THE LAST KNIGHT
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 3 : Darah
.
.
.
.
.
.
.
.
Ren langsung berteriak dan memeluk Dongho ketika lampu markas mati dan membuat keadaan menjadi gelap gulita.
"Kenapa lampunya mati?"
Daniel sudah mau mengeluarkan ponselnya untuk memberikan penerangan namun lampu langsung menyala kembali.
"Astaga, apa yang terjadi tadi?"
"Entahlah mungkin ada aliran listrik yang putus."
"Apa sering terjadi seperti itu?" tanya Seongwoo.
Jinyoung menggeleng. "Ini pertamakalinya."
Daniel memandang Jonghyun yang ada didepannya. Jika tidak salah tadi sebelum lampu mati ia melihat bibir Jonghyun menyebut sebuah nama.
Merasa dipandangi Jonghyun langsung balas memandang Daniel. Ia tersenyum tampan. "Kenapa, Niel? Merindukanku?"
Daniel langsung menundukan kepalanya dengan kedua pipinya yang merona, Dongho yang melihat itu hanya memutar matanya.
.
.
.
.
"Lady Krystal."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan padaku, Luna." Krystal memandang pantulan dirinya didepan cermin. Wajahnya sangat cantik dengan rambutnya yang berwarna pirang serta sebuah mahkota yang menambah paras cantiknya. "Reinkarnasi Ksatria Terakhir sudah dekat dengannya bukan?"
"Iya, Lady Krystal." Luna menundukan kepalanya.
Krystal menatap salah satu abdi setianya yang merangkap sebagai peramal anggota kerajaan. "Kirim para Half ke Bumi. Bawa Minhyun padaku sebelum Ksatria terakhir itu membangunkannya."
"Tapi, Lady. Jikapun kita membawanya kemari hanya Ksatrialah yang bisa membuka peti itu."
"Kalau begitu biarkan Ksatria membuka peti itu. Setelah Minhyun bangun, aku akan ke Bumi dan membunuh Minhyun dengan tanganku sendiri. Kekuatannya di Bumi tidak seimbang."
"Begitu juga anda, Lady. Jika anda turun ke Bumi maka kekuatannya anda tidak akan seimbang."
"Aku adalah Ratu, Luna. Dan dia masih seorang Pangeran. Kekuatanku berada diatasnya."
Krystal kembali menatap ke cermin yang kini menampilkan wajah tidur Minhyun. Minhyun tidak akan bisa bersembunyi darinya, dari sinar bulan. Dan bulan sudah berada di tangan Krystal semua itu berkat Ibunya, Jessica.
Jessica membunuh Tiffany ketika Minhyun –putra Tiffany berada di bumi setelah membunuh Tiffany, Jessica mengirim pasukan untuk membunuh Minhyun dan kelima Ksatrianya serta menutup gerbang penghubung Bumi dan Bulan hingga Minhyun tidak bisa kembali ke Bulan.
Ketika Tiffany meninggal dan Jessica mengumumkan kepada seluruh rakyat Bulan bahwa sang putra mahkota juga meninggal di Bumi sehingga membuat Jessica menjadi Ratu Bulan.
Merasa iri dengan Ibunya yang menjadi Ratu, tanpa pikir panjang Krystal meracuni Ibunya sendiri sehingga sekarang dialah yang menjadi Ratu Bulan. Namun Krystal tahu jika Putra Mahkota yang sebenarnya masih hidup dan ia merasa terancam. Apalagi sekarang ini Ksatria terakhir berada sangat dekat dengan sang Pangeran Bulan.
Krystal harus membunuh Minhyun di Bumi tapi sebelum membunuh Minhyun, dia harus membunuh Ksatria itu dulu karena sang Ksatrialah yang bisa membunuhnya.
.
.
.
.
Prang.
Jonghyun langsung membantu salah satu pegawai cafeteria yang menjatuhkan gelas ke lantai. Beberapa orang yang ada disekitar mereka hanya diam saja dan malah menatap kesal ke pegawai tersebut.
"Ma-mayor Kim, biar aku saja yang membereskan ini." Sang pegawai wanita itu menatap gugup ketika Jonghyun ikut membereskan pecahan gelas yang berserakan. Dia tahu siapa pria tampan didepannya karena beberapa staff ada yang bergosip tentang tiga pria tampan yang ditugaskan langsung oleh Mentri Pertahanan untuk menjaga objek tersebut.
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu."
"Maaf sudah merepotkan anda."
"Lain kali kau harus berhati-hati."
"Iya, Mayor."
Ketika keduanya tengah fokus membersihkan pecahan kaca di lantai, Jinyoung memanggil nama Jonghyun.
"MAYOR KIM."
Teriakan Jinyoung sukses membuat Jonghyun terkejut hingga tanpa sengaja jarinya tergores pecahan gelas yang ia bereskan. Ia dengan segera berdiri. "Ada apa, Jinyoung?"
"Kau harus ikut denganku sekarang, Mayor. Ini tentang dia."
Mayor tampan itu mengangguk mengerti. "Maaf aku harus bertugas sekarang."
"Tapi, Mayor. Tangan anda berda–" Pegawai itu tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Jonghyun sudah pergi menjauh dengan Jinyoung.
.
.
.
.
"Ada apa?"
"Bibirnya bergerak menyebut sebuah nama." Balas Seongwoo.
Jonghyun langsung menatap kedalam peti kaca yang berhias berlian dan crystal. Matanya menyipit ketika si Pangeran Bulan itu masih memejamkan matanya namun kini bibirnya bergerak.
"GD, Suho, JB, RM, JR." Dongho membaca gerak-gerik bibir tersebut. Dia adalah seorang Letnan jadi membaca gerak bibir mudah baginya dan kedua mitranya. Apalagi Jonghyun yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.
Daniel memandang ketiga perwira didepannya. "Bukankah kelima nama itu adalah nama-nama kelima Ksatrianya?"
"Astaga kisah Lunar benar-benar nyata!" Ren hampir berteriak kencang. "Dia benar-benar Pangeran Bulan. Dia menyebut nama-nama Ksatrianya!"
"Noona, tenanglah."
"Aku tidak bisa tenang, Daniel. Astaga ini benar-benar luar biasa. Tebakanmu 100% benar, Daniel."
Jonghyun tidak menghiraukan mereka, tangannya yang terluka dan mengeluarkan darah menyentuh peti kaca tersebut. Akibatnya darahnya menempel pada peti tersebut.
.
.
.
.
Terdengar suara burung gagak saling bersahutan dengan kencang dan suasana berubah menjadi mencekam seketika.
Ren langsung memeluk erat lengan berotot Dongho.
"Darimana suara gagak itu?" tanya Seongwoo.
Jinyoung menggeleng. "Aku tidak tahu, ruangan ini kedap suara. Seharusnya kita tidak bisa mendengar apapun dari luar ataupun suara kita tidak akan keluar dari luar."
Angin dingin berhembus kencang dan sukses membaut bulu roma mereka berdiri.
"Kenapa ruangan ini tiba-tiba menjadi sangat dingin?"
"Bukan hanya dingin tapi mencekam." Daniel merapatkan jaketnya. "Seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi."
"Sesuatu yang besar, heh? Maksudmu dia akan terbangun?"
Pertanyaan Jonghyun sukses membuat semua orang yang ada menatapnya.
"Minhyun." Panggil Jonghyun dengan sangat lirih, entah darimana dia kembali menyebut nama itu.
Tepat ketika nama itu meluncur dari mulut Jonghyun peti kaca tersebut retak.
"Mundur!" perintah Seongwoo pada semuanya.
Dongho langsung memeluk Ren dan Jinyoung menarik lengan Jonghyun untuk mundur.
.
.
.
.
PRANGGG!
Suara kaca pecah yang luar biasa keras memasuki gendang telinga mereka. Tidak ada yang bergerak dari mereka berenam sampai indera penciuman mereka mencium aroma yang begitu wangi serta angin dingin yang mereka rasakan beberapa saat yang lalu berubah menjadi angin segar.
"Bumi telah banyak berubah." Ujar sebuah suara yang begitu lembut layaknya sebuah nyanyian surga.
.
.
.
.
Mata Krystal terbuka ketika merasakan aura sepupunya. Matanya yang berwarna hitam bagaikan blackhole yang siap memakan seluruh kebahagiaan alam semesta terutama Bumi.
"Kau dan Ksatria terakhirmu akan mati di Bumi."
.
.
.
.
Keenamnya langsung menatap ke sumber suara dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat sosok yang selama ini tertidur dipeti kini tengah berdiri dan menatap pemandangan kota Seoul.
Sosok itu benar-benar tinggi dan menawan walaupun mereka saat ini menatap sisi kanan wajahnya. Tangannya memegang moonlace yang kini menghadap kearahnya.
Ren langsung membuang mukanya ketika sadar bahwa sosok rupawan sang Pangeran Bulan itu tidak mengenakan apapun. Sang Pangeran Bulan itu telanjang bulat layaknya bayi yang baru lahir.
Jonghyun adalah sosok pertama yang langsung mengatasi keterkejutannya dan bergerak mendekati sang Pangeran. Tanpa banyak kata ia langsung melepaskan jaket kulitnya yang berwarna hitam dan memakaikannya pada tubuh sang Pangeran.
Ketika Jonghyun memakaikan jaketnya, jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit putih tersebut. Jantung Jonghyun berdebar ketika merasakan sensasi lembut kulit tersebut bahkan kulit tunangannya yang notabenya seorang wanita tidak semulus ini.
Sang Pangeran Bulan langsung menatap tepat pada mata Mayor tampan itu.
Jonghyun benar-benar dibuat lupa akan sekitarnya ketika melihat mata tersebut. Mata itu sangat indah dan berbeda dengan mata manusia. Anggap Jonghyun gila namun jika kau melihat langsung mata Pangeran Bulan itu maka kau akan melihat jutaan bintang-bintang yang ada di galaxy. Jonghyun seakan bisa melihat seluruh galaxy dalam mata indah itu.
"Siapa kau?"
"Namaku Hwang Minhyun, aku adalah Pangeran Bulan dan Raja Bulan selanjutnya namun Bibiku mengambil alih Istanaku dan kini putrinya yang bernama Krystal yang menduduki tahta." Minhyun memandang keenam sosok didepannya dengan matanya yang indah itu. "Aku butuh bantuan kalian untuk merebutnya kembali dengan cara membunuh Krystal."
"APA?!"
Minhyun memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya kembali. "Maafkan aku, aku tertidur terlalu lama hingga melupakan tata kramaku. Aku ingin tahu nama masing-masing dari kalian."
Itu bukan permintaan tapi perintah. Benar-benar seorang Pangeran.
"Aku akan mengenalkanmu dari sisi kanan sampai sisi kiri. Dia Park Jinyoung, Kang Dongho, Choi Ren, Kang Daniel dan Ong Seongwoo."
"Dan kau?"
"Namaku Kim Jonghyun."
Minhyun mengangguk mengerti. "Aku tahu kalian bingung akan maksud dari ucapanku tadi."
"Tidak sepenuhnya bingung karena kami tahu kisah tentangmu dan para ksatriamu itu."
"Kalian tahu darimana?"
"Mitos kisah tentang Lunar."
Minhyun tersenyum mendengarnya. "Dani benar-benar menulis kisahku."
"Dani? Siapa Dani?"
"Seorang gadis polos yang aku temui di Yunani ratusan tahun yang lalu." Mata Minhyun memandang Daniel. "Dia mirip denganmu."
Daniel mengernyit. "Tapi dia seorang perempuan dan aku laki-laki. Laki-laki dan perempuan tidak ada yang mirip."
"Kau akan menarik kata-katamu itu bila melihat wajahnya."
Daniel dan Ren saling berpandangan.
"Minhyun, mungkin ini terdengar lancang dan tidak sopan tapi bisa kau menceritakan pada kami semuanya? Karena aku yakin jika kisah Lunar itu pasti dari ratusan tahun sudah di modifikasi. Dan sebagai seorang yang dari kisah itu aku ingin mendengar langsung darimu." Ujar Jonghyun.
Dia adalah seorang Mayor dan harus bergerak cepat tanpa basa-basi. Lagipula dia ingin segera menyelesaikan tugas ini agar segera kembali ke Nayoung.
Minhyun menatap datar Jonghyun. "Wajahmu memang mirip JR tapi sikapmu tidak. Jika JR melihat reinkarnasinya seperti ini maka aku yakin dia akan langsung membakarmu."
"Kau bilang apa?" Jonghyun sudah siap dengan pistolnya namun Minhyun langsung memalingkan wajahnya dari Jonghyun.
"Aku akan menceritakan pada kalian semuanya dan aku sangat berharap setelah ini kalian akan membantuku melawan Krystal tapi sebelum itu, bisa kah kalian menyiapkan pakaian untukku?"
Keenamnya memandang tubuh Minhyun dari atas hingga kebawah, Minhyun hanya memakai jaket milik Jonghyun dan itu tidak sepenuhnya menutupi bagian tubuhnya. Kakinya yang mulus tanpa bulu benar-benar menggoda bahkan Ren sangat iri dengan kaki Minhyun.
.
.
.
.
"Kau harus menelpon Ayahmu." Jonghyun mendudukan dirinya disamping Dongho. Ia saat ini hanya memakai kaos hitam polos yang sangat pas pada tubuhnya serta jeans hitam dan jangan lupakan sepatu bootnya. Ia sebenarnya memakai jaket namun jaketnya ia berikan pada Minhyun.
Dongho menatap bingung sahabatnya itu. "Untuk apa?"
"Objek yang berstatus sebagai Aset Negara sudah bangun. Aku yakin Kangin Ajusshi dan Jendral Jung juga ingin melihatnya secara langsung."
"Kenapa tidak kau saja yang menelponnya, kau kan Mayor."
Jonghyun memukul kepala Dongho dari belakang. "Cepat lakukan, aku Mayormu, Letnan Kang."
"Cih, bilang saja kau ingin segera menyelesaikan tugas ini agar kembali ke Nayoung, heh? Sudah tidak sabar menjadi Ayah yah." Gumam Dongho.
"Sialan kau."
"Oh, kau sebentar lagi akan menjadi Ayah, Mayor Kim?"
Jonghyun, Dongho serta Jinyoung dan Seongwoo yang juga ada diruangan langsung mendongak dan melihat Minhyun baru keluar dengan Daniel dan Ren. Minhyun kini memakai jeans serta kaos polos yang kemungkinan besar milik Daniel.
Ok, walaupun Minhyun hanya memakai baju santai seperti ini namun semua orang tahu di berbeda, bukan hanya karena iris matanya saja namun juga pembawaannya yang benar-benar seorang Pangeran sejati.
Dongho tidak memandang Minhyun lebih lama lagi karena ia harus menelpon Ayahnya jadi dia berdiri dan keluar dari ruangan.
"Ya. Tunanganku sedang hamil."
"Kau yakin bayi yang ada diperutnya adalah anakmu?"
Jonghyun langsung berdiri dari duduknya dan menatap penuh amarah Minhyun. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" desisinya berbahaya.
Minhyun tersenyum pongah. "Maksudku mengatakan itu karena aku ingin memberitahumu bahwa bayi yang ada diperut tunanganmu itu bukan bayimu tapi milik sosok pria bernama Choi Seungcheol. Tunanganmu itu bermain api dibelakangmu, Mayor."
Mata Seongwoo melebar mendengar ucapan Minhyun. Bagaimana bisa Minhyun dengan amat berani mengatakan hal itu, bukankah Minhyun baru saja bangun dari tidur panjangnya. Bahkan Minhyun tahu tentang Choi Seungcheol.
Seongwoo tahu siapa itu Seungcheol. Seungcheol adalah salah satu sahabat dekat Jonghyun dan Nayoung. Setahun yang lalu Jonghyun pernah bercerita padanya bahwa Seungcheol lah yang membantunya memilihkan cincin pertunangannya dengan Nayoung.
Jonghyun murka bukan main mendengar ucapan Minhyun. Dengan gerakan cepat ia sudah ada didepan Minhyun dan mencengkeram kaos yang Minhyun kenakan. "Kau!"
"Walaupun aku tertidur selama ratusan tahun bukan berarti aku mati. Dan dari sekali lihat aku tahu seluruh kehidupanmu." Ujar Minhyun dengan nada tenang, tidak ada rasa takut sama sekali pada wajah rupawannya.
"Jonghyun!" Seongwoo dengan segera menahan tangan Jonghyun yang siap melayangkan pukulan pada wajah mulus Minhyun. "Hentikan!"
Seongwoo dengan segera mendorong Jonghyun menjauh dari Minhyun dengan susah payah karena Jonghyun memiliki tenaga yang kuat.
Minhyun benar-benar hanya menatap datar Jonghyun yang tampak begitu murka padanya. Padahal Minhyun hanya mengatakan kebenaran.
Saat pertamakali menatap wajahnya Minhyun hampir saja memeluk sosok tampan itu karena wajah Jonghyun benar-benar mirip dengan JR namun ketika melihat mata Jonghyun, Minhyun langsung membuang jauh pikiran itu.
Jonghyun berbeda dengan JR.
Jonghyun seorang bajingan, dia bahkan sering meniduri salah satu korban atau tersangkanya hanya untuk main-main walaupun Jonghyun bermain dengan bersih –alias memakai kondom tapi tetap saja dia seorang bajingan.
Memang Minhyun memiliki kemampuan bisa melihat kehidupan seseorang tapi dia tidak bisa melihat masa depan orang itu. Ketika ia menatap mata Jonghyun, Minhyun tahu ada seorang perempuan bernama Nayoung jadi tanpa pikir panjang Minhyun langsung menatap mata Nayoung yang ada dalam pikiran Jonghyun dan melihat kehidupan Nayoung.
Minhyun senang ketika melihat Nayoung juga ternyata bermain api dibelakang Jonghyun, ia pikir bajingan seperti Jonghyun memang pantas mendapatkan balasannya. Jika Minhyun bertemu Nayoung ia ingin sekali mencium tangan perempuan itu karena berhasil berselingkuh dari Jonghyun.
"Kau bukan Ksatria, kau hanyalah bajingan tidak tahu diri."
"Kau pikir kau siapa? Kau hanya Alien yang datang ke Planetku dan siapa yang mengatakan aku adalah Ksatria. Aku adalah seorang Mayor."
"Mm, Jonghyung-hyung, Pangeran Minhyun sudah tertidur selama lima ratus tahun, mungkin istilah Mayor belum ada saat itu dan biasanya yang aku tahu jaman dulu para prajurit yang hebat disebut Ksatria. Mungkin saja maksud dari Pangeran Minhyun adalah–"
Sang Pangeran Bulan menghela nafas, walaupun Jonghyun adalah seorang Bajingan namun dia tetap seorang Ksatria dan reinkarnasi dari JR.
Minhyun mengelus lengan Daniel dengan lembut. "Tidak, Daniel. Bukan itu maksudku. Bajingan ini memang seorang Ksatria, dia reinkarnasi dari Ksatria terakhirku."
"A-apa?"
"Maksudmu reinkarnasi dari Ksatria terakhirmu yang bernama JR?" tanya Jinyoung.
"Ya. JR menyegelku dengan jiwanya dan hanya dialah yang bisa membangunkanku."
"Tapi kau terbangun bukan karena JR. Kau terbangun karena... karena..." Daniel tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia tidak tahu Minhyun terbangun karena apa.
"Karena darahku."
Semua orang menatap Jonghyun.
"Darah?"
"Tanganku berdarah dan tidak sengaja menyentuh peti kacamu itu lalu semuanya terjadi begitu saja. Bahkan sehari sebelumnya aku menyebut namamu dan tiba-tiba saja lampu mati."
Jonghyun memandang tepat pada mata Minhyun. Rasa marahnya entah hilang kemana. Lagipula ini adalah tugasnya, jadi dia harus profesional dan menyelesaikan segera setelah itu ia akan berbicara dengan Nayoung. "Tapi bukan berarti aku Ksatriamu."
"Menyebut nama? Mati lampu?" Ren memandang bingung sosok tampan tersebut. "Aku tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti, Ren." Ujar Jonghyun dengan dingin. Sial, dia keceplosan dengan mengatakan bahwa dia menyebut nama Minhyun ketika Minhyun sendiri belum bangun.
Minhyun mendudukan dirinya dengan santai. "Aku akan menceritakan semuanya pada kalian. Jangan ada yang berbicara selagi aku bercerita."
Semuanya minus Jonghyun mengangguk setuju.
"Tapi tunggu sampai semuanya berkumpul."
Dongho memasuki ruangan bersama dengan Kangin dan Yunho. "Mentri Pertahanan dan Jendral Besar sudah datang."
Jonghyun, Seongwoo, Jinyoung, Ren dan Daniel langsung membungkuk penuh hormat sedangkan Minhyun masih duduk dengan santai. Ia tidak perlu memberi hormat pada kedua sosok didepannya karena posisinya diatas kedua sosok pria dewasa tersebut.
"Dia sudah bangun." Kangin terpana akan sosok rupawan Minhyun yang juga tengah menatapnya dengan dingin.
"Karena semuanya sudah berkumpul, aku akan menceritakan semuanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
22 Jun 18
