Aku tekankan sekali lagi ini ff pari nya adalah YOONMIN dan JINV!
aku akan terus menulis dengan dua couple ini meskipun ada yang nggak suka atau bilang nggak cocok. kalo misalnya kalian nggak suka JinV tapi mau baca YoonMin, silahkan aku nggak larang. tapi tolong jangan ngeluarin kata-kata yang kalau Jin ini lah, itu lah. karena kata-kata itu bener-bener udah bikin mood ku sedikit hancur. oke?
WARN! JINV! YOONMIN! BOYS LOVE!
Jimin masuk ke dalam rumah, terkejut setengah mati melihat NamJoon ada di dalam sedang-ehem-berciuman cukup mesra dan bisa dibilang panas dengan seorang pemuda manis berbalut kemeja putih kebesaraan NamJoon. Keponakan Yoongi itu terkejut melihat Jimin gelagapan dan memutuskan membalik badannya memunggungi NamJoon.
"Kau sudah pulang?" tanya NamJoon seraya melepas ciumannya pada pemuda manis itu. Ragu-ragu Jimin menganggguk, lalu membungkuk meminta maaf.
"Nde, maaf aku masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu"
NamJoon terkekeh, menyembunyikan tubuh pemuda manis tadi di belakangnya, "Berbalik lah, seharusnya aku yang minta maaf padamu"
Jimin mengangguk, memutar tubuhnya dan yang ia lihat adalah NamJoon yang sudah mengancingkan kemejanya dengan benar dan pemuda manis tadi juga sudah menyembunyikan dirinya di punggung NamJoon.
"Aku akan masuk ke kamarku"
NamJoon mengangguk, mengambil minuman penghilang mabuk yang tadi sempat terabaikan karena ia lebih memilih menikmati bibir pemuda manis tadi. Jimin sendiri, ia melangkah cepat menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, namun saat di tangga ketiga ia terhenti. Keningnya mengernyit memikirkan satu hal.
"Ahjussi memberitahu kalau kau yang menemukanku. Hyung tahu darimana jika pagi itu aku akan berangkat sekolah dan tinggal di apartment Jungkook? Temanku bilang apartmentnya itu jauh dari jangkauan orang luar"
Tanpa di sadari Jimin, NamJoon tersenyum miring lalu menatap wajah polos Jimin yang tertuju lurus pada NamJoon.
"Aku memiliki beberapa koneksi yang tidak bisa dijelaskan"
Jimin mengernyitkan keningnya, tapi ia tidak mau tahu lagi. Toh NamJoon seorang chaebol dia bisa melakukan apa pun asalkan tampangnya yang ganteng masih ada serta uang segepok di dompet masih tersedia. Ia mengangguk paham, lalu berjalan masuk ke dalam. Meninggalkan NamJoon yang ternyata menatapi punggung mungilnya hingga menghilang di balik pintu.
"Koneksi yang sangat banyak…"
(Eddy Kim-You are so Beuatiful, Baekhyun EXO-Beautiful, BTS-Spring Day, Han DongGeun-Crazy)
Yoongi tidak henti-hentinya bersiul seraya menggerakan kakinya gelisah. Ia sebal karena SeokJin seakan-akan menuduhnya sebagai biang keladi dari segala masalah dan fenomena alam seminggu terakhir ini. di depannya sudah ada selembar kertas yang harus di isi dengan kalimat super panjang seperti yang sudah di contokan SeokJin tadi.
Jujur ia malas, ia tidak mau tapi ia juga sedikit menyadari seminggu ini ia terlalu berlebihan. Tapi tetap saja kenapa ia harus ikut menulis laporan sampah ini?
Bosan dan sebal, Yoongi akhirnya membanting pulpennya. "Chogi, kenapa kau harus menulis laporan sebanyak ini? apa atasanmu itu membacanya?" tanya Yoongi mencoba membuka obrolan. SeokJin mendongak, menatap tidak kalah sebal dari Yoongi barusan.
"Anni, kami para vampire tidak langsung mengirim ke Dia. Kami punya prosedur, tingkatan-tingkatan dengan tugas yang berbeda-beda dan jangan banyak mengoceh cepat tulis itu!"
Yoongi bungkam, terkejut bukan main melihat SeokJin bisa bicara secepat itu dalam satu tarikan nafas serta bermacam-macam ukuran perempatan terlihat di keningnya. SeokJin benar-benar marah dan kesal sepertinya, dengan segala umpatan ia mulai memegang penanya dan mulai menulis seperti yang di contohkan Jimin.
Tapi baru saja dua kalimat ia tulis, ponselnya bordering ia segera mengangkatnya melihat si penghubung adalah Jimin.
"Jimin-ah, ada apa?"
"Ahjussi, V hyung mengajakku untuk memanggang BBQ dan aku boleh mengajak seseorang karena dia akan mengajak teman kencannya. Apa ahjussi bisa menemaniku setelah urusanmu selesai dengan Tuan Vampire?"
SeokJin ingin mual melihat senyum idiot Yoongi tercetak begitu jelas di wajahnya, bahkan ia bisa melihat ada banyak bintang berterbangan di kepala Yoongi sekarang serta matanya sudah berubah bentuk menjadi love. Astaga, apa ini sisi gila dari makhluk yang hidup ratusan tahun.
"Tentu saja, aku akan menemanimu. Aku akan menghubungimu nanti…"
Yoongi memutuskan sambungan telfonnya, menatap penuh tanya ke arah SeokJin yang sedang menatapnya dengan mata berkedut dan wajah mau muntah. Ia mengedikan bahu tidak peduli lalu kembali menulis begitu juga SeokJin.
"Aku harus pergi jadi kau tidak bisa menyuruhku menulis banyak"
"Kau harus tetap menulis sepuluh lembar laporan itu, jika tidak kau akan menulis dua puluh lembar. Jika alasan pergi dengan Yang Dimangsa itu aku juga punya alasan bertemu dengan V"
Yoongi menghela nafas, menatap sebal ke arah SeokJin yang mengucapkan kalimatnya tadi kelewat enteng dan santai. Ia kembali membanting pulpennya, otaknya berpikir dengan cepat membalas ucapan penuh nada menyebalkan milik SeokJin tadi.
"Kau mau berkencan lagi? Ngomong-ngomong soal V, dia itu pria yang cantik loh, seleramu bagus juga" ucap Yoongi setelah terdiam cukup lama menentukan topik yang bisa memukul telak manusia setengah nyamuk ini. seperti yang di duga, SeokJin mendongak matanya membulat kaget mendengar Yoongi memuji V.
Ada dua kemungkinan yang terjadi sekarang. Kemungkinan pertama, Yoongi tidak sengaja melihat foto Jimin dan Taehyung. Kemungkinan kedua Yoongi bertemu Taehyung tapi seperti nya tidak mungkin kemungkinan kedua itu terjadi.
"Kau bertemu dia?"
"Eoh, dia pria yang cantik"
SeokJin kembali heboh, ia membanting pulpennya, tubuhnya ia majukan seraya menunjuk Yoongi tidak percaya. Yoongi? Dia hanya mengedikan bahu tidak peduli dengan raut wajah datar yang sangat benar-benar menyebalkan.
"Kau! Jangan sampai kau ngoceh-ngoceh yang tidak-tidak padanya" ancam SeokJin. Yoongi mengangkat bahu tidak peduli dan kembali bicara dengan santai.
"Aku tidak bicara apa-apa"
"Kau! Kau memberitahu dia tentang aku adalah vampire?"
"Kenapa tidak? Kau saja memberi tahu Jimin tentang mencabut panahku bahwa aku akan mati setelah itu" balas Yoongi dengan nada menyebalkan miliknya. SeokJin melotot, menggebrak mejanya terkejut dan kesal.
BRAK!
"Kau serius?! Kau memberitahu dia tentang aku! Kau memberitahu dia aku adalah vampire?"
Bukannya menjawab, Yoongi malah tersenyum idiot ke SeokJin. Pria berdarah vampire itu balas tersenyum, penuh selidik tapi melihat Yoongi masih tersenyum seakan-akan meyakinkan ucapannya membuat SeokJin pundung. Awan-awan gelap dan udara dingin mulai menusuk di ruangan ini.
"Jangan membuat hujan di sini, aku tidak bisa mengendalikan hujan yang di buat vampire. Aku masih punya sopan santun tidak sepertimu"
Bukanya mereda, awan mendung yang dibuat SeokJin makin menggelap bahkan embun-embun sudah mulai menghiasi kaca-kaca dan ponsel Yoongi. Gumiho berusia ratusan tahun itu terperenjat, memundurkan tubuhnya karena ia bermain-main dengan emosi seorang vampire tua macam SeokJin.
"Tulis!"
"Nde!"
Baru saja limat menit menulis, Yoongi sudah berdiri berniat pergi untuk menjemput dan mengantarkan Jimin ke rumah gurunya itu tapi SeokJin kembali mengeluarkan awan mendung dan suaranya yang penuh nada berat itu.
"Duduk"
"Nde! Nde!"
…
…
…
"Bagaimana hubunganmu dengan barang kepemilikanmu itu?"
Pertanyaan Jaebum masih tertangkap indra pendengarannya dengan jelas meskipun suara mendetum musik DJ terus mengaum memenuhi ruangan kerlap-kerlip berbau alkohol menyengat. Jungkook mendongak, menjauhkan gelas berisi whisky nya lalu menatap Jaebum yang nampak sedang menanti jawabannya.
"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku merasa melewatkan sesuatu tapi aku tidak bisa mengingat apa pun dan pasti sesuatu itu berhubungan dengan Jimin"
Jaebum tersenyum miring, "Kau benar-benar membuktikan kalau benci dan cinta itu terhalang oleh selembar kertas tipis ya" ucap Jaebum dengan nada sedikit mencibir. Jungkook sendiri hanya diam, mata tajamnya terlihat kosong dan bingung dengan kondisinya sendiri.
Ia tidak pernah percaya cinta atau kesetian itu ada. Orangtua nya sendiri yang membuktikan bahwa cinta dan kesetian itu tidak ada. Ayah dan ibunya berpisah, sibuk dengan pekerjaannya, meninggalkan Jungkook kecil bersama sang kakek dan paman angkatnya dengan setumpuk uang bernilai ratusan juta. Sejak saat itu ia berubah, ia menjadi anak yang arogan dan tidak mempunyai belas kasihan.
Ia tidak pernah percaya cinta itu ada meskipun sang kakek dan Taehyung memberikannya, ia menganggap semua itu hanya sekedar tanggung jawab. Tapi semenjak ia bertemu pertama kali dan membully pertama kali murid bernama Park Jimin, perhatiannya mulai terpusat pada Jimin. Ia hanya ingin melihat, mencibir dan membully Jimin.
Ia tidak tahu alasannya tapi sekarang, ia seperti menemukan jawaban yang tepat bahwa ia… mulai menyukai Jimin. Ia tidak mau mengakui sepenuhnya karena ia masih belum yakin, karena separuh dari otaknya masih menampik bahwa cinta itu ada.
"Berhentilah bergumal pada dirimu sendiri, lebih baik kau minum sepuasnya sebelum ujian sesungguhnya datang dan kau menjadi mahasiswa"
"Urus urusanmu sendiri, aku membawa ke sini untuk minum bukan membahas diriku"
"Arraseo" balas Jaebum sedikit sengit karena Jungkook benar-benar tidak bisa di ajak bermain.
…
…
…
Jimin bisa di bilang anak SMA yang rajin, bahkan kelewat rajin. Itu terbukti hari ini, Taehyung meminta bantuannya untuk membantu mengurusi party kecil-kecilan di tempat Taehyung. Kalian masih ingat, kan janji Taehyung waktu itu mengajak Jimin makan malam. Malam ini lah Taehyung akan menepati janjinya.
Sore hari, setelah membereskan rumahnya-mansion Yoongi-Jimin bergegas ke rumah Taehyung-telebih dahulu menghubungi Yoongi tentunya-dan menyiapkan semuanya. Mulai dari panggangan daging, meja panjang di taman belakang sudah ia bereskan dan terakhir ia membuat kimchi.
"Hyung masih sama saja" gumam Jimin seraya berdecak sebal melihat tumpukan sampah di dekat pintu belakang dapur rumah Taehyung. Gurunya yang satu itu memang punya kebiasaan yang tidak patut di tiru, yaitu lupa dan terlalu malas membuang sampah.
Setelah menaruh kimchi buatannya, Jimin menarik dua kantong sampah ukuran jumbo itu keluar melalui pintu belakang. Ia berjalan sekitar setengah meter menuju tempat pembuangan sampah. Sesampainya di sana, ia mengernyit heran melihat sekumpulan anak kecil berdiri di dekat tempat pembuangan sampah.
Penasaran dan takut terjadi sesuatu, Jimin menghampiri anak-anak itu. Sesampainya di sana, matanya membulat melihat anak-anak itu dengan tawa bahagia melempari seekor burung cantik yang tersangkut di kawat.
"YAK!"
Anak-anak itu menoleh, terkejut dan takut melihat mata Jimin yang melotot seram. Mereka langsung berlari dengan suara teriakan mengejek pada Jimin.
"Dasar anak-anak nakal!" gerutu Jimin dengan nada tak kalah kesal, ia segera menghampiri burung cantik itu, membantunya perlahan terlepas dari jeratan kawat pagar.
"Bagaimana bisa burung secantik dirimu tersangkut di sini?"
Jimin berbicara lembut, tapi burung itu tetap diam tidak bicara bahkan bergerak untuk berontak tidak. Pemuda manis bermarga Park itu tersenyum, mengcek satu persatu bagian tubuh si burung lalu terakhir membantunya terbang di udara.
"Hati-hati di sana!"
"Wah, pacarku itu ternyata orang yang baik"
"Eomma kkamjakya!"
Yoongi tersenyum jahil melihat reaksi terkejut Jimin yang lucu, mata melotot dan tubuhnya beringsut mundur. Sementara yang dikagetkan mencebikkan bibirnya, menghampiri Yoongi lalu memukul lengan Yoongi.
"Ahjussi mengejutkanku!"
Yoongi tertawa, mengusak kepala Jimin yang masih sibuk menggerutu kesal dan bibirnya mencebik lucu,
"Jangan mencebik dan memukul dadaku" ucap Yoongi dengan nada mengeluh. Yang mendapat keluhan hanya diam, memandangi Yoongi dengan pandangan cemberut. Namun wajahnya langsung berubah merah melihat Yoongi tiba-tiba saja meraih tangan mungilnya dan menggenggamnya.
"Ahjussi kenapa datang lebih awal? Bahkan V hyung dan teman kencannya saja belum datang. Apa urusanmu dengan Tuan Vampire sudah selesai?" tanya Jimin dengan nada sedikit cepat dan tidak beraturan, mungkin kelewat penasaran atau antusias menanti jawaban Yoongi.
"Tidak ada alasan khusus, aku tadi mengurus beberapa hal yang mengorbankan tangan tua nan rapuhku" ucap Yoongi memulai aksi melo drama dan berlebihannya. Ia menunjukkan tangan kanannya yang tidak ia gunakan untuk menggenggam tangan Jimin, memperlihatkan jarinya yang memerah karena terlalu lama menangis.
Jimin mengernyit, mulutnya sedikit mengangga melihat jari Yoongi kemerahan mirip seperti lebam. Yoongi menghela nafas, memasukan kembali tangannya ke saku, lalu merubah wajahnya kembali menjadi sendu.
Namun belum semenit Yoongi memasukan tangannya, Jimin menarik tangan itu keluar. Mengusap punggung tangan Yoongi lalu terakhir mengecupnya cukup lama. Anak SMA yang sebentar lagi lulus itu tidak mengerti juga kenapa ia bisa melakukan hal seperti ini. ia hanya mengikuti nalurinya saja untuk mengurangi rasa sakit yang tidak seberapa di punggung tangan Yoongi.
"Apa sudah baikkan?"
Yoongi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata Jimin. Kedua bola mata berwarna hitam sedikit keabu-abuan itu menatapnya lurus, sarat akan kekhawatiran dan kepolosan. Tanpa sadar Yoongi menahan nafasnya melihat Jimin menatapnya seperti dan jangan lupakan senyumannya.
"Ahjussi?"
"Su… sud… sudah… sudah hilang…" jawab Yoongi dengan nada sedikit gugup, menarik tangannya buur-buru lalu mengambil langkah cepat meninggalkan Jimin yang bingung dibuatnya.
"Ahjussi? Kenapa berlari seperti itu?" tanya Jimin sedikit berteriak dan berlari mengejar Yoongi yang sudah ada di depan sana. Setelah perjuangan panjang, Jimin berhasil mengimbangi langkah Yoongi dan berdiri tepat di depannya.
"Aku menghindari tatapanmu" jawab Yoongi dengan kata-kata yang sungguh ambigu. Ia berani bersumpah kalau ia tidak pernah melihat mata secantik dan seindah itu di bumii selama ia hidup ratusan tahun. Bola mata milik Jimin seakan-akan meyiratkan kebahagian, kecerian yang selama ini terpendam rapat-rapat. Dan semua itu semakin membuat wajah Jimin-Nya semakin cantik.
"Kenapa dengan tatapanku?"
"Matamu…"
Jimin diam, menunggu Yoongi melanjutkan kalimatnya tapi yang ia dapat malah tubuh menghilang Yoongi. Dan ketika berbalik, ia melihat Yoongi sudah berlari dengan senyum jahil.
"Aish! Ahjussi!"
Yoongi tetap tidak berhenti, bahkan terus berlari dengan iringan suara tawa Jimin yang gemas melihat tingkah Yoongi yang mendadak malu-malu karena tatapan pacarnya. Apa ini yang disebut jatuh cinta? Apa ini yang namanya pacaran?
Memang indah dan penuh bunga, sangat malahan. Tapi ia tidak pernah menyangka ada perasaan lain, yaitu…
Perasaan memiliki dan ketidak inginan kehilangan seseorang.
"Ahjussi~"
…
…
Ketika pulang mengajar, Taehyung terkejut setengah mati melihat SeokJin sudah berdiri di depan sekolah dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bahkan dengan tenang dan datarnya, SeokJin mengatakan akan mengantarnya pulang. Taehyung senang-senang saja tapi perlakuan SeokJin mala mini sungguh berlebihan dan sedikit alay-itu kata-kata dari muridnya-.
Setelah turun dari bus, SeokJin terus-terusan berjalan mengapir dirinya bahkan ketika ada orang lewat SeokJin merelakan tubuhnya tertabrak demi melindungi Taehyung. Sekali lagi, ia katakan ia senang tapi semua tingkah Seokjin mala mini bukan seperti SeokJin yang ia kenal.
"Kim Jin-ssi!"
SeokJin berhenti melangkah tepat satu meter menuju gerbang rumah Taehyung. Pria berdarah vampire itu terdiam, lalu tersenyum lebar layaknya seorang idiot. Kali ini Taehyung bersumpah kalau SeokJin benar-benar terlihat seperti idiot sekarang.
"Apa kau salah makan hari ini?"
"Tidak"
"Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kenapa mendadak tingkahmu seperti ini?" tanya Taehyung dengan nada bingung dan kesal. Ia tidak suka SeokJin menjadi orang lain, ia ingin melihat SeokJin yang dulu. Idiot tanpa dibuat-buat, SeokJin apa adanya.
"Kepalaku tidak terbentur, aku tidak bertindak aneh"
"Terserahlah" gumam Taehyung akhirnya menyerah dan tidak mengatakan apa pun lagi. Mereka sama-sama tidak ada yang bicara sampai SeokJin tiba-tiba saja memotong langkahnya, mengeluarkan sesuatu dan langsung menunjukannya tepat di depan mata Taehyung, benar-benar di depan matanya.
"Apa ini?"
"Hadiah untukmu"
Taehyung mengernyit, menjauhkan benda itu beberapa centi. Matanya tidak bisa bergerak ke arah manapun selain hanya memandangi benda itu saja, perlahan-lahan senyumnya tercetak. Meraih benda kecil bernama jepit rambut itu, mengusap setiap bagian jepit rambut berbentuk topi ulang tahun itu dengan senyum.
"Terimakasih"
Seumur hidupnya Taehyung tidak pernah mengenakan topi ulang tahun, bahkan setelah diasuh oleh Kakek Jeon, ia tidak mau merayakan ulang tahun. Menurutnya ulang tahun itu sama saja merayakan kesengsaraan ayah ibunya dimulai. Ia tidak mengingatnya.
"Kau mengingatkanku pada hari ulang tahunku"
SeokJin tersenyum, mengambil jepit itu dan dengan hati-hati dan sebisa mungkin ia memasangkan jepit rambut itu di kepala Taehyung tanpa menyentuh kulit kepalanya. Setelah yakin terpasang ia bisa melihat Taehyung semakin tersenyum.
Senyum tulus dan lembutnya, "Kau mau tahu tanggal ulang tahunku?"
Taehyung tiba-tiba saja bertanya, menatap SeokJin yang kali ini diam cukup lama sebelum menganggukkan kepala ke bawah. Pemuda manis yang berprofesi sebagai guru BK itu tersenyum simpul, memasukan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya.
"30 Desember, satu minggu lagi"
SeokJin mengangguk paham, "Ah, aku akan mengucapkan selamat ulang tahunmu di tanggal 30 nanti. Aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkannya" ucap SeokJin masih dengan senyum lebar dan jari telunjuk terangkat.
Taehyung mengernyit, SeokJin semakin aneh bahkan Taehyung khawatir berkencan dengan seorang yang memiliki kelainan jiwa.
"Kau itu benar-benar aneh hari ini. pertama, kau datang menjemputku bahkan mengantarkku pulang. Kedua, kau memberiku jepit topi ulang tahun ini dan mengatakan akan mengucapkan selamat ulang tahun. Kau pasti menginginkan sesuatu dariku"
SeokJin masih tetap tersenyum lalu menggeleng, "Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak punya agama" ucap SeokJin mengulangi ucapannya waktu itu. Taehyung mengernyit, tiba-tiba saja perasaan aneh menyelebungi tubuhnya.
Ia seperti pernah merasakan hal serupa, tapi ia lupa ia pernah mendengar dan melakukan hal ini dimana. Sekali lagi perasaan tetaplah sebuah perasaan, ia tidak tahu benar atau tidak.
"Apa kau mengatakan itu agar kau punya alasan tidak berkunjung ke rumahku saat Natal?"
"Anni. Apa kau tidak berpikir hal lain? Kau tidak berpikir aku imut?"
"Kenapa aku harus mengatakan kau imut?" Taehyung balik bertanya dengan wajah heran dan bingung. Iris sewarna dengan hitamnya arang itu menyiratkan kebingungan, terutama saat melihat wajah kecewa SeokJin karena dirinya malah balik bertanya dan seakan-akan mengatakan bahwa SeokJin tidak imut.
"Aneh!"
SeokJin cemberut, awan gelap mulai menguasai tubuhnya mendengar kata yang keluar dari mulut Taehyung bukan imut melainkan aneh. Merasa bersalah dan tidak enak adalah yang dirasakan Taehyung, ia meringis sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Bukan kau, tapi situasi ini. Aku seakan-akan pernah merasakannya, mirip seperti déjà vu" ucap Taehyung dengan mimic wajah sedikit takut dan bingung. SeokJin tersadar, otaknya tiba-tiba saja berputar di kejadian beberapa hari lalu dimana ia menghilangkan ingatan Taehyung waktu itu.
Ia merasa bersalah, jika saja ia tidak menghilangkan ingatan Taehyung waktu itu mungkin pemuda manis ini masih ingat tentang moment manis mereka yang meskipun hanya beberapa jam itu. Ia kembali menatap Taehyung yang masih merinding takut dan bingung karena déjà vu nya sendiri.
…
…
"Ahjussi, bisa kau ambilkan penjepit daging di atas lemari itu?" pinta Jimin seraya masih berjinjit di depan almari tempat Taehyung menyimpan ala-alat masaknya. Yoongi yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri Jimin, mengambil penjepit daging itu dengan mudah.
Namun, sayang Yoongi melupakan fakta bahwa Jimin masih berdiri di tempatnya sehingga tubuh mungil itu sedikit terdorong ke belakang hingga membentur almari. Tubuhnya mengampit tubuh Jimin yang mungil di antara almari di sudut dapur Taehyung.
Ketika sadar, Jimin tidak bisa bergerak karena posisi mereka terlampau dekat bahkan dari jarak seperti ini Jimin bisa merasakan deru nafas Yoongi di wajahnya. Dan sialnya, Yoongi tidak mau menjauhkan tubuh tegapnya.
"Ahjussi…" cicit Jimin antara gugup dan tidak nyaman, tangannya terangkat mendorong tubuh Yoongi tapi tubuh itu jauh lebih kuat dan tegap.
"Apa?"
"Apa kau bisa menjauh dari tubuhku?"
Kesadarannya sudah terkumpul, ia mengambil tiga langkah menjauhi tubuh Jimin yang benar-benar terhimpit pada lemari.
"Gomawo…"
"Eoh," sahut Yoongi seadanya.
Jimin berani sumpah jika mereka tidak melakukan apa pun di sudut lemari tadi. mereka hanya saling terjepit dan terjebak suasana saja, hanya itu tapi ketika ia berbalik hendak kembali ke taman belakang tiba-tiba saja lengannya di tarik Yoongi. Tubuhnya tidak siap sehingga ia sedikit menabrak dada tegap itu.
"Kau…"
Jimin menunggu. Kenapa dirinya semakin bodoh ketika berhadapan dengan Yoongi? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
"Tatapanmu…"
"Jimin-ah! Hyu…"
Taehyung tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat adegan di hadapannya. wajahnya mengeras, tidak suka melihat tangan murid sekaligus adiknya itu disentuh orang lain. SeokJin yang ada di sampingnya, terkejut bukan main melihat Yoongi dan Jimin ada di depan matanya.
"Kalian asik sekali, ya?" tanya Taehyung dengan nada suara keras, menarik kembali dua orang yang dimabuk asmara itu ke alam sadar.
Reaksinya sungguh sangat lucu, Jimin beringsut mundur dengan wajah merah, Yoongi? Dia malah dengan santainya berbalik, tidak terkejut seperti SeokJin ketika melihat guru yang selalu diceritakan Jimin datang bersama SeokJin.
"Hyung…" panggil Jimin dengan suara pelan, menghampiri guru BK nya dengan langkah kecil. Wajahnya ia tundukkan, gugup dan bingung bagaimana menjelaskannya. Sedangkan Taehyung? Pemuda manis dengan surai blonde itu, melipat kedua tangannya.
"Jelaskan semuanya…"
…
"…begitu"
Jimin menjelaskan semuanya, kecuali identitas sebenarnya Seokjin dan Yoongi. Dan untungnya suara cegukannya tidak keluar, karena jauh di dalam hatinya ia menanamkan bahwa SeokJin dan Yoongi adalah manusia sama seperti mereka.
Taehyung memicingkan matanya sebal melihat wajah Yoongi juga ikut menyebalkan. Bahkan mereka sama-sama bersedekap, mendengus dan memalingkan wajahnya sambil tersenyum miring-meremehkan.
"Aku tidak menyangka, kau dan dia saling mengenal" ucap Taehyung kali ini menatap SeokJin yang tidak bisa bergerak. Mati kutu dan gugup, takut kalau identitasnya sebagai vampire akan terbongkar. Meskipun ia menganggap Yoongi dan Jimin teman, tapi ia tidak bisa percaya sepenuhnya pada mereka.
"Ck, dasar!"
Jimin dan Seokjin melotot mendengar decakan sebal Yoongi untuk Taehyung. Pemuda manis kelas tiga SMA itu menatap SeokJin seakan meminta bantuan, tapi pria dengan bahu lebar itu sama sekali tidak bisa diharapkan. Dia malah melemparkan semuanya pada Jimin dan ia hanya bisa menghela nafas merasakan situasi awkard di antara Taehyung dan Yoongi.
Taehyung berdecih, membuang nafasnya lalu tanpa peringatan menarik Jimin dan membisikannya sesuatu-tapi tidak seperti berbisik, "APA DIA PRIA YANG MEMBUATMU CEGUKAN DAN MENANGIS ITU?!"
Jimin beringsut mundur, terkejut mendengar teriakan Taehyung yang pastinya menyindir Yoongi. Pacarnya itu tersenyum miring melihat Taehyung, ia lalu menatap Jimin yang seakan-akan memintanya untuk menahan emosi dan rasa kesalnya.
Tapi sepertinya tidak berguna lagi, kali ini Yoongi mendekatkan kepalanya ke telinga SeokJin berniat membisikan sesuatu tapi Jimin bisa menangkap maksud lain di bisikan itu.
"APA DIA PEMUDA CANTIK YANG AGRESIF ITU?!"
Taehyung melotot mendengar kata agresif yang pasti di tujukan untuknya. Ia beralih menatap SeokJin yang kebingungan karena kata-kata Yoongi yang kelewat ceplas-ceplos tanpa memikirkan akibat untuk SeokJin.
"Berhenti bertingkah alay dan kendalikan sikapmu!" balas SeokJin dengan nada mengancam. Yoongi berdecak sebal dan tidak suka karena SeokJin lebih membela Taehyung dan hubungan tidak jelasnya itu.
"Aku pernah bertemu dengan pria ini, dia mencarimu ke sekolah" ucap Taehyung seakan-akan bisa membaca isi pikiran Jimin yang berputar-putar bagaimana Taehyung bisa mengetahui sedikit hal tentang Yoongi.
Jimin mengangguk paham sambil tersenyum kaku, ia lalu beralih menatap Yoongi yang sedang bertukar tatapan tajam pada Taehyung. "Apa kau mengatakan sesuatu pada V hyung?" tanya Jimin hati-hati dengan nada berbisik.
"Tidak sempat. Saat itu aku tidak memiliki waktu banyak"
"Dan kau harusnya bersyukur, jika saja dia punya waktu lima menit lebih banyak aku pasti masih sempat memarahi dan menampar wajahnya"
Taehyung mengeluarkan mulut pedasnya, menatap Yoongi dengan senyum miring khas miliknya ketika sudah berhasil mengeluarkan kata-kata pedasnya. Yoongi membuang nafasnya kesal, entah kenapa ia benar-benar kesal setiap kali suara cempreng itu bicara.
"Ah, ya. Berapa umurmu? Kenapa cara bicaramu seperti itu?" tanya Taehyung dengan nada mengejek tapi hal selanjutnya yang diucapkan Yoongi sungguh membuat darahnya naik hingga ke ubun-ubun. Bahkan Jimin yang duduk di sampingnya bisa merasakan panas amarah itu mengalir.
"Tidak perlu tahu usiaku untuk menghormati dan meminta maaf padaku"
Jimin berdehem, melirik Yoongi dan Taehyung yang siap mengeluarkan kata-kata caciannya tapi Jimin sudah keburu menghalanginya.
"Baik. Waktu penjelasan dan perkenalannya sudah habis, kalian sudah mengantar dan membantu kami. Sekarang waktunya kalian pulang karena makan mala mini milik kami" ucap Jimin dengan senyum manisnya, secara halus mengusir Yoongi dan SeokJin.
Mendengar usiran Taehyung, Yoongi tentu tidak terima. Ia duduk dengan tegak bersamaan dengan SeokJin yang juga ikut-ikutan tidak terima diusir.
"TIDAK MAU!"
…
Dan akhirnya. Yoongi dan SeokJin tidak pulang. Yoongi sibuk mencuri-curi pandang ke arah Jimin yang sedang sibuk di pemanggang daging yang jaraknya satu meter dari mereka. Sementara SeokJin, dia masih sibuk mengerjakan laporannya tadi bersama Yoongi dan tidak lupa ia menyelipkan beberapa catatan keuangan untuk mengelabuhi Taehyung.
Pemuda cantik dengan mulut pedas itu juga ada di dekat Jimin, membantu pacarnya itu memanggang daging dan membuat kimchi tambahan karena SeokJin sudah menghabiskannya.
"Berhenti menatapnya seperti itu, Yang Dimangsa tidak akan kemana-mana"
Yoongi berdecak, menoleh ke arah SeokJin yang begitu sibuk dan fokus mengerjakan laporan menyebalkan itu.
"Wae? Aku sudah official dengannya jadi aku diperbolehkan memandanginya"
"Kenapa bahasamu itu semakin aneh dan mirip anak muda? Apa gumiho ketika jatuh cinta akan menjadi alay sejati?"
Yoongi kali ini diam, menyuruh SeokJin untuk kembali fokus mengerjakan laporannya. Tapi mood vampirenya langsung buyar karena kata-kata official keluar dari mulut Yoongi. Kata-kata itu meskipun terdengar biasa dan bukan sindiran tapi sudah cukup menyentil SeokJin tentang ketidak jelasan hubungan mereka.
"Minum birmu" perintah Yoongi.
"Birku habis" jawab SeokJin lalu menatap Taehyung yang sudah berhasil menggunakan mesin birnya. Ia sedikit kagum karena Taehyung memiliki mesin-mesin aneh untuk pesta-pesta seperti di film-film. Mungkin saja karena Taehyung suka membuat pesta bersama teman-temannya, karena tadi sepanjang lorong di rumah Taehyung ia bisa melihat ada banyak sekali foto-foto Taehyung bersama teman-temannya.
Ia tersenyum, mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu mengatur volume suaranya agar pas. Yoongi yang melihat itu berdecak sebal, karena SeokJin sama saja seperti dirinya.
"Min Chohee-ssi, apa aku bisa meminta bir tambahan"
Semua orang terkejut. Yoongi membulatkan matanya mendengar nama itu terucap dari bibir SeokJin dengan mudahnya. Terlebih panggilan itu seperti mengarah pada Taehyung. Ia lalu beralih menatap Taehyung yang terpaku di tempat, matanya membola terkejut dan bingung karena SeokJin menyebutkan nama itu, nama mendiang adiknya.
Jimin pun sama, ia bingung karena SeokJin memanggil Taehyung dengan nama yang asing dan aneh. Ia mendekati Taehyung yang tidak bisa menggerakan tubuhnya, bahkan tanpa sengaja Taehyung menjatuhkan penjepit dagingnya ke pemanggang daging.
"Hyung…"
"Bisa kau kupas dan cuci kubis di dapurku?"
Jimin tahu Taehyung sedang memerintahkannya untuk diam dan tidak ikut campur. Ia mengangguk, menatap SeokJin yang masih tersenyum polos tanpa tahu bahwa ucapannya tadi membuat Taehyung… sedikit marah. Dan juga kenapa Yoongi berwajah layaknya orang yang paling terkejut di antara mereka berempat.
"Kim Jin-ssi"
Taehyung memanggilnya, menatap lurus ke mata SeokJin yang perlahan-lahan berubah menjadi bingung karena mendadak Taehyung berbicara dingin padanya.
"Bisa kau ikut aku bicara berdua saja di sana?" tanya Taehyung menunjuk bagian sisi lain dari taman belakangnya yang cukup jauh dan tertutup beberapa pohon serta jejeran pot bunga.
SeokJin mengangguk, mengikuti langkah Taehyung ke balik sisi taman yang ditunjuk Taehyung. Di sini, Taehyung berdiri cukup lama memunggungi SeokJin. Mengatur degup jantungnya karena baru pertama kali ini ada orang-setelah sekian lama-memanggil namanya yang penuh kenangan buruk itu.
"Kau…"
"Darimana kau tahu nama asliku?" tanya Taehyung seraya berbalik. Pandangannya menelisik jauh ke mata SeokJin yang terlihat gugup dan baru menyadari satu hal. Entah apa itu tapi seperti SeokJin terlihat sangat merutuki keadaannya sekarang.
"Aku bertanya padamu, darimana kau tahu nama asliku"
"Kau salah dengar, aku memanggilmu Kim Taehyung!"
Taehyung semakin mengernyit heran, ia melangkah maju. Matanya memicing tajam layaknya sebuah pedang perak yang siap menyabik-nyabik SeokJin detik itu juga jika masih berbohong. Sekali lagi ia bisa melihat SeokJin bergumam sial, pandangannya berubah gugup dan bingung.
"Tidak ada satu pun orang luar selain Kakek yang mengetahui dua namaku yang lain. Darimana kau tahu namaku? Aku tidak pernah merasa memberi tahu namaku padamu"
Taehyung kembali menjejali SeokJin dengan pertanyaan beruntun. Tapi pria dengan bahu lebar itu tetap diam, kesal melihat keterdiaman SeokJin akhirnya ia mengambil kerikil dan melemparnya pada SeokJin.
"Apa sekarang kau akan diam? Apa kau akan menghindar? Sudah cukup selama ini aku menghiraukan segala keanehanmu. Sekarang kau harus menjawabku dengan jujur, darimana kau tahu namaku? Kenapa kau bisa mengetahuinya?" tanya Taehyung berteriak frustasi.
SeokJin masih diam, sungguh ia tidak siap dan tadi sungguh-sungguh iai lupa kalau waktu itu ia menghilangkan ingatan Taehyung yang artinya ia juga menghilangkan memori Taehyung tentang Taehyung yang memberi tahu nama aslinya.
"Brengsek"
Taehyung mengumpat berniat berjalan pergi, tapi sial. ia malah tergelincir hingga membuat tubuhnya hilang keseimbangan. Karena refleknya sebagai vampire yang cepat, ia menangkap tangan dan pinggang ramping Taehyung. Mencegah tubuh mungil berbalut kemeja putih dengan motif bunga itu terjatuh ke tanah.
Tapi, mereka bersentuhan. Bahkan Taehyung menggenggam tangannya kelewat erat, takut jatuh ke tanah penuh batu alam yang sakit itu. Mata SeokJin membola, ia tidak bisa bergerak merasakan genggaman tangan Taehyung pada tangannya, wajah mereka yang sangat dekat bahkan hanya berjarak 10 centi.
Sentuhan itu…
Sentuhan antara vampire dan manusia akan membawa si vampire melihat kehidupan masa lalu Taehyung mulai dari kelahiran pertamanya.
Yang membuatnya terkejut adalah…
"Wajah mereka…"-SeokJin.
Wajah lukisan adik Yoongi dan gambaran kelahiran pertama Taehyung sama persis.
Mereka orang yang sama.
Adik Yoongi ada di kehidupan Taehyung sebagai… Taehyung sendiri.
Taehyung…
"Tidak mungkin…"
…adalah Min Chohee.
To Be Continue
Hai? Maaf aku late update banget ya? Aku tahu aku salah *pundung di pojokan*. Aku punya alasan untuk itu, pertama. Setelah perayaan natal dan tahun baru hari jumat sama sabtu, hari selasa nya aku langsung ulangan ekonomi…
Bayangin dong, liburan dua puluh hari lebih aku habiskan untuk nulis. Udah lupa tu rumus-rumus sama itung-itung duit entah milik siapa itu. pokonya SMA ini selain MTK musuh terbesarku adalah Ekonomi-Akuntansi, karena itu juga aku nggak mau ambil akuntansi atau FEB *karena aku sadar diri*
Dan setelah retret, aku pulang hari senin (tanggal 15) otomatis hari selasa aku males masuk karena badanku sakit semua (aku nggak bisa kena AC bis) jadi kalo naik bis pasti kalo nggak kaki sakitnya luar biasa atau masuk angin. Hari rabu, kamis, jumat, sekolah biasa, terus sabtunya ulangan ekonomi lagi dong genks.
*Aku tepar di meja*
Sekalian aku juga mau kasih tahu, aku bakal slow update banget. Aku udah kelas tiga SMA, aku mau mempersiapin untuk TO, simulasi, LUN, UASBN, UN, siap-siap mental aku masuk SNMPTN atau nggak. Jadi, aku mohon kesabarannya ya, karena aku bakal slow update banget *deep bow*
aku juga mau ngomongin sesuatu, untuk yang biasa nya hanya menjadi siders tolong lah kali ini jadilah pembaca yang baik untuk review, coment dan vote satu hal.
Aku tahu ff ini bakal panjang banget, jadi aku mutusin untuk motong ff ini jadi dua alias jadi dua book atau series. Series pertama ini, dan series kedua nanti akan segera muncul setelah series ini tamat, karena jika di jadiin satu bakal panjang mungkin sampe tiga puluh atau empat puluh chapter.
Jadi aku mutusin untuk bikin ff ini jadi dua series. Series pertama Gumiho: Ahjussi Saranghaeyo! Dan kedua aku masih belum tahu judulnya.
Jika kalian setuju silahkan bilang ya dan jika nggak ya nggak apa-apa, tapi resikonya ini ff bakal panjaaaaaaaaang banget. Aku takut kalian bosen nunggu jadi aku pengen motong atau bagi dua cerita ini.
Gimana setuju? (di bawah ini curcol ku, jadi kalo nggak mau baca skip dan langsung review, vote, dan coment)
Aku dapet banyak pencerahan gara-gara pulang retret genks (3 hari dua malem), dan retret itu aku serasa tinggal di dorm WANNA ONE GO season 1. Dibanguninnya pake musik, bukan musik keras atau rock tapi musik/lagu rohani yang pake alunan piano. Bukannya bangun aku malah ngantuk berat…
Soal kuliahku, aku curcol ya? *nggak boleh di timpuk* /bodo amat/ bercanda, kalo kalian nggak mau baca skip aja dan langsung review ya *kedip imut manjaaah*
aku mutusin ngambil PTN di tempat domisilku dan aku membuang-bahasa alusnya-menyingkirkan PTS di Yogya itu padahal aku udah keterima dan dapet keringanan biaya. Tapi aku lebih memilih PTN di tempat domisilku karena ada something yang berat terjadi. Jadi, aku mutusin untuk kuliah di sini, tinggal bareng orangtua dan ngurus mereka. Aku mau jadi anak berbakti…
Aku harap kalian menjawab hal di atas tadi berkaitan ff ni, karena ini menyangkut kelanjutan ff ini. Jadi dimohon kesediannya untuk review, coment dan vote ya…
Terimakasih yang udah mau baca dan denger curcol ku yang panjang lebar.
Aku sayang kalian *kejup satu-satu* *lempar lope lope*
SARANGHAEYO *HEART SIGN LARGE, MEDIUM, SMALL*
