Flashback On
Angin musim semi berhembus cukup kencang di sore hari yang cerah. Angin membantu pergerakan serbuk bunga sari ke tanah dan ke bunga lain untuk bereproduksi. Kupu-kupu berbagai warna terbang dengan bebas di sekitar padang bunga di dekat kaki gunung tempat dirinya tinggal.
Terkadang ia merasa jengkel dan kesal karena ia tinggal di tengah hutan. Jauh dari pusat kota, pasar dan hanya bisa melihat lampion warna warni terbang di udara.
Dirinya juga ingin melakukan hal-hal seperti orang lain. Tapi hal tersebut sedikit mustahil terjadi, karena sang kakak akan langsung tidak suka bahkan marah mendengar rengekannya yang satu ini. alhasil, ia harus rela mendekam di tengah hutan bersama para pembantunya.
"Cantik"
Kata itu meluncur keluar dari bibir serwarna kelopak sakura yang sedang mekar. Merah muda cerah, kelopak matanya bagai seperti di ukir dan kedua bola mata jernihnya mampu membuat orang-orang terpesona detik itu juga.
Setelah di rasa cukup kakinya bergegas berlari pulang ke rumahnya. Ia tidak boleh terlambat pulang karena hari ini rencananya sang kakak akan kembali dari medan perang. Ia harus bergegas menyelesaikan tugas memetic bunga ini.
Ia harus memasak, menyiapkan air panas, dan membuat teh kesukaan sang kakak. Lalu terakhir ia akan berbaring semalam suntuk bersama kakaknya.
Ketika langkah mungilnya terburu-buru berlari, telinga cantiknya menangkap sebuah suara siulan yang begitu merdu. Tubuhnya berhenti berlari, menajamkan kedua telinganya mencari sumber suara siulan indah tersebut. Ketika di dengarkan lebih seksama, siulan itu berubah menjadi sebuah petikan gitar yang halus.
Petikan gitar yang terkesan indah, lembut, persis seperti petikan gitar sang kakak ketika sang kakak masih seorang seniman. Ia merindukan petikan senar seperti ini. tanpa bisa dicegah kaki mungilnya bergerak mengikuti dan mencari asal suara petikan gitar tersebut.
Ternyata petikan gitar itu berasal dari seorang pria-tidak nampak wajahnya karena dia duduk di atas batu dengan posisi membelakanginya. Ia bersembunyi di balik pohon, memejamkan mata dan kedua telinganya. Meresapi petikan senar yang di buat oleh si pria misterius.
Ia menikmatinya, karena ia merindukan suara selembut ini dari sang kakak. Semenjak kakaknya menjadi jendral ia tidak tidak pernah mendengar sang kakak bermain alat musik. Selalu saja kakaknya itu pergi berbulan-bulan dan kembali dalam keadaan penuh bekas luka. Dan ia hanya bisa menangis seraya mengobati luka sang kakak.
Jadi, ketika ia mendengar kembali petikan senar dari pria misterius tersebut. Atensinya langsung teralihkan, ia fokus, terlalu fokus menikmati semua ini. ia terus memejamkan matanya bahkan saat suara itu hilang ia tetap memejamkan mata indahnya.
"Kau siapa?"
Ia terperenjat, matanya terbuka dan detik itu juga ia langsung melangkah mundur. Tubuhnya kehilangan keseimbangan namun pria misterius tadi langsung menggapai pinggangnya. Mencegah tubuhnya jatuh ke tanah yang kotor dan keras.
Detik itu juga ia bisa melihat paras pria pemetik senar tadi. wajahnya begitu tampan, rahangnya begitu tegas, matanya begitu tajam, semua yang ada di wajah pria ini begitu sempurna. Seperti Tuhan memahatnya khusus dan tidak ada lagi pahatan seperti pria ini.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saja"
Ia langsung berdiri, menundukkan wajahnya lalu bergegas pergi meninggalkan pria tadi yang bingung dan ikut terpesona dengan wajah si gadis. Gadis tadi benar-benar cantik, gadis yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya, gadis yang memiliki bola mata jernih dan begitu menyejukan. Namun bola mata itu juga memancarkan keceriaan, ia jatuh pada pandangan si gadis.
Ia terpesona oleh mata dan bibir mungil si gadis.
Ia terpesona…
…
Sejak hari itu mereka mulai bertemu, bertukar nama. Si gadis bernama Min Chohee dan si pemuda pemetik senar tadi Jung. Dia pemuda yang tampan, baik, menyukai segala sesuatu tertata rapid an sangat menyukai seni.
Selain bermain alat musik, Jung juga pandai melukis. Dia pemuda-bukan-laki-laki dewasa yang cukup umur dan sempurna untuk menjadi suami gadis mana pun. Tapi sayang, meskipun ia sangat memuja si pemuda tapi ia tidak menaruh perasaan lebih.
Ia hanya sekedar mengagumi, karena ia memiliki prinsip bahwa orang yang akan ia berikan hatinya harus bisa melindunginya jauh lebih hebat dari sang kakak-Min Yoongi.
"Jadi, kau akan menikah dengan pria yang kelak bisa mengalahkan kakakmu? Tapi kakakmu jendral besar Goryeo"
"Karena itu, tidak akan ada yang bisa menikahi karena tidak akan ada yang bisa mengalahkan orabeonim"
Saat itu juga Jung merasa bahwa ia tidak akan bisa menggapai orang yang ia cintai-Chohee-. Karena ia tidak memiliki apa yang dimiliki kakak Chohee, yaitu kekusaan.
…
Jauh di dalam istana, terjadi pemberontak sembunyi-sembunyi oleh orang misterius. Para jendral dan polisi kerajaan tidak bisa menemukan pelakunya. Hingga sang raja yang menjadi target utama memanggil Yoongi, jendral, mesin tempur buatannya.
Mereka bertemu di dalam kamar sang raja yang bau obat untuk memperpanjang hidup sang raja. Yoongi memandang prihatin namun tetap masih menjaga rasa hormatnya pada sang raja.
"Aku ingin kau menjaga putra dari orang yang aku cintai. Jagalah dia, tapi jangan sampai kau terlihat. Jagalah dia, jadilah bayangannya jika perlu untuk menjaganya. Dia tidak suka jika ada orang yang menjaganya terlalu berlebihan, karena itu jadilah bayangannya untuk menjaga putraku."
Sang raja terbatuk-batuk meminta hal tersebut. Beliau tahu ajalnya sudah dekat, karena itu ia menanggalkan seluruh status rajanya, memposisikan dirinya sebagai ayah yang tidak berdaya. Ayah yang meminta pertolongan pada Yoongi untuk menjaga putra satu-satunya.
"Aku sudah gagal menjaga ibunya, kali ini aku mohon jangan sampai putraku tersentuh oleh tangan-tangan asing. Jauhkan putraku dari pengaruh dua orang di dekatnya."
Yoongi mengangguk paham, "Saya akan menjalankan perintah Yang Mulia."
Sang raja kembali terbatuk, "Kalau begitu, nikahkanlah putraku dengan adikmu. Kau harus menjadi bagian dari istana jika ingin melindunginya."
Seketika itu juga Yoongi terpaku. Ia tidak mau. Ia ingin menolak perintah raja yang satu ini, ia tidak bisa membiarkan harta satu-satunya direnggut dan dipaksa masuk ke dalam sangkra berduri yang terbuat dari emas. Sudah cukup ia saja yang merasakan duri-duri emas dari sangkar raksasa ini. ia tidak mau adik kesayangannya ikut terseret.
Tapi sekali lagi, perintah raja adalah perintah sang dewa. Ia tidak bisa menolaknya.
"Baik, Yang Mulia"
…
Yoongi pulang ke rumah dengan amarah terpendam. Belum cukup beban pikirannya menyerahkan sang adik atau tidak. Orang yang ia pikirkan malah muncul di depan matanya, bersama seorang pria yang harusnya ia jauhkan dari putra mahkota, sang raja dan adiknya.
Lantas ia bergerak cepat menarik sang adik menjauh, membawanya pergi tanpa memberika waktu bagi pria yang tadi bersama Chohee menjelaskan.
Sang adik berusaha menghentikan ikatan api amarah sang kakak. Tapi sekali lagi ia tidak bisa, ia terlalu lemah tapi ia juga tidak mau kalah.
Chohee dan Yoongi berdiri berhadapan. Pandangan mereka sama-sama tidak mau kalah, Yoongi menghentak tangan Chohee yang berniat mengusap api amarahnya menjauh.
"Aku tidak mau kau menjelaskan apa pun"
"Orabeonim…"
"Cukup kau jauhi dia dengan begitu aku akan memaafkanmu"
"Orabeonim! Dia orang baik, aku mengenalnya cukup lama. Dia temanku!"
"Tapi dia tidak pernah menganggapmu teman, dia menganggapmu lebih dari sekedar teman. Jika kau bisa menatap matanya lebih seksama ada cinta di matanya, cinta di luar akal manusia dan ketika kau tahu kau akan takut padanya"
Chohee terdiam. Ia tidak percaya jika Yoongi akan mengcap teman pertamanya seperti itu. Kakinya ia bawa melangkah mundur secara perlahan, matanya berair menahan tangis, ia segera meninggalkan Yoongi yang masih berapi-api di tempat mereka berdebat.
Ia tidak mau melihat kakaknya untuk sementara waktu. Ia butuh waktu sendiri.
Begitu juga dengan Yoongi, ia membutuhkan waktu sendiri.
…
Waktu sendiri itu cukup lama. Sekitar satu minggu Chohee tidak keluar dari kamarnya, ia keluar dari kamar jika suara pelana kuda kakaknya terdengar menjauh baru ia keluar kamar. Ketika suara pelana kuda sang kakak terdengar mendekat ia segera masuk dan mengunci diri di kamar.
Begitu terus sampai satu minggu berlalu, Chohee nekat kabur dari rumah dan menemui Jung. Mereka bertemu di tempat biasa, di tempat mereka pertama kali bertemu. Tiba-tiba saja ia merasakan hal aneh tentang Jung.
Pemuda tampan itu kelewat gembira tapi kelewat marah juga melihat dirinya baru datang setelah seminggu menghilang tanpa kabar. Jung memeluknya begitu erat, Chohee membalasnya namun hanya sesaat ketika sadar pelukan ini begitu intim. Ia segera melepas pelukan tersebut.
Sejujurnya ia tidak mau megikuti saran sang kakak, tapi keyakinan hatinya mulai berpihak pada Yoongi. Ucapannya Yoongi benar, maka dari itu ia memberanikan diri menatap kedua bola mata Jung. Betapa terkejutnya ia melihat pantulan dirinya di bola mata sehitam jelaga milik Jung. Bukan karena pantulan dirinya, melainkan cara Jung melihatnya.
Bukan sebuah tatapan persahabatan melainkan tatapan…
…cinta.
Tatapan seorang pria yang mengagumi seorang wanita yang dicintai. Cinta antara pria dan wanita, cinta di luar akal manusia. Tubuhnya terlonjak, ia bergerak mundur memandang wajah Jung sekali lagi di gelapnya malam bertabur bintang dan bulan bersinar.
Malam ini Jung bukan Jung yang ia kenal.
Kakinya bergerak mundur, air matanya turun. Ia kecewa karena tatapan Jung padanya, perasaan lebih Jung padanya.
"Kau mencintaiku?"
Jung nampak terkejut. Ia gugup, matanya bergerak gelisah, kekanan, ke kiri lalu menatapnya. Tubuh itu perlahan maju tapi ia bergerak mundur seraya membuat pertahanan agar Jung tidak mendekat.
"Kita sudah sepakat bahwa kita hanya berteman, tapi kau merusak pertemanan itu dengan menambah cinta di hubungan kita"
"Chohee-"
"Yang dikatakan kakakku benar, kau mencintaiku lebih dari sahabat, kau mencintaiku lebih dari seorang pria pada wanita, kau mencintaiku di luar akal manusia."
Jung menggeleng. Ia tidak mau Chohee seperti ini, yang dikatakan Chohee salah. Ia bukan pria seperti itu, ia kembali berusaha mendekat tapi Chohee juga berusaha bergerak mundur menjauhi Jung.
"Aku takut padamu, aku akan menjauhimu"
"Chohee, jangan katakan hal itu. aku mohon padamu, aku tidak bisa hidup tanpamu"
"Aku tidak bisa, sekarang aku takut memandang matamu. Dulu aku memang memuja matamu tapi sekarang aku takut memandangmu. Aku takut, Jung… aku takut"
Chohee lantas berlari, sayup-sayup ia mendengar Jung berteriak penuh amarah. Ia berhenti berlari sekitar dua meter dari jarak Jung berdiri. Ia berbalik, tubuhnya semakin menegang takut melihat Jung memandang ke arahnya penuh amarah.
"Kau mungkin sekarang lari dariku, Chohee. Tapi aku akan mendapatkanmu lagi, aku akan menjadikanmu milikku sepenuhnya. Aku bersumpah! Aku bersumpah jika aku tidak bisa mendapatkanmu aku akan mendapatkan seseorang yang mencintai kakak tercintamu! Aku akan melaksanakan sumpah ini!"
"AKU AKAN MENDAPATKANMU CHOHEE! CHOHEE-KU!"
Chohee berlari. Ia terlalu takut untuk memandang Jung lebih lama. Ia terus berlari, lari dan lari hingga ia sampai di rumah. Ia langsung memeluk Yoongi yang baru turun dari kuda, ia menangis. Menangis kencang di pelukan Yoongi seraya meminta maaf.
"Maaf, maafkan aku… aku bersalah… aku takut… aku takut bertemu dengan dia… tolong aku… tolong… orabeonim…"
Yoongi tahu, adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa akan tetap selamanya menjadi adik kecilnya. Ia mengangguk, mengusap punggung sempit sang adik.
"Tenang… orabeonim ada di sini, kau tidak perlu menangis"
…
Hubungan mereka membaik. Tapi tidak dengan Yoongi. Hubungannya dengan istana semakin memanas, terhitung sudah dua hari sang raja dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para mentri memutuskan melakukan sidang menentukan siapa yang pantas untuk menggantikan raja, tidak ada pilihan lain selain putra mahkota.
Putra mahkota ketika itu sudah dewasa, ia bahkan sudah dilantik menjadi raja sementara sejak berusia sepuluh tahun. Namun dia belum di sahkan karena statusnya masih sebagai pengganti. Tidak ada kandidat lain, sang inang yang mendengar kabar ini tentu bahagia luar biasa.
Ketiga langkahnya sudah berhasil. sekarang tingga mendorong putra mahkota untuk duduk di singgah sana raja secara permanen.
Dan semua terjadi. Sang raja mati, putra mahkota menjadi raja dan rakyat menyambut kabar bahagia tersebut, untuk sesaat.
Karena dua orang kepercayaannya tidak bisa digantikan, tidak ada tempat tambahan untuk Yoongi. Para mentri yang berada di pihak mending raja mendesak Yoongi untuk segera menikahkan sang raja muda atau Wang Seok dengan adiknya.
Sang inang yang mendengar kabar ini mulai khawatir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut karena perintah pernikahan itu merupakan perintah tertulis raja.
Yoongi makin kalap. Ia tidak bisa menuruti perintah raja. Tinggal beberapa hari batas waktu penentuan keputusan Yoongi sebagai wali dari calon istri sang raja muda. Sekitar tiga hari menjelang keputusan, Chohee mendengar pembicaraan Yoongi dengan para mentri di rumah mereka.
"Aku bersedia."
Chohee mengatakan hal tersebut dengan nada penuh keyakinan. Yoongi terkejut, ia tidak bisa bergerak mendengar adiknya setuju. Ia terpaksa mengusir para mentri, bahkan para pembantunya ia perintahkan keluar.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Aku bersedia, aku bersedia menikah dengan raja muda Wang"
"Tidak! Kau tidak boleh menikah dengan dia!"
"Aku tidak bisa menolak perintah raja, itu sama saja dengan dosa"
"Tak masalah asalkan kau selamat"
"Aku akan baik-baik, aku janji!"
Tanpa sadar Chohee menaikan nada suaranya. Yoongi tercengang, dengan segala emosi dan ketidak terimaannya ia berjalan keluar dari rumah yang baru ia singgahi beberapa minggu ini. Membawa kudanya ke medan perang dan melampiaskan segala amarahnya di sana. Membunuh orang yang entah musuh atau ada di pihak kerajaan.
Ia benar-benar marah, ia buas seperti binatang.
…
Chohee menyesali sikapnya, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia termenung di teras samping rumahnya, merangkai bunga dengan indahnya. Dan tanpa Chohee sadari seseorang memerhatikannya dari balik pagar rumahnya.
Ia tidak sadar, ia terus merangkai bunga-bunga indah di keranjangnya membentuk buket bunga yang cantik. setelah selesai, ia membuat sebuah mahkota bungga sederhana dan memakainya di kepala. Ketika ia mendonga untuk melihat pantulannya, tanpa sengaja ia melihat orang lain di pagar belakang rumahnya.
Ia terkejut bukan main melihat orang itu, tanpa sengaja ia menjatuhkan cerminnya. Orang tadi langsung menghilang, mendadak Chohee takut. Ia takut orang tadi orang jahat, tapi wajahnya…
… bukan wajah seorang pencuri.
…
Orang itu memang bukan seorang pencuri. Hari ini ia bertemu dengan calon suaminya, memiliki wajah yang sama dengan wajah orang yang mengintipnya beberapa hari lalu. Ia tertegun, membungkuk hormat lalu tersenyum canggung ke arah Wang Seok.
Matanya, ia jatuh cinta.
Kali ini ia benar-benar jatuh pada pesona mata Wang Seok, ia jatuh cinta pada kedua bola mata tajam milik Wang Seok.
…
Tapi ia tetap seorang kakak. Dari jauh ia bisa melihat sang adik berwajah murung setelah pulang dari pertemuan keluarga membicarakan pernikahannya dengan sang raja. Adiknya bukan tidak bahagia dengan pernikahan itu, Chohee merasa bersalah karena sudah berbicara kasar pada kakak tercintanya itu.
Ia menangkup tangannya keluar, menampung turunnya saluju dengan tidak minat. Sejujurnya ia menyukai salju tapi entah kenapa di matanya sekarang salju itu sama sekali tidak menarik.
"Kau merusak hanbok yang aku berikan dengan wajah seperti itu"
Chohee terperenjat, ia membuka jendela tandunya lebih lebar. Tersenyum puas melihat sang kakak-Yoongi berjalan beriringan dengan rombongannya. Namun, senyumnya luntur melihat lumuran darah mengotori wajah dan baju perang Yoongi.
"Kau ke medan perang lagi? Kenapa kau tidak diam saja di rumah, sebentar lagi aku akan menikah"
"Arra, tapi aku tetap seorang prajurit" bantah Yoongi tanpa menatap Chohee yang berbinar-binar melihat sang kakak akhirnya mau menunjukkan batang hidung setelah perdebatan panas waktu itu.
"Apa orabeonim menyetujui pernikahanku?" tanya Chohee dengan hati-hati, takut membuat sang kakak marah seperti beberapa minggu lalu. Yoongi tidak menjawab, ia malah mengeluarkan sesuatu, sebuah hadiah untuk Chohee.
"Pakai ini saat kau menikah, agar aku selalu melihatmu dari jauh"
Sebuah cermin. Chohee tersenyum, memasukan cermin itu ke balik hanboknya. Ia kembali menjulurkan kepalanya keluar. Memperlihatkan wajahnya dengan benar pada Yoongi.
"Aku memakai hanbok pemberianmu, Yang Mulia Raja tidak pernah lepas memandangku. Apa mungkin dia jatuh cinta padaku?"
"Dia jatuh cinta pada hanbok pemberianku, kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"
Chohee cemberut, tapi ia hanya diam lalu tertawa melihat bibir Yoongi berkedut menahan tawa. Ia tahu kakaknya pasti memuji dirinya, ia tahu itu dengan pasti.
…
Gadis dengan rambut tergerai tanpa hiasan apapun berlari dengan riangnya. Ia tersenyum saat keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Para dayang yang melewatinya tersenyum melihat si gadis- Chohee bertingkah seperti itu. Chohee sama sekali tidak peduli, yang ia pedulikan adalah Seok yang tiba-tiba saja mengunjunginya setelah sekian lama setelah acara pertunangan mereka beberapa minggu lalu. Ini sebuah kejutan.
Saat ia baru masuk ke tempat Seok biasanya berlatih ia terkejut melihat Seok sudah ada di hadapannya. Ia terperenjat, melangkah mundur namun entah sial atau sebuah keburuntungan ia terjerembab ke belakang. Tapi Seok dengan cepat menarik tangan Chohee sambil tangan yang satunya memeluk pinggang ramping Chohee, mencegah wanita ini terjengkal ke belakang.
Mata Chohee sukses membulat, ia terpaku cukup lama dan menikmati rengkuhan tangan Seok di pinggangnya. Seok tersenyum melihat senyum Chohee, ia menarik Chohee semakin dekat. Bunga-bunga sakura yang berguguran menjadi penambah suasana romantis dan hangat di antara mereka. Seok tersenyum kecil, menatapi wajah mungil itu sedikit berhiaskan rona merah dan mata yang membulat lucu.
"Kau makan terlalu banyak, kan?"
Chohee segera tersadar, ia segera bangun lalu memberi hormat pada Seok. Seok sendiri semakin tersenyum lalu mengelus kepala Chohee dengan lembut.
"Kenapa kau berlarian seperti itu?"
Chohee menengadah. Matanya bergerak gelisah, gugup ingin menjawab. Ia ingin menjawab jujur tapi ia malu mengakui bahwa ia merindukan Seok dan ingin bertemu dengannya. Jika berbohong ia tidak tahu harus berbohong apa, bagaiamana caranya melakukan kebohongan ia tidak tahu.
"Apa kau begitu merindukanku?" tanya Seok lagi. Kali ini Chohee tersenyum sambil mengangguk kecil sebagai jawaban ya. Seok sendiri semakin tersenyum, ia menjauhkan tangannya lalu menepuk-nepuk lengan Chohee.
"Aku juga merindukanmu" ucap Seok sambil menarik Chohee ke dalam pelukannya. Chohee sendiri tersenyum lebar lalu membalas pelukan hangat yang diberikan Seok kepadanya.
…
Sekarang ia hanya ingin meminta satu hal pada Dewa.
Sembunyikan dirinya sejauh mungkin, untuk hari ini saja karena ia tidak sanggup bertatap muka dengan orang yang mencintainya secara tidak masuk akal.
Jung ada di depannya.
Menatapnya masih dengan tatapan yang membuatnya takut. Malam ini Seok mengajaknya dalam pertemuan keluarga kecilnya. Ia sama sekali tidak bisa tenang, selama pernikahannya ia tidak pernah menceritakan ia pernah menjalin pertemenan Jung yang notabennya seorang pangeran.
Yoongi benar, ia harusnya menjauhi Jung karena dia berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada sang inang. Ia menahan gemetar takut, ketika makan malam sudah usai ia terdiam di dalam kamar seorang diri.
Sampai suara pintu terbuka dengan sangat pelan terdengar, ia terkejut setengah mati melihat Jung berdiri di hadapannya membawa sebuah lilin yang menerangi penujuru kamarnya yang gelap. Ia gemetar, takut melihat arah pandang Jung.
"Jangan membuat pikiran Yang Mulia terpecah"
"Aku yang harusnya bicara seperti itu, kau dalang yang membuat Yang Mulia terpecah pikirannya"
Jung tertawa mengerikan mendengar penuturannya. Tanpa di duga dia mendekat, menggebrak meja yang membatasi dirinya untuk lebih dekat dengan Chohee.
"Cinta membuat orang lemah, cinta membuat orang tunduk tanpa bisa berkutik, dan cinta adalah kegilaan. Kau memberikan cintamu pada Yang Mulia Raja, berarti kau akan membuat Yang Mulia Raja menjadi seperti itu"
"Berani kau bicara seperti itu!"
"KAU YANG BERANI BICARA SEPERTI ITU PADAKU!"
Chohee terkejut, matanya membulat takut mendengar bentakan balasan dari Jung.
"Kau tidak memiliki posisi yang sama denganku. Kau hanya rakyat jelata, kakakmu hanya memiliki keberuntungan bisa diangkat menjadi jendral. Kau tetap tidak bisa merubah air lumpur menjadi ai pegunungan, begitu juga dengan derajatmu"
Chohee tidak percaya ini. sahabatnya, sahabat terbaiknya berubah menjadi iblis karena rasa cintanya tidak tersampaikan.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan memberikan cintamu pada Yang Mulia Raja. Jangan membuat dia lemah karena cintamu"
…
Chohee tidak bisa berbuat apa-apa. ia termenung, menyembunyikan diri dan hanya sekedar saja bertemu suaminya alias Yang Mulia Raja. Langkah kakinya ia bawa sedikit terseret mengitari area pemandian sang raja. Ia bukan bermaksud mencari Seok, ia hanya ingin sekedar berjalan dan tempat ini sangat sunyi dan sepi. Cocok untuk dirinya yang sedang ingin sendiri.
Namun pikirannya itu lenyap melihat Seok berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Seok sampai membuat orang yang ia cintai semarah itu.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Tubuh Chohee yang sedikit membungkuk memberi salam pada Seok langsung kembali tegak. Matanya menatap bingung ke arah wajah pemuda berstatus raja. Ia bingung karena melihat sorot mata Seok penuh amarah, sedih dan tidak percaya. Perlahan ia mendekati Seok, menatap mata Seok lebih dalam seolah mencari sesuatu di dalam kedua pupil mata berwarna cokelat gelap seperti dirinya.
"Apa maksud anda, Yang Mulia?"
"Pertemuan rahasiamu dengan Jung di tempatmua berasal, hubungan kalian pada waktu itu dan kabar bahwa kau memihak kakakmu"
Pupil matanya melebar mendengar penuturan Seok mengenai dirinya yang selama ini ia sembunyikan. Ia tidak bermaksud menyembunyikan hubungan pertemenannya dengan Jung. Perihal kakaknya ia sama sekakli tidak mengetahui apa pun, ia tidak pernah menyentuh urusan politik sang raja.
Seketika ia teringat. Jung dan sang inang pasti sudah memberitahu semuanya dengan cara dan kata-kata yang salah. Ia tidak bisa berkutik, apa ini saatnya ia membuat jarak sesungguhnya untuk hubungan seumur jagung mereka.
"Chohee-ah" panggil Seok, seraya menarik lengannya untuk menghadap dan berdiri dengan baik di depan Seok. Pria dengan pakaian serba hitam dan emas ini, menatap Chohee penuh permohonan dan putus asa.
"Katakan padaku. Katakana bahwa semua itu tidak benar, ibu suri dan Jung pasti hanya membual. Kau tidak akan melakukan hal seperti itu, kan?"
"Yang Mulia" Chohee memanggil dengan suara pelan dan lirih. Seok menggeleng, tidak mengijinkan Chohee untuk bicara.
"Apa kau sudah sejak lama merencanakan semua ini?" tanya Seok dengan suara lirih, pelan dan frustasi. Chohee terdiam, menatap mata Seok dengan pandangan bersalah seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menyembunyikan matanya yang memerah seperti Seok. Ia tidak sanggup menatap kedua mata yang selalu menatapnya penuh cinta, sekarang berganti menjadi tatapan penuh curiga.
"Ya,"
Seok membuang nafas, lalu menariknya cukup kuat. Berusaha tersenyum seperti biasa, dengan menganggap bahwa semua ini candaan dari Chohee. Tapi ketika kepala itu terangkat, memperlihatkan kedua pupil mata yang memerah dan penuh dengan sorot mata bahwa ini tidak bercanda. Tubuhnya perlahan-lahan melemas.
"Katakan semua itu bohong Chohee! Semua yang dikatakan ibu suri dan Jung bohong, mereka hanya membu-"
"Bukan maksudku untuk menyelamu" potong Chohee dengan suara tegas namun masih terdengar lirih dan pelan. "Kita, terlebih aku sudah berjanji padamu untuk tidak berbohong lagi. Semua yang dikatakan Jung dan ibu suri benar"
Seketika dunia yang Seok buat dengan nama Chohee runtuh. Tembok yang terbuat dengan batu bata terbaik, ukurannya begitu lebar, panjang dan besar runtuh seketika. Tangannya yang semula berada di kedua lengan Chohee turun secara perlahan, begitu juga dengan tubuhnya yang bergerak secara teratur mundur. Sorot matanya penuh kekecewaan, kesedihan dan amarah meluap-meluap, tepat di kedua mata Chohee.
"Yang Mulia…" panggil Chohee dengan suara lirih dan pelan, namun Seok kembali bergerak mundur. "Bukan maksudku menyembunyikan semua ini. Aku berniat memberi tahumu semuanya tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat" lanjut Chohee dengan lelehan air mata yang mengalir. Ia kembali mendekat tapi baru satu kakinya maju, Seok menatapnya penuh intimidasi dan emosi meluap-luap.
"Kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku, ibu suri dan Jung benar kali ini aku terlalu buta akan cintaku padamu, akan cinta yang kau berikan padaku. Tapi semua itu hanya kepulan asap yang cepat menghilang, kau tidak mempercayaiku"
"Tidak. Ak mohon dengarkan aku, Yang Mulia" tangan Chohee yang menggenggam tangan Seok segera ditepis dengan begitu kasar. Chohee terpaku tidak bisa bergerak mendapat perlakuan seperti itu. Sorot matanya berubah menjadi kosong. Seok tidak pernah melakukan ini, tangan yang dulu selalu merangkulnya, menerima uluran hangat dari dirinya, sekarang sudah tidak ada. Seok terlalu kecewa dengan Chohee karena menyembunyikan hal sebesar ini.
"Kenapa harus Jung? Kenapa harus kakakmu?! Kenapa harus mereka berdua?!" marah Seok dengan nada suara tinggi. Chohee menengadah, ia berhasil mengendalikan tubuhnya, menarik tangan Seok yang terkepal untuk ia genggam.
"Itu tidak benar, Yang Mulia"
"Kau berbohongl!" teriak Seok. "Kau tidak pernah menganggapku ada. Kau tidak pernah menaru tempatku di hatimu. Dulu hatimu hanya untuk Jung, sekarang kau hanya membuka tempat itu untuk kakakmu. Kau melakukan kesalahan karena memihak kakakmu bukan suamimu, rajamu" lanjut Seok dengan mata berkilat tajam. Dengan kasar ia menepis tangan Chohee hingga tubuh itu sedikit bergerak mundur.
"Besok kakakmu akan kembali, dia akan datang membawa pedang pemberianku dengan keadaan utuh. Dia selamat"
Chohee terlonjak. Ia sedikit bahagia mendengar kakaknya selamat.
"Kau tahu seluruh rakyatku yang harusnya mengagungkanku malah mengagungkan kakakmu. Dia melakukan dosa dan pengkhianatan sekaligus"
Mata Chohee melebar. Terkejut, tidak percaya jika sang kakak dituduh sebagai pengkhianat.
"Dia menang dalam perang yang tidak memiliki harapan sekecil bulir beras. Tapi dia menang, rakyat mengagung-agungkan dia ketimbang aku yang seorang raja. Dia melanggar perintahku, perintah orang yang diutus dewa untuk menjadi raja kalian. Kakakmu melakukan dosa besar karena hal itu, dia tidak bisa diampuni"
Tubuh Chohee semakin melemas, pandangannya semakin kosong tanya nyawa saat Seok mengatakan perintah mutlak yang menyatakan bahwa ia diperbolehkan meninggalkan istana. Seok mengusirnya, Seok mengusir dirinya dari istana dan hidup Seok.
"Kau sangat menyayangi, mencintai kakakmu, kan? Maka aku akan membunuh cintanya, aku akan memenggal kepalanya besok bersama anggota keluargamu yang lain"
Setelahnya, Seok bergerak mundur meninggalkan Chohee. Meninggalkan gadis itu dalam keadaan sedih, sendiri dan merasa bersalah. Bahkan ia tidak peduli mendengan suara tubuh Chohee yang jatuh ke lantai dengan begitu keras. Ia tidak peduli, karena ia sudah mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah ia tarik kembali.
Di belakang, tanpa Seok ketahui. Chohee menangis, menangis tanpa suara meskipun matanya berair mengalirkan air mata kesedihan dengan begitu derasnya. Seok tidak peduli, bahkan melirik saja pun tidak. Tangan mungilnya bergerak meremat hanbok biru lautnya dengan begitu kuat hingga terlihat kusut. ini pelampiasan akibat rasa sakit yang ia rasakan, penyesalan dan segala macam hal yang begitu menyakitkan.
"Maaf… maafkan aku"
…
Kakaknya akan selalu memujinya. Ia yakin akan hal itu, bahkan di saat seperti ini pasti sang kakak akan memujinya. Tubuhnya berdiri tegak di tengah-tengah pintu masuk istana, berhadapan dengan Yoongi yang berdiri mematung dengan lumuran darah akibat perang berbulan-bulan. Matanya tidak berair menangis, karena ia yakin sang kakak tidak akan kuat jika melihatnya menangis, ia tidak akan menangis.
Tangannya menggenggam erat cermin pemberian Yoongi, memandang wajahnya cukup lama lalu Yoongi yang tiba-tiba saja berlari ke arahnya. Tidak lama, beberapa prajurit istana menyeret tubuhnya, mengingkatnya ke kursi dan mulai menyiksanya.
Sang kakak masih berusaha tetap berlari meskipun anak panah terus menghujani tubuh tegap sang kakak, hingga akhirnya Yoongi jatuh terduduk setelah menerima serangan terakhir berupa sabetan pedang di kakinya.
Samar-samar dengan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, ia bisa mendengar teriakan sang suami. Ia tahu suaminya sedang murka, tapi ia tidak pernah menyangka jika sang suami tega menyiksanya secara diam-diam dua hari ini dengan memberinya racun setiap kali ia minum teh. Bahkan sudah dua hari ia dipenjara dan menerima penyiksaan akibat dirinya yang terus berpihak pada kakaknya.
"Kenapa kau kembali sebagai pahlawan? Kalau kau tidak kembali dan mati di sana kau tidak akan melihat adikmu terkapar seperti itu. Seharusnya kau mati sebagai pahlawan bukan pemberontak seperti ini"
"Berikan aku pedang beracun sekarang. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri"
Lewat ekor matanya ia bisa melihat seseorang, seseorang yang merubah suaminya. Orang itu berdiri menatapnya penuh kemenangan dan kepuasaan. Ia tahu apa yang membuat orang itu melakukan ini tapi ia tetap tidak mempercayainya. Bahkan ia tidak percaya bahwa orang itu menancapkan anak panah beracun hingga menembus dadanya.
Tubuhnya terasa panas, terbakar seperti api mendapat panah beracun tepat di dadanya. Tangannya melemas, genggamannya pada cermin kesayangannya terlepas. Retina indahnya bisa melihat bahwa sang kakak juga terjatuh karena sabetan pedang suaminya. Ia tersenyum, ia tidak akan menangis saat meninggalkan bumi, ia harus mati dalam keadaan cantik sehingga sang kakak bisa memujinya disurga dengan hanbok kesayangannya bahwa ia adalah adik yang cantik.
To Be Continue
