"Begitu lah, aku mati karena panah ku dan pedang pemberian rajaku"
SeokJin terkejut. Pria bestatus vampire itu mendengarkan setiap kata dan kalimat yang dikeluarkan Yoongi dengan seksama. Ia cukup terkejut mendengar adik Yoongi diperebutkan oleh dua orang tapi dia sama sekali tidak mendapatkan cinta semasa hidupnya.
"Kau bukan mati di medan perang, aku pikir kau mati di medan perang. Lalu, kenapa kau bisa di hukum hidup kekal dan menjadi gumiho?"
Yoongi menoleh setelah selesai membuat kotak bekal untuk Jimin. Ia memasukan kedua tangannya ke saku celana santainya.
"Aku mati di medan perang melawan rajaku, aku bertarung dengan rajaku. Tapi aku kalah, bahkan aku tahu aku kalah tapi aku tetap melangkah menuju hadapan sang raja. Itu perang terakhir ku"
SeokJin tahu maksud Yoongi. Gumiho berusia ratusan tahun ini menganggap bahwa langkahnya ke hadapan sang raja adalah sebuah pertempuran. Pertempuran untuk menyelamatkan raja tersebut. Entah kenapa ia kesal dan marah sendiri mendengar kebodohan raja itu, raja itu tidak sadar akan perlindungan yang diberikan Yoongi dan Chohee.
Sungguh raja yang bodoh.
Tidak mengerti bahwa dia dilindungi oleh orang sebaik Yoongi merupakan sebuah anugrah. Dicintai oleh wanita seperti Chohee merupakan sebuah keajaiban dan hadiah terindah. Tapi raja itu terlalu bodoh dan gelap mata, dia terlalu mementingkan kedudukan dan pandangan rakyat padanya.
Pikiran sang raja atau Wang Seok benar-benar ternodai oleh sang inang dan adiknya itu-Jung.
"Meskipun keputusanku benar untuk kembali hidup demi adikku, tapi aku tetap melanggar perintah raja yang pada masa itu sangat dipuja seperti Dewa. Aku melanggar perintahnya, itu berarti aku berdosa. Selain itu aku juga membunuh terlalu banyak orang, aku benar-benar manusia berdosa"
SeokJin mengangguk paham.
"Aku juga merasa bersalah karena tidak bisa melaksanakan janjiku pada raja terdahulu, aku menyesal menyetujui pernikahan Chohee dengan si bodoh itu dan yang paling membuatku menyesal adalah aku membiarkan adik kesayanganku melindungi si bodoh itu"
SeokJin kembali mengangguk paham. Ia melihat Yoongi menghela nafas, nampak kelelahan sehabis mengingat masa lalunya mengenai hidupnya yang begitu pahit. Hidup yang dikecapnya hampir seratus tahun ini tidak bisa dilupakan satu detik pun.
Berbeda dengan dirinya.
"Aku percuma bercerita banyak hal pada orang yang tidak mengingat masa lalunya sedikit pun"
SeokJin berdecih, kembali membuat saladnya yang sempat tertunda tapi Yoongi tiba-tiba saja bertanya hal yang sudah ia lupakan sejak beberapa minggu lalu.
"Apa kau mungkin masih berharap kau renkarnasi adikku? Itu lah sebabnya kau bertanya tentang masa lalu ku, kan?"
SeokJin menggeleng, "Fokuslah! Aku hanya penasaran saja!"
Yoongi tetap ngotot, ia mendekat berusaha menyentuh SeokJin tapi pria berstatus vampire tersebut menggeleng panic dan jijik ke arah Yoongi.
"Chohee-ah, kau adalah adikku yang sangat cantik~"
"Aish!"
"Ahjussi!"
Yoongi menoleh, menemukan pasangannya sedang berdiri sambil tersenyum lebar.
"Ada apa? apa kau butuh sesuatu?" tanya Yoongi khawatir seraya menjauhkan tubuhnya yang tadi cukup dekat dengan si nyamuk. Jimin menggeleng, dia masih tetap tersenyum, senyum yang menyimpan sejuta makna dan Yoongi tidak tahu makna apa yang tersimpan di balik senyum itu.
"Aku hanya ingin meminta izin keluar, aku harus latihan untuk pentas perpisahanku bersama Youngjae"
"Kemana? Aku akan mengantarmu, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian"
Jimin tersenyum kecil, mengangguk pasrah dan setuju saja dengan ucapan ahjussi-nya.
Yoongi tidak membawa mobil karena Jimin yang meminta. Ia berasalan jika jarak tempatnya untuk berlatih bersama Youngjae tidak jauh jadi lebih baik melewati pintu ajaib Yoongi dan berjalan kaki saja. Selama perjalanan Jimin hanya diam, pikirannya melayang atas kejadian beberapa menit lalu di dapur tadi.
Ia mendengar semuanya. Semua tanpa terkecuali.
Awalnya ia sedih dan tidak menyangka jika Yoongi memiliki hidup semenyedihkan itu. dengan hati-hati ia menoleh ke samping, Yoongi sedang memandang lurus ke depan tanpa berminat menatap Jimin yang berdiri di sampingnya.
"Ahjussi…"
"Aku tahu kau mendengarkan obrolanku dengan si nyamuk itu"
Jimin terkejut, ia memberhentikan langkahnya begitu juga dengan Yoongi. Mereka saling memandang di bawah pohon rindang di pinggir jalan menuju tempat latihannya bersama Youngjae yang jaraknya tidak jauh lagi.
"Apa pendapatmu?"
Yoongi bertanya dengan senyuman kecil, membuat pergerakan di bibir Jimin untuk membalas senyum Yoongi. Ia menunduk sebentar lalu mengambil satu langkah mendekati Yoongi.
"Aku semakin yakin kau orang yang tepat untukku"
"Apa? kenapa bisa?" tanya Yoongi bingung. Awalnya ia mengira bahwa Jimin akan marah, menamparnya mungkin karena tidak pernah menceritakan hidupnya sendiri sementara Yoongi mengetahui seluk beluk kehidupan Jimin. Tapi ini, Jimin malah semakin yakin? Apa maksudnya?
"Kau pria yang bijak, aku tahu dalam sebuah hubungan seharusnya tidak seluruh kisah hidup kita di umbar ke pasangan. Karena ada beberapa kisah yang begitu menyakitkan dan sulit di ceritakan bahkan pada pasangan sendiri. Sekarang aku paham akan hal itu, aku menyukai pria bijak seperti ahjussi"
"Selain itu?"
Jimin makin tersenyum, ia berjinjit di hadapan Yoongi lalu tanpa di duga mengusap sisi sebelah kanan wajah Yoongi dan rambut hitamnya. Yoongi terpaku, ia masih tidak mengerti dengan jawaban tersirat Jimin.
"Kau tampan"
Yoongi tersenyum, hatinya menghangat. Es yang berada di hati, setiap inchi tubuhnya mencair hanya dengan senyum dan pujian tulus dari Jimin. Tanpa di duga, Jimin semakin mempersempit jarak di antara mereka dan tanpa peringatan pemuda mungil itu langsung mengecup bibirnya.
Ingat!
Mengecup bibirnya!
"Aku akan selalu menghiburmu, aku akan selalu ada di sampingmu, aku akan selalu berada di jarak seperti ini karena aku adalah milikmu dan kau adalah milikku"
Perkataan posesif sama sekali tidak membuat dirinya marah, sisi gumihonya berteriak senang hingga tanpa terduga ia menarik pinggang ramping Jimin mendekat. Wajah mereka semakin dekat, jarak di antara bibir mereka hanya tinggal lima centi lagi.
Kedua mata Jimin terpaku pada kedua iris tajam Yoongi, jarak mereka terlalu dekat sampai-sampai Jimin bisa merasakan hembusan hangat Yoongi yang membekas di wajahnya. Tatapan lembut namun tegas di iris Yoongi, seperti memerintahkan dirinya untuk tetap diam di tempat.
"Kau tidak perlu mengatakannya, semua orang tahu bahkan Sang Maha Kuasa yang melukiskan takdirmu untuk menjadi istriku, Jimin-ah"
Setelah mengucapkan balasan dari kalimat Jimin tadi, Yoongi langsung melumat bibir Jimin. Membawa pemuda manis yang ditakdirkan menjadi istrinya itu dalam sebuah ciuman lembut, kedua tangan Jimin sudah bertengger dengan manis di bahu tegap Yoongi.
Cukup lama Yoongi memagut bibir Jimin, bibirnya menjauh mendapati mata terpejam Yoongi mengarah padanya. Nafas Jimin terengah-engah, bibir berwarna pink cerah itu sedikit membengkak dan basah akibat ciuman Yoongi. Kedua tangan Jimin masih setia bertengger memeluk pinggang Jimin.
"Terimakasih karena sudah hadir di hidupku"
Jimin membuka matanya, menatap Yoongi yang juga menatap dirinya. Kepalanya mengangguk, tersenyum cerah kemudian. Tidak ada niatan dari diri mereka sendiri untuk melepas pelukan pasangan masing-masing. Yoongi masih betah memeluk pinggang Jimin, begitu juga dengan Jimin yang masih nyaman dan menginginkan bahu tegap Yoongi sebagai tumpuan tangannya.
"Terimakasih juga, Jin Aladdin ku"
…
…
…
"Lalu?"
SeokJin tengah serius mendengarkan gibahan alias gossip dari rekan sekantornya. Tidak biasa-biasanya ia ikut ngerumpi seperti ini. alasannya karena orang yang sedang mereka gossipi ini terliibat skandal serius dan cukup mengejutkan.
Salah satu rekan vampirenya, tapi berbeda departemen melarikan diri bersama mangsa incarannya sendiri-seorang psychopath akut-. Vampire laki-laki tersebut memiliki kebiasaan untuk mengintai dari mangsanya dengan cara berpura-pura dekat dan menjadi teman. Tapi hubungan pertemanan tersebut menumbuhkan biji-biji pembawa akar masalah.
Vampire tersebut jatuh cinta, begitu juga dengan si gadis. Setelah mereka sama-sama saling memberitahu identitas masing-masing, mereka saling menerima dan memutuskan untuk kabur.
"Dia melakukan tiga kesalahan besar, dia sudah di hukum menjadi vampire tapi dia tetap tidak sadar juga" ucap rekannya yang lain-Heechul. Si pembiang gossi dari awal-Jisung mengangguk setuju menanggapi kalimat Heechul.
"Dia sudah jatuh cinta, memberitahu nama asli dan pekerjaannya sebagai vampire dan yang paling besar adalah dia kabur bersama manusia it" tambah Jisung seraya menggeleng tidak percaya dengan wajah kasihan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib vampire tersebut, hukuman tambahan apa yang akan di terima si vampire.
"Kita sudah banyak dosa, jangan sampai membuat dosa lagi dan memperpanjang hukuman dari Dia" ucap Jisung memulai perkataan bijaknya.
"Tapi kalian tidak mau mengingat dosa-dosa kalian di masa lalu?"
SeokJin akhirnya bersuara setelah sekian lama menjadi pendengar yang baik. Heechul, Jisung, Nancy, Doyeon dan rekan-rekan yang lain menoleh. Terkejut dan bingung, tumben ketua departemen mereka mau ikut berkumpul bahkan menanggapi gossip mereka.
"Aku tidak mau, Dia pasti mempunyai alasan bijak karena tidak memperbolehkan kita semua mengingat dosa kita"
"Bagaimana jika kita bertemu orang di masa lalu dan orang itu berkaitan dengan ingatan dan dosa-dosa kita? Apa kalian tetap tidak mau menginginkan ingatan kalian?"
"SeokJin-ah," Jisung memanggil dengan lembut. Tersenyum kecil dan maklum mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dikeluarkan SeokJin.
"Jika sampai itu terjadi, aku lebih memilih menjauhi orang itu. Aku tidak mau orang itu terlibat lebih jauh dengan dunia penuh darah kotor kita"
SeokJin tidak merespon lagi, ia memilih mengambil mantel, cincin dan juga beberapa berkas yang ia selipkan di jasnya. Meninggalkan seluruh vampire berdosa tersebut dengan kebingungan. Ini jarang terjadi, bagaimana bisa ketua mereka yang terkenal dingin dan tidak peduli dengan urusan vampire lain mulai menaruh perhatian pada setiap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar mereka.
Apa yang membuat SeokJin seperti itu?
…
…
…
Hari ini SeokJin mendapat tugas menjemput manusia berdosa di sebuah gang sempit nan kumuh. Hidungnya mengendus perpaduan bau anyir darah, busuk dan apek di gang kumuh itu. helaan nafas keluar dari mulutnya, ia harus menjemput manusia pendosa kelas berat.
Seorang pembunuh berdarah dingin.
Baru saja SeokJin hendak melangkah lebih jauh seorang pria bermantel kumal, berwajah kusut dan berkantung mata tebal keluar dari sebuah pintu usang. Sepertinya pintu rumah itu menghubungkan ke rumah si pria tadi.
Pria tadi terkejut, pasalnya tidak ada satupun orang yang pernah berkunjung ke rumahnya. Bahkan polisi dan apparat keamanan kesulitan mencari rumahnya. Tapi ini, seorang pria asing berpakaian serba hitam tiba-tiba saja muncul di depannya.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau?"
"Kim SeokWon, seorang pembuh berdarah dingin yang sudah membunuh ratusan pria dan wanita setelah memperkosanya. Menyimpan jasad mereka dan memakannya"
Pria itu gemetar ketakutan melihat aura yang dikeluarkan SeokJin, terlebih SeokJin bergerak cepat menghampirinya bagai sebuah kilat. Berdiri tepat di depannya, dengan taring tajam dan cakar.
"Kau bisa memilih, darahmu habis oleh diriku seperti kau dengan bengisnya mengeluarkan darah para korbanmu atau kau ingin bertemu seseorang terlebih dahulu?"
Pria itu takut, bibirnya terasa kelu melihat makhluk di hadapannya bukan manusia biasa. Manusia penghisap darah yang selalu ada di film dan novel fiksi, ada di depannya. Entah untuk memangsa atau menghukum dirinya atas perbuatan bejatnya berpuluh-puluh tahun ia hidup.
"Hisap darahku"
"Sebenarnya aku tidak mau menghisap darah kotormu tapi ini pekerjaanku" gumam SeokJin dengan pandangan jijik. Jika boleh jujur ia tidak mau menghisap darah manusia jahanam seperti pria di depannya. Tapi ini sudah tugasnya, tugas sebagai manusia berdosa yang kelak akan digantikan oleh para korbannya.
"Setelah aku menghisap darahmu, kau akan pergi menemui seseorang. Kau di sana akan mendapat balasan atas perbuataanmu dan kau tinggal menunggu waktu dimana kau akan menjadi vampire sepertiku atau membusuk di neraka"
Pria itu terdiam, ia melangkah mundur lalu berlari sekencang-kencangnya menghindari SeokJin tapi percuma. Setiap ia berlari ia akan menemukan SeokJin di sampingnya, terus dan terus semakin ia berusaha kabur SeokJin akan terus muncul di hadapannya. hingga akhirnya SeokJin dengan paksa menarik pria itu, menghantam tubuh kumal itu ke dinding lalu menancapkan taringnya.
"AAAAAKKHHHH!"
…
Dan setelahnya ia berakhir muntah, ia benar-benar memuntahkan darah pria itu. darah pria itu benar-benar terasa busuk karena dosa-dosanya selama hidup di dunia. Ia terus-terusan muntah di tong sampah taman kota yang sepi.
Seumur-umur ia menjadi vampire darah yang paling busuk yang pernah ia rasakan adalah darah pria tadi. di dalam dunia vampire yang ia yakini, setiap darah manusia memiliki rasa masing-masing. Semakin darah itu pekat, berbau busuk bahkan menyerupai bangkai maka dosa manusia itu sudah tidak terhitung jumlahnya.
Seperti pria tadi.
"Aku tidak akan mau menerima daftar seperti itu lagi" gumam SeokJin dengan suara lirih. Tubuhnya ia bawa bersandar pada sebuah pohon, tubuhnya benar-benar lemas sehabis mengeluarkan isi perut dan darah pria tadi.
"Em, aku tahu, aku akan segera pulang"
Tubuh SeokJin yang semula lemas langsung tegak menangkap suara yang begitu ia kenali dan rindukan. Ia menoleh, wajah terkejut bukan main melihat Taehyung ada di ujung jalan memasuki area sekolah seraya berbicara dengan seseorang di sebrang sana. Kedua mata indah itu fokus mencari barang di tas kerjanya dan berbicara.
Kesempatan itu SeokJin gunakan untuk sembunyi, namun ia menggeleng tidak setuju. Sembunyi percuma karena bisa saja Taehyung melihatnya. Dan tanpa banyak pertimbangan ia memakai cincin dan jas hitam vampirenya dan hebatnya ia tidak terlihat lagi.
Ia masih berdiri di dekat pohon tadi, melihat Taehyung sudah berhenti bicara dengan seseorang di telfon itu. pemuda cantik itu memutuskan untuk berdiri, menatapi ponselnya dalam diam. SeokJin diam, ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Taehyung, pemuda itu terlalu sulit untuk dibaca.
"Kapan dia bisa jujur padaku?" gumam Taehyung kesal. Yang tadi menghubunginya adalah Kakek Jeon, topik yang mereka bicarakan masih sama yaitu kapan Taehyung kawin. Dan pertanyaan itu selalu membuatnya teringat tentang Kim Jin.
Ia menghela nafas, menarik lalu menghembuskannya seraya memejamkan mata. Kedua tangannya terkepal, sangat kuat bahkan ponselnya ikut ia remat begitu kuat.
"DASAR PRIA TIDAK TAHU DIRI! B*NGS*T! B*E*NG*E*!"
SeokJin terkejut, ia bawa langkahnya mundur menghindari kedua telinganya terjangkit infeksi akibat suara melengking Taehyung. Untung saja di taman ini tidak orang, bisa dipastikan jika ada yang melihat Taehyung seperti itu semua akan lari ketakutan.
"Sialan! Meskipun mengumpatinya aku tetap merindukannya" gumam Taehyung nelangsa, ia menatap ponselnya sekali lagi. "Dia mengetahui apa pun di dalam diriku tapi aku tidak tahu satupun di dalam dirinya, ini benar-benar tidak adil" lanjut Taehyung menambah rasa prihatin dan tidak rela melihat Taehyung seperti itu.
"Maaf, aku memiliki alasan sendiri" ucap SeokJin dengan kepala tertunduk. Meskipun Taehyung tidak mendengarnya, tapi paling tidak ia sudah berlatih untuk bicara pada Taehyung jika sewaktu-waktu mereka bertemu lagi.
"Aku seorang vampire, aku tidak memiliki hak untuk memberikan identitasku. Jika selama ini kau bertanya-tanya kejanggalan yang aku timbulkan jawabannya ad-"
"Aku akan menelfonnya saja"
Seokjin terkejut, matanya melotot melihat jari-jari lentik itu bergerak mencari kontak namanya. Oh, tidak! Jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Ia bergerak panik, melompat-lompat seraya mengacak-acak rambutnya.
"Ini dia"
"Jangan!"
PRANG!
Pergerakan mereka terhenti.
Benar-benar terhenti seperti sebuah video yang di pause. Taehyung tidak bisa gerak, ponsel yang ia genggam erat tiba-tiba saja melayang lalu jatuh ke tanah. Bukan karena ponselnya rusak yang membuat ia terkejut, tapi bagaimana bisa ponsel itu melayang.
"Apa?!"
SeokJin meringis. Ia salah bertindak lagi, ia malah membuat Taehyung semakin takut. Pemuda mungil itu melangkah mundur menjauhi ponsel putihnya yang terkapar di tanah, wajahnya pucat seraya melirik ke kanan dan kiri mencari sosok yang kiranya berbuat jahil padanya.
"I… in… ini tidak lucu! Apaan tadi itu?! ini sama sekali tidak menakutkan!" marah Taehyung dengan suara bergetar, sarat akan takut tapi wajahnya berusaha tidak ditonjolkan takut. SeokJin kembali menampilkan wajah memelas dan menyesal. Ia melompat-lompat, menatap kasihan pada Taehyung yang begitu takut.
"Aku tidak takut padamu! Berani sekali hantu seperti kalian mengganggu manusia! YAK!"
Ia kembali menatap ponselnya takut-takut, tubuhnya ia bawa berjongkok memungut ponselnya namun ia kembali berteriak takut karena SeokJin juga ikut membantu memungut ponsel Taehyung.
"KYA! Jangan mengganggu manusia lagi! PERGI KAU!"
SeokJin kembali manaruh ponsel itu ke bawah dan Taehyung langsung mengambilnya tapi entah sial atau kenapa. Kakinya tersandung batu kecil sehingga tubuhnya terjungkal ke belakang tapi dengan sigap SeokJin membantunya. Menangkap pinggang ramping itu sehingga tubuh Taehyung melayang di tengah-tengah taman yang sepi.
Jelas hal itu membuat Taehyung terdiam, wajahnya semakin pucat ia segera bangun menatap sekelilingnya lalu ia langsung berlari. Benar-benar berlari sangat kencang dengan mulut komat-kamit bernyanyi lagu-lagu di Gereja.
"Dengan gembira~ bersama melangkah~ kita semuuu-AAA MENGHADAP TUHAN! KYAAA!"
SeokJin hanya bisa merutuk, berjongkok menatapi nasibnya. Kenapa setiap hal yang ia lakukan selalu salah?
"Apa aku semenakutkan itu?"
…
"KYAAA!"
Jimin dan Youngjae kompak melotot melihat Taehyung berlari tergopoh-gopoh menghampiri, para pengunjung perpustakaan tentu menatap Taehyung kesal sekaligus penuh kebingungan melihat seorang pemuda cantik berlari kencang masuk ke perpustakaan dengan wajah pucat.
"Hyung! Hyung, kenapa?" tanya Jimin khawatir. Taehyung tidak menjawab, ia duduk di bangkunya, menarik dan menghembuskan nafas terburu-buru. Kasihan melihat gurunya seperti itu, Youngjae berinisiatif memberikan minumnya yang langsung di teguk sampai habis.
"Hosh! Aku… aku tidak tahu apa yang terjadi… hosh"
Jimin dan Youngjae mengernyit, menanti dengan sabar apa yang mau Taehyung katakan atau jelaskan karena sungguh mereka benar-benar khawatir.
"Apa kalian percaya hantu?"
Jimin mengernyit lalu menggeleng di ikuti oleh Youngjae, "Kenapa hyung bertanya seperti itu? mayat tidak akan pernah bisa hidup atau memiliki roh lagi" jawab Youngjae dengan otak pintarnya. Taehyung memejamkan matanya, benar juga. Tapi apa ada penjelesan ilmiah mengenai apa yang terjadi dengannya tadi?
TIDAK ADA KAN?!
"Saat orang mengatakan mereka melihat hantu pasti mereka itu berbohong, hantu itu tidak ada" tambah Jimin seraya menutup laptop yang ia buka sejak awal ia berdiskusi dengan Youngjae mengenai acara pementasannya.
"Benar, tidak usah bahas aku lagi. Aku ke sini untuk meminjam beberapa buku dan melihat hasil latihan kalian" ucap Taehyung merubah topik pembicaraan. Ia malas menceritakan pengalamannya lebih jauh dan ujung-ujungnya ia dikatai stress-karena tidak menikah-nikah-.
"Kami memilih sebuah lagu sederhana, tidak terlalu berat malahan terkesan tidak ada instrument alat musiknya"
"Terserah kalian, yang terpenting jangan membuat malu namaku. Arraseo?"
Jimin dan Youngjae mengangguk paham, setelah mengatakan kalimat barusan Taehyung melangkah pergi, menghilang dibalik ratusan rak di perpustakaan. Jimin hanya diam memandangi Taehyung, pasti ada alasan lain kenapa Taehyung seperti tadi. pasti ini ada hubungannya dengan si Tuan Vampire.
Batinnya bertanya-tanya, apa yang dilakukan Tuan Vampire sampai membuat Taehyung seperti itu?
…
…
…
SeokJin pulang ke rumah dengan wajah lesu. Tidak ada semangat sama sekali, bahu lebarnya merosot ke bawah dan kakinya ia bawa melangkah terseret. Perasaannya sekarang benar-benar campur aduk, belum selesai tentang bayangan masa lalu Yoongi dan Taehyung yang begitu sama. Sekarang ditambah masalah ia membuat takut Taehyung.
"Kenapa kau nyamuk? Tumben sekali"
Langkah terseretnya terhenti, ia menoleh dengan wajah begitu menyeramkan bahkan Yoongi yang menyapanya terperenjat. Wajah itu, benar-benar mendung. Ada banyak awan gelap menutupi wajahnya, sesekali kilat dan tetesan air hujan menyambangi wajah pucat itu.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Yoongi dengan wajah jijik tak terelakan. SeokJin mencebik bibirnya, tidak menanggapi ucapan Yoongi. Ia lebih memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk meminum darah bersihnya.
Bicara soal darah, darah penjahat tadi masih terasa sekali di mulutnya. Benar-benar mengganggu. Yoongi yang didiamkan hanya bisa menahan dongkol, mungkin manusia setengah nyamuk itu sedang bingung tentang hubungannya itu.
"Dasar!" gumam Yoongi mendumeli si nyamuk tadi. ia kembali berbali ke balkonnya, menyirami tanamannya sebelum matahari benar-benar terbenam.
"Ahjussi!"
Yoongi kembali terperenjat, menemukan wajah manis Jimin tengah tersenyum padanya. Senyum yang kelewat lebar malah, jari-jarinya yang mungil menarik tangan Yoongi yang tidak memegang alat penyiram tanaman.
"Ada apa ini? kau datang-datang melakukan ini?"
Jimin tidak menjawab, ia malah mengeluarkan sebuah kertas sejenis undangan untuk Yoongi. Pemuda yang jauh lebih mungil dari Yoongi tersenyum makin lebar melihat raut wajah penasaran terlukis jelas di wajah Yoongi.
"Ahjussi, jangan lupa datang aku menunggumu"
Yoongi tersenyum kecil, mengangguk paham lalu memasukan undangan tersebut ke sakunya. "Aku akan datang, mana mungkin aku tidak datang di pementasan pertama pacarku" balas Yoongi meyakinkan. Jimin mengangguk lalu berjalan pergi, meninggalkan Yoongi yang kembali sibuk menyirami tanamannya.
Tiba-tiba saja ada rasa aneh menjalar di tubuhnya. Rasa aneh itu bermulai dari dada-jantungnya lalu ke paru-paru dan berakhir pada system saraf geraknya. Ia tidak memiliki kendali atas tubuhnya lagi, ia menjatuhkan alat penyiram tanamannya. Ia tidak peduli jika lantai di bawahnya basah, ia tidak bisa fokus lagi.
Tubuhnya bergetar, pandangannya memburam sebab warna kedua bola matanya berubah. Dari warna hitam menjadi biru seperti seorang rubah. Kedua tangannya mencengkram kelewat erat pembatas balkon rumahnya. Ia baru pertama kali merasakan hal seperti ini, rasa ini bukan rasa sakit seperti yang diberikan Dewa Malam padanya.
Ini seperti hawa nafsunya.
Nafsunya sebagai binatang.
Nafsunya akan daging segar di sekitarnya.
Namun ia menolak, ia benar-benar menolak. Gumiho di dalam dirinya berontak, semakin keras kepala menunjukkan wujudnya.
"Ahjussi! Aku lup…"
Ucapan Jimin tidak meluncur dengan sempurna melihat Yoongi berdiri memunggunginya dengan punggung bergetar menahan sakit. Ia berinisiatif mendekat, namun langkahnya terhenti mendengar geraman hewan dari arah tempat Yoongi berdiri.
Tubuhnya bergetar ketakutan, rasa panic dan takut bercampur aduk di dadanya. Kedua bola matanya bergetar menahan tangis, ia kembali mendekat mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Yoongi.
Dan hal yang ia lihat benar-benar membuatnya tidak bisa bicara apa-apa selain berdiri kaku.
"Ahjussi…"
Yoongi menoleh, terkejut melihat Jimin berdiri di sampingnya. Menatap dirinya dengan pandangan berair, takut, panik, melihat kondisinya hampir menyerupai rubah. Namun, bukannya malu malahan Gumiho di dalamnya berontak ingin segera lepas.
"Pe… per… pergi! Menjauh dari sini!" perintah Yoongi dengan nafas terengah-engah. Jimin menggeleng, ia melangkah mendekat, menghampiri sang kekasih namun yang ia dapat bukan sebuah rengkuhan melainkan sebuah tepisan kasar hingga tubuhnya ambruk.
Yoongi terkejut, ia mendekat namun lankahnya terhenti sendiri. Ia benar-benar tidak bisa dikendalikan, dua sisi di tubuhnya saling bertarung memperebutkan tubuh Yoongi. Jimin bangun dari posisi jatuhnya, ia kembali mendekat ke arah Yoongi namun pria berusia ratusan tersebut menggeleng.
"Menjauh!"
"Tidak mau! Aku tidak mau meninggalkan ahjussi!"
"Turuti ucapanku! Sekali ini saja!"
Jimin termenung, ia membiarkan tubuhnya terpaku di tempat melihat Yoongi berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya seorang diri. Dan ia hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.
HIK!
Sebenarnya bisa, tapi ia terlalu menurut. Ia menuruti perintah Yoongi meskipun bertentangan dengan kemauannya untuk membantu Yoongi. Benaknya bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Gumiho itu? apa rasa sakti karena panah itu kembali muncul?
…
Di dalam kamar, Yoongi tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya merosot pada daun pintu yang sudah ia kunci rapat-rapat. Mencegah pemuda manis super nekat seperti Jimin mendobrak pintu kamarnya. Ia tahu Jimin seperti apa, watak apa yang dimiliki Jimin ia tahu. Karena itu ia mengambil langkah mengunci pintunya rapat-rapat.
Dan ia berakhir menahan semua sendiri, kuku pendeknya sudah berubah menjadi kuku tajam bak mata pisau yang di asah berjam-jam. Kedua bola mata birunya makin berwarna terang, hasratnya sebagai hewan makin membuncah.
Ia ingin makan.
Bukan daging.
Bukan daging sapi melainkan manusia.
Ia ingin sekali.
TOK
Tidak! Jangan ada yang mendekatinya, karena ia sedang dalam mode yang tidak pernah terpikir akan terjadi. Efek dari salah satu panah itu tercabut, sisi gumihonya semakin keluar bahkan semakin melebar.
TOK
"Ahjussi… HIK!"
Mata Yoongi yang sejak tadi terpejam terbuka, melirik pintunya yang memantulkan suara serak seperti orang menangis dari balik pintu. Ia tahu pemilik suara itu.
"Aku… aku tidak bisa menuruti perintahmu… hikss"
Jangan menangis. Jangan menangis karena tangisannya sama saja menambah rasa sakit di tubuhnya. Ia semakin meringkuk, memegangi dadanya sendiri yang semakin berdenyut nyeri. Rasa panas akan panah yang tertanam di dadanya makin terasa. Kukunya tertancap sempurna di lantai bahkan membuatnya retak.
"Hikss… aku tidak tahu apa yang kau rasakan, aku juga tahu kau tidak akan bisa membagi rasa sakitmu, tapi aku tahu satu hal bahwa aku bisa melakukan ini… hiksss…"
Yoongi masih bisa mendengarnya, lima detik kemudian ia merasa lima panca indranya seakan di cabut. Matanya tiba-tiba saja tidak bisa menangkap cahaya, bibirnya tidak bisa terbuka mengeluarkan suara, hidungnya tidak bisa menghirup udara, telinganya menjadi tuli dan alat perabanya seolah mati rasa.
Ia seperti mayat, tidak merasakan apa pun. Karena ini adalah salah satu prosesnya, panah-panah di dadanya mulai tercabut sendiri. Salah satu panahnya tercabut sendiri, keluar dari bekas lukanya membentuk aliran darah yang perlahan-lahan berubah menjadi sebuah api.
"Ahjussi… hikss… aku akan di sini… aku tidak akan meninggalkanmu… jadi, ahjussi tidak boleh meninggalkanku… ahjussi"
Api berwarna biru, hanya satu panah yang tercabut tapi sudah mampu membuat Yoongi seperti mayat. Api itu perlahan padam, menyisakan bercak-bercak darah biasa. Tubuh Yoongi sudah kembali normal, dimulai dari alat perabanya yang mulai merasakan basah dan sakit. Bibirnya yang mengeluarkan erangan halus. Hidungnya yang mengghirup udara. Telinganya yang mulai mendengar suara-suara dan matanya yang sudah normal kembali.
"Ahjussi…"
Yoongi sudah kembali, namun ia tidak bisa menggerakan tubuhnya kecuali kepalanya. Ia melirik panahnya yang berkurang lagi. Hanya satu tapi ini sebuah pertanda dari Dia bahwa Yoongi harus-dan mutlak segera meninggalkan bumi.
…
Jimin tidak tahu apa yang terjadi di dalam, ia menutup mulutnya sendiri mencium samar-samar bau darah dari dalam kamar Yoongi. Ia hanya menangis, duduk bersandar pada pintu tanpa bisa melakuka apa pun.
Wajahnya yang basah karena air matai a sembunyikan di antara kedua lututnya. Bibirnya gemetar, ia takut terjadi sesuatu pada Yoongi. Ia belum siap meninggalkan Yoongi, ia tidak mau Yoongi meninggalkannya sendiri.
"Hiksss… ahjussi…"
"U… ul… uljima… uljimara…"
Tangisnya semakin pecah, ia menangis mendengar kata-kata penenang yang harusnya ia ucapkan pada Yoongi tapi malah Yoongi yang mengucapkannya.
"Aku… aku tidak akan meninggalkanmu"
Kepala Jimin mengangguk, ia yakin, ia percaya bahwa Yoongi tidak akan meninggalkannya. "Aku juga tidak akan meninggalkanmu" Jimin menjawab dengan susah payah, bibirnya bergetar setiap kali ia menahan tangis yang membuncah. Ia tidak boleh menangis, ia tidak boleh menangis saat menguatkan seseorang.
"Jinjja?"
Ia bisa mendengar Yoongi terkekeh lalu terbatuk.
"Eoh! Aku berjanji"
"Syukurlah…"
Jimin kembali menangis dan Yoongi mendengarnya. Ia tersenyum miring, membiarkan tubuhnya bermandikan darahnya sendiri. Setelah pelepasan panah itu, tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan darah yang sangat luar biasa sakit dan panasnya. Ia tidak berteriak, rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dengan rasa sakit yang di rasakan Jimin sekarang.
Ia tidak tahu bagaimana perasaan Jimin saat melihat kekasihnya kesakitan tapi tidak bisa melakukan apa pun selain duduk diam di luar sambil menangis. Ia tidak tahu bagaimana tersiksanya Jimin di luar sana.
Dan yang menyiksa Jimin seperti itu adalah…
… Yoongi.
…
…
…
…
…
Pagi menyingsing, Yoongi mulai sadar dari rasa sakit semalam suntuk. Matanya sudah tidak berwarna biru lagi, darah di sekitarnya sudah menghilang sehingga tidak ada bekas apa pun di tubuhnya. Perlahan ia bangun, menumpu tubuhnya pada kedua tangan, lutut lalu kakinya. Tangan pucatnya ia gerakan membuka knop pintu.
Dan pemandangan yang ia temukan adalah tubuh mungil Jimin yang tertidur di depan pintunya. Wajahnya semakin menyiratkan penyesalan, Jimin pasti tidak istirahat atau bahkan baru tertidur. Dengan begitu ia bawa tubuh Jimin ke dalam gendongannya, membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri, menaruhnya ke kasur lalu menyelimutinya.
"Mianhae…"
…
Dan entah kenapa ia selalu berakhir galau dengan si nyamuk. Bahkan untuk kali ini, mereka minum soda dingin bersama di bagian belakang rumah. Menatapi mendung pada pagi hari ini, SeokJin sibuk dengan pikirannya tentang Taehyung. Sedangkan Yoongi sibuk dengan panahnya yang sudah berkurang satu lagi.
"Kau sudah bercerita pada Jimin?"
SeokJin akhirnya bertanya pada Yoongi setelah gumiho itu menceritakan semua yang terjadi semalam. Yoongi menggeleng sebagai jawaban tidak.
"Kau seharusnya tidak berbohong tentang hal itu"
"Ya ampun. Apa aku baru saja di nasihati oleh seorang pembohong juga?" olok Yoongi seraya meminum sodanya. SeokJin menoleh, ia tahu Yoongi akan menyinggung topik apa. jadi, ia memutuskan untuk diam.
"Jangan bahas hubunganku"
"Apa tadi kau baru saja menganggap hubunganmu dengan si guru itu serius? Kau banyak berbohong dan kau tidak berniat menjelaskan apa pun?"
SeokJin menggeleng, meneguk sodanya sampai habis lalu meletakan botol kosong tersebut di samping tubuhnya. "Aku tidak bisa. Aku pasti dianggap brengsek atau gila"
"Tapi kau kan benar vampire"
SeokJin menghela nafas, menatap Yoongi yang tidak merasa bersalah sama sekali mengatakan hal barusan dengan gamblang. Ia memang vampire tapi kata-kata yang keluar dari mulut Yoongi bagai sebuah pisau yang memiliki dua arti berbeda.
"Lagipula aku senang kau putus, dia terlalu bodoh untukmu"
"Jangan menjelek-jelekannya"
"Wae? Apa kau membelanya sekarang?"
SeokJin memfokuskan pandangannya pada Yoongi, memantapkan pilihannya untuk bertanya meyakinkan spekulasinya mengenai hidup Yoongi dan Taehyung apakah berhubungan atau tidak.
"Kesanmu pada V hanya sebatas itu? tidak ada hal lain?"
"Wae? Kalau ada kenapa, tidak kenapa?"
SeokJin memejamkan matanya menahan kesal karena Yoongi masih sempat-sempatnya bercanda di situasi seperti ini. "Aku bertanya serius karnivora!"
"Aku juga! Kesanku yang kedua nama aslinya tidak cocok karena nama itu milik adikku. Aku benar-benar senang kalian putus karena aku tidak harus double date bersama pemuda culas seperti dia"
SeokJin sebenarnya panas mendengar kalimat menjelek-jelekan Yoongi yang kelewat pedas, bahkan cenderung memberikan pendapat miring tentang Taehyung. Ia tidak suka akan hal itu.
"Aku belum memberitahumu tentang kehidupan masa lalu V"
"Katamu itu aturan dunia vampire dan tidak boleh di langgar"
"V, bisa jadi adalah renkarnasi adikmu"
"Jinjja? Bukan kau?"
SeokJin menggeleng, mencoba mengingat kembali kedua wajah itu yang begitu mirip namun berbeda warna rambut dan jenis kelamin. Tapi SeokJin yakin betul bahwa mereka adalah orang yang sama. Mata, hidung, dan bibir, terutama kedua mata mereka begitu mirip bahkan nyaris menyerupai.
"Wajah V dan wajah wanita di lukisanmu benar-benar, sangat mirip dengan wajah V"
Kali ini wajah Yoongi tidak bercanda seperti tadi. wajah itu memancarkan keseriusan, tidak mau percaya dengan ucapan SeokJin tapi ia tetap mendengarkan.
"Kau yakin?" tanya Yoongi memastikan dan di jawab anggukan penuh keyakinan dari SeokJin. "Apa? apa yang kau lihat di kehidupan masa lalu V?" Yoongi kembali bertanya kali ini lebih menuntut lebih dari apa pun.
"Wanita di kehidupan masa lalu V, memakai hanbok berwarna biru tapi lebih dominan putih, berdiri di tengah-tengah lapangan istana. Seseorang melewati tubuhnya, lalu tidak lama dia ambruk dengan luka parah penuh darah"
Tubuh Yoongi bergetar, yang dikatakan SeokJin benar. Tapi ia berusaha menepis bahwa SeokJin mungkin saja membual kembali soal cerita yang pernah ia ceritakan lagi.
"Aku pernah menceritakan itu bis-"
"Aku melihat hal lain" potong SeokJin. "Seorang wanita duduk di tandu, tangannya menangkup salju dari jendela tandunya"
Kali ini Yoongi mulai percaya, ia tidak menceritakan pada Yoongi bahwa Chohee pernah berada di tandu dengan menangkup tangannya keluar jendela tandu. Ia tidak siap mendengar hal selanjutnya bahwa yang di lihat SeokJin benar adanya.
"Muncul seorang pria, wanita tadi begitu ceria melihat pria itu lalu si pria berucap, Kau merusak hanbok yang aku berikan dengan wajah seperti itu"
Bahkan kata-katanya sangat sama, apa mungkin jika V memang renkarnasi adiknya?
"Lalu wanita itu bertanya Aku memakai hanbok pemberianmu, Yang Mulia Raja tidak pernah lepas memandangku. Apa mungkin dia jatuh cinta padaku? Kemudian pria itu menjawab Dia jatuh cinta pada hanbok pemberianku, kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"
"-kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"
Kedua mata SeokJin membulat. Perkiraannya benar bahwa apa yang ia lihat sama seperti apa yang terjadi pada Yoongi dulu. Pandangan Yoongi tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata ketika mendengar kalimat yang mereka ucapkan sama persis. Membuktikan bahwa SeokJin tidak membual. SeokJin benar-benar melihatnya.
"Benar? Apa benar dia adikmu?"
Yoongi tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang saat peristiwa pertama ia bertemu dengan V, tanpa ia sadari waktu dan kejadian itu hampir menyerupai kejadian dimana ia menghampiri sang raja dengan melewati Chohee.
"Benar"
Yoongi akhirnya bisa menjawab. Wajah mereka mirip, bahkan menyerupai tapi Yoongi terlalu bodoh untuk menyadari bahwa V adalah adiknya. Kejadian itu, kejadian dimana seharusnya ia sadar bahwa V adalah adiknya. Saat V memanggilnya hyungnim seharusnya ia sudah sadar bahwa V memang lah adiknya.
Chohee berenkarnasi…
… menjadi seorang pemuda yang cantik bernama V.
To Be Continue
pertama aku minta maaf karena aku update di WP dulu, karena ffn di tempatku error jadi baru bisa update hari ini hehehe. dan aku double update di sini untuk membayar utang ff ini di ffn.
gimana kalian makin penasaran? jika iya tinggal kan jejak berupa review juseyo!
aku cinta kalian yang udah baca dan review
SARANGHAEYO~~
