Genre : Drama, Komedi, dan kisah-kisah kehidupan setiap hari (?)

Disclaimer : ● Profesor Heine Wittgenstein terhormat dan tersayang milik para Pangeran Granzreich.

● Pangeran kedua Granzreich, Kai sang pangeran tatapan melotot yang suka squishy (?)

● Pangeran Ketiga Granzreich, Bruno sang pangeran jenius yang sangat tergila-gila kepada Tuannya, Profesor Heine dan berusaha mengukir diri menjadi muridnya yang ichiban

● Pangeran Keempat Granzreich, Leonhard tercinta yang benci belajar tetapi berusaha melakukannya karena dia Tsundere~ :3

● Pangeran Kelima, Licht yang playboy kelas bangsawan yang ternyata...ciyee~ kerjanya di cafe, ciyee~ pakai baju pelayan...(?)

● Para staff kerajaan istana dan para masyarakat Granzreich yang sejahtera dan makmur. Serta tokoh-tokoh lainnya yang ada di Oushitsu Kyoushi Haine ( The Royal Tutor) milik Sensei Higasa Akai.

● Tokoh-tokoh OC (Original Character) milik saya yang numpang muncul tiba-tiba, Cilukbaa~ :3

Warning : Terdapat kata-kata yang GaJe atau tidak bermakna (?), abal-abalan, kalimat yang membuat salah fokus atau gagal paham (?), beberapa/banyak TYPO yang akan terbaca, OOC (Out of Character) ALERT, dan kemungkinan nggak lucu (?)..

OKE! ENJOY READING YO~


Chapter-Pelajaran 2 : Sebuah Puisi Untukmu~

Masih di pagi yang cerah (0w0) para Pangeran kesayangan dan manjah-manjah Kerajaan Granzreich sedang duduk-duduk adem di taman istana mereka. Manik-manik biru mereka yang sangat menawan melihat ke arah kebun yang penuh dengan bunga. Sungguh utsukuhiii~

Karena terbawa suasana, Leonhard pun bernyanyi.

"Lihat kebunnya penuh dengan bunga~ ada yang merah ada juga yang ungu~ setiap hari pak kebun siram semua~ Tulip, matahari, daisy, aster, mawar, sepatu, dahlia, edelweiss, krisan, lily, sakura~~~ semuanya indah!~uhuhuhuuuu~~In~dah~ (uAu)." Suara emas Leonhard terdengar sangat indah seperti bunga membuat saudara-saudaranya menangis berduka betapa sakit telinga mereka untuk menahan kemurnian suara itu.

Profesor Heine datang mendengar nyanyian Leonhard yang membahagiakan.

"Selamat pagi Pangeran-pangeranku~ Ouh Pangeran Leonhard sungguh nyanyian yang menyayat hati (?) Aku sungguh terkesan kau punya suara indah.." Seakan memuji atau menyindir Profesor Heine tetap keukeh dengan wajah datarnya.

"Heh, benarkah sensei! Akh! Aku memang!-Ukhu(Tsundere mode) Aku bernyanyi bukan untuk Sensei kok! Aku bernyanyi untuk bunga-bunga ini kok! Hmph! Pujian itu sungguh murahan sensei! Seseorang dengan suara bagus kelas dunia sepertiku harusnya-" Leonhard kelihatan bangga, tetapi Profesor Heine langsung menutup mulutnya. Ia berusaha mencegah waktu terbuang banyak, sebelum CACING BESAR ALASKA datang.

"Maaf Tuan Leonhard, tetapi pelajaran kita hari ini bukan bernyanyi, tetapi hari ini kita akan belajar membuat puisi." Dengan membetulkan kacamatanya yang keceh badai (?) Profesor Heine lalu memberikan masing-masing satu lembar kertas kepada mereka, sayangnya pulpen nggak included dan para bangsawan itu pun bingung.

"MASTER!" Bruno memecah keheningan kebingungan itu dengan cepat.

"Ada apa Pangeran Bruno?" Profesor Heine terkejut tetapi tetap flat face.

"Bagaimana kami akan membuat puisi tanpa alat tulis, wahai masterku?" Wajah Bruno kebingungan membutuhkan jawaban akan persoalan lebih sulit dari SD ini (?).

"Hmmph, Pangeranku Bruno..." Guru mereka tersenyum memberikan nyengir yang elegan (?) disertai kacamata oh silau men. Sepertinya dia telah merencanakan semua ini dengan sempurna.

"Lihat di belakang kertas itu! Kalian tidak akan menuliskannya, tetapi! Kalian akan membacakannya langsung!"

"HEH! (OAO)Z" Para pangeran shock bagaikan memasukkan kabel ke stop kontak dan tersetrum.

Kai yang tak bisa menahan keshockan itu sedetik kemudian terjatuh pingsan, saudaranya dan gurunya pun langsung meminta pelayan untuk membawakan sebuah peti kaca. Setelah itu memindahkan Kai ke dalam peti tersebut.

"Pangeran Leonhard, bisakah kau melakukannya?" Profesor Heine terlihat sangat serius. Pangeran yang cantik itu mengangguk dengan mantap. Ia lalu mengambil spidol hitam dari kantong ajaibnya dan menuliskan sebuah gelar kehormatan pada Kai.

Tertera di pinggir peti itu,

"Sleeping Beauty Kai Von Granzreich"

"Semoga amal dan perbuatan (?) Pangeran Kai akan diselamatkan oleh siapapun yang membangunkannya, amin.." Profesor Heine memimpin doa didampingi serta para pangeran sekaligus saudaranya.

Tetesan air mata jernih Licht turun membasahi pipinya.

"Sungguh muda untuk tertidur terlalu pagi, hilanglah separuh hidupnya, mengalahkan orang yang kesiangan, hiks (?)"

Suasana dalam berkabung.

~ooo~

Mereka kembali lagi dalam kegiatan belajar mengajar meninggalkan kai sang sleeping beauty di belakang.

"Ehemph, baiklah para Pangeranku, okeh, mulai dari Pangeran Bruno, bacalah puisi itu!"

"YES MASTER" Suara kencangnya mengalahkan para fangirl boyband Korea, cinta hidup semati hanya untuk Profesor Heine UYEH!

"Ehem..." Pangeran Bruno berdiri dengan percaya diri mengambil ancang-ancang siap berlari menuju kekharismatikan tiada tara.

Bunga, oh bunga itu merah,

Merah, oh merah bagaikan api,

Api, api membakar jiwaku yang lelah,

Lelah, lelah meratapi hidupku inih..

Inih, Inih hutangku belum terbayar,

Pusing sudah ini kepala

Sungguh kejam itu rentenir

"Heh?" Bruno selesai membaca dan langsung cringe. Profesor Heine, Leonhard, dan Licht bertepuk tangan, terkesima akan pembacaan puisi itu.

"Pangeranku Bruno, puisi itu adalah karangan dari petani di daerah sana yang terjepit hutang, mereka berhutang kepada orang yang salah dan sekarang sedang pusing kepala.. Tugas anda telah selesai membacakan puisi tersebut, selanjutnya saya akan menjadikan PR bagi anda untuk menyelesaikannya permasalahan tersebut, jangan lupa deadline satu minggu, wahai pangeranku"

"Baik Master!" Respon mantap Bruno membuat profesor kecil itu bangga pada muridnya. Tak sia-sia ia mempunyai murid seperti dia.

"Hm, baiklah.. Selanjutnya Pangeran Leonhard!"

"Iya, se-s-sennsei,." Leonhard langsung berdiri walau sebenarnya ia sangat gugup.

"Silahkan (-u-)" Sang Profesor tak mempedulikan ia yang gugup, ia menepuk belakang pangeran ketiga itu dengan lembut (?)

"Ehem.." Sama seperti Bruno ia juga mengambil setelah itu dia diam beberapa saat lalu menarik napas dan menghembuskannya kemudian menarik napas dan menghembuskannya dan menarik napas dan menghembuskannya dan lagi menarik napas dan menghembuskannya, lagi dan lagi...

"WOIY BACA SURATNYA! MALAH AKTING SESAK NAPAS! BACA WOIY!" Licht langsung berteriak kepada Leonhard yang gugup. Dia tidak terima beli tiket pertunjukkan malah ngeliatin Leonhard yang sesak napas (?)

"SABAR AKU TUH GUGUP TAU, PLEASE DEH!" Leonhard membuang muka dan lalu menghela napas.

Memang ada saatnya bunga itu akan mekar

Tetapi ada waktunya cintaku ini akan layu

Rindu itu indah semanis permen kapas

Tapi rinduku tak seindah merajut syal hangat

Dimanakah engkau duhai orang yang kutunggu

Semuanya menjadi gelap bagaikan malam sekarang

Kesedihanku ini telah menjadi bendungan

"Hiks.." Air mata Bruno keluar dan yang di hidungnya pun juga meleleh (?)

"Sungguh puisi yang indah, Baiklah. Leonhard, tugasmu adalah..." Profesor Heine secara sengaja membuat mereka penasaran dan suara drum-drum berbunyi. DRENDRENDRENDREDNG!

"Kau akan membantu gadis itu mencari kekasihnya!"

Satu...

Dua..

Tiga...

"HUWHAAAAT!" Wajah Leonhard sekarang seperti lukisan picasso yang berjudul 'scream' dan teriakannya membuat saudaranya Kai terbangun. Kematiannya adalah fatamorgana yang bersifat sementara.

"Panjang umur kalian semua, selanjutnya Pangeran Licht dan Pangeran Kai, mari silahkan!" Profesor Heine tak peduli dengan Leonhard yang shock berat dan tetap melanjutkan pembacaan puisi.

Sampai semuanya sudah selesai dan pelajaran telah berakhir.

To be continued..

Chapter-Pelajaran 3 : Menjemputmu di Pantai Asmara


THE END

Leonhard : Author! Saya protes! Kok saya dapat tugas susah kok! Ampun Author, saya kan cowok (?) QAQ)

Author: Yah tenang aja kali! Cuman cari pacar orang, lah toh kok ribet banget wkwkkwkw..

Leonhard : Tapi apa hubungannya sama saya author! HUWAAAA (QAQ)

Author : Ada kok, tenang aja, membantu orang kan pahalanya banyak~ Terimalah semuanya..

Leonhard : Terus nanti kalau cewenya malah jatuh hati sama saya gimana author? #kepedean

Author : Hmph, Leonhard.. Seribu tahun pun kau tidak akan mendapat pendamping, ingatlah itu! #JAHAT

Leonhard : TIDAKKKKKKKKKKKKKKKK! #teriakjatuhkejurang

Author : Minna-san arigatou sudah baca lanjutannya! Mohon Kritik dan Saran! ARIGATOU W)/ Mohon maaf pendek QAQ)