The Last Knight
by
Achan98
.
Chapter 4 : Sebuah Kisah
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Minhyun menatap satu persatu sosok yang baru ia temui itu namun dari sekali melihat mata mereka ia sudah tahu seluruh kehidupan sosok-sosok didepannya dengan mudah.
Minhyun mengambil nafas sebentar sebelum memulai kisahnya. "Semuanya terjadi sekitar 700 tahun yang lalu ketika Ibuku menyuruhku untuk turun ke Bumi."
Tiffany tersenyum sayang ketika Minhyun datang dan membungkuk hormat padanya. "Minhyun, turunlah ke Bumi."
"Kenapa Ibunda?"
"Kau adalah Raja Bulan selanjutnya, sudah sepantasnya kau bertemu dengan para pemimpin Planet lain."
Minhyun mengangguk mengerti. "Baik, Ibunda."
"Bawa juga kelima Ksatriamu, Minhyun."
"Aku memiliki lima Ksatria bernama GD, Suho, JB, RM dan JR. Mereka telah di sumpah untuk melindungiku seumur hidup mereka. Para Ksatriaku sangat kuat bahkan kekuatan mereka bisa membunuh para Raja dan Ratu tapi ketika mereka di Bumi, kekuatan mereka sama tidak seimbangnya."
"Ketika kau telah sampai di Bumi kau akan bertemu dengan Artemis." Jelas Suho.
"Siapa Artemis?"
"Dewi Bulan. Putri Zeus -Sang Raja para Dewa. Artemis adalah penghubung Bulan dan Bumi." celetuk JB.
"Artemis? Dewi Bulan dari Mitologi Yunani?" tanya Seongwoo.
"Para Dewa dan Dewi Yunani adalah Pemimpin sesungguhnya di Bumi."
"Aku pikir mereka hanya mitos." Celetuk Jinyoung.
Minhyun menatap Jinyoung. Tidak ada ekspresi apapun pada wajah rupawannya. "Lalu apa aku ini Jinyoung? Kalian juga kemarin menyebutku mitos."
"Maaf."
"Tidak usah di pikirkan." Minhyun mengibaskan tangannya. "Kami berenam turun ke Bumi dan langsung disambut oleh Artemis dan tangan kanannya yaitu Dani."
"Kau tadi bilang Dani adalah gadis polos yang kau temui di Yunani."
Minhyun tersenyum tipis. Amat sangat tipis. "Dia memang gadis."
Artemis tersenyum cantik ketika melihat sang Pangeran Bulan bersama Kelima Ksatrianya. Disampingnya berdiri seorang gadis yang masih berusia lima belas tahun bernama Dani.
"Selamat datang di Bumi, Pangeran Minhyun. Perkenalkan nama saya Artemis dan disamping saya ini adalah tangan kanan saya, Dani."
Dani ikut membungkuk penuh hormat pada Minhyun dan kelima ksatrianya. "Selamat datang di Bumi, Pangeran."
Minhyun menatap sekitarnya. Ini adalah kali pertama ia berada di Bumi dan Bumi tampak berbeda dengan Bulan. "Di bangsa mana aku ini?"
"Yunani, Pangeran." Jawab Dani.
"Dani adalah penduduk asli Yunani. Jika anda ingin bertanya bisa anda tanyakan padanya, Pangeran."
"Hamba siap melayani anda, Pangeran."
Minhyun tersenyum. "Dia tampaknya sangat patuh pada anda, Lady Artemis."
"Dia sudah menjadi Hunter selama ratusan tahun."
"Aku dengar itu. Siapapun yang memilih menjadi Hunter-mu maka akan hidup abadi asalkan mereka tetap perawan dan patuh padamu. Bukan begitu, Lady Artemis?"
Minhyun tahu karena Suho menceritakan beberapa hal padanya. Pengetahuan dasar tentang Bumi. Ksatrianya yang itu memang paling tahu segala hal.
"Iya, Pangeran."
Hari pertama Minhyun dan kelima ksatrianya disambut baik oleh Para Dewa Olympus dan Manusia. Sudah bukan rahasia lagi jika Bulan adalah planet terkuat di angkasa raya. Bulan memang terlihat kecil dan indah namun siapa yang tahu jika penduduk Bulan sendiri sangatlah kuat bahkan bisa di bandingkan dengan para Dewa.
"Besok adalah pertemuan dengan ketiga belas Olympus. Kau akan bertemu dengan Zeus." Ujar RM ketika mereka berada di Istana yang sudah di siapkan oleh para Dewa.
"Zeus, Raja Para Dewa itu?"
Suho mendudukan dirinya disamping Minhyun. "Aku dengar reputasinya sangat buruk."
"Buruk bagaimana? Dia seorang Raja, Suho."
"Buruk dalam artian dia suka seenaknya sendiri. Hampir sebagian besar para Dewi di Olympus sudah ia perkosa." Jelas Suho.
"Dia memperkosa adiknya, kakaknya, bibinya, anaknya, cucunya. Semuanya sudah pernah ia perkosa kecuali para Dewi yang sudah bersumpah untuk tetap perawan seperti Artemis dan Athena." Tambah JB. Selama di Yunani dia memang mencari tau banyak hal mengenai para Dewa dan Dewi Olympus.
"Lalu hubungannya denganku?"
"Kami takut dia akan mendekatimu, Minhyun." Ucap JR dengan dingin.
"Tapi aku laki-laki."
"Zeus memiliki ratusan pacar laki-laki." Celetuk GD -sang pemimpin para Ksatria. "Dan kau bahkan lebih menarik dari para Dewi di Olympus."
"Ya. Aku pernah membaca bahwa para Dewa itu memiliki banyak kekasih pria seperti Zeus dan Apollo." Ujar Daniel. Dia sangat menyukai hal-hal berbau mitologi jadi tentu saja dia tahu.
"Jadi kekhawatiran para Ksatriamu menjadi kenyataan?" Kini Sang Jendral yang membuka suaranya.
"Ya. Tepat setelah kita melakukan perjanjian damai pada malam harinya Zeus mendatangi kamarku dan hampir memperkosaku."
Kangin menatap prihatin Minhyun. "Astaga."
"Sayangnya niatnya itu sudah lebih dulu diketahui oleh para Ksatriaku. Mereka berlima mengalahkan Zeus."
"Zeus adalah raja para dewa. Dia sangat kuat."
"Sudah ku katakan jika Ksatriaku adalah sosok-sosok yang kuat. Kekuatan mereka bahkan bisa membunuh para Raja dan Ratu. Walaupun mereka berada di Bumi hingga kekuatan mereka tidak seimbang tetap saja mereka masih kuat."
"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"
"Zeus pergi dengan penuh amarah." Minhyun menatap tangannya dan seketika Moonlace muncul di telapak tangannya. Ketika di Peti dia memang memakai pakaian beserta tiaranya namun ketika ia bangun, Minhyun menyimpan itu semuanya dengan mantranya.
"Aku dan Ksatriaku berniat untuk segera kembali ke Bulan namun Zeus bersama para Dewa lainnya menahanku. Dia mencoba memperkosaku ramai-ramai."
Ren menutup mulutnya. Ia merasa sangat mual membayangkannya. "Mereka melakukannya?"
"Tidak. Lagi-lagi kelima Ksatriaku menggagalkannya. Mereka berlima marah besar dan tanpa belas kasihan kelimanya membunuh para Dewa itu."
"Ya Tuhan."
Minhyun tersenyum penuh ke aroganan mengingat itu. "Olympus hancur di tangan kelima Ksatriaku."
Artemis menatap Dani. Tubuhnya sudah penuh luka karena Kelima Ksatria Minhyun bahkan membunuh para Dewi. Ini semacam sebuah Kudeta tapi semuanya di mulai oleh Zeus sendiri. "Pergilah bersama dengan Pangeran Minhyun."
"Lady Artemis." Dani menatap sedih sosok Artemis.
"Takdir Olympus memang hancur di tangan Para Ksatria. Kau bukan lagi Hunter-ku, Dani. Kau bebas sekarang tapi kau masih tetap abadi sampai ada sosok yang bisa membunuhmu." Setelah itu sang Dewi Bulan menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya bercahaya dan berubah menjadi bintang-bintang di langit.
"Dani." Panggil Minhyun.
Dani menatap keenam sosok didepannya, ia lalu membungkuk hormat. "Saya siap melayani anda, Yang Mulia."
"Harusnya setelah perang dengan para Dewa selesai kami akan kembali ke Bulan. Namun portalnya sudah tertutup dan membuat kami harus menunggu seratus tahun lagi."
Jonghyun menatap intens Moonlace yang ada ditangan Minhyun. "Kenapa portalnya tertutup?"
"Zeus menghancurkannya. Pintu portal harus terbuka dari dua arah. Di Bumi dan di Bulan." Ada sedikit nada amarah dalam suara sang Pangeran.
"Jadi apa yang kalian lakukan?"
"Kami menunggu." Minhyun menatap Jonghyun. Seakan kata kami adalah tentang ia dan Jonghyun juga.
"Aku pikir Yunani sudah tidak aman lagi untuk kita. Kita harus pergi ke negara lain."
Saran dari Dani langsung disetujui oleh keenamnya dan selama seratus tahun mereka membaur bersama para manusia di Bumi. Mereka menunggu pintu portal untuk kembali terbuka.
Dani sudah menjadi bagian dari keenamnya. Walaupun ia satu-satunya gadis dalam rombongan mereka namun Minhyun dan kelimanya selalu menjaganya. Dani tampaknya tidak perlu penjagaan karena gadis cantik itu sangat kuat. Efek ia menjadi tangan kanan dari Artemis selama ratusan tahun.
Dani menceritakan banyak hal pada Minhyun tentang Bumi dari masa ke masa dan Minhyunpun menceritakan tentang Bulan pada Dani.
"Di Bulan memiliki Ibu kota terkenal bernama Lunar. Saat kita kesana aku akan mengajakmu berkeliling."
"Tapi, Minhyun. Aku ini manusia tidak mungkin aku bisa tinggal di Bulan." Dani dan Minhyun sudah bersama selama puluhan tahun di Bumi dan Minhyun menyuruhnya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia lagi karena Minhyun sudah menganggap Dani sebagai adiknya sendiri.
"Tentu saja bisa. Aku adalah Raja Bulan selanjutnya. Dan kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri Dani."
Dani tersenyum. "Maaf Minhyun tapi aku tetap tidak bisa. Tempatku di Bumi. Aku akan tetap disini tapi ijinkan aku menuliskan kisah tentang kehidupan di Bulan. Aku akan memberi judul Bukuku dengan Lunar."
Daniel dan Ren saling berpandangan jadi kisah Lunar ini di tulis oleh Dani.
"Jadi Dani yang menulis kisah tentang Lunar? Tapi tidak di kisahkan kehidupan di Bulan malah menceritakan tentangmu."
"Ia mengubahnya ketika hari itu tiba."
"Hari apa?" Entah kenapa Jonghyun merasa dia tidak perlu bertanya karena perasaan dejavu tiba-tiba merasukinya.
"Hari dimana Krystal menguasai Bulan dan mencoba membunuhku. Dia mengirim ribuan Half untuk memburu kami."
"Half?" Seongwoo menatap bingung Minhyun.
"Orang Bumi yang di cuci otaknya oleh Orang Bulan atas perintah Krystal dan diberi serum berupa darah Binatang Bulan." Jelas Minhyun.
100 tahun setelah perang Olympus akhirnya Blue Moon disertai Aurora muncul. Kedua fenomena langit indah itu berasal dari terbukanya portal dua arah yang terjadi di Bumi dan Bulan.
"Terimakasih atas semuanya, Dani."
"Aku yang harusnya berterimakasih." Minhyun dan Dani berpelukan cukup lama.
"Minhyun." Panggil GD, karena dia adalah Pemimpin dari Ksatrianya membuat GD yang berdiri paling dekat dengan pintu portal tersebut. "Kita tidak memiliki banyak waktu, semakin lama kita di Bumi maka semakin lemah kekuatan kita."
Minhyun melepaskan pelukannya pada Dani. "Maaf, aku harus segera pergi."
"Tidak apa-apa." Mata Dani tiba-tiba menatap kalung Minhyun. Kalung yang terbuat dari Moonstone serta menampilkan Bulan yang tampak berwarna merah.
Dani lalu mendongak dan melihat bahwa Bulan masihlah berwarna biru tapi kenapa kalung Minhyun menampilkan bulan berwarna merah.
"Minhyun, kalungmu kenapa?"
Minhyun langsung menunduk dan melihat kalungnya sendiri. Seketika ia menatap ngeri kalungnya dan terdengar suara ledakan yang sangat keras.
"Para Half menyerang kami. GD merasa sebagai seorang Pemimpin segera menyuruh kami pergi dan melawan para Half itu. Sayangnya kami sudah lama berada di Bumi dan membuat kekuatan kami tidak sekuat ketika kami di Bumi." Minhyun mengelus salah satu kelopak Moonlacenya.
"GD terbunuh demi kami." Minhyun memang tidak mengeluarkan ekspresi apapun namun Daniel melihat mata sang Pangeran memancarkan kesedihan, penyesalan dan sebuah kerinduan.
"Aku dengar dari cerita Lunar, Jika salah satu Ksatria mati terbunuh maka kekuatannya akan terbagi kepada Ksatria yang masih hidup."
Minhyun tersenyum kecut mendengar ucapan Daniel. Daniel mengingatkannya pada Dani. "Ya. Memang seperti itu tapi kami memilih untuk bersembunyi. Selama puluhan tahun kami bersembunyi dari Para Half namun kami tidak bisa bersembunyi dari Bulan karena Sepupuku telah menguasai Bulan dan mengawasi Bumi di Bulan."
Satu persatu para Ksatria Pangeran terbunuh hingga hanya ada satu Ksatria terakhir. Satu Ksatria terakhir yang selalu ada untuk Pangeran. Ksatria terakhir yang paling kuat. Dia bisa saja membunuh seluruh prajurit yang memburu mereka namun ia merelakan jiwanya untuk menyegel tubuh sang Pangeran disebuah peti.
"JR, Aku tidak mau!" Minhyun berteriak sambil memberontak dari cengkeraman JR yang kasar.
"Hanya ini satu-satunya cara."
"Aku masih bisa melawannya."
JR menggeleng. "Kau tidak bisa, Minhyun. Kita sedang ada di Bumi bukan di Bulan. Kekuatanmu tidak seimbang, hanya aku yang bisa mengalahkan Krystal di Bumi."
"Maka dari itu biarkan aku membantumu untuk mengalahkan Krystal. Lagi pula yang diinginkan Krystal adalah Aku." Minhyun menatap JR penuh permohonan. Sudah cukup ia melihat keempat ksatrianya meninggal demi dirinya. Ia tidak mau melihat sosok yang paling ia cintai juga meninggal karenanya.
JR mengelus kepala Minhyun dengan lembut. Amat sangat lembut hingga Minhyun bisa merasakan sentuhan JR sampai pada lubuk hatinya yang terdalam. "Minhyun, aku mencintaimu. Tolong mengertilah apa yang aku lakukan ini. Sudah cukup aku kehilangan empat saudaraku, aku tidak mau kehilangamu."
"Dengan kau melakukan ini, kau sama saja kehilanganku, JR."
"Tapi setidaknya aku tahu kau selamat."
"JR-" Minhyun tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena JR sudah membungkam mulut Minhyun dengan sebuah ciuman.
"Aku mencintaimu, Minhyun."
"Aku juga mencintaimu, JR." Air mata membasahi pipi Minhyun.
JR tersenyum. Senyuman terakhir yang ia berikan pada kekasih hatinya. "Sampai bertemu lagi dikehidupan yang lain."
Ia menyentuh kening Minhyun dan seketika sang Pangeran berwajah rupawan itu terlelap. Dengan wajah penuh kesedihan sang Ksatria tampan menidurkan Pangeran disebuah peti kaca dengan hiasan berlian dan crystal, tidak lupa ia meletakan Moonlace ditangan sosok yang ia cintai itu. Bunga yang selalu dibawa oleh Pangeran kemanapun Pangeran pergi dan bunga yang selalu menghadap kearah bulan, rumah mereka.
"Aku bersumpah akan membangunkanmu. Hingga saat itu tiba tetaplah menjadi Minhyuku."
JR menyentuh wajah Minhyun. Ia ciumi wajah Minhyun dari kening, hidung, pipi, dagu hingga bibir berwarna merah itu. Satu ciuman terakhir dalam kehidupannya.
"Aku akan selamanya mencintaimu, Minhyun. Bahkan di kehidupanku yang lain, aku akan tetap mencintaimu."
Satu-satunya Ksatria yang tersisa itu menyegel peti tersebut dengan jiwanya. Tidak ada yang bisa membuka peti itu, hanya dialah yang bisa membukanya dan sang Pangeran akan terus tertidur. Ia akan menunggu Ksatrianya untuk membangunkannya karena itulah sumpah sang Ksatria.
JR menyentuh dadanya sekarang ini tubuhnya tidak memiliki jiwa dan ia hanya memiliki waktu sedikit untuk mengalahkan para Half.
"JR." Dani menahan tubuh JR yang tampak lemah. Gadis cantik itu memang sejak tadi ada disana dan melihat semuanya.
"Dani, pergilah dari sini. Ini adalah perangku dengan mereka."
"Aku akan membantumu, JR. Aku akan membantumu."
"Maaf, Dani. Tapi ini bukan waktumu. Di kehidupan yang lain mungkin kita akan bertemu dan kau bisa membantuku." JR memeluk Dani dan mencium kening gadis cantik itu sebentar. "Kau mengerti maksudku, kan?"
"Aku mengerti."
"Sekarang pergilah."
Dani segera berdiri dan pergi dari hutan tersebut ketika ia mendengar suara langkah kaki dari para Half.
JR-pun berdiri dan siap melawan para Half seorang diri. Ia adalah Ksatria terakhir, keempat saudaranya sudah tiada dan memberikan kekuatan mereka padanya. JR tidak akan membuangnya secara percuma walaupun sekarang tubuhnya sudah tidak memiliki jiwa lagi.
Puluhan Half itu menyerangnya dengan bringas namun JR memiliki kecepatan dan kekuatan diatas rata-rata dan melawan mereka. Pertempuran itu berlangsung cukup lama namun JR berhasil mengalahkan lawannya.
JR muntah darah dan mencengkeram dadanya yang sakit bukan main. Ia tahu waktunya kian menipis.
"Ini kah Ksatria Terakhir itu?"
JR mendongak dan melihat wajah cantik Krystal sudah ada didepan matanya.
"Kau benar-benar luar biasa kuat, Ksatria JR. Kau bahkan mengalahkan puluhan Half-ku seorang diri." Krystal tersenyum manis ketika JR menatap tepat pada matanya. "Kau tahu jika dari dulu aku memiliki ketertarikan padamu Ksatria JR. Kenapa kau tidak menikah denganku saja?"
"Dulu Ibumu juga mengatakan hal yang sama padaku." Ujar JR.
"Apa?"
Bukannya menjawab JR langsung menusukan pedangnya pada jantung Krystal. "Sayangnya aku tidak tertarik dengan seseorang yang memiliki hati busuk."
Krystal mengeluarkan kekuatannya dan melemparkannya pada JR hingga sosok tampan itu mundur bebera langkah. Krystal menatap letak jantungnya sendiri. Untunglah ia seorang Ratu jadi kekuatannya lebih kuat sekarang.
Lagi pula tusukan pedang JR tidak terlalu dalam karena Ksatria itu sudah lemah.
"Aku akan menghancurkanmu. Aku akan menghancurkan Bumi beserta isinya. Camkan itu, Bajingan." Setelahnya Krystal langsung menghilang dari hadapan JR yang menatap Bulan dengan tatapan benci.
"Maaf, Minhyun sayang. Maafkan aku tidak bisa membunuh Krystal." Nafas JR sudah terputus-putus. "Sampai bertemu di kehidupan kita yang lain."
"Hanya Ksatrialah yang bisa menyelamatkan Bumi dari kehancuran, karena itu adalah takdir sang Ksatria."
Seluruh mata langsung menatap kearah Jonghyun.
"Kenapa kau begitu yakin jika aku adalah reinkarnasi dari Ksatria terakhirmu?"
"Kau memang bodoh atau pura-pura bodoh?"
Jonghyun menatap tajam Minhyun. Ia tidak peduli jika didepannya adalah seorang Pangeran atau bukan. Ketahuilah Jonghyun bahkan pernah mengatakan kata-kata yang tidak pantas pada Presiden. Untungnya Presiden itu adalah sahabat dari Ayahnya.
"Kau yang mengeluarkanku dari Peti itu. Sedangkan hanya Ksatria terakhirlah yang bisa mengeluarkanku karena ia menyegelku dengan jiwanya maka hanya jiwa miliknya yang bisa membangunkanku."
Jonghyun mendengus kasar. Entah kenapa dia muak dengan Minhyun. "Lalu bagaimana cara kita mengalahkan sepupumu itu?"
"Kau ini adalah orang bumi serta reinkarnasi JR membuatmu lebih kuat dari Krystal. Kau bisa membunuh Krystal di Bumi maupun di Bulan."
"Kenapa kau yakin Krystal akan ke Bumi?" tanya Jinyoung. "Mungkin saja dia malah menunggu kedatanganmu di Bulan dan mencoba membunuhmu di Bulan."
"Karena dia akan membunuhku di Bumi. Dia tahu kekuatanku tidak seimbang dan kekuatannya juga tidak seimbang ketika turun ke Bumi namun karena dia seorang Ratu maka kekuatannya lebih kuat dariku yang masih berstatus Pangeran." jelas Minhyun.
Ia menatap kalungnya yang menampilkan Bulan. Bentuk bulan sudah tidak seindah dulu. Ia tidak tahu apa yang Krystal lakukan pada Planetnya.
"Jadi semua orang Bulan jika turun ke Bumi maka kekuatannya tidak seimbang?"
"Yah. Tapi bukan berarti mereka lemah."
"Yah kami tahu makna dari tidak seimbang dengan lemah."
Hening menyelimuti ruangan tersebut. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Masing-masing dari mereka masih menyerap cerita Minhyun dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan sepupu gila Minhyun.
"Saat malam hari ketika Bulan berkuasa. Krystal pasti akan turun dan mencariku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
21 August 2018
