"Mwo?"
Semua orang yang ada dikantin terkejut. Sangat terkejut malah mendengar pengakuan Jungkook bahwa dia menyukai Jimin. Beberapa murid perempuan berteriak, bahkan ada yang menangis mendengar pengakuan Jungkook bahwa pria tampan itu menyukai murid yang selalu di bully nya setiap hari.
"Jangan bercanda, Jeon Jungkook. Ini tidak lucu" ucap Jinyoung masih tidak percaya dan menganggap Jungkook bercanda. Tapi pria bermarga Jeon itu tersenyum miring, menyentak tangan Jieun dan berniat pergi tapi kali ini Jinyoung dan Baekhyun menahannya.
"Kau mengkhianati temanmu? Kau mengkhianati gadis yang selalu ada di sampingmu, mendukung segala tindakanmu entah buruk atau tidak, yang terpenting kau mau meninggalkan teman-temanmu ini?"
Jungkook menghela nafas, menatap seluruh anggota genknya lalu Jieun yang masih shock tidak bisa bergerak mendengar pengakuan Jungkook yang membuat hatinya terasa nyeri luar biasa. Joy yang ada di dekatnya menahan tubuhnya yang hampir ambruk karena terlalu shock.
"Aku tidakk pernah memberinya harapan, aku juga tidak pernah meminta dia mendukungku. Begini saja, jika kau menyukainya kau saja yang menjadi pacarnya" ucap Jungkook dengan lirikan malas melihat opera sabun yang dikeluarkan Jieun untuk memancing belas kasihan darinya. Tapi itu percuma, Jungkook tidak akan pernah menyukai Jieun karena dia sudah menyukai orang lain.
"Jika tidak ada yang dibicarakan aku pergi"
Semua orang makin terperangah melihat sikap acuh dan dingin yang dikeluarkan Jungkook. Pria bermarga Jeon itu berjalan keluar kantin, matanya menelusuri setiap jalan yang kemungkinan besar Jimin lewati bersama pria tua bangka itu.
"Aku melihat drama murahan di kantin tadi"
Jungkook memberhentikan langkahnya mendengar suara yang sangat ia hafal di luar kepala. Itu suara senior sekaligus pemimpin Trouble Maker terdahulu. Ia menoleh, melihat Jaebum tersenyum miring lalu merangkul pundaknya.
"Kau menyukai murid yang selalu kau bully? Sekarang kau tahu rasanya mencintai seseorang?"
"Aku tidak pernah merasa mencintai Jimin"
Jaebum mengernyit, menatap Jungkook dengan penuh tanda tanya besar. Sementara yang di tatap hanya tersenyum miring melihat ke ujung lorong. Jaebum bersiul melihat orang yang sedang mereka bicarakan tengah berjalan ke arah mereka. Ia bisa melihat Jungkook begitu antusias melihat Jimin sudah dekat dengannya, ia pikir Jungkook akan menghampiri dan menanyakan keadaannya tapi yang terjadi.
Jungkook malah mencekal lengan kurus itu hingga tubuh itu terhenti. Bisa ia lihat Jimin menghela nafas, melempar tatapan tidak suka dan risih ke arah Jungkook dan Jaebum. Dengan sekali hentak Jimin berhasil melepaskan diri dan segera bergerak cepat meninggalkan Jungkook yang terpaku begitu juga Jaebum.
Mata Jungkook terus melihat ke arah Jimin yang sudah menghilang di balik toilet setelah sebelumnya berjalan ke loker mengambil seragam olahraga. Perasaan aneh itu kembali muncul, perasaan sakit itu. sakit yang aneh, sakit yang akan datang jika Jimin mengacuhkannya, Jimin menolaknya, Jimin menatapnya dengan sengit.
Ia merasakan sakit itu sekarang.
Yoongi pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ia lega karena akhirnya ia bisa melihat wajah yang begitu ia rindukan seminggu ini. Ia juga marah mengetahui fakta bahwa Jimin selama ini tinggal bersama Jungkook. Ia juga bahagia mengetahui fakta bahwa Jimin tidak menginginkan dirinya mati.
Tapi dari semua itu, Yoongi benar-benar merasakan perasaan menyesal yang amat sangat mendalam. Ia menyesal karena menakuti Jimin tadi, ia sama sekali tidak bisa dikendalikan sejak pertama kali melihat Yoongi dijegal, di permalukan seperti di kantin tadi. sisi gumiho nya yang kasar dan possessive pada Jimin muncul.
Maka dari itu, saat ia menarik Jimin dan menciumnya tadi ia sama sekali tidak bisa dikendalikan. Gumiho di dalam dirinya marah, berontak hingga ia tidak sadar menyakiti Jimin dan membuat pemuda mungil itu menangis dan ketakutan. Ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu, ia tahu semua ini akibat dari salah satu panahnya sudah tercabut.
Sisi liar dari Gumiho nya akan keluar, dan tadi adalah sebagian kecil dari sisi gumihonya.
Ia juga takut, kedepannya ia akan menyakiti Jimin karena sisi Gumiho nya keluar tanpa bisa ia duga. Ia takut ia akan lepas kendali seperti tadi dan menyakiti Jimin, bahkan lebih parahnya ia takut kematian yang akan mengintai Jimin nanti berasal darinya.
Ia juga takut, takut akan hal itu.
"Apa yang terjadi padamu dan Jimin?"
Yoongi terlalu lama termenung di dalam kamarnya sambil menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin. ketika sadar hari sudah sangat gelap, pekerjaan matahari menyinari bumi sudah digantikan bulan. Ia mengusap wajahnya kasar, menatap SeokJin yang tiba-tiba saja datang dan melemparkan sebuah amplop merah bertuliskan Hanja.
"Dimana Jimin? Kau tidak pulang bersamanya?"
"Dia tidak mau pulang, aku sudah membujuknya tapi dia tidak mau"
SeokJin menghela nafas, membuka amplop itu dan menunjukan isinya. Sebuah kertas berwarna merah darah dengan tulisan PARK JIMIN. Yoongi mengernyit melihat isi kertas itu, kenapa bisa ada nama Jimin di dalam kertas itu.
"Aku tidak pernah mendapat daftar nama black secepat ini, pasti ada seseorang yang menginginkan dia mati. Kau tidak mungkin begitu juga aku"
"Jawabannya aku" sela Yoongi. Pria berusia ratusan tahun itu teringat perkataan Taemin seminggu lalu tentang takdir yang di tulis Dia untuk dirinya dan Jimin.
"Jika aku hidup maka dia mati, tapi jika aku mati dia akan tetap hidup. Itu takdir yang harus kami pikul, itu juga hukuman sebenarnya dari Dia"
"Jangan berpikiran seperti itu dulu" ucap SeokJin sedikit menyemangati Yoongi dari terpuruknya, juga menyadarkan Yoongi bahwa mereka tidak punya waktu yang cukup untuk menyelamatkan Jimin dari serangan-serangan vampire haus darah yang mengincar Jimin.
"Jika namanya keluar secepat ini berarti dia sudah resmi menjadi incaran vampire, kau harus menyelamatkannya sebelum pukul sebelas malam yang artinya satu jam dari sekarang.
…
…
…
Jimin tidak langsung pulang ke apartment Jungkook. Ia berjalan-jalan di seputaran sekolah dengan pandangan kosong namun otaknya penuh memikirkan perkataan Yoongi tadi. ia ingin Yoongi hidup, ia tidak ingin Yoongi mati tapi takdir menyeramkan itu pasti akan tetap terjadi karena semua sudah direncanakan Tuhan.
Ia bukan Tuhan atau orang special yang bisa berundingan dengan Tuhan. Ia hanya manusia bisa yang tinggal menunggu takdir menyeramkan itu terjadi, karena itu ia menjauh dan sebisa mungkin pergi meninggalkan Yoongi. Ia berharap dengan hilangnya dirinya maka Yoongi akan tetap hidup.
Ia tidak mau Yoongi mati.
"Kau berjalan-jalan sendiri?"
Jimin mengernyit mendengar sebuah suara daru ujung gang gelap menuju apartment Jungkook. Ia menghentikan langkahnya, menatap lebih seksama sekelebat bayangan di depannya. Nampak beberapa orang berbadan besar sedang mengerubungi seorang pria yang jauh lebih kecil. Salah satu orang berbadan besar itu maju dan ia tidak tahu apa yang dilakukan tapi mendengar suara kesakitan si pria membuat Jimin berpikir aneh-aneh.
"AKH!"
"Darah penjahat atau bukan penjahat itu memang terasa lezat"
Tubuh Jimin bergetar ketakutan, ia melangkah mundur secara teratur dan hati-hati agar tidak menarik perhatian sekumpulan orang-vampire-tadi. wajahnya sudah pucat pasi, ia ketakutan. Kejadian ini mirip seperti kejadian sepuluh tahun lalu dimana dirinya bertemu dengan SeokJin tapi ia beruntung saat itu seorang wanita aneh menyelamatkannya tapi sekarang?
Mereka tidak mungkin vampire seperti SeokJin, mereka pasti vampire baru atau vampire dari kelas rendahan yang terkenal haus darah. Memikirkannya saja sudah membuat Jimin ketakutan setengah mati, ia terus melangkah dan tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak sampah besar.
"Astaga"
"SIAPA DISANA?!"
Suara para vampire tadi menggema memenuhi jalanan gang gelap yang kosong dan sepi ini. tanpa berpikir lagi ia berlari tanpa tahu bahwa para vampire di belakangnya tersenyum puas melihat manusia yang masuk dalam daftar black sedang berdiri di depan merek.
"Aku menyukai bau darahnya"
Jimin benar-benar ketakutan, ia terus berlari tanpa mau menoleh tapi sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul tepat di depannya. Ia berhenti berlari, memekik takut dan terkejut melihat bayangan hitam itu adalah seorang vampire dengan tubuh besar dan tinggi menjulang.
"Kau mau kemana?"
Tubuhnya tidak bisa ia gerakan, ia kembali melangkah mundur tapi seseorang sudah ada di belakangnya. Menarik kerah belakang majunya lalu tubuhnya di angkat dengan mudahnya. Ia berusaha melepaskan cengkraman itu tapi tenaga mereka sangat kuat bahkan bisa dibilang menyamai Yoongi.
Yoongi?
Apa ia sedang memikirkan Yoongi? Apa Yoongi akan datang sekarang?"
"Taruh dia di bawah, aku susah meminum darahnya jika kau angkat begitu"
"Aku tidak mau berbagi denganmu, aku menangkapnya lebih dulu"
"Bicara apa kau ini?!"
Vampire pertama tadi mengarahkan tangannya menepis tubuh mungil Jimin hingga menabrak dinding dan terjatuh dilantai. Darah sudah mengalir dari kepalanya, tubuhnya melemas kepalanya sakit bukan main begitu juga dengan tubuhnya. Dalam keadaan setengah sadar itu hanya ada satu hal yang ada di otaknya.
Dia adalah Yoongi. Ia mengingat bagaimana Yoongi menenangkannya, menolongnya, mengucapkan segala kata-kata manisnya, hubungan mereka dan senyum teduh Yoongi. Jimin mengingat semua itu layaknya sebuah film. Ia sudah pasrah jika dirinya akan mati seperti ini, sekilas ia bisa melihat salah satu vampire yang tidak bertengkar mendekatinya.
Ia tahu ajalnya sudah dekat. Ia sebentar lagi akan mati. Ia akan berpisah dengan Yoongi. Ia berpisah dengan Yoongi sebelum ia bisa mengatakan perasaan sebenarnya. Ia belum jujur pada Yoongi tentang perasaannya.
"Ahjussi…"
Suaranya begitu lemah, bahkan nyaris seperti sebuah bisikan. Ia ingin melihat Yoongi, ia membutuhkan Yoongi, ia ingin bersama Yoongi.
"Ahjussi… aku membutuhkanmu…"
Kata-kata Yoongi di atap bagaikan sebuah spaker bervolume tinggi di kepalanya. Ia sadar jauh di dalam dirinya ia adalah seorang pengecut yang tidak berani menghadapi masalah. Ia seorang pengecut, ini yang menyebabkan cegukannya. Ia tidak berani menghadapi masalah di depannya, ia malah kabur dan membiarkan masalah itu makin membesar. Ia pengecut, ia kabur dari masalah membiarkan Yoongi menyelesaikan masalah yang harusnya mereka selesaikan bersama.
"Alasanku adalah kau harus membutuhkanku, dengan begitu aku akan terus hidup disampingmu, bersamamu, denganmu…
Tapi jika kau tidak membutuhkanku maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap hidup"
"Ahjussi!"
"Kau mau menjadi suamiku?"
"Kau itu memang istriku, tapi sebelum itu kau harus jadi pacarku"
"Apa aku sekarang pacarmu?"
"Eoh, kau pacarku sekarang"
"Aku mencintaimu…"
Dan semuanya gelap.
"Kalian berurusan dengan orang yang salah"
Yoongi tiba-tiba muncul di belakang sekumpulan vampire haus darah itu. tangannya sudah mengeluarkan busur dan panah perak. Seketika vampire itu berteriak marah, merasa tidak takut meskipun Yoongi sudah melepaskan satu panah ke salah satu vampire itu.
Vampire tadi berteriak kesakitan, tapi tidak menyurutkan keberanian vampire lainnya, mereka malah makin mengganas. Satu persatu mereka menghampiri Yoongi dan satu persatu juga mereka tewas terbakar dan menjadi abu.
Ketika seluruh vampire itu tumbang, ia bisa melihat dengan jelas tubuh mungil itu terbujur kaku dengan darah mengalir dari kepala dan hidung. Ia segera menghampiri tubuh itu, mengangkatnya dalam sebuah gendongan hangat. Perlahan kedua bola mata indah itu sedikit terbuka, tersenyum kecil melihat Yoongi menemukannya.
Ia tersenyum, ia bahagia melihat Yoongi datang saat ia membutuhkannya. Ia akan selalu membutuhkan Yoongi dan begitu juga dengan Yoongi.
Mereka akan terus bersama, selamanya karena mereka saling membutuhkan dan…
Mencintai.
…
…
…
…
…
Ketika ia membuka mata hal yang pertama kali ia lihat adalah warna putih, lalu dinding putih dan orang berpakaian putih. Awalnya ia menyangka bahwa ia sedang berada di ruangan yang akan mengantarnya ke surga atau neraka. Tapi setelah mata dan kesadarannya terkumpul secara sempurna ia baru sadar kalau ia sedang ada di sebuah ruang rawat VVIP.
"Apa anda sudar?"
Dan orang-orang berpakaian putih itu bukan malaikat melainkan dokter dan perawat. Mereka semua berbaris rapi seakan-akan menunggu kesadaran dirinya-Jimin-sama seperti menunggu sadarnya seorang presiden.
"Nde, saya ada dimana?"
"Di rumah sakit BangGuk anda sudah tidak sadar selama tiga hari"
Mata Jimin membulat mendengar nama rumah sakit tempat ia berbaring sekarang. Ia tahu rumah sakit itu terkenal akan kemewahan dan dokter-dokter terkenalnya. BangGuk Hospital adalah salah satu rumah sakit terbesar dan termasuk rumah sakit internasional di Korea.
"Anda tidak perlu khawatir soal biaya, Presdir Kim sudah mengurusnya"
Ia juga tahu Presdir Kim itu siapa. Dia adalah Kakek NamJoon yang melayani dan menjaga Yoongi selama ini. tunggu dulu, dimana Yoongi?
"Jika anda mencari Min sonsaengnim anda harus datang ke tempat ini setelah kondisi anda membaik"
"Anni, aku akan datang sekarang. Kemana tempatnya?"
…
…
Tempat yang ditulis Yoongi adalah atap rumah sakit. Meskipun kepalanya masih sedikit terasa sakit tapi Jimin tetap memaksa naik ke atap rumah sakit. Dan disinilah Jimin, pemuda mungil bermarga Park itu tersenyum kecil melihat pemandangan indah yang bisa dilihat dari tempatnya berdiri. Matahari memang masih belum timbul seutuhnya tapi Jimin menyukainya, Jimin menyukai proses matahari timbul.
Menurutnya keindahan matahari terbit itu bukan setelah muncul atau sebelumnya tapi proses dimana matahari itu muncul. Jimin lebih mencintai sebuah proses ketimbang hasil, menurutnya seseorang yang harus dihargai adalah seseorang yang selalu mementingkan sebuah proses bukan mementingkan hasil. Hasil baik atau buruk itu nomor terakhir, ia akan menerima hasil itu buruk atau baik.
Tapi seminggu lalu ia benar-benar menjadi pengecut, ia belum tahu hasilnya tapi ia sudah menyerah dan tidak mencoba menjalaninya. Ia menyesal mengingat, ia menyesal karena Yoongi pasti kebingungan mencari dirinya.
"Kau memikirkanku?"
Jimin tersentak merasakan sebuah lengan melingkari pundaknya dari belakang. Ia tidak berteriak takut, karena ia tahu pemilik suara berat itu siapa. Perlahan bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, jari-jari mungilnya bergerak mengusap punggung tangan kasar berwarna putih milik Yoongi.
Yoongi sedang memeluknya dari belakang. Kepala pria berusia ratusan tahun itu menelusup di ceruk lehernya, mengusak pipinya di rambut hitam halusnya. Ia tidak risih, ia malahan menyukainya, sangat menyukainya.
"Eoh, kenapa ahjussi baru datang? Aku sudah menunggu ahjussi sejak sepuluh menit tahu"
"Aku menunggumu, mencarimu seminggu penuh. Lebih kesal siapa?"
Jimin tahu itu hanya sebuah candaan tapi sukses membuat Jimin terdiam, ada rasa bersalah menjalar di dadanya. Perlahan ia melepas pelukan Yoongi, menghasilkan kerutan bingung di kening wajah tampannya. Mereka berhadapan, ia bisa melihat wajah Yoongi terlihat lelah dan sedikit pucat.
Memang wajah itu selalu pucat tapi kali ini pucatnya berbeda. Mata itu terlihat sayu dan kelelahan berat. Jari-jarinya terangkat, mengusap sisi kanan wajah Yoongi sambil tersenyum.
"Mianhae ahjussi"
"Untuk apa?"
"Karena sudah menyusahkanmu seminggu ini, aku tahu aku kekanak-kanakan"
Yoongi balas tersenyum, menggenggam kedua tangan Jimin mengusap-usapnya halus. "Anni, seharusnya aku memberitahumu sejak awal agar kau tidak terkejut. Mianhae…" ucap Yoongi dengan suara lembut. Jimin menggeleng, melepas genggaman tangan Yoongi lalu beralih mengusak-usak dada Yoongi seakan-akan menghilangkan debu di sana.
"Aku tidak melihat apa pun, aku hanya melihat seorang bujang tua yang tampan dan sehat. Dia sangat sehat dan sangat tampan, kau benar-benar tampan untuk ukuran ahjussi-ahjussi di luaran sana"
Yoongi tertawa, mengusak kepala itu sayang mendengar kata bujang tua keluar dari mulut Jimin. Ia memang tua tapi dia tidak bujang, ia punya Jimin sekarang.
"Geotjimal"
"Aku tidak bohong"
"Aku bukan bujang, aku sudah memiliki pacar dan pacarku berdiri di depanku"
Wajah Jimin memerah, bukan karena udara dingin di sekitarnya melainkan perkataan manis Yoongi barusan. "Aku tidak melihat apa pun, apa aku masih istrimu, kan?"
"Anni, kau pacarku bukan istriku"
Mereka kembali tertawa, saling memandang dengan perasaan rindu yang amat sangat terasa. Tidak perlu bibir mereka mengucapkan kalimat aku merindukanmu hanya lewat tatapan saja Jimin mau pun Yoongi tahu. Ditambah Yoongi menarik kepala Jimin mendekat, mengecup puncak kepala Jimin cukap lama dan terakhir memeluknya.
Jimin tersenyum, balas memeluk Yoongi tidak kalah erat dan hangatnya. Ia menyukai ini, ia merindukan semua ini. ia merindukan perhatian-perhatian dan kata-kata Yoongi yang terkadang pedas. Begitu juga Yoongi, dia tidak perlu di tanya lagi semua terbukti dengan sikapnya seminggu ini bahwa dia benar-benar merindukan Jimin.
…
…
…
…
…
Ia tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba nyasar ke sini. Sungguh awalnya berencana jalan-jalan saja di sekitaran pasar dan pertokoan kota, namun atensinya langsung tertarik pada sebuah tenda berwarna norak di tengah-tengah keramaian. Ia berani bersumpah awalnya ia hanya penasaran tenda apa itu dan setelah tahu ia semakin penasaran dan ia asal-asalan saja bertanya ini itu tentang barang-barang klenik.
"Kau hanya iseng-iseng saja, kan pemuda tiga nama?"
Taehyung semakin tertarik dan akhirnya ia memberanikan diri menanyakan masalah percintaannya. Wanita tua itu entah bicara bahasa apa nampak sangat berkonsentrasi memainkan bola krystal dan lonceng-lonceng aneh lainnya. bahkan Taehyung belum bicara apa-apa.
"Jangan pernah dekati pria yang menginginkan sesuatu darimu"
Entah kenapa satu kalimat dari peramal ini seperti mengarah pada Jin atau SeokJin. Ia hanya diam, menunggu si peramal kembali melanjutkan ucapannya.
"Kau tidak tahu alasan dari si pria itu menginginkan sesuatu itu"
"Apakah pria itu bertubuh tinggi, berbahu lebar, bibirnya merah, wajahnya pucat dan selalu berpakaian hitam?" tanya Taehyung berpura-pura mulai tertarik padahal ia mati-matian menahan tawa melihat peramal itu kembali konsen dengan segala macam barang aneh lainnya.
"Ya, lebih baik kau jauhi dia"
"Waeyo? Aku menyukai pria itu"
"Kau tidak boleh menyukainya!" suara wanita itu tiba-tiba meninggi, bahkan dia sampai menggebrak meja. Menelisik wajah Taehyung dengan lebih seksama dan teliti.
"Wae? Memang siapa dia? Apa sebegitu menyeramkan pria itu sampai-sampai aku tidak boleh dekat dengannya?"
Peramal wanita itu tiba-tiba saja terdiam, matanya tertutup lalu tangannya bergerak mengambil sebuah kuas dan menuliskan sesuatu di kertas putih. Taehyung memerhatikan itu dalam diam, memperhatikan si wanita menuliskan satu suku kata yang membuat Taehyung menahan tawanya.
"Vampire?"
"Mereka dulu hidup berdampingan dengan manusia tapi mereka melakukan kesalahan fatal hingga membuat para Dewa menghukum mereka. Mereka tidak boleh lagi terlihat apalagi menunjukan identitas mereka pada manusia, entah nama, taring atau mata merah mereka. Mereka hanya diperbolehkan meminum darah penjahat dan pendosa yang kelak akan menjadi vampire seperti mereka. Itu lah yang terjadi"
Taehyung menghela nafas, mengeluarkan beberapa lembar uang pada si peramal wanita tua. Bersedekap menatap si wanita lalu tertawa sebentar.
"Vampire? Aku memang pecinta film Twilight, tapi aku tidak percaya mereka ada. Mereka hanya mitos yang entah benar adanya dan sebagai peramal sebaiknya kau memberikan ramalan yang masuk akal. Ini bayaranmu" ucap Taehyung sedikit ketus, lalu ia bangun dan hendak pergi namun ia berhenti melangkah dan berbalik menatap si peramal wanita tadi.
"Aku akan menanyakan satu hal, apa kau bisa menebak siapa pria ini. Dia pria tua, matanya segaris persis seperti penggaris, wajahnya juga pucat, tingginya lumayan dan berpakaian mahal serta sering membuat muridku menangis. Siapa dia? Kenapa dia menatapku seperti dia mengenalku?"
Peramal wanita itu terdiam, wajahnya nampak berpikir keras lalu bergumam aneh seperti menjawab tapi Taehyung sudah berdecak malas dan sebal.
"Apa kau baru mendapat sebuah benda berbahan kaca?"
Taehyung menoleh, menatap si peramal wanita itu yang sekarang wajahnya berubah. Dia tidak lagi seperti bercanda atau kesal karena kemampuannya di remehkan. Wajahnya seperti sedang mengawasi sesuatu tapi tidak ada apa pun di sini, matanya menajam setiap kali menatap tulisan tangannya sendiri.
"Buang benda itu, kau tidak tahu benda itu milik siapa dan kenapa benda berharga seperti itu bisa terbuang. Jangan pernah menerima pemberian orang yang bahkan kau tidak tahu identitasnya, bagaimana kau bisa menerimanya padahal kau tidak tahu identitas pemberinya. Kau juga tidak tahu benda itu mengandung penyesalan, cinta tak berbalas atau bahkan permintaan maaf yang tidak tersampaikan. Buang benda itu dan jauhi si pemberi benda itu"
Taehyung terdiam, matanya lurus memandang si wanita yang sama sekali tidak memandangnya. Lima detik kemudian si wanita tersenyum konyol sambil memainkan loncengnya lagi. Taehyung menggelengkan kepala, heran kenapa ada wanita seperti itu tapi dirinya lebih mengherankan karena sempat percaya bahkan mendengarkan perkataan wanita tua itu.
Setelah Taehyung pergi wanita tua itu tersenyum miring, menatap pantulan dirinya sendiri di sebuah cermin. Di cermin itu bukan wanita tua yang terlihat tapi seorang wanita cantik dengan gaun ungu serta rambut berwarna ungu juga. Ia awalnya membenci warna ungu tapi ia sesekali ingin mengenakan warna lain karena ia bertemu dengan teman kencan salah satu pendosanya.
"Cinta itu memang rumit. Tapi karena kerumitannya manusia menjadi jauh lebih rumit dan dipahami lebih dari cinta itu sendiri. Menyedihkan…"
…
Taehyung berdecak sebal, duduk di kursi ruang BK nya. Mengeluarkan cermin pemberian SeokJin dan memandang refleksi wajahnya dari cermin indah itu. ia menghela nafas, mengelus pinggiran cermin itu lalu tersenyum sedih. Entah kenapa ia selalu tersenyum seperti itu setiap kali ia menatap cermin ini. Ia lalu beralih melihat ponselnya yang sepi. Tidak ada notif pesan, telfon atau apa pun seminggu ini.
"Brengsek…"
"Ceosonghamnida!"
Tanpa di sadari Taehyung, SeokJin sejak di gerbang sekolah mengikutinya hingga masuk ke ruang BK. Ia memandang wajah itu yang semakin terlihat imut ketika kesal dan ia terlihat sedih karena Taehyung juga terlihat sedih. Ia tahu kenapa Taehyung sedih, itu semua karena dirinya.
"Apa kata orang jika seorang pemain cinta sepertiku menghubungi dia duluan terus? Huft!"
SeokJin semakin menunduk, bahunya merosot mendengar penuturan Taehyung. Ia tahu ia salah karena tidak menghubungi Taehyung sama sekali sejak insiden penghapusan ingatan itu, selain sibuk mengurusi Jimin dimana, ia juga merasa bersalah karena menghapus ingatan indah mereka.
"Aku tidak menghubungimu karena aku merasa bersalah dan aku sibuk mencari muridmu. Aku juga merasa mengkhianatimu…"
SeokJin tiba-tiba saja teringat wajah wanita di lukisan milik Yoongi tempo hari. Ia seperti melihat wanita itu dan memiliki hubungan, tapi ia tidak terlalu yakin karena ia saja tidak ingat apa-apa siapa dirinya yang sebenarnya.
"… aku memikirkan wanita lain padahal aku sedang berkencan denganmu. Tapi aku akan melupakan wanita itu dan mulai sekarang akan memikirkanmu"
Suara dering telfon tiba-tiba berbunyi. Taehyung melotot horror, menatap setiap sudut ruangannya yang sepi sunyi kenapa tiba-tiba bisa terdengar suara dering telfon padahal ia sedang menelfon SeokJin.
SeokJin? Dia sedang tergopoh-gopoh berusaha menggeser gagang telfon di ponselnya tapi entah kenapa tidak mau. Jelas tidak mau, SeokJin kau menggesernya ke atas seharusnya ke samping bukan mengikuti bentuk gagang telfon itu. apa NamJoon yang salah mengajari atau SeokJin yang jadi idiot ketika panik?
"Menyeramkan" desis Taehyung seraya melempar ponselnya sendiri. Ia mengusak tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa merinding, tangannya menyatu seperti berdoa.
"Dengan gembira bersama Malaikat… Kita semua menghadap Tuhan… YAK!"
Akhirnya Taehyung berteriak setelah menyanyi lagu di Gerejanya. Berkacak pinggang dengan wajah berpura-puara marah dan terlihat menyeramkan tapi SeokJin malah tersenyum melihat Taehyung. Bagaimana wajah itu tiba-tiba pucat lalu berubah menjadi galak dan suara nyanyiannya yang tidak sesuai nada.
"Aku tidak tahu jika hantu zaman sekarang memiliki ponsel! Yang mau aku tanyakan kenapa kau bisa memiliki nomorku? Apa aku terkenal di dunia sana? Apa di sana tidak ada wanita atau pria cantik? kalian tidak bisa membawaku pergi, jika kalian memaksa aku akan bernyanyi lagi!"
SeokJin makin tertawa, melihat Taehyung kembali duduk dengan menyatukan tangan dan kembali bernyanyi dengan keras-keras bahkan nadanya sudah lari kemana-mana. Sungguh tingkah Taehyung sekarang terlihat begitu imut dan menggemaskan.
…
…
Jimin berdecak saat sudah hampir mencapai gerbang sekolahnya ketika bel pulang sudah berbunyi. Bukan ia kesal karena sebentar lagi pulang tapi ia berdecak tidak menyangka jika Yoongi akan benar-benar datang, menunggu dirinya pulang sekolah di tengah cuaca dingin seperti ini.
"Ahjussi benar-benar menungguku?" tanya Jimin tidak percaya, seraya terkekeh geli melihat Yoongi tersenyum kelewat lebar ketika menghampirinya. Bukannya menjawab Yoongi malah menarik kedua tangan Jimin, memakaikannya sarung tangan dan tidak lupa menggenggamnya sembari mereka berjalan.
Jimin tersenyum, melirik Yoongi yang juga sedang tersenyum lebar sama seperti dirinya. "Ahjussi menarik perhatian orang, kau tahu?"
"Wae? Apa aku tidak boleh begini pada pacarku?"
Tanpa Yoongi sadari, semburat merah muda muncul di kedua pipi Jimin. Pemuda manis kelas tiga SMA itu berdehem, melepas genggaman tangan Yoongi lalu mengambil tempat di depan Yoongi. Menampilkan senyum paling indah yang pernah ia miliki untuk Yoongi.
"Kenapa? Kenapa tersenyum seperti itu? kau membuatku takut"
Jimin tertawa, menarik tangan kanan Yoongi dari saku mantelnya lalu dengan hati-hati memakaikan sarung tangan dari tangan kanannya. Yoongi mengernyit heran, ia awalnya ingin protes tapi Jimin lebih cepat menggenggam tangan kiri Yoongi dan memasukan kedua tangan mereka di saku mantel Yoongi.
"Aku lebih suka seperti ini, aku melihatnya di drama yang sering aku tonton" ucap Jimin diakhiri dengan sebuah senyum dan tawa kecil melihat Yoongi sedikit salting. Pria tampan berusia ratusan tahun itu mengangguk saja, mereka kembali berjalan. Hanya sekedar jalan karena Yoongi ingin seperti ini, jika mereka ingin pulang tinggal mencari sebuah tikungan dan mereka akan sampai.
"Aku tidak tahu kenapa orang-orang suka menonton drama bahkan si manusia setengah nyamuk itu suka sekali menonton drama"
"Jinjjayo? Wah! Apa dia sekarang sedang menonton Im Not Robot atau drama Lee Seunggi? Kapan-kapan aku akan nonton drama bersama Tuan Vampire"
"Aku juga suka drama"
Jimin tertawa melihat Yoongi tidak mau kalah dengan SeokJin soal dirinya, bahkan memaksakan kesukaannya agar bisa didekat Jimin. Ia tersenyum, semakin merapatkan tubuhnya pada Yoongi ketika udara dingin semakin menembus pertahanan dari mantel mereka.
"Aku sudah memindahkan barang-barangmu ke mansion lagi"
"Jinjja? Bagaimana bisa? Jungkook tidak marah atau berontak?" tanya Jimin kaget dan tidak percaya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Jungkook bicara waktu itu padanya, ia sedikit takut jika ia pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Kau lupa pacarmu Gumiho?"
Seketika lampu di kepala Jimin menyala, pasti Yoongi menggunakan sihir yang sama seperti waktu itu. bukannya tenang ia malah mencubit pinggang Yoongi dengan sangat keras, si empunya beringsut mundur seraya mengelus pinggangnya yang menjadi sasaran cubitan ganas Jimin.
"Aw! Sakit! Kenapa kau marah?"
"Kenapa kau menggunakan sihirmu itu? Ish!"
"Kau tidak suka?" tanya Yoongi seraya mendekati Jimin yang sedang mempoutkan bibir dan bersidekap. "Kenapa?"
"Aku hanya tidak suka kau menggunakan sihirmu untuk hal-hal seperti itu, aku masih bisa mengurusnya, tahu" ingsut Jimin masih tidak sadar jika Yoongi sudah berdiri di depannya, menatapi tingkah Jimin yang baru ia ketahu sekarang. Jimin itu imut dan lucu, bahkan ia baru sadar jika Jimin merajuk dan marah tidak terlihat menyeramkan malah terlihat sangat imut.
"Baik, aku minta maaf, princess~" ucap Yoongi seraya menekan kedua pipi Jimin hingga membuat bibir mungil itu mengerucut lucu dan menggemaskan, tidak lupa ia juga menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan kiri. Jimin?
Jangan tanyakan dia. Pemuda manis kelas tiga SMA itu tidak bisa bergerak melihat Yoongi terlihat gemas dengan tingkahnya tadi, ditambah telapak tangan kasar itu sekarang berada di kedua pipi tembamnya. Alhasil wajahnya merona parah, bahkan beberapa orang yang melihat mereka tersenyum-senyum melihat Jimin dan Yoongi terlihat seperti pasangan dimabuk asmara.
"Baik, aku maafkan. Ayo kita pulang!" ajak Jimin seraya menjauhkan tangan Yoongi, mengambil langkah cepat meninggalkan Gumiho tampan itu yang sedang tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah malu-malu Jimin.
"Aigoo~"
…
…
SeokJin sudah siap sedia tepat di depan pintu masuk rumahnya dengan Yoongi. Ia berdiri bersandar pada salah satu pilar, matanya menatap tajam melihat Yoongi datang membawa Jimin sambil menggenggam tangan bahkan melempar candaan. Ia bukan cemburu, tapi ia gerah melihat sikap Yoongi yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Memang bagi Yoongi tidak apa-apa, tapi bagi SeokJin? Kalian pasti masih ingat aksi penyelamatan heroic Yoongi? Di sana dia membunuh vampire kan? Karena dia membunuh vampire di dekat tempat tinggal SeokJin, jadi SeokJin yang harus membuat laporan untuk atasannya atas insiden tewasnya vampire-vampire muda itu.
Jimin mau pun Yoongi terkejut melihat SeokJin sudah ada di depan mereka seperti hendak menyambut-tapi nyatanya bukan.
"Kau sudah pulang? Akhirnya"
Jimin tersenyum canggung, membungkuk memberi salam pada SeokJin. Sedangkan Yoongi, dia malah menghela nafas dengan wajah menyebalkan karena SeokJin mengganggu.
"Annyeonghaseyo, maaf aku sudah meropatkan kalian karena tingkah kekanak-kanankkanku. Kalian pasti khawatir karena aku" ucap Jimin dengan senyum kecil, SeokJin hanya mengangguk lalu menunjuk Yoongi yang masih berwajah menyebalkan tingkat dewa.
"Aku tidak terlalu, tapi dia yang sangat mengkhawatirkanmu"
"Ya, itu benar. Aku membawamu pulang tapi NamJoon yang berhasil menemukanmu"
Jimin mengangguk paham, berniat masuk ke dalam rumah tapi SeokJin melangkah maju ke tempat Yoongi. Pria berdarah vampire itu menatap Yoongi dengan tajam, bahkan matanya sedikit berkilat merah saat melihat Yoongi sama sekali tidak menunjukkan wajah menyesal. Ia benar-benar harus bekerja lembur seminggu ini karena Yoongi.
"Kau ikut ke tempatku"
Jimin melotot, berdiri di tengah-tengah SeokJin dan Yoongi sambil meretangkan tangannya seperti ingin melindungi Yoongi dari serangan SeokJin.
"Tuan Vampire mau membawa ahjussi-ku kemana?" tanya Jimin dengan nada sewot dan mata sedikit melotot. Yoongi yang mendengar perkataan Jimin ahjussi-ku tersipu malu, bahkan di wajahnya sekarang bertebaran bunga-bunga mawar dan bunga-bunga lainnya serta para pemanah cinta karena kata-kata sederhana Jimin. Bahkan jika ini komik, Yoongi sudah terbang ke langit ke tujuh karena Jimin.
"Ahjussi-ku? Apa dia baru saja mengklaim aku adalah miliknya? Astaga~ 😚😇"
SeokJin berdecak sebal, "Aku bisa membaca pikiran alaymu! Dasar Gumiho lebay!"
Jimin beringsut mundur mendengar SeokJin tiba-tiba berteriak cukup kencang tepat di depan wajah Yoongi yang langsung kembali normal. Khayalan aneh-anehnya langsung membuyar mendengar teriakan SeokJin tadi, ia berdecak sebal memberikan tanda untuk SeokJin diam dan ia akan mengikuti SeokJin.
SeokJin masih menatapnya tajam, berjalan pergi tapi sebelum itu ia sempat berbisik pada Jimin, "Dia baper karena perkataan ahjussi-ku darimu"
Yoongi berdecak, sementara Jimin terkejut dan wajahnya langsung merona parah mengingat perkataannya tadi. ia melirik Yoongi yang sudah berjalan mengikuti SeokJin tapi SeokJin kembali berteriak agar genggaman tangan Yoongi pada Jimin di lepas.
"Jangan membawa Jimin!"
Jimin tertawa kecil melihat Yoongi berniat pergi tapi masih dengan menggenggam tangannya. Buru Jimin melepas genggaman tangan mereka. Tapi Yoongi menyempatkan diri untuk mengecup puncak kepalanya sebelum menghilang bersama SeokJin. Yoongi tidak tahu saja kalau tindakannya barusan membuat Jimin tidak bisa bergerak.
Tubuh Jimin terpaku, matanya membola seraya jarinya menyentuh puncak kepalanya sendiri. Ia berdehem, menyentuh kedua pipinya yang memerah lalu melirik sekali lagi ke tempat Yoongi dan SeokJin menghilang, lalu ia masuk ke dalam dengan senyum lebar dan wajah semakin memanas mengingat hal tadi.
To Be Continue
Aku nggak bisa ngomong, semoga kalian nggak enek dengan romance nya. Atau kalian sujud syukur ngeliat moment YoonMin lagi? Terus gimana Kookie? Kookie sama aku kok, dia aman *digampar*
JinV? Sabar ya, moment mereka di chapter depan itu adalah puncak nya dari segala macam masa lalu mereka semua *spoiler loh ini*
Terimakasih aku ucapkan bagi yang sudah review, fav, follow, aku selalu seneng membacanya meskipun udah di baca berulang-ulang. Karena apa? kalian adalah penyemangatku, aku sayang kalian *HEARTSIGN*
Sampai berjumpa lagi di chapter 18, semuanya, semoga kalian masih betah menunggu dan ini sudah masuk sekolah jadi kemungkinan aku akan slow update *nangis* tapi aku akan tetap melanjutkan ff ini kok, tenang aja.
Terimakasih, aku sayang kalian /bts teriak begitu
SARANGHAEYO *HEART SIGN BARENG BTS*
See you~~~
