Jimin tidak bisa bicara selian mempersilahkan Taehyung masuk. Pemuda manis yang berprofesi sebagai guru itu melangkah dengan pandangan menelusuri rumah yang selama ini di diami oleh Jimin, pacarnya itu dan mantan teman kencannya. Tangannya meremat tali tasnya ketika ia di bawa Jimin ke ruang tamu dimana di sana ada Yoongi dan…
SeokJin.
Ia menghela nafas lalu memalingkan wajahnya, menikmati arsitektur klasik rumah Yoongi.
"V hyung ingin bertemu dengan ahjussi" ucap Jimin seraya menunjuk Yoongi. Yang di tunjuk balik menunjuk dirinya dengan pandangan bingung.
Jujur, sejak insiden pelukan itu Yoongi sudah putus harapan kalau Taehyung tidak akan percaya. Tapi saat ini, di depannya renkarnasi adiknya berdiri memandang dirinya penuh menelisik.
"Kau yang mengaku kakakku tempo hari itu, kan? Kalian berdua tinggal serumah?" tanya Taehyung tidak percaya. Satu fakta mengejutkan lagi, orang yang mengaku kakak dari masa lalunya dan mantan teman kencannya satu rumah.
Memang jalan yang terbaik jika dirinya bergerak mundur dalam hubungan ini karena tidak akan pernah menemukan titik terang apa pun. Ia menghela nafas, tersenyum miris memandang Yoongi yang sedang menarik Jimin mendekat.
"Bukan berdua, tapi bertiga. Jimin juga tinggal di sini. Lagipula, kau kenapa datang ke sini?" tanya Yoongi tidak bersahabat dan sedikit cuek. Melihat tingkah kurang sopan pacarnya, Jimin menyikut Yoongi lalu memberikan tatapan menyeramkannya pada Yoongi.
"Seharusnya ahjussi menyuruh V hyung duduk dan menawarkannya minum" bisik Jimin dengan nada sadis. Yoongi berdecak, entah kenapa ia jadi malas berurusan atau ia tidak tahu tahu bagaimana memulai hubungan dengan Taehyung.
Jimin makin berdecak, tersenyum ke arah Taehyung yang ternyata sedang memperhatikan area sekitarnya. Mengacuhkan SeokJin yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip sama sekali. "Silahkan duduk V hyung. Aku akan bawakan minum untukmu," ucap Jimin.
"Aku mau soju karena aku benar-benar ingin minum sekarang" Taehyung berucap seraya melirik SeokJin dengan tatapan tajam tidak bersahabat. Yang mendapat tatapan itu hanya diam, memikirkan ucapan apa selanjutnya yang harus ia lontarkan. Karena jujur ia tidak sanggup melihat Taehyung memperlakukannya seperti ini.
"Kami hanya punya wine. Apa kau mau meminumnya?"
"Aku tidak bicara denganmu dan kita sudah sepakat untuk tidak saling menyapa dan bicara saat bertemu sengaja atau tidak. Apa kau tidak mengerti hal itu?" Taehyung berujar dengan nada dingin, tidak peduli meskipun SeokJin kembali merasa bersalah dan membungkuk minta maaf.
"Maafkan aku"
Yoongi berdecak, maju selangkah mendekati Taehyung. Pemuda manis itu langsung memandangnya, menelusuri wajah Yoongi yang bisa dikatakan tampan jika di lihat secara dekat seperti ini. pantas saja Jimin tergila-gila dengan pria tua macam Yoongi, meskipun tingkahnya sebelas dua belas dengan si mantan.
"Kau bilang aku adikmu, kan?"
"Kau bilang tidak percaya dan menganggapku tidak waras"
"Jangan membuatku mengingat hal itu, lebih baik kau berikan buktinya padaku" tuntut Taehyung seraya menjulurkan tangannya ke arah Yoongi yang temenung melihat kejadian di depannya ini. tingkah Taehyung yang seperti itu benar-benar menyerupai Chohee.
Saat Chohee meminta sesuatu pasti adiknya itu akan menjulurkan tangannya dengan ekpresi jengkel dan menuntut. Matanya berubah menjadi sendu, menurunkan tangan Taehyung lalu mengangguk paham.
Taehyung mengernyit, menyembunyikan tangannya ke dalam saku mantelnya lalu menatap Yoongi yang tengah memperhatikan wajahnya lebih seksama. Ia sebenarnya risih, tidak nyaman karena Yoongi memandanginya seperti itu.
"Baguslah. Aku juga tidak tahu apa yang membuatku datang ke sini dan melakukan hal memalukan ini. tapi tidak mungkin dua pria dewasa yang terlihat bijak berniat mempermainkan aku, itu lebih tidak masuk akal lagi"
Jimin perlahan maju, menggenggam tangan Yoongi lalu tersenyum memberi semangat pada ahjussinya. "Ahjussi akan membawa buktinya, jadi V hyung bisa menunggunya sambil duduk dan aku akan bawakan minuman."
Taehyung menoleh ke arah Jimin, Yoongi dan terakhir SeokJin. Meskipun hanya sekilas, karena jujur ia masih sedikit sebal akan sikap SeokJin yang benar-benar tidak peka. Kenapa ia terlalu banyak berharap pada orang yang sama sekali tidak peka padanya?
…
Yoongi keluar dari kamarnya membawa dua gulungan lukisan. Ia duduk tepat di depan Taehyung yang baru saja selesai menegak kopinya. Pemuda manis itu memandang Yoongi bingung, tepatnya pada dua gulungan yang dibawa Yoongi.
Ia lalu tersenyum miring, gulungan itu pasti lukisan karena rekan sesame gurunya yang mengajar sejarah mempunyai banyak lukisan seperti itu.
"Itu buktinya. Kau membeli itu dimana? Kau pasti beli di tempat yang sama dengan temanku" ledek Taehyung saat Yoongi menyerahkan dua gulungan itu dan ia langsung menerimanya.
SeokJin yang duduk di samping Taehyung menatapi pemuda manis itu dalam diam, ia sebenarnya khawatir. Takut terjadi sesuatu, tapi melihat tekad bulat Taehyung yang entah di dorong rasa apa ia putuskan hanya diam dan memandangi Taehyung.
Jimin melirik Yoongi yang tak habis-habis memandang Taehyung. Ia tidak merasa cemburu lagi, sudah sewajarnya Yoongi bertingkah seperti itu pada Taehyung. Bagaimana pun juga Taehyung itu adiknya dan sudah kewajiban Yoongi untuk mengawasinya.
Saat Taehyung membuka gulungan pertama berisi sebaris deret tulisan, seperti sebuah surat tapi ia tidak bisa membacanya karena ditulis menggunakan huruf hanja. Ia kembali menggulung kertas tadi dan beralih pada gulungan kedua yang ternyata sebuah lukisan.
Lukisan seorang wanita yang begitu cantik. meskipun sudah usang tapi Taehyung masih bisa melihat wajah, mata, rambut hitam legam dan bunga yang di genggam si wanita dalam lukisan. Ia terdiam, bibirnya yang semula tersenyum meremehkan berubah menjadi senyum segaris.
Tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya dan wanita dalam lukisan ini memiliki kemiripan. Namun yang membedakan adalah rambut dan jenis kelaminnya. Pandangan matanya tidak lepas dari mata si wanita yang menyiratkan kesedihan mendalam. Ia seolah-olah masuk dalam tatapan itu, rasanya begitu sakit dan menyedihkan hingga ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Dia adikku, seorang ratu dari kerajaan Goryeo."
Yoongi berucap dengan nada pelan, takut membuat Taehyung kembali menganggapnya gila. Jimin yang duduk di samping Yoongi, meremat tangan lebar itu lalu memberikan senyum semangat.
"Sepertinya kalian perlu waktu berdua untuk membicarakan ini, aku akan keluar sebentar" ucap Jimin lalu memberi kode untuk SeokJin keluar juga. Membiarkan kakak beradik itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Yoongi tersenyum kecil pada Jimin sebelum menaruh seluruh atensinya pada Taehyung. Pada renkarnasi adiknya yang sedang memandangi lukisan Chohee sangat mendalam.
"Dia cantik."
Taehyung akhirnya bicara setelah sekian lama diam. Meletakan lukisan itu di atas meja lalu memandang Yoongi yang tengah menatap lukisan adiknya dengan pandangan lebih sedih.
"Dulu aku tidak memiliki wajah yang menarik saat seusia adikmu. Bagaimana hidupnya? Apa dia hidup bahagia dengan rajanya?" tanya Taehyung seraya menunjuk wajah si wanita menggunakan dagunya. Yoongi tidak langsung menjawab pertanyaan Taehyung. Gumiho berusia ratusan tahun itu menarik nafas panjang sebelum memulai kembali cerita kelam tersebut.
"Apa dia hidup sengsara dan tidak bahagia?" tebak Taehyung seraya memandangi lukisan itu lagi lalu Yoongi yang sudah memandang dirinya lagi.
"Aku hanya berkomunikasi dengan dia menggunakan surat, aku selalu meninggalkannya sendiri di rumah yang jauh dari kota karena itu satu-satunya cara agar di tetap aman. Tapi dia tetap tersenyum dan senyum itu lah yang membuatku terus semangat untuk melanjutkan hidupku"
1180
Di pagi hari di istana. Raja muda yang baru saja di angkat dan baru saja melangsungkan pernikahan beberapa bulan itu, tengah serius melakukan latihan memanah. Lima kali berturut-turut ia berhasil mengenai sasaran dengan tepat. Namun, ketika suara langkah kaki yang begitu ia hafal mendekat konsentrasinya mulai hilang.
"Teruslah berlatih. Kau harus bersiap-siap menghadapi konspirasi besar-besaran yang sebentar lagi akan di lakukan oleh Jendral Min"
Suara sang inang atau sekarang ibu suri menggema di telinganya. Ia melepaskan anak panah ke enam dan masih berhasil mengenai tempat sasaran.
"Apa maksudmu, ibu suri?"
Jung yang berdiri di samping ibunya melangkah mendekat, berdiri di samping sang raja masih dengan tubuh membungkuk hormat pada kakak sekaligus rajanya tersebut. ia melirik sang ibu yang memberi tatapan katakan saja semua.
"Jendral Min membawa kemenangan telak dalam menghadapi suku Barbar. Perang yang tidak akan membuat manusia terkuat sekali pun menang tapi Jendral Min menang. Bukankah ini aneh, Yang Mulia?"
"Katakan yang jelas, Jung!"
Seok mulai marah, dia melepaskan anak panah ke tujuh dengan sempurna namun benang di busurnya mengendur mengeluarkan suara. Ia melirik Jung yang terdiam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu Seok.
"Berita kemenangannya membuat rakyat mengagung-agungkan beliau, para kaum bangsawan mulai dinjak-injak dan dibanding-bandingkan karena berita kemenangan ini"
Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa mendengar berita ini, ia tidak bisa menerima jika kaum bangsawan yang susah payah ia angkat derajatnya kembali diinjak-injak karena sebuah berita kemenangan palsu Jendral Min.
Perang yang memiliki kemungkinan kecil untuk menang berhasil dimenangkan Jendral Min yang berasal dari rakyat jelata, itu hal mustahil. Pasti pria licik itu membuat rencana rahasia atau perjanjian terlarang dengan suku Barbar.
Pikiran buruk benar-benar membuat Seok tidak terkontrol. Tangannya yang bersiap melepaskan anak anah ke delapan meleset, bukan itu saja tapi benang di busurnya juga putus karena terlalu kuat ia tarik ke belakang. Setan-setan di kepalanya mulai mengepul hingga membuat emosinya meledak dan mendidih.
Jung dan ibu suri tersenyum puas, saling melirik dengan pandangan puas.
…
Chohee memandang kasihan ke arah tempat latihan Seok bertarung pedang. Sesekali ia berdecih karena Seok berulang kali hampir terluka karena tidak fokus pada lawannya. Jujur ia ingin menghampiri Seok dan melerainya agar berhenti tapi sepertinya itu sudah terlalu dan kelewatan.
Lagipula, Seok pasti tidak akan mengijinkannya mendekat karena tidak mau Chohee ikut terluka. Tapi ia merindukan Seok, ia ingin menghabiskan waktu dengan Seok meskipun hanya sejam.
"Aku merindukan, Yang Mulia"
"Apa Yang Mulia belum menemui anda setelah acara pernikahan?"
"Kau benar. Aku merindukan dia, aku ingin mengenal dia lebih lanjut, aku juga ingin mengenal ibu suri dan adiknya karena aku belum bertemu mereka"
"Tapi…"
Sang dayang terlihat khawatir mendengar keinginan ratunya untuk bertemu ibu suri dan Jung. Banyak sumber mengatakan bahwa mereka sangat menyayangi dan mengekang Seok hingga sang raja kelewat patuh pada nasihat ibu suri dan adiknya tersebut.
Namun, tetap saja kabar buruk itu bisa di tepis dan di hilangkan begitu saja lewat persetujuan ibu suri menikahkan Seok dan Chohee yang notabennya berasal dari rakyat jelata.
"Jika saya boleh memberi saran, anda sebaiknya berhati-hati dengan ibu suri dan adik Yang Mulia"
"Kenapa? Keluarga Yang Mulia adalah keluargaku juga, begitu juga sebaliknya. Aku tidak boleh berfikiran negative pada keluarga raja. Aku adalah istrinya, aku harus percaya padanya" Chohee berucap penuh percaya diri dan keyakinan.
Sang dayang hanya mengangguk patuh, meskipun jauh di dalam hatinya dia khawatir terjadi apa-apa pada ratunya ini kelak.
…
Saat ia baru masuk ke tempat Seok biasanya berlatih ia terkejut melihat Seok sudah ada di hadapannya. Ia terperenjat, melangkah mundur namun entah sial atau sebuah keburuntungan ia terjerembab ke belakang. Tapi Seok dengan cepat menarik tangan Chohee sambil tangan yang satunya memeluk pinggang ramping Chohee, mencegah wanita ini terjengkal ke belakang.
Mata Chohee sukses membulat, ia terpaku cukup lama dan menikmati rengkuhan tangan Seok di pinggangnya. Seok tersenyum melihat senyum Chohee, ia menarik Chohee semakin dekat. Bunga-bunga sakura yang berguguran menjadi penambah suasana romantis dan hangat di antara mereka. Seok tersenyum kecil, menatapi wajah mungil itu sedikit berhiaskan rona merah dan mata yang membulat lucu.
"Kau makan terlalu banyak, kan?"
Chohee segera tersadar, ia segera bangun lalu memberi hormat pada Seok. Seok sendiri semakin tersenyum lalu mengelus kepala Chohee dengan lembut.
"Kenapa kau berlarian seperti itu?"
Chohee menengadah. Matanya bergerak gelisah, gugup ingin menjawab. Ia ingin menjawab jujur tapi ia malu mengakui bahwa ia merindukan Seok dan ingin bertemu dengannya. Jika berbohong ia tidak tahu harus berbohong apa, bagaiamana caranya melakukan kebohongan ia tidak tahu.
"Apa kau begitu merindukanku?" tanya Seok lagi. Kali ini Chohee tersenyum sambil mengangguk kecil sebagai jawaban ya. Seok sendiri semakin tersenyum, ia menjauhkan tangannya lalu menepuk-nepuk lengan Chohee.
"Aku juga merindukanmu" ucap Seok sambil menarik Chohee ke dalam pelukannya. Chohee sendiri tersenyum lebar lalu membalas pelukan hangat yang diberikan Seok kepadanya.
…
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Tubuh Chohee yang sedikit membungkuk memberi salam pada Seok langsung kembali tegak. Matanya menatap bingung ke arah wajah pemuda berstatus raja. Ia bingung karena melihat sorot mata Seok penuh amarah, sedih dan tidak percaya. Perlahan ia mendekati Seok, menatap mata Seok lebih dalam seolah mencari sesuatu di dalam kedua pupil mata berwarna cokelat gelap seperti dirinya.
"Apa maksud anda, Yang Mulia?"
"Pertemuan rahasiamu dengan Jung di tempatmua berasal, hubungan kalian pada waktu itu dan kabar bahwa kau memihak kakakmu"
"Chohee-ah" panggil Seok, seraya menarik lengannya untuk menghadap dan berdiri dengan baik di depan Seok. Pria dengan pakaian serba hitam dan emas ini, menatap Chohee penuh permohonan dan putus asa.
"Katakan padaku. Katakana bahwa semua itu tidak benar, ibu suri dan Jung pasti hanya membual. Kau tidak akan melakukan hal seperti itu, kan?"
"Yang Mulia" Chohee memanggil dengan suara pelan dan lirih. Seok menggeleng, tidak mengijinkan Chohee untuk bicara.
"Apa kau sudah sejak lama merencanakan semua ini?" tanya Seok dengan suara lirih, pelan dan frustasi.
"Ya,"
"Katakan semua itu bohong Chohee! Semua yang dikatakan ibu suri dan Jung bohong, mereka hanya membu-"
"Bukan maksudku untuk menyelamu" potong Chohee dengan suara tegas namun masih terdengar lirih dan pelan. "Kita, terlebih aku sudah berjanji padamu untuk tidak berbohong lagi. Semua yang dikatakan Jung dan ibu suri benar"
"Yang Mulia…" panggil Chohee dengan suara lirih dan pelan, namun Seok kembali bergerak mundur. "Bukan maksudku menyembunyikan semua ini. Aku berniat memberi tahumu semuanya tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat" lanjut Chohee dengan lelehan air mata yang mengalir. Ia kembali mendekat tapi baru satu kakinya maju, Seok menatapnya penuh intimidasi dan emosi meluap-luap.
"Kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku, ibu suri dan Jung benar kali ini aku terlalu buta akan cintaku padamu, akan cinta yang kau berikan padaku. Tapi semua itu hanya kepulan asap yang cepat menghilang, kau tidak mempercayaiku"
"Tidak. Ak mohon dengarkan aku, Yang Mulia" tangan Chohee yang menggenggam tangan Seok segera ditepis dengan begitu kasar. Chohee terpaku tidak bisa bergerak mendapat perlakuan seperti itu.
"Kenapa harus Jung? Kenapa harus kakakmu?! Kenapa harus mereka berdua?!" marah Seok dengan nada suara tinggi. Chohee menengadah, ia berhasil mengendalikan tubuhnya, menarik tangan Seok yang terkepal untuk ia genggam.
"Itu tidak benar, Yang Mulia"
"Kau berbohongl!" teriak Seok.
"Kau tidak pernah menganggapku ada. Kau tidak pernah menaru tempatku di hatimu. Dulu hatimu hanya untuk Jung, sekarang kau hanya membuka tempat itu untuk kakakmu. Kau melakukan kesalahan karena memihak kakakmu bukan suamimu, rajamu"
"Besok kakakmu akan kembali, dia akan datang membawa pedang pemberianku dengan keadaan utuh. Dia selamat"
Chohee terlonjak. Ia sedikit bahagia mendengar kakaknya selamat.
"Kau tahu seluruh rakyatku yang harusnya mengagungkanku malah mengagungkan kakakmu. Dia melakukan dosa dan pengkhianatan sekaligus"
Mata Chohee melebar. Terkejut, tidak percaya jika sang kakak dituduh sebagai pengkhianat.
"Dia menang dalam perang yang tidak memiliki harapan sekecil bulir beras. Tapi dia menang, rakyat mengagung-agungkan dia ketimbang aku yang seorang raja. Dia melanggar perintahku, perintah orang yang diutus dewa untuk menjadi raja kalian. Kakakmu melakukan dosa besar karena hal itu, dia tidak bisa diampuni"
Tubuh Chohee semakin melemas, pandangannya semakin kosong tanya nyawa saat Seok mengatakan perintah mutlak yang menyatakan bahwa ia diperbolehkan meninggalkan istana. Seok mengusirnya, Seok mengusir dirinya dari istana dan hidup Seok.
"Kau sangat menyayangi, mencintai kakakmu, kan? Maka aku akan membunuh cintanya, aku akan memenggal kepalanya besok bersama anggota keluargamu yang lain"
Di belakang, tanpa Seok ketahui. Chohee menangis, menangis tanpa suara meskipun matanya berair mengalirkan air mata kesedihan dengan begitu derasnya. Seok tidak peduli, bahkan melirik saja pun tidak. Tangan mungilnya bergerak meremat hanbok biru lautnya dengan begitu kuat hingga terlihat kusut. ini pelampiasan akibat rasa sakit yang ia rasakan, penyesalan dan segala macam hal yang begitu menyakitkan.
"Maaf… maafkan aku"
"Aku memang tidak selalu ada di sampingnya, aku juga bukan sumber kebahagiannya. Tapi aku yakin diumurnya yang tidak panjang itu, adikku pernah merasakan bahagia meskipun bersama orang brengsek itu"
Taehyung mendengarkan dengan seksama seluruh cerita menyedihkan dari hidup wanita bernama Chohee ini. matanya sudah berembun bersiap menumpahkan air mata namun sekuat tenaga ia tahan. Ia tidak boleh menangis, lagipula yang diucapkan Yoongi benar-benar mirip seperti drama-drama sejarah di televise.
Otaknya memang berpikir seperti itu tapi anehnya, hatinya malah membenarkan seluruh cerita Yoongi. Rasa sesak di hatinya, makin terasa, bahkan ia harus memukul-mukul dadanya berulang kali agar rasa sesak itu berkurang. Matanya terpejam, menyetabilkan nafasnya dan berusaha sebisanya menahan sesak di dadanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yoongi khawatir.
Taehyung menggeleng masih dengan mata terpejam. Menarik nafas lalu membuka kedua kelopak matanya yang ternyata memerah menahan tangis. "Bagaimana dengan si raja itu? apa di juga berenkarnasi?"
"Aku tidak tahu, aku belum bertemu dengan dia"
Taehyung mengangguk, mengusak kedua matanya yang berair lalu menggulung kembali lukisan wanita bernama Chohee itu. "Aku lebih penasaran dengan rupa si raja. Apa dia tampan?"
Yoongi tertawa kecil. Taehyung memang mirip adiknya, pertanyaan itu juga yang akan dikeluarkan Chohee jika mendengar sebuah nama laki-laki. "Kalau kau memang adikku kau punya kemiripan dengannya dalam hal ini"
Taehyung tertawa kecil, menunduk sebentar guna menahan sakit dan sesak pada dadanya. Rasa sesak dan sakit itu makin menjadi, tapi masih bisa ia control. Apa mungkin dirinya mempunyai penyakit jantung? Tapi cek kesehatannya selalu baik tiap bulan, hanya tadi pagi ia merasa sesak. Setelah mimpi mengerikan itu.
"Tapi kenapa kau saat menceritakan semua kisah ini kau begitu sedih? Seolah-olah kau mengenang semuanya, hidupmu terus berlanjut dan terus mengingatnya"
Yoongi tertegun, memandangi Taehyung yang sudah kembali menjadi mode seorang guru BK bernama V. culas dan penuh selidik, "Kau tidak akan percaya kan jika aku katakan aku hidup dalam kenangan itu"
"Aku lebih tidak percaya pada diriku sendiri karena mendengarkan kisahmu yang mirip drama sejarah. Lagipula, aku datang ke sini karena waktu itu kau memelukku dan menangis di depanku" Taehyung berucap dengan nada sedikit sebal pada dirinya sendiri. Ia menghela nafas lelah seraya memijat pelipisnya.
"Kau itu memang gila tapi gilamu tidak menyeramkan"
"Kenapa sekarang kau semakin mirip dengan Chohee"
"Jangan sebut nama itu karena aku masih tidak menyukainya. Aku datang ke sini bukan untuk mendengar pengakuanmu sebagai kakakku, meskipun kau dulunya adalah kakakku tidak secepat itu aku percaya begitu saja" ucap Taehyung seraya bangkit berdiri, melirik kedua gulungan itu lalu ke arah Yoongi yang nampak masih bersedih dan kecewa.
"Tapi sebagai hiburan untukmu atas penyesalanmu aku akan memanggilmu dengan sebutan hyungnim, kau suka?" tawar Taehyung dengan senyum hangatnya. Yoongi tertegun, ia tidak mengangguk atau menggeleng karena terlalu sibuk memandangi senyum hangat yang diberikan Taehyung padanya.
"Aku masih ada urusan, aku permisi" pamit Taehyung seraya mengambil tasnya. Matanya berkeliling ke penjuru ruangan, mencari seseorang yang akan mengantarkannya tapi tidak ada siapa pun di sini kecuali Yoongi dan dirinya.
Ia tidak bisa berbohong kalau ia ingin di antar keluar dengan SeokJin. Ia ingin memperbaikinya tapi SeokJin sepertinya tidak mau. Akan sulit mengajak SeokJin memiliki hubungan seperti orang pada awamnya.
"Dia bahkan tidak mau mengantarku" gumam Taehyung dengan suara sedih seraya ia melangkah menju pintu keluar. Ketika membuka pintu, ia terkejut melihat SeokJin sudah berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan menyesal.
Tapi bukan penyesalan yang dibutuhkan Taehyung saat ini. ia butuh Seokjin untuk berbicara jujur dan memulai hubungan mereka yang lebih baik. Ia melemparkan pandangan sebal lalu melangkah begitu saja meninggalkan SeokJin yang ternyata mengikutinya pelan-pelan dari belakang.
Taehyung tahu itu, tapi ia hanya diam dan menunggu SeokJin akan melakukan apa. tapi nyatanya, SeokJin tidak melakukan apa pun bahkan saat Taehyung sudah sampai di depan gerbang utama. Ia menghentikan langkahnya, membalik tubuhnya dan memandang SeokJin kesal.
"Apa kau tidak mencoba menghentikanku?" tanya Taehyung kesal. SeokJin nampak bingung, mata itu bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Apa aku boleh menghentikanmu?"
"Apa kau tidak ingin memulai kencan denganku lagi? Jika iya kau harus menghentikanku!" marah Taehyung dengan suara tinggi. Tangannya mengepal erat pada tali tasnya, memandangi SeokJin yang hanya termenung di tempat.
"Aku takut saat aku menghentikanmu kau akan memaksa pergi lagi"
"Aku akan pergi karena kau pasti tidak akan menjawab pertanyaanku tempo hari"
SeokJin sudah bisa menebak ini. Taehyung pasti masih memaksa dirinya untuk bicara jujur mengenai identitasnya. Ia tidak bisa melakukan itu, ia tidak mengatakan pada Taehyung bahwa dirinya vampire dan tidak memiliki identitas.
"Kau tidak menjawab lagi?"
"Aku…" SeokJin berucap, memberi jeda pada kalimatnya seraya menatap Taehyung dengan pandangan menyesal dan meminta maaf. "… tahu kau tidak akan percaya padaku. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak tahu identitasku sendiri."
Taehyung membuang nafasnya. Kesal, matanya terpejam menahan kesal dan marah. "Kau dan hyungnim memang orang yang suka bicara tidak masuk akal. Bodohnya aku berharap lagi dan lagi padamu" Taehyung bergumam dengan suara lirihan sedih tentang hidupnya sendiri.
"Aku terlalu banyak berharap pada hubungan ini memiliki happy ending yang aku sukai. Tapi nyatanya hubunganku kali ini juga akan memiliki sad ending. Aku terlalu bodoh berharap padamu."
Setelah mengucapkannya, Taehyung berjalan tergesa-gesa meninggalkan SeokJin yang termenung di tempat. Memandangi punggung sempit itu dalam diam, ia ingin mencegah Taehyung tapi ia tahu hanya akan ada penolakan dan pertanyaan yang sama yang akan di lontarkan Taehyung padanya.
Siapa kau? namamu siapa?
Ia tidak mau Taehyung menanyakan hal yang tidak akan pernah ia bisa jawab. Karena ia tahu keterdiamannya atas pertanyaan itu akan menambah sakit di hati Taehyung.
Ia tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Taehyung itu.
…
…
…
"Kau tahu?"
Jungkook memandang Jieun yang sedang meminum tequiella di depannya dengan anggun. Tersenyum kecil melihat Jieun yang sedang tersenyum puas karena rencana mereka untuk balas dendam berhasil.
"Si jalang itu sudah mulai menjahuhi anakku, begitu juga dengan anakku yang mulai menyerah. Bagaimana dengan si tua keparat itu?" tanya Jieun seraya menuangkan wine yang dipilih Jungkook ke gelasnya.
Pria bergigi kelinci itu tersenyum miring, meminum cairan pekat yang adiktif itu dalam sekali tegak. Matanya terpejam sebentar sebelum terbuka menampilkan warna mata aslinya yang sehitam legam.
"Dia akan menemui jalangmu dan di sana aku akan memulai rencanaku"
Suasana ruang bar VIP itu berubah menjadi mencekam saat Jungkook merubah warna matanya dan mengatakan rencananya. Begitu juga dengan Jieun yang ikut merubah warna matanya dan menatap ke ruang VIP di sebelah mereka.
Dua manusia bejat dan penuh dosa tengah melakukan dosa di dalam sana. Mereka saling melempar senyum mengerikan.
"Aku lebih suka minum langsung dari pohonnya"
…
…
…
Bunyi alat masak di dapur mewah itu saling bersahutan. Dua pria dewasa dengan kualitas wajah di atas rata-rata nampak sibuk dengan alat masak mereka. Yoongi Teflon dan daging merahnya, sedangkan SeokJin sibuk dengan salad buatannya. Pikiran mereka masing-masing melayang tentang orang yang sama, yaitu Taehyung.
"Jangan berani memikirkan adikku lagi" Yoongi kembali memberi peringatan dengan mata memicing tajam. Ia benar-benar kesal karena sejak awal masak SeokJin selalu memikirkan Taehyung, Taehyung dan Taehyung.
SeokJin berdecak sebal, "Aku sudah putus dengannya. Aku tidak punya hubungan apa pun dengannya"
"Kau bilang putus? Hubunganmu saja belum resmi, tapi baguslah. Nyamuk sepertimu memang tidak diperkenankan mengencani manusia" balas Yoongi dengan mulut tajamnya. SeokJin menoleh, ayolah sampai kapan Yoongi akan memanggilnya nyamuk.
Dengan wajah marah ia menoleh ke arah Yoongi yang ternyata ikut menoleh. Seketika itu juga Yoongi terkesip memandangi wajah SeokJin. Seperti ada kilatan menyilaukan yang menghampiri matanya, membentuk sebuah potret yang taka sing baginya di wajah SeokJin. Wajah yang sama-sama terlihat marah namun berbeda waktu dan tempat.
"Pergi dan matilah! Jangan pernah kembali!"
"Jangan memanggilku nyamuk lagi!"
Suara itu pun memiliki intonasi yang sama. Mata Yoongi memandang SeokJin penuh rasa curiga dan menelisik. Kenapa bisa potret Wang Seok terlukis di wajah SeokJin.
Risih di tatap seperti itu SeokJin melunakan wajahnya. Melambai-lambaikan tangannya di depan Yoongi, menyadarkan Yoongi dari fokusnya memperhatikan wajahnya. "Kau kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya SeokJin seraya menyentuh wajahnya sendiri.
Yoongi masih tidak menjawab, ia mematikan kompor dengan kasar lalu memandang SeokJin dengan pandangan menelisik. "Di wajahmu aku melihat wajah seseorang yang membuatku sangat marah" ucap Yoongi seraya menatapi wajah SeokJin lebih seksama tapi ia tidak bisa melihat potret secepat kilat itu lagi.
Ia menghela nafas, mengusap wajahnya lalu menarik nafas panjang. Kenapa bisa ia memikirkan si brengsek itu lagi. "Aku melihat wajah raja itu."
SeokJin termenung, menatapi pantulan wajahnya melalui kaca jendela dapur mereka. Ia lalu kembali memandangi Yoongi yang kembali fokus memasak dagingnya.
"Kau sangat membencinya, ya?"
"Kau tidak perlu bertanya. Ngomong-ngomong kau sudah berapa lama menjadi vampire?" Yoongi balik bertanya. SeokJin berpikir, ia sendiri lupa kapan ia dijadikan vampire seperti ini. sudah lama sekali rasanya, tapi ia harus menjawab pertanyaan Yoongi yang satu ini.
"Lama, delapan ratus atau sembilan ratus tahun. Kau mau bertanya apa aku menghisap darah rajamu itu?"
"Kenapa kau berpikir dia dijemput vampire seprtimu bukannya malaikat?"
"Dia itu manusia kejam, pastilah dia dijemput vampire. Seharusnya bukan vampire lagi tapi iblis neraka paling dalam" ucap SeokJin ikut berapi-api. Bisa di bilang raja itu ikut campur tangan dalam masa lalu Taehyung. Karena ia meyakini bahwa Taehyung adalah renkarnasi Chohee dan Chohee mati karena si raja bernama Wang Seok itu.
"Tapi kenapa aku melihat wajahnya saat di wajahmu, seolah-olah kalian memiliki kemiripan"
"Aku lebih tampan darinya, tidak mungkin aku"
Yoongi termenung, menatapi dagingnya tanpa menoleh ke arah SeokJin yang kembali sibuk membuat salah untuk sarapan. Kenapa sekarang ia merasa aneh dengan SeokJin? Tidak mungkin, mana mungkin Wang Seok dan SeokJin orang yang sama apa lagi berhubungan.
Tidak mungkin.
…
…
…
"Yang Mulia…"
Seok duduk di singgah sananya dengan wajah angkuh penuh amarah. Ia mulai terusik dengan desas-desus tentang dirinya dari Jung dan sang inang bahwa dirinya tidak becus. Ia tidak becus membawa harkat martabat kaum bangsawan di mata militer dan rakyat.
Rakyat lebih merasa di pimpin dan diberi kebahagian oleh Jendral di hadapannya. Jendral Min. kaum militer juga mulai seenaknya sendiri bersikap atas rumor ini sehingga membuat emosinya tak tenang.
"Ambilah busur itu"
Yoongi memandangi kotak berlapis emas berisikan busur dan beberapa anak panah yang mekilat tajam. Ia termenung menatapi panah dan busur itu, lalu ia memadang Seok yang tengah memandangnya penuh amarah.
"Jadilah pemimpin perang di daerah perbatasan wilayah suku Barbar"
"Saya akan laksanakan, Yang Mulia"
"Dan jangan pernah kembali lagi ke istana untuk selama-lamanya"
Yoongi terkejut, mendongak menatap sang raja yang tengah merubah pandangannya setajam pedang-bukan-lebih tajam dari senjata apa pun di sekitar mereka. Ia melirik Jung dan Sang inang di kanan dan kiri raja, tersenyum meremehkan mendengar perintah raja mereka.
"Kenapa? Say-"
"Pilihan ada di tanganmu, Jendral Min" Seok memotong perkataan Yoongi. Pria rupawan namun arogan dan plinplan itu mengatur nafasnya yang memburu. "Pilihan pertama adalah kau mati di perang dengan begitu kau akan dikenang sebagai pahlawan dan adikmu mengingat kakaknya sebagai pejuang. Pilihan kedua adalah kau kembali di cap sebagai pendosa dan pengkhianat dan adikmu akan mengingat kakaknya seorang pendosa."
Yoongi tidak bisa bicara atau membalas. Kedua tangannya mengepal mendengar pilihan yang di lontarkan Seok sama sekali tidak membawa pengaruh baik bagi siapa pun. Bagi dirinya, sang raja atau pun adik tersayangnya.
"Yang Mulia…"
"Pergi dan matilah! Jangan pernah kembali!"
Yoongi menutup lukisan adik dan surat terakhir yang ia terima sebagai balasan dari adiknya yang terakhir. Ia tidak bisa menghapus memori apa pun di kepalanya, ia akan terus mengingat bagaimana darah mengalir dari jantung yang adik, rasa sakit di dadanya akibat panah yang di tancapkan hingga sekarang.
Ia masih merasakan semua itu.
Sedangkan si raja? Mungkin saja dia sudah berenkarnasi dan melupakan semuanya. Ia semakin emosi dan marah. Kenapa harus seperti ini?
Ia merasakan semua rasa sakit itu sendiri…
"Wang-"
Yoongi tidak meneruskan mulutnya mengucap nama si raja. Rasa sakit itu kembali muncul. Rasa sakit yang sangat di sekujur tubuhnya. Seperti ada puluhan orang yang memukulinya tanpa ampun. Ia mengerang, menahan sakit pada tubuh terutama tempat panah-panahnya tersisa.
Rasanya sangat saki. Sangat. Hingga Yoongi tidak mampu berdiri lagi, melupakan fakta bahwa ada orang lain yang berdiri memandanginya dari ambang pintu. Orang itu berteriak kaget melihat Yoongi tiba-tiba ambruk dan mengerang penuh kesakitan.
"Ahjussi!"
Jimin berteriak, memanggil-manggil Yoongi agar sadar tapi buktinya Yoongi tidak sadar. Mata sipit itu terpejam begitu erat, mencakar-cakar lantai kayu di kamarnya hingga membuat buku-buku jari itu berdarah. Jimin semakin takut, ia menarik tangan Yoongi agar berhenti mencakar lantai tapi yang ia dapat adalah sebuah hentakan kasar hingga ia terdorong ke belakang cukup jauh.
Jimin makin terkejut, tubuhnya membeku mendengar suara melengking Yoongi. Tubuh tegap yang biasa memeluknya tengah meringkuk sakit, bunyi cakaran kuku Gumiho saling bersahutan menambah suasana mencekam yang di rasakan Jimin.
Pikirannya melayang pada kejadian beberapa minggu lalu. Saat Yoongi berteriak kesakitan di dalam kamar, sendirian. Ini yang di rasakan Yoongi dan ia hanya diam saja saat itu begitu juga hari ini. tangan mungilnya gemetar ketakutan melihat aliran darah merembes dari tubuh Yoongi.
"AHJUSSI!"
Jimin kembali menghampiri Yoongi, membalik tubuh tegap itu dan terpampanglah wajah penuh kesakitan Yoongi.
"AAARGGHHH! SAKIT! Pan… pan… panahnya! AARRRGGGHHHH!"
Jimin menangis melihat dada Yoongi yang berlumuran darah dan api biru. Ia menggeleng, mengarahkan wajah Yoongi yang juga ikut memerah. Bukan ruam merah, tapi darah segar mengalir dari wajah, seluruh tubuh Yoongi.
"Ahjussi! Sadar ahjussi! Kau mendengar suaraku, kan? Ahjussi!"
Semua alat indra Yoongi mulai tidak berfungsi. Yang di rasakannya hanya panah di dadanya terlepas. Rasanya sangat sakit hingga rasanya ia ingin Tuhan mencabut nyawanya saat ini juga. Rasanya begitu sakit, sangat sakit.
Panah itu mencuat keluar. Yoongi ingin berteriak, namun mulutnya hanya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa pun. Matanya berubah warna menjadi biru, ia tidak melihat apa pun. Semuanya gelap, ia tidak bisa bicara, ia tidak bisa mendengar suara apa pun, yang bisa ia rasakan adalah rasa sakit yang sangat.
Ia bisa merasakan dengan jelas darah mengalir dari tempat panah itu keluar, api biru yang panas melingkupi tubuhnya. Api, darah dan rasa sakit. Hanya itu yang bisa ia rasakan.
"Ahjussi… jebalyo… hiksss… jebalyo…"
Jimin berbisik dengan suara lirih, air matanya mengalir deras. Ia tidak peduli tubuhnya akan terluka karena api buru di tubuh Yoongi. Ia tidak bisa diam saja melihat Yoongi berteriak sakit karena panahnya terlepas.
Panah itu terlepas karena dirinya.
Jimin mencabut panah berbalut api biru itu.
"Aku tahu ahjussi mendengar suaraku… aku di sini… ahjussi… hiksss… tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada di samping, ahjussi… hiksss… jadi, ahjussi harus bisa bertahan… aku mohon ahjussi… hikssss"
Jimin memeluk tubuh Yoongi begitu erat. Ia tidak bisa kehilangan orang yang ia cintai lagi. Sudah cukup ayah, ibunya, jangan Yoongi.
"Hiksss…"
…
…
…
…
…
Hiksss…
Mata Yoongi terbuka lebar. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan mata membulat kaget. Kenapa bisa ia tertidur di lantai, padahal semalam dengan jelas ia mengingat bahwa ia merasakan panahnya tercabut.
Panahnya kembali tercabut.
Panahnya tercabut dan saat itu…
"Aku ada di samping ahjussi"
Yoongi menoleh masih dengan posisi tidur terlentang. Rasa terkejut makin melingkupinya melihat wajah lelah dan mata sembab Jimin. Ia membalik tubuhnya menyamping menghadap Jimin. Mengusap kelopak mata Jimin, berharap jika Jimin tidak melihat semua hal mengerikan itu.
"Kau benar, aku melihatnya. Semua tanpa terkecuali" Jimin berucap penuh penekan. Matanya kembali berair mengingat kejadian malam itu Yoongi tidak sadarkan diri setelah panah ke empat terlepas. Tertinggal tiga panah terakhir yang tinggal menunggu tercabut sendiri atau tangan mungilnya yang mencabut.
"Aku juga mencabut panahmu, aku membantu panah itu terlepas."
Yoongi nampak gelagapan, matanya bergerak gelisah melihat Jimin kembali menunjuk wajah sedih dan marahnya. Dengan beringas Jimin memukul-mukul dada dan lengan Yoongi, mendorong tubuh itu sambil menangis.
"Kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kau sembunyikan rasa sakitmu? Padahal kau selama ini menanggung rasa sakitku, kenapa kau tidak mengijinkanku menanggung rasa sakitmu juga? Kenapa? Kenapa ahjussi?"
Tangis Jimin pecah. Ia tidak kuat lagi, ia tidak bisa melihat Yoongi memendam rasa sakit sendiri, terlebih rasa sakit itu disebabkan oleh dirinya. Yoongi tahu dia salah, dia melakukan kesalahan besar karena menyembunyikan rasa sakitnya dari Jimin. Tapi ia punya alasan untuk itu.
"Aku tidak mau kau melihatku seperti semalam. Kau tidak akan pernah melupakannya"
"Aku tidak peduli aku mengingatnya atau tidak. Tapi kenapa ahjussi tidak pernah bercerita? Apa masih ada yang kau sembunyikan dariku? Apa lagi?" tanya Jimin masih mendorong-dorong tubuh Yoongi. Namun dengan sigap Yoongi menahannya hingga tubuh mungilnya terdorong makin dekat dengan Yoongi.
"Kau atau aku yang mati"
Jimin terdiam, matanya menatap bingung mendengar ucapan Yoongi. Tubuhnya menegang kaku tanpa bisa digerakan. Matanya memandang Yoongi yang diam, diam berpikir mengenai kata-kata yang tepat agar Jimin bisa mengerti situasi mereka saat ini.
"Sejak kau dilahirkan kau memang harus mencabut panahku, jika kau tidak mencabut panahnya maka kau tidak memiliki tujuan hidup lagi yang berarti kau akan segera mati"
"Tapi kalau aku mencabut panahnya ahjussi…"
Jimin tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Matanya kembali berair, ia bergerak menjauhi Yoongi dan menghapus air matanya. "Aku sudah tahu itu"
"Kau juga terdaftar sebagai buronan kaum vampire, kapan saja kau bisa diserang kembali. Bukan hanya Dia lagi yang ikut campur, tapi para kaum vampire juga mulai ikut ambil bagian" Jimin menggeleng, ia tidak mau menerima takdir yang jauh lebih mengerikan daripada ini.
Yoongi menarik nafas, menarik Jimin menghadapnya, menangkup kedua pipi bulat itu yang basah karena air mata. Kekasih mungilnya yang berstatus istri tersebut kembali menangis, tangisannya jauh lebih keras dan memilukan.
"Mianhae…"
Yoongi menggeleng, "Ini bukan kesalahanmu" ucap Yoongi dengan suara lembut. Mengusap rambut Jimin penuh sayang.
Jimin menggeleng, berusaha bicara meskipun tersendat-sendat akibat air matanya yang tidak berhenti mengalir sejak tadi. "Mianhae… maafkan aku karena aku mencintaimu…"
Yoongi terpaku, memandangi Jimin yang menunduk lalu memandang wajahnya. Bibir itu kembali bergetar, menyentuh dada Yoongi. Tempat dimana ketiga panah yang tersisa tertancap, air matanya kembali mengalir mengingat kejadian semalam.
Kejadian dimana Yoongi kehilangan panahnya, ia melihat dengan mata kepala sendiri. Ia, secara tidak langsung bertanggung jawab atas rasa sakit yang Yoongi rasakan. Ia yang bertanggung jawab, ia yang melakukan semua itu.
"Aku salah karena mencintaimu… mianhae… neoleul salanghaeseo mianhae… mianhae…"
Yoongi menggeleng, menarik Jimin masuk ke dalam pelukannya. Memeluknya begitu erat, menepuk-nepuk punggung Jimin, sesekali juga tangannya mengusak rambut Jimin. Tapi pemuda manis dalam pelukannya ini sama sekali tidak berhenti menangis.
"Mianhae…"
"Kau tidak salah, kau tidak salah karena mencintaiku…"
Jimin menggeleng, menolak ucapan menenangkan Yoongi. "Aku salah karena mencintaimu, jika aku tidak mencintaimu kau tidak akan merasakan sakit. Aku bersalah… maaf… mianhae ahjussi… mianhae… mianhae…"
Yoongi tak kuasa menahan tangisnya. ia juga bersedih, ia juga bersedih karena hidupnya seperti ini. ia yang membuat Jimin menangis, ia yang membuat Jimin berpikir bahwa mencintai dirinya adalah. Jimin tidak salah, dirinya yang salah karena menggariskan takdir Jimin bahkan sebelum dia lahir dan mengerti akan caranya hidup di dunia.
Ia yang salah. ia yang bertanggung jawab atas rasa sakit Jimin dan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. semuanya karena dirinya.
Adiknya meninggal karena dirinya.
Bahkan sekarang pun, ia membuat Jimin menangis karena dirinya.
Ia yang bersalah…
"Mianhae ahjussi… mianhae…"
"Kau tidak perlu minta maaf Jimin. Aku yang salah, aku yang salah karena menanamkan cinta pada hatimu, membuatmu tidak kabur dari perasaanmu sendiri. Maaf Jimin, maaf karena aku juga mencintaimu…"
Ia yang bersalah, ia juga pengecut dan…
Ia yang harus bertanggung jawab.
To Be Continue
