Chapter 2 : Teka Teki

.

.

"Karena objek yang tengah kalian teliti ini adalah Pangeran Bulan yang telah tertidur selama 500 tahun."

"APA?!" Teriak Jinyoung dan Ren secara bersamaan.

Daniel memandang kedua sosok didepannya. "Kalian pernah mendengar kisah tentang Lunar kan?"

"Mitos tentang ratusan tahun silam ada seorang Pangeran Bulan yang turun ke Bumi itu?"

"Itu bukan lagi Mitos karena sang Pangeran ada didepan mata kalian sendiri."

Jinyoung menggelengkan kepalanya. "Yang benar saja, Daniel. Itu hanya mitos. Hanya omongan dari mulut ke mulut."

Daniel mengambil ranselnya yang memang ia letakan dilantai dan mencari-cari sesuatu disana.

"Apa yang kau cari?" tanya Ren pada adik dari kekasihnya itu.

"Kertas?" Jinyoung memandang tidak mengerti Daniel.

"Bukan sembarang kertas tapi ini adalah bagian akhir dari buku Lunar."

Ren melebarkan matanya. "Astaga, tidak mungkin. Aku memang mendengar jika dulu ada yang menulis mitos tentang Lunar tapi buku itu harusnya sudah hancur."

"Nenekku adalah seorang pustakawan, dia memberikankanku ini sebelum meninggal." Daniel membuka kertas-kertas tua ditangannya. "Ini bukan dari buku aslinya tapi Nenekku menulisnya kembali."

"Daniel, kau benar-benar mengira dia adalah Pangeran Bulan itu?"

"Iya, Hyung. Aku sangat yakin. Dengarkan baik-baik, aku akan membacakannya."

Jinyoung dan Ren saling berpandangan lalu mengangguk setuju.

"...dengan wajah penuh kesedihan sang Ksatria tampan menidurkan Pangeran disebuah peti kaca dengan hiasan berlian dan crystal, tidak lupa ia meletakan Moonlace ditangan sosok yang ia cintai itu. Bunga yang selalu dibawa oleh Pangeran kemanapun Pangeran pergi dan bunga yang selalu menghadap kearah bulan, rumah mereka."

Daniel mengambil satu kertas lainnya dan kembali membacakannya."Satu-satunya Ksatria yang tersisa itu menyegel peti tersebut dengan jiwanya. Tidak ada yang bisa membuka peti itu, hanya dialah yang bisa membukanya dan sang Pangeran akan terus tertidur. Ia akan menunggu Ksatrianya untuk membangunkannya karena itulah sumpah sang Ksatria."

Ren merapatkan jaket yang ia kenakan ketika angin dingin menusuk kuli putihnya. Matanya melirik sedikit peti kaca itu.

"Hanya Ksatrialah yang bisa menyelamatkan Bumi dari kehancuran, karena itu adalah takdir sang Ksatria." Daniel menyelesaikan bacaannya dan memandang dua analis didepannya.

"Sekali lagi aku katakan Daniel. Itu hanya mitos."

"Tapi, Hyung. Tidakkah kau sadar bahwa pendeskripsian ini benar-benar mirip dengannya." Daniel menunjuk objek tersebut. "Peti kaca yang berhias berlian dan crystal serta sebuah bunga yang selalu menghadap kearah cahaya bulan. Bunga yang bernama Moonlace."

"Daniel–"

"Jelaskan padaku, Hyung. Mengapa NASA tidak lagi meneliti Bulan? Mengapa objek penelitian mereka sekarang ini Mars bukan Bulan lagi?"

"Karena memang tidak ada apa-apa di Bulan." Jinyoung meninggikan kalimatnya karena kesal bukan main pada Daniel. "Daniel, berpikirlah yang logis. Mengapa kau menyamakan dia dengan mitos itu, huh?"

"Karena kisah itu memang benar terjadi, Hyung."

"Mitos tetaplah Mitos, Daniel. Dan yang aku ingat dari mitos itu adalah nama Lunar diambil dari kota yang Pangeran Bulan itu tempati dan itu berada di Bulan." Jinyoung merebut kertas tersebut dari Daniel dan melemparkannya. "Neil Armstrong pernah ke Bulan dan tidak ada apapun di Bulan."

Ren mengambil kertas tersebut. "Jinyoung Oppa, aku pikir apa yang Daniel katakan memang benar. Dia adalah Pangeran Bulan itu."

"Ren–"

"Oppa, tidakkah semuanya masuk akal untukmu? Saat ini Bumi sedang diambang kehancuran. Ratusan bencana terjadi dimana-mana bahkan di Korea setiap bulan selalu terjadi bencana selama satu tahun ini." Ren melangkah mendekati objek yang sudah ditelitinya selama seminggu lebih itu. "Dan yang lebih mengerikan lagi sudah 20 meteor yang jatuh ke Bumi selama satu tahun ini."

Tangan Ren menyentuh peti kaca itu. "Kisah Lunar menceritakan tentang Pangeran Bulan yang datang ke bumi untuk kedamaian alam semesta. Dia datang bersama dengan kelima Ksatrianya. Setelah seratus tahun berada di Bumi, Pangeran Bulan dan kelima Ksatrianya berencana untuk kembali ke Bulan namun sepupu sang Pangeran malah mengirim pasukan untuk membunuh Pangeran di Bumi. Pasukan itu sangat kuat hingga salah satu dari kelima Ksatria terbunuh. Jika salah satu Ksatria mati terbunuh maka kekuatannya akan terbagi kepada Ksatria yang masih hidup.

Selama puluhan tahun Pangeran dan Ksatrianya bersembunyi dari Prajurit tersebut namun mereka tidak bisa bersembunyi dari Bulan karena Sepupu Pangeran telah menguasai Bulan dan mengawasi Bumi di Bulan. Satu persatu para Ksatria Pangeran terbunuh hingga hanya ada satu Ksatria terakhir. Satu Ksatria terakhir yang selalu ada untuk Pangeran. Ksatria terakhir yang paling kuat. Dia bisa saja membunuh seluruh prajurit yang memburu mereka namun ia merelakan jiwanya untuk menyegel tubuh sang Pangeran disebuah peti. Tubuh tanpa jiwanya hancur menjadi debu."

"Siapa Ksatria terakhir itu?" tanya Jinyoung. Ia kini mulai paham mengapa Ren dan Daniel menyangkutpautkan mitos tersebut dengan objek didepannya.

"Jika tidak salah Ksatria terakhir itu bernama JR." Pacar dari Kang Dongho itu menghela nafas. "Sekarang kita telah menemukan Pangeran Bulan itu, aku yakin sepupu sang Pangeran pasti mengincarnya."

"Atau yang lebih parah dia akan menghancurkan Bumi."

Kepanikan langsung merasuki Ren mendengar ucapan Daniel. "Lalu apa yang akan kita lakukan?"

"Ksatria terakhir harus ditemukan."

"Tapi dia sudah mati." Ujar Jinyoung.

"Dia tidak mati." Daniel memandang kosong lantai. "Tubuhnya hancur menjadi debu tapi dia tidak mati. Dia.. bereinkarnasi."

.

.

"Sekitar seminggu lebih yang lalu kita menemukan sebuah objek berupa peti kaca dengan seorang pemuda didalamnya." Kangin menunjuk layar yang menampilkan gambar seorang pemuda tampan yang tengah tertidur.

"Dia sepertinya seorang Pangeran." Celetuk Seongwoo. "Lihat tiara dan kalung yang ia kenakan."

"Kami juga berpikir demikian, Kapten Ong." Kangin memberi jeda pada kalimatnya. "Objek tersebut berstatus Aset Negara dan aku ingin kalian bertiga menjaganya."

"Mohon maaf, Mentri Pertahanan." Jonghyun mengangkat tangannya dan memanggil Kangin dengan nama julukannya karena saat ini mereka tengah mendiskusikan tugas kenegaraan. "Tapi saya rasa tugas untuk mejaganya itu terlalu mudah untuk kami. Pangkat kami bertiga terlalu tinggi jika hanya untuk menjaganya."

"Mayor Kim Jonghyun, ini adalah tugasmu." Kangin memandang tepat pada mata sang mayor muda didepannya. Tatapannya seakan menyiratkan bahwa ucapannya tidak bisa dibantah. "Kau yang memimpin."

.

.

"Daniel, ini kopimu." Ren memberikan gelas kopi pada adik dari kekasihnya itu.

"Terimakasih, Ren Noona."

"Sama-sama." Perempuan cantik itu mendudukan dirinya disamping Daniel yang tengah membuka-buka buku. "Sekarang aku ingat, Dongho pernah mengatakan padaku bahwa kau ingin menjadi Sejarawan."

Daniel mengangguk semangat. "Aku sangat suka dengan segala hal yang berbau sejarah. Sejarah itu sangat penting bagi kehidupan kita."

"Kau benar. Tanpa sejarah kita tidak akan bisa ada disini."

"Sejarah bukan hanya untuk dikenang tapi juga untuk dilestarikan."

Ren terkekeh akan ucapan sosok yang lebih muda darinya itu. "Sepertinya kau sangat mencintai Sejarah hingga meninggalkan kuliahmu di Canada demi datang kemari, bukan begitu?"

Daniel menggaruk pipinya canggung, tebakan calon kakak iparnya itu tepat sekali. "Begitulah. Di Canada salah satu dosenku membicarakan tentang sebuah penemuan yang menggemparkan di Korea jadi tanpa pikir panjang aku langsung ke Korea dan mencari tahu informasi tentang penemuan itu. Setelah mendapatkan informasi jika penemuan itu berada disini aku langsung kemari."

Ren mengacak rambut Daniel dengan gemas.

Jinyoung memasuki ruangan dengan ekspresi datar. "Ren, Daniel. Kita kedatangan tamu."

"Tamu? Dini hari seperti ini?"

"Mereka mendapatkan tugas langsung dari Mentri Pertahanan."

Wajah Daniel langsung pucat mendengarnya.

"Selamat malam." Jonghyun memasuki ruangan diikuti oleh Seongwoo dan Dongho.

"Aku rasa ini sudah masuk ke pagi, Jong. Sekarang jam 3 dini hari."

Jonghyun hanya melirik sebentar Seongwoo lalu kembali fokus pada sosok-sosok didepannya. "Saya Mayor Kim Jonghyun, disamping kanan saya Letnan Kang Dongho dan disamping kiri saya Kapten Ong Seongwoo. Mulai hari ini hingga seterusnya kami bertiga yang akan menjaga objek yang sedang kalian teliti atas perintah langsung dari Mentri Pertahanan."

Jinyoung sudah membuka mulutnya untuk memperkenalkan diri namun terurungkan ketika Ren langsung melompat kedalam pelukan Dongho.

"Dongho, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak bilang kau diberi tugas ini, Dasar Macan putih bodoh."

"Well, Appa baru saja memberikanku tugas ini satu jam yang lalu, Sayang. Dan aku juga merindukanmu." Balas Dongho sambil memeluk erat tubuh ramping Ren.

Daniel yang melihat itu mencoba keluar dari ruangan secara diam-diam namun terhenti karena suara Jonghyun.

"Daniel, bukannya kau ada di Canada kenapa kau ada disini?" Jonghyun tahu Daniel karena dia adalah sahabat karib Dongho sejak kecil jadi jelas dia kenal Daniel, kenal baik malah.

"A-aku..." Daniel kelabakan mau menjawab apa. "Hai, Jonghyun-hyung."

Dongho langsung melepaskan pelukannya pada Ren dan menatap adiknya. "Dasar bocah, sedang apa kau disini?"

"A-ampun, Hyung. Ahhh, jangan tarik telingaku, Dongho-hyung!"

"Aku akan mengadukan tingkahmu ini ke Appa."

"Appa sudah tahu aku disini."

"Bohong."

"Aku tidak bohong, tanyakan saja pada Appa."

Dongho melepaskan tangannya dari telinga adiknya yang sudah sangat memerah. "Aku akan menelpon Appa setelah ini."

Sedangkan Daniel hanya mendengus kesal sambil mengelusi telinganya.

"Sudah?" tanya Jonghyun dengan datar pada kedua kakak beradik didepannya. Pemandangan seperti itu sudah biasa ia lihat.

"Sudah." Balas Kang bersaudara bersamaan.

"Ok, langsung saja. Kita ingin melihat objek yang sedang kalian teliti secara langsung."

"Lewat sini, Mayor."

.

.

Nafas Jonghyun tercekat ketika ia melihat secara langsung wajah sosok yang tengah tertidur didalam peti kaca itu.

"Demi Tuhan, dia lebih rupawan dari yang di foto." Komen Seongwoo.

"Kau benar." Balas Dongho.

"Jadi apa saja yang kalian dapatkan selama seminggu lebih ini?" tanya Jonghyun.

Ren tersenyum. "Kami baru mendapatkan informasi lebih dalam satu jam yang lalu dan itu berkat Daniel."

"Dan apa itu?"

"Dia adalah Pangeran Bulan."

Jonghyun, Dongho dan Seongwoo langsung menatap aneh Daniel.

"Bisa kau jelaskan apa maksud dari ucapanmu barusan, Niel."

Pipi Daniel sedikit memerah mendengar Jonghyun memanggilnya dengan nama kecilnya. Namun ia langsung memfokuskan pikirannya dan menceritakan semuanya pada ketiga sosok tampan didepannya dengan bantuan Jinyoung serta Ren juga.

.

.

Seongwoo memijat pelipisnya setelah mendengarkan semuanya. "Itu tidak diterima oleh nalar."

Dongho menghela nafas. "Aku tidak menyangka bahwa mitos itu memang benar."

Sedangkan Jonghyun hanya diam saja setelah mendengarkan penjelasan ketiganya, namun pikirannya masih mencerna dengan baik-baik. Tanpa ia sadari tangannya terulur dan menyentuh peti kaca itu.

.

"JR, Aku tidak mau!"

"Hanya ini satu-satunya cara."

"Aku masih bisa melawannya."

"Kau tidak bisa, Minhyun. Kita sedang ada di Bumi bukan di Bulan. Kekuatanmu tidak seimbang, hanya aku yang bisa mengalahkan Krystal di Bumi."

"Mangka dari itu biarkan aku membantumu untuk mengalahkan Krystal. Lagi pula yang diinginkan Krystal adalah Aku."

"Minhyun, aku mencintaimu. Tolong mengertilah apa yang aku lakukan ini. Sudah cukup aku kehilangan empat saudaraku, aku tidak mau kehilangamu."

"Dengan kau melakukan ini, kau sama saja kehilanganku, JR."

"Tapi setidaknya aku tahu kau selamat."

"JR–"

"Aku mencintaimu, Minhyun."

"Aku juga mencintaimu, JR."

"Sampai bertemu lagi dikehidupan yang lain."

.

"Jonghyun!"

Jonghyun tersentak dan langsung menarik tangannya menjauh dari peti kaca tersebut. Dengan segera ia menatap Seongwoo yang mengguncang bahunya. "Ya?"

"Kau tadi melamun, apa yang kau lamunkan?"

"Bukan sesuatu yang penting." Ucapnya dengan nada pelan.

"Ksatria terakhir itu bernama JR, kan?" tanya Dongho, bagaimanapun juga dia tahu tentang mitos kisah Lunar.

"Iya, namanya JR."

Daniel tertawa kecil. "Anehnya semua orang yang tahu kisah Lunar juga tahu nama Ksatria terakhir adalah JR tapi kita tidak tahu sama sekali nama sang Pangeran Bulan."

"Kau benar. Orang-orang hanya memanggilnya Pangeran Bulan."

Mata tajam Jonghyun memandang wajah rupawan yang tengah tertidur itu dan entah bagaimana ia menggumamkan sebuah nama.

"Minhyun."

Dan kegelapan menyelimuti semuanya.

.

.

TBC

13 Jun 18