Seorang wanita berdiri dengan pakaian serba ungu darah di depan mansion besar itu. Matanya yang sedikit besar menatap arloji berwarna perak yang ia pakai, hembusan nafas kesal keluar dari mulutnya. Ia kembali melirik mansion itu, tidak lama seorang wanita lain tiba-tiba muncul dari balik gerbang.
"Bagaimana?"
"Kau tahu, aku tidak pandai mengancam orang tapi dia terlihat begitu memikirkannya tapi dia masih membutuhkan waktu"
Wanita berbaju ungu tadi memijat pelipisnya, terlihat kesal dan bingung. Sudah seharusnya ia yang menemui si pendosa itu ketimbang memerintah orang macam wanita di hadapannya.
"Kau itu Dewi malam kenapa kau mengurusi masalah seperti ini?"
"Kau juga bukan dari kaum Dewa di atas atau bawah kenapa mengurusi masalah ini?" balas si wanita berbaju ungu sedikit kesal. Wanita tadi menghembuskan nafas lelah.
Salah satu dari mereka adalah seorang Dewi Malam-Dewi yang berasal dari dunia bawah tanah. Dunia dimana orang-orang beraura gelap dan manusia-manusia penuh dosa di kirim. Ia bertugas menjaga kegelapan tapi sejak beratus tahun lalu ia malah di perintahkan menjaga dan suatu saat nanti menjemput seorang pendosa.
Dan pendosa itu adalah Min Yoongi.
Sementara wanita yang baru datang adalah pemimpin kaum-kaum supranatural termasuk dunia vampire yang menjadi sarang hukuman bagi pendosa-pendosa baru. Mereka sama sekali tidak berkaitan tapi entah mengapa dua orang itu mencampurkan mereka menjadi satu bahkan bekerja sama seperti ini.
"Tapi aku belum pernah mendengar namamu sebagai manusia, siapa namamu di sini?" tanya wanita pemimpin kaum supranatural. Wanita berbaju ungu itu tersenyum miring, menatapi langit malam kota Seoul lalu wanita tadi.
"Hoseok, aku memilih marga Jung karena itu marga yang lumayan terkenal. Kau?"
"Ha Sungwoon, apa kau sudah pernah bertemu dari salah satu dua orang itu?" tanya si wanita pemimpin kaum supranatural atau Sungwoon pada Hoseok-Dewi Kegelapan. Hoseok menghela nafas mendengar pertanyaan ingin tahu Sungwoon, sebenarnya ia malas menjawab tapi ia mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi hanya satu, aku tidak tahu bagaimana rupanya saat di tanah penuh dosa ini. Aku muak di sini, temani aku minum"
Sungwoon tersenyum melanggkah di belakang Hoseok yang sudah lebih dulu maju mencari club dan meminum belasan botol tanpa mabuk sama sekali. Ia benar-benar kesal mendengar kabar bahwa Yoongi itu… yah…
Sudahlah, dia pasti akan tetap mati nanti.
(WANNA ONE-Beautiful, Yang Yooseob-Tree, -That Person, Chanyeol ft Punch-Stay with Me, Confession-Yesung & You are so Beautiful-Eddy Kim)
Jimin baru saja selesai mandi dan bersiap-siap hendak melesat masuk ke selimut sebelum suara ketukan cukup keras di pintunya terdengar. Ia melangkah terburu-buru menuju pintunya, takut jika NamJoon membutuhkan pertolongannya tapi yang ia lihat adalah Yoongi.
Gumiho berstatus suaminya itu terlihat pucat, tubuh itu sedikit membungkuk seperti habis menahan sakit. Ia panik, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Yoongi. Baru saja ia mau melangkah mendekat, Yoongi sudah lebih dulu maju dan menerjang tubuh mungilnya dalam sebuah pelukan yang sangat erat.
"Ahjussi! Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Jimin bingung. Yoongi tidak menjawab, namun pelukan Yoongi pada tubuh mungilnya semakin mengerat bahkan ia merasakan jika tubuhnya tertutup sempurna dengan tubuh tegap Yoongi.
Ia masih ragu-ragu mau membalas pelukan Yoongi, takut membuat Yoongi malah tidak nyaman. Namun, hatinya berkata bahwa ia harus melakukan itu. Dengan lembut ia memeluk punggung dan mengusaknya.
"Ahjussi bisa katakan apa yang terjadi?"
"Biarkan seperti ini lima menit saja. Jangan tanyakan apa pun, aku ingin sebuah ketenangan"
Jimin terdiam. Tidak membantah. Ia akhirnya membalas pelukan Yoongi menenangkannya. Sekitar lima belas menit kemudian, Yoongi melepas pelukan tiba-tibanya itu. Menatapi wajah dengan kulit putih dan mata sipit itu dengan seksama, tangannya terangkat mengusak salah satu pipi tembam itu.
"Kau sudah di sini!"
Bayangan masa depan Jimin menghantuinya, ia takut melihat masa depan itu apa lagi mengingatnya tapi semua itu seakan sudah terpasang otomatis di kepalanya. Ia tetap mengingat itu, ia sedih dan tidak mau masa depan itu terjadi. Tapi ia tidak mau egois.
"Ahjussi?"
"Aku ingin kau mencabut panah ini sekarang"
Jimin terkejut, matanya membulat. Ia menyingkirkan tangan Yoongi, memberi jarak pada tubuhnya dengan tubuh Yoongi. Menatapi dada itu yang tertancap panah lalu Yoongi yang menatapnya penuh permohonan. Ia hampir saja luluh melihat Yoongi memandangi penuh permohonan, ia tidak tega tapi ia takut terjadi sesuatu yang berbahaya jika ia menarik panah itu.
"Kenapa? Aku akan mencabutnya tapi tidak sekarang"
"Aku mohon, aku sudah tidak tahan dengan semua ini. aku mohon cabut panah ini, aku mohon…"
Yoongi kembali memohon, air mata pria berusia ratusan tahun itu sudah turun. Tangannya menyatu, memohon kepada Jimin dengan kepala menunduk ke bawah. Anak SMA tingkat akhir itu sulit berpikir, di sisi lain ia kasihan tapi di sisi lain ia merasa janggal dan enggan melakukan itu.
"Ahjussi, lihat aku" ucap Jimin menuntun wajah tampan yang berada di atasnya itu memandangnya. Ia tersenyum, matanya ikut memerah menahan tangis melihat Yoongi benar-benar putus asa dan menahan sakit. Ia tidak tega melihat Yoongi memohon seperti itu, ia tidak bisa melihat air mata itu jatuh di wajah yang selalu menenangkannya tapi sekarang wajah itu terlihat begitu lemah.
"Aku… aku berjanji akan mencabut panah itu. Tapi tidak sekarang, aku tidak memiliki tangan yang cukup kuat untuk mencabut seluruh panah ini" ucap Jimin dengan suara lirih dan serak, jari-jarinya yang lain mengusap dada Yoongi dengan senyum miris membayangkan jika itu Jimin.
"Jika aku sudah berjanji aku akan menepatinya. Aku akan mencabut panah itu, lalu kita akan hidup selamanya bersama. Aku akan selalu ada untukmu, begit pun sebaliknya. Kau akan selalu ada untukku, ahjussi tidak perlu khawatir. Aku akan mencabut panah itu segera dan menghilangkan penyakit ahjussi"
Yoongi terdiam, ia bisa melihat bahwa Jimin bersungguh-sungguh. Kedua mata itu ikut memerah, ada kesedihan yang sama seperti di dalam matanya. Apa ini yang disebut kontak hati? Apa karena kami ditakdirkan bersama Jimin bisa merasakan kesedihan yang Yoongi rasakan.
"Ahjussi akan segera sehat, jadi ahjussi tidak perlu menangis dan memohon lagi. Sekarang aku yang menenangkanmu, dengan kata-kata ini…"
Jimin menggantungkan kalimatnya, sebelum melanjutkan kalimatnya ia menarik tubuh tegap itu ke dalam pelukan kecilnya. Mengusap punggung itu dengan lembut, dan jangan lupakan kepala Yoongi tidak ketinggalan ia usap. Menghantarkan rasa aman dan nyaman di hati Yoongi, ia nyaman dan menyukai semua ini.
"Jika kau mau menenangkanku, kau harus mengusak punggung, kepala bagian belakangku dengan lembut, seperti ini lalu kau ucapkan kata-kata penenang ini…" ucap Jimin menahan tangis. Ia benar-benar ingin menangis, matanya tidak bisa menahan air matanya sendiri. Dalam pelukan ini Yoongi seperti berbagi rasa sedihnya yang amat dalam, ia bisa merasakan itu.
"Uljima… aku ada di sini bersama, ahjussi"
Yoongi memejamkan matanya, ia semakin erat memeluk pinggang ramping Jimin. Ia nyaman, ia aman, ia tenang dalam pelukan ini. Jimin tersenyum, perlahan-lahan ia merasakan tubuh ini tidak lagi merasa sedih. Bahkan ia merasakan jika Yoongi menyukai pelukan ini, ia tahu Yoongi nyaman dan merasa tenang dalam pelukan ini.
"Biarkan seperti ini lima menit saja"
Jimin mengangguk, menuruti perintah Yoongi dan kembali mengusap punggung lebar itu menggunakan tangan mungilnya. Mengalirkan rasa nyaman, aman dan ketenangan dari dalam dirinya untuk Yoongi, karena hanya ini yang bisa Jimin berikan sekarang.
Keamanan, kenyamanan, dan ketenangan.
…
…
…
…
…
Pagi-pagi sekali Jimin sudah bangun. Ia hanya tidur beberapa jam karena Yoongi hampir tiga jam lamanya memeluk dirinya, lalu jatuh tertidur di pelukan Jimin. Semalam Jimin dengan susah payah menyeret tubuh itu ke atas kasurnya, menyelimuti suaminya dan ia berakhir tidur di kasur lain di bawah sambil belajar.
Alasannya, karena ia melewati jam tidurnya sehingga ia sama sekali tidak mengantuk. Jadi, ia memutuskan untuk belajar, lalu tidur jam 3 pagi dan terakhir bangun pukul enam-ini sudah kebiasaan Jimin-.
Sesekali ia menguap cukup lebar seraya membuka kulkas mengambil bahan-bahan lain untuk dimasak. Pagi ini ia berencana memasak sup labu, telur, kimchi dan beberapa masakan lainnya. ia sangat yakin tiga pria dewasa itu setiap pagi hanya makan sandwich, steak atau pasta. Lebih parahnya mungkin mie.
"Sedang apa kau?"
"Aish, kkamjakya!"
Jimin menoleh, tadinya ia berniat mengomel namun ia urungkan melihat pelaku yang mengejutkannya adalah si vampire-SeokJin. Wajah pria tinggi itu sedikit pucat, kantung mata yang menghitam dan begitu lebar. Sepertinya SeokJin juga kurang tidur, mungkin karena pekerjaannya sebagai pengantar hukuman.
"Aku bertanya padamu, Yang Dimangsa"
Jimin mengernyit, apa itu julukan yang diberikan oleh seorang vampire pada korban terdahulunya. Ia mengernyit, menjauhkan pisau yang tadi ia gunakan untuk memotong labu, atensinya berpusat pada SeokJin yang sedang meminum air isotonic langsung dari kulkas.
"Apa yang Tuan Vampire tadi maksud?"
"Kau dulu, aku tidak tahu kenapa tapi kau masuk daftar black dan itu berarti kau bisa kapan saja menjadi santapan vampire meskipun kau tidak berdosa"
Mata Jimin membola. Apa itu benar? Apa ini alasan ibunya selalu melarangnya keluar malam, saat malam itu ia nekat pergi keluar malam dan bertemu SeokJin. Tapi kenapa? Apa dosanya hingga ia menjadi daftar buruan vampire?
"Jangan dipikirkan selama dia selalu mengawasimu di belakang seperti ini kau akan aman. Dia salah satu makhluk yang ditakuti" ucap SeokJin sambil menunjuk ke arah belakang Jimin. Di sana sudah ada Yoongi yang berdiri kaku di tempat karena SeokJin mengatakan rahasia kaumnya sendiri pada orang yang menjadi buruannya.
Jimin menoleh, ia menatap penampilan Yoongi yang sudah segar dan tidak seburuk seperti semalam. Sepertinya Gumiho ini sudah baikkan, bahkan cara berjalannya sudah kembali normal saat menghampiri dirinya yang sedang berbicara pada SeokJin.
"Kau tidak takut dihukum? Kau baru membeberkan rahasia kaummu sendiri pada orang yang harusnya kau gigit"
"Kau mau aku menggigitnya? Deng-"
Yoongi langsung pasang badan di depan Jimin, menghalangi tubuh yang sama besarnya dengan ia itu menghampiri Jimin yang masih bingung bercampur takut.
"Ck, aku tidak tertarik lagi dengan darahnya"
"Kau pasti lebih tertarik pada darah teman kencanmu itu, kan? Kau berkencan dengannya tapi tidak mau memberitahu namamu, dasar manusia setengah nyamuk"
SeokJin seketika pundung. Moodnya yang tadi bagus langsung hancur seketika, pundaknya merosot, di kepalanya langsung terkumpul awan mendung lengkap dengan kilatan petir. Jimin meringis, kata-kata Yoongi itu ternyat jauh lebih pedas daripada Taehyung.
"Ahjussi, kasihan Tuan Vampire"
Yoongi membuang nafasnya tidak percaya, berbalik menatap Jimin yang sekarang menciut karena Yoongi dalam mode kesal yang cukup menakutkan. Wajah itu tertekuk kesal tidak percaya, Jimin itu sebenarnya apa? Apa dia tidak memiliki rasa takut atau benci pada SeokJin? Apa dia sudah melupakan kejadian beberapa tahun lalu saat SeokJin hampir melukainya?
Jika Yoongi ada di sana, sudah ia pastikan leher SeokJin akan patah saat itu juga. "Kau masih kasihan padanya? Kau hampir mati dulu"
"Tapi itu dulu"
Yoongi menarik nafas panjang. Susah jika bicara dengan orang yang memiliki empati dan rasa kasihan tinggi. Ia melirik SeokJin yang semakin pundung, mood nya benar-benar hilang karena perkataan Yoongi mengingatkannya akan masalah dirinya dengan V.
"Tuan Vampire kau baik-baik saja? Kau mau aku buatkan sesuatu?" tanya Jimin seraya menghampiri SeokJin dan berniat menyentuhnya tapi pria itu langsung berjengit heboh dan sedikit memekik. Antara terkejut, panik, takut dan jijik dengan sentuhan tangan Jimin.
"Jangan sentuh aku karena aku tidak mau melihat kehidupan sebelum dirimu dan dosa-dosamu. Aku tidak mau itu terjadi" ucap SeokJin dengan mata bulat tajam, menyilangkan tanganya di depan lalu bergerak cepat menjauhi dapur.
Meninggalkan Jimin yang kebingungan dan Yoongi, pria itu berdecak sebal. Matanya tanpa sengaja melihat bahan-bahan makananya di keluarkan dari kulkas berharganya.
"Kau mau memasak?" tanya Yoongi seraya menghampiri mangkuk ukuran sedang yang sudah berisi sayuran yang siap di masukan ke dalam kaldu yang dimasak Jimin. Pemuda manis itu mengangguk, menghampiri pekerjaannya itu yang sempat tertunda.
"Nde, ini sebagai ucapan terimakasih karena ahjussi memberiku tempat tinggal senyaman ini"
"Apa kau tidur cukup semalam?" tanya Yoongi menyinggung topik semalam. Ngomong-ngomong soal malam itu, ia benar-benar diluar kendali tubuhnya. Sosok Gumiho di dalamnya benar-benar kesepian dan kesakitan, tidak orang lain di pikiran Yoongi selain Jimin. Maka dari itu, semalam Yoongi bergerak cepat masuk ke dalam kamar Jimin dan memeluknya erat.
Semua itu kemauan dari sosok Gumiho di tubuhnya. "Aku pikir kau hanya tidur beberapa jam, karena aku"
"Anniyo!"
HIK!
"Nde, aku hanya tidur beberapa jam, tepatnya tiga jam" ucap Jimin memperbaiki sanggahan sebelumnya. Yoongi menghela nafas, sepertinya ia membuat Jimin kesulitan semalam, bahkan pemuda manis itu hanya tidur tiga jam sementara dirinya terbangun di kasur empuk dan sepintas ia melihat kasur lipat di pojok kamar Jimin.
"Tapi, aku tidak apa-apa. Aku bahkan pernah hanya tidur dua jam karena mengerjakan tugas sekolah, aku memang terbiasa bangun pagi. Ahjussi tidak perlu merasa bersalah atau khawatir, aku baik-baik saja" Jimin memberi penjelasan dengan senyum kecil, memberi tahu lewat senyum bahwa ia tidak apa-apa.
"Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Hari ini sekolah diliburkan sampai dua hari ke depan karena akan berkabung untuk orangtua Irene dan Seulgi. Youngjae memberitahu aku soal itu dan dia mengajakku keluar"
Mata Yoongi memicing tajam, mengingat nama itu lalu ingatannya berputar saat kejadian Jimin hampir di jamah pria-pria brengsek itu. Ada satu murid berwajah manis yang dengan berani meminta alamat rumahnya untuk mengunjungi Jimin.
"Kemana?"
"Sebentar lagi ujian saringan masuk universitas dan ujian akhir sekolah. Aku harus mendapat nilai tertinggi agar aku mendapat beasiswa minimal lima puluh persen. Itu targetku tahun ini" ucap Jimin semakin tersenyum penuh kecerian saat menceritakan soal beasiswa dan universitas.
Tanpa sadar Yoongi ikut tersenyum sama cerianya seperti Jimin. "Hwaiting, jika kau mendapat hasil ujian tertinggi aku akan membiayai kuliahmu"
"Itu sudah kewajibanmu sebagai suamiku, kau tidak boleh lari dari tanggung jawab" ucap Jimin dengan nada sedikit meledek. Yoongi tersenyum, mengusak kepala bersurai hitam itu penuh sayang dan kelembutan.
"Wow, mulutmu itu sudah dewasa"
Jimin terdiam. Ia merasakan usakan ini berbeda, ia bisa melihat ada pancaran lain di mata Yoongi saat mengusak kepalanya. Ia bisa melihar raut kegembiraan jelas tergambar di mata dan senyum lebar Yoongi. Matanya tertuju lurus pada mata Yoongi yang sepertinya baru tersadar dengan tingkahnya barusan.
Ini kemauannya sendiri untuk mengusak kepala Jimin, sosok Gumiho di dalam dirinya tidak ikut andil peran. Matanya bergerak gelisah, begitu juga dengan Jimin yang salah tingkah mendapat perlakuan seperti itu dari Yoongi. Ia berjengit mundur, bergerak gelisah lalu ia melanjutkan acara memasak sarapannya.
Tangan Yoongi masih setia berada di udara, lalu perlahan-lahan turun dan pindah mengusak kepalanya sendiri. Kenapa suasananya jadi awkard begini?
"Aku… aku ingin mengambil telur di kulkas" ucap Jimin masih dengan kepala menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, Gumiho berusia ratusan tahun itu dengan canggung menjauhkan tubuhnya dari kulkas yang ia gunakan untuk menyender.
"Aku… aku akan pergi… dan… membiarkanmu memasak"
Jimin tidak menjawab. Pandangannya mendadak tidak fokus, bahkan ia mengambil telur kelewat banyak. Yoongi bergerak layaknya sebuah robot usang saat keluar dari dapur, meninggalkan Jimin yang bernafas lega karena Yoongi sudah keluar dari dapur.
"Ya, ampun. Dia membuatku tidak fokus" gumam Jimin memegangi dadanya yang berdetak tidak stabil beserta deru nafasnya. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan pekerjaan memotong lobak.
"Aku lupa mengatakan ini"
Jimin kembali terperenjat, hampir saja ia memotong jarinya sendiri mendengar suara Yoongi tiba-tiba muncul di belakangnya. Meskipun hanya kepala dan setengah badannya tapi tetap saja, kemunculan Yoongi kembali tidak menstabilkan detak jantung dan nafasnya.
"Aku lebih menyukai daging, manusia setengah nyamuk itu tidak suka daging dan NamJoon memakan apa saja. Aku hanya mau memberitahu itu, aku akan pergi mandi"
Jimin mengangguk saja. Menatap kepergian Yoongi dan kali ini memastikan bahwa Gumiho masuk ke dalam kamar untuk mandi. Baru ia menarik nafas lega, kenapa dengannya?
"Aish, kenapa dia mengusak kepalaku tadi" gerutu Jimin sedikit kesal sebelum kembali melanjutkan acara memasaknya.
Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, kau pasti senang Jimin-ah, benar kan?
…
…
…
Rumah yang tidak kalah besar dari milik Yoongi itu nampak dimasuki sebuah mobil berwarna merah menyala. Si pengemudi tersenyum lebar menyapa seorang pak tua penjaga rumah besar itu, setelah mendapat parkir yang pas ia segera keluar sambil membawa tas berukuran sedang dan beberapa paper bag.
"Kau mau menginap atau pindahan"
Si pengemudi tadi mencebikkan bibirnya sebal, persis seperti remaja tanggung yang bicara tadi, tidak sesuai usianya yang hampir memasuki kepala tiga. Orang yang tadi bicara menghampiri Taehyung-si pengemudi tadi-membantunya membawa paper bag itu ke dalam rumah tadi-tepatnya rumah Jungkook.
"Aku akan menginap, lalu aku akan pulang. Kau tidak perlu khawatir" ucap Taehyung pada keponakan angkatnya itu.
Mungkin kalian masih bingung tentang hubungan Taehyung dan keluarga Jungkook. Ia tidak mau membahas masa lalunya tapi, ia akan terus mengenang kebaikan kakek Jungkook yang dengan senang hati memungut dan merawatnya hingga sebesar sekarang. Ia hanya akan berbicara itu karena ia tidak mau mengenang masa lalu nya itu.
"Abeojie!"
Kakek Jungkook tersenyum, menyambut pelukan Taehyung lalu mengajaknya dudu bersama. Sedangkan Jungkook dia suah menghilang di kamarnya, entah bermain game atau hal tidak berguna lain yang sering sekali Taehyung omeli.
"Bagaimana sekolah tempat mu mengajar sekarang? Kau senang karena bisa membantu anak-anak yang dibully?" tanya kakek Jungkook setelah kembali masuk membawa dua cangkir teh untuk dirinya dan Taehyung.
Pemuda manis berrambut blonde itu tersenyum, "Nde, aku senang membantu mereka. Terutama murid kemarin, Park Jimin. Aku benar-benar bahagia melihatnya memiliki satu teman dan yang lebih membuatku bahagia dia sama sekali tidak membenci orang-orang yang sudah membully nya. Aku tidak tahu hatinya itu terbuat dari apa" jawab Taehyung dengan senyum kecil mengingat sorot mata Jimin untuk Seulgi dan Irene saat di rumah duka kemarin.
Tidak ada kebencian, tidak ada rasa puas, hanya ada rasa empati dan ingin menolong. Dia benar-benar pribadi yang langka dan dibutuhkan dunia zaman sekarang.
"Kau sebentar lagi ulang tahun"
Taehyung menghela nafas, entah kenapa pembicaraan kakek Jungkook ini akan berkaitan dengan status jomblo abadinya. Ia mendekat, menyentuh tangan keriput itu dan mulai memijatnya dengan lembut seperti kebiasaan mereka dulu.
"Aku tahu, aku sudah tua"
"Kau tidak berniat menikah"
"Entahlah, aku belum memikirkannya. Aku masih ingin mengurusi anak-anak SMA itu" elak Taehyung tanpa menatap mata orang yang sudah merawatnya selama ini. ia tidak tega melihat mata sayu itu menatapnya kasihan dan penuh permohonan, ia tidak mau menikah sekarang karena ia memang belum ada kemauan menikah.
"Lalu kapan?"
"Entahlah,"
"Mungkin saja sebentar lagi aku akan pergi, Jungkook tidak akan bisa menjagamu. Aku memiliki anak-anak tapi pasti mereka akan sibuk mengurusi perusahaan beserta cabangnya, aku takut kau tidak ada yang mengurus"
Taehyung menarik nafas, menggenggam tangan itu pasti dan membernaikan diri menatap ayah angkatnya itu. tersenyum lebar dan menenangkan, "Aku memiliki seorang teman kencan, tapi kami masih dalam pendekatan. Aku tidak akan sendiri di hari tuaku, abeojie tidak perlu khawatir"
Taehyung semakin tersenyum melihat kakek Jungkook tersenyum lega, meskipun hanya teman kencan tapi ia seperti melihat harapan bahwa masa tua Taehyung tidak akan kesepian dan ada yang mengurusnya kelak.
"Siapa pria itu? Siapa namanya?"
Taehyung terdiam, bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin jika ia bilang ia tidak tahu, bisa-bisa ia ayah angkatnya ini tidak percaya padanya.
"Dia punya nama, tapi kami sudah sepakat untuk merahasikan nama masing-masing kepada orang lain. Mianhae, aku tidak bisa memberi abeojie"
"Aku tidak tahu model berkencan jaman sekarang, tapi seyukurlah kau memiliki teman kencan serius. Awalnya aku sempat berpikir teman kencanmu tidak memiliki nama, hahahaha"
Taehyung ragu akan hal itu. ia juga sedikit merasa bersalah karena membohongi kakeknya demi menutupi keanehan teman kencannya yang mengaku Kim itu. awas saja, jika dia belum mengajak bertemu atau memberitahu namanya, bisa Taehyung pastikan leher atau tangannya akan patah.
…
…
…
"Samchondeul"
Yoongi dan SeokJin yang sama-sama berada di sofa ruang tengah menoleh. Menemukan keponakan angkatnya itu tersenyum lebar sambil mengangkat dua ponsel dengan warna berbeda. Mata SeokJin berbinar bahagia, bahkan ia sampai membuang botol kosong yogurht nya ke tempat sampah di dekat pintu dapur.
"Aku membelikan kalian ponsel, harabeojie yang memerintahkanku"
NamJoon berucap dengan senyum cerahnya, mengambil tempat di hadapan kedua pamannya, dan memberikan masing-masing ponsel itu. Warna hitam di ambil SeokJin, sedangkan putih di ambil Yoongi. Dari yang ia lihat hanya SeokJin yang terlihat begitu tertarik bahkan ia sampai mengendus ponsel baru itu, memeriksa baunya.
"Aku akan jelaskan caranya, per-"
"Kau jelaskan pada manusia setengan lintah ini, karena aku sudah tahu caranya"
NamJoon terkejut, sementara SeokJin sudah memasang wajah tidak suka karena Yoongi kembali memberikan julukan aneh pada kaumnya. Waktu itu nyamuk sekarang lintah, besok apa lagi yang keluar dari mulut pedas itu.
"Samchon, yakin?" tanya NamJoon memastikan, pasalnya ia tidak pernah melihat Yoongi memegang ponsel kecuali telfon rumah-itu pun jarang sekali. Pamannya itu mengangguk yakin dengan wajah malas melihat tingkah norak SeokJin yang sibuk menghafal nomornya sendiri.
"Samchon penyewa rumah bisa menghafal nomornya nanti, sekarang kita akan ke play store lebih dulu. Ayo!"
Yoongi mengangguk, ia bangkit dari duduknya lalu memakai mantel berwarna cokelat di samping tempat duduknya. NamJoon mengernyit heran, mau kemana pamannya ini?
"Samchon, mau kemana?"
"Play store, kau bilang kita akan ke play store. Manusia lintah kau tidak ambil mantelmu?" tanya Yoongi pada SeokJin yang sudah bersiap-siap masuk ke dalam kamar mengambil mantelnya. Sementara NamJoon menghela nafas, astaga ia punya dua paman yang benar-benar aneh, sok tahu, terutama Yoongi.
"Aigoo~"
…
…
…
Perpustakaan hari ini cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang berkunjung termasuk dirinya dengan Youngjae. Sahabatnya itu sejak tadi hanya diam, memandang kosong buku-buku tebalnya. Meskipun baru beberapa minggu berteman tapi ia sudah tahu cukup banyak tentang sifat Youngjae, dia tipekal pemuda periang yang akan selalu mencerocos dan mengeluarkan wajah imutnya, bahkan dalam situasi serius sekali pun.
"Youngjae-ah, kau baik-baik saja?" tanya Jimin dengan suara pelan, takut membuat penjaga perpustakaan mengamuk akibat suara bising mereka.
Tidak ada jawaban dari pemuda manis bermarga Choi itu, dia masih sibuk memandang rak-rak di hadapannya ketimbang Jimin yang duduk di sampingnya.
"Choi Youngjae!"
"Eoh, waeyo?"
Youngjae terperenjat, menatap wajah Jimin yang tertekuk cemberut. Sepertinya ia kelewat melamun dan melupakan Jimin yang duduk di sampingnya.
"Kau ada masalah?"
"Anni"
Angka di kepala Youngjae bertambah, dan Youngjae yakin Jimin bisa melihat bahwa ia sedang berbohong tapi sahabatnya itu malah diam dan tidak mau bertanya atau ikut campur. Ia menoleh, menemukan Jimin sedang tersenyum maklum sambil menggenggam tangannya. Terasa hangat, ternyata benar kata orang jika genggaman tangan seorang sahabat itu terasa begitu hangat.
"Kau tidak mau cerita juga tidak apa-apa, aku hargai itu" ucap Jimin sebelum ia kembali sibuk dengan buku serta laptopnya. Ia berencana menulis sebuah cerita dongeng, ia ke sini selain untuk belajar ia juga berencana mencari refrensi untuk cerita dongengnya.
"Jaebum sunbae"
Jimin menoleh, menghentikan jari-jarinya yang sedang mengetik. Atensinya ia alihkan sepenuhnya pada Youngjae, pemuda itu nampak diam dan gusar menyusun kata-kata yang tepat. Menarik nafas adalah hal yang dilakukan Youngjae sebelum dia memulai cerita yang membuat Jimin terkejut saat itu juga.
"Aku tidak sengaja melihatnya keluar dari club dalam keadaan sempoyongan, aku membantunya pulang ke rumahnya karena memang kami satu komplek. Setelah kejadian itu, tidak lama seseorang tiba-tiba saja datang ke rumahku, memaki, mengumpat tepat di wajahku jika aku perebut kekasih orang lain, yaitu Jaebum sunbae"
"Aku tidak takut dengan ancaman seperti itu, aku shock bukan karena umpatan yang dikeluarkannya. Tapi aku lebih shock karena Jaebum sunbae sudah memiliki kekasih, aku terkejut dan…"
"Cemburu"
Youngjae mendongak, menemukan Jimin yang tersenyum penuh arti. Astaga, senyum itu lebih mirip seperti senyum meledek karena ucapannya tadi persis seperti orang yang cemburu melihat orang yang sudah diincar sejak lama ternyata memiliki kekasih *cucol dalam ff*.
"Gweanchana, kau menyukai Jaebum sunbae meskipun kelakuannya seperti itu. kau benar-benar menerima dia, tapi dia tidak akan pernah melihatmu jika kau tidak pernah memperlihatkan diri. Kau ingin memilikinya tapi kau juga terlalu takut mengambil resiko, sekarang sudah sedikit terlambat. Tapi tidak menutup kemungkinan di masa depan, kan? Jangan patah semangat"
Youngjae tersenyum, mengangguk paham, "Gomawo, selama ini aku tidak memiliki teman yang bisa di ajak seperti ini"
Jimin balas tersenyum, ia juga senang memiliki seorang teman.
…
…
…
Sejak makan siang sampai malam hari, SeokJin terdiam di meja makan. Duduk dengan memandangi ponsel barunya yang baru saja ia pelajari bersama Yoongi dan NamJoon yang begitu sabar menghadapi tingkah sok tahu karnivora itu. selain ponsel barunya, ada secarik kertas berisi nomor telfon Taehyung yang sudah ia pindahkan ke ponsel.
Tinggal menghubungi nomor itu saja, tapi masalahnya tidak sesimple itu. Ia masih mengingat dengan jelas ucapan Taehyung waktu itu, ia harus menelfon jika sudah memiliki nama. Dan sekarang ia belum memiliki nama yang pasti, ada sih satu tapi…
"Telfon saja, kau itu sudah terlalu banyak dosa jangan menambah dosamu lagi"
"Eoh, kasihan pemuda manis itu"
SeokJin menoleh ke kanan dan kirinya, menemukan Yoongi dan NamJoon yang sedang mengapit tubuhnya. Astaga, dua makhluk berbeda jenis ini kenapa selalu merusuh di sekitarnya? Ia menggerutu, berniat pergi tapi ia baru sadar jika ponsel barunya itu sudah raib dan berpindah di tangan Yoongi.
Dia sedang menelfon Taehyung.
"Wo! Tersambung!"
"Hajima! Kenapa kau menelfonnya, aku belum memiliki nama!"
"Wae? Kau tinggal bilang saja nammu Jin, susah sekali. Kau harus menelfon dia"
"Aku akan menelfonnya tapi tidak sekarang, kapan-kapan aku akan menelfonnya"
Yoongi berdecak mendengan kekeras kepalaan manusia lintah ini, ia menghela nafas kesal. Namun baru saja mulutnya terbuka hendak membalas suara disebrang sana membuat semua terkejut.
"Yeoboseyo?"
"Dia mengangkatnya!" ucap Yoongi sedikit berbisik, mengarahkan ponsel itu ke telinga SeokJin tapi pria itu segera menepisnya. Memberhentikan waktu agar tidak terjadi kekacauan yang lebih parah. Ia menarik nafas panjang, menatap nyalang ke arah Yoongi yang begitu panic karena ponsel itu melayang di udara hampir jatuh, sementara NamJoon mulutnya terbuka lebar-dengan hebohnya.
SeokJin menghampiri ponsel itu, menatap layar ponselnya bertuliskan nama V dengan bingung. Ia harus bagaimana? Bagaimana suaranya jika menyapa Taehyung? Kasar? Tidak mau tahu? Atau sok cantik dan imut.
"Yeoboseyo?"
SeokJin tersadar, ia segera meraih ponselnya, menarik nafas lalu mendekatkan ponsel itu di telinga kanannya. Tangannya bergera menyentuh lehernya, memastikan suaranya dalam keadaan normal dan baik-baik.
"Yeoboseyo"
Di seberang sana, Taehyung membuang nafas kesal. Ia melempar pop corn di tangannya, menatap Jungkook yang sedang ada di hadapannya dengan rasa penasaran tinggi.
"Kau… kau sudah punya ponsel? Aku kira kau itu terlalu idiot untuk mengerti cara menggunakan ponsel atau jari-jarimu patah saat bekerja" ucap Taehyung dengan nada sinis dan sedikit kesal.
SeokJin menggeleng, meskipun Taehyung tidak tahu ia tetap menggeleng. "Aku baru punya ponsel, aku tidak idiot dan jari-jariku tidak patah. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku" ucap SeokJin sopan dan di akhiri bungkukan tubuh yang dalam.
Taehyung tersenyum, membayangkan bagaimana ekspresi SeokJin sekarang. Pasti sangat terlihat bodoh tapi lucu di saat bersamaan.
"Aku menunggu telfonmu, tadinya aku berencana mematahkan lehermu jika dalam dua hari kau tidak menghubungiku. Ternyata kau menghubungiku mala mini" ucap Taehyung dengan senyum lega, Jungkook yang melihat percakapan telfon pamannya dengan orang lain yang ia duga teman kencan pamannya semakin curiga dan penasaran.
"Ah, nde"
Tidak ada yang bicara. Jungkook mengangkat alisnya bingung karena wajah Taehyung seperti menampilkan ekpsresi orang yang sedang menunggu telfon. Apa pria di sebrang sana itu tidak mengajak pamannya bicara lagi. Kenapa mereka diam seperti orang bodoh.
Taehyung sendiri bingung, ia menunggu SeokJin bicara lebih banyak lagi tapi pria rupawan dengan tinggi lumayan itu hanya diam. Pemuda manis itu memejamkan matanya, menahan kesal karena tingkah idiot SeokJin kembali muncul.
"Kau tidak mau bicara? Seharusnya kau bicara lagi setelah mengatakan ah, nde" ucap Taehyung dengan bibir mencebik kesal, tangannya sedikit terkepal menahan emosi. Kobaran api di tubuhnya semakin menyala terang. Taehyung dalam mode kesal itu sangat berbahaya.
"Begitu? Aku harus bicara apa?"
Taehyung semakin menarik nafas kesal, menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. Tengkuknya ia pijat dengan pelan, mencegah rasa sakit di lehernya semakin menjadi.
"Kau tidak tahu?"
"Aku tidak tahu" jawaban SeokJin tadi sukses membuat Taehyung terjerembab ke belakang. Apakah yang ia ajak mengobrol ini manusia? Kenapa dia sama sekali tidak tahu caranya mengobrol pada teman kencan? Apa dia benar-benar idiot?
"Seharusnya kau bilang, hari ini, besok, lusa, pagi, siang, sore, malam kapan kau ada waktu? Apa kau mau minum kopi bersamaku di café yang sama?"
"Hari ini, besok, lusa, pagi, siang, sore, malam kapan kau ada waktu? Apa kau mau minum kopi bersamaku di café yang sama?"
"Aku lebih suka besok, pagi dan kita minum kopi serta sarapan yang sama. Aku akan mengajak kawanku dan itu berarti kau harus mengajak kawanmu, setuju?"
…
…
…
Jimin keluar dari perpustakaan setelah menghabiskan banyak waktu dengan sahabatnya itu saat ponselnya bordering. Ia mengangkat panggilan masuk di ponselnya dari nomor tidak di kenal. Apa mungkin orang iseng? Tapi sepertinya tidak.
"Yeoboseyo?"
"Aku ada di depan perpustakaan kota, kau dimana?"
Jimin terkejut, ia menoleh ke depan. Matanya semakin membola melihat sebuah mobil berwarna putih terparkir apik di depan perpustakaan. Kaca jendela mobil itu terbuka, menampilkan sosok yang begitu ia kenal tengah menggenggam ponsel.
"Aku akan mengantarmu pulang"
Jimin mengangguk, berjalan menghampiri mobil Yoongi lalu segera masuk ke dalam. Menatap gumiho berstatus suaminya itu tidak canggung lagi seperti tadi pagi. tatapan pria itu berubah menjadi datar sedikit sendu, sulit digambarkan apakah suaminya itu sedih atau tidak.
"Ahjussi, sudah memiliki ponsel?"
"Eoh, NamJoon membelikannya bahkan manusia setengah nyamuk mirip lintah itu juga mendapatkan ponsel"
Jimin mengangguk saja. Setelah itu tidak ada yang bicara, Yoongi sibuk menyetir sementara dirinya sibuk dengan pikirannya sendiri tentang keadaan Yoongi sekarang. Apa dia baik-baik saja sekarang? Apa dia tidak sakit lagi? Apa semua baik-baik? Apa yang terjadi semalam?
Tapi semua itu hanya tersimpan di kepalanya, ia tidak memiliki keberanian cukup untuk menanyakan hal itu. Ia takut jika pertanyaannya tadi membuat Yoongi tersinggung atau merasakan rasa sakit kembali. Jujur, ia tidak bisa melihat Yoongi kesakitan.
"Ahjussi, kita mau kemana? Ini sepertinya bukan jalan menuju rumah" tanya Jimin setelah sadar bahwa mereka baru saja melewati jalan menuju rumah besar Yoongi. Pria itu tidak menjawab, dia malah memasukan mobilnya dalam sebuah tikungan dan mereka tiba-tiba saja sudah ada di jalanan hutan.
Jimin semakin mengkerut, takut melihat suasana gelap di sekitar hutan yang mereka melewati. Bahkan Yoongi membawa paksa mobil mewahnya lebih dalam ke hutan entah kemana dan tujuannya apa.
"Ahjussi…"
Mereka berhenti tepar-tepat di tengah-tengah hutan, mata Jimin sedikit membola terkejut melihat pemandangan di luar mobil Yoongi. Di sana, ada sepasang kursi santai dengan api unggun dan sebuah tenda yang cukup jika digunakan dua orang untuk bersantai. Ia segera keluar menghampiri hal-hal cantik lainnya di sana.
Ia tidak pernah sekali pun merasa bahagia melihat hal ini. jika biasanya ia akan kesal atau sedih, kali ini ia begitu bahagia. Ia tersenyum lebar, terkejut menemukan Yoongi sudah ada di belakangnya. Terlebih Gumiho berusia ratusan tahun itu menarik pinggang mendekat. Nafasnya tertahan, ia seperti tidak bisa bicara sekarang. Posisi mereka terlalu dekat, bahkan Jimin sangat yakin jika Yoongi mendengar dan merasakan detak jantungnya.
"Untuk malam ini saja, tetaplah bersamaku"
Jimin tersenyum, melepas rengkuhan Yoongi lalu mengusap wajah tampan yang masih terlihat muda meskipun usia Yoongi sudah ratusan tahun.
"Aku akan tetap bersamamu, aku berjanji"
"Kau akan menepati janjimu?"
Senyum Jimin luntur, ia menunduk sebentar. Ia terdiam cukup lama, ia sebenarnya tidak mau mencabut pedang itu, ia masih belum mengetahui resiko dari dicabutnya pedang itu. ia tidak mau membuat ahjussi nya semakin kesakitan. Ia tidak mau lagi, sudah cukup malam itu ia melihat Yoongi begitu kesakitan, ia tidak mau melihat Yoongi kesakita.
"Jimin-ah"
Yoongi membawa wajah itu mendongak, tersenyum kecil lalu mengarahkan tangan mungil itu ke dadanya. "Kau tidak mau melihatku kesakitan lagi, kan? Aku memang akan merasakan sakit tapi itu tidak berlangsung lama. Aku tidak akan merasakan sakit lagi setelahnya"
Jimin menatap kedua mata tajam itu, ada sedikit keraguan tapi ia juga bisa melihat bahwa Yoongi bersungguh-sungguh lewat pandangan matanya. Matanya terpejam, menarik tangan mungilnya lalu beralih menggenggam tangan besar Yoongi yang menangkup wajahnya.
"Eoh, aku akan bersamamu malam ini dan besok…"
Jimin menggantungkan kalimatnya, menarik nafas panjang. Memberanikan diri menatap kedua mata itu langsung, dengan pandangan menenangkan dan baik-baik saja. Yoongi tersihir seketika, ia seperti merasakan ketenangan itu lewat adu pandang mereka.
"… aku akan mencabut panahmu, ahjussi"
…
…
…
…
…
SeokJin awalnya berniat memaksa makhluk karnivora itu untuk bertemu Taehyung tapi saat bangun ia tidak menemukan siapa pun kecuali NamJoon, jadi dengan sangat terpaksa ia mengajak NamJoon. Dan di sinilah mereka, NamJoon tengah memarkirkan mobilnya. Saat keluar dari mobil, seluruh atensi pengunjung berpusat pada kami-terutama NamJoon.
Karena pria itu langsung memberikan wink noraknya itu, kenapa sifat play boynya itu tidak pernah berubah? Bahkan di saat seperti ini.
…
Taehyung menangkup wajahnya, memperhatikan bagaimana mobil mewah itu masuk ke area parkir. Seluruh pengunjung terutama wanita menatap NamJoon dan SeokJin dengan tatapan kagum, bahkan Hoseok-teman yang ia bawa untuk menemaninya terpesona pada SeokJin.
"Heol! Dia benar-benar tampan, pantas saja kau tergila-gila padanya"
"Hm, tapi dia lumayan aneh untuk pria tampan seperti dia"
SeokJin dan NamJoon sudah sampai di meja mereka, SeokJin duduk di depan Taehyung sementara NamJoon tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hoseok.
"Annyeong, V-ssi"
"Annyeong. Ah, ini temanku namanya Jung Hoseok. Dia seorang dancer sekaligus make up artist" ucap Taehyung sambil menunjuk Hoseok yang tidak lepas juga memandang ke arah NamJoon meskipun sekarang NamJoon lebih tertarik menatap Taehyung. Ia tidak seberani itu merebut Taehyung, ia hanya penasaran begini rupa orang yang membuat SeokJin kelimpungan?
Ternyata selera pamannya berwajah imut macam Taehyung.
"Aku seorang guru konseling di salah satu SMA. Ngomong-ngomong aku boleh bertanya pekerjaan temanmu ini?" tanya Taehyung melirik NamJoon. Ia masih sangat mengingat wajah menyebalkan cap playboy ikan teri. Ia juga masih ingat gomabalan murahan NamJoon waktu itu, ia hanya bisa berdoa semoga saja ia tidak mendengar gombalan murahan itu.
NamJoon sendiri memicingkan matanya tajam, ia sedikit tidak terima di samakan dengan SeokJin. Ia jauh lebih muda daripada SeokJin, ia lebih kaya dan ia lebih tampan.
"Sebenarnya aku hanya kenalannya saja, kami berteman tapi tidak terlalu dekat" ucap NamJoon seraya merogoh sesuatu dari saku jasnya tapi tidak menemukan apa pun. Lalu ia beralih menatap Hoseok yang bingung karena NamJoon tiba-tiba menatapnya.
"Sepertinya ada di sini"
Hoseok terkejut, tiba-tiba saja dari lehernya keluar sebuah kartu nama berwarna cokelat. NamJoon kembali melempar wink nya pada Hoseok, seketika pemuda manis itu tersipu malu bahkan menunduk cukup dalam.
"Kim NamJoon imnida, aku seorang chaebol dari perusahaan BangKim. Perusahaan yang bergerak dalam bidang property dan lain-lain. Aku sebenarnya tidak ingin terlahir seperti ini, aku pikir ini dosaku karena dikehidupanku sebelumnya aku tidak sempat bertemu pemuda manis seperti kalian"
Hoseok sudah melayang mendengar gombalan NamJoon, sementara Taehyung memasang senyum kaku tidak suka dan risih. SeokJin sendiri sudah mengeluarkan aura dingin dan mata tajam, mencegah anak ingusan macam NamJoon bertindak lebih terutama dalam hal menggombal.
"Kalau kau? Apa pekerjaanmu?" tanya Taehyung kali ini beralih pada SeokJin. Pria tinggi itu terkejut, matanya bergerak gelisah. Bingung mau menjawab apa, ia melirik NamJoon seakan-akan meminta bantuan tapi pria bermarga Kim itu malah memberikan gerakan untuk bicara saja.
Taehyung melihat itu, benak di dalam dirinya semakin berperang. Semua ini patut di curigai.
"Aku…"
"Kau pengangguran?"
"Anni! Aku mempunyai pekerjaand di perusahaan pelayanan, aku tidak bisa memberitahunya karena aku sudah tanda tangan kontrak agar aku tidak memberitahu rahasia perusahaan. Aku minta maaf dan harap maklum"
Taehyung mengangguk, memajukan tubuhnya sedikit guna menatap wajah rupawan itu lebih lama lagi. Tersenyum kecil karena wajah itu sama sekali tidak berubah jika beradu pandang dengan dirinya. Masih terlihat bingung, polos, idiot dan blank.
"Apa hari ini kau bisa memberitahu namamu?"
SeokJin tersenyum, Taehyung ikut tersenyum melihat SeokJin tersenyum lalu membungkuk cukup dalam dan menyebutkan namanya dengan begitu jelas.
"Kim. Jin."
Diakhiri dengan sebuah senyum kelewat lebar, percaya diri dan wajah itu seperti dibuat imut. Taehyung tertawa kecil, menatapi wajah itu lebih seksama tanpa menyadari perubahan raut wajah Hoseok yang penuh makna tersembunyi. Alisnya sedikit terangkat melihat Taehyung begitu terpesona pada makhluk penghisap darah dan penuh dosa itu.
"Sebentar lagi penantianmu mengenai nama asli pria di hadapanmu akan terjawab. Untuk itu kau harus membayar cukup mahal"-Hoseok.
To Be Continue
Aku tahu ini gaje dan banyak typo tapi aku nulis kebut untuk mengejar janjiku. Bagaimana? JinV, momentnya mungkin kurang tapi tenang aja chapter 12 akan ada moment mereka. Yoonmin? Aku nggak tahu kelanjutan hubungan mereka?
Dan ada yang nunggu Hoseok? Ff ini beda kana ma drama aslinya, di sini ada banyak dewa berkeliaran untuk jaga Yoongi agar tidak melupakan hukumannya.
Aku berasa jahat loh bikin Yoongi kek gitu, tapi yah… ini demi kebutuhan cerita.
So, bagaimana pendapat kalian. Tinggalkan jejak kalian dengan review ya…
See you~~~
SARANGHAEYO! *LOVESIGNBARENGPEMAIN*
