Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Natalya mengenal Tanya karena Tanya menginjak kakinya di hari pendaftaran ke dinas militer Uni Soviet.
Kemudian, dengan aturan yang tak Natalya tahu, juga tak mau tahu, mereka ditempatkan di satu kamar. Natalya berada di ranjang bagian atas dan Tanya di bawah, belakangan Natalya ketahui anak itu punya pengalaman buruk dengan tempat tidur di bagian atas. Ia pernah didorong oleh kakaknya dari atas, membuat kepalanya cedera, tetapi perempuan itu bersyukur hal itu tidak membuatnya trauma.
Natalya tak bisa menilai Tanya. Yang paling jelas, Tanya berbeda dengan kakaknya. Jika Yekaterina orangnya pendiam tetapi mudah khawatir, Tanya pendiam di tengah sekelompok orang, tetapi dia akan banyak bicara pada orang yang ia perlukan, dan dia sering tak mau tahu. Tak mau peduli. Namun dia ramah. Dia supel, mudah berteman, dan menganggap Natalya sebagai sosok yang cocok dengannya, walaupun pada awalnya Natalya sangat sebal padanya.
Potongan rambut Tanya jauh lebih pendek daripada potongan rambut Natalya. Dia benar-benar terlihat seperti laki-laki, kalau saja suaranya tidak kecil, dia pasti dipanggil 'Tuan'.
Sore itu, Tanya menyusulnya berjalan di antara barisan Polikarpov yang siap tinggal landas untuk misi-misi pertama Resimen ke-588. Natalya berharap andai saja dia tega mengusir Tanya.
"Hey," Tanya pun berhenti berlari, mengikuti irama langkah Natalya. "Aku mencarimu ke mana-mana. Tadi aku melihat seseorang masuk ke kamar mandi. Kutunggu lama sekali sampai dia keluar, ternyata bukan kau."
Sudah sejak lama, Natalya ingin tahu mengapa Tanya suka sekali membuntutinya. Namun sepertinya, kesempatan kali ini bukanlah waktunya.
"Misi pertama, ya," Tanya tersenyum bangga. "Bagaimana perasaanmu?"
Natalya melihat hidupnya berkelebat di depan mata. Kepergian Ivan ke dinas militer enam bulan yang lalu, surat terakhir Yekaterina dari sebuah resimen mata-mata yang telah meluncur ke Baku, lalu rumah yang mencekam di malam terakhir sebelum ia memutuskan untuk menjawab panggilan negara. Dia tak merasakan apa-apa. Yang Natalya tahu, sekarang batinnya hampa. Ia tak punya apa-apa lagi untuk diserahkan.
"Biasa saja," dia memutuskan untuk menjawab gamblang. Hal itu menimbulkan kerutan pada kening Tanya.
"Aku merasa bangga."
Natalya melihat Tanya memandang ke depan dengan penuh semangat. Natalya bisa melihat potensi di dirinya. Sudah beberapa kali Natalya melihat Tanya melakukan uji coba dengan pesawatnya, dan bisa dikatakan Tanya termasuk yang terbaik. Dia bisa mendarat dengan mulus, dia bahkan pernah satu kali menunjukkan manuver. Natalya bisa melihat masa depan yang cerah di diri Tanya. Bahkan Tanya mungkin akan memuluskan seluruh misi yang diembannya, entah sebagai pemandu atau sebagai pembawa bom. Dia bisa melakukan apapun. Natalya berharap bisa tahu keluarga macam apa yang membesarkannya.
Semoga selalu ada waktu untuk mencari tahu. Natalya sadar kematiannya bisa terjadi kapan saja. Dia bisa mati pada misi pertama. Peringkatnya dalam resimen penerbang wanita ini berada di peringkat lima terburuk. Dia bisa membuat kesalahan fatal kapan saja. Detik ini, ia berharap Tanya bisa membagi sedikit keberuntungan dan kecemerlangannya.
Natalya mengepalkan tangannya. Sumpahnya pada Yekaterina dan Ivan, juga sumpah mereka padanya masih terngiang. Mereka akan berusaha sebaik mungkin di kehidupan apapun yang mereka punyai setelah berpisah. Setidaknya dia tidak boleh mati pada misi pertama, paling tidak, untuk hal itu. Dia berjalan lebih cepat menuju pesawat yang diparkir paling ujung, membuat Tanya harus berlari kecil lagi.
"Kau sedang tidak enak hati, ya?"
Tanya memang benar-benar belajar membaca situasi, pikir Natalya.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu dulu," Tanya kemudian memaksa Natalya untuk berhenti dengan memegangi sikunya, "Natalya, setelah ini, ajari aku berbahasa Inggris, ya! Kautahu apa yang ingin kucapai setelah dinas ini. Selamatlah setidaknya di kali pertama, oke? Kau akan menghadapi orang-orang biadab itu, yang katamu telah menghancurkan kota kelahiranmu yang sangat ingin kaukunjungi lagi itu. Kita harus menang bersama."
Tanya menjauh sambil melambaikan tangan. Natalya kembali merasa kosong.
Ia telah sampai pada pesawat yang akan ia pakai malam ini untuk misi menuju barat, ia menyentuhnya. Sejenak rasa membara di dalam dadanya membuatnya ingin segera melompat ke dalam kendaraan perang itu, tetapi sesaat kemudian, sisi lain dirinya berteriak, lantas, apa? Kenapa ia mengikuti jejak saudara-saudaranya ke dinas ketentaraan? Bukan pula Natalya lupa pada dendamnya karena Minsk, tempat yang menjadi tujuan hidupnya suatu saat nanti, telah diinjak-injak dan jatuh ke tangan orang-orang yang tak mengenal ampun. Namun, dia berpikir sekali lagi, apakah semudah itu api dendam bisa menyulut keberanian? Dia tidak yakin apinya cukup besar, cukup membakar.
Lalu, dia tetap di sana, diam, satu tangan pada badan pesawat, hingga komando memanggil untuk membekali mereka dengan peta dan sedikit arahan,
mungkin aku akan mati malam ini.
Malaikat mampu akan banyak hal. Barangkali salah satunya adalah membawakan permintaan maaf ke Baku dan suatu tempat di luar sana, di manapun Ivan berada, bahwa Natalya tak dapat memenuhi sumpahnya.
Natalya tidak percaya hal barusan, tetapi hal itu memang benar-benar terjadi: ia bermimpi saat sedang berdiri dan memejamkan mata.
Setengah jam lagi adalah waktu untuk tinggal landasnya, menuju koordinat di barat daya yang telah dijelaskan sebelumya. Mereka tak punya modal lain selain peta di tangan, yang saat ini salah satu salinannya sedang berada sebagai gulungan yang Natalya cengkeram di tangannya. Dia berdiri di tengah padang luas, menunggu teman-temannya melakukan persiapan terakhir dalam hal perlengkapan dan keamanan.
Ia benar-benar tak merasakan apa-apa, menginginkan apa-apa, ataupun merencanakan apa-apa. Dirinya tenggelam dalam kekosongan, maka dari itu ia memejamkan matanya dan membiarkan semuanya terjadi seperti apa seharusnya. Angin yang dingin dari utara menyapu ujung-ujung rambutnya yang menggelitik tengkuk. Ia tidak berkhayal, ia tidak berpikir, tetapi kilasan itu muncul lagi, seperti rekaman mimpi yang terulang lagi.
Ia melihat dirinya, masih berambut panjang, sedang memasak bersama Yekaterina, dan Ivan sedang menyiapkan seragamnya. Natalya mengingat hari itu di kenyataan yang sebenarnya, tetapi waktu itu dia tidak memasak. Yekaterina juga. Mereka berkumpul di ruang tamu, melupakan soal ibu dan ayah, melupakan siapa mereka di masa lalu, dan saling berbicara soal sumpah mereka.
Namun di visi ini, Natalya melihat Yekaterina memasak sup, dan dia membuat roti. Yekaterina memeluknya setelah roti dan sup itu selesai, lalu Ivan memakannya duluan, dan mereka berbicara, tetapi Natalya tak dapat mendengar suaranya sendiri. Yang terakhir ia lihat adalah mereka berpelukan, lalu Ivan pergi melalui pintu depan, dan Yekaterina meninggalkan rumah dengan sebuah tas besar melalui pintu samping. Separuh dari bagian akhir itu benar, sama dengan kenyataan beberapa bulan yang lalu, kecuali hari kepergian Yekaterina yang sebenarnya berjarak tiga hari dari kepergian Ivan.
Mimpi tak pernah menjadi sesuatu yang benar-benar penting untuk Natalya, tetapi kali ini ia menggenggamnya erat-erat, sekuat ia mencengkeram peta yang sangat kelompoknya butuhkan setelah ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, andai ia bisa, tetapi Natalya memanggul seluruh kekhawatiran dunia di pundaknya. Tak ada yang lebih menakutkan daripada menghadapi kematian, tetapi dia masih berani memegang mimpi. Sayang sekali, tak ada jalan keluar lagi.
Natalya meraba tengkuknya yang dingin di balik topi. Ia menarik napas panjang, seakan mengucapkan perpisahan, ketika melihat dua temannya telah menghampiri pesawat mereka. Natalya juga akhirnya menghampiri pesawatnya, menaikinya dengan sekali lompatan.
Selesai.
Ada titik-titik cahaya menakutkan di bawah. Natalya seharusnya masih merasa beruntung, dia diselimuti kegelapan dan bergerak seperti hantu. Namun tetap saja dia masih merasa menghadapi kematian. Dia seperti bisa mendengar bisik-bisik yang ditambahi tawa para prajurit Jerman di bawah sana, yang sedang mempersiapkan kematiannya. Napas Natalya tertahan-tahan ketika dia mengikuti dua suar di hadapannya.
Natalya terbang sedikit merendah. Jari-jarinya tak gemetar, tetapi dingin seperti beku. Udara mungkin memengaruhi, tetapi seharusnya pakaian, sarung tangan, dan topi tebal itu memberikan perlindungan yang pantas. Tidak ada yang perlu dilogikakan di misi genting seperti ini, sepertinya.
Natalya mendengar tembakan. Ia panik, ingin segera menjatuhkan bom saja, tetapi nalurinya bilang belum sekarang. Sedikit lagi, titik di depan sana. Cahayanya lebih banyak, pasti ada lebih banyak target.
Desing peluru memusingkan. Dua temannya di depan sana menjauh, cahaya suar pesawat mereka semakin mengecil, seperti seirama dengan nyali Natalya. Ketika tembakan berikutnya dilepaskan dari bawah sana, dan satu pesawat di depan langsung bermanuver, Natalya merasa sudah waktunya. Waktuku untuk mati. Apalagi, sepersekian detik kemudian, pesawat rekan sejawatnya, yang berada paling depan, langsung jatuh setelah munculnya bunga api besar. Natalya melepaskan bomya, merasa bahwa inilah hal terbesar yang mampu ia lakukan sebelum mati.
Ledakan besar terdengar di bawah, sangat dekat dengannya. Natalya menanjak lagi, melakukan apapun yang ia bisa, lalu melepaskan lagi bom selanjutnya. Ia memejamkan mata, menerima akhir untuknya, dan tarikan napas kali ini terasa seperti yang terakhir.
Lalu yang berikutnya, juga terasa seperti akhir. Yang berikutnya lagi, lagi, dan lagi. Namun rasanya aneh. Dia melayang di udara, begitu tinggi, di dalam kegelapan yang benar-benar nyata. Udara terasa menipis, paru-parunya sesak, tetapi dia bisa mendengar deru pesawatnya sendiri. Mengudara dengan tenang, seperti tidak pernah melakukan apa-apa. Tidak ada suar, tidak ada bunyi lain.
Natalya menoleh. Ia tidak (berani) berharap hidup, apalagi mendapatkan keajaiban, tetapi di belakang sana dia melihat satu titik cahaya yang familier. Dia berputar arah, pelan-pelan mengikuti cahaya tersebut.
Sesaat kemudian, dadanya nyeri dan sesak, meski ia telah mengurangi ketinggian. Pipinya yang basah membuat rasa dingin semakin menusuk.
Ia terisak di sepanjang jalan pulang.
Di markas, dua pesawat telah kembali. Natalya terjun dari pesawatnya, lalu langsung berlari ke kegelapan, menjauhi orang-orang yang menyambutnya. Dia memuntahkan sisa makan malamnya, sedikit, kemudian dia mengusap pipinya. Ia tak pernah merasa pusing, apalagi mabuk udara di setiap latihan sebelum ini, dan yang kali ini benar-benar membuatnya senewen. Ia mengusap bibir serta pipinya seraya berjalan menuju cahaya, menuju orang-orang yang memeluk mereka yang berhasil dalam misi pertama.
"Natasha! Natasha!"
Natalya menyambut pelukan itu dengan hampa. Ia tak membalasnya, bahkan ia tak melihat wajah siapa yang memeluknya.
Mata Natalya menyapu sekeliling. Dua pesawat diparkir di arah yang berlawanan. Hanya dua. Natalya melepaskan pelukan itu, lalu berteriak,
"Mana Tanya? Tanya!"
Sekelilingnya hening sesaat. Semua mata tertuju padanya, lalu sebagian dari mereka menunduk. Natalya memecah kesunyian, "Tanya!"
"Tanya tidak kembali, Natasha," seseorang keluar dari remang-remang, ia menenteng topi bulunya. "Dia ditembak jatuh sebelum bom pertama dijatuhkan."
Sekujur tubuh Natalya mati rasa. Ia secara tak sadar meneriakkan nama Tanya lagi, sebelum seseorang memeluknya erat-erat dan dia pun tenggelam.
Natalya berharap dia bisa tahu kepada siapa dia bisa marah.
Tempat tidur di bawahnya kosong, dan ia harap ia tidak mengabaikan Tanya lebih sering sebelum ini. Tanya pasti punya banyak cerita untuknya, apalagi di masa depan, ketika nanti dia sudah mendapatkan posisi sebagai mata-mata di Prancis. Tanya bahkan sudah merancang perannya sendiri, sebagai seorang wartawan Inggris yang berasal dari Polandia. Dia akan menyurati Natalya cerita-ceritanya, seperti yang ia janjikan sebelumnya.
Tapi, sekarang, surga pun tak akan bisa menyampaikan surat dari Tanya.
Natalya turun, berbaring di tempat tidur bagian bawah sambil memeluk lututnya.
(Ia menangis di bantal Tanya.)
.
.
.
.
"Kalau kau berpikir ini akan baik-baik saja, lupakan."
Alfred memasang jaketnya dengan cepat. "Aku tahu."
"Ini bukan permainan."
Alfred menaikkan ritsleting jaketnya hanya untuk menurunkannya lagi. Dia tidak merasa nyaman jika terlalu tertutup, yang sepertinya tak hanya berlaku untuk soal jaket. Dia menyeringai ketika ia merasa ia bisa tahu tatapan geram Arthur yang bisa melubangi punggungnya kapan saja. "Bukankah hidup memang soal permainan?"
"Dan permainan punya tingkatannya sendiri. Jangan sepelekan yang ini." Alfred kemudian mendengar derap langkah maju. "Kalau kau serius, anggaplah ini sebagai misi hidup dan mati."
"Aku tak perlu ceramahmu, Pak Tua." Alfred menepis tangan Arthur yang akan menepuk bahunya.
"Kau masih marah gara-gara kata-kataku soal manuvermu yang jelek dan bisa membahayakan satu resimen di belakangmu itu?" Arthur nyaris tertawa. "Dasar anak kecil. Nyali perajuk. Tidak cocok untuk medan perang. Kembali saja sana ke tanah airmu. Jadilah pengacara, datangi Roosevelt. Atau, katakan di belakang punggungnya bahwa pasukan Amerika Serikat ditarik saja dari tanah Eropa."
Alfred berdecak, mencampakkan penghinaan itu dengan sekali dengusan kemudian. "Aku tak akan mempan dengan sumpah-serapah Inggrismu itu. Sekarang biarkan aku sendiri. Aku bisa melakukan misi ini sendiri."
Arthur membiarkan Alfred pergi. Dia sebelumnya mengharapkan banyak hal dari kerja sama dengan Amerika Serikat, dan berpikir bahwa hal ini bisa membayar penundaan yang diderita oleh pemerintah Polandia di pengasingan, tetapi tampaknya, meski mereka berasal dari leluhur yang sama, mereka sedarah, tidak semua prajurit Amerika punya naluri ala Inggris. Sudah tiga belas prajurit yang mendengar sumpah-serapah Arthur, dan Alfred berada di peringkat pertama. Anak bandel itu tidak seharusnya diluluskan ke dinas ketentaraan. Andainya saja dia tak punya tubuh yang fit dan sesuai kriteria tentara (sayangnya, dia terlalu memenuhi persyaratan itu sampai-sampai dikatakan paling ideal).
Sambil menuju tempat berkumpul yang diperintahkan komandannya, Alfred melipat surat terakhir Matthew dan menyisipkannya ke saku bagian dalam jaket penerbangnya. Matthew menceritakan sedikit hal tentang Belanda, dan Alfred harap dia berada di sana saja. Persetan kau, penempatan. Alfred tak perlu iming-iming gaji besar, yang penting dia dan saudaranya bisa sama-sama melihat satu sama lain. Jikalau salah satu dari mereka harus mati pun, rasanya lebih baik melihat kematian itu sendiri di depan matanya daripada hanya menerima surat pemberitahuan sok berbelasungkawa. Yang ia punya tinggal Matthew.
Alfred tak punya pilihan. Dia hanya perlu hidup agar bisa pulang kembali, kalau tidak ke Amerika Serikat, ia akan ke Kanada. Memanggang kalkun bersama Matthew. Mengerjakan kebun, mengendarai kuda sepuas hati. Masa bodoh dengan mimpi bertualang ke luar Eropa. Ia butuh kehidupan seperti kakeknya, bukan yang seperti ini!
Alfred memberi hormat pada perwira yang kebetulan bertemu pandang dengannya. Satu-satunya yang membuatnya bertahan hanyalah pesawat-pesawat ini, dan beberapa perwira yang menjanjikan pangkat. Pangkat tinggi, uang pensiun besar. Maka ia akan hidup enak di Amerika atau mencoba berdagang seperti kakeknya. Berdagang anggur adalah harapannya.
Orang-orang telah membentuk barisan. Sepasukan pejuang menuju timur siap mengantarkan bantuan untuk pasukan bawah tanah pendukung kemerdekaan Polandia. Alfred berdiri di posisi paling belakang, tepat saat ia datang, perwira sebagai komandan mereka datang.
Alfred menyimak dengan separuh hati. Ini misi keempatnya, ia masih merasa hampa. Perang tak memperlihatkan tanda-tanda berakhir.
Ah, kalaupun berakhir, ia ragu ia masih hidup. Perasaannya campur aduk. Kekacauan besar tak bisa dia uraikan satu per satu simpul-simpul kusutnya.
Ia sadar ketika seseorang menepuk pundaknya, dan semua orang telah membubarkan diri, menyiapkan armada masing-masing.
Alfred menggumam, hanya dalam hati karena ia masih menyayangi karirnya sedikit:
perang, untuk apa?
Alfred melakukannya seolah ini sudah yang keseratus kali. Terbang ke garis sekutu, jatuhkan, pulang. Prinsip yang mudah. Alfred kembali setelah terbang melewati batas akhir sejauh tiga kilometer, semata-mata karena rasa ingin tahunya. Ia tidak merasakan apa-apa ketiga menyebarkan logistik. Ini kewajiban, lewati, selesaikan. Bagaimanapun tugas militer tak akan berlangsung selamanya. Ia bisa pulang jika saatnya tiba. Uang pensiun menanti, lalu ia akan terbang dengan cara lain.
Dia kembali ke markas pada tengah malam buta. Dua temannya yang ia tahu lepas landas belakangan, tiba lebih dulu.
Lalu, Arthur masuk ke area pandangannya. Alfred segera berbalik, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. Matanya yang sudah mulai terbiasa dalam kegelapan menemukan gudang bekas di belakang markas, tetapi dia salah perhitungan soal langkah. Laju lari Arthur tak pernah bisa dia duga. Arthur meraih bahunya, membalik badannya dengan mudah.
Lantas menamparnya.
"Kau berkeliaran!"
Alfred mengusap pipinya. "Dan kau melanggar etika!"
"Camkan kata-katamu sendiri, aku tidak sedang memakai seragamku." Arthur memandang Alfred jijik. "Bagaimana kalau kau kehabisan bahan bakar? Kau mengambil jalan memutar, hm? Ingin kabur?"
"Apakah aku tidak boleh bebas sebentar saja?"
"Keterlaluan sekali!"
Alfred mendengus, lalu berjalan melewati Arthur, "Kalaupun aku mau, aku bisa lebih keterlaluan lagi. Berterima kasihlah karena aku masih pulang."
"Sekali lagi kau melakukan ini, aku akan menulis surat untuk atasanmu."
Alfred berbalik sebentar, "Tulis saja! Pecat saja aku!"
Mereka sama-sama diam sejenak. Dada Arthur kembang-kempis, ia akhirnya bisa menguasai diri setelah memejamkan mata. "Kau beruntung bahwa kau berhadapan denganku, Jones. Setidaknya harapan terbesarku hanyalah agar kau ditukar dengan saudaramu, bukan membuatmu dipecat dari dinas."
Alfred berpaling.
Masa bodoh.
Karena jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, dog tag itu bersinar ketika Alfred memutar-mutarnya di antara kedua jarinya.
"Dilarang melepas dog tag, tahu."
Alfred menggenggam miliknya. Percuma saja, teman sekamarnya, Paul, sudah melihatnya. "Siapa yang menetapkan peraturan itu?"
"Siapa yang tahu serangan macam apa yang akan tiba? Kemudian identitasmu tidak ada di tubuh?"
Alfred memutar bola mata. Ia tak pernah mengharapkan akan sekamar dengan orang macam begini. Tepat ketika Paul memanjat naik, Alfred melemparkan dog tag-nya ke arah Paul. Benda itu berkelontang di lantai. Paul tertawa.
"Pakailah. Supaya saat nanti aku membunuhmu dalam tidurmu, mereka masih bisa mengenali dirimu."
Alfred tertawa sinis dengan keras. Ini bukan kali pertama dia dan Paul membawa-bawa nyawa dalam candaan terselubung sentimen pribadi mereka. Laki-laki itu bergeser sedikit di tempat tidurnya, lalu membungkuk mengambil kalung itu dari lantai. Lantas ia berbaring, tak memikirkan soal baju karena malam ini malah terasa begitu panas. Mungkin hanya karena ruang yang terlalu sempit. Ia melemparkan kalungnya ke udara, menangkapnya lagi, mengulanginya berkali-kali.
"Kalau kau benar-benar ingin pulang, jangan setengah-setengah. Buatlah dirimu dipecat."
"Bagaimana kalau aku masih ingin di sini?"
"Buat apa, kalau kau ujung-ujungnya hanya mengacaukan dirimu sendiri?"
Alfred tidak bersedia bercerita tentang mimpi dan harapan pada Paul. Ada terlalu banyak kecurigaan. Bukan keputusan yang tepat untuk menjadikan paul orang yang dipercaya. Dia diam saja, membiarkan Paul bernyanyi-nyanyi seperti orang mabuk. Atau dia memang mabuk? Alfred seharusnya curiga. Namun, tidak ada gunanya pula jika melaporkannya. Itu bukan sesuatu yang akan membuat Paul ditendang dari kesatuan. Apalagi jika dirinya yang melaporkan. Bisa-bisa dicurigai dialah yang akan berbuat onar dan sedang berusaha mengadu domba.
Alfred memejamkan mata, lalu melihat dirinya dan Matthew, bertahun-tahun lalu, sedang antusias pada jurnal milik seorang yang sudah meninggal dunia.
Kemudian, Alfred membuka mata, ia kira barangkali baru setengah jam yang lalu ia melelapkan diri. Ia bangkit, mengambil kausnya yang digantung di dinding, kemudian keluar. Tak peduli bunyi pintu yang berisik membangunkan Paul atau tidak.
Dia menemukan bulan yang hampir-hampir tak kelihatan, terlalu tipis. Dia berlari kecil menuju barak yang lebih bagus, yang lebih besar tetapi untuk lebih sedikit orang. Dia bertemu dengan seorang penjaga, ia hanya memberi hormat ala kadarnya pada si lelaki mengantuk yang tampaknya tak punya semangat itu.
Alfred tak tahu malu. Ia mengetuk satu pintu yang terdekat dengan ujung lorong. Lebih keras lagi setelah dua kali tak ada jawaban.
Yang keluar adalah Arthur yang menggerutu, yang siap menggetok kepala Alfred dengan sepatu botnya. Untung saja dia sudah mendapatkan tidur yang lumayan nyenyak, jika sebaliknya, hal itu sudah pasti terjadi. Alfred tak berkata apa-apa sampai laki-laki itu selesai mengomelinya tentang etika.
"Maumu apa?"
Alfred kaku, bahunya tegang. "Apakah ada cara agar aku bisa ditukar dengan saudaraku?"
"Bah!" Arthur cukup menahan diri untuk tidak melontarkan sumpah-serapah ala Inggrisnya. "Jangan makan kata-kataku secara harfiah, Bocah!"
Alfred menggeleng. "Aku serius. Aku merasa tidak mungkin cocok untuk operasi-operasi selanjutnya. Aku tidak tahan dengan atmosfer ini. Aku benar-benar butuh tempat baru, dan jalan petualangan untuk mencapainya. Aku hanya punya ide, kau punya wewenang. Kau bisa membantuku."
"Secara teknis, tidak bisa dilakukan dengan mudah. Kau bergabung dengan dinas Amerika Serikat, dia Kanada. Dunia tidak seperti lapangan bermainmu, Jones. Kapan kau bisa tenang?"
Alfred berdecak malas. Dia secara tak sengaja membuat nada putus asa pada keluhannya kemudian, "Aku harus melakukannya."
"Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa kau bisa melakukan apapun yang kauinginkan? Jones, aku mungkin memang hanya lebih beberapa tahun darimu, tapi aku sudah tahu bahwa dunia tidak akan menuruti kehendakmu. Kalaupun iya, dia akan membuatmu merangkak dalam keadaan berdarah-darah terlebih dahulu!"
Mata Alfred menjadi tajam, Arthur teringat pada elang lapar. "Maka sepertinya kaulah yang membuatku merangkak sambil berdarah."
Arthur mungkin hampir kehabisan stok kesabarannya. "Aku akan dengan senang hati menukarmu sekarang juga! Tapi apakah atasanku bersedia mengiyakan rencana mengirim satu prajurit keluar dari markas ini semudah membiarkan anjing lepas dari rantainya? Dinas ketentaraan bukan kelompok bermainmu, Alfred Jones! Anggaplah aku ini ayahmu yang akan menyelamatkanmu dari rasa malu."
Alfred mengacak rambutnya sambil menggerutu nyaring. "Neraka!"
Arthur mendesis. "Masuk."
Alfred menuruti walau masih marah pada hal yang ia sendiri tak jelas mengetahui. Kamar Arthur hampir dua kali besar kamarnya, sesuatu yang membuatnya menyumpah-serapah dengan kata-kata yang kurang jelas. Arthur cuek, ia menuju meja, mengangkat cangkir yang ditelungkupkan ke atas meja, beralaskan sebuah kain polos. Alfred terperangah sesaat, tetapi Arthur sama sekali tak mau peduli ekspresi Alfred. Ia menuangkan minuman dari teko yang menurut Alfred bentuknya aneh dan sangat tidak mungkin berada di arena peperangan (—tapi, orang ini adalah Arthur), kemudian menawarkannya pada Alfred.
Alfred tak langsung meminum apa yang disodorkan padanya. Arthur langsung menikmatinya seolah dia sedang dalam waktu minum teh santainya yang jauh dari hiruk-pikuk peperangan.
"Kautahu, di kali pertama aku mengetahuimu, aku sudah tahu bahwa kau pasti akan berbuat onar. Tidak salah lagi."
"Oh, yeah, wajahku memang nakal. Terima kasih."
Di antara dua seruput, Arthur menambahi, "Bahkan aku sama sekali tidak menyangka kau adalah adik dari prajurit paling pendiam di skuad Persemakmuran yang pernah kutemui."
"Adik tiri."
Arthur mencibir. "Sama saja. Wajah kalian tetap mirip."
"Ini bukan saatnya membicarakan tentang silsilah keluarga. Aku butuh penyelesaian."
Arthur menarik napas, lalu menggeleng-geleng, dan mengambil tempat duduk di tepi tempat tidurnya sendiri. Dia mengedikkan dagu ke arah kursi yang berada di sisi Alfred, yang tak pemuda itu sadari sejak dia masuk. "Katakan dulu rencanamu, baru kita adakan pertukaran."
Alfred mengempaskan diri di kursi. Ia memutar bola mata. Sekarang bau minuman Arthur menggelitiknya. Teh. Yang benar saja, lelaki itu mengadakan upacara minum teh rahasia di dalam kamarnya di waktu-waktu seperti ini? Alfred ingin menampar wajahnya sendiri. "Aku ingin aku ditugaskan dalam misi solo menuju tempat saudaraku. Aku bisa jalan-jalan, kemudian aku bertemu Matthew, kami bertukar. Misi baru, pengalaman baru, Selesai."
Keheningan yang terjadi sementara memberikan harapan bagi Alfred.
Sayang sekali, Arthur tertawa terbahak-bahak sampai tehnya tumpah sebagian. Dia tertawa seolah besok adalah hari terakhir dunia berputar. Alfred sebelumnya tak pernah merasa ingin membanting meja dengan desakan penuh dari dalam dadanya seperti sekarang ini.
"Sekarang aku mengerti mengapa ibu kakakmu memaksanya untuk memakai marganya saja. Mungkin supaya dia terlihat berbeda dari saudara tirinya yang cukup bodoh ini. Ha, kau prajurit terunik yang pernah kutemui."
Alfred memutuskan untuk tak menahan diri, "Arthur Kirkland, aku merasa terhina."
"Silakan, itu hakmu," Arthur menghapus air matanya. "Sekarang, katakan padaku, bertualang adalah mimpi masa kecilmu, ya? Jones, mimpi masa kecil, ketika kau genggam saat mendewasa, harus mulai bersahabat dengan dunia nyata! Takkan mudah memang melepaskan apa yang sedari dulu kauinginkan, tetapi lebih sulit lagi jika kau hanya hidup di dunia imajinasimu."
Alfred menyilangkan tangannya. Bibirnya terkatup rapat. Sempat ia memutuskan dalam hati untuk tidak mengatakan apapun sampai ia diusir dari tempat ini. Namun ia tergelitik karena janji Arthur sebelumnya. Ia harus mengetahui sesuatu. "Cukup membahas itu. Aku tahu aku akan selalu terlihat bodoh di hadapanmu apapun yang kulakukan dan kukatakan. Sekarang katakan padaku soal pertukaran tadi."
Arthur mendengus keras. "Sebenarnya kau adalah orang terakhir yang ingin kuberi tahu. Mulutmu biasanya keterlaluan. Namun, misi di atas segalanya. Ketahanan pasukan sekutu adalah yang utama."
"Segera sajalah, Pak Tua. Tak heran kau lebih tua dari usiamu sebenarnya. Kau suka berbelit-belit."
"Pihak Soviet akhirnya setuju untuk mengizinkan pangkalan udaranya kita gunakan."
Alfred memakan waktu lama.
"Aku tidak ingin menjelaskannya padamu, Bocah Tengil."
"Ada petualangan baru ke Soviet, setidaknya untuk mencari tahu. Hm." Alfred mulai bisa rileks di kursinya, bersandar seolah kursi yang kakinya agak timpang itu nyaman untuknya. "Bagus juga. Akhirnya."
"Jadi apakah hal itu akan membuatmu tutup mulut dan bertenang diri di peleton tempatmu berada?"
"Yah," Alfred benci menyerah, tetapi dia akhirnya mengangkat tangannya ke udara sebentar, "aku mengerti. Aku akan melihat apa yang menyenangkan dari menuju pangkalan Soviet, kemudian baru aku memutuskan. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa." Dia pun berdiri, tersenyum miring ke arah Arthur, "Terima kasih informasi rahasianya. Walaupun dalam waktu dekat tak akan lagi jadi rahasia, paling tidak aku sudah tahu apa yang harus kulakukan tanpa merasa mati bosan."
Belum jauh Alfred dari pintu, ia mendengar sumpah-serapah, "Bedebah."
Namun dia merasa baik-baik saja.
tbc.
a/n: latar belakang dari cerita ini (dengan modifikasi fiksional) adalah tahun 1944, a) Operation Frantic, b) bantuan logistik Sekutu pada Polandia, dan c) izin penggunaan lapangan udara Soviet di Ukraina untuk Sekutu (khususnya Angkatan Udara Amerika Serikat). ketiga peristiwa ini berhubungan, tetapi dengan cara yang rumit.
