Seminggu Sebelum Kejadian di Penyebrangan Jalan…
Jungkook serius dengan ucapannya. Ia membawa Jimin ke apartment pribadinya yang dekat dari sekolah, ia bisa menggunakan apartment ini untuk berpesta dengan teman-temannya tapi keadaan genknya sedang tidak stabil jadi apartment itu jarang digunakan.
Saat masuk Jungkook langsung menghidupkan saklar lampu. Memberikan cahaya yang cukup untuk Jimin melihat ke dalam. Sebuah apartment sederhana, dengan dua kamar, ruang tamu sekaligus ruang keluarga, satu dapur yang luas dan satu kamar mandi serta toilet.
"Kau bisa pakai kamar di sana, itu kamar yang lumayan bersih" ucap Jungkook seraya membuka salah satu kamar di dekat ruang keluarga dan tamu. Jimin hanya mengangguk, ia tidak banyak protes malahan ia bersyukur karena Jungkook mau repot-repot melakukan ini.
"Gomawo-HIK!-"
"Kau tidak ikhlas minta maaf"
"Aku cegukan-HIK!- karena hal lain" sanggah Jimin dengan kepala tertunduk, sedangkan Jungkook mengangkat bahu tidak peduli dan tidak mau tahu. Ia berjalan keluar setelah menunjukan kamar yang akan Jimin tempati beberapa hari kedepan atau mungkin cukup lama.
"Kenapa kamu mau menolongku?"
Jungkook menghentikan langkahnya menuju dapur, ia menoleh menemukan Jimin masih berdiri di ambang pintu kamar, menunggu jawaban Jungkook. Pria bermarga Jeon itu menghela nafas, melangkah mendekati Jimin dengan pandangan tajamnya.
"Aku ingin saja menolongmu"
"Aku tidak bisa menahannya, tapi itu hal yang cukup sulit dipercaya. Kau sering membully ku untuk apa menolongku?" tanya Jimin masih bingung dan tidak mengerti dengan arti tatapan tajam Jungkook. Langkah Jungkook makin mendekat, Jimin yang awalnya biasa saja mulai menaruh curiga dan takut. Ia melangkah mundur mencari tempat aman tapi sudah tidak ada lagi.
Tubuhnya terperangkap di kusen pintu, dengan tubuh Jungkook di depannya serta lengan kokoh Jungkook mengunci pergerakannya. Nafas Jimin tercekat, matanya terkunci hanya memandang mata tajam Jungkook. Dari jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah tampan itu, ada bekat luka di sudut pipinya dan juga sebuah luka baru yang ditutupi plaster senada dengan kulitnya.
"Kau mau tahu alasannya?"
Jungkook balik bertanya, ia semakin merapatkan tubuh dan wajahnya. Hampir membuat hidung dan kening mereka bersentuhan bahkan bibir mereka juga hampir bersentuhan. Tapi Jungkook menahan itu, ia hanya diam memandang wajah tercekat, takut dan terkejut Jimin menjadi satu. Ia menyukai wajah itu, ia sangat menyukai bagaimana wajah itu ketakutan dan hanya memandangnya saja.
"Aku ingin kau berhutang budi padaku"
Jimin terkejut, keningnya mengernyit mendengar jawaban Jungkook. Ia tahu arti berhutang budi, tapi untuk apa? toh ia tidak akan pernah membalasnya karena ia tidak akan sanggup.
"Aku tahu kau pasti berpikir kau pasti tidak sanggup membayar hutang budi ini, karena itu aku menolongmu" ucap Jungkook seraya mengedarkan mata tajamnya menelisik lebih jauh wajah manis Jimin. Mulai dari pelipis, mata, hidung, pipi tembam itu dan terakhir bibir merahnya.
"Aku ingin kau selalu terbebani karena pertolongan yang pernah aku berikan. Kau akan selalu memikirkannya, kau akan selalu memikirkanku, memikirkan pertolongan yang pernah aku berikan. Aku senang kau seperti itu"
"Apa kau menyukaiku?"
Pertanyaan Jimin itu sanggup membuat mata Jungkook tidak fokus, pandangannya tidak lagi menajam. Pandangan mata Jungkook gusar, ia bingung harus menjawab apa, ia bingung dengan pertanyaan yang langsung membuat jantungnya berdetak cepat.
Dan Jimin menyadari perubahan raut wajah Jungkook. "Kau menyukaiku? Kau mencintaiku?" Jimin kembali bertanya, memastikan arti pandangan gusar Jungkook padanya. Ia sungguh berharap tidak, ia tidak ingin ada yang menyukai orang penuh kesialan seperti dirinya. Sudah cukup Yoongi yang terkena sial karena dirinya, ia tidak mau ada orang terkenal sial lagi.
"Cinta?" Jungkook bersuara dengan diakhiri kekehan mengejek, ia kembali menatap Jimin dengan pandangan tajam dan mengunci. "Aku tidak menyebutnya cinta karena aku tidak pernah percaya cinta. Aku hanya mengetahui kepemilikan, cinta itu tidak ada yang ada hanya kepemilikan."
"Jadi?"
"Kau milikku, Park Jimin"
Mata Jimin membulat. Tubuhnya terasa kaku melihat angka kebohongan di kepala Jungkook tidak bertambah, pria bermarga Jeon ini tidak main-main dengan ucapannya. Jimin mendadak takut, ia takut mendengar nada mutlak seorang Jeon Jungkook.
"Sejak kau meminta bantuanku, menerima bantuanku, dan tinggal di sini kau sudah menjadi milikku…" Jungkook tidak melanjutkan ucapannya, ia memandangi wajah ketakutan Jimin dengan senyum bahagia. Ia bahagia sudah mengklaim Jimin sebagai miliknya, ia bahagia akan hal itu.
"… jadi aku harap kau tidak akan pernah membayar hutang budi itu karena aku tidak akan menerimanya dan kau tidak akan sanggup membayarnya."
Jimin bergetar, ia menunduk tidak berani menatap Jungkook. Tubuhnya tidak bisa digerakan mendengar kepemilikan atas tubuhnya sudah di renggut dan sekarang di miliki Jungkook. Tubuh tegap itu sudah menjauh darinya, tapi ia masih tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk segera masuk. Ia masih menggigil ketakutan.
"Kau pasti tidak akan masuk beberapa hari tapi sekolah memberi batas untuk murid sepertimu maksimal seminggu. Kau bisa bersembunyi dari tua bangka itu di sini selama seminggu selebihnya kau harus kucing-kucingan dengan dia" ucap Jungkook sebelum dia pergi ke dapur, meninggalkan Jimin yang masih sulit bergerak bahkan untuk mengatur nafas.
Dan ketika ia berhasil bergerak masuk ke kamar itu, Jimin sadar bahwa pilihan ini akan membawanya ke dalam pintu masalah yang sangat rumit. Bahkan membayangkan bentuk pintu masalah itu sudah membuat semua orang kabur ketakutan, sedangkan Jimin? Dia malah dengan suka rela masuk ke dalam ruangan pintu masalah itu.
…
HIK!
Sudah tiga hari dirinya bersembunyi di apartment Jungkook tanpa ada satu orang pun yang tahu. Youngjae bahkan Taehyung tidak ia beritahu, ia benar-benar hanya ingin sendiri, menjauhi semua orang tanpa terkecuali. Selama tiga hari itu juga ia hanya tertidur, makan semaunya, dan lebih banyak duduk melamun memandangi malam.
Chim
Apa itu dari Yoongi? Apa Yoongi sengaja membuat bintang-bintang itu membentuk nama panggilannya saat kecil? Apa Yoongi juga sengaja menobatkan orang-orang pendosa untuk menarik perhatiannya? Apa Yoongi sedang mencarinya? Mau apa si brengsek itu mencari dirinya? Memintanya mencabut panah-panah itu.
"Jangan mencariku atau aku akan membunuhmu"
HIK!
Kepalanya kembali tertunduk, matanya kembali berembun cukup tebal. Bibirnya bergetar menahan tangis, ia tidak mau membunuh Yoongi tapi takdirnya mengatakan hal lain.
"Hiksss… -HIK!-"
…
NamJoon berdecak melihat Yoongi pagi-pagi begini sudah duduk melamun di balkon sambil memandangi matahari pagi. Dengan menggenggam sebotol minuman penghilang mabuk ia menghampiri Yoongi dan duduk di sampingnya. Yoongi masih tidak bereaksi, pria bermarga Kim itu mendesah kesal.
"Samchon jangan melakukan aneh-aneh dengan membuat matahari berwarna biru"
"Kau tahu itu ulahku?"
"Tentu saja, bahkan aku tidak berani pulang karena takut NASA datang ke rumah" ucap NamJoon sewot dan sebal, ia menghela nafas melihat Yoongi masih setia memandangi langit ketimbang melihat keponakannya yang tampan itu *NamJoonnarsisbangetya*.
"Apa Samchon sangat merindukannya sampai melakukan hal gila seperti ini? Apa yang akan terjadi jika misalnya aku tahu keberadaan Jimin sekarang?"
"Tidak usah membual, kau itu pasti masih mabuk" balas Yoongi sengit dan ketus. Ia melirik NamJoon dengan tatapan tajam tapi yang dilirik malah mengedikan bahu tidak peduli dan takut.
"Aku memiliki banyak koneksi, jangan remehkan aku. Lagipula, dia mau kabur kemana? Keluar negeri? Itu tidak mungkin karena dia tidak punya uang dan paspor. Dia juga masih sekolah, tidak mungkin juga dia mengambil libur padahal dia masih harus mengurus beberapa ujian lagi di sekolah sebelum benar-benar lulus"
Yoongi mulai tertarik, ia menoleh pada NamJoon yang ternyata sudah menoleh menatapnya sejak tadi sambil tersenyum misterius. Entah kenapa kali ini ia setuju dengan ucapan NamJoon, tidak mungkin Jimin pergi jauh dan membolos lebih dari seminggu. Anak itu pasti sekolah hari ini.
"Dia ada di sebuah gedung apartment milik temannya, Jeon Jungkook. Apartment itu ada di dekat sekolah mereka dan hari ini mereka berangkat bersama
…
Apa yang dikatakan NamJoon semuanya benar, ia melihat Jimin. Ia melihat orang yang ia cintai sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Matanya berkaca-kaca, ia sungguh sangat merindukan sosok mungil itu di dalam dekapannya. Ia ingin melangkah mendekat tapi semua itu terhenti karena sosok lain hadi di samping Jimin.
Sosok pria yang pernah ia temui di gerbang sekolah waktu itu. pria yang ia tebak bernama Jungkook itu, memandang Yoongi dengan tatapan menantang. Bahkan dia bersiul senang lalu merangkul Jimin dengan sangat erat. Rangkulan itu seolah-olah mengejek Yoongi dan memperlihatkan padanya bahwa Jimin sekarang miliknya.
"Jeon Jungkook, lepaskan-HIK!-"
"Kejutanku berjalan sedikit lebih cepat, kau mau melihatnya?"
Jimin mengernyit bingung, namun semua itu terjawab ketika Jimin menoleh ke depan. Yoongi berdiri mematung tidak bergerak saat melihat Jimin dirangkul cukup erat oleh Jungkook di depan matanya. Pandangannya menajam melihat Jimin tidak berontak lagi bahkan pemuda manis itu hanya diam saja tidak berniat menghampirinya. Dengan langkah lebar dan tidak memedulikan lampu pejalan kaki ia melangkah menghampiri Jungkook dan Jimin.
"Dia menatap kita, ow! Bahkan dia berjalan lebih dulu menghampiri kita, ayo kita hampiri dia!"
Ketika sudah berhadapan tanpa ragu, orang itu menarik kerah seragam Jungkook begitu juga dengan Jungkook. Mata mereka sama-sama menajam, tapi tatapan Jungkook bukan hanya tersirat ketajaman amarah tapi juga rasa puas melihat orang itu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
"Lepaskan dia! Dia tidak mau bersamamu!"
"Benarkah? Kau bisa tanyakan sendiri pada orangnya langsung" Jungkook balas menantang ucapan Yoongi. Mereka masih saling mencekik dengan Jimin berdiri di antara mereka, terkejut, tercekat akan situasi mencekam yang dikeluarkan Jungkook dan orang itu. Yoongi beralih memandang Jimin, menghadapkan tubuh mungil itu berhadapan dengannya.
"Pulang ke rumah"
"Aku tidak mau, itu bukan rumahku"
"Lalu dimana kau akan tinggal? Tinggal dimana kau selama seminggu ini?!" tanpa sadar Yoongi menaikan nada suaranya. Jimin tetap tidak gentar, ia malah semakin menengadah mensejajarkan pandangannya dengan Yoongi.
"Jungkook"
"Sekarang juga begitu? Kau akan ikut dengannya?"
"Nde,"
Jawaban itu sukses membuat Yoongi terdiam. Matanya menatap tidak percaya ke arah Jimin karena lebih memilih Jungkook ketimbang dirinya, bahkan Jimin sudah menggenggam tangan Jungkook sangat erat dan menariknya pergi dari area zebra cross yang sepi.
"Aku tidak mau kita terlambat-HIK!-" ucap Jimin diakhiri dengan cegukan tapi Yoongi kembali menarik tangannya hingga Jimin kembali ke posisinya berdiri tadi. sementara tangan Jimin yang lain di genggam erat oleh Jungkook.
"Kau cegukan, kau bohong. Kau tidak mau bersama dia"
"Aku lebih memilih dia-HIK!-kau yang membuatku memilih dia bukan karena diriku sendiri" ucap Jimin dengan suara serak, dengan kasar ia menepis tangan Yoongi dan Jungkook. Matanya menyalang, memerah menatap Yoongi terutama melihat panah yang tertancap di dada Yoongi.
"Saat dimana kau mengatakan kau mencintaiku, apa kau benar-benar mencintaiku?"
Yoongi tidak menjawab, pandangannya yang semula mengeras menahan amarah perlahan melunak. Jimin tersenyum miris, memalingkan wajahnya sebentar lalu memandang Yoongi lagi.
"Kau tidak mencintaiku, selamanya kau tidak akan mencintaiku-HIK!-. aku salah selama ini menilaimu, aku membuat keputusan yang salah karena membuka hati untuk pria sepertimu. Pria yang selalu berbohong, berbohong dan berbohong dengan alasan kebahagian pasangannya."
Mata Jimin sudah berair, ia menangis menumpahkan segala kekecewaannya pada Yoongi. Ia mengambil nafas panjang.
"Dan aku membenci pria pembohong, aku membencimu ahjussi"
HIK!
Yoongi mematung, pandangannya lurus memandang mata Jimin yang semakin berair dan meneteskan air mata yang sangat deras membentuk anak sungai.
"Karena itu jangan pernah muncul di hadapanku atau aku akan lepas kendali dan membunuhmu"
Jimin memberikan ancamannya sebagai salam perpisahan sebelum menggenggam tangan Jungkook dan menariknya pergi. Meninggalkan Yoongi yang terpaku di tempat tidak bisa bergerak, dirinya terlalu shock atas semua ini.
Jimin tidak mau menatapnya lagi, Jimin membuangnya, Jimin meninggalkannya. Jimin tidak memilihnya. Jimin pergi darinya.
Jimin tidak akan pernah kembali.
Jimin tidak akan pernah memilihnya lagi.
Jimin benar-benar… berusaha melupakan Yoongi.
Jimin…
(Cold Cherry-Growing Pains, Kwill-Nonfiction, Kwill-That Person, Yang Yoseob-Tree)
Setelah cukup jauh, Jimin melepas genggaman tangannya. Ia jatuh dalam posisi jongkok, menyembunyikan wajah dan suara tangisnya yang mengencang. Ia tidak mau terlihat lemah, ia tidak mau Yoongi melihatnya menangis, ia tidak mau ada seorang pun yang tahu tentang rasa sakit di dadanya.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya tadi adalah sebuah kebohongan, ia tidak mau membunuh Yoongi, ia tidak mau meninggalkan Yoongi, ia tidak mau melakukannya. Ia tidak sanggup berkata-kata seperti itu, tapi ia tidak ada pilihan lain.
Ia tidak mau Yoongi memiliki perasaan lebih padanya, begitu juga dirinya. Ia tidak mau mencintai Yoongi lagi, ia harus menghilangkan perasaan ini baru ia akan menemui Yoongi dan mencabut panah-panah itu.
"Sakit… hikss… sakit sekali… hiksss…"
Jungkook hanya diam, tidak berminat menenangkan Jimin karena menurutnya untuk apa juga ia menanangkan Jimin? Toh dia bukan siapa-siapanya. Dengan begitu ia menarik nafas kesal, mengambil langkah lebar meninggalkan Jimin tapi baru sepuluh langkah ia kembali terhenti. Menarik nafas panjang lalu berjongkok di hadapan Jimin yang masih menangis.
"Aku tidak mau mengatakan kata-kata penenang, tapi jika kau masih mau tinggal di apartmentku berhenti menangis"
"Kau tidak tahu perasaanku… hiksss… kau tidak tahu bagaimana sakitnya"
"Aku tidak tahu dan aku tidak mau peduli tentang hubunganmu dengan pria tua itu. aku hanya ingin kau diam dan tidak membuatku malu, arraseo?!"
Jimin terdiam, untuk apa juga membicarakan masalah seperti ini pada Jungkook. Toh dia tidak akan mengerti, dengan begitu Jimin menghapus air matanya berdiri dari posisi jongkoknya. Meskipun masih sesegukan tapi tangis Jimin tidak sehisteris tadi, dia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri dan ia bersyukur akan hal itu.
"Bagus, kau penurut sekali"
HIK!
Cegukan itu kembali terdengar tapi Jungkook tidak mau ambil pusing. Ia menarik tangan Jimin, membawanya dalam genggaman penuh paksaan bahkan Jimin sedikit ia seret agar cepat sampai ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh tersebut.
…
Sesampainya di gerbang sekolah yang mulai ramai atensi seluruh siswa menatap dirinya dan Jungkook dengan pandangan terkejut dan marah. Jimin menciut, ia sedikit melangkah mundur tapi Jungkook menahan punggungnya lalu merangkul bahunya.
Hal itu semakin memperparah tatapan tidak suka dan mencibir mereka. Jimin menunduk, menyembunyikan wajahnya dari serangan tatapan tajam itu. ini masih terlalu pagi ia tidak siap menerima tatapan setajam itu sepagi ini, terlebih Bambam dan Baekhyun yang sudah datang menghampiri Jungkook.
"Kau mulai bermain tanpa menunggu kami?"
"Jika Jieun melihat ini bisa dipastikan dia akan mengamuk"
Jungkook tidak mengindahkan ucapan-ucapan teman-temannya, ia malah semakin erat merangkul Jimin dan membawa tubuh mungil itu menembus krumunan siswa yang mengerubungi kita. Namun, Bambam tidak tinggal diam ia dengan berani menarik Jungkook hingga pria bermarga Jeon tersebut melangkahkan kakinya.
"Kau mau menentang kami?"
"Aku sedang malas, jadi biarkan aku urus si miskin ini"
"Kau selalu mengatakan itu, kau pasti membuat-buat alasannya" balas Baekyun yang mulai kesal dan naik darah. Jungkook yang terpancing melepas rangkulannya, berniat maju sebelum seseorang tiba-tiba muncul di belakang Bambam dan Baekhyun. Orang itu menatap Bambam dan Baekhyun bergantian lalu Jungkook dan Jimin.
"Aku memang membuat alasan itu, kalian mau apa? berkelahi?"
Bambam tersenyum miring, mengangkat tanganya bersama dengan Baekhyun. Namun, sebuah pukulan super kuat tiba-tiba datang dari arah belakang mereka. Ketika berbalik hendak balik menghajar atau mengumpat, Baekhyun dan Bambam sama-sama membisu melihat pelaku pemukulan mereka.
"Sonsaengnim"
"Bagus sekali kalian membuat ulah sepagi ini, aku menyukai sarapan memukuli muridku pagi-pagi" ucap Taehyung sambil menimang-nimang buku tebal yang tadi ia gunakan untuk menghajar Bambam dan Baekhyun. Dua murid pembully itu berdecih kesal, melempar lirikan tajam ke Jungkook dan Jimin sebelum pergi berbarengan dengan murid-murid yang lain.
Taehyung menghela nafas, menggelengkan kepala tidak mengerti dengan jalan pikiran Bambam dan Baekhyun. Dua anak itu beserta genk trouble maker mereka, Taehyung tidak pernah mengerti isi pikiran mereka. Matanya lalu beralih pada Jungkook dan Jimin yang masih menunduk dengan suara cegukan yang nyaring.
"Kembali ke kelasmu, Jeon Jungkook"
"Sonsaengnim, aku juga harus membawa Jimin ke kelas"
"Dia membolos selama seminggu penuh, aku harap dia punya alasan yang tepat agar aku tidak lepas kendali memberi hukuman untuknya" ucap Taehyung dengan suara menggeretak, menatap Jimin yang sudah melepas rangkulannya dan berdiri di hadapan Taehyung.
Jungkook mendengus kesal, melangkah meninggalkan gerbang sekolah yang sudah sepi karena bel masuk sudah berbunyi. Taehyung sendiri masih berdiri, memandang Jimin yang diam tidak bergerak sama sekali.
"Ikut aku ke ruanganku"
"Nde"
…
Taehyung duduk, matanya memandang setiap gerak gerik yang dikeluarkan Jimin saat duduk di hadapanya. Murid yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu terlihat gelisah, menyembunyikan sesuatu yang berat, dan pasrah. Mungkin yang terakhir itu ada karena Taehyung terlalu tajam dan menuntut dalam memandang Jimin.
"Kau bisa jelaskan kenapa kau membolos satu minggu penuh?"
Jimin masih menunduk, melirik ke arah Taehyung cukup lama lalu membungkuk cukup dalam, "Ceosonghamnida-HIK!-"
Taehyung menghela nafas panjang, bangun dari duduknya begitu juga dengan Jimin. Pemuda manis berstatus guru BK itu berdiri tepat di depan Jimin, "Jawab pertanyaanku tanpa cegukan"
"Saya tidak bisa-HIK!-"
Taehyung menghembuskan nafas, meregangkan tangannya lalu melayangkan tangannya ke wajah Jimin. Tapi bukan sebuah tamparan yang diterima Jimin, melainkan sebuah pelukan hangat dan erat dari Taehyung.
"Jangan membuatku cemas lagi, aku benar-benar khawatir padamu. Kemana saja kau seminggu ini? kau tahu aku benar-benar gila karena kau tidak ada dimana-dimana dan sulit di hubungi"
Jimin tidak menjawab, ia menutup matanya mencegah air matanya keluar. Kali ini ia menangis haru, baru pertama kali ada orang yang mengkhawatirkan dirinya karena tidak pernah pulang dan sulit di hubungi. Ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari bibinya, jika ia pulang terlambat ia tidak pernah mendapat pelukan melainkan sebuah pukulan.
Taehyung masih memeluk Jimin sangat erat, mengusap kepala dan punggung Jimin bergantian. Hampir lima menit lamanya Taehyung memeluk Jimin, dengan berat hati ia melepas pelukannya. Mengusap sayang kedua sisi wajah Jimin sambil tersenyum lembut.
"Jawab pertanyaanku, kemana saja kau selama ini? Apa Jungkook mengerjaimu?"
"Anniyo, sonsaengnim" bantah Jimin cepat-cepat. Ia menggeleng, memberi jeda pada ucapannya sebelum kembali bicara dengan nada pelan, "Dia malah memberiku tempat tinggal-HIK!-aku cegukan bukan karena ini-HIK!"
Taehyung mengangguk paham, ia tahu Jimin tidak berbohong soal Jungkook. Namun, senyum lembutnya menghilang mengingat pria tua mirip rubah atau anjing itu. pria itu pasti yang membuat adiknya ini menangis dan kembali mengalami cegukan berkepanjangan.
"Kenapa kau menghilang seperti ini? kau kabur dari pria itu?" tanya Taehyung to the point. Jimin terkejut, ia tidak menjawab, ia diam seribu bahasa mendengar arah pembicaraan Taehyung. Pasti Taehyung bicara soal Yoongi, tapi tunggu dulu darimana Taehyung mengetahui Yoongi.
"Jika kau bertanya darimana aku tahu, itu karena dia datang ke sekolah dan mencarimu. Bahkan dia menunggu di depan ruang BK ku"
Jimin terkejut, ia tidak menyangka jika Yoongi akan melakukan itu hanya untuk mencari keberadaanya. Tiba-tiba perasaan hangat menjalar di dadanya, ada rasa bahagia karena Yoongi sangat peduli padanya bahkan sampai repot-repot mencarinya seperti itu. namun, perasaan hangat itu berubah menjadi dingin dalam sekejap mengingat kebohongan Yoongi selama ini.
"Aku melihat wajahnya, dia tidak tampan sama sekali malah mirip salah satu spesies anjing paling tidak luca di bumi. Dia juga terlihat tua, orang kaya memang tapi dia itu benar-benar menyebalkan. Bagaimana kau bisa menangisi bahkan cegukan menyiksa seperti itu karena dia?" tanya Taehyung tidak percaya. Jimin sendiri kembali menunduk, membenarkan pernyataan Taehyung tentang Yoongi.
Untuk apa ia menangisi Yoongi, toh dia memang membenci Yoongi.
HIK!
Ia ingin membenci Yoongi, ia harus membencinya karena itu adalah jalan terbaik ketimbang melihat Yoongi mati dengan tangannya sendiri. Air matanya kembali mengalir, ia kembali menangis histeris. Ia tidak bisa melihat Yoongi mati, ia tidak mau Yoongi mati atau pergi. Ia juga tidak mau membenci Yoongi tapi ini adalah jalan terbaik selain mencintainya.
"Jimin-ah, jangan bersedih lagi, aku tidak bisa melihat adikku bersedih." Taehyung berucap dengan suara lembut, menarik Jimin dalam pelukan hangatnya. Menyandarkan kepala bersurai hitam itu ke pundaknya, mengusap-usapnya dengan lembut dan kasih sayang.
"Jangan menangis lagi, adikku. Semua akan baik-baik saja"
Ingin rasanya Jimin berteriak kalau semua tidak akan baik-baik saja. Tidak aka nada yang baik-baik saja selama Jimin masih tetap sumber kedukaan Yoongi. Semua tidak akan baik-baik saja selama Tuhan tidak menarik takdir kejam ini, semua tidak akan baik-baik saja.
…
…
Penderitaan Jimin tidak berhenti di gerbang sekolah itu saja. Memasuki jam makan siang seluruh murid berkumpul di kantin untuk mengambil makanan, termasuk Jimin tapi ada yang berbeda dari pemuda manis itu. seluruh murid tidak henti-hentinya mencibir kelakuan Jimin tadi pagi, ada yang mengatakan Jimin duri dalam daging, perusak hubungan orang dan masih banyak lagi gunjingan yang mereka bicarakan tentang Jimin.
Ia hanya bisa menunduk, berjalan layaknya siput ke barisan untuk mengambil makanan. Beberapa murid yang menyadari kehadiran Jimin terang-terangan membicarakannya bahkan ada yang sampai menyikutnya hingga ia keluar dari barisan.
HIK!
"Astaga! Telingaku sakit mendengar suara cegukanmu itu, bisakah kau berhenti cegukan dan akui saja cibiran kami? Aku muak mendengarnya!" marah seorang siswi yang tadi menyikut Jimin.
"Aku bukan cegukan karena itu, aku tidak seperti yang kalian bicarakan selama ini" sanggah Jimin dengan pandangan menatap si siswi cantik itu-Nayoung. Gadis dengan julukan stone face itu membuang nafas kesal, keluar dari barisan lalu mendorong pundak Jimin hingga pemuda manis itu sedikit oleng.
"Dengar ya, aku tidak peduli apa alasanmu cegukan tapi yang aku pedulikan adalah telingaku. Aku benar-benar tidak menyuk-Akh!"
Sebuah Ipod beserta earphone mendarat mulus tepat di kepala Nayong dan jatuh di kaki si gadis. Jimin terkejut melihat si pelaku lemparan, siapa lagi kalau bukan Jungkook. Pria pemimpin Trouble Maker itu menatap tajam penuh amarah ke Nayoung yang langsung menciut mendapat tatapan seperti itu.
"Jika telingamu sakit mendengar cegukannya lebih baik sumpal telingamu dengan earphone ku!" perintah Jungkook, suaranya berdesis tajam, pandangannya semakin tajam melihat Nayoung berdecak ke arah Jimin sebelum berlalu pergi dengan perasaan dongkol dan segala umpatan pedas untuk Jimin.
Tubuh pemuda denga marga Park itu masih berdiri kaku. Matanya membola melihat kejadian dimana Jungkook melempar wajah cantik Nayoung dengan Ipod, ia berani jamin jika lemparan itu tidak main kuatnya. Ragu-ragu ia menoleh memandang Jungkook, ia semakin terkejut melihat Jungkook sudah ada di sampingnya dan tanpa aba-aba menarik lengannya untuk kembali berbaris.
"Baris, aku akan berdiri di belakangmu"
Jimin menurut, ia berbaris dengan Jungkook di belakangnya. Antrian yang semula panjang mendadak berhenti melihat Jungkook berbaris, mereka segera membubarkan diri dan memberikan kesempatan Jungkook untuk mengambil makanan lebih dulu.
"Ambil makananmu dan duduk di sana"
Jimin kembali mengangguk. Ia melangkah masih dengan kepala menunduk, menerima makanan yang diberikan petugas kantin dengan senyum seadanya. Setibanya ia hendak mengambil makanan penutup ia terkejut setengah mati melihat Bambam dan anggota Trouble Maker yang lain juga ada di sana.
Jieun memutar bola matanya malas, ia sudah muak dan emosi sejak pertama kali melihat Jungkook merangkul Jimin tadi pagi. ia sudah tidak bisa menahan emosinya tapi Jinyoung segera menahannya begitu juga dengan Joy.
"Santai, kita lihat apa yang akan Bambam dan Baekhyun lakukan" ucap Joy menenangkan Jieun. Gadis dengan tubuh mungil itu menarik nafas panjang lalu mendengus penuh amarah melihat Jimin dengan berani melangkah mendekati tempat makanan penutup.
Tubuh Jimin bergetar ketakutan, bahkan tangannya yang memegang nampan ikut bergetar. Bambam dan Baekhyun tersenyum bahagia, meminggirkan tubuh mereka agar Jimin bisa mengambil makanan penutup.
"Ambil, aku tidak akan menahanmu untuk mengambi pudding dan susu. Aku tidak sejahat itu" ucap Baekhyun dengan gummy smile nya. Bukannya senang, Jimin semakin ketakutan. Ragu-ragu ia melangkah maju, mengambil pudding dan susu. Ketika ia hendak berbalik ke meja yang ditunjuk Jungkook, dengan sengaja Bambam menjulurkan kakinya.
Ia jatuh terejerembab, piring makan siangnya jatuh ke lantai mengotori seragam dan juga lantai kantin. Tubuhnya kaku tidak bisa digerakan, ia terkejut, ia malu. Seumur hidupnya mereka tidak pernah membully Jimin hingga seperti ini. mereka hanya akan membully dirinya di kelas atau sepulang sekolah, ini pertama kalinya Jimin mendapat perlakuan seperti ini.
Seluruh murid yang ada di kantin tertawa puas, terbahak-bahak melihat Jimin terjatuh dengan posisi benar-benar memalukan. Wajahnya menunduk, tidak berani mengangkatnya karena hanya akan menambah suara tawa mereka.
"Susumu tumpah, aku akan berikan yang baru untukmu" ucap Bambam dengan wajah berpura-pura menyesal, ia kembali berjalan ke tempat makanan penutup. Mengambil sekotak susu, membukanya lalu menumpahkan isinya ke tubuh Jimin.
"Kau suka susu?"
"HAHAHA!"
Jimin hanya diam, tangannya terkepal menahan suara isakannya. Ia tidak bisa melawan, ia tahu ia terlalu lemah untuk menghentikan mereka. Bibirnya bergetar, matanya sudah basah karena air mata dan susu yang ditumpahkan Bambam mengenai kepalanya.
"GEUMANHAE!"
Jungkook berteriak, matanya terbelak penuh emosi. Dengan langkah lebar ia menghampiri Bambam, melempar kotak susu tadi, mencengkram kerah seragam Bambam dengan kekuataan penuh karena amarah.
"Kau kenapa? Kau tidak suka membully nya seperti ini? kau tidak setuju? Kau tidak suka melihatnya? Kau tidak perlu melihatnya, jika kau tidak suka"
Cengkraman Jungkook makin menguat, bahkan nyaris mencekik Bambam. Tapi anehnya pria asal Thailand itu sama sekali tidak meringis kesakitan atau memohon untuk di lepaskan meskipun ia sulit bernafas. Jimin bangun dengan susah payah, berusaha melepas cengkraman tangan Jungkook di kerah seragam Bambam.
"Kau tidak perlu melakukan itu. Aku tadi jatuh sendiri-HIK!-"
Jungkook tidak mendengarkan, ia semakin kuat mencekik Bambam, "Jeon Jungkook, geumanhae!" teriak Jimin kalap melihat tubuh Bambam mulai melemas karena tidak bisa menghirup oksigen sama sekali. Mata Jungkook masih berkilat penuh emosi, dengan kasar ia melepas cekikannya lalu beralih menatap Jimin.
"Kau bahkan berani melukai temanmu sendiri karena dia, kau benar-benar berubah Jeon Jungkook" ucap Jieun menghampiri Jungkook yang sedang mengatur nafas dan emosinya. Mata gadis itu memicing tajam setiap kali beradu pandang dengan Jimin yang hanya menunduk. Tangan mungil Jimin masih setia menahan pergerakan Jungkook, takut pria bermarga Jeon itu lepas kendali lagi.
"Kau bahkan lebih menuruti Jimin daripada kami, kau benar-benar hebat Jungkook" ucap Joy dengan nada sinis penuh sarkasme. Jimin semakin menunduk, berniat menjauhkan tangannya tapi Jungkook menahan tangan mungilnya bahkan menggenggamnya.
"Eoh, aku lebih menurutinya. Memang kenapa? Kalian mau marah?"
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa sekarang kau benar-benar menyukainya?" marah Jieun seraya menghampiri Jimin dan Jungkook lebih dekat. Tangan mungilnya sudah hampir menyentak genggaman Jungkook tapi seseorang sudah lebih dulu menyentaknya.
Jimin terkejut melihat si pelaku penyentakan. "Ikut aku," ucap si pelaku sambil menyeret Jimin mengikutinya. Jimin awalnya berontak tapi ia tahu percuma saja ia berontak dari orang seperti Yoongi, karena ia tidak akan sanggup melawannya.
Jungkook hampir saja mengejar Jimin sebelum Jieun menahannya, menatap pria yang ia cintai selama tiga tahun dengan pandangan penuh amarah.
"Jawab pertayaanku, apa kau menyukainya?"
"Kau mau jawaban apa yang aku keluarkan"
"Tidak menyukainya, jawab aku tidak menyukainya. Karena aku akan sangan membencimu jika kau menjawab aku mencintainya" ucap Jieun dengan desisan tajam, rahangnya mengeras, matanya menyipir tajam melihat Jungkook tersenyum miring. Melepas cengkramannya dengan sangat kasar bahkan tubuh gadis itu sedikit terdorong ke belakang.
"Aku memilih jawaban yang akan membuatmu membenciku, aku menyukainya"
…
…
Yoongi membawa Jimin ke atap sekolah. Tidak ada siapa pun di sana, beberapa barang bekas yang biasanya menumpuk sekarang sudah tidak ada. Entah siapa yang memindahkannya tapi Jimin bisa jamin itu bukan perbuatan manusia. Yoongi pasti sengaja melakukannya, dia sengaja membereskan atap sekolah karena dia tahu Taehyung memberinya hukuman untuk membereskan barang-barang di atap sekolah.
Setelah mengatarkannya, Jimin beringsut mundur. Berdiri membelakangi Yoongi, menutup mulutnya sendiri meredam suara tangisnya. ia terus menangis, menghiraukan kepalanya yang lengket karena susu serta seragam sekolahnya yang kotor terkenda noda makan siang hari ini.
"Hiksss…"
Ia menangis bukan karena kejadian tadi, ia tadi memang menangis karena itu tapi sekarang ia menangis karena cegukannya hilang. Cegukannya hilang ketika Yoongi datang dan menyeretnya pergi, ia sadar jauh di dalam dirinya ia menginginkan Yoongi. Ia sangat merindukan Yoongi, tapi ia menampik segala macam perasan rindu.
Ia tidak mau merindukan Yoongi. Ia tidak mau melihatnya. Ia tidak mau Yoongi ada di sini. Ia tidak mau Yoongi.
"Hiks-"
Tangisnya terhenti. Wajahnya mendongak setelah bermenit-menit menunduk dan tertutup telapak tangan mungilnya. Sebuah handuk dan usapan lembut pada rambutnya membuat ia tersadar jika Yoongi tidak pergi sejak tadi, gumiho itu melihat dan mendengar dirinya menangis. Matanya berkaca-kaca melihat Yoongi ada di depannya, mengusak rambutnya yang lengket karena susu dengan hati-hati.
"Dia akan bertemu dengan Sang Maha Kuasa"
Jimin segera tersadar, ia beringsut mundur menjauhi Yoongi hingga tubuhnya hanya berjarak setengah meter dari pagar pembatas. Wajahnya ia palingkan, tidak berniat menatap Yoongi meskipun Yoongi sedang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. Kedua telapak tangannya yang mungil terkepal, kepalanya lalu menunduk menahan tangis.
"Aku hanya membersihkan rambutmu"
"Tidak perlu" balas Jimin masih dengan kepala menunduk dan wajah berpaling. Yoongi meringis, entah kenapa panah di dadanya tiba-tiba terasa sakit. Apa mungkin karena Jimin menolaknya secara tidak langsung?
Perlahan ia mendekat, mengambil satu langkah, dua langkah mendekati Jimin. Bisa dilihat pemuda manis itu gelagapan, seperti menolak Yoongi mendekat. Terpaksa ia melangkah mundur hingga tubuhnya tidak bisa bergerak lagi karena sebuha pagar pembatas.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau tidak dengar ucapanku tadi pagi?" tanya Jimin berusaha sesinis mungkin tapi semua itu percuma karena suara cegukannya akan selalu muncul. Ia bahkan hampir menangis mengucapkan kata sesinis itu pada Yoongi.
"Youngjae menitipkan ini padaku, hasil ujianmu" ucap Yoongi seraya mengeluarkan secarik kertas berisi hasil ujian Jimin kemarin. Pemuda manis dengan tubuh mungil itu mengambilnya, menatap hasil ujiannya sebentar lalu memasukannya ke saku celana seragamnya.
"Dia juga bilang beberapa hari kedepan dia akan sulit di hubungi karena menyiapkan pendaftaraan ke sebuah sekolah masak"
"Jangan buat temanku menjadi alasanmu untuk menemuiku" balas Jimin masih dengan nada dibuat sinis dan tidak peduli. "Kau sudah banyak berbohong di kehidupanmu yang panjang ini. jangan menambah dosamu sebelum aku mencabut panah-panah itu." Jimin melanjutkan ucapannya dengan pandangan lurus ke menatap Yoongi.
"Kau harus menjalankan tugasmu"
Mata Jimin membulat melihat tangan Yoongi menggenggam tangannya dan mengarahkannya ke salah satu panah yang tertancap di dada Yoongi.
"Jangan bercanda, lepaskan aku!"
Yoongi seakan tulis, ia arahkan tangan itu semakin dekat bahkan Jimin sudah bisa merasakan panah itu menyentuhnya. Jimin semakin panik, ia berontak, berusaha keras menarik tangannya, mendorong tubuh Yoongi. Tapi Yoongi tidak bergeming, ia tetap mengarahkan tangan Jimin ke panahnya, semakin dekat semakin intens berontakan Jimin.
"Lepaskan! Aku tidak mau mencabut panahmu! Aku tidak mau kau mati! Hikss…"
Yoongi tertegun melihat Jimin menangis, masih dengan memukul dadanya bahkan ia merasakan Jimin mendorong-dorong tubuhnya masih dengan menangis histeris.
"Aku tidak mau kau mati… hiksss…"
"Kenapa kau berbohong ingin membunuhku?" tanya Yoongi dengan suara lembutnya, tangannya masih mencengkram tangan Jimin tepat di dadanya namun dalam jarak yang cukup aman dari panah berdosanya.
"Kenapa aku tidak boleh berbohong hanya karena penyakit cegukanku? Kau saja berbohong banyak hal padaku… hikss…" ucap Jimin dengan suara sesegukan orang menangis, menengadah menatap Yoongi yang terdiam tidak menjawab atau membalas ucapannya lagi.
"Kenapa kau membohongiku seperti itu? Kenapa kau menutupi semuanya? Kenapa kau menutupi kalau aku ini malaikat pencabut nyawamu? Kenapa kau menutupi kebenarannya jika aku mencabut panah itu kau akan mati? Kenapa? Kenapa kau berbohong seperit itu? Kenapa… kenapa, ahjussi…"
"Aku punya alasan kenapa aku membohongimu"
"Alasan?" tanya Jimin dengan nada mengejek, ia melepas genggaman tangan Yoongi paksa mengepalkan tangannya mendengar kata alasan. "Alasan? Kau memang selalu mengeluarkan alasan selain ucapan bohongmu. Kali ini apa? Kau ingin aku merasa tidak terbebani? Kau salah, seharusnya kau menjelaskan semuanya dari awal. Agar aku tidak memiliki perasaan ini, agar aku tidak memiliki perasaan ini padamu… hiksss…"
"Dengarkan aku, Park Jimin" ucap Yoongi seraya menyentuh kedua lengan Jimin, tapi si pemilik lengan menggeleng dan terus berontak, menangis.
"Aku tidak mau mendengar apa pun, aku tidak butuh alasanmu, aku tidak membutuhkanmu-HIK!- kau tidak pernah mencintaiku, jadi untuk apa kau ada di sini?" Jimin makin berontak, berusaha lepas dari cengkraman Yoongi tapi ia terlalu lemah untuk melepasnya tapi ia juga tidak mudah menyerah.
Kesal. Sisi liar dari gumiho yang ia miliki mendadak menguasai tubuhnya, secepat kilat Yoongi mendorong Jimin ke pagar pembatas, mencengkram kedua tangan Jimin begitu erat. Jimin terkejut, dirinya tidak sempat menghidar dari ciuman yang diberikan Yoongi. Matanya terpejam, ia takut, ia takut melihat wajah Yoongi. Ia tahu yang ada di hadapannya bukan Yoongi, tapi sisi lain dari seorang Yoongi.
Tangannya gemetar dalam cengkraman Yoongi, gemetar itu begitu hebat bahkan Yoongi tersadar ia segera melepas tautan bibir mereka. Matanya menangkap Jimin semakin menunduk, matanya basah karena air mata sudah membanjirinya sejak tadi.
"Aku ingin kau membutuhkanku"
Yoongi mengucapkannya dengan nada pelan, tepat di depan bibir Jimin yang bengkak dan basah karena ciuman mereka. Mata tajamnya terpejam, ia masih belum bisa mengendalikan tubuhnya karena Gumiho sialan itu marah melihat Jimin tidak menurut.
Nafasnya memburu, cengkramannya melemah begitu juga dengan tubuh Jimin yang tidak bergetar lagi serta cegukannya sudah mereda. Masih dengan rasa takut ia menengah, menatap Yoongi yang ternyata masih memejamkan matanya.
"Aku takut, aku sangat takut, Jimin"
Perlahan mata itu terbuka, menampilkan sepasang iris berwarna hitam menatapnya lekat. Pandangannya tidak semenyeramkan tadi, tatapan itu terkesan begitu menyedihkan dan penuh pengharapan pada Jimin. Kesedihan dan harapan menjadi satu di kedua mata tajam milik Yoongi.
"Karena itu aku tidak memberitahumu, aku takut kau tidak akan pernah membutuhkanku. Karena jika kau tidak membutuhkanku… tidak ada alasan untuk kita bersama"
Jimin tertegun matanya yang sudah tidak mengeluarkan air mata, air matanya habis untuk menangisi hidupnya selama ini. ia hanya diam dengan pandangan memerah dan berkaca-kaca memandang Yoongi yang sedang menggenggam tangannya.
"Aku membutuhkan alasan untuk tetap hidup di bumi" Yoongi melanjutkan kalimatnya dengan mata lurus menatap Jimin yang balik menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Jimin kembali terisak mendengar kata hidup, kata itu mengingatkannya pada hidup Yoongi ada di tangannya. Hidup Yoongi tergantung dari dirinya sendiri, ia memang tidak mau membunuh Yoongi tapi Sang Kuasa tidak akan mengabulkannya.
"Alasanku adalah kau harus membutuhkanku, dengan begitu aku akan terus hidup disampingmu, bersamamu, denganmu…
Tapi jika kau tidak membutuhkanku maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap hidup"
Jimin kembali menangis, melepas genggaman tangan Yoongi dengan perlahan. Kepalanya menunduk, air matanya kembali keluar membasah wajah manisnya dan cerianya bersamaan dengan kalimat terakhir Yoongi.
Ia tidak tahu apakah dirinya membutuhkan Yoongi, ia memang mencintai Yoongi tapi bukan itu yang dibutuhkan Yoongi. Yoongi membutuhkan sebuah alasan kuat yaitu dirinya, Yoongi ingin alasannya adalah Jimin. Tapi Jimin masih takut, ia takut dengan takdir buruk dan kehidupan gelapnya tidak membuat Yoongi bahagia malah semakin terpuruk.
Ia takut akan hal itu…
Ia tidak mau Yoongi pergi dari hidupnya…
Tapi…
Ia juga takut membutuhkan Yoongi dalam hidupnya…
Ia juga sangat takut seperti Yoongi…
Ia sangat takut…
TBC
aku sempet panik karena FFN error dan aku udah marah" sendiri, dan jam segini baru bisa setelah berdoa dan bisa. aku lega karen udah bisa,
Hai? Apa kabar? Gimana? Aku kasih ciuman tapi bukan ciuman cinta tapi ciuman tangisan? Hihihi… jangan rajam aku ya kerena aku bikin kisah cinta mereka bener-bener menyedihkan. Ada yang diam-diam menunggu JinV? Sabar ya, mereka akan muncul di chapter depan…
Dan juga di sini ada pendukung YoonMin atau KookMin? Kalo ada yang nanya aku, aku lebih dukung Jimin ama aku *digampar* bercanda, aku juga bingung ya mau nentuin Jimin ama siapa.
Terimakasih yang udah mendukung ff ini dengan review, fav, follow dan juga membaca secara diam-diam dan menyukai ff ini secara diam-diam. Ayo tunjukan wajah kalian, aku penasaran pendapat kalian baca ff ini. meskipun hanya satu kata tapi kalian udah meninggalkan kesan jejak tersindiri di hati aku *ketularan gombal NamJoon*
oh ya ngomong" NamJoon nggak muncul lagi ya? hehehe, dia akan muncul nanti jadi bersabar ya, aku usahain update chapter 17 besok pagi atau malemnya karena tinggal rapihin aja, oke? dan chapter 17 itu cukup banyak gula alias manis-manisnya tapi tetep ada angst nya kok *ketawa nista*
Apa kalian nangis kejer atau ngatain aku penjahat karena aku bikin mereka menderita terus? Tenang aja hidup itu harus begitu kawan, ada sedihnya dan bahagianya aku pasti bikin bahagianya. Mereka ada masanya dimana mereka akan bahagia dan lovely dovely.
Sabar ya…
Akhir kata aku berterimakasih banget,
Dan…
SARANGHAEYO *HEARTSIGNLARGE* HEARTSIGNMEDIUM* *HEARTSIGNSMALL*
TERIMAKASIH YANG SUDAH FAV DAN FOLLOW, aku juga cinta kalian SARANGHAEYO *HEARTSIGN*
Baby Jiminie, ChimChimiJimin, ChiminsCake, Fujoshimulfan, Gasuga, GummyDear, Hiroki Sasano, Kanyasyub, Mitha478, Runch Randaa, Stupefy Jin, TaeJinKim, Tyongie, Yaoi-FireIce, aditdot, aiviilee, anonym103, chimss, cho eun hyun, chyperssi, clarajj, claravee, cutepark, fanfy, honeymon, hyoukassi, ikonbrides, jajennie, mbtion13, meganehood, melyauyut575, minkimwife, naomi tabita, selramochiii, sugantea, thalkm, tobikkoARMY, yasminnie, 3Min9Sec, Allre, Jung Hasu, Olga850, Runch Randaa, kevin lost in galaxy, kim kyusung, rzil21
