Chapter 2
Pertemuan tak terduga
.
.
.
Selamat membaca
.
.
Hinata mengerjapkan matanya yang terasa berat, seluruh badanya terasa remuk karena efek ledakan granat itu, beruntung Tuhan masih mengizinkannya bernafas. Ia masih berbaring di atas tanah, ia menatap langit yang sudah berubah menjadi gelap. Dengan bersusah payah Hinata berusaha bangkit, ia berjalan kesebuah pohon untuk menyandarkan tubuh lelahnya. Ia perhatikan sekitarnya, ia merasa ada yang aneh, dimana para mayat pemberontak itu? Apa mungkin ia terlempar begitu jauh dari mereka? Sepertinya tidak mungkin.
Mengesampingkan keanehan itu, Hinata harus segera mengobati lukanya. Dengan segera ia buka ranselnya, mengambil peralatan P3K, ia meletakan senapanya disamping ranselnya. Ia melepas seragam tentara kebanggaannya yang sudah berlumur darahnya, menyisahkan kaos hitam polos pada tubuhnya. Ia mengambil sebuah obat bius dengan dosis rendah, ia suntikan pada luka diperutnya, ia mengambil pinset dalam kotak P3Knya, mengorek luka tembakanya dengan pinset, membuat darahnya semakin banyak keluar, ia dengan hati-hati mengambil peluru yang bersarang diperutnya. Segera setelah mengeluarkan peluru itu ia memberikan antiseptic pada lukanya, membalutnya dengan perban untuk menutup lukanya. Beruntung semua peluru dalam tubuhnya tidak mengenai organ vitalnya
Ia juga melakukannya pada lengan kirinya, namun kali ini ia harus menahan sakitnya tanpa obat bius, dengan mengandalkan baju kotornya untuk menyumpal mulutnya, Hinata berusaha menggerakan tangan kanannya untuk mengambil peluru dalam lengannya.
.
.
Hinata pov.
.
"Mgghhnn" teriak tertahanku merasakan ujung pinset menyentuh lukaku, aku berusaha keras menahan lenganku menjauh, terus mencoba, namun peluru itu tak juga ditemukan. Aku ingin menjerit, namun aku harus terus melanjutkannya, atau tidak aku akan mati kehabisan darah.
KRSK..KRSK..KRSK... aku mengalihkan pandanganku pada sekelilingku, menghentikan kegiatanku tadi. Mengindahkan rasa sakitku, kuambil senapan disampingku, bersiaga walau aku belum mampu bangkit.
Tap. Seseorang yang bertubuh besar dan tinggi itu berjalan kearahku, aku bisa melihat sebelah mata orang itu berwarna merah, sungguh menakutkan.
"Siapa kau?" tanyaku sambil menatap tajam sosok itu
"Hyuga-san sedang apa kau disini?" aku mengerjap bingung, bagaimana orang itu tau namaku sebelum aku menikah, siapa sebenarnya dia.
"Kau siapa? Aku tak bisa melihatmu, tunjukan dirimu!" aku melihatnya mendekat kearahku, yang aku lihat dengan mengandalkan cahaya bulan adalah ia Sasuke dengan rambut panjang, mata merah dan jubah hitam.
"Sasuke-kun?" aku menatapnya bingung, bagaimana ia suamiku bisa disini, dihutan? Bukankah ia ada tugas? Lalu bagaimana ia bisa disini? Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di otakku. Dan itu membuatku bingung, aku bisa melihat ekspresi datarnya sambil ia mengangkat sebelah alisnya. Hei ada apa sebenarnya ini?
"Kau terluka?" ia memperhatikanku, banyak darah yang telah kukeluarkan, ya itu terlalu banyak, dan kini pandanganku mengabur, mungkin aku akan tidur sejenak. Ya aku bisa beristirahat sementara, melihat ada orang kucintai disini. Ya kuharap hanya sebentar saja.
Hinata pov. end
.
.
Kesadaran Hinata tiba-tiba menghilang, dengan sigap Sasuke menahan tubuh Hinata agar tak menyentuh tanah. Sasuke memperhatikan Hinata intent, ia khawatir melihat banyaknya darah yang mengalir dari tubuh wanita itu. Ia segera membereskan perlengkapan Hinata, memasukkannya kedalan fuinjutsunya. Dengan jutsu shunshinya ia pergi membawa Hinata dalam gendonganya. Sesampainya disebuah lorong gelap, ruangan bawah tanah, Sasuke segera mendobrak salah satu pintu disana. BRAK
"Orochimaru!" teriak Sasuke panik
"Sasuke-kun? Ada apa? Ah siapa gadis yang kau bawa itu Sasuke-kun?" tanya Orochimaru dengan seringainya.
"Hn, obati dia!"
"Baiklah, bawa dia keruanganku" Sasuke mengikuti Orochimaru dari belakang.
"Letakan dia disitu" Orochimaru menunjuk sebuah ranjang khusus pasien atau orang percobaanya. Sasuke membaringkan Hinata pelan, takut jika gadis itu semakin terluka.
"Engghh" rintih Hinata membuat Sasuke khawatir.
"Miringkan badanya Sasuke, bukankah punggung, perut dan lengan kirinya terluka?" ucap Orochimaru membuat Sasuke menghadapkan Hinata kekanan, kearah dirinya.
"Aku baru melihatmu khawatir seperti itu" Sasuke tidak membalas ejekan Orochimaru, ia lebih fokus memperhatikan wajah Hinata yang damai.
"Tenang saja dia akan baik-baik saja, dia bahkan telah mengobati luka diperutnya" Sasuke sedikit terkejut, namun berhasil disembunyikan dengan wajah datarnya. Ia melihat Sennin ular itu telah selesai memasang infus kantong darah dipunggung tangan Hinata.
"Apa yang kau lakukan?" Sasuke menatap tajam Orochimaru saat ia hendak membuka tantop Hinata.
"Tentu saja mengobatinya Sasuke-kun~" ucap Orochimaru dengan nada menjengkelkan, Sasuke membuka jubah hitamnya, menyelimuti tubuh bagian depan Hinata. Orochimaru melakukan tugasnya dengan cepat.
"Lukanya sudah kututup, saat ia sadar berikan obat ini, itu untuk mempercepat kesembuhan lukanya. Oh ya tentang lukanya itu, aku baru pertama menanganinya, memang luka pada umumnya, hanya saja senjatanya baru kulihat"
"Siapa yang melakukannya?" Orochimaru hanya mengedikan bahu dan berlalu meninggalkan Sasuke dan Hinata dalam ruangan itu.
"Hyuga sadarlah!" tangan kiri Sasuke membelai lembut pipi Hinata, sudah berapa lama ia tidak melihat Hinata. Banyak yang berubah dari wanita itu, rambut yang dulunya panjang kini dipotong pendek sebatas pipinya yang kini tampak kusut. Wajahnya tetap cantik, walau kulitnya tampak kusam oleh debu dan sinar matahari.
"Kau banyak berubah Hinata, tapi masih cantik seperti dulu"
"Enghh" Hinata membuka matanya pelan, mencoba menyesuaikan cahaya dalam ruangan itu.
"Sudah sadar Hyuga?" ucap Sasuke kembali dingin, Hinata tersentak kaget dengan nada serta panggilan Sasuke padanya.
"Sasuke-kun? Tadi kau panggil aku apa? Hyuga?" Hinata bangkit, mendudukan dirinya menghadap Sasuke, meminta penjelasan darinya.
"Minum ini, ini akan menyembuhkan lukamu!" Sasuke menyodorkan segelas air dan obat untuk Hinata namun tak digubris oleh sang wanita.
"Hyuga!" Sasuke menatap tajam Hinata yang tidak segera mengambil obatnya, namun apa yang dilihat sekarang, Hinata menangis dalam diam, menangis dengan senyum mirisnya. Sasuke menatap bingung Hinata, apa ada yang salah? Pikir sasuke melihat ekspresi Hinata. Sasuke meletakkan kembali obat dan segelas air itu diatas meja.
"Kau membenciku Sasuke-kun? Apa gara-gara kemarin? Bahkan kau ingin meninggalkanku?" tanya Hinata dengan suara pelan, ia menatap sendu Sasuke.
"Aku tak tau maksudmu... Uzumaki" dengan enggan Sasuke memanggil Hinata dengan marga Uzumaki, namun saat ia berbalik melihat Hinata yang terbelalak tak percaya.
"Siapa itu Uzumaki? Sasuke-kun... kau memanggilku Uzumaki? APA MAKSUDMU HAH?" Hinata menarik kerah baju Sasuke penuh amarah, ia bahkan tak peduli jika tanganya berdarah.
"Kau aneh, apa kau terbentur?" Sasuke melepas dengan pelan tangan Hinata dari kerah bajunya.
"Apa maksudmu? Kau bukan Sasuke-kun" Hinata melepas kerah baju Sasuke, ia duduk dilantai, menagis lagi dalam diam. Sasuke yang melihat itu merasakan sesak, apa ia yang membuat Hinata menangis? Dengan menyingkirkan egonya, ia berjongkok dihadapan Hinata, ia rengkuh wanita itu dalam dekapannya.
"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke. Maafkan aku Hinata" suara menenangkan Sasuke masuk keindra pendengaran Hinata, ia balas memeluk Sasuke erat, ia tak ingin Sasuke pergi, tidak.
"Jangan pernah tinggalin aku, jangan lakukan itu lagi, kau membuatku takut Sasuke-kun. Aku mencintaimu" tubuh Sasuke menegang, apa ia tak salah dengar? Ia melepas pelukanya, memaksa Hinata menatap dirinya.
"Kau mencintaiku?" tanya Sasuke tak percaya
"Aku selalu mencintaimu Sasuke-kun" Sasuke memeluk erat Hinata tak membiarkan ia kehilangan lagi.
"Kau yang memulainya Hinata, dan aku takkan melepaskanmu, takkan pernah lagi" ucap Sasuke penuh kesungguhan
"Arigatou"
"Aku selalu mencintaimu Hinata, dari dulu dan sampai kapanpun"
.
.
Chapter 2 selesai
Thanks
.
.
Nb:
Sumimasen minna-san... Sebenarnya saya itu ragu publish fanfict ini karena beberapa hal. Tapi karena saya tidak mau mengecewakan kalian yang telah mereview, memfavorite, dan memfollow cerita Hime, saya putuskan untuk mengupdatenya. Namun maaf jika mengecewakan dan sangat sedikit. Terima kasih atas review, favorite, dan following cerita Hime ini. Itu semua sangat berharga bagi Hime.
Salam hangat dari Himeisya Aozora ^_^V
