Typo's Everywhere. Sedikit OOC. Alur yang entah lambat entah cepat(?). Dicicil dulu sedikit demi sedikit jadi chapternya masih pendek :'V terimakasih yang sudah mau menunggu cerita abal ini =D.
Selamat Membaca^^
Chapter 3
Gadis-gadis yang lain langsung mengerumuni Tenten begitu ia memasuki ruangan kamar dengan mata sembab dan berair. Langsung saja mereka membanjiri Tenten dengan pertanyaan-pertanyaan yang malas dijawab olehnya. Ia hanya menjawab sekenanya bahwa matanya baru saja kelilipan kumbang. Jawaban yang membuat sebagian melongo sambil berpikir 'emangnya bisa?'.
Laki-laki itu, kurang ajar. Dia seenaknya saja mencium Tenten dan merebut ciuman pertamanya yang selalu di khayal-khayalkannya akan diberikan kepada sosok pemuda yang dicintainya dan melakukannya dengan lembut. Bukan dirampas dengan paksaan dan ancaman. Ini adalah pelecehan. Tenten tidak terima! Ia harus menuntut laki-laki sombong itu untuk memberinya pelajaran agar lebih menghargai wanita. Uhh tapi Tenten bisa apa? Diberi makan teratur tiga kali sehari dan dapat tempat bernaung yang layak saja seharusnya sudah membuatnya bersyukur. Apalagi pekerjaan yang diterimanya sebagai seorang 'babu' hanyalah pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang ringan, dengan jumlah pelayan yang banyak, beberapa pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan bahkan sudah dikerjakan oleh pelayan lain tanpa disadarinya, memaksa dirinya untuk menjadi setengah menganggur karena semua pekerjaan telah diselesaikan oleh pelayan lain. Ya tak apa lah, anggap saja ciuman itu sebagai tanda terimakasih. Hanya sebatas satu ciuman semestinya tak perlu dipermasalahkan.
.
.
.
"Sebaiknya aku segera kembali ke Suna. Sepertinya keadaan perusahaanmu sudah kembali stabil. Lagipula jika nanti kau sudah menjadi anggota organisasi perusahaan lima negara besar maka akan banyak yang akan membantumu bila menemui kesulitan".
Sasuke menyeruput ocha nya sambil mendengarkan penuturan Gaara yang duduk dihadapannya. Pagi ini langit terlihat lebih cerah, tidak seperti malam tadi. Sebenarnya Sasuke tidak terlalu fokus pada apa yang dikatakan tuan muda Sabaku tersebut. Ia lebih memikirkan istirahatnya yang terganggu sepanjang malam. Mungkin ini karena... ahh ia sudah pasti tidak mau mengakuinya dengan lapang dada. Uchiha memang selalu menomorsatukan egonya.
"apa kau mendengarkanku?". Pertanyaan dingin dari Gaara terpaksa membangunkannya dari mimpi buruk yang menyamar sebagai lamunan panjang.
"tentu. Kau bisa kembali kapanpun kau mau". Jawab Sasuke sekenanya.
Mereka terdiam lagi. Perbincangan antara Sabaku dengan Uchiha memang sangat minim, paling banyak mungkin sepatah atau dua patah kata yang disusun dalam kalimat-kalimat pendek satu sama lain. Kecuali bila tatapan-tatapan dingin yang saling bertubrukan itu dapat dihitung sebagai perbincangan. Mungkin memang perbincangan, namun hanya bagi orang-orang seperti mereka saja.
"aku memikirkan tentang sesuatu" Gaara membuka suaranya lagi, sama sekali belum menyentuh teh yang dijamu oleh tuan rumahnya, mungkin ia takut Sasuke menaburkan bubuk sianida atau semacamnya kedalam cangkir teh tersebut.
"pikirkan apapun sesukamu. Aku tak peduli" Sasuke merespon dengan tajam dan menohok.
Gaara ingin saja langsung to the point bicara dengan lelaki keras kepala dihadapannya ini. Semenjak ia pertama kali datang kesini, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sejak hari itu pun ia selalu diam-diam memperhatikannya jika tak sengaja menangkap sosoknya yang berkeliaran disekitaran rumah ini.
"gadis itu, salah satu pelayanmu yang baru tiba beberapa minggu lalu" pria berambut merah bata tersebut memulai untuk berbasa-basi.
Sasuke langsung mengalihkan manik obsidiannya kearah lawan bicara, kelihatan sekali ia mendadak jadi begitu antusias entah karena penasaran atau sesuatu yang lain. Melihat respon majikan rumah yang sepertinya telah terpancing dengan kalimatnya, Gaara kembali melanjutkan.
"sebenarnya aku mengenalnya. Ia dulu bekerja di cafe ayah".
"apa peduliku?" Sasuke menyahut dengan ketus.
Gaara tidak mempedulikan pria dungu yang egonya menembus langit tersebut. Ia tetap melanjutkan lagi. "dia adalah cinta pertamaku".
Sasuke mendelik dan hampir saja tersedak liurnya sendiri. Syukurlah ia cepat menguasai diri dan memiliki pertahanan yang bagus terhadap topeng wajahnya yang tidak mudah dipecahkan begitu saja.
"itu bukan urusanku" nadanya terkesan tidak tertarik dan dibuat sedatar mungkin.
"baguslah. Dengan begitu aku bisa membawanya pergi" kali ini Gaara memberanikan diri untuk menyeruput ochanya yang hampir dingin.
Pria bermata onyx dihadapannya masih tidak bergeming. Sebenarnya Gaara dan Sasuke adalah teman semasa sekolah, dari sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah atas mereka selalu ditempatkan pada sekolah yang sama, belajar satu atap selama belasan tahun. Karena Uchiha dan Sabaku merupakan salah satu keluarga sukses dan menempati jajaran pemimpin-pemimpin perusahaan top di negara masing-masing, mereka harus mendapatkan yang terbaik, termasuk pendidikan. Dan hanya ada satu sekolah berpendidikan paling layak yang dinilai tepat untuk menampung anak-anak konglomerat, sehingga sekolah itu seakan menjadi tempat berkumpulnya keturunan dari orang-orang songong dengan jabatan tinggi yang berpengaruh.
Selama tahun-tahun kebersamaan mereka berdua dimulai, Sasuke dan Gaara resmi dinyatakan sebagai sepasang rival. Apapun yang dimiliki Gaara harus ada juga di tangan Sasuke. Begitupun sebaliknya, apa yang ada pada Sasuke, pasti akan menjadi milik Gaara juga. Mereka berdua tenggelam dalam obsesi untuk menjadi yang nomor satu. Berlomba-lomba agar jadi yang terbaik dan berusaha untuk saling menjatuhkan. Semua tahu bahwa mereka berdua memiliki pengaruh yang sama besarnya, kekayaan dan reputasi yang sama, seolah seri. Tak ada yang benar-benar kalah ataupun menang.
Namun berkebalikan dengan keturunannya yang bak anjing dan anjing (karena anjing dan kucing mungkin terlihat jauh perbedaannya), Sabaku dan Uchiha Senior malah sama-sama mendukung dengan sangat baik. Para senior bekerjasama untuk meraih keuntungan dan kejayaan, sehingga kedua anak mereka selalu seimbang dan sama kuatnya. Hal ini jugalah yang mendasari Gaara untuk pergi berdiam di Uchiha Mansion dikarenakan mendapat titah langsung dari ayahnya untuk membantu perusahan partner kerjanya yang hampir goyah. Dan secara tak langsung memerintahkan Gaara untuk menjalin pertemanan dengan rival abadinya tersebut. Hal yang awalnya sangat ditentang oleh Gaara dan ditolaknya dengan mentah-mentah. Namun setelah dipikir-pikir ulang, mungkin pria dengan tato di dahinya itu bisa menemukan salah satu kelemahan Sasuke untuk menjatuhkannya.
"kau pikir siapa dirimu? Dengan seenaknya mau membawa pergi sesuatu yang telah menjadi milik orang lain".
Aura disekitar mereka mulai terasa pekat. Di minggu pagi ini seharusnya mereka tidak perlu berdiskusi dengan serius mengingat ini adalah salah satu hari libur yang menyenangkan.
"milikmu? Jangan mengklaim sesuatu dengan sembarangan bahwa itu adalah milikmu".
"sesuatu yang berada disini, ditempat ini semuanya adalah milikku. Ini daerah kekuasaanku. Jika kau ingin pergi dengan membawa salah satu milikku, kau hanya membuang-buang waktumu untuk memimpikan hal yang takkan terjadi".
Mereka berdua bertatap-tatapan seolah melihat musuh bebuyutan satu sama lain. Dari kecil tak ada yang benar-benar ingin mengalah. Keduanya harus selalu menang. Uchiha selalu mendapatkan apa yang dimiliki oleh Gaara, dan Gaara harus mendapatkan apapun yang menjadi milik Sasuke. Mereka selalu berhasil mengungguli satu sama lain. Ketampanan? Popularitas? Jabatan? Kejayaan? Semuanya berhasil diraih keduanya dalam genggaman tangan mereka. Namun kali ini, bagi mereka yang sudah semakin dewasa, mereka sama-sama ingin mendapatkan wanita yang salah. Sasuke tidak benar-benar ingin peduli. Ia tidak peduli Gaara mau berkencan dengan wanita mana saja entahpun itu pelayan di rumahnya sendiri, sungguh ia tidak peduli apapun yang berkaitan dengan wanita. Namun kali ini Sasuke sepertinya menjadi selangkah lebih kedepan jika berhasil memiliki sesuatu yang Gaara inginkan, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Gaara. Ia akan membuktikan bahwa sebenarnya ialah pemenang yang seharusnya. Ia seolah mendapatkan jackpot!.Sebuah bola lampu mendadak menyala diatas kepala Sasuke. Gaara akan menelan mentah-mentah kekalahannya sendiri.
.
.
.
"Hei Tenten".
Gadis bercepol dua yang sedang membenahi letak lukisan-lukisan yang miring menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
"ya, Karin?" sahutnya, menoleh pada seorang gadis berambut merah terang dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Gadis itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lukisan dinding yang ada dihadapannya.
"menurutmu Sasuke-sama orangnya seperti apa?" tanya Karin, pipinya bersemu merah.
"eh?"
Tenten tersentak kaget, dalam pikirannya terlintas tiga kata untuk menggambarkan majikan mudanya tersebut: sadis, egois, pemaksa. Ia langsung menjawab dengan cepat. "tiga kata!". Membuat Karin terheran-heran.
"tiga kata?"
"eh, maksudku Sasuke-sama memiliki tiga sifat yaitu ramah, bijaksana, dan pekerja keras" Tenten tersenyum manis, tidak sungguh merelakan lidahnya menyebutkan perkataan bohong tersebut.
"menurutku, ia itu tampan".
Karin semakin mengamati lukisan tersebut tanpa henti, membuat Tenten penasaran lukisan apa yang sedang diamatinya? Tenten mendekat, melihat sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding. Lukisan itu menampilkan seorang pria yang sedang berfoto dengan gaya aristokrat. Matanya menatap tajam siapapun yang melihat lukisan ini. Wajahnya sungguh angkuh, namun benar apa yang dikatakan oleh Karin. Ia sungguh tampan. Sasuke Uchiha.
"benar kan?" Karin mengedipkan sebelah matanya dengan genit kearah Tenten.
"hei Karin, kau...apakah kau menyukai Sasuke-sama?".
"bagaimana ya? Daripada suka, mungkin lebih bisa dibilang kagum" ia berseri-seri. Lanjutnya lagi "lagipula aku juga tak terlalu bodoh untuk mengharapkan Sasuke-sama. Ia takkan pernah menoleh pada gadis-gadis seperti kita yang hanya sekedar pelayan dirumahnya. Pasti tipe Sasuke-sama adalah seorang selebriti, model, atau dokter yang sukses".
Tenten begitu heran entah apa yang dikagumi dari sosok pria arogan macam Sasuke. Jika hanya sekedar ketampanannya, ia pun bisa menyaksikan lebih banyak lagi pria-pria tampan di seluruh jepang. Benar apa yang dikatakannya semalam, bahwa Sasuke hanya beruntung terlahir sebagai seorang Uchiha dengan wajah tampan dan memiliki segala yang ia mau. Uangnya sungguh tak terkira lagi, jabatannya kini sudah yang paling tinggi di perusahaan Uchiha. Wanita-wanita pun berebut untuk mencuri perhatiannya. Popularitas tak perlu ditanya lagi, beragam jajaran majalah terkenal seringkali membahas pemimpin muda ini dan kharismanya yang sungguh mempesona. Kalau saja kejadian malam tadi tak pernah ada, mungkin gadis itu sudah menjadi salah satu penggemar rahasianya.
Karin dan Tenten berjalan beriringan di lorong-lorong mansion yang panjang. Hingga mereka berdua berpapasan dengan pria berambut merah itu. Karin berhenti sejenak dan membungkukkan tubuhnya ketika Gaara berjalan melewati berdua, menyadari bahwa itu merupakan salah satu tamu tuannya. Sementara Tenten malah menahan napasnya, ia membeku ketika Gaara hanya sekedar melewatinya tanpa sedikitpun menoleh kepadanya. Gadis itu hanya terdiam ketika Karin mengajaknya melanjutkan perjalanan dan bertanya-tanya kenapa Tenten tidak ikut membungkuk ketika Gaara lewat dihadapan mereka berdua.
"kau yang disana" suara Gaara terdengar dari balik punggung Tenten dan Karin. Mereka berdua sontak menoleh kebelakang.
Gaara terlihat menatap Tenten dengan pandangan yang tak bisa diartikan. "aku butuh bantuanmu sebentar" ujarnya dengan suara yang direndahkan. Menyadari bahwa tatapan mata Gaara hanya tertuju pada Tenten, Karin segera membungkuk sekali lagi dan bersiap untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
"kalau begitu aku duluan ya, Tenten" pamit Karin sebelum gadis itu benar-benar pergi.
Gaara dan Tenten berjalan bersisian menuju gazebo tempat mereka bertemu pertama kali di kediaman Uchiha. Pondok kecil yang letaknya dekat ladang mawar milik Sasuke. Mereka berdua terlihat canggung dan berjalan dengan kaku.
"a-apa yang bisa saya bantu untuk anda?" tanya Tenten berusaha sesopan mungkin.
Gaara mendudukkan dirinya di sebuah bangku kayu di depan pondok, sementara Tenten hanya berdiri didepannya dengan kepala yang ditundukkan.
"duduklah. Tak perlu seformal itu. Aku sedang tidak membutuhkan bantuan apa-apa".
Mendengarnya, Tenten mendekat dengan ragu-ragu kearah Gaara dan duduk di sampingnya. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Kebekuan yang menyelimuti mereka membuat Tenten khawatir bila Gaara dapat mendengar suara degupan jantungnya yang berdentum-dentum dengan keras, seperti loadspeaker keyboard.
"aku sudah mendengarnya" gumam Gaara. Suara beratnya mengalir di udara dengan pelan, memecah keheningan diantara mereka berdua.
Tenten masih diam. Gadis itu hanya memainkan jari-jari tangannya dengan gugup. Ia tahu Gaara pasti membicarakan soal alasannya berada disini saat ini. Tentang hutang-hutang itu, jadi Gaara sudah mengetahuinya.
"aku bisa membicarakan ini dengan Sasuke agar kau tak perlu berada disini lagi".
Mata coklat milik Tenten membulat terkejut ketika mendengar penuturan dari Gaara. Apa yang dimaksudkannya? Apa ia ingin membebaskan Tenten dari sini? Apakah Gaara yang akan menebus semua hutang-hutangnya?
"apa maksud anda Gaara-sama?" tanya gadis itu dengan hati-hati.
"aku bisa membicarakan ini dengan Sasuke. Kami sudah berteman sejak sekolah dasar. Ini hanya tentang hutang-hutangmu kan? Aku bisa membantumu untuk melunasinya."
Tenten terdiam lagi. Ia mencerna baik-baik tawaran yang diberikan oleh Gaara. Dalam hati kecilnya ia sungguh ingin menerima bantuan tersebut dan segera keluar dari sini, menjalani hidup dengan normal lagi. Mencari keberadaan ayahnya. Namun ia sungguh merasa malu. Ia malu pada dirinya sendiri yang tidak bisa membantu ayahnya dengan usahanya. Ia malu membuat oranglain merasa kasihan padanya sehingga tergerak untuk menolongnya. Ini benar-benar memalukan.
"anda tidak perlu berbuat seperti itu untuk membantuku, Gaara-sama." Kilah Tenten dengan cepat.
"aku sudah terlalu banyak menerima kebaikan dari anda. Sebelumnya aku sangat berterimakasih."
"tak perlu sungkan. Aku menolongmu dengan sepenuh hati. Aku akan sakit jika kau menolak niatku ini."
Ia tidak yakin atas apa yang didengarnya saat ini. Hanya saja Tenten tak ingin menyusahkan pria ini lebih banyak lagi. Kebaikan yang diberikan Gaara padanya sudah cukup banyak membantunya. Ia tak ingin berhutang budi.
"aku hanya tak ingin menyusahkan anda lebih banyak. Aku juga tak ingin berhutang budi dan merasa bersalah di sepanjang sisa hidupku karena tidak akan bisa membalas seluruh kebaikan anda."
"aku tak meminta balasan apapun darimu. Aku senang bisa membantumu."
"terimakasih atas tawarannya yang sungguh berharga, tapi aku sungguh ingin menjadi berguna bagi ayahku dan membantunya dengan usahaku sendiri. Terimakasih Gaara-sama sudah mau repot-repot memperhatikanku. Anda sungguh baik."
Gaara tertegun. Tenten memang seorang gadis yang luarbiasa. Itulah yang membuat pria ini jatuh cinta padanya. Dulu saat Tenten masih bekerja di cafe nya, ia paham betul jam berapa Tenten akan datang dan bersiap-siap membenahi cafe. Gaara hafal logat bahasa Tenten ketika menyambut pelanggan di pintu depan, ia hafal nada yang dilontarkan gadis itu ketika sedang serius maupun bercanda. Ia suka melihat perubahan airmuka Tenten ketika terjadi sesuatu yang menyenangkan. Ia tahu bahwa Tenten sangat menyukai kue rasa moka karena gadis itu sering menyisihkan kue moka selepas makan siang. Bagaimana senyuman Tenten ketika gadis itu kelelahan sehabis melayani pelanggan yang kelaparan, Gaara hafal semua itu. Gaara merindukan semua itu, senyuman itu. Ia merindukan gadis yang ada dihadapannya saat ini. Ia begitu merindukannya hingga ia ingin membawa Tenten kembali pulang. Ia merindukan Tenten.
"begitu. Aku menghargai pendapatmu." Ucap Gaara dengan lirih.
Tenten berdiri ke hadapan Gaara dan membungkuk 90ยบ. "sekali lagi terimakasih banyak, dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada anda Gaara-sama."
Gaara menyentuh kedua bahu Tenten, meminta gadis itu untuk menegakkan diri kembali. Ia menatap mata cokelat meneduhkan tersebut. Mata yang begitu dirindukannya.
"hei tak perlu sampai seperti itu. Kau tau, cafe sepi tanpa dirimu."
Tenten menatap mata hijau pudar milik Gaara, mata yang indah. Sedetik kemudian gadis itu langsung menundukkan pandangannya lagi. Ia tak tau kalau cafe menjadi sepi pelanggan sejak dirinya tidak ada. Tentu saja 'sepi' yang dimaksudkan Gaara disini bukan sepi pelanggan, pengunjung cafe masih selalu ramai seperti biasa. Jenis 'sepi' yang dirasakan Gaara adalah jenis yang lain.
"ya kurasa sehabis darisini kita mungkin harus saling melupakan." Imbuh Gaara.
Tenten terdiam sejenak, kemudian menatap mata Gaara lagi. "saling melupakan?".
Gaara mengangguk antusias. Membuat Tenten bertanya-tanya apakah pria baik ini telah kecewa padanya? Apakah Gaara marah pada dirinya?
"apakah maksud anda, selepas ini kita tidak akan saling mengenal lagi?" gadis itu bertanya ragu-ragu. Terselip nada kekecewaan yang begitu besar dalam suaranya, dan mata cokelat indah itu meredup.
"bukan itu yang kumaksudkan." Gaara menyentil dahi Tenten sambil tertawa kecil. Pemandangan yang sangat langka, bahkan tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ia menjadi takjub sejenak.
"maksudnya mungkin kita harus saling melupakan bahwa aku pernah menjadi bos dan kau pernah menjadi pelayannya. Itu semua hanya masalalu dan sekarang kau sudah cepat sekali move on mendapatkan bos yang baru, sedangkan aku masih belum bisa menemukan penggantimu, tidak ada yang bisa menggantikanmu." Ucap Gaara panjang lebar sambil tersenyum simpul.
Tenten terdiam. Maksud dari perkataan Gaara mungkinkah? Tapi mana mungkin. Pasti maksudnya Gaara belum bisa menemukan pelayan untuk menggantikan posisi Tenten di cafe, mungkin belum ada yang mengirimkan surat lamaran. Pasti seperti itu kan.
"baiklah Tenten. Senang dapat berbicara denganmu lagi."
Gadis itu cepat-cepat menjawab, "begitupun dengan saya Gaara-sama."
"aku ingin sering-sering mengunjungimu, tapi sepertinya tuan rumah mungkin akan marah jika aku melakukan itu." Ujarnya dengan nada kecewa dibuat-buat.
"kalau begitu sampai bertemu lagi kapan-kapan."
Gaara kembali tersenyum kecil dan mengusap puncak kepala Tenten hingga akhirnya ia berjalan menjauh. Meninggalkan Tenten yang hanya bisa melihat punggung itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
To Be Continued
Sekali lagi terimakasih yang banyak saya haturkan buat teman-teman yang sudah mereview dengan sepenuh hati :'D Jelliesdewi, Nazliahaibara, Ran Megumi, Shikadaii, Upil Akamaru, Akira-ken, .5, Satennejyp, Shin-chan, ChocolateHazelnut, reza oktavia, dedeq seokyu, yamanaka tenten, Alociha-chan, GonokiRin, Taomio, Rahasia, Guest, Leepah764, Silverberg Norn, Hyota Sasara, Uchiha Nuari, Marin Choi, Kyulennychan, ayu mut cilllll, liepah, Yong soo Kim, dan seluruhnya silent reader yang pernah singgah untuk membaca. Terimakasih XD, mohon bantuannya agar kedepannya dapat menjadi semakin baik lagi, akhir kata Silakan berkomentar lagi tentang chapter kali ini :D
