Seminggu sudah sejak kejadian pelepasan panah itu terjadi. Seminggu itu juga Jimin terus-terusan menempel pada Yoongi. Memastikan gumiho berusia ratusan itu tidak merasakan sakit atau panah-panah itu terlepas. Ia sama sekali tidak peduli dengan dunianya setelah mengetahui takdir miris yang tertulis di bukunya.
Ia tidak mau Yoongi pergi tiba-tiba meninggalkannya, ia juga tidak mau jika dirinya akan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Yoongi.
Ia tidak mau berpisah dari Yoongi begitu juga dengan Yoongi. Mereka saling membutuhkan. Mereka saling mencintai. Tanpa harus di katakan Jimin tahu dan yakin kalau Yoongi juga mencintainya. Yoongi sangat mencintainya.
"Bagaimana kalau kita mati bersama?"
Yoongi yang sedang menyirami tanaman di balkonnya menoleh ke arah Jimin yang sedang memainkan daun tanaman hiasnya. Ia meletakan alat penyiramnya, menarik Jimin menghadapnya.
"Kau ini bicara apa?"
"Kita tidak bisa hidup lama. Tidak ada harapan kita bisa hidup bersama, entah aku atau kau yang mati duluan. Lebih baik kita mati bersama"
Yoongi menghela nafas. Menyentuh puncak kepala Jimin, menepuk-nepuknya lalu tersenyum kecil. Namun, Jimin menolak senyum itu. pemuda mungil yang baru lulus SMA itu malah memukul-mukul dadanya, mendorongnya dan segala hal yang bisa ia lakukan.
"Jawab! Jawab pertanyaanku! Kau selama ini selalu diam! Jawab aku!"
"Jimin…"
Yoongi memanggil nama Jimin dengan suara pelan. Menangkup kedua pipi itu, mengarahkan mata indah bak batu permata itu searah dengan kedua mata Yoongi. Mereka saling berpandangan, Yoongi tidak banyak bicara namun lewat sorot matanya Jimin bisa melihat bahwa Yoongi menguatkannya. Yoongi tidak mau melihat Jimin lemah.
"Kau tidak akan mati, begitu juga aku. Benar, kita pasti akan mati suatu saat nanti. Tapi kita tidak pernah tahu, aku pun tidak pernah bisa memprediksi kapan kita mati karena semua itu rahasiaNya"
Bibir Jimin bergetar, matanya mulai berembun, matanya menunduk ke bawah namun Yoongi kembali mengarahkan pandangannya ke mata Yoongi.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati, aku akan selalu mengangkat kepalamu, menghapus air matamu dan menatapmu seperti ini. Aku berjanji akan menjagamu, mencegah kematianmu, aku tidak akan membiarkanmu mati."
Jimin menangis, menangis dengan suara paling memilukan. Kenapa harus seperti ini? kenapa buku takdir yang diberikan Sang Maha Kuasa padanya seperti ini? kenapa Sang Maha Kuasa menuliskan takdir di buku nya seperti ini? apa ia tidak pantas mendapatkannya? Apa tidak bisa ia sekali saja bahagia? Ia terus menangis, menangis dan menangis di dada bidang Yoongi.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu besok. Tapi aku berjanji akan selalu menjagamu, mengangkat kepalamu dan menghapus air matamu. Aku berjanji padamu, kau percaya pada janjiku, kan? Jimin percaya pada ahjussi, kan?"
Jimin mengangguk, memeluk bahu sempit Yoongi sangat erat. Seolah-olah pelukan ini merupakan pelukan terakhir yang bisa di berikan Yoongi padanya. Ia tidak mau Yoongi pergi, ia tidak mau. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan hidup kesepian dengan ingatan-ingatan bahagianya dengan Yoongi.
Ia tidak bisa hidup seperti itu.
"Mianhae…"
Yoongi menunduk, mengusap punggung mungil itu. menahan air matanya agar tidak ikut turun dan semakin membuat Jimin menangis karena melihatnya menangis. Ia tidak boleh menangis, ia tidak boleh menangis karena jika menangis maka ia akan membuat Jimin menangis juga.
Tapi…
Ia tidak menangis, Jimin tetap menangis.
Jimin menangis karena dirinya.
…
…
…
Kamar hotel yang sangat luas layaknya apartment itu terisi empat orang. Bukan, tepatnya dua orang berbeda jenis kelamin. Tengah berdiri di hadapan dua orang nyaris tanpa busana di kamar hotel. Dua orang itu berdiri dengan kaki gemetar hingga terjatuh ke kasur.
"Kalian siapa?"
"Aku sedang haus"
Lalu yang terdengar adalah suara melengking kesakitan dua orang tadi. yang tadi menjawab tersenyum melihat kepulan asap keluar dari tubuh dua orang tadi. asap itu masuk ke dalam tubuh orang yang menjawab-Jieun dan orang di sampingnya-Jungkook. Meresap di setiap sel di dalam tubuhnya, menghantarkan rasa nikmat atas dahaga mereke selama ini.
Kedua mata itu terpejem dan perlahan-lahan terbuka saat asap hitam itu sudah merasuki tubuh mereka sepenuhnya. Dua orang yang sudah mereka hisap jiwanya berubah menjadi tulang berbalut kulis, kedua mata itu melotot membentuk cekungan dalam yang mengerikan.
"Manusia zaman sekarang makin penuh dosa yang itu berarti kita akan semakin kenyang" ucap Jungkook seraya melempar dua mayat itu ke sudut ruangan, lalu ikut duduk di hadapan Jieun yang sedang meminum wine. Ia ikut mengambil wine tersebut dan meminumnya langsung dari botol.
"Apa kau sudah bertemu dengan mereka? Aku benar-benar ingin melihat keparat itu mati, aku ingin memberikan kematian yang tidak akan pernah dia lupakan."
Jieun berucap setelah meneguk wine nya. Matanya berkilat tajam mengingat masa itu. masa dimana dirinya di habisi secara sadis oleh Yoongi. Bukan hanya dirinya, tapi juga Jung. Mereka berdua di habisi Yoongi yang bangkit dari kematiannya setelah belasan tahun lamanya. Tepatnya Yoongi datang di saat kematian Seok dan diangkatnya sang putra menjadi raja.
"Kau bukan anakku, tapi kenapa kau menurut sekali denganku?"
"Tujuanku hampir sama denganmu" potong Jungkook seraya membuka botol wine yang lain. Menuangkannya ke gelas seraya menatap Jieun yang tengah menatapnya, menunggu jawaban dari anak angkat yang sudah melebihi anak kandungnya.
Ah! Ia tidak pernah punya anak.
"Aku ingin memberi pelajaran dengan Yoongi dan kau juga ingin memberi pelajaran dengan Yoongi. Perbedaannya, kau takut pengaruhmu akan hilang sementara aku karena wanita" Jieunmembuang nafas mendengar penuturan Jungkook, tersenyum miring lalu meinum wine nya.
"Memang, tapi kau memerlukan jalan yang sama denganku. Lagipula, mereka sudah mengetahui takdir masing-masing akan lebih sulit membuatmu bergerak di samping Jimin"
Jungkook mulai terlihat kesal, ia membanting gelas wine nya hingga menimbulkan suara memekan telinga. Matanya melirik Jieun yang sedang tersenyum puas karena sudah menyebut nama itu. nama yang sudah menarik perhatian jiwa dan raga Jung.
"Jangan sebut namanya!"
"Kenapa? Aku selalu menyebut nama Chohee kau tidak menyukainya, sekarang aku menyebut nama Jimin kau tidak menyukainya. Kau ini kenapa? Apa hatimu tergugah kembali setelah melihat wajah Jimin?"
Jungkook bergerak super cepat bak kilat di langit malam Seoul yang gelap. Mencekik leher gadis bertubuh mungil itu, hanya mencekik tanpa berniat menekan leher itu hingga hancur. Lagipula, mereka tidak semudah itu untuk mati.
Hanya ada satu hal yang membuat mereka mati.
"Lebih baik kau diam. Nikmati wine mu dan lakukan pekerjaanmu"
"Aku selalu melakukan pekerjaanku dengan baik, dimulai dari membunuh keturunan Raja, ibunya Seok dan keluarganya, membunuh Yoongi-membuatnya hidup kekal, membunuh Chohee dan membuat Seok terbunuh. Aku tertinggal satu hal, kau juga ikut andil dalam kematian Chohee dan Seok" ucap Jieun dengan desisan penuh kelicikan. Menjauhkan tangan Jungkook lalu berdiri tegak menghadap Jungkook.
"Kau yang membeberkan hubunganmu sendiri dengan Chohee pada sang raja hingga dia mengamuk, memutuskan cintanya dengan Chohee dan akhirnya tega membiarkan cintanya mati di depan matanya. Ah! Di depan matamu juga, kan? Kau juga menyaksikannya"
"Diam!"
Jieun tersenyum miring, menepuk-nepuk pundak tegap Jungkook. Merubah warna matanya menjadi hitam, begitu juga dengan Jungkook. Dua roh haus darah itu sudah kembali dalam bentuk aslinya. Wajah yang membiru hampir hitam dengan urat-urat menonjol dan bibir yang biru hampir membusuk, jangan lupakan kuku-kuku jari mereka berubah menjadi hitam.
"Aku akan diam asalkan kau kerjakan tugasmu, aku sudah susah payah membuat Chohee bergerak mencari tahu tentang masa lalunya. Sedangkan kau? enak saja kau hanya diam! Kerjakan tugasmu!"
Jieun memberikan penekan di akhir kata, mendorong tubuh tegap itu lalu berjalan keluar dari kamar hotel. Meninggalkan Jungkook yang tengah menggeram layaknya seekor binatang, binatang yang menahan hawa nafsunya untuk membunuh siapa saja.
…
…
…
…
…
Sebulan sudah berlalu, hari ini seharusnya Jimin memulai kuliah pertamanya tapi Yoongi tidak yakin Jimin akan pergi kuliah. Karena sebulan penuh ini Jimin selalu menempel padanya, kecil kemungkinan Jimin akan pergi keluar.
Namun, pikirannya itu terbantahkan melihat pemuda mungil itu turun. Dia sudah bisa tersenyum, bahkan berlari kecil menghampiri Yoongi yang sedang ada di balkon merawat tanamannya. Yoongi sempat terkesima dengan senyum dan penampilan Jimin yang makin terlihat manis.
"Eottaeyo? Aku berusaha keras menjadi mahasiswa"
Yoongi tersenyum, menghampiri Jimin yang sedang memutar-mutar tubuhnya memamerkan kemampuan memilih pakaiannya sudah berkembang. Bukan Jimin yang kampungan dan anak yang selalu di bully. Jimin yang sekarang bukan Jimin yang dulu.
"Kau tahu di luar bahaya? Kenapa kau ingin keluar?"
"Aku kan masih mau hidup" jawab Jimin dengan nada polos. Ia lalu menghela nafas menyadari kebodohannya sendiri karena terlalu takut. Ia sadar ia tidak mau kehilangan Yoongi tapi bukan berarti ia mengurung diri di rumah, kan?
"Aku harus tetap kuliah, dengan susah payah aku belajar mendapatkan beasiswa. Kau juga sudah membayar lunas uang kuliahku, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Eomma sudah susah payah melahirkanku, appa juga sudah bersusah payah mencari uang untukku, aku tidak akan menyia-nyiakannya"
Jimin mengambil nafas panjang lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, "Hidup bergantung pada orang dan tinggal di rumah saja, itu bukan gaya hidupku. Lagipula, aku percaya ahjussi akan menepati janjimu untuk melindungiku. Aku percaya padamu, ahjussiku."
Yoongi tertegun, mengikis jaraknya makin dekat dengan Jimin, mengusap pipi tembam itu yang sedikit merona mengetahui jaraknya dengan Yoongi makin tipis. Namun, pria tua nan tampan ini tak melakukan apa pun kecuali memandangi Jimin kelewat dalam tanpa berkedip dan jangan lupakan senyum manisnya.
"Jangan membahayakan dirimu, jika kau merasa dalam bahaya segera panggil aku. Tapi jangan melukai dirimu terlalu dalam, arrachi?"
"Nde!"
Jimin dan Yoongi tertawa, namun suara tawa Yoongi harus terpotong karena Jimin tiba-tiba saja menjijit dan mengecup bibir Yoongi yang tengah tersenyum. Wajah tampan itu seketika kaku, matanya terpaku memandang Jimin yang tengah tersenyum puas lalu melambaikan tangannya. Berlari ke pintu utama sambil sedikit berlompat-lompat.
Yoongi masih terpaku, wajahnya blank dan mulutnya terkatup rapat seolah-olah mencegah bekas bibir Jimin tadi menghilang. Dan moment romantis itu di rusak oleh SeokJin yang tiba-tiba menyikut nya dari belakang lalu melenggang pergi begitu saja.
Mulut Yoongi mencebik kesal, "Yak! Nyamuk!"
SeokJin tetap mupeng, ia terus melangkah tanpa menghiraukan Yoongi yang sedang mencak-mencak tidak jelas. Oke, SeokJin itu pria galau yang sedang banyak pikiran tapi ketika berjalan melewati balkon ia langsung berubah menjadi mendung dan mupeng melihat adegan opera sabun murahan punya Yoongi dan Jimin.
"Dasar karnivora lebay!"
…
Yoongi tahu jika kuliah itu memakan waktu lama tapi ia tidak pernah menyangka jika Jimin akan selama ini. ia bergerak gelisah, mondar-mandir tidak jelas di hadapan SeokJin dan NamJoon. SeokJin yang masih galau dengan tissue di pangkuannya, menangis meraung-raung karena sebuah drama di televise. Sedangkan NamJoon, dia malah kasmaran dengan temannya Taehyung waktu itu. bahkan dia tertawa, membolak-balik tubuhnya sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
"Hikss… bisa kau duduk? Kau menghalangi TV nya… hiksss"
Itu suara SeokJin, dia masih menangis karena karakter di dalam drama itu tengah di putuskan oleh pacarnya. Putus? SeokJin kembali menangis, Yoongi dan NamJoon berdecih melihat vampire jika galau itu jauh lebih menjijikan ketimbang manusia.
"Manusia kardus"
"Aku adalah Kim NamJoon pewaris tunggal perusahaan dan aku bukan manusia kardus!"
Yoongi memutar matanya malas mendengar bantahan dari NamJoon, wajahnya sudah kesal dan bersiap marah namun melihat tubuhnya mengeluarkan asap dan darah ia tersenyum. Ia segera berlari dan seketika tubuhnya menghilang.
Meninggalkan NamJoon yang sedang cekikan dan…
SeokJin yang meraung nangis padahal di TV sedang muncul iklan popok bayi.
…
"Ahjussi! Pohon itu terus menggugurkan daunnya! Aku takut kalau pohon itu tiba-tiba tumbang dan menimpaku"
Yoongi menghela nafas mendengar penuturan Jimin yang tidak masuk akal dan berlebihan.
…
Yoongi kembali muncul di trotoar jalan yang sepi, di sana ada Jimin dan seorang pria tampan yang berjalan di depan Jimin. Pemuda mungil itu menoleh menatap Yoongi sambil menunjuk pria tampan tadi.
"Aku dengar di berita kalau pria tampan itu berbahaya. Jadi aku memanggilmu!"
…
"Ahjussi!"
Yoongi menggerakan kepalanya ke kanan, memperhatikan Jimin yang sudah membawa lighstick boyband beserta banner nama dan sebuah buku berhiaskan sebuah tanda tangan.
"Ahjussi! Aku baru saja menghadiri fans sign Monsta X, aku tidak bisa move on dari I.M. aku ingin melihat dia melakukan rapp secara langsung, tapi aku tahu tiketnya mahal. Jadi, ahjussi bisa membelikannya?"
Jiminnya sekarang tidak bisa move on dari laki-laki yang hanya bisa dance dan nyanyi tidak jelas itu? astaga! Sejak kapan Jimin nya seperti ini, menjadi fan boy?
…
Jimin kembali melukai jari telunjuknya dengan jarum tapi belum sempat darah itu menetes Yoongi sudah muncul di depannya dan menahan darah di jari telunjuk Jimin menggunakan plester. Pemuda mungil itu nyengir lalu menyembunyikan jari telunjuknya masih dengan senyum lebar.
"Sekarang apa?" tanya Yoongi masih dengan suara pelan, menahan gemas karena Jimin sekarang terlihat seperti anak berusia lima tahun yang sedang malu-malu mengatakan cinta pada teman sebangkunya.
"Bogoshipeosseo! Aku benar-benar merindukanmu sampai-sampai aku tidak bisa bernafas dan berjalan!"
Yoongi terkekeh, berjalan mendekati Jimin sambil menyembunyikan tangan lebarnya di punggung. Merunduk memperhatikan wajah imut Jimin yang sedang tersenyum, pipi tembam itu sedikit berwarna merah karena terlalu frontal mengatakan perasaannya.
"Nado"
Jimin makin tersipu malu, menunduk lalu memainkan jari-jari mungilnya di ujung baju yang ia pakai. Tak lama setitik salju jatuh menuruni kakinya. Jimin terpana, ia mendongak memandangi langit di tempat ia berdiri bersama Yoongi turun salju.
Padahal bulan ini bukan musim salju, apa ini karena Yoongi? Apa karena Yoongi kelewat bahagia sampai salju turun dan dinding di kanan dan kiri Jimin tumbuh pohon sakura yang sedang mekar dan berguguran.
Pemuda mungil itu tertawa, melompat-lompat berusaha mengambil bunga atau paling tidak kelopak yang berguguran. Dan Yoongi memerhatikan semua itu dalam senyuman hangat, suara tawa mereka menyatu dan makin memperindah tempat mereka berpijak.
Yoongi tidak masalah jika dirinya di bawa NASA, asalkan ia bisa melihat senyum manis itu.
…
…
…
…
…
Taehyung mengernyit melewati gang di dekat rumahnya. Orang-orang berkrumun di dinding kanan dan kiri karena sebuah pohon tumbuh. Pohon sakura tumbuh dan sedang bermekaran. Taehyung tidak percaya dengan apa yang ia lihat, tidak mungkin dinding yang dilapisi batu dan semen puluhan tahun tiba-tiba muncul sebuah pohon sakura dalam semalam.
Ditambah di sekitar pohon itu ada salju yang mencair. Ia bergidik ngeri melewati dua pohon sakura itu, ia berhenti sebentar menatapi dinding di kanan dan kirinya.
"Apa dunia mau kiamat?"
…
…
…
Yoongi berjengit menerima lemparan berbagai koran dari penerbit yang berbeda itu. tangannya bergerak menggaruk-garuk kepalanya yang gatal tanpa berniat menatap sang keponakan yang nampak kesal dengan tingkahnya.
NamJoon menghela nafas lalu melipat tangannya di dada melihat Yoongi masih bisa bertingkah baik-baik saja padahal semalam pamannya itu melakukan hal diluar logika bahkan Tuhan saja bisa bingung dengan tingkah pamannya.
"Samchon pasti sangat bahagia sekali semalam, sampai-sampai kau menurunkan salju dalam semalam, menumbuhkan pohon sakura di dinding yang dilapisi batu, beton dan semen" ucap NamJoon dengan ada sinis yang kentara sekali.
"Apa kau tahu ini musim apa? Sekarang ini musim gugur tapi kau membuat salju turun dan lebih aneh kau menumbuhkan pohon di dinding. apa yang terjadi semalam sampai-sampai kau bisa melakukan itu?" tanya NamJoon antara kesal marah dan tidak habis pikir kenapa paman Gumiho nya ini bisa bertindak seperti itu.
Yoongi berdecak, menatap NamJoon dengan pandangan yang masih mengantuk berat. Itu bisa terlihat dari kantung mata yang begitu lebar dan hitam itu.
"Apa kau tahu ini musim apa? Apa yang terjadi semalam sampai-sampai kau bisa melakukan itu? Apa kau barusan bicara dengan menggunakan banmal tanpa embel-embel Samchon? Kenapa tidak sekalian memanggilku hyung atau saeng?"
"Boleh? Kalau begitu, hyung apa yang terjadi semalam? Saeng kau mabuk semalam?"
"KIM NAMJOON!"
"MIN YOONGI KAU KENAPA?!" balas NamJoon tidak kalah tinggi dan emosinya. Yoongi mengkerut mendengar NamJoon mengeluarkan suara tingginya yang lumayan menyeramkan. Pria tinggi bermarga Kim itu menghela nafas, menatap pamannya yang juga tidak kalah frustasi dan bingung ingin menjelaskan apa.
"Samchon!"
"Aku tidak mabuk. Aku terlalu banyak minum obat penenang" ucap Yoongi membela diri seraya membereskan tumpukan koran itu dan membuangnya ke lantai.
"Kenapa nada bicara Samchon seperti itu?"
"Molla, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri" ucap Yoongi dengan mulut menguap lebar. Ia merebahkan tubuhnya kembali tanpa berniat mendengarkan nasihat tidak berguna dari NamJoon yang sok dewasa.
NamJoon sendiri menghela nafas melihat tingkah pamannya itu.
"Hyung!"
Jimin muncul dari ambang pintu, Yoongi yang semulai masih mengantuk langsung duduk dan memasang wajah segar. NamJoon yang masih terlihat sebal dengan Yoongi berdecak lalu melangkah pergi tanpa mau membawa koran-koran yang berhamburan di kasur Yoongi.
Jimin mengernyit, menaruh sarapan Yoongi di meja nakas lalu duduk di samping ranjang Yoongi. Mengambil salah satu koran itu, mulutnya menganga tidak percaya. Apa separah itu perasaan Yoongi sampai-sampai tingkah ajaibnya kemarin masuk koran.
"Apa kita salah melakukan ini?"
"Anni. Orang tidak tahu kalau aku yang membuat itu. semalam aku tidak bisa mengontrol perasaan bahagiaku"
Jimin tersenyum maklum seraya membereskan koran itu dan menaruhnya di bawah tempat tidur Yoongi. Menatap Yoongi yang juga tengah menatapnya heran, tumben sekali pagi-pagi Jimin sudah bersiap.
"Kau ada kuliah pagi"
"Eoh, karena itu aku membuatkan sarapan ini saja. Aku juga ada kerja kelompok dan aku mau mengunjungi V hyung"
Yoongi mengangguk, mengusak kepala Jimin lalu tersenyum. "Berhati-hati dan jangan pulang terlalu larut"
"Apa ahjussi tidak mau mengunjungi V hyung?"
Yoongi terdiam mendengar pertanyaan Jimin. Sejujurnya ia khawatir tanpa sebab akhir-akhir ini, rasa khawatir ini tidak mengarah ke Jimin melainkan ke Taehyung. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa khawatir tanpa sebab.
"Bagaimana jika kita berangkat bersama ke rumah V hyung?"
…
…
…
Sejak awal masuk ke universitas ini Jungkook sudah banyak mengalami sorotan. Mulai dari mobil sport yang ia bawa, gadis yang selalu berdiri di sampingnya yang luar biasa cantik dan aura yang mereka keluarkan. Aura orang-orang kelas atas, dingin, misterius dan menyeramkan.
Para penghuni kampus dibuat tercengang karena Jungkook tiba-tiba saja berhenti, menatap satu kelas yang tertutup pintunya. Kelas Sastra Korea, kelasnya para mahasiswi dan mahasiswa cantik pecinta buku. Tidak hanya itu, mahasiswa yang sejak tadi mengikuti mereka penasaran dengan objek yang di pandangi Jungkook.
"Aku duluan ke kelas"
Jungkook mengangguk, membiarkan Jieun melangkah ke kelas mereka dengan diikuti para mahasiswa yang tergila-gila dan mendadak menjadi penggemar beratnya. Meninggalkan Jungkook yang bersandar pada dinding kelas, menunggu kelas super membosankan itu berakhir demi satu orang. Satu orang yang menjadi tujuan utamanya memasuki universitas ini.
Tiga puluh menit menunggu, waktu yang sangat lama bagi Jungkook menunggu tapi itu tak masalah asalkan ia bisa menemui seseorang yang sejak tadi menunggu.
"Baik, aku akan mencari beberapa informasi karya sastra terjemahan Rusia di perpustakaan"
"Gomawo, Jimin-ah! Aku akan mencari bahan-bahan lain di tugas kelompok ini. kau tenang saja"
"Eoh, aku pergi dulu"
Jungkook tersenyum melihat Jimin tidak lagi sama seperti di SMA. Dia tidak menjadi orang penyendiri dan dikatai, mungkin saja dia sudah meredam penyakitnya atau…
Penyakit kutukan itu mulai luntur.
"Kau atau pak tua itu yang akan mati?" gumam Jungkook lalu melangkah dengan hati-hati, mengikuti langkah kaki mungil itu ke perpustakaan yang luasnya bukan main. Pemuda mungil itu kelewat fokus pada ponsel dan beberapa buku di tangannya hingga tidak sadar bahwa Jimin menjerumuskan dirinya ke rak buku paling belakang dan sangat sepi.
"Tempat kesukaanmu masih sama ternyata"
Jimin terkejut mendengar suara itu. suara yang sekarang terdengar begitu menyeramkan dan menggelitik. Kepalanya menoleh dan benar saja, ia melihat Jungkook berdiri di rak yang sama dengannya sambil menggenggam sebuah buku.
"Kenapa terkejut? Ah! Apa kau terkejut karena aku satu universitas denganmu?"
Tubuh Jimin melemas hingga ia tak mampu berdiri lagi, tubuhnya ia bawa bersandar pad arak. Tiba-tiba saja ia merasa lemas, kehabisan oksigen untuk ia raup. Matanya terpejam menahan sesak yang tiba-tiba saja mendera di dadanya.
"Santai saja, aku hanya ingin mengobrol denganmu" ucap Jungkook seraya mendekati Jimin. Berdiri tegak di depan Jimin, menatap wajah pemuda manis itu dengan senyum miring. Kedua lengannya ia bawa merangkap tubuh mungil Jimin dengan rak dan tubuh tegapnya.
"Kau mau apa?"
"Menurutmu?"
Suara itu. itu bukan suara Jungkook, ia tahu betul nada bicara Jungkook seperti apa. tubuhnya bergetar takut, matanya membola melihat bayangan tubuh Jungkook di kaca jendela bukanlah Jungkook. Melainkan seorang pria berpakaian kerajaan, dia bukan manusia.
Mulutnya terbuka hendak berteriak namun Jungkook langsung membekap mulutnya dengan tangan putih pucat serta kuku yang hampir membusuk. Jimin berontak namun Jungkook menahan pinggangnya agar tidak bergerak dari tempatnya.
"Kau tahu aku siapa?"
Jimin tidak menjawab, dirinya sekarang benar-benar ketakutan bukan main. Ini jauh lebih mengerikan ketimbang dirinya hendak diperkosa dan di bully habis-habisan.
"Kau tidak perlu tahu karena kau akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu. Jangan khawatir?"
Jimin gemetar takut, air matanya keluar namun bukannya kasihan Jungkook malah tertawa keras. Menjauhkan tangannya lalu tersenyum miring, ia tidak berani membuka mulutnya lagi. Ia terlalu takut, takut sekali.
"Aku tidak akan membuatmu terluka, aku sudah bilang kan aku menyukaimu"
"Kau bukan Jungkook!"
Jungkook meletakan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. Memberi kode bagi Jimin untuk menutup mulutnya, perlahan jari-jari yang menghitam itu mengusap pipi bulat Jimin yang basah karena air mata. Tersenyum miring lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Jimin, membisikan kalimat yang sungguh membuat Jimin tidak bisa bergerak.
"Kau punya hutang dengan Jungkook, itu berarti kau punya hutang padaku juga. Pemuda manis sepertimu seharusnya tidak mempunya hutang padaku hingga membuat seseorang terluka"
"Siapa?"
Jungkook tertawa, menjauhkan tubuhnya tapi masih tetap mempertahankan memerangkap tubuh Jimin. Menelusuri wajah manis itu, baru kali ini ia kembali terpanasa oleh pesona seseorang setelah ia dicampakan Chohee. Benar-benar kejam wanita tidak tahu diri itu.
"Seseorang yang sangat kau sayangi"
Jawaban ambigu Jungkook sukses membuat Jimin makin menangis, bahkan tubuh mungilnya sudah meorosot ke bawah. Bibirnya gemetar, tangannya merogoh tasnya mencari ponsel tapi Jungkook dengan kasar menarik tubuhnya hingga ia berdiri kembali.
"Bukan pacarmu, aku pastikan bukan. Tapi seseorang yang berada di tengah-tengah hubungan kita"
Jimin makin tidak mengerti. Ia takut, ia takut ini hanya permainan kata-kata yang akan membuatnya fokus mencari orang lain padahal yang diincar sebenarnya adalah Yoongi. Ia tidak mau, ia tidak rela jika Yoongi mati hanya karena bajingan tengik macam Jungkook.
"Aku harus masuk ke kelas, semoga harimu menyenangkan"
Jungkook melangkah mundur menjauhui Jimin yang kembali jatuh terduduk. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berulang kali. Itu Jungkook tapi bukan Jungkook yang ia kenal, tapi siapa pria berpakaian kerajaan itu dan kenapa dia meneror Jimin. Air matanya yang masih mengalir ia hapus, mengambil ponsel dan segera menghubungi Yoongi.
"Em, Jimin-ah, aku akan segera sampai"
"Ahjussi baik-baik saja, kan? Ahjussi tidak terluka?"
Di sebrang sana Yoongi mengernyit heran mendengar nada bicara Jimin yang tiba-tiba panik dan menggebu-gebu. "Aku baik-baik saja, tumben kau bertanya seperti itu? atau kau yang tidak baik-baik saja?"
Jimin memijat pelipisnya, mematikan ponselnya sepihak lalu mengusap wajahnya yang masih basah air mata. Siapa yang dibicarakan Jungkook? Di antara hubungannya dengan Yoongi tidak ada siapa pun. Siapa? Siapa yang dimaksud Jungkook.
Hubungan kita.
Mata Jimin membulat menyadari satu nama yang terlintas di pikirannya. Taehyung!
Siapa lagi kalau bukan guru BK nya itu. Pasti Taehyung, tidak salah lagi. Apa yang mau dilakukan Jungkook pada Taehyung? Taehyung itu pamannya Jungkook. Ia makin panik, pikiran buruk menggerogoti kepalanya, hingga ia tak sadar sudah berdiri dan berlari keluar perpustakaan.
Ketika keluar tiba-tiba saja Yoongi sudah ada di depannya dengan wajah khawatir. "Aku khawatir karena kau tiba-tiba memutuskan telfon. Kau baik-baik saja?" tanya Yoongi seraya memegangi pundak Jimin yang bergetar takut, wajah manis itu pucat dan matanya bergerak gelisah.
"Aku baik-baik saja! Tapi V hyung! V hyung, ahjussi!"
Yoongi mulai ikut panik, pikiran buruk langsung menggelayutinya. Instingnya sebagai seorang kakak mulai peka terhadap adiknya. "Apa yang mau katakan?"
"Jungkook dan Jieun melakukan sesuatu pada V hyung! V hyung dalam bahaya!"
…
…
…
Taehyung memegangi kepalanya yang kembali berdenyut sakit, tubuhnya benar-benar lemas sejak dua hari lalu. Rasa sakit di perutnya juga makin menjadi, sudah puluhan pil obat penghilang rasa sakit ia minum tapi hasilnya nihil. Bahkan ia membuat dirinya mabuk untuk mengurangi sakit tetap tidak berpengaruh.
"Ass! Kenapa denganku?" tanya Taehyung pada dirinya sendiri. Ia tengah duduk di meja makannya, membuka pil obat untuk kesekian kalinya dan mencoba nekat meminum obat dengan wine. Ia sudah kelewat stress dari rasa sakit ini dan…
Kisah cintanya sendiri.
"Kenapa aku mual?"
Taehyung segera berlari ke kamar mandi, membuat seluruh isi perutnya yang sebenarnya tidak ada. Mulutnya hanya mengeluarkan cairan lender berwarna putih dan berbau obat serta alkohol. Kedua tangannya sepenuhnya bertumpu pada watafel, wajahnya pucat pasi begitu juga bibirnya. Keringat dingir mengucur dari keningnya, bahkan seluruh tubuhnya.
Matanya yang sejak awal sudah buram makin buram, ia tidak melihat apa-apa lagi selain gelap dan tubuhnya benar-benar lemas seperti melayang hingga tubuh mungilnya terjatuh. Taehyung memeluk dirinya sendiri, memegangi perutnya yang berdenyut sakit begitu juga dengan kepalanya.
…
Jimin dan Yoongi sampai di dalam rumah Taehyung dengan teleportasi. Yoongi dan Jimin menggeledah setiap sudut rumah Taehyung. Mereka begitu terkejut melihat banyak pil obat dan botol-botol alkohol berserakan di kamar dan ruang makan.
"V hyung!"
Yoongi membuka satu-satunya pintu di pojok dapur dan menjadi satu-satunya pintu yang belum ia buka. Di dalam ruangan itu, terbaring Taehyung dengan tubuh basah akibat keringat dingin, meringkuk menahan sakit di bagian perut.
"Chohee!"
Jimin yang mendengar Yoongi berteriak cepat-cepat menghampiri Yoongi. Dirinya ikut berteriak melihat Yoongi sudah menggendong Taehyung yang sudah tidak sadarkan diri. Pria berusia ratusan tahun itu lalu menggiring Jimin membuka salah pintu yang berteleportasi ke rumah sakit.
Kedatangan Yoongi dan Jimin tentu menarik perhatian orang-orang karena Yoongi tiba-tiba saja muncul dari pintu UGD sambil menggendong seorang pemuda manis yang sekarat.
"Sonsaengnim!"
"Dia overdosis obat penghilang rasa sakit dan alkohol, kita harus segera membersihkan perutnya" Yoongi memberikan intruksi seraya membaringkan Taehyung di atas bed, memasang oksigen dan alat-alat medisnya.
Jimin memperhatikan semua dalam diam. Pikirannya melayang mengenai ucapan Jungkook barusan dan wujud asli Jungkook. Bibirnya gemetar, matanya tidak berkedip melihat keadaan Taehyung yang bisa di bilang kritis. Pikirannya benar-benar kosong sampai-sampai ia harus di dorong beberapa perawat minggir ke kursi tunggu.
Di sana Jimin terus menunduk, memeluk lututnya sendiri dan kembali menangis. Kenapa harus Taehyung? Kenapa harus seperti ini?
…
Cukup lama Yoongi menangani Taehyung yang benar-benar overdosis obat dan alkohol yang berakibat fatal jika saja telat membawa Taehyung. Ketika keluar dari ruang rawat Taehyung, ia melihat Jimin terduduk di kursi tunggu sambil memeluk lututnya sendiri.
Wajah itu terlihat ketakutan dan pucat. Matanya kosong memandang lantai, dia benar-benar tidak sadar akan situasi di sekitarnya termasuk Yoongi. Jimin tidak sadar jika Yoongi sudah duduk di samping Jimin.
"Kau kenapa?"
Jimin menoleh ke samping tempat Yoongi duduk. Matanya masing kosong dan wajahnya benar-benar terlihat sangat ketakutan. Bibirnya gemetar hendak bicara namun yang keluar hanya lah isakan kecil dan gumaman tidak jelas.
Melihat hal itu, Yoongi berinisiatif memeluk kepala Jimin. Menyandarkan kepala itu di pundak sempitnya, "Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
Jimin diam, ia angkat kepalanya menatap Yoongi. Berusaha bernafas dengan normal dan menceritakan semuanya. Dimulai dari sikap aneh Jungkook dan Jieun, kejadian di perpustakaan dan kata-kata Jungkook yang mengetahui Jimin.
"Hikss… sekarang bagaimana? Dia bukan Jungkook, dia seseorang dari masa lalu. Bagaimana jika dia mendekatimu dan melukaimu? Aku takut… hikss"
Yoongi menggeleng, mengangkat wajah basah itu, mengusapnya dengan lembut dan tak lupa memberikan senyum terbaiknya. Senyum yang ia harap tampilkan terus di hadapan Jimin, senyum penyemangat dan penenang bagi Jimin.
"Kau akan baik-baik saja, begitu juga aku. Kau tidak perlu takut, arrachi?"
Jimin tidak menjawab, ia lebih memilih memeluk Yoongi, memeluk bahu sempit itu sangat erat. Tangan mungilnya meremat kemeja yang dikenakan Yoongi. Berharap dengan cara ini Jimin bisa melindungi Yoongi, melindungi orang yang ia cintai.
"Tenangkan dirimu di rumah, biar aku yang menjaga V"
Jimin mengangguk di sela-sela pelukannya, melirik pintu ruang rawat inap Taehyung dan ia kembali merasa takut. Takut untuk melihat hari esok, takut melihat siapa yang akan Jungkook dan Jieun lukai lagi. Ia takut akan hal itu.
"Apa ahjussi memberitahu hal ini pada Tuan Vampire?"
…
…
…
Tanpa harus diberi tahu oleh Jimin dan Yoongi, SeokJin sudah mengetahuinya dari mulut ember NamJoon. Keponakan Yoongi itu yang mengurus administrasi Taehyung di rumah sakit dan dari situ SeokJin tahu bahwa Taehyung hampir mati overdosis obat.
Rasa bersalah mulai menggerogotinya, secara langsung mau pun tidak SeokJin yakin kalau semua ini karena dirinya. Taehyung hampir mati karena dirinya. Ia berdecak, memandangi cermin yang masih ia pinjam dari Taehyung sebelum mereka putus. Cermin ini adalah satu-satunya jalan bagi dirinya memulai semua dengan Taehyung…
Tapi berlandasan kebohongan.
Ia sudah menyiapkan naskah buatan tentang dirinya dengan sangat apik tapi pasti Taehyung akan tahu dan ia kembali menyakiti Taehyung.
"Apa aku menjenguknya?" gumam SeokJin seraya bangkit dan meraih mantel. Ia harus melihat keadaan Taehyung, apa pun masalahnya ia harus tahu dan melihat sendiri keadaan Taehyung.
…
Dan disinilah SeokJin berakhir. Berdiri mematung di samping ranjang Taehyung yang kosong namun dengan selimut berantakan serta tiang infusnya yang menghilang. mungkin Taehyung sedang keluar, itu spekulasi SeokJin. Ia mengeluarkan cermin yang ia bawa, berniat menaruhnya di meja samping tempat tidur Taehyung.
Namun, itu terlihat mencolok dan membingungkan. Ia harus mengembalikan ini tapi bukan di tempat terbuka seperti itu.
"Aish!"
SeokJin terkejut, ragu-ragu ia menoleh ke salah pintu di sudut ruang rawat Taehyung. Pintu toilet, jangan katakan Taehyung ada di sana dan sebentar lagi akan keluar. Harus bagaimana sekarang? Ia merogoh-rogoh sakunya, mencari cincin dan memakai jasnya kembali.
Satu detik lebih cepat sebelum Taehyung keluar dari toilet sambil membawa tiang infus. Pemuda manis itu menghela nafas lelah, berjalan sedikit tertatih-tatih menuju ranjangnya sementara SeokJin berdiri kaku di dekat meja nakas, berusaha tidak tersentuh oleh Taehyung.
"Kenapa harus mencuci perutku? Ini menyebalkan" gerutu Taehyung seraya duduk di tepi ranjang. Menatapi jendela ruang rawat inapnya yang gordennya tersibak lebar. Perlahan ia tersenyum memandangi langit malam ini, tidak ada keanehan apa pun. Bintang bersinar normal dan tidak ada salju turun di musim gugur.
Ia tertawa miring, meraih ponselnya dan meliat notifikasi di ponselnya, kosong. Tidak ada notif telfon atau pesan dari seseorang yang ia harapkan.
Hanya satu orang yang ia harapkan dan kalian tahu siapa itu.
"Kim Jin-ssi, kenapa kau tidak menghubungiku? Aku bilang padamu untuk tidak menghubungiku, jangan menyapaku, jangan membuatku berhenti berjalan, maksudnya kau melakukan semua itu. apa kau tidak mengerti?" marah Taehyung di depan ponselnya yang mati. Sebal, ia membanting ponselnya di ranjang.
Ia menghela nafas panjang lalu kembali berdiri seraya memandangi ruang rawat inap kelas VVIP yang dipesankan Yoongi. Dia benar-benar akan menjadi kakak yang baik, tapi sayangnya ia masih tidak percaya. Mungkin saja Yoongi bisa membantunya membuka identitas SeokJin?
"Ck! Apa dia membantuku? Awas saja kalau dia tidak mau membantu adiknya ini atau aku akan menghajarnya" Taehyung kembali menggerutu seraya memeragakan gerakan tinju namun pergerakan itu membuat kakinya tersandung. Tubuhnya limbung hampir jatuh ke lantai namun tubuhnya melayang begitu saja.
Tubuh mungilnya melayang karena sepasang lengan kokoh merengkuh pinggangnya. Pemilik lengan itu awalnya tidak ada namun tidak lama berselah setelah bunyi logam jatuh pemilik lengan itu terlihat. Sepasang lengan kokoh itu milik seseorang yang ia kenal. Sangat ia kenal.
SeokJin.
Matanya membulat melihat SeokJin tiba-tiba saja muncul, merengkuh pinggangnya dan membawa tubuhnya berdiri dengan benar. Ia memandangi SeokJin dengan mata berair, bibir bergetar takut dan tubuhnya melemas melihat SeokJin memungut benda logam tadi ternyata sebuah cincin.
Bagaimana bisa? Bagaimana Seokjin bisa ada di sini?
"Apa-apaan ini? bagaiaman kau bisa tiba-tiba muncul di sini?" Taehyung bertanya dengan nada takut, tubuhnya lemas bersandar pada tepi ranjang. Kedua tangannya gemetar begitu juga seluruh anggota tubuhnya.
"Malto andwae! Aku masih terpengaruh obat, ini tidak nyata" Taehyung menghibur dirinya sendiri. Tidak mungkin, tidak mungkin ada manusia tiba-tiba muncul dan menolongnya. Tidak ada manusia seperti itu, kecuali dia memang ada di sini… tapi kenapa Taehyung tidak melihatnya.
"Ini tidak nyata! Ini karena obatku!"
"V-ssi…"
Taehyung terperenjat, menatap kedua mata tajam itu yang perlahan tertutup lalu terbuka. Taehyung semakin bingung dan takut melihat perubahan kulit SeokJin dan matanya. Wajah itu berubah menjadi putih pucat dengan hiasan urat-urat keunguan, matanya berubah menjadi merah dan kuku di tangan SeokJin menacam.
Mulutnya memekik takut, matanya berair menyadari satu hal yang pasti terjadi pada dirinya dan siapa SeokJin.
Dia bukan manusia.
"Kau bukan manusia"
"Kau ingin tahu semua jawaban atas pertanyaanmu? Apa ini sudah menjawab?"
"Apa ini yang kau sebut jawaban, brengsek?"
SeokJin menerima segala umpatan dan amarah Taehyung. Ia menunduk, menyakiskan cermin Taehyung yang ikut terjatuh dan retak. Cermin itu bagaikan hubungannya dengan Taehyung, retak dan tidak bisa diperbaiki.
"Siapa kau? kau bukan manusia, katakan siapa kau brengsek!" Taehyung berteriak dengan kedua matanya melebar. Bibirnya ia gigit menahan marah, kecewa dan kegilaan yang terjadi di sekitarnya. Hal-hal yang ia anggap lelucon tiba-tiba saja muncul di depan matamu, apa ini tidak cukup membuat seseorang menjadi gila mendadak?
"Aku…" SeokJin memberi jeda pada kalimatnya guna mengembalikan bentuknya sebagai manusia, "Vampire yang mengantar jiwa-jiwa berdosa menjalani hukumannya. Aku adalah Vampire, mereka memanggilku Vampire Kim SeokJin."
Taehyung memejamkan matanya, kepalanya menunduk menahan sakit yang mendera kepala dan juga hatinya. Apa selama ini hidup yang menderita belum cukup sampai Tuhan mempertemukannya dengan sosok seperti ini?
"Ini tidak masuk akal! Ini gila! Tapi kenanehanmu, keterdiamanmu soal nama dan identitasmu membuat hal gila ini menjadi waras dan masuk akal"
Taehyung masih memejamkan matanya, mengingat memori-memori saat dirinya bertemu dengan SeokJin. Bagaimana bodohnya SeokJin saat berkomunikasi dengan manusia, kebingungannya saat ditanyai nama dan segala keanehan yang terjadi pada dirinya. Semua itu terjawab oleh pengakuan SeokJin barusan.
Pengakuan yang tidak masuk akal.
Tapi semua menjadi masuk akal malam ini.
"Jangan lakukan apa pun padaku!"
Taehyung mendongak, menatap SeokJin yang ternyata menatapnya sejak tadi tanpa berkedip dan teralihkan. Kedua tangan SeokJin terkepal, matanya terpejam erat, mengambil nafas lalu menghembuskannya.
"Aku tidak akan melakukannya, karena ini jawaban yang kau mau dan tunggu. Ini jawabanku"
Taehyung masih tidak percaya. Ia tidak bisa menerima semua ini, nafasnya naik turun tidak stabil. Ia hanya meneteskan air matanya, menatap SeokJin penuh amarah, kecewa dan tidak percaya. Kenapa? Kenapa harus SeokJin?
Kenapa harus vampire yang ia cintai?
"Aku mengharapkan hal yang sama yaitu akhir yang bahagia. Tapi…"
SeokJin ingin menenangkan Taehyung ketika air mata itu makin deras menetes, ia tidak sanggup melihat pemuda manis itu menangis. Ia tahu inting ini merupakan kesalahan, sejak awal ini kesalahan tapi ia tidak bisa lepas dari kesalahan ini.
"… sepertinya kita akan mendapat akhir yang sedih"
Akhir bahagia? Akhir sedih?
Taehyung tidak memikirkan itu lagi karena ia sudah tahu jawabannya. Jawaban akhir dari hubungannya dengan SeokJin, hubungan manusia dengan seorang vampire adalah…
"Benar, kita akan mendapat akhir yang sedih" ucap Taeyung dengan nada sedih, meneteskan air matanya makin deras. SeokJin menahan sakit mendengarnya. Ia tidak mau akhir seperti ini, akhir yang menyedihkan dan membuat dirinya mau pun Taehyung tersakiti.
Akhir yang harus mereka dapatkan dari kesalahan indah yang sudah mereka lakukan sejak awal. Kesalahan… SeokJin mau pun Taehyung mengakui bahwa mereka melakukan kesalahan tapi kesalahan ini adalah…
Kesalahan terindah yang pernah mereka lakukan.
Kesalahan terindah yang pernah manusia lakukan dan kesalahn terindah yang pernah vampire lakukan karena…
Mereka saling mencintai…
To Be Continue
