(WANNA ONE-Beautiful, BTS-Spring Day, Kwill-That Person, Kwill-Growing)


Jimin menyelesaikan ujian saringan masuk dan beasiswa itu cukup cepat. Ia keluar dari ruang tes dengan senyum sambil menggenggam hasil tesnya. Ia memilih berjalan-jalan sebentar mengamati lingkungan kampus yang akan ia tempat empat tahun ke depan nantinya. Tersenyum lebar melewati salah satu ruangan dengan tulisan Dance Club. Sudah lama Jimin ingin bergabung dalam club seperti itu tapi…

Semua itu terhalang karena genk trouble maker menghalanginya. Ia menarik, menghembuskan nafas pelan lalu kembali berjalan keluar lingkungan kampus.

"Park Jimin!"

Namun langkahnya terhenti melihat Jungkook ada di depannya, bersama Jieun, Bambam, Jinyoung, dan Baekhyun. Pria yang satu sekolah dengannya itu melangkah maju, matanya mengernyit melihat benda yang digenggam Jungkook. Bukan sebuah bom atau senjata tajam, ia tidak akan heran jika Jungkook membawa itu tapi… ini aneh sekali.

Jungkook membawa bunga. Ya, bunga. Jimin tidak salah lihat, Jungkook membawa seikat bunga lily berwarna putih. Bukan hanya itu permasalahannya, tapi bagaimana Jungkook tahu kalau Jimin menyukai bunga ini.

"Untukmu"

"Kenapa kau memberikanku bunga ini?" tanya Jimin heran, belum berniat menyentuh atau menerima bunga itu. Jungkook menghela nafas, menarik tangan Jimin paksa lalu menyerahkan bunga itu agar tugasnya ini selesai.

"V hyung yang memintaku melakukan ini, pria tua itu bilang aku harus memperbaiki hubunganku dan teman-temanku padamu. Dia bilang karena kita semua akan lulus dan berpisah, sudah seharusnya meminta maaf"

Jimin tahu Jungkook tidak berbohong, sepertinya ini memang benar dari V dan perintah V. hell, tidak mungkin sekumpulan murid yang suka membully nya dengan suka rela memberikan hadiah berupa bunga untuknya. Semua itu pasti ada yang memerintahkannya, tidak mungkin karena inisiatif sendiri kecuali jika dunia mau kiamat.

"Dimana Seulgi dan Irene?" tanya Jimin setelah menyadari satu hal bahwa anggota mereka kekurangan orang. Jungkook menghela nafas, melirik ke arah belakang sekali lagi sebelum menatap Jimin yang menanti jawaban darinya.

"Mereka pindah keluar negeri, menghindari gossip yang aneh-aneh. Jadi, kami hanya tinggal berlima"

Jimin mengangguk paham. Itu pasti, tidak mungkin Seulgi dan Irene tahan dengan segala macam pemberitaan miring tentang orangtua mereka, terutama sikap mereka selama ini di mata publik sangat buruk. Wajar jika mereka pindah keluar negeri. Jimin kembali tersenyum, menunjukkan bunganya sekali lagi.

"Gomawo, aku suka bunganya"

"Jangan berterimakasih karena aku tidak menerima ucapan terimakasih"

"Aku harus mengatakannya karena aku akan cegukan jika menahan rasa terimakasihku" balas Jimin dengan senyum kecil, menatapi bunga itu ngina empat teman Jungkook yang nampak bosan melihat interaksinya bersama Jimin. Ia menghela nafas lalu tersenyum kecil sebelum pergi dari hadapan Jungkook.

Jimin pergi begitu saja melewati genk trouble maker, seperti hembusan angin. Jungkook terpaku, ia merasakan perasaan itu, perasaan tidak ingin dilupakan. Ia menoleh ke belakang menemukan Jimin sudah berjalan cukup jauh meninggalkan area kampus tempatnya tes tadi. meninggalkan Jungkook dalam kebingungan untuk kesekian kalinya, bahkan pria bermarga Jeon itu memegang dadanya sendiri yang sedikit berdenyut sakit.

Apa maksud semua ini?

Yoongi bersedekap, menatap NamJoon dengan pandangan tajam penuh tuntutan saat keponakannya itu memberikan gulungan lukisan yang ia titipkan pada Kakek Kim beberapa hari lalu untuk di jaga atau di bakar saja. Tapi bukan itu yang membuatnya kesal setengah mati dengan keponakannya ini.

"Saat aku ingin memberikannya pada Samchon, Samchon penyewa memaksa untuk diperlihatkan isi di dalamnya lalu dia menangis"

"Kau tidak menghalanginya?"

"Sudah. Tapi dia memaksa, terpaksa aku setuju dan memperlihatkannya. Lalu dia menangis melihat lukisan wanita itu. aku tidak tahu kenapa"

Yoongi mengernyit, mencengkram lukisan adiknya cukup kuat sebelum menyimpannya kembali ke dalam lemari baik-baik. Namun ia kembali mengambil lukisan itu dan berjalan ke kamar SeokJin yang tidak di kunci.

SeokJin menoleh dengan malas-malasan, ia berdiri saat Yoongi mengangkat gulungan lukisan yang ia tangisi semalam. Ia menghela nafas, menatap NamJoon yang yang hanya mampu berdiri di belakang Yoongi seperti meminta bantuan.

"Kau melihat lukisan ini tanpa seizinku, bahkan kau tidak mengindahkan halangan dari NamJoon. Aku juga mendengar kau menangis tersedu-sedu"

SeokJin berdecak, lima detik kemudian dia menghela nafas berat seraya melirik gulungan lukisan itu sekali lagi sebelum menatap Yoongi yang sedang menunggu jawaban darinya.

"Aku tidak tahu kenapa aku menangis" ucap SeokJin dengan nada lesu. "Aku bahkan memikirkannya semalam penuh tapi aku tidak mendapat jawaban yang pasti dan masuk akal" lanjut SeokJin dengan wajah bertambah lesu dan bingung pada dirinya sendiri.

Sementara Yoongi, ia terlihat tertarik dan ingin mendengar lebih jauh tentang apa yang dipikirkan SeokJin saat melihat lukisan adiknya itu.

"Apa dia kekasihmu?" tanya SeokJin.

"Anni, dia adikku yang sudah lama meninggal"

"Samchon mempunyai adik secantik itu?"

Kali ini NamJoon yang ikut-ikutan heboh, bahkan ia keluar dari persembunyiannya, berdiri di antara Yoongi dan SeokJin yang saling berhadapan melempar tatapan andalan mereka masing-masing. Yoongi dengan tatapan sipit, tajam penuh tanya ke arah SeokJin. Sementara vampire tampan itu terlihat penasaran dan terkejut.

"Aku seperti melihatnya"

"Tidak mungkin, adikku bukan seorang pendosa. Dia mati karena di bunuh, tidak mungkin kau mengambil darah dan nyawanya"

"Aku memang tidak terlalu yakin, tapi bisa saja dia berenkanasi menjadi orang jahat lalu aku datang mengambil darah dan nyawanya"

"Dia sudah berenkanasi?" tanya Yoongi kali ini maju selangkah, berharap bahwa SeokJin akan berkata ya. Karena jujur ia sangat merindukan adiknya ini, tidak peduli bagaimana sikapnya sekarang dan bagaimana rupanya Yoongi benar-benar ingin bertemu dan mengatakan segalanya yang tidak sempat ia katakana dulu.

"Aku juga tidak terlalu yakin, aku hanya merasa saja"

Yoongi diam, ia sedikit mengangguk kecil bahwa ia paham akan semua ucapan SeokJin. Ia lalu menghela nafas, keluar dari kamar vampire itu diikuti NamJoon di belakangnya. Berbagai pertanyaan tentang SeokJin sekarang mulai bermunculan di kepala Yoongi. Terutama kenapa SeokJin terlihat begitu sedih dan memikirkan masalah kecil ini.

Bisa saja dia hanya ikut terhanyut dalam tatapan mata adiknya di lukisan ini, itu bisa saja terjadi. Tapi mengingat kembali bahwa SeokJin bukan orang yang begitu sentimental kecil kemungkinan membuat SeokJin menangis hanya karena sebuah lukisan.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah…

Apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan masa lalu SeokJin dulu?

Apa mereka saling berhubungan?

"Hubungan?"

Sungwoon menoleh sambil mengangguk, meyakinkan pendengaran Hoseok. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah taman bermain, menatapi anak-anak kecil yang asik bermain tanpa merasa terganggu dengan kehadiran dua wanita cantik berpakaian aneh di tempat mereka bermain.

Hoseok mengambil nafas mendengar pertanyaan Sungwoon tentang apa itu sebuah hubungan menurut dewa kegelapan.

"Aku tidak tahu hubungan itu apa karena aku sama sekali belum pernah memiliki atau merasakan hubungan itu. selama ini aku hidup di bawah, mengawasi malam sendirian. Jadi, aku tidak tahu apa itu hubungan" jawaban Hoseok membuat Sungwoon sedikit kecewa.

Penjaga kaum supranatural pendosa itu menghela nafas, ternyata percuma bertanya pada Hoseok. Dia memang seorang dewa tapi dia berasal dari dunia bawah yang gelap dan penuh dengan… itu tidak perlu dijelaskan.

"Tapi aku pernah melihat sebuah hubungan yang rumit"

Sungwoon kembali menoleh, menatap Hoseok penuh tanya dan rasa penasaran tinggi. Hoseok tersenyum kecil, menyilangkan kakinya lalu meneguk soda dingin di tangannya sampai habis.

"Sudah lama sekali itu terjadi. Sebuah kisah cinta yang manis di awal dan berakhir sangat tragis. Si perempuan mati, si laki-laki mati dan pihak ketiga juga mati"

"Kisah cinta segitiga? Kau pernah melihatnya?"

"Eoh, aku melihatnya sekarang pun aku sedang menyaksikannya"

Sungwoon menoleh, ke arah pandangan Hoseok ke sebuah jalan menuju sekolah Jimin. Ia tahu yang dibicarakan wanita sexy ini bukan kisah cinta pendosa itu tapi kisah cinta yang terulang kembali. "Kisah cinta mereka terulang kembali?" tanya Sungwoon memastikan ucapan ambigu Hoseok yang sangat sulit di pahami.

"Bukan, kisah cinta rumit itu sekarang dialami si pendosa Gumiho itu. Dia benar-benar kejam, aku tidak menyangka dia akan memberi hukuman tambahan pada Yoongi"

"Aku tidak tahu kisah cinta itu, aku juga tidak mengerti apa yang kau bicarakan" ucap Sungwoon berusaha untuk tidak mendengarkan dan tertarik lagi. Perkataan para dewa itu memang membingungkan dan sulit dipahami oleh orang seperti dirinya yang bukan bagian dari para dewa tersebut.

"Aku ingin melihat kisah cinta ini akan berakhir bahagia atau… tragis"

Jimin pulang ke rumahnya dengan senyum. Rumahnya, mansion besar milik Yoongi tentu saja. Semenjak ia berhasil mencabut satu panah di dada Yoongi, ia sudah mengklaim bahwa dirinya adalah milik Yoongi dan begitu pun sebaliknya. Tidak ada yang boleh pergi, ia tidak akan pergi dan dia tidak akan mengjinkan Yoongi pergi darinya.

Ia semakin tersenyum melihat Yoongi ada di teras rumah, berdiri tegak sambil menyembunyikan tangannya di balik punggung. Dengan sedikit berlari dan melompat-lompat ia menghampiri Yoongi lalu tanpa aba-aba menunjukkan hasil ujian masuknya.

"Aku diterima! Aku diterima sebagai mahasiswa di sana jurusan Sastra Korea, aku juga mendapat keringanan biaya 50%. Ahjussi tidak akan membayar mahal kuliahku nanti"

"Kau sudah bekerja keras, chukae!"

Jimin mengangguk, menerima ucapan selamat dari Yoongi. Senyumnya semakin melebar melihat benda yang disembunyikan Yoongi ternyata sebuah bunga. Bukan lily tapi sebuah bunga berwarna ungu, ia tidak tahu jenis bunganya apa tapi bunga itu terlihat cantik dan wangi sekali.

"Gomawo"

"Kau tidak perlu berterimakasih, kau pantas menerimanya" ucap Yoongi mengambil langkah semakin dekat dengan Jimin. Mengusak kepala itu penuh sayang, memunculkan rona merah muda tipis di kedua pipi tembam itu. Menambah kesan manis dan cantik di wajah istrinya-coret-pacarnya ini.

"Aku mendapat dua bunga hari ini" ucap Jimin seraya menyentuh salah satu kelopak dari bunga berwarna ungu itu. Tersenyum kecil melihat wajah masam Yoongi karena dia bukan orang pertama yang memberikan bunga pada dirinya.

"Ahjussi cemburu?"

"Anni"

Jimin semakin tertawa melihatnya, ia melirik tasnya yang sedikit mengembung karena terisi bunga lily pemberian Jungkook tadi. ia sengaja menyembunyikannya karena pasti Yoongi akan memberikan rentetan pertanyaan tentang bunga cantik itu.

"Aku mendapatkannya dari V sonsaengnim, tapi Jungkook yang memberikannya"

"Ah! Si berandal itu, kau sekarang dekat dengannya padahal kau sudah memiliki pacar apalagi pacarmu itu Gumiho"

Jimin tertawa, memeluk bunga pemberian Yoongi lalu beralih memeluk tubuh tegap ahjussi dengan sangat erat. Yoongi tertegun, menatap Jimin yang sedang menepuk-nepuk punggungnya. Entah apa maksudnya, tapi ia sama sekali tidak menolak tapi ia juga tidak membalas pelukan yang diberikan Jimin.

"Ahjussi tenang saja, aku lebih menyukai pemberian ahjussi"

Yoongi tersenyum, namun ia menghilangkan senyumnya ketika Jimin mengendurkan pelukannya sehingga mereka kembali berhadapan. Melihat itu Jimin kembali merengut dan memeluk Yoongi sekali lagi bahkan kali ini lebih erat.

"Kau lebih menyukaiku?" tanya Yoongi kali ini tangannya tergantung di udara berniat membalas pelukan Jimin. Pemuda manis nan mungil itu mengangguk semangat, sebagai jawaban ya. Tanpa banyak bicara Yoongi menarik Jimin masuk ke dalam rumah tapi bukan rumah yang mereka tuju tapi sebuah pantai yang cantik.

Jimin semakin tersenyum, melepas genggaman tangan Yoongi. Berlari menghampiri bibir pantai seraya melemparkan sepatunya entah kemana. Yoongi tersenyum kecil, memungut sepatu Jimin lalu melepas sepatu miliknya dan terakhir menaruhnya di sebuah batu cukup besar tepat di samping tas sekolah Jimin.

"Ahjussi, kita ini dimana? Kenapa ahjussi selalu memberikan kejutan seperti ini? Kau tahu, aku sangat menyukai sebuah kejutan"

Yoongi mengangguk mengiyakan pertanyaan Jimin, ia terlalu malas menjawab karena ia lebih suka menatap wajah manis itu ketimbang membalas atau menjawab pertanyaan Jimin. Ia memperhatikan dalam diam tingkah Jimin yang sangat lucu.

Dimulai dari Jimin yang berjongkok di bibir pantai, menikmati bagaimana gelombang air laut menyapa kedua kaki putihnya yang telanjang, menikmati tekstur basah pantai yang membuatnya merasa tenang dan melupakan seluruh masalahnya sesaat. Tidak puas, ia berlari lebih dekat ke pantai hingga sebatas lututnya namun sebuah pelukan menghentikan langkah pemuda mungil itu.

"Jangan terlalu jauh, aku akan sulit mencarimu nanti"

"Ahjussi tidak takut air?"

"Aku sudah terbiasa melihatnya, kau tidak perlu khawatir"

Jimin mengangguk, melepaskan cengkraman Yoongi lalu mengajak pria yang jauh lebih tua darinya itu kembali ke pantai. Duduk di batu tempat mereka menaruh barang-barang mereka. Hanya duduk diam dengan kepala Jimin bersandar sepenuhnya pada bahu lebar Yoongi. Menutup matanya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

"Apa kau lapar?" tanya Yoongi tiba-tiba seraya memakai sepatunya kembali. Jimin mengernyit, menjauhkan tubuhnya menatap ahjussinya itu dengan bingung.

"Memang kenapa?" bukannya menjawab Jimin malah balik bertanya, Yoongi tersenyum kecil, berjongkok di hadapan Jimin lalu memakaikannya sepatu. Jimin terkejut, ia seperti enggan menerima perlakuan Yoongi yang satu ini tapi ia akhirnya pasrah saja.

"Ahjussi, seharusnya tidak perlu melakukan seperti itu" ucap Jimin setelah Yoongi selesai memakaikannya sepatu, "Aku masih bisa pakai sepatu sendiri" elak Jimin lagi seraya berjalan beriringan menjauhi bibir pantai. Mengikuti langkah Yoongi yang entah membawanya kemana.

"Tapi kau senang, kan?"

"Anni."

HIK!

"Eoh, aku senang dan kau puas mendengarnya?"

Yoongi tertawa puas, menggenggam tangan Jimin dan menariknya masuk ke salah satu baru karang besar yang membawa mereka ke tempat waktu itu. tempat dimana Jimin menghabiskan malam bersama Yoongi. Sekarang tempat itu terlihat jelas keindahannya, tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada sebuah danau besar yang airnya berwarna bening. Suasana di sini jauh lebih tenang ketimbang malam itu.

Tidak jauh dari danau itu terdapat sebuah meja dengan dua kursi berhadapan. Di meja itu juga sudah terisi penuh berbagai makanan yang terlihat lezat. Jimin tersenyum saat Yoongi menarik kursi untuk dirinya duduk.

"Gomawo"

"Kau tidak perlu berterimakasih, ini hadiah dariku"

Mendengar kata hadiah tiba-tiba ingatannya berputar pada malam itu. Malam dimana Yoongi memberikannya berbagai hadiah cantik dan mahal, sebelum dirinya di bawa ke ladang ilalang dan mencabut panah itu-tapi tidak berhasil. ia merasa janggal dengan seluruh hadiah itu, ia merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan dari diberikannya hadiah-hadiah itu.

"Ahjussi, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Jimin disela-sela acara makan mereka. Yoongi mengangguk, meletakan garpu dan pisaunya. Menaruh perhatiannya pada Jimin.

"Apa yang mau kau tanyakan?"

"Soal hari itu, hari dimana aku seharusnya mencabut panahmu" Jimin menggantungkan kalimatnya, mencari kalimat yang pas untuk bertanya secara sopan dan tidak menyinggung Yoongi. "Saat itu, kau memberikan sertifikat rumahmu pada Tuan Vampire, ahjussi juga memberikanku tas, uang dan hadiah lain yang sangat aku inginkan. Aku merasa ada yang aneh dengan semua itu."

Yoongi sudah menduga hal ini akan terjadi. Jimin itu termasuk orang yang pintar dan cukup peka dengan situasi sekitar, tidak mungkin anak sepintar itu tidak menaruh curiga pada apa yang ia lakukan kemarin. Ia hanya diam, menatap Jimin yang memang sudah menyelesaikan makannya sejak tadi.

"Aku merasa jika semua itu hadiah perpisahan dari ahjussi, karena semua keinginan kami terwujud. Aku merasa kau akan pergi jauh, aku bisa merasakannya ahjussi"

"Aku memang akan pergi"

Jimin membulatkan matanya, menatap Yoongi tidak percaya. Wajah tampan itu terlihat serius, menatap dirinya yang terdiam tidak percaya. Bisa dilihat Gumiho berusia ratusan tahun itu menghela nafas, membersihkan mulutnya sebelum melanjutkan ucapan nya yang terpotong.

"Kau masih ingat saat itu aku mengatakan aku akan pergi, kan? Sekarang aku harus benar-benar pergi."

"Ahjussi sudah berjanji tidak akan pergi dariku, ahjussi harus menepati itu."

Suara Jimin mulai terdengar serak, matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis mendengar Yoongi akan tetap pergi. Pergi entah kemana meninggalkan Jimin sendirian di sini tanpa seseorang yang ia percaya.

"Aku tidak bisa menahan kepergianku, bukan aku yang menentukan kepergianku"

"Ahjussi mau kemana? Apa tujuan ahjussi pergi dari sini?"

"Menemui seseorang, tapi aku tidak tahu dimana tempat itu"

Mata Jimin sudah sepenuhnya memerah, ia menunduk lalu memalingkan wajahnya mencegah Yoongi melihat air matanya. Namun percuma, Yoongi sudah melihatnya. Pria tampan itu menahan dirinya sendiri sekuat tenaga, ia tidak boleh lepas control karena melihat air mata Jimin.

"Aku tidak bisa mencegahmu jika kau memang ingin pergi. Ini keputusanmu, kan?" ucap Jimin sedikit bergumam pada dirinya sendiri. Yoongi tidak menjawab, menggeleng atau mengangguk, ia hanya diam memandangi Jimin dalam diam.

"Apa kita bisa pulang? Aku ada janji dengan Youngjae untuk bertemu di café dekat perpustakaan"

"Aku akan mengantarmu"

"Anni" tolak Jimin kali ini ia menengadah memandang langsung kedua mata tajam Yoongi. Memperlihatkan dengan jelas kedua matanya yang berair dan memerah. "Aku bisa pergi sendiri, ahjussi cukup membawaku pergi dari sini saja" lanjut Jimin, ia berdiri lebih dulu meninggalkan Yoongi yang masih terduduk dengan wajah datar.

Namun dibalik wajah datarnya, ia menangis dan sedih mengingat kepergiannya yang sesungguhnya memang benar akan terjadi. Ia akan benar-benar pergi, nantinya.

Pemuda manis dengan surai blonde itu menarik nafas panjang, tubuhnya ia bawa bersandar sepenuhnya pada sisi jembatan penyebrangan orang. Matanya menatap lurus ke langit kota malam Seoul tanpa berniat menoleh ke kanan atau ke kirinya, kenapa? Karena itu sama saja membuat suhu di badannya panas, iri melihat pasangan-pasangan itu.

Setelah cukup mendongak ia kembali menatap ke depan, matanya membola melihat seorang pria menatapnya dengan wajah cemberut sambil menunjukkan ponselnya. Pria itu berdiri cukup jauh dari posisi Taehyung-pemuda manis tadi- berdiri. Pria itu adalah Kim Jin atau SeokJin.

Ia segera merogoh tasnya, menatap ponselnya yang dalam mode silent menampilkan 15 kali missed call dari Kim Jin. Ia menggerutu, berlari kecil menghampiri SeokJin dengan wajah terkejut dan tidak percaya.

"Aku tidak mengcek ponselku karena kau tidak pernah menghubungiku"

SeokJin menghela nafas, namun ia tersenyum kecil melihat raut wajah manis itu sedikit merona memandangi ponselnya sendiri. Sepertinya Taehyung bahagia melihat kemajuan yang ditunjukan SeokJin untuk hubungan mereka ke depan.

Taehyung memutuskan untuk berjalan-jalan saja bersama SeokJin di pinggiran kota Seoul yang sudah mulai sepi dengan toko-toko yang sudah mulai tutup. Tidak ada yang bicara sama sekali, Taehyung masih sibuk tersenyum memandangi SeokJin yang sejak tadi juga tersenyum.

"Aku terkejut kau menghubungiku lebih dulu, Jin-ssi"

"Jinjja? Aku menghubungimu untuk mengatakan bahwa aku tidak punya agama"

Taehyung mengernyit, namun ia tertawa kecil kemudian, "Kau itu pria yang imut" ucap Taehyung spontan. SeokJin semakin tersenyum, entah kenapa ia lebih senang mendengar kata-kata imut dari Taehyung ketimbang tampan.

"Kau hanya ingin mengatakan itu?" tanya Taehyung masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan SeokJin bahwa pria tampan itu jauh-jauh datang ke sini, menelfonnya lebih dari sepuluh kali hanya untuk mengatakan itu.

"Aku juga ingin bertemu denganmu karena aku merindukanmu"

Mata Taehyung membulat begitu juga dengan SeokJin yang terkejut dengan ucapannya sendiri. Lalu mereka tersenyum, tertawa kecil bersamaan. Taehyung menarik nafas, memandangi wajah SeokJin dalam diam.

"Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Anni, aku hanya ingin melihat wajah tampan dan imutmu"

"Apa aku memang seimut itu?"

Taehyung semakin tertawa, menatap SeokJin sambil mengangguk sebagai jawaban ya. SeokJin mengangguk paham lalu tersenyum makin lebar dan Taehyung makin tertawa.

"Apa kau tidak pernah di puji seperti itu?" tanya Taehyung yang langsung dijawab gelengan oleh SeokJin. Tentu saja tidak pernah, dia kan vampire, tidak pernah berhubungan dengan manusia kecuali jika menyangkut pekerjaan. Ia juga tidak pernah menjalin hubungan dengan sesame vampire karena menurutnya itu buang-buang waktu dan percuma.

"Tidak pernah, baru pertama kali ada orang yang memujiku sepertiku"

"Jinjjayo? Itu bagus, karena akan lebih baik kau seperti itu. apa adanya karena aku menyukaimu apa adanya"

SeokJin mengangguk paham, mereka kembali berjalan beriringan tapi kali ini Taehyung berjalan sedikit lebih cepat lalu menghentikan langkahnya tepat di depan SeokJin yang terlihat bingung.

"Dalam memulai suatu hubungan, kita diperlukan untuk saling jujur satu sama lain. Karena itu aku akan memberitahu satu rahasia besarku tentang namaku" ucap Taehyung seraya memasukan kedua tangannya ke saku mantel berwarna merah yang ia kenakan. Tersenyum kecil penuh kesenduan dan kesedihan.

"Aku sebenarnya memiliki tiga nama"

Taehyung memulai ceritanya sambil menunjukan angka tiga dengan jarinya, "V, Kim Taehyung dan Min Chohee"

SeokJin termenung, tidak mengerti dan cukup tertarik mendengar nama terakhir yang diucapkan Taehyung. Pemuda manis itu menarik nafas, menurunkan jarinya lalu memandang lurus di kedua mata SeokJin.

"Orangtuaku sangat miskin, bahkan untuk makan tiga kali sehari saja sudah merupakan keajaiban. Tapi aku bahagia dengan semua itu, namun ada satu hal yang tidak aku sukai yaitu nama lahirku yaitu Min Chohee. Karena setelah aku lahir dan diberi nama itu, ada banyak kesialan menimpa keluargaku. Mulai dari ladang mereka terbakar habis, ibuku sakit-sakitan, ayahku juga sama dan sampai pada akhirnya mereka meninggal"

"Rasa benciku terhadap namaku semakin besar, aku tidak ingin lagi orang-orang memanggilku Chohee. Aku seperti merasa ada banyak kesedihan, penyesalan, dan cinta yang tidak tersampaikan lewat nama itu"

Setelah mengantar Jimin, Yoongi pergi ke sebuah kuil yang cukup jauh dari kota Seoul. Tempat itu begitu jauh dan asri, hanya terdapat satu kuil dengan berbagai nama tertempel di depan patung Budha. Yoongi duduk bersujud di depan patung Budha sambil menulis dua nama di sebuah kertas untuk ia terbangkan malam ini.

Nama pertama yang ia tulis adalah…

Min Chohee

"Setelah orangtuaku meninggal aku di tempatkan di sebuah panti asuhan yang begitu kejam. Aku disiksa, di pekerjakan paksa di ladang dan dijadikan pembantu. Tidak cukup aku juga menderita pembullyan di sekolah karena namaku yang seperti wanita dan aku miskin serta yatim piatu. Bertahun-tahun aku menerima semua itu sampai sebuah keluarga kaya mengadopsiku dan memberiku nama baru Kim Taehyung, tapi itu bukan akhir bahagiaku"

SeokJin bisa melihat ada kesedihan di mata Taehyung sejak pertama kali Taehyung bercerita tentang hidupnya yang begitu menyedihkan. Mata indah itu berkaca-kaca, seperti ingin menangis histeris mengenang hidupnya yang penuh sengsara.

"Mereka menjadikan ku pembantu pribadi mereka, bahkan aku hampir mendapat pelecehan seksual. Tapi aku berhasil kabur ke Seoul tanpa uang sama sekali, hanya modal dengkul dan usiaku saat itu lima belas tahun. Setelah setahun lamanya aku terluntang lantung aku ditemukan oleh Kakek Jeon dan aku dirawat olehnya."

"Aku tetap menggunakan nama Kim Taehyung karena nama itu yang terdaftar di akta, kartu keluarga dan KTP. Sebenarnya aku benar-benar tidak mau menggunakan dua namaku sebelumnya karena itu aku mencari nama sesuai keinginanku hingga akhirnya aku memilih V. Dari situ aku menutup seluruh akses orang-orang mengetahui namaku dan mereka harus mengenalku dengan nama V"

Taehyung menyelesaikan ceritanya dengan diakhiri membuat tanda peace seperti huruf V untuk menyimbolkan namanya yang unik yang hanya terdiri dari satu huruf.

Setelah selesai menulis Min Chohee, ia kembali menulis sebuah nama yang tidak ia tahu asal usulnya. Ia hanya mengetahui nama itu dari catatan masa lalu adiknya. Ia tidak pernah melihat rupa si pemilik nama, tapi pada saat itu ia melihatnya. Rupa si pemilik nama, meskipun tidak terlihat jelas tapi rupa itu adalah sumber dari segala kesedihan dan tetesan darah yang dikeluarkan Chohee.

Wang Jung

"Kau tahu, Kim Jin-ssi. Aku merasa lebih ceria, bahagia dengan nama V ini" ucap Taehyung dengan mata yang tidak berkaca-kaca lagi, mata itu sudah kembali indah meskipun masih sedikit merah tapi semua itu tertutupi dengan senyum ceria Taehyung.

"Kim Jin-ssi"

"Nde?"

Taehyung maju selangkah, memajukan tubuhnya menatap mata SeokJin lalu penampilan pria tinggi ini sekali lagi. Menelisik kepribadiannya tapi Taehyung tidak pernah berhasil, ia akan selalu gagal dan berakhir mengerang kesal.

"Beritahu nama aslimu, meskipun kau mengucapkannya dengan penuh keyakinan aku tahu kau tidak memberi tahu nama aslimu. Jadi, siapa nama aslimu, Kim Jin-ssi"

SeokJin terkejut, tubuhnya tiba-tiba saja kaku seperti kayu mendengar pertanyaan Taehyung. Bibirnya terasa kelu tidak bisa digerakan untuk membantu mulutnya bicara, ia masih tidak tahu resiko apa yang terjadi jika manusia mengetahui namanya. Selama ini ia sudah cukup banyak melanggar aturan, ia tidak mau melanggar aturan paling atas mengenai nama.

Ia tidak boleh melanggar aturan, tapi tatapan Taehyung yang sedikit memohon membuatnya bimbang dan dilema.

Tetap pada aturan atau membelok pada aturan?

Nama terakhir. Sebuah nama yang mampu membuat emosinya meledak sampai ke ubun-ubun, matanya memerah menahan tangis dan amarahnya setiap kali mengingat nama itu. nama yang sudah membuat adiknya mengeluarkan air mata, darah dan nyawa. Karena si pemilik nama itu sudah membuat keputusan yang membuat adiknya kehilangan nyawa.

Sebuah keputusan yang membuat dirinya juga ikut terkena hukuman. Tangannya bergetar menggerakan kuas tebal itu di atas kertas, emosi sudah mulai melingkupi tubuhnya. Tapi ia harus tetap melakukan ini.

Wang

Seok

Wang Seok.

SeokJin tersentak, merunduk menahan sakit di kepalanya. Tangannya meremas rambutnya mencoba menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Bahkan bukan hanya kepala, dada, tangan dan seluruh tubuhnya merasakan sakit luar biasa tanpa sebab.

"Kim Jin-ssi, kau kenapa? Apa kau sedang sakit hari ini? apa kau salah makan?"

Taehyung mulai panik, ia melangkah semakin maju hendak mengcek kondisi SeokJin tapi pria itu dengan kasar menepis tangan Taehyung. Matanya menyalang berwarna merah darah, Taehyung terkejut matanya membola melihat warna mata SeokJin tiba-tiba saja berubah seperti itu.

"V-ssi, turuti ucapanku setelah kau memandangku"

Tubuh Taehyung mendadak lemas, matanya kosong saat beradu pandang dengan mata SeokJin yang semerah darah. Tubuhnya bergerak perlahan mundur, memberi jarak cukup jauh dari SeokJin masih dengan pandangan kosong.

"Berbalik dan pulanglah, kau tidak pernah menemuiku dan aku minta maaf karena melakukan ini"

Taehyung menurut. Dia berbalik, meninggalkan SeokJin yang sudah jatuh terduduk dengan tubuh meringkuk menahan sakit.

Setelah melepas lampion itu, Yoongi memilih berdiam diri di salah satu sudut perpusatakaan yang sering Jimin datangi untuk belajar. Bahkan ia berdiri di tempat Jimin selalu membaca, pandangannya lurus ke luar jendela perpustakaan, ia tahu jika Jimin mencarinya entah apa yang mau dibicarakan Jimin tapi ia akan diam memandangi bagaimana Jimin mencarinya begitu kelimpungan.

Ia menyukainya, ia menyukai segala perhatian kecil dan kekhawatiran berlebihan Jimin padanya. Senyumnya semakin mengembang melihat orang yang ia bicarakan melewati kaca jendela perpustakaan tempat Yoongi melihatnya.

Jimin tidak menyadarinya tapi Yoongi akan selalu menyadari kehadiran Jimin. Karena Jimin adalah belahan jiwanya, bukan lagi istrinya.

Tapi belahan jiwanya.

Cinta pertamanya.

Hidupnya.

Juga malaikat pencabut nyawanya.

Ia sadar akan hal itu, ia sadar Jimin seperti pisau. Di satu sisi dia bisa membantu pekerjaan Yoongi tapi di sisi lain dia bisa melukai Yoongi. Begitu juga dirinya di hidup Jimin, ia bisa membantu pekerjaan Jimin tapi juga bisa menghancurkan hidup Jimin.

"Kau sudah sadar jika kau seperti itu?"

Yoongi terkejut, tiba-tiba saja kaca jendela itu tertutup salah satu rak buku di perpustakaan. Menghalangi pandangan Yoongi untuk melihat Jimin. Tidak sampai di situ, seluruh rak-rak itu bergerak sendiri menghimpit tubuhnya dalam kegelapan dan sebuah cahaya muncul dari sisi sebelah kanannnya.

"Kau masih mengingatku, kan?"

Salah satu rak itu terangkat, menampilkan sosok wanita berpakaian merah menyala yang sama saat di rumah sakit. Yoongi memandang wanita itu bosan.

"Kau memakai tubuh manusia yang cantik" ucap Yoongi berbasa-basi.

"Kau benar, aku memakai tubuh seorang wanita bernama Kim Taemin. Tapi aku ke sini bukan untuk mendengar pujianmu"

Aura cantik dari wanita tadi-Kim Taemin tiba-tiba menghilang digantikan aura menyeramkan dan mencekam. Matanya menyipit tajam, tiba-tiba saja ia memunculkan panah di dada Yoongi dengan sangat jelas. Lalu memandang wajah Yoongi yang sama sekali tidak takut saat berbicara dengan soerang dewi kelahiran seperti Taemin.

"Aku ke sini untuk bicara sesuatu yang penting denganmu, karena penjaga kaum pendosa itu tidak becus menyampaikan pesanku"

SeokJin sudah kembali normal, ia kembali ke rumah dan duduk berhadapan dengan Jimin yang tiba-tiba saja ingin bicara dengannya. Anak SMA tingkat akhir itu nampak tersenyum kecil memandangi SeokJin.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan tentang dirimu yang masuk daftar black?" tanya SeokJin menebak pertanyaan Jimin, tapi bukan itu yang dipikirkan Jimin. Ia ingin membaca pikiran Jimin tapi tidak pernah berhasil. entah pagar apa yang membatasi SeokJin untuk membaca pikiran Jimin.

"Anni, aku ingin menanyakan sesuatu tentang ahjussi"

SeokJin sedikit terkejut mendengarnya, ia menatap Jimin yang juga menatapnya penuh harap dan memohon. Ia bisa melihat bahwa Jimin begitu sangat memikirkan tentang Yoongi selama, memikirkan segala sikap aneh yang Yoongi miliki.

"Tentang panah yang ada di dada Ahjussi, saat aku berhasil mencabut satu panahnya. Panah itu berkurang menjadi tujuh bukan delapan, aku juga melihat hal aneh lainnya. Panah-panah itu nampak mengalirkan darah dan api biru yang menyeramkan. Apa maksudnya? Kenapa aku bisa melihatnya seperti itu?"

SeokJin terkejut, tentu saja ia tahu semuanya karena Ha Sungwoon pernah menceritakan tentang kisah Gumiho yang begitu melegenda dan terkenal itu. dia sengaja memberikan pelindung untuk panah itu dan membuat ilusi bahwa panah itu sembilan tapi buktinya. Panah itu berjumlah delapan karena Yoongi pernah memberikan panahnya dalam bentuk kehidupan pada seorang wanita korban kecelakaan yang sedang hamil.

Dan wanita itu adalah Kim Jongin ibu kandung Park Jimin. Sungwoon juga menambahkan meskipun hanya ilusi yang bisa melihat ilusi itu tetap harus seorang istri Gumiho.

"Dia juga selalu bilang pergi, pergi, dan pergi. Kemana sebenarnya ahjussi akan pergi?"

SeokJin menghela nafas, ia tidak mau memberitahu Jimin tapi pemuda manis ini harus segera tahu secepat mungkin. Karena ia tidak mau Yoongi mati, jauh di dalam dirinya ia menganggap Yoongi sahabat dan teman, ia tidak mau kehilangan sahabat seperti Yoongi.

"Dia akan pergi selamanya menemui Sang Maha Kuasa"

"Pergi, temui Jimin dan cabut seluruh panah yang tersisa di dadamu. Aku ingin kau pergi menjadi angin sesegera mungkin"

Nada bicara Taemin penuh desisan tajam. Matanya menajam, memunculkan panah itu semakin jelas agar Yoongi sadar bahwa hidupnya itu sebentar lagi akan mati cepat atau lambat karena panah-panah itu sudah mulai memudar.

"Kau harusnya sadar meskipun baru satu panah tercabut, hidupmu tetap dalam bahaya"

"Kenapa aku merasa tidak bicara dengan dewa? Kau tiba-tiba muncul dan menyuruhku mati"

Mata Yoongi sudah memerah, menahan amarah mendengar perintah mutlak Taemin untuk dirinya agar segera mati dan pergi. Ia tidak mau, ia tidak mau mati dan pergi menjadi angin.

"Aku dengar kau dewa yang penuh kasih sayang, tapi nyatanya? Kau tidak memilikinya, kau menyuruhku mati tanpa alasan ya-"

"Alasannya adalah kau sudah hidup terlalu lama. Waktumu hidup di dunia sudah habis, sekarang tiba saatnya kau pergi menjadi angin menunggu giliranmu terlahir kembali dan bertemu denganku lagi. Dengan kau tidak segera pergi dari sini kau merusak keseimbangan alam, dewa dan segala macamnya"

Taemin memotong ucapan Yoongi dengan kata-kata kasar dan pedas. Yoongi sendiri menatap tidak percaya, membuang nafas dan wajahnya sebentar mencegah dirinya lepas control di hadapan dewi kelahiran ini.

"Yang terpenting aku sangat bahagia saat menciptakan Jimin, bahkan aku memberikan separuh kecantikanku pada Jongin, ibunya lalu pada Jimin anaknya. Semua itu aku lakukan karena aku sangat menyayanginya, aku ingin dia hidup lebih lama, aku ingin kau mati dan Jimin tetap hidup"

"Apa kau tidak menyayangiku?" tanya Yoongi dengan mata berair, menangis karena seluruh dewa bahkan termasuk ibu dari seluruh umat manusia di bumi membencinya. Membenci dirinya yang masih terus hidup menanggung dosa.

"Kau pasti yang menciptakanku beratus-ratus tahun lalu, aku adalah anakmu juga. Atau kau sekarang membuangku karena aku penuh dosa? Apa sekarang aku bukan anakmu?" tanya Yoongi dengan nada memelas. Taemin menghela nafas, masih menatap Yoongi tajam.

"Kau tetap anakku. Karena itu, aku ibu dari seluruh umat di bumi memintamu untuk segera menjadi angin. Pergi dari bumi demi kebahagianmu"

"Apa kebahagianku? Apa kau tahu kebahagianku itu siapa?"

"Park Jimin, kau menganggap Jimin adalah kebahagianmu. Jika kau ingin Jimin tetap bahagia kau harus pergi, kau harus menjadi angin, kau harus mati atau Jimin yang akan mati"

Mata Yoongi sukses membulat, tubuhnya mendadak lemas mendengar ucapan Taemin. Apa maksudnya? Apa Jimin akan mati jika ia tetap hidup? Bisa dilihat Taemin menyeringai, lalu bibir itu berubah menjadi sebuah senyum mengerikan penuh amarah.

Mata Jimin sudah berembun. Air matanya perlahan mengalir mendengar penjelasan SeokJin yang sungguh terperinci tentang panah di dada Yoongi. Tubuhnya bergetar, kepalanya masih tetap menatap lurus ke mata SeokJin yang juga menatapnya penuh kesedihan. Tangannya terkepal, bergetar menahan tangisnya. apa selama ini Yoongi berkata pergi yaitu mati?

"Apa… hiksss… selama ini ahjussi ingin pergi artinya dia mau mati? Dia ingin mati, pergi selamanya, sirna dan tidak pernah kembali lagi? Apa seperti itu? Ahjussi… hiksss…"

"Jim-"

"Dengan kata lain dia ingin aku menjadi istrinya karena dia menginginkan kematian dari tanganku? Aku adalah alasan dia mati, aku adalah malaikat pencabut nyawanya… hiksss… dia ingin pergi meninggalkanku setelah semuanya? Hikss… dia… hiksss"

Jimin sudah tidak sanggup bicara. Ia menangis histeris, wajahnya berair karena air mata mengalir dari kedua mata indahnya. Ia adalah kematian Yoongi, ia bukan kebahagian siapa pun karena selamanya ia adalah duka… ia adalah sumber kesedihan sejak dulu bahkan sekarang…

Ia adalah sumber kematian orang yang ia cintai.

Yoongi masih tidak bisa bergerak. Ia terlalu terkejut dengan ucapan Taemin mengenai takdir yang dilukiskan Tuhan pada kertas yang dimiliki Jimin.

"Dia lahir dari panahmu. Seharusnya dia mati bersama Jongin malam itu, tapi kau memberikan panahmu sebagai nyawa untuk Jongin dan Jimin. Dengan kata lain kau sudah memilih istrimu sendiri saat kau memberikan nyawa itu, kau yang memilih Jimin untuk menjadi istri yang akan mencabut panahmu"

Taemin kembali mengambil satu langkah mendekati Yoongi yang tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali menangis. Ya, Yoongi menangis mengingat malam dimana ia menyelamatkan Jongin-wanita hamil korban kecelakaan delapan belas tahun lalu.

"Apa kau tahu, duka, penyakit, kesengsaraan bahkan dia masuk dalam daftar hitam kaum vampire semua itu terjadi karena panah yang menjadi tonggak nyawanya. Semua itu diperoleh karena panah penuh dosamu menjadi landasan dia dilahirkan"

Yoongi sudah tidak kuat lagi mendengarnya. Tubuhnya benar-benar lemas, ia ingin menangis, marah dan segala macam yang bisa ia lakukan untuk merubah takdir Jimin.

"Dia akan terlahir kembali ketika dia berhasil mencabut seluruh panahmu artinya seluruh duka, kesedihan, kesengsaraan yang dialaminya akan sirna bersamaan dengan sirnanya dirimu. Kau bukan kebahagiannya, kau adalah sumber kedukaannya ketika kau pertama kali memberikan panahmu sebagai pertolongan untuknya"

"Kau sudah berulang kali hampir membuatnya terbunuh, saat di bukit, saat di lorong dan terakhir baru-baru ini. Jika dia tidak berhasil mencabut panah itu maka kematian akan terus mengejarnya, tidak ada alasan lagi dia hidup didunia ini."

Yoong semakin terkejut, ia tidak bisa menggerakan tubuhnya selain hanya mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Taemin. Bayangan-bayangan tentang kejadian malam itu dan dibukit waktu itu menjadi tamparan keras bagi Yoongi, semua itu benar. Seharusnya saat bertemu Jimin, ia harus segera memberitahu segalanya dan membuat ini menjadi lebih sederhana.

"Kau benar, Min Yoongi anakku. Akan ada banyak kecelakaan, kematian yang jauh lebih mengerikan dan lebih sering terjadi mendekati Jimin jika dia belum juga mencabut panah-panahmu"

Ia tidak mau itu terjadi. Matanya tiba-tiba berubah menjadi tajam, ia marah mendengar kenyataan pahit bahwa seluruh kesedihan, kesengsaraan Jimin semua berasal dari dirinya. Dari panah yang ia berikan pada Jongin sebagai nyawa, karena pertolongannya. Karena pertolongan seorang pendosa seperti Yoongi, semua karena dirinya.

"Takdirnya adalah mencabut panahmu, mencabut nyawamu, dia adalah maliakat pencabut nyawamu"

Di sisi lain, Jimin masih menangis. Ia tidak mau, ia tidak terima dilahirkan menjadi sumber kematian Yoongi. Ia tidak mau menjadi alasan kematian Yoongi, ia ingin menjadi alasan hidup Yoongi. Ia tidak mau, ia tidak mau takdir ini terjadi pada dirinya.

"Sekarang aku tahu, kenapa cinta itu bisa mati. Cinta mati karena orang yang membawa cinta itu akan ikut mati. Jika orang yang membawa cinta itu mati, maka orang yang dicintainya akan ikut mati. Cinta adalah bagian hidup dari manusia, jika seseorang tidak memiliki cinta maka orang itu tidak hidup. Aku merasakan cinta itu, itu berarti aku merasakan hidup sesungguhnya dan orang yang membawa cinta itu…"

Yoongi menatap Taemin dengan pandangan berair, bukan kesedihan yang terpancar di mata Yoongi tapi sebuah kemarahan.

"… adalah kau, Park Jimin. Aku mencintaimu, kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Karena itu aku akan menentang alam, seluruh dewa, bahkan Sang Maha Kuasa agar memberiku kesempatan untuk mengatakan ini…"

"Kau adalah cinta pertamaku, aku sangat mencintaimu…"-Yoongi

To Be Continue