"Lepaskan! Lepas!"
Jimin mengernyit mendengar suara ribut-ribut di depan pintu rumahnya. Ia sedang asik bersantai di tempat tidur sambil membaca buku langsung melompat turun, ia kenal betul suara itu dan pemiliknya. Setelah insiden pencegahan itu Yoongi memerintahkannya untuk diam di rumah dan tunggu hasilnya.
"Apa ahjussi sudah pulang?" gumam Jimin seraya membuka pintu kamarnya, melangkah menuruni tangga menuju ruang tengah yang terdengar begitu gaduh. Saat sampai, betapa terkejutnya ia melihat Yoongi tengah di tarik paksa menjauhi NamJoon oleh SeokJin.
Gumiho berusia ratusan tahun itu tampak berapi-api melihat NamJoon yang nampak kebingungan. Sang Maha Kuasa sudah keluar dari tubuhnya dan berefek NamJoon melupakan semua kata-kata misterius dan perbuatan-perbuatan ajaibnya. Dan yang membuat Yoongi emosi adalah, ia tidak sempat menghajar sekali saja ke wajah NamJoon.
"Dia! Apa kau tidak tahu? Itu dia! Dia yang membuat hidup kita seperti ini! Biarkan aku menghajarnya sekali saja!"
Jimin bingung, ia tidak mengerti kenapa Yoongi tiba-tiba ingin menghajar NamJoon. Ia putuskan untuk mendekat, menghampiri Yoongi yang masih berapi-api dan tidak bisa dipadamkan.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Ahjussi?" tanya Jimin bingung. Yoongi menoleh sebentar ke arah Jimin lalu ia kembali memandang NamJoon yang tampak berbinar melihat Jimin. Pria tinggi itu berlari menghampiri Jimin, berdiri di belakang pemuda mungil itu seolah menyembunyikan dirinya.
"Jimin-ah, tolong aku! Samchon ingin menghajarku, padahal malam ini aku tidak mabuk!" rengek NamJoon seraya menghentak kakinya. Sungguh sebenarnya itu tingkah yang imut tapi di mata Jimin sangat menjijikan.
"Kim NamJoon, lebih baik kau masuk ke kamarmu. Aku tidak bisa menahan karnivora ini" ucap SeokJin mengambil nafas sebanyak-banyaknya, sungguh nafasnya hampir putus menahan berontakan Yoongi. Tenaga rubah itu tidak bisa dianggap remeh.
"Palli!"
"NamJoon hyung, aku akan membantumu. Lebih baik hyung masuk ke kamar saja" ucap Jimin dengan senyum kecil nan manisnya. NamJoon mengangguk dengan senyum tak kalah tampan tapi wajahnya berubah menjadi takut karena Yoongi berteriak marah.
"YAAKK!"
Demi apa pun, keponakannya baru saja melempar gombalan tatapan murahan pada kekasihnya di depan matanya. Tolong di caps lock, DI DEPAN MATANYA! Siapa yang tidak panas melihat itu, belum lagi di tambah kalau NamJoon di jadikan perantara oleh Dia.
Jimin menoleh, menghela nafas melihat tingkah Yoongi yang makin aneh dan absurd. Tapi dirinya lebih aneh lagi karena bisa tahan hidup dengan dua makhluk berbeda jenis dan sulit akur tersebut.
"Tuan Vampire, aku akan mengurus ahjussi"
SeokJin bernafas lega, melepas cengkramannya dan seperti dugaan Yoongi bergerak cepat menaiki tangga namun Jimin dengan kekuataan seadanya kembali menarik mundur Yoongi kembali ke tempat asal.
"Ahjussi! Kau ini kenapa? Kenapa kau ingin menghajar NamJoon hyung?" tanya Jimin bingung. Yoongi membuang wajahnya, menyingkarkan tangan Jimin lalu menatap sekali lagi tangga menuju kamar NamJoon dengan bengis dan penuh emosi.
"Dia benar-benar membuatku kesal"
"Ahjussi!"
"Aku akan masuk ke kamarku"
SeokJin tiba-tiba saja bicara, pamit hendak pergi. Ia tidak mau melihat drama tengah malam antara Gumiho dan istrinya itu. hah? Yang benar saja ia harus menonton hal seperti itu di saat hubungannya dengan sang teman kencan tidak jelas.
Setelah SeokJin pergi, Yoongi dan Jimin kembali berpandangan. Pemuda dengan marga Park itu melipat lengannya di dada, tatapannya penuh curiga ke arah Yoongi yang langsung mati kutu. Ia tidak mau Jimin sampai tahu masalah NamJoon, sudah cukup Jimin mengetahui hal-hal aneh di hidupnya.
"Ahjussi berhutang penjelasan padaku"
"Aku harus masuk ke kamarku"
Jimin berdecak, menarik Yoongi dengan sadis kembali ke tempatnya. Pria tua namun tampan itu menghela nafas, menatap Jimin yang kembali dalam mode pengawasan.
"Mwo? Kau mau aku menjelaskan semuanya"
Jimin mengangguk, namun Yoongi menggeleng. Menangkup kedua pipi bulat Jimin, mengunyel-unyelnya seperti biasa. Oke, sekarang Jimin semakin yakin kalau Yoongi menyembunyikan sesuatu. Tidak biasanya Yoongi akan menggeluarkan jurus seperti ini jika dia tidak menyembunyikan sesuatu.
"Ahjussi!"
Jimin menyentak tangan Yoongi dengan kasar, ditambah sangat kuat lagi. Yoongi menelan senyumnya kembali, percuma mengalihkan perhatian seorang Park Jimin yang terkenal dengan otak pintarnya.
"Ahjussi, tidak mau memberitahu tidak apa-apa, lebih baik aku pergi jalan-jalan bersama Jungkook"
Mata Yoongi menyipit dengan tajam, menarik Jimin yang diam-diam tersenyum puas. Em, tapi ada yang aneh dengan dirinya. Tapi, peduli banget. Yang terpenting sekarang Yoongi terpancing oleh ucapannya barusan. Ia menoleh, dengan wajah dibuat pura-pura sebal.
"Kenapa kau tiba-tiba membawa kunyuk itu? apa dia mengganggumu lagi?"
"Kalau ahjussi tidak mau melihatku di ganggu Jungkook, harusnya ahjussi bicara jujur padaku!"
Yoongi menghela nafas, mengusap-usap kepala Jimin. Wajah itu masih terlihat sebal, bibirnya maju beberapa centi. Ia benar-benar kesal, sekarang.
"Aku tidak mau membebanimu dengan masalahku, kau tidak boleh banyak fikiran kau tahu?"
"Tap-"
Yoongi menggeleng, menarik Jimin masuk ke dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggung mungil itu dengan sayang, mengecupi beberapa kali puncak kepala Jimin. Ia tidak bisa memberitahu Jimin kalau tubuh NamJoon pernah digunakan oleh Dia. Ini harus menjadi rahasia, manusia biasa tidak boleh mengetahuinya.
Ini akan menjadi rahasia antara dirinya, nyamuk itu dan Dia sendiri.
"Benarkah? Tapi ahjussi tidak menyembunyikan sesuatu yang besar, kan? Ahjussi sudah tidak marah lagi kan? Kau sangat menakutkan tadi" ucap Jimin seraya membalas pelukan Yoongi dengan sangat erat. Seperti anak kecil yang tidak mau berpisah dari pelukan ibu dan ayahnya.
"Aku baik-baik saja, sungguh"
"Syukurlah"
Yoongi tersenyum, menatapi pintu kamar lain di dekat tangga. Kamar itu milik si nyamuk, pasti dia semakin bingung dengan situasi mengejutkan yang dibuat oleh yang di atas. Kenapa Dia begitu menyulitkan makhluk seperti Yoong dan SeokJin?
Apa Dia belum cukup menghukum dirinya hidup abadi dengan panah-panah menyakitkan itu dan SeokJin sebagai makhluk penghisap darah.
…
…
…
Seperti dugaan Yoongi, SeokJin termenung di meja kerjanya yang penuh dengarn berbagai macam kertas kuning berisikan daftar-daftar orang yang pernah ia ajak dan bertumpuk-tumpuk kertas baru daftar calon buruannya. Pekerjaannya begitu menumpuk, tapi kehidupan manusia di sekelilingnya makin memperparah beban di pundaknya.
"Yak!"
SeokJin memejamkan matanya, kesal karena Yoongi lagi-lagi mengganggu waktu sendirinya. Bahkan dia muncul dari dinding di samping meja kerjanya. Ia menarik nafas, menghembuskannya lalu menatap Yoongi yang masih memandangnya penasaran.
"Apa kau yakin jika V adalah renkarnasi adikku"
"Aku melihat wajah mereka begitu sama, kisah yang kau ceritakan dan yang ada di masa lalu V sama persis. Apa lagi yang mau kau tahu?"
"Kau tidak berusaha melihatnya lagi?"
Sekarang SeokJin benar-benar merasa panas. Apa Yoongi secara tidak langsung memerintahkannya menyentuh Taehyung? Bisa-bisa ia dihajar oleh Taehyung karena berlaku tidak sopan seperti itu. kedua matanya terpejam, mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Tidak, kau pikir dia pemuda murahan yang mau saja di sentuh tangannya oleh teman kencannya?"
"Aku hanya bertanya, bukan memerintahkanmu untuk melakukannya" balas Yoongi dengan nada menyebalkan. Pria tua itu ikut menghela nafas, menyenderkan tubuhnya pada dinding, pandanganya berubah sendu mengingat penolakan Taehyung.
Wajar jika Taehyung menolaknya, mengatai dirinya gila, semua itu wajar karena Taehyung tidak mungkin mengingat masa lalunya. Hal yang mustahil bagi seorang renkarnasi dapat melihat kehidupan sebelumnya. Semua itu sudah di atur oleh Dia, sebagai makhluk di bawahnya kita hanya bisa menurut dan mengangguk.
"Baginya masa lalu, hanya masa lalu. Terlebih dia tidak mengingat apa pun"
"V tidak mungkin mengingatnya karena dia bukan Chohee, tapi V"
Yoongi mengangguk, ada seberkas penyesalan di benaknya. Mengingat masa lalu sama saja dengan menyesali, bukan hanya Yoongi. Manusia jika mengingat masa lalu nya maka sebenarnya dia sedang menyesali perbuataannya terdahulu. Hukuman paling menyakitkan bagi Yoongi, bukan saat dirinya tertancap anak panah atau pedang.
Melainkan hukumannya saat ini, ia terus mengingat masa lalunya, menyesali apa yang sudah terjadi dan terus menyesalinya. Penyesalan diibaratkan seperti cet yang tumpah di sebuah kain, akan terus menyebar dan meresap di kain yang ditumpahi. Begitu juga dengan Yoongi saat ini. ia begitu menyesal atas perbuataannya di masa lalu.
"Andai saja aku memiliki waktu yang lebih aku pasti akan lebih memilih bersama Chohee. Aku menyesal karena tidak memiliki waktu yang banyak dengan adikku"
SeokJin menoleh, menemukan pria berwajah Gumiho itu frustasi, lebih tepatnya menyesal. Meskipun SeokJin tidak tahu banyak tapi paling tidak ia bisa melihatnya, betapa menderitanya Yoongi saat ini. menemukan renkarnasi adik tersayangnya tapi adiknya tersebut tidak mengingatnya sama sekali.
Sama seperti dirinya. Ia tidak mengingat apa pun, padahal dia tidak hidup atau mati. Ia bukan manusia apalagi hewan. Hidupnya jauh lebih menyedihkan ternyata.
"Dia memang tidak mengingatmu, kehidupanmu dan dia berbeda. Dia bukan Chohee adikku yang cantik, lembut dan sopan, tapi pemuda cantik namun culas bermulut tajam bernama V"
"Yak!"
SeokJin tidak terima. Taehyung tidak seburuk itu, ia akui Taehyung memang memiliki mulut yang ceplas ceplos tapi dia pemuda yang baik. Taehyung tidak seburuk yang di pikirkan Yoongi, apa Yoongi masih tidak ikhlas mengeluarkan uangnya untuk hanwoo waktu itu? dasar pelit!
"Kenapa kau mengatai V seperti itu? V tidak memiliki sifat seburuk itu, kau cepat sekali berubah sifat. Pertama kau sangat terharu melihat V sampai-sampai memanggilnya Chohee, sekarang? Kau mengatainya culas"
"Kenapa kau yang sewot?"
SeokJin tersadar, ia segera menutup mulutnya. Oke, sepertinya Yoongi mulai curiga karena dirinya kelewat membela Taehyung. Bibirnya ia gigit, memalingkan wajah guna mengumpat halus dan membodohi dirinya sendiri. Begitu-begitu juga, jauh di dalam hati Yoongi menganggap V adalah Chohee. Lebih parahnya, dia tipe kakak yang posesif.
"Apa kau membelanya? Padahal waktu itu kau bilang vampire tidak boleh jatuh cinta dan berkencan pada manusia, tapi kau melakukannya pada adikku"
Benar kan. SeokJin menghela nafas, "Yak! Deng-"
"Kau yang harusnya mendengarkan perkataan kakaknya!" potong Yoongi dengan suara tinggi dan keras. Matanya menyalang, menatap tajam SeokJin yang sedang mengangguk mengiyakan.
"Beraninya vampire sepertimu mendekati adikku, kau tidak sadar melakukan tindak kriminal terlebih manusia yang kau kencani itu renkarnasi dari adik Gumiho di depanmu ini. Berani sekali!" omel Yoongi dengan cebikan bibir pedas. SeokJin berdehem, memasang wajah tidak bersalah, menjetikkan jarinya seolah memerintahkan Yoongi diam karena ia mendapat sebuah ide.
"Aku setuju dengan kata-katamu sebelumnya, masa lalu hanya masa lalu. V dan Chohee bukan orang yang sama, mereka juga hidup di jaman yang berbeda. Aku setuju denganmu untuk hal ini"
"Lupakan pikiranmu untuk menjadi pacar adikku! Sebelum aku mati kau tidak akan pernah menjadi bagian dari hidup adikku. Kalau saja di sini ada bawang aku akan melemparkannya padamu!"
Setelah mengomel panjang lebar Yoongi pergi seenak jidatnya, melewati dinding. Meninggalkan SeokJin yang ikut kesal, kenapa Yoongi tiba-tiba begitu. Padahal Taehyung sama sekali tidak mengakuinya, sungguh melo drama sekali si karnivora. Semenjak pacaran dia jadi melo drama, menjijikan.
Ia seperti seorang aktro di drama yang sering ia tonton. Ia adalah pria yang tidak disetujui pacaran oleh lawan mainnya. Astaga, ia lebih melo drama jika memikirkan semua ini mirip drama.
"Benar juga, sudah lama aku tidak nonton drama. Aku harus nonton besok" tekadnya sebelum kembali bekerja dan mengingat di episode berapa ia terakhir menonton.
…
…
…
…
…
Hari ini adalah hari pelepas murid SMA Dojoon. Seluruh murid yang dinyatakan lulus dan masuk perguruan tinggi terbaik hadir bersama orangtua dan kekasih. Mungkin beberapa murid ada yang membawa kekasihnya, tapi yang pasti seluruh murid membawa orangtua mereka kecuali Jimin. Pemuda mungil itu tersenyum miris, menatapi seluruh teman-temannya yang tersenyum bahagia bersama orangtua mereka.
Orangtua, ia teringat ibunya. Ibunya yang sudah pergi sangat lama meninggalkan dirinya, sendirian di dunia yang jahat dank eras ini. bertahun-tahun ia mengalami penyiksaan baik fisik mau pun mental, ia tidak menyalahkan ibunya yang pergi meninggalkannya. Ia tidak menyalahkan siapa pun, malahan ia bersyukur.
Karena penyiksaan dan rasa sakit itu ia bertemu kebahagian yang sudah ia nanti. Kebahagiannya, memiliki senyum yang tampan, kadang dia memang pelit dan menjengkelkan, menyembunyikan segala sesuatunya sendiri. Tapi, dia adalah sumber kebahagiannya, ia tidak sanggup membayangkan hidupnya tanpa dia.
"Eomma…"
Jimin memanggil ibunya dengan pelan. Menatap langit siang ini begitu cerah, tidak terlalu panas, tidak juga terlalu dingin. Suasana yang sungguh sangat menyenangkan, ibunya pasti sedang bahagia, tersenyum bangga melihat Jimin.
Ia tidak berkata apa-apa lagi, melambaikan tangan lalu menatap lurus ke depan. Di sana, dengan jarak yang lumayan jauh ia bisa melihat dia. Tersenyum lebar, seraya melambaikan tangannya pada Jimin.
"Ah-"
Lalu ia tersadar sesuatu, niatnya untuk balas menyapa dia-Yoongi urung ia lakukan. Dengan terburu-buru ia masuk ke dalam gedung sekolahnya seraya menutupi kepalanya.
Tatapan penuh tanya langsung menyerang kepala gumiho berusia ratuhan tersebut. Ada apa dengan Jimin? Kenapa dia begitu panic dan tiba-tiba saja berlari ke gedung sekolah? Padahal tadi paras pemuda imut itu nampak bahagia melihat Yoongi.
"Kenapa dia?" gumam Yoongi seraya membentuk posisi berpikir. NamJoon yang ikut bersamanya berdecak sebal melihat kelakukan bodoh Yoongi yang kumat di saat seperti ini.
"Ini pelepasan murid-murid, apa samchon tidak berniat memberikannya bunga? Aku saja membawa bunga untuk Jimin" ucap NamJoon seraya mengeluarkan bunga yang ia bawa, sebenarnya bukan untuk Jimin. Untuk orang yang menarik perhatiannya nanti, bisa murid itu sendiri atau saudaranya. Tidak masalah darimana asalkan mereka menarik mata NamJoon, maka dia akan segera menangkapnya.
"Sifat pelit samchon harus segera dibuang karena itu sangat mengganggu"
Yoongi menoleh, matanya menatap tajam tepat di wajah NamJoon yang sedang nyengir tanpa dosa. Bahkan dia berkata seperti itu di depan umum, merasa di tatap mematikan oleh Yoongi NamJoon langsung nengir lebar seraya membuat tanda peace.
"Mian, aku akan mengganti kata pelit dengan tidak membuang uang atau hemat, at-"
"atau tutup mulutmu"
NamJoon menurut, menutup mulut perusuhnya. "Aku kan hanya bicara" gumam NamJoon lalu berjalan pergi meninggalkan Yoongi yang nampak berpikir keras. Meskipun penyampaiannya salah, tapi yang dikatakan NamJoon benar.
Ia harusnya membawa bunga.
"Aku akan mencari bunga untukmu"
…
…
"Kau benar-benar imut dengan warna rambut mu ini"
Jimin tersenyum lebar, menatap penampilan dirinya sekali lagi di depan cermin. semalam ia sengaja tidak keluar dari kamar karena mempersiapkan ini. ia merubah warna rambutnya untuk pertama kalinya dan warna yang ia pilih adalah soft pink.
"Gomawo, kapan kita akan tampil?" tanya Jimin seraya memakai beberapa aksesoris tamabahan. Youngjae melirik jam tangannya lalu memberi tanda sepuluh jarinya, Jimin mengangguk paham. Kembali larut memoles wajahnya sendiri, sampai-sampai ia tidak sadar jika Youngjae beranjak pergi keluar.
Meninggalkan Jimin bersama seekor burung, entah darimana burung itu. atensi Jimin langsung tertuju pada burung itu. burung dengan warna sangat gelap, terlihat sangat aneh dan menarik perhatian karena aura yang dikeluarkan si burung tidak bersahabat sama sekali. Bahkan dia tidak bicara sama sekali pada Jimin.
"Apa kau tersesat?" tanya Jimin seraya meninggalkan meja riasnya, menghampiri burung gelap itu yang bertengger di atas fentilasi. "Aku akan menunjukkan jalan untukmu" ucap Jimin ramah, menggapai burung itu dengan mudahnya lalu menerbangkannya keluar lewat jendela.
"Burung yang aneh"
…
…
…
NamJoon benar-benar melancarkan modusnya dengan sangat baik. Bahkan ia bisa langsung duduk bersama seseorang yang pernah ia temui bersama SeokJin dulu. Sahabat teman kencan SeokJin. Sementara SeokJin, dia benar-benar nelangsa. Duduk dengan hati-hati agar ia tidak menyentuh kulit manusia yang lewat di samping kanan dan kirinya. Oh, satu lagi SeokJin tidak mau duduk di samping NamJoon, alasannya karena ia tidak mau jadi obat nyamuk.
"Samchon akan lebih menarik perhatian jika tidak duduk, Yoongi samchon akan segera kembali" saran NamJoon lalu kembali fokus pada Hoseok yang tengah bermain-main pada tangan kekarnya. SeokJin menggeram marah, dengan ogah-ogahan ia duduk di samping, menyisakan tempat untuk si karnivora duduk.
Tidak lama setelah SeokJin duduk, acara dimulai dengan penampilan murid-murid yang berprestasi di bidang tari. Di sana juga ada Jungkook, trouble maker yang membuat seluruh pemuda dan gadis berteriak kegirangan. Dia menari begitu enerjik sampai pada satu scene saat solo, Jungkook kehilangan fokusnya.
Dia seperti terkejut, takut dan tidak percaya. Tapi dia tetap menari sampai tariannya selesai dan SeokJin menangkap semua kejadian tadi. ada sesuatu yang aneh dengan bocah itu, dia seperti melihat arwah saja.
"Aneh sekali bocah itu"
…
Di back stage, Jungkook langsung ambruk di tempat. Memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit, ia tidak tahu dirinya tadi berhalusinasi atau tidak. Tapi ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang tercipta dari otaknya tapi ia tidak yakin itu dari otaknya.
Gambaran itu seperti memori, memori aneh yang entah darimana asalnya. Memori yang begitu mengerikan, di sana ada seorang pria. Mengenakan pakaian jaman dulu, tengah berdiskui dengan seorang wanita. Lalu memori itu berubah menjadi dirinya, dirinya saat dalam mode membully. Di sampingnya, ia bisa melihat dengan jelas pria berpakaian jaman dulu itu bersama wanita asing itu di samping kanan dan kirinya.
Mereka seperti menghasutnya, mereka layaknya seorang iblis. Dadanya terasa begitu sakit hingga sesak itu mengambil seluruh fokusnya di atas panggung, bahkan sekarang pun ia tidak bisa menghirup udara dengan baik.
"Kenapa denganku?"
Jungkook berusaha bangkit, mengambil air tapi karena pergerakan kecil itu ia kembali kehilangan fokus dan nafasnya. Tubuhnya ambruk, kepalanya berputar-putar, matanya pun kehilangan fokus hingga ia tidak melihat apa pun kecuali gelap.
"Jungkook! Jeon Jungkook!"
Jieun paling panik. Dia langsung berlutut di samping Jungkook mengguncang-guncang tubuh Jungkook yang berkeringat dingin dan basah. Ada apa? apa yang terjadi pada Jungkooknya?
…
…
"Aku seperti mendengar ribut-ribut" gumam Jimin seraya melirik lorong panggung sebelah kiri, tempat pintu keluar panggung. Apa di sana sedang sibuk mengurusi keperluan penampil lain? Mereka ribut sekali, ia hampir saja melangkah mendekat jika saja Youngjae tidak mencegahnya.
"Tiga menit lagi, biarkan saja ribut-ribut itu"
Jimin mengangguk, melirik ke samping kirinya untuk terakhir kalinya sebelum naik ke atas panggung. Sesampainya di panggung yang gelap, ia berdiri kaku di tengah-tengah. Matanya menelusuri setiap sudut panggung, ia menarik nafas panjang sebelum mendekatkan mic di bibirnya bersamaan dengan lampu sorot menyorotinya.
Semua terkejut. Mereka pikir yang akan menyanyi adalah Youngjae tapi ini, si aneh dan terkutuk yang ada di atas panggung. Mengenakan baju serba merah dan rambut berwarna soft pink. Beberapa ada yang terkesima dengan perubahan wajah Jimin. Jika biasanya mereka hanya melihat Jimin yang menderita, entah kenapa sekarang Jimin lebih terlihat bahagia?
"Aku yakin kalian pasti terkejut melihat orang yang selalu di bully, di ejek, berani berdiri di sini. Memegang mic dan bicara banyak hal di depan kalian"
Taehyung tersenyum mendengar perkataan Jimin. Entah kenapa ia senang, puas melihat Jimin bisa membalas perbuataan tidak menyenangkan yang di berikan oleh murid lain. Setidaknya Jimin tidak akan bernasib menyedihkan seperti ini.
"Dia sudah besar" gumam Taehyung lalu mengederkan pandangannya, mencari seseorang yang sudah membuat Jimin kuat dan terlihat bahagia. Tapi ia tidak menemukannya, malahan ia beradu pandang dengan seseorang. Mereka berpandangan cukup lama, orang itu-SeokJin nampak terkejut lalu segera memalingkan wajahnya. Dan Taehyung berakhir dengan menghela nafas lelah.
"Sebelum aku menyanyikan ini, aku harap kalian tidak melihat lintasan waktu sekarang yang tidak sesuai dengan lagu ini. mungkin lagu ini akan membuat kalian mengantuk, tapi jika kalian mengantuk mendengarnya berarti kalian akan selalu mengantuk. Karena lagu ini adalah kisah kalian sendiri"
Semua orang terdiam, tidak mengerti dengan permainan kata yang dilakukan Jimin. Pemuda mungil itu menarik nafas, mengarahkan micnya tepat di depan bibirnya.
Ireun achim jageun saedeul noraessori deullyeoomyeon
Saat aku mendengar nyanyian burung di pagi hari
Eonjena geuraessdeut aswipge jameul kkaenda
Aku terbangun dari tidur nyenyak ku
Changmun hana haessal gadeuk nunbusige bichyeoogo
Sinar mentari menerangi jendela
Seoneulhan naenggie jaechaegihalkka malkka
Aku bernafas di udara dingin yang sejuk ini
Nun bibimyeo ppaekkomhi changbakkeul naedaboni
Aku kucek mataku dan melihat ke luar jendela
Samsamoo aideureun jaejaldaemyeo hakgyo gago
Anak-anak berangat sekolah bersama-sama
Sanchaek gassda osineun abeojiui yangsoneneun
Diantar ayah sambil memegang kedua tangannya
Hyogwareul al su eopsneun yaksuga hana gadeuk
Air minum dicampur dengan sesuatu
Beberapa murid tersenyum mendengar suara lembut yang terkesan imut yang dikeluarkan Jimin. Beberapa murid bahkan mulai memegang kedua tangan ayahnya. Mereka teringat saat masih kecil, tangan kasar itu menggenggam tangan mungil mereka. Mengantar mereka ke sekolah, memberikan senyum hangat dan tepukan halus.
Jimin memberikan jeda beberapa detik sebelum permainan gitar Youngjae masuk dan dilanjut dengan lirik yang mengisahkan seorang ibu yang memasak sarapan, membangunkan anaknya yang malas. Dan yang ada di pikiran Jimin saat itu adalah…
Ibunya.
Ibunya membangunkan dirinya dari tidur pagi, memasak sarapan untuknya, lalu ayahnya yang mengantarnya ke sekolah.
Semua memori itu layaknya sebuah film yang menyenangkan di kepala Jimin.
Ttalgakttalgak achim jisneun eomeoniui bunjuhamgwa
Ibu bergegas membuat sarapan
Eonggeumeonggeum naengsu chajneun geu adeurui geeureumi
Sambil membawa air dingin, anak yang malas
Sangkeumhago kkaekkeushan achimui hyanggiwa
Aroma pagi yang menyegarkan
Gusuhage bap tteumdeuneun naemsaega eoureojin
Aroma nasi yang di nanak
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran gippeumiya
Pagi di musim gugur sangat menyenangkan bagiku
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran haengbogiya
Pagi di musim gugur adalah kebahagiaan bagiku
Eungseokman buryeossdeon naegen
Bagiku, yang selalu dimanja
Paran haneul barabomyeo keodaran sumeul swini
Aku menarik napas dalam-dalam saat menatap langit biru
Deunopeun haneulcheoreom nae maeum pyeonhaejine
Aku merasa melayang di langit, sangat nyaman
Teong bin haneul eonje wassna gochujamjari hanaga
Kapan datangnya langit biru ini? Seekor capung merah melintas
Jam deol kkaen deut eongseonghi dolgiman biingbiing
Aku tak kuasa ingin tidur lagi
Pandangannya berkeliling menatap reaski orang-orang. Jimin melihat beberapa orang menunduk, memeluk ibu dan ayahnya. Mereka hidup dalam keberuntungan karena bisa memiliki orangtua lengkap, fisik yang sehat dan tidak memikul takdir menyedihkan.
Tidak seperti dirinya.
Todaktodak ppallaehaneun eomeoniui bunjuhamgwa
Ibu yang sibuk bergegas mencuci pakaian
Donggidonggi gita chineun geu adeurui hangahami
Di waktu senggang sang anak
Simsimhamyeon chyeodaeneun gwaejongsigye jongsoriwa
Aku akan melihat ayunan lonceng jika aku bosan
Sikkeureoun jokadeurui ureumsori eoureojin
Yang bunyinya bercampur dengan tangisan keponakanku
Tanpa orang sadari mata Jimin menelusuri setiap sudut auditorium mencari seseorang. Seseorang itu adalah Yoongi. Tapi dimana dia? Kemana Yoongi tidak terlihat, padahal ia tadi menghindar karena ingin menyembunyikan warna rambutnya. Tapi sekarang Yoongi benar-benar pergi dan tidak terlihat sama sekali.
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran gippeumiya
Pagi di musim gugur sangat menyenangkan bagiku
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran haengbogiya
Pagi di musim gugur adalah kebahagiaan bagiku
Eungseokman buryeossdeon naegen
Bagiku, yang selalu dimanja
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran gippeumiya
Pagi di musim gugur sangat menyenangkan bagiku
Gaeul achim naegen jeongmal keodaran haengbogiya
Pagi di musim gugur adalah kebahagiaan bagiku
Tteungureum jjoccassdeon naegen
Aku kejar awan di langit
"Aku melihatmu"
Yoongi sebenarnya sudah datang, sejak awal Jimin tampil malah. Namun ia memilih menyembunyikan dirinya di dekat pintu masuk. Pria tampan itu berdiri, mendengarkan dengan senyum penampilan suara merdu Jimin yang menggema di setiap sudut audotirium.
Ireun achim jageun saedeul noraessori deullyeoomyeon
Saat aku mendengar nyanyian burung di pagi hari
Eonjena geuraessdeut aswipge jameul kkaenda
Aku terbangun dari tidur nyenyak ku
Changmun hana haessal gadeuk nunbusige bichyeoogo
Sinar mentari menerangi jendela
Seoneulhan naenggie jaechaegihalkka malkka
Aku bernafas di udara dingin yang sejuk ini
Jimin tersenyum, membungkuk bersama Youngjae sebagai ucapan terimakasih. Senyum lebar menghiasi wajahnya ketika melihat Yoongi ikut bertepuk tangan untuknya, bahkan terbilang sangat heboh. Jimin tertawa melihatnya, meskipun sedikit memalukan tapi Jimin menyukainya.
Namun, saat Yoongi hendak maju melangkah ke atas panggung memberikan bunganya. Seseorang tiba-tiba saja berjalan mendahului Yoongi. Seorang wanita berpakaian serba merah, membawa sebuket bunga berwarna putih dan ungu.
Semua orang menatap wanita itu dengan pandangan kagum, terutama karena wajah yang di miliki wanita itu begitu bersinar. Sangat cantik, meneduhkan meskipun warna yang dipilih si wanita begitu melambangkan ketegasan. Semua atensi langsung tertuju pada Jimin, orang yang dihampiri wanita itu adalah Jimin.
Wanita cantik dengan bibir sewarna darah itu tersenyum, posisi berdirinya menghadap Jimin sehingga para penonton tidak dapat melihat ekspresi bingung dan penuh tanda tanya Jimin. Pemuda mungil itu benar-benar tidak mengenal wanita ini.
"Kau sudah besar, suaramu indah sekali" puji si wanita berbaju merah-Taemin seraya membawa tubuh Jimin dalam pelukan hangat. Saat itu juga Jimin terpaku, ia merasa pernah mendapat pelukan dan tepukan hangat seperti ini. Ia seperti merasakan ibunya ada di sini, ibunya yang tengah memeluk Jimin sekarang. Tapi ia sadar bahwa wanita ini bukan ibunya, tapi kenapa dia memeluk Jimin seerat ini?
"Siapa kau? apa kau mengenalku?" tanya Jimin masih dengan mata bingung, ia melirik Youngjae yang ada di sampingnya. Sahabatnya itu hanya diam, matanya seolah terhipnotis oleh kecantikan Taemin. Tidak hanya Youngjae, seluruh pasang mata di auditorium terkesima hingga tidak bisa mengedipkan matanya barang satu menit saja.
"Ibumu sangat bahagia mendengar suara indahmu, kau membuat ibumu tersenyum dengan suaramu tadi"
"Apa kau mengenal ibuku? Kenapa kau memelukku?"
Taemin tersenyum kecil, mengusap kepala berhiaskan rambut berwarna soft pink tersebut lalu beralih pada sisi sebelah kanan wajah Jimin. Menyelipkan beberapa helai rambut Jimin di telinganya. Semua sentuhan itu benar-benar membuat Jimin nyaman meskipun ia tidak pernah mengenal wanita di depannya ini.
"Karena kau cantik, kau dan ibumu sama cantik dan bersuara indah. Aku bahagia saat menciptakan kalian. Anakku yang cantik"
"Anakku yang cantik"
Jimin tersenyum melihat nenek di samping rumahnya memberikannya sebuah kotak berisi kue yang masih hangat. Ibunya-Jongin tersenyum melihat Jimin begitu bahagia menerima kotak kue itu. sang nenek balas tersenyum, mengusap kepala Jimin, sisi wajah sebelah kanan dan terakhir menyelipkan beberapa helai rambutnya di telinga bagian belakang.
"Aku bahagia melihatmu tumbuh secantik ini"
"Aku bahagia melihatmu tumbuh secantik ini"
Wanita ini. Jimin mengingatnya, ia tidak tahu apa benar atau salah ingatannya waktu itu saat dirinya di rawat di rumah sakit. Semua lukanya hilang ketika ia bermimpi wanita berbaju merah mengusap kepalanya. Wanita itu dan nenek di samping rumahnya dulu adalah wanita yang sama dan sekarang berada di depannya?
"Hael-"
"Ssst!"
Taemin memperingati agar Jimin tetap diam lalu ia tersenyum semakin lebar dan cantik. "Aku akan selalu memberkati hidupmu, anakku yang cantik" Taemin berujar dengan suara lembut, menyerahkan buket bunga yang ia bawa untuk Jimin. Pemuda mungil itu masih tidak berkata-kata, ia hanya diam dengan mata berair. Perlahan kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah bergantian, menghasilkan suara tawa kecil dari Taemin.
Saat turun dari panggung, perlahan-lahan fokus semua orang mulai kembali. Mereka sekarang beralih menatap Taemin yang menghampiri Boa yang duduk di samping para wali murid yang sering menyumbangkan donasi untuk sekolah.
Boa terkejut, ia masih tidak percaya kalau murid yang selalu ia pandang sebelah mata memiliki saudara yang jauh dari ekspetasinya. Raut wajah Taemin berubah menjadi menyeramkan, matanya memandang Boa penuh kebencian dan ketidak sukaan.
"Kau!"
Boa terkejut. Senyumnya menghilang mendengar Taemin membentaknya, meskipun tidak kasar tapi tetap saja bentakan tetaplah sebuah bentakan.
"Apa kau selama ini merasa tidak memiliki kesalahan? Apa kau sadar jika tempat duduk yang kau pilih adalah sebuah kesalahan? Apa kau pikir dengan kau duduk di sini kau sudah menjadi guru yang sesungguhnya?"
Boa tertegun. Matanya berair, menangis tanpa sebab. Saat itu juga kepala Boa serasa di pukul, bukan rasa sakit yang ia rasa tapi rasa bersalah. Wajahnya pucat, kepalanya seperti pemutar film untuk memutar film yang berisi seluruh kesalahannya. Air matanya semakin mengalir, bibirnya tidak bisa digunakan untuk menjawab apa pun selain menangis meraung-raung.
"Sonsaengnim…"
"Pikirkan pertanyaanku dan temukan jawabannya, keputusan terakhir ada di tanganmu sendiri"
Setelah mengucapkan kalimat tadi, Taemin melangkah pergi. Meninggalkan Boa yang langsung tersadar meskipun air matanya masih mengalir deras. Ia membungkuk sebelum berlari keluar melewati pintu yang Taemin gunakan untuk keluar sekaligus tempat Yoongi melihat semua itu.
Yoongi menghela nafas, "Dia itu memang seenaknya saja" gumam Yoongi seraya melirik ke belakang. Dewi kelahiran memang seperti itu, wanita tidak akan pernah salah.
…
…
Wajah Jimin benar-benar bercahaya sekarang, gurat-gurat sedih dan merindukan ibunya sudah tidak ada. Ia seperti melihat ibunya tadi, ibunya datang lewat wanita tadi. Senyum lebar tercetak setiap detik dari bibir pinknya, menatapi bunga pemberian Taemin. Ia masih mengingat jelas wajah wanita itu, meskipun keriput membuat mereka terlihat berbeda tapi aura yang dikeluarkan sama persisi. Hangat, seperti susu dan roti hangat yang di buat oleh ibunya setiap pagi.
"Jimin-ah, siapa wanita itu? dia benar-benar cantik, apa dia saudaramu?" tanya Youngjae masih penasaran dan terkesima dengan kecantikan yang Taemin miliki.
"Dia seseorang yang mengenalku dengan baik, dia wanita yang hangat" Jimin berujar seraya memeluk buket bunga itu makin erat. Youngjae ikut tersenyum, ia bahagia melihat Jimin tersenyum sangat lebar hari ini. tiga tahun lamanya ia melihat dari jauh bagaimana tersiksanya Jimin di sekolah ini, dan untuk pertama kalinya Jimin tersenyum sangat lebar di depan semua orang.
Senyum yang sangat cantik.
"Ada seseorang lagi yang ingin bertemu denganmu"
Jimin mendongak, menatap bingung ke arah Youngjae yang tidak jadi membuka pintu ruang rias. Sahabatnya itu malah menatap ke ujung lorong, ia pun ikut menoleh dan menemukan Yoongi berdiri di sana. Dengan kedua tangan seperti menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Aku akan masuk lebih dulu" pamit Youngjae dengan senyum jahil yang sangat menyebalkan. Jimin mengangguk, berlari kecil ke arah Yoongi yang sejak awal memandangnya terus tersenyum.
"Ahjussi tadi melihatku tampil?" tanya Jimin masih dengan tangan memeluk bunga pemberian Taemin. Meskipun sedikit kesal karena ia bukan orang pertama yang memberi bunga pada Jimin, tapi paling tidak Yoongi tahu maksud bunga berwarna putih dan ungu itu.
"Aku bukan pertama yang memberimu bunga"
"Meskipun bukan yang pertama tapi ahjussi akan selalu menjadi yang pertama, kalian tidak akan pernah menjadi yang kedua tapi akan selalu menjadi pertama"
Yoongi benar-benar merasa ingin terbang. Tahu darimana Jimin menggombal seperti itu, pasti NamJoon. Bocah playboy cap teri itu pasti meracuni pikiran polos Jimin nya. Meskipun sedikit kesal tapi paling tidak Jimin tidak kecantol dari sekian puluh gombalan murahan NamJoon.
"Berikan bungaku"
"Kau itu agresif sekali. Aku butuh waktu memberikannya"
Jimin mempoutkan bibirnya. Tapi ia tidak bisa mendesak Yoongi, ia pasrah saja di suruh berdiri kaku di depan Yoongi lalu dengan perlahan Yoongi menunjukkan bunganya. Anehnya lagi, Yoongi tidak langsung memberikannya tapi malah memutar-mutarkan bunga itu di depan wajahnya.
"Ahjussi!"
"Kau masih sama"
Jimin mengernyit. Melihat Yoongi malah tersenyum lebar, matanya nampak berkaca-kaca tidak percaya. Oh, ayolah kenapa lagi? Kenapa dengan gumiho tua ini? karena kesal di putar-putari bunga itu, dengan paksa Jimin mengambil bunga itu dan memeluknya sama eratnya dengan bunga Taemin tadi.
"Aku belum selesai!"
"Ahjussi, tidak perlu melakukan itu. ahjussi tidak menaruh mantra apa pun di bunga ini kan?"
Yoongi menarik kedua lengan kurus Jimin, menghadapkan tubuh mungil itu di depannya. "Kau tahu kan aku bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang?"
Jimin mengangguk semangat hingga poni berwarna soft pink itu ikut naik dan turun. Astaga! Betapa menggemaskannya Jimin saat ini, bukannya terlihat aneh dengan rambut soft pink. Jimin malah semakin terlihat sangat imut dan manis. Dan jangan lupakan sweater merah kebesaran yang dikenakan Jimin, alangkah manisnya makhluk satu ini.
"Apa ahjussi melihat masa depanku? Apa di masa depan kita bisa menikah?"
"Kenapa pikiranmu menikah?"
"Kita ini pacaran pasti nanti akan memutuskan menikah. Apa ahjussi tidak mau menikah denganku?"
"Apa kau baru saja melamarku?"
"Anni, aku hanya bertanya? Kenapa ahjussi berpikir perkataanku itu melamar ahjussi?"
Yoongi menggeleng. Kenapa ia ikut-ikut berpikiran menikah? Ayolah fokus, ia harus memberi tahu ini pada Jimin. Memastikan pengheliataan masa lalunya masih berfungsi dengan baik. Saat Jimin bernyanyi tadi, ia merasa seperti pernah melihat hal itu terjadi.
Tepatnya tahun 1923, saat itu ia sedang minum bersama keuturunan terdahulu kakek NamJoon. Di sana ketika ia melihat penyanyi club bernyanyi, ia seperti melihat masa depan. Meskipun tidak jelas, tapi tadi tepat saat Jimin bernyanyi ia yakin betul bahwa pengheliatannya saat itu benar adanya. Ia sudah melihat Jimin sejak dulu.
Ia sudah tahu wajah Jimin bahkan sebelum Jimin lahir.
"Ahjussi?"
"Wajah kalian sama? Aku sudah melihatmu sejak dulu"
Tapi Jimin tetaplah seorang remaja labil yang tidak memiliki pikiran seluas Yoongi. Pemuda yang barus aja berusia legal tersebut malah berpikir bahwa dirinya sama dengan seseorang dari masa lalu Yoongi. Benar pikirannya selama ini, pasti dirinya bukan orang pertama yang dikencani Yoongi. Semua pria itu sama!
"Apa dia cantik?"
"Eoh, jauh lebih cantik saat kau melihatnya langsung"
"Dia hidup di jaman apa? Joseon? Goryeo? Atau pada masa colonial Jepang? Atau saat perang saudara? Jawab aku!"
Yoongi merutuki ucapannya. Pasti Jimin menyangka kalau yang ia bicarakan orang dari masa lalu padahal yang ia bicarakan Jimin. Ia menggeleng, mencoba meraih Jimin yang sudah mundur dengan wajah tidak bersahabat.
"Jimin-ah, dengarkan aku"
"Aku tidak mau mendengar apa pun dari ahjussi! Benar dugaanku, tidak mungkin aku adalah orang pertama yang membuatmu bergetar. Pasti kau sudah sering mengalami getaran aneh ini dulu, aish. Menyebalkan!"
Jimin berteriak di akhir katanya, berjalan pergi dengan kaki menghentak tapi Yoongi berhasil mencegahnya dan Jimin kembali menyentak tangan Yoongi. "Dengarkan aku!"
"Aku tidak mau!"
"Lalu kenapa kau menurut saja saat aku tahan?"
"Karena kau mencegahku!"
"Kau bisa mengelaknya!"
"Aku berhenti karena aku mau memberitahumu kalau aku akan mengambil tasku lebih dulu! Kau harus mengantarku pulang!"
Jimin kembali berteriak, kali ini ia berlari ke ruang riasnya. Ia tidak marah, sama sekali tidak marah, ia hanya berniat menggoda ahjussinya itu dan sepertinya berhasil. meskipun ia masih tidak terlalu maksud dengan kalimat Yoongi, tapi ia yakin ia adalah orang pertama yang membuat Yoongi bergetar dan layaknya orang gila.
Ia adalah orang pertama.
…
…
Jika di atas terjadi adegan opera sabun. Di bawah, tepatnya di dekat air mancur sekolah, SeokJin dan Taehyung berdiri berhadapan. Sama-sama membawa bunga untuk Jimin, bahkan mereka sama-sama ingin memberikan di waktu yang hampir sama.
Tidak ada yang bicara di antara mereka. Taehyung sibuk memandangi wajah yang begitu ia rindukan tersebut dalam diam, mengagumi bagaimana bisa Tuhan menciptakan sosok setampan ini. bagaimana bisa?
"Bagaimana kabarmu?"
Taehyung mengangkat alisnya mendengar SeokJin bertanya lebih dulu, memulai percakapan lebih dulu. Perkembangan yang bagus, hingga membuat senyum lebar dan kagum terpatri di bibirnya. Ia bahagia, mendengar SeokJin lebih dulu memulai obrolan.
"Baik, sangat baik. Terlebih kau memulai obrolan, aku menyukainya"
"Ghamshamanida"
Tapi SeokJin masih sama, kaku bahkan tadi dia mengucapkan terimakasih dengan membungkuk begitu dalam. Taehyung tertawa kecil, mengambil tiga langkah lebih dekat dengan SeokJin. Menarik nafas panjang lalu menyerahkan bunga yang tadi rencananya untuk Jimin, ia berikan pada SeokJin.
"Untukku? Bukan untuk Jimin?"
"Anni! Aku bukan memberikannya padamu, tapi menitipkannya untuk diberikan pada Jimin. Aku punya firasat kau akan mengajakku berkencan atau sekedar jalan hari ini"
SeokJin tertawa kecil. Oke, itu memang benar. Tapi bukan hari ini juga, ia memang ingin bertemu Taehyung dan mengajaknya minum kopi. Tidak ia sangka akan secepat ini.
"Apa saat berkencan atau jalan-jalan itu aku boleh menggenggam tanganmu?"
Taehyung terkejut, terkesip di tempat mendengar pertanyaan SeokJin. Ia tidak marah, ia tidak marah sama sekali. Ia hanya terkejut karena SeokJin semacam pria yang lumayan agresif. Berbeda saat mereka pertama kali bertemu, wajah kaku dan blank yang benar-benar terlihat tolol.
"Apa kau baru saja menggodaku?"
"Apa kau merasa tidak nyaman? Aku minta maaf untuk hal itu" ucap SeokJin sambil membungkuk dalam tapi Taehyung malah tertawa.
"Aku bahkan mengijinkanmu menggenggam tanganku, memelukku, dan mungkin lebih. Aku menunggumu melakukan itu lebih dulu" ucap Taehyung dengan kedua tangannya tersimpan di saku belakang celananya. Tersenyum bahagia melihat SeokJin memulai perkembangan yang mengarah kemajuan di dalam hubungan mereka.
"Jadi, kau mau pergi denganku? Kapan?"
"Hari ini!"
…
…
Jimin baru saja selesai membereskan barang-barangnya dan tentu dengan wajahnya. Youngjae sudah pulang sejak lima belas menit lalu karena dia harus menghadiri acara makan malam keluarganya. Meninggalkan Jimin seorang diri di ruang rias yang sepi sunyi, Yoongi ia suruh menunggu di bawah karena akan terlalu aneh bagi murid-murid lain melihat tatapan Yoongi.
Tatapan menusuk dan curiga pada setiap murid. Mungkin saja Yoongi masih kesal atas sikap mereka selama ini pada Jimin.
"Sudah selesai"
"Park Jimin?"
"Nde?"
Jimin menoleh ketika seseorang memanggilnya. Di sana, di ambang pintu yang terbuka lebar. Sepasang mata yang berkilat tajam menatap dirinya, ditambang suara high heels yang berpadu dengan lantai saling berpadu dengan suasana sunyi dan sedikit gelap di ruang riasnya.
Jimin tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat yang datang adalah Jungkook dan Jieun. Dua orang itu melangkah maju, memperlihatkan diri mereka lebih jelas pada Jimin yang membatu di tempat. Ia bukan seperti melihat Jungkook, terutama Jieun.
Kenapa bisa dalam beberapa menit warna rambut Jieun berubah menjadi cokelat dan mata itu. mata mereka benar-benar berbeda, Jimin bukan seperti melihat Jungkook dan Jieun.
"Selamat atas kelulusanmu dan penampilanmu tadi"
Jimin membeku, menatap bunga pemberian Jungkook. Bunga berwarna hitam. Meskipun masih ada sentuhan warna merah, tapi tetap saja bunga yang diberikan Jungkook dan Jieun cukup mengerikan. Tangannya sedikit gemetar menerima bunga dari Jungkook, matanya mengamati bunga hitam itu dalam diam.
"Apa ini dari V sonsaengnim?"
"Dari kami, apa kau tidak nyaman dengannya?" tanya Jieun balik. Jimin tidak menjawab, ia tersenyum kaku lalu sedikit membungkuk sebagai ucapan terimakasih. Paling tidak mereka tidak memberikan sesuatu yang aneh seperti bangkai atau boneka Annabelle.
"Kami rasa warna hitam dan merah cocok untukmu, sebab tubuhmu di mataku benar-benar berwarna gelap"
"Apa maksudmu, Jieun?"
Jieun menggeleng, mengibaskan tangannya sebagai tanda lupakan saja. Ia melirik Jungkook yang tidak henti-hentinya menatap Jimin dengan pandangan kagum. Jimin juga tidak tahu setan apa yang membuat Jungkook seperti itu.
Tubuhnya membeku di tempat, saat Jungkook maju melangkah ke depan. Lebih dekat ke arahnya, seraya menjulurkan tangan. Perasaan was-wasnya menghilang, ia tersenyum kecil dan menyambut uluran tangan tersebut dalam sebuah jabat tangan. Awalnya jabat tangan itu pelan, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah cengkraman.
"Selamat atas kelulusanmu"
Jimin tidak bisa bicara lagi, matanya terpaku pada kedua mata Jungkook. Ia tidak berhalusinasi, ia melihat seluruh bola mata Jungkook menggelap. Berubah warna menjadi hitam legam, begitu juga dengan Jieun yang sudah berdiri di samping Jungkook. Tubuhnya merespon dengan sebuah getaran, takut dan…
Asing.
Ia bisa melihat kalau Jungkook dan Jieun bukanlah dua orang yang ia kenal.
Bukan sosok pembully yang selalu membully nya.
Melainkan dua orang yang hendak menerkamnya, layaknya dua serigala berbulu gelap yang sudah mendapat mangsanya. Tapi dia tidak segera menerkam mangsanya, mereka menunggu.
Entah apa yang ditunggu, tapi hal itu yang membuat Jimin takut hingga tangannya yang masih di jabat Jungkook ikut bergetar. Ia takut bukan saat serigala menerkamnya, tapi takut dengan alasan yang membuat serigala itu menunggu untuk menerkam mangsanya.
Apa?
To Be Continue
Hai?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
UN SUDAH LEWAT! /TERIAKNGGAKJELAS/
Artinya aku comeback! Hahahaha! Aku akan lanjutin seluruh ff ku di WATTPAD. Aku terharu loh karena yang baca ff ini 1,2k /tebar bunga/
Kalo kalian tanya kenapa aku baru update padahal un udah selesai lama, pertama karena aku baru selesai nulis dan aku baru dibeliin kuota /aku nggak dikasih uang jajan karena nggak sekolah/ jadi aku baru update. Dan double update karena ini nyambung chapter 23-24.
/HISTERIS!/
Yang jelas aku udah selesai UN, tinggal nunggu beberapa urusan di sini dan aku berangkat ke Yogya segera. Aku juga punya rencana mau diet, kenapa? Kalian tahu nggak, tinggi ku itu 160/162 dan beratku sekarang 70 kg. Bisa bayangin semana beratnya aku? Bentukku? Karena itu aku mau diet, aku bela-belain download buku OCD dan mau jogging tiap pagi.
Biar nanti kalo di yogya aku nggak malu-maluin banget lah,
Soal ff ku di wattpadku, aku akan usahkan Gumiho Ahjussi Saranghaeyo ini tamat bulan ini, setelah itu aku akan rehat untuk lanjutin Gumiho /sok rehat loh/ karena aku mau lanjutin ff ku yang lain.
dan…
aku kobam! Aku kobam sama WANNA ONE! NCT! EXO CBX! SEMUANYA!
Aku pegang laptop, koneksi internet bagus, aku download tu semua utang-utang video ku dan aku kobam ngeliat mereka!
OH MY GOD!
Guanlin! Kenapa Guanlin bisa sesexy itu? aduh dedek ku, Guanlin, Daehwi, Woojin, Jinyoung, Jihoon, abang-abang terutama Jisung. OMG! Kenapa di situ dia bisa ganteng manly?
Kenapa kalian bisa kek gitu? Bagian screen time Guanlin, aku meleleh di tempat, teriak terus, rewind terus-terusan, sampe mamakku heran marah 'cah koyo ngono weh ganteng'
Astaga! Padahal kalo aku nonton EXO minta di ulang bagian Sehun, nonton SUJU minta diulang bagian Kyuhyun. Giliran WANNA ONE, NCT, di omongin gitu! Kenapa mak? Kenapa?! /histeris sendiri/ (abaikan)
Dan NCT! Akhirnya, my baby, honey sweaty, suamiku, Lucas Wong. Suaramu itu sexy banget sih! Kenapa ada manusia seganteng itu, Tuhan?! Terutama bagian rapp dia di NCT U Yestoday, OH SHIIITTT!
Meskipun bahasa korea belum lancar, tapi rapp bahasa inggris suamiku keren banget kok. Bahkan aku teriak-teriak di depan laptop "LAKI GUE! LAKI GUE NGERAPP!" astaga! Aku jadi orang gila, malem-malem. Gila acara KARMA, gila sama Lucas. /acara karmanya nggak nyambung/
Jisung, my adek ku yang imut yang lahir pas World Cup! Kenapa di black on black kamu bisa kek gitu, dek? Ya Allah! Tuhan! Dance mu itu keren abis! Taeyong, Jeno, Mark, Yuta dan TEEENNNN! Kalian semua keren!
Meskipun cinta pertamaku di SM rookies tetep Johnny, karena itu nggak tergantikan. Pokoknya di posisi hatiku itu ada abang Wookie bininya Yesung, abang Kai bininya Sehun ama Chanyeol, Johnny laki gue tapi suami sahnya Ten, Taeyong selingkuhannya Ten. Lucas anak Minho punya pacar Jeongwoo yang mirip ama Taemin, cabenya WANNA ONE si Daehwi pacarnya Samuel, Guanlin suaminya Jinyoung ama Jihoon terus jadi selingkuhannya Seonho, Jisung Starry Kids pacarnya Lee Know aka Minho /oke ini bahasa frontal/ *jangan di tiru guys!*
Oh, ya gara-gara baby don't stop, aku jadi suka liat interaksi Taeyong Ten! Ya ampun mereka sexy sekaligus cute, dan aku bahagia karena Ten nggak ikut wamil! Ya, ampun senengnya aku!
Oke, balik ke chap ini!
Gimana chap ini? semoga kalian suka, dan kenapa aku milih lagunya IU. Selain aku ngefans sama IU, fyi aku Cuma suka dua penyanyi wanita di korea. Hyuna sama IU, mereka benar-benar membuat aku tu terpana. Balik lagi, kenapa aku milih lagunya IU ini, karena liriknya pas aja gitu, artinya itu… meskipun kehidupan tahun 1990an tapi aku malah suka. Karena hal-hal seperti itu udah nggak dilakuin orang-orang dizaman sekarang.
Dan aku punya hal-hal klasik, bahkan aku tu selalu teriak atau bilang cowo itu keren kalo naik motor vespa atau motor tua-tua gitu. Tipe-tipe cowo di film UP, aku seneng cowo penyuka hal-hal klasik. /nggak nyambung/
Soooooo, aku pilih lagu itu.
/nggak nyambung/ bodo amat! /ditampol/
Oke, itu aja cuap-cuap aku! Semoga kalian puas dengan updatan ff ku ini! semoga bisa melepas rindu kalian! /nggak ada/ *pundung*
Intinya, aku mau berterimakasih sama yang vote, baca dan coment! I LOVE YOU ALL!
Akhir kata, aku ucapin…
SARANGHAE! *lovesignsmallmediumlarge*
