Takdir

Chapter 3 Hinata Lain

.

.

Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Crack pair, Typo, Gaje

.

.

.

Mata yang sedari tadi terpejam kini mulai menampakkan pesonanya, mata levender itu menatap kosong langit-langit ruangan yang masih asing baginya. Bukan langit-langit putih khas rumah sakit yang ia lihat, namun langit-langit yang penuh sarang laba-labalah yang ia dapat. Ia melihat sekeliling ruangan yang seperti sebuah ruangan laboratorim itu. Gadis itu berusaha bangkit meski tubuhnya menjerit kesakitan. Hingga pandangannya bertemu pria yang dicintainya itu yang masih menggunakan pakaian anehnya, tak lupa rambut yang cukup panjang baginya itu. Ia ingat terakhir kali rambut suaminya masih pendek dan serupa pantat ayam itu, apakah ia dalam penyamaran? Pikirnya positif.

"Sasuke-kun sebenarnya ini dimana?" Hinata membuka suara saat kesadarannya mulai kembali, mungkin efek obat yang diberikan Sasuke.

"Tempat Orochimaru" jawab Sasuke singkat.

"Orochimaru? Siapa itu?" Sasuke mengernyit bingung dengan pertanyaan Hinata

"Orochimaru salah satu tiga Sennin hebat dari konoha, ia guruku, dia juga ikut membantu perang dunia shinobi ke 4 bersama para aliansi" jelas Sasuke sambil menatap heran Hinata

"Sennin? Konoha? Shinobi? Aliansi? Maksudmu apa Sasuke-kun?" Sasuke menatap tidak percaya, saat ia melihat tatapan tak mengerti Hinata.

"Kau tidak tau?" Hinata menggeleng

'Apa mungkin Hinata lupa ingatan? Apa ada yang menyegel ingatannya? Atau menggenjustsu dia?' pikir Sasuke mencari tahu keadaan Hinata yang ia rasa sangat aneh.

.

.

"Bagaimana?" tanya Sasuke yang bersandar di tembok dekat pintu ruangan tempat Hinata berada.

"Dia baik-baik saja, tak ada luka pada kepalanya, jadi aku yakin dia tidak mungkin lupa ingatan" jawab pria ular itu setelah ia menutup pintu ruangan tempat Hinata beristirahat, membuat Sasuke semakin mengernyit bingung.

"Apakah Fuinjutsu?"

"Tidak, katanya ia mengingat jelas semua kejadian yang terjadi secara detail" jelas Orochimaru prihatin, baru kemarin ia melihat cahaya di mata muridnya, namun apa yang ia lihat sekarang, kabut itu kembali datang.

"Genjutsu?"

"Jika iya, kau pasti sudah menyadarinya dari awal Sasuke. Lebih baik kau bawa dia ke Konoha, lihat reaksinya nanti" nasihat Orochimaru sebelum pergi meninggalkan Sasuke di sana.

"Hn"

'Apa aku harus membawanya ke Konoha, tapi aku takkan melepaskannya, tidak akan' ucap dalam hati Sasuke seraya menatap pintu ruangan itu, tempat sosok yang dicintainya itu beristirahat.

.

.

.

Sasuke keluar dari ruang bawah tanah Orochimaru dengan di belakangnya diikuti oleh Hinata dan Orochimaru. Ia menatap datar pepohonan tinggi di depannya, memikirkan kemungkinan terburuknya saat ia membawa Hinata.

"Sasuke-kun kita mau kemana?" tanya Hinata berhasil membuyarkan pikiran Sasuke

"Konoha" jawab singkat Sasuke yang tak mampu memuaskan keingintahuan Hinata.

"Apa aku harus memakai ini?" tanya Hinata sambil menunjuk jubah Sasuke yang sedang ia gunakan, jubah yang menenggelamkan tubuh kecilnya itu

"Hn"

"Sasuke-kun!" panggil Orochimaru dari belakang memotong interaksi sejoli itu, Sasuke yang mengerti isyarat Orochimaru pun menatap Hinata

"Hime, tidakkah kau mau keliling daerah sini sebelum pergi? Di sekitar sini ada padang lavender, kau akan sangat menyukainya" ujar Sasuke lembut, yang sangat dimengerti oleh Hinata, tapi ia tak bisa menutup rasa senangnya saat mendengar padang Lavender yang dikatakan Sasuke.

"Benarkah?"

"Hn, kau hanya perlu berjalan ke sana, setelah aku selesai bicara dengan Orochimaru aku akan menjemputmu"

"Ha'i, ano... Orochimaru-san saya sangat berterima kasih karena Anda telah mengobati saya dan memberi tumpangan di sini"

"Tak perlu sungkan, kau bisa kemari kapan pun, anggap saja rumah sendiri" jawab Orochimaru ringan

"Ha'i, aku pergi berkeliling dulu" Hinata beranjak dari sana, meninggalkan Sasuke dengan Orochimaru di sana berdua saja.

"Apa kau yakin Sasuke-kun?" tanya Orochimaru setelah tak melihat siluet Hinata lagi

"Ya, bukankah ini saranmu?"

"Iya, tapi di sana ada mereka? Apa kau masih yakin membawa Hinata ke Konoha?"

"Aku tahu, tapi aku tidak akan pernah melepaskannya" Sasuke menatap Orochimaru penuh keseriusan, dan untuk pertama kalinya semenjak berakhirnya perang shinobi ke empat, ia baru melihat semangat hidup Sasuke kembali.

"Wakatteru, aku tahu, kau tak bisa dilarang jika sudah seperti ini. Aku sarankan padamu, jika ingatan Hinata tidak disegel, kau pasti bisa melihat ingatannya dengan mudah"

"Itu..."

"Kau tidak tega? Kau tak perlu khawatir Sasuke-kun, Hinata memiliki tubuh yang kuat untuk menerimanya" potomg Orochimaru saat melihat ada sedikit keraguan di mata Sasuke

"Akan kulakukan nanti" balas Sasuke mantap. Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Sasuke segera melompati pepohonon untuk mencari keberadaan Hinata.

"Aku tak tahu apakah ini baik untukmu atau ini awal dari kehancuran?" lirih Orochimaru sambil melihat kepergian muridnya itu.

.

.

.

.

Hinata berjalan dengan tenang, namun tidak dengan matanya yang kesana kemari melihat sekeliling dirinya yang terasa sangat asing itu. Hinata sesekali mengobservasi tanaman dan pohon-pohon di sepanjang jalannya.

'Ini terasa sangat asing bagiku, pepohonan ini menjulang tinggi dan saling berdekatan, dan tak ada hutan di Jepang yang seperti ini. Bagaimana caranya aku bisa di sini?' pikir Hinata sambil terus berjalan, hingga matanya melihat sekelebat warna ungu yang menarik dirinya, yang maampu melupakan kejanggalan yang ada. Dengan langkah yang semakin ia lebarkan ia berlari menuju padang lavender yang dimaksud oleh Sasuke, dan ia merasa sangat senang telah menemukan tempat itu.

"Sugoii..." Hinata berlari ke tengah padang lavender, berputar dengan riang seraya menghirup aroma lavender yang menenangkan.

"Rasanya aku kembali rileks saat mencium aroma ini" Hinata pejamkan matanya, menarik sudut bibirnya indah.

"Dan aku begitu senang saat bisa melihat senyumanmu" Hinata segera berbalik, melihat sosok Sasuke yang sudah berdiri tegak di depannya.

"B-bagaimana b-bisa?"

"Kau tak perlu terkejut seperti itu, apa kau suka?" Sasuke memeluk Hinata lembut, meletakkan dagunya di puncak kepala Hinata.

"Ha'i, ini sangat indah Sasuke-kun, aku sangat menyukainya, arigatou" Hinata membalas memeluk Sasuke, menyalurkan rasa bahagiannya saat ini.

"Andai aku bawa ponselku, pasti aku bisa mengabadikan moment indah ini"

"Kau ingin?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan penuh semangat Hinata. Sasuke segera mengambilkan ponselnya yang hampir tak pernah ia gunakan itu di kantong ninjanya, kemudian ia berikan ponsel itu pada Hinata.

"Wah...Sasuke-kun, nee... kita foto bareng yuk?" ajak Hinata sambil mengarahkan ponsel Sasuke untuk mengambil foto. Hinata menatap pada layar ponsel yang menampilkan dirinya yang sedang terseyum dan Sasuke yang menatap dirinya dengan senyum kecil.

ckkreek.

"Sasuke-kun, kali ini hadap kameranya ya?" pinta Hinata yang hanya bisa diikuti oleh Sasuke tanpa banyak kata, tib-tiba Hinata menjatuhkan kepalanya di pundak Sasuke membuat Sasuke tersenyum sedikit lebih lebar.

Ckreek

"Sasuke-kun?" Hinata menurunkan ponselnya, memejamkan mata dengan kepala masih bersandar di pundak Sasuke.

"Hn" Sasuke menoleh pada Hinata, membuat rahang tegasnya menyentuh kepala Hinata. Dengan pelan Sasuke merangkul bahu Hinata, mengajak Hinata untuk duduk di tengah-tengah bunga-bunga lavender.

"Aku baru saja menyelesaikan misi, aku kira aku akan mati waktu itu, aku kira aku tidak bisa lagi melihatmu. Namun aku salah, aku di sini denganmu, aku berada di sampingmu, aku bisa merasakan pelukanmu" Hinata menarik dirinya memberi sedikit jarak dengan Sasuke agar bisa menatap wajah Sasuke yang sebagian besar tertutup oleh rambut panjangnya.

"Hime, jangan pernah meninggalkan aku"

"Tidak, tidak akan, bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, aku yang paling takut jika kamu lelah menungguku, lelah dalam mencintaiku" Hinata menunduk sedih mengingat dirinya yang masih belum bisa jadi istri yang baik.

"Sampai kapan pun cintaku hanya untukmu, kau tahu,, Uchiha memiliki cinta yang sangat besar hanya pada satu orang, dan itu dirimu Hime" Sasuke membelai lembut wajah cantik tertutup debu itu, mengusap pipi yang ternyata masih cuby seperti dulu itu. Dengan memberanikan diri, ia kikis jarak di antara mereka, ia satukan bibirnya pada bibir lembut wanita yang dicintainya itu. Awalnya ia merasa ragu jika dia akan berakhir mendapat tamparan, namun ia tak juga mendapatkannya. Merasa mendapat signal positif, Sasuke melumat bibir Hinata pelan, pelan, dan semakin ia tak bisa menguasainya, ia lumat bibir mungil itu dengan penuh gairah, ia lepaskan semua perasaan yang selama ini ia pendam sendiri. Dan tidak disangka-sangka, Hinata membalasnya, memang tampak pasif dan terkesan lucu dan kaku, namun itu sangat berharga baginya, ciuman pertamanya bersama wanita yang dicintainya itu. Sasuke bisa merasakan rambut belakangnya yang ditarik lemah oleh jemari-jemari Hinata, dengan lembut ia akhiri ciuman mereka dengan sebuah kecupan. Mereka tarik kepala mereka, menyatukan dahi mereka hingga saling berbagi nafas yang masih memburu.

"Hime?"

"Hm"

"Arigatou" Sasuke mengecup kening Hinata lembut, menarik Hinata dalam pelukannya. Hinata hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Sasuke.

"Terima kasih banyak Sasuke-kun" Hinata semakin mengeratkan pelukannya

"Hime, ayo kita pergi" ujar Sasuke yang teringat dengan tujuan awal mereka

"Ke Konoha itu?" tanya Hinata sambil melepas pelukannya, menatap Sasuke dalam.

"Hn, naiklah ke punggungku" perintah Sasuke yang langsung dituruti Hinata tanpa banyak tanya. Setelah Hinata berada di punggungnya, Sasuke segera sunshin ke pohon terdekat dan melompati pepohonan.

"Kyyyaaaa... Sasuke-kun! Kita bisa jatuh!" teriak Hinata di balik punggung Sasuke.

"Tenanglah Hinata, ini biasa bagi seorang ninja" Sasuke masih terus melompat dari pohon kepohon.

"Ninja?" tanya Hinata merasa salah dengar

"Hn"

"Banyak yang kubingungkan dan tak kumengerti dengan apa yang Sasuke-kun katakan. Tapi aku lelah setelah melakukan tugas kemarin, bolehkah aku tidur?" Hinata menyandarkan kepalanya pada pundak Sasuke, tak lupa ia juga mengeratkan tangannya pada leher Sasuke tapi tak sampai mencekiknya.

"Hn, tidurlah Hime" Sasuke bisa merasakan hembuasan nafas yang teratur menggelitik leher Sasuke yang menandakan bahwa gadis itu sedang tertidur

"Tetaplah bersamaku" ucap Sasuke seraya mengangkat sudut bibirnya ke atas, tersenyum kecil dan terasa begitu indah.

.

.

Sesampainya di gerbang desa Konoha, Sasuke di sambut oleh dua penjaga

"Uchiha-san selamat datang kembali di Konoha" sambut penjaga gerbang bernama Kotetsu itu ramah.

"Hn"

"Itu siapa Uchiha-san?" tanya penjaga gerbang itu seraya menatap penuh selidik sosok Hinata yang berjubah di punggung Sasuke

"Hn, bukan urusan kalian"

"Ah maaf Uchiha-san, apa Uchiha-san mau ke kantor hokage?"

"Hn" Sasuke melangkahkan kakinya menjauh dari gerbang konoha.

"Kau lihat kotetsu, ia aneh, siapa sosok yang di gendongnya tadi? mencurigakan"

"Sudahlah... itu bukan urusan kita"

"Hah... iya iya"

.

.

.

Sasuke sampai di komplek Uchiha, komplek dimana dulu seluruh Uchiha tinggal di sana, namun kini kompleks itu tak berpenghuni. Ia memasuki rumahnya dulu yang kini telah diperbaiki, memasuki kamarnya, dan membaringkan Hinata di futon yang masih tersimpan di sana. Bersyukurlah Hokage tak menelantarkan tempat ini, ia selalu membayar orang untuk membersihkan rumah dan Komplek Uchiha itu.

"Hinata" Sasuke membelai lembut rambut Hinata, menyusuri setiap keindahan ciptaan Tuhan di depanya.

"Kau tampak berubah Hinata, tapi aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun" ia kecup kening Hinata dengan lembut, menghantarkan rasa cinta yang tak pernah terungkap.

"Sasuke-kun?" Hinata mengerjap pelan melihat sosok Sasuke yang mencium keningnya. Sasuke manjauhkan wajahnya dari Hinata menatap Hinata datar namun tersirat rasa cinta yang besar.

"Apa aku membangunkanmu?" Hinata menggeleng, ia bangkit terduduk, ia menatap Sasuke dalam, mencari sesuatu yang tak dimengertinya.

"Sasuke-kun, dimana ini? Aku merasa asing di sini, dan banyak yang tidak kumengerti."

"Hinata boleh aku melihat dalam dirimu, ingatanmu?"

"Ehh? Jangan aneh, apa mung.." ucapan Hinata terpotong saat sebelah mata Sasuke berubah menjadi merah darah, menjadi mangekyo sharingan. Dan seketika itu tubuh Hinata ambruk ke pelukan Sasuke.

"Apa maksudnya ini?" Sasuke memegang kepalanya yang berdenyit nyeri saat mendapatkan ingatan Hinata, sosok Hinata dari dimensi lain yang ada di pelukannya. Apakah ini jawaban dari Tuhan atas kesabaranya menunggu sang gadis.

"Apa aku harus senang karena kau mencitaiku, atau bersedih karena kau bukan Hinataku?" Sasuke menatap sosok Hinata dengan tatapan yang tidak dapat terbaca.

"Kenapa Sasuke di sana bisa mendapatkanmu sedangkan aku tidak?"

"Hinata... Kau bukan Hinataku, tapi kau Hinata. Apa yang harus kulakukan?" ucap Sasuke dengan pandangan kosong

"Eenghh, Sasuke-kun?" Sasuke melirik sekilas ke arah Hinata yang mulai siuman. Benar kata Orochimaru, Hinata yang itu memiliki fisik yang kuat.

"Hn"

"Kepalaku pusing" Hinata menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sasuke, ia mendongak menatap Sasuke yang hanya menatap datar ke depan.

"Hinata?" panggil Sasuke dengan mengalihkan pandangannya pada Hinata

"Doushite Sasuke-kun?" mata mereka bertemu, saling mengunci tatapan.

"Apakah kau akan meninggalkanku?"

"Iie, tentu saja tidak Sasuke-kun, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun" jawab Hinata dengan penuh keyakinan, Sasuke memeluk Hinata erat, tak peduli dia bukan Hinatanya, tapi Hinata tetaplah Hinata.

"Kalau begitu jangan pernah pergi"

"Hmm" Hinata mengangguk dalam pelukannya.

"Kenapa hari ini kau begitu takut kehilanganku?" tanya Hinata merasa sedikit aneh

"Setiap hari, setiap waktu aku selalu takut kehilanganmu, Hime" Sasuke mengeratkan pelukannya, begitu pun dengan Hinata.

"Aku akan ke kantor Hokage sebentar, setelah itu akan kujelaskan semuanya" Sasuke melepas pelukannya, mengusap puncak rambut Hinata pelan, dan tersenyum lembut pada sosok di depannya itu.

"Ha'i" Sasuke segera beranjak saat mendapat persetujuan dari Hinata, ia segera keluar dari complek uchiha untuk menemui sang nanadaime, yaitu Uzumaki Naruto.

.

.

Tok tok tok

"Masuk!" Suara tegas dan dingin menyapa indra pendengaran Sasuke, ia buka pintu itu, menatap sang sahabat dengan heran.

"Ada apa Naruto?" tanya Sasuke tanpa memperdulikan tata krama kepada sang Nanadaime saat melihat wajah berantakan sahabatnya itu.

"Kau Sasuke, ada apa kau ke sini?" tanya Naruto tanpa minat

"Kau terlihat buruk Dobe, apa ada masalah?"

"Hinata menghilang Teme, banyak anbu yang sudah kukerahkan, tapi Hinata tak ditemukan. Aku ingin mencarinya, tapi para tetua itu melarangku, mereka menahanku di sini" Sasuke sedikit terkejut mendengar pernyataan Naruto, lupakan tentang para tetua, fokus Sasuke berada pada kenyataan Hinata, wanita yang dicintai hilang. Ia mengepalkan tangan kesal, ingin rasanya ia memukul wajah Naruto, karena tak bisa menjaga wanita yang ia cintai itu. Namun ia tak bisa melakukan itu, ia tak bisa marah pada Naruto, karena tak seorang pun di konoha yang mengetahui perasaan cintanya pada Hinata.

'Hinata menghilang? dan Hinata dari dimensi lain disini? Apa mungkin Hinata berada di dimensi lain?' pikir Sasuke mencoba berspekulasi

.

.

TBC

Nb:

Terima kasih untuk kalian yang mau membaca cerita Author, dan terima kasih banyak untuk Reviewnya, itu sangat-sangat berharga buat Author, author jadi semangat nulisnya. Aslinya chapter ini udah selesai ditulis barengan chapter 2, tapi keburu gak bisa mublishnya, ya jadinya molor banget. Maafin Hime ya... Jangan lupa Review, Follow dan Favorite ya... ^_^

Salam Hangat dari Himeisya Aozora