"Samchon?"

SeokJin mendesah kesal mendengar suara menyebalkan NamJoon. Ia masih marah dan emosi melihat wajah play boy itu karena dia, ia hampir terluntang lantung di jalanan lagi. Sementara orang yang sedang ia dumeli itu mengambil tempat di sampingnya seraya meletakkan sesuatu.

"Kenapa kau ke sini? Karnivora itu sedang menjemput pacarnya" ucap SeokJin menjawab pertanyaan NamJoon yang ada dikepala berrambut cokelat dark itu.

NamJoon mengangguk paham, memberikan barang tadi yang ternyata sebuah gulungan kertas berwarna hitam. SeokJin mengernyit heran melihat gulungan itu, atensinya tiba-tiba saja teralihkan hanya untuk memandang gulungan itu.

"Apa itu?"

"Samchon memberikan pada harabeojie untuk dijaga selama dia pergi. Aku tidak tahu apa"

SeokJin mengernyit namun matanya membulat mendengar itu barang pemberian dari Yoongi sebelum pergi. Mungkin sesuatu yang jauh berharga, ia menarik gulungan itu berniat membukanya tapi NamJoon segera menariknya kembali.

"Samchon, mau apa?"

"Aku ingin tahu barang apa yang diberikan karnivora itu pada kakekmu. Bisa saja lebih berharga dari rumah ini"

NamJoon nampak tersenyum dan mengangguk setuju. "Oke, kita akan buka!"

Gulungan itu dibuka oleh NamJoon dengan perlahan. Yang nampak pada saat gulungan itu dibuka adalah kertas lusuh berwarna kekuningan, menandakan kertas itu sudah sangat lama dan usang. SeokJin semakin tertarik ketika yang ia lihat selanjutnya adalah sebuah lukisan puncak kepala seorang dengan jepit rambut.

"Wah! Dia cantik sekali!"

SeokJin terpaku. Vampire berwajah tampan itu memakukan pandangannya memandang wajah lukisan wanita itu. seorang wanita dengan hanbok merah muda, berdiri dengan posisi menyamping menggenggam setangkai bunga. Memakai jepit rambut dengan model bunga warna putih, merah dan biru. Mata wanita-yang nampaknya berasal dari keluarga kerajaan-terlihat kosong, sedih dan tidak bernyawa.

Seolah-olah ada kesedihan mendalam terhadap sesuatu, tatapan itu juga seperti memiliki makna bahwa dia baik-baik saja. Lalu yang membuat SeokJin menitihkan air matanya adalah, senyum si wanita. Senyum itu terlihat begitu kecil dan sama, ia seperti tidak ingin tersenyum tapi ia tetap memaksa sebuah senyum kecil.

"Siapa dia? Apa dia mantan pacar Samchon?"

SeokJin tidak menjawab. Air matanya semakin mengalir deras setiap kali ia beradu pandang dengan lukisan itu. Seolah-olah pandangan itu adalah belati tajam yang menusuk telak hulu hatinya. Membawa rasa sakit yang teramat sangat bahkan sampai dadanya terasa sesak-sulit bernafas dengan cara normal. Rasanya sangat sakit, sesak, ia tidak ingin menatap kedua mata indah itu tapi otak dan hatinya tidak bekerja dengan sinkron.

Matanya terus terpaku memandangi lukisan itu sampai semuanya berubah menjadi buram karena air matanya sendiri. Kenapa wanita ini membawa banyak kesedihan? Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini? pertanyaan pentingnya adalah…

Siapa wanita ini…

(Kwill-Growing, GOT7-You Are, Yesung-Confession, Eddy Kim-You are so Beautiful)


"Ahjussi! Panahmu! Panah ini berlumuran darah dan api!" teriak Jimin panik. Bibir dan matanya bergetar melihat panah itu mengeluar api berwarna biru beserta darah milik Yoongi. Berbarengan dengan itu, erangan kesakitan Yoongi makin terdengar pilu dan menyakitkan.

Tangan Jimin terangkat, hendak menyentuh panah itu. ada keraguan di hatinya kalau ia bisa menggenggam panah itu, tapi ia harus mencobanya. Ia harus membuat Yoongi tidak kesakitan lagi, ia harus mencoba ini.

Namun, keraguan itu terhempas karena ia bisa menggenggam salah satu dari sembilan anak panah berlumuran darah itu. Yoongi masih tidak sadar dengan apa yang dilakukan Jimin, ia masih sibuk menahan rasa sakit dan mengumpulkan kesadarannya kembali.

"Ahjussi! Aku bisa menyentuhnya! Aku bisa merasakan panah-panah ini bergerak!"

Panah itu bergerak keluar dengan tarikan Jimin. Bersamaan dengan itu rasa sakit yang diderita Yoongi makin menjadi, namun kelima fungsi panca indranya sudah berfungsi. Matanya membola terkejut melihat Jimin hampir berhasil menarik panah itu keluar. Tangannya yang gemetar terangkat, mendorong pundak itu menjauh namun dorongan itu kelewat kuat.

"Kya!"

Tubuh Jimin terpental dengan membawa satu panah yang berhasil tercabut dari tubuh Yoongi. Tubuh mungil itu melayang di udara cukup lama dan jauh beratus-ratus meter dari tempat Yoongi berdiri. Tak lama, sebuah baliho besar tepat berada di belakang tubuh Jimin. Semua terasa seperti slow motion bagi Jimin, tubuhnya terdorong makin jauh dan hampir menabrak baliho itu tapi Yoongi entah datang darimana memasang badannya sendiri sebagai perisai untuk Jimin.

Meskipun begitu Jimin tadi sempat menghantam sisi sebuah tiang lampu yang mengakibatkan kepala pemuda itu berdarah cukup banyak. Kesadarannya juga hampir menghilang, shock dan sakit di kepalanya tiba-tiba menyerang.

Ia tidak sadar dengan situasi di sekitar mereka. Tubuh Yoongi menghantam baliho itu hingga roboh, merusak hampir seluruh mobil yang terpakir di sekitarnya. Kekuataannya tiba-tiba saja melemah, ia sudah tidak mampu melayang hingga akhirnya ia mendarat dengan masih memeluk Jimin dari belakang dengan begitu erat.

Baju di bagian pundaknya sedikit basah karena darah merembes dari kepala Jimin. Pemuda manis itu sudah tidak sadarkan diri sejak ia bawa turun ke bawah. Kedua mata Yoongi tiba-tiba berubah menjadi biru melihat Jimin tidak sadarkan diri dengan darah mengalir.

"Jika salah satu panahku berhasil tercabut ada tiga kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama adalah sifat asli Gumiho nya akan keluar. Kemungkinan kedua adalah hilangnya salah satu kekuatannya dan panah-panah yang lain. Terakhir kemungkinan ketiga…"

Kedua mata Yoongi kembali berubah menjadi hitam, ia membawa tubuh Jimin dalam pangkuannya. Menggerakan tubuh itu, berusaha membuat Jimin agar tersadar karena akan bahaya jika Jimin pingsan dalam keadaan ini.

"Jimin! Park Jimin, kau mendengar ku?!" panggil Yoongi panik. Mengguncang tubuh itu semakin kuat tapi tetap tidak ada balasan. Mata Jimin tetap terpejam, tanpa pikir panjang soal salah satu panahnya yang menghilang ia segera mendekatkan mulutnya di depan mulut Jimin.

Mengalirkan sebuah cahaya biru dari mulutnya ke mulut Jimin. Cukup lama cahaya itu mengalir dan masuk ke dalam tubuh Jimin. Darah yang mengalir dari kepala mungil itu perlahan menyusut begitu juga dengan luka-luka yang diderita Jimin. Perlahan tapi pasti kedua mata Jimin terbuka, menampilkan sepasang iris hitam yang terlihat sayu.

"Jimin-ah!"

"Jangan khawatir… aku… benar-benar… istrimu"

"… lewat pemuda manis ini kematian akan menjemput dirinya. Ia akan benar-benar pergi meninggalkan dunia, meninggalkan Jimin sendiri dan masa depan yang ia lihat benar adanya. Ia akan pergi meninggalkan Jimin… selamanya"

Tidak memedulikan kondisinya yang belum stabil ia membawa Jimin dalam gendongannya. Membawanya pergi melewati sebuah tikungan menuju rumah sakit tempat ia bekerja. Beberapa orang yang mengenal Yoongi terkejut setengah mati melihat dokter jenius mereka yang mengambil cuti, tiba-tiba saja muncul dari balik UGD.

"Sonsaengnim!"

"Cepat siapkan ruangan!"

Perawat dan dokter juniornya langsung bergerak cepat, mengambil banker dan membawa tubuh Jimin yang masih setengah sadar masuk ke sebuah ruangan. Yoongi sudah melepas mantelnya yang penuh darah dari kepala Jimin. Mencuci tangannya lalu memakai sarung tangan steril.

"Luka di kepalanya tidak parah tapi kita harus tetap melakukan CT scan. Siapkan ruangannya!"

"Nde, sonsaengnim"

Yoongi kembali fokus membersihkan luka di kepala Jimin yang masih menganga cukup lebar meskipun tidak mengeluarkan darah sebanyak tadi. ia sangat fokus dan hati-hati, sampai tiba-tiba rasa sakit itu kembali terasa bahkan ia tidak bisa menggerakan tubuhnya guna melanjutkan jahitannya pada kepala Jimin.

"Sonsaengnim, apa anda baik-baik saja? Jika sonsaengnim sedang tidak sehat, saya bisa menggantikannya"

Yoongi menggeleng, melawan tubuhnya sendiri dan kembali menjahit luka di kepala dan beberapa bagian tubuh Jimin lainnya yang terkena pecahan kaca baliho tadi. tubuh mungil itu sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri, matanya terlalu berat untuk terbuka karena rasa sakit di seluruh tubuhnya namun ada yang aneh pada tubuh itu.

Seperti ada roh lain yang mendorong roh Jimin untuk tetap hidup. Roh asing yang begitu baik hati.

"Dia itu benar-benar kejam"

Hoseok menoleh, menatap Sungwoon yang duduk di samping tempat ruang tunggu rumah sakit. Ia menghela nafas, menyilangkan tangan di dada seraya menatap ruangan tempat Jimin sedang di obati dalam diam.

"Kau yang membuat pendosa itu seperti itu"

"Aku melakukannya karena siapa? Lagipula dia punya nama, kenapa kau terus menyebutnya pendosa?" ucap Sungwoon membalas ucapan Hoseok yang seolah melumuri wajahnya dengan ludah yang baru saja ia buang. Hoseok terkekeh, meminum sodanya sebelum menjawab pertanyaan Sungwoon.

"Dia pendosa karena dia membunuh orang dalam perang bukan untuk negaranya tapi untuk melampiaskan amarahnya karena sang raja menikahi adik perempuannya. Jika saja dia membunuh untuk negaranya dia tak akan hidup seperti ini"

Sungwoon mendengarkan dalam diam. Sesaat pikirannya melayang dimana saat ia memberi rasa sakit itu pada Yoongi, tatapan pria itu seakan memohon agar tidak mencabut nyawanya atau memperlihatkan panahnya secara utuh pada Jimin.

Alasan Jimin tidak bisa mencabut panah di dada Yoongi saat di ladang adalah Sungwoon. Wanita dengan tubuh mungil itu sengaja tidak memperlihatkan secara utuh panah di dada Yoongi. Sungwoon sengaja memberi kejutan untuk kematian Yoongi, ia yang akan mengatur kematian pria penuh dosa itu.

Dan ia memilih hari ini setelah mendengar penyesalan Jimin karena tidak dapat mencabut panah itu. seharusnya Yoongi mati hari ini karena ia benar-benar memperlihatkan wujud asli dari panah itu. berbalut api dan darah Yoongi sendiri, ketika semuanya keluar Yoongi akan benar-benar merasakan sakit yang amat sangat. Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sakit itu kecuali…

Panah itu tercabut.

"Meskipun sedikit gagal tapi paling tidak daya tahan tubuhnya akan melemah. Dia akan sekarat lalu memilih mati dan melanjutkan hukumannya menjadi angin yang mengembara dengan kesepian" ucap Hoseok seraya melirik Sungwoon dengan senyum lebar dan hangat.

"Aku anggap itu pujian dari Dewi Malam sepertimu. Oh, kau kembali menggunakan tubuh wanita ini lagi?"

Hoseok mengangguk. Kemarin ia memang menggunakan tubuh seorang pria bernama Hoseok. Suatu kebetulan yang aneh karena ia juga memilih nama yang sama seperti pria itu. Dan ia cukup nyaman menggunakan tubuh itu sebagai penyamaran untuk lebih dekat dan mengetahui dua orang pendosa itu.

"Nde, aku mengintai dengan caraku sendiri. Bukan seperti dirimu yang menggunakan pukulan-pukulan menyakitkan"

"Jangan bahas itu lagi, bagaimana jika kita minum? Kau bisa mengajak mereka" ucap Sungwoon memberi usul untuk minum, sekedar merayakan bagaimana mereka berhasil menjalankan perintah dengan benar-meskipun tidak sepenuhnya benar. Hoseok menghela nafas mendengar kata mereka, malas jika ada mereka di saat seperti ini.

"Mereka pasti tidak mau, bagaimana jika kita minum berdua saja"

"Baik, aku setuju"

SeokJin masih tertegun dengan lukisan wanita itu. ia berdiri tegak di meja kerjanya, menatapi lukisan itu sekali lagi dan air matanya jatuh lagi. Ia menghapur air matanya, menarik nafas panjang lalu menggulung lukisan itu dan menyimpannya baik-baik sampai Yoongi pulang.

Tapi, siapa wanita tadi? kenapa wanita begitu familiar? Apa ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya? Tapi dimana? Dan masih banyak pertanyaan muncul di kepala SeokJin tapi tidak ada satu pun jawaban yang masuk akal.

Kecuali, ia bertanya langsung pada Yoongi.

"Samchon!"

SeokJin menoleh, menemukan NamJoon kembali masuk tapi bedanya wajahnya kali ini terlihat khawatir, panik, dan tegang. Pria yang memiliki tinggi hampir sama itu menghela nafas panjang lalu menunjuk ponselnya yang menampilkan beranda utama tentang kecelakaan misterius yang terjadi 30 menit lalu.

"Ini ulah Samchon ku. Jangan bilang aku membual atau lebay, tapi memang benar ya. Lihat saja dia belum pulang sejak menjemput Jimin padahal pacar pamanku itu harusnya sudah pulang sejak jam tujuh malam. Tapi sampai sekarang paman dan pacarnya itu belum kembali"

"Lalu apa maksudmu bicara seperti itu padaku?"

NamJoon memutar matanya malas, "Bantu aku membereskan kekacauan yang dibuat Samchon"

"Dengan cara?"

"Samchon penyawa ikut aku dulu saja, atau aku akan menyeretmu"

Jimin sudah dipindahkan dari ruang gawat darurat ke ruang rawat biasa. Yoongi membawanya ke ruang VIP dan memberinya perawatan pribadi, ia tidak mau ada yang menyentuh Jimin satu helai pun rambutnya. Ia tidak mau jika dokter-dokter di bawahnya itu melakukan kesalahan kecil yang nanti malah akan berdampak buruk pada Jimin.

Tapi untungnya tidak terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya itu. Jimin hanya mengalami luka kecil tapi Yoongi dengan cepat memberinya pertolongan saat sampai di rumah sakit ini, jika terlambat mungkin cidera di kepala Jimin akan berakibat fatal.

Gumiho berusia ratusan tahun itu menatap dadanya sekali lagi, panah di dalamnya sudah berkurang tiga. Ya, jumlah panah di dadanya adalah delapan. Tapi karena ilusi yang diciptakan Sungwoon, Jimin tetap bisa melihat sembilan.

Panah pertamanya hilang saat ia menolong ibu Jimin dulu-Jongin. Panah keduanya hilang saat Jimin menariknya. Panah ketiganya hilang saat ia memberikan panah itu sebagai roh yang membantu Jimin tetap sadar dan hidup. Ia juga dulu melakukan itu pada Jongin dan sekarang ia melakukannya lagi untuk Jimin.

Entah apa yang akan terjadi jika Yoongi tidak segera memberikan panah itu dalam bentuk roh di tubuh Jimin. Bisa dipastikan… Jimin… ia tidak mau membicarakan itu lagi.

"Ahjussi…"

Yoongi menoleh dari aktivitasnya memandang langit malam Seoul. Menghampiri Jimin dan membantu istri Gumihonya itu duduk bersandar pada kepala ranjang rumah sakit. Pemuda manis itu tersenyum kecil, menyentuh dada Yoongi dengan tangannya yang tidak terinfus.

"Aku benar-benar istrimu"

Yoongi tidak bicara. Ia hanya diam, tersenyum kecil lalu memeluk kepala berbalu perban itu hati-hati. Tangan besarnya menepuk-nepuk kepala lalu punggung Jimin dengan lembut dan hati-hati juga. Ia takut melukai batang kayu rapuh ini, ia tidak mau hal sekecil apa pun yang ia lakukan nanti akan berdampak buruk.

"Kau tidak bisa mengusirku, aku akan selalu ada di sisimu dan membuatmu semakin sehat"

Yoongi mengangguk, melepas pelukan hangatnya. Menatap wajah Jimin yang sedang tersenyum lebar masih dengan memeluk tubuh tegap Yoongi.

"Apa kau masih merasa sakit, ahjussi?"

"Kenapa kau selalu menanyakan keadaan orang lain lebih dulu? Kau tidak mau bertanya bagaimana keadaan kepalamu?"

Jimin terdiam, sedikit cemberut karena pertanyaannya seperti enggan dijawab oleh Yoongi. Pria yang jauh lebih tua darinya itu tersenyum kecil, mengelus kepala Jimin yang tidak terluka lalu menghela nafas.

"Aku sudah tidak sakit, aku sudah merasa lebih baik. Kau tidak perlu khawatir, kau harus mengkhawatirkan kepalamu ini"

"Kenapa dengan kepalaku?"

Yoongi tertawa kecil melihat ekpsresi takut Jimin terlihat sangat lucu. Mata membulat, bibir ikut membulat lucu dan jangan lupakan wajah yang mendongka menatap matanya lurus. Sadar kalau dirinya tipu, Jimin segera memukul lengan kokoh itu dan menghasilkan sebuah ringisan.

"Geotjimal!"

"Kau yang membuatku terpaksa berbohong. Kau selalu mengkhawatirkan kondisi orang lain sampai-sampai melupakan kondisimu sendiri"

Jimin mengerucutkan bibirnya sebal, menarik selimut hendak tidur namun yang terjadi ia malah terpaku dengan posisi masih duduk. Kepalanya sedikit mendongkat saat Yoongi dengan berani mengecup perban yang membalut lukanya, cukup lama dan kecupan itu terasa menenangkan.

"Tidurlah, selagi aku pergi mengurus adminstrasimu" Jimin mengangguk gugup, segera berbaring lalu menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tanpa mau menatap kepergian Yoongi.

Yoongi tidak ambil pusing, ia tetap melangkah keluar dari ruang rawat Jimin. Terkejut melihat SeokJin dan NamJoon sudah duduk di ruang tunggu dengan wajah sebal dan kesal. NamJoon yang terlihat paling sebal, tangannya bersedekap di dada, matanya memicing tajam melihat pamannya itu malah mendesah pasrah dan ikut duduk di hadapan SeokJin.

"Samchon tidak ada kata-kata yang mau kau ucapkan? Kau sudah membuat dua pria tampan ini kelimpungan karena ulahmu. Memang kau bertengkar apa dengan Jimin sampai membuat 48 mobil hancur dan harabeojie harus mengganti kerusakan baliho yang baru saja dipasang sepuluh menit itu"

Yoongi menunduk, mengeluarkan sebotol obat kecil dari kantung yang ia bawa keluar tadi. Meminumnya tanpa berniat menatap NamJoon dan SeokJin. Ia tahu ia bersalah, tapi apa bisa dua kunyuk ini tidak mengomel dulu?

"Yak! Kau dengar? Kau membuatku melakukan hal sia-sia malam ini" tambah SeokJin dengan nada tinggi di akhir kalimatnya. Yoongi mendongak setelah minum obat penenang dan obat penahan rasa sakit. Ia menatap NamJoon dan SeokJin bergantian lalu menghela nafas.

"Gomawo, karena sudah mengurus semuanya"

"Nde, sama-sama. Aku benar-benar bahagia membantu, Samchon. Tapi akan lebih bahagia lagi jika kau tidak merusuh lagi, bisa kan?" balas NamJoon sedikit sinis dan kesal. Namun anehnya Yoongi menerima itu, bahkan pria itu sama sekali tidak berniat membalas.

"Jangan berterimakasih padaku, aku sedan tidak menerima ucapan terimakasih" ucap SeokJin menyela gerakan bibir Yoongi yang berniat berterimakasih. Pria itu memandang ke arah lain, malas menatap wajah tua itu yang masih-masih sempatnya bersedih seperti itu.

"Kepalaku sedang penuh dengan batu dan debu yang menempel, jangan mengajakku bertengkar"

"Apa kau baru saja mengganti kata depresi dengan batu dan debu? Aku jauh lebih depresi daripada kau, asal kau tahu"

SeokJin dan NamJoon kompak menoleh penasaran. NamJoon dengan pandangan menelisik, sedangkan SeokJin begitu penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi di antara Yoongi dan Jimin sampai-sampai karnivora ini bisa menghancurkan 48 mobil.

"Darimana kau bisa membandingkan? Aku jauh lebih depresi daripada kau" balas SeokJin tidak terima dan semakin memancing rasa emosi dan frustasi Yoongi.

"Yak! Aku ini sangat depresi karena ada benda ini" ucap Yoongi sambil menunjuk letak panah-panahnya tapi ia mendesah kesal. "Lupakan!" teriak Yoongi mengakhiri perdebatan tidak berguna itu. ia kembali masuk ke dalam ruang rawat Jimin dengan pintu sedikit di banting tepat di hidung NamJoon yang hendak ikut masuk.

"Yak! Gumiho Samchon!"

SeokJin mengernyit menghampiri NamJoon yang nampak biasa saja memanggil Yoongi seperti itu di depan SeokJin yang terkejut setengah mati.

"Kau tadi bilang apa?"

"Gumiho samchon? Wae? Samchon memang gumiho, kan?"

"Tahu darimana kau?" tanya SeokJin masih penasaran dan ingin tahu lagi(?).

NamJoon membuat pose berpikir, lalu menghela nafas karena tidak bisa lolos dari tatapan kepo SeokJin. "Saat itu di kamar, kau dan Samchon sedang bertengkar. Aku mendengar kalian saling melempar kata-kata pedas dengan julukan masing-masing. Kau vampire dijuluki manusia setengah nyamuk, samchon seorang gumiho dijuluki karnivora. Aku hanya tahu itu"

SeokJin menggeram, jawaban NamJoon tadi benar-benar membuatnya kesal. Anak ini meskipun tahu hidup dengan dikelilingi makhluk-makhluk aneh dan kejam tetap bertingkah tidak sopan. Bahkan manusia ini sudah menipunya secara tidak langsung.

"Jadi, secara tidak langsung kau sudah mengetahui semuanya tapi kau tetap bertingkah tidak sopan. Begitu?"

NamJoon mengangguk tanpa wajah bersalah sama sekali. Awan gelap dan aura dinginnya keluar begitu saja tanpa bisa dikontrol. Pria bermarga Kim itu terperenjat dari posisi berdirinya, nyengir lebar sambil memberikan tanda peace.

"Sorry!"

Tapi bukannya mereda, aura dana wan gelap SeokJin makin menggelap dan dingin. Bahkan di mata NamJoon ia bisa melihat petir imajiner di balik punggung tegap SeokJin.

TUK TUK TUK

Suara high heels yang bertemu dengan lantai rumah sakit yang dingin menjadi suara yang mendominasi di lorong sepi di salah satu rumah sakit besar di Seoul. Sepatu wanita itu berwarna merah darah, kakinya yang jenjang dibungkus celana bahan berwarna merah senada dengan sepatu, baju, mantel dan sebuah topi model koboi. Wajahnya dipoles make up ala-ala gotic, bibirnya dipoles lipstick merah darah nyaris hitam.

Langkah kakinya terhenti pada satu ruangan rawat dengan tulisan VIP cukup besar di samping knop pintu ruang rawat tersebut. Dengan langkah pasti ia memasuki ruang rawat tersebut, menatap sekeliling dengan pandangan menelisik.

Pandangannya lalu jatuh pada sesosok remaja dengan rambut hitam lurus, tertidur di tempat tidurnya dengan wajah terlelap. Ia mendekat, menatapi wajah itu cukup lama lalu membuka topi koboi yang menutupi setengah wajahnya. Ketika topi itu terlepas, yang nampak adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang lurus, dan tatapan matanya begitu teduh.

"Seperti yang diharapkan ibumu, kau tumbuh menjadi pemuda manis yang kuat"

Wanita itu mulai bermonolog sendiri. Ia melepas sarung tangannya, menyentuh kepala Jimin dan mengusapnya penuh sayang dan lembut. Wajah pemuda itu semakin terlelap bahkan jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tanpa sadar wanita itu tersenyum, beralih menyentuh kening si pemuda manis-tepatnya luka yang diderita.

"Sudah cukup kau menderita, aku akan memberimu sedikit kebahagian"

Yoongi terbangun dari tidur singkatnya di sofa rumah sakit. Ia mendudukan dirinya, menatap jendela ruang rawat Jimin yang sudah terbuka bahkan gorden itu sudah tersibak sehingga cahaya matahari pagi masuk dengan leluasa. Ia mengedarkan pandanganya, terkejut setengah mati melihat Jimin sudah bangun dari ranjang tempat dia di rawat, bahkan pemuda manis itu sudah membereskan barang-barangnya.

"Yak! Park Jimin!"

Jimin menoleh, tersenyum melihat Yoongi sudah bangun dari tidurnya. Menghampiri Jimin, memutar-mutar tubuh Jimin lalu tercengang sendiri melihat kepala Jimin sudah tidak berbalut perban lagi.

"Kenapa kau melepas perbannya?" tanya Yoongi kesal. Jimin berdecak, menjauhkan tangan Yoongi lalu menyibak rambutnya memperlihatkan luka yang semalam ia derita sekarang sudah sembuh total bahkan tidak ada bekas sama sekali.

Melihat hal itu Yoongi terperangah, terkejut melihat luka yang masuk kategori parah itu bisa sembuh dalam semalam. "Bagaimana bisa?" akhirnya hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Yoongi atas keterkejutan dan ketidak percayaan.

Jimin tersenyum kecil, merapihkan rambutnya sebentar lalu menatap Yoongi, "Aku tidak tahu sejak kapan, tapi semenjak eomma meninggal jika aku menderita luka atau sakit parah pasti aku akan sembuh setelah tidur. Aku tidak tahu, tapi aku yakin eomma yang menyembuhkanku."

Jimin menjawab dengan diakhiri senyum cerah, lalu kembali mengemas barang-barangnya ke dalam tas. "Ahjussi, kita bisa pulang sekarang? Aku harus bersiap-siap mengambil buku karena aku harus mengikuti tes masuk dan beasiswa kuliah"

Yoongi tidak menjawab, ia menyentuh lengan Jimin, mengarahkan tubuh mungil itu menghadapnya. Menatap istrinya dengan pandangan khawatir yang begitu kentara, juga ada tatapan takut saat Yoongi menatap Jimin.

"Kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya Yoongi memastikan.

"Nde, aku sudah baik bahkan aku merasa tubuhku jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku benar-benar sudah sehat"

"Memang kau sudah belajar untuk tes masuk dan beasiswa itu? Jangan terlalu memaksakan diri"

Jimin tertawa kecil melihat sikap perhatian Yoongi untuknya, dengan hati-hati Jimin mengarahkan telapk tangan besar itu ke kepalanya lalu tersenyum lembut.

"Aku benar-benar, sungguh-sungguh, baik-baik saja. Ahjussi tidak perlu khawatir, aku sudah menyimpan semua jawaban itu di folder otakku" ucap Jimin membanggakan kemampuan otaknya yang bisa dibandingkan dengan Youngjae.

Yoongi tertawa, mengusak kepala itu sayang lalu menariknya dalam sebuah pelukan. Jimin terkejut, tangannya menggantung di udara seperti hendak membalas pelukan Yoongi namun ia tersadar akan satu hal. Terutama bayangan ciuman itu kembali muncul di otak mereka secara bersamaan.

Gumiho berusia ratusan tahun itu lebih dulu melepas pelukannya, matanya bergerak gugup begitu juga dengan Jimin. Pemuda manis itu nampak bingung mau melakukan apa, padahal tadi diotaknya sudah tersusun dengan baik tapi karena pelukan itu semuanya pergi entah kemana.

"Aku… aku akan memasukan ini lalu berjalan keluar"

Yoongi mengangguk, membiarkan Jimin memasukan barang terakhirnya namun dia tidak berjalan keluar tapi malah mematung melihat jam yang melingkat di tangan Yoongi.

"Ini jam berapa?"

"Lima belas menit sudah lewat dari jam delapan"

"JINJJAYO?!"

Yoongi berjalan mundur, memegang telinganya yang berdengung sakit karena teriakan melengking Jimin. Pemuda manis itu gugup, menggaruk kepalanya sambil memakai mantel dan syal yang kemarin ia pakai. Lalu pandangannya berubah garang melihat Yoongi hanya berdiri saja tanpa berniat membantunya.

"Ahjussi tidak mau membantu?"

"Wae?"

"Sudah sepuluh menit berlalu dari waktu tes! Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini!"

Yoongi tersenyum, menarik tangan Jimin lalu menunjuk pintu ruang rawat Jimin. "Kau lupa punya suami Gumiho? Setelah keluar dari pintu aku akan membawamu ke lorong dan kita bisa langsung ke tempat tesmu"

Jimin nampak tersipu mendengar ucapan Yoongi mengenai dirinya adalah istri Yoongi dan Yoongi adalah suaminya. Kepalanya menunduk, memandang pergelangan tangannya yang di genggam Yoongi begitu erat.

"Kau mau menjadi suamiku?"

"Kau itu memang istriku, tapi sebelum itu kau harus jadi pacarku"

"Apa aku sekarang pacarmu?"

"Eoh, kau pacarku sekarang"

Jimin tidak bisa tidak tersenyum, ia menurut saja saat Yoongi menariknya keluar dari ruang rawat dan membawanya melewati tikungan lorongan rumah sakit dan mereka langsung sampai di depan ruang tes. Jimin segera masuk ke sana, dengan senyum penyemangat Yoongi.

"Hwaiting!"

To Be Continue

Gimana chapter ini? gaje? Aku mohon maaf jika gaje *deepbow* aku soalnya mentok chapter ini dan aku kayaknya terkena gejala writer block, dan aku nggak mau kena itu lagi. Aku udah berusaha sembuh dari tu penyakit, jadi aku akan menyempatkan nulis apa pun liburan ini, heheheh meskipun gaje…

karena itu baca chapter selanjutnya ya, sebenernya dua chapter ini awalnya jadi satu tapi kepanjangan jadi aku potong jadi dua, gitu hehehe makanya aku double update lagi aku juga udah punya kuota normal makanya aku update jam segini karena itu, aku nggak bangun malem lagi yeay!

dan…

Aku mau curcol sedikit ya, soal ff ku yang cast nya exo itu. udah lama banget aku nggak buka karena aku masih sedikit patah hati karena kabar waktu itu Kai EXO pacaran /karenadiabiasku/. Tapi sekarang pas aku iseng-iseng buka aku pengen ngelanjut salah satu ff itu, loh yang judulnya The King of Coffee ada yang pernah baca? *nggakada* *pundung* karena efek ngeliat MV EXO Universe…

Aku pengen ngelanjut nulis itu ff tapi kayaknya aku nggak ngelanjut di sini tapi di WATTPAD karena apa? aku ngeliat responnya waktu itu kurang sih, jadi aku pengen pindahin ke WATTPAD.

Udah itu tadi curcol sedikit dari anak SMA ini. intinya aku Cuma bisa bilang, Wow! Terimakasih yang udah dukung dan baca ff ku ini ya. Aku sayang kalian! maaf kan aku misalnya ada balesan review yang nggak nyampe tapi yakinlah aku selalu baca dan teriak-teriak sendiri ngebayangin ekspresi kalian setiap kali baca ff ku ini.

jangan lupa review aka tinggalkan jejak karena review kalian itu membuatku semangat 45

LOVE YOU! *alaBlackPink*

SARANGHAEYO! *LOVESIGNbarengGuanlin*

Se-

p.s: aku akan update ff comeback ku cast EXO itu pas tahun baru, hehehehe *jadi siap-siap ya*

p.s.s: itu kalo nggak ada halangan yah, tapi aku pasti akan update.

p.s.s.s: ff exo yang aku bold itu tunggu ya, aku akan revisi ulang dan update secepat mungkin di akun wattpad ku.

p.s.s.s.s: apa ada yang mau berteman sama aku? Anak SMA yang punya otak gesrek? *kedipimut* bisa LINE atau DM di IG, kalau mau di follback tolong DM dulu ya.

*kali ini bener-bener*

See you~~~ *HEARTSIGN*