Departemen Vampire Kim
SeokJin tengah merapihkan beberapa dokumen terakhir sebelum ia berangkat kencan dengan Taehyung. Namun, jarinya tanpa sengaja menyentuh dokumen yang sudah terlihat usang miliknya. Ia menghela nafas melihat dokumen usang itu, dokumen yang sudah ia telantarkan tidak ia kerja-kerjakan karena sulit sekali mencari keberadaan korban.
Bukan! Mereka bukan korban lagi karena mereka sudah mati.
Mereka di sebut dengan roh haus darah. Iblis haus darah yang mencari tubuh renkarnasi mereka entah untuk tujuan apa. dan sebelum mereka menemukan tubuh renkarnasi mereka, tugas kaum vampire penghukum sepertinya adalah menangkap roh haus darah itu.
"Vampire Kim!"
SeokJin terperenjat, melayangkan dokumen usang itu ke kepala juniornya yang nyengir kuda. "Kau membuatku terkejut"
"Hehehe, aku sudah memanggilmu sejak tadi tapi kau terlalu fokus memandangi dokumen usang itu" ucap si junior-Hyungwon.
SeokJin menggelengkan kepalanya, menatapi dokumen usang itu lalu membukanya. Isinya hanya deretan huruf hanja tanpa sketsa wajah. "Mereka salah satu roh haus darah yang masuk dalam daftar pencarian. Sudah lama aku mendaftarkan nama mereka tapi, mereka tetap bisa kabur selama ratusan tahun ini. Aku tidak tahu lagi harus mencari informasi mereka dimana"
Hyungwon beroh ria. Mengambil alih dokumen itu, membacanya dengan seksama lalu membuka mulutnya terkejut. "Lebih dari delapan ratus tahun?! Daebak! Tapi kenapa bisa roh haus darah seperti itu berkeliaran lama sekali?" tanya Hyungwon tidak percaya.
SeokJin menggeleng, menutup dokumen itu lalu meletakannya pada lemari kerjanya. Ia menghela nafas lelah, "Aku ingin sekali menghisap darahnya meskipun aku harus muntah ratusan kali. Dia benar-benar roh haus darah yang tak kenal takut" ucap SeokJin dengan raut wajah kesal.
"Dia bahkan tidak takut saat vampire datang padanya, aku benar-benar ingin menghisapnya dan mengirim mereka ke tempat asal!"
Hyungwon mengangguk paham, "Memang. Kalau begitu aku permisi, aku hanya ingin menyampaikan dokumen baru ini dan kau di perintahkan untuk menyelesaikan dokumen roh haus darah itu"
SeokJin mengangguk seadanya. Dia sudah bosan di ingatkan akan hal itu. sejujurnya dimana mereka? Dimana roh sialan haus darah itu?
…
…
…
…
…
"Sadar Jungkook! Sadar!"
Jieun berteriak, mengguncang dan segala hal yang bisa ia lakukan untuk membuat Jungkook sadar. Sudah sekitar lima belas menit Jieun memberinya bantuan nafas dengan oksigen tapi Jungkook tetap tidak sadar, dan lebih sialnya ambulance yang di telfon terjebak macet.
Jieun kalap, ia beranjak ke meja rias guna mengambil air dan minyak. Ia harus membuat Jungkook sadar, apa pun caranya. Ia tidak mau, tidak kuat melihat Jungkook-orang yang dicintai-dalam keadaan seperti itu.
Ketika berbalik, ia terkejut setengah mati melihat seseorang tiba-tiba muncul. Berdiri membelakangi Jieun. Meskipun takut dan ragu ia melangkah maju, mengamati orang tidak kenal seperti ini bisa masuk padahal pintu dalam keadaan terkunci.
"Siapa kau? kenapa kau bisa masuk ke sini?"
Orang itu, orang berpakaian seperti pangeran dari kerajaan Goryeo tersebut menggerakan lehernya ke kanan dan kiri. Perlahan-lahan menoleh, menunjukan wajahnya yang berwarna biru menjurus kehitam dengan urat-urat wajah yang menonjol. Matanya, bola matanya berwarna hitam legam, bibirnya berwarna putih seperti busuk.
Dia tidak bicara, dia hanya menatap Jieun dengan pandangan tidak suka lalu berubah menjadi sebuah tatapan licik. Bibir itu terangkat, memberikan sebuah senyum licik ketika seekor burung hitam legam terbang dan mendarat di depan Jieun.
Burung itu menggerak-gerakkan kepalanya, mata kecil burung itu berwarna putih. Tubuhnya yang berwarna hitam mulai menyatu dengan lantai dan berubah menjadi asap. Asap itu membentuk tubuh manusia, tepatnya seorang wanita. Dimulai dari ujung kaki berbalut sepatu zaman Goryeo, hanbok kerajaan berwarna putih, emas, merah dan hitam, serta rambutnya yang di tata bak ibu suri di dalam drama.
Jieun takut, tubuhnya bergetar. Kedua tangannya begitu lemas hingga botol air dan minyak dalam tangannya merosot jatuh. Tubuhnya berubah menjadi kayu, kaku dan tertancap dalam lantai seperti ada sebauh akar yang membelenggu kakinya.
"Kau, tubuhmu adalah tubuhku. Jadi, aku akan mengambil tubuhku, wahai renkarnasiku"
Suara wanita itu serak-serak, mirip seperti bunyi decitan kuku yang digesek di kaca. Menggelitik dan memekakan telinga. Perlahan wanita berhanbok itu mendekat, menyatukan bayangan mereka dalam satu bayangan. Saat itu juga roh Jieun berontak, rasanya begitu sakit hingga membuat Jieun ingin berteriak. Tapi tidak ada satu pun teriakan yang keluar.
Mulutnya terbuka, hendak berteriak tapi semua itu percuma. Ketika wanita itu perlahan-lahan menembus tubuhnya, mengusir roh Jieun, merenggut tempat roh Jieun dan menggantinya dengan roh jahat si wanita.
Tubuh Jieun tergeletak di lantai, tidak dapat bergerak karena sebagian besar bagian tubuh Jieun berontak atas kehadiran roh wanita berhanbok tersebut. namun hal itu tidak berselang lama, tubuh Jieun mulai bergerak. Kedua tangannya menumpu tubuhnya untuk bangun, kepalanya masih menunduk menunggu beberapa bagian tubuh Jieun lemah hingga akhirnya mengalah dan membiarkan roh wanita tadi merenggut tubuh Jieun.
"Sebaiknya kau gunakan tubuh renkarnasimu, anakku Jung"
Pria berwajah seram tadi, Jung tidak banyak bicara. Dia langsung bergerak masuk, kedua mata Jungkook terbuka. Tubuhnya menggeliat hingga terjatuh dari sofa, tubuh Jungkook benar-benar kuat, sebisa mungkin mengusir Jung. Tapi sekali lagi seorang iblis, roh jahat seperti Jung sulit di kalahkan.
Alhasil, Jungkook melemas dan digantikan dengan Jung. Kedua matanya terbuka, tatapannya begitu dingin, tajam dan menusuk. Saat berpandangan dengan Jieun, sang inang raja mereka, ia tersenyum puas.
Bangkit berdiri lalu memandang ke arah pintu, lebih tepatnya seseorang yang baru saja melewati pintu itu. seseorang yang akan mereka jadikan target pembalasan dendam.
"Dia menyangka bahwa hanya dia yang di hukum, tapi nyatanya kita ikut terhukum" Jieun berucap seraya menyibak rambutnya yang semula berwarna hitam berubah menjadi cokelat. Area matanya seperti berhiaskan eye liner, tapi sebetulnya itu sebuah tanda bahwa dia adalah roh jahat.
"Menjadi iblis yang tidak akan pernah binasa, merasuki tubuh orang-orang untuk berbuat kejahatan. Tapi sekarang tidak, ibu" Jung berujar dingin. Berjalan ke arah cermin besar di meja rias. Mengusap wajah tampan berbalut kulit putih bak porselen itu dengan senyum licik.
"Dia menjaga tubuhku dengan baik"
"Mau menemuinya? Menemui seseorang yang akan kau hancurkan?"
Jungkook tersenyum miring, menatap Jieun yang tak lain tak bukan adalah ibunya dengan pandangan menyeramkan.
…
Dari tempat duduk paling atas Jungkook melihat penampilan Jimin dari awal, meskipun ia sempat berdecih melihat dewi sialan itu muncul dan mengganggu acaranya memperhatikan wajah manis yang sangat dicintai Yoongi itu. lalu pandangannya jatuh pada Taehyung, paman angkatnya itu sedang mencuri-curi pandang dengan seorang laki-laki.
"Dia ada di pintu masuk"
"Aku tahu, tapi aku ingin melihat mangsaku"
Jieun menoleh ke panggung, "Kita bisa temui dia"
…
…
…
Jungkook tersenyum miring, merubah warna matanya kembali normal. Menatap Jimin dengan tatapan penuh makna, menelusuri wajah Jimin dengan pandangan kagum tidak percaya. Mangsanya, makanan, hidangan utamanya berwajah manis.
Wajah yang sama manis dan cantiknya seperti Chohee. Ia tersenyum sekilas, melirik Jieun yang sedang menatap penuh pemicingan ke arah Jimin.
"Kami pergi dulu, ada beberapa urusan yang harus kami kerjakan"
Jimin mengangguk gugup, jujur saja ia tidak bisa bernafas dengan normal sejak Jungkook dan Jieun masuk. Ia seperti merasakan ada sebuah batu menghantam dadanya hingga tertekan begitu kuat, menyumbat aliran pernafasannya hingga ia merasa sesak yang begitu aneh.
"Sekali lagi, selamat atas kelulusanmu"
Jimin mengangguk, "Kau juga" balas Jimin dengan suara pelan, nyaris seperti berbisik. Ia tak kuasa untuk berdiri lagi, tubuhnya ia bawa duduk di kursi terdekat di saat bersamaan Jungkook dan Jieun keluar dari ruang riasnya.
"Kenapa denganku?"
…
…
…
Yoongi memandang bingung dengan keadaan Jimin. Tiba-tiba saja pemuda mungil ini mendadak diam seribu bahasa, memandang kosong ke arah tiga bunga dari orang-orang yang tidak pernah ia duga. Bunga pertama dari orang masa lalunya, bunga kedua dari orang yang benar-benar pelit dan bunga ketiga…
Bunga yang terlihat menyeramkan ini dari seseorang yang tidak pernah ia sangka. Dari orang yang menjulurkan tangannya dan memberikannya sebuah ucapan selamat. Ia menghela nafas berat, menyentuh kelopak mawar hitam itu dan beberapa hiasan mutiara di atasnya.
"Kenapa kau memandangi bunga itu? apa bunga hitam itu sebuah ancaman?" tanya Yoongi khawatir. Ia melirik keadaan Jimin, wajah mungil itu mendongak sebentar lalu memandang Yoongi dari samping.
"Jungkook dan Jieun yang memberikan bunga ini"
"Tumben kunyuk itu" cibir Yoongi dengan senyum miringnya. Jimin tahu kalau Yoongi masih tidak terima atas perlakuan Jungkook dan genks nya, terutama perasaan Jungkook untuk Jimin. "Taru saja bunga itu di belakang" ketus Yoongi.
Jimin menghela nafas, namun ia menurut saja. Ia menaruh seluruh hadiah bunganya ke jok belakang. Namun, seperti masih ada yang mengganjal di benaknya. Seolah-olah bunga itu menyimpan sejuta makna tersembunyi. Ia kembali melirik ke arah Yoongi, gumiho berusia ratusan tahun itu sudah kembali fokus memandangi jalan di depan.
"Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu pada ahjussi"
Yoongi menoleh, menunggu Jimin melanjutkan kalimatnya dengan senyum lebar. Bisa ia lihat, Jimin nampak bingung dan takut. Namun, saat pemuda mungil itu beradu pandang dengan Yoongi, rasa bingung dan takutnya luntur. Ia menghela nafas, mengirup udara secukupnya lalu mulai bicara.
"Aku melihat ada yang aneh pada Jungkook dan Jieun. Mata mereka tiba-tiba saja berubah menjadi hitam, sangat mengerikan. Selain itu, aku berbohong padamu, saat aku bilang aku diajak pergi Jungkook" Jimin bicara jujur.
Seperti dugaannya, Yoongi nampak terkejut dan khawatir. Gumiho berusia ratusan tahun itu menghentikan laju mobilnya di tepi jalan yang sepi. Menaruh astensinya pada Jimin.
"Apa cegukanmu mulai berkurang? Bagaimana yang lain?"
"Aku tidak bisa melihat angka-angka berbohong, kelahiran dan kematian Jungkook dan Jieun. Tapi aku masih bisa melihat angka orang lain"
Yoongi mengumpat halus. Yang ia takutkan terjadi. Penyakit kutukan Jimin mulai memudar, artinya hidupnya juga akan memudar. Penyakit Jimin merupakan bagian dari hidupnya, jika salah satu penyakitnya maka ini menjadi peringatan baginya. Ia harus segera mencabut panahnya. Waktu hidup, mau pun waktunya Jimin hidup mulai menipis.
"Ahjussi…"
Jimin memanggil Yoongi dengan suara pelan seraya menyentuh tangan Yoongi yang berada di tempat rem tangan. Senyum terbaik berusaha ia pamerkan hingga gigi putihnya terlihat. Yoongi merasa tenang melihat senyum Jimin hingga ia ikut tersenyum.
"Bukankah ini bagus? Mungkin karena aku sudah bersama ahjussi semua penyakitkku akan hilang, benar kan?" tanya Jimin meyakinkan pendapatnya. Yoongi tak tahu harus menjawab apa. tidak mungkin ia memberi tahu fakta mengejutkan ini pada hari bahagianya. Ia putuskan untuk tersenyum, mengusak kepala Jimin lalu menariknya dalam sebuah pelukan.
Jimin tidak protes, ia hanya diam saat Yoongi mengusak kepalanya ke kepala Jimin. Tangan lebar itu mengusap punggung sempit dan rambut sot pinknya. Ia tidak tahu alasan Yoongi memeluknya dan ia tidak mau bertanya. Karena ia takut, jika ia bertanya dan Yoongi tidak menemukan jawabannya maka pertanyaannya akan menjadi beban. Ia tidak mau itu terjadi.
"Kenapa ahjussi seperti ini? kau membuatku takut" ucap Jimin seraya memeluk bahu sempit Yoongi dengan erat.
"Memang aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri?" Yoongi balik bertanya dengan nada dibuat main-main. Jimin mengerucutkan bibirnya, menjauhkan tubuhnya untuk melihat ekspresi meledek Yoongi untuknya.
"Aku bicara serius tahu!" sungut Jimin.
Yoongi terkekeh, mengusak sayang rambut Jimin, "Jangan cemberut. Bagaimana kalau kita ke tempat yang akan kau sukai?"
Mata Jimin berbinar bahagia, "Kemana? Ahjussi mau membawaku kemana? Hutan waktu itu? atau ladang ilalang?" tanya Jimin penuh keantusiasan tinggi.
Yoongi makin terkekeh, menyalakan mobilnya kembali dan membawanya masuk ke sebuah gang dan berakhir pada sebuah jalanan batu menanjak. Di kanan dan kirinya penuh pohon, Jimin tersenyum bahagia ketika matanya menangkap pemandangan laut lepas.
"Apa kita akan pantai?"
"Kau tunggu saja"
Yoongi kembali diam, mengendarai mobilnya ke jalanan menanjak. Hingga mereka berhenti di sebuah jalan yang sudah tidak berbatu, melainkan rumput hijau yang menyejukan. Jimin yang sudah tak sabar, langsung membuka pintu ketika Yoongi memberhentikan mobilnya.
Ternyata, tanpa ia sangka Yoongi membawanya ke sebuah tebing dengan pemandangan di bawah adalah pantai. Tebing ini berhiaskan rumput hijau, pegunungan di sebelah kiri Jimin. Dan masih di sebelah kirinya Jimin bisa melihat sebuah ladang bunga.
"Ahjussi! Kau membawaku kem…"
Jimin tidak bisa berkata apa-apa lagi saat menyusul ke tempat Yoongi berdiri di serbang mobil. Di sana, di dekat ladang bunga terparkir dengan apik sebuah caravan berwarna putih dan Yoongi ada di sana. Membawa sebuket bunga yang ia yakini berasal dari ladang di belakang Yoongi.
Bunga berwarna putih yang cantik.
"Selamat atas kelulusanmu. Aku belajar sedikit trik dari NamJoon, soal caravan ini. mungkin ini terlihat cheasy, tapi aku harap kau menyukainya. Ini hadiah dariku"
Mata Jimin berkaca-kaca. Kepalanya menunduk dengan bahu gemetar. Bibir berwarna pink nya mengeluarkan isakan-isakan kecil ketika menerima bunga pemberian dari Yoongi. Mengamati warna bunga itu dengan mata mengeluarkan air mata yang mengalir deras bak sebuah sungai.
Melihat hal itu Yoongi terkejut, tidak menyangka jika reaksi Jimin akan seperti ini. ia menghampiri Jimin dan menyentuh kedua pundak gemetar Jimin lalu menangkup pipi bulat penuh air mata itu. mengusapnya dengan hati-hati.
"Kenapa kau menangis? Apa aku salah memilih bunga?" tanya Yoongi hati-hati. Jimin menggeleng, menyentuh tangan lebar Yoongi yang ada di pipinya. Matanya yang memerah karena menangis menatap Yoongi, bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Aku bahagia, appa selalu memberikan bunga berwarna putih seperti ini untukku. Bahkan sehari sebelum kematiannya, appa memberikan bunga untukku. Sudah lama sekali, aku tidak merasakannya tapi karena ahjussi aku bisa merasakannya lagi. Aku merasa seperti melihat appa ketika bunga putih ini ada di sekitarku…"
Yoongi tersenyum. Mengusap kepala Jimin, lalu menariknya ke dalam pelukan hangatnya. Seperti dugaannya, Jimin kembali menangis seraya membalas pelukan Yoongi bersamaan dengan bunga pemberiannya.
Hanya ada dua hal yang membuat air mata manusia keluar. Hal pertama adalah ketika manusia itu mendapat tekanan dan kesedihan, maka air mata manusia akan keluar dan air mata itu disebut air mata duka. Tapi saat manusia mengeluarkan air mata ketika bahagia maka air mata itu dinamakan air mata haru.
Dan Jimin menangis mengeluarkan air mata haru.
"Uljima… aku akan selalu seperti ini"
Jimin mengangguk lucu di balik dada bidang Yoongi. Perlahan-lahan, setelah cukup lama memeluk Yoongi ia menjauhkan tubuh mungilnya. Tersenyum bahagia setelah menghapus air mata bahagianya, menatap Yoongi yang juga tengah menatapnya, tersenyum untuknya.
"Kau tahu, kita tadi berpelukan setengah jam lamanya"
"Jinjjayo? Ahjussi tidak sesak aku peluk terus?"
Yoongi menggeleng, mengarahkan tubuh mungil Jimin menghadap matahari terbenam. "Ini sudah hampir malam. Apa kau ingin sesuatu yang lain dariku? Hadiah lain?" tawar Yoongi.
Jimin menoleh dengan semangat, tersenyum lebar lalu memeluk lengan Yoongi dan memajukan wajahnya. Yoongi sempat mengira kalau Jimin memintanya untuk mencium bibir manis itu tapi nyatanya…
"Soju! Aku ingin soju ahjussi~~ umurku sudah boleh minum soju! Aku ingin soju!"
Jimin berteriak bahagia dan begitu riang. Bahkan ia sampai menarik dan melompat-lompat di depan Yoongi. Gumiho itu hanya bisa melongo, tidak percaya jika minum adalah yang Jimin inginkan. Tapi sekali lagi, ia tidak bisa menolak keinginan kekasih mungilnya ini.
"Arraseo! Aku akan kabulkan"
"Jinjja? Aku juga ingin hanwoo, api unggun dan kursi nyaman di dekat caravan. Bisa?"
Dompetnya akan menipis jika begini terus-Yoongi.
…
…
…
Helaan nafas berbentuk embun hangat keluar dari mulutnya sejak lima menit yang lalu. Tubuhnya ia bawa berdiri di pinggir jalan dekat pintu masuk sebuah taman. Ia datang lebih awal dari janji yang ia buat, bukan tanpa alasan ia datang lebih awal seperti ini. Ia-Taehyung berpikir akan lebih mudah baginya mengenal seseorang dari cara berjalan menghampiri dirinya.
Semua ini ia lakukan karena ia sudah kelewat lelah dengan rasa penasaran yang selalu ia pendam. Ia ingin mencari tahu sendiri apa yang disembunyikan SeokJin darinya. Pria itu tahu banyak hal tentang dirinya, sementara Taehyung. Bahkan nama saja baru diberitahu setelah mereka bertemu tiga kali. Itu benar-benar membuat Taehyung kewalahan dan lelah.
Tak lama, dari kejauhan Taehyung melihat sosok SeokJin nampak terburu-buru menghampirinya. Sesekali dia berhenti agar tidak tertabrak atau bersentuhan dengan orang di sekitarnya. Taehyung tertawa kecil, manusia aneh yang tidak mau bersentuhan dengan manusia lainnya.
"Annyeonghaseyo!"
Seperti SeokJin biasanya, pria tinggi dan tampan itu membungkuk sambil melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan juga dari Taehyung. Pria itu lalu tersenyum lebar begitu juga dengan Taehyung.
"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya SeokJin masih dengan nafas sedikit terengah-engah. Taehyung tersenyum kecil, memasang wajah sedikit cemberut yang terlihat imut. Tapi jika SeokJin bisa melihat, tatapan Taehyung menyiratkan kelelahan yang begitu pekat. Namun sayang, SeokJin tidak bisa melihatnya.
"Sangat lama"
Dan reaksi SeokJin sudah bisa Taehyung tebak. Pria tinggi dan tampan itu langsung membungkuk berulang kali di depan Taehyung hingga membuat orang-orang mulai menatap mereka penasaran. Taehyung makin tertawa kecil lalu menggeleng, "Aku hanya bercanda. Apa kau juga tidak tahu kalau aku sedang bercanda?" ledek Taehyung.
SeokJin berdiri kaku, begitu juga senyum yang ia pamerkan. Dirinya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran manusia, ia pikir Taehyung benar-benar menunggu dirinya tapi ternyata. Apa sebenarnya maksud manusia membuat hal seperti itu sebagai bahan bercanda?
"Aku memang menunggu lima menit di sini, tapi aku menunggu dalam hal lain. Apa kau bisa menebaknya?"
SeokJin terdiam, ia melirik tangan Taehyung dan tujuan sebenarnya ia mengajak Taehyung jalan-jalan. Selain ia rindu-ini jujur-ia juga masih penasaran dengan masa lalu Taehyung dan ingin melihatnya lebih. Meskipun sedikit jahat karena ia seperti memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, tapi ini satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan.
Jadi, ia putuskan menjulurkan tangannya meminta Taehyung untuk menjabat tangannya. Pemuda manis itu mengangkat alisnya bingung, meskipun jawaban SeokJin tidak sepenuhnya salah-karena ia memang ingin menggenggam tangan itu-tapi bukan ini yang ia mau.
"Kau mau apa?"
"Menggenggam tanganmu, seperti yang sudah aku katakan waktu itu. aku ingin berjalan sambil berpegangan tangan denganmu"
Taehyung terdiam. Menatapi tangan lebar itu lalu tangannya sendiri, ada rasa ingin di dalam hatinya tapi juga ada penolakan. Ia tidak mau semudah itu walau pun hanya untuk berpegangan tangan, ia kembali menatap SeokJin yang menatapnya penuh permohonan.
"Jinjja? Kau ingin menggenggam tanganku ini?" tanya Taehyung seraya memamerkan tangan berbalut kulit tannya pada SeokJin yang langsung disambut anggukan semangat.
Ia tersenyum, menatapi tangannya lalu menyembunyikannya dengan cara melihapatnya di dada. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Tapi kau tahu aku bukan pemuda murahan yang mau di genggam tangannya, kan?"
SeokJin mengernyit, menurunkan tangannya. Mungkin saja ini penolakan secara tidak langsung yang harus ia terima. Bagaimana pun ia sudah kelewatan karena meminta hal-hal seperti itu, karena juju ria sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang melekat di otaknya setiap malam.
Apa semua ini berhubungan dengan ingatannya atau tidak?
"Aku juga ingin berpegangan tangan denganmu"
SeokJin menengadah, kepalanya yang semual tertunduk menatap Taehyung. Detik itu juga SeokJin baru sadar, jika mata Taehyung terlihat sangat lelah. Bukan lelah fisiknya, melainkan jiwanya. Ia tidak tahu alasan yang membuat Taehyung seperti itu, apa ada hal yang mengganggu atau dirinya.
"Aku ingin berkencan denganmu sambil pergengan tangan, memelukmu, berbagi kehangatan bahkan aku berharap kita segera berciuman"
Taehyung berbicara dengan nada lembut seraya tersenyum. "Tapi, setidaknya aku harus tahu tangan siapa yang aku genggam, tubuh siapa yang aku peluk dan bibir siapa yang aku cium. Aku bukan tipe pemuda yang mudah tergila-gila seperti ini, kau benar-benar pria pertama yang membuatku seperti ini, tapi sampai sekarang aku masih tidak tahu siapa yang aku gilai ini"
Taehyung mengungkapkan segala kegelisahan dan kelelahannya menghadapi segala kemisteriusan seorang pria yang mengaku namanya Kim Jin. "Kau sudah mengetahui banyak hal tentangku, bahkan nama asliku saja kau tahu. Tapi aku tidak pernah tahu namamu, siapa kau sebenarnya, dan bagaimana kau tahu nama asliku. Waktu itu aku membiarkanmu tapi sekarang tidak, kau harus berkata jujur di depanku."
SeokJin terdiam, tubuhnya tidak bergerak satu inchi pun. Bingung, ia harus menjawab apa. ia tidak mungkin memberitahu dirinya vampire tanpa nama asli. Tanpa ingatan masa lalu tentang nama aslinya. Dan mungkin saat itu juga Taehyung akan langsung menamparnya dan mengatakan dirinya sungguh sangat brengsek.
"Jadi, siapa nama aslimu, Kim Jin-ssi?" tanya Taehyung seraya membungkukan tubuhnya, membuat pose memohon dengan senyum andalannya. Tapi SeokJin sama sekali tidak menatapnya, pria rupawan itu malah menatap ke bawah tanpa berniat memandang wajah Taehyung.
SeokJin terdiam, matanya bergerak gelisah begitu juga dengan bibirnya yang sesekali terbuka seperti ingin bicara namun tertahan. Taehyung bergerak mundur, menegakkan tubuhnya lalu memandangi tangannya sekali lagi lalu memandang tangan SeokJin.
"Apa aku bertanya banyak hal yang membuatmu terganggu?"
"Maaf,"
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut SeokJin dan langsung mengirim sinyal ke otak Taehyung. Pemuda manis itu sempat terkejut, tidak menyangka jika SeokJin akan tetap bungkam. Apa selama ini ia dipermainkan? Ia sudah mengerahkan sepenuhnya atensinya pada SeokJin tapi SeokJin sama sekali tidak membalas.
"Arraseo"
Ia mengangguk paham, menarik nafas, menghembuskannya lalu menatap SeokJin yang ternyata sedang memandanginya penuh rasa bersalah. Bibirnya ia buat sebuah senyuman lebar, hingga matanya sipit. Namun, senyum itu perlahan-lahan berubah menjadi senyum segaris. Senyum yang sama sekali SeokJin tidak pernah bayangkan.
"Bagaimana kalau kita selesai sampai di sini"
SeokJin mengernyit bingung dengan kalimat Taehyung. Ia tidak mengerti maksudnya jadi ia hanya diam menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Taehyung.
"Aku menyukaimu, kau pria pertama yang membuatku tergila-gila. Aku menyukai tingkahmu yang kadang tolol, aku menyukai caramu minum kopi, aku menyukai caramu bicara, memberikanku jepit topi ulang tahun, aku menyukai semua yang ada di dirimu. Tapi…"
Taehyung menjeda kalimatnya, memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan nafasnya lelah. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini tanpa aku tahu siapa yang aku ajak menjalankan hubungan ini. Jadi, anggap saja kau mencampakanku, memberiku harapan palsu, dan jangan pernah menghubungiku lagi"
SeokJin terkejut. Tidak! Apa hubungannya berhenti di sini? Ia dan Taehyung akan berakhir. Ia melangkah maju berniat mencegah, namun terhenti melihat senyum asing Taehyung. Senyum itu bukan senyum yang biasa Taehyung berikan untuknya. Senyum itu terlihat seperti senyum untuk berkenalan dengan orang asing atau bahkan orang tidak dikenal.
"Jika tanpa sengaja kau bertemu denganku, jangan tersenyum padaku, jangan menyapaku, dan anggap saja kita tidak pernah bertemu"
SeokJin menggeleng, menolak semua ini tapi apa daya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain hanya diam menyaksikan Taehyung melangkah mendekat lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Bibirnya membentuk senyuman lebar meskipun matanya sedikit berkaca-kaca.
"Annyeong!"
Setelahnya Taehyung berjalan begitu saja melewati tubuh SeokJin yang membeku di tempat. Mereka baru saja memutuskan hubungan ini, tepatnya Taehyung. Pemuda manis itu sudah kelewat lelah dan tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya tentang SeokJin.
Memang seperti ini lah akibatnya jika ia berkencan dengan manusia. Ia menoleh, menemukan punggung mungil Taehyung yang mulai menjauh dengan pandangan berkaca-kaca. Apa begini? Apa begini rasa sakitnya ketika orang yang mulai kau suka pergi?
Kenapa harus ada rasa seperti ini jika nyatanya orang itu akan pergi?
"V-ssi…"
…
…
…
"Wah!"
Jimin bersorak senang melihat Yoongi datang sambil membawa satu kardus soju. Keinginannya terkabul, ia benar-benar ingin mencicipi rasa soju itu seperti apa.
"Kau suka?" tanya Yoongi seraya membuka satu botol dan menaruhnya di pinggir meja tepatnya di samping pemanggang hanwoo mereka. Jimin mengangguk semangat, membolak hanwoo nya lalu beralih pada botol soju yang sudah di buka oleh Yoongi.
"Aku akan menuangkannya" ucap Jimin seraya menuangkan soju ke gelas Yoongi lebih dulu lalu ke gelasnya. Lalu, ia angkat gelas itu dan melakukan cheers pada Yoongi. Gumiho di depannya hanya tersenyum, mengamati tingkah lucu Jimin yang baru pertama kali meminum alkohol.
Matanya terpejam, menikmati sensasi aneh di tenggorokannya saat soju itu melewati kerongkongannya. Alat pengecap rasanya menangkap rasa sedikit pahit yang tidak membuat orang mual, namun ketagihan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Yoongi seraya meminum sojunya sekali teguk. Jimin yang masih belum turun dari rasa nikmat aneh soju itu hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Pahit"
"Semua alkohol rasanya pahit. Tapi jika lidahmu masih terasa pahit, berarti kau belum dewasa, soju akan terasa manis jika umurmu sudah boleh minum soju"
Jimin merengut, menyodorkan gelasnya minta di tuangkan Yoongi. "Aku mau mencobanya lagi!" pinta Jimin masih dengan mata segar dan wajah yang mulai sedikit berubah. Apa mungkin ini karena Jimin baru pertama kali minum. Sejujurnya ia khawatir, tapi ini permintaan Jimin nya, jadi ia putuskan untuk menuangkan segelas penuh soju.
Jimin memekik bahagia, meminum satu gelas dalam sekali teguk dan wajahnya memunculkan ekspresi yang sama. Yoongi terkekeh, mengamati bagaimana wajah itu perlahan-lahan berubah merah. Dulu saat ia baru pertama kali minum, ekspresinya tidak seburuk itu. apa mungkin ini karena Jimin benar-benar masih polos?
"Manis… tapi masih pahit"
Yoongi tertawa, menyumpit beberapa daging lalu menyuapi Jimin yang sudah membuka mulutnya minta di suapi.
"Enak!"
Awalnya hanya satu gelas, tapi Jimin yang mulai terpengaruh dengan alkohol mulai merengek dan memaksa minum soju langsung dari botolnya. Yoongi meringis, merebut botol ketiga yang di tegak habis oleh Jimin. Pemuda manis itu merengek, menghentak kakinya lucu seraya menggapai-gapai botol baru yang di sembunyikan Yoongi.
"Ahjussi! Aku mau lagi!"
"Kau sudah mabuk, lebih baik kita pulang!"
"Tidak mau!"
Yoongi menghela nafas, kenapa sulit sekali mengendalikan orang mabuk. Memperhatikan Jimin yang sedang memainkan alat pencapit daging di atas pemanggang. Wajahnya tertekuk sebal karena keinginannya tidak terpenuhi. Gumiho di dalam dirinya sedikit luluh melihat bibir itu mengerucut lucu, namun ia tidak mau membiarkan Jimin nya mabuk di kali pertamanya minum.
"Baiklah, hanya satu botol lalu kita akan pulang"
Jimin tersenyum idiot, duduk dengan tegak-namun kembali limbung-seraya menjulurkan tangannya meminta jatah soju nya. Rela tidak rela Yoongi menuangkan satu gelas lagi untuk Jimin dan langsung di teguk oleh kekasih mungilnya itu.
"Ahjussi, apa kau tahu suasana yang aku gambarkan sekarang ini?" Jimin kembali meracau. Yoongi menggeleng, memperhatikan Jimin yang tengah memutari sekelilingnya dengan jari mungilnya. Lalu terakhir menunjuk Yoongi dengan pandangan buram, tidak fokus memandang Yoongi.
"Sensual~"
Lalu Jimin tertawa, begitu juga dengan Yoongi. "Ada soju yang manis, api unggun, hanwoo, caravan dan langit malam yang cantik. Aku tidak pernah bermimpi mendapatkan semua ini, ditambah aku melakukan semua itu dengan pria tampan" ucap Jimin lalu cegukan, bukan karena ia berbohong tapi karena efek alkohol di dalam tubuhnya.
Yoongi mengangguk paham, "Ya, aku memang tampan. Sekarang kita pulang, oke?"
"Tidak mau~~"
Jimin menggeleng keras, begitu juga dengan tubuhnya yang ikut bergerak limbung ke belakang tapi dengan sigap Yoongi menariknya berdiri. Namun, seperti orang mabuk pada umumnya Jimin memberontak, berjalan dengan tubuh yang tidak seimbang.
"Jimin,"
"Tapi suasana ini kurang sensual, kurang satu hal. Apa ahjussi mau memberikannya?"
"Apa setelah aku memberikannya kau mau pulang?"
Jimin mengangguk patuh, menarik tangan lebar Yoongi ke bibir tebing. Menyuruh Yoongi mengamati langit malam yang sedang penuh dengan bintang bersinar. Suara debur ombak berpadu indah dengan semilir angina darat yang menerpa tubuh mereka.
Jimin memejamkan matanya, menikmati semua pemandangan indah itu lalu membalik badannya hingga posisi tubuhnya menyamping. Mengamati Yoongi yang ternyata sedang terpesona pada indahnya malam di pantai Blastic.
"Aku akan pulang setelah ahjussi memberikannya"
"Kau mau apa? kau mau aku mengatur bintang membentuk namamu? Atau kau mau aku ambilkan bintang?"
"Kampungan"
Senyum Yoongi luntur. Oh! Yang benar saja, ia dikatai kampungan? Ia menoleh, memandang Jimin yang ternyata sedang tertawa layaknya orang mabuk. Lalu ekspresinya berubah cepat menjadi imut seraya berjinjit dan memajukan bibirnya.
"Kiss! Kiss me!"
Yoongi speechels, ia menggaruk lehernya gugup. Ayolah! Ia baru berciuman beberapa kali itu pun bersama Jimin. Ia tidak tahu cara memulainya, dan lagi kali ini Jimin sangat memaksa minta dicium di sini! Di atas tebing dengan latar pemandangan malam yang indah di dekat laut.
"Mwo?" Yoongi menjauhkan sedikit jaraknya dari Jimin. Tapi pemuda bersurai hitam legam itu tidak menyerah dan terus mendekat pada ahjussinya.
"Waktu itu ciuman kita hanya menempel saja. Aku mau ciuman dari ahjussi yang benar-benar namanya sebuah ciuman. Ahjussi jangan bergerak lagi" perintah Jimin kembali mengucek matanya. Mengambil posisi tepat di hadapan Yoongi lalu dengan imutnya memajukan bibirnya seolah meminta Yoongi untuk segera melakukannya.
Yoongi berdecih, menoyor kepala Jimin untuk menjauh. Jimin mengerucutkan bibirnya kesal, "Pelit!" Jimin memalingkan wajah bersiap mengeluarkan jurus ngambeknya tapi niatnya hilang seketika saat Yoongi ada di hadapannya secara tiba-tiba. Menarik leher Jimin mendekat dan terakhir mempertemukan bibir mereka dengan lembut.
Awalnya ia terkejut, selang beberapa detik ia membalas lumatan bibir Yoongi tangannya masih tetap menggantung di sisi tubuhnya masih kaku ingin memegang punggung atau leher Yoongi. Sementara Yoongi mengarahkan tangannya yang satu lagi ke pinggang Jimin. Memeluknya begitu posesif dan mesra.
Alat lisan mereka perlahan saling terpisah. Jimin tersenyum lebar hingga matanya menyipit, ia kembali berjinjit mengecup bibir itu singkat namun berkali-kali.
"Sempurna…"
Yoongi tersenyum, menarik leher itu kembali dan mengajaknya beradu lidah. Jimin terkejut, tubuhnya bahkan sampai terdorong ke belakang karena tidak siap. Tapi tangan lebar Yoongi segera meraih pinggangnya dan memeluknya. Menempelkan tubuh mereka, saling membagi kehangatan di tengah angina darat yang dingin.
Saling beradu lidah. Jimin yang baru pertama kali mendapat serangan ganas dari Yoongi hanya bisa pasrah, mengalungkan lengannya di leher. Tersenyum di sela-sela ciumannya dengan Yoongi. Ini adalah hadiah terindah baginya, hadiah yang tidak akan pernah ia lupakan.
Seumur hidupnya, meskipun matahari ada di bawah dan bumi di atas. Atau matahari bersinar di malam hari dan bulan di pagi hari. Ia tidak akan pernah melupakan apa pun yang terjadi pada Yoongi. Dan jika dirinya sampai lupa, maka ia harus tetap mengingat moment mereka ini.
Jimin mau pun Yoongi akan terus mengingatnya.
…
…
…
…
…
Sebuah bayangan hitam aneh muncul. Menyelimuti pemuda manis itu hingga ia tak bisa melihat apa pun kecuali gelap. Namun ada setitik celah di balik bayangan hitam. Dari setitik celah itu ia bisa melihat ada orang di sana. Tapi orang itu hanya diam memandanginya. Ia berteriak, meminta tolong tapi orang itu hanya diam hingga setitik celah itu hilang dan semua menjadi gelap.
"Hah!"
Taehyung terbangun, keringat dingin bercucuran di kening hingga kepalanya basah oleh keringat. Matanya ia pejamkan, ia menarik nafas lalu menghembuskannya. Semua kejadian aneh itu hanya mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata.
Sesak yang diakibatkan bayangan hitam itu sangat membekas sampai detik ini ia bangun. Tangannya bergerak memukul-mukul dadanya sendiri, sesak itu tidak mau hilang. Kenapa bayangan itu begitu membekas.
Apa maksud dari mimpi nya itu?
"Samchon!"
Taehyung menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ngomong-ngomong ia bermalam di rumah ayahnya, kakek Jungkook. Karena sungguh rumahnya itu membuatnya dirinya terkenang akan moment mereka memanggang hanwoo waktu itu.
"Ada apa?" tanya Taehyung seraya meraih gelas di meja nakas dekat tempat tidurnya. Yang ditanya-Jungkook tersenyum kecil lalu menghampiri Taehyung sambil membawa nampan berisi waffle dan juga susu.
Taehyung mengernyit melihat Jungkook meletakan nampan itu di pangkuannya, lalu Jungkook ikut mendudukan dirinya di pinggir kasur. Pemuda manis yang baru saja bangun itu mengernyit heran atas sikap Jungkook yang tak biasa.
"Tumben kau membawakanku sarapan?"
"Harabeojie yang memerintahkanku. Makanlah selagi hangat"
Taehyung tersenyum, meraih garpu dan pisau lalu mulai memakan waffle nya. Ia tersenyum menikmati adonan lembut waffle itu di kunyah dan melewati kerongkongannya. "Kau yang membuat waffle ini?" tanya Taehyung.
"Anni, Jieun yang membuatnya"
"Gadis itu? tumben dia datang ke sini, apa kau berpacaran dengan dia?" tanya Taehyung penuh selidik sambil menunjuk wajah Jungkook dengan garpu. Jungkook menggeleng, menurunkan garpu Taehyung dan menyuapi paksa pamannya itu dengan potongan waffle besar.
"Dia seseorang yang dekat denganku. Dia bisa dekat dengan siapa pun termasuk aku dan samchon."
Taehyung berdecih. Benar dugaannya, Jungkook pasti berpacaran dengan Jieun. Karena tidak mungkin partner in crime yang setia macam Jieun tidak mungkin hanya sekedar partner tanpa cinta. Ah! Beruntung sekali kisah cinta Jungkook kalau begitu.
Mendadak ia lemas, wajahnya yang semula meledek berubah menjadi lesu. Jungkook menangkap ekspresi itu dengan pandangan memicing penuh curiga. Tanpa harus bertanya ia sudah tahu apa yang terjadi dengan Taehyung.
Ia tahu segalanya. Ia tahu segala yang terjadi pada orang-orang di sekitar gumiho tua itu.
"Kenapa samchon? Apa samchon baru saja patah hati?"
"Lebih baik aku patah hati daripada di gantung. Patah hati itu sudah ada kepastian kalau tidak di terima cintanya, tapi di gantung kita tidak tahu dia suka atau tidak dengan kita."
Entah kenapa Taehyung begitu mudah bercerita tentang perasaannya pada Jungkook yang notabennya bocah ingusan. Bocah yang tidak tahu apa-apa dan baru saja lulus kemarin. Bisa apa Jungkook?
"Mungkin saja ini berkaitan dosa-dosa samchon terdahulu"
"Aku percaya manusia menanggung dosa Adam dan Hawa, tapi semua itu sudah luntur oleh Baptis. Mungkin saja ini kesalahanku karena terlalu jual mahal"
Jungkook mengangkat alisnya, membenarnya ucapan Taehyung. Dulu atau sekarang dia masih sama. Batin Jungkook dengan senyum meremehkan.
"Saranku, kenapa kau tidak datang pada orang yang menyinggung hal ini sebelumnya"
"Maksudmu?" tanya Taehyung dengan alis berkerut tidak mengerti. Jungkook tersenyum, memajukan tubuhnya, memfokuskan pandangannya hanya memandang Taehyung yang sudah fokus menunggu jawaban Jungkook.
"Menyingung masa lalu, renkarnasi atau dosa-dosa. Siapa tahu samchon mendapat satu jawaban meskipun abu-abu" ucap Jungkook dengan senyum miring, meraih nampan sarapan Taehyung yang sudah habis lalu membawanya keluar.
Sebelum ia menutup pintu kamar Taehyung kembali, ia melirik perubahan raut wajah Taehyung yang menjadi berpikir keras. Senyum mengerikannya makin tersungging, cepat atau lambat Taehyung harus tahu semuanya. Entah dengan kelembutan atau secara paksa, Taehyung harus tahu. Itu mutlak dan ini sebagian dari rencananya.
Rencana balas dendamnya.
…
…
…
Yoongi dan Jimin pulang saat pagi hari. Kalian jangan berpikir macam-macam setelah aksi berciuman itu. Yoongi tidak melakuka apa pun karena setelah sesi ciuman panjang itu Jimin jatuh pingsan karena terlalu banyak minum dan berakhir mereka tidur di caravan. Setelah keadaan Jimin membaik, Yoongi membawanya pulang dengan menggunakan mobil yang sama.
"Ahjussi, kenapa rumahmu begitu gelap?" tanya Jimin seraya melepas sabuk pengamannya. Yoongi juga ikut menatap rumahnya yang tiba-tiba saja berubah menjadi gelap, seperti awan mendung yang siap menurunkan air hujan.
"Aku tidak bisa keluar jika hujan"
"Tapi di luar rumahmu terang benerang"
Yoongi ikut membenarkan dalam hati. Ia pun turun dari mobil, berjalan pelang di belakang Jimin. Karena demi apa pun ia benar-benar takut dengan air hujan, tapi anehnya kenapa hanya rumahnya saja.
Seketika pikirannya langsung terkoneksi dengan satu kata. Nyamuk! Ya! Pasti nyamuk itu yang membuat rumahnya gelap seperti ini. ada apa lagi ini? kenapa rumahnya tiba-tiba mendung begini padahal suasana hatinya sedang bagus.
"Rumahmu makin menyeramkan!" keluh Jimin seraya membuka pintu dan percikan air tiba-tiba saja muncul ketika Jimin membuka pintunya.
Yoongi berteriak, menjauh sejauh mungkin dari air yang bisa ia pastikan air hujan buatan SeokJin alias nyamuk itu. "Yak! Nyamuk! Hentikan hujanmu ini! aku ingin masuk ke dalam rumahku! YAK!"
…
SeokJin akhirnya mau dengan susah hati dan perasaan masih campur aduk, SeokJin bersedia meredakan hujan buatan airnya beserta menyurutkan air yang menggenangis setiap sudut rumah. Masih dengan misuh-misuh, Yoongi masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang sudah kering.
"Kau itu sebenarnya kenapa? Apa kau berniat mengusirku?" marah Yoongi berapi-api. Jimin berdecak, menarik Yoongi agar diam di tempat. Dengan lembut ia menatap SeokJin yang sedang menunduk masih dengan awan gelap melingkupi tubuhnya.
Pemuda manis itu berdehem, mengetok meja berusaha menarik perhatian SeokJin. Tapi tanpa di duga, SeokJin malah menangis meraung-raung. Yoongi yang masih berapi-api, mengernyit bingung melihat perubahan sikap SeokJin.
"Yak! Kau ini kenapa?" tanya Yoongi bingung dan takut. Jimin pun ikut mengangguk, menatap kasihan pada air mata SeokJin yang mengalir deras. Bahkan Jimin bisa melihat ada cairan yang keluar dari hidung SeokJin.
Astaga! Jika vampire menangis jauh lebih menjijikan dari anak bayi yang sedang berliur.
"Tuan vampire bisa menceritakannya, jangan di tutupi"
Tangis SeokJin mulai mereda, perlahan-lahan ia mulai bicara dengan suara tersendat-sendat karena menangis. "Aku putus dengan V… HIKSSS!"
"Bagaimana bisa?"-Jimin.
"Benarkah?"-Yoongi.
SeokJin mengangguk, menghapus air matanya. Pela-pelan ia mulai menceritakan semua dari awal sampai akhir dan ia kembali menangis meskipun tidak sehisteris tadi. Jimin meringis, ia tahu permasalahan Yoongi. Pasti sulit memilih antara menaati hukum atau mengikuti hati. Sementara Yoongi, meskipun sedikit senang karena renkarnasi adiknya tidak berkencan lagi tapi jika SeokJin terus seperti ini ia tidak akan bisa masuk ke rumahnya sendiri.
"Apa Tuan Vampire tidak bisa katakan kalau kau bekerja di bank darah? Bukan kah itu sama, vampire berurusan dengan darah dan bank darah juga berurusan darah?"
"Tapi dia mengatakan aku memberikannya harapan palsu. Aku harus bagaimana? Dia bahkan melarangku menghubungi dia"
Jimin berdecak. Taehyung seperti nya sudah sangat lelah menghadapi kemisteriusan yang ditunjukan SeokJin, terutama tentang identitas SeokJin yang tidak tetap. Ia melirik Yoongi yang hanya diam, dengan kejamnya ia menyikut Yoongi dan menyuruhnya mendekat ke tempat SeokJin.
Mengerti maksud Jimin, Yoongi berdiri dan duduk di samping SeokJin. "Jangan bersedih. Kau pasti masih bisa meluluhkan dia. Hwaitting!" Yoongi berujar memberi semangat. SeokJin menoleh, memandangi tangan Yoongi yang sedang menepuk-nepuk bahu lebarnya. Lalu menghela nafas, percuma ia di tepuk karena ia tidak akan pernah bisa mendekati Taehyung lagi.
"Arraseo. Aku tidak pernah menyangka jika aku akan melakukan ini" Yoongi berujar pada dirinya sendiri. Tanpa di duga ia meretangkan tangannya lalu menepuk-nepuk pundaknya seakan-akan mempersilahkan SeokJin menangis di pundaknya.
SeokJin makin mendung. Awan gelap di sekujur tubuhnya makin menggelepap bahkan sekarang kilatan-kilatan petir mulai nampak di tubuh SeokJin. Ia bergerak mundur secara teratur menjauhi SeokJin yang siap meledakan tetesan air hujan.
"Kalau tidak mau kau cukup bicara saja" sungut Yoongi seraya mengibaskan bajunya yang sedikit basah. Jimin nge blank, bagaimana bisa dua orang awkard bisa tinggal serumah seperti ini.
TING TONG TING TONG
Jimin mengernyit, berdiri dari duduknya lalu berlari kecil menghampiri pintu utama. Meninggalkan SeokJin dan Yoongi yang masih bersungut-sungut agar SeokJin menghentikan awan mendung itu.
Ketika pintu di buka, Jimin terkejut setengah mati melihat orang yang bertamu. Bukan anjing atau hantu, apalagi Jungkook dan Jieun.
Tapi Taehyung…
"Bisa aku bertemu dengan orang yang mengaku kakaku dari masa lalu itu?"
To Be Continue
