"Aku belum memberitahumu tentang kehidupan masa lalu V"
"Katamu itu aturan dunia vampire dan tidak boleh di langgar"
"V, bisa jadi adalah renkarnasi adikmu"
"Jinjja? Bukan kau?"
SeokJin menggeleng, mencoba mengingat kembali kedua wajah itu yang begitu mirip namun berbeda warna rambut dan jenis kelamin. Tapi SeokJin yakin betul bahwa mereka adalah orang yang sama. Mata, hidung, dan bibir, terutama kedua mata mereka begitu mirip bahkan nyaris menyerupai.
"Wajah V dan wajah wanita di lukisanmu benar-benar, sangat mirip dengan wajah V"
Kali ini wajah Yoongi tidak bercanda seperti tadi. wajah itu memancarkan keseriusan, tidak mau percaya dengan ucapan SeokJin tapi ia tetap mendengarkan.
"Kau yakin?" tanya Yoongi memastikan dan di jawab anggukan penuh keyakinan dari SeokJin. "Apa? apa yang kau lihat di kehidupan masa lalu V?" Yoongi kembali bertanya kali ini lebih menuntut lebih dari apa pun.
"Wanita di kehidupan masa lalu V, memakai hanbok berwarna biru tapi lebih dominan putih, berdiri di tengah-tengah lapangan istana. Seseorang melewati tubuhnya, lalu tidak lama dia ambruk dengan luka parah penuh darah"
Tubuh Yoongi bergetar, yang dikatakan SeokJin benar. Tapi ia berusaha menepis bahwa SeokJin mungkin saja membual kembali soal cerita yang pernah ia ceritakan lagi.
"Aku pernah menceritakan itu bis-"
"Aku melihat hal lain" potong SeokJin. "Seorang wanita duduk di tandu, tangannya menangkup salju dari jendela tandunya"
Kali ini Yoongi mulai percaya, ia tidak menceritakan pada Yoongi bahwa Chohee pernah berada di tandu dengan menangkup tangannya keluar jendela tandu. Ia tidak siap mendengar hal selanjutnya bahwa yang di lihat SeokJin benar adanya.
"Muncul seorang pria, wanita tadi begitu ceria melihat pria itu lalu si pria berucap, Kau merusak hanbok yang aku berikan dengan wajah seperti itu"
Bahkan kata-katanya sangat sama, apa mungkin jika V memang renkarnasi adiknya?
"Lalu wanita itu bertanya Aku memakai hanbok pemberianmu, Yang Mulia Raja tidak pernah lepas memandangku. Apa mungkin dia jatuh cinta padaku? Kemudian pria itu menjawab Dia jatuh cinta pada hanbok pemberianku, kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"
"-kau jelek tidak mungkin dia menyukaimu"
Kedua mata SeokJin membulat. Perkiraannya benar bahwa apa yang ia lihat sama seperti apa yang terjadi pada Yoongi dulu. Pandangan Yoongi tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata ketika mendengar kalimat yang mereka ucapkan sama persis. Membuktikan bahwa SeokJin tidak membual. SeokJin benar-benar melihatnya.
"Benar? Apa benar dia adikmu?"
Yoongi tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang saat peristiwa pertama ia bertemu dengan V, tanpa ia sadari waktu dan kejadian itu hampir menyerupai kejadian dimana ia menghampiri sang raja dengan melewati Chohee.
"Benar"
Yoongi akhirnya bisa menjawab. Wajah mereka mirip, bahkan menyerupai tapi Yoongi terlalu bodoh untuk menyadari bahwa V adalah adiknya. Kejadian itu, kejadian dimana seharusnya ia sadar bahwa V adalah adiknya. Saat V memanggilnya hyungnim seharusnya ia sudah sadar bahwa V memang lah adiknya.
Chohee berenkarnasi…
… menjadi seorang pemuda yang cantik bernama V.
Yoongi masih diam, tubuhnya mendadak lemas. Berbagai perasaan muncul di hatinya mendengar penuturan SeokJin mengenai masa lalu V yang menyerupai-bukan sama persis seperti yang pernah terjadi pada Chohee-adiknya. Ia palingkan wajahnya sebentar, menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu memandang SeokJin yang masih memandang dirinya.
"Apa? apa yang sebenarnya terjadi saat ini?"
Yoongi menggeleng, air matanya menetes sebagai tanda bukti bahwa ia tidak menyangka, bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena ia bisa bertemu dengan adiknya dan sedih karena adiknya itu tidak akan pernah mengingatnya.
…
Taehyung baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah mengisi kelas saat pintu ruangannya terbuka. Mata indahnya membulat melihat dua orang pria menerobos masuk ke dalam ruangannya, menutup pintunya rapat-rapat lalu memandang dirinya dengan pandangan tidak biasa.
Salah satu pria itu adalah teman kencannya, Kim Jin atau SeokJin. Dia datang bersama Yoongi, yang menjadi permasalahan adalah tatapan Yoongi ke arahnya seperti tatapan tidak percaya, penyesalan juga kerinduan terpendam.
"Ada apa kalian kemari? Jimin sudah tidak bersekolah lagi karena seluruh ujiannya sudah selesai" Taehyung berujar namun tidak ada respon dari kedua pria tampan tersebut. ia was-was jika mereka melakukan sesuatu yang aneh-aneh padanya.
"Kim Jin-ssi, Hyungnim!" Taehyung berusaha memanggilnya tapi Yoongi mau pun SeokJin sama terdiam. Sampai Yoongi melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca lalu tanpa peringatan menerjang Taehyung dengan sebuah pelukan. Pelukan yang sangat erat.
Taehyung terkejut, reflek ia memukul, mendorong dan berteriak minta di lepaskan tapi Yoongi malah memeluknya semakin erat. Seakan-akan tidak mau melepaskan pelukannya tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat? YAK!"
Rontaannya tiba-tiba terhenti saat tepukan hangat dan halus ia terima di punggungnya. Tubuhnya serasa kaku di tempat, seperti sebuah kayu yang dipaku di tempat. Tangannya menggantung lemas di kedua sisi tubuhnya.
"Adikku, Chohee-ah"
Baru kali ini ia tidak merasa aneh bahkan marah ketika orang asing memanggil dirinya menggunakan nama aslinya. Ia merasa tenang, bahkan ia nyaman ketika Yoongi memanggil dirinya bukan V melainkan Chohee.
"Bagaimana kabarmu?" Yoongi bertanya dengan mata terpejam menahan tangis. Perlahan pelukan Yoong ia lepas, menatap wajah Taehyung lebih jelas dan benar.
Wajah mereka sama, kenapa Yoongi baru sadar jika mereka memiliki wajah yang sama. Mereka memiliki mata yang sama indahnya, bibir yang sama merahnya dan kecantikan yang sama. Air matanya hampir jatuh, namun segera ia tahan. Ia tidak boleh menangis di hadapan Chohee.
"Adikku yang cantik…" Yoongi kembali berujar dengan suara pelan dan lembut, tangannya mengusap surai blonde Taehyung dengan begitu lembut. Lalu, beralih mengusap kedua sisi wajah Taehyung penuh kasih sayang dan kelembutan. Pancaran rindu dari Yoongi mampu membuat Taehyung bertekuk lutut, matanya ikut berkaca-kaca. Hatinya seakan-akan membalas perasaan rindu yang di tujukan Yoongi untuknya.
Hatinya menghangat, kepalanya mengangguk seakan ia mengerti lalu Yoongi kembali memeluknya sangat erat. Kedua kelopak matanya terpejam, menahan bulir-bulir air matanya keluar, ia tidak boleh menangis. Tapi ia tidak bisa menahan saat matanya tertutup, jadi ia memutuskan untuk membuka matanya.
Pandangannya bertemu dengan kedua iris tajam milik SeokJin. Pria dengan bahu lebar itu menatap Yoongi terlalu lama sebelum menatap Taehyung yang segera tersadar akan situasinya.
"Apa yang kau lakukan?! Dan kau!" Taehyung berteriak menunjuk SeokJin yang hanya diam tanpa mau menjelaskan sesuatu atau apa lah. "Apa kau akan diam saja di sana?! Kau membiarkan teman kencanmu di peluk pria lain?!" marah Taehyung.
SeokJin membuka mulutnya, untuk menjawab namun melihat mata Taehyung yang berubah risih ia segera bertindak menarik Yoongi menjauh dan menahan pergerakan gumiho ratusan tahun ini.
"Chohee!"
"Kau belum tahu pasti tentang hal itu! jangan bertindak seperti tadi lagi!" bisik SeokJin mengancam tapi Yoongi tidak menurut apa lagi mendengar. Ia berusaha berontak semakin intens begitu juga dengan SeokJin yang semakin menguatkan cengkramannya.
"Aku tidak salah! Kau Chohee, kan? Min Chohee?"
"Kalau iya kenapa? Apa yang mau hyungnim lakukan?" balas Taehyung tak kalah kalap dan kesalnya karena Yoongi terus memanggil dirinya dengan nama mengerikan itu.
"Benar! Kau mengatakan hal benar! Aku adalah kakakmu, hyungnim, orabeonim! Aku kakakmu, Chohee!"
"NAMAKU V!"
Taehyung berteriak, marah, kesal dan bayangan mengerikan tentang dirinya di masa lalu terulang. Ia kalap, ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Yoongi menangkap hal itu, ia berusaha mendekat berniat menenangkan Taehyung tapi SeokJin keburu menahannya.
"V-ssi…"
"Kau! Kau juga!" tunjuk Taehyung ke arah SeokJin. Pria itu lantas melempar Yoongi begitu saja ke belakang, ia segera berdiri menghampiri Taehyung yang sedang menyetabilkan deru nafasnya yang memburu.
"Kenapa kau tiba-tiba datang bersama dia? Apa kau tidak bisa menghubungiku lebih dulu? Kau punya ponsel, gunakan itu agar bisa membuat pertemuan. Jangan di sekolah seperti ini lagi"
"Dia yang memaksaku un-"
"Kenapa dia memaksamu seperti itu? apa kau di ancam oleh dia?" tanya Taehyung khawatir, perhatiannya ia taruh penuh ke hadapan SeokJin. Pria yang memiliki umur nyaris sama dengan Yoongi tersenyum kecil mendengar perhatian yang dilontarkan Taehyung.
"Tidak, dia datang kemari untuk mengatakan bahwa kau adalah adik perempuannya di kehidupan sebelumnya"
Taehyung terkekeh, lalu tertawa cukup keras. Merasa itu sebuah lelucon yang benar-benar berhasil, otak pintarnya tidak akan mempercayai hal seperti itu. ia sudah hidup di zaman modern. Tidak ada lagi kepercayaan seperti itu.
"Ini tidak lucu, kehidupan masa lalu apa? Kau pikir aku percaya lelucon seperti ini?" tawa Taehyung lagi. Ia menarik nafas lelah, melirik Yoongi yang masih terpaku di tempatnya terjatuh sambil memandangi interaksi SeokJin dan Taehyung. Pemuda manis itu tersenyum miring, matanya memicing mencurigai ke arah SeokJin.
"Apa kau mengarang semua ini untuk bertemu denganku? Apa kau begitu merindukanku sampai mengarang seperti ini? padahal kau bisa SMS atau menelfonku untuk bertemu jika kau merindukanku"
Entah dibuat atau tidak, nada bicara Taehyung terdengar seperti rengekan bayi. Imut dan menggemaskan, ditambah jari-jari mungil itu saling bertaut. SeokJin tersenyum gemas, memandangi setiap pergerakan imut Taehyung dengan perasaan penuh warna.
Mereka berdua tidak sadar bahwa masih ada satu makhluk lagi di belakang mereka. Yoongi, dia masih setia duduk di tempatnya terjatuh. Matanya memicing tajam melihat adiknya berinteraksi dengan makhluk macam SeokJin, ia langsung berdiri menghampiri Taehyung dan balik mendorong SeokJin ke belakang.
"Kenapa kau bicara pada dia? Aku yang ingin bertemu denganmu"
"Tapi aku tidak mau bertemu denganmu"
Jawaban menohok Taehyung sukses membuat harapan Yoongi pupus. Tadinya ia berencana membangun persaudaraan kembali dengan Taehyung tapi melihat reaksi Taeyung seperti ini, kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi.
"Apa kau tidak mengingat apa pun tentang masa lalu mu? Aku kakakmu, Chohee"
"Kau terlalu tampan untuk menjadi orang yang sakit jiwa! Jangan bicara yang tidak-tidak padaku, masa lalu bokongmu" Taehyung mengumpat halus di akhir kalimatnya. Melirik tajam tepat di wajah Yoongi yang masih memelas.
"Lebih baik kalian keluar sekarang karena aku hanya punya waktu lima belas menit untuk bersiap-siap mengajar lagi" usir Taehyung dengan senyum manisnya. Tangan mungilnya ia arahkan sekuat tenaga mendorong dua pria super kuat di depannya, tapi Yoongi masih tetap ngotot memaksa masuk dan berakhir dengan wajahnya terhantuk bantingan pintu dari Taehyung.
"Sudah ku bilang. Kita belum tahu pasti dan lagi V tidak mungkin mengingat masa lalunya"
Yoongi tidak menjawab. Kepalanya menunduk, kali ini ia membiarkan SeokJin menang dengan menyeretnya pulang. Meninggalkan Taehyung di dalam sana yang tengah kebingungan. Tubuh mungilnya di bawa duduk di kursi terdekat, bayangan-bayangan mengerikan masa lalunya kembali muncul.
Karena ini lah ia tidak mau ada orang yang memanggilnya dengan nama Chohee. Nama itu mengingatkan dirinya tentang perlakuan panti asuhan, kematian orangtua dan harga dirinya yang hampir melayang. Ia memeluk tubuhnya sendiri, tubuhnya menggigil takut, ia takut.
"Adikku, Chohee"
Tapi entah kenapa kata-kata yang keluar dari mulut Yoongi tidak semenakutkan orang lain. Malahan ia mengingat bagaimana suara Yoongi memanggil dirinya, tubuhnya sedikit tenang tanpa harus meneguk obat penenang.
"Kenapa aku bisa seperti ini?"
…
…
…
…
…
…
Ketika bangun ia tidak menemukan siapa pun, Yoongi dan SeokJin tidak ada. Ia hanya melihat NamJoon yang sedang berkunjung ke rumah, ajaibnya tanpa membawa perempuan atau laki-laki manis di luar sana. Malahan pria tampan keponakan Yoongi ini membereskan dapur kesayangan Yoongi.
"Hyung!"
"Jimin-ah, kau tidak sekolah?"
"Tidak, aku sudah lulus dan tinggal menunggu tahun ajaran baru. Hyung, kenapa tiba-tiba berkunjung?" tanya Jimin memulai percakapan seraya mengintili NamJoon. Tidak ada maksud lain-sebenarnya ada. Ia ingin menanyakan sesuatu tapi ia terlalu takut.
HIK!
"Kau bohong ya? Apa kau ingin menanyakan sesuatu?"
Jimin awalnya terkejut karena NamJoon mengetahui penyakit anehnya, namun ia mengangguk dengan cengiran lebar. NamJoon menghela nafas, meletakan kain yang tadi digunakan untuk membersihkan counter dapur. Tubuhnya ia hadapkan pada Jimin yang menatapnya penuh harap.
"Koneksi, aku masih janggal soal koneksi yang NamJoon hyung bicarakan. Koneksi sekuat apa sampai hyung bisa menemukan ku waktu itu. aku juga ingin bertanya apa yang disembunyikan Tuan Vampire dan Yoongi ahjussi?"
Mata NamJoon sedikit memicingkan matanya, menelisik lebih jauh di kedua mata Jimin. Kedua mata itu seakan-akan bertanya banyak hal dan pertanyaan yang dikeluarkannya tidak ada setengah dari jumlah pertanyaan di kepalanya.
"Aku beri tahu kau rahasia dari Tuan Vampire," ucap NamJoon sedikit berbisik, ia member kode untuk Jimin mendekat. "Dia bisa melihat kehidupan masa lalu orang dengan menyentuh kulitnya"
Jimin menutup mulutnya terkejut, memorinya melayang saat makan malam waktu itu. saat dimana SeokJin merengkuh dan menggenggam tangan Taehyung, apa mungkin ada sesuatu yang salah pada kehidupan masa lalu Taehyung.
"Samchon melihat di kehidupan masa lalu V, gurumu itu adalah renkarnasi adik dari Yoongi samchon"
"Jinjjayo?!" Jimin memekik, antara terkejut dan tidak percaya. Apa-apaan ini? kenapa semua tiba-tiba muncul di permukaan seperti ini. NamJoon tersenyum miring, menghadapkan tubuh mungil Jimin tepat di depannya, menaruh tangan kokohnya di kedua pundak Jimin.
"Ada banyak rahasia di dalam hidupmu, hidup orang di sekitarmu yang akan terbuka. Di umurmu yang legal ini kau akan membuka seluruh rahasia tersebut dan menutup rahasianya"
Jimin diam. Ia tidak mengerti dengan permainan kata-kata yang diucapkan NamJoon. Bukan hanya keambiguan yang diciptakan NamJoon tapi ribuan rasa penasaran semakin memenuhi otaknya. Semakin ia meresapi kata-kata NamJoon, semakin ia tidak mengerti maksud perkataan keponakan Yoongi ini.
"Aku sudah selesai beres-beres, jika samchon mencariku. Katakan saja aku ke club di daerah pinggiran kota" NamJoon berucap seraya merapihkan pakaiannya dan melempar wink andalannya pada Jimin. Pemuda mungil berstatus SMA itu hanya mengangguk paham, ia masih sulit mencerna kata-kata Yoongi tadi.
"Apa yang mau dikatakan? Darimana dia tahu semua itu?"
…
…
…
"Sudahlah, semua belum pasti. Jangan terlalu di pikirkan"
SeokJin berucap menghibur Yoongi yang masih termenung dan terpuruk. Terpuruk karena secara tidak langsung Taehyung menolak Yoongi, tapi di pikir-pikir Taehyung pasti akan menolak bahkan menganggap dirinya dan Yoongi gila. Kehidupan masa lalu? Mana ada orang yang percaya hal seperti itu?
"Eoh, aku hanya sedih saja" balas Yoongi seraya membuka pintu rumahnya, namun mereka terkejut melihat Jimin juga ada di depan pintu berniat membuka juga.
Pemuda manis dan mungil itu sangat terkejut, gelagapan menyembunyikan sesuatu. Tanpa banyak bicara Jimin kembali berlari masuk dengan suara cegukan yang keras. Yoongi berdecak, menarik tudung hoodie Jimin.
"Ahjussi! Lepaskan!"
"Tidak, kau menyembunyikan apa itu?"
"Aku tidak menyembunyikan apa pun!"
HIK!
Jimin berdecak, menatap takut-takut ke arah Yoongi yang sudah menatapnya penuh curiga. Dengan takut-takut ia melepas tarikan Yoongi, berdiri di hadapan SeokJin dan Yoongi yang menatapnya penuh tanya dan bingung.
"Mau kemana kau malam-malam begini?" tanya Yoongi sewot. Jimin menunduk, memainkan ujung mantelnya. Percuma ia berbohong, tapi ia tidak mau rencananya ini gagal karena Yoongi.
"Ahjussi juga darimana saja? Seharian pergi tanpa berpamitan padaku"
"Kami mengurus beberapa hal yang tidak dimengerti manusia" balas SeokJin seraya menelisik lebih jauh jenis pakaian yang dikenakan Jimin. Pandangan tajamnya lalu beralih pada saku mantel depan yang berusaha di tutupi Jimin.
"Apa yang kau sembunyikan di saku mu?"
"Tidak, tidak ada!" elak Jimin dan suara cegukan kembali terdengar. Yoongi menghela nafas, menggerakan tangannya seakan mengambil benda yang disembunyikan Jimin. Ternyata sebuah kertas berwarna cokelat berisi sebuah alamat.
"Ahjussi! Kembalikan! Itu milikku!"
"Kau mau pergi ke club?" marah Yoongi dan tidak percaya. Ia tahu jika Jimin sudah berumur legal tahun baru kemarin. Tapi tidak mungkin Jimin secepat ini memutuskan untuk pergi ke club sendirian, bahkan sembunyi-sembunyi. Apa yang terjadi pada Jimin-nya yang polos.
"Nde,"
"Kau mau apa di sana?"
"Aku ke sana karena ahjussi" balas Jimin dengan nada sedikit kesal. Yoongi mau pun SeokJin mengernyit. Mereka bisa melihat Jimin mengembungkan pipinya dan tak lupa memajukan bibirnya tanda bahwa ia kesal setengah mati. Ayolah, dia sangat penasaran maksud perkataan NamJoon tadi. maka dari itu ia mencari tahu club yang dimaksud NamJoon.
Tinggal sedikit lagi rencananya berhasil tapi Yoongi dan SeokJin keburu datang dan menggagalkan semuanya. Ia menarik nafas, menatap kesal pada Yoongi.
"Ahjussi, aku sangat penasaran denganmu dan NamJoon hyung bilang kalau kau sudah menemukan renkarnasi adikmu yang ternyata V sonsaengnim"
"NamJoon tahu darimana soal itu?" tanya SeokJin heran. Seingatnya saat ia memberi tahu Yoongi perihal masa lalu Taehyung hanya ada mereka berdua. Tidak ada siapa pun bahkan Jimin pun tertidur saat itu jadi kecil kemungkinan ada orang yang mengetahui.
"NamJoon hyung juga menambahkan bahwa Tuan Vampire yang melihatnya karena kau bisa melihat masa lalu seseorang lewat sentuhan tangan"
"Dia tidak akan sembarangan memberitahu orang tentang kemampuannya, bahkan aku baru tahu beberapa hari setelah kejadian waktu itu" ucap Yoongi yang merasa janggal dengan segala ucapan NamJoon pada Jimin. Pemuda manis itu bahkan sekarang bertambah berpikir keras, kenapa Yoongi dan SeokJin terlihat terkejut seolah-olah NamJoon mengetahui semua itu hal mustahil.
"Saat kecelakaan itu apa kau memberitahu NamJoon bahwa aku bisa menghilangkan ingatan seseorang?"
"Tidak,"
Dan saat itu juga Yoongi, SeokJin dan Jimin terdiam. Otak mereka mencari kemungkinan terbesar tentang apa yang sebenarnya terjadi. Siapa sebenarnya NamJoon, kenapa dia bisa mengetahui semuanya tanpa terkecuali.
"Ini aneh. NamJoon juga yang menemukan lokasi Jimin menghilang saat itu"
"Padahal apartment Jungkook jauh dari awak media bahkan tersembunyi" tambah Jimin yang semakin membuat spekulasi Yoongi dan SeokJin mengarah pada satu hal. Kedua pria itu saling berpandangan, lalu menatap Jimin yang masih bingung tentang semua ini.
"Tidak mungkin…"
…
…
…
Kali ini ia tidak memilih ruang VIP untuk minum. Ia memilih berbaur dengan semua orang namun tetap menjaga jarak yang lumayan jauh. Jari-jari indahnya bergerak memutari bibir gelasnya, matanya menelusuri setiap sudut club yang penuh sesak dengan orang yang jatuh dalam euphoria minuman alkohol.
Ia memakai mantel berwarna biru donker, kemeja hitam, celana bahan dan sepatu pantofel mengkilat. Rambutnya ia tata dengan rapi ke belakang, sebagian wajahnya tidak terlihat karena ia memilih tempat duduk jauh dari kerlap-kerlip lampu club.
Aku merasakan cinta itu, itu berarti aku merasakan hidup sesungguhnya dan orang yang membawa cinta itu…"
Yoongi menatap Taemin dengan pandangan berair, bukan kesedihan yang terpancar di mata Yoongi tapi sebuah kemarahan.
"… adalah kau, Park Jimin. Aku mencintaimu, kau adalah cinta pertama dan terakhirku.
"Siapa dia? Apa dia mantan pacar Samchon?"
SeokJin tidak menjawab. Air matanya semakin mengalir deras setiap kali ia beradu pandang dengan lukisan itu.
"Ahjussi memberitahu kalau kau yang menemukanku. Hyung tahu darimana jika pagi itu aku akan berangkat sekolah dan tinggal di apartment Jungkook? Temanku bilang apartmentnya itu jauh dari jangkauan orang luar"
Wanita berpakaian serba merah itu keluar dari perpustakaan dengan wajah masih tertekuk, saat keluar tanpa sengaja ia melihat seorang pria. Pria dengan balutan blazer abu-abu dan di dalam menggunakan sweater putih serta celana bahan berwarna cokelat gelap. Penampilan yang sungguh keren dan elegan.
Wanita tadi-Taemin menoleh begitu juga dengan pria itu-NamJoon. Mereka sama-sama tersenyum, NamJoon maju lebih dulu menghampiri Taemin sambil tersenyum tampan.
"Kenapa menghampiriku? Apa kau bisa membaca pikiranku kalau aku mengajakmu?"
"Eoh, aku baru saja mendapat uang jadi aku bisa mentraktir minum wanita cantik sepertimu"
"Aku bersyukur untuk itu, karena sekarang aku benar-benar butuh minum"
Taemin mengucapkan kalimatnya penuh penekanan dan emosi. Sementara NamJoon tersenyum, menarik pinggang Taemin dan menuntunnya pergi, jauh-jauh dari perpustakaan sumber bad mood Taemin-itu pikiran NamJoon.
…
Di club, NamJoon tidak hanya datang berdua, dua wanita lain datang dan mereka minum bersama. NamJoon duduk dengan gagah dan begitu elegan, begitu juga dengan Taemin, Hoseok dan Sungwoon. Tiga wanita itu saling memandang lalu memandang NamJoon yang nampak tidak mau memulai pembicaraan.
"Wah, Dewa, Tuhan, Sang Maha Kuasa, apa pun sebutanmu. Kau tidak sejahat yang aku pikirkan" ucap Hoseok sang Dewi Malam seraya meneguk minumannya. NamJoon menyeringai, melirik Sungwoon yang hanya diam, duduk bersandar meminum minumannya dalam diam.
"Kau tahu kenapa Dewi Malam memujimu?" tanya Taemin, seraya memainkan mulut gelasnya, "Kau menemukan si Gumiho dan istrinya secepat ini. tadinya aku pikir kau akan mempertemukan mereka tiga puluh tahun lagi" ejek Taemin seraya mengingat wajah dua orang yang sudah ditakdirkan oleh NamJoon. Takdir yang manis namun tragis.
"Itu takdir yang harus mereka hadapi" jawab NamJoon seadanya.
"Tapi aku masih berpikir kau jahat karena mempertemukan orang yang memanah dan di panah, kau tetap kejam" ujar Sungwoon seraya mengingat seseorang, wanita bergaun biru itu terlihat merinding melihat NamJoon tersenyum miring.
"Itu adalah takdir mereka, aku hanya meneruskan apa yang sudah mereka tulis sejak awal"
"Apa kau tidak merasa kasihan padanya?" tanya Taemin mulai sedikit marah karena NamJoon benar-benar mempermainkan anak yang ia ciptakan ratusan tahun ini. "Apa kau tidak cukup menghukum Yoongi dengan hidup kekal dan rasa sakit itu? kenapa kau menambah hukumannya?" Taemin kembali bertanya dengan kesal.
NamJoon tersenyum kecil, meneguk whisky nya, "Kehidupan manusia akan disebut hidup jika manusia memiliki masalah. Masalah adalah bagian dari hidup manusia, jika manusia tidak mau ada masalah maka dia memilih mati"
Hoseok berdecak, kesal karena tidak bisa membantah ucapan NamJoon apa lagi menentangnya. Jauh di dalam hatinya ia sedikit tidak kesal karena NamJoon terlalu terobsesi menghukum Yoongi.
"Kenapa kau tidak menciptakan dunia yang sempurna tanpa masalah, dosa dan segala macamnya"
"Saat dunia penuh dosa, masalah dan segala macam kesusahan mereka tidak mencariku. Apa lagi jika aku menciptakan dunia yang sempurna, manusia tidak akan berterimakasih"
Kali ini Sungwoon yang ikut kesal. "Apa kau masih belum cukup melakukan semua ini?"
"Belum"
Taemin mendesis, mencengkram gelasnya kelewat erat bahkan buku-buku jarinya ikut memerah karena kelewat erat meremas gelasnya.
"Setiap anak yang aku ciptakan berawal dari cinta, saat tumbuh dewasa mereka sudah sepantasnya mendapat cinta. Aku sebagai dewi mereka, ibu mereka, bertanya padamu, Sang Maha Kuasa apa kau tidak mau membantu anak-anakku?" tanya Taemin memohon dengan wajah memelas tapi NamJoon mengabaikannya.
"Tapi aku menyukai hidupnya yang seperti ini"
Ia-NamJoon mengangkat alisnya mendengar suara derap langkah kaki yang ia kenali. Kepalanya menengadah, menemukan Yoongi dan SeokJin menuruni anak tangga menghampiri dirinya yang sedang duduk meneguk minumannya. Ketika mereka menemukannya, Yoongi berjalan terburu-buru menghampiri NamJoon.
"Kim NamJoon, ka-"
Satu petikan jari seluruh pergerakan manusia di club itu terhenti. Yoongi tidak bisa mendekat karena sebuah dinding tak kasat mata menghalangi langkahnya mendekati NamJoon. Pria dengan tinggi menjulang dan rambut pirang tersebut melangkah mendekat dengan jarak satu meter.
"Kau, siapa kau?"
"Aku?" NamJoon bertanya pada dirinya sendiri, tersenyum mengejek dan miring. Kedua tangannya ia bawa masuk ke saku celananya. Berubah pandangannya menjadi tajam, tegas dan menuntut terutama pada Yoongi.
"Aku orang yang tidak pernah mendengar permohonan dari orang yang tidak mempercayai bahwa aku mendengar permohonan orang-orang"
NamJoon menjawab dengan suara berat dan tegasnya. Ilusi atau apa tapi Yoongi seperti melihat ada sisi gelap yang ditunjukan NamJoon tapi juga ada sisi terang yang mengalahkan sisi gelap tersebut.
"Aku adalah orang yang mendapat salah sasaran tuduhan. Aku tidak melakukannya tapi orang itu memilih tujuannya tapi anehnya dia menebak niatku" NamJoon berujar seraya melirik ke arah SeokJin yang diam menelisik tingkah NamJoon.
"Aku mendengar permintaanmu untuk lepas dari hukuman ini, aku mendengar dan menurutinya" ucap NamJoon seraya menatap Yoongi yang terasa tersindir oleh ucapan NamJoon. Otaknya mengingat segalanya tentang permintaannya ratusan tahun ini adalah mati dan ia sudah diberi kesempatan untuk mati. Tapi…
"Kenapa kau masih hidup?"
Pertanyaan menohok itu sukses membuat api amarah Yoongi muncul. Ia berniat mendekat namun SeokJin segera menahannya, memberi kode untuk Yoongi tetap tenang dan mendengarkan ucapan NamJoon selanjutnya.
"Dan kau," NamJoon menunjuk SeokJin yang terkejut karena ditunjuk mendadak oleh NamJoon. "Aku tidak pernah memintamu untuk menghapus masa lalumu, dosamu, tapi kau yang memilih semua itu" lanjut NamJoon lalu berjalan kembali ke kurisnya yang tadi untuk minum.
"Waktuku tidak banyak, aku hanya ingin mengatakan hal tadi dan…" NamJoon menjeda kalimatnya. Melirik dua pria tua di depannya dengan senyum miring.
"Sang Maha Kuasa tidak pernah bertanya atau butuh bertanya, tapi dia yang selalu dipertanyakan manusia. Pertanyaan itu harus kalian jawab, dan aku tinggal memeriksanya apakah jawaban itu benar atau tidak" ucap NamJoon lalu duduk menyilangkan kakinya.
"Aku pergi, karena waktuku hampir habis. Ucapkan terimakasihku pada pria ini" perintah NamJoon lalu memejamkan matanya. Cahaya terang langsung menyelimuti tubuh NamJoon, membawa pria tampan itu ke dalam pintu cahaya lalu burung bertebrangan dari tubuh NamJoon.
Yoongi dan SeokJin terdiam, tidak menyangka akan bicara pada Sang Maha Kuasa yang melukiskan takdir mereka seperti ini secara langsung. Tak lama, cahaya itu menghilang lalu digantikan oleh tubuh lemas NamJoon yang jatuh ke lantai
Semua manusia di club itu kembali normal, mereka berpesta dan melupakan hal yang terjadi pada mereka beberapa menit lalu. NamJoon mulai tersadar dari pingsan singkatnya, menatap sekeliling lalu pandangannya jaruh pada Yoongi dan SeokJin yang masih diam di tempat.
"Samchon? Ada apa kalian kemari? Apa kalian mau minum?" tanya NamJoon seraya bangun dan merapihkan bajunya. Yoongi membuang nafasnya kesal, ia bawa kakinya mendekat dengan langkah lebar ke tempat NamJoon.
SeokJin melotot, ia segera menarik dan menahan tubuh tegap Yoongi mengahajar NamJoon yang terlihat kebingungan.
"YAK! Lepaskan! Lepaskan! Apa kau tidak lihat? Dia! Itu dia!"
"Aku tahu! Tapi tidak seharusnya kau melakukan ini!" SeokJin berujar menenangkan namun pada akhirnya Yoongi tetap berontak bahkan kali ini lebih extream. Kaki indahnya di bawa menendang-nendang tepat ke tempat NamJoon bersembunyi.
SeokJin tersenyum ramah, melempar Yoongi kembali ke tempat asalnya lalu membungkuk hormat pada NamJoon yang masih blank tidak mengerti apa-apa. wajah SeokJin jauh lebih ramah dan menyenangkan dari sebelumnya.
"Maaf jika selama ini aku menyusahkanmu, baik perkataan dan perbuataan aku mohon maaf"
NamJoon melotot, matanya berkedut bingung dan ngeri. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Yoongi tiba-tiba marah sekali dan SeokJin sopan sekali.
"Samchon kenapa? Apa Samchon mabuk?"
To Be Continue
Hai? Aku update lagi, hahaha! Tanganku gatel mau nulis terus, tentang mereka. Aku mabok karena view dan vote ku bertambah, /ketawa bahagia/
Aku juga seneng karena nilai TO ku meskipun jelek bahkan ada nilai belasannya, tapi hasil LUB (Latihan Ujian Bersama) bagus dan jauh dari ekspetasi ku. Aku bersyukur banget, yang paling nggak nyangka adalah Geografi.
Aku bener-bener mabok belajar Geografi karena bukunya bener-bener tebel, dan aku bener-bener bahagia nilaiku lulus KKM UN (55 kata guruku) dan KKM sekolah (78), dan lebih surprise nilaiku di atas 80! Aku seneng banget, meskipun sosiologiku turun /pundung/ dan ekonomi akuntansi ku tambah terpuruk /makin pundung/.
Tapi aku seneng nilai LUB ku nggak jelek bener, bahkan lebih bagus daripada nilai TO 1,2,3 ku. Pokoknya aku seneng, hahahaha~~~
SMA tinggal satu bulan lagi, belum kepotong paskah. Aku harus belajar extra tapi otakku terus jalan-jalan ke ff ini dan ff yang lain. Tinggal ujian praktek bahasa Inggris, olahraga (aku nggak bisa renang, ada yang bisa ajarin?), USBN, dan terakhir UN!
UN!
KYAAA!
Oke, pokoknya itu cuap-cuapku, terimakasih yang udah baca dan review! aku sayang kalian!
saranghaeyo~~
