DARK AND WILD [TaeKook]

By

Achan98

.

Cast :

TaeKook [Kim Taehyung x Jeon Jungkook]

Kim Jennie – Shim Changmin – Kang Daniel – Jeon Somi – Jung Hoseok [JHope]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook mengerjapkan matanya melihat rumah milik calon suaminya. Didepannya bukan lagi disebut rumah tapi Mansion.

"Jungkook."

Jungkook langsung menengok Taehyung ketika namanya dipanggil. "Ya, Hyung?"

"Aku harus pergi sebentar."

Pemuda berusia sembilan belas tahun itu ingin bertanya namun Taehyung sudah lebih dulu mengangkat tangannya, tanda bahwa Jungkook tidak boleh mengatakan apapun.

"Mereka akan memberitahu letak kamarmu. Aku akan menjemputmu satu jam lagi." Setelah mengatakan itu Taehyung kembali masuk kedalam mobil.

Jungkook melihat kepergian mobil Taehyung dalam setelah benar-benar menghilang dari padangannya Jungkook langsung menatap sepuluh pembantu yang berdiri rapih.

"Antarkan aku ke kamarku." Ujar Jungkook dengan nada dingin.

Hidupnya yang lama telah kembali.

.

.

.

.

.

.

Namjoon menatap berkas diatas mejanya dalam diam. Matanya tidak memancarkan apapun.

Seokjin yang baru masuk ke ruangan kerja suaminya mengambil berkas tersebut dan membacanya. "Jeon Jungkook. Putra sulung dari Jaehyun dan Taeyong yang meninggal dua tahun yang lalu."

Seokjin melirik sebentar Namjoon. "Pantas saja Taehyung sangat ingin menikah dengannya. Karena dulu dia dan Jungkook memang hampir dijodohkan sebelum Jaehyun dan Taeyong meninggal."

Namjoon memijat keningnya sendiri. "Baca berkasnya yang lain."

Seokjin menuruti ucapan Namjoon dan membuka berkas berisi informasi Jungkook.

"Perusahaan Jaehyun jatuh ditangan Changmin karena saat itu Jungkook belum genap 17 tahun tapi ketika usianya genap 17 tahun, perusahaan Jeon sudah berada di tangan Changmin. Demi adiknya Jungkook rela melakukan apapun agar Changmin memberinya uang bahkan dengan cara menyerahkan tubuhnya pada Changmin yang notabenya Pamannya sendiri."

Seokjin membelalakan matanya mendengar ucapan Namjoon. Tangannya mencengkeram kuat berkas ditangannya.

"Malangnya adiknya meninggal dua bulan setelah kedua orangtuanya meninggal. Adiknya meninggal karena dihamili oleh pacar Jungkook sendiri yang langsung menghilang entah kemana."

"Kenapa Taehyung memilih menikahinya?" Sebagai seorang Ibu, Seokjin benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran Taehyung.

"Karena aku ingin menikahinya, Mom." Jawab sebuah suara yang baru memasuki ruangan tersebut.

Namjoon dan Seokjin menengok dan melihat putra satu-satunya yang mereka miliki masuk dan langsung duduk disofa yang memang ada didalam ruang kerja Namjoon.

"Kau mau menikahi pemuda yang sudah kotor?"

Taehyung menatap datar Ibunya. "Jika kau menyebutnya kotor lalu kita ini apa? Kita jauh lebih kotor darinya."

"Taehyung–"

"Dulu kalian berdua mau menjodohkanku dengan Jungkook karena kalian ingin menguras harta keluarga Jeon. Sayangnya Ayah Jungkook tahu rencana licik kalian dan berniat membatalkan pertunanganku dengan Jungkook tapi kalian malah membunuh orangtua Jungkook, membuatnya seakan-akan itu adalah kecelakaan mobil. Sayangnya sebelum kalian mengambil harta kelaurga Jeon kalian kalah cepat dari Changmin."

"Taehyung, kau tidak tahu apa-apa!"

"Aku tahu semuanya." Desis Taehyung berbahaya. "Kalian melakukan banyak dosa. Jadi biarkan aku yang menghapus dosa kalian dengan menikahinya."

"Dia tidak bisa memberimu keturunan." Ujar Seokjin.

Taehyung bersmirk mendengar ucapan Ibunya. "Dia bisa. Dia sepertimu, Mom."

Namjoon menatap Taehyung. "Taehyung, jika kau menikahinya lalu dia tahu kebenarannya dia pasti akan meminta cerai darimu."

"Dia tidak akan meminta cerai dariku, Dad. Yang dia butuhkan hanya uang dan kehidupan lamanya. Aku bisa memberikan itu semua." Taehyung berdiri dari sofa dan membenarkan jas yang ia kenakan. "Aku pikir pembicaraan kita telah usai. Aku akan menjemput Jungkook untuk makan malam bersama kalian ditempat biasa."

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook melihat setelan jas yang telah disiapkan beberapa pembantu Taehyung. Senyum tercetak jelas pada wajah Jungkook ketika menyentuh jas tersebut. Dua tahun yang lalu ia sering memakai jas dari brand tersebut.

Tanpa banyak kata Jungkook langsung mengenakan jas tersebut yang sangat pas pada tubuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan menatap rambutnya sedikit.

"Selamat datang kembali di duniamu yang sebenarnya, Jeon Jungkook." Ucap Jungkook pada dirinya sendiri. Dua tahun rasanya seperti puluhan tahun untuknya hidup dalam kemiskinan.

"Kau sudah selesai?"

Jungkook membalikan badannya dan melihat Taehyung tengah bersandar di depan pintu kamar Jungkook sambil melipatkan tangannya di dada.

Dalam hati Jungkook mengutuk ketampanan Taehyung. Bagaimana bisa ada pria setampan dan sekaya Kim Taehyung yang pada pertemuan pertama sudah melamarnya begitu saja.

Jungkook tentu saja penasaran kenapa Taehyung menikahinya tapi ia takut jika ia banyak bertanya nanti Taehyung malah membatalkan lamaran tersebut dan Jungkook tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau hidup dalam kemiskinan lagi.

"Maaf, Hyung pasti sudah menungguku sejak tadi." Jungkook menundukan kepalanya.

Taehyung tidak mengatakan apapun, dia hanya membalikan badannya dan keluar. Jungkook tentu saja langsung mengikuti Taehyung.

"Kita tidak makan malam di sini, Hyung?" tanya Jungkook ketika keduanya masuk ke mobil Bugatti Taehyung.

"Kita makan malam di Carlton Restaurant."

Jungkook mengangguk mengerti. Dia tahu restaurant itu. Salah satu restaurant bintang lima yang paling terkenal di Seoul. Dulu dia dan keluarganya sering makan disana sebelum kejadian dua tahun yang lalu menghanguskan segalanya.

Kehilangan kedua orangtuanya, menjadi pemuas nafsu pamannya, ditinggalkan kekasihnya yang menghilang entah kemana serta adik tercintanya yang bunuh diri dua bulan setelah kematian kedua orangtua mereka..

Jungkook mengepalkan tangannya mengingat hidupnya selama dua tahun ini. Jungkook akan menganggap semua itu sebagai mimpi buruknya. Ya, mimpi buruk yang tidak akan terjadi lagi.

Jungkook menatap Taehyung. Pria tampan didepannya sudah membangunkannya dari mimpi buruk itu dan dia akan melakukan apapun agar tidak mengalami mimpi buruk itu. Apapun yang Taehyung katakan Jungkook akan menurutinya asalkan dia tidak mengalami mimpi buruk itu lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Makan malam dengan kedua orangtua Taehyung berjalan lancar. Tidak ada yang istimewa dalam pertemuan mereka, keduanyapun bertanya hal-hal umum pada Jungkook. Seokjin bahkan kagum ketika mendengar bahwa Jungkook lulus SMA di usia yang belum genap 17 tahun karena ia mengikuti kelas akselerasi beberapa kali.

Tapi walaupun begitu Jungkook merasa ada yang aneh dengan sikap Seokjin yang terkadang menatapnya sedikit lebih lama dari sewajarnya. Dulu ia pernah belajar tentang membaca ekspresi seseorang dan ekspresi Seokjin seakan sosok itu menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang Jungkook harus tahu.

Andai dulu Jungkook tidak di didik tentang maner dan etika sudah pasti ia akan bertanya pada Seokjin kenapa Seokjin menatapnya seperti itu namun Jungkook tahu bahwa itu bukan hal yang sopan.

Lagipula Jungkook juga tidak mau mengacaukan makan malam ini. Ia takut jika ia bertanya nanti Taehyung marah padanya dan membatalkan pernikahan mereka. Itu adalah hal yang paling Jungkook takuti sekarang.

"Bagaimana kalau pernikahannya dua minggu dari sekarang?"

"Terserah kau saja, Mom."

Seokjin cemberut mendengar ucapan putranya, ia lalu menatap Jungkook dengan antusias. "Bagaimana menurutmu, Kookie?"

Dalam hati Jungkook meringis mendengar panggilan Seokjin untuknya, persis seperti kedua orangtua serta adiknya memanggilnya. "Ide yang bagus, Ahjusshi. Tapi apa semuanya akan terselesaikan dalam dua minggu?"

Seokjin menepuk tangannya. "Aku punya sahabat pemilik wedding organizer. Semuanya akan terselesaikan dengan cepat."

Jungkook mengangguk mengerti.

"Ngomong-ngomong kau harus memanggilku Mom atau Eomma." Perintah Seokjin.

Jungkook menggigit bibir bawahnya. Bayangan wajah Ibunya memenuhi isi kepala Jungkook. "Ya, Mom."

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua minggu berjalan dengan cepat. Kini Taehyung dan Jungkook sudah bersumpah didepan Tuhan untuk terus bersama sampai maut memisahkan keduanya.

Sang Pendeta menatap Taehyung. "Kau bisa mencium pasanganmu."

Taehyung mengangguk, lalu menarik pinggang Jungkook untu lebih dekat padanya dan mencium bibir Jungkook sekilas.

Para tamu yang hadir langsung bertepuk tangan. Mereka ikut bahagia akan pasangan pengantin didepan mereka.

Namjoon memang ikut bertepuk tangan namun wajahnya tidak memancarkan ekspresi apapun, Seokjin disampingnya hanya menghela nafas lalu berbisik pada suaminya.

"Taehyung menggali kuburan untuk kita berdua. Jungkook itu pemuda jenius, cepat atau lambat dia pasti tahu apa yang kita lakukan pada orangtuanya. Dia pasti akan menuntut kita dan memasukan kita ke penjara."

"Taehyung tidak akan membiarkan itu terjadi. Bedebah kecil itu tetap putra kita." Namjoon memeluk pinggang Seokjin. "Lagipula aku sudah menghancurkan seluruh bukti dan saksi mata."

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook hanya tersenyum kecil ketika Taehyung mengenalkannya pada beberapa koleganya, Jungkook bahkan tidak keberatan akan tangan Taehyung yang merangkul pinggangnya.

"Kau lelah?"

Jungkook menggeleng. "Tidak."

"Kau bisa duduk jika lelah."

"Tidak, Hyung. Aku tidak lelah."

Taehyung mengelus poni Jungkook dengan lembut. "Aku akan mengenalkanmu pada satu kolegaku setelah ini kita akan beristirahat."

"Hyung, sudah ku katakan aku tidak lelah. Aku baik-baik saja, Hyung."

"Tidak ada bantahan, Jungkook."

Jungkook memajukan bibirnya mendengar nada suara Taehyung yang dingin dan dia pun hanya mengangguk setuju.

Taehyung kembali memeluk pinggang Jungkook dengan erat dan mencium pipi temben Jungkook.

"Taehyung." Seseorang menepuk punggung Taehyung.

Taehyung langsung membalikan badannya. "Hyung, akhirnya kau datang juga. Aku pikir kau sangat sibuk di Jepang."

Changmin tersenyum. "Tidak mungkin aku tidak datang di hari pentingmu, Taehyung-ah."

"Hyung, perkenalkan ini Jungkook istriku. Jungkook perkenalkan ini Shim Changmin, salah satu kolegaku."

Changmin dan Jungkook sama-sama terdiam kaku. Taehyung yang melihat itu hanya bersmirk dalam hati. Dia sebenarnya tahu akan dua orang didepannya dan memang sengaja mengenalkan keduanya.

Taehyung tahu Jungkook pasti membenci Changmin karena Taehyungpun juga membenci pria didepannya. Ia membenci Changmin karena sosok itu pernah meniduri Jungkook dan memanfaatkan Jungkook.

"Aku tahu istriku begitu cantik hingga kau tertegun melihatnya, Hyung." Ucapan Taehyung sukses membuat Changmin dan Jungkook tersadar.

"Ya, kau memilih istri yang hebat, Taehyung-ah." Changmin adalah orang pertama yang sadar lalu mengulurkan tangannya. "Namaku Shim Changmin."

"Jeon Jungkook." Tanpa membalas uluran tangan Changmin. Ia langsung menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. "Taehyung-hyung, aku lelah."

"Aku akan mengantarkanmu ke kamar." Setelahnya keduanya meninggalkan Changmin yang menatap punggung Jungkook dengan intens.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menggembungkan pipinya ketika jam dinding kamar sudah menunjukan waktu tengah malam. Sudah dua jam dia menunggu Taehyung namun pria tampan itu tidak kunjung masuk kedalam kamar mereka.

Jungkook memainkan bathrobe putih yang ia kenakan. Didalam bathrobe itu ia sengaja tidak mamakai apapun. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Taehyung. Ia harus memuaskan Taehyung.

"Kenapa kau belum tidur?"

Senyum manis langsung tercetak jelas pada bibir Jungkook ketika sosok yang ia tunggu akhirnya muncul juga. Jungkook segera berdiri dan membantu Taehyung melepaskan dasi, jas serta kemeja yang Taehyung kenakan.

"Jungkook?"

"Aku menunggumu, Hyung." Jawab Jungkook.

"Tapi aku menyuruhmu untuk tidur."

"Aku belum mengantuk." Jungkook mendekatkan wajah mereka, di lihat dari dekat Kim Taehyung benar-benar luar biasa tampan. "Hyung, kau mau mandi dulu atau..." Jungkook tidak melanjutkan kalimatnya namun ia mengigit bibir bawahnya dengan sensual.

Taehyung tidak berekspresi apapun melihat tingkah Jungkook walaupun matanya memandang bibir Jungkook. "Untuk apa aku mandi jika berakhir akan penuh keringat lagi." Tangan Taehyung menarik bathrobe yang Jungkook kenakan.

"Taehyung-hyung."

"Hm?" Taehyung membuka bathrobe yang Jungkook kenakan lalu melemparnya. Kini didepannya terpampang tubuh Jungkook tanpa mengenakan apapun. Jungkook memiliki kulit yang putih bersih seperti porselen.

Tangan Taehyung mengelus lembut perpotongan leher Jungkook, turun ke dada dan perut Jungkook.

Jantung Jungkook berdetak sangat kencang akan sentuhan tangan Taehyung. "Aku akan membiarkanmu menyentuhku seminggu tanpa henti asalkan aku ingin Shim Changmin hancur."

Taehyung memandang tepat pada mata Jungkook. Ia lalu mengangguk dan mengambil ponselnya untuk menelpon sekertarisnya. "Hancurkan Shim Changmin tanpa sisa."

Dan keesokan harinya tersebar berita Shim Changmin bangkrut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

30 July 18

.

.

.

.

Next chapter bakal ada adegan ehem ehemnya TaeKook tapi bakal aku update kalau yg review udah mencapai target.

so kalau kalian pengen aku fast update harus review yah. nggak enak banget loh habis baca terus pergi gituh aja tanpa ninggalin jejak.

setidaknya kalian bikin aku bahagia dengan review dari kalian hehhehe.

.

.

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya