"Yang dimangsa"
Jimin masih menangis, ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Air matanya terus mengalir tanpa henti, ia benar-benar tidak bisa menahan semuanya. Ia menangis, menumpahkan segala perasaannya sedih, kecewa dan bersalah. Ia bersalah, ia menyalahkan dirinya kenapa ia terlari sebagai sumber kematian seseorang?
"Aku tidak bekerja sama dengan Gumiho untuk menyembunyikan ini. semua itu keputusan nya sendiri, dia tidak mau kau menjadi terbebani sampai seperti itu. aku memberitahu mu ini agar kau bisa mengambil keputusan yang tepat, aku yakin kau bisa mengambil keputusan itu dengan baik"
Jimin menunduk, mengambil nafas panjang lalu menghapus air matanya sendiri. Membungkuk hormat, "Ghamshamnida karena sudah memberitahu semua ini, Taun Vampire" setelah mengucapkan itu Jimin bergegas keluar tanpa menoleh sedikitpun ke belakang guna melihat wajah SeokJin yang terlihat khawatir.
…
Di kamar, Jimin meringkuk menenggelamkan kepalanya berusaha meredam suara tangisnya. kenapa Tuhan begitu kejam memberikan penderitaan seperti ini? tangannya gemetar membereskan seluruh pakaian dan juga barang-barangnya, ia akan pergi. Untuk apa ia tinggal jika dirinya hanya menjadi alasan kematian dan kesakitan Yoongi nantinya.
Ia akan pergi. Pergi menjauhi Yoongi.
(Cold Cherry-Growing Pain, Kei-Star and Sun, WANNA ONE-Beautiful, Kwill-Nonfiction, Kwill-That Person)
Wanita berpakaian serba merah itu keluar dari perpustakaan dengan wajah masih tertekuk, saat keluar tanpa sengaja ia melihat seorang pria. Pria dengan balutan blazer abu-abu dan di dalam menggunakan sweater putih serta celana bahan berwarna cokelat gelap. Penampilan yang sungguh keren dan elegan.
Wanita tadi-Taemin menoleh begitu juga dengan pria itu-NamJoon. Mereka sama-sama tersenyum, NamJoon maju lebih dulu menghampiri Taemin sambil tersenyum tampan.
"Kenapa menghampiriku? Apa kau bisa membaca pikiranku kalau aku mengajakmu?"
"Eoh, aku baru saja mendapat uang jadi aku bisa mentraktir minum wanita cantik sepertimu"
"Aku bersyukur untuk itu, karena sekarang aku benar-benar butuh minum"
Taemin mengucapkan kalimatnya penuh penekanan dan emosi. Sementara NamJoon tersenyum, menarik pinggang Taemin dan menuntunnya pergi, jauh-jauh dari perpustakaan sumber bad mood Taemin-itu pikiran NamJoon.
…
…
…
Jimin tidak punya arah tujuan lagi. Ia berjalan dengan pandangan kosong, ia seperti roh tanpa raga. Matanya sembab, matanya kosong tidak bermakna, tubuhnya ia bawa dengan langkah gontai tidak bersemangat. Wajahnya, wajahnya basah karena air mata yang terus mengalir tanpa henti. Langkahnya terhenti, otaknya kembali berputar seperti pemutar film.
Memutarkan kembali sikap, perubahan wajah Yoongi dan perkataan Yoongi jika berkaitan dengan panah itu. ia barus melihatnya, wajah itu terlihat sendu, menyembunyikan suatu rahasia besar dan rahasia besar itu adalah kematiannya sendiri.
Tangisnya semakin kencang, bahkan ia tidak peduli orang-orang yang berjalan di sekitarnya menabraknya. Ia masih tetap berdiri dengan kepala menunduk, menangis histeris tanpa bisa dikendalikan.
"Brengsek! Dia benar-benar brengsek!"
"Apa aku sekarang pacarmu?"
"Eoh, kau pacarku sekarang"
Semua itu bohong. Selama ini ia dibohongi dari fakta menyedihkan itu, fakta yang mengatakan bahwa dirinya adalah malaikat pencabut nyawa Yoongi. Ia adalah malaikat pencabut nyawanya, ia adalah kematian Yoongi.
"Dia memacariku untuk mati… hiksss… lalu untuk apa hubungan itu? Apa aku harus membunuhnya? Hiksss…"
HIK!
Cegukannya kembali keluar setelah sekian lama meredam. Tangisnya semakin kencang bahkan ia tidak sanggup berdiri, ia mendudukan diri di salah bangku di pinggir jalan. Kembali menangis sambil menatap sekelilingnya.
Tidak lama, hujan tiba-tiba saja turun begitu lebat. Jimin mendongak, menatap tetesan-tetesan air yang turun dari langit begitu deras dan berjumlah cukup banyak. Ia tersenyum miris, apa sekarang Yoongi sedang bersedih? Apa terjadi sesuatu padanya?
"Kenapa aku peduli padanya? Aku tidak boleh pedulinya"
HIK!
Matanya kembali berair, kenapa ia tidak boleh berbohong sekali saja? Untuk kali ini saja, ia benar-benar ingin berbohong. Ia ingin melupakan Yoongi meskipun sangat sulit rasanya. Ia harus segera melupakan Yoongi, ia tidak mau Yoongi mati. Ia tidak mau itu terjadi.
"Dia akan bertemu dengan Sang Maha Kuasa"
"Dia akan menjadi angin saat kau berhasil mencabut panahnya"
"Hiksss… brengsek! Brengsek!"
HIK!
"Aku bertemu kau lagi, kenapa aku harus bertemu denganmu di saat kau menangis dan mengumpat"
Jimin mendongak, menemukan sebuah payung berwarna bening melindunginya dari terpaan hujan. Dan ketika matanya sudah tidak berair lagi, ia bisa melihat dengan jelas orang yang memayunginya. Bukan NamJoon, SeokJin apalagi Yoongi, tapi Jungkook.
Teman satu kelasnya itu menghela nafas, menatap orang-orang di sekelilingnya mulai memperhatikan dirinya dan keadaan Jungkook. Pria bermarga Jeon itu berdecak, berusaha tidak peduli dan tidak mau tahu apa yang dipikirkan orang-orang tentang dirinya.
"Kau bisa menjadi incaran penjahat jika kau duduk sendirian dan menangis seperti itu. Jika di sini sepi aku akan menjadi penjahat dan menculikmu"
"Culik aku"
Jungkook terkejut, ia menatap Jimin. Wajah putih dengan pipi tembam itu nampak sedih, sayu dan tidak ada semangat. Ia tertegun, merasakan persaaan empati yang sudah lama terkubur di hatinya. Ia kasihan, bukan lebih tepatnya marah karena melihat wajah ceria itu tiba-tiba saja berubah menjadi sendu dan muram, bahkan ia bisa melihat mata itu memerah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Kau gila?"
"Aku mohon culik aku! Sembunyikan aku! Hikss…"
Jungkook menghela nafas, matanya tidak pernah lepas memperhatikan Jimin yang sedang memohon dengan tangis dan tubuh di bungkukan sedalam-dalamnya, berusaha sebisa mungkin menarik empati Jungkook.
"Aku mohon…"
…
…
…
…
…
Pagi-pagi sekali Yoongi sudah masuk ke dalam kamar Jimin, berniat bicara dan memberikan penjelasan tentang panah di dada dan arti kata pergi yang sering Yoongi ucapkan. Namun, matanya menatap heran sekeliling kamar yang Jimin tempati selama ini. Kamar itu kosong, lilin yang biasa Jimin hidupkan mati, jendela yang selalu dibuka untuk membantu tanamannya hidup tertutup rapat dan yang lebih penting isi lemari Jimin kosong.
Pria tampan itu panik, ia berlarian mengelilingi rumah, berteriak memanggil-manggil nama Jimin tapi tidak ada balasan. SeokJin yang melihat itu meringis, menghampiri Yoongi berniat memberitahunya tapi Yoongi sudah menyambarnya lebih dulu.
"Jimin tidak ada, kau bantu aku mencari dia"
Setelah mengatakan itu Yoongi menghilang, entah kemana. SeokJin menghela nafas, menatap keluar jendela dapur, pikirannya melayang memikirkan nasib Jimin. Dimana dia? Apa dia baik-baik saja? Ada rasa sesal di hatinya karena memberitahu semua ini tapi Jimin harus tahu, agar sahabatnya-Yoongi-tidak mati terbunuh.
Ia tidak mau Yoongi terbunuh.
…
Yoongi benar-benar seperti orang gila, ia berkali-kali berteriak bertanya pada binatang-binatang yang pernah Jimin ceritakan termasuk pada anjing galak di dekat halte bis. Anjing di tempat penitipan anak pun tidak tahu dimana Jimin. Putus asa, ia terus bolak-balik ke tempat biasa Jimin pergi tapi hasilnya nihil. Tidak ada siapa pun, Jimin tidak ada di sana. Jimin-nya menghilang, Jimin nya pergi entah kemana.
Tempat terakhir adalah perpustakaan, di sana ia berkeliling ke setiap sudut perpustakaan. Mencari keberadaan Jimin, tapi hasilnya nihil. Saat di sudut terakhir, matanya menangkap sosok bayangan yang ia kenali. Dengan terburu-buru ia menghampiri bayangan itu dan menariknya paksa.
"Jimin, dimana Park Jimin?"
"Ahjussi, kita bertemu lagi"
Orang itu adalah Youngjae. Pemuda manis dengan headphone menggantung di leher itu tersenyum sambil membungkuk, "Kebetulan, aku ingin menanyakan Jimin dimana. Sejak tadi pagi aku sulit sekali menghubunginya"
Bahkan Youngjae pun tidak tahu dimana Jimin. Yoongi mengerang, menjauhkan tubuhnya lalu berniat pergi tapi Youngjae menahan lengan kokoh itu untuk berdiri di tempatnya.
"Jika ahjussi bertemu dengannya, aku titip hasil ujian sekolahnya dan katakan padanya aku akan pergi selama beberapa hari untuk ujian sekolah masak. Aku tidak bisa diganggu selama empat hari ke depan, apa ahjussi bisa menyampaikan itu?"
Yoongi mengangguk, memasukan amplop berisi hasil ujian Jimin ke saku mantelnya. Meninggalkan Youngjae yang tersenyum manis, melihat sikap Yoongi. Beruntung sekali Jimin memiliki pria tampan dan perhatian seperti ahjussi itu.
Tapi entah kenapa ia tidak bisa melihat ada perhatian di mata Yoongi, dia lebih terlihat panik, takut dan bingung. Seperti orang yang sedang mencari kekasihnya yang hilang, apa yang terjadi sebenarnya?
…
…
Yoongi tidak yakin, tapi ia harus memastikan kecurigaannya pada SeokJin. Karena itu ia memberanikan masuk ke tempat seluruh vampire berkumpul untuk bekerja mengerjakan berbagai dokumen. Seluruh makhluk penghisap darah tercengang melihat Gumiho yang terkenal akan hidupnya yang kekal untuk mencari istrinya ada di tempat mereka. Para vampire wanita terkejut dengan rupa sang Gumiho yang bisa dikatakan tampan.
Tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, tapi tempat yang dituju Yoongi adalah ruang kerja SeokJin pribadi. Senior mereka yang terkenal galak dan tidak mau mengenal siapa pun kecuali bekerja atau berhubungan dengan sesama rekannya.
"Katakan apa saja yang terjadi sebelum Jimin pergi? Kau dirumah saat itu, kau pasti tahu alasan kenapa Jimin tiba-tiba menghilang begitu saja. Apa yang terjadi sebenarnya?" rentetan pertanyaan dari Yoongi hanya dibalas tatapan SeokJin.
Pria tampan dari kaum vampire itu menutup dokumennya, bangun dari bangkunya menghampiri Yoongi sambil mengeluarkan sebuah kartu nama. Yoongi menerima itu, mengernyit heran melihat nama yang tertera di kartu nama itu.
"Apa maksudnya? Apa orang bernama V ini tahu dimana Jimin? Apa Jimin bersama V?"
"Tidak, lebih tepatnya aku tidak tahu. Tapi setahuku Jimin dekat dengan V yang juga teman kencanku, V sering bercerita tentang Jimin dan aku juga bercerita tentang Jimin. Mereka cukup dekat, mungkin saja Jimin di sana"
Yoongi mengangguk paham, berniat pergi tapi SeokJin menghalanginya, "Aku minta maaf."
Yoongi menoleh, menatap SeokJin penuh kebingungan tapi lima detik kemudian matanya membulat menyadari satu kemungkinan besar alasan Jimin pergi. Ia mendekat, hampir mencekik leher itu jika saja mereka hanya berdua di gedung vampire ini.
"Aku memberitahu semuanya, aku memberitahu karena Jimin menanyakannya. Dia sangat penasaran, aku kasihan melihatnya dibohongi olehmu"
"Apa hakmu memberitahu dia? Aku ini suaminya, aku lebih berhak memberitahunya"
"Kapan? Sampai panah-panah itu akan terlepas sendiri? Aku memberitahu semuanya pada Jimin karena aku memiliki alasan sendiri" ucap SeokJin membela dirinya sendiri, tapi Yoongi terlihat begitu menahan amarah setiap kali berdekatan dengan SeokJin.
"Aku tidak ingin kau mati, ini aneh tapi aku tidak ingin kau mati dan pergi menjadi angin. Kau itu sahabatku, aku tidak mau sahabatku pergi. Aku lebih memilih berdebat denganmu daripada dengan keponakanmu itu"
Yoongi tertegun, memandangi SeokJin tidak percaya. Ia meremat kartu nama itu, "Kau tidak ingin aku mati? Aku tidak harus senang atau marah mendengar ucapanmu itu, hah!" setelahnya Yoongi berjalan keluar ruangan dan gedung vampire itu terburu-buru.
Meninggalkan SeokJin yang menghela nafas berat, nampak menyesali ucapannya barusan yang seolah-olah mengharapkan Yoongi tetap hidup dan mereka bisa berteman? Teman? Seorang karnivora seperti Yoongi berteman dengan dirinya makhluk penghisap darah?
"Aku akan tarik kata-kataku barusan"
…
…
…
Yoongi menghela nafas melihat ruang BK tempat Taehyung bersiap sebelum mengajar terkunci. Mungkin saja Taehyung belum datang atau tidak datang karena hari ini dia tidak ada kelas-itu mungkin terjadi-. Ia melangkah menjauh, melewati lorong yang sepi karena jam pelajaran sudah berlangsung sejak tadi dan ia sama sekali tidak melihat atau merasakan kehadiran Jimin di sekolah ini.
Di sisi lain, seorang pemuda dengan surai blonde nampak sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan jalan di depannya. Ia terus melangkah dan sesekali memastikan bahwa di depan tidak ada orang atau pot yang bisa ia tabrak.
Yoongi tidak beradu pandang dengan si pemuda tadi-Taehyung tapi ia sempat berhenti memperhatikan bagaimana pemuda manis itu melewati tubuhnya masih dengan kepala tertunduk memainkan ponsel.
"Brengsek…"
"Aku ingin sebuah pelukan, apa aku akan mendapatkannya"
Ada sebuah senyuman, pemuda manis itu berhadapan dengan SeokJin. Mereka berdua saling berhadapan, bayangan masa depan itu tidak terlalu jelas tapi Yoongi meyakini akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada hubungan mereka nanti. Ia kembali berjalan pergi melanjutkan pencariannya, tapi ia langsung menoleh melirik dari ekor matanya pemuda tadi membuka pintu ruang BK milik V.
Pasti pemuda itu V, guru Jimin sekaligus teman kencan SeokJin. Mereka sama-sama menoleh, Taehyung terkejut saat beradu pandang dengan Yoongi. Matanya menelisik jauh pada kedua bola mata sipit nan tajam milik Yoongi. Begitu juga dengan Yoongi, ia menelisik penampilan Taehyung dari atas sampai bawah.
"Hyungnim"
"Orabeonim!"
Kepalanya terasa seperti tersentak mendengar nada bicara yang digunakan Taehyung. Ini seperti déjà vu, ia seperti pernah mendengar nada bicara itu tapi sisi lain tubuhnya juga menyangkal semua itu.
"Apa kau wali murid dari Kim Sangbin?" tanya Taehyung seraya mengingat orang tua siswa mana yang memiliki jadwal bertemu dengannya. Yoongi menggeleng, ia lalu menunjukkan foto Jimin pada Taehyung. Pemuda manis itu beroh ria, lalu menghampiri Yoongi sambil bersedekap.
"Lalu, kenapa kau berkeliaran di area sekolah? Apa kau salah satu alumni di sini?"
"Anni, aku sedang mencari murid kesayanganmu"
Taehyung terkejut, memandangi Yoongi lebih lama dan teliti lalu membuang nafas kesal. Sadar dengan siapa ia bicara, wajahnya tiba-tiba mengeras menahan kekesalan setiap kali melihat wajah sok tampan yang didatar-datarkan macam triplek itu.
"Kau pasti pria itu" ucap Taehyung dengan jari telunjuk menunjuk wajah Yoongi. "Kau memakai setelan mewah, hampir menyamai gajiku enam bulan tapi kau mencari murid SMA yang sering dibully karena keanehannya. Kau pasti pria itu" lanjut Taehyung kembali bersedekap menatap Yoongi dengan pandangan semakin kesal.
"Kau pasti pria yang sudah membuat muridku menangis dan cegukan hampir seminggu penuh, kau pria brengsek yang sudah membohongi muridku, pria tampan dengan wajah datar mirip jin Aladin. Kau pasti si brengsek itu"
Yoongi terkejut, bukan karena umpatan yang dilemparkan Taehyung tapi fakta mengenai Jimin menangis dan cegukan hampir seminggu lamanya karena dirinya? Apa mungkin saat ia berbohong mengenai identitasnya? Apa pada saat itu Jimin menangis? Atau baru-baru ini Jimin menangis di hadapan Taehyung.
"Dia menangis? Apa kau bertemu dengannya lalu dia menangis"
"Benar, kau si brengsek itu. Kau yang sudah membuatku pusing karena aku tidak bisa menghubungi muridku semalam. Kau yang membuat muridku hilang seperti ditelan bumi" Taehyung berucap tanpa menghilangkan desisan tajam penuh amarah. Ia benar-benar kesal dengan pria ini.
Jimin sulit dihubungi sejak semalam padahal Taehyung ingin mengajaknya makan malam atas suksesnya Jimin menempuh jenjang baru. Tapi semua itu sirna setelah melihat alat pelacak yang ia tanam di ponsel Jimin tidak bisa berfungsi lagi. Jimin tidak bisa dihubungi, pemuda manis itu menghilang tanpa ada kabar atau tanda-tanda.
"Beritahu alasanmu kenapa membuat Jimin menangis? Jadi aku punya alasan jika nanti kelepasan menamparmu"
"Tampar saja, aku punya banyak alasan tapi kau tidak perlu tahu karena kau tidak akan mengerti, otakmu tidak akan sampai memikirkan alasanku ini"
Taehyung membulatkan bibirnya, tidak percaya jika Yoongi akan bicara setajam itu bahkan membawa-bawa otak dalam masalah ini. Hampir saja tangannya melayang memberi tamparan bagi Yoongi tapi sebelum itu terjadi Yoongi sudah lebih dulu pergi, menghiraukan segala teriakan memaki dari mulutnya.
"Yak! Yak! Tunggu di sana! Jangan kabur! Hyungnim!"
…
…
…
Hari sudah sore kala SeokJin sampai di rumahnya, namun matanya mengernyit melihat langit malam ini penuh dengan bintang-bintang berbentuk aneh. Bukan karena bentuknya tapi pola yang membentuk bintang itu seperti sebuah nama atau tanda tapi SeokJin tidak terlalu paham. Ia termenung di depan teras rumah, menatapi langit yang membentuk huruf Chim.
"Chim? Apa itu tanda dia sedang memanggil Jimin?" gumam SeokJin penuh tanya, matanya kembali menelusuri langit malam mencari hal-hal aneh yang diperbuat Yoongi. Tidak hanya bintang saja tapi bulan malam ini bersinar berwarna biru terang bahkan nyaris seperti ditumpahi cat biru muda.
"Aish! Gumiho sialan itu!"
SeokJin segera memasuki rumah, menemukan Yoongi sedang duduk bersandar pada kursi ruang tamu. Memandangi langit malam dari jauh lewat jendela besar ruang makan yang ia buka lebar-lebar. Merasakan angin menerpa tubuhnya semakin kencang bersamaan dengan perasaan bingung dan sedihnya.
"Kau sedang apa? kenapa membuat hal-hal aneh seperti itu? kau bisa merusak aktivitas para were wolf dan vampire!" marah SeokJin. Tapi Yoongi seakan tuli dan menerima, ia hanya diam saja saat Yoongi terus mengomel sampai ia menyadari satu hal tentang Jimin di mata para kaum vampire.
"Kau pernah mengatakan bahwa Jimin ada dalam daftar hitam?"
"Eoh, waeyo?"
Yoongi berdiri, "Masukan nama Jimin dalam daftar yang lebih tinggi!"
"Apa maksudmu? Daftar buruan? Kau menggiring para vampire haus darah untuk meminum darah Jimin? Otakmu dimana?" matah SeokJin. Entah kenapa ia tidak mau melakukan itu, itu cara paling extream yang pernah SeokJin dengar.
Yoongi tidak marah sama sekali, malahan dia semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang frustasi. Ia bingung, ia takut terjadi sesuatu pada Jimin di luar sana tapi ia jauh lebih takut Jimin tidak mau kembali ke pelukannya lagi. Ia tidak mau Jimin pergi untuk selamanya, ia tidak mau itu terjadi. Ia akan mencari cara lain agar ia bisa hidup tapi Jimin juga bisa tetap hidup. Ia siap melakukan apa pun, ia akan siap menerimanya.
"Aku bisa mencegah hal itu"
"Dengan cara apa? saat kau di sana mungkin Jimin sudah sekarat!"
"Lalu aku harus apa?!" balas Yoongi tidak kalah emosi. Matanya menyalang, penuh amara dan rasa frustasi berlebih. "Apa aku harus diam? Aku tidak tahu keadaannya di luar sana, aku tidak tahu dia tinggal dimana dengan siapa. Apa aku harus diam saja? Begitu?"
SeokJin tidak membalas, menatap mata menyalak tajam itu perlahan berubah menjadi air mata. Ia terkejut melihat Yoongi menangis, menunjukan sisi lemah dan tidak berdayanya di hadapan SeokJin. Di hadapan makhluk yang sering ia ajak bertengkar tapi sekarang ia sangat membutuhkan bantuan makhluk penghisap darah itu.
"Aku akan masukan namanya, tapi kau harus berjanji jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya." SeokJin akhirnya menyerah, menuruti permintaan Yoongi. Ia segera bangkit, mengurus beberapa berkas tentang Jimin agar bisa ia serahkan malam ini juga.
Sedangkan Yoongi dia masih duduk dengan kepala tertunduk, menyembunyikan air matanya. Ia tidak peduli apa pun, ia hanya ingin menangis. Menangis dan berharap agar Jimin dimana pun dia berada bisa mendengar suara tangis menyedihkan milik Yoongi.
Satu Minggu Kemudian…
…
…
…
…
SeokJin bisa mengatakan jika Yoongi sekarang benar-benar terlihat seperti orang gila. Tidak cukup dengan mengobrak-abrik bentuk bintang dan warna bulan, Yoongi mulai membuat mukzizat dengan memberikan pencerahan pada para pendosa untuk bertobat. Dengan kata lain, Yoongi itu menghambat kerja para kaum vampire seperti dirinya. Dia menghambat kerja dan membuat gedung tempatnya bekerja dua kali lebih padat karena harus memutar otak untuk membuat laporan kenapa banyak orang pendosa bertobat.
Bahkan jika kalian mau tahu, Yoongi memberikan pencerahan pada seorang pembunuh berantai yang selama 14 tahun menjadi buronan untuk bertobat dan menyerahkan diri ke kantor polisi. Pembunuh berantai itu benar-benar bertobat, dia mengaku dosa, masuk ke Gereja kembali dan menyerahkan diri secara suka rela?
Dan pembunuh berantai itu adalah target SeokJin, bukan hanya kali ini saja Yoongi sudah sangat sering selama seminggu ini membuat kerusuhan yang mengakibatkan department vampirenya pontang-panting tidak karuan.
"Bisa kau hentikan kegilaan ini? apa kau belum cukup menobatkan pembunuh berantai itu sekarang kau menobatkan pelaku korupsi? Kau membuatku lembur setiap hari!"
SeokJin sudah tidak sabar lagi, ia menghampiri Yoongi yang berdiri termenung di balkon rumah mereka. Memandang langit dan terus mengobrak-abrik posisinya, pria berstatus Gumiho itu sama sekali tidka peduli dengan amarah SeokJin yang meledak.
"Aku hanya ingin dia melihatnya." Yoongi akhirnya menjawab, tapi bukannya mereda amarah SeokJin makin memuncak mendengar jawaban kelewat santai Yoongi.
"Seharusnya aku lebih menyarankan dia mencabut panahmu daripada membiarkanmu hidup" ucap SeokJin dengan desisan tajam. Ia sekarang berpikiran seperti itu, kenapa bisa ia ada pikiran untuk membuat Yoongi tetap hidup. Lagipula, untuk apa hidup jika membuat kekacauan setiap hari?
Dengan amarah dan stress berlebih, SeokJin berjalan pergi meninggalkan Yoongi yang masih asik mengubah posisi bintang-bintang. Membentuk berbagai kode agar Jimin yang melihatnya bisa tahu bahwa Yoongi menyesal berbohong dan akan menjelaskan semuanya tapi itu semua percuma. Sampai sekarang Jimin tidak pernah melihatnya, Jimin tidak pernah kembali.
"Seharusnya aku mati saja sejak pertama kali bertemu dengan dia"
…
…
…
…
…
Perlahan-lahan sang surya mulai timbul dan menampakkan eksistensinya. Meskipun orang-orang beranggapan masih sangat pagi atau bahkan sebagai mengatakan subuh tapi bagi Jimin ini adalah waktu yang pas untuk dirinya keluar. Ia akan keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan dipagi hari berusaha menyembunyikan diri dari orang itu.
Sudah satu minggu lamanya ia mendekam di tempat persembunyiannya, kali ini ia harus keluar karena batas bolos yang diberikan bagi murid beasiswa hanya satu minggu dan ia hampir melewati batas maksimal. Ia tidak mau beasiswanya dicabut atau parahnya ia mendapat surat peringatan.
Langkahnya terasa begitu ringan, ia masih tidak memiliki nyawa. Nyawanya pergi bersamaan dengan fakta itu. fakta yang menyebutkan bahwa dirinya adalah sumber kematian Yoongi, orang yang begitu ia cintai.
HIK!
Ia tahu jauh di dalam dirinya ia tidak mau melakukan ini tapi ia tidak bisa di dekat Yoongi terus menerus. Ia tidak sanggup menerima takdir yang diberikan Tuhan untuknya, ia tidak sanggup menerima semua itu. Ia tidak sanggup, ia tidak mau menerima dirinya terlahir sebagai penyebab kematian orang yang ia cintai.
HIK!
"Kau mau menjadi suamiku?"
"Dia akan bertemu Sang Maha Kuasa"-SeokJin
"Kau itu memang istriku, tapi sebelum itu kau harus jadi pacarku"
"Dia menginginkan sebuah kematian"-SeokJin
"Apa aku sekarang pacarmu?"
"Dia akan mati jika panahnya tercabut"-SeokJin
"Eoh, kau pacarku sekarang"
Ia tidak mau menerima takdir ini. Ia tidak mau.
HIK!
"Kau berangkat pagi sekali!"
Mata Jimin membola melihat Jungkook tiba-tiba saja muncul di depannya, memakai jaket tebal dan juga membawa ransel sekolah. Sepertinya Jungkook akan berangkat sekolah juga, ia hanya diam tidak mau menanggapi.
HIK!
"Apa kau menyembunyikan sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu dari orang yang sudah menolongmu?"
Jimin berhenti melangkah, menatap sepasang sepatu hitam putih yang ia kenakan. Sepatu sederhana hasil kerja kerasnya sendiri, cukup lama ia berdiri dalam posisi itu sampai Jungkook merangkul pundaknya lalu menuntunnya berjalan beriringan bersama Jungkook.
"Aku ingin memberi sebuah kejutan di sekolah pagi-pagi, kau mau?"
HIK!
Jimin tidak menjawab, ia tidak mau mengeluarkan kata-kata karena hanya akan memperburuk kondisi cegukannya. Mereka terus berjalan sampai di lampu merah mereka berhenti, menunggu lampu bagi pengguna jalan menyala.
Selagi menunggu Jimin hanya menunduk, menatap sepasang sepatunya kembali dan kemudian kembali larut dalam lamunannya dengan diselingi cegukan yang menemaninya seminggu ini. Ia terlalu asik dengan pikirannya samapi tidak menyadari kehadiran sosok lain ujung sebrang.
Jungkook bersiul, menatap orang itu lalu arah pandangnya lurus ke Jimin. Dengan seringai mengerikan ia menarik Jimin dalam sebuah rangkulan hangat dan penuh paksaan. Jimin sedikit berontak.
"Jeon Jungkook, lepaskan-HIK!-"
"Kejutanku berjalan sedikit lebih cepat, kau mau melihatnya?"
Jimin mengernyit bingung, namun semua itu terjawab ketika Jimin menoleh ke depan. Menemukan sosok yang seminggu ini menghantuinya tanpa batas, sosok yang menjadi penyebab segala cegukannya terjadi. Sosok itu berdiri mematung tidak bergerak saat melihat Jimin dirangkul cukup erat oleh Jungkook di depan matanya.
Ia sedikit takut melihat rahang pria itu mengeras, menahan amarah melihat Jimin disentuh apalagi di rangkul oleh orang lain selain dia. Tapi untuk apa dia marah? Mungkin dia marah karena sumber kebahagian atau keinginanya di miliki orang lain. Dalam hal ini Jimin adalah sumber keinginan kematian orang itu.
"Dia menatap kita, ow! Bahkan dia berjalan lebih dulu menghampiri kita, ayo kita hampiri dia!"
Jimin menggeleng, menolak usulan gila Jungkook. Lagi-lagi ia terlalu lemah, ia terpaksa tertarik mengikuti langkah kaki Jungkook menghampiri orang itu yang nampak begitu emosi melihat Jungkook menarik paksa tangan Jimin.
Ketika sudah berhadapan, tanpa ragu orang itu menarik kerah seragam Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Mata mereka sama-sama menajam, tapi tatapan Jungkook bukan hanya tersirat ketajaman amarah tapi juga rasa puas melihat orang itu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
"Lepaskan dia! Dia tidak mau bersamamu!"
"Benarkah? Kau bisa tanyakan sendiri pada orangnya langsung" Jungkook balas menantang ucapan orang itu. Mereka masih saling mencekik dengan Jimin berdiri di antara mereka, terkejut, tercekat akan situasi mencekam yang dikeluarkan Jungkook dan orang itu.
Orang berpakaian hitam dan cukup tebal itu melepas cekikannya, beralih menatap Jimin yang masih terkejut dan tercekat tidak bisa bergerak. Orang itu Yoongi, pria berwajah datar dan berusia ratusan tahun itu mendekat, menatap mata Jimin yang juga balas menatap Yoongi.
"Pulang ke rumah"
"Aku tidak mau, itu bukan rumahku"
"Lalu dimana kau akan tinggal? Tinggal dimana kau selama seminggu ini?!" tanpa sadar Yoongi menaikan nada suaranya. Jimin tetap tidak gentar, ia malah semakin menengadah mensejajarkan pandangannya dengan Yoongi.
"Jungkook, aku tinggal bersamanya"
"Sekarang juga begitu? Kau akan ikut dengannya?"
"Nde,"
Jawaban itu sukses membuat Yoongi terdiam. Matanya menatap tidak percaya ea rah Jimin karena lebih memilih Jungkook ketimbang dirinya, bahkan Jimin sudah menggenggam tangan Jungkook sangat erat dan menariknya pergi dari area zebra cross yang sepi.
"Aku tidak mau kita terlambat-HIK!-" ucap Jimin diakhiri dengan cegukan tapi Yoongi kembali menarik tangannya hingga Jimin kembali ke posisinya berdiri tadi. sementara tangan Jimin yang lain di genggam erat oleh Jungkook.
"Kau cegukan, kau bohong. Kau tidak mau bersama dia"
"Aku lebih memilih dia-HIK!-kau yang membuatku memilih dia bukan karena diriku sendiri" ucap Jimin dengan suara serak, dengan kasar ia menepis tangan Yoongi dan Jungkook. Matanya menyalang, memerah menatap Yoongi terutama melihat panah yang tertancap di dada Yoongi.
Ia bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan Yoongi selama ini, ia tidak mau Yoongi kesakitan lagi. Tapi jika menghilangkan rasa sakit Yoongi sama saja menghilangkan nyawanya, Jimin tidak mau melakukannya-mencabut panah itu.
"Saat dimana kau mengatakan kau mencintaiku, apa kau benar-benar mencintaiku?"
Yoongi tidak menjawab, pandangannya yang semula mengeras menahan amarah perlahan melunak. Jimin tersenyum miris, memalingkan wajahnya sebentar lalu memandang Yoongi lagi.
"Kau tidak mencintaiku, selamanya kau tidak akan mencintaiku-HIK!-. aku salah selama ini menilaimu, aku membuat keputusan yang salah karena membuka hati untuk pria sepertimu. Pria yang selalu berbohong, berbohong dan berbohong dengan alasan kebahagian pasangannya."
Mata Jimin sudah berair, ia menangis menumpahkan segala kekecewaannya pada Yoongi. Ia mengambil nafas panjang.
"Dan aku membenci pria pembohong, aku membencimu ahjussi"
HIK!
Jungkook terkejut mendengar cegukan yang dikeluarkan Jimin. Apa sebenarnya rencana Jimin? Kenapa dia mengatakan benci padahal dia cegukan? Dan lagi, kenapa ia merasa senang kalau Jimin membenci Yoongi. Bahkan ia tersenyum puas melihat wajah Yoongi berubah menjadi sedih, tidak percaya karena kata-kata paling menakutkan itu keluar dari mulut Jimin.
"Karena itu jangan pernah muncul di hadapanku atau aku akan lepas kendali dan membunuhmu"
Jimin memberikan ancamannya sebagai salam perpisahan sebelum menggenggam tangan Jungkook dan menariknya pergi. Meninggalkan Yoongi yang terpaku di tempat tidak bisa bergerak, dirinya terlalu shock atas semua ini.
Jimin tidak mau menatapnya lagi, Jimin membuangnya, Jimin meninggalkannya. Jimin tidak memilihnya. Jimin pergi darinya.
Jimin tidak akan pernah kembali.
Jimin tidak akan pernah memilihnya lagi.
Jimin benar-benar… berusaha melupakan Yoongi.
Jimin…
To Be Continue
Pertama, semoga kalian nggak bosen dengan cerita ini karena alurnya lambat, kedua jangan bosen juga baca note ku kali ini, arrase? Kalo nggak mau juga nggak apa-apa, kalian bisa skip…
Jangan rajam aku dan kookie karena udah nyumputin chimchim dari Yoongi ya *kedipimut* *sembunyidipojokanbarengjungkook* btw aku belum ngucapin selamat ulang tahun untuk V *yeay!* meskipun telat tapi percayalah aku selalu mendoakan BTS, EXO dan seluruh anggotanya serta idol-idol Kpop agar berumur panjang. Oke, gimana chapter ini?
Aku ngerasa punya hater karena ff ini, aku bikin anak orang nangis dan mewek *merasabersalah* *deepbow* tapi entah kenapa aku suka nyiksa mereka kek gitu *ketawanista* *mukapscho*. Aku juga ngerasa di sini pemeran antagonis itu bukan genk trouble maker aja tapi aku lah pemeran antagonis sebenernya… wkwkwkwkwk
Aku teriak ketawa-ketawa baca semua review kalian, aku bahagia dan terimakasih 100 kali nggak cukup untuk kalian karena sudah mau memberi dukungan untuk ff ini *bungkukbarengpemain*.
Terus aku mau memberi kabar bahagia, ff ku di sini yang judulnya RUN aku mau tulis ulang dengan cast utama tetep JinV tapi aku mohon maaf sekali aku nggak bakal publish di sini, aku pengen publish di WATTPAD aja aku mohon maaf jika ada yang tidak berkenan *bow*. Aku akan kasih beberapa perubahan terutama couple nya, waktu itu aku majang KookMin, YoonSeok, ama NamJoon Ren. Nah aku pengen rubah di cast pendukung aja, tapi aku tetep JinV shipper kok.
Akhir kata sekali lagi terimakasih yang udah baca, fav, follow, review. terus dukung dengan cara ketik reg spas #nggak nyambung# *digampar* bercanda kok… hehehe. Maafkan anak SMA ini yang sedikit gila karena belum minum obat…
Terus dukung dengan review, baca dan setia menunggu kelanjutan kisah ahjussi ganteng ini. semoga kalian tidak bosan menunggu ya, terutama setelah tanggal 5 bahkan hari ini pun aku lumayan sibuk biskin naskah drama natal di sekolah *danakujadipenulisnaskahnya* dan nyatuin 23 kepala itu ternyata susah ya… #ngelus dada#
belum dilanjut retret tiga hari berturut-turut, aku harus persiapan milih PTN lalu belajar TO, UASBN, terus UN dan jadi mahasiswa. Terus aku masih galau mau pilih PTS di yogya atau PTN di tempat domisil ku?
Oke, terus review dan jangan pernah bosen ya,
Akhir kata
Ghamshamnida!
SARANGHAEYO YEOROBUN~~ *HEARTSIGNLARGE* *HEARTSIGNMEDIUM* *HEARTSIGNSMALL*
Balesan review:
Guest: aku udah siap tissue sayang #ngasih tissue# #peluk erat# maafkan aku Tuhan karena sudah membuat banyak anak nangis. aku jahat kok, aku sadar. tapi aku suka jahatin mereka *hahaha* *ditabok* aku juga sebenernya greget sendiri baca ini ff tapi ya untuk kebutuhan cerita jadi aku dengan berat hati melakukan ini. makasih udah baca dan review, aku sayang kamu Saranghaeyo *HEARTSIGN*
rillakumamon: aku udah next, semoga ceritanya nggak bikin kamu kesel ya karena makin gaje dan lambat. makasih udah baca dan review selama ini, saranghaeyo *HEARTSIGN*
Stupefy-Jin: aku guling-guling baca review-review kakak yang panjang itu, hehehehe aku juga bingung mau balesnya kek mana. pokoknya aku makasih udah baca dan rela mengetik review sepanjang itu. saranghaeyo eonni *HEARTSIGN*
ChiminsCake: jimin juga di sini banyak nangis apalagi chapter depan (16) #spoiler dikit# khusus untuk kakak siapin tissue karena chapter 16 itu bener-bener menguras air mata kalian *semoga aja* pokoknya sedih lah chapter 16 itu *aku spoiler* makasih kakak udah baca dan review, saranghaeyo *HEARTSIGN*
meganehood: ya ampun aku bener-bener nambah dosa tahun baru ini, maafkan aku bikin kakak nangis. saranghaeyo kakak *HEARTSIGN* semoga kakak siap-siap tissue nanti dan semoga kuat baca selanjutnya *peluk erat*
shienya: aku kasih obat deh biar nggak pusing, aku juga kasih tissue untuk kakak. akhirnya ada yang nanya V ni, akhirnya tu cabe ada yang nanya selain kakak Stupefy-Jin. aku nggak bisa ngomong ya soal renkanasi itu, semua akan terjawab seiring berjalannya cerita ini. semoga kakak bersabar dan siap-siap tissue, aku sayang kakak. makasih udah review dan baca, saranghaeyo *HEARTSIGN*
maiolibel: ya, aku baca review dari kamu aku tersadar kalo ff ini jauh dari ekspetasi aku tapi nasibnya nggak kek cinta fitri kok, aku janji. mungkin akan tamat 20 atau 21 nggak banyak-banyak. aku juga dapet pencerahan dari review kakak, Tuhan emang selalu memberi apa yang dibutuhkan bukan diinginkan, ciuman-ciuman sebentar lagi akan bertebaran loh, hati-hati ya. makasih udah baca dan review kakak Saranghaeyo *HEARTSIGN*
MAKASIH JUGA YANG UDAH FAV DAN FOLLOW YA:
Baby Jiminie, ChimChimiJimin, ChiminsCake, Fujoshimulfan, Gasuga, GummyDear, Hiroki Sasano, Kanyasyub, Mitha478, Runch Randaa, Stupefy Jin, TaeJinKim, Tyongie, Yaoi-FireIce, aditdot, aiviilee, anonym103, chimss, cho eun hyun, chyperssi, clarajj, claravee, cutepark, fanfy, honeymon, hyoukassi, ikonbrides, jajennie, mbtion13, meganehood, melyauyut575, minkimwife, naomi tabita, selramochiii, sugantea, thalkm, tobikkoARMY, yasminnie, 3Min9Sec, Allre, Jung Hasu, Olga850, Runch Randaa, kevin lost in galaxy.
SARANGHAEYO *LOVESIGN* *HEARTSIGN*
