NamJoon berdecak sebal. Pagi-pagi begini dirinya sudah di suruh mengantar barang ke rumah pamannya padahal pamannya itu sedang sibuk mengurusi seseorang di rumah sakit. Kenapa kakeknya itu begitu pemaksa? Padahal hari ini ia berjanji akan menjemput Hoseok dan mengajaknya berkencan tapi dia malah di suruh seperti ini.
"Aigoo! Kalau aku sudah mewarisi perusahaan aku tidak akan mau disuruh seperti ini" gerutu NamJoon selama perjalanannya mengambil paket di ujung jalan. di sebrang sana, di arah yang berlainan seorang wanita terus memperhatikan NamJoon dengan senyum misterius.
Awalnya NamJoon tidak menyadarinya, sampai wanita itu melewatinya dan berhenti tanpa di duga ia ikut berhenti. mereka sama-sama menoleh, NamJoon dengan wajah terkejut karena baru pertama kali melihat wanita cantik berpakaian mencolok.
Wanita itu tersenyum, menatapi NamJoon dengan tatapan lembut. "Dia sudah pergi?"
NamJoon mengernyit bingung seraya menunjuk dirinya sendiri, "Apa kau mengenalku?"
Wanita itu-Taemin tersenyum. "Benar, dia sudah pergi tanpa mengatakan apa pun padaku. Tapi dia memang tepat memiliki anak baik sepertimu. Dia tidak salah memilihmu" ucap Taemin seraya mengambil satu langkah mendekati NamJoon yang semakin bingung.
"Siapa yang kau bicarakan? Anak baik? Aku bukan anak tapi pria yang baik"
Taemin tersenyum mendengar gombalan manusia kardus macam NamJoon. Pria itu tersenyum menyebalkan dengan tampang pria playboy pada umumnya seraya mengedipkan matanya pada Taemin.
"Karena aku pria yang baik apa kau mau minum denganku?" tanya NamJoon.
"Kau harus minum dengan wanita cantik"
"Kau itu sangat cantik"
"Minum lah bersama manusia yang cantik"
NamJoon mengernyit, seketika wajahnya berubah menjadi takut. Taemin makin tersenyum manis seraya melambaikan tangannya dan pergi begitu saja. Dia tidak seburuk yang Taemin pikirkan, Dia masih memberi kesempatan bagi Yoongi dan SeokJin serta Jimin dan Taehyung mencari jawabannya sendiri.
Dia, Sang Maha Kuasa tidak sejahat orang-manusia pikirkan.
…
…
…
…
…
Terdengar suara pintu utama terbuka dan tertutup cukup kencang. Yoongi dan SeokJin juga ada Jimin yang baru selesai membuat sarapan menoleh. Menemukan NamJoon yang terlihat ngos-ngosan seraya membawa sebuah paket.
"Itu menakutkan" gumam NamJoon seraya menaruh paket yang ia bawa di konter dapur. Membuka kulkas mencari minuman dingin, otaknya benar-benar panas karena hal tadi. apa wanita cantik tadi secara tidak langsung mengakui bahwa dia bukan manusia.
"Kau ini kenapa?" tanya Yoongi gemas dan gerah melihat NamJoon yang terus-terusan minum tanpa mau menceritakan apa pun.
"Aku melihat sesuatu yang aneh, tapi aku mengakui keanehan itu sangat indah"
"Ah! Kau bertemu wanita cantik tapi kau masih berkencan dengan Hoseok?"
NamJoon berdecak mendengar spekulasi yang dibuat Yoongi. Kenapa pamannya itu jadi sewot semenjak ia berkencan dengan Hoseok. Tapi ia tidak mau membalas, ini masih pagi dan ia tidak mau berdebat panjang lebar dan berakhir tidak jelas karena masalah sepele ini.
"Aku akan adukan pada pacarmu itu"
"Samchon!"
Jimin menggelengkan kepalanya melihat adu mulut paman dan keponakan berbeda umur yang sangat jauh itu. ia kembali sibuk menata makanan yang akan ia bawa ke rumah sakit, ia berencana menjenguk Taehyung pagi ini sebelum jam kuliahnya di mulai siang nanti.
"Apa kau mau menjenguk V-ssi?"
SeokJin tiba-tiba bertanya, Yoongi yang mendengar itu memicingkan matanya curiga ke arah SeokJin. Pria berdarah vampire itu nampak jauh lebih pucat, kantung matanya jauh lebih menghitam ketimbang biasanya. Intinya dari semua yang Yoongi lihat ada banyak keanehan pada diri SeokJin. Oke, SeokJin itu memang aneh dari awal tapi Yoongi benar-benar melihat sosok SeokJin yang jauh lebih aneh.
"Nde, apa Tuan Vampire ma-"
"Andwae!" Yoongi bersuara memotong tawaran Jimin untuk berangkat bersama menjenguk Taehyung. ia tidak setuju untuk hal itu, ia menatap Jimin yang terlihat sebal dan tidak setuju karena Yoongi asal memotong ucapannya.
"Ahjussi, biarkan saja tuan vampire menjenguk V hyung. Lagipula, mereka harus tetap berteman meskipun mereka mantan"
SeokJin merasa dadanya tertancap panah mendengar kata mantan. Dirinya hanya mantan, orang buangan yang tak patut untuk di lihat siapa pun, Taehyung tidak sepatutnya melihat dirinya lagi semenjak kejadian tiga hari lalu, kejadian dimana Taehyung tahu yang sebenarnya.
Taehyung memang tidak mengusirnya, ia juga tidak tahu apa Taehyung berniat mengusirnya atau tidak. Tapi ia putuskan untuk pergi, menjauhi Taehyung yang jiwa dan raganya tengah sakit. Taehyung pasti masih sangat syok dan tidak terima jika selama ini di tipu oleh seorang vampire. Makhluk menjijikan penghisap darah.
"Aku harus bekerja"
SeokJin memilih pergi, tidak ada awan atau petir di tubuhnya. Tapi wajahnya sudah menggambarkan kesedihan yang tak terbendung. Jimin menduga karena Yoongi, ia pun berbalik dan mencubit perut Yoongi sekuat yang ia bisa.
"Ah! Kenapa kau mencubitku?"
"Kau membuat Tuan Vampire sedih, padahal aku berniat baik mau memperbaiki hubungan mereka. Ahjussi menyebalkan!"
Setelah mengucapkan hal itu, Jimin pergi begitu saja membawa kotak makanan yang tadi ia tata. Meninggalkan Yoongi yang masih meringis sakit dan NamJoon yang tertawa terbahak-bahak melihat Yoongi begitu tunduk pada Jimin.
"Budak cinta…"
…
…
…
"Akuvampire yang mengantar jiwa-jiwa berdosa menjalani hukumannya. Aku adalah Vampire, mereka memanggilku Vampire Kim SeokJin."
Taehyung memejamkan matanya ketika bayangan tiga hari lalu ternyata bukan mimpi. Itu memang benar-benar terjadi. Pria yang selama ini ia ajak berkencan adalah seorang vampire dan lebih buruknya ia jatuh cinta dengan vampire tersebut.
Semua ini masih gila dan sulit ia terima sebagai manusia normal. Bagaimana bisa makhluk-makhluk semacam itu nyata?
"V hyung?"
Taehyung menoleh ke arah pintunya yang terbuka. Si pelaku pembuka pintu adalah Jimin, pemuda manis itu menghampiri dirinya lalu meletakan kotak yang ia yakini sarapan atau makanan untuknya. Rasanya ia ingin tersenyum tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk tersenyum.
"Apa kondisimu sudah baik? Aku bawakan soup untuk membuatmu cepat sembuh, apa kau mau?" tanya Jimin seraya membuka kotak makan yang ia bawa. ia melirik Taehyung yang sudah mengambil posisi duduk, kepala bersurai blonde itu mengangguk sebagai jawaban ya atas pertanyaan Jimin tadi.
"Aku harap kau suka, ahjussi tadi menghabiskan banyak soup ini"
Taehyung kembali bingung. Pikirannya sekarang benar-benar terpecah menjadi beberapa cabang mengingat SeokJin, segala keanehannya, Yoongi dan semua kegilaan ini menggerogoti otaknya dan membuat ia gila.
"Makanlah!"
Taehyung mengangguk, mengaduk soup itu lalu melirik Jimin yang sedang meminum jus dari botol yang di bawa. Jimin pasti sudah tahu semuanya, tapi bagaimana bisa Jimin yang tidak bisa berbohong menyembunyikan semua ini.
"Apa kau tahu orang yang aku kencani selama ini vampire?"
"Uhuk! Uhuk!"
Seperti dugaannya Jimin terbatuk begitu kerasnya, bahkan jus yang ada di mulut pemuda manis itu sempat keluar. Terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan Taehyung. ia meraih botol minum air mineralnya, menepuk-nepuk dadanya yang sakit bukan main. Lalu melirik Taehyung yang tersenyum miris lalu menghela nafas.
"Kau pasti tahu"
"V hyung tahu darimana?" tanya Jimin dengan suara pelan dan hati-hati. Taehyung mengaduk soup pemberian Jimin dan perlahan memakannya. Pikirannya kembali mengenang tentang kejadian tiga hari lalu, kejadian yang hampir membuatnya gila dalam tiga hari.
"Aku melihat hal yang membuatku hampir gila"
Jimin meringis. Apa Taehyung tahu semua itu dari SeokJin? Atau orang lain. Apa Jungkook dan Jieun? Tidak mungkin, kecil kemungkinan Jungkook dan Jieun kemari karena Yoongi hampir dua puluh empat jam tidak melepaskan pandangannya dari Taehyung.
"Dia yang menunjukkan semuanya, tanpa terkecuali"
"Aku vampire"
"Bahkan dia memberitahu namanya padaku, aku senang tapi juga takut"
Jimin meletakan botolnya, menarik kurisinya lebih dekat, menggenggam tangan Taehyung yang berhiaskan infus. Mengusap tangan itu lembut seraya tersenyum. SeokJin tidak semenakutkan di bayangan Taehyung, malahan menurut Jimin SeokJin itu salah satu vampire yang terbilang idiot.
"V hyung tidak perlu takut. Untuk ukuran vampire yang pernah aku temui, Tuan Vampire Kim bisa dibilang tampan, baik, lembut dan tidak menyeramkan"
"Apa dia punya mantan seorang vampire? Apa dia cantik?"
Jimin mengatupkan bibirnya, tidak menyangka jika Taehyung akan menanyakan hal seperti itu. awalnya ia kira Taehyung akan mengumpat kasar atau menangis tapi Taehyung menanyakan hal itu. ia tidak memiliki jawabannya karena ia memang tidak tahu.
"Aku tidak tahu soal itu"
"Dia benar-benar sudah membuatku gila. Dia membuatku gila karena pesonanya, sekarang dia membuatku gila dengan identitasnya. Tapi beruntunglah dia tidak memiliki mantan, paling tidak dia jujur untuk yang satu ini"
Taehyung mengoceh panjang lebar lalu kembali memakan soup nya. Melupakan Jimin yang memandanginya prihatin, sebaik apa pun menutupi, Taehyung benar-benar terlihat seperti orang frustasi dan tidak mempercayai apa yang dilihat. Ia membiarkan Taehyung menyelesaikan makannya, mengambil tempatnya lalu melatakannya dalam tas bekal tadi.
"Setelah aku pikir-pikir perkataan orang yang mengaku kakakku benar adanya dan pasti dia sudah hidup abadi selama ratusan tahun. Dia pasti gumiho yang ada di dalam kontaknya dan kau…"
Jimin tersenyum seraya mengangguk. Apa pun yang dipikirkan Taehyung benar adanya, tidak ada yang perlu dikoreksi. Taehyung membuang nafasnya tidak percaya, memalingkan wajahnya lalu mengambil nafas panjang.
"Kau istrinya gumiho itu? orang yang mengaku kakakku dan aku adalah renkarnasi adiknya?"
"Secara teknis aku memang istrinya tapi ahjussi belum meresmikannya karena usiaku" jawab Jimin dengan nada pelan agar tidak membuat Taehyung terkejut atau semakin membuat guru BK nya itu makin menggila.
Jimin meringis melihat Taehyung memegangi lehernya yang tiba-tiba berdenyut, selain keponakannya yang berkencan sekarang muridnya sendiri sudah diklaim oleh orang lain. "Kenapa hidupku seperti ini?" gumam Taehyung begitu menyedihkan.
"Aku tidak pernah memimpikan bahwa makhluk-makhluk fantasy seperti itu ada. Tapi lihat aku sekarang, aku mengalaminya sendiri bahkan aku jatuh cinta dengan makhluk fantasy itu"
"Tapi, V hyung, Tuan Vampire bisa saja ada di dekatmu tapi kau tidak akan pernah tahu dan menyadarinya. Apa kau bisa menghubunginya lebih dulu?"
"Apa kau pikir harga diriku murah? Mana mungkin aku pihak yang disakiti menghubungi dia dulu" sungut Taehyung kesal. Wajahnya terlihat sebal karena jika seperti itu maka secara teknis dirinya lah yang harus memulai hubungan ini. padahal semua ini putus karena SeokJin.
"Aku tidak akan menghubunginya kecuali dia menghubungiku lebih dulu, itu pun terjadi jika dia bersikeras menghubungiku belasan kali baru aku akan mempertimbangkannya. Aku itu seorang pemain cinta, aku tidak akan menghubungi dia dulu"
Jimin mengangguk paham, menatapi wajah Taehyung yang masih terlihat sebal. Meskipun begitu ia bisa melihat dengan jelas guratan kesal dan berharap ada secercah harapan baik. Ia tidak akan memaksa gurunya bercerita semua, cepat atau lambat Taehyung akan menceritakan semuanya.
…
…
Cukup lama Jimin menemani Taehyung bahkan sampai menunggui Taehyung meminum obatnya dan jatuh tertidur. Ia keluar dari ruang rawat Taehyung seraya memainkan ponselnya, mengabari beberapa teman sekelompaknya bahwa ia sudah mengerjakan tugas bagiannya dan meminta mereka berkumpul besok. Sampai ada notif lain datang, sebuah notif lain berupa telfon dari Yoongi. Ia segera menggeser gagang hijau di ponselnya.
"Eoh, ahjussi, aku akan segera turun. Apa ahjussi sudah kembali ke rumah sakit ini?"
"Aku sudah memulai jam kerjaku lagi, aku akan menunggumu di basement parkir. Arrachi?"
"Eoh, aku sudah di depan lift, sebentar lagi aku datang"
Jimin benar-benar fokus pada telfon di telinganya sampai tidak sadar ada sosok lain muncul di belakang tubuhnya. Sosok berwajah dingin dan tajam, mengikuti setiap pergerakan Jimin masuk ke dalam lift yang masih asik dengan ponselnya.
Sosok wanita berwajah dingin nan tajam itu memperhatikan Jimin yang terlihat senang dengan menunjukan senyum manisnya. Manis? Ck! Senyum itu benar-benar menjijikan. Matanya melirik objek di ponsel Jimin yang sedang di mainkannya.
"Kau punya banyak teman sekarang?"
Jimin terkejut mendengar suara seseorang bicara di sampingnya, ia menoleh, matanya membola melihat Jieun berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Ponsel yang ia genggam erat mendadak jatuh ke bawah hingga menimbulkan suara debuman yang nyaring. Jieun menghela nafas seraya berdecak melihat ponsel Jimin yang terjatuh.
"Kau harusnya tidak sembrono memegang sebuah benda, ini"
Jimin masih sulit merespon. Matanya tidak pernah menatap objek lain selain wajah Jieun yang benar-benar berbeda, itu bukan Jieun. Jungkook dan Jieun bukan orang yang pernah ia kenal selama ini. Jujur ia takut, tubuhnya bergetar takut tapi sebisa mungkin ia redam gemetar tubuhnya tersebut.
"Kau tidak mau ponselmu?"
Jimin menelan saliva nya susah payah, tangannya gemetar mengambil ponselnya dari tangan Jieun. Sedangkan gadis itu tersenyum miring lalu merubah wajahnya menjadi datar, lift yang mereka naiki berhenti di lantai paling bawah, tapi dalam keadaan pintu masih tertutup.
Jimin panik, ia menekan beberapa tombol lift namun tidak ada perubahan. Lift itu masih tertutup rapat, ia tidak mau berurusan dengan Jieun atau pun Jungkook. Tidak lagi.
"Kau pasti sudah tahu kan Jungkook sekarang bukan Jungkook yang kau kenal begitu juga aku?"
Gerakan Jimin terhenti, ia menoleh ke tempat Jieun berdiri. Wajah gadis itu berubah menjadi pucat, make up yang menghiasinya luntur dan digantikan wajah pucat dengan hiasan urat-urat serta bibir yang menghitam busuk. Penampilannya hampir sama dengan penampilan Jungkook tempo hari.
"Dia adalah Wang Jung, adik dari Wang Seok. Sementara aku adalah Han Eun inang dari Yang Mulia Raja, Wang Seok. Kau pasti sudah tahu semua itu, kan?"
Jimin memang sudah tahu beberapa peran dalam kisah yang dituturkan Yoongi. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa mereka benar-benar akan datang dan menuntut balas pada Yoongi. Ia menyetabilkan deru nafasnya yang memburu, ia meggeleng lalu merubah posisi berdirinya tepat di depan pintu lift.
"Aku tidak tahu"
HIK!
"Min Yoongi" Jieun berucap lirih menyebut nama kekasihnya itu. lirih yang begitu menyeramkan, akan selalu terniang-niang di kepalanya. Tubuh Jimin menegang ia tidak menoleh, ia hanya diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan Jieun katakan.
"Dia yang membunuhku dan juga Wang Jung. Dia membunuhku dengan panah dan busur yang diberikan Wang Seok. Apa kau tahu artinya?" tanya Jieun seraya mendekatkan kepalanya ke telinga Jimin, membisikan sesuatu yang membuat Jimin terkejut dan takut.
"Aku ada di tubuhnya juga, nyawa roh haus darah ini juga ada di tubuhnya. Hukumanya untuk hidup abadi semakin berat karena kehadiran nyawa roh haus darahku di tubuhnya." Jieun mengucapkan kalimat sadis itu diakhiri tawa yang menyeramkan.
Jimin mengepalkan tangannya, ia menoleh menatap Jieun yang tersenyum puas karena membuat jiwanya terguncang hebat. "Apa yang kau mau? Apa kau membunuhku? Bunuh saja aku"
"Aku ke sini bukan untuk membunuhmu atau melihat kematianmu, tapi melihat kematian Min Yoongi"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Jimin berteriak nyaring, Jieun tersenyum puas seraya mengibaskan tangannya seolah-olah perkataan Jimin itu mengganggu layaknya lalat.
"Aku juga mau menyampaikan sebuah kisah yang menarik, sebuah kisah yang aku janjikan akan berakhir tragis. Kisah dimana saat Min Yoongi kembali dari kematiannya sambil membawa panah dan busur untuk membunuh Wang Seok tapi sayangnya Wang Seok sudah mati. Panah itu lalu membunuhku dan juga Wang Jung. Apa kau tahu, panah dan busur itu diberikan langsung oleh Wang Seok."
Jimin mengepalkan tangannya, ia tidak bisa ada di sini terus. Ia ingin keluar, ia tidak mau mendengarkan perkataan roh haus darah ini lagi.
"Kau tahu tentang Wang Seok, putraku?"
"Apa maksudmu? Aku tahu itu darimana?"
Jieun tersenyum licik, "Aku tidak cegukan itu berarti aku bicara benar" Jimin kembali berucap, menambahkan keyakinan pada Jieun bahwa ia memang tidak tahu dimana Wang Seok berada.
"Wang Seok, putraku, tinggal bersama Min Yoongi"
"Bicara omong kosong apa lagi ka-"
Jimin tidak kembali meneruskan umpatannya, matanya membola, bibirnya mengatup rapat. Apa yang dimaksud Tuan Vampire adalah Wang Seok? Jieun tersenyum puas melihat reaksi Jimin yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja.
Wajah manis itu semakin pucat, bibirnya bergetar, matanya membola dengan lapisan embun tebal. Keadaan Jimin sekarang benar-benar mengkhawatirkan, dia benar-benar mengkhawatirkan.
"Benar, dia adalah Wang Seok, Vampire yang tidak memiliki identitas dan nama sebenarnya. Dia adalah Wang Seok, putraku, raja Goryeo yang memberi busur dan panah yang menancap di dada kekasih mu, Min Yoongi"
Jimin mengalihkan pandangannya, menelan salivanya dan berusaha bernafas normal. Matanya sudah benar-benar memerah hendak menangis.
"Apa kau bisa menebak apa yang terjadi jika orang yang memanah dan dipanah bertemu?" tanya Jieun dengan wajah pura-pura berpikir dan menebak. Tapi menurut Jimin wajah itu benar-benar membuat marah, rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal.
Jieun melirik telapak tangan Jimin yang terkepal dengan senyum miring, "Entah Min Yoongi berhasil membunuhku atau tidak, semua itu tergantung dari tanganmu. Kau sekarang yang mengendalikan kematianku, Jung, Wang Seok dan Min Yoongi"
Jieun kembali tertawa puas, membuka pintu lift dengan sekali jenitkan jari, berjalan keluar dengan lirikan mata tajam mengarah pada Jimin yang masih membisu di tempat.
Mata pemuda manis itu memerah, meneteskan air mata seraya menatapi tangannya sendiri. Tangan mungil ini, tangan yang begitu menyeramkan. Tangan yang akan merenggut orang yang ia cintai dan sayangi. Orang itu…
Min Yoongi.
…
…
…
Di dalam mobil Jimin hanya diam, pandangannya kosong memandang ke arah luar. Tanpa sadar tangannya menyentuh bekas luka gigitan ular di tangannya. Apa karena bekas gigitan ini ia menjadi seorang pembunuh? Atau Sang Maha Kuasa yang memberikan takdir menyedihkan ini.
Yoongi yang melihat keganjilan pada Jimin menyentuh pundak mungil itu, Jimin menoleh dengan mata sembab. Semakin curiga ia meminggirkan mobilnya, mengarahkan wajah berpipi tembam itu tepat di depan mukanya.
"Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
Jimin menggeleng, menjauhkan tangan Yoongi lalu tersenyum lebar ke arah sang kekasih yang nampak khawatir. Pria tampan itu masih menatap Jimin khawatir, melajukan kembali mobilnya dengan lirikan mata khawatir karena Jimin kembali melamun seraya menyentuh bekas luka gigitan ular semasa kecil wakut itu.
"Aku… aku bertemu Han Eun dan Wang Jung. Mereka merasuki tubuh Jungkook dan Jieun"
Yoongi langsung memberhentikan mobilnya di tengah jalan, mobil yang ada di belakang mereka ikut meng rem mendadak dan mengumpat. Pria tampan ini tidak peduli, ia lebih memudilkan ucapan Jimin tadi.
"Apa maksudmu?"
"Aku barusan bertemu Han Eun di lift rumah sakit"
"Aku akan membunuh dia"
"Anniya!" cegah Jimin. Ia menahan lengan Yoongi yang berniat putar balik ke rumah sakit, bagaimana pun tubuh yang digunakan Han Eun adalah tubuh Jieun. Ia tidak bisa mengorban orang lain demi keselamatannya. "Dia menggunakan tubuh Jieun dan Jungkook, berjanjilah ahjussi tidak akan menyentuh mereka kecuali mereka menggunakan roh mereka sendiri. Aku tidak mau ahjussi menyakiti manusia. Ahjussi harus berjanji, hm?"
Yoongi terdiam, mengamati tangan Jimin yang kelewat erat mencengkram lengannya. Ia menarik nafas panjang, mengarahkan tangan Jimin ke wajahnya lalu mengecupnya lembut.
"Apa tadi aku menyeramkan?"
Jimin mengangguk, menyentuh dua sisi wajah Yoongi dan mengusapnya sambil tersenyum. "Ahjussi tadi terlihat menyeramkan, tapi aku tidak takut"
"Wae?"
"Karena aku mencintaimu"
Yoongi tersenyum, mengusap kepala Jimin lalu memeluknya, memeluk tubuh mungil itu sangat erat. Benar-benar sangat erat, Jimin bisa merasakan ada ketakutan tersendiri di pelukan Yoong ini. ketakutan akan kehilangan Jimin, alhasil ia menepuk-nepuk punggung Yoongi.
"Gweanchana, aku akan ada di sisi ahjussi. Aku sudah berjanji dan aku akan selalu menepatinya"
"Arraseo, aku hanya ingin memelukmu"
Jimin tersenyum, merenggangkan pelukannya dan sekali lagi menatap Yoongi dengan pandangan serius dan memohon. "Jangan sakiti Jungkook dan Jieun, jangan sakiti tubuh mereka, mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. aku tidak bisa melihat mereka terluka"
"Tidak salah jika Sang Maha Kuasa memilihmu sebagai istriku"
Jimin mengernyit mendengar penuturan Yoongi yang tidak nyambung, "Apa maksud ahjussi?" tanya Jimin bingung. Yoongi mengangguk, menepuk-nepuk kepala Jimin sayang.
"Kau anak baik yang ditakdirkan untuk orang jahat, sepertiku"
"Ahjussi bukan orang jahat, ahjussi orang baik mirip seperti cerita Jin di aladin"
Yoongi tertawa, "Terserah kau, aku akan antarkan kau selamat sampai kampusmu"
Jimin balas tersenyum, senyum lega karena sudah menceritakan sebagian dari kejadian di lift itu. dan meskipun masih ada ganjalan karena dirinya tadi jelas-jelas berbohong, ia berbohong karena menyembunyikan seluruh kejadian di lift tadi tanpa cegukan.
Apa yang terjadi pada tubuhnya?
…
…
…
…
…
SeokJin tidak tahu kemana harus menghilangkan kegundahannya sendiri. Hingga ia ikut memutuskan minum-minum bersama rekan-rekan vampire nya. Dari awal sampai akhir, ia hanya diam dan sesekali tertawa menanggapi lelucon rekannya. Tapi itu tidak bertahan lama, hanya hitungan detik. Pikirannya melayang mengenai kejadian akhir-akhir ini.
Dimulai dari Taehyung adalah renkarnasi adik Yoongi.
Taehyung yang memutuskannya.
Ia yang membuka identitas sebenarnya pada Taehyung.
Dan…
Yoongi yang melihat bayangan wajah Wang Seok di wajahnya. Tidak mungkin itu sebuah kebetulan, ada teka-teki lagi yang diberikan Sang Maha Kuasa untuknya. Sebuah teka-teki yang ia yakini berkaitan erat dengan kehidupan masa lalunya.
Terlebih perkataan NamJoon yang pada saat itu masih menjadi mediatorNya.
"Aku adalah orang yang mendapat salah sasaran tuduhan. Aku tidak melakukannya tapi orang itu memilih tujuannya tapi anehnya dia menebak niatku"
Apa maksudnya?
"Sunbae! Kenapa kau tidak minum?"
SeokJin menoleh, menemukan Hyungwon yang tersenyum seraya memberikan gelas berisi beer. Pria tampan berdarah vampire itu mengambilnya dengan senyum canggung.
"Kau sepertinya tidak betah di sini, apa kau mau keluar sebentar, selain itu ada hal yang mau aku bicarakan"
…
Hyungwon mengajak SeokJin duduk di dekat kedai minum mereka. SeokJin masih diam dengan wajah sendu tak bersemangat. Sedangkan Hyungwon merogoh tas hitamnya, memberikan sebuah amplop merah dan tumpukan berkas lainnya.
"Kau mendapat teguran atas sikapmu beberapa minggu ini, itu hukuman untukmu"
"Hidup seperti ini saja bagiku seperti hukuman, apa aku harus mendapat hukuman lagi?" SeokJin mengeluh, untuk pertama kalinya Hyungwon mendengar seniornya yang dingin mengeluh.
"Kenapa nada suaramu, sunbae?"
"Aku merindukan seseorang"
Hyungwon membelakan matanya, terkejut mendengar pengakuan SeokJin yang begitu menyedihkan. Apa yang sebenarnya terjadi? "Lebih baik jangan merindukan orang itu. apa kau tahu kenapa kau diberi tambahan amplop?" tanya Hyungwon.
SeokJin menggeleng, ia menepuk tumpukan berkas di tangannya dan juga beberapa amlop berisi nama korban yang harus ia datangi dan jemput.
"Karena kita pendosa, kita dihukum menjadi vampire hidup atau mati tidak ada bedanya, itu adalah hukuman yang harus di terima"
"Karena apa?"
"Karena kau berdosa, dosa yang sangat besar"
"Dosa apa? kenapa kita tidak mengingatnya?"
Hyungwon tidak bicara, tatapannya begitu aneh ke arah SeokJin. Tumben sekali SeokJin mencerca pertanyaan sebegitu dalamnya tentang dosa. Dosa besar yang bahkan tidak akan pernah mereka ingat, semua itu bukan kutukan tapi berkah.
"Karena hidup sebagai pendosa dan mengingat dosa-dosa itu akan jauh lebih menyakitkan. dosa-dosa itu akan menghasilkan penyesalan yang tak berujung, bahkan aku tidak yakin tentang dosa dan ingatanku benar atau tidak. Lebih baik aku tidak mengingat apa pun, aku tidak mau hidup menjalani hukuman sambil mengingat alasan dibalik hukuman itu, seperti Gumiho"
SeokJin termenung. Gumiho? Ia jadi teringat spekulasinya mengenai hidup Yoongi dan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang berdosa yang bisa jadi dirinya ada di sana, entah kenapa ia jadi melibatkan dirinya sendiri dalam perjalanan masa lalu Yoongi.
Semua ini karena ketidak sengajaan yang begitu nampak di buat oleh Dia. SeokJin tidak bodoh untuk menyadari ada hal ganjil tentang pertemuannya dengan Yoongi, Taehyung dan Jimin-semasa kecil. Semua itu terlihat seperti ketidak sengajaan yang dibuat.
"Sunbae tidak perlu memikirkan apa pun lagi, jangan pikirkan dosa apa yang membuatmu seperti ini, itu saranku"
SeokJin menoleh, menemukan Hyungwon yang tersenyum sambil menyodorkan kopi kaleng. Ia menerimanya, memutari kaleng kopi berbentuk tabung itu. kopi, ia teringat Taehyung, manusia yang ia sukai. Manusia yang terlibat dalam perjalanan sejarah Yoongi dan termasuk dirinya.
"Aku mempunyai pikiran kalau aku adalah bagian dari masa lalu Gumiho itu"
Hyungwon tersedak, menoleh menatap SeokJin yang sedang memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tidak percaya kalau SeokJin benar-benar mencari tahu tentang dosanya sendiri.
"Ada empat orang berdosa besar di sana, ada Min Yoongi yang melanggar perintah raja sebagai dewa serta membunuh banyak nyawa. Wang Seok yang memerintahkan membunuh Yoongi dan Chohee. Wang Jung dan Han Eun yang mempengaruhi Wang Seok melakukan itu. Dari ketiga orang itu, aku bisa termasuk. Entah Wang Seok, Wang Jung atau… Han Eun"
Hyungwon menghela nafas, menepuk pundak SeokJin dan membiarkan SeokJin bercerita sepuasnya. Entah ia mengerti atau tidak, sebisa mungkin SeokJin meluapkan semuanya.
"Aku dan Min Yoongi pasti akan saling membenci, sementara aku dan Chohee tidak akan pernah bersama, benar?"
Hyungwon tidak merespon, ia hanya diam memerhatikan wajah frustasi SeokJin. Ingin sekali ia membantu SeokJin tapi itu sama saja menambah dosanya. Meskipun terdengar egois dan tidak setia kawan, tapi SeokJin harus mengerti kalau tindakannya ini tidak baik dan akan merugikan diri sendiri. Tapi sekali lagi, SeokJin memiliki jalan pikiran yang tak akan dimengerti vampire lainnya.
"Aku benar-benar merindukan, Chohee… tapi…"
SeokJin memegangi dadanya yang kembali nyeri mengingat lukisan, bayangan masa lalu Taehyung dan Chohee yang sama, menghantarkan implus sesak dan sakit di dadanya. Matanya juga memerah bersiap menangis mengingat kematian Chohee dan air mata yang menetes ketika Taehyung mengetahui semuanya.
"… aku merasakan sakit saat merindukannya… sesakit apa pun itu aku tetap merindukannya"
…
…
…
Taehyung menarik nafas lelah, tubuhnya sudah sembuh sekitar 70% tapi ia ngotot mau pulang hingga Yoongi mengijinkannya meskipun pengawasan langsung dari Yoongi tidak boleh lepas. Meskipun begitu, jiwanya masih sakit memikirkan orang yang ia cintai adalah vampire. Muridnya adalah istri Gumiho dan Gumiho itu adalah kakaknya.
Kenapa orang-orang di sekitarnya begitu aneh sekarang?
DREET DREET
Taehyung menoleh, tersenyum kecil melihat si penelfon adalah vampire tampannya. Miliknya, ia akan selamanya mengklaim hal itu. dengan semangat ia merenggut ponselnya, berdehem beberapa kali mencari nada bicara yang pas.
"Yeoboseyo?"
"Aku ada di gang rumahmu, bisa temui aku sebentar"
Taehyung menggigit bibirnya, ia senang bukan main mendengar SeokJin mengajaknya bertemu lebih dulu. Mimpi apa semalam ia bisa mendapat hal ajaib seperti ini, tapi tetap saja ia tidak boleh terlihat terlalu senang. Bisa-bisa kepala SeokJin besar karena Taehyung kelewat mengharapkannya.
"Waeyo?"
"Sebentar saja, temui aku"
"Baik, jika kau memaksa. Aku akan datang"
Setelah mengucapkan tadi, Taehyung lekas mematikan ponselnya menatap pantulan dirinya lagi yang sudah membersihkan wajahnya. Ia tidak boleh tampil dengan wajah lelah seperti ini, tidak boleh. Ini adalah pertemuan yang selalu ia impikan bersama SeokJin.
…
Pandangan pria berbahu lebar itu begitu kosong, lelah, frustasi dan bingung. Ia tidak tahu apa benar hipotesisnya mengenai dirinya di kehidupan masa lalunya berkaitan dengan Yoongi atau tidak. Apa ia Jung atau Seok di kehidupan masa lalunya. Siapa dirinya? Tidak mungkin ia bertanya langsung pada Yoongi, gumiho itu pasti akan langsung menghajarnya.
Pikirannya yang terpecah makin semakin pecah melihat Taehyung berlari kecil dengan imutnya menghampiri SeokJin. Ia memaksakan sebuah senyum untuk Taehyung, posisi tubuhnya yang semula bersandar pada dinding gang ia bawa berdiri tegak menghadap Taehyung.
"Ada apa? kenapa kau tiba-tiba menghubungiku mengajak bertemu?" tanya Taehyung dengan nada jutek, tidak bersahabat. SeokJin tidak menjawab, dia hanya memandang Taehyung dengan pandangan berkaca-kaca. Menahan emosi di setiap aliran darahnya.
"Kenapa kau diam? Kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Aku setuju bertemu denganmu karena kau harus mengembalikan cerminku"
SeokJin mengangguk, kepalanya menunduk sebentar sebelum terangkat memandang Taehyung yang masih memandang SeokJin bingung. Kepalanya penuh tanda tanya dalam jumlah yang banyak karena SeokJin. Apa yang sebenarnya ingin SeokJin sampaikan?
"Kenapa kau masih diam? Kau tidak ingin mengatakan aku merindukanmu?"
SeokJin mengangguk, wajah manis itu sekarang terlihat kesal dan terkejut di saat bersamaan, "Ya, aku merindukanmu"
Taehyung tersenyum, mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke aspal lalu memandang SeokJin yang ternyata tengah memperhatikan gerak-geriknya. Anehnya ia tidak merasa malu atau tersipu, malahan ia takut melihat SeokJin memandang dirinya begitu intens.
"Tapi…"
"Tapi apa?" potong Taehyung tidak sabaran. SeokJin kembali menunduk, menarik nafas panjang. Otaknya kembali berpikir bahwa keputusannya ini benar, ia harus melakukan ini. ia harus mengetahui langsung sebagai apa dirinya di kehidupan Yoongi dan Taehyung dahulu.
"Aku takut perasaan lain di hatiku akan menjadi boomerang untuk diriku sendiri"
Taehyung mengernyit, apa maksudnya. Kenapa SeokJin tiba-tiba seperti ini. seketika senyum cerahnya menghilang, tergantikan wajah bingung dan takut. Takut jika SeokJin hanya mempermainkannya saja, takut SeokJin hanya menerbangkan lalu menjatuhkannya dengan sangat kuat ke bawah. Ia takut.
"Aku tidak bisa menyakitimu lebih lama lagi, aku tidak tahu masa lalu apa yang aku lupakan, aku tidak tahu apakah aku berhubungan denganmu atau tidak. Aku tidak tahu, karena itu aku tidak mau membuatmu lebih sakit lagi"
"Jangan bicara lagi!"
Taehyung tiba-tiba berteriak, kepalanya bergerak kanan dan kiri. Jangan! Jangan seperti ini, jangan membuatnya terjatuh. Tapi SeokJin tidak menurut, dia malah membuka mulutnya berniat bicara tapi mulut itu tertutup lagi. Wajahnya seperti tidak tega melihat Taehyung dengan wajah frustasi dan menahan sakit.
Belum apa-apa SeokJin sudah membuat Taehyung sakit, entah apa yang akan terjadi jika Taehyung mengetahui semuanya.
"Kau harus tahu siapa dirimu sebenarnya, apa kau benar adik dari Gumiho atau bukan. Karena itu…" SeokJin memotong ucapannya, melangkah makin dekat pada tubuh Taehyung yang kaku bagaikan sebuah pohon. Namun pohon itu begitu rapuh dan lapuk.
"Ciuman seorang vampire akan membuatmu melihat segala dosa yang pernah kau dan nenek moyangmu lakukan. Seluruh dosa keluargamu, termasuk dirimu akan kembali ke otakmu. Setelah itu…"
SeokJin menangis, ia tidak sanggup melihat Taehyung menitihkan air mata. Tapi ia harus tetap melakukan ini, hanya ini satu-satunya cara bagi dirinya mengetahui masa lalunya dengan bertanya pada Taehyung nanti.
"Hajima…"
"… katakan apakah aku ada di sana atau tidak"
Taehyung menggeleng, menolak SeokJin. Tapi terlambat, SeokJin menarik kepalanya ke depan. Mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman, ciuman yang dilandasi dengan air mata. Mata SeokJin tertutup, ia tidak bisa beradu pandang dengan Taehyung.
Pemuda mungil bermarga asli Min itu terperenjat, kepalanya tiba-tiba saja seperti dihujani berbagai macam batu, mulai dari batu yang berat, kerikil, panas dan hingga akhirnya sebuah rasa sakit hebat menyerangnya.
Kepalanya seperti alat pemutar film rusak yang dipaksa memutar sebuah film di kaset. Matanya bergetar hebat, menahan sakit sekaligus matanya yang tiba-tiba mengabur. Ia tidak kuat menahan sakit ini, tapi SeokJin semakin menekan bibirnya mengakibatkan rasa sakit di kepalanya makin hebat hingga yang ia lihat adalah…
Seorang pria memanjat pagar, menatapi seorang gadis yang sedang bercermin. Mereka saling berpandangan, lalu cermin itu jatuh.
Pria itu, pria itu memiliki wajah yang menyerupai SeokJin. Dan gadis itu, menyerupai dirinya.
BRAK!
Chohee terperenjat dari posisii duduknya, terkejut melihat Seok masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sekotak perhiasan. Ia sama sekali tidak mengerti, tapi melihat wajah amarah Rajanya ini bukan hanya sekedar masalah kotak perhiasaan.
"Kenapa kau tidak datang? Aku mengundang secara khusus seorang pelukis terkenal tapi kau malah tidak datang! Kau membuatku malu!"
Chohee membulatkan matanya, ia tidak tahu. Sungguh, ia tidak tahu jika Seok mengundang seorang pelukis. Ia sejak kemarin di dalam kamar, tepatnya setelah Jung menghampirinya. Ia tetap di dalam kamar, mengurung diri dan berpikir bagaimana caranya membongkar niat buruk Jung dan ibu suri.
"Cepat bangun dari dudukmu!"
Chohee makin terkejut, ia bangun dari posisi duduknya menghampiri sang Raja yang benar-benar terlihat menahan amarahnya. Terlebih melihat penampilan dirinya yang jauh dari kata mewah khas seorang ratu.
"Kenapa kau tidak memakai hiasan apa pun? Kau ingin menghinaku dengan berpakaian layaknya seorang janda padahal kau memiliki suami?"
"Yang Mulia, aku tidak bermaksud seperti itu. aku memang ingin menyendiri dan menjauhi kemewahan"
Seok masih tidak terima, ia berjongkok mengambil sebuah jepit, cincin dan cermin kesayangan Chohee. "Lihat dirimu!" teriak Seok menarik Chohee menghadap ke cermin mungil itu, perlakuannya begitu kasar dan semena-mena. Chohee sakit, ia tidak suka tapi ia harus tetap diam dan menurut karena membantah sama saja menambah emosi Seok.
"Kau ratuku! Kau istri seorang raja maka berpenampilan lah layaknya seorang ratu!"
Chohee menunduk menahan air matanya. Ia tidak tahu kenapa Seok begitu marah padanya, ia sungguh tidak tahu jika sang raja membuat jadwal untuk mereka dilukis. Tidak ada satu pun orang yang memberitahunya.
"Pakai ini!"
Bibir Chohee bergetar, menahan tangis akan rasa sakit di jari dan kepalanya. Dan jangan lupakan hatinya, beberapa hari lalu sebelum makan malam keluarga kecil itu Seok begitu perhatian dan lembut. Tapi setelah pertemuan itu Seok mulai kasar, berpirikan buruk dan tidak memandang Chohee seperti dulu.
Seok memakaikannya sebuah cincin berwarna merah muda di jari telunjuknya, tidak lupa sebuah jepit rambut yang menghiasi kepala bersurai hitam miliknya.
"Jangan membuatku marah dan mengingat kakakmu karena tingkahmu ini. ikut aku!"
Chohee mengangguk, menuruti Seok yang menyeretnya ke tempat pelukis itu menunggu. Sebisa mungkin Chohee membuat ekspresi bahagia saat dilukis, tapi tidak bisa. Ia tidak bisa menampilkan senyum bahagia, begitu juga dengan Seok.
Mereka tidak bisa tersenyum…
Taehyung menangis. Bibirnya bergetar, mendorong pundak SeokJin menjauh tapi SeokJin tetap ngotot membawa bibirnya dalam sebuah ciuman. Memaksanya melihat segala dosa dan masa lalu Taehyung. Ia tidak sanggup, ia tidak sanggup melihat hidup gadis itu.
Karena gadis itu adalah dirinya…
Chohee serius. Ia lebih memilih kakaknya, ia berdiam diri di kamar tanpa berniat menghias wajahnya. Matanya membengkak karena terlalu banyak menangis sejak semalam, ia bahagia sekaligus takut mendengar kabar sang kakak memenangkan pertempuran.
Ia menangis, sang kakak akan kembali tapi di saat bersamaan Seok membuangnya. Ia dibuang oleh suaminya sendiri, dan semua itu karena pengaruh ibu suri dan Jung. Orang yang sudah dianggap adik oleh Seok tersebut membuktikan sumpahnya.
Dia tidak main-main dengan ucapannya.
BRAAK!
Kembali. Seok membuka pintu kamarnya dengan kasar, pandangannya begitu tajam menusuk tepat di uluh hati Taehyung.
"Min Yoongi, kembali memenangkan pertempuran. Kau pasti sudah mendengarnya bukan?"
Chohee tidak menjawab, ia diam di tempat dengan mata berair, bibir bergetar. Ia bukan marah pada Seok, tapi ia marah dan sedih pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal melindungi sang suami dari pengaruh jahat orang-orang di sekitarnya. Ia telah gagal.
"Kau memilih siapa, kakakmu atau aku, raja dan suamimu?"
"Yang Mulia…"
"JAWAB!"
Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia menangis, tanpa suara namun air matanya mengalir. Ia menangis, ia tidak percaya pada pria di depannya bahwa dia adalah Seok. Seok yang dulu mencintainya, menatapnya lembut dan bicara lembut sudah tidak ada lagi. Sekarang Seok bukan Seok yang dulu lagi.
"Meskipun aku atau kakakmu yang kau pilih, kau akan tetap mendapat keuntungan karena kau seorang ratu. Kau tidak akan pernah rugi jika aku atau kakakmu yang hidup"
"Yang Mulia!"
"Berani kau meninggikan suaramu?!"
Tangan kekarnya, menarik lengan Chohee mendekat. Menatap wanita berstatus istrinya dengan tatapan membunuh, beringas dan benci. Chohee tidak salah melihat, ia bisa melihat Seok menatapnya penuh kebencian.
Seok sangat membenci Chohee. Mereka saling membenci, Taehyung menangis. Matanya terpejam, ia sudah tidak sanggup lagi tapi SeokJin tetap menahan kepalanya. Menahan bibirnya dalam sebuah perangkap bibir tebal yang begitu dingin itu.
Di sana, Taehyung bukan lagi melihat Chohee dan Seok. Tapi ia melihat Taehyung dan SeokJin.
Taehyung menangis, berusaha melepas cengkraman SeokJin pada lengannya. Tapi tidak bisa, bahkan SeokJin menyeretnya dan mendudukannya paksa pada sebuah cermin di kamarnya. Memaksanya memandang pantulan dirinya yang tak berbalut perhiasaan apa pun.
"Kau kembali berpakaian seperti ini? kau membuatku benar-benar marah!"
SeokJin melepas cengkramannya, menjatuhkan kotak-kotak perhiasaan pemberiannya di hadapan Taehyung yang terduduk lemas. Menangis, ia tahu ia lemah tapi tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain terduduk dan menangis.
"Kau hanya menyimpannya, untuk apa? aku memberikannya padamu untuk kau pakai! Kau ratuku! Kenakan perhiasaan dan jadilah ratuku!"
"Tanpa perhiasaan itu…"
Taehyung mulai bicara, meskipun terlampau sulit menahan sakit teramat yang diberikan SeokJin untuknya. Ia memandang kotak perhiasaan itu, terlebih pada sebuah cermin pemberian Yoongi untuknya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan, bagaimana nasib kakaknya?
"… aku memang ratumu, untuk sekarang dan selamanya. Aku adalah ratumu, Yang Mulia"
SeokJin tersenyum miring, matanya bergerak gelisah, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Taehyung. Pikirannya kacau, kalut, karena rakyatnya sendiri lebih mengagungkan Yoongi ketimbang dirinya. Ia adalah raja, tapi tidak pernah mendapat keagungan seperti itu.
"Mulutmu, kau bicara dengan mulut yang sama persis seperti kakakmu" sindir SeokJin seraya menarik paksa Taehyung berdiri. Menatap kedua mata Taehyung penuh amarah, otoriter dan… memelas.
SeokJin menatapnya memelas, seakan-akan Taehyung harus menuruti perintah SeokJin apa pun yang terjadi. "Aku tidak tahu siapa musuhku. Bangsa barbar, Manchu, kakakmu atau kau sendiri"
Taehyung tidak bisa menahannya, tangannya reflek menampar SeokJin. Berharap dengan tamparan itu SeokJin akan sadar tapi tidak. SeokJin tetap menatapnya dengan amarah, pandangan memelasnya menghilang.
"Musuhmu adalah ibu suri dan Jung!"
"Tutup mulutmu!"
SeokJin menjauhkan tubuhnya, "Mereka tidak pernah berbohong padaku, mereka berada di pihakku. Mereka tidak pernah menyembunyikan hal apa pun, tapi kau…"
Taehyung menggeleng, semua yang dikatakan ibu suri dan Jung bohong. Ia tidak bisa menyadarkan SeokJin, pengaruh dua orang itu bagaikan sebuah ukiran permanen di kepala SeokJin. Tidak mudah di hapus, tertempel begitu menyakitkan dan tidak ada siapa pun yang bisa menghapus ukiran itu.
"Apa kau pernah memandangku sekali saja? Apa kau pernah mendengarkanku sekali saja? Apa kau pernah bicara jujur padaku? Apa kau juga berbohong kalau kau mencintaiku?"
"Yang Mulia!"
"Jadi," SeokJin memotong perkataan Taehyung. Pria berstatus raja tersebut tidak mau lagi mendengar apa pun dari mulut Taehyung. Sudah cukup ia dibohongi selama ini oleh Taehyung. Ia tidak mau lagi mendengar kebohongan Taehyung untuk kesekian kalinya.
"Kau memihak siapa? Apa yang kau pilih? Hidup sebagai ratuku atau mati sebagai adik dari seorang pengkhianat?"
Taehyung memejamkan matanya. Ia tidak mau menjawab, tapi ia harus menjawab. Mungkin ini pertanyaan terakhir yang dikeluarkan SeokJin untuk dirinya. Ajalnya sudah dekat, ia yang memutuskan ajalnya sendiri. Di sini, tepat di depan suaminya.
"Aku akan tetap menjadi ratumu, ratu yang sangat mencintai rajanya. Ratu yang berasal dari rakyat jelata, adik dari seorang pengkhianat, Min Yoongi"
SeokJin terkejut, api di dalam tubuhnya makin mendidih. Yang dikatakan Jung dan ibunya benar, Taehyung tidak pernah mencintainya. Taehyung dan Yoongi tidak pernah menyayanginya, mereka hanya memedulikan diri mereka.
Tidak ada yang pernah peduli padanya, itu yang ada di ukiran kepala SeokJin.
Tapi sebenarnya, Taehyung sangat peduli padanya. Sangat mencintainya.
SeokJin melepaskan ciumannya, menatap dari sudut matanya wajah Taehyung yang pucat dan basah oleh air mata. Ia menjauh, wajahnya juga ikut basah. Entah mengapa ia bisa merasakan kesedihan dari masa lalu Taehyung meskipun ia tidak pernah melihatnya.
Pandangan Taehyung kosong, seperti tidak ada harapan hidup setelah kejadian tadi. yang ia lihat, begitu nyata, seakan-akan terjadi di depan matanya, terjadi pada dirinya dan yang ada di dalam bayangan itu adalah dirinya.
"Apa yang aku lihat?" Taehyung bertanya dengan suara gemetar, tubuhnya begitu lemas tapi ia tetap memaksakan untuk berdiri. Memandang SeokJin yang tengah mengatur nafasnya. Ia memandang wajah SeokJin takut, ia takut apa yang ia lihat ternyata memang benar-benar terjadi.
"Kehidupanmu sebelumnya, seluruh dosa yang pernah kau lakukan, itu yang kau lihat"
Taehyung semakin menangis, meraung-raung. Sakit pada dadanya makin terasa, kepalanya makin berdenyut menahan sakit. Yang ia lihat, seluruh memori mengerikan itu adalah dirinya di masa lalu. Ia berusaha menghirup udara sebisa mungkin, memukul-mukul dadanya.
"Hikss… kenapa… kenapa… hikss"
"Apa di kehidupanmu Min Yoongi adalah kakakmu?"
Taehyung tidak mampu menggerakan bibirnya, ia terus menangis. Bibirnya bergetar, hanya kepalanya saja yang bisa bergerak untuk merespon pertanyaan SeokJin yang ditujukan padanya. SeokJin mengangguk paham melihat kepala itu mengangguk.
"Apa aku ada di kehidupanmu sebelumnya?" SeokJin bertanya dengan nada pelan, namun Taehyung meresponnya dengan sebuah tangisan yang makin mengeras. Pria penghisap darah manusia berdosa itu mengangguk sekali lagi.
Mereka, dirinya, Yoongi dan Taehyung berada dalam satu ikatan.
"Lihat mataku"
Taehyung bergerak layaknya sebuah robot, menatap SeokJin yang sejak tadi mengalirkan air mata. Sejujurnya SeokJin tidak bisa melihat Taehyung menangis, tapi Taehyung harus tahu semua cepat atau lambat. Karena secara tidak langsung, lewat dirinya Taehyung menggali sendiri ingatan kehidupan masa lalunya.
"Lupakan ingatan yang menyakitkan, di kehidupan sebelumnya atau sekarang. Lupakan bahwa kau pernah bertemu denganku…"
Taehyung menangis, SeokJin pun menangis melihat Taehyung begitu menahan sakit setelah melihat semuanya. Perlahan ia angkat tangannya, menyentuh pipi sebelah kanan Taehyung, mengusap air mata di pelupuk mata indah orang yang… ia cintai. Manusia yang ia cintai.
"… aku berharap kau memiliki happy ending meskipun bukan bersamaku"
Taehyung makin menangis, matanya tiba-tiba saja berubah kosong dan makin membulat melihat tangan itu menjauh begitu juga dengan tubuh SeokJin yang menjauh. SeokJin melangkah mundur dengan pandangan berair, menangis dalam diam meninggalkan Taehyung yang kesakitan.
Tubuh pemuda mungil itu merosot, tangisnya pecah dan terdengar begitu memilukan. sesak di dadanya makin bertambah seiring langkah SeokJin yang menjauh. Bibirnya bergetar, matanya mengeluarkan air mata tanpa bisa di control.
"Hikss… hikssss…"
"… aku berharap kau memiliki happy ending meskipun bukan bersamaku"
"Hiksss… brengsek… hiksss… hikssss…"
Happy ending yang Taehyung harapkan pada kisah cintanya, tidak akan pernah terjadi.
Entah dengan orang lain ataupun…
… bersama SeokJin.
To Be Continue
Hai?
Aku kembali dan jika kalian punya umpatan tentang ff ini terutama JinV shipper karena aku membuat mereka nangis silahkan kirim ke id LINE ku dwiryeo.
Hohoho, aku seneng ngeliat storyku itu sad bener-bener bikin kalian sampe nangis menjerit-jerit. Bodo amat dikatain maso, ini gaya gue!
Oke, story ini akan tamat di chapter 30 dan aku udah menyelesaikannya loh! Hahaha! Aku udah lanjut mau nulis RUN dulu, Who Are You story baruku dan ff ku yang lain termasuk Book 2 gumiho: ahjussi saranghaeyo.
Dan…
Aku kan lagi nonton acara KARMA aku bener-bener seneng itu acara loh, hehehe
Dan aku itu fujoshi akut, dan aku kesem-kesem sama chemistry yang ditampilan Roy Kiyoshi sama Roby Purba. Roy itu imut imut, mungil itu lucu pas gitu dijadiin uke tsundare terus Roby yang playboy dan kelewat rasional.
Aku tahu aku gila masangin mereka, tapi Ya Allah! Aku bener-bener suka interaksi mereka, aku pengen liat mereka kek gitu terus, maksudku mereka bromance tapi aku ngeliat hal lain gitu. Aku suka ketawa sendiri nonton gitu padahal lagi mode serem dan serius.
Astaga! Aku suka liat mereka, ada nggak ya ff tentang mereka? /mulai gila/ sumpah, aku mau baca kalo ada! Aku… aku mau! Aku gila acara itu dan aku gila chemisrtry mereka!
HIKSSS
Abaikan ocehan karma di atas!
Oke, balik lagi semoga kalian suka chap ini ya! So, tinggalkan jejak vote dan coment ya!
SARANGHAE! SARANGHEYO! *LOVESIGNLARGE*
