbunuh juga. Maaf karena meninggalkanmu sendiri, ayahmu benar-benar minta maaf"

Jimin mengucapkan semua itu dengan suara bergetar, ia ikut merasakan sedih mendengar permintaan maaf dari ayah Seulgi dan orangtua Irene, "Aku tadi cegukan karena menolak menyampaikan pesan mereka. Setelah menyampaikan ini mereka akan benar-benar pergi, kalian diminta untuk merelakannya"

"Andwae! Andwaeyo! Jangan pergi, appa! EOMMA!"

Jimin menutup matanya, tidak kuat melihat tangisan Irene semakin histeris. Gadis bertubuh mungil itu menunduk semakin dalam, membiarkan rasa malunya luntur bersamaan dengan air matanya. Youngjae menunduk, menarik Jimin agar sedikit menjauh karena seseorang masuk ke kelas mereka dan menghampiri Seulgi serta Irene.

"Seulgi, Irene, kalian diberi dispen untuk menghadiri pemakaman ayah dan ibu kalian. Aku akan mengantar kalian" ucap Taehyung dengan suara lembut, menuntun Seulgi dan Irene keluar kelas. Tapi sebelum keluar ia sempat merasakan tangan Taehyung menariknya, seperti memberi kode.

Ia menurut, keluar dari kelas mengikuti langkah Taehyung sampai parkiran sambil membawa tas Irene, Seulgi dan tas miliknya. Taehyung menarik nafas panjang setelah menutup pintu mobilnya, menatap Jimin yang masih terlihat kebingungan.

"Kau juga mendapat dispen. Kau harus siap-siap berpindah rumah, kan? Aku mengjinkannya, kau tenang saja"

Jimin terkejut mendengarnya, apa Yoongi benar-benar serius mengajak dirinya tinggal satu atap? Jika benar itu berarti dirinya akan tinggal bersama Vampire, Gumiho dan manusia play boy macam NamJoon? Ia mengangguk kepala seperti robot lalu masuk ke dalam mobil Taehyung, duduk di samping guru sekaligus sahabat dan saudaranya itu.

Jimin menyesal mengikuti proses kremasi orangtua Irene dan ayah Seulgi yang dilakukan bersamaan. Ia tidak kuat melihat Irene dan Seulgi menangis meraung-raung seperti itu. itu sama saja mengingatkan dirinya tentang kenangan buruknya saat ibunya-Jongin-meninggalkan dirinya setelah mengorbankan diri.

Jimin menahan air matanya yang siap pecah kapan saja, ia tidak mau menangis di pemakaman teman sekolahnya. Ia harus kuat, jika ia tidak kuat maka siapa yang akan menghibur Seulgi dan Irene. Ia tidak bisa terlihat sedih.

"Eomma…"

"Eomma! Eomma! Jangan tinggalin Jimin! Kalau eomma pergi Jimin sama siapa? Hikss… eomma!"

Jimin kecil masih menangis saat itu. menangis meraung-raung di samping makam sang ibu yang masih basah, ditambah hujan yang menimpa bumi semakin memperparah basahnya tanah kuburan sang ibu.

"Uljima, Jimin-ah"

Jimin menoleh, semakin menangis melihat seorang wanita tua dengan syal merah melilit lehernya berstatus tetangganya menghampiri dirinya sambil membawa sebuah payung.

"Ibumu pasti tidak suka melihatmu menangis. Kau itu anak yang manis, jika Jimin menangis ibu akan sedih karena wajah manis anaknya hilang"

Wanita tua itu berusaha menghibur Jimin, membawanya dalam sebuah pelukan hangat di bawah guyuran hujan yang makin deras. Tangan keriput berwarna putih pucat itu menepuk punggungnya dengan lembut dan penuh perhatian.

"Uljima…"

Jimin menghela nafas. Entah kenapa setiap kali ia melihat atau mendengar berita orang meninggal selalu mengingatkan dirinya akan kepergian ibunya yang sungguh tiba-tiba dan mendadak.

Setelah mengantar dan memberi ucapan duka, Jimin tidak pulang ke rumah Taehyung untuk berbenah. Ia memutuskan ke pantai tempat ia pernah menangis karena Yoongi dulu. Jika waktu itu ia datang ke sini karena sedih, kali ini ia datang dengan rasa duka temannya. Matanya lurus menatap laut yang berlomba-lomba menuju bibir pantai.

"Eomma… Sekarang aku bisa menerima tiga keajaiban dalam diriku"

Jimin mulai bersuara, memulai ceritanya dengan suara pelan dan sedikit serak menahan tangis. "Aku baru saja melayat di pemakaman orangtua temanku. Mereka meninggal dan menjadi vampire seperti paman waktu itu, aku senang karena bisa menyampaikan salam terakhir mereka untuk putri-putrinya. Sekarang aku bersyukur karena keajaiban yang selalu eomma katakan itu"

Jimin tersenyum, melepas sepatunya lalu berjalan ke arah pantai dengan bertelanjang kaki. Senyumnya semakin lebar merasakan dinginnya air laut menyapa telapak kaki berbalut kulit putih itu. tanpa sadar ia mulai berlari-lari kecil menghindari air laut, tertawa sendiri karena tingkah bodoh dan kekanak-kanakannya.

Tanpa ia sadari ada satu orang yang melihat itu dengan senyum. Sejak tadi dia memang berada di sini, menunggu Jimin jika anak itu berkunjung ke sini dan ternyata benar. Pria berusia ratusan itu tadinya hanya berniat main-main saja tapi ia tersenyum melihat Jimin datang dan mulai berceloteh pada ibunya.

Ia maju selangkah, berniat mengejutkan Jimin tapi langkah ketiganya terhenti. Pandangannya berubah menjadi kosong, tiba-tiba waktu di sekitarnya berhenti, perlahan tempat yang ia pijaki berubah menjadi pantai yang begitu ramai. Ada banyak orang menikmati keindahan pantai ini.

"Eoh! Aku sedang ada di pantai. Dia itu memang tampan tapi aku sedikit takut, dia terlalu aneh"

Pemuda dengan surai dark brown itu berdiri membelakanginya, sepertinya dia sedang menelfon. Setelah puas mengobrol entah hal apa, pemuda itu berbalik menghadap dirinya. Tersenyum lebar hingga matanya menyipit, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan keindahan retina hitam itu. tubuhnya tetap mungil, dia mengenakan kemeja putih yang di keluarka, celana hitam, dan membawa sebuah tas.

"Kau sudah di sini? Apa kau menunggu lama?"

Dia Jimin.

Langkah pasti Yoongi yang semula ingin menghampiri Jimin berubah menjadi langkah mundur dan begitu cepat. Ia berbelok masuk ke salah satu batu besar di sana yang langsung membawa tubuhnya ke rumahnya sendiri.

Ia langsung masuk ke kamarnya yang gelap tanpa ada cahaya sama sekali. Tubuhnya mendadak kaku mendapat bayangan masa depan tentang Jimin begitu membuatnya miris. Mata tajamnya memandang setitik cahaya di kasurnya, ia menghampiri cahaya itu dan duduk di sana. Membiarkan cahaya matahari siang yang begitu terik menerpa tubuhnya, ia masih shock dan rasanya ia tidak kuat melanjutkan bayangan masa depan.

"Dia masih tetap cantik. senyumnya tidak berubah, perawakannya tidak berubah dan yang terpenting… suaranya"-Yoongi.

"Ahjussi!"

"Kau sudah di sini?"

Ia menundukkan kepalanya, menenggelamkan kepalanya dalam kegelapan kamarnya. Apa ia akan benar-benar pergi dari bumi ini meninggalkan Jimin seorang diri, meninggalkan istrinya entah dengan siapa tadi?

Apa ia benar-benar akan mati?

SeokJin termenung, menatap nelangsa bertumpuk-tumpuk dokumen yang harus ia isi karena masalah tadi. Kenapa tiga orangtua itu harus bunuh diri? Kenapa mereka tidak menunggu dirinya menghisap darah mereka? Padahal kematian mereka akan lebih mudah jika mereka mau menunggu sedikit lebih lama lagi.

Tapi, ia sudah terlanjur ceroboh dan terlambat. Ini semua gara-gara celotehan keponakan si karnivora itu. ia jadi memikirkan apa ia harus jujur saja pada Taehyung, tapi bagaimana dengan aturan di dunia vampire?

Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Taehyung dalam rasa penasaran setinggi itu hanya karena namanya. Nama seorang pria yang terlihat begitu bodoh di depan teman kencannya sendiri. Teman kencan, SeokJin baru tahu hal-hal itu lewat drama pagi-pagi yang ia tonton dan celotehan NamJoon soal gombalan murahan itu.

"Aku harus lembur"

SeokJin berucap lirih, mengambil dokumen-dokumen tadi dan tanpa sengaja tangannya menyambit sesuatu yang lain dari sela-sela dokumennya. Matanya mengernyit, wajah tampannya yang awalnya bingung berubah menjadi terkejut. Ia masih mengingat jelas kalau kertas yang ia temukan adalah kertas yang berisi nomor telfon Taehyung dan masih lengkap dengan bekas ciuman waktu itu.

"Kenapa kau itu sangat brengsek? Apa kau tidak mau menghubungiku?"

SeokJin terkejut setengah mati, ia membuka tutup kedua matanya. Ia tidak salah melihat, tapi seperti mengkhayal. Ia seperti melihat Taehyung di kertas, wajahnya dibuat kesal tapi terkesan imut dan jangan lupakan bibir itu yang mengerucut sebal.

"Ini khayalan! Kau terlalu lelah SeokJin!" ucap SeokJin pada dirinya sendiri. Tapi lagi-lagi, Taehyung mengerucut lucu di kertas itu.

"Kau sudah mempermainkanku, sekarang kau menganggapku khayalan?! Kau itu memang brengsek! Jika kau tidak menghubungiku aku akan patahkan lehermu se-ka-ra-ng-ju-ga"

"Andwae! Aku akan menghubungimu! Aku akan menghubungimu setelah membeli ponsel!"

Tanpa di sadari ia bangkit dari posisi duduknya, mengangkat telapak tangannya ke atas membuat janji. Dan saat itu NamJoon masuk ke dalam kamar, awalnya berniat bertanya dimana wine paling enak yang di simpan Yoongi. Tapi niat pria bermarga Kim itu terhenti melihat posisi janggal SeokJin.

"Samchon…"

SeokJin memundurkan kepalanya, ia menatap dirinya sendiri, kertas berisi nomor telfon itu. tidak ada Taehyung, tidak ada wajah cantik yang berniat mematahkan lehernya. Tidak ada sama sekali, kepalanya lalu menoleh ke samping dimana NamJoon masih berdiri dengan satu alis terangkat.

"Kau baik-baik saja, kan?"

SeokJin cengo di tempat dengan muka berusaha di buat datar tidak terjadi apa-apa. kenapa tadi ia seperti itu? ia sekali lagi mengcek kertas itu, tidak ada apa-apa di sana. Hanya sebaris angka, sebuah nama dan bekas kecupan bibir.

"Wah! Samchon sedang memegang kertas apa? apa itu nomor ponsel? Apa Samchon punya ponsel?" rentetan pertanyaan dari NamJoon hanya dibalas helaan nafas lelah dan tidak minat dari SeokJin. Ia melirik ke arah pintu tempat NamJoon berdiri tadi, tapi nyatanya NamJoon sudah berpindah ke sampingnya dan merebut kertas itu.

"V? namanya sangat simple, tapi terkesan manis. Apa aku boleh menyimpannya juga?" tanya NamJoon sudah mengeluarkan ponselnya, mata SeokJin membulat melihat ponsel milik NamJoon segera ia condongkan tubuhnya meneliti ponsel itu.

"Kau punya ponsel?!"

NamJoon memundurkan tubuhnya, tidak nyaman dengan teriakan berlebihan SeokJin mengenai dirinya yang mempunyai ponsel. Apa-apaan itu, ia hanya punya ponsel bukan emas berkilo-kilo, ponsel juga barang yang dimiliki semua orang tapi kenapa SeokJin begitu histeris.

"Eoh! Aku harus punya ponsel untuk mengajak teman kencan berkenalan, bertukar nomor, nama, lalu kam-itu tidak perlu di jelaskan. Memang kenapa?" tanya NamJoon.

SeokJin mendengus sebal, merebut kertas berisi nomor ponsel Taehyung dan menyimpannya baik-baik. Ia tidak mau orang mesum dan plya boy macam NamJoon mengenal Taehyung, meskipun jika dilihat baik-baik Taehyung bukan pemuda gampangan tapi tetap saja ia tidak mau Taehyung berurusan dengan manusia macam NamJoon.

"Samchon, jujur padaku. Apa kau diam-diam selama ini menciumi bekas bibir itu?" tanya NamJoon dengan nada jahil. SeokJin sendiri sudah siap mengeluarkan taring dan kekuataannya membawa NamJoon sekarang juga sebelum sebuah suara muncul di belakangnya.

"Jangan mengganggunya, dia itu sedang banyak masalah"

Yoongi tiba-tiba muncul di sisi tubuhnya yang lain. Dengan tampang paling menyebalkan yang SeokJin pernah lihat, bahkan wajah itu jauh lebih menyebalkan dan membuat emosi ketimbang atasannya di dunia vampire.

"Dia harus lembur karena dia terlambat memakan mangsanya. Masalah kedua dia menyembunyikan rahasia besar pada teman kencannya. Masalah ketiga dia merindukan teman kencannya itu tapi tidak bisa menemuinya karena rahasia besar yang disembunyikan?"

"AKU KENAPA? BAGAIMANA? DIMANA AKU SEPERTI ITU?!"

Yoongi menjentikan jarinya diikuti dengan NamJoon yang merasa bahwa SeokJin benar-benar dirundung tiga masalah yang disebutkan Yoongi tadi.

"Eiy, mengaku saja manusia setengah nyamuk. Kau itu sedang jatuh cinta dan dalam masalah karena kau seorang vampire" ucap Yoongi tanpa sadar membongkar penyamaran SeokJin di depan NamJoon yang mengangkat alisnya bingung.

"Jangan pernah meremehkan vampire seperti itu, dasar Gumiho tua. Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Kau juga sedang dalam masalah karena belahan jiwamu atau apa lah itu. Kau juga bimbang ingin meninggalkan dia atau tetap di sini tapi tidak tahu apa yang terjadi kedepan, dasar Gumiho labil"

Perkataan SeokJin tadi bagaikan petir yang langsung menyambar tubuhnya telak. Tubuh tegap itu mendadak lemas, bahunya merosot ke bawah begitu juga dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah mendung. Ia tidak membalas ucapan SeokJin lagi karena itu memang benar adanya. Ia melangkah meninggalkan kamar SeokJin denan tubuh semakin merosot, persis seperti karakter kartun yang sedang down.

"Samchon penyewa membuat Samchonku seperti itu. kau itu jahat sekali, pantas saja teman kencanmu itu meninggalkanmu. Kau kelewat idiot dan polos, meskipun tampangmu lumayan"

NamJoon kembali bicara dengan sopannya di hadapan Seokjin yang sedikit merasa bersalah pada Yoongi, tapi kembali murka mendengar ucapan NamJoon yang benar-benar sangat sopan.

"Samchon harus bertindak gentle! Jangan jad-"

NamJoon tidak meneruskan kalimatnya lagi. Tubuhnya mendadak kaku melihat aura yang dikeluarkan SeokJin begitu mencekam dan dingin. Bahkan ia merasakan dinding dan lantai di sekitarnya ikut mendingin seperti es.

"Keluar."

"Nde!"

Dengan jurus seribu langkah NamJoon keluar dari kamar SeokJin dan tidak lupa menutup pintunya. SeokJin menghela nafas berat, menjatuhkan tubuhnya ke kursi dan kembali bekerja. Melupakan hal tadi dimana bayangan Taehyung memarahinya, tapi sekeras apa pun bayangan itu tetap muncul di kepalanya hingga ia melakukan hal ektream membeturkan kepalanya ke meja kerjanya dengan keras.

"Aku akan mematahkan lehermu!"

"Kenapa dia manis sekali di situ?"

"Aish!"

Jimin menoleh, tersenyum kecil melihat Taehyung kembali dengan wajah frustasi yang begitu imut. Bibirnya mencebik kesal setiap kali melihat ponselnya tetap dalam keadaan yang sama, tidak ada notif SMS atau telfon masuk ke ponselnya. Ia tersenyum kecil menghampiri sang guru sekaligus sahabatnya itu dengan dua tas besar berisi pakaiannya. Ia mengambil tempat di hadapan sang guru.

"Hyung, apa pria itu lagi?"

"Eoh, aku akan benar-benar mematahkan lehernya jika dia tidak menghubungiku dalam dua hari"

"Hyung…" panggil Jimin hati-hati. Taehyung menoleh, menatap Jimin yang sudah siap dengan kepindahannya ke rumah yang katanya sahabat mendiang ibunya dulu. Awalnya ia tidak yakin, karena ia lupa wajah orang yang mengatakan itu tapi hatinya mengatakan bahwa itu benar.

"Kau sudah mau berangkat? Hah…" Taehyung menghela nafas, menyingkirkan ponselnya sejenak lalu berdiri di samping Jimin sambil menatap sekeliling rumahnya. "Rumah ini akan sepi, aku akan benar-benar merindukanmu, terutama masakanmu" lanjut Taehyung dengan senyum sedih dan sedikit tidak terima jika Jimin akan pindah.

"Hyung!" rengek Jimin dengan mata mulai berkaca-kaca. Sejak kejadian waktu itu-saat Jimin menangis mengenang ibunya-Taehyung semakin memanjakan dirinya seperti anak. Memeluk, memberikan perlindungan layaknya seorang ibu. Ia sudah lama tidak merasakan itu jadi wajar jika ia mau pun Taehyung sedih.

"Eiy, tapi untuk apa sedih? Kita masih bisa bertemu di sekolah dan kau bisa berkunjung di rumahku kapan pun kau mau. Uljima, Jimin-ah"

Mereka berpelukan sangat erat. Jimin hampir menangis melihat anjing kesayangan Taehyung juga ikut mendekat dan melilit kakinya seperti mencegah kepergiannya. Jimin tersenyum, melepas pelukan Taehyung lalu beralih memeluk anjing putih itu.

"Kau akan pergi? Kenapa? Jika tuanku pulang larut malam, siapa yang akan memberi aku makan? Jika kau ada di sini aku juga memiliki teman bermain yang mengerti bahasaku. Kenapa kau pergi?"

Jimin tersenyum mendengar keluhan si anjing. Dengan lembut ia mengusak kepala itu lalu menyerahkan anjing itu ke pemiliknya lagi.

"Hyung jangan pulang terlalu larut terus, dia mengeluh soalmu"

"Jinjja? Maafkan eomma sayang, eomma tidak sadar menelantarkanmu"

Anjing itu terlihat senang tapi ia berusaha menyembunyikannya saat Taehyung memeluk dan menciuminya bertubi-tubi. Jimin terkekeh, memeluk mereka berdua lalu terakhir mengecupi anjing Taehyung penuh sayang.

"Aku harus pergi sekarang"

"Kau tidak mau aku antar?"

Jimin menggeleng menolak tawaran Taehyung, ia takut saja jika Taehyung mengantar dirinya dia akan bertemu Yoongi. Ia tidak mau hal itu terjadi, takut jika Taehyung kelepasan melihat dirinya di jemput pria bisa-bisa Taehyung menghajar Yoongi habis-habisan.

"Baik, tapi kau hati-hati ya. Setelah sampai di sana hubungi aku, arraseo?"

Dan di sinilah Jimin, berjalan sendirian keluar gang tempat tinggal Taehyung dengan tas ransel sekolahnya yang ia gendong, beberapa buku tebal yang tidak muat dan satu tas berisi pakaian serta buku-buku miliknya. Ia menghela nafas, kenapa ia tidak mengiyakan saja ajakan Taehyung tadi tahunya Yoongi tidak menjemputnya.

"Apa dia sibuk?" gumam Jimin dengan kepala menunduk. Baru saja ia bergumam sekitar lima detik suara klakson yang begitu norak menyapa telinganya. Ia mendongak, menemukan sebuah mobil sport warna hitam terparkir di jalan keluar gang rumah Taehyung.

Jimin mengernyit, ada rasa takut di benaknya tapi setelah melihat yang keluar dari mobil itu ia menarik nafas lega.

"Kenapa anak manis seperti mu membawa barang sebanyak ini sendiri? Maafkan, pamanku, ya?" ucap NamJoon seraya mengambil alih kedua tas yang di bawa Jimin, tidak lupa juga membawa si anak manis tadi masuk ke dalam mobil. Setelah semua beres, ia segera melajukan mobilnya menuju mansion mansion kedua paman tuanya itu.

"Ghamshamnida, karena sudah menjemputku"

"Hm, sama-sama. Samchon tidak bisa menjemputmu karena dia entah sibuk apa di dalam kamar, dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu makanya dia menyuruhku"

Jimin mengangguk paham mendengar penjelasan NamJoon mengapa dia menjemput Jimin dan kemana perginya Yoongi. Ia menunduk, menatap langit malam kota Seoul yang mendung lalu perlahan-lahan gumpalan awan itu berubah menjadi titisan air disertai dengan angin kencang.

Padahal ini masuk musim salju tapi kenapa hujan yang terjadi di luar begitu deras, bahkan disertai angin kencang. Apa Yoongi sedang bersedih? Tapi kenapa? Bukankah Yoongi yang meminta dirinya untuk tinggal satu atap, mengapa sekarang Yoongi bersedih?

"Jangan melamun menatapi air hujan, wajah manismu nanti ikut luntur" ledek NamJoon dengan nada menggombal yang begitu kental. Jimin terkekeh, memandang ke arah NamJoon yang masih fokus pada jalanan di depannya.

"Apa ada yang mau kau tanyakan?" tanya NamJoon seolah-olah membaca pikiran Jimin yang penuh akan tanda tanya saat ini. "Tanyakan saja" ucap NamJoon dengan senyum ramahnya.

Jimin tersenyum sebelum mengeluarkan salah satu pertanyaannya, "Apa hyung memiliki nomor ponsel ahjussi? Aku ingin meminta nomor ponselnya" ucap Jimin hati-hati, takut NamJoon tersinggung tapi pria tinggi dan tampan itu malah tertawa, menggeleng tidak percaya.

"Hahahaha! Aku akan senang hati memberikan nomornya, tanpa harus kau paksa. Tapi jika dia punya ponsel"

"Ahjussi tidak punya ponse?" tanya Jimin tidak percaya. NamJoon mengangguk pasti.

"Katanya dia terlalu sibuk mengurusi beberapa hal jadi dia tidak mau ponsel karena itu akan menyita waktunya" ucap NamJoon memperjelas jawaban sebelumnya dengan alasan yang pernah Yoongi keluarkan dulu. Jimin mengangguk paham, matanya ia bawa keluar mobil lagi, menatapi suasana malam dan basah kota Seoul.

Apa Yoongi benar-benar sibuk atau sengaja menghindarinya? Tapi kenapa waktu itu dia malah menyuruh Jimin tinggal serumah? Apa ini bagian rencana Yoongi mempermainkannya? Apa itu benar?

Jimin sampai di rumah Yoongi cukup malam, NamJoon membawanya masuk sambil memberikan kunci rumah dan password mansion ini. Jimin membungkuk terimakasih, setelah NamJoon mengantarnya ke depan kamarnya-itu kata NamJoon Yoongi menyiapkannya sendiri.

Mata sipitnya memandangi pintu kamar berwarna putih itu dengan seksama, jari-jarinya menyentuh daun pintu itu. lalu pandangannya teralihkan ke lantai bawah dimana kamar Yoongi berada. Jauh di dalam benaknya ia ingin menghampiri dan menyapa Yoongi tapi NamJoon tadi mengatakan jika pamannya itu tidak mau diganggu-setelah pertengkaran tidak jelas dengan SeokJin tadi-.

HIK!

Tapi ia tetap ingin ke sana. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia ingin menemui Yoongi meskipun hanya berdiri diam di depan pintu suaminya itu. Ia menarik nafas panjang, masuk ke dalam kamar menaruh seluruh barang-barangnya. Kaki kecilnya ia bawa menuruni anak tangga dan berbelok ke kamar Yoongi yang tepat ada di bawah kamarnya.

Ia hanya diam. Tangannya terangkat seperti ingin mengetuk, tapi ia kembali urungkan. Senyum kecil terpatri di bibirnya, rasa hangat melingkupinya hanya karena ia bisa melihat daun pintu kamar Yoongi yang tertutup rapat.

"Ahjussi…"

Jimin bersuara dengan sangat kecil. Ia yakin Yoongi pasti mendengarnya, ia sangat yakin akan hal itu. jadi ia putuskan untuk tetap bicara dengan kepala sedikit menunduk.

"Ahjussi, aku tidak tahu kau sedang apa di dalam sana. Jika kau sudah tertidur dan terbangun karena suara ini aku minta maaf, aku hanya ingin kau tahu satu hal"

Seperti dugaan Jimin, Yoongi mendengar semua itu. tubuh tegapnya ia bawa bersandar pada pintu. Tubuhnya merosot bersamaan dengan rasa sakit di dadanya akibat panah itu kembali terasa. Sejak kembali dari kamar SeokJin ia merasakan rasa sakit itu, makanya ia hanya duduk diam di dalam kamar sambil berusaha mencabut panah-panah itu sendiri tapi tetap tidak berhasil.

"Aku sudah di sini, di mansion mu seperti permintaan Ahjussi. Aku juga akan tetap di sisimu setiap saat, aku akan merawatmu, aku akan mencabut rasa sakitmu dan segera menikahimu"

Yoongi semakin merintih, tangannya perlahan berubah menjadi cakar yang tajam, matanya berubah menjadi biru saat rasa sakit itu makin menjalar. Mulutnya terbuka seperti mengerang sakit tapi tidak ada suara yang keluar dari sana. Rasa sakit itu makin menjadi, apa karena ajalnya yang semakin dekat? Atau karena niatnya yang tidak ingin mati?

"Sepertinya kau memang sudah tidur aku akan kembali ke kamarku"

Yoongi menggeleng, seperti menolak Jimin pergi dari sekitarnya. Ia ingin Jimin di sini, ia takut. Ia takut tanpa alasan yang jelas, rasa sakit ini membuatnya takut. Rasa sakit ini berbeda dari rasa sakit yang selama ini ia rasakan.

"Kau harusnya mati, Min Yoongi"

Yoongi mendongak, menemukan seorang wanita dengan tubuh pendek, berrambut hitam panjang dengan pakaian serba biru bercampur putih. Rasa sakit itu makin menjadi ketika ia beradu pandang dengan si wanita. Bahkan ia samapi bersimpuh di dekat kaki si wanita.

"Ketika kau menemukannya kau harusnya segera mati"

Wanita berucap dengan nada penuh amarah, angin yang sejak tadi berhembus semakin kencang seiring dengan rasa sakit dan kamar Yoongi berubah menjadi sebuah ruangan gelap dengan bantuan cahaya bulan dari luar sebagai sumber cahaya mereka. Kilat yang menyambar dari luar makin membuat suasana di sekitar mereka mencekam.

"Kenapa aku tidak boleh hidup?" tanya Yoongi susah payah di sela-sela rasa sakitnya. Wanita itu menutup matanya sejenak, menahan luapan emosinya.

"Aku memberikanmu hukuman ini karena perintah Tiga orang itu. Aku hanya akan menyampaikan pesan mereka, kau harus segera mati. Kau selalu meminta nyawamu dicabut dan setelah terkabul kau tidak kunjung mati juga"

Yoongi tidak menjawab, rasa sakit itu sudah tidak terlalu terasa tapi tetap saja masih terasa sakit. Tubuhnya yang sebelumnya bersimpuh segera bangkit, berusaha bangkit dan berdiri di hadapan wanita cantik itu.

"Aku adalah seseorang yang diutus oleh Dia menangani orang-orang pendosa seperti kalian"

"Apa aku tidak memilikii kesempatan hidup lebih lama?" tanya Yoongi sedikit memohon, matanya sudah berair melihat wanita penjaga orang-orang pendosa dan dalam masa hukuman terlihat murka mendengar pertanyaannya.

"Aku tidak tahu akibatnya karena Dia yang boleh mengatakannya. Tapi aku ke sini untuk memperingatkanmu…"

Wanita itu menatap lurus ke dalam bola mata Yoongi, menatapnya penuh amarah dan rasa kesal setengah mati.

"Kau. Harus. Pergi. Dan. Menjadi. Angin"

"Dan ketika aku sadar bahwa dia cinta pertamaku. Aku juga menyakiti dia"-Yoongi.

To Be Continue

langsung next chapter ya