(Kwill-That Person, John Legend-All of Me, You are so Beautiful-Eddy Kim, Yesung-Confesssion, VRomance-I'm in Love)


Jimin bangun lebih dulu di tengah-tengah hutan yang indah itu. hawa dingin begitu menusuk kulitnya, tapi ia tetap memutuskan untuk bangun dan duduk di kursi semalam yang ia gunakan duduk bersama Yoongi. Mereka tidak melakukan apa-apa, mengobrol pun tidak. Namun ada yang aneh dengan tingkah Yoongi, Gumiho itu terkenal pelit tapi semalam dia memanggakan hanwoo, memberikannya tas dan uang yang diberikan padanya untuk biaya kuliah.

Jimin cukup aneh dan merasa sungkan menerimanya tapi melihat wajah Yoong ia luluh dan menerima hadiah-hadiah itu. ia senang mendapatkan hadiah sebanyak itu, ia tidak bisa menyangkalnya. Tapi ada rasa aneh di hatinya, ditambah setelah memberi hadiah Yoongi memilih menyandarkan kepalanya di pundak Jimin, mencari ketenangan akan rasa takut dan sakit.

Yoongi hanya mengatakan itu, hanya kalimat itu sebelum Yoongi jatuh tertidur dengan bersandar pada pundaknya. Kalimat itu sukses membuat Jimin terus berpikir, apa ia harus segera mencabut seluruh anak panah itu. Tapi ia takut dan tidak bisa melihat wajah kesakitan Yoongi.

"Kau sudah bangun?"

"Ahjussi" bukannya menjawab Jimin malah memanggil Yoongi. Berdiri di hadapan Yoongi adalah hal yang ia lakukan lalu ia menyentuh dada itu sekali lagi.

"Aku tidak ingin melihatmu sakit" ucap Jimin dengan senyum kecil, tubuh Yoongi sedikit melemas. Tatapan datar Yoongi langsung berubah sendu, sedikit sayu dan sedih. Ia bisa melihat itu. tangan besar Yoongi meraih tangan mungilnya, menariknya masuk ke dalam hutan dan mulai berbelok. Membawa tubuhnya ke sebuah ladang ilalalng yang pernah mereka kunjungi.

Yoongi membawanya ke salah satu wahana di sana, sebuah ayunan tempat ia bermain waktu itu. Tempat itu masih sama, jauh lebih cantik dibantu dengan bias-bias cahaya matahari terbit.

"Ahjussi, kenapa memilih tempat ini?" tanya Jimin, senyum pemuda manis itu tambah bersinar. Ia menyukai senyum itu, ia menyukai apa pun yang ada di diri Jimin. Ia akan menikmati ini sebentar sebelum ia kehilangan kesemepatan. Kehilangan kesempatan langka menyaksikan maha karya Sang Kuasa. Mungkin ini salah atau perasaan terlarang baginya tapi ia benar-benar menyukai sikap Jimin seperti ini dan ia akan merindukan dia.

"Apa ahjussi menyukai ilalang? Aku juga suka ilalang"

Yoongi tetap diam. Memerhatikan lebih seksama wajah itu sampai puas, lalu dengan perlahan ia menarik Jimin mendekat. Menghadapkan tubuh yang jauh lebih mungil itu tepat di hadapannya, menatap kedua iris hitam itu dengan pandangan intens. Jimin menatap bingung, lalu ia mengikuti arah telunjuk Yoongi.

Di sana tepat. Matahari terbit, Jimin sangat menyukai matahari terbit dan impiannya selama ini terwujud. Menyaksikan sunset tanpa harus pergi ke pantai, itu impiannya sejak kecil karena ia sudah terlalu bosan melihat sunset di pantai. Ia ingin melihat sunset dari tempat lain, tapi bukan di gunung dan ia sekarang melihatnya di ladang ilalang.

"Ahjussi bagaimana tahu keinginanku ini? Kenapa ahjussi baik sekali padaku, ahjussi semakin mirip dengan Jin yang ada di cerita Aladdin" ucap Jimin sedikit melompat-lompat di tempat, kelewat senang karena impiannya selama ini terwujud.

"Jimin-ah"

"Nde?" Jimin menghentikan aktivitas melompatnya. Masih dengan senyuman lebar penuh kecerian. Yoongi tersenyum sedih sekaligus bahagia karena akhirnya ia bisa terbebas dari kutukan sekaligus keajaiban Tuhan yang satu ini.

"Jika terjadi apapun padaku semua ini bukan kesalahanmu. Jangan merasa bersalah dan hiduplah dengan ceria seperti tadi"

Jimin mengernyit heran, menggantungkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Yoongi mengambil nafas panjang, menutup kedua matanya saat Jimin mengarahkan tangannya mencabut salah satu dari sembilan anak panah itu.

"Aku akan mencabutnya dari panah yang sebelah kanan"

Perlahan tapi pasti Jimin mengarahkan tangannya mencabut panah itu. Tapi panah itu kembali menghilang dengan sendirinya. Jimin mengernyit heran, kembali mencoba mencabut panah tersebut. Namun panah itu itu menghilang. Jimin berdecih menggenggam asal panah-panah itu dan mencoba mencabutnya tapi yang terjadi ia memukul dada Yoongi cukup kuat. Yoongi tersadar. Ia membuka matanya, menatap bingung karena panah di dadanya tiba-tiba menghilang.

"Ahjussi, aku bisa melihat panahnya tapi kenapa aku tidak bisa mencabutnya?" tanya Jimin dengan nada polos dan bingung. Yoongi mengerjepkan beberapa kali matanya, ia menatapi tangan mungil itu.

"Pegang dan cabutlah dengan kuat"

"Arrasseo, aku akan mencobanya lagi"

Kali ini Yoongi tidak menutup matanya. Ia memperhatikan bagaimana panah menghilang saat tangan Jimin bergerak mencoba menyentuhnya sekaligus berusaha mencabutnya. Jimin berteriak kesal, menatap Yoongi yang tidak bergerak sama sekali mungkin masih terkejut dengan semua hal membingungkan ini.

"Ahjussi…" Jimin memanggil dengan sangat pelan, menyembunyikan tas pemberian dari Yoongi di balik punggungnya. "Ahjussi jangan menarik kata-katamu tadi soal apapun yang terjadi bukan kesalahanku" lanjut Jimin dengan nada suara pelan dan sedikit merengek. Yoongi masih memasang wajah terkejut lalu sedikit kesal.

"Yak! Apa kau benar-benar pasanganku? Kenapa kau tidak bisa mencabut panahnya? Kenapa?"

"Kenapa ahjussi berteriak padaku?" tanya Jimin tidak terima dirinya dimarahi seperti itu, ia juga terkejut karena ia tidak bisa mencabut panah itu. Apa benar ia calon istri gumiho tapi kenapa ia tidak bisa mencabut panah itu.

"Ini bukan kesalahanku, aku benar-benar terkejut bahkan lebih dari ahjussi. Ahjussi pasti akan meminta semua yang sudah ahjussi berikan padaku, bahkan ahjussi bisa mengusirku" Jimin berucap dengan kasar dan cepat. Ia lebih mengkhawatirkan nasib dirinya ketimbang calon suaminya ini. Ia akan tinggal di mana jika Yoongi benar-benar mengusirnya karena marah melihat Jimin tidak bisa menghilangkan kutukan itu.

Tunggu, kenapa dirinya jadi lebay dan matrealistis? Oh, astaga karena hadiah-hadiah itu ia jadi enggan memberikannya lagi. Dan lagi sifat Yoongi itu sangat pelit.

"Tentu saja! Berikan tas itu, aku akan membakarnya sekarang"

"Tunggu!" teriak Jimin sambil menyembunyikan tas itu. Yoongi mengernyit heran, berdiri di tempat melihat wajah Jimin berubah menjadi frustasi karena pikirannya sendiri, dia menarik nafas kembali mendekati Yoongi sambil menulusuri wajah Yoongi.

"Pasti ahjussi pangeran terkutuk dalam cerita dongeng. Itu pasti"

"Itu pasti apa? Apa yang mau katakan?" tanya Yoongi tidak sabaran, perasaannya mengatakan bahwa Jimin pasti memiliki niat busuk dari perkataannya. Semua itu terbukti, Jimin menarik kerah mantelnya ke bawah, mendekatkan wajah mereka hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa satu jengkal.

"Ciuman"

Mata Yoongi tidak tertutup sama sekali. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Jimin begitu dekat dengannya, bibir mereka benar-benar hanya menempel tapi itu sudah membuat jantung Yoongi berhenti berdetak. Kalian jangan tertawa tapi ini memang benar, ini adalah ciuman pertamanya selama ia hidup lebih dari 800 tahun. Ini ciuman pertamanya.

Jimin menjauhkan wajahnya, matanya masih sedikit tertutup tidak berani melihat kea rah Yoongi yang pasti marah besar karena ia sudah mencium Yoongi tanpa permisi. Wajahnya benar-benar memerah memikirkan begitu cepat ia mengambil keputusan soal pangeran terkutuk yang belum tentu benar.

"Aku tadi hanya sedang frustasi. Ahjussi pasti bisa mengerti"

Yoongi menutup mulutnya. Matanya masih membulat terkejut, marah dan ia tidak tahu perasaan apa lagi yang tercampur di dadanya saat ini. Jimin sendiri masih menutup setengah matanya, menunduk dalam-dalam dengan jari-jari kecilnya memainkan ujung bajunya.

"YAK! Buka matamu!"

"Aku sudah membuka mataku"

HIK!

Ia tetap tidak bisa berbohong. Jimin menengadah. Menunjuk matanya yang berusaha ia sipitkan tapi masih tetap bisa menangkap raut shock Yoongi. Yoongi mengacak-acak rambutnya frustasi, menatapi Jimin yang malah asik memelintir ujung bajunya sambil mengetuk-ngetuk ujung sepatunya di tanah.

"Micheosseo?!"

Jimin merengut mendengar Yoongi mengatainya gila. Ia menengadah, berani menatap Yoongi dengan benar. "Micheotangoyo? Aku rela melakukan hal itu demi kesehatan ahjussi dan ahjussi malah mengataiku gila?" tanya Jimin tidak percaya. Ia kembali menatapi tasnya, tas ini sangat bagus dan mahal pasti si pelit gumiho ini akan menyuruhnya mengembalikan semuanya.

"Apa ahjussi pikir aku senang melakukannya? Aku lebih rugi ketimbang ahjussi. Ahjussi pasti sudah berkali-kali ciuman tapi aku…" Jimin menggantungkan kalimatnya. Menghela nafas sambil melambaikan tangannya agar tidak membahas ciuman sepihak itu.

HIK!

Ia tidak bisa menyembunyikan fakta itu.

"Apa? Kau mau bilang tapi aku apa?"

"Itu ciuman pertamaku!" Jimin berteriak menjelaskan situasi yang begitu merugikan bagi dirinya. Ia menarik nafas panjang, seharusnya ciuman pertamanya untuk cinta pertamanya bukan untuk gumiho super pelit seperti Yoongi. Sementara Yoongi berpikir bahwa mereka sama-sama melakukan ciuman pertama. Jimin berdecih mendekati Yoongi berniat menciumnya.

"Aku coba sekali lagi kalau sekali lagi pasti bisa"

"Yak! Yak! Kau tetap di sana!" Yoongi berjalan mundur menghindari Jimin yang masih berusaha menggapai mantelnya. Jimin mengambil nafas dalam-dalam, menatpai tasnya sekali lagi. Ia tidak mau kehilangan tas semahal ini hanya karena ia tidak bisa menusuk luka konyol itu.

"Pasti ahjussi sebentar lagi akan meminta semua yang ahjussi berikan padaku hanya karena aku tidak bisa mencabut panah itu. Aku rela berciuman lagi bahkan berhubungan sex dengan ahjussi ketimbang kehilangan tas dan uangku"

Yoongi menatap tidak percaya dengan kalimat terakhir Jimin. Apa anak ini benar-benar menginginkan semua itu. Ia menggeleng keras, menahan tangannya ke depan seperti memberi tahu Jimin untuk tidak dekat lagi.

"Kau… bagaiaman jika berciuman atau berhubungan sex tidak berhasil? Kau akan semakin rugi"

"Kalau begitu…" Jimin menatap curiga pada luka mirip panah itu dengan hati-hati dan seksama. Ia kembali menatapi wajah Yoongi yang seolah menunggu jawabannya. "Ahjussi harus mendapat cinta sejati" lanjut Jimin dengan mengacungkan satu jarinya sebagai tanda hanya itu jawaban yang tersisa dari kutukan Yoongi. Yoongi berjalan meninggalkannya, Jimin kembali berteriak cukup kencang dan begitu melengking.

"Aku tidak peduli apapun. Aku lebih baik mencintai ahjussi ketimbang kehilangan tas dan uangku! Saranghae! Saranghae ahjussi!"

HIK!

Yoongi menghentikan langkahnya, berbalik dengan cepat tatapannya sudah begitu tajam ditambah kepala Jimin menghantam dadanya. Jimin kembali menunduk.

HIK!

Mengelus batang hidungnya yang begitu nyeri luar biasa karena terhantam dada bidang Yoongi. Ia kembali menengadah, tatapan Yoongi masih tajam dan itu membuatnya sedikit takut tapi ia masih bicara menanyakan hal yang masih sempat-sempatnya ia pikirkan.

"Ceosongaeyo. Aku berbohong soal pernyataan cinta tadi. Kau sudah susah payah membuat sunset itu indah…

Yoongi berdecih, menggeram dengan sangat keras bahkan Jimin harus melangkah mundur. Ia bisa melihat awan di sekitar mereka tiba-tiba menjadi tebal dan menutupi sunset tadi. Jimin membulatkan mulutnya, tanpa sadar takjut akan hal itu.

"Wow!"

"Wow?!" Jimin kembali menunduk, membungkukan beberapa kali badan dan kepalanya seakan meminta maaf.

"Ahjussi, eottkhae?"

"Mwo?"

"Apa ahjussi akan mengusirku?"

"Aku tidak akan mengusirmu!"

Jimin tersenyum lebar bahkan matanya semakin menyipit. Ia kembali berlari mengekori Yoongi yang sudah lebih dulu masuk melewati pintu kayu usang-entah sejak kapan di situ ada pintu. "Jinjjayo? Ahjussi tidak marah lagi? Apa ahjussi tidak akan menarik semua barang-barangku? Ahjussi!" Jimin menutup pintu itu, mengekori Yoongi yang sudah lebih dulu sampai di rumah.

"Kim Jin?"

SeokJin mengangguk semangat dengan senyum yang masih begitu lebar. Taehyung mengangguk paham, ia kembali memperhatikan NamJoon yang nampak menghela nafas mendengar nama yang dikeluarkan SeokJin. Apa mungkin itu bukan namanya? Eiy, tapi tak apalah. Ia juga tidak menggunakan nama asli sekarang.

"Kalau begitu bisa kau keluarkan kartu nama seperti punya NamJoon-ssi?" tanya Taehyung seraya tanganya bergerak membuat gestur meminta. SeokJin terkejut, bingung mau menjawab apa. ia vampire, dan bekerja di dunianya sebagai orang yang mengantar orang-orang berdosa. Mana mungkin punya kartu nama. Ia melirik NamJoon meminta bantuan tapi anak ingusan itu malah mengedikan bahu tidak mau tahu.

"Kau membutuhkan kartu nama? Kau seharusnya menelfonku untuk hal-hal seperti itu, seharusnya kau menelfonku untuk membawa kartu nama"

Taehyung mengernyitkan dahinya. Kenapa dengan orang ini?

"Wah! Daebak!"

Ketiga orang itu menoleh ke arah Hoseok yang nampak menahan pekikannya. Menunjuk ponselnya sendiri yang menampilkan banyak berita tentang orang bernama Kim NamJoon. Taehyung terkejut bukan main, ternyata benar jika NamJoon itu cucu dan pewaris sah dari perusahaan yang bekerja sama dengan ayah angkatnya.

"Wah! Kau benar-benar seorang chaebol? Aku tidak percaya dan lagi, kau tahu perusahaanmu itu bekerja sama dengan perusahaan ayahku" ucap Taehyung penuh semangat dan tertarik pada NamJoon. Hoseok masih terkagum-kagum, membaca beberapa berita tentang pesona seorang Kim NamJoon yang lebih mirip seorang Rapper ketimbang chaebol.

"Jinjja? Mungkin ini yang dinamakan takdir, benar, kan, V-ssi"

"Kau benar! Kau itu sangat pintar menyusun kata-kata! Namamu itu sangat sesuai untuk orang sepertimu, aku menyukai nama keren seperti itu, Kim. Nam. Joon."

Sejak pekikan Hoseok tadi SeokJin sudah mengeluarkan aura dingin nan gelapnya. Tanpa orang-orang ketahui tubuhnya sudah terselimuti awan gelap yang tebal karena Taehyung lebih menaruh perhatian pada NamJoon.

"Tapi, kau mulai merasa aneh tidak? Kenapa di sini tiba-tiba dingin. Apa sebentar lagi hujan?" tanya Hoseok seraya menatap sekeliling, dua orang yang ia ajak bicara tadi juga mendongak dan menatap sekeliling. Memang benar yang dikatakan Hoseok, suasana di sekitar mereka berubah.

NamJoon menoleh ke arah SeokJin. Nyali langsung menciut melihat awan imajiner di sekitar SeokJin begitu gelap. Tatapannya terkunci di kedua bola mata tajam SeokJin,

"Keluar dan katakan kau ada urusan mendadak"

"Aku pergi! Aku ada urusan mendadak!"

NamJoon langsung pergi layaknya sebuah robot yang dikendalikan menggunakan remote. SeokJin lalu beralih menatap Hoseok yang memandangnya sedikit aneh dan takut.

"Keluar dan katakan kau ada urusan mendadak"

Hoseok juga melakukan hal yang sama. Taehyung mengernyit bingung, ia hampir berdiri mengejar Hoseok namun pandangannya terkunci pada kedua bola mata tajam milik SeokJin.

"Lupakan apa yang aku lakukan"

Awan gelap di sekitarnya langsung menghilang melihat Taehyung bertindak biasa tapi tetap sedikit bingung karena Hoseok dan NamJoon sudah pergi. Pemuda manis itu menggaruk kepalanya sebentar, menatap SeokJin penuh tanya.

"Kemana Hoseok dan NamJoon?"

"Pergi, mereka bilang ada urusan" jawab SeokJin diakhiri sebuah senyum idiot-menurut Taehyung. Pemuda itu mengernyitkan keningnya, masih bingung dan sulit mencerna semua yang terjadi di sekitarnya. Begit aneh dan tiba-tiba.

"Ah, kau masih ingat cermin ini?"

SeokJin membuka percakapan seraya mengeluarkan sebuah cermin yang menjadi cikal bakal pertemuan pertama mereka. Taehyung tertegun, memandangi cermin itu dengan senyum kecil.

"Kenapa kau membawanya?" tanya Taehyung seraya meraih cermin itu, mengusap pinggiran cermin kecil itu dengan jari-jari lentiknya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia tertarik, seperti terhipnotis oleh pesona cermin yang terlihat begit kuno olehnya.

"Aku ingin memberikan cermin itu pada, V-ssi. Kau yang lebih berhak memakai cermin itu"

"Mwoya? Kau sedang menggodaku lagi?" tanya Taehyung berniat meledek tapi reaksi selanjutnya dari SeokJin membuat ia menyesal karena mengeluarkan ledekan seperti itu. dengan sigap pria tinggi itu bangkit, membungkuk hormat seperti minta maaf.

"Kenapa sekarang kau meminta maaf?" tanya Taehyung bingung.

"Aku memang baru mengenalmu beberapa hari tapi aku sudah sedikit tahu tentang dirimu. Kau orang yang tidak suka di ledek, kau tidak menyukai orang yang menggombal. Aku minta maaf takut kalimatku sebelumnya membuatmu merasa seperti di ledek. Aku minta maaf sekali lagi"

Taehyung memandang tidak percaya ke arah SeokJin. Pria yang selalu bertingkah diam, idiot bisa mengatakan hal-hal kecil yang membuat kejutan sendiri untuk Taehyung. Pemuda manis itu menggigit bibirnya, menahan senyum lebar miliknya.

"Baik, aku terima permintaan maafmu dan cermin ini juga"

SeokJin mengangguk paham. Ia merapihkan jasnya lalu berniat berdiri, hendak pergi. Taehyung membuang nafasnya kesal, "Kau mau pergi? Kita baru mengobrol beberapa menit!" ucap Taehyung dengan suara sedikit lantang. SeokJin tersadar, ia lupa memberi salam perpisahan.

"Semoga kita bertemu lagi, aku harus mengambil barang yang kau minta tadi"

"Barang apa?" tanya Taehyung bingung, perasaan ia tidak meminta apa-apa dari SeokJin.

"Kartu nama, aku akan menghubungimu setelah mendapat kartu nama"

Taehyung berdecak sebal, mengangkat tangannya menunjuk SeokJin dengan pandangan tajam penuh amarah dan tidak habis pikir. Apa SeokJin benar-benar bodoh atau memang tidak tahu apa-apa? kenapa ada manusia macam ini?

"Aku tidak membutuhkan kartu namamu, aku butuh kau duduk di depanku atau aku akan membunuhmu dengan sedotan" ancam Taehyung dengan bibir mencebik kesal. Ajaibnya, SeokJin langsung duduk kaku di tempat dengan wajah penuh cengiran menyebalkan.

Taehyung menghela nafas, tangannya bersidekap menatap SeokJin lalu menggeleng kecil karena SeokJin tidak kembali mengajaknya bicara. Sepertinya orang ini banyak tidak tahunya daripada yang tahu.

"Aku percaya namamu Jin, aku percaya kau bekerja di perusahaan pelayanan. Jika kau tidak punya kartu nama juga tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatmu dan memanggil namamu, Kim Jin-ssi"

Nama aneh dari si karnivora itu tiba-tiba saja terasa manis jika Taehyung yang memanggilnya. Ia tersenyum lebar, tubuhnya yang tadi kaku karena ancaman Taehyung mendadak lemas.

"Untuk itu bisa kau berikan nomor ponsenya?"

"Nomor ponselku yang kemarin"

"Anni, orang yang bernama Kim NamJoon itu. Perusahaannya memegang kendali penuh bursa saham tahun ini, perusahaan kakek harus tetap menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Aku akan berteman dengannya" ucap Taehyung menjelaskan maksudnya pada SeokJin. Wajah tampan itu tadi sedikit cemberut tapi detik kemudian tersenyum karena masalah itu.

"Kau bisa berikan, kan? Hoseok sudah mengambil kartu namanya tadi, ada yang aku ingin bicarakan soal kerja sama perusahaannya dan perusahaan ayahku"

SeokJin mengangguk, memberikan ponselnya pada Taehyung dan membiarkan pemuda manis itu mencari kontak NamJoon sendiri. Taehyung makin tersenyum karena ponsel pria ini benar-benar masih baru, bahkan di dalamnya hanya terdapat empat kontak sudah termasuk dirinya. Matanya mengernyit namun sedetik kemudian terkekeh karena melihat dua nama kontak yang lucu.

Si Karnivora (Gumiho)

Istrinya Karnivora (Istri Gumiho)

Kim NamJoon

V

"Kau memiliki kenalan yang cukup unik, apa kau berteman dengan Gumiho cukup baik? Apa dia tidak berniat memakan hatimu?" tanya Taehyung membuat lelucon tapi SeokJin menjawab dengan santai dan wajah polosnya.

"Tidak, dia lebih suka makan daging sapi"

"Hahahaha!"

SeokJin terperenjat. Sepertinya tadi ia tidak salah bicara atau membuat lelucon, Yoongi memang seperti itu. dia tidak makan hati atau jantung manusia. Taehyung masih tertawa terpingkal, memberikan ponsel itu lagi lalu menopang dagunya memandang lurus ke wajah yang masih bingung itu.

"Kau itu sangat imut"

SeokJin tiba-tiba saja kembali tersenyum lebar, lebih lebar bahkan Taehyung sempat khawatir jika bibir itu akan robek karena terlalu banyak tersenyum. Ia menarik nafas, kali ini wajahnya berganti dengan wajah imut yang sering menghantui SeokJin tiap malam, bibir mengerucut dan mengeluarkan decakan halus.

"Lihat? Kita akan menjadi semakin dekat jika kita bertemu seperti ini terus. Kenapa kau tadi berniat pergi hanya karena tidak punya kartu nama?" tanya Taehyung. SeokJin sedikit menunduk, lalu mendongak dengan wajah sedikit bersalah.

"Aku kira V-ssi tidak suka pria yang tidak punya kartu nama"

"Karena itu? kau itu memang orang aneh, tapi pria yang imut"

SeokJin tidak tahu itu pujian atau malah hinaan. Tapi ia tetap tersenyum, dan setelahnya ia berani bersumpah kalau bibirnya bergerak sendiri mengucapkan kalimat itu.

"Aku merindukanmu selama ini"

Taehyung tersedak minumannya sendiri, matanya membulat mendengar pengakuan pria rupawan itu. bibirnya masih sedikit terbuka, tidak percaya SeokJin mengucapkan perasaannya sendiri dengan gamblang dan mudahnya.

"Kau merindukanku tapi tidak pernah menelfonku?"

"Waktu itu aku tidak memiliki ponsel"

"Tidak apa-apa, aku maafkan. Tapi karena kau punya ponsel, kau harus mengangkat telfon atau membalas SMS. Jika tidak aku akan mematahkan lehermu"

Taehyung kembali ancamannya tapi kali ini ia tidak takut. Taehyung melakukan itu dengan begitu manis, tidak menyeramkan sama sekali. Tangan itu terangkat mengacungkan pisau rotinya, mengarahkan pisau itu membentuk sabetan di lehernya sendiri lalu menunjuk SeokJin. Setelahnya Taehyung tertawa kecil melihat tingkahnya sendiri, bibir itu tertarik ke atas menampilkan deretan giginya yang putih dan matanya yang sedikit menyipit ketika tertawa.

"Apa kau memiliki kartu nama?" tanya SeokJin dengan kepala sedikit maju. Ia ingin lebih menikmati pemandangan di depannya lebih lama.

Taehyung menghentikan aktivitasnya, memajukan wajahnya yang hanya berjarak dua jengkal dari jarinya. Tersenyum manis pada SeokJin sebelum balik bertanya.

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Aku ingin mengenalmu dengan lebih dalam"

Taehyung mengangguk paham, bukannya merogoh tas untuk mengambil kartu namanya yang sebenarnya pemuda manis itu malah semakin mendekatkan wajahnya lalu membuat gerakan memutar kepala seperti memperlihatkan pada SeokJin mengenai wajahnya.

"Kartu namaku adalah wajahku, pria cantik~" dengan diakhiri sebuah wink.

Bibir SeokJin membulat, mengangguk setuju dengan ucapan Taehyung. Dia benar-benar cantik, dengan wajah putih alami, bibir tipis berwarna pink berbalut lip balm, mata sipit yang dihiasi eye liner dan jangan lupakan poni rambut berwarna blonde itu menambah kesan manis di wajah cantiknya.

Taehyung tersenyum melanjutkan acara makan rotinya, membiarkan wajah itu kembali blank dengan lucunya. Ia benar-benar menyukai bagaimana wajah tampan itu akan blank hanya karena godaan kecil darinya.

"Apa kau punya hobi atau semacam hal yang kau sukai, Kim Jin-ssi?"

"Kau, V-ssi"

Taehyung kembali dibuat terkejut, tangannya terkepal menyalurkan rasa malu tersipunya. Wajahnya sudah merona parah bahkan sampai ke telinga dan leher. SeokJin semakin tersenyum, melihat Taehyung menggigit bibirnya menahan pekikan gilanya.

"Hobi, aku bertanya hobimu bukan perasaanmu"

"Kau, V-ssi"

"Heol!"

Tanpa sadar Taehyung menjatuhkan garpu dan pisau rotinya. Menatap SeokJin dengan pandangan serius tidak main-main, ia benar-benar tidak mau dipermainkan jika seorang pria sudah bicara seperti itu. Ia tidak mau di permainkan seperti cerita teman-temannya.

"Ak-"

"Wajah memerahmu yang akan semakin menyebar ketika kau berusaha menutupinya itu yang membuatku menjadikanmu sebagai hal yang aku sukai. Bagaimana melihat wajah manis dan cantik itu memerah hanya karena perkataan manis dariku, membuat gila bahkan melebihi wine dan drama di pagi hari"

Taehyung tidak berekpsresi. Wajahnya semakin merah, bibirnya bergerak ke atas membentuk sebuah lengkungan manis yang dinamakan senyum mendengar penjelasan SeokJin mengenai dirinya di mata SeokJin selama ini.

"Karena itu aku sering terlihat idiot, blank, bodoh dan bukan diriku sebenarnya saat bersamamu. Aku tidak tahu alasannya apa, aku juga tidak tahu ini semua rencana Sang Kuasa yang berakhir baik atau buruk. Tapi aku akan tetap menjalaninya"

Taehyung menarik nafas, mengibas-ngibaskan tangannya di sekitaran wajahnya. Mencari pasokan oksigen untuk paru-parunya yang mulai menipis sejak awal SeokJin bicara hingga akhir. Entah kenapa suasana di sekitarnya begitu pengap, hingga membuat wajahnya begitu panas dan terasa terbakar. Aish, kenapa ia seperti ini?

"Kenapa aku ini? Apa kau belajar menggombal dari Kim NamJoon? Kau benar-benar membuatku gila" ucap Taehyung sedikit berdesisi, menyenderkan tubuhnya. Matanya memandang lurus ke wajah SeokJin yang terlihat begitu cerah dengan senyum wajah tapi tetap terlihat manis.

"Kau pria aneh, kau bukan penganut agama tertentu, kan?" tanya Taehyung memastikan. SeokJin mengernyit bingung, ia kembali bangun berniat pergi.

"Aku akan membawa agama untukmu"

"Anni! Tidak perlu, aku tidak butuh! Kembali duduk atau…"

SeokJin kembali duduk dengan patuh, duduk dengan tangan menyatu di atas meja dan jangan lupakan senyum lebarnya. Taehyung menghela nafas, ia tidak aka melewatkan kesempatan ini untuk menatap wajah model majalah eksklusif miliknya ini.

Miliknya? Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa ia mengklaim SeokJin seperti itu? Dia benar-benar gila karena SeokJin.

Jika suasana manis dan hangat menyelimuti kedua pasangan di atas. Maka suasana berbeda dan begitu awkard sangat terasa di ruangan sempit yang dapat berjalan itu. Yoongi dan Jimin hanya diam setelah insiden tabrakan bibir itu. Yoongi sibuk menyetir mobilnya keluar dari area hutan-ia tidak langsung pulang karena ia sangat sayang mobilnya.

Jimin? Dia masih shock dengan perubahaan sifatnya sendiri. Apa ia terlalu maniak dan terlalu bertekad untuk membuat Yoongi sembuh sampai-sampai ia rela memberikan ciuman pertamanya?

Sesampainya di rumah, Jimin bergegas keluar masuk ke dalam mansion dengan wajah tertunduk tidak berani menatap kedua mata Yoongi. Begitu juga Yoongi, pria itu terdiam di dalam mobil, menatap dalam diam punggung mungil itu.

"Ciuman!"

CUP

"Aish!"

"Kau di sini?"

"Kenapa dia menciumku jika nanti dia mempunyai kekasih lain? Kenapa juga dia marah-marah, padahal bukan aku yang mencium dia duluan" gerutu Yoongi seraya mengacak-acak rambutnya dan bergerak menendang mobil mahalnya.

Hah!

Jimin terkejut melihat seorang pria tua tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Pria tua itu juga terkejut sama seperti dirinya. Tapi bukan itu yang membuat Jimin terkejut, angka di kepala pria itu yang berjumlah cukup sedikit untuk ukuran seorang pria yang sudah tua. Selain itu ada angka lain yang membuat Jimin semakin terkejut dan memandang pria tua itu… jangan di jelaskan sepertinya.

"Agasshi, mencari siapa?"

Jimin mengernyit, namun ia tetap membungkuk memberi hormat pada pria tua itu. tapi baru saja Jimin hendak bicara, Yoongi tiba-tiba saja muncul dari arah belakang. Tanpa pikir panjang Jimin segera kabur, namun niatnya itu terhalang karena Yoongi menarik kerah belakang jaketnya hingga tubuh mungil itu terhempas ke tubuhnya.

"Tuan. Anda…"

"Nde, aku masih di sini. Dia seseorang yang pernah aku ceritakan"

Pria tua itu adalah kakek kandung NamJoon sekaligus pelayan yang menjaga Yoongi sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Kakek Kim tercengang melihat Jimin lalu tanpa sadar tubuhnya bergerak membungkuk-memberi hormat.

Jimin yang bingung balas membungkuk hormat bahkan lebih dalam dari Kakek Kim. Yoongi sendiri mendesah kesal, menarik tubuh mungil itu kembali tegap. Jimin menoleh, namun bayangan tentang kejadian tadi kembali terniang di otaknya.

"Ciuman!"

CUP

"Ternyata anda orang yang dimaksud Tuan. Bagaimana kabar anda hari ini?" tanya Kakek Kim sopan. Jimin gelagapan, kepala bergerak gelisah begitu juga matanya, bayangan it uterus menghantuinya sampai-sampai ia sulit berpikir.

"Mwoya? Kenapa kau masih di sini? Bukannya kau seharusnya tidak di sini?"

Kali ini giliran Yoongi yang mendesah kesal mendengar suara SeokJin dan sepertinya ada NamJoon juga karena ia tadi mendengar suara deru mobil masuk ke area parkirnya. Keponakan angkatnya itu tercengang, kaget bahkan sampai tubuhnya tidak bisa digerakan melihat kakeknya memandang dirinya tajam.

"Ah, shit!"

NamJoon mendekati SeokJin, berniat menariknya tapi SeokJin segera menepis tarikan itu. matanya memandang tajam ke arah NamJoon yang seenak jidat mau menariknya.

"Mwoya? Kenapa menarikku keluar? Ini rumahku!"

"Ini rumahku, manusia setengah nyamuk!"

SeokJin beralih memandang Yoongi dengan kesal dan penuh amarah. Padahal ia masih ingat dengan jelas bagaimana mimic muka itu menyerahkan sertifikat rumah ini semalam dan salam perpisahan super lebay dari Yoongi.

"Aku harap kau bisa menjelaskan ini, Kim NamJoon"

Suara berat kakeknya langsung membuat NamJoon muncul di hadapan Kakek Kim. Tersenyum lebar-nyengir meminta maaf pada kakeknya itu. Tapi Kakek Kim tidak bisa luluh dengan semua itu, matanya memandang tajam cucu laki-lakinya itu.

"Aku sepertinya harus pergi"

"Jangan bergerak dari tempatmu" perintah sebuah suara yang bukan berasal dari Yoongi. Itu suara SeokJin, pria dari kaum vampire itu memandang kesal ke arah Jimin karena tidak berhasil membuat Yoongi pergi.

"Aku harus mengerjakan tugas sekolah!-HIK!-"

Jimin segera melesat pergi sebelum Yoongi kembali menarik jaketnya lagi. Ia tidak bisa berlama-lama bersama Yoongi, jika sampai terjadi bisa dipastikan ia akan cegukan terus karena menyangkal bayangan ciuman itu.

"Harabeojie, pria ini adalah tamu… ya tamu di rumah samchon!"

SeokJin melotot, tidak suka dan tidak terima kalau ia dianggap tamu di sini. Ini rumahnya, ia berhak tinggal di sini selama dua puluh tahun karena ia sudah membayar cukup mahal untuk itu. Sementara NamJoon yang menjadi tersangka dalam masalah ini menatap memelas ke arah SeokJin agar tidak bicara macam-macam. Kartu kreditnya bisa melayang…

SeokJin sendiri memandang Yoongi yang sedang tersenyum puas, kemenangan telak akan di dapat dengan mudah Yoongi raih karena Kakek Kim pasti akan memihak tuannya.

"Aku…"

Yoongi semakin tersenyum lebar hingga matanya menyipit, berniat meledek SeokJin. Pria dengan bahu lebar itu menunjuk Yoongi dengan tidak sopannya.

"… temannya. Aku teman lama yang akan mengunjunginya karena dia sebentar lagi akan pergi. Sampai jumpa!" lanjut Seokjin dengan gerakan tangan melambai, tanda perpisahan untuk Yoongi. Dan Yoongi membalas lambaian tangan itu dengan senyum semakin lebar, benar-benar meledek.

"Eoh, gomawo"

"Semoga kau bahagia di sana. Jangan pernah kembali dan membusuklah seperti hewan karnivora lainnya karena tidak mendapat daging!"

Salam perpisahan yang benar-benar dikendalikan emosi. Kakek Kim yang mulanya percaya langsung menaruh curiga pada pria tinggi dan cucunya sendiri. Ada apa ini? kenapa situasi ini terlalu dibuat-buat dan cangggung.

"Kau bisa pergi, kok. Kita bukan teman. Ini rumahku. Dan jangan perlah kembali lagi!" balas Yoongi dengan senyum makin lebar bahkan matanya sampai menyipit. SeokJin kaget, ia keceplosan bicara karena emosi.

Apa ia akan diusir? Astaga, ia memandang NamJoon yang sama terkejut dan tidak menduga jika SeokJin dan NamJoon masih sempat-sempatnya melempar argument tidak berguna.

"Samchon! Jangan begitu pada temanmu! Dia sudah jauh-jauh ke sini!"

"Kau juga keluar!" usir Yoongi menatap NamJoon yang tidak bisa bicara lagi melihat tatapan tajam Yoongi sudah keluar lalu diikuti senyum manis nan meledek dari Yoongi.

Dua pria dengan tinggi lumayan itu menghela nafas bersamaan. Satu menghela nafas karena mengasihani keadaannya yang entah bagaimana nanti. Satunya lagi menghela nafas penuh emosi. Ini rumahnya juga, kenapa ia diperlakukan seperti membeli rumah illegal? Ia sudah membayar cukup mahal bahkan ia memiliki bukti konkret kalau rumah ini adalah miliknya.

Pria yang menggerutu itu adalah SeokJin. Tangannya terlipat, awan gelap di seluruh tubuhnya makin menggelap dan suhu di sekitarnya semakin mendingin. Emosi seorang vampire macam SeokJin benar-benar sudah diambang batas.

"Samchon ku keterlaluan"

"Eoh, aku juga punya hak di sini. Dia keterlaluan"

NamJoon menjetikkan jarinya, mendekatkan tubuhnya berniat mencari orang yang mau ada di pihaknya. SeokJin sendiri sama sekali tidak berminat tapi ia setuju soal ucapan NamJoon tadi, jika memang mereka di dalam berdikusi kenapa tidak mengajaknya? Ia sudah menyewa rumah ini untuk di tinggali.

"Dia keterlaluan kepada keponakannya, bagaimana bisa dia melakukan itu?" tanya NamJoon menggelengkan kepala bingung. SeokJin membuang nafas kesal, menatap NamJoon lalu mengeluarkan aura dingin itu merubah di sekitarnya menjadi es.

NamJoon melotot, menjauhkan tubuhnya dari serangan es itu lalu nyengir lebar tanpa dosa. Ia menoleh ke arah pintu sekali lagi lalu NamJoon yang nampak meringkuk bingung dan takut.

"Jika sampai dia tidak keluar kau akan aku bawa ke tempatku"

"Apa tempatnya bagus? Apa di sana ada gadis atau pemuda cantik?"

SeokJin semakin gencar mengeluarkan awan gelap dan es miliknya. NamJoon kembali nyengir, memberikan dua jari mencoba mengajak SeokJin berdamai. Tiba-tiba pintu di belakang mereka di buka, Yoongi keluar dengan wajah puas penuh kemenangan.

"Kau boleh masuk"

"Tidak perlu! Sam-"

"Bukan kau, tapi manusia campuran nyamuk dan lintah itu"

SeokJin makin menggeram kesal. Ia bangkit, memandang wajah menyebalkan itu tengah tersenyum lebar lalu tertawa senang layaknya seorang psycho. Ia segera menghilang, meninggalkan Yoongi yang kembali dalam mode wajah datar menatap NamJoon.

"Samchon mengatakan semua pada harabeojie?"

"Eoh" jawab Yoongi santai, berniat menutup pintu tapi NamJoon menghalanginya.

"Apa? Apa saja yang Samchon katakan? Ayo katakan padaku! Agar aku bisa mencari alasan yang tepat"

Yoongi berdecak, membuang nafas kesal lalu memandang NamJoon dengan tatapan bosan tidak berminat sama sekali membantu keponakannya.

"Memang harus? Kau saja tidak memberitahu kalau rumahku di jual. Hah!"

Dengan kasar Yoongi menutup pintunya setelah membuang nafas tepat di depan wajah NamJoon. Keponakannya itu hanya bisa nelangsa memikirkan hukuman apa yang akan kakeknya itu berikan padanya hari ini?

"Kartu kreditku"

"Kenapa kau belum pergi juga?"

SeokJin langsung bertanya setelah mendengar penjelasan tentang keadaannya sekarang. Kakek Kim memutuskan kalau SeokJin memang harus tinggal di rumah ini karena dia punya hak dan Yoongi setuju saja karena kasihan. Ia benar-benar kesal mendengar itu.

"Aku tidak tahu" jawab Yoongi seraya memasukan tangannya di saku celananya. SeokJin bisa melihat ada senyum kecil terpatri di bibir pedas itu.

"Aku akan mengusri dia"

"Ah, wae?" tanya Yoongi dengan nada kecewa dan tidak terima. Hey, siapa Jimin memang bagi SeokJin. "Kenapa mengusirnya? Dia itu tanggung jawabku"

"Karena dia tidak berguna. Dia tidak bisa membuatmu menjadi angin karena dia bukan istrimu. Aku akan tetap mengusirnya"

"Eiy, jika kita usir dia bisa memberitahu semua orang tentang siapa kita. Itu berbahaya" dengan kepala menggeleng, tidak setuju dengan rencana SeokJin mengusir Jimin. SeokJin menghela nafas, ia benar-benar kesal karena ia bisa melihat isi pikiran Jimin dan Yoongi yang gambarannya hampir sama. Ia tidak suka melihat itu.

"Beri dia uang"

"Kau itu suka menonton drama, kan? Biasanya orang jika mengetahui rahasia orang dan diberi uang maka orang itu akan terus-terusan memeras. Kita tetap tidak bisa memberikan dia uang" ucap Yoongi tetep kekeh mempertahankan Jimin di rumah ini. SeokJin memicingkan matanya tajam, menatap Yoongi yang sedikit gelagapan karena sifatnya mempertahankan Jimin kelewat kentara sekali.

"Kau ingin tetap dia tinggal disini, kau juga pasti senang karena kau masih hidup"

"Anni! Aku benar-benar ingin mengusirnya lebih daripada kau, aku juga tidak senang karena aku masih hidup. Aku sudah lama menunggu moment ini, arra?"

SeokJin memicingkan matanya semakin tajam, berdecak sebal kemudian mengetahui isi kepala Yoongi masih terbayang-bayang soal kejadian di ladang ilalang itu.

"Baik, aku tidak akan mengusirnya demi persahabatan awal kita. Lagipula, kau sendiri yang nanti menyesal karena tidak mengusirnya. Kau pasti risih karena harus menatap dan tinggal satu atap bersama orang yang sudah mencuri ciuman darimu, kan?"

"PERSAHABATAN KAU TADI BILANG? MANA ADA SAHABAT YANG INGIN SAHABATNYA MATI! TIDAK ADA PERSAHABATAN ATAU SEMACAMNYA LAGI DI ANTARA KITA!"

SeokJin berteriak, menunjuk-nunjuk wajah Yoongi dengan wajah puas. "Kau! Benar perkiraanku, kau senang karena kau tidak mati"

Yoongi menghela nafas. "Anni, bukan itu. Aku memiliki janji dengannya, maka dari itu aku masih di sini dan membiarkan Jimin tinggal. Aku pria sejati dan harus menepati janji apa pun yang sudah aku buat" ucap Yoongi kembali mengeluarkan pembelaannya.

SeokJin berdecak sebal, berjalan melewati Yoongi berniat keluar tapi sebelum itu ia berdesis. "Pria sejati? Apa kau masih bisa disebut pria sejati setelah memberi sertifikat rumah itu dengan menangis dan memohon agar aku membuat Jimin lupa tentang semuanya? Apa kau masih pria sejati? Hah!"

Kali ini giliran SeokJin yang membuang nafas di depan wajah Yoongi. Berjalan pergi begitu saja tanpa memberi Yoongi kesempatan untuk membalas ucapannya atau pun menyanggah.

"Bukan begitu! Yak! Manusia setengah nyamuk! Lintah! Tuan Vampire…"

Jimin nekat keluar dari mansion besar itu tanpa mengatakan kemana atau pamit. Ia benar-benar tidak mau bertemu Yoongi, ia masih canggung akibat insiden ciuman itu dan pernyataan cinta terburu-buru darinya itu. intinya, ia benar-benar merasa masih canggung dan tidak mau bertemu Yoongi untuk sekarang dan beberapa jam kedepan.

Ia memilih tempat penitipan anak yang dulu sering ia datangi saat mendiang ibunya menitipkannya saat bekerja. Tempat itu masih sama, tidak berubah bahkan pemiliknya masih orang yang sama meskipun fisik wanita itu sudah tua.

Namun, kasih sayang diberikan sang wanita pengasuh itu masih tetap hangat. Jimin tersenyum kecil, memandangi salah satu anak yang sejak tadi hanya diam saja. Anak kecil dengan rambut bob dan berbaju pink itu hanya duduk sambil memeluk boneka ponyo nya.

"Dia baru saja kehilangan orangtuanya"

Jimin mendesah. Ia hafal suara ini. Ini suara anjing milik wanita pemilik tempat ini. ternyata anjing berwarna putih dengan campuran warna cokelat itu masih sama. Suka mengomel, dan sok tahu isi pikiran Jimin-meskipun kadang benar.

"Kenapa kau tiab-tiba di sini? Merindukan aku, eomma, atau tempat ini?"

"Semua" jawab Jimin lalu mengangkat anjing itu dan mendudukan anjing tersebut di sampingnya. Anjing itu nampak nyaman bahkan ia duduk semakin rapat dengan Jimin, mengibaskan ekornya tanda bahwa ia nyaman berada di dekat Jimin.

"Kau tahu tentang anak itu?" tanya Jimin seraya melirik anak itu sekali lagi. Anjing itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia tahu.

"Eoh, orangtuanya meninggal ketika dia dititipkan disini. Kisahnya mirip sekali dengan kisah milikmu, bedanya orangtuanya meninggal kecelakaan. Sementara ibumu yang cantik itu, Kim Jongin meninggal karena menyelamatkanmu dari tiang listrik didepan. Aku seperti melihatmu lagi saat melihat anak itu lagi"

Jimin tersentuh. Ia merasakan empati tinggi melihat anak perempuan itu. Ketika itu memang benar, ia begitu shock, hampa dan menyalahkan diri sendiri. Belum lagi perilaku bibinya yang menyiksa dirinya seperti seorang pembantu menambah parah mentalnya waktu itu.

Tidak ada yang menghiburnya, tidak ada yang mendekatinya karena ia anak yang aneh tapi kali ini ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada anak perempuan cantik itu. dengan senyuman manis ia menghampiri si anak, duduk di sampingnya.

"Annyeong! Boleh aku duduk disini?" tanya Jimin berusaha bersikap ramah. Anak perempuan itu hanya melihatnya sekilas lalu memalingkan wajahnya tidak minat sama sekali.

"Eonni siapa? Kenapa bisa ada di sini?"

Setelah bermenit-menit diam, anak perempuan itu akhirnya mengeluarkan sebuah suara. Jimin tersenyum, mendekat secara perlahan ke anak perempuan itu. awalnya ia sedikit tida terima di panggil eonni, dia tetap laki-laki loh. Tapi, sudah lah yang penting anak ini menganggap dia ada.

"Eonni dulu penghuni tempat ini sebelum pergi, sekarang eonni ingin bermain saja"

"Eonni dulu tinggal disini?"

Jimin mengangguk, sekarang atensi anak kecil itu sepenuhnya berpusat pada dirinya. "Eoh, eonni dulu tinggal di sini bersama beberapa anak lainnya. Tadi eonni yang bercerita di dalam, apa kau tadi mendengar dongeng buatan eonni?"

Anak kecil itu menggeleng dengan imutnya, Jimin kembali tersenyum lebar lalu menarik anak kecil itu mendekat dan ia bersyukur karena anak itu tidak menolak. Ia bahkan merasa nyaman dan menyandarkan tubuhnya makin dekat dengan Jimin.

"Baiklah, eonni akan ceritakan lagi. Pada zaman dahulu…"

Ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan Jimin sedari tadi. sepasang mata sipit nan tajam itu awalnya enggan mendekat atau memperhatikan Jimin lagi karena insiden tadi pagi. Tapi atensinya langsung teralihkan melihat cara Jimin mendekati anak itu, kesabaran Jimin dan senyum tulus yang dikeluarkan anak itu.

Semua orang pasti merasa nyaman dan senang melihat senyum lebar itu.

Jimin terkejut ketika ia menggendong anak perempuan itu ia melihar seseorang yang tidak asing di matanya. Itu Yoongi, berdiri menatapnya dari jauh tanpa berkedip sama sekali. Pipinya tiba-tiba merona, ia tidak mau bertemu Yoongi sekarang. Ada perasaan lain yang mulai menggerogotinya ketika melihat senyum lebar Yoongi.

Ia menarik nafas, menepuk-nepuk punggung anak itu lalu membawanya masuk ke dalam rumah penitipan anak tersebut. Setelah berpamitan ia keluar berniat pulang ke rumah Taehyung tapi rencananya itu gagal ketika di depan penitipan anak itu Yoongi masih setia berdiri di sana.

"Ahjussi…"

"Kau di sini? Apa kau bekerja di sini?" tanya Yoongi dengan tangan terlipat di belakang. Jimin terdiam, menelisik wajah itu lebih dalam. Ia bisa melihat wajah itu berseri cerah, terlihat bahagia meskipun panah-panah itu tetap menancap di dadanya.

Tiba-tiba perasaan itu kembali muncul namun ia segera menutupinya dengan berjalan pulang mendahului Yoongi yang mengekor di belakang. Tidak ada yang bicara selama perjalanan menuju rumah mereka. Yoongi tidak berniat mengajaknya pulang menggunakan teleportasinya. Entah apa alasannya, mungkin Yoongi ingin bicara sesuatu.

Tapi dia sama sekali tidak bicara, Jimin pun tidak bicara. Ia berjalan dengan sesekali suara cegukan muncul, ia juga tidak tahu kenapa suara cegukan ini muncul.

"Kenapa kau cegukan? Kau tidak suka aku menjemputmu?" tanya Yoongi memulai percakapan dengan berdiri di samping Jimin.

Pemuda manis itu menggeleng, melirik Yoongi yang ternyata tengah menatapnya, "Anni, aku mengelak tentang dua pertanyaan" jawab Jimin seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya ke depan wajah Yoongi.

"Apa?"

"Pertanyaan pertama, apa kau tidak canggung tentang ciuman waktu itu?" tanya Jimin to the point, matanya menatap lurus ke depan tanpa berniat menatap wajah Yoongi yang sedikit gugup dan gelagapan menjawab pertanyaannya.

"Aku canggung, tapi aku berusaha melupakan rasa canggung itu. Kau sendiri?" Yoongi balik bertanya, tangannya di masukan ke dalam saku mantelnya. Mencoba mencari posisi senyaman mungkin di dekat Jimin.

"Aku? Tentu saja. Aku canggung setengah mati bahkan aku lebih memilih menguburkan diriku sendiri karena tidak berani melihat wajahmu. Aku akan selalu terbayang ciuman itu tiap kali melihat wajahmu. Selain itu, aku senang karena aku tidak berakhir seperti dalam bayanganku"

"Memang apa bayanganmu?" tanya Yoongi penasaran dan bingung. Oh, apa Jimin berpikiran kotor yang tidak-tidak tentang kemarin?

"Aku pikir aku tidak akan pernah berciuman, tidak mempunyai teman pria, tidak punya sahabat untuk berbagi tentang pengalaman ciuman pertamanya, tidak punya ibu untuk bercerita hal ini. Aku pikir untuk apa berciuman jika tidak memiliki teman pria, sahabat, ibu atau orang terdekat. Semua itu percuma, kan?"

Jimin bertanya dengan sebuah senyum miris dan suara tawa kecil. Mereka berhenti di dekat lampu jalan. Yoongi menyenderkan tubuhnya di sana, menatap Jimin yang sedikit menundukkan kepalanya. Ia selalu sedih mengingat bayangan-bayangan mengerikan tentang dirinya sendiri yang ia buat.

"Tapi setelah bertemu ahjussi, calon suami Gumiho ku semua itu lenyap begitu saja. Aku seperti menemukan rumah penitipan baru, aku seperti menemukan keluarga baru yang diisi orang-orang aneh. Aku bahagia karena itu, aku benar-benar bahagia ahjussi"

Mata itu berair, menangisi hidupnya yang dulu penuh duka dan kelam. Sedangkan sekarang, hidupnya penuh dengan kebahagian dan kesenangan karena Yoongi ada di sisinya.

"Kenapa kau menangis?"

"Aku…" Jimin menarik nafas, menatap Yoongi dengan sebuah senyum lebar meskipun wajahnya sudah basah karena air matanya sendiri. "… berterimakasih untuk semuanya. Juga, aku minta maaf ahjussi karena tidak bisa mencabut panah-panah itu"

Yoongi terdiam. Matanya seketika berubah tidak percaya dan sendu melihat Jimin menangis sesegukan karena tidak bisa mencabut panahnya. Satu langkah ia ambil, mendekati Jimin dan menatapnya lebih dalam.

"Maaf karena mengecewakanmu, maaf karena tidak bisa membuatmu jauh dari sakit, maaf karena membuatmu lebih lama merasakan sakit. Aku benar-benar minta maaf, aku sungguh menyesal"

Yoongi mengangguk, menarik tubuh itu dalam pelukan hangat dan lebarnya. Menepuk-nepuk kepala itu, mengusak kepalanya dan terakhir mengecup singkat puncak kepala Jimin.

"Uljima. Ini bukan salahmu, tapi aku tidak memaafkan kesalahnmu menciumku"

Jimin tersenyum kecil di sela-sela air matanya yang mengalir. Ia melepas pelukan Yoongi, menatap wajah pria berusia ratusan tahun itu yang masih tetap tampan dalam diam. Lalu tertawa bersama karena mengingat insiden ciuman itu lagi.

Namun suara tawa itu tidak bertahan lama…

"Akh!"

Yoongi tiba-tiba saja merasakan sesak teramat di dadanya. Rasa sesak itu naik ke atas sampai terasa menahan pernafasannya. Tubuhnya melemas, ia bawa tubuh penuh kesakitan itu ke tiang lamppu. Bersandar sepenuhnya di sana sambil menahan sakit dan erangan menyakitkan yang menyertai rasa sakitnya.

"Ahjussi! Kau kenapa? Kau kesakitan?"

Ia tidak terlalu mendengar perkataan Jimin, bahkan pengeliatannya sedikit kabur karena rasa sakit itu mulai merenggut perlahan-lahan lima panca indranya. Dari kejauhan ia bisa melihat Sungwoon tersenyum penuh kekejaman melihat dirinya kesakitan ingin meregang nyawa tapi tidak akan pernah bisa.

"Ahjussi! Panahmu! Panah ini berlumuran darah dan api!" teriak Jimin panik. Bibir dan matanya bergetar melihat panah itu mengeluar api berwarna biru beserta darah milik Yoongi. Berbarengan dengan itu, erangan kesakitan Yoongi makin terdengar pilu dan menyakitkan.

Tangan Jimin terangkat, hendak menyentuh panah itu. ada keraguan di hatinya kalau ia bisa menggenggam panah itu, tapi ia harus mencobanya. Ia harus membuat Yoongi tidak kesakitan lagi, ia harus mencoba ini.

Namun, keraguan itu terhempas karena ia bisa menggenggam salah satu dari sembilan anak panah berlumuran darah itu. Yoongi masih tidak sadar dengan apa yang dilakukan Jimin, ia masih sibuk menahan rasa sakit dan mengumpulkan kesadarannya kembali.

"Ahjussi! Aku bisa menyentuhnya! Aku bisa merasakan panah-panah ini bergerak!"

Panah itu bergerak keluar dengan tarikan Jimin. Bersamaan dengan itu rasa sakit yang diderita Yoongi makin menjadi, namun kelima fungsi panca indranya sudah berfungsi. Matanya membola terkejut melihat Jimin hampir berhasil menarik panah itu keluar. Tangannya yang gemetar terangkat, mendorong pundak itu menjauh namun dorongan itu kelewat kuat.

"Kya!"

Tubuh Jimin terpental dengan membawa satu panah yang berasal dari tubuh Yoongi. Tubuh mungil itu melayang di udara cukup lama dan jauh berates-ratus meter dari tempat Yoongi berdiri. Tak lama, sebuah baliho besar tepat berada di belakang tubuh Jimin. Semua terasa seperti slow motion bagi Jimin, tubuhnya terdorong makin jauh dan hampir menabrak baliho itu tapi Yoongi entah datang darimana memasang badannya sendiri sebagai perisai untuk Jimin.

Meskipun begitu Jimin tadi sempat menghantam sisi sebuah tiang lampu yang mengakibatkan kepala pemuda itu berdarah cukup banyak. Kesadarannya juga hampir menghilang, shock dan sakit di kepalanya tiba-tiba menyerang.

Ia tidak sadar dengan situasi di sekitar mereka. Tubuh Yoongi menghantam baliho itu hingga roboh merusak hampir selurh mobil yang terpakir di sekitarnya. Kekuataannya tiba-tiba saja melemah, ia sudah tidak mampu melayang hingga akhirnya ia mendarat dengan masih memeluk Jimin dari belakang dengan begitu erat.

Baju di bagian pundaknya sedikit basah karena darah merembes dari kepala Jimin. Pemuda manis itu sudah tidak sadarkan diri sejak ia bawa turun ke bawah. Kedua mata Yoongi tiba-tiba berubah menjadi biru melihat Jimin tidak sadarkan diri dengan darah mengalir.

"Jika salah satu panahku berhasil tercabut ada tiga kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama adalah sifat asli Gumiho nya akan keluar. Kemungkinan kedua adalah hilangnya salah satu kekuatannya dan panah-panah yang lain. Terakhir kemungkinan ketiga…"

Kedua mata Yoongi kembali berubah menjadi hitam, ia membawa tubuh Jimin dalam pangkuannya. Menggerakan tubuh itu, berusaha membuat Jimin agar tersadar karena akan bahaya jika Jimin pingsan dalam keadaan ini.

"Jimin! Park Jimin, kau mendengar ku?!" panggil Yoongi panik. Mengguncang tubuh itu semakin kuat tapi tetap tidak ada balasan. Mata Jimin tetap terpejam, tanpa pikir panjang soal salah satu panahnya yang menghilang ia segera mendekatkan mulutnya di depan mulut Jimin.

Mengalirkan sebuah cahaya biru dari mulutnya ke mulut Jimin. Cukup lama cahaya itu mengalir dan masuk ke dalam tubuh Jimin. Darah yang mengalir dari kepala mungil itu perlahan menyusut begitu juga dengan luka-luka yang diderita Jimin. Perlahan tapi pasti kedua mata Jimin terbuka, menampilkan sepasang iris hitam yang terlihat sayu.

"Jimin-ah!"

"Jangan khawatir… aku… benar-benar… istrimu"

"… lewat pemuda manis ini kematian akan menjemput dirinya. Ia akan benar-benar pergi meninggalkan dunia, meninggalkan Jimin sendiri dan masa depan yang ia lihat benar adanya. Ia akan pergi meninggalkan Jimin… selamanya"

To Be Continue

Hai, aku fast update lagi karena chapter kemarin aku ngerasa kurang puas ama moment mereka, terus aku bungkuk maaf karena typo di atas pasti mengganggu dan cukup banyak, hehehehe... maafkan aku kalau cerita ini makin gaje dan aneh *bungkukdalem*. gimana ada yang suka JinV di sini? ciuman YoonMin?

hohohoho~~~

terus gimana ama hidupnya Yoongi, panahnya berhasil tercabut satu loh... *teriak heboh*

mood ku lagi bagus karena bentar lagi natal, yeah! besok lagi, kan. mood ku bener-bener bagus, sekalian ini jadi kado natal moment manis mereka di awal dan diakhiri dengan moment tragis *ketawanista*

Selamat Natal bagi yang merayakan! Tuhan selalu memberkati kalian semua tanpa terkecuali, bagi yang tidak merayakan ini hadiah kado natal dari ku. suka? atau aku kecepetan ngucapin selamat natal? aku nggak sabar nunggu natal tahun ini, hehehehe...

semoga kalian betah menunggu kelanjutan ff gaje ini, aku sayang kalian yang udah review, fav, follow, dan baca dari awal cerita. ucapan terimakasih dan kecup peluk nggak cukup untuk ucapan terimakasih.

Saranghaeyo readers *LOVESIGN*

See you~~

(setelah natal ya)

Saranghaeyo *HEARTSIGNBARENGPEMAIN*