Sebelumnya saya mau menegaskan bahwa isi cerita didalam fanfiksi ini bukanlah hasil plagiat, oke karena fandom ini ada ratusan ribu judul diluar sana, tidak mustahil banyak yang ide ceritanya nyerempet satu sama lainnya. Tapi saya tegaskan sekali lagi, bahwa meskipun karakter hero dan heroine nya sama, bukan berarti saya melakukan plagiat. Karena jikapun saya ingin memplagiat, pasti akan terlalu mencolok jika saya menjiplak karya yang menggunakan karakter yang sama. Lagipula jika boleh jujur saya belum pernah membaca fanfiksi dengan main pair Sasusaku, jadi ini murni hasil dari pemikiran saya sendiri. Terimakasih baaaaanyaakk yang sudah mau repot-repot review, komentar kalian akan selalu menggerakkan hati saya untuk kembali on writing:*

CHAPTER 4

Tidak terasa sekarang sudah memasuki hari jumat, dan besok adalah hari Sabtu, hari yang sangat dihindari Sasuke karena besok adalah acara peresmian sekaligus hari dimana Sasuke akan memperkenalkan calon mempelai wanitanya kepada khalayak umum. Ia sudah merencanakan hal ini dari awal. Semua sudah disusun dengan matang dan akan berjalan sesuai rencananya. Sejak hari itu, hari dimana Gaara menuturkan rahasianya tentang gadis bercepol dua tersebut, sejak hari itu pulalah Sasuke selalu merasa bahwa dirinya kini berada selangkah lebih diatas daripada Gaara. Sasuke juga merasakan sesuatu yang mengganjal di benaknya. Ia sulit tidur malam dengan nyaman, ketika memejamkan mata ia melihat sesuatu yang mungkin bisa membuatnya gila. Ia merasa ketagihan akan sesuatu. Entah kenapa ia sangat tidak mau mengakuinya dengan mudah, namun gadis itu dan kejadian yang terjadi dimalam itu membuatnya berpikir bahwa ia telah kecanduan. Gadis itu seperti morfin dan ia menginginkannya lebih.

Sasuke tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Sebelumnya ia telah banyak mencium wanita-wanita yang lebih seksi dan menggoda, namun ia tak pernah menginginkan para wanita itu. Ia tak pernah menginginkan mereka seperti ia menginginkan gadis itu saat ini. Sasuke ingat bagaimana ekspresi wajah ketakutannya yang dibuat seolah-olah begitu berani dan menentang Sasuke. Sasuke menginginkannya, ciuman itu. Untuk sekali lagi saja.

SKIP Langsung ke hari H (Sabtu) :D

Sore ini Tenten sukses dibuat terheran-heran, pasalnya seorang wanita yang mengaku sebagai penata rias artis tiba-tiba saja muncul di depan asrama kamarnya. Wanita tersebut memang terlihat modis dan cantik meskipun kelihatannya sudah cukup berumur. Ia dengan seenak jidatnya saja menyeret Tenten memasuki sebuah kamar yang cukup megah di lantai dua Mansion Uchiha.

"Perkenalkan, aku Tsunade. Profesiku adalah menata rias model dan selebriti. Tapi malam ini Sasuke sialan itu secara tidak langsung berhasil memerintahku untuk menjadi penata rias pribadinya selama satu hari ini dan membatalkan semua kontrak kerjaku untuk satu hari ini. Karena uang yang ditawarkannya lebih besar daripada gaji yang dibayarkan untuk mengontrak jasaku ini"

Wanita berambut pirang tersebut berceloteh dengan nada sombong, meskipun terlihat bahwa ia benar-benar wanita matre. Namun sepertinya ia sudah kenal dekat dengan Sasuke.

"Maafkan saya, tapi apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Tenten pelan-pelan, takut salah bicara.

"Duh kau itu polos sekali sih. Aku sampai ragu apa benar kaulah orangnya?" Tsunade bersungut-sungut sambil membuka pintu lemari kayu besar yang ada di kamar tersebut.

Pintu lemari yang terbuka lebar menampakkan isi lemari yang setengah melompong, namun terlihat beberapa jenis gaun tergantung dengan rapi disana. Tsunade kemudian membuka sebuah koper besar miliknya yang didalamnya memuat barang-barang seperti make up, beberapa pasang sepatu high heels yang tumitnya super tinggi, hiasan-hiasan rambut dan berbagai alat-alat kecantikan salon yang tidak dimengerti oleh Tenten.

"Tenten, kan? Kau lihat gaun-gaun di lemari itu?". Tsunade menunjuk isi lemari yang terbuka lebar. Tenten mengangguk dengan polos.

"Itu adalah gaun yang dipesan Sasuke beberapa hari lalu. Aku memilihkan beberapa yang mungkin akan cocok untuk dipakai oleh gadis polos sepertimu. Budget yang dikeluarkannya untuk ini pun tak murah karena ia memerintahku agar mengatur semuanya untukmu. Jadi tak lain dan tak bukan, seluruh gaun itu adalah milikmu". Tsunade menuturkan dengan santai sambil menata beberapa isi koper yang berantakan.

"Untukku?"

Gadis itu benar-benar heran dan kebingungan, apa yang hendak dilakukan Sasuke dengan memberinya begitu banyak gaun-gaun yang kelihatannya sepantaran dengan para model dan selebriti ini? Pakaian-pakaian itu sangat seksi dan terbuka sehingga amat tidak cocok dengan kepribadian dirinya. Ia langsung terkejut setengah mati ketika sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Apa jangan-jangan Sasuke akan menjualnya?

"Nah kita mulai dengan memoles wajahmu yang lugu itu".

Tenten berpura-pura pasrah, ia telah menyusun rencana-rencana melarikan diri didalam kepalanya. Ia akan membiarkan Tsunade mendandaninya dan membawanya bertemu dengan om-om dan lelaki hidung belang atau semacamnya. Dan saat itulah kesempatannya untuk melarikan diri. Karena jika masih berada dalam kawasan Mansion ia takkan memiliki kesempatan sedikitpun untuk melarikan diri. Gadis itu sudah membulatkan tekadnya.

Tsunade mulai memoles wajah Tenten dengan riasan-riasan natural. Ia akan membuat wajah polos Tenten terlihat mewah dengan peralatan make up mahalnya. Foundation yang tidak terlalu tebal akan memberikan kesan elegan di wajahnya. Sebaiknya memilih warna eyeshadow yang soft sehingga tidak menimbulkan kesan menor. Tsunade juga menambahkan eyeliner diatas bulumata agar tatapan mata Tenten terlihat runcing dan tajam. Menambahkan Blush on berwarna peach sangat cocok untuk kulit wajah yang putih seperti Tenten.

Dan seekor itik buruk rupa pun kini disulap menjadi angsa putih yang cantik. Kekuatan make up memang mengerikan. Tenten masih belum diperbolehkan melihat cermin hingga seluruh penampilannya selesai. Kini giliran Tsunade menata rambut coklat Tenten. Ia membuatnya terlihat anggun dengan menyanggul rambutnya kebelakang dan sebagian rambut yang dikepang sengaja digelung keatas, sisanya dibiarkan jatuh dikedua sisi pipinya dan membingkai wajah imutnya. Tsunade juga menyematkan sebuah jepitan rambut berwarna perak di atas telinganya.

Sekarang beralih ke dress. Karena ini acara formal, sebaiknya gaun yang digunakan tidak terlalu terbuka. Terdapat berbagai macam pakaian dengan warna beraneka mulai dari warna gelap seperti hitam hingga warna-warna nyentrik seperti merah. Namun pilihan Tsunade kali ini jatuh pada gaun panjang berwarna soft peach dengan belahan dada yang tidak terlalu rendah dan ukiran brokat bunga pada bagian dada hingga ke pinggangnya. Karena kulit Tenten tidak terlalu putih maka warna gaun yang lembut seperti ini akan lebih cocok dikenakannya. Gaunnya terlihat begitu pas di tubuh Tenten yang mungil hingga membentuk lekukan-lekukan tubuhnya yang seperti gitar spanyol.

"Awalnya aku pikir Sasuke hanya main-main ketika menyuruhku menjemputmu di asrama pelayan, namun setelah melihat penampilanmu yang seperti ini..." Tsunade bersiul nakal.

"Tak kusangka ia menyukai tipe yang lugu dan polos seperti kau."

Wanita setengah tua itu tertawa untuk menggoda Tenten yang pipinya kini sudah semerah apel matang. Tsunade beralih ke koper besarnya dan tampak memilah-milah sesuatu. Ia mengeluarkan beberapa pasang high heels berwarna gelap, namun sepasang sepatu hitam dengan tumit tidak terlalu tinggi cukup menyita perhatiannya.

"Nah, dari tampilanmu yang nampak lugu ini, sepertinya kau tidak mahir berlenggak-lenggok diatas sepatu dengan tumit tinggi. Aku benar?"

Tenten mengangguk malu-malu ketika Tsunade menyodorkan sepatu itu didepan kedua kakinya. Dengan telaten wanita itu memasangkan tali sepatu yang memang didesain melilit di pergelangan kaki si pemakai.

"Meskipun kau tidak mahir memakai high heels, namun aku yakin kau masih bisa berjalan dengan normal diatas sepatu ini. Baiklah. Penampilanmu memang sudah sempurna, tapi kau butuh semacam tas tangan untuk melengkapinya malam ini."

Tsunade memberikan tas kecil berwarna nude yang tampak elegan dengan hiasan-hiasan sederhana, persis seperti Tenten itu sendiri.

Setelah mereka berdua selesai tepat pukul tujuh malam, Tsunade dan Tenten digiring oleh salah satu pelayan laki-laki ke halaman depan Mansion Uchiha. Disana telah menunggu dua buah mobil yang telah siap berangkat. Supir dari salah satu mobil itu keluar dan membantu membawa koper-koper besar milik Tsunade. Sementara dari mobil yang satunya lagi, muncul lah seseorang yang sangat ingin dihindari Tenten meskipun dengan balutan tuxedo resminya orang itu seolah berkali-kali lipat lebih tampan, namun Tenten tetap berusaha menolak pesona itu.

"Tidak buruk." Sasuke bergumam pelan kearah Tsunade ketika mereka menghampiri.

"Tentu saja. Berkat bakatku ini, bahkan nenekmu pun bisa ku sulap menjadi remaja usia 17 tahun lagi."

"Daripada kau mendandani nenekku, lebih baik kau dandani saja dirimu sendiri yang sudah seperti nenek-nenek itu, wanita tua."

"Hei pantat ayam sialan! Seharusnya kau berterimakasih padaku!"

Uchiha Sasuke mengabaikan Tsunade yang berteriak-teriak diwajahnya dan segera memerintahkan sopirnya untuk mengantar wanita itu kembali ke studio pemotretannya. Sebaliknya ia beralih pada Tenten yang kini begitu terlihat memukau dimatanya. Meskipun gadis ini bukanlah konglomerat dan tidak memiliki kecantikan bak selebriti, namun aura yang dimilikinya dapat menjadikan siapa saja terpesona. Sasuke tidak heran jika Gaara menginginkan gadis ini, bahkan mungkin ia pun begitu. Tunggu, apa? Bukankah ia memang telah memilikinya—sebagai pelayan tentunya. Atau apakah kau berharap lebih, Sasuke?

Berbeda dengan Sasuke yang diam karena terpukau, Tenten terdiam karena ketakutan pada pikirannya sendiri yang menyangka ia akan dikirim ke perbatasan negara dan dijadikan sebagai wanita penghibur dengan harga mahal. Dan harga hasil jual dirinya itulah yang akan digunakan Sasuke untuk menebus seluruh hutang ayahnya, bahkan dirinya sendiri merasa pesimis apakah akan ada yang membelinya?

"Masuklah, mungkin kita akan terlambat."

Sasuke menyuruh dengan suara yang datar dan rendah, seperti biasanya. Namun entah kenapa Tenten merasa nada itu sedikit...lembut? Tenten seringkali menonton film-film bertema aksi pada masa sekolahnya dulu, film-film itu tak jarang banyak menampilkan adegan human trafficking dimana para wanita yang diperjualbelikan untuk dijadikan budak tidak pernah diperlakukan dengan hormat atau sopan, mereka akan mendapat pukulan dan tamparan hingga hampir seluruh tubuh mereka habis lebam-lebam. Namun apakah benar Sasuke akan setega itu menjual dirinya?

Didalam mobil itu, suasana sungguh senyap, sampai bahkan suara kedipan mata mereka sendiri bisa terdengar satu sama lain(oke ini berlebihan). Bibir Tenten sudah gatal ingin menanyakan yang sebenarnya, namun kejadian waktu itu entah kenapa membuatnya takut. Ia takut 'diserang' secara tiba-tiba lagi oleh Sasuke.

Perjalanan yang sebenarnya pendek itu berakhir tanpa percakapan sedikitpun, bahkan Tenten ragu apakah Sasuke menganggap dirinya ada didalam sana, dan apakah yang sebenarnya direncanakan oleh pemuda itu ketika Tenten meyadari bahwa mereka berhenti didepan sebuah gedung konferensi terbesar dikota nya. Apa? Mana mungkin dirinya akan dilelang secara terang-terangan didalam sana bukan?

"Ini merupakan acara formal. Dan kau tahu, malam ini kita lah bintanglah. Tepatnya, kau. Jangan membuat masalah dan lakukan sesuai dengan intruksiku."

Setelah sekian lama bergeming, Pemuda itu akhirnya membuka suara. Ia mendesis bagai ular yang penuh dengan ancaman seolah bersiap menyerang bila Tenten membantah sedikit saja. Gadis itu sendiri tidak heran, memangnya ia punya pilihan lain selain menurut?

Mereka turun didepan pintu masuk gedung yang disambut riuh ramai orang-orang yang juga baru saja berdatangan, spanduk besar bertuliskan "Peresmian Perekrutan Anggota Federasi Perusahaan Kelima Negara Besar." Terpampang dengan huruf kapital yang jelas-jelas memberikan penekanan terhadap apa yang terjadi didalam sana. Sebelum mereka benar-benar masuk kedalam, Sasuke mencekal siku Tenten dan memaksa gadis itu berhenti persis didepannya.

"Jika aku membisiki sesuatu, kau harus melakukannya dan jangan pernah jauh dariku. Oh satu hal lagi, jangan membantah sesuatu yang akan kulakukan, ini hanya akting."

Sasuke bicara dengan dingin tepat ditelinga gadis itu yang kini mengkerut dan merinding. Ancamannya begitu nyata dan pemuda ini mungkin tidak benar-benar tahu cara memperlakukan wanita. Tapi Tenten juga cukup tahu diri bahwa Sasuke tidak memperlakukannya buruk didepan umum, apalagi mengingat status sosial mereka yang sangat jauh berbeda. Jadi gadis itu hanya mengangguk sekali, mengiyakan apapun yang akan terjadi malam ini dan menjadi gadis manis penurut. Lagipula yang akan terjadi didalam sana mungkin bukanlah sesuatu yang buruk, sebab begitu melihat acara resmi dan spanduk besar yang terpampang dipintu masuk itu membuat Tenten telah mengenyahkan pikiran negatifnya beberapa saat lalu.

"Bagus. Pertahankan ekspresi wajahmu saat ini."

Tenten hanya menatap ujung sepatunya, beberapa orang yang berdatangan tampak berjubelan dipintu masuk, namun mereka semua berkelas. Gadis itu sadar bahwa ia hanya itik buruk rupa yang dirias dengan rupa angsa, diseret kedalam kelompok angsa yang menari anggun. Tapi itik tetaplah itik, mereka tidak pandai berlenggak-lenggok bagai angsa yang bulunya bermekaran mewah. Sasuke memintanya untuk menjadi angsa dalam satu malam ini saja, bisakah ia? Terlebih jika seorang gadis kecil sepertinya berada dalam kerumunan tersebut mungkin tidak ada yang akan menyadarinya atau kelas sosialnya. Lalu apakah karena ia akan menjadi gandengan milik Sasuke Uchiha yang terkenal seantero Konoha? Mengapa harus ia? Tidakkah Sasuke memiliki kenalan yang lebih berkelas, maksudku bukan seperti Tenten yang begitu sederhana, bersahaja yang bahkan tidak tahu caranya menari dilantai dansa. Oh sial, Tenten harap tidak akan ada acara menari.

"Sebagai permulaan, mari kita awali dengan bergandengan tangan—jangan menyela. Jangan menyela, Tenten."

Tenten barusaja hendak membuka mulutnya untuk protes begitu mendengar intruksi mengenai gandengan tangan, sebelum Sasuke memotongnya lagi dan menekankan telunjuknya dibibir gadis itu. Saasuke tahu Tenten gugup, dilihat dari sisi manapun Tenten bukanlah tipe orang yang bepergian ke pesta dansa atau acara formal lainnya, wajar gadis itu gugup. Tapi tak masalah bagi Sasuke sebab malam ini ia yang akan memimpin, ia yang akan mendominasi. Dan Tenten pastinya tidak akan menjadi masalah jika ia sudah berada dibawah kendali Sasuke.

Mereka berdiri didepan pintu masuk cukup lama, orang lain melihat seolah mereka berdua adalah pasangan yang sedang berdiskusi tentang sesuatu. Dan Sasuke khawatir mereka akan terlambat, masuk kedalam setelah acara utama dimulai akan menjadikan kedatangan mereka sebagai mangsa utama dari berpasang-pasang mata yang liar malam ini, dan Sasuke tidak suka itu. Well walaupun ia memang akan menjadi salah satu jamuan utama, namun ia benci menjadi sorotan jika itu bukan gilirannya.

"Lekas lingkarkan tanganmu di lenganku."

Pria itu membisiki dengan datar kepada gadis yang masih ragu-ragu mengulurkan tangannya. Dengan satu gerakan cepat Sasuke menarik tangan gadis itu dan meletakkannya dilengannya, mengapitnya. Setelahnya mereka berdua berjalan berdampingan dengan Sasuke sebagai inisiatornya.

Keadaan didalam begitu tenang tanpa sedikitpun ricuh-ricuh ramai seperti pesta-pesta rakyat yang biasa didatangi Tenten. Alunan lagu klasik terdengar di penjuru ruangan. Beberapa kubu-kubu wanita tampak membentuk kelompok-kelompok yang mendiami jejeran meja-meja didekat minuman dan makanan, membicarakan mengenai anak tertua mereka yang berhasil mengencani konglomerat muda, atau berlomba-lomba memamerkan tas branded limited edition yang baru mereka beli di luar negeri. Sedangkan kubu pria tampak membicarakan mengenai saham perusahaan, investasi yang meningkat, bursa efek dan hal-hal semacamnya yang sesungguhnya tidak diketahui oleh gadis itu.

Beberapa saat setelah setelah Sasuke dan Tenten masuk kedalam, kerumunan itu menyingkir ke pinggir ruangan, menyisakan lantai kosong ditengah-tengah. Seorang pria yang nampak telah berumur namun penuh kharisma berdiri di tengah-tengah lantai kosong itu, memberi kata sambutan dan kata pembuka untuk meresmikan perekrutan anggota organisasi Persatuan Perusahaan Kelima Negara Besar, ternyata ia adalah Hashirama Senju, penggagas organisasi ini. Perusahaan besar yang bergabung kali ini ialah Uchiha Corporation yang bergerak dibidang ekspor impor elektronik, produk besutan Uchiha sendiri telah mendunia dan merupakan merk dengan permintaan konsumen paling tinggi di negara-negara tetangga nya. Malam ini Uchiha Corporation akan resmi bergabung bersama organisasi Persatuan Perusahaan Kelima Negara Besar, beserta perusahaan-perusahaan kecil lainnya.

Setelah perwakilan dari negara-negara dan orang-orang berpengaruh dalam organisasi selesai memberikan kata sambutan dan kata pembuka, memasuki bagian inti yaitu peresmian bergabungnya anggota baru. Peresmian dilakukan dengan memotong kue besar menggunakan pisau berbentuk katana yang dilakukan oleh founder Uchiha Corporation yaitu Fugaku Uchiha sebagai perwakilan.

Setelah kue terpotong dan pita terlepas, maka Uchiha Corporation bersama perusahaan-perusahaan kecil lainnya yang sedang berkembang telah resmi menjadi anggota dari organisasi Persatuan Perusahaan Kelima Negara Besar. Tepuk tangan meriah terdengar di seluruh penjuru ruangan. Fugaku melanjutkan dengan memberikan pidato singkat, dalam pidatonya ia memberi penutup bahwa anak bungsunya sekaligus CEO Perusahaan akan mengenalkan calon mempelai istrinya kepada seluruh anggota organisasi yang hadir malam itu. Tentu saja hal itu disambut baik oleh semua orang, mereka tersenyum senang meski tidak sedikit yang merasa kecewa karena berharap anaknya lah yang akan disandingkan dengan pewaris saham perusahaan Uchiha tersebut.

Sasuke menggandeng Tenten yang berjalan canggung melewati kerumunan, dan gadis itu seketika merasa menjadi seorang Cinderella yang terlambat datang ke pesta dan menjadi pusat perhatian seluruh orang yang hadir di pesta. Mereka berhenti tepat di tengah-tengah kerumunan, posisi dimana Fugaku berdiri beberapa menit yang lalu.

Berbeda dengan Sasuke yang tenang, Tenten menegang ditempatnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menjadi pusat perhatian orang lain, seolah selama ini ia hanya menjadi pemeran figuran, namun seperti yang telah dikatakan Sasuke tadi, malam ini mereka lah bintangnya. Bukan, tapi Tenten lah bintangnya. Sasuke memang telah menghabiskan hidupnya menjadi orang terkenal dan pusat perhatian banyak orang, ia bukan lagi hal baru. Tapi Tenten lah yang akan menjadi sorotan orang-orang, ia akan dihujani banyak pujian atau bahkan sinisan mengenai posisinya sebagai calon istri dari pemimpin perusahaan elektronik terbesar!

Sasuke membuka suara dengan intonasi yang masih datar namun terdengar elegan. Tidak dipungkiri bahwa pria ini seolah memiliki seluruh keberuntungan di genggamannya. Kekayaan, kejayaan, pamor, ketampanan? Apalagi yang kurang? Ia sempurna. Beberapa gadis yang turut hadir melemparkan tatapan iri terhadap Tenten. Gadis itu bahkan tidak berani memikirkan seperti apa wajahnya saat ini? Ia terus melemparkan senyum canggung yang bodoh dan mengundang beberapa tatapan aneh dari para hadirin.

Acara perkenalan ini sungguh berlebihan Sasuke rasa. Ia menjadi seolah seperti laki-laki yang memamerkan wanita yang belum tentu akan dinikahinya. Kasus seperti ini banyak terjadi sebelumnya pada aktor-aktor terkenal, dimana wanita yang dikenalkannya berbeda, wanita yang bertunangan dengannya berbeda, dan wanita yang dinikahinya berbeda pula. Tentu Sasuke tak menyukai skandal macam itu, meskipun ia terbilang playboy namun semua itu bukan untuk ikatan serius. Dia mungkin tidak akan keberatan jika wanita yang dikenalkannya dan yang akan tunangan dengannya sampai yang menikah dengannya adalah wanita yang sama. Maksudku bukan berarti Sasuke mengharapkan wanita yang dikenalkannya tadi yang akan ia nikahi, ia tidak berniat serius ketika membawa gadis kumuh pelayan rumahnya untuk dikenalkan sebagai calon pendampingnya. Sasuke pikir mungkin sekedar mengenalkannya saja tak masalah meskipun wanita yang akan bertunangan dan menikah dengannya nanti adalah wanita yang berbeda. tapi bukankah wanita yang ini tidak buruk juga, Sasuke?

Tenten menyingkir ke pinggir ruangan ketika mereka telah berbaur lagi dengan kerumunan. Sasuke mengatakan padanya untuk tetap berdiri disana sementara ia mengambil gelas minuman untuk membasahi kerongkongan nya yang kering. Gadis itu hanya berdiri canggung, tidak berani menoleh ke kiri dan kanan karena ia tahu saat ini dirinya pasti sedang menjadi perbincangan.

"Sasuke belum tunangan dengannya, jadi kupikir ia bisa dicampakkan kapanpun."

"Lagipula penampilannya terlalu polos, ia pasti hanya gadis yang mudah dibego-begoin."

"Aku tidak mengerti, apa yang dilihat Sasuke dari gadis sepertinya?"

"Aku seribu kali lipat lebih baik."

Tenten mengalihkan tatapannya keluar ruangan ketika beberapa gadis tampak sengaja berdiri didekatnya dan dengan terang-terangan membicarakan dirinya. Tenten bisa saja menyumpal mulut mereka dengan kain serbet dan mengatakan bahwa perilaku mereka lebih buruk daripada tukang kutip pajak yang mulutnya berceloteh kasar karena mabuk, mereka lebih buruk karena bermulut kasar dalam keadaan sadar. Tapi Sasuke pasti takkan senang dengan itu. Oleh karena itu Tenten hanya bergeming, mengacuhkan gadis-gadis pengagum Sasuke yang sayangnya hanya bermimpi untuk bersanding dengan pemuda itu.

"Kalau kalian merasa kalian lebih baik darinya itu salah besar, sebab dilihat dari segi manapun, gadis baik-baik takkan ada yang bertingkah seperti kalian."

Tenten menolehkan kepalanya ketika gadis-gadis yang tadi bergosip didekatnya tampak berhamburan bubar dengan rasa malu. Tenten sendiri takjub dengan cara wanita ini melakukannya, maksudnya kalau itu Tenten pasti segalanya akan berakhir dengan keributan karena gaya menegurnya yang seperti preman pasar. Tapi wanita ini dengan begitu lembut dan elegan, tetap bisa membuat gadis-gadis tukang gosip itu ngacir tanpa ba-bi-bu lagi. Siapa dia?

"Jangan risaukan apa yang dikatakan mereka. Kau hanya membuat mereka iri."

Wanita itu tersenyum, seperti nya ia masih sangat muda, mungkin bahkan seumuran dengan Tenten namun pembawaannya sangat dewasa serta bijak. Tenten masih takjub.

"Aku Hinata, temannya Sasuke."

Gadis itu mengulurkan tangan yang langsung disambut Tenten dengan canggung. "T-Terimakasih Hinata-san. Aku Tenten."

"Jangankan mereka, aku saja iri denganmu."

Tenten hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Demi Kami-sama disini Tenten lah yang paling iri dengan gadis cantik didepannya! Ia cantik sekali seperti dewi, mungkin umurnya sekitar dua puluhan. Aura nya begitu positif dan menenangkan. Bahkan ia tidak sombong dan mau menyapa Tenten lebih dulu.

"Sebelum kau, aku harusnya calon tunangan Sasuke. Tapi ia memilihmu kurasa bukan tanpa alasan. Kau sepertinya gadis yang baik, Tenten."

Tenten sempat berpikir orang sebodoh apa Sasuke itu sampai ia menyia-nyiakan gadis secantik Hinata. Apakah mereka bertengkar dan berakhir dengan ketidakcocokan? Lalu apakah Sasuke bermaksud membuat Hinata iri dengan mengenalkannya sebagai calon istrinya? Gadis itu segera mengenyahkan pikirannya tersebut. Itu pasti tidak mungkin, sebab dilihat dari segi manapun, Hinata tetap yang terbaik, tidak mungkin Tenten sanggup membandingkan dirinya sendiri dengan Hinata. Ia bukanlah apa-apa.

Sementara di stan minuman, Sasuke malah beradu tatapan sengit dengan rival abadinya, siapa lagi kalau bukan Gaara. Sebenarnya niat awal Gaara menemui Sasuke adalah untuk memberikan selamat, namun seolah darah mereka ditakdirkan untuk bersaing satu sama lain, begitu mereka bertemu perseteruan sengit ini langsung terjadi, seolah abadi.

"Apa yang membuatmu merasa menang setelah mengumumkan hal tadi, Sasuke?"

"Aku memang selalu menang. Kau bukan tandinganku. Enyahlah."

"Maksudku mengapa kau begitu yakin dia akan jadi milikmu? Kalian tidak terlibat ikatan apapun."

"Dia bukan akan menjadi milikku. Tapi sudah menjadi milikku. Menyerahlah, Gaara."

"Aku akan merebutnya kembali. Sedari awal kau hanya mengklaim kepunyaan orang lain. Oh dan dari dulu selalu begitu."

"Aku ragu kau bisa. Apa yang sudah ada di genggamanku takkan pernah kulepaskan."

"Sayangnya aku yang lebih dulu menggenggamnya. Jadi kau tunggu saja tanggal mainnya."

Gaara berlalu sambil mengakhiri tatapan membunuh mereka. Meninggalkan Sasuke dengan dua gelas minuman di tangannya. Gaara adalah saingannya yang paling tengik. Dengan begini Sasuke sudah berlangkah-langkah lebih maju dibanding Gaara. Sasuke sudah memiliki kartu as nya, jadi dia takkan melepaskannya. Kekalahan Gaara akan segera berakhir ditangannya.

"Menikmati pestanya?"

Tenten menolehkan pandangannya pada seorang pria yang menyodorkan segelas minuman. Gadis itu tersenyum sejenak sebelum mengambil gelas tersebut dan menenggaknya, bukan alkohol, hanya teh biasa ternyata.

"Terimakasih Gaara-sama."

"Gadis dibawah umur tidak boleh minum yang mengandung alkohol."

Gaara mengulum senyum begitu memperhatikan ekspresi Tenten.

"Tidak disangka kita bertemu lagi disini ya, sepertinya dunia memang hanya selebar daun kelor."

"Jika anda percaya takdir, mungkin inilah yang dinamakan takdir."

Gaara menundukkan matanya sedikit, menatap gadis yang beberapa senti lebih pendek darinya. Tenten menyesali perkataannya sendiri yang terkesan baperan. Gadis itu pura-pura memperhatikan kerumunan orang-orang didepannya, ia tahu Gaara memandangnya namun gadis itu tidak mau menubrukan matanya dengan pandangan Gaara yang setajam mata elang. Tenten pura-pura menyesap minumannya. Ia berkata lagi

"Aku tidak begitu menikmatinya."

"Aku tahu. Terutama karena banyak gadis yang menatap tajam padamu seolah dirimu ini adalah daging empuk."

Tenten tertawa renyah lagi sambil sekali-kali meneguk teh nya.

"Dimana err... calon suamimu? Ia tak disini?"

Gadis itu mendengus pelan. Sasuke memang bilang ia akan mengambil minuman, tapi dia tidak bilang akan mengambilkan Tenten minuman juga, mungkin ia hanya minum untuk dirinya sendiri. Betapa egoisnya.

"Oh aku tadi bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Apakah Gaara-sama mengenalnya? Namanya Hinata."

"Oh tentu, dia putri sulung sekaligus pewaris Hyuuga Production."

Tenten sedikit berjengit. Hyuuga Production nyatanya adalah perusahaan yang memproduksi produk kecantikan. Penampilan Hinata yang bagaikan dewi itu memang harga mati dari seorang pewaris perusahaan produk kecantikan.

"Tapi dia mengalihkan kepewarisan kepada adik bungsunya dan lebih memilih menjadi seorang dokter, dokter kecantikan tepatnya."

Tenten hanya ber-ohh ria, fakta itu ia tidak mengetahuinya. Alunan lagu merambat slow, hampir semua yang memiliki pasangan telah menyeret pasangannya ke lantai dansa dan Tenten bersumpah ia menyesal masih berdiam disana, bersama sosok Gaara pula! Bukan berarti dia GR merasa Gaara akan mengajaknya berdansa seperti yang dilakukan pasangan-pasangan itu ditengah ruangan, tapi suasana ini pasti sangat membuat mereka canggung.

"Em.. mau berdansa denganku, Tenten?"

Sial, perkiraannya benar. Tenten menatap uluran tangan Gaara sambil meneguk liurnya dengan berat. Ini adalah suasana yang sangat dihindarinya. Demi apapun ia tidak pernah menari dan tidak akan bisa. Ia tak ingin mempermalukan Gaara karena kemampuan berdansanya yang bisa dibilang noob.

"Err.. aku, aku tidak—"

"Tidak akan mau karena kau telah memiliki pasangan berdansa mu disini."

Gaara dan Tenten serentak melarikan pandangan mereka kepada Sasuke yang muncul tiba-tiba dan memotong ucapan Tenten. Malangnya gadis itu setelah keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya.

"Kau akan berdansa denganku kan, Tenten? Sayang sekali tuan Gaara, ajaklah pasanganmu lain kali, jadi kau takkan mengajak pasangan orang lain."

Sasuke sudah keterlaluan, kata-katanya terdengar begitu menghina dan menjatuhkan. Tenten yang mendengarnya saja merasa ngilu, bagaimana dengan perasaan Gaara?

"Gaara-sama maaf aku tidak bermaksud—"

"Tak apa Tenten, nikmatilah pestamu."

Pemuda berambut merah bata itu mengulum senyum pada Tenten, sebelum benar-benar berlalu ia melemparkan tatapan membunuh sekilas pada Sasuke yang hanya dibalas dengan seringaian tipis.

"Sekarang kita akan berdansa."

"Tapi Sasuke-sama, aku—"

Sasuke merangkul pinggang Tenten dan mendorong bahunya mendekat hingga menghapus jarak diantara mereka, Pemuda itu mendekatkan bibirnya ditelinga Tenten dan berbisik,

"Ini perintah. Tak ada penolakan."

Sasuke membimbing Tenten ketengah-tengah langkah dansa, tentu gadis itu masih merasa canggung, bahkan tanpa sadar ia meremas pundak Sasuke dengan cukup kencang. Sasuke meminta telapak tangannya dan gadis itu khawatir jika telapak tangannya akan berkeringat dan itu mengganggu Sasuke, tapi syukurlah keringat dinginnya belum sampai menjalari telapak tangannya.

Pemuda itu membimbing Tenten ke dalam langkah dansa waltz yang agak bersemangat, tampaknya Sasuke sengaja menjahilinya dan membuat gadis itu kerepotan. Langkah kaki Tenten berantakan dan tidak karuan, berkali-kali menginjak sepatu Sasuke dengan ujung sepatunya. Gadis itu begitu kewalahan dengan melangkah, dekapan, ayunan, berputar, melepaskan. Gerakannya didominasi oleh Sasuke dan Tenten hanya bagai boneka hidup yang dipaksa berputar-putar. Gadis itu sendiri tidak dapat menangkap ekspresi jahil Sasuke, namun dibalik itu semua pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. Sasuke suka menjadi pemimpin, ia suka menjadi pemenang bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Dan mengetahui fakta bahwa ia yang memimpin gerakan dansa ini membuatnya bersemangat berkali-kali lipat. Jika gadis lain yang saat ini menginjak kakinya ia pasti sudah merutuki gadis itu. Tapi Tenten berada dibawah dominasi Sasuke sehingga ia merasa puas, terserahlah sebanyak apapun Tenten menginjak kakinya, Sasuke tidak peduli sebab dalam dansa ini ia merasa dibutuhkan, dibutuhkan oleh Tenten untuk memimpinnya melangkah di lantai dansa.

Lagu berubah lagi, kali ini begitu slow dan lambat. Tenten sedikit bersyukur sebab ia sudah begitu kewalahan. Nafasnya sedikit tidak beraturan, tapi jantungnya berdetak banyak tidak beraturan. Mereka melambat, hanya mengayun-ayun sambil saling mendekap. Tenten belum pernah sedekat ini dengan pria manapun kecuali ayahnya, dan ia sedikit tidak mempercayai ketika yang mendekapnya adalah majikannya sendiri. Gadis itu entah kenapa merasa mengantuk. Ibunya pernah bilang bahwa kita akan mudah terbuai dan mengantuk ditempat yang nyaman. Apakah Tenten nyaman berada dalam dekapan Sasuke? Gadis itu baru hendak menyandarkan kepalanya di dada tuannya sebelum pria itu menggumamkan sesuatu. Alarm tanda bahaya menyala dikepala Tenten, ini sebuah peringatan.

"Bersiaplah, Tenten."

Tenten sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap tuannya tersebut. Kebingungan.

"Eh? Bersiap?"

"Aktingmu yang sebenarnya akan dimulai disini."

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum Sasuke membawanya keluar dari lantai dansa. Tenten menahan napas ketika Sasuke membawanya kehadapan Fugaku. Haruskah peran ini terus dilanjutkan?

Disana tidak hanya Fugaku, namun juga Itachi, serta Naori Uchiha yang seluruhnya menghadiahi tatapan dingin. Sasuke terlihat santai, namun Tenten lah pihak yang paling gelisah. Sasuke memintanya untuk mempertahankan ekspresinya. Ia harus bisa tahan, mungkin setelah ini selesai gadis itu akan dipulangkan kerumahnya dan kembali hidup bersama ayahnya.

"Sasuke, jangan bermain-main dengan ini."

Suara Fugaku terdengar seperti petir yang menyambar bagi Tenten. Apakah ia mengetahuinya?

"Berhentilah bermain-main, otouto."

Itachi juga orang yang sangat mirip dengan Fugaku, bahkan suaranya.

"Kau sudah dewasa. Bermain-main seperti ini takkan menguntungkan."

Tenten masih terdiam di tempatnya, menunduk, memikirkan ukiran-ukiran rumit pada keramik di bawah sepatunya. Apa yang akan terjadi padanya?

"Berhenti bermain-main seperti anak ABG dan segeralah bertunangan dengannya!"

JDARRRR!

Kalimat Fugaku bagaikan petir yang menyambar langsung ke uluhatinya. Seusai mengatakan hal itu Fugaku langsung berlalu pergi. Itachi mengedip pada Tenten dan menggodanya yang akan menjadi adik iparnya. Naori memberikan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dan Sasuke hanya menyeringai tipis.

SPLASH!

Jepretan kamera dan flash yang menyilaukan tampak membanjiri ruangan, seorang wartawan dan beberapa juru kamera tampak mengarahkan lensa kamera nya pada Sasuke dan Tenten. Mereka berdua menjadi sorotan lagi. Tenten sudah pasrah jika besok wajahnya dan wajah Sasuke akan menghiasi halaman pertama majalah dan koran-koran, tapi Sasuke sudah sangat biasa dengan ini, saking biasa nya wajahnya ada didepan majalah dan koran-koran, ini jadi terasa seperti minum air mineral bagi Sasuke.

"Jadi bagaimana tuan Sasuke? Apakah anda berencana menjadikan nona Tenten sebagai tunangan anda dalam waktu dekat ini?"

Wartawan nyentrik yang wajahnya sering tampil sebagai pembawa berita gosip di channel tivi swasta, Yamanaka Ino kini sedang mengarahkan mikrofon kemulut Sasuke Uchiha, menunggu jawaban.

"Tentu."

Sang empunya suara hanya menjawab sekenanya. Jepretan kamera diiringi flash kembali membanjiri seisi ruangan.

"Bagaimana kalau berikan kami sedikit foto yang agak ... 'panas'?"

Ino Yamanaka tersenyum nakal, juru kamera tertawa renyah, para hadirin terlihat bersemangat. Tanpa diduga Itachi menyaringkan siulan menggoda. Tenten semakin gelisah ketika dilihatnya Sasuke bergerak mendekat kearahnya, gadis itu meneguk liurnya dengan susah payah.

"Seperti yang kukatakan tadi, ini hanyalah akting. Jadilah profesional, Tenten."

Gadis itu belum sempat berkedip, hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia menyadari apa yang terjadi adalah senyuman miring tuannya, dan bisik-bisik riuh yang terdengar bagai suara latar belakang.

Terjadi lagi, untuk kedua kalinya. Sasuke merampas ciumannya, masih tetap tanpa izin dari gadis itu. Dan kali ini dihadapan kamera yang menyala? Hell no! Apa yang akan dikatakan ayahnya yang saat ini sedang berada di antah berantah? Apa yang akan dikatakan tetangganya yang dulu sering mencemoohnya bahkan ketika gadis itu hanya diantar pulang oleh Gaara ketika malam sudah terlalu larut? Apa yang akan dikatakan ibunya di surga sana?

Apa yang akan dikatakan Gaara-sama?

Apa yang akan dikatakan Tenten sendiri?

.

.

.

.

.

"Karin kurasa kau harus melihat ini. Oh kita semua harus melihat ini!"

Sasame berdiri didepan sebuah tivi kecil yang ada di kamar mereka ketika gadis itu tak sengaja membaca judul gosip yang tertera. Tampak dilayar tivi tersebut wajah Yamanaka Ino terpampang jelas sedang membawakan acara gosip paling populer yang banyak menyoroti skandal para selebriti. Bedanya acara gosip ini berjudul "K-Pop edisi Kepo" yang disiarkan secara live dari lokasi Ino dkk mengorek informasi. Sedangkan acara gosip edisi biasa cuma berjudul "K-Pop Sendal" atau singkatan dari "Konoha-Populer Selebriti Skandal" yang disiarakan di studio dengan Ino Yamanaka sebagai juru bicara nyentrik namun cantik dan eksotik.

"Aku tidak suka dengan pembawa acaranya." Sakura mengomentari dengan malas sambil menoleh sekilas kearah tivi yang menyala, tapi akhirnya ia beranjak juga.

Gadis-gadis mulai mengerumuni layar kecil ajaib yang kini menyoroti acara resmi organisasi Persatuan Perusahaan Kelima Negara Besar yang digelar malam ini. Karin berteriak kagum ketika dilihatnya disana tampak idolanya berdiri dengan gagah, tampan dan rupawan. Namun yang mengherankan ketika mereka melihat sosok yang mereka kenal tampak berdiri disamping Sasuke.

"Hei bukankah itu Tenten?" Amaru memicingkan matanya dan menempelkan wajahnya ke kaca televisi, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu memang benar gadis yang biasanya tidur sekamar dengan mereka.

Ino dengan segala kehebohannya berhasil memancing Tuan muda Uchiha tersebut untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka semua shock. Terutama Karin, ia tampak... terpukul. Memang benar sore tadi Tenten dijemput oleh seorang wanita yang tampaknya memiliki pengaruh cukup kuat, namun Tenten masih tampak bingung ketika wanita pirang itu menyeretnya meninggalkan asrama, dan mereka tidak mengatakan kemana tujuan mereka.

"Kalian percaya itu? Itu Tenten, dia adalah calon tunangan Sasuke-sama? Aku benci mengakuinya tapi kuakui ia gadis yang hebat." Celoteh Shiiro didepan gadis-gadis, Sakura berdeham sekali sambil melirik kearah Karin dan Shiiro langsung membungkam mulutnya.

"Tidak baik bila kita berspekulasi yang tidak-tidak tanpa mendengar yang sebenarnya. Sebaiknya kita tanyakan pada Tenten ketika ia pulang nanti."

"Apanya yang tidak jelas? Kalian sudah lihat itu kan? Sasuke-sama menciumnya, mata kita tidak sedang dibodohi, kawan. Ini siaran langsung dan bukan hasil editan."

"Kuakui aku membenci acara gosip ini, terutama karena pembawa acaranya. Tapi ini memang benar siaran langsung, dan tidak dibuat-buat." Sakura menimpali lagi.

"Nah bagaimana kalian tahu kalau ini bukan settingan? Bisa saja kan acara ini dibuat-buat? Program televisi ini selalu melebihkan-lebihkan sesuatu seperti skandal para selebriti yang bahkan tidak selalu benar."

"Bedanya ini bukan kejadian yang terjadi secara tidak sengaja, Amaru. Kita melihatnya, Sasuke-sama disana, bersama Tenten. Dan jelas sekali Sasuke-sama menciumnya. Itu bukan sebuah kecelakaan. Dan sudah pasti ini bukan skandal. Tapi adalah realita!" ujar Shiiro dibuat-buat sedramatis mungkin.

Layar kaca tampak menyoroti Itachi yang kini sedang berkomentar tentang Adik bungsunya itu.

"Aku tidak menyangka Sasuke berani melakukan hal itu didepan media massa. Padahal biasanya ia begitu tertutup soal hubungan asmaranya. Tapi aku sangat mengapresiasi keputusannya tersebut, itu artinya ia telah memilih untuk seri—."

Karin menekan tombol off pada remot televisi dan memadamkannya, seluruh tatapan kini mengarah pada gadis berkacamata tersebut. Ia melangkah menuju kasurnya sebelum mengatakan "Kita akan tanyakan kebenarannya pada orangnya langsung."

.

.

.

.

.

"Aku sudah mengatakan itu hanya akting. Kau tidak perlu bawa-bawa perasaan."

Sasuke menarik asal dasi yang mulanya melingkar rapi di kerah kemeja nya. Mereka berada diluar ruangan saat ini, setelah acaranya selesai seluruh kerumunan yang tadinya memenuhi ruangan malah menghilang begitu saja, menguap seperti angin. Mereka berdiri didekat halaman luas yang ditumbuhi rerumputan di pinggir gedung, menunggu mobilnya datang.

"Tapi seharusnya anda mengutarakan rencana anda agar aku dapat menyesuaikan diri."

"Menyesuaikan diri untuk apa? Aku tidak butuh itu."

"Mengapa anda sangat menganggap ciuman itu enteng sekali?"

"Itu hanya hal sepele. Bagiku itu hanya seperti berjabat tangan."

Tenten menahan agar intonasi suaranya tetap hanya terdengar bagi mereka berdua saja.

"Menurutmu itu mungkin hanya hal sepele. Tapi tidak bagiku. Ciuman adalah wujud pengekspresian cinta dan kasih sayang, harusnya ia dilakukan dengan tulus, bukan dengan paksaan."

"Lalu apa? Kau menganggap bahwa ini serius? Atau sebenarnya kau berharap bahwa ini akan menjadi serius?"

Sasuke mendengus sambil tertawa remeh. Sebenarnya ia juga bingung sejak kapan mereka sampai pada situasi seperti ini? Sasuke tidak ingin segalanya menjadi buruk, tapi ia juga tidak ingin meredakan situasi ini dengan mengalah atau menjadi pemaaf. Egonya masih ingin mempertahankan harga dirinya.

Tenten sendiri terdengar seperti telah kehabisan sabar, nada suaranya ditekan agar tetap stabil tapi sepertinya itu malah membuatnya terdengar ingin menangis dan putus asa. Biar bagaimanapun Tenten masihlah gadis belia berusia tujuh belas, atau sekitar delapan belas?

"Sayangnya kau terlalu percaya diri. Sekaya apapun atau setampan apapun kau, aku adalah satu-satunya wanita yang tidak akan sudi bersanding denganmu. Gadis lain memuja pesonamu, namun sebenarnya kau hanya iblis yang bersembunyi dibalik wajah dan pamormu."

Satu lagi salah langkah Tenten ku sayang. Kau membangunkan lagi sisi sadis milik Sasuke yang sebenarnya telah terkubur jauh didalam ingatannya. Pemuda itu merangsek maju, menepis tangan Tenten yang sempat terangkat sebagai bukti pertahanan diri. Ia meremas pipi Tenten dengan telapak tangannya, mata kelamnya berkilat tajam, siap menembus apa saja yang menghalangi pandangannya. Jarak mereka hanya beberapa senti, saling merasakan hembusan nafas satu sama lain.

"Kau hanya seorang yang tidak berharga. Bahkan ayahmu pun tak menginginkanmu, seharusnya kau bersyukur padaku yang masih mau menampungmu dan memperlakukanmu dengan layak. Kau kira ada diposisi ini karena kau istimewa? Jangan bermimpi. Aku tuanmu dan kau milikku. Ingat itu."

Pemuda itu tak pernah mau berbicara panjang lebar dimanapun, bisa dibilang Tenten adalah satu-satunya yang menyaksikan Sasuke bicara panjang lebar dengan penuh penekanan, dan kemarahan. Gadis itu entah kenapa selalu berhasil memancing Sasuke yang biasanya akan selalu acuh terhadap orang lain, terkecuali Gaara. Biasanya Sasuke takkan pernah menunjukkan sikap sadisnya kepada siapapun, ia lebih memilih mengabaikan orang yang mencari masalah dengannya dan mengusirnya dengan dingin.

Hanya Tenten yang mengetahui sisi kelam dari Sasuke Uchiha yang namanya selalu dielu-elukan kalangan gadis-gadis seumurannya. Tenten takkan mau terlibat dengan orang ini, jika ia bisa. Hatinya sakit mendengar perkataan Sasuke yang menyatakan seolah dirinya bukanlah sesuatu yang berharga, seolah Tenten hanya barang yang bisa dioper-oper kesana kemari.

Mendadak gadis itu teringat dengan Ayahnya, ayahnya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang paling menginginkan kehadirannya, Tenten tahu itu. Tapi takdir memaksa keluarganya bercerai berai. Takdir yang mempermainkan kehidupannya. Tenten sangat merindukan ayahnya.

Setetes airmata tanpa sadar jatuh di kedua belah pipi Tenten, ia tidak ingin hidup seperti ini, gadis itu ingin kembali, kembali menjadi gadis kecil ayah. Ia tak peduli hidup dalam kesederhanaan atau bahkan kekurangan sekalipun. Asalkan itu dengan ayahnya, dengan orang yang dicintainya. Uang bisa dicari ke seluruh penjuru dunia, tapi kau hanya memiliki segelintir orang-orang yang kau cintai yang masing-masing perannya tidak mungkin bisa diisi oleh orang yang berbeda.

Sasuke agak tertegun ketika tetesan airmata Tenten jatuh diatas tangannya yang masih mencengkram pipi gadis itu, perlahan pegangannya mulai mengendur. Ia membelai pipinya perlahan, entah kenapa pemuda itu menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap airmata yang meluncur dari mata cokelat Tenten. Entah apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu, ia tidak tahu. Dan entah dorongan darimana lagi ketika Sasuke menyadari bahwa ia tengah mencium gadis itu lagi! Untuk yang ketiga kalinya.

Ciumannya dalam dan lembut, memikat dan membawa ketenangan. Tenten yang awalnya berkecamuk bak badai bahkan tidak berontak sama sekali ketika bibir mereka bertemu. Gadis itu terbawa suasana dan perlahan-lahan memejamkan kelopak matanya. Begitu pula dengan Sasuke yang merasakan kedamaian tiada tara. Egonya menampar untuk segera kembali pada realita, namun tubuhnya menolak itu. Bibir Sasuke terus bergerak, seolah mencari, meski telah menemukan namun ia terus mencari. Mencari kebenaran dari apa yang kini tengah dilakukannya. Benaknya bertanya-tanya, siapa gadis ini? Yang mampu menaklukannya dengan satu sentuhan bersensasi luarbiasa.

Tanpa sadar tangannya berpindah, merangkul gadis kecil yang punggungnya tampak begitu rapuh. Kebutuhan akan oksigen memaksa keduanya untuk melepas kontak satu sama lain. Sasuke agak mengutuk kenyataan bahwa ia harus bernapas untuk hidup, sebab tanpa bernapas seharusnya ciuman itu dapat berlangsung selamanya. Ia masih Sasuke yang egois, yang tidak mau dengan mudah melepaskan apapun yang disenanginya. Pemuda itu merangkul Tenten lebih dekat, lebih dalam. Memeluknya seolah melindungi punggung rapuh itu dari apapun diluar sana yang berpotensi merusaknya. Ia belum pernah merasa senyaman ini dipelukan orang lain selain dalam pelukan Mikoto.

Tenten sendiri hanyut terbuai rasa nyaman, dada Sasuke entah mengapa menjadi sesuatu yang disukainya selain dada ayahnya yang selalu memeluknya penuh kasih sayang. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, hidungnya menghirup dalam-dalam aroma tajam parfum yang melekat di tuxedo Sasuke, aroma yang menebar rasa aman nyaman. Rasanya gadis itu sanggup bersandar disana selamanya. Tenten lupa, siapa pemuda ini? Yang memberinya begitu banyak emosi setelah hidupnya hampa karena bercerai berai dengan keluarganya. Untuk sekarang itu tidak penting, gadis itu lebih memilih menggerakkan tangannya ke punggung Sasuke, mengeratkan pelukannya.

.

.

.

BERSAMBUNG.

#Author's bacot:

Dalam setiap kesempatan saya akan selalu berterimakasih kepada pembaca terutama yang reviewer, saya tidak akan lelah untuk mengatakan terimakasih berulang-ulang, sebab bab ini diapdet karena imbas dari komentar-komentar kalian yang selalu bisa menggerakkan jari saya untuk menari diatas keyboard. Terimakasih atas saran dan kritikannya, saya sangat mengapresiasi itu. Saya akan mencoba kembali menulis pelan-pelan, dan mempersingkat alur supaya ceritanya tidak tambah ribet dan dapat berakhir dengan mulus. Semoga bab yang agak panjang ini dapat sedikit mengobati rasa bersalah saya, dan bila banyak kesalahan penggunaan kejadian(?) akibat minimnya pengalaman, saya mohon maaf. Sekali lagi terimakasih banyak untuk seluruh yang telah membaca dan mereview fanfik ini. Dan semoga lagi, saya dimudahkan dalam urusan ketik-mengetik dan apdet mengapdet.

Meskipun sudah sangat telat namun saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.