Terimakasih bagi yang sudah menekan tombol favorite serta sudah mau repot-repot meluangkan waktu untuk mengetik tulisan-tulisan di tombol review. Terimakasih banyak atas dukungannya yang dapat membuat hati saya tergerak untuk menulis dan kembali menekuni dunia fiksi, meskipun belum tau saya akan tetap berkutat disini atau mungkin hanya singgah untuk waktu yang sangat sebentar. Saya sangat merasa bersalah dan bahkan hampir melupakan tulisan yang satu ini. Akhirnya dihari libur setelah digempur habis-habisan oleh seluruh aktivitas perkuliahan, disinilah saya, sedang menulis kelanjutan dari kisah yang sempat terbengkalai selama berbulan—well hampir bertahun T_T— Sekali lagi terimakasih, dan Selamat Membaca^^

Kiss For Money ch. 2

Sasuke berputar-putar di kursi ruangannya sambil sesekali memijat pelipisnya. Baru saja ia bertemu empat mata dengan Fugaku—Ayahnya. Biasanya bila Fugaku sudah mengatur pertemuan berdua saja dengan anak bungsunya tersebut bisa diartikan pria ketus tersebut telah mengusung percakapan yang sakral untuk diperbincangkan, entah itu masalah perkantoran maupun klan Uchiha yang merupakan klan ter-elit se-Konoha. Namun sayangnya kedua prediksi topik utama diatas tidak menjadi sajian menu utama dalam makan malam antara ayah dan anak itu kali ini. Karena sesungguhnya Fugaku tengah membicarakan topik yang sangat sakral—benar-benar sakral bagi Sasuke—pasalnya ia membicarakan soal masalah yang dirasa Sasuke begitu memuakkan dan tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Masalah pernikahan yang menjurus ke masalah perjodohan.

Oh ayolah berapa umurnya saat ini? 16? 17? Mengapa harus membicarakannya seolah ia masih terlalu naif dan malu-malu untuk mencari jodohnya sendiri? Sasuke telah dewasa, ayah. Dan ia pasti tau pula kapan harus mengambil langkah serius untuk memilih sosok wanita berwibawa seperti yang selama ini diharapkan ayahnya, wanita berwibawa sepantaran Mikoto, ibunya. Tapi ia tak benar tau mungkin hal itulah yang saat ini menjadi pertimbangan ayah dan ibunya untuk segera membicarakan hal penting ini kepada putra mereka. Sudah terlalu dewasa bagi Sasuke untuk berhenti bermain-main dengan masalah percintaan dan ia berhak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Sudah cukup waktu bagi Sasuke untuk menikmati masa lajangnya, berfoya-foya dan bermain dengan gadis-gadis cantik, menyandang gelar playboy di mata para wanita-wanita yang menggemari pemimpin Uchiha Corporation tersebut.

Menurut Fugaku, Uchiha seharusnya lebih dapat membanggakan bila Penerus Perusahaan mereka memiliki pendamping yang sekelas dengan Uchiha. Well minimal Hyuga. Hal itu pula yang mendasari Fugaku untuk memberi ancaman sengit bagi Putra Bungsunya tersebut untuk segera mencari wanita pendamping yang berkelas dan satu level dengan marga yang disandangnya. Ini merupakan salah satu kelunakan hati ayahnya yang masih memberinya keringanan dengan membawa kekasih Sasuke dan memperkenalkannya dihadapan seluruh klien dalam acara peresmian bergabungnya Uchiha Corp sebagai anggota organisasi Persatuan Perusahaan Lima Negara Besar dimana masih terdapat dua anggota dari negara Konoha yaitu Klan Hyuga dan Klan Namikaze dan kini telah bertambah dengan bergabungnya klan Uchiha.

Acara tersebut akan dilangsungkan seminggu dari sekarang. Fugaku turut memberikan penekanan bahwa bila selama ini Sasuke tidak memiliki kekasih maka tanpa ba bi bu ia akan langsung menjodohkan putranya tersebut dengan seorang putri klan Hyuga yang cantik dan menawan. Yang tentu saja penawaran ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Sasuke dengan alasan bahwa selama ini ia memiliki kekasih diam-diam yang pastinya akan ia bawa ketika acara persemian perusahaan. Alasan yang kini disesalinya setelah ia sadar bahwa selama ini Sasuke memang tidak pernah terlibat urusan cinta serius.

Wanita-wanita yang didekati Sasuke selama ini hanyalah perempuan munafik yang hanya mengejar uang dan jabatannya. Mana mungkin ia mau membawa salah satu dari golongan wanita licik macam itu untuk diperkenalkan didepan khalayak umum sebagai calon istrinya? Atau bisa saja ia menyewa salah satu model terkenal untuk bekerjasama berpura-pura menjadi pasangannya, lalu beberapa waktu kemudian ia tinggal menyusun rencana untuk membuat drama perpisahan yang sering terlihat di film-film telenovela murahan. Tidak, tidak. Itu sangat bukan Sasuke sekali. Akkh ia merasa kepalanya seperti mau meledak saat ini. Mungkin ia perlu menghirup udara segar sejenak, kebun mawar dibelakang mansion terdengar menggiurkan.

Tenten melirik-lirik bintang yang tertutupi awan kelabu. Malam ini hanya ada sebuah bulan samar yang bersembunyi dibalik awan-awan yang sebentar-sebentar menutupinya, menghalangi manik cokelat milik gadis bercepol itu untuk bertatapan dengan cahaya bulan. Udara malam pun terasa lebih dingin, mungkin karena angin di awal musim gugur yang membawa cuaca tak menentu. Setelah beberapa waktu tinggal dirumah besar ini, gadis itu masih merasa asing dengan suasana rumah yang begitu sepi. Tak disangka ia akan berakhir menjadi seorang budak karena secara tak langsung dijual oleh ayahnya sendiri untuk menebus hutang-hutang mereka karena kematian ibunya. Ia sudah merasa rela, namun bagaimana dengan majikannya yang sebelumnya? Gaara-sama, yang telah begitu baik selama ini dan ia malah melarikan diri begitu saja tanpa kata pamit, dan lebih menggelikan lagi bahwa kenyataan mempertemukan mereka kembali, disini. Seolah dunia hanya selebar daun kelor saja. Tenten tertawa kecil, entah menertawakan takdir atau ikut tertawa bersama nasib untuk menertawakan takdir, entahlah.

"apa yang sedang kau tertawakan?"

Sebuah suara penuh sarkasme menelusup disela-sela udara dingin, mengintimidasi dengan penekanan intonasi yang rendah dan seakan penuh ancaman. Tenten sontak menoleh kearah sumber suara, seorang pria bertubuh tegap dengan sorot mata tajam nan rupawan. Pria itu masih mengenakan setelan jas hitam dengan dasi yang melingkar tak berguna di kerah leher kemejanya. Sementara kedua tangannya bersembunyi didalam saku celananya, menunjukkan kesan tampan dan berwibawa.

Tenten langsung menundukkan wajahnya dengan canggung, merasa hormat dan takut disaat yang bersamaan, entahlah. Tapi perlahan mulutnya membuka, hendak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke meskipun ia tau pertanyaan itu sebenarnya tak perlu ada jawabnya.

"Aku—" suaranya menggantung di udara. "sedang menertawakan diriku sendiri".

Pfffttt, jawaban konyol macam apa itu. Bahkan gadis itu menutup mulutnya sendiri saat sadar bahwa kalimatnya barusan sangat absurd. Apakah ia akan dipecat?

Sasuke berdecih sinis. Ia memang kurang memperhatikan setiap pelayan yang bekerja di mansionnya, tapi ia tau bahwa gadis ini memang seorang pekerja baru, yang dijemputnya beberapa waktu lalu karena seorang pria tua yang menjaminkan putrinya sebagai tebusan sementara ia mencari jalan untuk melunasi seluruh hutangnya.

Pria itu mengacuhkan gadis tersebut dan berjalan menuju tempat tenang lainnya, yang sepi dari jangkauan orang-orang. Saat langkah lebarnya perlahan menjauh, gadis itu tiba-tiba bergeming lagi dibelakangya.

"Apakah kau Uchiha Sasuke-sama?" suaranya pelan namun menggema di koridor taman yang sepi.

"Hn. Ada perlu apa?" nada datar yang kedengaran tidak tertarik sama sekali.

Tenten memberanikan dirinya untuk berbicara dengan majikan barunya ini, selama majikannya bukanlah seorang vampir atau manusia serigala, pikirnya mungkin ia akan baik-baik saja.

"Mengapa kau malah memperkerjakanku disini? Bukankah kau sudah memiliki banyak pelayan? Kehadiranku pastinya takkan banyak membantu perubahan apapun. Kenapa kau tidak melakukan hal yang dapat menghasilkan uang lebih? Seperti menjualku, misalnya."

Tenten meremas-remas kedua jemarinya dengan ragu. Ini seperti memancing singa keluar dari kandangnya saja. Sementara Sasuke masih memasang wajah datar. Setelah beberapa detik yang dirasa bagaikan jam, pria itu menyunggingkan sebuah senyuman remeh, yang sering dilontarkannya untuk menjatuhkan mental lawan bicaranya.

"Untuk apa aku melakukan itu, bila nyatanya uang hasil jual dirimu takkan menambah satu persenpun harta kekayaanku?"

"Kalau begitu, biarkan aku pergi dari sini saja, daripada tidak menghasilkan apapun dan membuang-buang waktuku untuk hasil yang tak ada, lebih baik aku pergi mencari pekerjaan lain dan kemudian mengumpulkan hasilnya untuk melunasi hutang ayahku padamu".

"Itu tentu saja takbisa ku lakukan. Aku harus memastikan bahwa kau atau ayahmu, salah satu dari kalian harus merasakan sesuatu yang menderita untuk sekedar memuaskanku bahwa kalian akan melakukan apapun untuk bisa melunasi hutang kalian. Lagipula gaji yang kau kumpulkan dari pekerjaanmu selama hidupmu pun takkan bisa membayar seperempat hutang ayahmu"

Lagi-lagi perkataan sinis yang tajam dan menohok. Namun Tenten takkan gentar bila hanya diserang dengan kata-kata yang takkan mempan menggoyahkan mentalnya. Mentalnya terlalu kuat, bahkan bila hanya untuk dihina dan dicaci maki sekalipun.

"Jaga bicara anda tuan Uchiha. Apapun bisa kulakukan jika memang itu satu-satunya cara bagiku untuk mendapatkan uang". Gadis itu berkata dengan cukup tajam, sejenak lupa dengan siapa ia sedang berbicara.

Sasuke melangkahkan kaki mendekat, hanya untuk mengancam dengan gerak tubuhnya, bahwa ia cukup tertarik dengan wanita asing tersebut.

"Lalu bila aku menyuruhmu menari striptis sekarang juga dengan bayaran yang bahkan dapat melunasi hutangmu dengan satu kali cicilan, apakah kau akan bersedia?" Sasuke melontarkan pertanyaan itu dengan nada dingin dan sorot mata yang mengancam, onyx gelapnya seakan hendak menelan Tenten kedalam lautan jiwa yang tak berdasar.

"Sayangnya aku tidak serendah itu, tuan".

Sasuke mendecih lalu tertawa dengan gestur merendahkan. "Nikmati saja sisa hidupmu dalam mansionku yang megah ini". Ia hendak berlalu pergi lagi, sebelum gadis itu mencegah dengan kalimat-kalimat lain yang cukup kontroversional ditelinganya.

"Mansionmu? Kau cukup sombong dengan harta yang kau miliki saat ini, padahal kau bisa mendapatkan semua ini hanya karena kau cukup beruntung terlahir sebagai seorang yang menyandang marga elit di belakang namamu!". Kesalahan besar, nona. Karena kau telah membangunkan sisi liar yang sedang tertidur dalam diri seorang Uchiha Sasuke.

Pria itu berjalan kearah Tenten, terus mendesak gadis itu mundur hingga punggungnya menabrak dinding dibelakangnya. Sedangkan kedua sisi kepalanya terkunci oleh kedua lengan Sasuke. Pria itu menatapnya dengan tajam dan dingin, posisi yang membuat siapa saja seharusnya bergidik ngeri jika mereka menjadi seorang Tenten.

"Perkataan yang bagus, nona. Kau tidak tau dengan siapa kau berbicara. Hidupmu ada ditanganku dan kuharap kau tidak perlu berbuat macam-macam untuk menyelamatkan sisa hidupmu setelah malam ini. Karena apapun yang akan kulakukan padamu, takkan ada yang peduli apalagi menyelamatkanmu. Kau adalah milikku"

Jantung Tenten berdesir kencang, sebagian besar karena takut, dan sisanya lagi karena benci. Ia balik membalas tatapan mata tajam itu seolah tak gentar. Tak membiarkan sang pengintimidasi untuk membaca ketakutan dimatanya.

"aku tak takut" Tenten berucap tanpa gentar, meskipun suaranya parau seperti hampir menangis. Ia tetap memperlihatkan keberaniannya, matanya terus membalas tatapan tajam yang dilontarkan majikannya tersebut.

"Kita lihat seberapa beraninya kau".

Sasuke semakin mendesak tubuh Tenten ke tembok dibelakangnya, tak menyadari bahwa nyali mangsanya semakin menciut, ia tetap bersikukuh untuk memberi gadis ini pelajaran. Agar esok-esok mulutnya tak lagi selancang saat ini. Sedangkan Tenten yang berusaha menghindar tak bisa lari kemana-mana saat dirinya sudah terjebak seutuhnya. Apa yang sebenarnya hendak dilakukan pria gila dihadapannya ini? Siapapun tolonglah selamatkan Tenten sekarang.

Tanpa diduga tanpa disangka, entah apa yang merasuki pikiran Sasuke saat itu, ia malah memberi Tenten sebuah pelajaran pertama berupa ciuman dibibirnya. Gadis itu sungguh shock, tapi begitupula dengan Sasuke sendiri yang merutuki pilihan bodohnya untuk mencium pelayannya sendiri. Menurutnya ini adalah perilaku rendahan yang telah diperbuatnya. Tenten meronta-meronta, berusaha melepaskan diri dengan menggeliat-geliat dengan sekuat tenaga, namun apa yang dilakukannya adalah sia-sia karena Sasuke adalah seorang lelaki yang tenaganya tak bisa ia imbangi.

Sasuke semakin menekan kepalanya, tak peduli gadis dibawahnya melenguh-lenguh karena kehabisan oksigen. Setelah beberapa detik kemudian ia pun sudah kehabisan pasokan udara dan terpaksa melepaskan pagutannya. Mereka berdua terengah-engah dengan wajah memerah karena marah dan kesal, dan juga malu bagi Tenten. Gadis itu menubruk tubuh majikannya dan pergi berlari menuju asrama tanpa sekalipun menoleh kearah tuannya lagi. Sementara Sasuke tersenyum sinis, karena telah berhasil mengerjai gadis polos itu. Ia senang ketika memainkan wanita dan membuat mereka semua tergila-gila akan pesonanya, ketagihan akan dirinya.

Rasakanlah itu, kau akan mulai jatuh cinta padaku dan merasa candu akan diriku. Sasuke berpikir dengan penuh kepercayaan diri. Sebelum ia berbalik arah, sekilas pria berambut raven tersebut menyentuh bibirnya, entah kenapa ada rasa manis yang membuat ia berpikir bahwa dirinya mungkin sudah gila.

TO BE CONTINUED

Sekali lagi terimakasih bagi para Silent Rider maupun yang mengapresiasi fanfic ini dengan sebuah review. Chapter kali ini menjadi semakin pendek dan mungkin untuk seterusnya pun akan begitu :'D saya sadar bahwa ini cerita udah berdebu sekali dan bahkan saya pun lupa akan plot awalnya #PLAK. Bagi yang ingin mengobrol atau tanya-tanya sama saya boleh melalui PM (emang ada yg mau?) mau curhat juga boleh kok hihi^^ Akhir kata silakan menunggu lagi sampai jangka waktu yang belum dipastikan huahahaha *ketawajahat*. Dan jangan lupa Om Review om :v