Yoongi berdiri kaku di depan rumah Taehyung. tidak tahu harus berbuat apa sepagi ini di depan rumah orang membawa tas dokternya. Ingin sekali ia mengetuk pintu itu atau menekan belnya namun ia tidak tahu harus berbuat apa.

Padahal ia benar-benar khawatir tentang kondisi Taehyung yang masih belum stabil. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk akan menimpa adiknya itu, ah ya, apa ia kakaknya? Apa Taehyung mengingatnya sebagai kakak atau pria tua yang memacari muridnya.

Di tengah bergalut pikirannya, pintu rumah Taehyung tiba-tiba terbuka. Menampilkan seorang pemuda berpakaian olahraga putih tengah menenteng sebuah plastic berisi sampah sepertinya. Taehyung menghela nafas melihat kehadiran Yoongi yang sangat tiba-tiba dan sepagi ini.

"Hyungnim, mau apa kau ke sini pagi-pagi membawa tas sebesar itu?" tanya Taehyung menunjuk tas dokter Yoongi dengan dagunya. Yoongi terbata-bata, melirik kantung plastic dari tangan Taehyung lalu membuangnya ke tempat sampah di depan pagarnya.

"Kau tidak boleh keluar di cuaca dingin seperti ini, seharusnya kau masuk"

"Hyungnim juga seharusnya tidak keliaran di cuaca dingin seperti ini, masuk!"

Yoongi terperangah melihat Taehyung mengijinkannya masuk, padahal ekspetasinya tidak setinggi ini. syukur jika Taehyung mau membukakan pintu dan tidak bicara kasar padanya, tapi ini Taehyung membawanya masuk dan memberinya tempat di sofa yang nyaman di samping Taehyung.

"Kau ke sini mau memeriksa kondisiku, kan? Periksa lah!"

Yoongi tidak banyak bicara memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Taehyung, serta memberi suntikan untuk mempercepat penyembuhan Taehyung. pemuda manis itu hanya diam memandangi cara bekerja Yoongi yang begitu telaten dan rapi.

Yoongi sangat rapi dan telaten.

"Hyungnim, apa kau masih suka memainkan alat musik? Aku ingin mendengarkan suara alat musik petik kesukaanmu, apa boleh?"

Yoongi terpaku mendengar permintaan Taehyung. pemuda manis itu tersenyum, menghela nafas melihat wajah bodoh Yoongi kembali muncul dan membuatnya kesal meskipun matanya berembun hendak menangis.

"Mwo…"

"Aku sebenarnya kesal karena kau mengatakan Yang Mulia mengataiku jelek dan menyukai hanbokku. Aku juga menyesal karena tidak menepati janjiku…" Taehyung berujar lirih, matanya berair siap mengalirkan air mata yang begitu deras. Matanya tidak lepas memandangi wajah terkejut Yoongi.

"Apa kau… Chohee-ah"

"Awalnya aku tidak menyukai orang memanggilku Chohee, tapi aku tahu arti nama itu sekarang. Nama yang sangat indah, nama yang sangat indah untuk adikmu yang cantik ini, hyungnim…"

Yoongi tak dapat melakukan apa pun selain hanya diam. Menatapi wajah Taehyung yang menangis, terisak lirih seraya menunduk menghapus air matanya.

"Maafkan adikmu ini yang terlambat mengenali kakaknya, maaf juga karena sudah membuatmu khawatir selama ini, maafkan aku karena aku tidak menepati janjiku untuk hidup bahagia… maafkan aku, orabeonim…"

Taehyung menerjang tubuh tegap Yoongi dengan sebuah pelukan hangat dan erat. Menangis di pundak sempit Yoongi sejadi-jadinya. Meluapkan emosi yang belum sempat ia sampaikan dulu, meluapkan emosi bahagia dan sayangnya pada sang kakak. Tangan Yoongi terangkat menepuk-nepuk punggung dan juga kepala Taehyung, menepuknya dengan sangat lembut dan air mata yang mengalir tak kalah deras.

Benar.

Ini adiknya, adik kecil dan manisnya.

Chohee…

"Mianhae, mianhae karena tidak pernah mendengarkan perkataanmu, orabeonim… mianhae"

Yoongi mengangguk, mempererat pelukannya pada tubuh mungil Taehyung. Memberikannya kehangatan yang belum sepenuhnya Taehyung rasakan dulu, mau pun sekarang. Ia akan memberikannya, memberikan sayangnya pada Taehyung.

"Chohee-ah…"

Taehyung mengangguk, melepaskan pelukannya, menatap sang kakak yang juga banjir air mata. Ia mengusap wajah Yoongi sayang lalu tersenyum mendengar namanya diucapkan oleh sang kakak dan untuk pertama kalinya ia bahagia orang memanggilnya dengan Chohee.

"Nde, aku adalah Chohee, aku adikmu jadi kau harus memanggilku Chohee mulai sekarang, apa kau bisa mengabulkannya, orabeonim?"

Yoongi mengangguk, mengusap wajah Taehyung yang basah karena air mata dengan hati-hati. Adiknya sudah kembali, adik kecilnya yang manis dan sangat ia sayangi. Ada di depannya, tersenyum padanya memeluk dirinya dengan sangat erat seolah-olah tidak mau dipisahkan lagi.

Adiknya mengingat semuanya, mengingat kakaknya kembali.

SeokJin tidak pulang ke rumah, pria berbahu lebar tersebut menghabiskan waktu di ruang kerja di dertemen. Ia menyibukan diri dengan mengurusi beberapa berkas yang belum sempat rampung, namun setelah semua itu selesai SeokJin kembali melamun. Melamun memikirkan Taehyung, Yoongi dan ingatannya.

Seluruh ingatannya mengenai kehidupannya sebagai manusia, siapa dirinya dulu? Bagaimana ia bisa mati? Apa yang ia lakukan hingga ia sampai di hukum berat seperti ini. apa?

Ia meregangkan dasi yang ia pakai, memijat pelipisnya yang kembali berdenyut dan dadanya. Setelah ciuman itu rentan rasa sakit di dadanya makin terasa, benar-benar sakit sampai-sampai ia sulit bernafas.

DREET DREET

Ia menoleh, mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelfonnya.

"Samchon! Apa kau bisa membantuku sedikit?"

SeokJin memijat pelipisnya, kenapa lagi manusia kardus satu ini? "Bantuan apa?"

Ternyata bukan bantuan aneh. NamJoon hanya memintanya mengajari membuat soup kimchi dan beberapa makanan lainnya untuk di bawa ke tempat latihan dance Hoseok. SeokJin mengajarinya dalam diam, sesekali berteriak kesal karena NamJoon sulit membedakan garam dan gula. Sebodoh itu kah NamJoon dalam masak.

"Mianhae, aku benar-benar tidak bisa memasak kecuali ramen dan sandwich. Aku harap kau sabar mengajariku" ucap NamJoon seraya mengaduk soup kimchinya sedangkan SeokJin tidak terlalu mendengarkan ocehan NamJoon.

Ia malah sibuk memotong sayuran yang sebenarnya tidak perlu tapi dia tetap melakukannya sampai NamJoon berdecak sebal dan merebut pisau di tangan SeokJin.

"Kau ini kenapa? Apa kau bertengkar dengan Yoongi Samchon?" NamJoon bertanya sewot, meletakan kembali pisau tadi ke tempatnya tanpa mengetahuhi SeokJin meringis sakit pada dadanya ketika NamJoon memanggil nama Yoongi.

"Apa lagi? Apa kau sedang sakit? Apa pria yang terlihat sehat sepertimu bisa sakit?" cemooh NamJoon dan kembali sibuk pada soupnya.

SeokJin menghela nafas, membuang sayuran yang tidak perlu tadi lalu melirik NamJoon yang tersenyum puas pada hasil masakannya.

"Aku tidak bertengkar dengan pamanmu, akhir-akhir ini aku memang merasakan sakit tapi aku tidak tahu aku sakit apa"

NamJoon menoleh mendengar nada bicara SeokJin tidak seperti di awal tadi. begitu lemah dan lirih, suara orang menahan rasa lelah dan mungkin takut pada dirinya sendiri. Entahlah, NamJoon tidak terlalu yakin pada prediksinya ini.

"Sejak kapan kau merasakannya? Apa semakin parah? Kenapa tidak ke rumah sakit?"

SeokJin diam, mengingat hari dimana ia merasakan sakit di dada dan kepalanya untuk pertama kali. Dimana saat ia mendengar nama asli Taehyung, seperti ada ribuan panah, jarum dan pedang menghunus dada serta kepalanya. Rasanya sakit dan panas menjadi satu.

"Hari dimana saat Jimin menghilang, apa kau tahu apa yang dilakukan pamanmu sebelumnya?"

NamJoon nampak berpikir, mengingat apa yang dilakukan Yoongi hari itu. sudah cukup lama kejadiannya dan NamJoon memiliki ingatan yang sedikit buruk mengenai Yoongi karena menurutnya untuk apa mengingat paman pelit seperti itu.

"Ah! Hari itu? Hari itu Samchon mengunjungi kuil di Daegu, aku tidak tahu kuil apa itu. Tapi saat aku mengantarnya dia terlihat begitu sedih dan menahan kesal. Dia menuliskan tiga nama, kalau tidak salah Min Chohee"

SeokJin membeku, menoleh ke arah NamJoon yang nampak mengingat nama orang ketiga dan orang kedua yang ditulis Yoongi.

"Aku tidak terlalu ingat tapi seperti ada Wang, namanya hanya terdiri dari dua suku kata dan ditulis menggunakan huruf hanja. Setelah menulisnya, paman menerbangkan lampion, berdoa lalu menangis"

SeokJin terdiam, apa mungkin saja ia bisa menemukan jawabannya jika ia ke Daegu?

Jimin menghela nafas lelah, ia menidurkan kepalanya di atas meja, memejamkan matanya sejenak di kelasnya yang sudah sepi dari para mahasiswa yang memlih ke kantin. Tapi dirinya malah memilih berdiam diri di kelas dengan kepala penuh dengan pikiran.

"Apa yang sebenarnya terjadi dulu? Apa yang dilupakan Tuan Vampire berhubungan dengan ahjussi?" Jimin bertanya dalam hati, memperhatikan kertas yang sudah ia oreti dengan tulisan masa lalu Yoongi, Taehyung dan… hilangnya ingatan SeokJin.

Ia jadi teringat kalau manusia meninggal dan menjadi vampire penghisap darah maka dia melakukan dosa paling besar yang pernah dilakukan manusia. Misalnya membunuh orang lain atau membunuh hidupnya sendiri. Tapi kenapa Tuan Vampire tidak menjadi malaikat pencabut nyawa, kenapa harus menjadi vampire yang masuk golongan rendahan.

Apa yang dilakukan Tuan Vampire sampai bisa seperti itu?

Dosa apa yang diperbuat Tuan Vampire?

"Aish! Aku bisa gila memikirkan ini!" gerutu Jimin kesal sendiri. Dirinya bukan SeokJin, dirinya juga bukan Tuhan yang mengetahu alasan di balik SeokJin menjadi vampire. Ia putuskan untuk membereskan barang-barangnya dan pulang, namun ketika ia hendak membuka pintu tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampilkan Jungkook.

Pria tampan itu tersenyum licik, menutup pintu kelas dan menguncinya. Jimin terkejut, menghampiri pintu kelas yang menjadi satu-satunya jalan keluar baginya namun Jungkook malah mendorongnya hingga pungggungnya membentur pinggiran meja.

Ia meringis, menatap Jungkook yang menghampirinya dengan pandangan menusuk. Jimin termenung, pandangannya ngeri melihat Jungkook berdiri di depannya.

"Kau mau apa?"

Jungkook memerangkap tubuhnya di antara pinggiran meja, tersenyum miring seraya menatapi tangan Jimin. Tangan yang berhiaskan sebuah bekas luka gigitan ular yang membuat Jimin mengetahui takdirnya.

"Kau tahu sesuatu yang besar akan terjadi, aku memperingatkanmu untuk bersiap-siap"

"Hentikan ocehanmu itu, aku sibuk" ucap Jimin dengan nada sarkatis, mendorong tubuh yang lebih besar itu namun Jungkook kembali mendorongnya kembali ke tempat semula. Tangan kekar itu menahan pergerakannya, mencengkram kedua pergelangan tangannya sangat kuat.

"Ocehan? Ocehan ini selalu benar terjadi dan akan kembali terjadi. Dengarkan aku!"

Jimin tercengang mendengar nada tinggi yang dikeluarkan Jungkook, tubuhnya mendadak kaku, pergelangan tangannya menjadi kebas. Matanya terpaku memandangi Jungkook yang tersenyum miring ke arahnya.

"Berhati-hatilah pada orang yang melupakan sesuatu, karena jika orang itu mengingat sesuatu yang mereka lupakan maka hal itu akan menjadi boomerang bagi orang-orang di sekitarnya."

Jimin mengernyit, entah mengapa ia merasa kalau Jungkook tahu apa yang ia pikirkan. Pria tampan ini tahu apa yang menjadi isi pikiran Jimin.

"Aku memberikan petunjuk pertama dalam permainan ini, aku harap kau bisa mengikutinya karena kau sudah suka rela menerjungkan diri ke dalamnya"

Setelah mengucapkan kalimatnya, Jungkook melepas cengkramannya, berjalan keluar dengan senyum puas karena ia sudah mendapatkan apa yang ia mau. Bekas gigitan ular itu benar-benar mengganggu pekerjaannya untuk memengaruhi Jimin.

Sementara di dalam kelas, Jimin semakin lemas. Ia mengelus bekas gigitan ular di pergelangan tangannya. Bekas gigitan itu makin menipis, bahkan sebelum Jungkook mencengkramnya bekas gigitan itu sudah hampir menghilang dan menipis.

"Apa yang akan terjadi?"

"Apa yang akan terjadi selanjutnya?"

Sungwoon menoleh mendengar Taemin tiba-tiba bertanya hal yang tidak nyambung dengan topik bahasan mereka. Wanita cantik yang identic dengan warna merah itu menghela nafas, kembali sibuk dengan minumannya dengan pandangan kosong.

"Kenapa? Apa Dia membuat rencana lagi?"

"Aku Dewi kelahiran tapi aku bukan orang yang mengetahui segala rencana Dia, tapi aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi" ucap Taemin dengan kerutan kening, meletakan gelas soju nya lalu memandang keluar jendela kedai yang tengah di guyur hujan.

"Apa berkaitan dengan tindakan bawahanku beberapa hari lalu?"

"Bisa jadi, pintu yang sudah ditutup rapat-rapat karena sebuah rahasia ilahi kembali terbuka. Manusia itu benar-benar dalam masalah, aku tidak tega melihat anak-anakku seperti itu tapi buku takdir mereka tertulis seperti itu"

"Aku tidak mengerti" balas Sungwoon sarkatis, menuangkan soju ke gelas Taemin lalu ke gelasnya sendiri. Meneguknya dalam diam, membiarkan Taemin yang sedang berpikir seraya memainkan jari-jarinya.

"Sesuatu akan segera terjadi"

Seekor anjing bertubuh besar dan seekor lagi bertubuh mungil duduk manis di samping pagar rumah Gumiho. Mereka adalah anjing yang sering Jimin temui, selain bermain dan mengajak ngobrol biasanya Jimin akan mengurusi mereka dengan memberi makan secara diam-diam.

Tapi kali ini mereka bukan untuk meminta makanan, mereka hanya ingin bicara bersama Jimin lagi. Anjing yang bertubuh mungil meletakan kepalanya di tanah, merasa bosan dan lelah menunggui Jimin yang tak kunjung datang.

"Sampai kapan kita menunggu? Aku sudah bosan"

Anjing bertubuh besar terlihat malas menanggapi ocehan si anjing mungil. Ia pun menoleh sekali lagi ke jalan dan berharap Sang Maha Kuasa mengabulkannya. Dan ketika menoleh matanya berbinar bahagia melihat Jimin tengah berjalan ke rumah Gumiho.

"Lihat! Dia ada di sini!"

Jimin masih tidak sadar akan kehadiran dua anjing itu sampai salah satu dari mereka, si anjing mungil menggonggong cukup keras. Jimin baru menoleh, tersenyum kecil melihat dua anjing liar ada di dekat rumah Gumiho.

"Wae? Apa kalian lapar? Aku ada sosis untuk kalian"

Si anjing mungil terkejut bukan main melihat reaksi yang ditunjukan Jimin. Ia kembali menggonggong, tepatnya berteriak bahwa ia merindukan Jimin. Tapi Jimin seolah tuli dan tidak paham. Si anjing besar menggeram kesal melihat Jimin yang berpura-pura acuh.

"Igo!" Jimin tersenyum dan menaruh sosis itu tanpa tahu bahwa si anjing besar sudah bersiap menerjang dan menggonggong sangat keras di samping Jimin.

GUK GUK GUK GUK ("KAU TIDAK MENDENGAR KAMI BRENGSEK?!")

Jimin tersentak bergerak mundur menjauhi anjing besar tadi, di saat bersamaan muncul NamJoon yang datang dengan mobil. Pria tinggi itu segera keluar dan mengusir anjing besar tadi beserta anjing mungilnya.

Jimin masih terkejut, memegangi dadanya yang berdenyut sakit karena masih terkejut oleh gonggongan si anjing tadi.

"Gweanchana? Apa dia tadi menggigitmu?" tanya NamJoon khawatir. Jimin menggeleng lalu tersenyum baik-baik saja pada NamJoon.

"Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut"

"Kenapa anjing liar bisa ada di sini? Menyebalkan"

NamJoon masih terus mengomel seraya masuk ke dalam, meninggalkan Jimin yang termenung sendirian di depan seraya menatapi jalan yang digunakan kedua anjing itu lewat. Ia bisa bicara dengan hewan, mereka juga pasti mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Tapi kenapa itu bisa terjadi, ia juga tadi tidak melihat angka kelahiran dan kematian NamJoon.

Kenapa dengan dirinya?

"Jimin-ah, kau tidak masuk?" tegur NamJoon setelah memarkirkan mobilnya, matanya menatap heran ke arah Jimin karena pemuda manis it uterus saja diam tanpa bergerak dari tempatnya.

"Yak!"

Jimin tersentak, menoleh ke arah NamJoo yang makin khawatir melihatnya. Ia kembali tersenyum, masuk ke dalam rumah beriringan dengan NamJoon. Ia kembali menatapi kepala NamJoon, tidak ada apa pun, tidak ada sama sekali. Apa maksudnya ini?

"Kenapa kau menatapi kepalaku? Apa ada yang salah dengan rambutku? Apa aku terlihat tampan?" tanya NamJoon masih dengan sifatnya yang narsis dan kelewat percaya diri. Bahkan sekarang pria pewaris perusahaan kakeknya itu membenarkan letak rambutnya makin rapi.

"Tapi dimana ahjussi? Apa dia belum pulang dari rumah sakit?"

NamJoon sedikit pundung karena Jimin sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, pemuda manis itu malah balik bertanya dan pertanyaannya itu tentang Yoongi. Pamannya itu sudah tua tapi kenapa masih punya pesona memikat anak kuliahan.

"Aku tidak tahu, sepertinya dia mampir ke rumah V untuk melanjutkan pengobatan pasiennya itu"

Jimin mengangguk paham, Yoongi sedang sibuk dengan adiknya. Ia menarik nafas panjang lalu membungkuk terimakasih sebelum naik ke kamarnya. Meninggalkan NamJoon dengan tatapan aneh, kenapa ia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. ia tidak tahu apa-apa padahal ia tinggal dengan Yoongi jauh lebih lama.

"Apa yang mereka sembunyikan?"

Jimin menutup pintunya rapat-rapat, meletakan tas dan juga buku-bukunya. Merebahkan bokongnya pada kursi belajarnya, menarik dan menghembuskannya adalah hal yang ia lakukan sambil memejamkan mata. Kepalanya kembali berdenyut, begitu juga dengan dadanya. Jantungnya berdenyut sakit dan sesak, Jimin meringis menepuk-nepuk dadanya beberapa kali untuk mengurangi rasa sakit dan sesaknya.

Namun, rasa sakit itu masih terasa. Ada apa dengannya? Ia sudah tinggal bersama Yoongi mengapa rasa sakit ini tiba-tiba muncul.

"Kenapa denganku sebenarnya?" Jimin kembali bertanya pada dirinya sendiri. Namun tidak ada jawaban yang mendekati, tidak ada jalan menuju jawabannya. Kepalanya ia bawa tidur di atas meja, mata indahnya memandang kosong ke dinding.

Ia terlalu lelah hidup seperti ini. matanya terpejam, menikmati semua keheningan ini sampai sebuah suara rantai kalung menggelitik pendengarannya. Ia mengerang tidak suka mendengar suara rantai itu, benar-benar mengganggu.

Matanya terbuka sebal dan siap mengamuk jika itu NamJoon namun kalimat amukannya luntur melihat sebuah kalung di depan matanya. Sebuah rantai kalung yang sengaja di gesekan satu sama lain, sebuah kalung berwarna perak dengan bandul sebuah cincin. Ia terpana untuk beberapa detik, menikmati bagaimana kilau kalung itu menyilaukan matanya.

"Kau suka?"

Ia menoleh ke belakang, menemukan Yoongi yang sedang tersenyum lebar padanya. Tanpa bisa di cegah ia ikut tersenyum, merubah posisinya menjadi berdiri menghadap Yoongi.

"Kau harus berjanji, jangan pernah lepaskan kalung ini sebelum aku memintanya. Arraseo?"

Jimin mengangguk, membiarkan Yoongi mendekat memakaikan kalung itu di lehernya. Ia tersenyum, menatapi bandul kalung itu berupa cincin yang sangat indah. Yoongi ikut tersenyum, mengusap kepala Jimin masih dengan bibir yang tak berhenti tersenyum.

Jimin memperhatikan itu lebih teliti. Pasti ada yang terjadi sampai pria tua ini terus tersenyum tampan itu, terus membuat Jimin semakin jatuh cinta dengan senyum tampannya. "Apa ada sesuatu yang baik terjadi? Ahjussi tidak biasanya terus tersenyum seperti itu."

Yoongi tertawa kecil, menarik tubuh mungil itu dan memeluknya. Kepalanya ia telungsupkan di ceruk leher Jimin, menghirup aroma tubuh Jimin yang begitu wangi dan candu baginya. Ia bisa mendengar Jimin terkekeh, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

"Chohee, gurumu yang bernama V mengingat masa lalunya. Di adikku"

Mata Jimin membulat, melepas pelukan Yoongi guna melihat wajah Yoongi. Wajah ahjussinya basah karena air mata, ia tahu itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata haru dan bahagia. "Jinjja? V hyung renkarnasi adikmu?"

Yoongi mengangguk, menggenggam tangan Jimin begitu erat, kepalanya menunduk menahan tangis bahagia. "Eoh, dia mengingat semuanya, dia mengingat arti namanya, dia mau aku panggil Chohee dan dia memanggilku orabeonim. Kau tahu rasanya? Aku benar-benar bahagia…"

Yoongi menangis sesegukan sambil mengecup telapk tangan Jimin. Pemuda manis berstatus istrinya tak bisa ikut menangis haru, mengangguk paham lalu mengusap air mata yang mengalir di wajah tampan Yoongi.

"Kenapa menangis? Seharusnya ahjussi tersenyum, memeluk dan mengunjungi adikmu. Aku akan selalu menemanimu jika ahjussi mau berkunjung ke tempat V hyung, uljima, hm?"

Yoongi mengangguk, mengecup telapak tangan Jimin cukup lama sebelum beralih pada kening istrinya. Mengecup kening itu penuh rasa sayang, hati Jimin menghangat, matanya terpejam seraya tangan satunya menggenggam bandul kalung di lehernya.

"Jangan tinggalkan aku, aku tidak mau kebahagian ini menghilang. Jangan tinggalkan aku, selagi kalung itu ada bersamamu jangan tinggalkan aku"

"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan bersama ahjussi"

Yoongi tersenyum, mengusap wajah Jimin dengan kening mengernyit heran. Ia jadi teringat sesuatu saat masuk ke dalam kamar Jimin menyerahkan kalung itu. ia tadi sempat mendengar Jimin menghela nafas dan wajah manis itu tampak berpikir berat.

"Apa terjadi sesuatu yang buruk sebelum aku datang? Kau terlihat lelah dan berpikir keras tadi."

Jimin gelagapan, namun segera ia tutup dengan senyum manis dan lebar. "Anni, aku hanya lelah karena tugas kuliah. Ahjussi tidak perlu khawatir, aku pulang cukup larut hari ini"

"Kalau begitu ayo tidur bersama"

Jimin mengernyit mendengar kata tidur bersama. Apa-apaan itu? ia langsung mendorong tubuh Yoongi dengan pandangan sebal dan tidak suka. "Apa maksudmu?" tanya Jimin sengit seraya menyilangkan tangan di dada. Mencegah Yoongi bertindak di luar batas, tapi Yoongi malah mengernyit heran lalu tertawa kecil.

"Aku tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu, apa jangan-jangan kau mengharapkannya?"

Wajah Jimin merah, benar-benar memerah mendenar kalimat Yoongi yang menjurus. Wajahnya ia palingkan, melihat Yoongi tersenyum jahil seraya mendekatinya. Jimin bergerak mundur, berdehem keras.

"Aku tidak memikirkan itu! cepat keluar! Aku mau tidur!" usir Jimin dengna nada ketus, mendorong tubuh tegap itu yang masih tersenyum jahil dan semakin menyebalkan dan makin membuat Jimin salah tingkah.

"Ahjussi!" rengek Jimin sebal. Yoongi tertawa puas, menutup pintu yang sudah dibukakan Jimin lalu menarik pergelangan tangan Jimin ke tempat tidur dan menidurkan tubuh mungil itu paksa. Jimin makin beringsut mundur melihat Yoongi makin dekat, begitu juga dengan wajahnya.

"Aku tidak akan melakukan hal aneh, tidurlah di sini. Aku akan menemanimu tapi di sofa"

Jimin membuka matanya yang tertutup, menatap Yoongi yang sudah menjauh dari tubuhnya dan lebih menarik sofa ke dekat ranjangnya. Memiringkan tubuhnya menghadap Jimin yang juga ikut memiringkan tubuhnya menghadap Yoongi.

Mereka saling bertatapan, Yoongi masih tersenyum memandangi wajah Jimin yang tengah menyembunyikan sesuatu. Yoongi tahu itu tapi Jimin enggan membicarakannya dan ia akan menghargai keputusan Jimin ini.

"Kau tidak tidur? Kau bilang tadi lelah"

Jimin tersenyum kecil. Ia tidak bisa tidur, ia ingin lebih lama memandangi wajah tampan itu tanpa sebab. Seolah-olah tidak ada waktu lagi untuk esok memandang wajah tampan Yoongi. Wajah tampan yang bersinar bahagia, ia tidak sanggup merusak kebahagian Yoongi saat ini. biarlah, lagi pula semua yang terjadi hari ini sudah berlalu.

Ia tidak boleh memikirkan hari ini terus menerus. Ia harus memikirkan hari besok dan apa yang akan ia lakukan besok.

"Kau memikirkan sesuatu saat aku sedang menatapmu seperti ini?"

Jimin segera tersadar, menatap Yoongi yang ternyata sedang mengusap kepalanya sayang. Segera ia menampilkan senyum manis guna mencegah Yoongi bertanya lebih khawatir dan berakhir dengan ia yang membuat Yoongi kembali terbebani. Biarkan untuk hari ini saja Yoongi tersenyum tanpa memikirkan keanehan apa pun.

"Anni, aku sedang berpikir bagaimana V hyung mengingat semua masa lalunya" Jimin mengalihkan topik dengan tepat. Yoongi langsung teralihkan, pria tua itu ikut terdiam dan berpikir. Benar juga, bagaimana V bisa mengingat semua hal itu padahal masa lalu itu terjadi ratusan lalu.

"Aku tidak bertanya, aku terlalu bahagia"

Jimin mengangguk paham, ia kembali larut memandangi Yoongi yang juga memandanginya. Saling melempar senyum tanpa bicara, menurut mereka hanya saling menatap seperti ini saja sudah seperti mengobrol berjam-jam. Sampai Jimin menutup mata lebih dulu akibat usapan lembut di kepalanya dari tangan lebar Yoongi.

Nafasnya mulai teratur dan dengkuran halus mulai terdengar, perlahan Yoongi menjauhkan tangannya. Mengecup kening itu sebelum ia beranjak pergi namun sebuah tangan menariknya, menahan kepergiannya. Ia menoleh ke belakang, menemukan Jimin yang masih memejamkan matanya sambil tangannya menarik sweater yang ia pakai.

"Kajima…"

Jimin merengek di tengah tidur lelapnya. Yoongi tertegun, memandangi tangan mungil Jimin yang menarik pakaiannya, dengan hati-hati ia melepaskan tarikan tangan Jimin. Mengusap punggung tangan Jimin lalu membaringkan tubuhnya di samping Jimin yang makin tertidur pulas ketika ia berbaring di sampingnya.

"Aku tidak akan kemana-mana"

Seolah mendengar kalimat Yoongi tadi, Jimin menarik sweater Yoongi mendekat. Menelungsupkan kepala dan tubuhnya makin dekat dengan Yoongi. Pria berusia ratusan tahun tersebut terdiam, memandangi wajah Jimin yang damai dan cantik saat tertidur seperti ini. tanpa sadar ia tersenyum, mengusap wajah itu sangat pelan dan tak henti-hentinya mengecupi wajah manis Jimin.

"Tidurlah yang nyenyak…"

Yoongi berujar lirih, matanya menampilkan permintaan maaf karena sudah melibatkan Jimin dalam hal-hal aneh di sekitarnya. Yoongi tahu Jimin menyembunyikan sesuatu dan hal itu berkaitan dari masa lalunya.

Ia tahu itu dan menunggu Jimin menceritakannya tapi sampai Jimin tertidur tidak ada satu pun kata terucap dari bibir Jimin. Tidak pernah sekali pun Jimin berhasil berbohong seperti itu. semua ini menunjukkan dengan jelas bahwa waktunya atau waktu Jimin…

… sudah hampir habis.

Jungkook dan Jieun tepat berdiri di depan rumah Yoongi dengan senyum licik. Jieun tersenyum sinis merasakan Yoongi tengah berbahagia bersama istrinya itu. ia tidak terima ini, ia tidak terima orang yang sudah membunuhnya hidup berbahagia di sini bahkan dia disegani oleh manusia bahkan makhluk supranatural. Sedangkan dirinya dan Jung?

Dipandang saja tidak, di hargai tidak, bahkan mereka diburu untuk diserahkan pada Dia. Ia tidak mau hal tidak adil ini terjadi pada dirinya. Ia harus membalas semua perbuataan Yoongi. Ia akan mengajak Yoongi bersamanya.

"Aku akan menemuinya"

Jungkook menoleh dengan wajah terkejut, ada sedikit rasa tidak suka dengann usul yang dikeluarkan Jieun namun tidak ada pilihan lain selain menurut. Ia memutuskan mengangguk, melangkah pergi meninggalkan Jieun yang menembus dengan mudahnya pagar menjulang dan tebal rumah Gumiho.

Yoongi terbangun secara tiba-tiba, menatap sekeliling yang sepi namun tidak benar-benar sepi. Ia bisa merasakan sesuatu yang buruk terjadi, ada sesuatu yang masuk ke dalam rumahnya. Tapi tiba-tiba sesuatu itu menghilang tanpa jejak. Ia segera bangkit, meninggalkan Jimin yang masih terlelap dalam tidurnya.

"Wang Jung…"

Yoongi berdesis tajam menyebutkan nama itu. nama yang sudah membuat hidupnya tersiksa ratusan tahun ini. ia melangkah lebar keluar dari kamar Jimin, meninggalkan pemuda manis itu seorang diri. Lebih tepatnya bersama seseorang yang muncul dari balik lemari baju.

Sosok cantik dengan hanbok lusuh, waja menyeramkan sambil mendorong tubuh wanita yang barusan ia pakai. Dengan senyum miring ia hembuskan nafasnya, nafas dingin menusuk bagaikan es itu menyambut tengkuk bagian belakang Jimin.

Nafas dingin itu langsung membuat seluruh organ di tubuh Jimin bekerja cepat, jantungnya berdetak cepat hingga terasa begitu sakit. Matanya terbuka, tangannya bergerak mencari seseorang di sampingnya namun ia tidak menemukan siapa pun.

"Kau sudah bangun?"

Jimin makin terkejut mendengar suara wanita dari arah belakangnya, lebih tepatnya dari lemari bajunya. Dengan susah payah dan menahan sakit di sekujur tubuhnya ia bangun dari kasurnya, menoleh ke sumber suara dan ia tak bisa berkata apa-apa. ia memekik layaknya seekor tikus yang terjebak dalam perangkap manusia.

Tubuhnya melemas seiring rasa sakit itu menyiksanya. Matanya membulat melihat Jieun bergerak cepat mendekatinya, bahkan dalam kedipan mata Jieun sudah ada di depan Jieun dan tersenyum licik layaknya seekor pemburu tikus yang berhasil menangkap tikusnya.

"Waktunya permainan dimulai"

Yoongi berdiri di tengah-tengah gang kumuh dekat komplek rumahnya. Matanya tertutup, memfokuskan telinganya menangka-nangkap suara di sekitarnya. Ketika ia mendapat suara yang ia cari, ia segera berlari ke sumber itu. tangannya sudah membawa busur dan anak panah yang ia hasilkan dari amarah ratusan tahun.

Amarahnya karena roh haus darah itu berani menampakan diri, dalam wujud asli. Jung muncul di depannya tanpa rasa takut, tangannya membawa tubuh Jungkook yang lemas dan pucat akibat digunakan sebagai media. Tanpa rasa kasihan Jung menjatuhkan Jungkook yang sudah tak sadarkan diri atau sekarat mungkin.

Jung tidak peduli yang ia pedulikan adalah Yoongi yang sudah muncul di depannya. Ia menampilkan senyum jahatnya, melangkah maju dan dihadiahi sebuah cekikan dan dorongan yang begitu kuat hingga punggungnya membentur dinding hingga retak.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yoongi bertanya dengan suara pelan berdesis, tangan lebarnya begitu kuat mencekik leher roh haus darah itu hingga menimbulkan erangan sakit. Cekikan itu bagi manusia normal sudah cukup menghancurkan tulang leher dan mencabut nyawanya. Tapi ini berbeda, ini bukan manusia melainkan…

Roh haus darah.

Jung tidak menjawab, ia masih berusaha tertawa dan makin menambah kekuataan cekikkan dari Yoongi. Tangan lebarnya yang satu lagi begitu kuat mencengkram busur dan panahnya hingga buku-buku jarinya memutih dengan sempurna.

"Ini sudah lama sekali, beginikah caramu memberi salam padaku? Aku adalah pangeran yang pernah kau jaga, aku adalah tuanmu"

Yoongi makin menggeram marah layaknya seekor binatang, ia berteriak marah. Benar-benar berteriak tepat di depan wajah Jung yang tersenyum puas.

"Aku tidak akan memberi salam padamu, pada sampah sepertimu! Aku hanya ingin bertanya kenapa kau muncul di hadapanku setelah ratusan tahun terlewat?" Yoongi kembali bertanya dengan suara mendesis penuh amarah.

Jung tersenyum miring, "Aku akan mengatakan asal muasal kesengsaraanmu ini ada di samping mu selama ini." kemudian Jung tertawa layaknya orang paling bahagia di dunia melihat Yoongi berbalut api amarah yang mencekam dan panas.

"Kau masih sama bodohnya! Kepalamu yang membuatmu bodoh, otakmu yang mengendalikan seluruh tubuhmu ini, maka aku akan mengeluarkan otakmu, lalu matamu, bibir dan anggota tubuhmu yang lain akan aku potong-potong!"

Yoongi tidak bisa menahannya, ia jauhkan tangannya bersiap dengan anak panahnya dengan kepala Jung sebagai sasaran. Ia menarik panahnya begitu kuat hingga benar yang menjadi daya pantulnya menegang dan menimbulkan suara menggesek mengerikan tertiup angin.

"Aku akan melakukannya! AKU AKAN MELAKUKANNYA SEKARANG!"

Anak panah itu terlepas, menembus kepala Jung dan menyipratkan darah begitu banyak namun darah yang keluar itu bukannya merembes ke tanah tapi malah merambat naik dan membentuk kepala sempurna lagi di tubuh Jung. Roh haus darah itu tersenyum miring, meretangkan tangannya bangga lalu tertawa puas.

Suara tawa Jung terdengar mengerikan, memberi fobia mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. Puas tertawa melihat aksi Yoongi yang gagal ia menutup pertunjukan itu dengan menghilang menghampiri tubuh terkapar Jungkook.

"Aku sudah mati, aku tidak bisa kau bunuh dengan panah amarahmu, aku tidak semudah itu untuk pergi. Kau pasti berpikir sama seperti Sang Maha Kuasa tapi kau sebenarnya tidak lebih daripada aku…" Jung mengejek dengan suara mengerikan. Yoongi mencengkram busurnya, menciptakan anak panah lain dan siap melepaskannya jika saja Jung tidak bertindak licik.

Roh haus darah itu menarik tubuh Jungkook dan menggunakannya sebagai mediator kembali. Jungkook tersenyum licik, mempersilahkan Yoongi memanahnya, membunuh anak ini lebih tepatnya. Karena Yoongi tidak akan pernah membunuh.

"Kau tidak akan pernah bisa membunuhku karena istrimu itu!"

Yoongi mencengkram busurnya sangat erat, matanya memicing tajam melihat Jungkook tersenyum puas. "Aku datang kemari untuk memberitahu dimana orang yang sudah menancapkan kesengsaraan ratusan tahun yang kau jalani, menancapkan sembilan anak panah tepat di jantungmu yang begitu menyakitkan, aku hanya ingin bicara itu."

Yoongi mengendurkan busurnya, tanpa harus diberi tahu Yoongi sudah tahu. Ia tahu Jungkook akan mengucapkan nama siapa, nama yang sudah menghancurkan hidupnya dan hidup adiknya.

"Tutup mulutmu!"

"Wang Seok…"

"JANGAN PERNAH KAU MENYEBUT NAMA ITU DI DEPANKU!"

"… adalah identitas asli dari vampire di rumahmu…"

Yoongi tertegun, pandangannya yang semula bergetar menahan amarah mendadak beruah menjadi terkejut tidak percaya. Jungkook tersenyum miring, melanjutkan ucapannya dengan suara desisan seperti suara ular berdesis.

"… dia adalah orang yang sama yang menancapkan sembilan anak panah itu di dadamu, di jantungmu, dia hidup semakin kuat sebagai vampire, dia hidup di dekatmu selama ini. vampire itu adalah Wang Seok!"

Nama itu seperti petir yang menyambar kepala Yoongi detik itu juga, tubuh tegapnya melemas dengan kepala memutar segala memori tentang SeokJin dan segala keanehannya. Bagaimana bisa SeokJin menangis hanya karena melihat lukisan adiknya, menanyai masa lalunya terus menerus, dan cermin.

Cermin yang Taehyung berikan pada SeokJin adalah cermin yang sama yang dimiliki Chohee dulu. SeokJin, bayangan wajah Seok secara tiba-tiba muncul di wajah SeokJin. Sebuah bayangan yang tidak bisa dianggap sepele oleh Gumiho sepertinya, oleh gumiho yang bisa membaca masa lalu dan masa depan seseorang.

"Wang Seok menjadi vampire, bertemu renkarnasi adikmu dan mirisnya adikmu jatuh cinta sekali lagi pada Wang Seok. Kau tidak akan pernah bisa membunuhnya"

Yoongi makin terkejut, tubuhnya melemas karena emosi dan segala macam perasaan yang berkecamuk di dadanya. Panah dan busurnya menghilang, digantikan api biru yang menyelimuti kedua tangannya tanpa bisa di cegah dan control. Amarahnya berada di level tertinggi hingga api biru di tubuhnya muncul, matanya berubah menjadi warna biru layaknya seorang Gumiho menatap lurus ke depan. Ke jalan yang dilewati Jungkook untuk pergi, di sana juga ia akan gunakan jalan itu untuk mencari SeokJin.

Bukan, SeokJin… tapi…

"WANG SEOK!"

Jimin terperanjat merasakan sakit di dadanya makin terasa. Ia meringis, mencakar lantai melampiaskan rasa sakitnya. Ia bisa merasakan Yoongi di antara rasa sakit ini, ia merasakan tersiksa dan rasa sakit yang Yoongi alami. Ia menengadah, menemukan Han Eun sudah kembali menggunakan tubuh Jieun.

"Saat itu aku sudah memperingatkanmu bagaimana jika si pemanah dan di panah bertemu, apa yang terjadi?"

Mata Jimin membulat menyadari ucapan Jieun, tidak salah lagi pasti Yoongi dan SeokJin. Ia menggeleng, menolak hal itu terjadi namun Jieun makin tertawa puas lalu menghilang tepat di depan mata Jimin.

Tubuh mungil itu melemas, benar-benar lemas setelah di siksa oleh rasa sakit hebat di seluruh tubuhnya. Ia menoleh ke arah pintu, ia harus keluar dan mencegah Yoongi melakukan sesuatu yang menakutkan di luar sana.

"Hyung! Nam… NamJoon… akh… NamJoon hyung!"

Jimin akhirnya bisa berteriak meskipun tubuhnya makin melemas, tidak lama terdengar suara derap langkah terburu-buru dari arah tangga menuju kamarnya. NamJoon masuk, terkejut melihat Jimin terkulai lemas di lantai.

"Jimin, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"

"Dimana… dimana paman penyewa? Dimana paman penyewa Kim?"

NamJoon terdiam, tidak mengerti kenapa tiba-tiba Jimin menanyakan hal itu bukannya Yoongi atau memintanya di bawa ke rumah sakit. Ia membantu Jimin berdiri dengan menahan lengannya, menatap Jimin dengan pandangan khawatir.

"Jawab! Jawab aku hyung!"

"Dia bilanga kan ke Daegu ke kuil yang biasa Samchon datangi untuk mencari sesuatu"

Mata Jimin membola mendengar jawaban NamJoon. Bagaimana ini? apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan terjadi jika Yoongi menemukan SeokJin di kuil itu?

Taehyung baru saja menyelesaikan makannya dan berniat mencucinya jika saja seseorang tidak menariknya mundur ke belakang. Awalnya ia takut dan terkejut karena ada orang lain di rumahnya yang sepi. Namun setelah melihat si penariknya ia bernafas lega karena si penarik adalah Yoongi.

"Aku memang adikmu dan aku mengakui kau sebagai kakaku, tapi apa kau bisa masuk lewat pintu?" omel Taehyung kesal. Namun Yoongi tidak merespon, dia malah mencengkram kedua lengannya hingga tubuh mereka sejajar.

"Kau mengingat masa lalumu, kan? Apa kau melihat pria yang kau kencani itu adalah Wang Seok?"

Taehyung terdiam, nama itu. kepalanya bergerak ke bawah, menatap objek lain seolah-olah menghindari kontak mata dengan Yoongi. Namun kakaknya kembali menghadapkan tubuh mereka makin dekat, tatapan kakaknya makin menuntut.

"Jawab! Jawab Chohee-ah!"

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, aku harus pergi!"

Yoongi kembali menarik tangan Taehyung dan kali ini cukup kasar. Taehyung dibuat terkejut, namun ia tak gentar dan takut memandang sang kakak yang begitu emosi. Ia tahu kakaknya marah, meskipun ia tidak tahu alasannya.

"Aku tanya sekali lagi dia Seok atau bukan?!"

Taehyung tersentak, menjauhkan pandangannya ke arah lain seolah menghindar menjawab pertanyaan Yoongi yang ditujukan padanya. Saat itu juga Yoongi tersadar, ia tahu arti tatapan Taehyung saat ini. arti tatapan melindungi, Taehyung melindungi si brengsek itu.

Dengan lemas ia melepaskan cengkramannya, tersenyum miris lalu tanpa bisa dicegah ia memecahkan beberapa vas dan juga kaca jendela rumah Taehyung. pemuda manis itu semakin takut, bergerak mundur menjauhi SeokJin.

"Kau…"

Taehyung mendongak dengan nafas memburu menatap sang kakak. Tatapan kakaknya begitu menyedihkan, marah dan kecewa melihat dirinya seperti ini. dirinya yang sudah tersakiti berkali-kali oleh si brengsek itu tapi ia masih mau melindunginya.

"… masih melindungi si brengsek itu!"

Setelah mengatakannya Yoongi pergi begitu saja meninggalkan Taehyung yang menitihkan air matanya karena ia membuat Yoongi kembali kecewa karena ia melindungi si brengsek itu.

Si brengsek yang menyakitinya tapi begitu ia cintai.

SeokJin ada di Daegu, setelah seharian mencari SeokJin berhasil menemeukan kuil itu. sudah hampir setengah hari ia berdiri di dalam ruangan di salah kuil itu yang terdapat tiga nama. Tiga nama yang sungguh membuatnya semakin bingung dan tidak mengerti akan permainan takdir yang dimulai oleh Sang Maha Kuasa.

"Min Chohee…"

"… Wang Seok…"

"… Wang Jung…"

Siapa di antara dua nama itu-Wang Seok dan Wang Jung adalah dirinya. Apa dirinya Wang Seok yang tidak percaya akan cinta istrinya dan lebih memilih Wang Jung yang sudah menghasutnya? Dua orang itu berdosa besar dan salah satu dari mereka bisa menjadi dirinya yang sekarang.

Siapa dirinya yang sebenarnya?

Ia melangkah keluar ruangan itu, berdiri tepat di ruangan yang ternyata disambut oleh pemandangan lapangan yang biasa digunakan untuk menghukum para penjahat, pendosa atau menyambut prajurit yang menang.

Biasanya sang raja akan berdiri di tempat SeokJin, memandangi orang-orang di bawahnya dengan mata angkuh penuh otoriter. Apa itu Wang Seok? Apa itu dirinya di masa lalu? Apa ia dulu melakukan itu, membunuh istri di sini dan membunuh Min Yoongi.

Atau dirinya yang berdiri di saming Wang Seok, menghasut dan memberikan pengaruh buruk yang memengaruhi setiap keputusannya?

"Siapa sebenarnya? Ingatanku memang buruk tapi aku tidak tahu jika sampai seburuk ini, tidak ada bedanya aku Wang Seok atau Wang Jung. Kedua nama itu sama-sama memiliki dosa, tapi aku selalu merasakan rasa bersalah di depan Chohee seolah-olah ia adalah orang yang sudah membunuh Chohee, ia adalah Wang Seok…"

"Kau benar!"

Tiba-tiba saja muncurl suara lain di kepalanya, sebuah suara yang begitu ia hafal. Suara Yoongi yang sudah ada di lapangan tempat para penjahat di hukum. Mata sipit itu menatap SeokJin penuh kemurkaan, amarah terpendam dan segala macam emosi yang tak terlampiaskan selama ratusan tahun.

SeokJin hanya diam melihat Yoongi melangkah dengan pasti menghampirinya, melewati satu persatu anak tangga tanpa melepaskan matanya pada SeokJin. Yoongi masih mengingat betul hari itu, hari dimana ia melihat Chohee mati terbunuh, dirinya yang terseok-seok menghampiri sang raja. Dirinya yang kalah dalam peperangan terakhir melawan sang raja.

Tapi tidak kali ini, ia memang tidak membawa busur dan anak panah tapi ia membawa kemarahan yang sudah cukup untuk menghancurkan SeokJin detik ini juga. Pandangan Yoongi makin menggelap, api birunya makin menggelap, matanya biru secara penuh ketika sampai di tempat SeokJin tepat di depannya.

Mereka saling memandang cukup lama, SeokJin memandangi Yoongi dengan pandangan bingung dengan ratusan pertanyaan menggerogoti kepalanya. Sampai tiba-tiba saja Yoongi mengarahkan tangannya mencekik SeokJin.

Mencekik dengan tangan penuh api biru yang kuat dan panas. Nafasnya memburu mengingat segala kenangan mengenaskan itu, kenangan dimana ia melihat adik, keluarga, bawahannya mati di depan matanya tanpa ia bisa berbuat apa-apa untuk menolong. Ia tidak bisa memohon pada sang raja tapi kali ini tidak.

Ia tidak akan kalah pada sang raja.

"Jendral Min Yoongi…"

SeokJin mengernyitkan kening dengan mata masih terkejut dan bingung. Ia masih tidak mengerti kenapa Yoongi tiba-tiba seperti ini. apa Yoongi sudah mengetahui semuanya.

Apa dia adalah Wang Seok?

"… memberi salam pada Yang Mulia Raja."

To Be Continue

Hai?

Aku update lagi, maaaf aku kali ini typo masih bertebaran /bungkuk/ /bow/

Oke, udah jelas dong siapa Wang Seok itu dan gimana reaksi Yoongi ya?

Oke, aku nggak mau banyak omong karena ini sudah mendekati the end untuk book satu aku akan kasih ancang-ancang untuk book 2 segera… hahaha

Akhir kata, aku ucapin terimakasih yang udah vote, baca dan coment! Aku cinta kalian!

SARANGHAEYO!