1180

"Kenapa kau melakukan semua ini?"

"Apa maksud anda, Yang Mulia?"

"Katakan semua itu bohong Chohee!"

"Yang Mulia… Bukan maksudku menyembunyikan semua ini. Aku berniat memberi tahumu semuanya tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat"

"Kau tidak memercayaiku, kau tidak mencintaiku, kau lebih memilih kakamu itu"

"Anniya. Yang Mulia"

Setelahnya, Pria bergerak mundur meninggalkan Chohee. Meninggalkan gadis itu dalam keadaan sedih, sendiri dan merasa bersalah. Bahkan ia tidak peduli mendengan suara tubuh Chohee yang jatuh ke lantai dengan begitu keras. Ia tidak peduli, karena ia sudah mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah ia tarik kembali.

Di belakang, tanpa Pria itu ketahui. Chohee menangis, menangis tanpa suara meskipun matanya berair mengalirkan air mata kesedihan dengan begitu derasnya. Pria itu tidak peduli, bahkan melirik saja pun tidak. Tangan mungilnya bergerak meremat hanbok biru lautnya dengan begitu kuat hingga terlihat kusut. ini pelampiasan akibat rasa sakit yang ia rasakan, penyesalan dan segala macam hal yang begitu menyakitkan.

… … …

… … …

Semua.

Mata.

Hidung.

Bibir.

Semua yang ada di wajah Taehyung begitu mirip dengan wajah di lukisan adik Yoongi dan bayangan masa lalu Taehyung. Siapa pria berpakaian raja itu? apa dia suami Taehyung di masa lalu? Tapi, apa yang membuat Taehyung di masa lalu bertengkar hebat dengan pria berpakaian raja itu?

Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?

"Tidak mungkin…"

Taehyung mengernyit, melepas genggamannya lalu beringsut mundur. Matanya menatap bingung ke wajah SeokJin yang semakin pucat. Pandangan mata SeokJin yang selalu tajam berubah menjadi kosong dan sendu, tidak bernyawa. Bagai tumbuhan yang tiba-tiba layu dan menjelang mati karena tidak mendapat cukup sinar matahari.

"Kau kenapa? Apa kau sakit? Apa kau kedinginan? Wajahmu semakin pucat"

Taehyung bertanya dengan nada khawatir, bahkan ia mendekat memperhatikan wajah Taehyung lebih seksama dan jelas.

Yoongi masih setia memandangi gerak-gerik Taehyung dan SeokJin. Tapi ia lebih fokus memandangi wajah Taehyung, memang wajah itu tidak asing baginya tapi tetap saja tidak mungkin adiknya terlahir kembali menjadi seorang pemuda dengan mulut super pedas itu. adiknya tidak seperti itu, adiknya bukan orang seperti itu.

Jimin yang baru saja datang sambil membawa semangkuk besar kimchi memicingkan matanya. Menatap ke arah pandang Yoongi yaitu Taehyung dan SeokJin yang masih saling berdiri berhadapan. Dengan helaan nafas ia menghampiri Yoongi, menaruh mangkuk besar itu dengan kasar tepat di depan ahjussinya tersebut.

"Ahjussi tahu rubah itu memiliki pandangannya yang tajam. Hati-hati kau bisa melukai V hyung dan Tuan Vampire"

Jimin berucap dengan wajah galaknya. Yoongi mengalihkan pandangannya pada Jimin yang sedang bersedekap menatap dirinya dengan pandangan sebal. Menarik nafas adalah hal yang ia lakukan sebelum menarik tangan Jimin namun segera di tepis oleh pemiliknya.

"Kenapa? Cemburu?"

"Bukan cemburu, tapi lebih tepatnya tidak suka. Kau tidak mungkin merebut V hyung dari Tuan Vampire kan?" tanya Jimin.

Yoongi menggeleng, kembali menatap Taehyung cukup lama sebelum ia kembali menatap Jimin yang ternyata masih betah memandangi wajah tampannya dengan tajam.

"Siapa sebenarnya gurumu itu?"

"Dia hanya guru BK di sekolahku, guru yang sangat popular" jawab Jimin, matanya semakin memicing tajam melihat Yoongi semakin tertarik karena perkataannya tadi. sebal, ia akhirnya memajukan tubuhnya semakin dekat pada Yoongi.

"Aku sering membaca novel romantis, biasanya saat pria menanyakan hal tadi maka dia akan bertanya bagaimana kepribiadiannya? Pertanyaan yang sama seperti Tuan Vampire" omel Jimin lalu memilih duduk dan memakan kimchi nya. Menghiraukan tatapan memelas Yoongi karena merasa di cemburui.

Ia memijat pelipisnya sebentar, "Aku tidak menanyakan itu. Aku bertanya siapa dia sebenarnya?"

"Aku juga sudah menjawab tadi, dia guru BK baru di sekolahku. Dia langsung menjadi popular karena wajahnya yang cantik. Dia pria yang cantik, sangaaat cantik" ucap Jimin dengan nada penekanan di akhir kalimatnya. Memberi kode bahwa ia sedikit kesal karena Yoongi terlalu memerhatikan Taehyung sampai seperti itu.

Tapi, Yoongi tetap tidak peka. Bahkan dia melanjutkan acara memerhatikan Taehyung lebih seksama dan kekasihnya-Jimin-hanya bisa berdecih sebal.

Taehyung mengernyitkan keningnya. Kedua iris sewarna dengan rambut Jin menelisik lebih jauh arti pandangan SeokJin. Wajah blank yang di miliki SeokJin jauh berbeda dari wajah blank sebelumnya, wajah ini benar-benar menyiratkan kebingungan, ketakutan dan tidak percaya. Ia mendekat, mencoba menyentuh SeokJin. Namun ia urungkan niatnya tersebut.

"Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak mengatakan tidak mungkin? Apa kau tidak pernah di sentuh orang lain?" tanya Taehyung masih dengan nada ketus, namun terselip rasa khawatir di kata-katanya tadi. tangannya bersedekap, menanti jawaban dari wajah blank SeokJin.

"Kim Jin-ssi?"

"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa kedinginan"

Taehyung berdecak sebal, "Kau menghindari pertanyaanku lagi. Kenapa kau selalu menghindar? Atau jangan-jangan kau sudah menikah?!" tanya Taehyung dengan nada marah.

"Aku belum menikah!"

Bantahan meyakinkan dari SeokJin tetap tidak bisa mengurangi kecurigaan seorang Kim Taehyung. Dia guru BK, mempelajari manusia dan segala tingkah lakunya. Ia tahu orang yang sedang menyembunyikan kebohongannya, tapi ia tidak melihat ciri-ciri itu pada SeokJin.

Kedua mata indahnya masih betah memandang SeokJin penuh selidik tajam. Mereka sudah berkenalan berminggu-minggu, saling bertukar informasi pribadi, makan, minum, jalan dan hal-hal yang dilakukan orang saat berkencan. Tapi hingga detik ini Taehyung masih merasakan sejuta tanda tanya yang disembunyikan SeokJin.

Dan ia tidak tahu dan tidak dapat memperkirakan hal apa yang disembunyikan SeokJin.

"Kau belum menikah, tapi kenapa kau seolah terkejut dan takut saat menjulurkan tangannmu untuk menolongku? Apa kau polisi atau memiliki penyakit menular?"

"Tidak"

"Lalu kau vampire?"

Pertanyaan yang keluar dari mulut Taehyung membuat mulut SeokJin terkunci, terikat dengan sebuah tali. Tali yang sangat kuat, seperti sebuah ikatan tali mati. Matanya tidak menampilkan ekspresi begitu juga dengan wajahnya. Ia tidak tahu harus merespon apa. apa ia harus mengungkap sekarang? Mengungkap identitasnya?

"Kau tidak tertawa? Aku hanya melempar lelucon receh dari salah satu muridku"

SeokJin masih tetap pada ekpresinya. Datar dan bingung alias blank. Ia menunduk, beralih memandang hidung sampai area leher Taehyung. Ia tidak sanggup menatap kedua bola mata indah milik Taehyung.

"Aku akan melupakan semuanya. Lebih baik kita bergabung bersama Jimin, di sini lumayan dingin" usul Taehyung seraya berlari kecil meninggalkan SeokJin.

Meninggalkan pria dengan tinggi lumayan dan berbahu lebar itu seorang diri. Pikirannya melayang-layang tentang peristiwa tadi, peristiwa dimana Taehyung menanyakan dirinya seorang vampire atau bukan.

"Aku… tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya"

(K Will-Nonfiction, K Will-Growing & WANNA ONE-Beautifull)

Jimin tengah membolak-bolak daging untuk Yoongi ketika Taehyung tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Menyampirkan mantel tebal miliknya seraya membuka botol bir untuk diminum. Dan yang membuat Jimin sedikit tidak suka adalah Yoongi kembali menaruh perhatiannya pada Taehyung seorang.

"Jimin-ah"

Taehyung memanggil namanya setelah meneguk setengah dari botol bir tersebut, berbarengan dengan SeokJin yang mengambil tempat di samping Yoongi. Pandangannya masih datar dan blank.

Merasa dipanggil Jimin menoleh, "Nde?"

"Kenapa pacarmu itu menatapku?" tanya Taehyung seraya menatap Yoongi yang memang sejak awal Taehyung duduk menatapnya dari atas sampai bawah. Pandangan mereka bertemu, jika tadi pandangan tajam sekarang pandangan Yoongi menelisik lebih jauh dan Taehyung? Dia hanya menghela nafas melihat tingkah Yoongi.

Jimin merengut, menatap Yoongi yang sama sekali tidak mau mengalihkan perhatiannya dari Taehyung. Pemuda manis berstatus guru BK tersebut hanya diam, balik memandangi Yoongi.

"Ada apa? apa yang salah denganku, hyungnim?"

"Apa benar namamu Min Chohee? Kau memakai hanja atau hangul?"

"Aku tidak memakai keduanya" jawab Taehyung, mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace. "Aku memakai alphabet, namaku hanya terdiri dari satu huruf V!"

Yoongi menghela nafas. Ia tahu Taehyung tidak ada hubungannya dengan semua ini, tapi kebetulan macam apa ini? kenapa semua rencana Dia tiba-tiba saja tersingkap tepat di depan matanya, ia bisa melihat bahwa Dia merencanakan sesuatu untuk masa depannya dan orang-orang di sekitarnya.

Tapi sekali lagi ia katakan ia tidak tahu. Meskipun ia bisa mengendalikan apa pun yang ada di bumi ini ia tetap tidak bisa mengendalikan Dia (Tuhan). Untuk hal ini juga, ia tidak mengendalikan dan memaksa Dia untuk membuka tabiat teman kencan SeokJin yang satu ini.

"Apa kau pernah melihatku sebelumnya"

Dan ia mulai memiliki sikap manusia normal, keras kepala dan terus memaksakan sesuatu demi hasil yang ia inginkan.

"Beberapa hari lalu atau minggu, saat kau datang ke sekolah tepatnya ke ruanganku"

"Setelah itu? kenapa juga kau menggunakan banmal tapi memanggilku hyungnim?"

Taehyung menghela nafas, meletakan botolnya cukup kasar lalu menunjuk Yoongi dengan sangat sopan. "Jadi, aku harus bertingkah seperti ini, memakai banmal dan memanggilmu hoi! Yak! Woi! Atau kau?" tanya Taehyung dengan nada sedikit kesal. Ia akui ia memang memakai banmal karena tingkah pacar muridnya itu sangat menyebalkan.

Ia bisa sedikit ambil kesimpulan bahwa Taehyung bukan siapa-siapanya. Bahkan dia tidak mungkin Chohee di kehidupan sekarang. Sifat mereka bertolak belakang dan sangat berbeda. "Apa kau dan dia berpacaran? Apa kau tahu dia sebenarnya siapa?"

Nada bicara Yoongi sedikit tidak terima dan marah karena Taehyung dan si manusia setengah nyamuk ini cukup lumayan dekat. Jimin dan SeokJin kompak menoleh ke arah Yoongi yang seketika langsung terdiam, mengangguk pasrah kalau ia tidak akan memberitahu apa pun pada Taehyung.

"Aku memang belum mengenal dia terlalu jauh, tapi dia sudah memberiku benda yang sangat berkilau" Taehyung berucap lalu membongkar isi tasnya. Mencari sebuah cermin berhiaskan batu-batu berharga pemberian SeokJin beberapa waktu lalu.

Dengan senyum penuh makna ia menunjukan cermin tersebut, Jimin mengangguk paham lalu memandang SeokJin yang sejak tadi hanya diam, tidak ada ekpresi.

"Apa aku boleh meminta cermin itu kembali? Ada beberapa hal yang harus aku urus berkaitan dengan cermin itu"

Taehyung speechless ditempat mendengar permintaan SeokJin. Wajahnya terlihat sedih dan muram, seumur hidupnya ia tidak pernah diminta atau diperintahkan mengembalikan barang pembelian teman kencannya. Ini baru pertama kalinya ada orang yang memerintahkannya seperti ini. dan ia hanya bisa berpikir satu hal bahwa, SeokJin mengajaknya putus.

"Apa kita berakhir seperti ini?"

Suara Taehyung sedikit terdengar kecewa. SeokJin langsung menggeleng, menepis pikiran negative Taehyung bahwa mereka akan berakhir.

"Tidak, aku hanya akan meminjamnya beberapa hari saja. Setelah aku selesai dengan urusanku, aku akan segera mengembalikan cermin itu"

Taehyung menghela nafas, rela tidak rela ia menyerahkan cermin itu pada SeokJin yang masih dalam mode berpikir. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan teman kencannya itu sampai-sampai wajah tampanya terlihat sangat serius dan tidak bisa disanggah.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di rumah, SeokJin masih memikirkan segala kemungkinan yang tepat mengapa kebetulan ini sungguh sangat tidak masuk akal dan mengejutkan. Ia tengah memandangi cermin itu yang sekaligus memantulkan refleksi wajah pucatnya.

Ada apa? kenapa cermin ini juga ada di bayangan kehidupan masa lalu Taehyung. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini berkaitan dengan ingatannya yang hilang.

"Pertama, wanita di gulungan kertas milik Yoongi, memiliki wajah yang sama dengan bayangan masa lalu Taehyung. Kedua, wanita itu adalah adik kandung Yoongi."

Ia tidak melanjutkan perkataannya. Ia masih tidak yakin bahwa kesimpulan dari dua fakta itu adalah Taehyung merupakan renkarnasi dari adik Yoongi. Ia masih tidak yakin hal itu karena dirinya sendiri belum membuktikannya. Tapi ada satu kesamaan yang terjadi ketika ia pertama kali melihat wajah Taehyung dan adik Yoongi.

"Aku menangis"

Dan pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ia menangis? Apa ia bisa merasakan kehidupan menyedihkan Taehyung saat pertama kali mereka bertemu? Kenapa bisa? Lalu, soal lukisan adik Yoongi. Ia tidak tahu perjalanan kehidupan wanita itu kenapa ia menangis? Apa semua ingatannya yang terhapus menjadi kunci jawaban seluruh pertanyaannya ini?

"Ada apa sebenarnya ini?"

"Min Chohee-ssi"

Yoongi masih belum bisa menyingkirkan kejadian tadi. bahkan ia tidak bisa tidur karena memikirkan segala kemungkinan bahwa Taehyung adalah sosok yang ia kenal. Helaan nafas keluar dari mulutnya, tubuhnya ia bawa bersandar pada conter dapur, tangannya menggenggam secangkir teh untuk membantunya tidur.

BRAK!

Ia sedikit terperenjat, menoleh ke arah asal suara yang berasal dari kulkas. Mata tajamnya menangkap objek yaitu Jimin yang menutup pintu kulkas dengan sangat kasar. Ia meringis, itu kulkas kesayangannya.

"Kenapa kau membanting pintu kulkasnya?" tanya Yoongi dengan nada pelan dan lembutnya. Jimin tidak menjawab, ia memilih meminum air dinginnya lalu berjalan ke tempat Yoongi berdiri. Meletakan botol air dinginnya dengan kasar tepat di samping cangkir teh Yoongi.

"Aku bertanya padamu, Jimin-ah"

"Sekarang ahjussi tidak berada di posisi bertanya"

"Apa maksudmu?" tanya Yoongi dengan wajah menghela nafas berat. Ia masih tidak mengerti dengan wajah cemberut yang dikeluarkan Jimin sejak mereka sampai di rumah sejam yang lalu. Bahkan tangan kecilnya ada diposisi bersedekap dan wajah tertekuk, jangan lupakan matanya yang menyipit tajam.

"Kenapa ahjussi tiba-tiba sangat penasaran dengan V hyung, padahal ahjussi sedikit malas-malasan karena tahu kalau yang mengundangku makan malam V hyung. Tapi tadi mendadak ahjussi menjadi baik hati dengan mentraktir kami makan hanwoo, sebenarnya apa yang terjadi?"

Ia tahu Jimin pasti merasa bingung dengan sikapnya tadi. ia memang tadi bersikap cukup berlebihan bahkan menanggalkan sifat pelitnya untuk mengetahui sifat Taehyung. Tapi ia tidak mendapatkan hasil apa pun kecuali uang di dompetnya menipis.

"Aku bisa menjelaskan semuanya tapi nanti"

"Terus saja seperti itu"

Jimin berucap sinis, ia paling sebal jika Yoongi sudah berkata nanti. Ia tahu betul bahwa nanti yang dimaksud Yoongi adalah dia menyembunyikan sesuatu. Dan sesuatu itu tidak boleh Jimin ketahui, ia tidak suka itu.

"Kau selalu berbohong dan meghindariku sampai detik ini. kau hanya tinggal jawab saja pertanyaanku, kenapa ahjussi tiba-tiba tertarik dengan hubungan Tuan Vampire dan V hyung? Apa V hyung itu salah satu tipe mu, benar dia memang benar-benar cantik"

Yoongi menghela nafas mendengar omelan Jimin, ia tahu Jimin cemburu karena tadi ia jauh lebih memerhatikan Taehyung bahkan sampai bertanya hubungan yang dimiliki dengan SeokJin itu apa.

"Benar kata pepatah orang tua, jika semua pria itu sama saja. Entah manusia, gumiho atau vampire sekali pun" ucap Jimin seraya menunjuk Yoongi yang sekarang mulai terlihat tidak nyaman karena ucapan Jimin. Pasti, dia pasti merasa tersinggung karena secara tidak langsung Jimin memberi label padanya bahwa ia pria yang mudah melirik orang lain.

"Aku akan menjelaskannya tapi tidak sekarang karena aku punya alasan. Salah satu alasannya adalah kau harus mempersiapkan dirimu untuk kelulusanmu dan penampilanmu. Seharusnya kau tidak pulang selarut ini untuk makan malam dengan guru BK mu itu. itu salah satu alasannya"

"Benar-benar aneh, ucapan dan orang yang mengucapkannya aneh"

Perempatan di pelipis Yoongi mulai muncul. Seumur hidupnya yang panjang ini baru pertama kali ia dihina seperti itu. oke, ia tahu bahwa ia bukan manusia tapi ia tetap memiliki sisi manusia dan ia tidak rela di katai aneh.

"Kau bilang apa tadi? aneh?"

"Eoh, kau aneh. Kenapa tidak dari awal saja kau bilang tertarik pada V hyung. Lagipula, meskipun aku dikatai aneh tapi aku memiliki wajah manis dan aku juga memiliki orang yang menyukaiku. Aku bisa mendapat pacar dengan mudah diluaran sana"

Kali ini kepala Yoongi benar-benar panas, mau meledak mendengar penuturan Jimin bahwa dia akan mencari pria diluar sana. Ia membuang nafas kesal, mengambil satu langkah ke depan, mempersempit jaraknya dengan Jimin.

"Kenapa sekarang kau tiba-tiba menyinggung pacar dan membawa gurumu itu? Apa aku harus membuat nama orang yang aku sukai di langit, menulis nama Park Jimin dengan tambahan kata-kata dan juga gambar hati? Atau kau mau aku mematahkan setiap kaki pria yang mendekatimu lalu berteriak aku adalah kekasihmu? Begitu?"

Jimin tidak bicara lagi. Ia hanya diam memandangi Yoongi yang terlihat kesal karena ia berkata seolah-olah tidak menganggap Yoongi sebagai pacar. Tapi pandangannya tetap terangkat, memandangi Yoongi dengan tajam dan kesal.

"Satu lagi, kau mau melihatku menghancurkan bumi atau membuat bulan berubah warna lagi, agar kau yakin aku ini gumiho pacarmu?"

Setelah mengatakan itu Yoongi berjalan pergi dengan kepala masih mengepulkan asap amarah. Meninggalkan Jimin yang masih berdiri bersedekap, mencebikkan bibirnya kesal karena sekarang Yoongi yang terlihat marah.

"Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang marah karena di…"

Jimin tidak melanjutkan omelannya ketika Yoongi tiba-tiba saja muncul di depannya. Menarik nafas panjang di depannya. Kepalanya tertunduk, jari-jari mungilnya memainkan ujung bajunya asal-asalan.

"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu"

Tapi reaksi yang ditunjukan Yoongi sungguh luar biasa, bahkan diluar dugaan Jimin. Pria yang mengaku gumiho tersebut, mengusap kedua sisi wajah Jimin lalu menepuk-nepuk lengannya.

"Aku tahu kau cemburu karena aku memperhatikan orang lain, tapi aku memiliki alasan sendiri. Tapi kau harus yakin kalau aku akan tetap memandangimu seorang, mengerti?"

Jimin tidak bisa bergerak, kecuali mengangguk yakin dan paham. Yoongi tersenyum, menarik Jimin ke dalam pelukan hangatnya, menepuk-nepuk punggung Jimin lalu mengecup puncak kepala Jimin dengan sangat lembut.

"Selamat malam"

Setelah melakukan hal romantis itu Yoongi berjalan pergi, jangan lupakan kecupan hangat di keningnya. Jimin membeku di tempat, wajahnya sudah merona parah mendapat kecupan selamat tidur selain dari ibunya semasa kecil. Jari-jarinya kembali bergerak asal-asalan, saling tertaut lalu memegangi wajahnya yang merona.

"Selamat malam juga, ahjussi"

Setelah mengatakan hal itu pada udara kosong ia segera berlari ke kamarnya dengan senyum lebar dan wajah kelewat bahagia.

Kenapa Yoongi bisa bersikap seperti itu secara tiba-tiba?

Dentingan alat masak mengalun dengan teratur di dalam dapur mewah milik Yoongi dan SeokJin. Dua pria tampan berusia ratusan tahun tersebut nampak sibuk dengan alat-alat masaknya. Yoongi dengan capit daging dan pan panasnya. Sementara SeokJin, dia sibuk memilah-milah sayuran dan memotong beberapa tomat untuk dibuat salad.

"Ambilkan garam"

SeokJin menurut. Ia memberikan garam yang ia pakai untuk membubuhi sayurannya pada Yoongi. Kontan Yoongi terkejut bukan main, tidak menyangka jika SeokJin akan sebegitu mudahnya memberikan barang yang sedang dipakai.

"Kau tidak kesambet apa pun, kan?"

"Tidak, aku baik-baik saja"

Yoongi mengangkat bahu acuh. Ia awalnya tidak mau peduli tapi bayangan kejadian semalam bahwa mereka bersentuhan bahkan SeokJin sampai merangkul Taehyung tiba-tiba saja menyeruak dalam otaknya.

"Apa kau seperti ini setelah menggenggam tangan dan merangkulnya? Apa kau melihat bahwa dia adalah kekasih adikmu di masa lalu? Atau dia musuhmu?"

"Jangan asal tebak, karnivora"

Yoongi menyesal bertanya pada SeokJin. Bibirnya mencebik kesal, lantas ia kembali melanjutkan memanggang dagingnya ketimbang memperhatikan hidup manusia setengah vampire ini. namun, ia kembali menoleh ketika mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut SeokJin.

"Meskipun aku melihat sesuatu yang penting aku tidak boleh memberitahu siapa pun bahkan pada V. itu sudah aturan dunia vampire"

"Kau manusia setengah nyamuk yang menghafal begitu banyak aturan. Tapi kau melanggar aturan dengan mengencani guru BK Jimin"

SeokJin balas berdecak. Tidak terima jika ia dianggap pembangkang aturan, bukan atas kendali tubuhnya ia bisa berkencan bahkan berkomunikasi dengan Taehyung sampai sekarang. Tubuhnya bergerak sendiri jika berdekatan dengan Taehyung, seperti ada sebuah daya tarik magnet misterius berasal dari Taehyung. Menarik dan merekatkan dirinya begitu kuat, sampai-sampai SeokJin tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

"Kau juga mengencani murid V-ssi"

"Aku tidak mengencaninya, aku ditakdirkan bersama dia. Jadi, sudah sewajarnya kami bersama dan berkencan. Jangan sama kan situasimu dengan situasiku, nyamuk"

SeokJin berdesisi. Nyamuk lagi. Ia begitu kesal setiap kali Yoongi memanggilnya nyamuk. Julukan menyebalkan itu seolah-olah mengcap dirinya seperti makhluk yang selalu mengikuti manusia dan menghisap darahnya. Padahal tidak seperti itu.

Ia vampire dari departemen bukan klan vampire.

Tapi percuma menjelaskan asal usul vampire nya pada makhluk yang hidup dengan panah-panah di dadanya. Ia memutuskan diam, mengaduk-aduk saladnya.

"Adikku yang ada di lukisan yang pernah kau lihat, dia juga memiliki nama Min Chohee"

SeokJin menoleh, memandang gumiho berusia ratusan tahun tersebut dengan tatapan penuh minat dan penasaran tinggi. Perlahan-lahan misteri ini akan terkuak, ia akan menggabungkan seluruh tanda tanya di kepalanya hingga menghasilkan sebuah jawaban pasti bukan hipotesis.

"Karena itu aku selalu memperhatikannya sampai membuat Jimin cemburu"

"Kau tidak tahu adikmu sudah berenkanasi atau belum?"

"Tidak, aku tidak bisa mengenalinya karena mungkin saja Dia membuat adikku berubah menjadi hewan atau seorang pria. Aku hanya bisa melihat masa depan bukan masa lalu"

SeokJin beroh ria. Ia melihat Yoongi mematikan kompornya, membiarkan daging sapi nya yang sudah matang di pan yang panas. Pria itu menarik nafas panjang, ia laju teringat tentang Chohee.

"Apa yang mau kau katakan jika kau bertemu dengan dia"

"Hanya satu kalimat" jawab Yoongi dengan cepat. Pandangannya menerawang ke jendela dapurnya yang terbuka. Menampilkan pemandangan taman belakang mansionnya yang indah dan terawat selama puluhan tahun.

"Adikku, kau sangat cantik"

SeokJin termenung. Ia cukup terkejut melihat raut wajah sedih Yoongi ketika mengatakan kalimat sesederhana barusan. Apa sebegitu mendalamnya makna kalimat itu sampai-sampai merubah sosok Yoongi yang semula jahil menjadi pemurung.

"Aku tidak pernah memujinya cantik, aku selalu mengatakan dia jelek"

Sekarang SeokJin mengerti. Yoongi tipekel kakak yang tidak menunjukkan kasih sayangnya secara tidak langsung. Dia tidak mengeluarkan kata-kata untuk menunjukkan kasih sayangnya. Dan sekarang hal itu yang sangat di sesali Yoongi dalam hidupnya yang panjang. Dia pasti tidak akan pernah lupa bagaimana adik kesayangannya mati.

"Lanjutkan ceritamu"

Yoongi menoleh, menatap SeokJin yang sekarang dalam mode serius. Sepertinya ia salah karena membicarakan kehidupannya di masa lalu pada orang yang tidak mengingat masa lalunya sendiri.

"Aku sudah pernah menceritakannya, aku seorang jendral di zaman Goryeo. Aku menjadi jendral karena kewajibanku sebagai penduduk Goryeo. Awalnya aku hanya seorang seniman, tapi aku pergi ke medan perang untuk menjalankan kewajibanku saat usiaku 18 tahun. Sejak saat itu sang raja yang melihat potensiku merubahku menjadi seorang prajurit lalu jendral besar Goryeo"

"Lalu? Kau mati saat berperang?"

"Tidak."

Lagi-lagi Yoongi menjawab pertanyaan SeokJin dengan terburu-buru. Ia meletakan daging tadi di piring, menghidupkan kompor, memanaskan butter, lalu memasukan daging baru ke dalam pan.

"Ceritakan lebih jelas, bagaimana kau mati dan bagaimana kau hidup"

"Aku mati di tangan orang yang aku layani"

… … …

… … …

1180

Dia adalah seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang ibu pemberontak. Ibunya berasal dari keluarga Shin yang terkenal pernah melakukan pemberontakan besar-besaran untuk melawan raja terdahulu. Mendapat celah, para mentri yang menentang ibu anak tersebut-sang ratu-menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh ibunya.

Ibu anak laki-laki tersebut mati bersama keluarga Shin yang lain. Namun, mereka tidak bisa menyentuh sang anak laki-laki karena sejak lahir dia sudah di nobatkan sebagai putra mahkota. Usaha mereka tidak berhenti, berbagai upaya pembantain pada putra mahkota gagal dan berakhir mereka yang terpenggal kepalanya.

Semua itu berkat sang inang. Pengasuh sekaligus selir kesayangan sang raja, namun sayang sang selir tidak bisa memberikan keturunan pada raja yang dicintai. Ia tidak bisa mendapatkan kesempatan merasakan menjadi ibu dan di hampiri raja setiap malam. Karena itu ia memilih mengasuh sang putra mahkota, mendidik anak laki-laki tersebut menjadi seorang putra mahkota.

Putra mahkota yang kelak akan menjadi raja.

Raja yang akan berada di bawahnya.

Itu adalah ambisi terpendamnya. Ambisinya untuk menguasi Goryeo yang tidak tercapai sebab ia tidak memiliki anak.

Langkah pertama, ia tidak pernah membiarkan sang putra mahkota bermain bersama pangeran lainnya. Selain dirinya dan seorang anak dari salah satu dayang baru sang raja. Semua itu dituruti putra mahkota, karena sang inang ini adalah ibunya. Dia harus menuruti sang inang karena sang inang adalah ibunya.

"Dunia di luar sana begitu jahat, kau tidak akan bisa pergi dari dunia jahat itu ketika kau sudah masuk."

Kata-kata itu tertanam dengan jelas di dalam benak dan otaknya. Ia tumbuh menjadi putra mahkota yang dingin, pendiam, dan sulit menerima kehadiran orang lain selain sang inang dan putra dayang baru sang raja.

Langkah kedua, perlahan-lahan sang inang membunuh satu persatu pangeran lainnya kecuali putra dayang baru sang raja. Tidak cukup dia juga membunuh keponakan beserta ibu mereka, mentri-mentri yang tidak memihak putra mahkota dan raja terdahulu pun tidak luput dari sasarannya.

Putra mahkota hanya tahu bahwa mereka tewas karena penyakit menular. Tapi otaknya yang kelewat cerdas menangkap sesuatu yang aneh, ia menangkap bahwa kematian keluarganya karena sebuah racun.

Langkah ketiga, cukup sulit di lakukan tapi dia berhasil melakukannya.

Yaitu,

Membunuh sang raja.

… … …

… … …

NamJoon menghela nafas. Meregangkan tubuhnya yang lelah bukan main akibat mengerjakan tugas mencuci piring di hotel milik kakeknya-miliknya suatu saat nanti-.

Kepalanya ia bawa bersandar pada kursi pijat di kamar hotel pribadinya. Matanya terpejam, merasakan pijatan kursi yang membuat tubuhnya rileks. Ia sebenarnya tidak mau bekerja seperti ini tapi nyatanya ia harus melakukan ini jika ia mau diberi uang saku dan kartu kreditnya.

Ia juga belum bercerita bahwa tugas ini ia lakukan karena kenakalannya menjual rumah Yoongi pada SeokJin waktu itu. jadi, ia mendapat hukuman yang tidak selefel dengan gaya pakaiannya.

"Tapi, jika ingin mendapat sesuatu kita pasti harus mengorbankan sesuatu"

NamJoon mengatakan itu dengan nada sangat pelan, seperti hembusan angin malam yang dingin menusuk. Padahal ini masih jelas terlihat matahari bersinar terang di luar sana.

Dunia memang aneh, tapi NamJoon lebih aneh karena suasana di kamar hotel dan jendel kamarnya…

Gelap seperti malam hari.

Lebih aneh, kan?

To Be Continue

Jika kalian marah karena aku slow update, aku minta maaf *deepbow*

Selain sibuk dengan tugas, selesai TO dan simulasi nanti ada LUN dan UASBN di bulan maret sama akhir Februari. Jadi aku memberi tahu pada kalian semua bahwa aku bakal slow update sampai april selesai ujian aku baru melanjutkan nulis.

Selain itu, aku masih sibuk mengurusi pemakaman bapakku. berduka atas meninggalnya bapak tersayangku…

Bapakku udah bertemu Tuhan, dia nggak kesakitan lagi, nggak nyesek (karena bapakku cuci darah dua tahun setengah tahun, bapakku gagall ginjal), bapakku nggak perlu kaget karena orang-orang di luar sana berisik.

Bapakku udah tenang, bareng Tuhan di surge sana. Aku yakin bapakku tenang dan damai di sana…

Dan aku bukannya nggak tahu aturan atau etika aku update di suasana kayak gini, ini work aku udah lama dan aku sengaja post dua-duanya biar nggak terlalu banyak work. Selesai UN bulan april aku akan update dan menamatkan ff ini.

Kalo misalnya nanti ada waktu luang, aku akan usahkan untuk update…

Karena itu aku mohon kesedian kalian meninggalkan jejak berupa review kalo baca di ffn. Kalo di WATTPAD tinggalkan vote dan comment kalian…

Jadi, aku butuh apresiasi kalian dengan meninggalkan jejak berupa review, vote dan coment JUSEYO!

Akhir kata…

TERIMAKASIH SEMUA!

Dan

SARANGHAEYO *HEARTSIGNSMALLMEDIUMLARGE*

p.s: saranghaeyo untuk bapakku *kasih hati* *cium sayang*