Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


Tak ada yang berbeda, pada dasarnya, karena misi Alfred biasanya berkisar di memberikan suplai atau memberikan gertakan pada pasukan Jerman di garis timur Polandia. Namun pagi itu ia bangun dengan begitu bersemangat, markasnya terlihat lebih bersih dan cerah hari ini. Paling tidak ia akan bertemu orang-orang baru. Udara Soviet mungkin lebih menyenangkan, walaupun yang ia dengar, bencana musim dingin di sana bisa muncul lebih cepat, dan awal musim seminya bukanlah tempat yang benar-benar cerah atau penuh dengan keceriaan. Es yang mencair menciptakan kubangan lumpur yang cocok untuk menjadi tempat berseminya keputusasaanmu. Musim dinginnya bisa membunuh, salah satu alasan yang membuat mereka berjaya di Stalingrad.

Apapun itu, keputusan untuk mempersilakan sekutu berpangkalan sementara adalah keputusan terbaik. Alfred menyesalinya mengapa Soviet hanya bersedia melakukannya sekarang.

Pangkalan itu tak mengubah pandangannya. Bagaimanapun, selalu ada yang sama di tiap ruang yang berbeda, karena atmosfernya tetap sama: sebuah perang. Manusia membentuknya sendiri.

Alfred mendarat dan disambut beberapa kolega baru. Ia berkenalan dengan ketiganya, semuanya punya dialek bahasa Inggris yang aneh, tetapi Alfred mengesampingkan perbedaan. Selalu ada yang bisa dinikmati dari hal-hal yang baru, naluri yang dirasanya diturunkan dari mendiang kakeknya.

Alfred menghampiri seorang penerbang yang hanya memakai kaos polos, tetapi masih memakai celana seragamnya. Mulutnya berbau vodka, tetapi Alfred mencoba untuk terbiasa.

Mereka berkenalan dengan cara yang biasa. Orang ini tadi menyambut Alfred juga, tapi tak banyak bicara. Dia hampir melakukan kesalahan saat memberi hormat, ia hampir mengangkat tangan kirinya. Alfred yakin dia kidal, karena dia memegang rokoknya dengan tangan kiri.

"Soviet bagus?" Alfred memulai dengan kata-kata sederhana. Tak semua prajurit Soviet bisa berbicara dengan lancar menggunakan bahasa asing.

"Seperti biasa," orang itu menjawab dengan santai, lalu menyodorkan rokok yang baru.

Alfred menolak halus. "Aku punya pengalaman buruk dengan rokok."

Prajurit muda itu tertawa. "Terbakar?"

"Tidak. Batuk." Alfred tersenyum. "Senang berada di sini?"

Dia tertawa lagi, kali ini, Alfred bisa menyadari nada getirnya. "Aku berdosa jika menjawab 'ya'."

"Bukankah sebagian dari kita memang pendosa?" Alfred menjawab dengan cara yang cepat, sesaat kemudian dia menyadari bahwa mungkin lawan bicaranya takkan memahami. Ia membiarkannya. "Sebagian dari perang adalah dosa."

"Begitukah caramu memandangnya?"

"Sesekali," Alfred menjawab diplomatis. Ketika lelaki di depannya mengembuskan napas panjang sambil bersandar pada pintu utama markas, ia membaui aroma vodka yang kental. Alfred pernah mencobanya sekali, dan ia merasa aneh. Anggur masih sedikit lebih baik. Alfred kemudian menepuk bahu kenalan barunya itu, sambil tersenyum ia berkata, "Senang berkenalan denganmu. Aku mungkin akan lebih sering datang. Selamat bertugas."

"Terima kasih, Amerika," dialek yang menarik terdengar dari caranya mengucapkan ka. "Salam untuk orang-orang Inggris. Cobalah vodka, jangan teh selalu."

Alfred tertawa karena mengingat teko Arthur di dalam ruangan yang sangat tidak serasi dengan suasana. Mereka berjabat tangan sekali lagi, kemudian Alfred berlalu untuk melapor, tak banyak waktu yang bisa dihabiskan di sini. Namun Alfred menengok ke belakang, pada kumpulan kecil prajurit Soviet yang membicarakan sesuatu, pada dinding yang kelabu di belakang sana, pada peralatan untuk memperbaiki yang bertumpuk di sudut. Dia menemukan apa yang tidak ia temukan di rumahnya ataupun markasnya sebelumnya di Eropa: pertanyaan-pertanyaan baru.

Apakah orang-orang Soviet menemukan makna yang sama dari seuah petualangan yang meliatkan darah dan air mata; pada kisah-kisah yang meninggalkan kecacatan dan noktah hitam-merah pada buku sejarah, pada tuturan turun-temurun?

Oh, tidak, tidak, sekarang bukan saatnya.

Alfred masih punya banyak waktu.


Alfred dihampiri oleh seorang tentara sesaat sebelum keberangkatannya. Dia begitu murah hati untuk memperkenalkan asal-usulnya juga usianya, yang Alfred anggap menarik. Dia berasal dari Ossetia, dan dia harap dia bisa bekerja sama dengan Alfred karena ia pikir Amerika Serikat adalah tempat yang menyenangkan. Dia lancar berbahasa Inggris karena berpikir bahwa suatu saat nanti ia akan berpindah rumah ke negara yang jauh, mungkin bisa jadi Amerika Serikatlah tempat itu.

"Yah, 'menyenangkan' juga relatif," Alfred mengangkat bahu sambil memasang kacamatanya, "tapi sejauh ini, hidupku tak terlalu menyedihkan. Jadi kupikir aku masih tetap merekomendasikan Amerika Serikat untukmu. Tanah Kebebasan, Bung, kau memang harus mencobanya sesekali."

"Baiklah. Kau akan ke sini lagi nanti, 'kan? Kutunggu ceritamu yang lain."

Alfred mencengkeram bahunya, "Tentu. Sampai jumpa."

Saat Alfred melompat ke pesawatnya, orang itu masih berada di tepian, lalu melambaikan tangannya.

Alfred memegang janji-janji masa depan yang manis.


Alfred mulai merencanakan untuk bercerita lagi pada Matthew, asumsikanlah saudaranya itu masih berada di pos yang sama dengan surat sebelumnya. Jika tidak, maka biarlah itu menjadi urusan para pengantar pesan. Tidak mengapa jika pesan itu membutuhkan waktu satu tahun untuk sampai. Atau mungkin dua. Atau malah, suatu saat nanti, mereka akan minum bersama di pekarangan belakang entah di Kanada atau Amerika Serikat, menertawakan surat yang tak pernah sampai, sementara mereka sudah selesai menceritakan apa yang diperlukan hingga mereka bosan.

Dia hanya butuh bercerita.

Tentang tanah Soviet yang tak begitu dingin, tentang vodka yang asing, tentang rokok-rokok yang bercerita hal lain, tentang tanah yang berbeda.

Alfred memutuskan untuk menaikkan ketinggian, menambah kecepatan, dan mengubah beberapa hal, tetapi salah satu tuas menjadi lain. Alfred menariknya kuat-kuat, lalu terdengar bunyi yang aneh dari belakang.

Saat ia menoleh, ia mendapti mendung mengejarnya. Dia sama sekali tidak memperhitungkan hal ini; dan ia bersumpah ia tidak melihatnya sebelumnya. Petir menyambar ketika tuas lain kembali macet. Alfred mulai melontarkan sumpah serapah ketika jarak pandang memendek, dan kecepatan pesawat merendah tanpa ia perintahkan. Pesawatnya semakin mendekati tanah, dan semakin tidak responsif pada apapun yang Alfred lakukan. Tuas menjadi keras, jarum penunjuk menjadi gila. Alfred memukul penunjuk ketinggian, yang kemudian malah membuat bunyi derit aneh lagi tepat di hadapannya.

Hujan mulai turun, dan mesin mati total beberapa meter di udara. Alfred tidak punya kesempatan untuk berpikir lagi, lalu ia melompat dari tempat duduknya, refleksnya sangat buruk karena petir tiba-tiba menyambar lagi, dan ia tak sempat melakukan apa-apa kecuali melayang jatuh, pasrah, melupakan semua pelajaran tindakan darurat.

Ia terguling tak jauh dari pesawatnya.

Sebelum sesuatu terjadi, Alfred bangkit, tak memedulikan kakinya yang sakit, menjauh dari pesawatnya yang mendarat dengan suara keras. Ada ledakan-ledakan kecil, tetapi guyuran hujan menolongnya.

Alfred berdiri linglung selama beberapa saat. Setelah ia tersadar, ia berjalan mundur, punggungnya terantuk pohon, hingga ia pun merosot jatuh.

"Mesin sialan!"

Hening, selain bunyi hujan yang semakin melebat saja.

Keheningan itu menampar Alfred. Celaka.

Padang rumput itu hanya punya hutan.

Sisanya? Kosong.

Kemudian, satu benturan keras lagi, jauh di sebelah kanannya.

.

.


.

.

Natalya maju melewati kerumunan. Dia mengangkat tangan sambil melepaskan helmnya. "Aku akan terbang untuk misi ini."

Semua mata tertuju kepadanya. Tidak ada yang berani berbicara meski mereka semua hampir tidak tahan untuk menegur Natalya. Ketua di depan mereka menggeleng tegas. "Tidak, Natasha, kau baru saja pulang. Kita berikan tugas ini pada yang lain. Kau dibebastugaskan selama tiga hari."

"Aku yang pergi."

"Natalya Alexandrovna Arlovskaya."

"Hanya saya yang memiliki peta detil area pembersihan di barat daya, dan saya sudah menggunakannya selama dua bulan. Hanya saya yang memahami area tersebut."

"Ini misi solo, Natasha, kau baru saja pulang dan aku ragu staminamu masih cukup."

"Aku masih bisa melakukannya. Bukankah aku pernah pergi untuk tiga misi sekaligus secara berturut-turut?"

Komandan mereka mencari pembenaran dengan memandangi anggota skuadnya satu per satu. Semuanya bergeming, tatapan mata mereka telah memberi persetujuan, namun berat, kepada Natalya. Dia kemudian memperlihatkan ekspresi gelisahnya sesaat, tetapi dia benar-benar kehilangan pendukung. Satu orang harus pergi untuk pengintaian, dan siapapun yang pergi harus memiliki kemampuan untuk terbang dalam kesenyapan, dengan rapi, licin, tetapi tetap hati-hati. Yang paling susah adalah tentang keberanian. Siapapun itu, harus melewati sebagian hutan Bielovizha yang berbahaya, dan dicurigai ada beberapa titik yang didiami musuh di sekitarnya. Misi harus dilakukan sendirian untuk meminimalisir kecurigaan, dan berdasarkan keputusan para petinggi, jumlah penerbang yang terlibat harus diminimalisir agar jika harus jatuh korban, tidak akan menjadi pengaruh yang besar.

"Berat bagiku untuk mengatakan, tetapi kalian harus tahu. Terutama kau, Natasha. Risikonya terlalu tinggi."

"Aku sudah mengambil risiko sedari awal. Aku memiliki nilai terendah, tetapi aku tetap terbang dengan segala ketidakmampuanku. Aku bertahan."

Jeda itu terasa benar-benar mencekam.

"Baiklah. Natalya Alexandrovna Arlovskaya, kau ditugaskan untuk mengumpulkan informasi dan, jika memungkinkan, berikan gertakan untuk satu-dua garnisun musuh."


Bagi Natalya, memang rasanya seperti bunuh diri.

Namun sebagian hatinya memang sudah mati semenjak Tanya pergi, kemudian disusul oleh kawan-kawan yang lain, yang sesungguhnya masih punya lebih banyak impian dan harapan.

Kehidupan itu, untuk apa? Dia masih memerlukan seseorang untuk menjawabnya. Jika ibu dan ayahnya memberikan kesempatan baginya untuk itu, tetapi mengapa mereka malah membiarkannya dan saudara-saudaranya menjalankan segalanya dengan cara ini? Jika memang hidup hanyalah untuk impian-impian, mengapa kematian begitu mudahnya merenggutnya? Lalu, jika hidup adalah untuk mati, mengapakah selalu ada hasrat untuk bermimpi? Natalya, suatu malam, pernah bermimpi bertemu kembali dengan Tanya, dan Natalya mengamuk. Marah pada Tanya karena ia pergi terlalu cepat, sebelum Natalya sempat tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya kelak, pada impian-impiannya, harapannya, tujuan perjalanannya. Sekarang tidak ada yang bersedia memberinya jalan untuk jawaban. Natalya bersedia lari ke kehidupan lain, siapa tahu akan ada pemuas rasa penasarannya.

Malam itu, ia kembali masuk ke dalam kegelapan,

mencari kematian.

(Sesuatu yang tak berani dilakukan teman-temannya. Ia telah menyelamatkan semuanya dari penunjukan acak. Dia merasa tak mengapa jika ada yang berpesta malam itu, karena ada seorang sukarelawan yang bersedia mati sendiri.)


Jika dia sedang berada dalam keadaan mental yang lain, dia akan mengutuk hujan gerimis yang datang tanpa diduga ini.

Dengan hanya berbekal peta sederhana, dan pesawatnya apa adanya, Natalya tak bisa mengandalkan banyak hal. Ia hanya mengandalkan nalurinya soal navigasi, dan ia tidak ingin memikirkan apapun kecuali detik ini.

Sambaran petir yang tiba-tiba membuat pesawatnya berguncang. Natalya sedikit menyesali keputusannya untuk mengikuti jalur ini. Seharusnya ia segera berbalik saja di belakang sana sebelum mencapai hutan dan mengurungkan niatnya untuk memburu satu garnisun musuh untuk digertak. Namun, ia menyesali penyesalan itu. Untuk apa? Toh ia memang tak berharap banyak untuk kepergiannya ini. Ia belum menemukan apapun sebelumnya sama sekali, dan seharusnya hal itu tak menjadi kekhawatiran—karena ia tak mungkin melaporkan sesuatu juga nantinya.

Pesawatnya mulai oleng karena hujan. Natalya berusaha mengendalikannya, tetapi goyangan karena hujan itu semakin membuat pesawatnya tak stabil hingga ketinggiannya pun menurun drastis.

Natalya tak bisa melihat apa-apa.

Di saat itulah ia melepaskan tangannya dari apapun. Dia menikmati caranya jatuh, dan semuanya berakhir dengan sebuah suara keras yang terasa seperti menghantam bagian dalam telinganya secara langsung.

Gelap sekali.


Yang pertama Natalya rasakan adalah ngilu luar biasa pada kaki kanannya, dan basah pada wajahnya.

Apakah surga punya hujan?

Natalya menyesali banyak hal saat ia masih melihat bagian dalam kokpitnya, tetapi di lain sisi, ada kelegaan yang tak tergambarkan. Ia berusaha bergerak, sedikit terjepit pada bagian kanan, tetapi ia berhasil menarik tubuhnya keluar. Ia susah-payah memanjat badan pesawat, dan hujan tampaknya sedikit bermurah hati padanya. Titik-titiknya tinggal gerimis, tepat pada saat Natalya menjatuhkan diri ke tanah. Gelap sekali, tak ada apapun. Natalya akan marah pada Tuhan jika surga itu memang benar-benar seperti ini.

Ia mendongak sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Ia ingin bicara pada hujan, andainya saja hujan adalah teman. Entah kenapa rasanya ia begitu ingin bercerita tentang kilas-kilas balik yang tadi ia lihat sebelum pesawatnya mendarat dan berujung pada kehancuran. Ia ingin mengekspresikan kemarahannya ketika ia tahu bahwa ayah kandungnya adalah perusak hubungan antara ibunya dan ayah kakak-kakaknya, dan betapa ia merasa kacau begitu tahu bahwa saudara-saudaranya masih memperlakukannya seperti apa adanya meski mereka tahu bahwa ia lahir di atas kemarahan ayah Yekaterina dan Ivan. Seseorang harus tahu. Seseorang harus mengerti kemarahannya pada ibunya yang tak pernah menepati janji, pada ayah kandungnya yang tergoda wanita lain lagi saat ia tumbuh dewasa. Ia butuh teman. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan. Seseorang harus tahu betapa bingungnya ia pada Tuhan dan kehidupan saat Tanya, seorang gadis yang penuh harapan, direnggut dari dunia.

Paru-parunya sesak, lalu tangisnya meledak.

"Oh, kau masih hidup?"


Alfred bersumpah, ia baru saja menyaksikan keajaiban.

Ia kira pesawat yang ia datangi itu telah terbakar, tetapi, terima kasih hujan, pesawat itu hanya patah menjadi tiga, pada ekor dan bagian tengah, menyisakan kokpit dan seorang yang malang memanjat keluar. Alfred menyaksikan dengan horor saat prajurit itu mendaki lalu menjatuhkan diri. Ia terlihat seperti hantu, terlebih di tengah kegelapan, dan hanya lentera kecil yang membantu Alfred melihat keadaan.

Alfred tak berpikir dua kali untuk memutuskan menghampirinya.

Pesawat Soviet, pikir Alfred begitu melihat simbol pada badan pesawatnya. Setidaknya bukan musuh, dan ia semakin berani mendekat.

Yang membuatnya terkejut lagi adalah, bahwa pilot itu wanita!

"Oh, kau masih hidup?"

Alfred mendengar erangan yang menyakitkan. Alfred membantunya bangun, tetapi perempuan itu masih merintih.

"Bagian mana yang sakit?"

Perempuan itu menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang terdengar seperti yang digunakan orang-orang Soviet sebelumnya, tetapi dialeknya berbeda. Alfred setengah berteriak, "English please!"

Prajurit itu tak langsung memberikan respons, tetapi ia mencoba bangun. Matanya mengerjap cepat, Alfred melambaikan tangan di depan wajahnya.

Hujan tidak lagi memberikan kemurahan hati: rintiknya menjadi lebat, lalu Alfred tak puya pilihan selain membopong perempuan itu menuju hutan. Kanopi daun-daunnya sepertinya cukup membantu, Alfred hanya mengikuti firasatnya.

Di dalam hutan, perempuan itu mencoba bangun saat Alfred menyandarkan kepalanya di sebuah batang pohon. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain, lentera kecil Alfred telah mati di perjalanannya berlari menuju hutan itu.

"Bagian mana yang sakit?" tanya Alfred lagi, tak sadar bahwa bisa saja perempuan itu tak mengerti.

"Kakiku," jawabnya sambil meringis, dan Alfred tak bisa lebih lega lagi. "Kanan."

"Soviet?"

"Hnn."

"Alfred Jones, Resimen ke-74, Angkatan Udara Amerika Serikat."

Hening sejenak. Alfred meraba untuk memastikan perempuan itu tak bergerak. Setidaknya, tidak saat ini.

"Natalya Arlovskaya, Resimen ke-46 Uni Soviet."

"Kau bisa mengerti kata-kataku."

"Tentu ... saja."

Alfred benar-benar tersiksa karena kegelapan. Satu-satunya hal yang membuatnya merasa beruntung hanyalah hutan itu melindungi mereka dari hujan. "Maukah kau menunggu sampai aku bisa melihatmu agar aku bisa menolong?"

Alfred mendengar desahan serak.

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Tidak ada jawaban.

"Bisakah kau jangan menyentuh kakiku?"

Alfred tersentak dan segera menarik tangannya. "Bagian situ?"

Hanya terdengar desisan.

"Baiklah, kalau begitu ... mari kita menunggu pagi. Oh—tidak, biar kucoba menolongmu saja," Alfred meraba-raba sakunya sebagai bentuk refleks, tetapi ia baru sadar dia tak membawa apapun selain lentera kecil yang sudah tidak bisa diharapkan lagi. "Sial. Aku juga tidak membawa apa-apa. Pesawat sialan ... barang-barangku di sana! Semoga dia belum meledak ..." Namun Alfred mengurungkan niat untuk meninggalkan prajurit itu sendirian.

"Kau ... juga jatuh?"

"Oh, yeah, takdir tidak memihakku kali ini."

Perempuan itu diam. Alfred diterpa oleh angin yang menyusup melalui sela pepohonan, sesaat membekukan, tetapi Natalya terlindung karena pohon yang melindunginya. Alfred menggaruk tengkuknya yang dingin. "Kau yang terluka, maka istirahatlah. Aku akan berjaga. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Perempuan itu mendesah keras-keras. Alfred menganggapnya sebagai penolakan.

"Kau tidak?"

"Secara mental, iya."

Ketika mereka sama-sama diam, hujan mulai turun intensitasnya, namun angin tetap tak bersahabat. Gigi Alfred bergemeletukan. Ia terpaksa bergeser, mendekat kepada Natalya, perempuan itu bergeming, yang mana dipikirnya bagus.

Lama tidak terdengar suara, Alfred asumsikan Natalya memang tidur. Ia berusaha keras terjaga, dengan memikirkan banyak hal. Tentang rumah yang tiba-tiba terasa sangat jauh, tentang Kanada dan Amerika Serikat yang menjadi hangat di ingatannya. Dengan segera, ia tidak ingin pergi ke mana-mana lagi. Ia hanya ingin bertahan di suatu tempat, memulai hidupnya. Semua rencana perjalanan terasa buruk. Walaupun begitu, ia merasa masih benar-benar ingin pergi, tetapi tidak dengan cara begini. Ia tidak ingin mati di dalam perjalanan. Sejenak, ia sadar bahwa ia telah membuat kesalahan: tidak boleh merencanakan perjalanan di saat ia masih dalam masa pengabdian. Ia harus berada di tempat yang aman sekarang jika ia ingin melanjutkan kembali mimpi-mimpi yang mulai ditakutinya.

Pada akhirnya, Alfred tidak tahan lagi.

Matanya melawan perintah.


Ia mengenali cahaya sebagai apa yang biasanya ia lihat di luar rumahnya di Amerika Serikat setiap musim dingin. Pudar, hanya bisa ia lihat jika ia keluar dari kamar karena rumah tetangganya sangat mengganggu cahaya masuk. Jendela di kamarnya rusak, ia hampir-hampir tak pernah membukanya lagi. Kemudian, aroma hujan itu. Masih sama seperti yang ia ingat di masa kecilnya. Alfred berpikir bahwa dia harus mengingat sesuatu, tetapi ia tak menemukan petunjuk.

Sesaat kemudian, ia lantas menyadari bahwa ia bukan berada di kamarnya.

Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari siapa perempuan yang berdiri di hadapannya, menghadap cahaya yang redup, dengan salah satu kaki yang tertekuk dan sebilah kayu kecil yang menyangganya.

Seperti dipanggil, ia menoleh pada Alfred. "Kau mengingkari janji."

Alfred mengucek mata sambil berdiri, sempat terhuyung-huyung sebentar. "Maaf, aku—"

Natalya berjalan tertatih-tatih, kemudian meraih batang pohon tempat Alfred tadi bersandar. "Aku harus—"

"Kembali? Tidak," Alfred meraih tangannya, "pesawatmu hancur. Apa yang akan kau lakukan dalam keadaan cedera begini? Dan lihat, kau bahkan tidak membantu dirimu dengan benar," dia menunjuk pada kaki Natalya.

Natalya mengamati apa yang salah, dan, memang benar saja, kain yang disobeknya dari celananya, yang digunakan untuk mengikat ranting itu, sudah hampir lepas. "Memangnya kau tahu cara melakukannya dengan lebih baik?"

Alfred, tanpa bicara, langsung berjongkok dan membetulkan kain itu, hanya dengan mengikatnya lagi, terlalu keras pada kali pertama, membuat Natalya refleks memekik. Dia hanya membuat simpul kembali, tanpa melakukan apapun yang membuatnya terlihat lebih baik.

"Kukira kau bisa membuatnya lebih rapi."

"Hei, aku angkatan udara, penerbang, bukan bagian medis!"

"Amerika Serikat tidak memberikan pelatihan dasar pertolongan pertama?" Natalya mendengus, kemudian, melihat ekspresi Alfred yang mengernyitkan hidungnya, ia memutar bola mata, "begitu rupanya."

"Memangnya Soviet melakukan hal sebaliknya?"

Natalya menggerutu dalam bahasa yang tidak Alfred mengerti. Alfred membalas dengan gumaman dalam bahasa Prancis, kata-kata yang sangt dihindari Matthew dan diajarkannya pada Alfred dengan sangat enggan. Setelah kalimat-kalimat itu menguap, mereka saling menatap.

"Mungkin kita harus duduk dulu," Alfred berusaha untuk terdengar tetap lembut, tetapi kernyitan kening Natalya mengatakan hal sebaliknya. "Sepertinya kakimu patah. Kau harus beristirahat. Lagipula, apa yang bisa kaulakukan? Berjalan kaki? Ke mana? Hutan?"

Natalya duduk dengan kasar. Alfred menggeleng-geleng. Alfred pun melepaskan lagi kain yang melilit pergelangan kaki hingga bagian bawah betis Natalya, mengambil ranting yang kurus itu. Dibuangnya. Dia kemudian bangkit, menuju pohon yang paling dekat, lalu ia meraba-raba saku seragamnya, saku jaket, bagian dalam jaket, kemudian celana. Dia mendesah kesal, tetapi wajahnya berubah cerah setelah menggali lagi saku bagian dalam jaket. "Ini dia!" Sebuah pisau lipat dikeluarkannya.

"Jangan bilang kau ingin memotong dahan dengan benda itu."

Alfred menoleh. "Kita takkan tahu apapun sebelum mencoba."

"Lupakanlah. Bermimpi saja."

"Hei!"

"Yang tadilah yang terbaik. Aku sudah memilih saat kau tidur. Aku juga tahu apa yang kulakukan."

Alfred mencibir, lantas dia kembali ke tempatnya semula, duduk bersila di depan Natalya sambil menatap benci. Natalya bermuka tebal, dia tak peduli, malah balas memandang Alfred benci. Alfred mengembuskan napas yang panjang, mengalah, lantas mengambil kembali ranting yang telah ia buang. Lalu ia mematahkan ranting lain. Dengan hati-hati ia menyusun keduanya di kaki Natalya, membebatnya dengan lebih hati-hati lagi. Ia mengingat bagaimana cara Matthew bekerja, kedua tangannya yang lembut itu memiliki jari-jari panjang yang kokoh, tetapi selalu membantunya mengerjakan sesuatu dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Matthew tak pernah melewatkan mengerjakan sesuatu tanpa mengamatinya dengan sungguh-sungguh sebelum, di tengah pekerjaan, dan seusainya.

Paling tidak, saat ini, Alfred tidak mendapatkan cercaan Natalya. Ia anggap itu sebagai prestasi.

"Kau bisa melakukannya."

"Sudah seharusnya begitu." Alfred menepuk-nepukkan tangannya di atas lutut. "Nah, sekarang, apa?"

"Sekarang, apa?"

Alfred menggeleng sambil mengangkat bahu.

"Suatu tempat untuk bernaung. Atau, paling tidak, menemukan makanan."

"Hei, biar kubocorkan sesuatu padamu," Alfred berdeham, "Di sekitar sini, ada banyak garnisun musuh. Aku mendapatkan informasi dari mata-mata, yang juga sebenarnya bagian dari misiku, bahwa ada paling tidak dua resimen yang dalam perjalanan mengundurkan diri dari Front Timur dengan cara memutar, dan belum berkumpul dengan pasukan Jerman lainnya. Diasumsikan mereka berada beberapa kilometer dari sini."

Natalya menelengkan kepala. "Kau punya peta?"

"Ya—oh, sial, di pesawat! Pesawatku masih selamat atau tidak, ya?" Dia lekas-lekas berdiri, kemudian mengulurkan tangan pada Natalya.

"Apa?"

Alfred menggerak-gerakkan jarinya. "Bersamaku ke pesawatku. Ayo. Sudah kukatakan, 'kan, aku tidak akan meninggalkanmu?"

"Kenapa begitu?"

Alfred tertawa sesaat, "Kita berdua sedang menjadi korban. Kita tidak punya siapapun selain satu sama lain, 'kan?"

Tangan itu masih terulur. Natalya masih ragu, lalu, dia akhirnya memutuskan sendiri. Diraihnya tangan Alfred. Dia sempat lupa keadaan kakinya saat ia berdiri dengan cara yang biasa, membuatnya oleng sesaat, beruntung saja Alfred sigap menangkapnya.

"Uh, kau belum terbiasa rupanya." Alfred membantu Natalya melangkah beberapa kali sebelum akhirnya melepaskannya untuk berjalan sendiri. Ia membimbing Natalya keluar dari hutan melalui jalur yang lebih mudah untuk dilewati bagi orang yang masih lumpuh sebagian. Vegetasi hutan yang tak begitu padat di tepiannya juga menolong. Bangkai pesawatnya cukup jauh, Alfred menahan diri untuk tidak berkata kasar. Mungkin hal itu akan berdampak lebih buruk pada Natalya yang harus berjalan tertatih-tatih.

"Serius, aku kaget sekali begitu tahu pesawat itu dikemudikan oleh perempuan."

Alfred harus menunggu sampai Natalya bisa mencapainya.

"Aku bertaruh banyak kau pasti akan sangat terkejut melihat resimenku."

"Aku mendengar desas-desusnya, tapi aku tak yakin bahwa itu nyata."

"Kau meremehkan."

"Oh ayolah, kau bisa membedakan hinaan dengan rasa kaget, tidak?"

"Tidak dengan caramu yang seperti itu," dengus Natalya, kali ini berusaha melangkah lebih cepat, tetapi tetap saja langkah besar Alfred tak bisa dia saingi dengan mudah. Barangkali ia harus sedikit berterima kasih karena pemuda itu bersedia mengalah.

Alfred mengamati perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seragamnya kotor, tetapi masih utuh. Kumal sekali, seolah dia baru saja pulang dari berbagai misi tanpa sempat mengganti pakaiannya. Rambutnya pendek sekali, ujung-ujungnya hanya mencapai tengkuk. Pirang pucat, bagi Alfred mirip dengan salju, tetapi tak benar-benar putih berkilau. Seperti salju yang diberi cahaya. Bibirnya seolah sudah terlatih untuk memberengut, dan makin mendukung ekspresi wajahnya. Semakin dalam Alfred mengamati, dia merasakan ada yang kurang dari wajah Natalya, tetapi ia tak bisa mengenalinya.

"Kenapa memandangku begitu?"

Alfred refleks menggeleng lalu membuang muka. "Aku hanya terkejut. Kau pernah tinggal di Inggris ... atau bahkan Amerika Serikat?"

Alfred berani bertaruh Natalya barusan menyeringai. "Tidak," jawabnya. Dan Alfred tak ingin memperpanjang lagi.

Setidaknya, dengan pembicaraan barusan, mereka telah melewati setengah perjalanan.

"Sudah berapa lama di dinas militer?"

Natalya mengerjap, tatapannya kosong. "Aku ... lupa."

"Lupa? Memangnya bisa?"

Natalya menggeleng. "Sungguh. Aku benar-benar lupa."

"Musim? Sudah mencoba mengingatnya lewat musim?"

Natalya diam sejenak. Alfred lega karena mereka hampir sampai. Tidak pernah suatu perjalanan menuju tujuan yang dekat ini terasa sangat lambat dan membuatnya gelisah.

"Mungkin ... sudah empat, atau tiga musim? Semua musim terlihat sama di kamp."

"Tidak juga," sanggah Alfred, walaupun ia tak tahu medan dan mungkin saja interpretasi musim berbeda di sini. Mana dia tahu. "Berarti kita masih sama-sama baru, ya. Hm. Aku bergabung satu setengah tahun yang lalu. Rasanya baru kemarin saja aku memeluk saudaraku untuk yang terakhir kalinya saat kami berangkat menuju pos masing-masing."

Alfred tak mengharapkan jawaban, tetapi Natalya bersuara, "Kau punya saudara?"

"Ya. Kakak. Tapi ... bukan kakak kandung juga, sih. Yang jelas, dia tetap seperti kakak kandungku."

Natalya tahu dia seharusnya menjawab sesuatu yang sama, tetapi dia memutuskan sebaliknya. Ia mengikuti langkah Alfred menuju bangkai pesawat yang jatuh di dekat bebatuan kecil. Tangannya menyusuri badan pesawat, tiba-tiba saja ia rindu terbang. Ia ingin terbang selalu, tak perlu mendarat kembali di tempat ia dibesarkan, lalu menemukan tempat yang baru. Kita baru merasakan betapa berharganya masa lalu setelah kita kehilangannya. Sekarang Natalya tak bisa memperkirakan kapan dia bisa terbang lagi.

"Mana, ya?" Alfred naik dan masuk ke kokpit, membongkar bagian dalamnya yang telah berantakan.

Natalya menunggu sambil duduk di atas batu. Alfred, dengan suara yang dibuat-buat itu, terlihat seperti bocah. Dia sangat jauh berbeda dari yang Natalya pikirkan di kegelapan, pada suara yang membuatnya lega sekaligus takut. Lega, karena bukan orang Jerman yang menemukannya. Takut—karena Alfred bisa berbuat apa saja saat ia dalam keadaan tak berdaya.

Bagaimanapun, Alfred memang terlihat seperti masih berusia belasan. Mungkin satu tahun lebih muda dari Natalya. Natalya, di satu sisi, merasa marah. Laki-laki ini bisa saja meninggalkannya kapan pun ia mau, tetapi kenapa dia tak melakukannya? Natalya perlu waktu untuk dirinya sendiri, terlebih ketika sisa-sisa rasa ingin bunuh diri itu masih ada. Alfred turut andil dalam mengacaukan rencananya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, Alfred pun sedang celaka. Tidak adil rasanya jika Natalya memarahinya, menghardiknya. Mereka berada dalam situasi yang sama. Alfred juga menunjukkan itikad baik. Paing tidak, saat ini ia harus bertahan. Ia tidak bisa menduga apa yang akan terjadi bahkan di menit berikutnya, dan barangkali Alfred bisa. Maka Natalya menyabarkan dirinya.

"Ah, baguslah karena tidak rusak!" Kepala Alfred menyembul dari ruang kokpitnya. Ia melompat dengan tangkas, mendarat di tanah seolah dia berada dalam misi yang memerlukan kecepatan. "Ke sini," dia mengarahkan Natalya untuk duduk di atas tanah, membaca peta yang masih cukup rapi dan cukup bersih.

"Tadi aku bertolak dari sini," dia berucap sambil menunjuk titik bersimbol angkatan udara Soviet di daerah barat laut benua, "dengan waktu penerbanganku selama sekitar hampir dua jam ... dan navigasiku tidak salah, kita sedang berada di sini," tambahnya, dia melingkari suatu area di perbatasan barat Soviet dan Polandia dengan jarinya. "Ini hutan tempat kita berada, kurasa."

Natalya mencermati peta itu, kemudian mengangguk, ketika terdengar suara-suara dari belakang.

Mata Alfred membeliak. "Jerman," desisnya.

tbc.